• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMPRODUKSI CUKA (ASAP CAIR) UNTUK KESEHATAN TANAMAN. CORRYANTI dan FRIDA E.ASTANTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MEMPRODUKSI CUKA (ASAP CAIR) UNTUK KESEHATAN TANAMAN. CORRYANTI dan FRIDA E.ASTANTI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MEMPRODUKSI CUKA (ASAP CAIR)

UNTUK KESEHATAN TANAMAN

CORRYANTI

dan

FRIDA E.ASTANTI

PUSLITBANG PERUM PERHUTANI - CEPU

2015

(2)

MEMPRODUKSI CUKA (ASAP CAIR)

UNTUK KESEHATAN TANAMAN

CORRYANTI

dan

FRIDA E.ASTANTI

PUSLITBANG PERUM PERHUTANI - CEPU

2015

(3)

i

Memproduksi Cuka (Asap Cair) Untuk Kesehatan Tanaman

Penulis :

Corryanti dan Frida E. Astanti

ISBN : 978-602-0853-02-4

Desain Sampul dan Tata letak : Corryanti dan Edi Purwanto

Penerbit :

Puslitbang Perum Perhutani Cepu

Redaksi :

Jl. Wonosari Batokan Tromol Pos 6 Cepu 58302 Jawa Tengah

Telp : 0296 - 421233 Fax : 0296 - 422439 Web : www.puslitbangperhutani.com Email : puslitbang_dokinfo@yahoo.co.id puslitbang.dokinfo@ gmail.com Cetakan : Kedua, 2015

: Memproduksi Cuka (Asap Cair) Untuk Kesehatan Tanaman

Cetakan : Pertama, 2014

: Memproduksi Cuka Untuk Kesehatan Tanaman

(4)

PENGANTAR KAPUSLITBANG

M

engenalkan cuka (asap cair) kepada pembaca, sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru, karena teknologi cuka kayu, yaitu cairan hasil proses kondensasi (pengembunan) ini mulai banyak dikenali orang di lapangan, dan disadari sebagai bio-teknis yang ramah lingkungan.

Upaya Puslitbang dalam memproduksi dan mengujicobakannya pada semai dan bibit tanaman kehutanan perlu diinfo-tularkan kepada petugas di lapangan, sehingga harapan mengelola hutan secara lestari dan ramah lingkungan ini secara praktis teknis menjadi bagian budaya penyiapan tanaman yang sehat dan kuat.

Semoga bermanfaat.

Cepu, Maret 2015

Kepala Puslitbang

SUWARNO

(5)

PENGANTAR PENULIS

B

uku cuka kayu dalam terbitan pertama mendapatkan respon yang baik dari masyarakat pengguna di lapangan. Dalam bahasa sehari hari, pemahaman cuka kayu ini ternyata lebih pas bila diganti dengan asap cair. Dengan demikian terbitan kedua ini mengganti istilah cuka kayu dengan asap cair.

Asap cair mengandung asam yang memiliki multi-fungsi bagi tanaman, baik sebagai biopestisida maupun menambah hara tertentu. Teknik memproduksi cuka kayu kami adopsi dari inovasi peneliti Puslitbang Keteknikan Pengolahan Hasil Hutan Kementerian Kehutanan.

Produk asap cair merupakan obsesi kami kelak dapat menjadi bagian dari manajemen, persemaian hingga pengelolaan tanaman hutan di lapangan. Pengenalan asap cair menjadi penting, ketika inovasi ini mulai dikenal luas di kalangan petugas lapangan di persemaian di wilayah kerja Perhutani.

Buku ini memberikan sekelumit pencerahan tentang asap cair, agar bekerja dengannya dapat dibekali pemahaman tentang fungsi, manfaat, memproduksi dan menggunakannya.

Salam Penulis

Corryanti

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN

PENGANTAR KAPUSLITBANG ... i

PENGANTAR PENULIS ... ii

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR TABEL... v

BAB 01.PENDAHULUAN... 1

BAB 02. APA ITU CUKA (ASAP CAIR)? ... 2

A. Pengertian Cuka (Asap Cair) ... 2

B. Manfaat Cuka (Asap Cair)... 4

BAB 03. PENYIAPAN BAHAN DAN ALAT PEMRODUKSI CUKA (ASAP CAIR)... 6

BAB 04. UJI COBA PENGGUNAAN CUKA (ASAP CAIR) PADA TANAMAN

KEHUTANAN ... 9

BAB 05. PENUTUP ... 11

DAFTAR BACAAN ... 12

(7)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 01. Macam-macam bahan baku input membuat Cuka (Asap Cair)... 4

Gambar 02. Komponen instalasi membuat Cuka (Asap Cair)... 7

Gambar 03. Tahap kerja membuat Cuka (Asap Cair)... 8

Gambar 04. Tampilan bibit penyakit

dumping off dan bercak daun ... 9

Gambar 05. Bibit terserang bercak ... 10

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 01. Senyawa kimia cuka (asap cair) asal kayu pinus (pinus merkusii) ... 3

Tabel 02. Hara dalam cuka (asap cair) asal kayu pinus (pinus merkusii) ... 3

Tabel 03. Contoh manfaat cuka (asap cair) dalam kehidupan ... 5

Tabel 04. Analisa biaya pembuatan instalasi cuka (asap cair) ... 6

(9)

01. PENDAHULUAN

Pengalaman mengusahakan tanaman selalu saja menyisakan pekerjaan rumah menghadapi masalah kesehatan tanaman. Adalah menjadi tanggungjawab kita bersama secara terus menerus, tiada pernah berhenti untuk menemukan cara paling efektif mengatasi hama dan penyakit pada tanaman kehutanan. Dinamika lingkungan hidup memicu terjadinya perubahan iklim, dilanjutkan dengan perubahan cuaca, sehingga memicu perubahan siklus hidup hama dan penyakit, bahkan meningkatkan keragaman hama dan penyakit yang muncul di sekitar tanaman kita. Salah satu cara paling bijak mengatasi hama dan penyakit pada tanaman adalah mencari potensi alam di sekitar tanaman untuk dijadikan penawar (obat) bagi kesehatan tanaman.

Penggunaan bahan-bahan kimiawi berbahaya dan beracun, dewasa ini tidak saja membahayakan tanaman dan tanah tempat tumbuh, tetapi juga mengancam kesehatan manusia. Oleh karena itu, pendekatan yang bersikap ramah terhadap lingkungan kini menjadi trend yang disukai masyarakat.

Asap Cair adalah salah satu potensi yang terdapat di sekitar tanaman, yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah kesehatan tanaman. Asap Cair diharapkan akan bisa menjadi bagian dari prosedur kerja dalam pembibitan di persemaian.

Tujuan dari penggunaan asap cair secara praktis di lapangan, yaitu:

1. Memberikan pilihan solusi untuk mengatasi masalah kesehatan tanaman.

2. Menghasilkan satu terobosan baru dalam prosedur pembibitan dengan sentuhan kerja yang bersahabat dengan lingkungan (eco-friendly).

Pendahuluan

(10)

02. APA ITU CUKA (ASAP CAIR)?

a. Pengertian Cuka (Asap Cair)

Asap Cair yang diperkenalkan di sini adalah produk cair, berasal dari kondensasi (pengembunan) asap proses karbonisasi materi yang berlignoselulosa. Asap cair ini mengandung tiga komponen utama, yaitu asam asetat, fenol, dan alkohol . Asap cair biasa dikenal dengan istilah lain, yaitu cuka kayu. Penamaan cuka karena senyawa yang mendominasi (sekitar 50 per sen) adalah asam asetat, CH COOH.

Bahan dasar untuk membuat asap cair ini bisa divariasikan, tergantung limbah yang tersedia di sekitar. Misalnya, konus buah pinus, tempurung kelapa, limbah kayu gergajian, daun kayu putih limbah, dan sebagainya, maka bisa saja menamakannya berturut-turut cuka konus, cuka tempurung kelapa, cuka kayu gergajian, cuka limbah kayu putih, dan lain-lain.

Asam asetat dalam sehari-hari digunakan sebagai pengawet makanan, sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang berkembang. Alkohol merupakan senyawa yang berfungsi sebagai denaturasi protein, sehingga dapat merusak membran sel. Sementara fenol adalah senyawa desinfektan yang dapat menghambat aktivitas enzim. Dengan memahami manfaat senyawa kimia yang ada dalam asap cair, memungkinkan asap cair ini berfungsi dalam banyak kegunaan, mulai dari bahan kesehatan tanaman, meningkatkan produktivitas ternak, pembasmi bau tak sedap, kesehatan, farmasi dan kecantikan.

Di Jepang, pengembangan teknologi pembuatan asam kayu semakin pesat, dan dimanfaatkan dalam keseharian hidup masyarakatnya, dari sebagai pengawet makanan hingga pengobatan sejumlah penyakit. Sifat asam cuka dapat menjadi inhibitor (penghambat) pertumbuhan

mikroorganisme yang mengancam tanaman, seperti fungi, bakteri dan lainnya; di sisi lain asap cair mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga dapat menggantikan (alternatif) penambah hara makro dan mikro bagi tanaman. Sebuah penelitian, dilakukan oleh mahasiswa S3 di IPB, asap cair dapat dijadikan pilihan stimulan untuk memproduksi getah pada tanaman pinus. Walau hasil produksi getahnya belum sebesar diberi stimulansia anorganik, penggunaan asap cair dapat diandalkan sebagai bagian dari mengelola hutan secara ramah lingkungan dan lestari (berkesinambungan).

Apa itu Cuka (Asap Cair)? 2

(11)

Apa itu Cuka (Asap Cair)?

3

Tabel 01.

Senyawa kimia cuka (asap cair) asal kayu pinus (Pinus merkusii)

Sumber : Hasil analisis Puslitbang Hasil Hutan Bogor Nomor KT.9/VIII/P3KKPHH-6/2011

< Pupuk cair organik (SK Mentan Th 2006) pH 3,623,743,914,16 4-8 C-organik (%)0,710,991,111,06 > 4,5 N (%) 0,010,020,040,10 P (ppm) 4,261,911,912,24 < 5 K (ppm) 8,346,147,1910,04 <5 Na (ppm) 7,705,675,706,50 Ca (ppm) 36 31,823,0871,12 Mg (ppm) 6,5 6,533,1914,80 S 58,6693,8632,5435,34 Fe (ppm) 27,93,904,103,19 Mak 0,0400 Mn (ppm) 5,387,2 8,127,54 Mak 0,2500 Cu (ppm) 3,493,344,765,04 Mak 0,2500 Zn (ppm) 0,780,891,301,73 Mak 0,2500 Tabel 02.

Hara dalam cuka (asap cair) asal kayu pinus (Pinus merkusii)

Sumber : Hasil analisis hara Puslitbang Hasil Hutan Bogor , Nomor KT.9/VIII/P3KKPHH-6/2011

Parameter pupuk cair organik Suhu 100 Suhu 100 200 -Suhu 200 -350 Suhu >350

(12)

b. Manfaat Cuka (Asap Cair)

Memproduksi asap cair dapat dilakukan bersamaan dalam proses membuat arang (pengarangan). Asap cair dapat berasal dari materi berupa kayu-kayu limbah atau sebetan (potongan kayu) yang tak terpakai, seperti dari bahan bangunan, limbah industri gergajian, ranting-ranting kayu yang terbuang sebagai limbah, konus (rumah buah), tempurung kelapa limbah, dan lain-lain.

Kayu Pinus - limbah

Tempurung kelapa limbah Industri kayu

Konus (kerucut) pinus

Gambar 01.

Macam-macam bahan baku input membuat cuka (asap cair)

Dengan bahan baku yang berasal dari limbah, pembuatan asap cair akan mudah dipraktikkan di tengah kegiatan sehari-hari masyarakat, dan dapat menghasilkan pendapatan dengan cepat. Dari sisi modal dan penyiapan bahan baku, memproduksi asap cair tidaklah semahal membuat pestisida, misalnya. Karena bahan baku asap cair berasal dari materi di sekitar, maka pemanfaatannya pun dijamin aman akan bahan berbahaya dan beracun (B3).

Cuka kayu mulai banyak dimanfaatkan di dunia pertanaman, karena telah terbukti mampu meningkatkan kesehatan tanaman, dan dapat menggantikan pupuk kimia dengan dosis tertentu. Secara umum asap cair yang bersifat asam ini dapat berfungsi sebagai anti-bakteri, anti-fungi, anti-metanogenesis, dan anti-oksidan.

Apa itu Cuka (Asap Cair)?

(13)

Tabel 3.

Contoh manfaat cuka (asap cair) dalam kehidupan

Apa itu Cuka (Asap Cair)?

1. Insektisida/ pembasmi rayap, semut, nyamuk

Disemprotkan pada tempat yang terserang rayap, dosis 15-20 cc/lb 2. Memicu pertumbuhan tanaman jati

secara vegetatif

Disemprotkan ke daun, dosis 20 cc/lt setiap 2 minggu ATAU d isemprotkan ke akartanaman,dosis 20 cc/lt setiap 2 minggu

3. Pengganti formalin Untuk mengawetkan makanan, dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia. 4. Obat penyakit kulit dan penetral

bau badan

Penyakit kulit seperti kudis, rasa gatal, anti inspeksi. Caranya dioleskan pada kulit yang sakit/ bermasala, dan diulang sampai tiga hari sekali.

5. Penyehat ternak kambing kambing yang diminumkan asap cair tingkat kesuburannya lebih besar dari kambing biasa.

6. Pembersih dan penghilang bau tak sedap kandang ternak

Bisa langsung disiramkan saja, atau dicampurkan ke makanan atau minuman ternak dengan dosis wajar.

7. Manfaat lain-lain Pembersih kaca mata. Anti Jamur Pada pakaian. Menghilangkan karat.

Bahan dasar bahan bangunan seperti CAT dan LEM.

Sumber : N.Jaojah, Teknologi Pembuatan Arang & Cuka Kayu (Wood Vinegar), 2012.

No Manfaat Keterangan penggunaan

(14)

03. PENYIAPAN BAHAN DAN ALAT PEMRODUKSI CUKA (ASAP CAIR) a. Penyiapan alat/ instalasi pemroduksi cuka (asap cair)

Instalasi asap cair dapat dibangun di dekat lokasi tempat kita tinggal atau tempat kita bekerja sehari-hari. Komponen yang akan dirakit pun tidak membutuhkan modal besar.

Dimulai dari menyiapkan satu drum (bekas) yang sudah dilubangi bagian dasarnya dengan diameter lubang sekitar 1,5 cm. Untuk komponen proses pendinginan disiapkan cerobong atau sungkup yang anti-karat, dan pipa besi atau paralon berdiameter 3

cm

sepanjang 6 m. Tungku pembakar kayu atau materi input terbuat dari batu bata. Bahan-bahan tersebut tidaklah memakan biaya yang tinggi, terhitung menghabiskan tidak lebih dari 1,7 juta rupiah.

3

Dengan menggunakan drum dapat menampung volume input sekitar 0,2 m , dan akan menghasilkan asap cair sekitar 12 liter. Bila teknik ini dikembangkan lebih efisien, produktivitas cuka bisa lebih banyak.

Penyiapan bahan dan alat pemroduksi cuka (asap cair)

Tabel 04.

Biaya penyiapan instalasi cuka (asap cair)

*) Harga berdasarkan Tarif Biaya Perhutani tahun 2014

6 7 8

(15)

Drum

Cerobong bawah

Pipa besi 2 lapis, berukuran 2,5 cm dan 5 cm

Instalasi Asap Cair

Cerobong atas

Tungku (pawon)

Gambar 02.

Komponen instalasi membuat cuka (asap cair)

Penyiapan bahan dan alat pemroduksi cuka (asap cair)

(16)

b. Pembuatan cuka (asap cair)

Kayu yang sudah kering disusun dalam drum sampai terisi hampir penuh.

Pipa yang menempel pada drum dihubungkan dengan cerobong, dan cerobong ini dihubungkan dengan pipa pendingin.

Setelah semua pekerjaan di atas siap, tungku mulai dinyalakan. Setelah tungku mengeluarkan asap tebal sekitar 5 menit drum ditutup dan diatur sedemikian rupa, agar asap tidak ke luar. Biasanya dicukupi dengan tanah lempung.

Sekitar 25 menit akan ke luar cairan bewarna bening, secara berangsur angsur cairan yang ke luar berwarna hitam. Warna cairan hitam ini menandakan asap cair telah ke luar semua dari pengasapan kayu. Tumpukan kayu didalam drum dapat dijadikan arang, dengan menutup tungku rapat.

Penyiapan bahan dan alat pemroduksi cuka (asap cair)

Setelah 25 menit akan keluar cairan berwarna kuning.

Asap cair dalam kemasan

Gambar. 03

Tahap kerja membuat cuka (asap cair) Kayu yang sudah kering

dimasukkan dalam drum

8

Bahan dalam drum dibakar sampai mengeluarkan asap

Drum ditutup sampai selesai proses

(17)

04. UJI COBA PENGGUNAAN CUKA (ASAP CAIR) PADA TANAMAN KEHUTANAN

Praktik memanfaatkan asap cair sudah mulai dikenalkan sejak tahun 2008 kepada petugas persemaian di lapangan wilayah Perhutani yang memiliki persemaian pinus.

Ancaman pembibitan pinus sejak dulu hingga hari ini masih berkutat pada penyakit lodoh (damping off)

dan penyakit bercak daun. Serangan besar-besaran kedua penyakit ini mampu mematikan bibit pinus hingga 50 per sen (akibat lodoh), misal kasus di persemaian di KPH Kedu Utara, tahun 2010; dan bercak daun hingga 75 persen, contoh di KPH Banyumas Barat, tahun 2014.

Pemberian asap cair pada benih dan media tabur bahkan dapat menurunkan kematian semai pinus akibat lodoh hingga 45 persen.

Pemberian asap cair menunjukkan aksi solusi yang bersifat multi level pengendalian; tidak hanya mencegah, tetapi juga mengendalikan dan memberantas ancaman hama dan penyakit.

Pengamatan hasil aplikasi penyemprotan asap cair menumbuhkan kecambah benih pinus dalam waktu serempak.

Uji coba penggunaan cuka (asap cair) pada tanaman kehutanan

Gambar. 04

Tampilan bibit terkena penyakit damping off (gambar kiri) dan bercak daun (gambar kanan)

(18)

Hasil pemberian asap cair sejak awal kegiatan penyapihan secara rutin dapat menekan kematian semai di bedeng pemeliharaan. Kematian pada awal sapihan disebabkan oleh penyakit lodoh, sedangkan kematian setelah semai berkayu disebabkan oleh penyakit bercak daun. Efektivitas perlakuan asap cair dibandingkan perlakuan rutin (kontrol): menekan kematian sebesar 75%.

Penyiraman asap cair pada media sapih secara rutin dapat menurunkan kematian semai pinus hingga siap tanam mencapai 15 per sen. Perlakuan ini ditandai mampu menandingi perlakuan pembanding yang menggunakan Dithane. Di sisi lain, fungisida dithane seyogyanya sudah dilarang beredar memakainya,

karena bahan aktif yang dikandungnya termasuk bahan kimia berbahaya dan beracun (B3).

Kegiatan penyemprotan disarankan dicampur dengan perekat (dosis 1 cc/L) bila dilakukan musim hujan. Pencampuran komponen ini dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas perlakuan.

Gambar. 05 Bibit terserang bercak

Tampilan bibit pinus sebelum (kiri) dan sesudah di beri perlakuan cuka (asap cair) (kanan)

Uji coba penggunaan cuka (asap cair) pada tanaman kehutanan

10

Efektivitas asap cair terhadap kesehatan bibit yang menjanjikan ini, memicu peneliti mencobanya pada bibit jenis lain, seperti jati dan kayu putih dan ditambah dengan pupuk hayati yang sangat ramah terhadap lingkungan.

(19)

05. PENUTUP

Pemanfaatan asap cair untuk menyehatkan bibit tanaman di persemaian dapat dijadikan alternatif solusi mengatasi ancaman hama dan penyakit serta menambah hara pada proses pembibitan tanaman kehutanan.

Semangat mengelola hutan berbasis pada tindakan yang ramah lingkungan semakin disukai masyarakat dan menjadi keharusan dalam standar pengelolaan hutan sejak dari persemaian. Oleh karena itu temuan-temuan inovatif yang bersahabat dengan lingkungan diharapkan bisa menjadi kebijakan operasional. Pada saatnya kebiasaan berperilaku ramah lingkungan akan berdampak pada efisiensi biaya pembibitan dengan hasil yang lebih menjanjikan.

Penutup

(20)

BAHAN BACAAN

Anonimus, 2008. Laporan Penelitian 'Penanganan penyakit bercak daun bibit Pinus merkusii (aplikasi cuka kayu dan daconyl)'. Puslitbang Perhutani Tahun 2008.

Anonimus, 2009. Laporan Penelitian 'Aplikasi cuka kayu untuk optimalisasi persemaian pinus'. Puslitbang Perhutani Tahun 2009.

Anonimus, 2011. Laporan Penelitian 'Pengendalian hama dan penyakit dengan cuka kayu pada semai Pinus merkusii'. Puslitbang Perhutani Tahun 2011.

Corryanti, 2014. Jangan tunda lagi, Menggunakan Cuka kayu. Majalah Bina Edisi 08 Oktober 2014.

(21)

SEKILAS TENTANG PENYUSUN

CORRYANTI

'Bersemangat sampai akhir', itulah yang selalu ditanamkan Corry, panggilan akrabnya, kepada teman-temannya. Selalu ingin tahu, mau belajar dalam banyak hal, sekali pun kuliahnya sudah mentok dalam level S3. Minatnya pada banyak bidang, membuatnya selalu senang membicarakan topik-topik yang sedang menjadi isu. Menjabat sebagai Kepala Biro Kelola SDH di Puslitbang tidak menjadikannya bangga di atas awang-awang, karena jabatan ini dirasakan lebih banyak menimba amal dan mengupayakan dapat menyebarkan ilmu, maka sebaliknya jabatan baginya adalah amanah dan kesempatan terbaik.

FRIDA ERMI ASTANTI

Perempuan Pati yang lahir pada 22 Februari 1977 ini, menamatkan pendidikan terakhirnya pada Jurusan Farmasi Universitas 17 Agustus Semarang (1999). Dengan bekal pendidikan itu, ia mulai menapaki karirnya sebagai peneliti di Puslitbang Perum Perhutani sejak 1999. Perjalanan panjang dia lalui dengan sabar dan tekun, mulai dari sebagai tenaga harian di tahun 1999, teknisi di penelitian, dan sejak 2011 hingga sekarang ia mulai mengemban jabatan sebagai peneliti.

Bidang yang digeluti adalah hama dan penyakit di beberapa komoditas tanaman seperti jati, pinus, sengon, kayu putih dan banyak lagi.

Terus belajar, serta semangat memperbaiki diri selalu ditunjukkan oleh Frida, sehingga ia bisa mencontohkan sesuatu yang baik bagi teman-temannya.

(22)

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

PERUM PERHUTANI

Jl. Wonosari Batokan Tromol Pos 6 Cepu 58302 Jawa Tengah

Tlp : 0296-421233/ Fax : 0296-422439

Web : www.puslitbangperhutani.com

Email : puslitbang_dokinfo@yahoo.co.id

puslitbang.dokinfo@gmail.com

Referensi

Dokumen terkait

Wong (2006) juga mendapati keadaan yang sama dimana guru pendidikan khas menyatakan bahawa murid di sekolah pendidikan khas tidak begitu berdikari dan ramai yang masih bergantung

Diagnosa Kehilangan telinga bagian kanan dikarenakan cacat bawaan lahir (congenital). Keterangan Model Kerja: Terdapat kehilangan telinga bagian kanan dengan luas ±5,5 x 3

olumsuz bir özelliktir 45. Çünkü bu tipteki sermayeyi ülke içine getiren birimler istedikleri anda piyasadan çekmekteler ve kazançları hangi ülkede daha fazla

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pemeliharaan sarana dan prasarana di SD Negeri 72 Banda Aceh dapat dikatakan sudah cukup baik karena

Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai

Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar geografi tentang sejarah pembentukan bumi pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Salem Kecamatan Salem Kabupaten

Perubahan peran dan fungsi alun-alun Kaliwungu sebagai ruang terbuka publik yang paling mendasar terjadi saat dikeluarkan kebijakan mengenai pengalihan fungsi pasar

Skripsi berjudul Identifikasi dan Jumlah Koloni Bakteri Streptococcus sp pada Gigi Saluran Akar Ganda dengan Diagnosa Pulpitis Irreversibel telah diuji dan disahkan