1
2
i
KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Kajian Fiskal Regional Tahunan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020 dengan baik.
Kajian Fiskal Regional diterbitkan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-34/PB/2018 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-61/PB/2017 sebagai sarana untuk membangun komunikasi dua arah dalam pertukaran data dan informasi ekonomi baik dengan stakeholders internal maupun eksternal dan memberikan sumbangsih bagi perekonomian daerah.
Dengan kajian tersebut diharapkan para pemangku kepentingan dalam hal ini Pemerintah Daerah, Satuan Kerja Pemerintah Pusat, pelaku usaha, serta akademisi di lingkup Provinsi Kepulauan Riau dapat memperoleh masukan dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi daerah, sehingga bisa memberikan manfaat untuk pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.
Beberapa dimensi yang menjadi bahasan utama dalam kajian adalah perkembangan ekonomi regional, perkembangan keuangan pemerintah pusat dan daerah, keunggulan dan potensi daerah, tantangan fiskal yang dihadapi daerah serta analisis tematik pemanfaatan anggaran hasil recofusing atau realokasi APBD tingkat provinsi untuk program PC-PEN di daerah. Dalam penyusunan Kajian Fiskal Regional Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020, kami memperoleh dukungan dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau, Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, dan seluruh Pemerintah Daerah lingkup Provinsi Kepulauan Riau. Oleh karena itu, kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihak, semoga kerjasama yang telah terjalin selama ini dapat lebih ditingkatkan di masa yang akan datang.
Kami menyadari penyusunan Kajian Fiskal Regional tahun 2020 ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan masukan yang konstruktif untuk dapat meningkatkan kualitas Kajian Fiskal Regional sehingga dapat memberikan manfaat bagi kemajuan dan kemakmuran masyarakat Provinsi Kepulauan Riau.
Tanjungpinang, Februari 2021
ii
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... I
TIM PENYUSUN ... II
DAFTAR ISI ... III
DAFTAR TABEL ... IX
DAFTAR GAMBAR ... XIII
DAFTAR GRAFIK ... XIV
RINGKASAN EKSEKUTIF ... XVI
DASHBOARD MAKRO FISKAL REGIONAL... XIX
BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH ... 1
1.1. PENDAHULUAN ... 1
1.2. TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH ... 2
1.2.1.Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ... 2
1.2.2.Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah ... 4
1.3. TANTANGAN DAERAH ... 5
1.3.1.Tantangan Ekonomi Daerah... 5
1.3.2.Tantangan Sosial Penduduk ... 5
1.3.3.Tantangan Geografis Wilayah ... 6
1.3.4.Tantangan Daerah Sebagai Dampak Covid-19 ... 6
BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL... 9
2.1. INDIKATOR MAKROEKONOMI FUNDAMENTAL ... 9
iv
2.1.2.Suku Bunga ... 12
2.1.3.Inflasi ... 13
2.1.4.Nilai Tukar ... 14
2.2. INDIKATOR KESEJAHTERAAN ... 14
2.2.1.Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ... 14
2.2.2.Tingkat Kemiskinan ... 15
2.2.3.Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini) ... 17
2.2.4.Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran ... 18
2.2.5.Nilai Tukar Petani (NTP) ... 21
2.2.6.Nilai Tukar Nelayan (NTN) ... 21
2.3. EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI DAN PEMBANGUNAN REGIONAL ... 23
2.3.1.Progres Perkembangan Indikator Makro dan Indikator Kesejahteraan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020 ... 24
2.3.2.Efektifitas Belanja Pemerintah dalam Memperbaiki Tingkat Kemiskinan dan Ketimpangan Pendapatan di Provinsi Kepulauan Riau ... 25
BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN TINGKAT REGIONAL ... 26
3.1. APBN TINGKAT PROVINSI ... 26
3.2. PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT PROVINSI ... 28
3.2.1.Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi ... 28
3.2.2.Penerimaan Negara Bukan Pajak Tingkat Provinsi ... 33
3.2.3.Pendapatan Hibah Tingkat Provinsi ... 34
3.2.4.Analisis Sensitivitas Pendapatan Pemerintah Pusat ... 35
3.3. BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT PROVINSI ... 35
3.3.1.Belanja Pemerintah Pusat Berdasarkan Organisasi ... 36
v
3.3.3.Belanja Pemerintah Pusat Berdasarkan Jenis Belanja ... 37
3.3.4.Analisis Kapasitas dan Efisiensi Fiskal Pemerintah Pusat ... 38
3.3.5.Analisis Belanja Pemerintah Pusat Untuk Pembangunan Manusia ... 40
3.3.6.Analisis Pengaruh Belanja Pemerintah Pusat terhadap Indikator Ekonomi ... 40
3.4. TRANSFER KE DAERAH ... 42
3.4.1.Dana Transfer Umum ... 42
3.4.2.Dana Transfer Khusus ... 44
3.4.3.Dana Desa ... 46
3.4.4.Dana Insentif Daerah ... 46
3.5. ANALISIS CASH FLOW PEMERINTAH PUSAT ... 47
3.6. PENGELOLAAN BADAN LAYANAN UMUM PUSAT ... 49
3.6.1.Profil dan Jenis Layanan Satuan Kerja Badan Layanan Umum ... 49
3.6.2.Analisis Kemandirian Badan Layanan Umum ... 50
3.6.3.Potensi Satker PNBP Menjadi Satker BLU ... 51
3.7. PENGELOLAAN MANAJEMEN INVESTASI ... 52
3.7.1.Penerusan Pinjaman ... 52
3.7.2.Kredit Program ... 52
3.7.3.Analisis Penyaluran KUR ... 54
3.8. PERKEMBANGAN DAN ANALISIS BELANJA WAJIB (MANDATORY SPENDING)... 55
3.8.1.Mandatory Spending di Provinsi Kepulauan Riau ... 55
3.8.2.Belanja Sektor Pendidikan ... 56
3.8.3.Belanja Sektor Kesehatan ... 56
3.8.4.Belanja Sektor Infrastruktur ... 57
vi
4.1. APBD TINGKAT PROVINSI ... 59
4.2. PENDAPATAN DAERAH ... 61
4.2.1.Dana Transfer/Perimbangan ... 61
4.2.2.Pendapatan Asli Daerah ... 63
4.2.3.Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah ... 64
4.3. BELANJA DAERAH ... 64
4.3.1.Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan... 65
4.3.2.Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi ... 65
4.4. PERKEMBANGAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH ... 66
4.4.1.Profil dan Jenis Layanan Satker BLUD di Provinsi Kepulauan Riau ... 66
4.4.2.Analisis Legal ... 67
4.5. SURPLUS/DEFISIT APBD ... 68
4.5.1.Rasio Surplus/Defisit Terhadap Agregat Pendapatan ... 68
4.5.2.Rasio Surplus Terhadap Realisasi Belanja dan Dana Transfer ... 68
4.5.3.Rasio Surplus/Defisit Terhadap PDRB ... 68
4.6. PEMBIAYAAN... 69
4.6.1.Rasio SILPA terhadap alokasi belanja ... 69
4.6.2.Keseimbangan Primer ... 69
4.7. ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ... 69
4.7.1.Analisis Horizontal dan Vertikal ... 69
4.7.2.Analisis Kapasitas Fiskal Daerah ... 71
4.8. PERKEMBANGAN BELANJA WAJIB DAERAH ... 72
4.8.1.Belanja Daerah Sektor Pendidikan ... 75
vii
4.8.3.Belanja Infrastruktur Daerah ... 76
BAB V PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN ANGGARAN KONSOLIDASIAN ... 77
5.1. LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN ... 77
5.2. PENDAPATAN KONSOLIDASIAN ... 78
5.2.1.Analisis Proporsi dan Perbandingan ... 78
5.2.2.Rasio Pajak (TaxRatio) ... 79
5.3. BELANJA KONSOLIDASIAN ... 80
5.4. SURPLUS/DEFISIT ... 83
5.5. ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN FISKAL AGREGAT ... 83
BAB VI KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI SERTA TANTANGAN FISKAL REGIONAL ... 85
6.1. SEKTOR UNGGULAN DAERAH ... 86
6.2.1.Sektor Industri Pengolahan ... 86
6.2.2.Sektor Konstruksi ... 90
6.2. SEKTOR POTENSIAL ... 93
6.3. TANTANGAN FISKAL REGIONAL ... 96
6.3.1.Tantangan Fiskal Pemerintah Pusat ... 97
6.3.2.Tantangan Fiskal Pemerintah Daerah ... 98
6.3.3.Sinkronisasi Kebijakan Fiskal Pusat-Daerah ... 98
BAB VII ANALISIS TEMATIK ...100
7.1. Profil Penanganan Covid-19 (PC) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Provinsi Kepulauan Riau 100 7.2. Pemanfaatan Refocusing APBD untuk Program Penanganan Covid-19 (PC) dan Pemulihan Ekonomi Nasional dan (PEN) di Provinsi Kepulauan Riau ... 101
7.3. Efektivitas Penyaluran Alokasi Refocusing APBD terhadap PC-PEN Provinsi Kepulauan Riau... 107
viii
Dampak terhadap Output ... 109
Dampak terhadap Nilai Tambah Bruto (NTB) ... 110
Dampak terhadap Kesempatan Kerja ... 111
BAB VIII PENUTUP ...113
8.1. KESIMPULAN... 113
8.2. REKOMENDASI ... 116
1. Kebijakan di Pemerintah Daerah ... 116
2. Kebijakan di Pemerintah Pusat ... 117
3. Kebijakan di Pemerintah Pusat dan di Pemerintah Daerah ... 117
DAFTAR PUSTAKA ...118
DAFTAR ISTILAH ...121
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Tujuan dan Sasaran RPJMD 2016-2021 Provinsi Kepulauan Riau ... 3
Tabel 2 Target RKPD Tahun 2020 Provinsi Kepulauan Riau ... 4
Tabel 3 Tantangan Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020 ... 5
Tabel 4 Tantangan Sosial Penduduk Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020 ... 5
Tabel 5 Pencapaian Sasaran Pembangunan RKP dan RPJMD Tahun 2020 ... 9
Tabel 6 Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Kepulauan Riau Tahun Dasar 2010 ... 10
Tabel 7 PDRB ADHK Menurut Lapangan Usaha Provinsi Kepulauan Riau Tahun Dasar 2010 ... 11
Tabel 8 Indikator Makro Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi Prov. Kepri Tahun 2020 ... 24
Tabel 9 Perkembangan Pagu dan Realisasi APBN di Provinsi Kepulauan Riau ... 26
Tabel 10 Perkembangan Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat di Provinsi Kepulauan Riau ... 29
Tabel 11 Insentif Fiskal (Perpajakan) Provinsi Kepri Tahun 2020 ... 30
Tabel 12 Insentif Fiskal (Kepabeanan dan Cukai) Provinsi Kepri Tahun 2020 ... 32
Tabel 13 Perkembangan PNBP Pemerintah Pusat di Kepri Berdasarkan Jenis ... 34
Tabel 14 Penerimaan Hibah Pemerintah Pusat di Kepri Berdasarkan Sumber ... 34
Tabel 15 Perkembangan Pagu dan Realisasi APBN di Provinsi Kepulauan Riau ... 35
Tabel 16 Perkembangan Belanja APBN, 10 Bagian Anggaran Terbesar TA 2016-2018 ... 36
Tabel 17 Perkembangan Belanja APBN di Kepri Berdasarkan Fungsi (dalam miliar rupiah) ... 37
Tabel 18 Perkembangan Belanja APBN di Kepri Berdasarkan Jenis Belanja ... 38
Tabel 19 Indikator Kapasitas dan Efisiensi Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2018 s.d. 2020 ... 38
Tabel 20 Rasio Belanja Pemerintah Pusat Untuk Pembangunan Manusia ... 40
Tabel 21 Pengujian Ekonometri Belanja APBN terhadap PDRB Provinsi Kepri ... 41
x
Tabel 23 Perkembangan Dana Perimbangan di Provinsi Kepulauan Riau ... 42
Tabel 24 Dana Alokasi Umum per Daerah ... 43
Tabel 25 Dana Alokasi Umum per Daerah ... 43
Tabel 26 Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik ... 44
Tabel 27 Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik ... 45
Tabel 28 Alokasi Dana Desa ... 46
Tabel 29 Alokasi Dana Insentif Daerah ... 47
Tabel 30 Estimasi Surplus/Defisit Cashflow Kepri ... 48
Tabel 31 Profil BP Batam ... 49
Tabel 32 Kemandirian Satker BLU di Provinsi Kepulauan Riau... 51
Tabel 33 Satuan Kerja PNBP yang Berpotensi menjadi BLU ... 51
Tabel 34 Penyaluran KUR di Kepri Berdasarkan Skema dan Bank ... 52
Tabel 35 Penyaluran KUR dan UMi Berdasarkan Sektor ... 53
Tabel 36 Sensitivitas KUR ... 54
Tabel 37 Realisasi DAK Non Fisik Bidang Pendidikan Tahun 2020... 56
Tabel 38 Capaian Output Belanja Sektor Kesehatan ... 57
Tabel 39 Output Mandatory Spending Infrastruktur Provinsi Kepri Tahun 2020 ... 57
Tabel 40 Laporan Realisasi Anggaran APBD 2018-2020 ... 59
Tabel 41 Perkembangan Pendapatan Pemda Lingkup Kepri (dalam miliar rupiah) ... 61
Tabel 42 Perkembangan Pendapatan Pemda Lingkup Kepri ... 61
Tabel 43 Perbandingan Alokasi Dana Transfer ke Daerah terhadap Indikator Fiskal di Prov. Kepri Tahun 2018-2020 ... 62
Tabel 44 Perkembangan Pendapatan Pemda Lingkup Kepri (dalam miliar rupiah) ... 63
Tabel 45 Rasio PAD terhadap Belanja Daerah 2018-2020 ... 64
xi
Tabel 47 Rincian Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan ... 65
Tabel 48 Rincian Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan ... 65
Tabel 49 Profil Satuan Kerja BLUD di Provinsi Kepulauan Riau ... 66
Tabel 50 Dasar Pembentukan Satuan Kerja BLUD di Provinsi Kepulauan Riau ... 67
Tabel 51 Analisis Horizontal Realisasi APBD Kepri TA 2020 ... 70
Tabel 52 Analisis Vertikal Realisasi Pendapatan APBD 2020 di Provinsi Kepulauan Riau... 70
Tabel 53 Analisis Vertikal Realisasi Belanja APBD 2018 di Provinsi Kepulauan Riau ... 71
Tabel 54 Realisasi Penyaluran Dana Desa per Pemda ... 72
Tabel 55 Capaian Output Dana Desa Kepulauan Riau ... 73
Tabel 56 Realisasi Penyaluran Dana Desa per Kabupaten ... 74
Tabel 57 Desa Tidak Salur ... 74
Tabel 58 Realisasi DAK Non Fisik Bidang Pendidikan Tahun 2020... 75
Tabel 59 Realisasi DAK Non Fisik Bidang Kesehatan Tahun 2020 ... 76
Tabel 60 Alokasi Belanja Infrastruktur Prov. Kepri Tahun 2020 ... 76
Tabel 61 Konsolidasi Pendapatan dan Belanja Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2019-2020 ... 77
Tabel 62 Rasio Pajak terhadap PDRB Prov. Kepri Tahun 2020 dan 2019 ... 79
Tabel 63 Rasio Pajak per kapita Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020 dan 2019 ... 80
Tabel 64 Perbandingan Belanja dan Transfer Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terhadap Belanja dan Transfer Konsolidasian Tahun 2020 ... 80
Tabel 65 Perubahan Komposisi Realisasi Belanja Operasi dan Belanja Modal terhadap Total Belanja Konsolidasian ... 81
Tabel 66 Rincian Perubahan Realisasi Belanja ... 82
Tabel 67 Rasio Belanja operasional Prov. Kepri Tahun 2020 dan 2019 ... 82
Tabel 68 Rasio Belanja Konsolidasian Per kapita ... 82
xii
Tabel 70 LO Statistik Keuangan Pemerintah Umum Tingkat Wilayah Provinsi Kepri Tahun 2020 ... 83
Tabel 71 Pertumbuhan Sektoral (PS) dan Daya Saing (DS) Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kepri Tahun 2019 ... 85
Tabel 72 Potensi Pengembangan Industri di Kawasan FTZ ... 89
Tabel 73 Jumlah dan Proporsi Penduduk, PDRB per Kapita Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2019 ... 91
Tabel 74 Pemanfaatan Refocusing APBD Kepri Tahun 2020 ...101
Tabel 75 Realokasi APBD untuk Program PC-PEN Menurut Jenis Belanja (dalam miliar rupiah) ...102
Tabel 76 Pagu dan Realisasi Anggaran PC_PEN ...103
Tabel 77 Capaian Output PC_PEN ...103
Tabel 78 Dampak Penyaluran Klaster Kesehatan & Perlindungan Sosial terhadap Perekonomian Kepri Tahun 2020 Berdasarkan Tabel I-O Prov. Kepri Tahun 2010 ...108
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Ilustrasi Cash Flow Pemerintah Pusat ... 48 Gambar 2 Ilustrasi Cash Flow Kepri ... 96
xiv
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1 Sebaran Covid-19 Provinsi Kepri ... 6
Grafik 2 Sebaran Zona Keparahan ... 7
Grafik 3 Pertumbuhan PDRB Provinsi Kepri 2018-2020 ... 9
Grafik 4 Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2018-2020 ... 10
Grafik 5 PDRB per Kapita 2018-2020 ... 12
Grafik 6 Perkembangan Suku Bunga BI Rate 7-Day Repo Rate dan SBDK BRI 2020 ... 12
Grafik 7 Perkembangan Inflasi 2018-2020 ... 13
Grafik 8 Scatter Plot Hubungan Inflasi dan Tingkat Pengangguran Terbuka (Phillips Curve) ... 13
Grafik 9 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Valuta Asing Dolar AS per Bulan Tahun 2020 ... 14
Grafik 10 Perkembangan IPM 2018-2020 ... 15
Grafik 11 IPM per Kabupaten/Kota Tahun 2020 ... 15
Grafik 12 Persentase Penduduk Miskin di Kota, Desa, dan Total Kepri ... 16
Grafik 13 Persentase Penduduk Miskin ... 16
Grafik 14 Kontribusi terhadap Garis Kemiskinan ... 16
Grafik 15 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) ... 17
Grafik 16 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) ... 17
Grafik 17 Perkembangan Gini Ratio... 17
Grafik 18 Angkatan Kerja dan Penduduk Bekerja Provinsi Kepri ... 18
Grafik 19 Struktur Penduduk menurut Lapangan Pekerjaan Agustus 2020 ... 18
Grafik 20 Komposisi Pekerja Formal dan Informal 2018-2020 ... 19
Grafik 21 Perkembangan TPT 2018-2020 ... 19
xv
Grafik 23 Scatter Plot Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pengangguran (Okun’s Law) ... 20
Grafik 24 Nilai Tukar Petani 2018-2020 ... 21
Grafik 25 Nilai Tukar Nelayan Provinsi Kepri 2018-2020 ... 21
Grafik 26 Arus Kebijakan Fiskal dan Moneter ... 23
Grafik 27 Perkembangan Pagu dan Realisasi APBN Kepri ... 26
Grafik 28 Capaian Pendapatan dan Belanja APBN Kepri ... 27
Grafik 29 Tax Ratio Kepri... 29
Grafik 30 Scatter Plot Sensitivitas Penerimaan Pemerintah Pusat di Kepri ... 35
Grafik 31 Pertumbuhan Penerimaan 2019-2020 (y-o-y) ... 47
Grafik 32 Surplus (Defisit) Kepri ... 49
Grafik 33 Penyaluran KUR dan UMi Berdasarkan Wilayah ... 54
Grafik 34 Belanja Wajib (Mandatory Spending) Prov. Kepri ... 55
Grafik 35 Scatter Plot Sensitivitas Penerimaan Pemda ... 63
Grafik 36 Kapasitas Fiskal Pemerintah Daerah Prov. Kepri ... 72
Grafik 37 Realisasi DTU Provinsi Kepri Tahun 2020 ... 75
Grafik 38 Komposisi Pendapatan Konsolidasi Provinsi Kepri ... 78
Grafik 39 Komposisi Penerimaan Pajak Konsolidasi Tahun 2020 ... 79
Grafik 40 Porsi Belanja Pusat dan Daerah Tahun 2020 ... 81
Grafik 41 Distribusi Industri Pengolahan 2018-2020 ... 87
Grafik 42 Share Pertumbuhan Konstruksi ... 90
Grafik 43 Jumlah Kunjungan Wisman menurut Pintu Masuk 2018-2020 ... 95
xvi
RINGKASAN EKSEKUTIF
Tema Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 adalah Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan ekonomi, keberlanjutan infrastruktur serta pengembangan pusat kebudayaan Melayu Kepulauan Riau. Tantangan pembangunan dari sisi ekonomi daerah erat kaitannya dengan potensi dan peluang investasi, pemenuhan sarana dan prasarana perdagangan, pengembangan infrastruktur konektivitas antar wilayah, peningkatan kebutuhan energi listrik, peningkatan sarana dan prasarana penangkapan dan budi daya hasil laut, dan reformasi birokrasi. Tantangan dari sisi sosial-kependudukan yaitu ketersediaan mutu dan jumlah tenaga kesehatan, ketersediaan pangan, penyediaan akses pelayanan air bersih. Tantangan kondisi geografi Provinsi Kepulauan Riau terkait konektivitas antar daerah.
Target pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau yang tercantum pada RKP dan RPJMD tahun 2020 sebesar 5,3 persen namun capaian laju pertumbuhan ekonomi tersebut terkontraksi sebesar -4,66 persen (y-on-y). Dibandingkan dengan tahun 2019 laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 4,89 persen.
Berdasarkan nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 mencapai pendapatan rata-rata sebesar Rp113,39 juta per kapita, sementara PDRB ADHB per kapita nasional tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp56,90 juta. Dengan nilai lebih dari 2 kali lipat PDRB per kapita nasional, kemakmuran penduduk Provinsi Kepulauan Riau dari segi ekonomi dapat dikatakan jauh di atas rata-rata nasional.
Jika melihat dari sisi pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau dari sisi lapangan usaha, didominasi oleh sektor industri pengolahan sebesar 42,38 persen, diikuti oleh sektor konstruksi sebesar 19,53 persen. Sedangkan dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Kepri didominasi oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 43,30 persen disusul Konsumsi Rumah Tangga sebesar 41,78 persen. Inflasi Kepri tahun 2020 tercatat sebesar 1,18 persen (y-on-y) lebih rendah 5 basis poin dari nasional (1,68 persen), masih di bawah target inflasi pemerintah sebesar 3,5±1 persen dengan penyumbang tertinggi ada pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau.
Dari sisi indikator kesejahteraan yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Provinsi Kepulauan Riau menjadi Provinsi dengan IPM ke-empat tertinggi di Indonesia tahun 2020 dengan capaian angka 75,59 berada di atas IPM Nasional sebesar 71,94 dan di bawah IPM DKI Jakarta (80,77), D.I. Yogyakarta (79,97) dan Kalimantan Timur (76,24). Persentase kemiskinan pada September 2020 mencapai 6,13 persen atau
xvii meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2019 dengan jumlah angka kemiskinan yang bertambah sebanyak 14.853 orang. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) periode Agustus 2020 mencapai 10,34 persen meningkat jika dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Peningkatan persentase penduduk miskin dan tingkat pengangguran terbuka sejalan dengan menurunnya kondisi perekonomian Kepri yang disebabkan oleh pembatasan aktivitas perekonomian sebagai dampak dari pandemi Covid-19.
Kemudian terkait realisasi pendapatan Pemerintah Pusat tahun 2020 di Provinsi Kepulauan Riau mencapai Rp9,13 triliun, mengalami kenaikan sebesar 4,04 persen (y-o-y). Pendapatan pemerintah pusat yang dimaksud terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp6,91 triliun dan penerimaan PNBP sebesar Rp2,22 triliun. Pada bidang perpajakan, pemerintah juga menerapkan kebijakan pemberian insentif fiskal di bidang pajak serta kepabeanan dan cukai, dengan manfaat yang berbeda-beda diamini kebijakan tersebut dapat membantu masyarakat dan para pelaku usaha terdampak pandemi. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 19,30 persen (y-o-y). Dari sisi belanja, realisasi belanja Pemerintah Pusat mencapai Rp14,95 triliun pada tahun 2020 atau mengalami penurunan sebesar 2,09 persen. Kondisi ini menyebabkan defisit APBN Provinsi Kepulauan Riau sebesar Rp5,82 triliun.
Sesuai dengan rencana pembangunan pada RPJMD dan RKP Kepri tahun 2020, terdapat alokasi terkait mandatory spending di Provinsi Kepulauan riau yang terdiri dari 3 (tiga) bidang antara lain pendidikan, infrastruktur dan kesehatan. Realisasi mandatory spending di bidang pendidikan realisasi mencapai 99,29 persen dari pagu. Bidang kesehatan mencapai realisasi sebesar 98,11 persen dari total pagu dan bidang infrastruktur mencapai 98,11 persen.
Terkait realisasi pendapatan daerah tahun 2020 secara agregat mencapai Rp11,48 triliun atau mengalami penurunan sebesar 14,05 (y-o-y). Selama masa pandemi Covid-19, pendapatan daerah mengalami penurunan baik dari pendapatan asli daerah (PAD) maupun dana perimbangan. Realisasi belanja Pemerintah Daerah secara agregat pun ikut menurun sebesar 14,05 persen (y-o-y).
Sebagai upaya pengembangan perekonomian di Kepri, penting untuk mengetahui sektor-sektor unggulan yang harus diprioritaskan kemajuannya. Adapun yang menjadi sektor unggulan Provinsi Kepulauan Riau adalah dari sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi, sementara sektor potensial yang patut untuk dipertimbangkan untuk dikembangkan lebih lagi yaitu dari sektor pariwisata.
xviii Dalam penanganan masalah pandemi Covid-19 di Kepri dan yang menjadi masalah semua daerah, diperlukan upaya serius dan komprehensif pada keseluruhan aspek yang ada. Terkait hal tersebut, Provinsi Kepulauan Riau juga melakukan refocusing APBD untuk program PEN di daerah sejumlah Rp230,08 miliar yang ditujukan untuk penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk 3 (tiga) klaster/program yaitu Klaster/Program Kesehatan (menghasilkan 15 output), Perlindungan Sosial (menghasilkan 7 output) dan UMKM (menghasilkan 1 output). Realisasi pelaksanaan dan pemanfaatan APBD untuk ketiga klaster tersebut mencapai 95,36 persen dari total pagu. Klaster perlindungan sosial menjadi fokus utama mengingat banyaknya masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 sehingga hal tersebut menjadi prioritas utama yang harus mendapatkan perhatian dan gerak cepat dari pemerintah. Atas penyaluran pada ketiga klaster tersebut, dilakukan analisis dampak untuk mengetahui efektivitas penyalurannya di Kepri. Hasil analisis dampak menunjukkan bahwa alokasi pada klaster UMKM berkontribusi lebih besar yaitu 0,824 untuk menciptakan nilai tambah pada PDRB dibandingkan klaster lainnya mengingat multiplier effect yang dihasilkan terhadap perekonomian di Kepri.
xix
DASHBOARD MAKRO FISKAL REGIONAL
Halaman 1xx
xxi
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Kepualuan Riau tahun 2020 yaitu: “Peningkatan kualitas
sumber daya manusia dan ekonomi, keberlanjutan infrastruktur, serta pengembangan pusat kebudayaan
Melayu Kepri”. Dalam mencapai hal tersebut tentu terdapat tantangan tersendiri bagi daerah. Salah
satu tantangan di tahun 2020 yang sangat besar dampaknya yaitu Covid-19. Di Provinsi Kepulauan
Riau, sebaran masyarakat yang terkena Covid-19 yaitu sejumlah 7.797 orang dengan sebaran tertinggi
di Kota Batam (mencapai 70%) yang merupakan jantung ekonomi Provinsi Kepulauan Riau.
Batam
70,0%
Tanjungpinang
15,7%
Bintan
6,5%
Karimun
4,9%
Lingga
0,4%
Natuna
1,1%
Anambas
1,2%
BAB I
SASARAN PEMBANGUNAN DAN
TANTANGAN DAERAH
Sebaran Covid-19
sebagai Tantangan Daerah
1
BAB I
SASARAN PEMBANGUNAN DAN
TANTANGAN DAERAH
1.1. PENDAHULUAN
Tujuan penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah untuk mewujudkan keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan yang adil dan merata. Oleh sebab itu, untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang baik maka harus disertai dengan unsur pendanaan yang berasal dari penghimpunan pendapatan maupun dari pengalokasian anggaran belanja baik pada APBN maupun APBD. Sesuai dengan Undang-Undang Keuangan Negara Nomor 17 tahun 2003, pemegang kekuasaan tertinggi pengelolaan keuangan negara adalah Presiden, sedangkan di daerah adalah Gubernur/Bupati/Walikota, oleh karena itu dalam tatanan implementasi kebijakan fiskal di daerah, maka diperlukan sinergi dan harmonisasi kebijakan serta pengelolaan keuangan pusat dan daerah agar tujuan dan sasaran pembangunan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Kebijakan fiskal sebagai alat pemerintah untuk mencapai sasaran pembangunan dan kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab pusat dan daerah dalam memastikan efektivitasnya. Dengan tiga fungsi utamanya sebagai alat alokasi, distribusi, dan stabilisasi, maka kebijakan fiskal yang efektif diharapkan mampu meningkatkan perbaikan dan kualitas indikator-indikator ekonomi makro dan kesejahteraan di daerah. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang efektif dapat terlihat dari perbaikan-perbaikan indikator makro ekonomi dan indikator-indikator kesejahteraan.
Tidak terlepas dari hal tersebut, maka hal pertama yang harus menjadi dasar bagi perumusan kebijakan fiskal yang efektif dan efisien adalah daerah harus memetakan terlebih dahulu tantangan-tantangan daerah yang dihadapi baik dari sisi ekonomi, sosial kependudukan, tantangan geografis wilayah, tantangan daerah sebagai dampak
Covid-19, sehingga intervensi kebijakan fiskal melalui program prioritas dapat secara langsung
2
1.2. TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah tahun 2020 didahului dengan pengkajian terhadap visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah, arah kebijakan pembangunan, prioritas nasional, dan isu strategis daerah tahun 2020.Tujuan dan sasaran pembangunan daerah Provinsi Kepulauan Riau tercantum dalam RPJMD 2016-2021 dan RKPD Tahun 2020.1.2.1. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Visi pembangunan jangka menengah daerah merupakan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang menggambarkan arah pembangunan atau kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai selama 5 tahun sesuai dengan misi yang diemban untuk dilaksanakan melalui program-program yang telah ditetapkan. Visi Provinsi Kepulauan Riau periode 2016-2021 yaitu “Terwujudnya Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu yang Sejahtera, Berakhlak Mulia, Ramah Lingkungan dan Unggul di Bidang Maritim”. Perwujudan visi tersebut antara lain:
1. Sebagai Bunda Tanah Melayu mengandung arti bahwa Provinsi Kepulauan Riau diharapkan tetap menjadi wilayah yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan seni budaya melayu dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai adat dan budaya melayu tersebut dilestarikan agar tidak pudar terpengaruh oleh budaya luar.
2. Sejahtera mengandung arti aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran, dsb). Masyarakat sejahtera dapat diartikan secara luas yaitu masyarakat yang terpenuhinya kebutuhan dasarnya (pendidikan, kesehatan, pekerjaan, pangan, perumahan, dan jaminan sosial).
3. Berakhlak Mulia mengandung arti bahwa diharapkan masyarakat Provinsi Kepulauan Riau telah dapat mempertahankan nilai-nilai moralitas masyarakat melayu di mana Agama Islam menjadi sumber utama referensinya dengan dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan bagi masyarakat selain beragama Islam juga dapat melaksanakan ajaran agamanya, sehingga tercipta kerukunan antar umat beragama.
4. Ramah lingkungan mengandung arti bahwa wilayah Provinsi Kepulauan Riau diharapkan menjadi wilayah dengan lingkungan yang bersih, sehat, asri, dan nyaman sehingga perlu didukung dengan sistem pengelolaan lingkungan dan sistem pengelolaan sampah yang baik, pemanfaatan ruang yang memenuhi aspek daya dukung lingkungan, dan dilengkapi ruang terbuka hijau yang memadai. 5. Unggul di Bidang Maritim. Provinsi Kepulauan Riau dicita-citakan memiliki
3
perhubungan, dan pariwisata didukung dengan pembangunan sektor-sektor lainnya dengan berorientasi pada kemaritiman (maritim oriented). Keunggulan di bidang maritim juga mencakup konektivitas antar pulau dan antar kabupaten/kota, serta pemanfaatan potensi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk pengembangan pariwisata bahari.
Dalam rangka mewujudkan visi tersebut dilaksanakan melalui misi yaitu Mengembangkan perikehidupan masyarakat yang agamis, demokratis, berkeadilan, tertib, rukun dan aman di bawah payung budaya Melayu. Misi tersebut terperinci sebagai berikut:
a. Meningkatkan daya saing ekonomi melalui pengembangan infrastruktur berkualitas dan merata serta meningkatkan keterhubungan antar kabupaten/kota.
b. Meningkatkan kualitas pendidikan, keterampilan dan profesionalisme sumber daya manusia sehingga memiliki daya saing tinggi.
c. Meningkatkan derajat kesehatan, kesetaraan gender, pemberdayaan masyarakat, penanganan kemiskinan dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). d. Meneruskan pengembangan ekonomi berbasis maritim, pariwisata, pertanian untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kesenjangan antar wilayah serta meningkatkan ketahanan pangan
e. Meningkatkan iklim ekonomi kondusif bagi kegiatan penanaman modal (investasi) dan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah.
f. Meneruskan pengembangan ekonomi berbasis industri dan perdagangan dengan memanfaatkan bahan baku lokal.
g. Meningkatkan daya dukung, kualitas dan kelestarian lingkungan hidup.
h. Mengembangkan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, aparatur birokrasi yang profesional, disiplin dengan etos kerja tinggi serta penyelenggaraan pelayanan publik yang berkualitas.
Tabel 1 Tujuan dan Sasaran RPJMD 2016-2021 Provinsi Kepulauan Riau
No Sasaran Tujuan
1. Mengembangkan peri kehidupan masyarakat yang agamis, demokrat, berkeadilan, tertib, rukun dan aman dibawah payung budaya Melayu
Meningkatnya kelestarian nilai-nilai dan seni budaya Melayu sebagai kekayaan budaya daerah serta meningkatnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama. 2 Meningkatkan daya saing ekonomi melalui
pengembangan infrastruktur berkualitas dan merata serta meningkatkan keterhubungan antar kabupaten/kota
Terhubungnya antar pulau dan antar kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kepulauan Riau serta meningkatkan kuantitas dan kualitas jalan dan jembatan Provinsi; 3 Meningkatkan kualitas pendidikan, keterampilan dan
profesional sumber daya manusia sehingga memiliki daya saing tinggi.
Meningkatnya ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan dan kepastian pendidikan serta meningkatkan prestasi pemuda dan olah raga.
4 Meningkatkan derajat kesehatan, kesetaraan gender, pemberdayaan masyarakat, penanganan kemiskinan dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat yang tinggi dengan pelayanan yang terjangkau dan berkualitas
4
No Sasaran Tujuan
5 Meneruskan pengembangan ekonomi berbasis maritim, pariwisata, pertanian untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kesenjangan antar wilayah serta meningkatkan ketahanan pangan
a. Meningkatkan produksi perikanan dan hasil olahan perikanan;
b. Meningkatkan kunjungan wisatawan domestik dan mana negara;
c. Meningkatkan produksi pertanian untuk ketahanan pangan masyarakat secara merata.
6 Meningkatkan iklim ekonomi kondusif bagi kegiatan penanaman modal (investasi) dan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah.
a. Meningkatkan realisasi investasi domestik dan investasi asing, pelayanan perijinan serta kebijakan kepastian hukum bagi pelaku usaha;
b. Meningkatkan kemandirian dan daya saing koperasi dan UKM.
7 Meneruskan pengembangan ekonomi berbasis industri dan perdagangan dengan memanfaatkan bahan baku lokal
Meningkatnya kuantitas dan omzet produksi industri berbahan baku lokal serta meningkatnya kinerja sektor perdagangan.
8 Meningkatkan daya dukung, kualitas dan kelestarian lingkungan hidup
a. Meningkatnya kualitas lingkungan hidup, pengelolaan dan pelestarian hutan;
b. Meningkatnya kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan.
9 Mengembangkan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, aparatur birokrasi yang profesional, disiplin dengan etos kerja tinggi serta penyelenggaraan pelayanan publik yang berkualitas.
a. Meningkatnya kualitas pelayanan publik, pengelolaan informasi publik dan penerapan e-goverment. b. Meningkatnya kapasitas fiskal dalam membiayai
pembangunan dan kualitas pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah.
Sumber: RPJMD Provinsi Kepulauan Riau 2015-2021
Untuk mewujudkan visi dan misi RPJMD Provinsi Kepulauan Riau, pembangunan Provinsi Kepulauan Riau berorientasi pada pengembangan infrastruktur berkualitas dan merata serta meningkatkan keterhubungan antar kabupaten/kota, peningkatan kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi berbasis maritim, pariwisata, pertanian sehingga nantinya Provinsi Kepulauan Riau diharapkan dapat mencapai tujuan dan sasaran seperti tabel 1.
1.2.2. Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
Tema Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 adalah “Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan ekonomi, keberlanjutan infrastruktur serta pengembangan pusat kebudayaan Melayu Kepulauan Riau”. Adapun sasaran dan indikator dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah sebagai berikut:
Tabel 2 Target RKPD Tahun 2020 Provinsi Kepulauan Riau
No Indikator Target 2020
1 Pertumbuhan Ekonomi (%) 5 ±1,0%
2 Tingkat Pengangguran Terbuka 6,74%
3 Persentase Penduduk Miskin 5,83%
4 Jumlah kunjungan wisatawan 2,4 juta orang
Sumber: RKPD Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020
Dalam mewujudkan sasaran dan indikator diatas, ditetapkan prioritas pembangunan Provinsi Kepulauan Riau antara lain:
5
b. Peningkatan daya saing ekonomi
c. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
d. Peningkatan kualitas infrastruktur dan konektivitas wilayah e. Pengembangan pemasaran pariwisata
1.3. TANTANGAN DAERAH
1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan pembangunan dan hasilnya cukup menggembirakan. Namun demikian, harus diakui belum semua indikator menunjukkan hasil yang maksimal. Tantangan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau bila dilihat dari sisi ekonomi daerah erat kaitannya dengan promosi potensi dan peluang investasi, pemenuhan sarana dan prasarana perdagangan, pengembangan infrastruktur konektivitas antar wilayah, peningkatan kebutuhan energi listrik, peningkatan sarana dan prasarana penangkapan dan budi daya hasil laut, dan reformasi birokrasi. Rincian tantangan pembangunan Provinsi Kepulauan Riau dari sisi keekonomian tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3 Tantangan Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020
Nomor Bidang Permasalahan/Tantangan
1 Investasi Promosi potensi dan peluang investasi
2 Industri dan perdagangan Pemenuhan sarana dan prasarana perdagangan.
3 Infrastruktur Pengembangan infrastruktur ekonomi (konektivitas jalan, pelabuhan, bandara). 4. Energi Listrik Peningkatan ketersediaan listrik masyarakat
5 Ketahanan Sumber daya laut Penyediaan sarana dan prasarana penangkapan dan budidaya hasil laut. 6 Reformasi Birokrasi - Peningkatan kualitas pelayanan publik
- Penerapan e-government
Sumber: RKPD Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020
1.3.2. Tantangan Sosial Penduduk
Tantangan pembangunan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 juga terdapat pada sosial penduduk. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya angka kemiskinan yang dapat dilihat dari sisi pendidikan maupun kesehatan, pemenuhan rumah layak huni, penyediaan air bersih, dan permasalahan terkait ketahanan pangan. Rincian tantangan sosial penduduk yang dihadapi masyarakat Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4 Tantangan Sosial Penduduk Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020
No Bidang Permasalahan/Tantangan
1 Pendidikan Sarana dan prasarana yang belum memadai
2 Kesehatan Keterbatasan mutu dan jumlah tenaga kesehatan
3 Perumahan dan Pemukiman Ketersediaan rehabilitasi rumah tidak layak huni
4 Lingkungan Hidup Pencemaran lingkungan
5. Ketahanan Pangan a. Ketersediaan pangan masyarakat
6
No Bidang Permasalahan/Tantangan
5 Air Bersih Penyediaan akses pelayanan air bersih
Sumber: RKPD Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020
1.3.3. Tantangan Geografis Wilayah
Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan provinsi ke-32 di Indonesia memiliki posisi yang strategis dalam lalu lintas perdagangan dunia dikarenakan langsung dengan beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Kamboja. Secara umum wilayah Kepulauan Riau sekitar 96% adalah lautan dengan jumlah pulau sebanyak 2.408. Luas wilayah Provinsi Kepulauan Riau yaitu 251.810,71 km2 yang terdiri dari luas daratan 10.595.41 km2 dan luas lautan 241.215,30 km2.
Kondisi posisi Provinsi Kepulauan Riau yang berbentuk kepulauan memberikan tantangan bagi pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan kondisi geografi tersebut, memberikan tantangan tersendiri dalam pembangunan daerah terkait konektivitas antar daerah dan terkait mata pencaharian masyarakatnya di mana perikanan dan pariwisata menjadi mata pencaharian utama.
1.3.4. Tantangan Daerah Sebagai Dampak Covid-19
a. Sebaran Pandemi per Wilayah
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Tim Gugus Covid-19 telah mengambil langkah-langkah dalam menangani dampak Covid-19.Sebagaimana grafik 1 sebaran pandemi
Covid-19 tanggal 12 Februari 2021, Kota
Batam menduduki posisi pertama untuk sebaran dengan total 5.809 orang yang terdiri dari jumlah aktif sebanyak 206 orang, meninggal 146 orang dan sembuh 5.457 orang. Sementara
sebaran paling rendah pada Kabupaten Lingga dengan total 51 orang yang terdiri dari aktif 13 orang, meninggal 3 orang, dan sembuh 35 orang.
Sebagai strategi lanjutan sehubungan dengan pencegahan dan penghentian penyebaran Covid-19 di Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berkoordinasi aktif dengan para bupati dan walikota untuk terus melakukan pencegahan sebaran pandemi Covid-19.
13 1 6 12 67 75 206 3 1 1 18 14 25 146 35 87 96 384 510 1.228 5.457 (10.000) (8.000) (6.000) (4.000) (2.000) 2.000 4.000 6.000 (100) (50) 50 100 150 200 250
Aktif Meninggal Sembuh
Grafik 1 Sebaran Covid-19 Provinsi Kepri
Total kasus 8.385
7
b. Zonasi Tingkat Keparahan
Sebaran pandemi Covid-19 sebagaimana pada pembahasan di atas memberikan dampak terhadap zonasi tingkat keparahan penderita
Covid-19. Berdasarkan peta risiko, tiga wilayah di
Provinsi Kepulauan Riau yaitu Kabupaten Lingga, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Kepulauan Anambas memiliki risiko kasus rendah (zona
kuning) sedangkan empat wilayah yaitu Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kota Tanjungpinang, dan Kota Batam memiliki risiko kasus sedang (zona oranye).
Dalam rangka peningkatan kewaspadaan terhadap risiko penularan infeksi
Covid-19 serta mempertimbangkan peningkatan intensitas penyebaran wabah Covid-Covid-19
Provinsi Kepulauan Riau, baik Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Tim Gugus Tugas
Covid-19 meminta kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan upaya tindakan
kewaspadaan diri, kesiapsiagaan dan pencegahan dengan mempedomani seluruh aktivitas masyarakat dengan penerapan prosedur kesehatan.
c. Kebijakan Pembatasan Mobilitas
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengambil kebijakan untuk penanganan pandemi Covid-19 sebagai berikut:
1) Secara spesifik, pemberlakuan PSBB di beberapa daerah di Provinsi Kepulauan Riau nantinya akan membatasi secara ketat mobilitas penduduk dilaksanakan melalui pembatasan kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di luar rumah, pembatasan kegiatan di tempat/fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya. 2) Mengubah metode belajar siswa menjadi belajar di rumah masing-masing dengan
memanfaatkan sarana pembelajaran berbasis online, menerapkan aturan work from
home bagi para pegawai pemerintahan, serta melakukan pembatasan
penyelenggaraan kegiatan masyarakat yang bersifat pengumpulan masa.
3) Pembatasan jam buka operasional pusat perbelanjaan/mall/pasar modern pada pukul 10.00 s.d 20.00 WIB.
4) Pelarangan sementara terhadap pelaksanaan kegiatan yang melibatkan massa lebih dari 5 (lima) orang, termasuk dan tidak terbatas pada seluruh aktifitas ibadah di semua rumah ibadah, arisan, pengajian, resepsi pernikahan, syukuran, selamatan, kenduri arwah, takziah dan lain lain.
Grafik 2 Sebaran Zona Keparahan
Zona Kuning 3 Zona Oranye 4
8
5) Melakukan assesmen dan memastikan kesiapan penerapan protokol Covid-19 di daerah tujuan wisata termasuk hotel serta mengkomunikasikan kepada publik seperti halnya telah dilakukan di daerah wisata lain.
6) Membuka daerah wisata secara bertahap dimulai dari daerah wisata yang mobilitasnya dapat dikontrol
d. Formulasi Kebijakan Penanganan Covid-19 & Pemulihan Ekonomi
Nasional (PC-PEN) di Provinsi Kepri
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengambil kebijakan terkait dengan penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) antara lain:
1. Kepala Daerah pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Kepala Daerah membentuk Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Daerah berdasarkan pertimbangan dan rekomendasi Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. 2. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melakukan refocusing serta realokasi
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020 untuk penanganan dampak Covid-19 di Provinsi Kepulauan Riau dengan berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat.
3. Plt. Gubernur Kepri juga menginstruksikan kepada para bupati dan walikota yang daerahnya akan melaksanakan PSBB agar serius mempersiapkan anggaran dan merancang program jaringan pengaman sosial, salah satunya melalui pemberian sembako kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 serta pemberlakuan kebijakan ini, sehingga diharapkan dapat mengurangi beban dan resistensi yang ditimbulkan oleh masyarakat dalam pelaksanaan kebijakan PSBB ini.
4. Melakukan formulasi kebijakan pendapatan dan belanja daerah melalui perubahan RKPD Provinsi Kepulauan Riau, dengan perubahan anggaran pendapatan dan perubahan anggaran belanja daerah. Perubahan pendapatan daerah dari sebesar Rp3.882.832.227.023,00 menjadi sebesar Rp3.523.953.266.687,80, sementara untuk perubahan anggaran belanja belanja daerah dari Rp3.957.832.227.023,00 pada menjadi Rp3.929.319.518.749,97.
5. Alokasi perubahan RKPD tahun 2020 digunakan untuk penyediaan alokasi
refocusing dan realokasi APBD untuk penanganan belanja di bidang ekonomi,
Pada tahun 2020, perekonomian Indonesia menurun secara drastis dari 4,89 menjadi -2,19 yang
dise-babkan oleh terjadinya pandemi Covid-19. Secara regional, perekonomian di Provinsi Kepri juga
sangat terdampak dan mengalami penurunan dari 5,02 menjadi -4,66 yang menyebabkan Kepri
berada pada peringkat pertumbuhan ekonomi ke-33 dari seluruh provinsi se-Indonesia.
BAB II
PERKEMBANGAN DAN
ANALISIS EKONOMI REGIONAL
5,17
4,89
-2,19
4,56
5,02
-4,66
2018
2019
2020
Perkembangan Pertumbuhan
Ekonomi (y-o-y)
Nasional
Kepri
9
BAB II
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS
EKONOMI REGIONAL
Tabel 5 Pencapaian Sasaran Pembangunan RKP dan RPJMD Tahun 2020
Indikator Ekonomi Capaian Target RKP Target RPJMD
Pertumbuhan Ekonomi (%) -4,66% 5,3% 6,91%
Inflasi (%) 1,68% 3,5±1,0% 5-7%
Pengangguran (%) 10,34% 4,8%-5% 5,5%
Kemiskinan (%) 6,13% 8,5%-9 % 4,53%
Sumber: BPS Kepri (diolah) 01 Februari 2021
2.1. INDIKATOR MAKROEKONOMI FUNDAMENTAL
2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Indikator ekonomi diperlukan untuk mengetahui kondisi perekonomian daerah pada periode tertentu. Salah satu indikator untuk mengetahui kondisi perekonomian di suatu daerah dalam suatu periode tertentu adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah/wilayah
tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit kegiatan ekonomi dalam suatu daerah/wilayah pada suatu periode tertentu. Data PDRB dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan.
Secara nominal berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDRB) Provinsi Kepulauan Riau atas dasar harga konstan (ADHK) 2020 tercatat sebesar Rp175,19 triliun dan atas dasar harga berlaku (ADHB) 2020 sebesar Rp254,80 triliun.
Tabel di samping menggambarkan beberapa target RPJMD Provinsi Kepri untuk 2020 dalam menghadapi tantangan pelemahan ekonomi yang terjadi di masa pandemi
Covid-19. Pada tahun 2020, target yang terpenuhi hanya inflasi.
Sumber: BPS Kepri (diolah)
PDRB ADHK tahun 2020 sebesar
Rp175,19
triliun
dan PDRB ADHB sebesarRp254,80
triliun
Sumber: BPS Kepri (diolah)
173, 69 182, 17 175, 19 254, 42 267, 96 254, 80 4,56 4,89 -4,66 -20 -15 -10 -5 0 5 10 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 200,00 220,00 240,00 260,00 280,00 2018 2019 2020
PDRB ADHK PDRB ADHB Pertumbuhan
Grafik 3 Pertumbuhan PDRB Provinsi Kepri 2018-2020 (dalam triliun rupiah)
10
a. Laju Pertumbuhan Ekonomi (PDRB)
Laju pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau 2020 mengalami kontraksi sebesar -4,66 persen (y-o-y) dibandingkan tahun 2019 sebesar 4,89 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan aktivitas perekonomian Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 sebagai dampak pandemi Covid-19. Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi secara nasional, pertumbuhan ekonomi
Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 terpaut 247 basis poin. Pertumbuhan ekonomi nasional mengalami kontraksi sebesar -2,19 persen terpaut 283 basis poin dibandingkan tahun 2019 sebesar 5,02 persen.
Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau yang mengalami kontraksi tahun 2020 sebagai dampak pandemi Covid-19 mengakibatkan Kepri berada pada peringkat pertumbuhan ekonomi ke-33 untuk tingkat provinsi menurun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada pada peringkat 25.
Pada tingkat regional Sumatera, Provinsi Kepulauan Riau berada di posisi ke-5 dengan kontribusi/share Kepri terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera sebesar 7,67 persen.
b. Nominal PDRB
1) PDRB Sisi Permintaan/Pengeluaran
Ditinjau dari sisi pengeluaran, sumbangsih tertinggi terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 diberikan oleh komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 43,30 persen, konsumsi rumah tangga 41,78 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 9,37 persen.
Tabel 6 Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Kepulauan Riau Tahun Dasar 2010 Sumber Penggunaan/Pengeluaran Pertumbuhan 2020 (q to q) Pertumbuhan Sumber Distribusi 2020
1. Konsumsi Rumah Tangga 2,80% -1,07 % 41,78%
2. Konsumsi LNPRT 11,17% 6,19% 0,27%
3. Konsumsi Pemerintah 75,69% -3,72% 9,37%
4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 2,80% -9,72% 43,30%
5. Net Ekspor Antar Daerah 3,62% 12,66% 5,86%
PDRB 4,53% -4,66% 100%
Sumber: BPS Kepri (diolah) 01 Februari 2021
Pembentukan modal tetap bruto tahun 2020 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2019 dikarenakan dalam situasi pandemi Covid-19 karena menurunnya belanja modal pemerintah dan sikap investor yang masih melihat dan menunggu terhadap iklim usaha yang belum membaik. Sementara konsumsi pemerintah tahun
Laju pertumbuhan ekonomi Prov.Kepri tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar -4,66 persen PMTB, Komsumsi RT, dan Konsumsi Pemerintah memberikan distribusi masing-masing sebesar 43,43 persen, 41,78 persen dan 9,37 persen
Sumber: BPS (Pusat dan Kepri)
4,56 4,89 -4,66 5,17 5,02 -2,19 -5 -3 -1 1 3 5 7 2018 2019 2020 Kepri Nasional
Grafik 4 Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2018-2020
11
2020 mengalami kenaikan disebabkan oleh pengeluaran untuk transportasi, komunikasi, biaya air dan listrik, meningkatnya bansos dari pemerintah terhadap penduduk terdampak Covid-19 serta inflasi yang relatif masih rendah sebesar 1,18 persen.
2) PDRB Sisi Penawaran/Lapangan Usaha (LU)
Pembentuk PDRB dari sisi penawaran merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang dipakai/terlibat dalam proses produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun). Kontributor tertinggi terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau dari sisi penawaran/lapangan usaha didominasi sektor industri pengolahan sebesar 42,38 persen, sektor konstruksi sebesar 19,53 persen serta sektor pertambangan dan penggalian sebesar 11,43 persen. Selama tahun 2020 aktivitas sektor industri pengolahan dan konstruksi masih belum pulih dibandingkan tahun 2019 disebabkan antara lain bergesernya prioritas pemerintah menjadi penanganan Covid-19 serta masih menunggunya sikap para pengembang dan kontraktor menunggu kondisi kondusif untuk melakukan investasi di Provinsi Kepulauan Riau.
Tabel 7 PDRB ADHK Menurut Lapangan Usaha Provinsi Kepulauan Riau Tahun Dasar 2010
Lapangan Usaha 2016 Porsi dalam Struktur Ekonomi (%) 2017 2018 2019 2020 2016 Pertumbuhan (C to C,%) 2017 2018 2019 2020 1. Pertanian 4,34% 4,15% 3,17% 2,99% 3,03% 5,08% -1,31% -3,27% -0,02% -0,14% 2. Pertambangan dan Penggalian 19,55% 18,08% 14,60% 13,76% 11,43% 5,96% -4,51% 1,55% 0,08% -0,60% 3. Industri Pengolahan 44,63% 43,91% 36,90% 36,49% 42,38% 3,36% 1,56% 4,13% 2,34% 1,23% 4. Pengadaan Listrik, Gas 1,11% 1,14% 0,98% 1,04% 1,00% 8,75% 6,47% -0,94% 0,03% -0,04% 5. Pengadaan Air 0,15% 0,16% 0,11% 0,09% 0,10% 5,26% 10,09% 1,60% 0,00% 0,00% 6. Konstruksi 20,37% 20,42% 18,54% 20,46% 19,53% 4,47% 3,45% 7,93% 1,48% -1,19% 7. Perdagangan 9,33% 9,61% 8,79% 8,66% 7,51% 9,54% 6,27% 6,28% 0,51% -1,08% 8. Transportasi dan Pergudangan 3,23% 3,29% 2,84% 2,66% 1,54% 6,92% 5,23% 0,85% -0,24% -0,95% 9. Penyedia Akomodasi 2,29% 2,49% 2,20% 2,42% 1,37% 5,20% 11,93% 11% 0,22% -0,97% 10. Informasi dan Komunikasi 2,52% 2,63% 2,13% 2,01% 2,62% 7,40% 7,69% 11,30% 0,28% 0,42% 11. Jasa Keuangan 3,14% 3,15% 2,70% 2,62% 2,69% 5,79% 3,49% 6,10% 0,13% -0,08% 12. Real Estate 1,77% 1,78% 1,36% 1,31% 1,17% 4,40% 3,82% -0,09% 0,01% -0,12% 13. Jasa Perusahaan 0,01% 0,01% 0,01% 0,00% 0,00% 6,18% 7,25% 7,40% 0,00% 0,00% 14. Adm.Pemerintah
an, dan Jaminan Sosial 2,63% 2,66% 2,84% 2,59% 3.03% 6,88% 4,67% 7,55% 0,04% 0,18% 15. Jasa Pendidikan 1,60% 1,71% 1,46% 1,45% 1,48% 8,85% 10,30% 1,81% 0,01% -0,11% 16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,07% 1,14% 0,87% 0,92% 0,93% 4,45% 10,29% 3,15% 0,03% -0,02% 17. Jasa Lainnya 0,52% 0,53% 0,53% 0,52% 0,19% 8,08% 6,43% 19,24% 0,00% -0,34% Agregat 100% 100% 100% 100% 100% 5,03% 2,00% 4,56% 4,89% -3,80% Sumber: BPS Kepri (diolah) 01 Februari 2021
Pertumbuhan ekonomi Kepri dapat lebih dikembangkan terutama kepada usaha-usaha stakeholders dalam mengembalikan gairah investasi di Kepri dan melakukan diversifikasi perekonomian sehingga dapat mendorong kembali perekonomian Kepri di melalui sektor-sektor potensial seperti pariwisata dan perikanan.
Sektor industri pengolahan, konstruksi dan pertambangan penggalian memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Prov. Kepri tahun 2020 masing-masing 42,38 persen, 19,53 persen dan 11,43 persen
12
c. PDRB per Kapita
PDRB per kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk di suatu daerah yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan suatu daerah dengan jumlah penduduk regional tersebut. Nilai PDRB ADHB Provinsi Kepulauan Riau sebesar Rp113,39 juta per kapita, sementara PDRB ADHB Per Kapita Nasional tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp56,90 juta.
Dengan nilai lebih dari 2 kali lipat PDRB per kapita nasional, kemakmuran penduduk Provinsi Kepulauan Riau dari segi ekonomi dapat dikatakan jauh di atas rata-rata nasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa lokasi Kepri yang strategis, didukung dengan pemberian insentif fiskal melalui penetapan Free Trade
Zone Batam, Bintan, Karimun (BBK) telah
memberikan kelebihan sendiri bagi perkembangan perekonomian Provinsi Kepulauan Riau.
2.1.2. Suku Bunga
Kondisi perekonomian secara keseluruhan, laju inflasi dipengaruhi kebijakan suku bunga. Suku bunga mempengaruhi jumlah uang yang beredar yang berpengaruh terhadap tingkat inflasi. Seiring dengan kondisi perekonomian yang mengalami pelambatan tahun 2020, Bank Indonesia melakukan penurunan BI 7-day Reverse Repo
Rate dengan melakukan penyesuaian dengan menurunkan suku bunga.
Grafik 6 Perkembangan Suku Bunga BI Rate 7-Day Repo Rate dan SBDK BRI 2020
Sumber: Bank Indonesia (diolah)
Sebagaimana dalam Grafik 6, Bank Sentral memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate berada pada besaran 5 persen. Seiring dengan masa pandemi Covid-19, Bank Sentral melakukan penurunan BI 7-day Reverse Repo Rate sebanyak lima kali, yaitu masing-masing sebesar 0,25 basis poin pada bulan Febuari,
9,90 9,90 9,80 9,80 9,80 9,80 9,80 9,80 9,80 9,75 9,75 9,75 17,25 17,25 16,75 16,75 16,75 16,75 16,75 16,75 16,75 16,50 16,50 16,50 5,00 4,75 4,50 4,50 4,50 4,25 4,00 4,00 4,00 4,00 3,75 3,75 5,00 10,00 15,00 20,00
Ritel Mikro BI Rate
Kebijakan BI menurunkan suku bunga bertujuan untuk memperkuat daya beli masyarakat. Pendapatan masyarakat Kepri lebih besar 2 kali lipat dibandingkan rata-rata nasional 116,46 122,24 113,39 56,00 59,10 56,90 0,00 50,00 100,00 150,00 2018 2019 2020 Nasional Kepri
Grafik 5 PDRB per Kapita 2018-2020 (dalam juta rupiah)
13
Maret, Juni, Oktober dan Desember. Sehingga sampai dengan akhir tahun, suku bunga Bank Indonesia (BI 7-day Reverse Repo Rate) turun menjadi 3,75 persen dari sebelumnya sebesar 5 persen per tahun.
Kebijakan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia berdasarkan beberapa pertimbangan untuk mendorong penyaluran kredit yang diharapkan bisa mendorong percepatan perekonomian nasional dan memperkuat daya beli masyarakat. Penurunan suku bunga diikuti juga penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) oleh Perbankan (BRI) sebesar 0,75 persen di sektor mikro dan 0,15 persen di sektor ritel.
2.1.3. Inflasi
Inflasi Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 tercatat sebesar 1,18 persen (y-o-y) lebih rendah 5 basis poin dari inflasi nasional (1,68 persen) dan masih di bawah target inflasi pemerintah, yakni 3,5±1%. Perkembangan inflasi Provinsi Kepulauan Riau tahun 2018 s.d. tahun 2020 disajikan dalam Grafik 7.
Andil komoditas terbesar pendorong inflasi di Kepulauan Riau menurut kelompok pengeluarannya terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Peran Pemerintah Provinsi dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sangat dibutuhkan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan percepatan distribusi barang dan stabilitas harga bahan makanan.
Dikaitkan dengan teori ekonom, A.W. Phillips, yang menjelaskan mengenai hubungan terbalik
antara tingkat pengangguran dan inflasi dalam Phillips Curve, data perbandingan hubungan kedua indikator tersebut di Kepri memiliki tren yang memiliki korelasi negatif sebagaimana tercermin pada kurva di samping. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa penurunan inflasi di Kepri terindikasi menghasilkan trade-off dengan peningkatan tingkat pengangguran. Koefisien -0,8382 mengindikasikan bahwa setiap peningkatan inflasi sebesar 1% akan menyebabkan penurunan sebesar 0,8382% pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan sebaliknya.
3,47 2,03 1,18 3,13 2,72 1,68 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 2018 2019 2020 Kepri Nasional Inflasi Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 tercatat
1,18 persen
Grafik 7 Perkembangan Inflasi 2018-2020(dalam persen) y = -0,8382x + 0,1031 0,00% 1,00% 2,00% 3,00% 4,00% 5,00% 6,00% 7,00% 8,00% 9,00% 5,00% 7,00% 9,00% 11,00% Penga n ggur an Inflasi
Grafik 8 Scatter Plot Hubungan Inflasi dan Tingkat Pengangguran Terbuka (Phillips Curve)
Sumber: BPS (Pusat & Kepri)
14
2.1.4. Nilai Tukar
Nilai tukar adalah sejumlah uang dari suatu mata uang tertentu yang dapat dipertukarkan dengan unit mata uang negara lain. Tujuan analisis nilai tukar adalah untuk mengetahui nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing khususnya USD yang mempengaruhi indikator ekonomi lainnya khususnya terkait dengan neraca perdagangan/pembayaran, ekspor impor, dan cadangan devisa. Salah satu indikator ekonomi makro yang penting dalam penyusunan APBN adalah nilai tukar rupiah terhadap USD yang memiliki asumsi yang sangat berpengaruh terhadap penerimaan, pengeluaran serta pembiayaan dalam APBN. Perkembangan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing dolar AS tahun 2020 disajikan dalam Grafik 9.
Grafik 9 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Valuta Asing Dolar AS per Bulan Tahun 2020
Sumber: Bank Indonesia (diolah)
Sepanjang tahun 2020 nilai tukar rupiah terhadap US$ tercatat mengalami naik turun sejak awal tahun. Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sedikit banyak berpengaruh terhadap nilai ekspor. Hal ini karena dapat mengganggu nilai jual produk yang diekspor, di mana, jika rupiah menguat maka nilai ekspor dalam mata uang dolar AS menjadi lebih murah. Total ekspor Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020 sebesar US$12.006,08 juta. Sementara impor Provinsi Kepulauan Riau sebesar US$11.263,70 juta. Neraca perdagangan tahun 2020 tercatat surplus sebesar US$742,38 turun 69,18 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar US$2.409,3 juta.
2.2. INDIKATOR KESEJAHTERAAN
2.2.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (penduduk). IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM dikelompokkan dalam beberapa kategori, IPM < 60 (Rendah), 60 ≤ IPM < 70 (sedang), 70 ≤ IPM < 80 (Tinggi), IPM ≥ 80 (Sangat Tinggi).
13.662 14.234 16.367 15.157 14.733 14.302 14.653 14.554 14.918 14.690 14.128 14.105 12.000 13.000 14.000 15.000 16.000 17.000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Nilai tukar rupiah terhadap dolar tahun 2020 tercatat sebesar
15
Pembangunan manusia di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2020 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia tahun 2020 Provinsi Kepulauan Riau menempati posisi ke-empat tertinggi di Indonesia pada besaran 75,59 atau di bawah DKI Jakarta, DI Yogyakarta dan Kalimantan Timur, sementara IPM Nasional sebesar 71,94. Perkembangan IPM Provinsi Kepulauan Riau tahun 2018 s.d. 2020 dijelaskan dalam Grafik 10.
Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terakhir tahun 2020 menunjukkan bahwa, terdapat 3 Kabupaten/Kota yang memiliki IPM di bawah Nasional yakni Kabupaten Karimun, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Dari ketiga Kabupaten tersebut, Lingga memiliki IPM terendah (65,29), Kepulauan Anambas (69,8) sedangkan Karimun (71,44) hanya terpaut 50 basis poin dibandingkan dengan nasional (71,94).
Grafik 11 IPM per Kabupaten/Kota Tahun 2020
Sumber: BPS Kepri (diolah)
2.2.2. Tingkat Kemiskinan
Penurunan tingkat kemiskinan adalah salah satu ukuran keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Perbaikan kesejahteraan penduduk miskin tidak hanya tercermin pada penurunan angka kemiskinan saja namun juga terdapat perbaikan kualitas hidup penduduk miskin. Persentase penduduk miskin atau
head count index of poverty (HCI-P0) di Kepri per September 2020 sebesar 6,13 persen,
meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya pada angka sebesar 5,80 persen. Perkembangan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2018 s.d. tahun 2020 dijelaskan dalam Grafik 13.
65,29 69,8 71,44 71,94 72,72 74,13 75,59 78,91 81,11 60 65 70 75 80 85
Lingga Anambas Karimun Nasional Natuna Bintan Kepri Tjpinang Batam
Persentase penduduk miskin Prov.Kepri tahun 2020 sebesar
6,13 persen
74,84 75,48 75,59 71,39 71,92 71,94 69 70 71 72 73 74 75 76 2018 2019 2020 Kepri NasionalGrafik 10 Perkembangan IPM 2018-2020
Sumber: BPS Kepri (diolah)
IPM Prov. Kepri tahun 2020 sebesar
75,59
dan berada pada posisi ke-4 secara nasional16
Dalam skala nasional, persentase penduduk miskin Provinsi Kepulauan Riau tercatat selalu lebih rendah jika dibandingkan rata-rata persentase nasional. Persentase penduduk miskin periode September 2020 di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 6,13 persen, berada pada posisi 6 dari 34 provinsi di Indonesia.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, kemiskinan tertinggi terjadi di pedesaan dibandingkan dengan penduduk yang perkotaan. Angka disparitas persentase penduduk miskin periode September 2020 masih sangat tinggi, yaitu 11,25 persen di perdesaan dibandingkan dengan 5,69 persen di perkotaan.
Jika dilihat dari jenis komoditas yang berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan, baik di desa maupun di kota masih berada pada kelompok bahan makanan dengan angka 74,3 persen dan 65,89 persen.
Persoalan kemiskinan tidak hanya mencakup urusan jumlah dan persentase
penduduk miskin, namun perlu diperhatikan pula Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2). Secara sederhana, P1 adalah kesenjangan/jarak antara rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi P1 maka semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin dari garis kemiskinan. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) merupakan indikator untuk mengukur kesenjangan/sebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks P2 menunjukkan ketimpangan yang semakin melebar di antara penduduk miskin itu sendiri.
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) serta Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Provinsi Kepulauan Riau September 2020 meningkat dibandingkan Maret 2020. Nilai P1
Sumber: BPS Kepri (diolah)
Komoditas bahan makanan memberikan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan di perdesaan dan perkotaan 6,13% 10,19% 4% 7% 10% 13%
Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20
Kep.Riau Nasional
Grafik 13 Persentase Penduduk Miskin
Sumber: BPS Kepri (diolah)
5, 45 5, 15 5, 33 5, 26 5, 42 5, 69 10, 77 11, 26 11, 04 10, 67 10, 43 11, 25 6,2 5,83 5,9 5,8 5,92 6,13 5,6 5,7 5,8 5,9 6 6,1 6,2 6,3 0 2 4 6 8 10 12
Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20
Kota Desa Total
Grafik 12 Persentase Penduduk Miskin di Kota, Desa, dan Total Kepri
(dalam persen)
Sumber: BPS Kepri (diolah)
74,3 65,89 25,7 34,11 0% 20% 40% 60% 80% 100% Perdesaan Perkotaan
Makanan Bukan Makanan
Grafik 14 Kontribusi terhadap Garis Kemiskinan (dalam persen)