BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk yang berkembang dari masa pranatal hingga dewasa

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang berkembang dari masa pranatal hingga dewasa akhir. Sebelum masuk ke fase dewasa kita harus melewati satu fase terlebih dahulu yang disebut masa remaja. Pada masa remaja mulai terjalin interaksi sosial yang semakin sering dengan lingkungan sekitar dikarenakan mulai mencoba mencari jati yang kadang tidak sedikit remaja melakukan hal negatif, salah satunya adalah perilaku seks pranikah. Penyebab munculnya perilaku seks pranikah disebabkan oleh beberapa faktor yakni arus media elektronik (internet) yang tidak terbendung, kurangnya pengawasan orang tua terhadap apa yang dilakukan anak, kurangnya pendidikan mengenai moral dan agama sehingga remaja yang melakukan seks pranikah semakin meningkat.

Setiawan dan Nurhidayah (2014) Seks Pranikah adalah perilaku yang dilakukan atas dorongan seksual dan berhubungan dengan fungsi reproduksi atau yang merangsang sensasi pada reseptor-reseptor yang terletak pada atau di sekitar organ-organ reproduksi dan daerah-daerah erogen untuk mendapatkan kenikmatan seksual yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan sebelum melakukan pernikahan. Berdasarkan data dari situs www.tribunnews.com yang diakses tanggal 15 mei 2016, Temazaro Zega mengungkapkan, berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2010, seks pranikah berisiko dilakukan pada usia 10-24 tahun. Media internet

(2)

yang mudah diakses merupakan salah satu pengaruh remaja melakukan perilaku seks pranikah.

Berdasarkan data www.bkkbn.go.id yang diakses pada tanggal 14 mei 2016, Julianto Witjaksono mengatakan jumlah remaja yang melakukan hubungan seks di luar nikah mengalami tren peningkatan. Berdasarkan catatan lembaganya, Julianto mengatakan 46 persen dibawah umur sudah berhubungan seksual (seks pranikah). Data Sensus Nasional bahkan menunjukkan 48-51 persen perempuan hamil adalah remaja. Pemerintah seharusnya tak cukup memblokir situs-situs berbau pornografi, tapi juga perlu memberikan pendidikan kepada anak. Hal senada diungkapkan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait. Remaja usia sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas menganggap melakukan hubungan seksual sudah biasa. Dua tahun lalu, kata Arist, Komnas meneliti perilaku seks di kalangan remaja SMP dan SMA. Hasilnya, dari 4.726 responden, sebanyak 97 persen mengatakan pernah menonton pornografi, dan 93,7 persen mengaku sudah tak perawan. Bahkan, 21,26 persen sudah pernah melakukan aborsi.

Berdasarkan situs dari kalsel.bkkbn.go.id yang diakses tanggal 25 september 2016, tercatat ada 148 kasus seks pranikah selama tahun 2011. Mayoritas dari kasus tersebut ternyata dialami siswi SMP. Data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin juga menyebutkan bahwa selain seks pranikah ada juga kasus infeksi saluran reproduksi sebanyak 30 kasus. Kasus lainnya yakni infeksi menular seksual (IMS) juga ada sebanyak 30 kasus. Kasus-kasus seksual remaja :kehamilan di luar nikah 220 Kasus, persalinan remaja 325 kasus, seks pranikah 148 kasus. Kemudian,

(3)

berdasarkan data dutatv.wix.com sejak 2002 hingga 2015 ini sudah tercatat 1.184 kasus dan Banjarmasin berada di posisi tertinggi dengan total 415 kasus penularan HIV paling banyak diakibatkan hubungan seks pranikah yang dilakukan remaja.

Usia rata-rata anak SMP berkisaran dari 13-15 tahun yang berdasarkan Papalia (2009) masuk fase remaja awal. Remaja awal sangat rentang menghadapi perubahan secara bersamaan dan membutuhkan bantuan dalam mengatasi bahaya dalam mengatasi masa ini. Gross (2013) menjelaskan remaja merupakan masa perkembangan transisi antara kanak-kanak hingga masa dewasa termasuk pubertas yang diasosiasi dengan adanya peninggkatan emosi negatif. Masa pubertas disebut dengan masa badai stres, dengan indikator yang menunjukkan hal ini adalah gangguan mental dan perilaku delingkuen. Delingkuensi dapat berupa penyalahgunaan obat-obatan terlarang, kecanduan narkoba, dan kenakalan remaja, salah satunya seks pranikah.

Papalia (2009) menjelaskan bahwa remaja aktif secara seksual di usia dini dikarenakan berbagai faktor yang mempengaruhi, termasuk memasuki pubertas lebih awal, pengabaian orang tua, serta pola budaya atau keluarga mengenai seksual usia dini. Banyak remaja yang mendapatkan sebagian besar pendidikan seks dari media yang menggambarkan pandangan yang salah mengenai aktifitas seksual dan menghubungkannya dengan kesenangan, kegembiraan, kompetisi, bahaya atau kekerasan, dan jarang menunjukkan dampak seks tanpa alat kontrasepsi. Beberapa penelitian menyebutkan hubungan antara adanya pengaruh media dan aktifitas seksual dini seperti seks pranikah pada remaja. Bedasarkan penelitian Ahmad (2012) menemukan bahwa regulasi diri berhubungan dengan perilaku delinquensi.

(4)

Rendahnya regulasi diri yang dimiliki remaja berhubungan dengan kurangnya pengendalian perilaku deliquensi yang dimilikinya. Dimana salah satu perilaku deliquensi tersebut adalah perilaku seks pranikah.

Bedasarkan penelitian Angel (2011) mengatakan regulasi diri berperan terhadap perkembangan remaja. Kristin (2011) regulasi diri anak usia 10-11 tahun berperan tehadap pembentukan kualitas hubungan orang tua dan anak. Semakin tinggi regulasi diri anak maka akan semakin baik hubungan antara orang tua dan anak. Dalam penelitian dipilihnya anak usia 10-11 tahun karena pada masa tersebut mereka sudah mampu mengendalikan regulasi diri walaupun pada masa itu juga emosi mereka masih labil butuh bimbingan oleh orang terdekat yakni keluarga.

Bandura (1991) mendefinisikan regulasi diri adalah cara di mana kemampuan untuk menafsirkan sesuatu dapat memiliki dampak yang kuat untuk mengatur motivasi,tindakan, dan pengolahan kognitif (informasi). Bedasarkan hasil penelitian penelitian Adeoye (2012) dan Abdullahi (2014) dalam temuannya menyatakan faktor eksternal seperti nilai religiusitas dan keluarga berperan dalam regulasi diri individu termasuk dalam pengendalian seks bebas. Bandura (dalam Shelly, 2009) menjelaskan mengenai faktor terbentuknya regulasi diri yaitu faktor internal yang terdapat pada dalam diri seseorang dan faktor eksternal adalah faktor dari luar pribadi seseorang. Faktor paling terbesar yang berperan menciptakan perilaku menyimpang seseorang adalah faktor eksternal, yaitu lingkungan sosial individu.

Pernyataan diatas tersebut diperkuat oleh beberapa penelitian. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Bandura (dalam Shelly, 2009) dalam penelitian itu,

(5)

regulasi diri adalah suatu kemampuan yang dimiliki manusia berupa kemampuan berfikir dan dengan kemampuan itu mereka memanipulasi lingkungan, sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan tersebut. Seseorang dapat mengatur sebagian dari pola tingkah laku dirinya sendiri. Bandura (1986) regulasi diri beroperasi melalui serangkaian subfunctions psikologis yang harus dikembangkan dan dimobilisasi untuk perubahan mandiri. Baik niat atau keinginan sendiri memiliki banyak berpengaruh jika orang tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan pengaruh atas motivasi mereka sendiri dan perilaku. Shelley (2009) menyatakan regulasi diri mengacu pada cara orang mengontrol dan mengarahkan tindakan mereka sendiri. Regulasi diri mengacu pada cara individu menggunakan isyarat internal dan eksternal untuk menentukan kapan untuk memulai, ketika mempertahankan, dan kapan harus mengakhiri perilaku yang diarahkan pada tujuan mereka.

Studi pendahuluan yang dilakukan pada 29 September 2016 yang dilakukan pada siswa –siswi SMP yang ada di Banjarmasin. Dua orang diantaranya adalah siswa dan satu siswi. Subjek Pertama berinisial A adalah seorang siswi SMP di Banjarmasin. Dalam keseharianya subjek tinggal bersama kedua orang tua. Subjek A mengenal perilaku seks pranikah pertama kali dari pergaulan teman sebaya yakni melalui konten media elektronik yaitu internet. Awal mulanya Subjek A tidak ada kenginan melakukan hal tersebut karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, hingga suatu ketika pacar subjek a membujuk melakukan hal tersebut. Kegiatan seks pranikah yang dilakukan subjek A berlangsung dari kelas dua SMP hingga sekarang kelas tiga SMP. Subjek A berpendapat orang tua dalam keseharian hanya

(6)

memberikan fasilitas dan jarang memberikan nasehat agama mengenai larangan berperilaku tersebut. Subjek kedua berinisial N adalah siswa kelas tiga SMP yang ada di Banjarmasin. Subjek N mengenal Perilaku seks pranikah melalui tontonan di internet. Internet indonesia sendiri sudah memblokir konten pornografi akan tetapi ada saja cara mereka agar bisa mengakses konten-konten terlarang tersebut. Hingga suatu ketika subjek diajak oleh temannya untuk mencoba melakukan hal tersebut dengan menyewa PSK dan akhirnya seiring perjalanannya Subjek N juga melakukan perilaku seks pranikah dengan pacar subjek. Subjek yang terakhir adalah D siswa salah satu SMP di Banjarmasin. Subjek D sejak usia sepuluh tahun sudah ditinggal ayahnya sehingga ibunya lah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah. Ibu subjek D bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit ternama di banjarmasin yang mengharuskan ibunya untuk bekerja sesuai jadwal kerja yang ditentukan, kadang pagi , siang, dan juga malam. Dalam pergaulannya subjek D sangatlah bebas. Subjek D termasuk remaja yang nakal karena diusianya sekarang empat belas tahun dia sangat sering merokok dan menyalah gunakan obat zinet. Subjek D melakukan perilaku seks pranikah sudah ke tiga pasangan yang berbeda. Subjek D mengenal perilaku seks pranikah dari media serta melihat teman sepergaulannya melakukan hal tersebut dan membuat subjek D penasaran dan ikut melakukan hal tersebut. Selain faktor lingkungan ada faktor lain yang menyebabkan mereka berperilaku demikian yakni kurangnya pengawasan orang tua terhadap pergaulan dan perilaku seperti mengakses konten pornografi yang membuat terjerumus dengan pergaulan bebas. Kurangnya pendidikan mengenai norma yang diberikan orang tua juga menjadi indikator cepatnya pengaruh seks pranikah.

(7)

Sehingga hal inilah menjadi indikator yang mempengaruhi regulasi diri. Studi pendahuluan lanjutan dilakukan 7 november 2016 dibanjarmasin. Pada studi pendahuluan kedua ini peneliti mencoba mencari data mengenai regulasi diri ketiga subjek. Subjek A menuturkan kurang bisa meregulasi dirinya sehingga dia sering melakukan perilaku seks pranikah. Subjek N juga menuturkan hal yang sama, yakni kesulitan melakukan regulasi diri terhadap dirinya karena nafsu seksualnya yang terlalu tinggi. Selanjutnya pada subjek D juga mengalami kesusahan dalam meregulasi dirinya tidak hanya dalam hal perilaku seks pranikah juga terhadap perilaku delequensi lain misalnya menyalah gunakan obat yaitu zinet dan kadang jika kumpul bareng bersama teman-temannya dia juga sering merokok dan tidak jarang minum-minuman keras.

Dari penjelasan beberapa ahli dapat diketahui bahwa regulasi diri sangatlah penting dalam perilaku seseorang maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti regulasi diri dalam melakukan perilaku seks pranikah pada remaja awal di Banjarmasin..

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan dalam grand tour question, yaitu bagaimana regulasi diri pada remaja pelaku seks pranikah. Untuk memperkaya grand tour question dapat dibuat sub question seperti berikut ini:

(8)

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi diri pada remaja pelaku seks pranikah?

C. Signifikansi dan Keunikan Penelitian

Di Indonesia ada penelitian mengenai perilaku seks pranikah, antara lain penelitian yang dilakukan Pawestri dan Dewi Setyowati (2012) juga melakukan penelitian mengenai Gambaran Perilaku Seksual Pranikah pada Mahasiswa Pelaku Seks Pranikah di Universitas x Semarang yang fokus penelitiannya ialah untuk melihat gambaran terjadinya perilaku seks bebas itu dan hasilnya adalah Gambaran perilaku seksual pranikah mahasiswa Universitas X di Semarang sudah mulai terjadi sejak masa SLTP hingga SLTA. Adanya dorongan dari teman, responden menjadi semakin mudah untuk memproduksi perilaku seksual pranikah. Labelling tentang kissing dan petting masih dianggap semua subyek penelitian sebagai perilaku yang wajar dilakukan di usianya. Seluruh subyek penelitian menganggap kedua perilaku tersebut tidak mempunyai risiko yang berakibat pada terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Sedangkan, genital intercourse sudah dianggap subyek penelitian sebagai suatu kesalahan dan dosa. dengan dimikilinya labelling yang lebih mendukung dilakukannya perilaku seksual pranikah, aturan yang lebih permisif serta penilaian terhadap perilaku tersebut yang positif, mengakibatkan tetap dilakukannya perilaku seksual pranikah tersebut. Keberlanjutan ini dapat semakin langgeng didukung oleh struktur pengetahuan seperti pengalaman seksual diri sendiri dan teman di lingkungannya serta besarnya paparan media. Seluruh subyek penelitian mempunyai pengalaman yang menyenangkan tentang hubungan seksualnya, sedangkan semua teman subyek penelitian sudah pernah berhubungan

(9)

seksual pranikah dengan tahapan seksual yang lebih tinggi. Seluruh subyek penelitian juga merasa terpengaruh oleh paparan film biru dan tayangan khusus orang dewasa di internet. Tahapan kognisi sosial ini membentuk sikap subyek penelitian terhadap perilaku seksual pranikah.

Rosenbaum Janet E. Dan Byron Weathersbee (2011) dalam penelitianya mengenai seks pranikah di kota Texas amerika serikat ditemukan bahwa 70% responden melakukan seks pranikah. Responden sendiri adalah pria dan wanita usia 21-25 tahun. Responden kebanyakan melakukan seks pranikah di usia 16-20 tahun dan akhirnya dari seks pranikah tersebut banyak yang diantara mengalami kehamilan diluar nikah yang menyebabkan kebanyakan dari diantaranya menikah diusia muda dan akhirnya menyesal sekarang setelah menjalani kehidupan rumah tangga.

Zemenu Mengistie (2015) melakukan penelitan mengenai pengetahuan seks pranikah pada mahasiswa Mahasiswa, South West Ethiopia Data dikumpulkan oleh tiga magang Kesehatan Masyarakat, menggunakan kuesioner self-diadministrasikan. Siswa dari masing-masing Collage yang yang menjelaskan tentang tujuan dan kerahasiaan studi sambil membagikan dan mengumpulkan kuesioner. Hasil: Sebanyak 372 peserta, 254 (68%) adalah laki-laki dan 118 (32%) adalah perempuan. Pada hasil penelitiannya diketahui pengetahuan mengenai agama sangat berperan terhadap terhindarnya dari perilaku seks pranikah. Penelitian ini menggunakan sistemik random sampling.

Perbedaan penelitian-penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada variabel penelitian, metode penelitian, dan subjek yang

(10)

menjadi informan dalam penelitian. Pada penelitian lain Pawestri dan Dewi Setyowati (2012) juga melakukan penelitian mengenai Gambaran Perilaku Seksual Pranikah pada Mahasiswa Pelaku Seks Pranikah di Universitas x Semarang . Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang berorientasi dengan logika induktif karena penelitian tidak memaksa diri untuk membatasi penelitian pada upaya penerimaan atau penolakan dugaan hipotesisnya dan juga lebih mencoba melihat dan memahami situasi tertentu sesuai dengan situasi yang ditampakkan. Zemenu Mengistie (2015) Melakukan penelitian mengenai bagaimana pengetahuan mahasiswa yang berada South West Ethiopia. Metode pengumpulan data penelitian dilakukan secara kuesioner dan hasilnya mahasiswa kebanyakan meraka mengetahui dampak negatif dari perilaku seks pranikah terlebih ditinjau dari segi agama. Penelitian yang dilakukan oleh Peneliti yakni gambaran regulasi diri pada pelaku seks bebas yakni fokus pada pelaku yang berkaitan langsung dengan perilaku seks bebas dan metode untuk penelitian ini sendiri yakni menggunakan metode wawancara kepada responden subjek pria dan wanita.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan dalam grand tour question, yaitu bagaimana regulasi diri pada pelaku seks bebas. Untuk memperkaya grand tour question dapat dibuat sub question seperti berikut ini:

(11)

1. Untuk mengetahui aspek-aspek terbentuknya perilaku seks pranikah pada remaja

2. Dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi diri pada remaja pelaku seks pranikah.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu: 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pengembangan pengetahuan di bidang Psikologi, khususnya bidang Psikologi Sosial mengenai peranan regulasi diri terhadap perilaku yang dihadapi dalam pembentukan perilaku orang yang melakukan seks pranikah dan dapat menjadi bahan rujukan referensi untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi tambahan tentang gambaran pada pemerintah bahwa banyak sekali di Banjarmasin yang melakukan seks pranikah sehingga para orangtua dapat melakukan berbagai langkah pencegahan agar dapat mengurangi atau menghilangkan seks pranikah di Banjarmasin.

(12)

3. Manfaat Operasional

Dapat menjadi bahan evaluasi terhadap subjek agar mampu memahami gambaran regulasi dirinya sehingga mampu menggunakannya dengan lebih tepat.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :