BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma disekitar, budaya

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gangguan Jiwa 2.1.1. Definisi

Menurut Townsend (1996) mental illness adalah respon penyesuaian diri yang tidak sesuai terhadap stressor dari lingkungan dalam atau luar yang ditunjukkan dengan pola pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma disekitar, budaya atau kebiasaan yang kemudian mengganggu fungsi sosial, kerja, dan fisik seseorang. Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) merupakan perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan fungsi jiwa menjadi terganggu kemudian menimbulkan penderitaan dan menghambat seseorang dalam melaksanakan peran sosial.

Gangguan jiwa atau mental illness adalah kendala yang harus dihadapi oleh individu karena relasinya dengan orang lain terhambat karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2001). Gangguan jiwa adalah terganggunya cara berpikir (cognitive), keinginan (volition), emosi (affective), tindakan (psychomotor) (Yosep, 2007).

(2)

Penyebab umum gangguan jiwa menurut Santrock (1999) dibedakan atas 2 (dua) penyebab, yaitu :

2.1.2.1. Sebab-sebab jasmaniah/biologic 1. Keturunan

Peran yang dianggap sebagai penyebab yang belum jelas, terbatas dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal tersebut sangat didukung dengan situasi lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.

2. Jasmaniah

Kondisi tubuh individu yang berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu, Misalnya yang bertubuh gemuk / endoform cenderung menderita psikosa manic depresif, sedang yang kurus/ ectoform cenderung menjadi skizofrenia.

3. Temperamen

Individu yang terlalu sensitif terkadang mempunyai masalah kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan jiwa.

4. Penyakit dan Cedera Tubuh

Penyakit-penyakit tertentu seperti penyakit jantung, kanker dan sebagainya bisa saja menyebabkan merasa murung dan sedih. Cedera atau cacat tubuh tertentu juga dapat menyebabkan rasa rendah diri.

(3)

Berbagai macam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifat untuk selanjutnya. Kehidupan manusia dapat dibagi atas 7 masa dan dalam keadaan tertentu dapat mendukung terjadinya gangguan jiwa.

1. Masa bayi

Masa bayi menjelang usia 0-2 tahun, dasar perkembangan yang dibentuk pada masa tersebut adalah sosialisasi dan pada masa ini. Kasih sayang dan cinta dari seorang ibu akan memberikan rasa hangat dan aman bagi bayi dan dikemudian hari akan menjadikan pribadi yang hangat, terbuka dan bersahabat. Sebaliknya, apabila sikap seorang ibu dingin, acuh tak acuh bahkan menolak maka dikemudian hari akan berkembang menjadi pribadi yang bersifat menolak dan menentang lingkungan. Sebaiknya apabila dilakukan dengan tenang, hangat yang akan memberi rasa aman dan terlindungi, sebaliknya, pemberian yang kaku, keras dan tergesa-gesa maka akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan.

2. Masa anak pra sekolah (antara 2 sampai 7 tahun)

Di usia ini sosialisasi sudah mulai dijalankan dan telah tumbuh disiplin dan otoritas. Penolakan orang tua pada masa ini yang mendalam maupun ringan akan menimbulkan rasa tidak

(4)

aman sehingga ia akan mengembangkan cara penyesuaian yang salah, ia mungkin akan nurut, menarik diri atau malah menentang dan memberontak. Anak yang tidak mendapat kasih sayang dari orang tua tidak akan disiplin karena tidak ada panutan, pertengkaran dan keributan yang membingungkan sehingga menimbulkan rasa cemas serta rasa tidak aman. Hal-hal tersebut merupakan dasar yang kuat untuk menimbulkan tuntutan tingkah laku dan gangguan kepribadian pada anak dikemudian hari.

3. Masa Anak sekolah

Masa ini ditandai dengan pertumbuhan fisik dan intelektual yang pesat. Pada masa ini anak mulai memperluas lingkungan pergaulannya. Keluar dari batasan keluarga. Kekurangan atau cacat fisik dapat menimbulkan maladaptive. Lingkungan sangat berpengaruh dalam hal ini anak mungkin menjadi rendah diri atau sebaliknya dapat melakukan kompensasi yang positif atau kompensasi negatif. Sekolah merupakan tempat yang baik untuk seorang anak mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan memperluas pergaulannya, menguji kemampuan, dituntut berprestasi, mengekang atau memaksakan kehendaknya meskipun tak disukai oleh si anak.

(5)

Pada masa ini akan terjadi perubahan-perubahan fisik/jasmaniah misalnya timbulnya tanda-tanda sekunder (ciri-ciri diri kewanitaan atau kelaki-lakian) Sedangkan secara kejiwaan, pada masa ini terjadi pergolakan- pergolakan hebat. Pada masa ini juga seorang remaja mulai dewasa mencoba kemampuannya, di suatu pihak ia merasa sudah dewasa (hak-hak seperti orang dewasa), sedangkan di lain hal ia masih belum sanggup dan belum ingin menerima tanggung jawab atas semua perbuatannya. Menentang terhadap otoritas, senang berkelompok serta idealis merupakan sifat-sifat yang sering terlihat. Lingkungan yang baik dan penuh pengertian akan sangat membantu menunjang proses kematangan kepribadian di usia remaja.

5. Masa Dewasa muda

Individu yang telah melalui masa-masa sebelumnya dengan aman dan bahagia akan memiliki kesanggupan dan kepercayaan diri. Umumnya ia akan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan pada masa ini. Sebaliknya seseorang yang mengalami banyak gangguan pada masa sebelumnya, apabila mengalami masalah pada masa ini mungkin akan mengalami gangguan jiwa.

(6)

Yang menjadi patokan pada masa ini aka tercapai apabila status pekerjaan dan sosial seseorang sudah mantap. Sebagian individu berpendapat perubahan ini sebagai masalah ringan seperti rendah diri, pesimis. Keluhan jiwa berat misalnya murung, kesedihan mendalam diikuti kegelisahan yang hebat bahkan berusaha bunuh diri.

7. Masa Tua

Terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan pada masa ini yaitu : berkurangnya daya tanggap, daya ingat, daya belajar, kemampuan fisik dan kemampuan sosial ekonomi yang menimbulkan rasa cemas dan rasa tidak aman serta sering mengakibatkan terjadinya kesalah pahaman orang tua terhadap orang di sekitarnya, berperasaan merasa diasingkan karena kehilangan teman sebaya, terbatas bergerak dapat menimbulkan kesulitan emosional yang cukup hebat.

2.1.2.3. Sebab Sosio Kultural

Kebudayaan secara teknis merupakan ide atau tingkah laku yang dapat dilihat dan tidak terlihat. Budaya bukan merupakan faktor penyebab langsung yang menimbulkan gangguan jiwa, biasanya terbatas menentukan “warna” gejala-gejala. Disamping mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian individu misalnya melalui aturan-aturan kebiasaan yang berlaku dalam kebudayaan tersebut.

(7)

Menurut Santrock (1999) beberapa faktor kebudayaan tersebut :

1. Cara-cara membesarkan anak

Membesarkan anak dengan cara yang kaku dan otoriter akan menyebabkan hubungan orang tua anak menjadi kaku dan tidak hangat. Anak-anak setelah dewasa akan bersifat sangat agresif atau pendiam dan tidak suka bergaul atau justru menjadi penurut yang berlebihan.

2. Sistem Nilai

Sistem nilai moral dan etika yang berbeda antara kebudayaan yang satu dengan budaya yang lain, antara masa lalu dengan sekarang sering menimbulkan masalah-masalah kejiwaan. Begitu pula perbedaan moral yang diajarkan di rumah atau di sekolah dengan yang di terapkan di masyarakat sehari-hari.

3. Kepincangan antar keinginan dengan kenyataan yang ada

Iklan-iklan di radio, televisi, surat kabar, film dan lain-lain menimbulkan bayangan-bayangan yang menyilaukan tentang kehidupan modern yang mungkin jauh dari kenyataan hidup sehari-hari. Akibat rasa kecewa yang timbul, seseorang mencoba mengatasinya dengan khayalan atau melakukan sesuatu yang dapat merugikan masyarakat.

(8)

Dalam masyarakat modern kebutuhan dan persaingan makin meningkat dan semakin ketat untuk meningkatkan ekonomi hasil-hasil teknologi modern. Hal tersebut memicu orang untuk bekerja lebih keras agar dapat memilikinya. Jumlah orang yang ingin bekerja lebih besar dari kebutuhan sehingga pengangguran meningkat, demikian pula urbanisasi meningkat, mengakibatkan upah menjadi rendah. Gaji yang rendah, perumahan yang buruk, waktu istirahat dan berkumpul dengan keluarga sangat terbatas dan sebagainya merupakan sebagian faktor penyebab yang mengakibatkan perkembangan kepribadian yang tidak normal. 5. Perpindahan kesatuan keluarga

Untuk seorang anak yang sedang mengembangkan kepribadiannya, perubahan-perubahan lingkungan baik dari segi budaya dan pergaulannya akan sangat mengganggu.

6. Masalah golongan minoritas

Tekanan-tekanan perasaan yang dialami golongan minoritas dari lingkungan dapat menjadi pemicu pemberontakan yang selanjutnya akan tampak dalam bentuk sikap acuh atau melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang banyak. 2.1.3. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa

Tanda dan gejala gangguan jiwa menurut Yosep (2007) adalah sebagai berikut :

(9)

1. Ketegangan (tension), merasa putus asa dan tampak murung, gelisah, cemas, melakukan perbuatan-perbuatan yang terpaksa (convulsive), histeris, merasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, berpikiran buruk.

2. Gangguan kognisi pada persepsi: sering berpransangka bahwa ada sesuatu bisikan yang memerintah untuk membunuh, melempar, naik genting, membakar rumah, padahal orang di sekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya tidak ada hanya muncul dari dalam diri seseorang sebagai bentuk kecemasan yang berat untuk dirasakan. Hal ini disebut halusinasi, klien bisa mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya menurut orang lain hal tersebut tidak ada.

3. Gangguan kemauan: klien memiliki kemauan yang lemah (abulia) sulit untuk memutuskan sesuatu atau memulai tingkah laku, susah bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor, bau dan acak-acakan.

4. Gangguan emosi: klien merasa senang dan gembira yang berlebihan. Klien merasa sebagai orang penting, sebagai raja, pengusaha, orang kaya, titisan Bung karno tetapi di lain waktu ia bisa merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi) bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

(10)

5. Gangguan psikomotor : Hiperaktivitas yaitu ditandai dengan melakukan pergerakan yang berlebihan naik ke atas genting berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat, melakukan apa-apa yang tidak diperintah atau menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau melakukan gerakan aneh. (Yosep, 2007).

2.1.4. Penanganan Gangguan Jiwa

Ada 4 (empat) cara untuk menangani orang yang mengalami gangguan jiwa, yaitu :

2.1.4.1. Terapi Psikofarmaka

Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah terapi dengan menggunakan obat yang bekerja secara selektif pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan memiliki pengaruh utama terhadap aktivitas mental dan perilaku, biasanya digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang member pengaruh terhadap taraf kualitas hidup klien (Hawari, 2001).

Psikofarmaka atau obat psikotropik dibagi ke dalam beberapa golongan, diantaranya: antipsikosis yang juga dikenal sebagai neuroleptik, depresi atau antidepresan, mania, anti-ansietas, anti-insomnia, anti-panik, dan anti obsesif-kompulsif. Transquilizer, neuroleptic, antidepressants dan psikomimetika juga termasuk obat psikotropik (Hawari, 2001).

(11)

Terapi somatic hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat adanya gangguan jiwa sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu system tubuh lain. Salah satu bentuk terapi ini adalah Electro Convulsive Therapy (ECT). ECT merupakan jenis pengobatan somatik yang menggunakan arus listrik ke otak melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup menimbulkan kejang secara mendadak, dan melalui itu diharapkan efek yang terapeutik dapat tercapai. Cara kerja ECT sebenarnya tidak diketahui, tetapi diperkirakan bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan reaksi kimia di otak (Peningkatan kadar norepinefrin dan serotinin) mirip dengan obat anti depresan atau anti-depresi. (Townsend,1996;Daulima, 2006).

2.1.4.3. Terapi Modalitas

Terapi ini merupakan berbagai pendekatan penanganan klien gangguan jiwa yang bermacam-macam, tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah perilaku seseorang yang mengalami gangguan jiwa dengan perilaku maladaptive menjadi adaptif. Terapi modalitas adalah suatu cara penyembuhan yang digunakan bersamaan dengan pengobatan berbasis obat dan tindakan pembedahan sebagai upaya pemenuhan pelayanan secara keseluruhan.

(12)

1. Tehnik terapi yang menggunakan pendekatan secara spesifik

2. Sistem terapi yang keberhasilannya tergantung pada komunikasi atau feedback antara pasien dan yang memberikan terapi

3. Terapi yang diberikan dalam upaya mengubah perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptive.

2.1.4.4. Rehabilitasi Pasien Jiwa

Rehabilitasi merupakan segala bentuk tindakan fisik, penyesuaian psikososial dan latihan vokasional sebagai usaha untuk memperoleh fungsi dan penyesuaian diri yang optimal serta mempersiapkan klien secara fisik, mental, sosial dan vokasional untuk kehidupan yang penuh dan sesuai dengan kemampuannya (Nasution, 2006).

Tujuan rehabilitasi klien gangguan jiwa dalam psikiatri yaitu untuk mencapai perbaikan fisik dan jiwa sebesar-besarnya, penyaluran dalam pekerjaan dengan kapasitas maksimal dan penyesuaian diri dalam hubungan perseorangan dan lingkungan sehingga dapat berfungsi sebagai anggota masyarakat yang mandiri dan bermanfaat.

(13)

Upaya rehabilitasi menurut Nasution (2006) terdiri dari 3 (tiga) tahap yaitu ;

a) Tahap Persiapan

 Orientasi, selama tahap orientasi klien memerlukan dan akan mencari bimbingan seorang yang professional. Perawat menolong klien untuk mengenali dan memahami masalahnya dan menentukan apa yang diperlukannya.

 Identifikasi, perawat akan mengidentifikasi dan mengkaji perasaan klien serta membantu klien sesuai dengan penyakit yang ia rasakan sebagai sebuah pengalaman dan memberi orientasi positif akan perasaan dan kepribadiannya serta memenuhi setiap kebutuhan yang diperlukan.

b) Tahap Pelaksanaan

Pada fase ini klien menerima secara penuh nilai-nilai yang ditawarkan kepadanya melalui sebuah hubungan (Relationship). Tujuan baru yang akan dicapai melalui usaha personal dapat diproyeksikan, dipindah dari perawat ke klien ketika klien menunda rasa puasnya untuk mencapai bentuk baru dari apa yang dirumuskan.

c) Tahap Pengawasan

Tahap pengawasan perawat melakukan resolusi. Tujuan baru dimunculkan dan secara bertahap tujuan lama

(14)

dihilangkan. Ini adalah proses dimana klien membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap orang lain.

2. Jenis kegiatan rehabilitasi

Abroms dalam Stuart (2006) menekankan 4 keterampilan penting psikososial pada klien gangguan jiwa yaitu:

a) Orientation

Orientation merupakan pencapaian tingkat orientasi dan kesadaran terhadap kenyataan yang lebih baik. Orientasi yang dimaksud berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman klien terhadap waktu, tempat atau maksud dan tujuan, sedangkan untuk menguatkan kesadaran dapat dilakukan melalui interaksi dan aktifitas semua klien.

b) Assertion

Assertion merupakan tingkat kemampuan dalam mengekspresikan perasaan setiap klien dengan tepat. Hal tersebut dilakukan dengan cara memotivasi klien untuk mengekspresikan diri secara efektif dengan tingkah laku yang dapat diterima masyarakat melalui kelompok pelatihan asertif, kelompok klien dengan kemampuan fungsional yang rendah atau kelompok interaksi klien.

c) Accuption

Accuption adalah kemampuan klien untuk percaya diri dan berprestasi melalui keterampilan membuat kerajinan

(15)

tangan. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan aktifitas klien dalam bentuk kegiatan sederhana seperti teka- teki, mengembangkan keterampilan fisik seperti menyulam, membuat bunga, melukis dan meningkatkan manfaat interaksi sosial.

d) Recreation

Recreation adalah kemampuan menggunakan dan membuat aktifitas yang menyenangkan dan relaksasi. Hal ini memberikan kesempatan pada klien untuk mengikuti bermacam reaksi dan membantu klien menerapkan keterampilan yang telah ia pelajari seperti: orientasi asertif, interaksi sosial, ketangkasan fisik. Contoh aktifitas relaksasi seperti permainan kartu, menebak kata dan jalan-jalan, memelihara binatang, memelihara tanaman, sosio- drama, bermain musik dan lain-lain.

2.1.4.5. Fungsi, Tugas dan Peran Keluarga

Yang dimaksud keluarga adalah terdiri atas dua orang atau lebih yang kemudian disatukan melalui ikatan kebersamaan, ikatan emosional dan yang menentukan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Marilynn M. Friedman, 1998).

a). Fungsi Keluarga

(16)

1. The Affective Function merupakan fungsi dasar yang bertujuan mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan setiap anggota keluarga untuk membangun relasi dengan orang lain. Fungsi ini diperlukan untuk perkembangan seseorang dan jiwa sosial seluruh anggota keluarga.

2. The Sociation Function merupakan suatu proses perkembangan dan perubahan yang dilalui setiap orang yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sekitarnya. Sosialisasi dimulai oleh individu sejak lahir. Manfaat dari fungsi ini adalah untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku berdasarkan tingkat perkembangan anak yang kemudian hari akan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

3. The Reproduction Function merupakan fungsi yang berguna untuk mempertahankan penerus dan menjaga kelangsungan keluarga.

4. The Economic Function yaitu keluarga yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan seseorang meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

5. The Health Care Function, fungsi keluarga adalah mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar

(17)

tetap memiliki produktivitas yang tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga dibidang kesehatan.

b). Tugas Keluarga

Menurut Friedman (2010), tugas keluarga dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan dalam keluarga contohnya : keluarga mengetahui pengertian, tanda dan gejala serta penyebab dari masalah kesehatan yang dialami anggota keluarga.

2. Keluarga mampu mengambil keputusan mengenai tindakan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan yang diderita oleh anggota keluarganya. Misalnya, membawa anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa ke tenaga kesehatan atau rumah sakit jiwa.

3. Keluarga mengetahui sejauh mana kemampuan dalam merawat anggota keluarga yang sakit.

4. Mengetahui kemampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan, yang perlu dikaji. Misalnya, pengetahuan keluarga tentang sumber-sumber yang dimiliki keluarga dalam memodifikasi lingkungan.

5. Mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dimasyarakat, yang perlu dikaji

(18)

adalah pengetahuan keluarga tentang fasilitas keberadaan pelayanan kesehatan yang digunakan sesuai dan berdasarkan jenis penyakit yang diderita, pemahaman keluarga tentang manfaat fasilitas kesehatan yang ada dimasyarakat, tingkat kepercayaan keluarga terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, apakah keluarga pernah mempunyai pengalaman yang kurang tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dimasyarakat.

c). Peran Keluarga

Peran keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa :

1. Keluarga perlu memperlakukan penderita gangguan jiwa dengan sikap yang bisa membubuhkan dan mendukung tumbuhnya harapan dan optimisme. Harapan dan optimisme akan menjadi penggerak pemulihan dari masalah kesehatan terkhususnya gangguan jiwa. Harapan merupakan pendorong proses pemulihan, salah satu faktor penting dalam pemulihan adalah keluarga, saudara dan teman yang percaya bahwa seorang penderita gangguan jiwa bisa pulih dan kembali hidup bermanfaat dimasyarakat. Mereka bisa memberikan harapan, semangat dan dukungan sumber daya yang diperlukan untuk untuk proses pemulihan. Melalui dukungan yang terciptanya lewat jaringan persaudaraan dan pertemanan, maka penderita gangguan jiwa bisa mengubah hidupnya dari keadaan kurang

(19)

sehat dan tidak sejahtera menjadi kehidupan yang lebih sejahtera dan mempunyai peran dimasyarakat. Hal tersebut akan mendorong kemampuan penderita gangguan jiwa mampu hidup mandiri, mempunyai peranan dan berpartisipasi dimasyarakatnya. Harapan dan optimisme akan menjadi motor penggerak pemulihan dari gangguan jiwa. Di lain pihak, kata-kata yang menghina, memandang rendah dan menumbuhkan pesimisme akan bersifat melemahkan proses pemulihan (Setiadi, 2014).

2. Peran keluarga diharapkan dalam perawatan klien gangguan jiwa adalah dalam pemberian obat, pengawasan minum obat dan meminimalkan ekspressi keluarga. Keluarga merupakan unit paling dekat dengan klien dengan klien dan merupakan “perawat utama” bagi penderita. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau perawatan yang diperlukan klien, keberhasilan perawat dirumah sakit akan sia-sia jika kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali dirumah sakit (Keliat 1996, dalam Made Ruspawan dkk, 2011)

3. Peran keluarga mengontrol ekspresi emosi keluarga, seperti mengkritik dan bermusuhan dapat mengakibatkan tekanan pada klien (Andri, 2008), pendapat serupa juga diungkapan oleh David (2003) yang menyatakan bahwa kekacauan dan dinamika

(20)

keluarga memegang peranan penting dalam menimbulkan kekambuhan (Made Ruspawan dkk, 2011).

4. Peran keluarga sebagai upaya pencegah kekambuhan. Kepedulian ini diwujudkan dengan cara meningkatkan fungsi afektif yang dilakukan dengan memotivasi, menjadi pendengar yang baik, membuat senang, memberi kesempatan rekreasi, memberi tanggung jawab dan kewajiban peran dari keluarga sebagai pemberi asuhan (Wuryaningsih dkk, 2013).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :