Perbaikan mata kuliah belajar dan pembel

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TUGAS PERBAIKAN UTS

Ipin Arifin, S.Pd.,M.Pd. Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah

Belajar dan Pembelajaran

Disusun Oleh :

Hylma Aprilia C NPM : 13.22.1.0137 Kelas 3J

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

(2)

SOAL PERBAIKAN UTS

JAWABAN :

1. a. Teori Belajar Kognitif

Teori kognitif menerangkan bahwa pembelajaran adalah perubahan

dalam pengetahuan yang disimpan di dalam memori. Teori kognitivisme bertujuan untuk menambah pengetahuan kedalam ingatan jangka panjang atau perubahan pada skema atau struktur pengetahuan.

Menurut psikologi kognitif bahwa individu itu aktif (secara mental), Konstruktif dan berencana, tidak bersifat pasif menerima stimulus dari lingkungan. Mencari dan menemukan pengetahuan serta menggunakannya, metode pembelajaran yang biasa digunakan untuk mengembangkan kemampuan kognitif ini misalnya metode pemecahan masalah, penelitian, pengamatan, diskusi, deduktif, induktif.

b. Teori Belajar Kontruktivisme

Esensi dari teori konstruktivisme bahwa siswa harus menemukan dan Mentransformasikan suatu informasi kompleks kesituasi lain, dan apabila Dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini

Pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan.Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivitas yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan menginga tpengetahuan.

Konstruktivisme memberikan penekanan kepada peserta didik untuk

(3)

Glaserfeld dan Kitchener dalam Aunurrahman (2009) memberikan penekanan tentang 3 hal mendasar berkaitan dengan pemahaman terhadap gagasan konstruktivisme, yaitu:

1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek

2. Subjek membentuk kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.

3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang yang membentuk pengetahuan, dan konsepsi itu berlaku bila berhadapan dengan pengalaman pengalaman seseorang.

c. Teori Belajar Humanistik

Teori ini merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme.

Menurut teori ini tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan rangsangan dengan jawaban atau stimulus-respon. Siapa yang dapat menguasai hubungan stimulus respon sebanyak-banyaknyaa maka dia dapat berhasil dalam belajar.Pembentukan hubungan stimulus-respon perlu dilakukan berulang-ulang.

Tokoh yang terkenal dalam mengembangkan teori ini adalah Edward L. Thorndike. Hasil penelitiannya dikenal dengan trial and error. Menurut connectionism belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon.

Thorndike mengemukakan tiga hokum dalam belajar yaitu:

1. Law of Readiness, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan sesuatu

2. Law of Exercise, yaitu belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan Pengulangan dalam belajar.

(4)

feedback yang menyenangkan sangat diperlukan agar dapat mempengaruhi usaha siswa dalam belajar.

2. Hubungannya adalah terletak pada bagaimana kita memotivasi siswa agar belajarnya dapat tercapai sesuai dengan tujuan pembelajaran dan perubahan dalam tingkah lakunya. tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan rangsangan dengan jawaban atau stimulus-respon. Siapa yang dapat menguasai hubungan stimulus respon sebanyak-banyaknyaa maka dia dapat berhasil dalam belajar.Pembentukan hubungan stimulus-respon perlu dilakukan berulang-ulang. Jika kedua metode tersebut diterapkan bersama-sama akan membuat pembelajaran menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Sedangkan cara kedua, yaitu tiap kali pertemuan hanya menyajikan satu jenis mata pelajaran. Pada cara kedua ini, keterpaduannya diikat dengan satu tema pemersatu. Oleh karena itu pembelajaran tematik ini sering juga disebut pembelajaran terpadu atau integrated learning.

Pembelajaran tematik dapat mempermudah anak dalam membangun gagasan atau pengetahuan baru, karena materi yang disajikan saling terkait satu sama lain. Kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna apabila materi pelajaran yang sudah dipelajari atau dipahami siswa dapat dimanfaatkan untuk mempelajari materi berikutnya. Pembelajaran yang terpadu sangat berpeluang dalam membantu dan memanfaatkan pengetahuan anak yang telah dimiliki sebelumnya.

(5)

social seperti bekerjasama dan kepemimpinan), dan wawasan kognitif (seperti gagasan konseptual tentangl ingkungan dan alam sekitar).

Pembelajaran tematik memberi peluang kepada anak untuk membangun sinergi kemampuannya, sehingga tujuan utuh pendidikan (mandiri, peka, dan bertanggungjawab) dapat dicapai. Kemampuan yang diperoleh dari satu mata pelajaran akan saling memperkuat kemampuan yang diperoleh dari mata pelajaran lain.

Karakteristik pembelajaran tematik : 1. Berpusat pada siswa

2. Memberikan pengalaman langsung

3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas 4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran 5. .Bersifat fleksibel

6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa

b. Metode Pembelajaran CTL

Pembelajaran Kontekstual atau dalam Bahasa Inggrisnya Contextual Teaching and Learning (CTL) yang merupakan proses pembelajaran yang holistic dan bertujuan membantu siswa untuk memehami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, social dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkontruksi diri sendiri secara aktif dalam pemahamannya.

Pembelajaran Kontekstual disebut pendekatan kontekstual karena konsep belajar ini mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat

Proses pembelajaran kontekstual pada pemorolehan informasi, individualisasi, dan interaksisosial. Sehingga siswa mampu mengelolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategis berkaitan dengan informasi tersebut, inti dari proses informasi ini adalah proses memori dan berpikir.

(6)

1. Kerja sama antara peserta didik dan guru (cooperative). 2. Saling membantu antara peserta didik dan guru (assist). 3. Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning).

4. Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual. 5. Menggunakan multi media dan sumber belajar. 6. Cara belajar siswa aktif (student active learning). 7. Sharing bersama teman (take and give).

8. Siswa kreati fdan guru kreatif.

9. Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karyasiswa.

10. Laporan siswa bukan hanya buku rapor, tetapi juga hasil karyasiswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan sebagainnya

c. Metode Pembelajaran Inkuiri

Dalam pengajaran inkuir isiswa-siswa mempelajari gejala ilmiah dengan kegiatan semangat seorang ilmuawan.

Menurut NRC (2000) tahapan pembelajaran inkuiri dibagi menjadi lima pase : 1) Siswa dilibatkan dengan sebuah pertanyaan ilmiah, kejadian atau

fenomena.

2) Siswa menggali ide – ide melalui pengalaman, memformulasi dan menguji hipotesis, memecahkan masalah dan membuat penjelasan terhadap apa yang mereka observasi.

3) Siswa menganalisis dan menginterprestasi data, mensintesis ide – ide mereka, membangun model, dan memperjelas konsep – konsep dan penjelasan, dengan guru dan sumber pengetahuan ilmiah lain.

4) Siswa memperluas pemahaman dan kemampuan baru mereka dan mengaplikasikan apa yang dapat mereka pelajari pada situasi baru. Siswa dengan gurunya mereview dan mengakses apa yang telah mereka pelajari dan bagaimana mereka telah mempelajarinya.

(7)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...