• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

478

MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

AHMAD KHATIB RIDHANI

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang [email protected]

Abstrak: Di sekolah mana pun dan dengan kualitas apapun, siswa adalah amanah yang harus dijaga. Sekolah unggul sekolah yang memiliki guru professional. Disamping itu sekolah yang unggul harus memiliki sistem pembelajaran yang baik, sehingga dapat mencetak murid yang unggul di bidang akademik maupun non akademik. Dalam hal ini sekolah/instansi sangat berperan untuk memanajemen pembelajaran yang baik. Guru memiliki peranan penting dalam perncanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar di sekolah, sehingga menuntut sekolah untuk selalu berinovasi dan memperbaiki manajemen pembelajaran. Artikel ini membahas bagaimana cara menyusun, memperbaiki manajemen pembelajaran di Sekolah.

Kata kunci: manajemen pembelajaran, Sekolah.

Jumlah guru yang banyak di suatu sekolah, tetapi tidak banyak guru yang mampu menjalankan peran dan fungsinya secara memadai. Hal ini disebabkan banyak hal, salah satunya dari factor personal guru itu sendiri. Akan tetapi, tidak mentup kemungkinan permasalahan datang dari fasilitas, kultur sosial sekolah setempat, atau sistem pendidikan yang kurang baik. Dari berbagi sumber masalah tersebut, permasalahan yang acapkali langsung dialami oleh guru ialah berkaitan dengan manajemen kelas. Realitasnya, dengan beragam karakter, kepribadian, dan kondisi para peserta didik, menciptakan situasi yang tidak sederhana dan mudah dikendalikan.

Pada kenyataannya, dengan berbagai macam kondisi tersebut, guru dituntut mampu mengelola kelas demi keefektifan dan keoptimalan proses belajar mengajar. Untuk itu, guru seyogianya membekali diri dengan kemampuan strategi manajemen kelas. Jika guru cermat dan pandai memanajemen kelas dengan baik, proses belajar mengajar akan menjadi terarah, terencana, dan terkemas secara efektif dan optimal. Pada dasarnya, konsep mengenai manajemen tidak hanya mencakup soal tata aturan, tetapi pula kesadaran tentang tanggung jawab masing-masing, baik peserta didik maupun guru.

Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru selain berperan sebagai pemimpin belajar (learning leader), juga sekaligus seorang manajer kelas. Peran guru sebagai seorang manajer kelas tidak boleh dipandang sebelah mata. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola kelas. Hal itu disebabkan kelas merupakan lingkungan belajar yang menjadi bagian dari lingkungan yang perlu diorganisasi.

Jika kondisi kelas semrawut, tanpa penataan yang baik serta berbagai saran yang dimilikinya kurang memadai, tentu akan menghambat ketercapaian kegiatan belajar-mengajar. Sebaliknya, jika kelas diekelola dengan baik, sangat dimungkinkan keberhasilan kegiatan belajar-mengajar akan tercapai.

(2)

479

Sebagai sebuah profesi, guru mempunyai tugas yang sangat kompleks. Terutama apabila seorang guru sudah berada di dalam sebuah kelas. Ia akan menghadapi banyak peserta didik yang memiliki karakter beragam. Ketika berinteraksi dengan peserta didik di kelas, adakalanya ia menemukan hal baik dan hal buruk, menemukan peserta didik yang pandai dan juga kurang pandai. Tentu suatu keadaan yang positif akan mempermudah pekerjaan guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar bagi peserta didiknya, sedangkan keadaan yang negatif pastilah akan membuat guru merasa kesulitan dalam membelajarkan peserta didiknya.

Guru dengan segala kompetensinya dituntut untuk mempertahankan keadaan yang positif dalam belajar sekaligus dituntut untuk mengubah keadaan yang negatif dalam belajar di kelas. Itulah sebabnya seorang guru dituntut untuk dapat mengetahui dan memahami prinsip belajar serta dapat menguasai berbagai keterampilan mengajar untuk modal awal yang harus dimiliknya sebagai seorang manajer kelas.

Sebagai sebuah lembaga, sekolah seyogyanya memiliki sistem dan regulasi pembelajaran yang baik. Salah satu tolak ukur baik atau tidaknya sebuah lembaga pendidikan dilihat dari manajemen, tenaga pendidik, serta output yang ada dihasilkan. Bahasan makalah ini meliputi: manajemen sekolah, manajemen pendidikan, serta karakteristik guru profesional.

Manajemen Sekolah

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal di Indonesia harus dapat menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang mampu bersaing di era global yang akan banyak diminati oleh pengguna lembaga pendidikan karena mampu merespons runtutan dan kebutuhan masyarakat secara luas. Untuk itu, sekolah harus secepatnya berbenah diri menjadi sekolah unggul yang efektif dalam merespons perkembangan pendidikan dan tuntutan pengguna pendidikan. Agar menjadi lembaga pendidikan yang ungguk dan berdaya saing tinggi serta diminati oleh masyarakat, sekolah harus mulai berbenah diri yang berorientasi pada kebutuhan dan tuntutan dunia global tanpa menghilangkan eksistensinya sebagai bangsa dan negara yang berkarakter mulia.

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasanya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan efisien. Dalam kerangka inilah manajemen yang harus dikuasai oleh pengelola pendidikan sehingga dapat mengatur dan melaksanakan pendidikan dan pembelajaran secara efektif dan efisien, baik mulai perncanaan, pengorganisasian, pemberdayaan sumber daya yang ada, pengawasan, dan pertanggungjawaban.

Manajemen pendidikan pada hakikatnya adalah suatu proses penataan kelembagaan pendidikan yang melibatkan sumber daya manusia dan nonmanusia dalam menggerakkannya untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Proses penataan ini akan melibatkan pelaksanaan beberapa fungsi manajemen yang oleh pakar manajemen pendidikan sering disebut sebagai POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling) (Mutohar, 2013: 34). Proses manajemen ini harus dilaksanakan dengan baik agar mutu pendidikan dapat

(3)

480

dikendalikan oleh sekolah. Dalam meningkatkan mutu pendidikan, sangat diperlukan kemampuan manajerial kepala sekolah agar mampu membuat perencanaan mutu, mengorganisasikan, menggerakkan, dan melaksanakan fungsi kontrol terhadap seluruh kegiatan yang telah direncakan dan dilaksanakan di sekolah.

Teori manajemen mempunyai peran dalam membantu menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktifitas, dan kepuasan. Karakteristik teori manajemen secara garis besar dapat dinyatakan, mengacu pada pengalaman empirik, adanya keterkaitan antara satu teori dengan teori lain, dan mengakui kemungkinan adanya penolakan. Proses manajemen yang bisa dilaksanakan dalam lembaga pendidikan adalah planning, organizing, actuating,

controlling (POAC).

Empat proses ini digambarkan dalam bentuk siklus karena adanya keterkaitan antara proses yang pertama dan berikutnya. Begitu juga setelahnya pelaksanaan

controlling akan mendapatkan feedback yang bisa dijadikan sebagai masukan atau

dasar untuk membuat planning baru. Perencanaan merupakan sebuah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan pada suatu periode tertentu guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Anderson dan Bowman menjelaskan bahwa perencanaan adalah proses mempersiapkanseperangkat keputusan bagi perbuatan di masa datang (Gordon, 1990:82). Perencanaan memegang peranan penting dalam proses manajemen, sebab dari inilah seperangkat keputusan bisa diambil dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Pengorganisasian adalah fungsi manajemen dan merupakan suatu proses yang dinamis. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai proses penentuan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan, pengelompokkan tugas-tugas dan mebagi-bagikan pekerjaan kepada setiap personalia, penetapan departemen-departemen serta penentuan hubungan-hubungan. Organizing berasal dari kata Organize yang berarti menciptakan struktur dan bagian-bagian yang diintegrasikan sedemikian rupa sehingga hubungannya satu sama lain saling terkait dalam keseluruhannya.

Kegiatan menyusun sebagai elemen sebuah lembaga pendidikan maupun instansi merupakan kegiatan manajemen yang secara khusus disebut sebagai pengorganisasian. Hal ini makin memperjelas bahwa di antara fungsi manajemen adalah menyusun dan membentuk berbagai hubungan kerja dari berbagai unit

Planning

Organizing

Actuating Controlling

(4)

481

untuk menjadi sebuah tim yang solid. Tim yang solid akan memberi kekuatan, apabila terjadi kesatuan kekuatan dari berbagai elemen sistem untuk mencapai tujuan dalam suatu lembaga maupun organisasi, manajemen dianggap berhasil.

Pengorganisasian dalam lembaga pendidikan mempunyai posisi yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Proses pengorganisasian ini akan menentukan sebuah teamwork yang baik. Hal ini disebabkan pengorganisasian pada hakikatnya, antara lain (a) penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai organisasi, (b) proses perancangan dan pengembangan suatu organisasi yang akan membawa hal-hal tersebut ke arah tujuan, (c) penugasan tanggung jawab tertentu, (d) pendelegasian wewenang yang diperlukan kepad individu-individu untuk melaksanakan tugas-tugasnya (Hadiyanto, 2004: 24).

Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi lembaga pendidikan. Pelaksanaan tidak lain upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas, dan tanggung jawabnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam (actuating) pelasanaan adalah seorang staf dan guru akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan, (2) yakin pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya, (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting atau mendesak, (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan, dan (5) hubungan antarteman dalam lembaga pendidikan yang harmonis.

Pengawasan (controlling) atau juga bisa disebut dengan pengendalian merupakan bagian akhir dari fungsi manajemen. Fungsi manajemen yang dikendaliakn adalah perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan atau pelaksanaan, dan pengendalian itu sendiri. Dalam berbagai kasus peningkatan mutu pendidikan terdapat kasus masih lemahnya pelaksanaan pengendalian sehingga terjadi berbagai penyimpangan anatara yang direncanakan dengan yang dilaksanakan. Oleh karena itu, pengawasan memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas kerja organisasi sekolah sehingga terdapat kesesuaian antara apa yang telah direncanakan dengan pelaksanaannya serta hasil yang diperoleh.

Pengawasan dalam lembaga pendidikan proses pemantauan, penilaian, dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk tindak korektif guna untuk penyempurnaan lebih lanjut dalam meningkatkan mutu pendidikan. Proses pengawasan paling terdiri dari lima tahap, yaitu: (1) penetapan standar pelaksanaan, (2) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan, (3) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata, (4) perbandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisisan penyimpangan-penyimpangan, dan (5) pengembangan tindakan koreksi bila perlu.

(5)

482 Manajemen Pembelajaran

Manajemen pembelajaran pada hakekatnya mempunyai pengertian yang hampir sama dengan manajemen pendidikan. Namun, ruang lingkup dan bidang kajian manajemen pembelajaran merupakan bagian dari manajemen sekolah dan juga merupakan ruang lingkup bidang kajian manajemen pendidikan.

Namun demikian, manajemen pendidikan mempunyai jangkauan yang lebih luas daripada manajemen sekolah dan manajemen pembelajaran. Dengan perkataan lain, manajemen pembelajaran merupakan elemen dari manajemen sekolah sedangkan manajemen sekolah merupakan bagian dari manajemen pendidikan, atau penerapan manajemen pendidikan dalam organisasi sekolah sebagai salah satu komponen dari system pendidikan yang berlaku.

Manajemen pembelajaran dapat didefinisikan sebagai usaha mengelola

(me-menej) lingkungan belajar dengan sengaja agar seseorang belajar berprilaku tertentu

dalam kondisi tertentu. Jadi, menajemen pembelajaran terbatas pada satu unsure manajemen sekolah saja, sedangkan manajemen pendidikan meliputi seluruh komponen system pendidikan, bahkan bisa menjangkau system yang lebih luas dan besar secara regional, nasional, bahkan internasional (Mulyasa, 2002:39).

Dalam manajemen pembelajaran, yang bertindak sebagai manajer adalah guru atau pendidik. Sehingga dengan demikian, pendidik memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan beberapa langkah kegiatan manajemen yang meliputi merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengendalikan (mengarahkan) serta mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.

Pada kegiatan merencanakan pembelajaran, pendidik menentukan tujuan pembelajaran, yakni tujuan yang ingin dicapai setelah terjadinya proses-kegiatan pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari aspek, yaitu apa yang dilakukan peserta didik dan apa yang dilakukan pendidik. Oleh karena itulah, untuk mendapatkan proses pembelajaran yang berkualitas dan maksimal, maka dibutuhkan adanya perencanaan.

Perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan hasil berpikir secara rasional, tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu – perubahan tingkah laku peserta didik setelah melalui pembelajaran— serta upaya yang harus dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut. Konkretnya, dalam perencanaan pembelajaran ini pendidik membuat perangkat pembelajaran.

Pada kegiatan mengorganisasikan pembelajaran, pendidik mengumpulkan dan menyatukan berbagai macam sumber daya dalam proses pembelajaran; baik pendidik, peserta didik, ilmu pengetahuan serta media belajar. Dan dalam waktu yang sama, mensinergikan antara berbagai sumberdaya yang ada dengan tujuan yang akan dicapai.

Pada kegiatan mengendalikan (mengarahkan) pembelajaran, pendidik melaksanakan rencana kegiatan pembelajaran yang telah dibuat di awal dalam perangkat pembelajaran, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pada kegiatan mengevaluasi pembelajaran, pendidik melakukan penilaian (evaluasi) terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Dalam kegiatan menilai itu lah pendidik dapat menemukan bagaimana proses berlangsungnya pembelajaran serta sejauh mana tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sehingga kemudian dapat menemukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berikutnya.

(6)

483

Melalui kegiatan mengevaluasi pembelajaran ini kemudian dapat dilakukan upaya perbaikan pembelajaran.

Manajemen pembelajaran merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Sehingga dalam manajemen pembelajaran pun memiliki beberapa kegiatan dan hal-hal penting untuk diperhatikan. Beberapa bagian terpenting dalam manajemen pembelajaran tersebut antara lain: penciptaan lingkungan belajar, mengajar dan melatihkan harapan kepada peserta didik, meningkatkan aktivitas belajar, dan meningkatkan kedisiplinan peserta didik. Disamping itu, dalam penyusunan materi diperlukan juga rancangan tugas ajar dalam ranah psikomotorik, dan rancangan tugas ajar dalam ranah afektif, selain rancangan tugas ajar dalam ranah kognitif tentunya.

Guru Profesional

Seorang guru mesti menguasai dua konsep dasar, yaitu kepengajaran (pedagogi) dan kemimipinan. Guru harus mengerti dan bisa memperaktikkan konsep pedagogi yang efektif agar tujuan pendidikan tercapai. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa kondisi tiap zaman berbeda. Begitu pula kondisi tiap daerah. Banyak sekali faktor yang berpengaruh pada keberhasilan pendidikan. Guru saat ini haruslah senantiasa up-to-date terhadap perkembangan ilmu pedagogi. Misalnya, konsep teaching centered learning sudah tidaj teoat dipraktikkan saat ini. Sudah saatnya pola teaching centered learning digeser menjadi student centered learning.

Pendidikan yang baik, sebagaimana yang diharpkan oleh masyarakat modern dewasa ini dan sifatnya yang selalu menantang, mengharuskan adanya pendidik yang profesional. Hal ini berarti bahwa di masyarakat diperlukan pemimpin yang baik, di rumah diperlukan orang tua yang baik dan di sekolah dibutuhkan guru yang profesional. Akan tetapi, dengan ketiadaan pegangan tentang persyaratan pendidikan profesioal, maka hal ini menyebabkan timbulnya bermacam-macam tafsiran orang tentang arti guru yang baik, tegasnya guru yang profesional.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa, Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang professional meliputi:

1. Kompetensi Paedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. (Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir a). Artinya guru harus mampu mengelola kegiatan pembelajaran, mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Guru harus menguasi manajemen kurikulum, mulai dari merencanakan perangkat kurikulum, melaksanakan kurikulum, dan mengevaluasi kurikulum, serta memiliki pemahaman tentang psikologi pendidikan, terutama terhadap kebutuhan dan perkembangan peserta didik agar kegiatan pembelajaran lebih bermakna dan berhasil guna.

2. Kompetensi Personal, adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. (SNP, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir b). Artinya guru memiliki sikap

(7)

484

kepribadian yang mantap, sehingga mampu menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Dengan kata lain, guru harus memiliki kepribadian yang patut diteladani, sehingga mampu melaksanakan tri-pusat yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri

Handayani. (di depan guru member teladan/contoh, di tengah memberikan

karsa, dan di belakang memberikan dorongan/motivasi).

3. Kompetensi Profesional, adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir c). Artinya guru harus memiliki pengetahuan yang luas berkenaan dengan bidang studi atau subjek

matter yang akan diajarkan serta penguasaan didaktik metodik dalam arti

memiliki pengetahuan konsep teoretis, mampu memilih model, strategi, dan metode yang tepat serta mampu menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang kurikulum, dan landasan kependidikan.

4. Kompetensi Sosial, adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. (SNP, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir d). Artinya ia menunjukkan kemampuan berkomunikasi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesama teman guru, dengan kepala sekolah bahkan dengan masyarakat luas.

Sesuai dengan Undang-undang yang disusun oelh pemerintah, maka menjadi sebuah kewajiban bagi para guru untuk memiliki empat kompetensi: pedagogik, personal, profesional, dan sosial dalam rangka menjadi seorang guru yang profesional sehingga dapat mencetak peserta didik yang berkualitas, berguna bagi nusa dan bangsa.

Kaum muda mencari model atau panutan untuk membantu mereka dalam mengembangkan identitas. Morse (1994:135) menyatakan bahwa guru tak hanya berurusan dengan soal manajemen, tetapi juga berharap bisa mengubah sikap dan bahkan nilai di kalangan generasi muda yang kebingungan. Dalam hal ini, guru harus menjadi model atau tokoh yang lebih kuat untuk didentifikasi, menjadi seorang yang berinterkasi dan berdiskusi dengan anak-anak, membawa anak ke perasaan dan tindakan yang membuahkan hasil baik.

Berbagai teori telah menyebutkan bahwa apa yang sudah diterima anak di masa tanam akan masuk dalam memori jangka panjang atau tersimpan pada alam bawah sadar. Namun demikian, kita tidak boleh berputus asa, tidak boleh khawatir untuk melakukan perubahan. Masa model bisa untuk memperbaiki kondisi yang pernah terjadi di masa tanam. Di sinilah peran guru sebagai agen perubahan. Guru berperan sebagai model yang bisa diteladani oleh anak-anak. Banyak model yang dilihat oleh anak-anak di luar sekolah. Namun di sekolahlah yang diharapkan model itu bisa ditemukan oleh anak. Sekolah setidaknya mampu menjadi filter terhadap pengaruh yang terjadi di luar rumah.

(8)

485 Kesimpulan

Manajemen sekolah dan manajemen pendidikan sangat bergantung pada tenaga pengajar yang ada didalamnya. Guru memiliki peran penting dalam proses pembelajaran, karena langsung mengelola kegiatan pembelajaran, mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.

Daftar Rujukan

Gordon, J.R. Mondy, R.W., Sharplin, A., & Premeax, S.R. 1990. Management an

Organizational Behavior. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Hadiyanto. 2004. Mencari Sosok Desentrelisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Morse, W. 1994. The Role of Caring in Teaching Children with Behavior Problems. Contemporary Education.

Mutohar, Prim. M., 2013. Manajemen Mutu Sekolah. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA. Mulyasa, E. 2002 Manajemen berbasis sekolah, konsep, strategi, dan implementasi.

Referensi

Dokumen terkait

Bagi setiap keluarga yang akan membaptis anaknya, harap mengajukan permohonan kepada Majelis Jemaat GPIB Menara Kasih pada setiap hari kerja, 2 (dua) minggu sebelum

1) Guru menjelaskan pada peserta didik didik bahwa mereka akan mengambil bagian dalam suatu permainan yang menuntut mereka untuk berfikir dan bertindak cepat. 2) Guru

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga tugas akhir dengan judul “ Perbedaan Model Pembelajaran Word

Saavedra Bajo Riesgo Bajo Riesgo Bajo Riesgo Bajo Riesgo Curarrehue Bajo Riesgo Riesgo no Especificado Bajo Riesgo Bajo Riesgo Mariquina Bajo Riesgo Bajo Riesgo Riesgo no Especificado

Saklar L4 dan L7 menghentikan keluar masuknya jalur dan meluluskan permintaan HTTP, seperti jalur port 80, bagi squid proxy server yang mana saklarnya disusun untuk mengenali

Kami dari Panitia Paskah & Pentakosta Gereja HKBP Sudirman, 2021 akan mengadakan penggalangan Dana untuk Dana Palang Hitam gereja kita dengan cara :.. a) Pengumpulan Dana

Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik?. “Jangan takut Pak, aku

Disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi keselamatan kerja dan membuat variasi yang baru dalam mengkomunikasikan keselamatan kerja,