Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Uni Myanmar, selanjutnya disebut "Para Pihak";

Teks penuh

(1)

REPVBL INDOIIESlA

PERSETUJUAN ANTARA

PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN

PEMERINTAH REPUBLIK UNI MYANMAR MENGENAI

PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR BIASA

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Uni Myanmar, selanjutnya disebut

"Para Pihak"

;

MENIMBANG Persetujuan Kerangka Kerja ASEAN mengenai Pembebasan Visa yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada tanggal 25 Juli 2006, dan dengan pandangan untuk memperkuat dan mengembangkan hubungan bersahabat yang terjalin antara kedua negara dan warganya;

BERHASRAT untuk memfasilitasi prosedur perjalanan bersama yang dilakukan oleh warga negaranya, pemegang paspor biasa;

SESUAI dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masing-masing negara;

TELAH MENYETUJUI hal-hal sebagai berikut:

PASAL1 PEMBEBASAN VISA

1. Warga Negara Republik Indonesia, pemegang paspor biasa yang sah, dibebaskan dari kewajiban untuk memperoleh visa untuk masuk, singgah, dan tinggal di wilayah

(2)

negara Republik Uni Myanmar untuk suatu jangka waktu yang tidak melebihi 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal masuk.

2. Warga Negara Republik Uni Myanmar, pemegang paspor biasa yang sah,

dibebaskan dari kewajiban untuk memperoleh visa untuk masuk, singgah, dan tinggal

di wilayah negara Republik Indonesia untuk suatu jangka waktu yang tidak melebihi 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal masuk.

3. Masa berlaku paspor biasa yang sah dari warga negara dari salah satu Pihak wajib sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan pada hari memasuki wilayah Pihak lainnya.

PASAL 2

KETENTUAN MASUK DAN KELUAR

Pemegang paspor biasa dari salah satu Pihak sebagaimana dirujuk dalam Persetujuan ini, dapat memasuki dan meninggalkan wilayah negara Pihak lainnya, di setiap titik yang diizinkan untuk tujuan tersebut oleh pihak imigrasi yang berwenang, tanpa pembatasan apapun, kecuali di tempat-tempat yang ditentukan bagi syarat-syarat keamanan, migrasi, bea cukai, kesehatan dan lainnya yang secara hukum diterapkan kepada pemegang paspor yang berlaku tersebut.

PASAL 3

HAK PIHAK YANG BERWENANG

1.

Para Pihak berhak untuk menolak memberikan izin masuk, memperpendek atau menghentikan masa tinggal setiap orang yang berhak atas pembebasan visa dan fasilitas-fasilitas berdasarkan Persetujuan ini apabila orang tersebut dicurigai dapat membahayakan ketentraman umum, ketertiban umum, kesehatan publik atau keamanan nasional.

2. Warga Negara salah satu Pihak yang berhak atas pembebasan visa dan fasi litas-fasilitas berdasarkan Persetujuan ini wajib tunduk kepada hukum dan peraturan yang berlaku selama berada di wilayah Pihak lainnya.

(3)

PASAL 4

CONTOH DAN PENERBITAN PASPOR ATAU DOKUMEN PERJALANAN

1. Para Pihak wajib saling bertukar, melalui saluran diplomatik, dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah penandatanganan Persetujuan ini, contoh-contoh paspor

biasa yang berlaku. Dalam hal pengenalan paspor biasa baru, serta modifikasi

terhadap yang telah ada, Para Pihak wajib memberitahukan secara tertulis, melalui saluran diplomatik, mengenai setiap perubahan setidaknya 30 (tiga puluh) hari sebelum pengenalan resminya.

2. Dalam hal warga negara dari salah satu Pihak kehilangan atau rusak paspor

biasanya di wllayah Pihak lainnya, mereka wajib segera memberitahukan kepada pejabat-pejabat yang berwenang di negara Pihak yang menerima melalui misi diplomatik atau kantor konsuler sesuai kewarganegaraannya. Misi diplomatik atau kantor konsuler yang bersangkutan wajib menerbitkan kepada orang yang dimaksud,

sesuai dengan perundang-undangan nasional, suatu dokumen untuk kembali ke negara asalnya.

PASAL 5 PENANGGUHAN

Masing-masing Pihak dapat menangguhkan sementara pelaksanaan Persetujuan ini

baik secara keseluruhan maupun sebagian, dengan alasan-alasan keamanan nasional, ketertiban umum atau kesehatan publik. Pengenalan dan pengakhiran penangguhan dimaksud wajib diberitahukan kepada Pihak lainnya melalui saluran

diplomatik, tidak lebih dari 15 (lima belas) hari dari tanggal yang dikehendaki untuk mulai berlaku dan berakhirnya penangguhan.

(4)

PASAL 6

PENYELESAIAN SENGKETA

Setiap perbedaan atau sengketa yang timbul terhadap pelaksanaan atau ketentuan-ketentuan Persetujuan ini wajib diselesaikan secara damai melalui konsultasi atau perundingan Para Pihak.

PASAL 7 PERU BAHAN

Persetujuan ini dapat diubah atau direvisi, apabila dipandang perlu, berdasarkan

kesepakatan bersama secara tertulis oleh Para Pihak, melalui saluran diplomatik.

Perubahan atau revisi dimaksud wajib mulai berlaku pada tanggal yang disepakati

bersama oleh Para Pihak dan merupakan suatu kesatuan dari Persetujuan ini.

PASAL 8

MULAI BERLAKU, JANGKA WAKTU DAN PENGAKHIRAN

1. Persetujuan ini mulai berlaku setelah 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penerimaan

pemberitahuan terakhir dimana Para Pihak saling memberitahukan melalui saluran

diplomatik, bahwa semua persyaratan internal untuk mulai berlakunya Persetujuan ini telah dipenuhi.

2. Persetujuan ini wajib berlaku kecuali salah satu Pihak berkeinginan untuk mengakhiri Persetujuan ini dengan memberikan pemberitahuan secara tertulis kepada Pihak

lainnya, melalui saluran diplomatik, 60 (enam puluh) hari sebelum tanggal

(5)

SEBAGAI BUKTI, yang bertandatangan dibawah

i

ni

,

telah menandatangani

Persetujuan ini.

DIBUAT di Nay Pyi Taw pada hari kesepuluh bulan Mei tahun 2014

,

dibuat dalam

Bahasa Indonesia, Bahasa Myanmar dan Bahasa lnggris

,

semua naskah memiliki

kekuatan hukum yang sama. Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran

,

maka naskah

Bahasa lnggris wajib berlaku.

UNTUK PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Signed

R. M. MARTY Mlt NATALEGAWA

MENTER!

~

AR

NEGERI

UNTUK PEMERINTA~ REPUBLIK UNI

MYANMAR

Signed

WUNNA MAUNG LWIN

(6)
(7)

8

g

8

..

-LQ::0 8 j0CB0

S

;=Q::

&

~u.-- 0 v• C0

1

~

~

r8o8°

8

~

~

0 80 [Cl (f) LQ::

~0C§l

~0

L8

~0~

~0'-Q:: r8o (f) ••

c

~

r;Co

8

..£5

e0

8

~ e:3 1!)0 (f) ·00

c

C§J

::::,.)

00 u •• 00o-

rfu

80

--g

0-'8-

•• <C

~

,J!) •• 0

8

<C ~00 rn o, l Gt") ••

~~

s

~

<C

~

---0!0 C0

~

rilfiO 0 00 00 O•rilf!O ~;=8 00

..

().

r810

en

0•

ro§

8

~

8,

;.Be

~

i

Q) ~

~lo

OQ)c.:lt')

·en-

S":£.

G')

l

s

~

-fll

~

G')

c

,.Co

G')

c

dh

~

OQ)

8

(f)

8

(__

o00 ~ = ~ 8,r8o 8, Q:: ~ 0 00'-<C [B0 q) JS0 8,

8

cc<n-&

rS

.8

8

8

0

C0

S0r§• 00r 00 ~ -e··(f)8 ~· ~0

§

(f) v Q::0 •• ~ 0')

8

r8o 00-8 0 rilf!Or

8

8

00-=-8 F r o

o.

..

LBQ)

8,

~ &

~

~

80

cBcB~-=-8

•00 o00[GjL 00 r8• r8• •00

8

~0,]

8

8

8

&

§

0 e~ ~ 0

8

g

0 0 (f) 8 0 ~0

8

°rllfl6

0 0 00

s8

e

0 • [it) 0 <C ~

c

,Q)

0

oo G)

,...--La;

~ D C0 v -0

L~

00

~

e rilfiO (C 8 rn0 g;--010 o0 ~ (.) rilfiO •• ~ cil 01"')

o8

G'R

0 o8

°"

8 L~ 00-8 f) o()r') oo r •• ~ CCJr8•

§

-Q)o g

r~•

[B0[])."' • • r;8o

8

-•• 0,----0 <C •• 0 0 (f) u

s

OQ) V OQ) 0 ,J!)

r:B

r o00

8

8, ·00 8 •• , 80~0 r~<f>r OS-8rQ) <C

~

~

<eo

8

ru

8

ru u ~ 0 t..G0 (f) LG0 80~ ·~ 80 <C

8

CGJ

§

0 f?'5'l Q)o

LB0

0 ef)

8

l...VJrilf!O 8 S •• ~qv 00

8

F [Q)Ju..-.J '-' 0· ru

ru

8 ~0:::Pflo=

8

<V ~~g0 ~ Q) rn0 -o, , ooo 8 =(f)

sec

8,..---0 ~ 8 ~ F 80'-Q:: r 8o -r8 8o QQ) 00 e [C"][J')clr <C G OQ) 0 ru <C0 ClJ 0 •00~ LG0~ rOO 8

§

Cr)F.8 <C0...n r0 0

8

..

00"

8

00=

~

'-~

o8

Q:: -ell0 •• 0 8 r8o

~

§

-8 oQ) 0 (f) ~ ~ CCJ

8

~00

8

<n .JD m 0 ~ ~ -en •• L G0 Q)o •00 -;a CGJ ~ ;= 8 rilfiO Gl ~ ·00 0 ~ 00 ~ ,-01 0 r;CJO u Oo ~ 00 G) (C ~ L(C 00 <C ~ rS ~ <C (f) CB0r~O 9,08 r8oo:5J

s-8

8

(f) -0 Q) ,. 8orC rflllO 0

0

• og··<n <C ~0 o:' r (f) OQ::

rS

8

~

80 P,

~<C

8

"§CCJ0

Q:: -0

!Jn

0--010;=8

~

~

§

reos

en

reo

!lnc.:lt')

,-8~

C0 rCo

en

OQ)

.en

g,~o

§

cB

8

r~~

8

8

-(f) • • ~ 0 80 O• 8°1:80 o8 e ~ Q:: V·-8 v

8

8/

e0 0 ,J!)

r..

8

0 08 f)

&

(f) <C 0 v ~

8

80 8

8<~

[:8,

8

~

8, 8 0

8

<C ~

8

~ <C f)

0

•00

8

8

r-0 ~ ClJ • • r • 0 C0 Q::f) 0 0 0 QO G) ~L(C 0 ° 0 U LQ:; r 00 ~ G) ~· 8 00~0

8

O..£) e ~ <n , (f);= 00 0 ~ 0 [Q)]~ r8o,-;0lo ~ [BQ) -CJ 0 -00 00 0 Q) o8 ;=8 [:80 G) (f) (f) 0· S0

8,

g

0 0

~

~

§

r;8o

~

6 o<V

:=cc

~ f""7'"""1 00 0

u

o00r?')l (f) L...J.., .J 0 0 Q:: Q) l:£>0LUQ)[])] 00 ;=CJ 00~0~ Q:: •• ~ D:5J •• 0 ~ <n C0 [8 0

ffiJ

(f) ~ ,J!) • • ~ r~O

S

C0-01 -010-010Lilfl 8 00,.J!) [G"'J (f) (C 00 8 •00 0 0• 60,J!) ;..-0 ~ r 0

[])1,.,8

8

8 ~ '-~ 80 ~ 8 ~ 0r •8• 60 [8 0 ~ o8/~ C0 ~

8

= ;:) ~ ~ (f) 80 "00 80

8

~

(C

~

~

re:30 0 LQ::8 6 0 ~ 10 o8 0000 0 u rC0LG0 8 Gl (f) 8 ~ 00 u ~ u 0 r--~ v 0 ~ v ~ 8 C0 ~ '"0 rOO ~ 1:80 [])] ~ 00 00 '-<C 8 ~ 8 (f) rflll 0

8

r (f) ru 0 ~ 00 OQ) ~0 80--01 ~ 00 0 0· •00 ° 8 [(5j -Q 00'-Q::

~

8 --010 0 8

8

;=8

8

§ 0§ (f)r. o00Q::r • 8 Lilfl oo

0

~ 00 p(C o o 0 o00 ~ o o

P.

8 ,<Co 8 r8• ~ 0 8

0

r n r-;; rt) • • r n Q:: m

8

t.. G0~ t..G0 ~" L GQ)~0LG0 0

&,

G')

1

[D"]

en

..

L,9l

.en

o8

s,

~s

an

reo

eno,

..

-

~o'=.,

en

.-s

s

.d2

s,

s

8

s,

1

8

8

~ 1:8, 80 L Q::

~

80s ,J!)~~

8,

··

c0

8

~ 0 0 00 00

8

~

8

r~O

--01 0 00 [B,

8

0• •• <C0 ~ re:3• U •• CJ -ru rtlt>O (p)LG0 00 -0•

8

8

~

8

~

..

8

c0~ f) 0 ••

8

00

~

0

8

r8o

l=£>o e0 00 ,J!)

8

I!) Q:: ~ [B, 80 0 = r ilfiO 00 00 u 0· v ,. 8oc:B,.,

8

~

00 <I: 0~ 00 r ~O (f) 00 ..£) 0• 0

8

80r

..

(8)

m~&-G

(9)

m8~;:po.)~oo~8c

~~=~.,1(,~~

(10)

REPUBLIK INDONESIA

AGREEMENT BETWEEN

THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND

THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF THE UNION OF MYANMAR ON

VISA EXEMPTION FOR HOLDERS OF ORDINARY PASSPORT

The Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of

the Union of Myanmar hereinafter referred to as "the Parties";

CONSIDERING the ASEAN Framework Agreement on Visa Exemption signed in Kuala

Lumpur on 25 July 2006, and with the view to further strengthen and develop friendly

relations between the two Governments and peoples;

DESIRING to streamline the procedure for mutual travel of their citizens, holding

ordinary passports;

PURSUANT to the prevailing laws and regulations of the respective countries;

HAVE AGREED as follows:

ARTICLE 1 VISA EXEMPTION

1. Nationals of the Republic of Indonesia, holders of valid ordinary passports, shall not be

required to obtain a visa to enter, transit and stay in the territory of the Republic of the

Union of Myanmar for a period does not exceed 14 (fourteen) days from the date of

(11)

2. Nationals of the Republic of the Union of Myanmar, holders of valid ordinary passports,

shall not be required to obtain a visa to enter, transit and stay in the territory of the Republic of Indonesia for a period does not exceed 30 (thirty) days from the date of entry.

3. The duration of ordinary passport validity of nationals of either Party shall be at least 6

(six) months on the date of entry into territory of the country of the other Party.

ARTICLE 2

ENTRY AND EXIT CONDITIONS

Holders of valid ordinary passport of either Party referred to in this Agreement, may

enter into and depart from the territory of the country of the other Party, at any point

authorized for that purpose by the competent immigration authorities, without any restrictions, except for those stipulated in the security, migratory, customs, sanitary

entry and other provisions which may be legally acceptable to holders of such valid

passports.

ARTICLE 3

RIGHTS OF AUTHORITIES

1. The Parties shall reserve the right to refuse admission of entry, shorten or terminate

the duration of stay any person entitled to visa exemption and facilities under this

Agreement if it considers that the person is found to be undesirable or likely to

endanger public peace, public order, public health or national security.

2. Nationals of either Party entitled to visa exemption and facilities under this Agreement

shall abide by the laws and regulations in force in the territory of the other Party during

their stay in the respective territories.

ARTICLE 4

SPECIMEN AND ISSUANCE OF PASSPORTS OR TRAVEL DOCUMENTS

1. The Parties shall exchange, through diplomatic channels, within 30 (thirty) days after signing of this Agreement, the specimens of their valid ordinary passports. In case of

(12)

introduction of new ordinary passport, as well as, modifications of the existing one, the

Parties shall inform each other in writing, through diplomatic channels, about any

changes at least 30 (thirty) days prior to their official introduction.

2. In case of nationals of either Party lose or damage their ordinary passports in the

territory of the country of the other Party, they shall immediately inform the competent

authorities of the receiving country through diplomatic mission or consular office of the

country of their nationality. The diplomatic mission or consular office concerned shall

issue to the aforementioned persons, in conformity with the legislation of their country,

a document for returning to the country of their nationality.

ARTICLE 5 SUSPENSION

Either Party may temporarily, partially or fully suspend the implementation of .this

Agreement for reasons of national security, public order or public health. The

introduction, as well as termination of such suspension shall be notified to the other

Party, through diplomatic channels, no later than 15 (fifteen) days from the intended

date of commencement and termination.

ARTICLE 6

DISPUTE SETILEMENT

Any difference or dispute arising out of the implementation or the provisions of this

Agreement shall be settled amicably by consultation or negotiation between the Parties.

ARTICLE 7 AMENDMENT

This Agreement may be amended or revised, if it is deemed necessary, by mutual

written consent of the Parties, through diplomatic channels. Such amendment or

revision shall enter into force on a date as may be mutually agreed by the Parties, and

(13)

ARTICLE 8

ENTRY INTO FORCE, DURATION AND TERMINATION

1. This Agreement shall enter into force 30 (thirty) days from the day of receipt of the last

notification by which the Parties notify each other, through diplomatic channels, that

their internal requirements for the entry into force of this Agreement have been fulfilled.

2. This Agreement shall remain in force unless either Party decides to terminate this

Agreement by giving written notice to other Party, through diplomatic channels, 60

(sixty) days prior to the expected termination date.

IN WITNESS WHEREOF, the undersigned, have signed this Agreement.

DONE in Nay Pyi Taw on the Tenth day of May in the year 2014 in duplicate in

Indonesian, Myanmar and English languages, all texts being equally authentic. In case

of divergence in the interpretation of this Agreement, the English text shall prevail.

FOR THE GOVERNMENT OF THE REPURI.IC OF

INOONESIJ ,,

Signed

R.

M. MARTY M. N lTALEGAWA

I

MINISTER FOR FOI EIGN AFFAIRS

I

FOR THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF THE UNION OF

MYANMA

~

Signed

WUNNA MAUNG LWIN

UNION MINISTER FOR FOREIGN AFFAIRS

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :