BAB 1 PENDAHULUAN. akan berjalan dengan baik bila tidak diikuti oleh baiknya perkembangan dunia

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Penerjemahan merupakan salah satu bidang linguistik terapan yang sangat menarik untuk dilakukan. Penerjemahan adalah satu ilmu yang sangat dibutuhkan dewasa ini, kekurangmampuan manusia dalam menguasai bahasa yang ada dunia ini menjadikan penerjemahan menjadi alat yang sangat dibutuhkan dalam menjalankan alih informasi dalam kehidupan masyarakat. Transfer ilmu tidak akan berjalan dengan baik bila tidak diikuti oleh baiknya perkembangan dunia penerjemahan itu sendiri. Sehingga masyarakat dalam semua golongan, baik itu para ilmuan atau para pencari informasi tidak dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan apabila mereka kurang atau tidak memahami penguasaan bahasa asing.

Penerjemahan adalah usaha penyampaian pesan dari satu bahasa ke dalam bahasa lain. Kegiatan penerjemahan dilakukan untuk mengalihkan pesan bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa). Sebagaimana yang dinyatakan Catford (1965: 20) bahwa penerjemahan adalah mengganti materi tekstual suatu bahasa (bahasa sumber) menjadi materi tekstual yang sepadan dalam bahasa lain (bahasa sasaran). Kata “sepadan” jelaslah merupakan inti dari sebuah penerjemahan. Dengan kata lain, penerjemahan adalah mencari kesepadanan kata dalam bahasa sasaran.

(2)

Adanya pengaruh era globalisasi, kebudayaan pun bebas dipromosikan ke kancah internasional. Maka kebebasan dalam mempelajari budaya di berbagai negara pun tersebar. Seperti contoh budaya di Yogyakarta. Seiring dengan tumbuhnya beberapa studio tari atau sanggar tari klasik di Yogyakarta, membuat tari klasik banyak diminati, baik kalangan dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan adanya ketertarikan dari orang asing untuk mempelajari tari klasik Gaya Yogyakarta. Sebagai contoh, Jeannie Park, seorang warga berkebangsaan Amerika yang sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Padepokan Seni Bagong Kusudiarjo, dimana dulu pernah belajar tari klasik Gaya Yogyakarta di sanggar tari Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa. Selain itu, adanya beberapa agenda kebudayaan ke luar negeri, baik dari Kementrian Pusat, Daerah, maupun institusi pendidikan (sanggar tari, sekolah, universitas) juga turut mempengaruhi perkembangan kebudayaan, khususnya di bidang tari.

Seperti kita ketahui bersama bahwa sebuah tarian pasti memiliki penamaan setiap gerakannya. Istilah gerak ini pun berbagai macam namanya. Tari klasik Gaya Yogyakarta memiliki penamaan tersendiri dalam sikap tari maupun gerak tari. Istilah sikap dan gerak tari klasik Gaya Yogyakarta memiliki wujud, makna, dan pengertian tersendiri. Penamaan istilah ini diambil dari simbol-simbol kegiatan sehari-hari dan abstraksi dari wujud alam yang ada di sekitar. Tidak hanya itu, nama istilah dalam gerak tari klasik Gaya Yogyakarta menampilkan ciri khas penamaan yang unik dan bervariasi, yaitu dimana nama gerakan yang ada tidak hanya terdiri satu leksikon saja, tetapi juga terdiri atas dua leksikon bahkan

(3)

lebih. Kemudian istilah ini juga terdiri dari beberapa jenis kata diantaranya berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, frasa, maupun klausa.

Data istilah sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta penulis dapatkan dari buku yang berjudul Tuntunan Pelajaran Tari Klasik Gaya

Yogyakarta (1983) oleh RL. Sasmintamardawa dan SMKI Yogyakarta. Istilah

tersebut berjumlah 65 istilah, diantaranya: igå kaunus, ulå-ulå ngaděg,

énthong-énthong wrata, jåjå mungal, wětěng nglěmpet, tlapukan melèk, manik jějěg,

panděngan tajěm, toléhan, pacak gulu, ngruji, ngithîng, nyěmpurit, ngěpěl, někuk lěngkung, někuk berdiri, lurus, nglurus, někuk lěngkung nyiku, někuk melingkar

nyiku, ongkèk, ngěmbat, ukěl jugag, ukěl wětah, ngusap suryan, měthentèng

(malang kěrik), miwîr, njimpît udět sondhèr, nyatok udět sondhèr, kipat njimpît udět sondhèr, sěblak njimpît udět sondhèr, kipat cul, sěblak cul, ngrěgěm udět sondhèr, sampir udět sondhèr, nyangkol udět sondhèr, ridhong udět sondhèr,

miwîr sondhèr, nyrampang, nyriwîng, pupu mlumah, dhěngkul měgar, dlamakan

malang, haděg, měndhak, měndhak nglèyèk mapan, gědrug nglèrèg mapan,

nyèpak, kapang-kapang, pěndhapan, mancat, trisîg, ngoyog, ěncot,

wědhi-kèngsěr, kicat, ombak banyu, junjungan, ndawahakěn, ngunus, tayungan, sirîg, ěntrig, tanjak, thěklik.

Dapat dilihat di atas bahwa istilah sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta adalah istilah bahasa Jawa sehingga dibutuhkan pengajar tari yang sedikitnya dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris ataupun terjemahan dari istilah tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa bahasa Inggris menjadi bahasa internasional yang digunakan secara global. Akan tetapi, masih banyak

(4)

orang yang tidak dapat berkomunikasi aktif atau pasif dalam bahasa Inggris. Di sinilah peranan penerjemahan menjadi sangat penting. Penerjemahan deskripsi ataupun padanan istilah sikap dan gerak dasar tari klasik ke dalam bahasa Inggris sangat diperlukan karena dapat membantu pengajar tari berinteraksi dengan para pembelajar asing, sehingga pembelajar asing dapat lebih memahami makna atau maksud gerak tari tersebut.

Proses pencarian padanan istilah budaya ke dalam bahasa sasaran tidaklah mudah. Dibutuhkan metode penerjemahan yang dapat mengakomodir untuk mendapatkan padanan agar dapat diterima oleh pembaca bahasa sasaran. Seseorang yang menguasai bahasa sasaran (native speaker) pun dapat dijadikan sebagai sumber data untuk membantu dalam menemukan padanan kata. Sebab salah satu masalah serius yang dihadapi penerjemah dalam aktivitas penerjemahan ialah menerjemahkan kata atau ungkapan yang mengandung unsur sosial budaya yang sangat khas pada budaya bahasa sumber.

Munculnya masalah kenirpadanan dalam bahasa sasaran disebabkan karena tidak ada padanan kata atau frasa yang tepat yang langsung dapat digunakan untuk mengungkapkan kembali isi pesan yang terkandung dalam kata atau frasa bahasa sumber. Kata seperti rumah dalam bahasa Indonesia memiliki padanan langsung dalam bahasa Inggris, yaitu house, tetapi kata seperti keris tidak ditemukan dalam bahasa Inggris. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan cara pandang, adat istiadat, kepercayaan, perbedaan geografis, dan berbagai faktor lain.

(5)

Setiap proses pemberian nama apapun, baik itu manusia hingga benda sakral hasil olah rasa, karya, dan karsa manusia, pada umumnya terdapat motif atau alasan yang melatarbelakangi penamaan tersebut. Sebagai contoh istilah gerak tari klasik Gaya Yogyakarta di bawah ini:

(1) Kicat

Kamus Bausastra Djawa menuliskan kicat adalah krasa panas bangêt

(marga ndumuk ut. midak kang panasi) yaitu merasa kepanasan atau

merasa sangat panas/ panas sekali. Kemudian Mardawa (1983:86) menjelaskan bahwa kicat dalam istilah tari merupakan sikap badan dan kaki berdiri tegak dengan telapak kaki membujur dan jari-jari

nylêkênthîng. Jarak renggang antar telapak kaki dan lutut yaitu satu jari

tangan. Kemudian mendhak dan mulai menggerakkan kaki yaitu telapak kaki kanan diangkat digerakkan maju atau ke samping menapak setengah pecak (panjang kaki). Lalu telapak kaki kiri diangkat digerakkan maju menapak setengah pecak. Gerakan kicat ini dilakukan secara bergantian. Dapat disimpulkan bahwa cara menggerakan gerakan ini yaitu dengan cara mengangkat kaki bergantian dan agak dikejutkan. Inti gerakan ini adalah pada proses mengangkat kaki atau gerak dari efek terkena panas. (2) Ngruji

Ngruji berasal dari Ng + ruji. Ruji menurut Kamus Bausastra Djawa

memiliki arti (1) Wêsi, kayu lsp. sing kanggo iga-iganing cêndhelå,

pager, payung lsp. (2) Lar-larani rodhå (3) Lar-laraning cakran. Ruji

(6)

Sehingga ngruji merupakan gerakan yang menyerupai jari-jari roda. Sudarsono (1978:130), menyebutkan bahwa ngruji adalah posisi tangan dengan meluruskan keempat jari-jari ke atas, sedangkan ibu jari ditekuk ke arah telapak tangan. Posisi tangan ini terdapat pada tari gaya Yogyakarta, lazimnya dipergunakan untuk tangan sebelah kiri. Oleh karena itu dalam menerapkan gerakan ini haruslah dengan sempurna dan mantap karena ngruji diibaratkan sebagai ruji (jari-jari roda).

Dari data di atas jelas bahwa setiap penamaan istilah gerak tari klasik Gaya Yogyakarta mengandung arti ataupun makna. Makna tersebut muncul atas dasar latar belakang yang bisa disebabkan oleh lingkungan ataupun alam sekitar. Tidak sembarangan orang mengetahui arti dibalik penamaan tersebut. Hanya para

empu tari atau maestro tari yang dapat memahami makna-makna gerakan tari

klasik Gaya Yogyakarta. Namun, penulis menemukan beberapa data istilah sikap dan gerak tari klasik Gaya Yogyakarta yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh beberapa peneliti.

Molina dan Albir (2002: 507-508) mengartikan metode penerjemahan sebagai proses penerjemahan yang dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan penerjemah. Metode penerjemahan merupakan pilihan secara makro, yang mempengaruhi keseluruhan teks. Sementara (Setia, 2010 dalam Pantas, 2011:9), teknik penerjemahan adalah prosedur pengolahan teks secara lokal maupun individual yang beroperasi pada skala kecil (pada unit terjemahan) yang lebih kecil dari daripada teks dan digunakan untuk mencapai hasil linguistik yang nyata, misalnya transposisi, parafrase, dan penghilangan. Baik metode maupun teknik

(7)

berorientasi pada tujuan, sedangkan strategi berorientasi pada masalah, yaitu digunakan ketika penerjemah menyadari bahwa prosedur yang biasa tidak cukup untuk mencapai tujuan tertentu.

Setiap pakar memiliki istilah tersendiri dalam menentukan suatu teknik penerjemahan, sehingga cenderung tumpang tindih antara teknik dari seorang pakar satu dengan yang lainnya. Teknik yang dimaksud sama namun memiliki istilah yang berbeda. Dalam hal keberagaman tentunya hal ini bersifat positif, namun di sisi lain terkait penelitian akan menimbulkan kesulitan dalam menentukan istilah suatu teknik tertentu.

Teori yang digunakan dalam tesis ini yaitu teknik penerjemahan yang dikemukakan oleh Molina dan Albir. Teknik tersebut digunakan untuk menganalisis hasil terjemahan. Penulis menggunakan teknik yang dikemukakan Molina dan Albir ini dikarenakan telah melalui penelitian kompleks dengan mengacu dan membandingkan dengan teknik-teknik penerjemahan yang telah ada dari pakar penerjemahan sebelumnya.

Penulis mendapatkan data istilah dalam bahasa Inggris melalui buku

Dance Traditions and Change in Java (2008) oleh Felicia Hughes-Freeland dan

Classical Javanese Dance (1995) oleh Victoria M. Clara Van Groenendael.

Alasan penggunaan kedua buku tersebut dikarenakan terdapat data yang diperlukan yaitu mengkaji mengenai istilah sikap dan gerak dasar tari klasik dalam bahasa Inggris.

Penulis tertarik mengkaji penerjemahan istilah tari klasik Gaya Yogyakarta ke dalam bahasa Inggris ini karena belum ada yang meneliti. Selain

(8)

itu, untuk membantu pengajar atau pelatih tari klasik dalam mengajarkan tarian ke pembelajar asing sehingga dalam proses belajar mengajar akan ada suatu komunikasi bahasa yang baik. Juga penulis ingin mengetahui teknik penerjemahan yang terdapat dalam terjemahan istilah tari.

Penulis berharap penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, misalnya, digunakan dalam penyusunan kamus istilah khususnya yang berkaitan dengan gerak tari klasik Gaya Yogyakarta. Kemudian berangkat dari asumsi dan keprihatinan akan minimnya segi pengetahuan bahasa para pengajar tari tentang gerak tari klasik dalam bahasa Inggris, sehingga penulis ingin mengetahui seperti apa istilah-istilah sikap dan gerak tari tersebut dalam bahasa Inggris.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diterangkan sebelumnya, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

1.2.1. Bagaimana penerjemahan istilah sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris?

1.2.2. Bagaimana analisis hasil terjemahan istilah sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris?

(9)

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan berdasarkan rumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut.

1.3.1. Untuk mendeskripsikan penerjemahan istilah sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta dalam bahasa Inggris.

1.3.2. Untuk menganalisis hasil terjemahan istilah sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta ke dalam bahasa Inggris.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat yang dapat disumbangkan dari hasil penulisan ini tercakup ke dalam dua hal, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis dari penulisan ini yaitu untuk memberi pengetahuan dan pemahaman tentang teknik penerjemahan sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta dan hasil terjemahannya dalam bahasa Inggris. Selain itu, penulisan ini dapat memperkaya kepustakaan tentang bahasa dan budaya serta pada studi linguistik terapan yaitu pada ranah penerjemahan istilah budaya.

Adapun manfaat praktis dari penulisan ini yaitu memberi perhatian pada penamaan istilah khususnya di bidang seni tari. Di samping itu, hasil temuan dari penulisan ini dapat dijadikan sebagai referensi di dunia pengajaran seni tari. Sebab, pembelajar tari tidak hanya diajarkan gerakan secara visual saja tetapi dengan adanya komunikasi yang melibatkan makna dari gerakan tersebut akan menambah kesadaran dan pemahaman akan gerakan tersebut. Terjemahan dalam

(10)

bahasa Inggris pun bermanfaat bagi mereka yang akan mengajarkan tari kepada orang asing (native speaker) dan memudahkan pembelajar asing dalam menangkap gerakan tari sebab dia mendapatkan gambaran gerakan melalui interaksi bahasa.

1.5 Tinjauan Pustaka

Berdasarkan penelusuran penulisan yang serupa dengan topik ini, setidaknya terdapat beberapa penulisan yang telah dilakukan berkenaan dengan terjemahan yang dapat dijadikan kajian perbandingan maupun pendukung penulisan ini. Dalam tinjauan pustaka ini, penulis memfokuskan pada penulisan yang menyangkut terjemahan istilah budaya.

Tinjauan pertama yaitu ditulis oleh M. Hisyam Maliki dengan judul

Terjemahan Ungkapan Metaforis dan Istilah Budaya atas Karya Mochtar Lubis

'Senja di Jakarta' Terjemahan Claire Holt 'Twilight in Djakarta' (2016). Tesis ini

bertujuan mendeskripsikan teknik, metode, dan ideologi penerjemahan teks Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis dalam 'Twilight in Djakarta' terjemahan Claire Holt ke dalam teks bahasa Inggris. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data adalah teks novel Senja di Jakarta dan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Hasil penulisan sebagai berikut. Pertama, terjemahan ungkapan metaforis berisi teknik tunggal: (a) amplifikasi, (b) deskripsi, (c) penerjemahan harfiah, (d) modulasi, (e) partikulasi, (f) reduksi, (g) transposisi, dan (h) kesepadanan lazim, dan teknik ganda sebanyak 13 pasang. Sekaligus, terdapat tiga metode: literal, semantik, komunikatif. Kedua, penerjemahan istilah budaya mengandung teknik

(11)

tunggal yang berisi: (a) amplifikasi, (b) deskripsi, (c) penerjemahan harfiah, (d) modulasi, (e) partikulasi, (f) reduksi, (g) transposisi, (h) generalisasi, (i) kesepadanan lazim, dan teknik ganda sebanyak 6 pasang. Pun, terdapat tiga metode penerjemahan: literal, semantik, dan komunikatif. Ketiga, terdapat dua idiologi penerjemahan: (a) domestikasi berorientasi pada bahasa sasaran yang cenderung menggunakan metode komunikatif, dan (b) foreignisasi berorientasi dengan bahasa sumber dengan metode literal dan semantik. Secara umum, teknik, metode, dan idiologi berorientasi pada bahasa dan budaya sumber.

Dalam tinjauan pustaka selanjutnya, penulis menemukan dua penelitian yang menunjukkan hasil akhir yang hampir sama. Tinjauan tersebut adalah penelitian dari Ratna Danyati dalam jurnal Wanastra 2012, yang menulis artikel dengan judul Penerjemahan Kata-Kata Berkonsep Budaya Dalam Novel Anchee

Min “Empress Orchid” (Suatu Analisis Terjemahan Sastra) dan penelitian dari

P.A.P. Sudana M. D. S., dkk dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 2014, yang menulis artikel dengan judul Analisis Penerjemahan Istilah Budaya pada Novel

Negeri 5 Menara ke dalam Bahasa Inggris: Kajian Deskriptif Berorientasi Teori

Newmark. Kedua penelitian tersebut menunjukkan hasil yang hampir sama yaitu

mengenai pengkategorian istilah budaya dan prosedur penerjemahan. Di dalam jurnal Ratna terdapat 14 kategori ekologi, 18 kategori kebudayaan material, 6 kategori kebudayaan sosial, 12 kategori organisasi, dan 6 kategori kebiasaan. Kemudian, dalam Sudana menemukan 2 istilah kategori ekologi, 50 istilah kategori budaya material, 5 istilah kategori sosial budaya, 16 istilah organisasi, tradisi, aktivitas dan konsep, 2 istilah gerak tubuh atau kebiasaan. Pembahasan

(12)

yang kedua yaitu tentang prosedur penerjemahan. Sudana (2014) menemukan 7 prosedur yang digunakan oleh penerjemah. Yaitu kesepadanan deskriptif sebanyak 9 kali atau 12%, transferensi sebanyak 22 kali, kata generik sebanyak 22 kali atau 29%, calque sebanyak 1 kali, penjelasan tambahan sebanyak 3 kali, couplet dengan menggunakan kata generik dan kesepadanan deskriptif sebanyak 1. Dan terdapat 5 istilah budaya yang tidak diterjemahkan dari keseluruhan istilah budaya. Sedangkan Ratna (2012) menemukan prosedur penerjemahan dengan kata pinjaman dengan penjelasan terdapat 4 istilah dan ilustrasi terdapat 1 istilah.

Dari tinjauan pustaka di atas tampak adanya perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Perbedaan tersebut yaitu dari segi data, tujuan, dan hasil penelitian. Dalam penelitian yang dilakukan penulis, ia nantinya menyajikan tentang terjemahan sikap dan gerak dasar tari klasik Gaya Yogyakarta dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris.

1.6 Landasan Teori

1.6.1 Hakikat Penerjemahan

Menurut Hoed (2006:23) di Indonesia terdapat beberapa kaitan dengan istilah penerjemahan, terjemahan, penerjemah, dan juru bahasa. Kata dasar penerjemahan berasal dari bahasa Arab tarjammah yang maknanya adalah ihwal pengalihan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Penerjemahan adalah kegiatan mengalihkan secara tertulis pesan dari teks suatu bahasa

(13)

(misalnya bahasa Inggris) ke dalam teks bahasa lain (misalnya bahasa Indonesia).

Menurut Larson (1989:2) penerjemahan merupakan pengalihan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Pengalihan ini dilakukan dari bentuk bahasa pertama ke dalam bentuk bahasa kedua melalui struktur semantik. Menerjemahkan menurut Larson berarti:

1) Mempelajari leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi, dan konteks budaya dari teks bahasa sumber.

2) Menganalisis teks bahasa sumber untuk menemukan maknanya.

3) Mengungkapkan kembali makna yang sama itu dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatikal yang sesuai dalam bahasa sasaran dan konteks budayanya.

Sedangkan menurut Newmark (1981:7) (translation is a craft

consisting in the attempt to replace a written message and/or statement in on

language by the same message and/or statement in another language).

Penerjemahan sebagai suatu seni yang muncul dari usaha seseorang untuk menggantikan pesan atau pernyataan tertulis dalam satu bahasa ke dalam pesan atau pernyataan yang sama dengan bahasa yang berbeda, seperti yang ia jelaskan dalam bukunya; Approaches to Translation (1981). Ia juga menganggap penerjemahan sebagai salah satu hal yang unik yang bisa digunakan oleh seseorang dalam menyampaikan pesan kebahasaan kepada orang lain yang dituju dengan bahasa yang berbeda. Tidak hanya itu, ia juga menambahkan definisi penerjemahan dalam A Textbook of Translation

(14)

(1988:xi), ia menganggap penerjemahan itu sendiri dapat berarti menerjemahkan suatu makna teks ke dalam bahasa lain sesuai dengan keinginan pengarang teks tersebut, yaitu suatu pengalihan makna yang sudah pasti, yang ada dalam suatu teks dari bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa).

Newmark (1991:27) menganggap bahwa penerjemahan sebagai pengalihan makna, baik sebagian maupun dalam unit suatu bahasa. Keseluruhan maupun sebagian teks dari satu bahasa kedalam bahasa yang lain. Penulisan penerjemahan ini terutama akan berpegang pada teori penerjemahan berdasarkan makna yang diajukan Larson, dan akan didukung oleh teori Nida dan Taber. Nida (1974:13) berpendapat bahwa dalam penerjemahan, makna adalah hal utama yang akan dialihkan dan untuk itu sering penerjemah harus mengubah sudut pandangnya berdasarkan sudut pandang bahasa sasaran. Untuk mendapatkan makna yang paling sepadan tersebut diperlukan berbagai upaya penyesuaian gramatikal dan leksikal.

Definisi-definisi mengenai penerjemahan di atas merujuk pada pentingnya pengungkapan makna atau pesan yang dimaksud dalam wacana asli. Pada penerjemahan, pesan penulis harus tetap dijaga dan dikomunikasikan kepada pembaca terjemahan, isi teks bahasa sasaran (Tsa) harus sama dengan teks bahasa sumber (Tsu) sehingga pesan yang dimaksud dalam bahasa sumber (Bsu) dapat dipahami oleh pembaca bahasa sasaran (Bsa) walaupun bentuknya mungkin berbeda. Jadi, sepadan dalam hal ini bukan berarti sama, melainkan mengandung pesan yang sama.

(15)

Dari uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa penerjemahan bukanlah sesuatu yang sederhana, bukan sebatas mengalihbahasakan dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain dan bukan pula pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja tanpa dipelajari. Tetapi dengan sering menerjemahkan akan membuat penerjemah menjadi lebih berpengalaman.

1.6.2 Teknik Penerjemahan

Teknik penerjemahan adalah cara yang digunakan untuk mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, diterapkan pada tataran kata, frasa, klausa maupun kalimat. Dengan kata lain, teknik penerjemahan adalah cara yang digunakan untuk melihat penerjemahan teks sumber ke teks sasaran secara mikro sebagai prosedur yang digunakan untuk mengklasifikasikan kesepadanan hasil terjemahan. Kaitannya dengan hal ini, penulis menggunakan pembagian teknik penerjemahan Molina dan Albir (2002), mengandung dua pembagian teknik besar cara menerjemah.

Pertama, teknik tunggal. Teknik tunggal yaitu penerjemah hanya memanfaatkan satu teknik terjemahan di antara 18 teknik, yakni (1) adaptasi, (2) amplifikasi, (3) peminjaman, (4) kalke, (5) kompensasi, (6) deskripsi, (7) kreasi diskursif, (8) kesepadanan lazim, (9) generalisasi, (10) amplifikasi linguistik, (11) kompresi linguistik, (12) penerjemah harfiah, (13) modulasi, (14) partikulasi, (15) subtitusi, (16) reduksi, (17) transposisi, dan (18) variasi. Kedua, teknik ganda. Teknik ganda yaitu penerjemah memanfaatkan teknik lebih dari satu dari 18 pembagian, seperti couplet (dua teknik), triplet

(16)

(tiga teknik), dan kwartet (tiga teknik). Berikut 18 teknik penerjemahan Molina dan Albir:

1.6.2.1. Adaptasi (adaptation)

Teknik ini dikenal dengan teknik adaptasi budaya. Teknik ini dilakukan dengan mengganti unsur-unsur budaya yang ada pada BSu dengan unsur budaya yang mirip dan ada pada BSa. Hal tersebut dapat dilakukan karena unsur budaya dalam BSu tidak ditemukan dalam BSa, ataupun unsur budaya pada BSa tersebut lebih akrab bagi pembaca sasaran. Teknik ini sama dengan teknik padanan budaya.

Contoh:

BSu Bsa

as white as snow seputih kapas

1.6.2.2. Amplifikasi (amplification)

Teknik penerjemahan dengan mengeksplisitkan atau memparafrase suatu informasi yang implisit dalam BSu. Teknik ini sama dengan eksplisitasi, penambahan, parafrasa eksklifatif. Catatan kaki merupakan bagian dari amplifikasi. Teknik reduksi adalah kebalikan dari teknik ini. Contoh:

BSu Bsa

(17)

1.6.2.3. Peminjaman (borrowing)

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan meminjam kata atau ungkapan dari BSu. Peminjaman itu bisa bersifat murni (pure borrowing) tanpa penyesuaian atau peminjaman yang sudah dinaturalisasi (naturalized borrowing) dengan penyesuaian pada ejaan ataupun pelafalan. Kamus resmi pada BSa menjadi tolok ukur apakah kata atau ungkapan tersebut merupakan suatu pinjaman atau bukan.

Contoh:

BSu Bsa Peminjaman

Mixer Mixer murni

Mixer Mikser alamiah

1.6.2.4. Kalke (calque)

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa atau kata BSu secara literal. Teknik ini serupa dengan teknik penerimaan (acceptation).

Contoh:

BSu Bsa

Directorate General Direktorat Jendral

assistant manager asisten manajer

1.6.2.5. Kompensasi (compensation)

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan menyampaikan pesan pada bagian lain dari teks terjemahan. Hal ini dilakukan karena pengaruh

(18)

stilistik (gaya) pada BSu tidak bisa di terapkan pada BSa. Teknik ini sama dengan teknik konsepsi.

Contoh:

BSu Bsa

A pair of scissors Sebuah gunting

1.6.2.6. Deskripsi (description)

Teknik penerjemahan yang dilterapkan dengan menggantikan sebuah istilah atau ungkapan dengan deskripsi bentuk dan fungsinya.

Contoh:

BSu Bsa

panettone kue tradisional Italia yang

dimakan pada saat Tahun Baru

1.6.2.7. Kreasi diskursif (discursive creation)

Teknik penerjemahan dengan penggunaan padanan yang keluar konteks. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian calon pembaca. Teknik ini serupa dengan teknik proposal.

Contoh:

BSu Bsa

The Godfather Sang Godfather

1.6.2.8. Padanan lazim (establish equivalence)

Teknik dengan penggunaan istilah atau ungkapan yang sudah lazim (berdasarkan kamus atau penggunaan sehari-hari). Teknik ini mirip dengan penerjemahan harfiah.

(19)

Contoh:

BSu Bsa

Ambiguity ambigu

1.6.2.9. Generalisasi (generalization)

Teknik ini menggunakan istilah yang lebih umum pada BSa untuk BSu yang lebih spesifik. Hal tersebut dilakukan karena BSa tidak memiliki padanan yang spesifik. Teknik ini serupa dengan teknik penerimaan (acceptation).

Contoh:

BSu Bsa

Penthouse, mansion Tempat tinggal

1.6.2.10. Amplifikasi linguistik (linguistic amplification)

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan menambahkan unsur-unsur linguistik dalam BSa. Teknik ini lazim diterapkan pada pengalihbahasaan konsekutif dan sulih suara.

Contoh:

BSu Bsa

No way De ninguna de las maneras

(Spain)

1.6.2.11. Kompresi linguistik (linguistic compression)

Teknik yang dilakukan dengan mensintesa unsur-unsur linguistik pada BSa. Teknik ini merupakan kebalikan dari teknik amplifikasi linguistik.

(20)

Teknik ini lazim digunakan pada pengalihbahasaan simultan dan penerjemahan teks film.

Contoh:

BSu Bsa

Yes so what? Y? (Spain)

1.6.2.12. Penerjemahan harfiah (literal translation)

Teknik yang dilakukan dengan cara menerjemahkan kata demi kata dan penerjemah tidak mengaitkan dengan konteks.

Contoh:

BSu Bsa

Killing two birds with one stone. Membunuh dua burung dengan

satu batu

1.6.2.13. Modulasi (modulation)

Teknik penerjemahan yang diterapkan dengan mengubah sudut pandang, fokus atau kategori kognitif dalam kaitannya dengan BSu. Perubahan sudut pandang tersebut dapat bersifat leksikal atau struktural.

Contoh:

BSu Bsa

Nobody doesn’t like it Semua orang menyukainya

(21)

Teknik penerjemahan dimana penerjemah menggunakan istilah yang lebih konkrit, presisi atau spesifik, dari superordinat ke subordinat. Teknik ini merupakan kebalikan dari teknik generalisasi.

Contoh:

BSu Bsa

air transportation pesawat

1.6.2.15. Reduksi (reduction),

Teknik yang diterapkan dengan penghilangan secara parsial, karena penghilangan tersebut dianggap tidak menimbulkan distorsi makna. Dengan kata lain, mengimplisitkan informasi yang eksplisit. Teknik ini kebalikan dari teknik amplifikasi.

Contoh:

BSu Bsa

SBY the president of republic of Indonesia

SBY

1.6.2.16. Subsitusi (subsitution)

Teknik ini dilakukan dengan mengubah unsur-unsur linguistik dan paralinguistik (intonasi atau isyarat). Contoh: Bahasa isyarat dalam bahasa Arab, yaitu dengan menaruh tangan di dada diterjemahkan menjadi Terima kasih.

(22)

1.6.2.17. Transposisi (transposition)

Transposisi merupakan teknik penerjemahkan dengan mengubah kategori gramatikal. Teknik ini sama dengan teknik pergeseran kategori, struktur dan unit. Kata kerja dalam teks bahasa sumber, misal, diubah menjadi kata benda dalam teks bahasa sasaran. Teknik pergeseran struktur lazim diterapkan jika struktur bahasa sumber dan bahasa sasaran berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, pergeseran struktur bersifat wajib. Sifat wajib dari pergeseran struktur tersebut berlaku pada penerjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia untuk menghindari interferensi gramatikal yang dapat menimbulkan terjemahan tidak berterima dan sulit dipahami.

Pergeseran kategori merujuk pada perubahan kelas kata bahasa sumber dalam bahasa sasaran, dan dalam banyak kasus, pergeseran kelas kata dapat bersifat wajib (obligatory) dan bebas (optional). Pergeseran kategori yang bersifat wajib dilakukan sebagai upaya untuk menghindari distorsi makna, sedangkan pergeseran kategori yang bersifat bebas pada umumnya diterapkan untuk memberikan penekanan topik pembicaraan dan untuk menunjukkan preferensi stilistik penerjemah.

Pergeseran unit merujuk perubahan satuan lingual bahasa sumber dalam bahasa sasaran. Pergeseran unit yang dimaksudkan dapat berbentuk pergeseran dari unit yang rendah ke unit yang lebih tinggi dan dari unit yang tinggi ke unit yang lebih rendah. Bahkan pergeseran tersebut dapat pula berupa pergeseran dari konstruksi yang kompleks ke

(23)

konstruksi yang sederhana, dan dari konstruksi yang sederhana ke konstruksi yang kompleks.

Penerapan dari teknik pergeseran ini dilandasi oleh suatu konsepsi atau pemahaman berikut ini. Pertama, penerjemahan selalu ditandai oleh pelibatan dua bahasa, yaitu bahasa sumber dan bahasa sasaran. Bahasa sumber dan bahasa sasaran tersebut pada umumnya berbeda satu sama lain baik dalam hal struktur maupun budayanya. Dalam kaitan itu, perubahan struktur sangat diperlukan. Kedua, dalam konteks pemadanan, korespondensi satu lawan satu tidak selalu bisa dicapai sebagai akibat dari adanya perbedaan dalam mengungkapkan makna atau pesan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Dalam kondisi yang demikian diperlukan pergeseran unit. Ketiga, penerjemahan dipahami sebagai proses pengambilan keputusan dan suatu keputusan yang diambil oleh penerjemah dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti kompetensi yang dimilikinya, kreativitasnya, preferensi stilistiknya dan pembacanya.

Teknik transposisi dalam bentuk pergeseran struktur merupakan teknik yang paling lazim diterapkan apabila struktur bahasa sasaran berbeda dari struktur bahasa sumber. Karena struktur bahasa Inggris dan struktur bahasa Indonesia berbeda, pergeseran struktur menjadi bersifat wajib (obligatory) agar terjemahan yang dihasilkan sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.

(24)

BSu Bsa

adept Sangat terampil

1.6.2.18. Variasi (variation)

Teknik dengan mengganti elemen linguistik atau paralinguistik (intonasi, isyarat) yang berdampak pada variasi linguistik yaitu misalnya perubahan tekstual, gaya bahasa, dialek sosial, dialek geografis. Teknik ini lazim diterapkan dalam menerjemahkan naskah drama.

1.7 Metode Penulisan

Berdasarkan tujuan penelitian, maka penulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Kajian pustaka menjadi perhatian utama pada terjemahan istilah dan prosedur penerjemahan. Dalam pelaksanaannya, metode penulisan yang digunakan dalam penulisan ini terdiri dari empat bagian, yaitu sumber data, metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Berikut tahapan dalam penulisan ini.

1.7.1 Sumber Data

Sumber data penulisan ini adalah buku yang berjudul Tuntunan Pelajaran

Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang disusun oleh SMKI Yogyakarta dan RL.

Sasmintamardawa (1983). Sumber data ini menyediakan data istilah sikap dn gerak tari klasik Gaya Yogyakarta. Kemudian, sumber data untuk mendapatkan terjemahan bahasa Inggris yaitu menggunakan buku berjudul Dance Traditions

(25)

and Change in Java oleh Felicia Hughes-Freeland (2008) dan Classical Javanese

dance oleh Clara Brakel-Papenhuyzen (1995).\

1.7.2 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah simak atau observasi dengan memanfaatkan teknik bebas libat cakap. Menurut Kesuma, (2007: 44) teknik penjaringan data ini terbagi atas teknik dasar dan teknik lanjutan. Pertama, menyimak penggunaan bahasa baik lisan ataupun tulis. Kedua, sebagai teknik lanjutan, yakni teknik catat yang digunakan sebagai hasil pengamatan setelah menjaring data tertulis. Berlandaskan definisi Kesuma, langkah-langkah pengumpulan data penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Membaca buku Tuntunan Pelajaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta dengan seksama dan mengkhususkannya pada istilah sikap dan gerak tari. Selanjutnya mencari terjemahan dalam Dance Traditions and

Change in Java, Classical Javanese dance, dan Jaranan: The Horse

Dance and Trance in East Java.

2) Setelah itu, data akan dipilih berdasarkan pengamatan dengan cara mengaplikasikan metode observasi beserta teknik bebas libat cakap. 3) Hasil data pengamatan diklasifikasikan pada lampiran tersendiri. 4) Hasil data yang telah dipilih akan dianalisa sebagai tahap lanjutan,

(26)

1.7.3 Metode Analisis Data

Dalam tesis ini, penulis menampilkan penerjemahan bahasa Inggris dari istilah tari dan analisis teknik penerjemahan yang terlibat dalam menerjemahkannya. Sehingga dalam analisis data, penulis menggunakan metode padan translasional dan penerjemahan. Metode padan translasional ini memiliki karakteristik alat penentu berada diluar bahasa (langue) yang diteliti (Kesuma, 2007: 49). Dari penjelasan ini, penentuan klasifikasi data terpilih akan diklasifikasikan berdasarkan istilah dari bahasa sumber, bahasa Jawa, dalam buku Tuntunan Pelajaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan bahasa sasaran, bahasa Inggris, pada buku Dance Traditions and Change in

Java, Classical Javanese dance, dan Jaranan: The Horse Dance and Trance

in East Java. Kemudian, untuk analisis metode penerjemahannya, penulis

menggunakan teknik penerjemahan Molina dan Albir.

Dari penjelasan tersebut di atas, berikut adalah langkah-langkah melakukan analisisnya:

1) Mengelompokkan istilah tari dalam BSu dan mencari padanannya dalam BSa.

2) Mendata hasil terjemahan istilah tari BSu pada BSa.

3) Menarik kesimpulan atas terjemahan istilah sikap dan gerak tari. 4) Mengadakan verifikasi data kepada penutur Inggris atau penutur

(27)

5) Menganalisis hasil terjemahan istilah tari dari BSu ke BSa berdasarkan teknik usulan Molina dan Albir (2002).

6) Dari hasil analisis dilanjutkan pencarian teknik penerjemahan dari BSu ke BSa

1.7.4 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Kesuma (2007:71) juga menyatakan bahwa ada dua cara untuk menyajikan hasil analisis data, yaitu secara formal dan informal. Penyajian data secara informal dilakukan dengan menggunakan kata-kata biasa yang dapat langsung dipahami, sedangkan penyajian data secara formal dilakukan dengan sebuah kaidah. Adapun hasil dari analisis penulisan ini akan disajikan dalam bentuk informal, yaitu berupa deskripsi. Kemudian gambar atau foto hanya sebagai pendukung saja dalam mendeskripsikan.

1.8 Sistematika Penulisan

Laporan penulisan akan disajikan dengan sistematika berikut.

BAB I : Menyajikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penulisan dan sistematika laporan penulisan.

BAB II : Menjawab rumusan masalah pertama dengan mendeskripsikan hasil penerjemahan sikap dan gerak tari klasik Gaya Yogyakarta dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris.

(28)

BAB III : Menjawab rumusan masalah kedua dengan mendeskripsikan teknik penerjemahan istilah sikap dan gerak tari klasik Gaya Yogyakarta dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :