SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Biologi. Oleh:

166  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

KRAMAT KABUPATEN TEGAL TAHUN AJARAN 2011/2012

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam

Ilmu Pendidikan Biologi

Oleh:

ACHOR AROFIQ NIM: 073811044

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Achor Arofiq

NIM : 073811044

Jurusan / Program Studi : Tadris Biologi

menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 22 November 2011 Saya yang menyatakan,

Achor Arofiq NIM. 073811044

(3)
(4)

iv

NOTA PEMBIMBING Semarang, 24 November 2011

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum wr. wb

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : Efektivitas Gabungan Media Pembelajaran Berbentuk Audio Visual Sebagai Sumber Belajar Biologi Terhadap Hasil Belajar Pada Materi Struktur Jaringan Tumbuhan Kelas XI SMAN 1 Kramat Kabupaten Tegal Tahun Ajaran 2011/2012

Nama : Achor Arofiq

NIM : 073811044

Jurusan : Tadris Biologi

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqasyah.

(5)

v IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum wr. wb

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : Efektivitas Gabungan Media Pembelajaran Berbentuk Audio Visual Sebagai Sumber Belajar Biologi Terhadap Hasil Belajar Pada Materi Struktur Jaringan Tumbuhan Kelas XI SMAN 1 Kramat Kabupaten Tegal Tahun Ajaran 2011/2012

Nama : Achor Arofiq

NIM : 073811044

Jurusan : Tadris Biologi

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqasyah.

(6)

vi ABSTRAK

Judul : Efektivitas Gabungan Media Pembelajaran Berbentuk Audio Visual Sebagai Sumber Belajar Biologi Terhadap Hasil Belajar Pada Materi Struktur Jaringan Tumbuhan Kelas XI SMAN 1 Kramat Kabupaten Tegal Tahun Ajaran 2011/2012

Penulis : Achor Arofiq NIM : 073811044

Skripsi ini ditulis berdasarkan latar belakang yang ditemukan penulis di lapangan bahwa keadaan peserta didik dalam proses pembelajaran masih terpusat dikarenakan guru masih menggunakan model ceramah sehingga membuat peserta didik merasa jenuh.

Skripsi ini membahas tentang efektivitas gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual sebagai sumber belajar biologi terhadap hasil belajar pada materi struktur jaringan tumbuhan kelas XI SMAN 1 Kramat kabupaten Tegal tahun ajaran 2011/2012. Tujuannya untuk mengetahui keefektifan penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual pada materi pokok struktur jaringan tumbuhan.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis kuantitatif eksperimen, dengan variabel bebas dan terikat yaitu hasil belajar siswa setelah dilakukannya pembelajaran dengan menggunakan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual. Adapun tempat penelitiannya di SMAN 1 Kramat Kabupaten Tegal.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu dalam kondisi yang terkendalikan dalam pembelajaran IPA materi pokok struktur jaringan tumbuhan terhadap hasil belajar siswa pada kelas eksperimen. Adapun untuk mengetahui hasil belajar peserta didik menggunakan hasil test materi pokok struktur jaringan tumbuhan.

Pengumpulan data menggunakan instrumen tes dengan jumlah responden kelas eksperimen (XI IPA 3) sebanyak 36 siswa, kemudian data yang terkumpul dianalisis dengan statistik menggunakan rumus uji t. Dengan penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual, pada kelas eksperimen memiliki rata-rata 74,61 dengan kriteria baik.

Setelah diuji hipotesis ternyata terdapat keefektifan penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual pada pembelajaran IPA materi struktur jaringan tumbuhan terhadap hasil belajar peserta didik, Hal ini dapat diketahui dari analisis data dimana rata-rata hasil belajar peserta didik 74,61. Kemudian diuji t dan diperoleh thitung sebesar 2,478. Pada taraf signifikan 5% didapatkan -ttabel adalah

-1,697. karena thitung (2,478) ≥ -ttabel (-1,697) dan Pada taraf signifikan 1% didapatkan

-ttabel adalah -2,457. karena thitung (2,478) ≥ -ttabel (-2,457) maka hasilnya efektif.

Dengan demikian hipotesis yang diajukan peneliti diterima dikarenakan terdapat keefektifan penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual pada materi pokok struktur jaringan tumbuhan terhadap hasil belajar peserta didik kelas XI SMAN 1 Kramat Kabupaten Tegal Tahun Ajaran 2011/2012.

(7)

vii

dan Nomor: 0543b/Untuk1987. Penyimpangan penulisan kata sandang (al-) disengaja secara konsisten agar sesuai teks Arabnya.

A t} B z} T ‘ s| gh J f h} q Kh k D l z| m R n Z w S h Sy ’ s} y d}

Bacaan mad: Bacaan diftong:

a> = a panjang = au

i> = i panjang = a

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih, tercurahkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, hidayah, dan taufik serta inayah-Nya Dan tidak lupa pula penulis panjatkan shalawat serta salam kepada sang revolusioner Muhammad Rasulullah SAW, yang dengan keteladanan, keberanian dan kesabarannya membawa risalah Islamiyah yang sampai sekarang telah mengangkat derajat manusia dan bisa kita rasakan buahnya.

Skripsi berjudul “Efektivitas Gabungan Media Pembelajaran Berbentuk Audio Visual Sebagai Sumber Belajar Biologi Terhadap Hasil Belajar Pada Materi Struktur Jaringan Tumbuhan Kelas XI SMAN 1 Kramat Kabupaten Tegal Tahun Ajaran 2011/2012”. Skripsi ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana (S.1) pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini sangat sulit terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dukungan dan doa’ dari semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengaturkan banyak terima kasih kepada :

1. DR. Suja’i, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang

2. Drs. Listyono, M. Pd, selaku pembimbing I dan H. Mursid, M. Ag selaku pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya, untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. 3. Segenap dosen pengajar di lingkungan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam

Negeri Walisongo Semarang, terkhusus Segenap dosen Biologi yang tidak bosan-bosannya memberikan ilmu pengetahuannya kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini.

4. Bapak dan Ibu karyawan Perpustakaan baik di Institut maupun di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, yang telah memberikan pelayanan kepustakaan dengan yang diperlukan penulis untuk menyusun skripsi ini.

(9)

ix

6. Kakak dan Adik tercinta Arfanul Azhar, Tiana Adam Husni dan Rizki Ubaidilah, yang telah memberikan dorongan untuk menjadi yang terbaik beserta keluarga. 7. Teman-teman biologi semua angkatan, terkhusus Anak-anak Biologi kelas B

angkatan 2007 (Ma’nyik, Nyonya Naning, Endung, Tanty, Cucy, Watikoh, Ropi’i, Amien, Tam-Tam, mbah Uli, Erin, Jeng Imam, mami Erna, Qoqom, Nisma, Santo) dan anak-anak kelas Biologi A yang telah memberikan fasilitas dan dukungan yang tidak ternilai harganya, sehingga skripsi ini selesai.

8. Semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu, baik moral maupun materi dalam penyusunan skripsi ini.

Pada akhirnya penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dalam arti sebenarnya. Oleh sebab itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif penulis harapkan. Penulis berharap semoga penyusunan skripsi ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca.

Semarang, 22 November 2011 Penulis,

Achor Arofiq NIM. 073811044

(10)

x DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... . i PERNYATAAN KEASLIAN ... . ii PENGESAHAN ... . iii NOTA PEMBIMBING ... . iv ABSTRAK ... . vi TRANSLITERASI ... . vii

KATA PENGANTAR ... . viii

DAFTAR ISI .. ... . x

DAFTAR TABEL ... . xii

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR SINGKATAN………. xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... . xv

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan penelitian ………... . 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II :

LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori... 7

1. Belajar ... 7

2. Hasil Belajar ... 10

3. Efektivitas ... 12

4. Sumber Belajar ... 13

5. Pemanfaatan Media Pembelajaran ... 17

6. Pembelajaran Biologi ………... 19

7. Struktur Jaringan Tumbuhan ……… 19

B. Kajian Pustaka ... 29

(11)

xi

Sampel……… . 31

D. Variabel Penelitian……… .. 32

E. Metode Penelitian ………... 33

F. Teknik Pengumpulan Data ………... .. 33

G. Uji Coba Instrumen ………... .. 34

H. Teknik Analisis Data ……… .. 35

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 41

B. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 44

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 48

D. Keterbatasan Penelitian ……….. 52 BAB V : SIMPULAN A. Simpulan ……… 53 B. Saran ……….. 53 C. Penutup ………. 54 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Hasil Perhitungan Butir Soal, 42.

Tabel 2 Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Butir Soal, 43. Tabel 3 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Soal, 43.

Tabel 4 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Awal Kelas Eksperimen, 44. Tabel 5 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Akhir Kelas Eksperimen, 44. Tabel 6 Daftar Chi Kuadrat Nilai Akhir, 45.

(13)

xiii Gambar 3 Jaringan Epidermis, 21. Gambar 4 Jaringan Parenkim, 21. Gambar 5 Jaringan Kolenkim, 22. Gambar 6 Jaringan Sklerenkim, 22. Gambar 7 Xilem, 23.

Gambar 8 Floem, 24.

Gambar 9 Struktur Anatomi Pada Akar, 25. Gambar 10 Penampang Melintang Batang, 26. Gambar 11 Struktur Anatomi Daun, 27. Gambar 12 Stomata, 28.

(14)

xiv

DAFTAR SINGKATAN

AECT : Association For Education And Communication Technology

(15)

xv Lampiran 3 Kisi-kisi Soal Uji Coba Instrumen Lampiran 4 Soal Uji Coba Instrumen

Lampiran 5 Kunci Jawaban Soal Uji Coba Instrumen Lampiran 6 Kisi-kisi Soal Posttest

Lampiran 7 Soal Posttest

Lampiran 8 Kunci Jawaban Soal Posttest

Lampiran 9 Perhitungan Uji Validitas, Reliabilitas, Indeks Kesukaran, Dan Daya Pembeda Soal

Lampiran 10 Perhitungan Validitas Soal Tes Lampiran 11 Perhitungan Reliabilitas Soal Tes Lampiran 12 Perhitungan Indeks Kesukaran Lampiran 13 Perhitungan Daya Pembeda Soal

Lampiran 14 Uji Normalitas Nilai Awal Peserta Didik Kelas Eksperimen Lampiran 15 Uji Normalitas Nilai Posttest Peserta Didik Kelas Eksperimen Lampiran 16 Uji Homogenitas Nilai Awal Dan Nilai Posttest Kelas Eksperimen Lampiran 17 Daftar Peserta Didik Kelas Uji Instrumen

Lampiran 18 Daftar Peserta Didik Kelas Eksperimen

Lampiran 19 Daftar Nilai Awal Peserta Didik Kelas Eksperimen Lampiran 20 Daftar Nilai Posttest Peserta Didik Kelas Eksperimen Lampiran 21 Tabel Nilai Posttest Peserta Didik Kelas Eksperimen Lampiran 22 Uji t Nilai Posttest Kelas Eksperimen

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Belajar merupakan prose manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, ketrampilan, dan sikap.1 Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri dari murid, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran dan berbagai sumber belajar dan fasilitas.2 Lingkungan belajar yang diatur oleh guru mencakup tujuan pengajaran, bahan pengajaran, metodologi pengajaran dan penilaian pengajaran. Unsur-unsur tersebut biasa dikenal dengan komponen-komponen pengajaran.3 Komponen-komponen tersebut dalam berlangsungnya proses pengajaran tidak dapat dipisahkan.4

Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Ini berarti, bahwa hasil belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan dapat mengetahui ada tidaknya hasil belajar.5

Dari teori belajar diketahui bahwa hakikat belajar adalah interaksi antara peserta didik yang belajar dengan sumber-sumber belajar disekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku belajar dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, tidak jelas menjadi jelas, dan sebagainya. Sumber belajar atau bahan pengajaran tersebut dapat berupa

1

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), Cet.4 hlm 15

2 Arsyad Azhar, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm 1 3 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Pengguanaan dan Pembuatannya),

(Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), Cet. 6, hlm 1

4 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1986)

hlm 14

5

(17)

2 pesan, bahan, alat, orang, teknik, lingkungan dan seperangkat materi keilmuan yang dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran.

Perlu ditegaskan bahwa setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu proses belajar mengajar, baik sengaja maupun tidak disengaja, disadari atau tidak disadari. Dari proses belajar mengajar ini akan diperoleh suatu hasil yang pada umumnya disebut hasil pengajaran atau hasil belajar. Tetapi agar memperoleh hasil optimal, proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisasi secara baik.6

Berhasil atau tidaknya seseorang dalam proses belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasal dari dalam diri orang yang belajar (internal) dan ada pula dari luar dirinya (eksternal).7

Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar.8 Media pembelajaran tersebut sebagai faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi belajar karena mempunyai potensi atau kemampuan untuk merangsang terjadinya proses belajar.

Media dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena berbagai kemampuan sebagai berikut: (a) Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata seperti penggunaan gambar, (b) menyajikan benda atau peristiwa yang terlalu jauh dari peserta didik misalnya penggunaan gambar atau video tentang air terjun Niagara, (c) menyajiakan peristiwa yang kompleks, rumit, berlangsung dengan sangat cepat atau sangat lambat menjadi lebih sistematis dan sederhan, (d) menyajiakn benda atau peristiwa berbahaya ke hadapan peserta didik seperti video tentang harimau yang menerkam mangsanya, (e) meningkatkan daya tarik pelajaran dan perhatian peserta didik seperti penggunaan program audio untuk membelajarkan ketrampilan berbicara yaitu cara pelafalan kosakata, (f) meningkatkan sistematika pembelajaran seperti penggunaan transparasi/OHP, power point, kaset audio, dan grafik dalam pembelajaran.9

6 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, hlm 19

7 Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Cet. 5, hlm. 55 8 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, hlm 1

9

Bambang Wasita, Teknologi Pembelajaran, Landasan, dan Aplikasinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) hlm 279

(18)

3 Sumber belajar tradisional adalah guru dan buku teks, dan sebagian guru menjadikan buku teks sebagai sumber utama belajar. Begitu halnya dengan proses pembelajaran biologi di SMA 1 Kramat yang masih cenderung menggunakan metode ceramah sebagai cara mengajar utama dan buku sebagai sumber belajarnya, hal ini mengakibatkan kejenuhan dalam pembelajaran. Selain siswa cenderung kurang aktif dalam pembelajaran. Padahal pada zaman ini telah banyak teknologi untuk belajar mengajar yang kaitannya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, salah satunya yaitu melalui media pembelajaran.

Media mempunyai multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuan. Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ”tengah, perantara, atau pengantar”.10

Association for Education and Communication Technology (AECT) di

Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.11

Gerlach dan Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap. Disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau peranannya yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar (siswa dan isi pelajaran).12

Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual. Pengguanaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak

10 Arsyad Azhar, Media Pembelajaran, hlm 3 11

Arief Sadiman, Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), Cet 1, hlm 6

12

(19)

4 sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional dan tentu saja dengan kompetensi guru itu sendiri dan sebagainya.13

Instruksional ini merupakan proses memilih dan menyusun kegiatan pembelajaran dalam suatu unit pembelajaran seperti urutan, sifat materi, ruang lingkup materi, metode dan media yang paling sesuai untuk mencapai kompetensi pembelajaran. Dengan demikian permasalahannya cara mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif. Strategi pembelajaran meliputi situasi belajar dan komponen pembelajaran. Dalam mengaplikasi suatu strategi pembelajaran tergantung pada situasi belajar, sifat materi dan jenis belajar yang dikehendaki. Selain itu, perlu pula mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran tertentu.14

Selama ini pembelajaran biologi cenderung bersifat hafalan atau text

book yaitu dengan menggunakan metode ceramah saja, dan hanya sekedar

tahu prinsip, dan teori-teori saja padahal objek biologi adalah fenomena nyata. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada beberapa alasan mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar yaitu pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Alasan kedua adalah berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir konkret menuju ke berpikir abstrak, dimulai dari berpikir sederhana menuju ke berpikir kompleks. Penggunaan media erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.15

Penelitian yang dilakukan terhadap penggunaan media pengajaran dalam proses belajar mengajar sampai kepada kesimpulan, bahwa proses dan hasil belajar para siswa menunjukkan perbedaan yang berarti antara pengajaran tanpa media dengan pengajaran menggunakan media. Oleh sebab

13 Syaiful Bahri. dan Zain, Ahwan. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT Rineka Cipta,

2006), hlm 123

14 Bambang Wasita, Teknologi Pembelajaran, Landasan, dan Aplikasinya, hlm 265. 15

(20)

5 itu penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran.

Latar belakang tersebut, mendorong penulis untuk melakukan penelitian dan mengambil judul ”EFEKTIVITAS GABUNGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBENTUK AUDIO VISUAL SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATERI STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN KELAS XI SMA 1 KRAMAT KABUPATEN TEGAL TAHUN AJARAN 2011/2012”.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Seberapa efektif penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual pada materi pokok Struktur Jaringan Tumbuhan di SMA 1 Kramat Kabupaten Tegal?

2. Efektifkah penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual sebagai sumber belajar biologi pada materi pokok Struktur Jaringan Tumbuhan di SMA 1 Kramat Kabupaten Tegal?

C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Untuk mengetahui efektifkah penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual pada materi pokok struktur jaringan tumbuhan. 2. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA 1 Kramat Kabupaten Tegal

dalam mata pelajaran biologi pada materi pokok Struktur Jaringan Tumbuhan.

(21)

6 D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

Dapat memudahkan siswa dalam memahami materi, menarik perhatian siswa, membangkitkan motivasi siswa dalam belajar, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Bagi Guru

Dapat membantu guru dalam proses pembelajaran, memperjelas materi yang disampaikan, meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya penggunaan media pembelajaran, dan mengetahui media pembelajaran apa yang paling cocok digunakan sebagai sumber belajar pada materi struktur jaringan tumbuhan.

3. Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan sekolah dapat mengetahui media apa yang paling cocok digunakan sebagai sumber belajar pada materi struktur jaringan tumbuhan sehingga output yang dihasilkan juga baik.

4. Bagi peneliti

Untuk mengetahui keefektifan penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual.

(22)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. DESKRIPSI TEORI 1. Belajar

Dalam kehidupan kegiatan belajar atau proses pencarian ilmu di mulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Dan setiap saat dalam kehidupan terjadi proses belajar mengajar. Islam telah menganjurkan perintah untuk belajar. Karena belajar memberi kebaikan kepada kehidupan manusia. Sebagaimana wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah untuk membaca. Firman Allah SWT Q.S Al-„Alaq Ayat 1-5:



















































“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraann kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.1

Ada beberapa para ahli mendefinisikan tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Menurut Cronbach mengartikan belajar “learning is shown by change

in behavior as result of experience”. Belajar yang terbaik adalah

melalui pengalaman.2

b. Menurut Hilgard mengatakan belajar “learning is the proses by which

an activity originates or is change through training procedures”.

Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan.3

1 Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan

al-Atsari, Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi‟I, 2008.

2

Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, hlm. 13.

(23)

8 c. Menurut Geoch mengatakan belajar: “learning is a change in

performance as a result of practice”.4

(Belajar adalah perubahan performance sebagai hasil latihan).

d. Menurut psikologis bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.5

e. Ahli pendidikan memandang bahwa belajar adalah proses perubahan manusia ke arah tujuan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.6

f. Menurut Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid :

. (Belajar adalah perubahan dalam diri siswa berdasarkan pengalaman masa lalu, sehingga tercipta perubahan yang baru).

Dari beberapa definisi tentang belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan yang terjadi pada dirinya baik berupa tingkah laku, penambahan pengetahuan melalui pengalamannya. Kegiatan belajar akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk memecahkan masalah dalam kehidupan. Dengan proses belajar manusia akan memiliki ilmu. Dan barang siapa yang berilmu Allah akan memberikan derajat yang lebih tinggi. Seperti dalam firman Allah SWT Q.S Al-Mujadalah ayat 11:

4

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, hlm 20.

5

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Cet. 5, hlm. 2

6 Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, hlm 15

7Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid, at-Tarbiyah wa Thuruqut at-Tadris,

(24)

9































































“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.8

Berdasarkan definisi tentang belajar yang diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan ciri-ciri belajar sebagai berikut:

1) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional yaitu satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.9 2) Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.

3) Perubahan perilaku relative permanent. Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah.10

Selain itu, belajar yang memiliki cakupan yang begitu luas dan komprehensif memiliki prinsip-prinsip belajar, antara lain:

a) Dalam belajar peserta didik harus diusahakan berpartisipasi aktif meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.

b) Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur, penyajian yang sederhana sehingga peserta didik mudah menangkap pengertiannya.

c) Belajar harus dapat menumbuhkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.

8 Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan

al-Atsari, Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi‟I, 2008..

9 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, hlm. 3 10

(25)

10 d) Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut

perkembangannya.

e) Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.11

Perubahan tingkah laku yang terjadi itu sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dicapai dari proses belajar. Karena belajar adalah suatu proses, maka dari proses tersebut akan menghasilkan suatu hasil dan hasil dari proses belajar adalah berupa hasil belajar.

Menurut Bruner, dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase yaitu:

1) Informasi. Dalam tiap pelajaran kita memperoleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalam, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya.

2) Transformasi. Informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasi ke dalam bentuk yang lebih abstrak agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas.

3) Evaluasi. Kemudian kita nilai manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.12

2. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. belajar adalah merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap.13 Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membagi menjadi tiga ranah, yakni:14

11 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, hlm. 27-28

12 Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi

Aksara, 2009), Cet. 13, hlm 9-10

13 Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: PT Asdi

Mahasatya, 2002), hlm. 37.

14 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja

(26)

11 a. Ranah kognitif yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan,

pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.15

b. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian organisasi, dan internalisasi.16

c. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan. Terdiri dari empat kategori yaitu ketrampilan untuk berfikir, ketrampilan untuk bertindak, ketrampilan bereaksi, dan ketrampilan berinteraksi.17

Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan hirarki. Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiganya harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Oleh sebab itu ketiga aspek tersebut, harus dipandang sebagai hasil belajar siswa, dari proses pengajaran. Hasil belajar tersebut nampak dalam perubahan tingkah laku, secara teknik dirumuskan dalam sebuah pernyataan verbal melalui tujuan pengajaran (tujuan instruksional). Dengan perkataan lain rumusan tujuan pengajaran berisikan hasil belajar yang diharapkan dikuasai siswa yang mencakup ketiga aspek tersebut.18

Di dalam kegiatan belajar, berhasil atau tidaknya seseorang dalam pencapaian hasil belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi: a. Faktor dalam (internal)

Faktor dalam merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, diantaranya: kesehatan, minat dan motivasi, inteligensi dan bakat, dan cara belajar.19

15 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,

2006), hlm. 117-120

16

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, hlm. 22

17 Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, hlm. 38

18 Nana Sudjana, Dasar-Dasar dan Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru

Algesindo, 2008), hlm. 49-50.

19

(27)

12 b. Faktor luar (eksternal)

Faktor luar yaitu merupakan faktor yang berasal dari luar peserta didik yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, diantaranya yaitu: keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar.20

c. Faktor pendekatan belajar

Strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar.21

3. Efektivitas

Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti ada efeknya (pengaruhnya¸ akibatnya¸ kesannya). Efektivitas diartikan adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang akan dituju.22

Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. Keefektifan mengajar dalam proses interaksi belajar yang baik adalah segala daya upaya guru untuk membantu para siswa agar bisa belajar dengan baik. Untuk mengetahui keefektifan mengajar, dengan memberikan tes, sebab hasil tes dapat dipakai untuk mengevaluasi berbagai aspek proses pengajaran.23

Efektivitas dapat dijadikan barometer untuk mengukur keberhasilan pendidikan. Dalam upaya pengukuran ini terdapat dua istilah yang perlu diperhatikan yaitu validasi dan evaluasi.24

20

Dalyono, Psikologi Pendidikan, hlm 59-60.

21 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2006), Cet 12, hlm 139

22 E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), Cet

11, hlm 82

23 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan

Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Prenada Media Group, 2010) Cet.2, hlm 20

24

(28)

13 Menurut Wottubo and Wright (1975) menyimpulkan ada tujuh indikator yang menunjukkan pembelajaran efektif, yaitu: (a) pengorganisasian pembelajaran dengan baik, (b) komunikasi secara efektif, (c) penguasaan dan antusiasme dalam mata pelajaran, (d) sikap positif terhadap peserta didik, (e) pemberian ujian dan nilai yang adil, (f) keluwesan dalam pendekatan pembelajaran, (g) hasil belajar peserta didik yang baik.25

Masalah efektivitas biasanya berkaitan erat dengan perbandingan tingkat pencapaian tujuan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, atau perbandingan hasil nyata dengan hasil yang direncanakan.26 Efektivitas menekankan perbandingan antara rencana dengan tujuan yang dicapai. Oleh karena itu, efektivitas pembelajaran sering kali diukur dengan tercapainya tujuan pembelajaran.27

Efektivitas dalam penelitian ini adalah keberhasilan penggunaan media pembelajaran berbentuk audio visual dalam pembelajaran biologi materi pokok Struktur Jaringan Tumbuhan yang dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar setelah pembelajaran.

4. Sumber Belajar a. Media

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar atau wahana penyalur informasi belajar”.28 Informasi yang disampaikan ini menyangkut masalah seperti memberi petunjuk, pengarahan, dan apersepsi yang divariasikan dalam berbagai bentuk tanpa menyita banyak waktu untuk kegiatan pokok.29

Banyak batasan yang diberikan orang tentang media yaitu sebagai berikut:

25 Bambang Wasita, Teknologi Pembelajaran, Landasan, dan Aplikasinya, hlm 289-290 26

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, hlm 82.

27 Bambang Wasita, Teknologi Pembelajaran, Landasan, dan Aplikasinya, hlm 287 28 Syaiful Bahri. dan Zain, Ahwan, Strategi Belajar Mengajar, hlm. 120

29 Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan

(29)

14 1) Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan (Association of Education and Communication technology/AECT), media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.30

2) National Education Association (NEA), media sebagai benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.31 3) Briggs (1970), “media adalah segala bentuk fisik yang dapat

menyampaikan pesan serta merangsang peserta didik untuk belajar”.32

4) Gagne (1970), “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar”.33

Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.. penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performa mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.34

b. Media Pengajaran

Media adalah alat bantu atau bahan, sedangkan pengajaran sebagai upaya terencana dalam membina pengetahuan, sikap dan ketrampilan siswa melalui interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur guru yang mempelajari lambang-lambang verbal dan

30 Arief Sadiman, Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya),

(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), Cet 1, hlm 6

31 Usman dkk, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2007) hlm 11 32

Uno Hamzah dan Nina Lamatenggo, Teknologi Komunikasi dan Informasi

Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011) Cet. 2, hlm 122

33 Arief Sadiman, Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya),

hlm 6.

34

(30)

15 visual, agar diperoleh makna yang terkandung di dalamnya.35 Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa media dan pembelajaran mempunyai hubungan yang sangat erat dalam pendidikan.

Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan dari pada tanpa bantuan media.36

Media pengajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir konkret menuju ke berpikir abstrak, dimulai dari berpikir sederhana menuju ke berpikir komplek. Penggunaan media pengajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.37

Adapun manfaat media pembelajaran dalam proses belajar mengajar antara lain:

1) Penggunaan media pendidikan secara tepat dan variasi dapat mengatasi sikap pasif siswa.38

2) Sebagai sumber belajar siswa.39

3) Sebagai alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan.40

4) Dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.41

35 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, hlm 8

36 Syaiful Bahri. dan Zain, Ahwan, Strategi Belajar Mengajar, hlm 120 37

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, hlm 3

38 Arief Sadiman, Pendidikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya), hlm 17 39 Syaiful Bahri. dan Zain, Ahwan, Strategi Belajar Mengajar, hlm 135

40 Usman dkk, Media Pembelajaran, hlm 19 41

(31)

16 5) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.42

Kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Untuk itu, ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media antara lain media yang dipilih sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, mendukung isi pelajaran yang bersifat fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi, serta praktis, luwes, dan bertahan.43

c. Media Auditif

Media audio adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. d. Media visual

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar, atau lukisan, dan cetakan.44

e. Media Audiovisual

Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Penekanan utama dalam pengajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman kongkret, tidak hanya didasarkan atas kata-kata belaka.45 Media ini dibagi lagi kedalam:

1) Audiovisual diam yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, dan cetak suara.46

42 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, hlm 2 43

Arsyad Azhar, Media Pembelajaran, hlm 73-74

44 Syaiful Bahri dan Zain Ahwan, Strategi Belajar Mengajar, hlm 124

45 Nana Sudjana, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2003), Cet 4,

hlm 58

46

(32)

17 2) Audiovisual gerak yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film bersuara atau gambar hidup dan televisi.47

Pengajaran audio visual mempunyai beberapa kelemahan yaitu terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses pengembangannya dan tetap memandang materi audiovisual sebagai alat bantu guru dalam mengajar.48

5. PemanfaatanMedia Pembelajaran

Keefektifan suatu media pembelajaran sangat ditentukan oleh faktor-faktor berikut yaitu: (1) ketepatan dalam pemilihan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai; (2) kesesuaian media dengan karakteristik sarana atau peserta didik; dan (3) ketepatan cara menggunakannya. Dengan memperhatikan ketiga faktor tersebut, diharapkan suatu media pembelajaran akan mampu membelajarkan peserta didik secara efektif.49

Media pengajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu harus diperhatikan prinsip penggunaannya antara lain:

1. Sebagai alat bantu tang berfungsi sebagai tambahan yang digunakan bila dianggap perlu.50

2. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran.51

3. Penggunaan media pengajaran harus diorganisir secara sistematis bukan sembarangan menggunakannya.52

Pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa dalam rangka

47 Usman, dkk, Media Pembelajaran, hlm 95 48

Nana Sudjana, Teknologi Pengajaran, hlm 58

49 Bambang Warsita. Teknologi Pembelajaran, Landasan, dan Aplikasinya, hlm 280 50 Usman dkk, Media Pembelajaran, hlm 19

51 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, hlm 6 52

(33)

18 mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang kompleks dan abstrak menjadi lebih sederhana, konkrit, serta mudah dipahami. Dengan demikian media dapat berfungsi untuk mempertinggi daya serap dan retensi anak terhadap materi pembelajaran.53

Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone

of Experience (Kerucut Pengalaman Dale).54

Edgar Dale mengklasifikasikan pengalaman belajar anak mulai dari hal-hal yang paling konkrit sampai kepada hal-hal yang dianggap paling abstrak. Klasifikasi pengalaman tersebut diikuti secara luas oleh kalangan pendidik dalam menentukan alat bantu apa yang sesuai untuk pengalaman belajar tertentu. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:55 abstrak Lambang kata Lambang Visual gambar diam, rekaman Radio Gambar hidup permanen

Televisi kongkret Karyawisata

Dramatisasi Benda tiruan/Pengamatan

Pengalaman langsung

Gambar 1: Kerucut Pengalaman Edgar Dale56

53 Usman, dkk, Media Pembelajaran, hlm 20-21 54 Arsyad Azhar, Media Pembelajaran, hlm 9 55

Usman, dkk, Media Pembelajaran, hlm 21

56

(34)

19 6. Pembelajaran Biologi

a. Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal. dapat dikatakan pembelajaran merupakan segala upaya untuk menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah pencapaiannya.57

b. Pelajaran biologi

Biologi adalah ilmu tentang kehidupan, sudah berakar dari dalam diri manusia. Dengan mempelajari kehidupan, kita terdorong masuk ke dalam laboratorium guna mengamati lebih dekat lagi bagaimana bentuk-bentuk kehidupan yang disebut organisme.58

Ahli-ahli biologi menerapkan metode sains agar dapat memahami organisme hidup. Suatu organisme hidup dengan demikian dapat didefinisikan sebagai sebuah unit komplek zat-zat fisika kimiawi yang mampu melakukan regulasi, metabolisme, dan reproduksi. Selain itu, suatu organisme hidup menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungannya, tumbuh, bergerak, dan beradaptasi.59

7. Struktur Jaringan Tumbuhan

Jaringan merupakan kumpulan sel yang mempunyai bentuk, asal, fungsi, dan struktur sama. Jaringan pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua, yakni jaringan meristem dan jaringan dewasa/permanen. a. Jaringan Meristem

Jaringan meristem adalah meristem yang sel-selnya merupakan perkembangan langsung dari sel-sel embional.60 Berdasarkan asalnya meristem dibagi menjadi dua antarnya adalah:

57

Bambang Warsita. Teknologi Pembelajaran, Landasan, dan Aplikasinya, hlm 266

58 Campbell, Dkk, Biologi Jilid 1, (Jakarta: Erlangga, 2003) hlm 1 59 George Fried, Dkk, Biologi, (Jakarta: Erlangga, 2005), Cet 2, hlm 2-3

60 Slamet Prawirohartono, Sains Biologi 2, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), Cetakan

(35)

20 1) Meristem primer

Merupakan meristem yang sel–selnya adalah perkembangan langsung dari sel–sel embrional, sehingga merupakan lanjutan dari pertumbuhan embrio.

2) Meristem sekunder

Merupakan meristem yang berasal dari jaringan dewasa yang telah mengadakan diferensial (proses pertumbuhan dan terbentuknya kumpulan sel yang mempunyai sifat yang berbeda).

Berdasarkan letaknya meristem dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

1) Meristem apikal, yang terdapat pada ujung akar maupun batang tanaman.

2) Meristem lateral, yang terletak di samping jaringan dewasa sebagai jaringan dewasa yang berubah menjadi meristem lagi.

3) Meritem interkalar, yang terletak diantara ruas–ruas batang.

Gambar 2. Jaringan Meristem61 b. Jaringan Dewasa/permanen

Adalah jaringan yang telah mengalami diferensial. Berdasarkan bentuk dan fungsinya, jaringan ini terbagi menjadi beberapa macam yaitu:

1) Jaringan Epidermis

61 Wawan Junaidi, “Ciri-ciri Jaringan Meristem”, dalam

(36)

21 Gambar 3. Jaringan Epidermis62

Ciri–cirinya:

a) Berbentuk balok dan tersusun rapat b) Tidak ada ruas antar sel

c) Satu lapis

d) Tidak berklorofil, kecuali stomata63 e) Dilapisi oleh lilin/gabus

Fungsinya adalah sebagai pelindung yang menutupi permukaan tubuh tanaman.

2) Jaringan perenkim Ciri–cirinya:

a) Berbentuk bulat berdinding tipis b) Banyak vakuola

c) Terdapat rongga antar sel

Gambar 4. Jaringan Parenkim

62 Agha, “Sel dan Jaringan Tumbuhan”, dalam

http://catatan-agha.blogspot.com/2011/02/sel-dan-jaringan-tumbuhan.html, diakses 16 Juli 2011

63

(37)

22 Parenkim berfungsi mengisi jarringan–jaringan pada semua bagian tumbuhan, baik akar, daun, batang, biji, buah.

3) Jaringan penguat/penyokong

Jaringan ini terbagi menjadi dua yaitu: a) Kolenkim

Merupakan jaringan penyokong atau penguat pada organ tubuh muda dan organ tua pada tumbuhan lunak

Gambar 5. Jaringan Kolenkim b) Sklerenkim

Adalah jaringan penguat atau kadang–kadang sebagai jaringan pelindung yang sel–selnya mengalami penebalan sekunder dengan lignin atau zat kayu. Sel-sel parenkim jauh lebih kaku daripada sel kolenkim. Sel sklerenkim dewasa tidak dapat memanjang, dan sel tersebut ditemukan pada bagian tumbuhan yang telah berhenti memanjang.64

Gambar 6. Jaringan Sklerenkim 4) Jaringan pengangkut

64

(38)

23 Jaringan pengangkut pada tubuh tumbuhan terdiri atas xylem dan floem.65

a) Xylem

Bagian-bagian terpenting pada jaringan xylem tumbuhan ialah pembuluh xylem yang terdiri atas tabung-tabung berdinding tebal yang secara vertikal meluas sampai beberapa meter jaringan xylem. Pembuluh xylem terdiri dari sel-sel silindris yang biasanya mengarah ujung ke ujung. Pembuluh xylem berfungsi dalam transport air dan mineral ke atas.66

Di dalam jaringan xylem terdapat trakeid yaitu sel-sel yang diameternya sekitar 30 µm san panjangnya beberapa milimeter. sel-sel ini dapat dibedakan dari pembuluh xylem karena dinding bersudut dan umumnya ukurannya lebih kecil, ujung-ujungnya meruncing dan saling menutupi dengan sel-sel di dekatnya. Xylem berfungsi mengangkut air dan zat terlarut dari akar menuju daun.

Gambar 7. Xilem b) Floem

Pembuluh angkut yang utama pada floem ialah tabung tapis, yang terdiri atas sel-sel silindris yang mengarah ujung ke ujung. Dinding ujung sel-sel tabung lapisan yang dewasa

65 Endang Sri Lestari dan Idan Kistinnah, Biologi Makhluk Hidup dan Lingkungannya,

(Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas, 2009) hlm 47

66

(39)

24 berlubang-lubang, sehingga memungkinkan utasan sitoplasma meluas diantara sel-sel yang berdekatan.

Gambar 8. Floem67

Tabung tapisan berbeda dengan pembuluh xylem dan trakeid dalam hal-hal unsur pokoknya tidak kehilangan sitoplasma pada saat menjadi matang, akan tetapi nukleus yang hilang. Floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh tumbuhan.68

Organ tumbuhan merupakan kumpulan jaringan yang memiliki fungsi yang sama. Organ tumbuhan biji yang pokok adalah akar, batang, dan daun.

a. Akar

Akar berasal dari lembaga yaitu akar yang pertama kali tumbuh dari embrio dalam biji. Jaringan penyusun akar ada epidermis, korteks, endodermis, stele/silinder pusat. Sedangkan fungsi akar antara lain: menambatkan tubuh tumbuhan pada tanah, menyerap air, mineral, dan hara tanah serta mengalirkan ke batang, dan menyimpan cadangan makanan.69

Struktur akar telah diadaptasikan dengan baik sesuai dengan fungsi-fungsinya. Struktur luar akar terdiri dari batang akar, cabang

67

Tresna Pamungkas, “Jaringan Pada Tumbuhan”, dalam

http://tresnapamungkas.blogspot.com/2011/09/jaringan-pada-tumbuhan.html, diakses 17 Desember 2011

68 John Kimball, Biologi Jilid 2, hlm 483 69

(40)

25 akar, bulu akar, dan tudung akar. Struktur anatomi akar tersusun atas empat lapisan pokok yaitu:

1) Epidermis

Epidermis akar berkembang dari protoderma. Sel-sel epidermis ini termodifikasi menjadi bulu-bulu akar, lapisan kutikulanya sangat tipis ini sesuai dengan fungsinya sebagai penyerap air.

2) Korteks

Korteks merupakan daerah antara epidermis dengan silinder pusat. Korteks terdiri dari sel-sel parenkima yang tersusun melingkar.

Gambar 9. Struktur Anatomi Pada Akar70 3) Endodermis

Lapisan terdalam dari korteks akan berdiferensiasi menjadi endodermis. Pada sel endodermis muda terdapat penebalan dinding radial. Penebalan tersebut membentuk rangkaian berbentuk pita

kaspari.

4) Silinder pusat (stele)

Stele terletak di sebelah dalam lapisan endodermis. Stele pada akar tersusun oleh jaringan pengangkut xilem, floem, dan periskel.

70 Yoyok Wardoyo, “Anatomi Tumbuhan”, dalam

(41)

26 b. Batang

Batang merupakan organ tumbuhan yang umumnya terletak di permukaan tanah, titik dimana daun melekat. Batang berfungsi sebagai tempat duduk daun, sarana lintasan air, mineral, dan makanan antar bagian tumbuhan, yaitu antar akar, batang, dan daun. Jaringan penyusun batang yaitu, epidermis, korteks dan stele. Jaringan-jaringan penyusun batang tumbuhan antara lain:

1) Epidermis

Merupakan lapisan paling luar batang. Epidermis terdiri dari lapisan sel yang mengalami penebalan yang disebut kutikula. Yang berfungsi melindungi batang terhadap kekeringan.

Gambar 9. Penampang Melintang batang71 2) Korteks

Terdiri atas kolenkim yang susunannya rapat dan parenkim yang longgar dengan bayak ruang antar sel.

3) Stele (silinder pusat)

Stele terdiri dari perisikel, berkas pengangkut, cambium dan empulur.

c. Daun

Daun adalah organ fotosintesis utama pada sebagian besar tumbuhan, meskipun batang yang berwarna hijau juga melakukan fotosintesis. Bentuk daun sangat bervariasi, namun pada umumnya terdiri dari satu helai yang pipih dan tangkai daun yang disebut petiola

71 http://staywithnature.blogspot.com/2011/02/anatomi-dan-morfologi-tumbuhan.html

(42)

27 yang menyambungkan daun dengan buku batang.72 Daun juga berfungsi sebagai tempat pembuat makanan bagi tumbuhan melalui proses fotosintesis, menyimpan bahan makanan, alat penguapan. Jaringan penyusunnya daun:

1) Epidermis

Epidermis atas daun biasanya dilindungi lapisan kutikula atau lilin sebagai penahan terjadinya penguapan yang terlalu besar. Epidermis daun juga dapat termodifikasi menjadi trikoma.

2) Mesofil

Merupakan daerah utama tempat fotosintesis. Pada kebanyakan daun dikotil, mesofil berdeferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang) dan parenkim spons (jaringan bunga karang).

Gambar 10. Struktur Anatomi Daun 73 3) Jaringan pengangkut

Berkas pengangkut (xilem dan floem) pada daun terdapat di tulang daun dan urat daun. Fungsi jaringan pengangkut pada daun untuk mengangkut air serta zat hara dari tanah dan menyebarkan hasil fotosintesis.

4) Stomata

Stoma (jamak: stomata) berfungsi sebagai organ respirasi. Stoma mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan

fotosintesis, mengeluarkan O2 sebagai hasil fotosintesis. Stoma

72 Campbell, Dkk, Biologi Jilid 2, hlm 298

73 Agha, “Sel dan Jaringan Tumbuhan”, dalam

(43)

28 ibarat hidung kita dimana stoma mengambil CO2 dari udara dan

mengeluarkan O2, sedangkan hidung mengambil O2 dan

mengeluarkan CO2. Stoma terletak di epidermis bawah. Selain

stoma, tumbuhan tingkat tinggi juga bernafas melalui lentisel yang terletak pada batang.

Gambar 11. Stomata74 d. Bunga

Merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan kelompok angiospermae. Bunga disebut alat perkembangbiakan karena di dalam bunga terdapat alat-alat reproduksi seperti benang sari, putik dan kandung lembaga. Bunga merupakan hasil modifikasi daun. Struktur dasar bunga terdiri dari kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari, dan putik.

Gambar 12. Bunga75

74

Hidayatul Catra Burhan, “Stomata”, dalam

http://hidayatulcatraburhan.wordpress.com/2010/11/05/biologistomata-dan-daun/ diakses 16 Juli

2011

75 http://staywithnature.blogspot.com/2011/02/anatomi-dan-morfologi-tumbuhan.html

(44)

29 B. KAJIAN PUSTAKA

Kajian pustaka merupakan penelusuran pustaka berupa buku, hasil penelitian, karya ilmiah ataupun sumber lain yang dijadikan rujukan atau perbandingan penelitian yang penulis laksanakan.

Dalam hal ini penulis mengambil beberapa sumber sebagai rujukan perbandingan.

1. Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Afiyati (053811290) mahasiswi Tadris Biologi fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang yang berjudul “penerapan media visual dalam meningkatkan hasil belajar IPA materi pokok pencernaan makanan pada manusia kelas V semester I MI Miftahul Huda Tegalsambi Tahunan Jepara tahun pelajaran 2009/2010”, dalam skripsi ini membahas tentang hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan suatu media visual berupa gambar pada materi pokok pencernaan makanan pada manusia kelas V semester I MI Miftahul Huda Tegalsambi Tahunan Jepara tahun pelajaran 2009/2010.76

2. Penelitian yang dilakukan oleh Ana Farida (3104319) mahasiswi Tadris Biologi fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang yang berjudul “pengaruh penggunaan media charta terhadap hasil belajar biologi materi pokok sel peserta didik kelas VII di MTs NU Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara”.77

Setelah menelaah berbagai karya tulis berupa hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang penulis teliti, maka disini peneliti akan meneliti efektivitas gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual sebagai sumber belajar biologi terhadap hasil belajar pada materi struktur jaringan tumbuhan kelas XI SMA 1 Kramat Kabupaten Tegal tahun ajaran 2011/2012.

76 Nurul Afiyati, “Penerapan Media Visual Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Materi

Pokok Pencernaan Makanan Pada Manusia Kelas V Semester I Mi Miftahul Huda Tegalsambi Tahunan Jepara Tahun Pelajaran 2009/2010”, Skripsi (Semarang: Perpustakaan IAIN Walisongo,

2009) hlm

77 Ana Farida, “Pengaruh Penggunaan Media Charta Terhadap Hasil Belajar Biologi

Materi Pokok Sel Peserta Didik Mkelas Vii Di Mts Nu Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara”,

(45)

30 Peneliti juga mengajukan hipotesis bahwa pengajaran biologi dengan menggunakan media pembelajaran berbentuk audio visual efektif bila diterapkan pada materi pokok struktur jaringan tumbuhan.

C. RUMUSAN HIPOTESIS

Hipotesis penelitian adalah jawaban-jawaban yang diharapkan atas permasalahan penelitian. Masalah dan hipotesis penelitian inilah yang memberi arah dan fokus, struktur dan organisasi pengumpulan data, analisis serta interpretasi data yang dikumpulkan melalui penelitian yang dilakukan. Menurut Kerlinger, hipotesis memiliki pengertian sebagai pernyataan yang bersifat dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Pernyataan ini selalu diungkapkan dalam bentuk kalimat pernyataan dan menghubungkan baik secara umum maupun secara khusus tentang variabel yang satu dengan yang lain.78

Tujuan peneliti mengajukan hipotesis adalah agar dalam kegiatan penelitiannya, perhatian peneliti terfokus hanya pada informasi yang diperlukan bagi pengujian hipotesis. Agar pemilihan alternatif dapat tepat, peneliti dituntut untuk berhati-hati dalam penelitiannya.79

Berdasarkan uraian di atas hipotesis ingin dibuktikan, Penggunaan gabungan media pembelajaran berbentuk audio visual efektif bila diterapkan pada materi pokok Struktur Jaringan Tumbuhan di SMA 1 Kramat Kabupaten Tegal tahun ajaran 2011/2012.

78 Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan Dan Pengembangan, (Jakarta: Media

Group 2010), hlm 93

79 Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan: Teori-Aplikasi, (Jakarta: PT

(46)

31 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. TUJUAN PENELITIAN

Secara umum tujuan penelitian adalah untuk menemukan, mengembangkan dan membuktikan pengetahuan. Menemukan berarti sebelumnya belum pernah ada atau belum diketahui.1

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui efektifkah penggunaan gabungan media pembelajaran

berbentuk audio visual pada materi pokok struktur jaringan tumbuhan. 2. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA 1 Kramat Kabupaten

Tegal dalam mata pelajaran biologi pada materi pokok Struktur Jaringan Tumbuhan.

B. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN 1. Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus - 10 September 2011. 2. Tempat penelitian

Tempat penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Kramat Tegal karena SMAN 1 Kramat dalam proses belajar mengajar sehari-hari masih menggunakan metode konvensional (ceramah) sehingga membuat para siswa merasa jenuh.

C. POPULASI, SAMPEL, DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek/objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada. Dalam wilayah

1 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2006),

(47)

32 2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.3 Sampel yang diambil dalam penelitian ini hanya satu yaitu kelas yang akan mendapatkan pembelajaran dengan media audio visual disebut sebagai kelas ekperimen.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik random sampling. Pengambilan sampel secara random sampling berarti setiap kelompok dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Dengan pertimbangan populasinya dikelompokkan dengan merata (homogen).

D. VARIABEL PENELITIAN 1. Variabel

Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Jadi variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu:

a. Variabel bebas (independen)

Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah penggunaan gabungan media pembelajaran audio visual yang diterapkan di SMA 1 Kramat.

2 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka

Cipta, 2006), cet. 13, hlm 130

(48)

33 b. Variabel terikat (dependen)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar biologi kelas XI SMA 1 Kramat pada kelas eksperimen.

2. Indikator

Indikator penelitian adalah hasil nilai ulangan biologi materi struktur jaringan tumbuhan.

E. METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisi data yang dikembangkan untuk memperoleh pengetahuan dengan mengajukan prosedur yang reliabel dan terpercaya.4

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian eksperimen. Menurut sugiyono, penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu dalam kondisi yang terkendalikan.5

F. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Dalam bagian ini, akan dibahas mengenai bagaimana cara pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti. Adapun metode yang digunakan peneliti dalam teknik pengumpulan datanya, sebagai berikut: a. Metode Dokumentasi

Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan penelitian.6 Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda

4 Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Kuantatif Dalam Pendidikan, (Jakarta: Raja

Grafindo Persada, 1996) hlm 10

5

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, hlm 107.

Figur

Gambar 1: Kerucut Pengalaman Edgar Dale 56

Gambar 1:

Kerucut Pengalaman Edgar Dale 56 p.33
Gambar 2. Jaringan Meristem 61 b.  Jaringan Dewasa/permanen

Gambar 2.

Jaringan Meristem 61 b. Jaringan Dewasa/permanen p.35
Gambar 4. Jaringan Parenkim

Gambar 4.

Jaringan Parenkim p.36
Gambar 5. Jaringan Kolenkim  b)  Sklerenkim

Gambar 5.

Jaringan Kolenkim b) Sklerenkim p.37
Gambar 6. Jaringan Sklerenkim  4)  Jaringan pengangkut

Gambar 6.

Jaringan Sklerenkim 4) Jaringan pengangkut p.37
Gambar 7. Xilem   b)  Floem

Gambar 7.

Xilem b) Floem p.38
Gambar 8. Floem 67

Gambar 8.

Floem 67 p.39
Gambar 9. Struktur Anatomi Pada Akar 70 3) Endodermis

Gambar 9.

Struktur Anatomi Pada Akar 70 3) Endodermis p.40
Gambar 9. Penampang Melintang batang 71 2) Korteks

Gambar 9.

Penampang Melintang batang 71 2) Korteks p.41
Gambar 10. Struktur Anatomi Daun  73 3) Jaringan pengangkut

Gambar 10.

Struktur Anatomi Daun 73 3) Jaringan pengangkut p.42
Gambar 11. Stomata 74 d.  Bunga

Gambar 11.

Stomata 74 d. Bunga p.43
Tabel perhitungan variansi data nilai awal kelas eksperimen  x  f  fx  ( )x −x ( )x−x 2 f  ( )x−x 2 85  8  680  16,3  265,69  2125,52  77  6  462  8,3  68,89  413,34  69  4  276  0,3  0,09  0,36  62  10  620  -6,7  44,89  448,9  54  3  162  -14,7  216,09

Tabel perhitungan

variansi data nilai awal kelas eksperimen x f fx ( )x −x ( )x−x 2 f ( )x−x 2 85 8 680 16,3 265,69 2125,52 77 6 462 8,3 68,89 413,34 69 4 276 0,3 0,09 0,36 62 10 620 -6,7 44,89 448,9 54 3 162 -14,7 216,09 p.125
Tabel perhitungan variansi data nilai posttest kelas eksperimen  x  f  fx  ( x − x ) ( x − x ) 2 f  ( x − x ) 2 92  4  368  17,4  302,76  1211,04  85  9  765  10,4  108,16  973,44  77  4  308  2,4  5,76  23,04  69  13  897  -5,6  31,36  407,68  62  3  186

Tabel perhitungan

variansi data nilai posttest kelas eksperimen x f fx ( x − x ) ( x − x ) 2 f ( x − x ) 2 92 4 368 17,4 302,76 1211,04 85 9 765 10,4 108,16 973,44 77 4 308 2,4 5,76 23,04 69 13 897 -5,6 31,36 407,68 62 3 186 p.126
Related subjects :