1 1.1 Latar Belakang Masalah
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah sekelompok penyakit yang penularannya terutama pada waktu mengadakan hubungan seksual. Dahulu, kelompok penyakit ini dikenal sebagai penyakit kelamin yang hanya terdiri dari 5 jenis penyakit yaitu gonore (kencing nanah), sifilis (raja singa), ulkus mole, limfogranuloma inguinale (bungkul) dan granuloma inguinale. Namun pada akhir abad ke-20 dapat dibuktikan bahwa pada waktu mengadakan hubungan seksual dapat terjadi infeksi oleh lebih dari 20 jenis kuman, sehingga dikenal istilah Penyakit Menular Seksual (PMS). Pada tahun 1997 pada Kongres IUVDT (International Union of Venereal Diseases and Treponematosis) di Australia, istilah tersebut diubah menjadi Infeksi Menular Seksual (IMS), oleh karena semua penyakit yang termasuk dalam kelompok tersebut merupakan penyakit infeksi.
Pada saat ini, IMS secara praktis ditinjau dari segi epidemiologis, pembagiannya didasarkan atas responsnya terhadap pengobatan menjadi IMS kurabel (dapat disembuhkan) dan IMS non-kurabel (tidak dapat disembuhkan).IMS kurabel disebabkan oleh bakteri, protozoa dan jamur. IMS non-kurabel merupakan IMS yang paling penting dan salah satu di antaranya adalah infeksi HIV yang menyebabkan AIDS (Depkes RI, 2004).
Sebagai bentuk pencegahan dan penanganan terhadap penderita IMS tersebut, Family Health International (FHI), sebuah lembaga kesehatan internasional yang didanai oleh United States Agency for International Development (USAID), membuat suatu program di Indonesia dengan nama Aksi Stop AIDS (ASA). Salah satu program dari FHI-ASA tersebut adalah dengan mendirikan klinik-klinik pengobatan penyakit IMS di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia, diantaranya Batam, Bintan, Karimun dan Tanjungpinang di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan Februari 2008. Di Bintan, FHI-ASA mendirikan klinik pengobatan penyakit IMS dengan nama Klinik IMS FHI-ASA di beberapa titik antara lain lokalisasi Bukit Bukit Indah Toapaya dan di lokalisasi
Bukit Senyum di Bintan Utara, tidak jauh dari kawasan pariwisata terpadu Bintan Resort dan kawasan industri Bintan Industrial Estate.
Sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang dikeluarkan oleh FHI-ASA & Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, suatu klinik IMS terdiri atas satu orang tenaga dokter, satu orang paramedis (perawat/bidan), satu orang analis laboratorium, satu orang tenaga konseling dan satu orang tenaga administrasi yang membentuk suatu tim. Penatalaksanaan pasien IMS juga sesuai dengan SOP, mulai dari penerimaan pasien oleh tenaga administrasi, anamnesis dan pemeriksaan fisik awal oleh paramedis (bidan/perawat), pemeriksaan laboratorium oleh analis, pemeriksaan akhir dan penentuan diagnosa oleh dokter, serta konseling oleh seorang konselor. Pelayanan juga ditunjang oleh berbagai peralatan standar, laboratorium dan obat-obatan yang sepenuhnya disediakan oleh FHI-ASA sebagai pelakasana program.
Terhitung mulai tahun 2012, masa kontrak kerjasama antara Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan dengan FHI-ASA berkahir. Hal ini berdampak pada berhentinya layanan Klinik IMS berserta teanaga kesehatannya. Namun, dengan masih tingginya resiko penularan penyakit IMS, Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan tetap melanjutkan program pelayanan pemeriksaan bagi penderita IMS. Selanjutnya, pelayanan yang sebelumnya hanya dilaksanakan di klinik statis kemudian diperluas lagi dengan cara jemput bola (mobile) di daerah-daerah populasi tinggi IMS sebagai layanan tahap pertama untuk menjaring pasien dengan kasus IMS.
Pemeriksaan pasien IMS dengan sistem mobile dilaksanakan untuk dapat menyaring lebih banyak lagi pasien penderita IMS di daerah populasi tinggi IMS terutama di lokalisasi-lokalisasi dimana terdapat banyak pekerja seks komrsial sebagai sasaran utama pemeriksaan. Layanan klinik mobile ini dilaksanakan oleh beberapa tenaga medis dengan menggunakan mobile unit berupa kendaraan puskesmas kelililing atau dengan fasilitas tempat tidur bersalin (bed gyn) sebagai syarat utama dilengkapi dengan peralatan medis penunjang. Layanan klinik mobile tersebut memiliki beberapa kekurangan daripada layanan klinik statis, oleh sebab itu pemeriksaan pasien dilaksanakan dengan metode pendekatan sindrom
(berdasarakan keluhan dan tanda klinis) yang tetap berpedoman pada SOP Klinik IMS yang dikeluarkan oleh FHI-ASA dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dengan terbatasnya sumber daya (waktu, fasilitas, tenaga) pada klinik mobile perlu dibuat suatu prosedur penatalaksanaan pasien IMS. Prosedur penatalaksanaan tersebut berupa suatu sistem pakar pendiagnosa dan pengobatan serta mampu melakukan diagnosa IMS secara tepat cepat dan akurat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka subyek permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana membuat suatu aplikasi yang didalamnya terdapat prosedur yang dapat digunakan dalam penatalaksanaan pasien IMS mulai dari datang ke klinik hingga didapatkan diagnosa dan pengobatan yang sesuai bagi penderita dengan cara yang lebih mudah, cepat dan efisien.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan-batasan masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Pembuatan tugas akhir ini mengambil studi kasus di Klinik IMS Dinas
Kesehatan Bintan, Kepulauan Riau.
2. Aplikasi ini memuat sistem pakar penentuan diagnosa berdasarkan pendekatan sindrom sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan pedoman penatalaksanaan yang telah dirumuskan oleh FHI-ASA dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
3. Input dari aplikasi ini adalah data keluhan dan pemeriksaan fisik pasien, sedangkan output adalah diagnosa dan pengobatan yang diberikan.
4. Aplikasi yang dikembangkan adalah aplikasi berbasis web. Bahasa pemrograman yang digunakan dalam mengembangkan aplikasi ini adalah PHP dengan MySQL sebagai relational management database system (RDBMS).
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah membuat suatu aplikasi yang dapat digunakan dalam penatalaksanaan pasien IMS mulai dari pemeriksaan fisik kemudian dapat ditemukan diagnosa dan pengobatan bagi penderitanya.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penyusunan skripsi ini adalah:
1. Dengan aplikasi ini seluruh data pasien dengan mudah terintegerasi dalam satu sistem informasi dari mulai datang hingga diagnosa dan pengobatan. 2. Dengan aplikasi ini dapat mempermudah bagi tenaga kesehatan yang
bukan dokter spesialis kulit kelamin dalam penatalaksaan penderita IMS terutama dalam penentuan diagnosa.
3. Waktu dalam melakukan penatalaksaan pasien menjadi lebih singkat. 4. Sebagai bahan referensi bagi pusat pelayanan kesehatan lain dalam
prosedur penatalaksanaan penyakit IMS maupun penyakit lain terutama di daerah yang sulit dijangkau tenaga kesehatan ahli (dokter spesialis).
1.6 Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah:
1. Observasi
Melakukan pengamatan secara langsung terhadap proses pelayanan pengobatan pasien di klinik IMS mulai dari awal pemeriksaan hingga pemberian pengobatan.
2. Wawancara
Melaksanakan komunikasi langsung dengan tenaga kesehatan di Klinik IMS Dinas Kesehatan Bintan, Kepulauan Riau.
3. Studi literatur
Mempelajari prosedur tetap pelayanan kesehatan terhadap penderinta IMS yang diterbitkan oleh FHI-ASA dan Kementerian Kesehatan RI, serta mempelajari penelitian-penelitian sebelumnya.
4. Perancangan
Aplikasi dirancang dan dikembangkan dengan menggunakan PHP dan MySQL sebagai relational database management system (RDBMS). 5. Implementasi dan pengujian
Setelah aplikasi selesai dikerjakan, maka dilakukan pengujian di klinik IMS tersebut.
6. Pembahasan dan Penulisan Tugas akhir
Meliputi pembahasan dari analisis sistem, pengolahan data dan implementasi aplikasi sistem yang selanjutnya dijadikan sebagai dasar dalam penulisan skripsi
1. 7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan skripsi adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah dan pembahasannya, tujuan dan manfaat kegiatan, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tinjauan dari skripsi yang sesuai tema dan pernah dilakukan BAB III LANDASAN TEORI
Berisi tentang teori-teori yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.
BAB IV ANALISIS DAN RANCANGAN SISTEM
Menjelaskan tentang analisa kebutuhan dan perancangan system. BAB V IMPLEMENTASI SISTEM
Implementasi sistem penalaran berbasis kasus dijelaskan pada bagian ini. Bagian ini juga akan menjawab masalah-masalah yang dirumuskan sebelumnya dan penjelasan keluaran yang dihasilkan pada penilitian ini.
Memuat tentang semua temuan yang diperoleh sebagai data hasil penelitian.
BAB VII PENUTUP
Memuat kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang dilakukan.