PONDOK PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN UMAT ISLAM DI INDONESIA PADA ZAMAN DULU
PENDAHULUAN
Cikalbakal sekolahsekolah sekuler sekarang adalah sekolahsekolah yang dibuka pemerintah kolonial Belanda. Sekolahsekolah yang dimaksud memiliki sejumlah karakter tertentu. Di antaranya, tempat belajar berada di dalam bangunan yang dibagi dalam kelaskelas. Di setiap kelas, disediakan bangkubangku tempat muridmurid duduk, papan tulis, dan mejakursi untuk pengajar. Kemudian, waktu belajar setiap hari dibatasi hanya selama enam jam, dimulai pada pagi hari dan berakhir pada siang hari.
Pada waktu belajar, muridmurid mempelajari sejumlah pelajaran yang telah diatur secara efisien dalam sebuah rencana pelajaran. Lama belajar mereka ditentukan selama beberapa tahun sesuai jenis sekolah dan dibagibagi dengan kenaikan tingkat di tiaptiap tahun. Bagi mereka yang telah menyelesaikan tahun akhir, akan diberikan ijazah yang berguna untuk meneruskan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi lagi atau untuk mencari kerja di kantorkantor pemerintah.
Di sekolahsekolah itu, pelajaran agama tidak diberikan. Muridmurid hanya diajari berhitung, membaca, dan menulis. Pengetahuan yang diberikan adalah ilmu pengetahuan umum yang bersifat Belanda sentris. Sementara itu, semangat pengajaran dalam sekolahsekolah itu tidak berhubungan dengan lingkungan kebudayaan tempat muridmurid berasal.
Yang juga menjadi karakter sekolahsekolah tersebut adalah bahasa pengantar dalam belajarmengajar. Untuk Sekolah Desa, sekolah pemerintah di tingkat desa, digunakan bahasa daerah masingmasing. Adapun HIS (Holland Inlandsche School, sekolah Belanda setingkat SD) dan sekolahsekolah di atasnya (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO yang setingkat SMP sekarang, Algemeene Middelbare School atau AMS yang setingkat SMA sekarang, dan sekolahsekolah tinggi), digunakan bahasa Belanda yang wajib dikuasai sebagai sebuah syarat belajar. Kendati sama sama menggunakan bahasa Belanda, hubungan yang terjalin antara guru dan murid hanya terbatas pada waktuwaktu belajar di kelas. Di luar itu, tidak ada hubungan akrab di antara guru dan murid. Karenanya, hubungan yang demikian sangatsangat bersifat formal dan serba terbatas.
Dengan karakterkarakter seperti yang disebut, tidak mengherankan, jika sekolahsekolah itu memunculkan segelintir orang yang sekuler dan cenderung eksklusif di tengah masyarakat kolonial Belanda. Yang menjadi poin di sini, dari segelintir orang yang terdidik secara Barat itu, lahir golongan baru yang disebut Robert van Niel dalam buku The Emergence of Indonesian Elite sebagai kelompok elit modern pribumi. Mereka cenderung memiliki pandangan negatif terhadap Islam dan merasa asing dengan lingkungan atau kebudayaan mereka sendiri.
Sebaliknya, kemunculan sekolahsekolah pemerintah itu melahirkan sikap antipati yang mendasar di kalangan muslim yang taat di Hindia Belanda. Mereka menjaga jarak dengan pemerintah kolonial dan “produk produk” kolonial. Mereka cenderung tidak mau kerjasama dengan pemerintah kolonial dan, parahnya, mereka juga mengecam orangorang yang mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial seperti orangorang yang mau menjadi pegawai pemerintahan kolonial.
“Karena menjadi putra seorang ambtenaar,1 saya sering dianiaya
oleh lurah2, yang dibenci bersama Gubernurmen.3 Jika, misalnya,
saya melakukan sebuah kesalahan kecil dalam mengucapkan satu kata bahasa Arab, saya akan dicemooh dengan kata-kata yang menyakiti perasaan saya, seperti misalnya: ‘Kamu tidak akan dapat memahami pelajaran ini, karena perutmu terlalu banyak makan nasi yang dibeli dengan uang haram!”. Dalam pandangan lurah tersebut, gaji yang diterima ayah saya dari Pemerintah Belanda adalah haram.”
Dari sudut pandang budaya, kalangan muslim yang taat itu menolak semua kebudayaan Barat, seperti peta dan kompas, dan menyebutnya sebagai buatan orangorang kafir. Kalangan kyai dan santrisantri pesantren, misalnya, menolak berpakaian ala Barat, menggunakan meja kursi untuk kegiatan belajarmengajar, dan enggan menggunakan abjad Latin dalam kegiatan tulismenulis.
Yang seperti itu, ternyata, menemukan habitatnya yang pas di pondokpondok pesantren. Para kyai dan santri pesantren, misalnya, banyak yang menolak memakai sepatu dan alas kaki model orangorang Barat lainnya. Mereka lebih memilih bertelanjang kaki ketika pergi ke luar rumah atau—bagi mereka yang santri—asrama tempat mereka tinggal seharihari.
Bahwa kalangan pesantren dulu pernah menolak bentukbentuk pendidikan modern adalah tanda yang sangat jelas kalau mereka waktu itu sudah memiliki sistem dan “gaya” sendiri dalam kegiatan belajarmengajar. Mereka, bahkan, meyakini bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang terbaik bagi umat Islam di Indonesia.
Tulisan ini dibuat tidak untuk membela anggapan kalangan pesantren waktu itu. Tulisan ini juga bukan sebagai bentuk pembelaan bahwa pesantren adalah sesuatu yang mesti bagi umat Islam di Indonesia.
Tulisan ini hanya akan bicara tentang pesantren di zaman dulu, di masa ketika Indonesia masih berupa negeri jajahan Belanda dan ketika umat Islam di negeri kita ini masih belum memiliki alternatif yang banyak dalam mencari ilmu agama.
Karena itulah, tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian berusaha mengurai jawaban dari pertanyaanpertanyaan utama, seperti:
1. Apa yang dimaksud dengan pesantren?
2. Apa saja unsurunsur yang ada dalam pesantren? 3. Kapan pesantren muncul dalam sejarah kita? 4. Apa saja yang dipelajari di dalam pesantren?
5. Bagaimana kualitas pengajar pesantren dalam hidup seharihari?
PENGERTIAN TENTANG PESANTREN
Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang sangat khas Indonesia. Kata pesantren berasal dari kata santri. Awalan pe dan akhiran an pada pesantren menunjukkan makna tempat santri berada. Bisa juga dibahasakan sebagai tempat santri tinggal atau hidup.
Kata santri itu sendiri berasal dari bahasa Tamil yang bermakna guru mengaji. Akan tetapi, ada juga pendapat yang meyakini bahwa kata santri berasal dari istilah shastri, sebuah istilah dalam bahasa India yang berarti orang yang tahu bukubuku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci Agama Hindu. Adapun bukubuku suci atau bukubuku agama atau bukubuku tentang ilmu pengetahuan yang menjadi objeknya, disebut dengan shastra.
semacam kelas literary atau orangorang yang bisa membaca kitabkitab di tengah masyarakat Jawa.
Kedua, kata santri berasal dari kata cantrik, sebuah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru ke mana pun guru itu pergi menetap. Jika dipikirkan, pola tersebut ternyata sangat mirip dengan pola magang yang kita dewasa ini.
Sebagai catatan, pola gurucantrik sudah berlaku pada masa pra Islam yang waktu itu lembaga tempat mereka berada disebut sebagai kecantrikan. Pada masa Islam, ternyata, pola seperti itu berlanjut menjadi pola kyaisantri. Karena seorang guru atau kyai itu biasanya seorang yang telah menunaikan ibadah haji dan digelari juga dengan haji, maka proses belajar kepada seorang kyai tersebut diistilahkan dengan menghaji, mengaji, atau ngaji.
Meski demikian, mesti pula diingat bahwa di sana ada yang membawakan pendapat bahwa kata ngaji itu sebenarnya berasal dari kata aji. Ngaji yang berupa kata kerja bentuk aktif itu menunjukkan makna mencari dan menjadi sesuatu yang terhormat, mahal dan berharga atau tidak salah juga dimaknai dengan menjadikan diri sendiri aji, sakti, terhormat dan berharga.
Kemiripan pesantren dengan kecantrikan bukan sekedar isapan jempol. Pada masanya, kecantrikan—atau kadang juga disebut mandala, pertapaan, keresian atau bahkan dharma dan terkadang asyrama—selalu berada di luar keramaian dunia, seperti di pinggir desa atau daerahdaerah yang jauh dari ibukota kerajaan.
Kemudian, seperti yang telah lewat, hubungan yang terjalin antara gurucantrik sangat kental di tengah kecantrikan. Seorang cantrik atau murid sering terikat secara emosional dan batin dengan orang yang menjadi resi atau gurunya.
kecantrikan selalu terpelihara dengan baik yang pada akhirnya membentuk sebuah jaringan yang menyebar di berbagai tempat.
Pola seperti itu ternyata diambil alih oleh pesantren. Setiap pesantren yang berdiri selalu (a) mengambil lokasi di pinggiran desa yang terbilang jauh dari ibukota atau bahkan kota, (b) menjaga hubungan antara kyai santri, dan (c) memelihara kontak antara pesantrenpesantren yang ada.
UNSURUNSUR UTAMA YANG ADA DI PESANTREN
Yang juga hendak diperikan adalah fakta bahwa pesantren di Kepulauan Nusantara selalu terdiri dari empat unsur. Kyai, masjid, santri dan asrama, masingmasing unsur pesantren ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masjid adalah pusat segala kegiatan pesantren. Ketika membangun pesantren, yang dibangun pertama kali selalu masjid. Sering kali pula, sebelum berdiri pondok atau asrama tempat santrisantri tidur, masjid menjadi semacam tempat tinggal sementara bagi santrisantri itu, sebuah pola yang meniru ashab ashshuffah (orangorang yang tinggal di beranda masjid nabawi) pada zaman nabi dulu.
Pemimpin pesantren dulunya diistilahkan dengan kyai, bukan ustadz seperti sekarang ini. Dalam kasuskasus tertentu, seperti ketika seorang kyai juga memiliki ijazah tarekat tertentu atau ijazah untuk mengajarkan kitab tertentu, kyai yang menjadi pemimpin pesantren itu akan disebut sebagai syekh. K.H. Hasyim Asy’ari yang dituakan oleh banyak kyai pada masanya dipanggil santrisantri pesantrennya lewat sebutan hadratus syekh.
Akan tetapi, sebutan kyai tidak begitu saja melekat pada seseorang yang telah berhasil menunaikan ibadah haji dan mendalami Islam di tanah suci. Sebutan kyai baru disematkan masyarakat kepadanya ketika (2) orang yang dimaksud telah memiliki muridmurid yang belajar kepadanya dan sebuah pesantren tempat mereka belajar. Karena itu, jika dikatakan bahwa kyai dan santri tidak dapat dipisahkan, maka tidaklah salah.
Harus juga diingat, sejak pertama kali pesantren berdiri di Nusantara, sebutan santri diklasifikasikan menjadi dua jenis. Kedua jenis santri ini masih ada sampai sekarang.
Pertama adalah santri mukim. Mereka adalah santrisantri yang datang dari daerah jauh dan menetap di lingkungan pesantren. Kemunculan mereka ini didorong oleh hasrat belajar yang tidak didukung oleh keberadaan guruguru di kampung halaman masingmasing, sehingga mereka pun berkelana untuk mencari ilmu agama.
Jenis kedua adalah santri kalong. Santrisantri jenis ini biasanya berasal dari desadesa di sekitar pesantren. Mereka tinggal di rumah orangtua masingmasing. Mereka baru datang belajar ke pesantren ketika kyai mereka dijadwalkan mengajar.
Karena ada santri mukim, maka berdirilah bangunanbangunan asrama. Biasanya, bangunanbangunan itu mengambil tempat di dekat masjid pesantren. Pada awal mula, bangunanbangunan itu didirikan atas dana pribadi mereka sendiri. Terkadang, kyai pesantren yang menyediakan dana pembangunan, tetapi tidak jarang juga bangunanbangunan itu didirikan atas dana yang dikumpulkan masyarakat di sekitar pesantren.
Dalam perkembangannya, karena faktor keterbatasan dana itulah, bangunanbangunan asrama tampil dengan segala bentuk kebersahajaannya. Selain sering terlihat sederhana, bangunanbangunan itu juga sering terlihat dekil, kotor, dan terkesan apa adanya.
sekolahsekolah umum, baik yang diadakan pemerintah ataupun yang diadakan oleh pihak swasta.
PESANTREN MIRIP DENGAN MADRASAH NIZHAMIYAH?
Agar diperhatikan, pesantrenpesantren yang ada di kepulauan Nusantara sejak pertama kali ada tidak dapat disamakan dengan madrasahmadrasah di Timur Tengah. Di sana, pihak penguasa, dalam hal ini khalifah dan sultanlah, yang sering mengadakan lembagalembaga pendidikan Islam seperti madrasahmadrasah itu. Penguasa sering diketahui menganggarkan dana secara khusus untuk keberlangsungan sebuah madrasah, sementara pesantrenpesantren di Nusantara didirikan dan dijalankan secara swadaya oleh pribadipribadi tertentu.
Para pengajar madrasah pun digaji dengan dana yang terkumpul di baitul mal kaum muslimin, semacam kas negara waktu itu. Tidak usah heran, jika pihak penguasalah yang sering berinisiatif menawarkan posisi pengajar—bahkan sering dengan sedikit memaksa—kepada orangorang yang mumpuni dalam ilmuilmu keislaman.
Karir Abul Hamid AlGhazali sebagai pengajar, misalnya, bermula dari sebuah tawaran kepadanya untuk mengajar di Madrasah Nizhamiyah cabang Nisapur. Waktu itu, AlGhazali telah dikenal banyak orang sebagai salah satu pakar ilmu kalam dan filsafat.
Keberadaan Madrasah Nizhamiyah itu sendiri terkadang dijadikan pijakan untuk menyimpulkan bahwa pesantrenpesantren di Nusantara ini mengambil model lembaga pendidikan dari Timur Tengah. Hal itu, tampaknya, bukan sesuatu yang lemah.
mengkaji AlQur’an, mendalami fikih Syafi’i dan akidah Asy’ariyah, para pelajar di sana diharuskan juga mempelajari sastra Arab dan ilmuilmu pendukung.
Untuk keperluan itu semua, pihak madrasah membangun asrama asrama tempat para pelajar tinggal dan belajar. Dalam sejarah Islam, konsep pendidikan berasrama seperti itu merupakan sesuatu yang baru, terlebih lagi ketika pihak pemerintahlah yang mengadakannya.
Meski demikian, sebagian orang percaya, sejak zaman Rasulullah model pendidikan yang seperti Madrasah Nizhamiyah itu telah ada. Hal ini terekam dalam salah satu hadits sahih dalam Shahih AlBukhari yang berkisah tentang sejumlah pemuda yang sengaja datang ke Madinah untuk belajar secara khusus (takhassus) kepada Rasulullah dan menginap sementara waktu di masjid nabawi.
PESANTREN DALAM LINTASAN SEJARAH KITA
Karena faktor keterikatan yang sangat pada sosok kyai masingmasing, banyak pesantren di Jawa dan Nusantara secara umum yang berumur pendek. Biasanya, ketika seorang pemimpin atau kiai yang pertama kali membuka pesantren itu meninggal dunia, pesantren pun menjadi mundur dan bahkan hilang sama sekali.
Jarang ada pesantren yang dapat bertahan hingga satu atau dua generasi setelahnya. Dengan demikian, tidak mengherankan, jika relatif sulit untuk mendapatkan keterangan yang cukup lengkap tentang pesantrenpesantren sebelum abad ke18.
Dalam Babad Meinsma, misalnya, diceritakan bahwa Sunan Kalijaga sering pergi ke pertapaan Mantingan yang tidak terlalu jauh letaknya dari Demak dan menghabiskan waktunya di sana. Di tempat itu, juga diceritakan, hidup salah satu dari delapan jin utama di pulau Jawa.
Misal yang lain adalah apa yang diceritakan di dalam Hikayat Hasanuddin, sebuah sumber lokal yang menyinggung proses islamisasi di Banten. Dalam sumber lokal ini, diceritakan bagaimana Hasanuddin, tokoh utamanya, mendakwahi penduduk Banten untuk masuk Islam.
Di Banten, demikian hikayat itu bercerita, Hasanuddin mulamula menetap di sebuah pondok yang terletak agak jauh dari laut. Di sana, ia membuat gula Jawa dengan dibantu oleh dua pelayannya dari bangsa jin yang disuruh oleh ayah Hasanuddin, Sunan Gunung Jati.
Dua jin itulah yang kemudian disebut Hasanuddin sebagai santri santrinya. Setelah bertahuntahun hidup di pondok itu, Sunan Gunung Jati datang menemuinya dan hendak mengajaknya menunaikan haji ke Mekkah.
Sumber lokal lain yang sering dikutip adalah Serat Centhini yang ditulis pada abad ke19. Di dalamnya diceritakan riwayat sebuah pesantren tua yang ada di sekitar Gunung Karang, di sebelah barat Pandeglang, Banten. Tokoh dalam cerita itu dikisahkan telah belajar ilmu atau ngelmu di pesantren tersebut selama beberapa tahun di bawah bimbingan Abdul Qadir Jaelani.
Hampir semua sumber lokal seperti itu mengisyaratkan—untuk kemudian dijadikan dasar kesimpulan tentang—adanya pesantren sedini abad ke14 dan ke15 Masehi. Sejumlah pesantren itu dilukiskan sebagai sebuah tempat menyepi bagi para pendirinya untuk melakukan ibadah dan sering pula dalam rangka mendapatkan kesaktian tertentu.
Pekalongan, Rembang, Kedu, Surabaya, Madiun dan Ponorogo yang bermunculan pada paruh kedua abad ke18 itu.
Keterangan yang cukup berlimpah tentang pesantrenpesantren di Jawa, Madura, dan Sumatera datang pada abad ke19. Hal ini disebabkan oleh adanya perhatian dari pihak kolonial Belanda terhadap lembaga lembaga keislaman dan perkembangan Islam secara umum di wilayah jajahan mereka.
Harus pula dicatat bahwa sebelum abad ke20, belum terdapat lembaga semacam pesantren di Kalimantan, Sulawesi dan Lombok, meskipun sejumlah tarekat telah berkembang di sana. Transmisi pengetahuan agama masih bersifat informal.
Mereka yang hendak belajar sangat bergantung kepada seorang haji atau tokoh berilmu yang kebetulan mampir ke tempat mereka dan bersedia memberikan pelajaran di masjidmasjid seusai shalat lima waktu. Bentuk pengajaran seperti inilah yang sebenarnya sudah lazim ditemukan sejak berabadabad sebelumnya.
Mereka yang haus dan berminat untuk mempelajari agama, biasanya, berangkat untuk belajar ke pesantrenpesantren yang ada di Jawa. Sebagian lagi, karena dimungkinkan oleh biaya yang mereka punya, mengadakan perjalanan berbulanbulan atau bertahuntahun ke Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji.
Mahmud Yunus pernah berusaha memberikan sebuah uraian ringkas tentang bentuk pendidikan Islam pada abad ke18 itu. Amat disayangkan, uraian yang terdapat dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia tersebut, tidak disertai penyebutan sumbersumber tulisannya. Besar kemungkinan, uraian itu ia dapatkan turuntemurun dari tengah pesantrenpesantren yang pernah ia kunjungi.
Tentang organisasi pendidikan pesantren zaman Mataram, Mahmud menulis,
dasar-dasar ilmu agama Islam, seperti cara beribadat, rukun iman, rukun Islam dan sebagainya. Cara mengajarkannya ialah dengan cara hafalan semata-mata. Jumlah tempat pengajian Quran itu adalah menurut banyak modin di desa itu. Sebab pada tiap-tiap tempat pengajian Quran itu harus ada modin sebagai gurunya. Meskipun tidak ada undang-undang wajib belajar namun anak-anak, laki dan perempuan yang berumur 7 tahun, harus belajar pada tempat pengajian Quran di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri. Sebab agama Islam telah mewajibkan atas ibu-bapa mengajar anaknya hal-hal yang perlu dalam agama, seperti sembahyang, puasa dan sebagainya. Kalau ibu-bapa tidak sanggup mengajar anaknya, haruslah ia menyerahkan anaknya itu kepada guru agama. Hal itu telah menjadi pengetahuan umum bagi seluruh ibu-bapa kaum muslimin. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun atau lebih, bila tidak mengaji, dengan sendirinya menjadi olok-olokan oleh anak-anak teman sejawatnya. Selain daripada itu diadakan pula satu tempat pengajian kitab, bagi murid-murid yang telah khatam mengaji Quran. Gurunya, biasanya modin di desa itu sendiri yang terpandai dan ada pula orang lain dari desa itu atau dari desa lain yang memenuhi syarat-syarat kepandaiannya dan budi pekertinya. Guru-guru agama itu diberi gelaran kiyahi anom. Tempat pengajiannya disebut pesantren. Para santri (murid) harus tinggal dalam asrama yang dinamai pondok dekat pesantren itu. Tempat mengaji itu biasanya di serambi mesjid desa. Waktu belajar ialah pagi hari, tengah hari dan malam hari. Kitab-kitab yang diajarkan ditulis dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa daerah.”
KITABKITAB YANG DIAJARKAN DI PESANTREN DULU
sudah dikenal dan dipelajari di beberapa tempat di Nusantara ini sejak sebelum abad ke16 Masehi. Sebagian kitab berbahasa Arab itu, bahkan, sudah ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan Jawa.
Pada 1600, sejumlah kitab berbahasa Arab, Jawa, dan Melayu dibawa ke Eropa oleh orangorang Belanda. Di antara kitabkitab yang dibawa itu terdapat kitabkitab tafsir, kitab fikih yang berjudul AtTaqrib fil Fiqhi yang disertai terjemahan bahasa Jawanya, kitab fikih pernikahan islami dalam bahasa Arab yang dilengkapi terjemahan baris per baris, kitab syairsyair pujian terhadap Rasulullah yang akrab dikenal sebagai Qasidah AlBurdah karya AlBushiri, kitabkitab tasawwuf dalam bahasa Arab berikut terjemahan dalam bahasa Jawa dan kitab fikih karangan Abu Syuja’ Al Asbahani.
Nuruddin ArRaniri yang pernah tinggal di Aceh pada abad ke17, misalnya, ternyata, diketahui pernah menulis sebuah kitab fikih dalam bahasa Melayu yang berjudul AshShirath AlMustaqim. Sepeninggalnya, kitab fikih itu masih terus dibaca di beberapa daerah.
Demikian pula dengan Abdur Rauf AsSingkili. Selain menulis kitab kitab kesufian pada abad ke17 itu, ia juga pernah menulis sebuah kitab fikih mazhab Syafi’i yang berjudul Mir’ah AthTullab fi Ashl Ma’rifah Al Ahkam AsySyar’iyyah li AlMalik AlWahhab. Kecenderungan seperti ini, menulis kitab fikih Syafi’i, kemudian diteruskan juga oleh beberapa tokoh sufi di Sumatera.
Pada abad ke19, pemerintah kolonial Belanda mulai mendata pesantrenpesantren yang ada. Pada 1831, pemerintah mencatat sekitar 1.853 jumlah lembaga pendidikan Islam tradisional yang terdapat di Jawa saja dengan jumlah murid sekitar 16.556 orang. Beberapa puluh tahun kemudian, sekitar 1873, pemerintah kolonial kembali mencatat sekitar 20.000 sampai 25.000 pesantren yang tersebar di berbagai pulau di Nusantara dengan jumlah murid sekitar 300.000.
pesantrenpesantren besar di Jawa dan Madura. Meski demikian, diketahui pula bahwa kitabkitab yang dipakai di Jawa itu ternyata dipakai dalam pengajaranpengajaran agama yang ada di surausurau Sumatera Barat.
Khusus bidang fikih, kitabkitab yang ada dibedakan menjadi dua jenis, fikih ibadah dan fikih umum. Untuk fikih ibadah, digunakan kitab Safinah AnNajah, Sullam AtTaufiq, Masail AsSittin, Mukhtashar karya Abdullah bin Abdirrahman Bafadhl, Minhajul Qawim karya Ibnu Hajar Al Haitami, AlHawasyi AlMadaniyah, dan ArRisalah karya Ahmad bin Zain AlHabsyi. Adapun fikih umum, kitabkitab yang digunakan adalah Fathul Qarib, AlIqna’ Syarh Mukhtashar, Tuhfah AlHabib, AlMuharrar, Minhaj AthThalibin karya Imam Nawawi, AlMahalli Syarh Minhaj AthThalibin, Fathul Wahhab, Fathul Mu’in dan Tuhfah AlMuhtaj karya Ibnu Hajar Al Haitami.
Bahasa Arab termasuk bidang yang paling banyak menggunakan kitab pelajaran. Untuk bidang ini, kebanyakan pesantren waktu itu menggunakan kitab Muqaddimah AlAjurumiyyah, Mutammimah Al Ajurumiyah, AlFawakih AlJaniyyah, AlImrithi, Syarh AlAjurumiyah milik AlKafrawi, Al‘Awamil Al Miah, Alfiyah, Minhaj AlMasalik, Syarh Alfiyah Ibn Aqil, Tamrin AthThullab, AlKafiyah karya Ibnul Hajib, Qathrun Nada, Mujib AnNida Syarh Qathrun Nada, dan AlMisbah.
Bagi kebanyakan santri, bahasa Arab adalah pelajaran yang sulit. Tentang sulitnya pelajaran bahasa Arab, ada keterangan menarik dari Achmad Djajadiningrat semasa menyantri di sebuah pesantren pada akhir abad ke19 itu. Dalam bukunya yang berjudul Herinneringen, Djajadiningrat bercerita,
gila. Untuk para santri di Jawa, nahwu merupakan penghambat yang paling besar. Santri yang telah menguasai nahwu, sudah boleh disebut kyai.”
Bidang akidah hanya menggunakan beberapa kitab yang baku di antara mereka. Kitabkitab yang dimaksud antara lain adalah Bahjatul ‘Ulum beserta dengan syarh (penjelasannya), Ummul Barahin dan Fathul Mubin Syarh Ummil Barahin, Al‘Aqaid AshShughra beserta syarh, AlMufid karya Ibnu Sulaiman AlJazuli, Kifayatul Awam, AlMiftah fi Syarh Ma’rifah AlIslam, Jawharah AtTauhid, dan Iftahul Murid.
Bidang akhlak adalah pelajaranpelajaran tasawwuf. Dalam bidang ini, digunakan kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Bidayatul Hidayah dan Minhajul ‘Abidin yang semuanya adalah karya AlGhazali. Kemudian, digunakan juga kitab AlHikam karya Ibnu Athaillah AlIskandar, Syu’abul Iman karya Muhammad bin Abdillah AlIji, dan Hidayah AlAzkiya’ ila Thariq AlAwliya’.
Hanya bidang tafsir yang menggunakan satu kitab, Tafsir Jalalain. Untuk bidang hadits, tidak ditemukan sama sekali kitab yang dikaji waktu itu. Hasil pendataan yang ada seolaholah ingin menunjukkan bahwa pelajaranpelajaran yang diadakan di pesantrenpesantren pada abad ke19 hanya tertuju pada permasalahan fikih dan tasawwuf.
Memasuki abad ke20, kitabkitab yang dipakai di pesantren pesantren mulai beragam. Pesantrenpesantren pun telah banyak berdiri di Kalimantan dan sekitarnya. Hal ini sangat membuka peluang munculnya spekulasi bahwa keadaan seperti itu didorong oleh mulai mudahnya akses untuk mendapatkan pengetahuan agama lewat ibadah haji. Mereka yang dapat sampai ke Mekkah memanfaatkan kesempatan itu untuk sekaligus mendalami ilmu agama di halaqahhalaqah yang ada di tanah suci.
samar. Dalam kitabkitab akidah itu, atau bahkan dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, tercampur satu pelajaran tentang tauhid dan tasawwuf.
Kitab Shahih AlBukhari dan Shahih Muslim termasuk kitabkitab hadits pokok yang dikaji di pesantrenpesantren pada paruh pertama abad ke20. Siapa pun kyainya dan di pesantren mana pun, dua kitab ini biasa dibaca dan dikaji.
Meski demikian, ada kyaikyai tertentu yang betulbetul ditunggu untuk membaca dan mengkaji dua kitab hadits itu. Di antara mereka adalah K.H. Hasyim Asy’ari. Biasanya, kyai yang satu ini membuka kajian Shahih AlBukhari setiap bulan Ramadhan di pesantrennya dan menamatkan pembacaan kitab tersebut. Karena itu, setiap Ramadhan, banyak kyaikyai dan juga santrisantri dari pesantrenpesantren lain yang sengaja datang untuk mondok sementara waktu di pesantren K.H. Hasyim Asy’ari.
Kitabkitab hadits yang pokok lainnya, seperti Sunan Abi Dawud, Jami’ AtTirmidzi, Sunan AnNasai dan Sunan Ibnu Majah, termasuk kitab kitab hadits yang kurang populer di kalangan pesantren waktu itu. Sebaliknya, kitabkitab hadits yang cukup populer di tengah santri adalah kitab Arba’in Nawawi, Riyadhush Shalihin dan Bulughul Maram.
Dibanding pelajaranpelajaran yang lain, pelajaran tentang sejarah hidup Nabi Muhammad dan tarikh Islam adalah pelajaran yang paling mudah diikuti oleh santrisantri pesantren. Banyak di antara mereka yang dapat menyelesaikan kitabkitab pelajaran itu dengan hasil yang memuaskan. K.H. Saifuddin Zuhri, yang belajar di pesantren pada paruh pertama abad ke20, mengakui bahwa,
Zaidan, dan Zaidin. Perubahan dari ‘dun’ menjadi ‘dan’ dan ‘din’ ini berhubung dengan posisinya dalam rangkaian kalimat. […] Bagaimana tidak kopyor otakku kalau harus menghafal Imrithi, pelajaran nahwu berbentuk syair dan pantun dalam bahasa Arab, lebih lagi Alfiyah Ibnu Malik? Yang juga berbentuk pantun setebal seribu bait tentang segala serba-serbi nahwu-sharaf dalam bahasa Arab, yang dibaca sambil berdendang menurut irama tertentu. Sedang menghafal bait-baitnya saja sudah setengah mati, apalagi arti dan maknanya. […] Sebab itu, sejak dulu aku sudah menyerah kalah saja mengaji nahwu-sharaf. Tetapi, kalau pelajaran Aqaid aku senang dan merasa otakku mudah terbuka. Apalagi pelajaran Tarikh Islam (sejarah Islam) aku bisa memperoleh angka 9!”
Sepertinya, kitab yang paling populer setelah AlQur’an di kalangan pesantren adalah kitab Barzanji karya Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim Al Barzinji (1690 – 1764) yang digolongkan ke dalam kitabkitab sejarah hidup Nabi Muhammad dan tarikh Islam. Kitab Barzanji adalah sebuah buku prosa dalam sastra Arab yang memuat kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di Nusantara, perjanjen atau ritual membaca kitab Barzanji beramai ramai telah menjadi bagian integral dari ritual tarekat Qadiriyah. Dewasa ini, kitab Barzanji telah muncul dalam banyak edisi yang berbedabeda berikut kitabkitab syarh yang menjelaskannya dalam bahasa Jawa dan Indonesia.
Pada abad ke20, sejumlah pesantren diketahui memiliki semacam “badan sensor kitab”. Badan ini berfungsi menyeleksi bahanbahan bacaan yang layak baca bagi santrisantri pesantren. Sejumlah suratkabar yang terbit waktu itu, misalnya, ada yang dilarang untuk dibaca para santri. Biasanya, kiai sendiri atau santrisantri senior yang mendaftar dan “mengeksekusi” langsung bacaanbacaan itu.
kitabkitab Ibnu Taimiyah menempati urutan teratas. Hal ini sedikit banyaknya disebabkan oleh penjelasanpenjelasan Ibnu Taimiyah yang sangat bertentangan dengan akidah Asy’ariyah.
Akan tetapi, bukan berarti kitabkitab Ibnu Taimiyah tidak didapatkan di pesantrenpesantren waktu itu. Banyak kiai, sebenarnya, yang memiliki kitabkitab Ibnu Taimiyah, terutama kumpulan fatwa Ibnu Taimiyah. Kitabkitab tersebut disimpan agar tidak dibaca kecuali oleh kiai dan santrisantri tertentu. Pada waktu itu, kitabkitab Ibnu Taimiyah sudah menjadi “pegangan” kelompok Islam reformis yang menjadi lawan kelompok Islam tradisional.
Sebelum abad ke19, kitabkitab yang dipakai di pesantrenpesantren itu tidak lebih dari tulisantulisan tangan. Para santri menyalinnya satu per satu untuk keperluan belajar. Baru pada abad ke19, kitabkitab yang dicetak di Timur Tengah datang ke Nusantara dalam jumlah yang cukup besar. Keadaan ini terjadi akibat bertambahnya kemudahan fasilitas untuk naik haji waktu itu.
Di Mekkah, bahkan, berdiri sebuah penerbitan yang mencetak kitab kitab dalam bahasa Melayu pada 1884. Usaha seperti ini kemudian diikuti oleh para penerbit yang ada di Istanbul dan Mesir. Dari situ, gelombang percetakan mulai melanda Nusantara.
Pada 1881, kitab pertama dicetak di Batavia oleh salah seorang Arab yang bernama Sayyid Utsman. Dari segi percetakan, langkah yang dilakukannya itu, sebenarnya, terbilang terlambat, sebab pada 1854 di Palembang telah dicetak AlQur’an pertama hasil tulis kaligrafi Kemas Haji Muhammad Azhari dan diperjualbelikan secara bebas. Mesin cetak yang digunakan untuk mencetak AlQur’an itu ia beli di Singapura beberapa tahun sebelumnya.
Ironisnya, di Jawa kemudian menyusul di daerahdaerah lain di Nusantara, usahausaha percetakan kitabkitab pelajaran menurun drastis seiring berkembangnya penerbitan suratkabarsuratkabar sejak akhir abad ke19. Ketimbang mencetak kitabkitab yang dipelajari di pesantrenpesantren, banyak percetakan yang memilih menerima pesanan penerbitan suratkabar, jurnal, dan majalah berbahasa Melayu, terlebih lagi ketika angka buta huruf Latin mulai terkikis oleh pendidikanpendidikan umum yang diadakan pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke20.
PENDIDIKAN ISLAM DI MINANGKABAU DULU
Untuk mengimbangi gambaran pesantren seperti itu yang banyak ditemui di Jawa dan Madura dulu, ada baiknya, jika sistem pendidikan Islam di Minangkabau diketengahkan di sini. Seperti yang umum diketahui, pendidikan Islam di Minangkabau dulu, biasanya, berlangsung di surau surau. Memerhatikan pola yang ada, banyak peneliti sejarah—dari dalam dan luar negeri—yang menyimpulkan bahwa pola pendidikan di surau surau di Minangkabau hampir sama dengan pola pendidikan yang ada di pesantrenpesantren di Jawa dan karena itu dapat mewakili gambaran kita tentang sistem pendidikan Islam zaman dulu.
Barangkali, gambaran paling baik tentang suasana pendidikan di surausurau Minangkabau waktu itu muncul dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia karya Mahmud Yunus (1899—1982). Dikenal sebagai salah seorang pengamat sekaligus kritikus pendidikan tradisional Islam di Indonesia, Yunus sayangnya hanya kita kenal lewat Kamus Arab Indonesia karyanya. Padahal, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia dalam beberapa bagiannya merupakan kesaksian tangan pertama tentang sistem pendidikan Islam di Minangkabau awal abad ke20.
Masingmasing memiliki kekurangan yang dipaparkan secara lugas olehnya.
Membuka uraian tentang Pengajian AlQur’an, Yunus menulis beberapa paragraf hasil pengalaman sekaligus pengamatannya pribadi waktu itu. Untuk mengaji AlQur’an, tulisnya,
“Anak-anak belajar dengan duduk bersila dan belum memakai bangku dan meja. Guru pun duduk pula. Mereka belajar pada guru seorang demi seorang dan belum berkelas-kelas seperti sekarang. Pelajaran yang mula-mula ialah belajar huruf Al-Qur’an atau huruf Hijaiah. Setelah pandai membaca huruf Hijaiah itu, baru belajar membaca Al-Qur’an. Dalam pada itu diajarkan pula cara mengerjakan ibadat seperti berwudluk, sembahyang dan sebagainya. Lain daripada itu diajarkan juga pelajaran keimanan yang dinamai mengaji: sipat dua puluh serta hukum akal yang tiga seperti wajib, mustahil dan jaiz. Adapun akhlak, diajarkan dengan ceritera-ceritera, seperti ceritera Nabi-Nabi dan orang-orang salih, serta contoh dan tiru teladan yang diperlihatkan oleh guru agama tiap-tiap hari kepada murid-muridnya.”
Lalu, berapa lama semua itu harus dijalani oleh seorang anak? Dalam pengamatan Yunus,
Qur’an itu dalam jiwa anak-anak, sehingga tak dapat hilang selama hidupnya.”
Bandingkan dengan hasil pengamatan Hurgronje yang dimuat dalam Verspreide Geschriften IV. Di situ, ia menulis,
“Pengajian Al-Qur’an ini diberikan secara individual kepada para murid. Biasanya mereka berkumpul di salah satu langgar atau di serambi rumah sang guru. Mereka membaca dan melagukan ayat-ayat suci di hadapan guru satu persatu di bawah bimbingannya selama ¼ atau ½ jam. Ketika salah seorang murid menghadap guru, murid lainnya dengan suara keras mengulang kaji kemarin atau lanjutan pelajaran yang telah diperbaiki gurunya. Jadi dalam langgar atau rumah semacam itu, orang dapat mendengar bermacam-macam suara yang bercampur aduk menjadi satu. Tetapi karena semenjak kanak-kanak terbiasa hanya mendengar suara mereka sendiri, para murid tersebut tidak terganggu suara murid yang lain.”
Yunus juga tidak lupa memberikan kritik terhadap sistem Pengajian AlQur’an itu. Menurutnya,
“Suatu kekurangan besar dalam Pengajian Qur’an itu, ialah tidak diajarkan menulis huruf Qur’an (huruf Arab), hanya semata-mata membaca saja. Pada hal, menurut metode baru belajar menulis bersama-sama dengan belajar membaca, artinya sesudah belajar membaca harus diadakan pelajaran menulis. Dengan demikian anak-anak dapat mengenal huruf dengan baik dan mudah.”
Kemudian, dalam mengajarkan hurufhuruf Hijaiyyah,
diterangkan kesalahannya bukan dipukul. Tetapi sesudah tahun 1900, kekerasan guru Quran dan memukul anak-anak itu, telah berkurang dengan berangsur-angsur, sehingga sekarang boleh dikatakan tidak kejadian lagi, kecuali sedikit sekali.”
Apa yang dipaparkan itu dikategorikan Yunus ke dalam Pengajian Al Qur’an Tingkatan Rendah. Seorang anak yang telah mampu melewatinya dapat melanjutkan ke Tingkatan Atas. Selain membaca AlQur’an, anak itu juga akan diberikan pelajaran tambahan berupa “lagu AlQur’an, lagu kasidah, barzanji, tajwid serta mengaji kitab perukunan.” Akan tetapi, tingkatan ini, tulis Yunus,
“hanya ada pada suatu negeri yang di sana ada seorang guru Al-Qur’an yang termasyhur, dinamai Qari. Di surau beliau itu beratus-ratus murid-murid belajar Al-Qur’an dengan tajwid dan lagunya, serta mata pelajaran yang lain, terutama kitab Perukunan. Bukan anak-anak yang berasal dari negeri itu saja, melainkan banyak juga anak-anak yang datang dari negeri yang lain. Umumnya murid-murid belajar siang dan malam. Pada mula-mulanya bacaan (ucapan) huruf Al-Qur’an itu tidak betul dan tidak tepat pada mukhrijnya, terutama huruf-huruf seperti; dlad, shad, syin, tsa, zha, dzal dsb. Umumnya mereka membunyikan huruf dlad dan zha, seperti huruf lam, sehingga ketiga huruf itu, sama saja bunyinya.”
Sekarang, bagaimana dengan Pengajian Kitab waktu itu? “Setelah anakanak tammat Mengaji Quran,” tulis Yunus,
berasal dari negeri itu sendiri, bahkan banyak juga yang datang dari negeri-negeri yang lain. Mereka itu belajar siang dan malam, (pagi-pagi, sudah sembahyang lohor, malam sudah sembahyang Magrib).”
Dalam Pengajian Kitab, seseorang harus mengambil sejumlah mata pelajaran yang terdiri dari (a) ilmu sharaf dan ilmu nahwu, (b) ilmu fikih, dan (c) ilmu tafsir. Setelah itu, ia dapat mempelajari pelajaranpelajaran yang lain, seperti ilmu hadits, ilmu waris, ilmu falak.
Yang pertama kali harus dipelajari dalam Pengajian Kitab adalah ilmu sharaf. “Pelajaran yang mulamula diajarkan ialah ilmu sharaf,” tulis Yunus. “Dimulai dengan menghafal katakata Arab serta artinya dalam bahasa Melayu (daerah).”
Biasanya, kitab sharaf yang dipakai adalah Kitab Dhammun yang, menurut Yunus, masih berupa “tulisan tangan dan tidak diketahui siapa pengarangnya dan tahun berapa dikarang.” Setelah itu,
“barulah diajarkan ilmu Nahu dengan memakai kitab yang bernama Al-‘Awamil, yaitu suatu kitab yang ditulis dengan tangan dan tidak dikenal siapa pengarangnya dan tahun berapa dikarang. […]. Sesudah tamat kitab Al-‘Awamil itu, maka diajarkan kitab Al-Kalamu, yaitu kitab Ajrumiah, yang sampai sekarang masih dipakai juga di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah di dunia Islam. Hanya kitab itu dahulu ditulis dengan tangan, tetapi sekarang sudah dicetak. Di sini patut kita tegaskan, bahwa pelajaran ilmu-ilmu itu, dilakukan satu demi satu, yakni dimulai dengan ilmu Sharaf, setelah tamat ilmu Sharaf itu, baru dimulai ilmu Nahu. Dengan perkataan lain, bahwa tiap-tiap murid, hanya mempelajari satu macam ilmu saja dan tidak boleh dicampurkan dengan ilmu yang lain.”
‘alim. Achmad Djajadiningrat yang telah dikutip sebelum ini pernah pula menulis tentang kesulitan dalam mempelajari nahwu.
“Saya sudah agak maju dengan pelajaran saya, sehingga setelah dua bulan saya sudah dapat buku kedua yaitu tasrifan (dasar-dasar tata bahasa Arab). Buku ini tidak sesederhana buku pertama, karena tata bahasa Arab diuraikan dengan cara yang tidak begitu mudah, bahkan lebih sulit lagi. Oleh karena itu, orang mengatakan bahwa dengan mempelajari nahwu (tata bahasa Arab) orang dapat menjadi gila. Untuk para santri di Jawa, nahwu merupakan penghambat yang paling besar. Santri yang telah menguasai nahwu, sudah boleh disebut kyai.”
Bagi mereka yang telah menamatkan pelajaran ilmu Sharaf atau Nahwu,
“meneruskan pelajarannya dengan mengaji ilmu Fiqhi, yaitu dengan mempelajari kitab Al-Minhaj, karangan Imam Nawawi. Kitab itu ditulis dengan tangan juga dan belum ada yang dicetak. Sebab itu sangat mahal harganya. Kitab Al-Minhaj itu masih dipelajari juga di pesantren dan madrasah-madrasah di seluruh dunia Islam yang menganut mazhab Syafi’i. Murid-murid yang telah menamatkan ilmu Fiqhi atau kitab Al-Minhaj, maka meneruskan pelajarannya dengan mengaji ilmu Tafsir, yaitu dengan mempelajari kitab Tafsir Al-Jalalain. Pada tingkat atas Pengajian Kitab diadakan pelajaran bersama dengan mengadakan halaqah, yaitu duduk berlingkaran bersama-sama menghadapi guru besar (Syekh-kiyai). Yang menjadi mahasiswanya ialah guru-guru tua di surau itu. Maka guru besar (Syekh) hanya mengajar di halaqah itu menghadapi guru-guru tua.”
“Oleh karena murid-murid itu banyak, sedang pelajaran dilakukan seorang demi seorang, maka diadakan guru-guru bantu yang dinamai guru tua (sebenarnya guru muda). Maka guru-guru tua itulah meladeni murid-murid yang banyak itu seorang demi seorang. Sedangkan yang belajar pada tuan Syekh (kiyai besar), ialah guru-guru tua saja dan murid-murid yang lain hanya belajar pada guru-guru tua itu.”
Karena itu, syekh atau kyai yang dimaksud hanya mengajar di halaqah yang diperuntukkan bagi muridmurid senior. Tidak mengajar muridmurid di tingkat dasar. Pelajaranpelajaran yang diberikan di halaqah ini pun adalah pelajaranpelajaran tingkat tinggi, seperti tasawwuf. Meski demikian, sering juga dikaji kitabkitab tafsir atau fikih sebagai bentuk pendalaman materi lebih jauh.
Dengan bentuk yang seperti itu, lama belajar pada setiap orang tidak sama dan bahkan tidak ditentukan sama sekali. Lama atau tidaknya, menurut Yunus,
“[H]anya bergantung kepada kecerdasan dan kerajinan murid-murid. Murid-murid yang cerdas dan rajin, cepat majunya dan lekas tamat pelajarannya. Tetapi murid-murid yang malas atau bodoh, tinggal di surau itu bertahun-tahun lamanya. Kadang-kadang ke luar dengan tiada menghasilkan apa-apa.”
Tidak sembarang orang dapat menjadi syekh atau kyai. Agar tidak terjadi salah pengertian, Yunus menyatakan,
menyelesaikan soal-soal yang sulit dalam kitab-kitab yang diajarkannya dan pandai memberi keterangan dan mengajar murid-murid, ia dengan sendirinya dipanggilkan engku muda (‘alim muda), lebai, guru tua dan sebagainya. Waktu itu diakuilah kealimannya oleh murid-murid yang belajar padanya dan diakui pula oleh tuan Syekh, guru besarnya. Kemudian ia pulang ke kampungnya membuka surau yang baru dan mengajar seperti tuan Syekh gurunya tadi. Setelah bertahun-tahun lamanya ia mengajar dan umurnya telah lebih 40 tahun lamanya dan telah mulai tua, barulah ia diberi orang gelar: Syekh (kiyai) atau guru besar.”
Menutup paparan tentang pendidikan Islam “sistem lama” itu, Yunus memberikan sebuah penegasan, “bahwa pendidikan Islam menurut sistem lama, hanya terdiri dari dua tingkat saja: Pengajian Quran dan Pengajian Kitab. Hampir seluruh pendidikan Islam di Indonesia seperti demikian keadaannya.”
POTRET KUALITAS PENGAJARPENGAJAR PESANTREN
Kutipan panjang berikut ini, kiranya, dapat mewakili lukisan tentang kegiatan belajarmengajar yang berlangsung di pesantrenpesantren dan madrasahmadrasah. Dicuplik dari Guruku OrangOrang dari Pesantren, penulisnya, K.H. Saifuddin Zuhri, adalah salah seorang santri yang merasakan langsung pendidikan sebuah madrasah pada masa yang dimaksud.
tugasnya mengawasi anak-anak. Maklumlah, tiga kelas itu seluruhnya cuma beliau sendiri yang mengajar. Bayangkan, satu sekolah dengan tiga kelas dengan murid lebih dari 100 anak, tetapi gurunya cuma satu, yakni Ustadz Mursyid sendiri. Belakangan aku baru mengerri teknik mengajar Ustadz Mursyid. Tiga kelas itu diberikan pelajaran yang berbeda sifatnya. Kalau kelas 1 sedang diberikan pelajaran uraian lisan, maka kelas 2 diberikan pelajaran menulis, dan kelas 3 diberi pelajaran menyalin. Dengan demikian beliau dapat menguasai dan memimpin pelajaran seluruh sekolah dalam waktu yang bersamaan, dan anak-anak tidak bisa liar karena langsung diawasi guru. Jangan coba-coba anak bisa lolos dari pengawasan ustadz, karena dari tempat beliau duduk, pandangannya bisa meliputi seluruh sekolah, maksudku seluruh kelas. Apalagi beliau sesekali berdiri dan berjalan di muka kelas mondar-mandir. Madrasah ini, sekalipun cuma langgar biasa, benar-benar amat menyenangkan. Aku merasa telah menjadi bagian dari padanya. Aku merasa satu dengannya karena ada perasaan bahwa dia adalah milikku. Banyak hal-hal yang bagiku merupakan masalah baru. Ustadz Mursyid memberikan disiplin yang aku rasakan bukan sesuatu yang di-paksakan. Disiplin itu ditanamkan berangsur-angsur dalam bentuk kisah dan dongeng, cerita dan nasehat, terutama dalam bentuk perbuatan sehari-hari.”
Jika guruguru yang mengajar di sekolah pemerintah digaji secara rutin setiap bulannya, maka guruguru yang mendidik dan mengajar di pesantrenpesantren dan madrasahmadrasah kebanyakan menghidupi diri dan keluarga masingmasing lewat usaha dagang yang mereka lakukan di pasarpasar. Ustadz Mursyid yang diceritakan Zuhri dengan kekaguman itu, sebagai misal di sini, menghidupi keluarganya dengan berjualan batik.
mengenalnya sebagai pemain sepak bola yang hebat. Dalam tiap pertandingan, klub mana saja Mas Mursyid berada, hampir bisa dipastikan mesti menang. Permainannya sportif, tenang, dan tangguh. Tempatnya hampir selamanya dipasang sebagai gelandang tengah, menjaga benteng di belakang dan membagi bola kepada penyerang. Jika gawang bisa diselamatkan dari serangan musuh adalah berkat ketangguhan Mas Mursyid, si palang pintu. Sebaliknya kalau saja bisa mencetak gol ini disebabkan karena operan yang diberikan Mas ini. Alhasil orang Solo satu ini merupakan favorit, kesayangan orang Sukaraja, kampungku. Adapun pekerjaannya sehari-hari rnendampingi istrinya berjualan batik di pasar, melayani pembeli. Tukang jual batik di pasar terkenal orang-orang yang paling pandai memikat pembeli. Orang yang lalu-lalang begitu banyak di pasar bisa diketahui siapa-siapa di antara mereka bakal jadi pembeli. Naluri pedagang batik terkenal tajam, seperti radar. Lirikan mata orang yang lewat di muka kiosnya bisa dibedakan yang mana lirikan pembeli dan yang mana cuma lirikan lewat saja. Kalau sudah menemukan lirikan yang bermakna, mereka tidak membiarkan pembeli ini berlalu. Macam-macamlah daya tariknya. Pura-pura pinjam geretan-lah, tanya keselamatan anak-istrinyalah, pendek kata, macam-macam pertanyaan yang akrab. Pembeli yang telah hinggap di kiosnya, dipeluknya dengan mesra, diperlihatkan betapa halus kualitas batiknya, biar bukan tulis4 dia
katakan tulis halus. Cuma tidak dijelaskan saja bahwa batik cap juga tulis, cuma tulisannya pakai canting selebar 20 cm. Memang tulis, masak batik dibordir? Dirayunya calon pembeli, bahwa batik ini hasil babaran Raden Ayu Anu. Lihat saja betapa kuat soganya, betapa halus morinya, betapa lebarnya kain ini seperti sawah dan panjangnya seperti jalan raya...! Aneh dan mengherankan, Mas Mursyid sebagai pedagang batik tidak banyak tingkahnya. Dia orang lugu, melayani calon pembeli secara wajar. Dia tak pandai mengobral omong. Apa adanya. Batik cap dikatakan cap dan batik
tulis dikatakan tulis. Bahkan kalau terdapat cacat, misalnya di sebelah pinggir tidak rata gambar dan motifnya disebabkan karena kemungkinan terlipat lilinnya hingga pecah, dia katakan terus terang pada calon pembelinya. Karena Mas Mursyid tak pandai memikat calon pembeli dengan mengobral omongan, tidak heran kalau kiosnya selalu sepi. Waktu yang lengang ini dipergunakan Mas Mursyid untuk membaca kitab. Bukan kitab sembarang kitab, apalagi buku roman, tetapi kitab Agama Islam. Istilahnya muthala 'ah Kitab. Bayangkan, alangkah ganjilnya orang Solo ini. Pemain sepak bola yang jempolan, tetapi kok muthala'ah kitab...! Betul-betul orang ajaib, misterius!”.
Apa yang sempat disinggung Yunus tentang kualitas guruguru agama waktu itu, juga dapat kita lihat dalam uraian Zuhri, ketika menceritakan pertemuan khusus yang rutin dilakukan antara kyaikyai pesantren setiap bulannya. Di Pulau Jawa, tidak setiap orang yang berhasil menamatkan pelajarannya di sebuah pesantren atau madrasah dapat ditunjuk mengajar atau bahkan mendidik umat. Pun, tidak setiap guru agama berhak dititeli “kyai” ataupun “ustadz.”
Ada laku dan polah yang mesti dimiliki oleh seorang kyai atau ustadz atau bahkan seorang calon kyai atau ustadz. Kata Zuhri,
Kemudian, perhatikan pula kutipan berikut ini.
merasa dirinya orang Solo. Beliau bukan orang asing di Banyumas. Beliau telah jadi orang Banyumas, telah menunggal sebagai orang Banyumas. Orang Banyumas merokok klembak, beliau juga merokok klembak. Padahal orang-orang yang mengenalnya dari dekat, ketika mula-mula beliau datang dari Solo kebiasaannya merokok cengkeh dan sesekali merokok purih atau tembakau ‘shag warning.’ Setelah tinggal di Banyumas, beliau berbaur ke dalam kebudayaan Banyumas, hidup dengan tradisi Banyumasan. Kadang-kadang agak berlebihan kalau beliau bicara juga memakai dialek Banyumasan. Padahal orang Solo bahasa Jawanya bandek, halus, dan mempesonakan. Sebaliknya dialek Jawa-Banyumas pego dan kasar paling mbleketuk. Kalau orang Solo bilang: kowe arep nyang ngendi Mas? Maka orang Banyumas akan mengatakan: Lha rika sih arep nang 'ndi lhah. Makanya kalau Ustadz Mursyid berusaha untuk berbicara dengan dialek Banyumasan, orang jadi melihatnya sangat memelas, sudah halus kok mau jadi orang kasar. Saking kepinginnya manunggal jadi orang Banyumas.
Karena itulah, pungkas Zuhri,
Mursyid tidak lagi main sepak bola. Beliau merasa dunianya telah berganti. Demikian pula teman-teman bermain sepak bola menjadi kikuk juga bermain bola dengan kiai.”
PENUTUP
Dunia pesantren adalah sebuah dunia yang tenang. Para kyai, bagi sebagian besar orang, adalah “rajaraja kecil,” pemimpinpemimpin tradisional dengan kuasa yang agak sedikit mutlak dan selalu berusaha menjaga ketenangan itu agar terus berlangsung di tengah pesantren mereka.
Kehidupan para santri pun berjalan tanpa diterpa gejolakgejolak yang menggelisahkan. Mereka tidak terganggu dengan mimpimimpi yang muluk. Bahkan, masa depan seorang santri biasanya akan diproyeksikan seperti apa yang pernah ditulis Saifuddin Zuhri dalam Guruku OrangOrang Pesantren.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Wahid. Muslim di Tengah Pergumulan: Berbagai Pandangan Abdurrahman Wahid. Jakarta: Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional. 1981.
_____. Melawan Melalui Lelucon: Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid di TEMPO. Jakarta: Pusat Data & Analisis TEMPO. 2000.
_____. Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan (Cet. Ke2). Depok: Desantara. 2001.
_____. “Pengantar” dalam Greg Fealy & Greg Barton. Tradisionalisme Radikal: Persinggungan Nahdlatul UlamaNegara (Penerj. Ahmad Suaedy, A. Made Tony Supriatma, Amiruddin ArRaniry, Hairus Salim HS, dan Nidaus Sa’adah, Cet. Ke3). Yogyakarta: LKiS. 2010, hal. ix xiv.
_____. Prisma Pemikiran Gus Dur. Yogyakarta: LKiS. 2011.
_____. Tuhan Tidak Perlu Dibela (Cet. Ke2). Yogyakarta: LKiS. 2012.
Ahmad Abrori. “Tarekat Sammaniyah: Sejarah Perkembangan Ajarannya,” dalam Sri Mulyati et. al. Mengenal & Memahami TarekatTarekat Muktabarah di Indonesia (Cet. Ke4). Jakarta: Kencana. 2011, hal. 181215.
Ahmad Mansur Suryanegara. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Penerbit Mizan. 1995.
Ajid Thohir. Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik Antikolonialisme Tarekat QadiriyahNaqsabandiyah di Pulau Jawa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2002.
Akh. Minhaji & M. Atho Mudzar. “Prof. K.H. Fathurrahman Kafrawi: Pengajaran Agama di Sekolah Umum,” dalam Azyumardi Azra & Saiful Umam (Eds). MenteriMenteri Agama RI: Biografi SosialPolitik. Jakarta: INISPPIMLitbang Depag. 1998, hal. 3651.
Akmal Basery Nasral. Sang Pencerah: Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah. Jakarta: Mizan Pustaka. 2010.
Alwi Shihab. Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Penerj. Ihsan AliFauzi). Bandung: Mizan. 1998.
Ali Munhanif. “Prof. Dr. A. Mukti Ali: Modernisasi PolitikKeagamaan Orde Baru,” dalam Azyumardi Azra & Saiful Umam (Eds). MenteriMenteri Agama RI: Biografi SosialPolitik. Jakarta: INISPPIMLitbang Depag. 1998, hal. 271319.
Al Makin. “Melangkah dari Sapen: AnganAngan Pencerahan,” dalam Sumanto Al Qurthuby et. al. Berguru ke Kiai Bule: SerbaSerbi Kehidupan Santri di Barat. Jakarta: Noura Books. 2012, hal. 3957.
Ansary, Tamim. Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam (Yuliani Liputo). Jakarta: Zaman. 2012.
Arief Subhan. Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke20: Pergumulan antara Modernisasi dan Identitas. Jakarta: Kencana. 2012.
Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh OrangOrang Yahudi, Kristen, dan Islam selama 4000 Tahun (Penerj. Zaimul Am, Cet. Ke12). Bandung: Penerbit Mizan. 2007.
Azyumardi Azra. “H.M. Rasjidi, BA: Pembentukan Kementerian Agama dalam Revolusi,” dalam Azyumardi Azra & Saiful Umam (Eds). MenteriMenteri Agama RI: Biografi SosialPolitik. Jakarta: INISPPIM Litbang Depag. 1998, hal. 233.
_____. Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (Penerj. Iding Rosyidin Hasan). Bandung: Penerbit Mizan. 2002.
_____. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (Penerj. Azyumardi Azra, Edisi Revisi, Cet. Ke2). Jakarta: Kencana. 2005.
Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II (Cet. Ke22). Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2010.
Badrus Sholeh. “Menyorot Dinamika Kelembagaan Pesantren,” dalam Badrus Sholeh (Ed). Budaya Damai Komunitas Pesantren. jakarta: Pustaka LP3ES. 2007, hal. 138.
Umam (Eds). MenteriMenteri Agama RI: Biografi SosialPolitik. Jakarta: INISPPIMLitbang Depag. 1998, hal. 367412.
Barton, Greg. Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid (Penerj. Nanang Tahqiq). Jakarta: Paramadina Pustaka Antara. 1999.
Bruinessen, Martin van. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (Penerj. Farid Wajdi & Rika Iffati, Edisi Revisi). Yogyakarta: Gading Publishing. 2012.
Deliar Noer. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942 (Penerj. Deliar Noer, Cet. Ke8). Jakarta: LP3ES. 1996.
Didin Syafruddin. “K.H. Fakih Usman: Pengembangan Pendidikan Agama,” dalam Azyumardi Azra & Saiful Umam (Eds). MenteriMenteri Agama RI: Biografi SosialPolitik. Jakarta: INISPPIMLitbang Depag. 1998, hal. 116151.
Dunn, Rose E. Petualangan Ibnu Battuta: Seorang Musafir Muslim Abad ke 14 (Penerj. Amir Sutaarga). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1995.
Fealy, Greg. “Wahab Chasbullah, Tradisionalisme, dan Perkembangan Politik NU,” dalam Greg Fealy & Greg Barton. Tradisionalisme Radikal: Persinggungan Nahdlatul UlamaNegara (Penerj. Ahmad Suaedy, A. Made Tony Supriatma, Amiruddin ArRaniry, Hairus Salim HS, dan Nidaus Sa’adah, Cet. Ke3). Yogyakarta: LKiS. 2010, hal. 13 61.
H. Aqib Suminto. Politik Islam Hindia Belanda: Het Kantoor voor Inlandsche zaken (Cet. Ke2). Jakarta: LP3ES. 1985.
Hamid Nasuhi. “Tarekat Sanusiyah: Tarekat dari Afrika Utara,” dalam Sri Mulyati et. al. Mengenal & Memahami TarekatTarekat Muktabarah di Indonesia (Cet. Ke4). Jakarta: Kencana. 2011, hal. 375397.
Hourani, Albert. Pemikiran Liberal di Dunia Arab (Penerj. Suparno, Dahrits Setiawan, dan Isom Hilmi). Bandung: Penerbit Mizan. 2004.
Hitti, Philip K. History of the Arabs: Rujukan Induk dan Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam (Penerj. R. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi). Jakarta: Serambi. 2008.
Ibnu Bathuthah, Muhammad bin Abdullah. Rihlah Ibnu Bathuthah: Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan (Penerj. Muhammad Muchson Anasy & Khalifurrahman Fath). Jakarta: Pustaka Al Kautsar. 2012.
Jajat Burhanuddin. Ulama & Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia (Penerj. Testriono, Olman Dahuri, Irsyad Rhafsadi). Bandung: Penerbit Mizan. 2012.
Kholil Abu Fateh. Mengungkap Kebenaran Aqidah Asy’ariyah: Meluruskan Distorsi terhadap Abu al Hasan al Asy’ari dan Ajarannya. Tangerang Selatan: Pustaka Ta’awun. 2012.
M. Raihan et. al. Muhammadiyah: 100 Tahun Menyinari Negeri. Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2013.
MT Arifin. Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah dalam Pendidikan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. 1987.
Mahmud Yunus. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung. 1996.
Majelis Diktilitbang & LPI PP Muhammadiyah. 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2010.
Media Zainul Bahri. “Tarekat Chistiyah: Tarekat Terkenal di India,” dalam Sri Mulyati et. al. Mengenal & Memahami TarekatTarekat Muktabarah di Indonesia (Cet. Ke4). Jakarta: Kencana. 2011, hal. 293319.
Moh. Ardani. “Tarekat Syadziliyah: Terkenal dengan Variasi Hizbnya,” dalam Sri Mulyati et. al. Mengenal & Memahami TarekatTarekat Muktabarah di Indonesia (Cet. Ke4). Jakarta: Kencana. 2011, hal. 57 88.
Muhammad Dawam Rahardjo. “Pesantren dan Perubahan Sosial,” sebuah “Kata Pengantar” dalam Badrus Sholeh (Ed). Budaya Damai Komunitas Pesantren. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2007, hal. ixxv.
Nakamura, Mitsuo. “Tradisionalisme Radikal: Catatan Muktamar Semarang 1979,” dalam Greg Fealy & Greg Barton. Tradisionalisme Radikal: Persinggungan Nahdlatul UlamaNegara (Penerj. Ahmad Suaedy, A. Made Tony Supriatma, Amiruddin ArRaniry, Hairus Salim HS, dan Nidaus Sa’adah, Cet. Ke3). Yogyakarta: LKiS. 2010, hal. 95120.
_____. “Krisis Kepemimpinan NU dan Pencarian Identitas: Dari Muktamar Semarang 1979 hingga Muktamar Situbondo 1984,” dalam Greg Fealy & Greg Barton. Tradisionalisme Radikal: Persinggungan Nahdlatul UlamaNegara (Penerj. Ahmad Suaedy, A. Made Tony Supriatma, Amiruddin ArRaniry, Hairus Salim HS., dan Nidaus Sa’adah, Cet. Ke 3). Yogyakarta: LKiS. 2010, hal. 121138.
Nina Herlina Lubis dkk. Peta Cikal Bakal TNI. Bandung: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Pendidikan Universitas Padjadjaran. 2005.
Nurcholish Madjid. BilikBilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: ParamadinaDian Rakyat. Tth.
Oman Fathurrahman. “Tarekat Syattariyah: Memperkuat Ajaran Neosufisme,” dalam Sri Mulyati et. al. Mengenal & Memahami Tarekat Tarekat Muktabarah di Indonesia (Cet. Ke4). Jakarta: Kencana. 2011, hal. 151179.
Pijper, G.F. Beberapa Studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900 – 1950 (Penerj. Tudjimah dan Yessy Augusdin, Cet. Ke2). Jakarta: UIPress. 1985.
Ricklefs, Merle C. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008 (Penerj. Tim Penerjemah Serambi, Cet. Ke3). Jakarta: Serambi. 2010.
Saifuddin Zuhri. Guruku OrangOrang Pesantren (Cet. Ke3). Yogyakarta: LKiS. 2012.
Saiful Umam. “K.H. Wahid Hasyim: Konsolidasi dan Pembelaan Eksistensi,” dalam Azyumardi Azra & Saiful Umam (Eds). MenteriMenteri Agama RI: Biografi SosialPolitik. Jakarta: INISPPIMLitbang Depag. 1998, hal. 82113.
Soeleiman Fadeli & Mohammad Subhan. Antologi Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah NU: Buku 1 (Cet. Ke4). Surabaya: Khalista – LTN NU Jawa Timur. 2012.
_____. Antologi Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah NU: Buku 2 (Cet. Ke4). Surabaya: Khalista – LTN NU Jawa Timur. 2012.
Soon, Kang Young. Antara Tradisi dan Konflik: Kepolitikan Nahdlatul Ulama. Jakarta: UIPress. 2008.
Sri Mulyati. “Tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyah: Tarekat Temuan Tokoh Indonesia Asli,” dalam Sri Mulyati et. al. Mengenal & Memahami TarekatTarekat Muktabarah di Indonesia (Cet. Ke4). Jakarta: Kencana. 2011, hal. 253290.
_____. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen (Penerj. Karel A. Steenbrink & Abdurrahman, Cet. Ke2). Jakarta: LP3ES. 1994.
_____. Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596 – 1942) (Penerj. Suryan A. Jamrah). Bandung: Penerbit Mizan. 1995.
Sumanto Al Qurtuby. “Kata Pengantar” dalam Sumanto Al Qurtuby et. al. Berguru ke Kiai Bule: SerbaSerbi Kehidupan Santri di Barat. Jakarta: Noura Books. 2012, hal. vxlii.
Syaifullah. Gerakan Politik Muhammadiyah dalam Masyumi. Jakarta: Pustaka Grafiti. 1997.
Syamsuri. “Tarekat Tijaniyah: Tarekat Eksklusif dan Kontroversial,” dalam Sri Mulyati et. al. Mengenal & Memahami TarekatTarekat Muktabarah di Indonesia (Cet. Ke4). Jakarta: Kencana. 2011, hal. 218252.
Syarifuddin Jurdi (Ed). 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2010.
Taufik Abdullah. “Menteri Agama Republik Indonesia: Sebuah Pengantar Profil Biografis,” dalam Azyumardi Azra & Saiful Umam (Eds). Menteri Menteri Agama RI: Biografi SosialPolitik. Jakarta: INISPPIMLitbang Depag. 1998, hal. xixlii.
_____. Seri Buku TEMPO: Natsir, Politik Santun di antara Dua Rezim. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). 2011.
Ulil AbsharAbdalla. “Pada Mulanya Gus Dur Seorang Santri”, sebuah “Kata Pengantar” dalam Abdurrahman Wahid. Melawan Melalui Lelucon: Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid di TEMPO. Jakarta: Pusat Data & Analisis TEMPO. 2000, hal. xviiixxi.
_____. “PertamaTama, Gus Dur Adalah Seorang Santri,” sebuah “Obituari” dalam Damien Dematra. Sejuta Hati untuk Gus Dur: Sebuah Novel dan Memorial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2010, hal. 59.
Van Niel, Robert. Munculnya Elit Modern Indonesia (Penerj. Zahara Deliar Noer). Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. 1984.
Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Penerj. Zamakhsyari Dhofier, Cet. Ke3). Jakarta: LP3ES. 1984.