SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi

33 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UJI EFEK INHIBISI ENZIM XANTIN OKSIDASE KOMBINASI INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) DAN DAUN

SISIK NAGA (Pyrrosia piloselloides (L.) M.G Price).

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Desty Sandy Oktoviana Liunokas NIM: 168114106

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)

i

UJI EFEK INHIBISI ENZIM XANTIN OKSIDASE KOMBINASI INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) DAN DAUN SISIK

NAGA (Pyrrosia piloselloides (L.) M.G Price).

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Desty Sandy Oktoviana Liunokas NIM: 168114106

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(3)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku

mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai

sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu

hari depan yang penuh harapan”

(Yeremia 29:11)

Skripsi ini aku persembahkan untuk :

Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan kekuatan, pengetahuan, hikmat dan akal budi sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

Kedua orang tua tercinta yang tidak pernah berhenti mendukung dalam doa dan memberi semangat

Semua keluarga dan sahabat yang selalu memberi semangat dalam penyusunan skripsi ini

(4)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

ABSTRAK ... xv

ABSTRACT ... xvi

PENDAHULUAN... 1

METODE PENELITIAN ... 4

Alat dan Bahan ... 4

Pengumbulan Tumbuhan ... 4

Determinasi Tumbuhan ... 4

Pembuatan Simplisia ... 5

Pembuatan Infusa ... 5

Uji Kandungan Flavonoid dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis .... 5

Uji Efek Inhibisi Xantin Oksidase ... 6

Pembuatan Larutan Dapar Fosfat pH 7,5 ... 6

Pembuatan Larutan Enzim Xantin Oksidase 0,1 unit/mL ... 6

Pembuatan Larutan Substrat Xantin ... 6

Pembuatan Larutan Asam Klorida 1 N... 7

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ... 7

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Kontrol Blanko ... 7

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Blanko ... 7

Pembuatan Larutan Standar Allopurinol 1000 µg/mL ... 7

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Kontrol Standar Allopurinol ... 8

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Standar Allopurinol ... 8

Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji Infusa Daun Sisik Naga ... 8

Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji Infusa Daun Salam ... 9

Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji Kombinasi ... 9

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Kontrol Sampel... 9

(5)

xi

Perhitungan Nilai IC50 ... 10

Analisis Data Statistik ... 10

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 12

Penyiapan Bahan ... 12

Uji Kandungan Flavonoid dengan Metode KLT ... 13

Uji Efek Penghambatan Enzim Xantin Oksidase... 15

KESIMPULAN DAN SARAN ... 19

DAFTAR PUSTAKA ... 20

LAMPIRAN ... 23

(6)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel I. Hasil Uji KLT Flavonoid ... 15 Tabel II. Nilai IC50 Allopurinol, Infusa Daun Salam, Infusa Daun Sisik

(7)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Hasil Elus KLT Infusa Tunggal Daun Salam, Infusa Tunggal

Daun Sisik Naga, dan Kombinasi ... 14

Gambar 2. Transformasi Xantin Menjadi Asam Urat untuk XO ... 16

Gambar 3. Struktur Allopurinol ... 17

Gambar 4. Daun Tumbuhan Salam ... 28

Gambar 5. Daun Tumbuhan Sisik Naga ... 28

Gambar 6. Serbuk Simplisia Daun Salam ... 28

Gambar 7. Sebuk Simplisia Daun Sisik Naga ... 28

Gambar 8. Kurva Allopurinol Repetisi 1 ... 36

Gambar 9. Kurva Allopurinol Repetisi 2 ... 36

Gambar 10. Kurva Allopurinol Repetisi 3 ... 36

Gambar 11. Kurva Kombinasi Repetisi 1 ... 37

Gambar 12. Kurva Kombinasi Repetisi 2 ... 38

Gambar 13. Kurva Kombinasi Repetisi 3 ... 38

Gambar 14. Kurva Infusa Tunggal Daun Sisik Naga Repetisi 1 ... 39

Gambar 15. Kurva Infusa Tunggal Daun Sisik Naga Repetisi 2 ... 40

Gambar 16. Kurva Infusa Tunggal Daun Sisik Naga Repetisi 3 ... 40

Gambar 17. Kurva Infusa Tunggal Daun Salam Repetisi 1 ... 41

Gambar 18. Kurva Infusa Tunggal Daun Salam Repetisi 2 ... 42

(8)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat pengesahan determinasi salam ... 23

Lampiran 2 Surat pengesahan determinasi sisik naga... 24

Lampiran 3. Certificate of analysis xantin oksidase ... 25

Lampiran 4. Certificate of analysis xantin ... 26

Lampiran 5. Gambar tumbuhan dan serbuk daun salam dan daun sisik . naga ... 28

Lampiran 6. Data penimbangan serbuk simplisia tumbuhan daun salam dan daun sisik naga untuk infusa ... 29

Lampiran 7. Data penimbangan bahan KLT ... 29

Lampiran 8. Data perhitungan nilai Rf ... 30

Lampiran 9. Pembuatan larutan xantin oksidase... 31

Lampiran 10. Pembuatan larutan substrat xantin ... 32

Lampiran 11. Pembuatan Larutan Asam klorida ... 32

Lampiran 12. Data panjang gelombang ... 32

Lampiran 13. Pembuatan larutan seri standar allopurinol ... 33

Lampiran 14. Pembuatan larutan seri infusa daun salam, daun sisik naga dan kombinasi ... 33

Lampiran 15. Data uji penghambatan enzim xantin oksidase... 35

Lampiran 16. Sertifikat CE & BU... 43

(9)

xv ABSTRAK

Hiperurisemia adalah keadaan dimana kadar asam urat berlebih di dalam tubuh. Asam urat adalah produk dari metabolisme purin yang mengendap di persendian sehingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan kaku. Xantin oksidase (XOD) mengkatalisasi oksidasi hipoksantin dan xantin menjadi asam urat, yang memiliki peran penting dalam pembentukan asam urat. Metabolit sekunder yaitu flavonoid yang terdapat pada tanaman daun salam dan daun sisik naga dapat berperan sebagai inhibitor xantin oksidase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kombinasi infusa daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp dan daun sisik naga (Pyrrosia piloselloides (L.) M.G Price) dalam penghambatan enzim xantin oksidase. Tahapan penelitian ini meliputi penyiapan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan infusa, pengujian efek inhibisi enzim xantin oksidase untuk menentukan nilai IC50 dimana allopurinol digunakan sebagai pembanding, dan pengujian kandungan senyawa flavonoid dengan metode KLT.

Hasil pengujian KLT didapatkan bahwa daun sisik naga dan daun salam mengandung flavonoid. Hasil uji efek penghambatan enzim xantin oksidase pada infusa tunggal daun salam diperoleh nilai rata-rata IC50 sebesar 45.674 µg/mL, pada infusa tunggal daun sisik naga diperoleh nilai rata-rata IC50 sebesa 41.637 µg/mL, sedangkan pada kombinasi diperoleh nilai rata-rata IC50 sebesar 33.246 µg/mL. Berdasarkan hasil uji statistika dengan uji one way anova menyatakan bahwa hasil yang didapatkan berbeda bermakna secara signifikan antara sampel dengan allopurinol yang dinyatakan dengan p<0.05.

Kata kunci : Hiperurisemia, xantin oksidase, infusa daun salam, infusa sisik naga, konsentrasi inhibisi IC50.

(10)

xvi ABSTRACT

Hyperuricemia is a condition in which excess uric acid levels in the body. Uric acid is a product of purine metabolism which settles in the joints, causing intense pain and stiffness. Xanthine oxidase (XOD) catalyzes the oxidation of hypoxanthine and xanthine to uric acid, which has an important role in the formation of uric acid. Flavonoids as secondary metabolites found in salam leaves and sisik naga can act as xanthine oxidase inhibitors. This study aims to determine the activity of the combination of salam infusion (Syzygium polyanthum (Wight) Walp and sisik naga infusion (Pyrrosia piloselloides (L.) M.G Price) in the inhibition of xanthine oxidase enzymes. The stages of this research included sample preparation, plant determination, manufacturing of simplicia, making infusion, testing the inhibitory effect of the xanthine oxidase enzyme to determine the IC50 value where allopurinol was used as a comparison, and testing the content of flavonoid compounds using the TLC method.

The results of the TLC test showed that sisik naga leaves and salam leaves contain flavonoids. The test results of the inhibitory effect of the enzyme xanthine oxidase on a single infusion of salam leaves obtained an average IC50 value of 45,674 µg / mL, for single infusion of sisik naga leaves an average IC50 value was 41,637 µg / mL, and the combination obtained an average IC50 value. 33,246 µg / mL. Based on the results of the statistical test on the one way ANOVA test, it was stated that the results obtained were significantly different between the samples with allopurinol which was stated with p <0.05.

Keywords: Hyperuricemia, xanthine oxidase, salam leaf infusion, sisik naga leaf infusion, inhibition concentration (IC50).

(11)

1 PENDAHULUAN

Asam urat adalah produk dari metabolisme purin yang mengendap di persendian dan membentuk kristal kecil sehingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan kaku, juga pembesaran dan penonjolan sendi yang bengkak. Pada kondisi tertentu dapat terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah melebihi batas normal yang disebut hiperurisemia. Hiperurisemia dapat disebabkan oleh tingkat produksi asam urat yang berlebih, ekskresi asam urat melalui ginjal yang berkurang atau kombinasi keduanya (Ernawati et al, 2014). Pada sebagian besar penelitian epidemiologi, disebut sebagai hiperurisemia jika kadar asam urat serum orang dewasa lebih dari 7,0 mg/dl pada laki-laki dan lebih dari 6,0 mg/dl pada perempuan (Dianati, 2015).

Xantin oksidase merupakan enzim yang berperan dalam mengkatalisis oksidasi hipoxantin menjadi xantin kemudian menjadi asam urat. Xantin oksidase sangat penting dalam metabolisme purin, karena dapat menghasilkan asam urat dengan cara mengubah hipoxantin menjadi xantin (Unno et al, 2004). Penghambatan xantin oksidase dapat menghalangi terjadinya proses biosintesis asam urat yang menjadi salah satu pendekatan terapeutik untuk pengobatan hiperurisemia (Putri et al, 2016).

Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp dapat digunakan dalam pengobatan asam urat. Kandungan utama yang dimiliki daun salam meliputi saponin, triterpen, flavonoid total sebesar 0,19 %, tanin, polifenol, dan alkaloid. Flavonoid kuersetin dan miresetin pada tanaman salam diduga berkhasiat dalam menghambat kerja enzim xantin oksidase (Muhtadi et al, 2012).

Daun sisik naga (Pyrrosia piloselloides (L.) M.G Price) memiliki kandungan metabolit sekunder yaitu tanin, fenol, minyak atsiri, dan flavonoid. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tumbuhan sisik naga memiliki kemampuan sebagai antioksidan, antikanker, dan antimikroba (Sumito et al., 2016). Menurut Cos et al (1998) flavonoid adalah sekelompok senyawa alami yang memiliki aktivitas biologi dan farmakologi sebagai antibakteri, anti kanker, antioksidan, efek antimutagenik dan penghambatan beberapa enzim telah

(12)

2

dibuktikan. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa flavonoid memiliki aktivitas penghambatan enzim xantin oksidase.

Obat sintetik yang biasa digunakan untuk mengatasi asam urat adalah allopurinol. Allopurinol bekerja menghambat pembentukan asam urat dari prekursornya (xantin dan hipoxantin) dengan menghambat aktivitas enzim xantin oksidase. Allopurinol memberikan efek samping yaitu ruam kulit, leukopenia, masalah gastrointestinal, sakit kepala, dan urtikaria (Wells et al, 2015). Penggunaan obat sintetik salah satunya yaitu allopurinol dalam mengatasi asam urat memberikan beberapa efek samping, sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih untuk memanfaatkan tanaman herbal sebagai pengganti obat sintetik. Katno (2002) menemukan bahwa bahan alami memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan obat sintesis walaupun dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia (Sukandar, 2006).

Bentuk sediaan infusa merupakan bentuk sediaan yang sederhana dan mudah untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Infusa merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90˚C selama 15 menit (Khafidhoh et al, 2015). Pada umumnya masyarakat Indonesia mengolah tanaman obat secara konvensional yaitu dengan merebusnya menggunakan air. Air memiliki kemampuan mengekstrak senyawa polar yang terdapat pada tanaman obat lebih baik dibandingkan dengan etanol (Devi et al, 2019).

Penelitian Andriani et al (2016) mengatakan bahwa rata-rata perbedaan hasil penurunan kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian air rebusan daun salam adalah 1,40 mg/dL, hasil ini menunjukkan adanya penurunan kadar asam urat antara sebelum dan sesudah diberikan air rebusan daun salam pada penderita asam urat. Penelitian mengenai efek penghambatan tumbuhan sisik naga pohon inang teh oleh Silviana (2019) didapatkan nilai IC50 yang menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki daya hambat aktivitas xantin oksidase yang lebih baik

(13)

3

dibandingkan dengan ekstrak etil asetat dan ekstrak diklorometana. Penelitian mengenai uji penghambatan enzim xantin oksidase kombinasi daun salam dan daun sidaguri oleh Telaumbanua (2018) menunjukan bahwa kombinasi infusa daun salam dan daun sidaguri memiliki efek yang lebih baik dibandingkan dengan infusa tunggal daun salam dalam penghambatan aktivitas xantin oksidase. Berdasarkan ketiga penelitian diatas yang mengatakan infusa daun salam dan ekstrak metanol sisik naga pohon inang teh memiliki aktivitas xantin oksidase, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan pengujian efek penghambatan xantin oksidase pada kombinasi infusa daun salam dan daun sisik naga.

Dengan demikian, peneliti ingin mengetahui kemampuan kombinasi infusa daun salam dan daun sisik naga dalam menurunkan kadar asam urat. Pemberian kombinasi bahan aktif bertujuan untuk memberikan efek sinergisme atau efek antagonis untuk melihat keefektifan ekstrak saat diberikan secara kombinasi dibandingkan dengan pemberian secara tunggal. Kombinasi yang menguntungkan adalah kombinasi bahan aktif yang memberikan efek sinergis (Syahrir et al, 2016). Efek sinergi adalah hasil dari menggabungkan dua atau lebih senyawa kimia untuk menghasilkan efek yang lebih besar daripada efek tunggalnya. Sebaliknya, antagonis adalah fenomena di mana kombinasi senyawa menghasilkan efek keseluruhan yang kurang dari efek senyawa tunggal (Bulusu et

(14)

4 METODE PENELITIAN

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu) , timbangan analitik (Ohaus), pH meter (Ohaus), vortex mixer (Stuart Scientific),

microtube (Eppendorf), oven (Memmert), hot plate, rotary evaporator (Butchi),

corong buchner, bejana maserasi, pipet mikro (Stuart Scientific), tabung reaksi (Pyrex), beaker gelas, (Pyrex), labu ukur (Pyrex), dan alat-alat gelas lainnya (Pyrex).

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun salam, daun sisik naga, aquades bebas CO2, KH2PO4 1 M, HCl 1 N (Pa), dapar fosfat 0,05 M, NaOH 1 M (Pa), kuarsetin, Substrat Xantin (Sigma Aldrich), Allopurinol, Enzim Xantin Oksidase (Sigma Aldrich).

Pengumpulan Tumbuhan

Tanaman Salam diambil dari CV Merapi Farmasi dengan spesifikasi berupa daun segar warna hijau, utuh tidak berlobang, bersih, daun keempat dari pucuk dan keempat dari pangkal batang. Pencucian dilakukan terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran yang menempel seperti debu. Bagian daun dipisahkan dari bagian tanaman lain yang terikut saat pengumpulan, kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat lalu ditiriskan sampai sisa air menghilang.

Tanaman Sisik naga diambil dari CV Merapi Farmasi dengan spesifikasi daun fertil, warna hijau, tidak berlubang dan bersih. Pencucian dilakukan terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran yang menempel seperti debu. Bagian daun dipisahkan dari bagian tanaman lain yang terikut saat pengumpulan, kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat selanjutnya ditiriskan sampai sisa air menghilang.

Determinasi Tumbuhan

Determinasi pada tumbuhan sisik naga dan daun salam dilakukan di Laboratorium Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Bagian tumbuhan yang digunakan dalam determinasi adalah keseluruhan bagian tumbuhan sisik naga dan salam.

(15)

5

Pembuatan Simplisia

Daun tanaman salam dan daun sisik naga dikeringkan dalam oven pada suhu 40ºC sampai kering, dikatakan kering jika daun dapat hancur ketika diremas dengan tangan. Daun tanaman salam dan daun sisik naga yang telah kering kemudian diserbuk menggunakan alat penyerbukan, lalu diayak dengan ayakan no.40 mesh.

Pembuatan Infusa

Infusa daun salam dan daun sisik naga masing-masing dibuat dengan cara serbuk kering yang sudah diayak kemudian ditimbang sebanyak 10 gram dan dicampur dalam panci dengan aquades 100 mL dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit, kemudian panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90o sambil sekali-kali diaduk. Selanjutnya disaring selagi panas menggunakan kain flanel dan ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume 100 mL. Hasil infusa dipekatkan menggunakan

vacuum rotary evaporator, kemudian dipanaskan di atas waterbath sampai

mendapakan ekstrak kental. Ekstrak kental kemudian dikeringkan didalam oven pada suhu 40oC sampai mendapatkan ekstrak kering.

Infusa kombinasi daun salam dan daun sisik naga dibuat dengan cara ditimbang masing-masing daun salam 5 gram dan daun sisik naga 5 gram dicampur dalam panci dengan aquades 100 mL dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit, kemudian panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90o sambil sekali-kali diaduk. Selanjutnya disaring selagi panas menggunakan kain flanel dan ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume 100 mL. Hasil infusa dipekatkan menggunakan

vacuum rotary evaporator, kemudian dipanaskan di atas waterbath sampai

mendapakan ekstrak kental. Ekstrak kental kemudian dikeringkan didalam oven pada suhu 40oC sampai mendapatkan ekstrak kering.

Uji Kandungan Flavonoid dengan Kromatografi Lapis Tipis

Infusa tunggal daun salam, daun sisik naga, dan kombinasinya yang digunakan untuk identifikasi secara KLT dibuat dengan melarutkan masing-masing 0,1 gram infusa dengan aquades. Infusa ditotolkan pada fase diam silika

(16)

6

60 GF254 dengan menggunakan pipa kapiler jarak 2 cm dari tepi bawah lempeng plat KLT dan dibiarkan mengering. Plat dimasukkan ke dalam bejana tertutup yang telah dijenuhkan dan fase gerak dibiarkan merambat sampai batas jarak rambatnya. Fase gerak yang digunakan yaitu n-butanol-asam asetat-air (10: 2,5: 12,5). Plat diangkat dan dikeringkan lalu bercak diamati dengan sinar tampak pada panjang gelombang 254 nm dan 365 nm dengan pereaksi semprot AlCl3. Bercak yang muncul dibandingkan dengan standar yaitu kuersetin. Jarak tiap bercak dari titik awal penotolan sampai titik akhir bercak diukur dan dicatat, kemudian dihitung nilai Rf dari setiap bercak.

Uji Efek Inhibisi Xantin Oksidase

Pengujian efek penghambatan enzim xantin oksidase dilakukan pada infusa daun salam tunggal, infusa daun sisik naga tunggal, dan kombinasi infusa daun salam dan daun sisik naga. Prosedur penelitian merujuk pada Owen et.al dan Umamaheswari et.al.

Pembuatan Larutan Dapar Fosfat pH 7,5

Kalium dihidrogen phosfat (KH2PO4) ditimbang sebanyak 6,805 gram dilarutkan dalam 600 mL aquadest bebas CO2 kemudian ditambahkan 18 ml larutan NaOH 2 N dan diencerkan dengan aquadest bebas CO2 hingga 1000 mL. Atur pH sampai 7,5 dengan menambahkan NaOH 0,2 N atau HCl 0,2 N.

Pembuatan Larutan Enzim Xantin Oksidase 0,1 unit/mL

Enzim xantin oksidase ditimbang sebanyak 9,0875 mg, kemudian dilarutkan dengan dapar fosfat pH 7,5 dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL selanjutnya ditambahkan dapar fosfat pH 7,5 hingga batas tanda.

Pembuatan Larutan Substrat Xantin

Substrat xantin ditimbang sebanyak 15,21 mg dan dilarutkan dengan beberapa tetes NaOH 0,2 N hingga larut, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquadest bebas CO2 sampai batas tanda. Larutan induk diambil 15 mL kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquadest bebas CO2 hingga batas tanda.

(17)

7

Pembuatan Larutan Asam Klorida 1 N

Sebanyak 8,33 mL asam klorida pekat diencerkan dengan aquadest bebas CO2 hingga 100 mL.

Penentuan Optimasi Panjang Gelombang Maksimum

Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan sebelum pengujian untuk menetukan nilai serapan secara optimum. Larutan dapar fosfat 0,05 M pH 7,5 diambil sebanyak 3,9 mL, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 2 mL larutan substrat xantin oksidase, kemudian diinkubasi selama 15 menit. Larutan xantin oksidase 0,1 mL ditambahkan dan digojok hingga homogen lalu diinkubasi kembali selama 30 menit. Reaksi dihentikan dengan penambahan 1 mL HCl 1 N. Pengukuran serapan dilakukan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 200-400 nm.

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Kontrol Blanko

Sebanyak 3,9 mL larutan dapar fosfat 0,05 M dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 2 mL larutan substrat xantin oksidase kemudian diinkubasi selama 15 menit. Setelah itu, ditambahkan 0,1 mL dapar fosfat dan digojog hingga homogen, kemudian larutan diinkubasi pada suhu 30oC selama 30 menit. Reaksinya dihentikan dengan penambahan 1 mL HCl 1 N. Selanjutnya diukur serapannya menggunakan spekrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum dan pengujian dilakukan sebanyak 3 kali.

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Blanko

Sebanyak 3,9 mL larutan dapar fosfat 0,05 M dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 2 mL larutan substrat xantin oksidase kemudian diinkubasi selama 15 menit. Setelah itu, ditambahkan 0,1 mL enzim xantin

oksidase dan digojog hingga homogen, kemudian larutan diinkubasi pada suhu

30oC selama 30 menit. Reaksinya dihentikan dengan penambahan 1 mL HCl 1 N. Selanjutnya diukur serapannya menggunakan spekrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum dan pengujian dilakukan sebanyak 3 kali.

Pembuatan Larutan Standar Allopurinol 1000 µg/mL

Tablet allopurinol digerus kemudian ditimbang sebanyak 10 mg dan dilarutkan dengan beberapa tetes NaOH 1 N kemudian dimasukkan ke dalam labu

(18)

8

ukur 10 mL dan ditambahkan dengan aquades bebas CO2 hingga batas tanda sehingga didapatkan konsentrasi 1000 µg/mL. Standar allopurinol dibuat dengan mengencerkan larutan induk, diambil masing-masing 5; 10; 25; 50; dan 100 µL dan dimasukkan kedalam labu ukur 10 mL kemudian ditambahkan aquades bebas CO2 hingga batas tanda sehingga akan diperoleh larutan standar allopurinol dengan konsentrasi 0,5; 1; 2,5; 5; dan 10 µg/mL.

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Kontrol Standar Allopurinol

Larutan uji dengan konsentrasi 0,5; 1; 2,5; 5; dan 10 µg/mL diambil masing-masing 1 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan larutan dapar fosfat 0,05 M pH 7,5 sebanyak 2,9 mL dan 2 mL substrat xantin oksidase kemudian dilakukan pra inkubasi selama 15 menit. Ditambahkan 0,1 mL dapar fosfat 0,05 pH 7,5 kemudian digojog hingga homogen dan diinkubasi selama 30 menit. Reaksi dihentikan dengan penambahan HCl 1 N sebanyak 1 mL kemudian diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali.

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Standar Allopurinol

Larutan uji dengan konsentrasi 0,5; 1; 2,5; 5; dan 10 µg/mL diambil masing-masing 1 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan larutan dapar fosfat 0,05 M pH 7,5 sebanyak 2,9 mL dan 2 mL substrat xantin oksidase kemudian dilakukan pra inkubasi selama 15 menit pada suhu 30oC. Ditambahkan 0,1 mL larutan enzim xantin oksidase 0,1 U/ml kemudian digojog hingga homogen dan diinkubasi selama 30 menit pada suhu 30oC. Reaksi dihentikan dengan penambahan HCl 1 N sebanyak 1 mL kemudian diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali.

Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji Sampel Infusa Daun Sisik Naga 1000 µg/mL

Sebanyak 10 mg sampel infusa daun sisik naga ditimbang dan dilarutkan dengan aquades bebas CO2 hingga homogen dalam 10 mL labu ukur, sehingga didapatkan konsentrasi 1000 µg/mL. Pembuatan larutan seri infusa dibuat dengan dipipet masing masing 0,1; 0,25; 0,5; 0,75; 1 mL dimasukkan kedalam labu ukur

(19)

9

10 mL dan dicukupkan volumenya dengan air bebas CO2, sehingga akan didapatkan larutan uji infusa konsentrasi 10; 25; 50; 75; 100 µg/mL.

Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji Sampel Infusa Daun Salam 1000 µg/mL Sebanyak 10 mg sampel infusa daun sisik naga ditimbang dan dilarutkan dengan aquades bebas CO2 hingga homogen dalam 10 mL labu ukur, sehingga didapatkan konsentrasi 1000 µg/mL. Pembuatan larutan seri infusa dibuat dengan dipipet masing masing 0,1; 0,25; 0,5; 0,75; 1 mL dimasukkan kedalam labu ukur 10 mL dan dicukupkan volumenya dengan air bebas CO2, sehingga akan didapatkan larutan uji infusa konsentrasi 10; 25; 50; 75; 100 µg/mL.

Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji Sampel Infusa Kombinasi Daun Salam dan Daun Sisik Naga 1000 µg/mL

Sejumlah 10 mg kombinasi infusa daun salam dan daun sisik naga perbandingan 1:1 ditimbang dan dilarutkan dalam 10 mL air bebas CO2 hingga homogen, sehingga didapatkan konsentrasi 1000 µg/mL. Pembuatan larutan seri infusa dibuat dengan dipipet masing masing 0,1; 0,25; 0,5; 0,75; 1 mL dimasukkan kedalam labu ukur 10 mL dan dicukupkan volumenya dengan air bebas CO2, sehingga akan didapatkan larutan uji infusa konsentrasi 10; 25; 50; 75; 100 µg/mL.

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Kontrol Sampel

Larutan uji daun salam, daun sisik naga, atau kombinasi daun salam dan sisik naga dengan konsentrasi 10; 25; 50; 75; 100 µg/mL diambil masing-masing 1 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan larutan dapar fosfat 0,05 M pH 7,5 sebanyak 2,9 mL dan 2 mL substrat xantin

oksidase kemudian dilakukan pra inkubasi selama 15 menit. Ditambahkan 0,1 mL

dapar fosfat 0,05 pH 7,5 kemudian digojog hingga homogen dan diinkubasi selama 30 menit. Reaksi dihentikan dengan penambahan HCl 1 N sebanyak 1 mL kemudian diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum.

Pengujian Efek Inhibisi Larutan Sampel

Larutan uji daun salam, daun sisik naga, atau kombinasi daun salam dan sisik naga dengan konsentrasi 0,5; 1; 2,5; 5; dan 10 µg/mL diambil

(20)

masing-10

masing 1 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan larutan dapar fosfat 0,05 M pH 7,5 sebanyak 2,9 mL dan 2 mL substrat

xantin oksidase kemudian dilakukan pra inkubasi selama 15 menit. Ditambahkan

0,1 mL enzim xantin oksidase kemudian digojog hingga homogen dan diinkubasi selama 30 menit. Reaksi dihentikan dengan penambahan HCl 1 N sebanyak 1 mL kemudian diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum.

Perhitungan Penghambatan Enzim Xantin Oksidase (IC50)

Perhitungan % aktivitas inhibitor enzim xantin oksidase dapat dihitung dengan rumus :

% Inhibisi = (1- ) x 100% Keterangan :

A : Perubahan absorbansi larutan uji tanpa ekstrak tumbuhan sisik naga (Blanko (abs dengan enzim) – Kontrol blanko (abs tanpa enzim))

B : Perubahan absorbansi larutan uji dengan ekstrak tumbuhan sisik naga (Sampel (abs dengan enzim) – Kontrol sampel (abs tanpa enzim))

Nilai IC50 dihitung menggunakan rumus persamaan regresi untuk menentukan y = a + bx. Aktivitas inhibisi dinyatakan dengan Inhibition

Concentration 50% (IC50) yaitu konsentrasi sampel yang dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase sebanyak 50%. Nilai IC50 didapatkan dari nilai x setelah mengganti y = 50.

Analisis Data Statistik

Data pengujian kandungan flavonoid dengan menggunakan metode KLT dibuat dalam bentuk tabel yang selanjutnya hasil dideskripsikan. Data uji penghambatan xantin oksidase dihitung nilai absorbansi setiap sampel, persen inhibisi, dan selanjutnya dihitung IC50 menggunakan metode regresi linear.

Analisis Shapiro-Wilk digunakan untuk melihat data terdistribusi normal atau tidak. Jika data terdistribusi normal maka dapat dilakukan uji Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui perbedaan data antar kelompok. Apabila data yang didapatkan tidak terdistribusi normal maka dilakukan uji Kruskal-Wallis. Pada uji Anova satu arah atau Kruskal-Wallis yang

(21)

11

dilakukan apabila didapatkan hasil nilai P<0.05, dilanjutkan analisis Post-Hoc untuk mengetahui kelompok yang berbeda bermakna. Dilakukan uji Post-Hoc dengan menggunakan uji Scheffe apabila hasil data didapatkan terdistribusi normal tetapi jika hasil data yang didapatkan tidak terdistribusi normal, maka digunakan uji Mann-Whitney. Hasil nilai P<0.05 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata bermakna antara dua kelompok data.

(22)

12 HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyiapan Bahan

Tanaman daun salam dan daun sisik naga diambil dari CV Merapi Farmasi. Daun salam diambil dengan spesifikasi berupa daun segar warna hijau, utuh tidak berlobang, bersih, daun keempat dari pucuk dan keempat dari pangkal batang. Daun Sisik naga diambil dengan spesifikasi daun fertil, warna hijau, tidak berlubang dan bersih.

Dilakukan determinasi pada tanaman daun salam dan daun sisik naga yang telah dikumpulkan. Tujuan dilakukan determinasi pada tanaman salam dan sisik naga yaitu untuk memastikan kebenaran identitas tanaman dengan jelas. Hasil dari determinasi menunjukan tanaman yang digunakan benar merupakan tanaman salam Syzygium polyanthum (Wight) Walp dan sisik naga Pyrrosia piloselloides (L.) M.G.Price. Hasil didukung dengan adanya surat keterangan dari Laboratorium Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Tanaman daun salam dan daun sisik naga yang digunakan dalam determinasi selanjutnya dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran yang menempel seperti debu. Bagian daun dipisahkan dari bagian tanaman lain yang terikut saat pengumpulan, kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat lalu ditiriskan sampai sisa air menghilang. Setelah dilakukan pencucian, kedua tanaman dirajang untuk memperkecil ukuran sehingga mudah untuk dikeringkan. Selanjutnya daun sisik naga dan daun salam dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 40oC sampai kering, dikatakan kering jika daun dapat hancur ketika diremas dengan tangan. Tujuan dilakukan pengeringan yaitu untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada daun salam dan daun sisik naga. Daun tanaman salam dan daun sisik naga yang telah kering kemudian diserbuk menggunakan alat penyerbukan, lalu diayak dengan ayakan no.40 mesh. Penyerbukan sangat penting karena dapat meningkatkan luas permukaan partikel yang kontak dengan pelarut sehingga pelarut dapat masuk ke dalam serbuk dan zat kimia berupa metabolit sekunder pada serbuk simplisia akan

(23)

13

keluar dan bercampur dengan zat penyari sehingga proses penyarian dapat berlangsung efektif.

Proses ekstraksi serbuk simplisia daun sisik naga dan daun salam menggunakan metode ekstraksi pelarut secara panas yaitu infudasi. Pada umumnya infusa merupakan teknik umum yang digunakan untuk ekstraksi tanaman obat (Handa et al, 2008). Infusa merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90˚C selama 15 menit (Khafidhoh et al, 2015). Penggunaan bentuk sediaan infusa dikarenakan sediaan infusa merupakan bentuk sediaan yang sederhana dan mudah untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kandungan flavonoid pada daun memiliki sifat non polar sampai polar karena adanya kandungan senyawa aglikon ataupun bentuk glikosida. Ekstraksi infusa menggunakan pelarut polar yaitu air. Senyawa yang memiliki tingkat kepolaran yang sama dengan pelarut akan lebih mudah bercampur. Dengan demikian, diharapkan flavonoid dapat tersari pada sediaan infusa (Sutrisna et al, 2010).

Uji Kandungan Flavonoid dengan Metode KLT

Dilakukan pengujian kandungan kimia pada infusa daun salam dan daun sisik naga dengan menggunakan metode KLT. Pengujian kandungan kimia bertujuan untuk mengetahui kandungan flavonoid yang terdapat pada infusa di mana flavonoid memilki kemampuan dalam penghambatan xantin oksidase. Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai Rf pada standar dengan infusa. Standar yang digunakan pada pengujian flavonoid yaitu kuersetin, karena kuersetin merupakan flavonoid golongan flavonol yang memiliki gugus keto pada atom C-4 dan juga gugus hidroksil pada atom C-3 dan C-5 yang bertetangga (Azizah et al, 2014)

.

Sampel dan standar ditotolkan pada fase diam yaitu silika 60 GF 254 kemudian dielusi pada chamber yang berisi fase gerak yaitu n-butanol-asam asetat-air dengan perbandingan (10: 2,5: 12,5). Fase gerak yang digunakan bersifat sangat polar sehingga bisa memisahkan senyawa flavonoid yang juga bersifat polar. Eluen yang baik ialah eluen yang bisa memisahkan senyawa dalam jumlah yang banyak dengan ditandai munculnya noda (Forestryana, 2020). Sebelum digunakan plat KLT harus diaktivasi dengan menggunakan oven pada

(24)

14

suhu 110oC selama 30 menit untuk menghilangkan air yang terdapat pada plat KLT (Bele, 2011). Hasil elusi kemudian disemprot pereaksi AlCl3 untuk mendeteksi senyawa fenolik, selanjutnya dideteksi dibawah sinar UV pada panjang gelombang 365 nm dan 254 nm. Pengamatan bercak dilakukan pada sinar tampak, sinar UV 254 dan sinar UV 365 nm.

Flavonoid adalah salah satu golongan senyawa fenolik terbesar dalam tanaman dan merupakan salah satu metabolit sekunder. Struktur karbon dasar dari flavonoid mengandung 15 karbon dengan 2 cincin aromatik yang dihubungkan oleh jembatan 3-karbon (Wildman, 2007). Adanya kandungan flavonoid pada tumbuhan menandakan adanya aktivitas antioksidan. Flavonoid merupakan salah satu antioksidan alami (Kristanti et al, 2019).

Gambar 1. Hasil elusi KLT Infusa tunggal daun salam (A), infusa tunggal daun sisik naga (B), kombinasi infusa daun salam dan sisik naga (C), kuersetin (D)

Pengujian kandungan kimia pada infusa dilakukan dengan metode KLT secara kualitatif. KLT merupakan metode yang dapat menganalisis sampel dalam jumlah yang banyak secara paralel dalam satu waktu yang bersamaan dengan waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan kromatografi kolom (Rafi et al, 2017). Hasil positif adanya kandungan senyawa flavonoid ditandai dengan terbentuknya bercak berwarna kuning setelah disemprot dengan AlCl3.

A B C D A B C D

(25)

15

Tabel I. Hasil Uji KLT Flavonoid

No. Sampel

Visual setelah reagen semprot (AlCl3)

Deteksi UV 365 nm setelah reagen semprot (AlCl3) Warna Rf (cm) Warna Rf (cm)

1. Kuersetin Kuning 0.98 Biru 0.82

2. Infusa

Kombinasi Kuning 0.96 Biru 0.78

3. Infusa Daun

Salam Kuning 0.8 Biru 0.7

4. Infusa Daun

Sisik Naga Kuning 0.98 Biru 0.78

Berdasarkan pengujian KLT pada sampel infusa daun salam, daun sisik naga, dan kombinasi hasilnya menunjukan kemungkinan adanya kandungan flavonoid jenis kuersetin yang dapat ditunjukan dengan adanya perubahan warna menjadi warna kuning di bawah sinar UV pada panjang gelombang 365 nm dan nilai Rf yang didapatkan mendekati nilai Rf pada pembanding kuersetin. Pembanding kuersetin menghasilkan bercak berwarna kuning setelah dideteksi di bawah sinar UV pada panjang gelombang 365 nm dengan nilai Rf sebesar 0.78 cm setelah disemprot pereaksi AlCl3.

Uji Penghambatan Enzim Xantin Oksidase

Enzim xantine oksidase (XO) merupakan enzim yang mengkatalisasi oksidasi hipoksantin dan xantin menjadi asam urat. Hidroksilasi purin dikatalisis oleh XO dan terutama konversi xantin menjadi asam urat yang lebih bertanggung jawab untuk beberapa penyakit seperti asam urat, penyakit ginjal dan pembentukan batu dalam sistem kemih (Mehta et al, 2014). Selama reoksidasi xantin oksidase, oksigen molekular beraksi sebagai elektron akseptor, memproduksi radikal superoksida dan hidrogen peroksida.

Xantin + 2O2 + H2O Asam urat + 2O2- + 2H+ Xantin + O2 + H2O Asam urat + H2O2

(26)

16

Gambar 2. Transformasi xantin menjadi asam urat oleh XO (Kostic et al, 2015). Dengan demikian, penggunaan inhibitor XO yang menghambat sintesis asam urat dalam tubuh dapat menjadi salah satu pendekatan terapi untuk pengobatan hiperurisemia dan asam urat kronis (Liu et al, 2016).

Pengujian enzim xantin oksidase diawali dengan pendahuluan dimana dilakukan penentuan suhu inkubasi, waktu inkubasi, pH larutan, dan konsentrasi substrat xantin yang merujuk pada Umamaheswari et al. Dilakukan penentuan serapan panjang gelombang maksimum pada rentang 200-400 nm. Nilai panjang gelombang maksimum yang didapatkan yaitu 287,60 nm dilihat dari nilai absorbansi tertinggi yang didapatkan. Nilai panjang gelombang maksimum digunakan dalam penentuan serapan pada sampel. Suhu inkubasi yang digunakan yaitu 30oC selama 15 menit untuk pra inkubasi dan 30 menit untuk inkubasi, pH yang digunakan yaitu 7,5, dan konsentrasi substrat xantin yaitu 0,15 mM.

Pada pengujian enzim xantin oksidase dilakukan pembuatan larutan kontrol blanko dan blanko yang bertujuan sebagai pembanding terhadap larutan sampel untuk melihat aktivitas penghambatan xantin oksidase tanpa ekstrak uji. Standar yang digunakan dalam pengujian enzim xantin oksidase yaitu allopurinol dengan variasi konsentrasi yaitu 0,5; 1; 2,5; 5; dan 10 µg/mL dengan diencerkan dengan larutan induk 1000 µg/mL.

(27)

17

Gambar 3. Struktur Allopurinol (Pacher et al, 2006)

Allopurinol digunakan sebagai pembanding, dikarenakan allopurinol memiliki mekanisme kerja sebagai inhibitor enzim xantin oksidase. Dilihat dari mekanismenya, allopurinol termasuk inhibitor reversibel kompetitif. Suatu inhibitor kompetitif memiliki struktur mirip dengan substrat yang menyebabkan adanya kompetisi antara substrat dengan inhibitor dalam mengikat sisi aktif enzim (Wulandari et al, 2012). Senyawa standar yang digunakan dalam penelitian bukan merupakan senyawa murni tetapi dalam bentuk sediaan tablet sehingga kemungkinan hasil yang didapatkan pada penentuan nilai IC50 pembanding kurang sesuai. Nilai IC50 allopurinol yang didapatkan dilihat pada Tabel II berturut-turut yaitu 12.655; 15.111; 17.387 µg/mL dengan rata-rata yaitu 15.051 µg/mL.

Tabel II. Nilai IC50 allopurinol, infusa daun salam, infusa daun sisik naga, dan kombinasi infusa daun salam dan sisik naga

Repitisi Allopurinol Infusa Daun Salam Infusa Daun Sisik Naga Infusa Kombinasi IC50 (µg/mL) 1 12.655 45.665 41.780 33.494 2 15.111 46.045 41.605 33.088 3 17.387 45.313 41.526 33.156 Rerata 15.051 45.674 41.637 33.246 SD 2.366 0.366 0.129 0.217 CV (%) 15.720 0.802 0.312 0.654

Pada pengujian enzim xantin oksidase dilakukan pembuatan larutan sampel dengan konsentrasi 10; 25; 50; 75; 100 µg/mL diencerkan dari larutan induk 1000 µg/mL. Nilai IC50 sampel infusa daun salam ditunjukan pada Tabel II berturut-turut yaitu 45.665; 46.045; 45.313 µg/mL dengan nilai rata-rata yaitu 45l.674 µg/mL. Nilai IC50 sampel infusa daun sisik naga berturut-turut yaitu 41.780; 41.605; 41.526 µg/mL dengan nilai rata-rata yaitu 41.637 µg/mL. Sedangkan nilai IC50 sampel kombinasi infusa daun salam dan daun sisik naga

(28)

18

berturut-turut yaitu 33.494; 33.088; 33.156 µg/mL dan nilai rata-rata yaitu 33.246 µg/mL.

Dari hasil nilai IC50 yang didapatkan pada standar allopurinol dan sampel maka disimpulkan bahwa allopurinol memiliki efek penghambatan xantin oksidase yang paling baik dikarenakan allopurinol memiliki nilai IC50 yang paling kecil dibandingkan sampel. Semakin kecil nilai IC50 suatu senyawa maka kemampuan dalam penghambatan enzim xantin oksidase semakin baik. Pada ketiga sampel yang diuji menunjukan bahwa infusa kombinasi daun sisik naga dan daun salam memiliki efek penghambatan xantin oksidase yang lebih baik dibandingkan infusa tunggal daun salam dan infusa tunggal daun sisik naga dilihat dari nilai IC50 yang didapatkan paling mendekati nilai IC50 pembanding allopurinol. Peningkatan persen penghambatan IC50 pada infusa kombinasi disebabkan karena adanya efek sinergis antara daun salam dan daun sisik naga. Efek sinergis yang dihasilkan oleh kombinasi dapat disebabkan karena adanya kombinasi dari dua jenis antioksidan pada daun salam dan daun sisik naga sehingga menghasilkan potensi aktivitas total antioksidan yang lebih tinggi (Marianne, 2018). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji one way Anova menyatakan bahwa hasil yang didapatkan berbeda bermakna secara signifikan antara sampel dan allopurinol dilihat dari nila p<0.05.

(29)

19 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa kombinasi daun sisik naga memiliki kemampuan penghambatan enzim xantin oksidase yang baik dengan rata-rata nilai IC50 yaitu33.246 µg/mL. Belum dapat dipastikan adanya kandungan flavonoid pada identifikasi kimia daun salam dan daun sisik naga dikarenakan nilai Rf yang berbeda dengan pembanding kuersetin. SARAN

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah benar adanya kandungan flavonoid pada sampel dikarenakan hasil KLT yang didapatkan kurang nyata.

(30)

20 DAFTAR PUSTAKA

Andriani, A., Chaidir, R., 2016. Pengaruh Pemberian Air Rebusan Daun Salam

(Syzygium Polyanthum) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat. Research of Applied Science and Education, 10(2), 117.

Azizah, D, N., Kumolowati, E., Faramayuda, F., 2014. Penetapan Kadar Flavonoid Metode AlCl3 pada Ekstrak Metanol Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.). Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi, 2(2), 48.

Bele, A, A., Khale, A., 2011. An Overview on Thin Layer Chromatography.

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research, 2(2),

258.

Bulusu, K, C., Guha, R., Mason, D, J., Lewis, R, P, I., Muratov, E., Motamedi, Y, K., Cokol, M., Bender, A., 2016. Modelling of Compound Combination Effects and Applications to Efficacy and Toxicity : State-of-the-art, Challenges and Perspectives. Drug Discovery Today, 21 (2), 226.

Cos, P., Ying, L., Calomme, M., Hu, J.P., Cimanga, K., 1998. Structure-Activity Relationship and Classification of Flavonoids as Inhibitors of Xanthine Oxidase and Superoxide Scavengers. Journal of Natural Products, 61 (1), 71.

Devi, S., Rahmah, M., and Jannah, N, R., 2019. Analisis Infusa dan Ekstrak Etanol Tamarindus indica L, Scurrula Sp, Mimosa pudica D Segar dan Kering Sebagai Inhibitor Enzim Amilase. Jurnal Natur Indonesia, 17 (2), 28.

Dianati, N, A., 2015. Gout and Hyperuricemia. Jurnal Majority, 4 (3), 82.

Ernawati., Susanti, H., 2014. Penghambatan Aktivitas Xanthine Oxidase oleh Ekstrak Etanol Sarang Semut (Myrmecodia tuberosa (non Jack) Bl.) Secara In Vitro. Pharmaciana, 4(1), 16.

Forestryana, D., and Arnida., 2020. Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak Etanol Daun Jeruju (Hydrolea Spinosa L.). Jurnal

Ilmiah Farmako Bahari, 11 (2), 121.

Handa, S, S., Khanuja, S, P, S., Longo, G., and Rakesh, D, D., 2008. Extraction

Technologies for Medicinal and Aromatic Plants. United Nations

Industrial Development Organizations and the International Centre for Science and High Technology.

Katno., Pramono, S., 2002. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Fakultas Farmasi, UGM.

Khafidhoh, Z., Dewi, S, S., Iswara, A., 2015. Efektivitas Infusa Jeruk Purut (Citrus hystrix DC.) Terhadap Pertumbuhan Candida albicans Penyebab Sariawan Secara in vitro. Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang.

Kostić,D.A., Dimitrijević,D.S., Stojanović,G.S., Palić,I.R., et al., 2015. Xanthine Oxidase :Isolation,Assays of Activity, and Inhibiton. Hindawi Publishing Corporation. Journal of Chemistry, volume 2015, pp.1-8. Kristanti, A.N., Aminah, N.S., Tanjung, and M., Kurniadi, B., 2019. Buku Ajar

(31)

21

Liu, K., Wang, W., Guo, B, H., Gao, H., Liu, Y., 2016. Chemical Evidence for Potent Xanthine Oxidase Inhibitory Activity of Ethyl Acetate Extract of

Citrus aurantium L. Dried Immature Fruits. Moleculas, 21 (302), 1.

Marianne, M., 2018. Uji Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Temu Giring (Curcuma Heyneana) dan Daun Pugun Tanoh (Curanga Fel-Terrae) Menggunakan Metode Diphenyl Picrylhydrazil(DPPH). TALENTA Conference Series: Tropical Medicine

(TM), 1(2), 399.

Mehta, S.K., Nayeem, N., 2014. Natural Xanthine Oxidase Inhibitors for Management of Gout : A review. Research and Reviews : Journal of

Medical and Health Sciences. 3(3), 5.

Muhtadi., Retnani, I., and Wahyuningtyas, N., 2012. Penghambatan Ksantin Oksidase oleh Kombinasi Ekstrak Tempuyung (Sonchus Arvensis) dan Salam (Syzgium Polyanthum) pada Mencit Hiperurisemia. Jurnal

Biomedika, 4 (1), 17.

Owen, P.L., Johns, T., 1999. Xanthine Oxidase Inhibitory Activity of Northeastern North American Plant Remedies Used for Gout. Journal of

Ethnopharmacology, 64, 150-153.

Pacher, P., Nivorozhkin, A., Szabo, C., 2006. Therapeutic Effects of Xanthine Oxidase Inhibitors : Renaissance Half a Century after the Discovery of Allopurinol. Pharmacological Reviews, 58(1), 91.

Putri, N.E., Rissyelly., and Mauldina, M.G., 2016. Uji Penghambatan Xantin Oksidase secara In Vitro Ekstrak Kulit Rambutan. Journal of

Pharmaceutical Sciences and Research, 3 (1), 13.

Rafi, M., Heryanto, R., and Septaningsih, D, A., 2017. ATLAS Kromatografi

Lapis Tipis Tumbuhan Obat Indonesia. Pusat Studi Biofarmaka Tropika

LPPM, Institute Pertanian Bogor.

Silviana, N, C., 2019. Uji Efek Penghambatan Enzim Xantin Oksidase Ekstrak Tumbuhan Sisik Naga (Pyrroadsia piloselloides (L.) M.G.Price) Pohon Inang The. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Sukandar, E, Y., 2006. Tren dan Paradigma Dunia Farmasi. Industri Klinik

Teknologi Kesehatan. Departemen Farmasi FMIPA, Institut Teknologi

Bandung.

Sumito, J.S., Khotimah, S., and Linda, R., 2016. Uji Bioaktivitas Fraksi Metanol dan Etil Asetat Tumbuhan Sisik Naga (Drymoglossum piloselloides (L)

pressl.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Jurnal Protobiont, 5 (1), 30.

Sutrisna, E, M., Wahyuni, A, S., Azmi, U., 2010. Efek Ekstrak Etanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa (Scheff.) Boerl.) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat pada Mencit Putih Jantan yang Diinduksi Potassium Oxonate. Pharmacon, 11(2), 63,67.

Syahrir, N.H.A., Afendi, F.M., Susetyo, B., 2016. Efek Sinergis Bahan Aktif Tanaman Obat Berbasiskan Jejaring Dengan Protein Target. Jurnal Jamu

(32)

22

Telaumbanua, A, K., 2015. Uji Penghambatan Enzim Xantin Oksidase Kombinasi Infusa Daun Salam (Syzygium polyanthum Wigh) dengan Infusa Daun Sidaguri (Sida rhombifolia L.). Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Umamaheswari, M., Asokkumar, K., Sivashanmugam, A.T., Remyaraju, A.,

Subhadradevi, V., and Ravi, T.K., 2009. In Vitro Xanthine Oxidase Inhibitory Activity of The Fractions of Erythrina stricta Roxb. Journal of

Ethnopharmacology, 124, 647-648.

Unno, T., Sugimoto, A., Kakuda, T., 2004. Xanthine Oxidase Inhibitors from the Leaves of Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. Journal of Enthnopharmacology, 93, 391.

Wells, B.G., Dipiro, J.T., Schwinghammer, T.L., Dipiro, C.V., 2015.

Pharmacotherapy Handbook 9th edition, McGraw-Hill Companies.

Wildman, R.E.C., 2007. Handbook of Nutraceuticals and Functional Foods

Second Edition. CRC Press Taylor & Francis Group.

Wulandari, S., Subandi., Muntholib., 2012. Inhibisi Xantin Oksidase oleh Ekstrak Etanol Kulit Melinjo (Gnetum gnemon) Relatif Terhadap Allopurinol. Universitas Negeri Malang.

(33)

49 BIOGRAFI PENULIS

Penulis skripsi yang berjudul “Uji Efek Inhibisi Enzim Xantin Oksidase Kombinasi Infusa Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp dan Daun Sisik Naga (Pyrrosia piloselloides (L.) M.G Price)” memiliki nama lengkap Desty Sandy Oktoviana Liunokas. Penulis dilahirkan di Jayapura pada tangga 26 Oktober 1997 sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara, dari pasangan Petrus Liunokas dan Evy Susianti. Penulis menempu pendidikan formal di TK Ria Pembangunan Sentani (2002-2003), SD YPPK Bonaventura Sentani (2003-2009), SMP Negeri 2 Sentani (2009-2012), SMA Negeri 1 Sentani (2012-2015) dan kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tahun 2016. Semasa kuliah penulis aktif dalam beberapa kegiatan fakultas seperti anggota BEMF divisi Penelitian dan Pengembangan (2016-2017), seksi acara Kampanye Informasi Obat (2017), Bendara Herbal Garden Team (2017-2018), Sekretaris SEMNAS dan HCC dalam kegiatan Future Pharmacist in Action 3 (2018), dan asisten praktikum Farmakognosi Fitokimia (2018-2019).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :