• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PEMENUHAN NUTRISI DAN PERSONAL HYGIENE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN PEMENUHAN NUTRISI DAN PERSONAL HYGIENE"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PEMENUHAN NUTRISI DAN PERSONAL HYGIENE DALAM MASA NIFAS DENGAN PENYEMBUHAN LUKA

PERINEUM DI KLINIK SEHAT HARAPAN IBU KECAMATAN GLUMPANG BARO

KABUPATEN PIDIE

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Studi Diploma IV Kebidanan STIKES U’Budiyah Banda Aceh

Oleh:

MUKARRAMAH NIM: 121010210017

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN U’BUDIYAH PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN BANDA ACEH

(2)

ABSTRAK

HUBUNGAN PEMENUHAN NUTRISI DAN PERSONAL HYGIENE DALAM MASA NIFAS DENGAN PENYEMBUHAN LUKA

PERINEUM DI KLINIK SEHAT HARAPAN IBU KECAMATAN GLUMPANG BARO

KABUPATEN PIDIE Mukarramah ¹, Ismail ² Xiii + 45 Halaman + 7 Tabel + 1 Gambar + 11 Lampiran

Latar Belakang: Beberapa ibu nifas mengalami rupture perineum di klinik sehat harapan ibu lukanya tidak sembuh tepat waktu, bahkan ada lukanya yang harus diheating ulang karena perawatan luka perineum yang kurang baik dan ada juga ibu nifas melakukan kebiasaan berpantang makanan, karena takut darah nifas yang keluar berbau dan luka berair, disebabkan oleh tradisi dari orang tuanya.

Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan pemenuhan nutrisi dan personal

hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat

Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie .

Metode Penelitian: Bersifat analitik dengan rancangan Cross Sectional. Populasi seluruh ibu nifas yang mengalami luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu. Yang berjumlah 32 orang. Teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Penelitian dilakukan tanggal 10 Juni sampai 15 Juli 2013. Dengan mengedarkan kuesioner. Hasil Penelitian: Dari 32 responden penyembuhan luka perineum baik 17 orang (53,1%). Dari 32 responden 18 orang (56,2%) memiliki nutrisi baik. Dari 32 responden 20 orang (62,5%) memiliki personal hygiene baik.

Kesimpulan dan Saran: Ada hubungan pemenuhan nutrisi dengan penyembuhan luka perineum dengan nilai p<0,05 (0,000). Ada hubungan Personal hygiene dengan penyembuhan luka perineum dengan nilai p<0,05 (0,005). Kepada ibu-ibu nifas diharapkan agar tidak melakukan pantangan makanan.

Kata Kunci : Nutrisi, Personal Hygiene, Perineum

Daftar Pustaka: 30 buah buku (1997 - 2013) + 5 internet (2006-2013) 1. Mahasiswi Prodi D-IV Kebidanan STIKes U’Budiyah

(3)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini Telah Disetujui Untuk Dipertahankan di Hadapan Tim Penguji Diploma IV Kebidanan STIKES U’Budiyah Banda Aceh

Banda Aceh, Agustus 2013 Pembimbing

(ISMAIL, SKM, M.Pd)

MENGETAHUI

KETUA PRODI DIPLOMA IV KEBIDANAN STIKES U’BUDIYAH BANDA ACEH

(4)

LEMBARAN PENGESAHAN

JUDUL : HUBUNGAN PEMENUHAN NUTRISI DAN

PERSONAL HYGIENE DALAM MASA NIFAS

DENGAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DI KLINIK SEHAT HARAPAN IBU KECAMATAN GLUMPANG BARO KABUPATEN PIDIE

NAMA MAHASISWA : MUKARRAMAH

NIM : 121010210017

MENYETUJUI PEMBIMBING

(ISMAIL, SKM, M.Pd)

PENGUJI I PENGUJI II

(CUT SRIYANTI ,SSiT, M.Keb) (RAHMAYANI, SKM, M.Kes)

MENYETUJUI MENGETAHUI

KETUA STIKES U’BUDIYAH KETUA PRODI D-IV KEBIDANAN

(MARNIATI, M. Kes) (CUT ROSMAWAR, SST)

(5)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Hubungan Pemenuhan Nutrisi dan Personal Hygiene Dalam Masa Nifas Dengan Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie”.

Peneliti menyadari dalam penulisan Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan ilmu yang peneliti miliki, akan tetapi berkat bimbingan, arahan dan dukungan serta bantuan dari berbagai pihak maka Skripsi ini dapat diselesaikan. Untuk itu izinkanlah peneliti untuk mengucapkan ribuan terima kasih yang terutama kepada Bapak Ismail, SKM, M.Pd selaku pembimbing Skripsi dan peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Dedy Zefrizal, ST selaku Ketua Yayasan Pendidikan U’Budiyah Indonesia.

2. Ibu Marniati, SE, M. Kes selaku Ketua STIKES U’Budiyah Banda Aceh.

3. Ibu Cut Rosmawar, SST selaku Ketua Program Studi Diploma IV Kebidanan STIKES U’Budiyah Banda Aceh.

4. Ibu Nuzulul Rahmi, SST selaku Ketua Program Studi Diploma III Kebidanan STIKES U’Budiyah Banda Aceh.

5. Bapak Agussalim, SKM, M. Kes selaku Ketua Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKES U’Budiyah Banda Aceh

(6)

6. Ibu Cut Rosmini Amd. Keb selaku Kepala Klinik Sehat Harapan Ibu tempat peneliti melakukan penelitian nantinya.

7. Seluruh Dosen dan staf STIKES U’Budiyah Banda Aceh.

8. Suami yang telah menyumbangkan segala bantuan dan semangat sehingga peneliti dapat menyelesaikan Skripsi ini.

9. Ayahanda dan Ibunda serta seluruh keluarga tercinta yang selalu memberikan dukungan dan semangat sehingga peneliti dapat menyelesaikan Skripsi ini. 10. Teman-teman seperjuangan semua yang telah banyak memberikan bantuan serta

semangat dalam menyusun Skripsi.

Demikianlah ucapan terima kasih selanjutnya dengan tangan terbuka peneliti menerima kritikan dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan Skripsi ini.

Akhirnya kepada Allah SWT peneliti serahkan dan semoga dapat berguna bagi kita semua, Amin Ya Rabbal’alamin……

Banda Aceh, Oktober 2013

(7)

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... i ABSTRAK ... ii ABSTRACT ... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN ... iv LEMBARAN PENGESAHAN ... v MOTTO ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Konsep Dasar Rupture Perineum ... 7

1. Pengertian ... 7

2. Pembagian Rupture... 9

3. Pencegahan Rupture ... 11

4. Perawatan Luka Perineum ... 13

5. Penyembuhan Luka ... 15

B. Faktor-faktor Penghambat Keberhasilan Penyembuhan Luka ... 17

1. Nutrisi/Gizi ... 17 2. Personal Hygiene ... 20 3. Tradisi ... 21 4. Pengetahuan ... 21 5. Cara Perawatan ... 22 6. Lingkungan ... 22 C. Konsep Nifas ... 22 1. Pengertian ... 22

2. Tahapan Masa Nifas ... 23

3. Perubahan Fisiologi Masa Nifas... 24

D. Kerangka Konsep ... 26

E. Hipotesa Penelitian ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 27

A. Jenis Penelitian ... 27

(8)

C. Tempat Dan Waktu Penelitian ... 28

D. Teknik Pengumpulan Data ... 29

E. Definisi Operasional ... 29

F. Cara Pengukuran Variabel ... 30

G. Instrumen Penelitian ... 31

H. Pengolahan Dan Analisis Data ... 31

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 34

B. Hasil Penelitian ... 34

1. Data Demografi Responden ... 35

2. Analisa Univariat ... 36

3. Analisa Bivariat ... 38

C. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40

BAB V PENUTUP ... 44

A. Kesimpulan ... 44

B. Saran ... 44 DAFTAR PUSTAKA

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 30 Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Pendidikan,

Pekerjaan Dan Paritas Pada Ibu Nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu

Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie... 35 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu

Nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro

Kabupaten Pidie ... 36 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Nutrisi Pada Ibu Nifas di Klinik Sehat

Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie ... 37 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Personal Hygiene Pada Ibu Nifas di Klinik

Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie ... 37 Tabel 4.5 Hubungan Pemenuhan Nutrisi Dalam Masa Nifas Dengan

Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu

Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie ... 38 Tabel 4.6 Hubungan Personal Hygiene Dalam Masa Nifas Dengan

Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1: Kerangka Konsep ... 26

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Permohonan Menjadi Responden Lampiran 2 : Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Kuesioner

Lampiran 4 : Surat Pengambilan Data Awal

Lampiran 5 : Surat Balasan Pengambilan Data Awal Lampiran 6 : Surat Izin Penelitian

Lampiran 7 : Surat Selesai Melakukan Penelitian

Lampiran 8 : Print Out Put Hasil Penelitian (Master Tabel dan SPSS)

Lampiran 9 : Lembaran Konsul Lampiran 10 : Biodata

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perineum merupakan bagian yang sangat penting dalam fisiologi.

Keutuhan perineum tidak hanya berperan atau menjadi bagian penting dari proses persalinan, tetapi juga diperlukan untuk mengontrol proses buang air besar dan buang air kecil, menjaga aktivitas peristaltik normal (dengan menjaga tekanan

intra abdomen) dan fungsi seksual yang sehat. Robekan perineum terjadi hampir

semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga tidak sampai dasar panggul dilalui kepala janin dengan cepat. Sebaliknya kepala janin yang akan lahir tidak ditahan terlampau kuat dan lama karena menyebabkan asfiksia perdarahan dalam tengkorak janin dan melemahkan otot-otot dan pada dasar panggul karena direnggangkan terlalu lama (Depkes RI, 2005).

Keutuhan dan kesehatan Perineum telah dibuktikan dipengaruhi oleh posisi ibu pada saat persalinan. Penelitian menunjukkan bahwa persalinan dalam posisi jongkok dapat mengurangi besarnya kerusakan pada Perineum. Keuntungan posisi tersebut mungkin disebabkan karena posisi kepala janin yang lebih baik terhadap Perineum dan kala II yang lebih pendek. Dengan pendeknya waktu yang diperlukan dalam proses persalinan kala II, maka bagian bawah janin akan lebih singkat berada di Perineum dan oleh karena itu peluang untuk terjadinya trauma dan perlukaan menurun (DepKes RI, 2005).

(13)

Persalinan sering kali mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka-luka biasanya ringan, tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan Vulva dan

Perineum (Wiknjosastro H, 2002)

Menurut WHO di seluruh dunia setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi terkait dengan kehamilan dan nifas. Dengan kata lain 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan, persalinan dan nifas (Ratna S, 2013).

Menurut BKKBN (2011), angka kematian ibu masih tinggi sebesar 228 /100.000 kelahiran hidup, sedangkan target nasional yang harus dicapai pada tahun 2015 adalah 102 /100.000 kelahiran hidup.

Infeksi nifas masih berperan sebagai penyebab utama kematian ibu terutama di negara berkembang seperti Indonesia ini, masalah itu terjadi akibat dari pelayanan kebidanan yang masih jauh dari sempurna. Faktor penyebab lain terjadinya infeksi nifas di antaranya, daya tahan tubuh yang kurang, perawatan nifas yang kurang baik, kurang gizi/mal nutrisi, anemia, hygiene yang kurang baik, serta kelelahan. Upaya pemantauan yang melekat dan asuhan pada ibu dan bayi yang baik pada masa nifas diharapkan dapat mencegah kejadian tersebut. (BKKBN, 2006).

Faktor penyebab terjadinya infeksi nifas berasal dari perlukaan pada jalan

lahir yang merupakan media yang baik untuk berkembangnya kuman. Hal ini bisa diakibatkan oleh daya tahan tubuh yang rendah setelah melahirkan,

(14)

perawatan yang kurang baik dan kebersihan yang kurang terjaga pada saat perawatan sendiri di rumah (Saifuddin, 2002).

Perawatan masa nifas dimulai sebenarnya sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan–kemungkinan perdarahan post partum dan infeksi. Bila ada perlukaan jalan lahir atau bekas episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik -baiknya. Penolong persalinan harus waspada sekurang-kurangnya 1 jam sesudah melahirkan, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partum (Mochtar,R. 2002).

Penelitian ini pernah dilakukan oleh Yulizawati pada Tahun 2012 di Kabupaten Indragiri (Riau) dengan judul “hubungan antara sikap ibu nifas terhadap makanan gizi seimbang dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Bersalin Khairunnisa” dengan hasil penelitian dari 65 responden terdapat 6 orang (9,2%) dalam kategori penyembuhan luka baik (Yulizawati, 2011; Jurnal) Data yang penulis peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie periode Januari s/d Desember 2012 jumlah ibu nifas mencapai 8.958 orang, dan yang melakukan kunjungan nifas 2.470 (27,57 %) ( Dinkes Kab. Pidie 2012).

Berdasarkan data yang didapatkan di Puskesmas Geulumpang Baro Kecamatan Geulumpang Baro Kabupaten Pidie Tahun 2012 didapatkan ibu post partum sebanyak 138 orang dan yang mengalami rupture sebanyak 101 orang ( PKM Glumpang Baro, 2012)

Pengambilan data awal yang diperoleh dari Klinik Sehat Harapan Ibu dari bulan Agustus 2012- April 2013 didapatkan 247 ibu post partum, ibu yang mengalami Rupture Perineum sebanyak 163 orang dari ibu primipara maupun

(15)

multipara. Bidan setempat juga menjelaskan bahwa beberapa ibu yang mengalami rupture perineum lukanya tidak sembuh tepat waktu, bahkan ada lukanya yang harus diheating ulang karena perawatan luka perineum yang kurang seperti: tidak menjaga kebersihan luka perineum setelah BAB, membiarkan luka perineum lembab, tidak mengganti celana dalam dengan yang bersih dan kering, dan kebiasaan berpantang makanan yang mengandung protein seperti: telur, ikan, daging dan sebagainya. yang alasannya takut darah nifas yang keluar berbau amis, luka berair dan tidak cepat sembuh, hal ini disebabkan oleh tradisi dari orang tuanya. (Klinik Sehat Harapan Ibu, 2013).

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Pemenuhan Nutrisi dan Personal Hygiene Dalam Masa Nifas Dengan Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu Adakah Hubungan Pemenuhan Nutrisi dan Personal Hygiene Dalam Masa Nifas Dengan Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pemenuhan nutrisi dan personal hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

(16)

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui hubungan pemenuhan nutrisi dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

b. Untuk mengetahui hubungan personal hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi petugas kesehatan

Untuk menambah pengetahuan mengenai pemenuhan nutrisi dan personal

hygiene untuk penyembuhan luka perineum dan akan mempermudah

petugas untuk memberikan penyuluhan tentang pemenuhan nutrisi dan menjaga kebersihan yang diperlukan untuk ibu nifas dan untuk kesembuhan luka perineum.

2. Bagi penulis

Untuk dapat memperdalam dan mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan sehingga dapat mengetahui cara yang tepat dalam penyembuhan luka perineum.

3. Bagi instansi pendidikan

Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan bahan tambahan perpustakaan.

(17)

4. Bagi responden

Dapat mengetahui cara perawatan luka perineum dan ibu lebih mengetahui bagaimana cara pemenuhan nutrisi dan menjaga kebersihan untuk penyembuhan luka perineum.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Rupture Perineum 1. Pengertian

a. Perineum

Perineum adalah daerah antara Vulva dan Anus. Biasanya setelah

melahirkan Perineum menjadi agak bengkak atau memar dan mungkin ada luka bekas jahitan robekan atau Episiotomi (Huliana. M, 2003).

Perineum merupakan bagian yang sangat penting dalam fisiologi.

Keutuhan Perineum tidak hanya berperan atau menjadi bagian penting dari proses persalinan, tetapi juga diperlukan untuk mengontrol proses buang air besar dan buang air kecil, menjaga aktivitas peristaltik normal (dengan menjaga tekanan intra-abdomen) dan fungsi seksual yang sehat. Karena itu kerusakan pada Perineum harus dihindarkan. Namun hanya sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan faktor-faktor yang dapat mencegah kerusakan Perineum pada proses persalinan (DepKes RI, 2005).

b. Rupture Perineum

Ruptur Perineum yaitu luka pada Perineum yang terjadi karena

sebab-sebab tertentu tanpa dilakukan tindakan perobekan atau disengaja. Luka ini terjadi pada saat persalinan dan biasanya tidak teratur (http://ruptur-perineum.html).

(19)

Perlukaan Perineum umumnya terjadi Unilateral, namun dapat juga

Bilateral. Perlukaan pada diafragma Urogenitalis dan Muskulus Levator Ani, yang terjadi pada waktu persalinan normal atau persalinan dengan

alat, dapat terjadi tanpa perlukaan pada kulit Perineum atau pada Vagina, sehingga tidak kelihatan dari luar. Perlu demikian dapat melemahkan dasar panggul, sehingga mudah terjadi Prolapsus Genitalis (Wiknjosastro H, 2005).

Robekan Perineum sering juga mengenai Muskulus Levator Ani

hingga setiap Robekan Perineum harus dijahit dengan baik agar tidak menimbulkan kelemahan dasar panggul atau Prolaps. Kadang-kadang

Muskulus Levator Ani rusak dan menjadi lemah tanpa terjadinya Rupture Perinei, misalnya jika kepala terlalu lama meregang dasar panggul.

Terjadi pula Colpaporrhexis, yaitu robeknya vagina bagian atas sedemikian rupa hingga serviks terpisah dari vagina (Sastrawinata. S, 2004).

Umumnya perlukaan Perineum terjadi pada tempat dimana muka janin menghadap. Robekan Perineum dapat mengakibatkan pula robekan jaringan Pararektal, sehingga rektum terlepas dari jaringan sekitarnya. Diagnosis Ruptura Perinei ditegakkan dengan pemeriksaan langsung. Pada tempat terjadinya perlukaan akan timbul perdarahan yang bersifat

Arterial atau yang merembes. Dengan dua jari tangan kiri luka dibuka,

bekuan darah diangkat, lalu luka dijahit secara rapi (Wiknjosastro H, 2005).

(20)

2. Pembagian Rupture

Leserasi Perineum biasanya terjadi sewaktu kepala janin dilahirkan.

Luas robekan didefinisikan berdasarkan ke dalam robekan (Bobak, dkk, 2004).

Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum di antaranya mobilisasi dini, vulva higiene, luas luka, umur, vaskularisasi, stressor dan juga nutrisi. Luka dikatakan sembuh jika dalam 1 minggu kondisi luka kering, menutup dan tidak ada tanda-tanda infeksi (Mochtar, R, 2002).

a. Robekan Perineum dibagi atas 4 tingkat:

Tingkat I: Robekan terjadi hanya pada selaput lendir Vagina dengan atau tanpa mengenai kulit Perineum.

Tingkat II: Robekan mengenai selaput lendir Vagina dan otot

Perinei Transversalis, tetapi tidak mengenai otot Sfingter Ani.

Tingkat III: Robekan mengenai Perineum sampai dengan otot

Sfingter Ani.

Tingkat IV: Robekan mengenai Perineum sampai dengan otot

Sfingter Ani dan Mokusa Rektum (Prawirohardjo,

2006). b. Bentuk Luka Perineum

(21)

1) Rupture

Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh

rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan (Kang Kapuk, 2012).

2) Episotomi

Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk

memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi. Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anastesi lokal, kecuali bila pasien telah diberi anastesi epidermal. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai di sini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Kang Kapuk, 2012)

c. Etiologi menurut Saifuddin (2002) 1) Penyebab Maternal

a) partus precipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong, b) pasien tidak mampu berhenti mengejan,

(22)

c) partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan,

d) edema dan kerapuhan pada perineum. 2) Faktor Janin

a) Bayi besar,

b) Posisi kepala yang abnormal, c) Kelahiran bokong,

d) Ekstraksi forsep yang sukar, e) Distosia bahu.

3. Pencegahan Rupture Perineum

Pencegahan trauma Perineum merupakan masalah yang banyak didiskusikan. Renfrew et al menyatakan bahwa masih terdapat area-area yang memerlukan penelitian lebih lanjut, seperti karakteristik ibu, posisi,

Masase Perineum Antenatal, dan gaya meneran. Sebuah penelitian telah

dilakukan (McCandlish et al) yang membandingkan antara teknik persalinan ” Hands On” dan ”Hand Poised” untuk mengkaji tingkat nyeri Perineal. Kelompok wanita yang menggunakan teknik ”Hands On” melaporkan bahwa mereka mengalami pengurangan nyeri secara signifikan dalam waktu 10 hari. Teknik ”Hands On” mengendalikan kecepatan pengeluaran kepala bayi, melindungi Perineum (dengan meletakkan tangan di dekat Perineum untuk menopangnya) dan menggunakan tarikan untuk melahirkan bahu. Bidan dapat memilih tangan mana yang akan digunakan untuk melakukannya, bergantung pada posisi ibu. Menopang Perineum sulit dilakukan bila ibu

(23)

berada pada posisi All Fours. Mengendalikan kecepatan kelahiran kepala juga dapat dilakukan dengan komunikasi yang baik dan kontak mata (Johnson R, dkk, 2004).

Pencegahan Trauma Perineum adalah garis depan perawatan yang diberikan oleh bidan yang memberi rasa bangga bagi banyak bidan jika persalinan selesai tanpa adanya trauma pada Perineum. Namun, hal ini seharusnya tidak mengorbankan trauma pada Mukosa Vagina. Teknik kelahiran difokuskan pada pengurangan diameter bagian presentasi dengan memfleksikan kepala untuk meminimalkan distensi pada jaringan Perineum dan mengontrol kecepatan kelahiran sehingga dapat mencegah trauma.

Central Midwives Board (Dewan Kebidanan Pusat) membuat peraturan

bahwa bidan dapat melakukan Episiotomi dalam situasi darurat. Angka

Episiotomi untuk semua kelahiran di Inggris dan di Irlandia Utara meningkat

dari 25% sampai 53%, dengan 70% rata-rata terjadi pada primipara (Henderson. C, dkk, 2005).

Laserasi spontan pada vagina atau Perineum dapat terjadi saat kepala

dan bahu dilahirkan. Kejadian Laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali. Jalin kerja sama dengan ibu dan gunakan perasat manual yang tepat, dapat mengatur kecepatan kelahiran bayi dan mencegah terjadinya Laserasi. Kerja sama akan sangat bermanfaat saat kepala bayi pada diameter 5-6 cm tengah membuka Vulva (crowning) karena pengendalian kecepatan dan pengaturan diameter kepala saat melewati

(24)

Introitus dan Perineum dapat mengurangi kemungkinan terjadinya robekan

(JNPK-KR, 2007).

4. Perawatan Luka Perineum

Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar R, 2002).

Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil. Tujuan perawatan perineum adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan (Kang Kapuk, 2012).

Menjaga kebersihan pada masa nifas untuk menghindari infeksi, baik pada luka jahitan atau kulit (Anggreini, 2010).

a. Kebersihan alat genetalia

Setelah melahirkan biasanya perineum menjadi agak bengkak/memar dan mungkin ada luka jahitan bekas robekan atau episiotomi.

Anjuran:

1) Menjaga alat genetalia dengan mencucinya menggunakan sabun dan air, kemudian daerah vulva sampai anus harus kering sebelum

(25)

memakai pembalut wanita, setiap kali selesai buang air kecil atau besar, pembalut diganti minimal 3x sehari.

2) Cuci tangan dan sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah membersihkan daerah genetalia.

3) Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.

4) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.

5) Jika mempunyai luka episiotomi, hindari untuk menyentuh daerah luka. Ini yang kadang kurang diperhatikan oleh pasien dan tenaga kesehatan. Karena rasa ingin tahunya, tidak jarang pasien ingin menyentuh luka bekas jahitan di perineum tanpa memperhatikan efek yang bisa ditimbulkan dari tindakannya ini. Apalagi pasien kurang memperhatikan kebersihan tangannya sehingga tidak jarang terjadi infeksi.

b. Menjaga Kebersihan Vagina

Langkah-langkah untuk menjaga kebersihan vagina yang benar (Anggraeni, 2010):

1) Siram mulut vagina hingga bersih dengan air setiap kali habis BAK dan BAB. Air yang digunakan tidak perlu matang asalkan bersih. Basuh dari

(26)

arah depan ke belakang hingga tidak ada sisa-sisa kotoran yang menempel di sekitar vagina, baik itu dari air seni maupun faeses yang mengandung kuman dan bisa menimbulkan infeksi pada luka jahitan. 2) Vagina boleh dicuci menggunakan sabun maupun cairan antiseptik

karena dapat berfungsi sebagai penghilang kuman yang terpenting jangan takut memegang daerah tersebut dengan seksama.

3) Bila ibu benar-benar takut menyentuh luka jahitan, upaya menjaga kebersihan vagina dapat dilakukan dengan cara duduk berendam dalam cairan antiseptik selama 10 menit. Lakukan setelah BAB atau BAK. 4) Yang kadang terlupakan, setelah vagina dibersihkan, pembalutnya tidak

diganti. Bila seperti itu caranya maka akan percuma saja. Bukankah pembalut tersebut sudah dinodai darah dan kotoran? Berarti bila pembalut tidak diganti, maka vagina akan tetap lembab dan kotor. 5) Setelah dibasuh, keringkan perineum dengan handuk lembut, lalu

kenakan pembalut baru. Ingat pembalut harus diganti setiap habis BAB atau BAK atau minimal 3 jam sekali atau bila dirasa sudah tidak nyaman.

6) Setelah semua langkah tadi dilakukan, perineum dapat diolesi salep antibiotik yang diresepkan dokter.

5. Penyembuhan Luka a. Pengertian

Penyembuhan luka adalah proses pergantian dan perbaikan fungsi jaringan yang rusak (Boyle, 2009). Pada ibu yang baru melahirkan, banyak

(27)

komponen fisik normal pada masa post natal membutuhkan penyembuhan dengan berbagai tingkat pada umumnya masa nifas cenderung berkaitan dengan proses pengembalian tubuh ibu ke kondisi sebelum hamil, dan banyak proses di antaranya yang berkenan dengan proses involusi uterus, disertai dengan penyembuhan pada tempat plasenta (luka yang luas) termasuk ischemia dan autolysis.

b. Proses penyembuhan luka

Penyembuhan luka perineum adalah mulai membaiknya luka perineum dengan terbentuknya jaringan yang baru yang menutupi luka perineum dalam jangka waktu 6-7 hari post partum.

Kriteria penilaian luka adalah:

1) Baik, jika luka kering, perineum menutup dan tidak ada tanda infeksi (merah, bengkak, panas, nyeri, fungsioleosa).

2) Sedang, jika luka basah, perineum menutup, tidak ada tanda–tanda infeksi ( merah, bengkak, panas, nyeri, fungsioleosa).

3) Buruk, jika luka basah, perineum menutup/membuka dan ada tanda– tanda infeksi (merah, bengkak, panas, nyeri, fungsioleosa) (mas’adah, 2010).

c. Fase-Fase Penyembuhan Luka 1) Fase inflamasi

Pada fase ini, penyempitan pertama dari pembuluh darah untuk memastikan pembentukan gumpalan. Setelahnya, prostaglandin dan histamin dalam darah akan mulai melebarkan pembuluh darah untuk meningkatkan aliran darah ke luka.

(28)

2) Fase prolifetari

Fase ini, matriks darah baru dan sel-sel kulit mulai terbentuk, serta fibrolast yang berfungsi memproduksi kolagen juga terbentuk. Proses ini dipengaruhi oleh asam laktat, asam askorbat dan faktor yang mempengaruhi oksigen seperti zat besi, tembaga.

3) Fase pematangan

Pada tahap ini, penutupan luka di kulit terjadi, kulit mulai melakukan renovasi meskipun kadang tidak tertutup secara sempurna.

B. Faktor-faktor penghambat keberhasilan penyembuhan luka

Faktor-faktor penghambat keberhasilan penyembuhan luka adalah sebagai berikut:

1. Nutrisi/Gizi

Nutrisi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi (Supariasa, dkk, 2001).

Factor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein (Kang Kapuk, 2012).

Gizi atau disebut juga nutrisi, merupakan ilmu yang mempelajari perihal makanan serta hubungannya dengan kesehatan. Ilmu pengetahuan tentang

(29)

gizi (nutrisi) yang membahas sifat-sifat nutrien (zat-zat gizi) yang terkandung dalam makanan, pengaruh metaboliknya serta akibat yang timbul bila terdapat kekurangan (ketidak cukupan nutrisi) (Paath Francins E, 2005).

Wanita yang baru menjadi ibu hampir tidak dihindari mengalami pola tidur yang kurang, nutrisi yang tidak adekuat, dan stres psikologis. Memastikan bahwa wanita memiliki pengetahuan yang cukup tentang nutrisi agar memungkinkan mereka bukan saja untuk menjalani kehamilan yang sehat, tetapi juga untuk mendapatkan sumber-sumber guna mencapai kesehatan secara efisien setelah melahirkan, merupakan salah satu cara menurunkan komplikasi postnatal. Di Amerika Serikat juga ditemukan bahwa sebagian besar wanita memiliki pengetahuan yang tidak adekuat mengenai nutrisi untuk kehamilan dan pada masa nifas (Boyle , 2009)

Pada masa nifas terjadi perubahan fisiologis dan anatomis di antaranya yaitu uterus, lochea, vagina, perineum, dan payudara (Varney H, 2009). Pada masa nifas mempunyai beberapa kebutuhan dasar meliputi kebutuhan nutrisi, aktivitas, istirahat, perawatan payudara, perawatan vulva, eliminasi, dan latihan.

Selama kehamilan seorang calon ibu sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk memenuhi pasokan nutrisi bagi ibu dan bayi. Kebutuhan nutrisi meningkat selama kehamilan, namun tidak semua kebutuhan nutrisi meningkat secara proporsional (Paath Francin E, 2005). Setelah melahirkan kebutuhan gizi ibu nifas lebih banyak karena

(30)

selain untuk pembentukan ASI dalam proses menyusui juga berguna dalam pemulihan kondisi setelah melahirkan.

Periode postnatal adalah waktu ketika banyak wanita memulai diet. Bidan perlu memastikan bahwa wanita sadar apa yang tubuh mereka butuhkan, dan bahwa nutrisi yang baik diperlukan baik untuk penyembuhan dan mempertahankan kesehatan pada waktu stres meningkat. Oleh karena itu tidak akan bermanfaat menjalani diet sembarangan dan/atau mengurangi nutrien yang diperlukan pada masa nifas (Boyle M, 2009).

Ibu nifas dianjurkan untuk:

a. Makan dengan diet berimbang, cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.

b. Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6 bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua 400 kalori per harinya. Misal pada ibu dengan kebutuhan kalori per harinya 1800 kalori artinya plus tambahan 800 kalori sehingga kalori yang dibutuhkan sebanyak 2600 kalori. Demikian pula pada 6 bulan selanjutnya dibutuhkan rata-rata 2300 kalori dan tahun kedua 2200 kalori. Asupan cairan 3 liter/hari, 2 liter didapat dari air minum dan 1 liter dari cairan yang ada pada kuah sayur, buah dan makanan yang lain. Mengkonsumsi tablet besi 1 tablet tiap hari selama 40 hari.

c. Mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak. Pada bulan-bulan

(31)

pertama kehidupan bayi bergantung pada vitamin A yang terkandung dalam ASI.

Dengan terwujudnya semua makanan yang dianjurkan untuk ibu nifas maka proses penyembuhan luka heating akan semakin cepat sembuh dan kering (Suherni dkk, 2009).

2. Personal Higiene

Personal hygiene (kebersihan diri) dapat memperlambat penyembuhan,

hal ini dapat menyebabkan adanya benda asing seperti debu dan kuman. Adanya benda asing, pengelupasan jaringan yang luas akan memperlambat penyembuhan dan kekuatan regangan luka menjadi tetap rendah (Johnson Ruth, dkk, 2004). Luka yang kotor harus dicuci bersih. Bila luka kotor, maka penyembuhan sulit terjadi. Kalaupun sembuh akan memberikan hasil yang buruk.

Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan

dan kesehatan seseorang untuk menjaga kesehatan fisik dan psikis. Menjaga

personal hygiene atau kebersihan tubuh pada masa nifas adalah suatu

tindakan yang dilakukan untuk menjaga agar tubuh kita tetap bersih pada saat nifas (Wiknjosastro, 2002).

Pada prinsipnya kebersihan alat kelamin pada saat nifas dilandasi beberapa alasan yaitu banyak darah dan kotoran yang keluar dari alat kelamin, alat kelamin berada dekat saluran buang air kecil dan buang air besar yang kita lakukan setiap hari. Adanya luka di daerah perineum yang terkena kotoran dapat terinfeksi, alat kelamin merupakan organ terbuka yang

(32)

mudah dimasuki kuman dan menjalar ke rahim, dan kebersihan yang kurang terjaga di mana nifas, bukannya hanya mengundang infeksi pada alat kelamin tapi juga rahim (Muchtar R, 2002).

Mandi diperlukan untuk menjaga kebersihan/higiene terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut atau ringan. Mandi berendam tidak dianjurkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah:

a. Tidak mandi air panas b. Tidak mandi air dingin

c. Pilih antara shower dan bak mandi sesuai dengan keadaan personal (Yulaikhah, 2008).

Wanita dianjurkan untuk defekasi teratur dengan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat seperti sayuran, selain itu, perawatan perineum dan vagina dilakukan setelah BAK/BAB dengan cara membersihkan dari depan ke belakang, menggunakan pakaian dalam dari bahan katun, sering mengganti pakaian dalam dan tidak melakukan pembilasan (Yulaikhah, 2008).

3. Tradisi

Di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca persalinan masih banyak digunakan, meskipun oleh kalangan masyarakat modern. Misalnya untuk perawatan kebersihan genital, masyarakat tradisional menggunakan daun sirih yang direbus dengan air kemudian dipakai untuk cebok. Penggunaan ramuan obat untuk perawatan luka dan teknik perawatan

(33)

luka yang kurang benar merupakan penyebab terlambatnya penyembuhan (Zury, 2011).

4. Pengetahuan

Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangat menentukan lama penyembuhan luka perineum. Apabila pengetahuan ibu kurang, terlebih masalah kebersihan maka penyembuhan lukapun akan berlangsung lama (Zury, 2011).

5. Cara perawatan

Perawatan yang tidak benar menyebabkan infeksi dan memperlambat penyembuhan. Karena perawatan yang kasar dan salah dapat mengakibatkan kapiler darah baru rusak dan mengalami perdarahan (Ruth dan Wendy, 2004). 6. Lingkungan

Lingkungan yang paling efektif untuk keberhasilan penyembuhan luka ialah lambat dan hangat. Penyembuhan luka yang efisien selama fase regeneratif bergantung pada lingkungan yang lembab dan stabil. Lingkungan yang lembab juga mengurangi terjadinya infeksi dan ada beberapa bukti bahwa lingkungan tersebut dapat mengurangi nyeri akibat luka (Boyle, 2009).

C. Konsep Nifas 1. Pengertian

Masa nifas (puerperium) dimulai sejak plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu. Puerperium (nifas) berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal (Ambarwati E, 2009).

(34)

Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat–alat kandungan kembali seperti pra hamil (Rustam Mochtar, 2002).

Masa nifas atau post partum disebut juga puerperineum yang berasal; dari bahasa latin yaitu dari kata “puer” yang artinya bayi dan “parous” berarti melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim karena sebab melahirkan atau setelah melahirkan (Anggreini, 2010).

Masa nifas (Puerperium) adalah mulai partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Jadi masa nifas adalah masa yang dimulai dari plasenta lahir sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, dan memerlukan waktu kira-kira 6 minggu (Wiknjosastro, 2005).

Dalam masa nifas, alat-alat genitalia internal maupun eksternal akan berangsur-angsur pulih seperti ke keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan pendidikan kesehatan /health education seperti personal hygiene, istirahat dan tidur (Wiknjosastro, 2005).

2. Tahapan masa nifas

Anggraeni (2010) menyatakan bahwa tahapan masa nifas dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

(35)

b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

c. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu sehat sempurna bisa berminggu-mingu, bulanan dan tahunan.

3. Perubahan fisiologi masa nifas

a. Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil dengan berat 60 gram.

b. Bekas luka implantation plasenta dengan cepat mengecil, pada minggu ke 2 sebesar 6-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm (Anggraeni, 2010).

c. Luka-luka pada jalan lahir, seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks umumnya bila tidak disertai infeksi akan sembuh per primam (Wiknjosastro, 2005).

d. Rasa sakit, Yang disebut after pain (meriang dan mules-mules) disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 3-4 hari pasca persalinan (Anggraeni, 2010).

e. Lokhea

Menurut Anggraeni (2010), lokhea dibagi menjadi: 1) Lokhea rubra

Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vornik

(36)

2) Lokhea sanguinolenta

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari 3-7 hari persalinan. 3) Lokhea serosa

Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 hari pasca persalinan.

4) Lokhea alba

Cairan putih setelah 2 minggu. 5) Lokhea purulenta

Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk. 6) Lokheastasis

Lokhea yang tidak lancar keluarnya.

f. Serviks

Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong, berwarna merah kehitaman, konsistennya lunak. Setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari (Wiknjosastro, 2005).

g. Ligamen-ligamen

Ligamen, vasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu

kehamilan dan persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligament rotandum menjadi kendor (Wiknjosastro, 2005).

(37)

D. Kerangka Konsep

Faktor-faktor penghambat keberhasilan penyembuhan luka menurut Boyle (2008) adalah sebagai berikut:

Variabel Independent Variabel Dependent

Gambar 2.1: Kerangka Konsep

E. Hipotesa Penelitian

1. Ada hubungan antara nutrisi dengan penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie. 2. Ada hubungan antara personal higiene dengan penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

Penyembuhan Luka Perineum Nutrisi

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Pada penelitian observasional analitik, penulis mencoba untuk mencari hubungan variabel bebas (faktor risiko) dengan variabel tergantung (efek) yang analisisnya untuk menentukan ada tidaknya hubungan antar variabel itu sehingga perlu disusun hipotesisnya (Hidayat A, 2010).

B. Populasi Dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas yang mengalami luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie Tahun 2013.

2. Sampel

Untuk menetapkan jumlah sampel dapat digunakan rumus dengan metode purposive sampling (Lemeshowb dkk,1997):

Keterangan:

n : Jumlah sampel yang dibutuhkan

Z2 .1- /2 : Nilai baku distribusi normal pada tertentu 95% = 1,96 ; 90% = 1,645 ; 99% = 2,58

(39)

P : Proporsi sesuatu (hasil penelitian dari Yulizawati yaitu penyembuhan luka baik sebanyak 6 orang (9,2%)

q : 1-P

d : Derajat akurasi yang diinginkan

n =

n =

n =

n = 32

Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan metode purposive sampling yaitu penulis memilih responden atau sampel berdasarkan pada pertimbangan subjektif dan praktis yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan peneliti. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah a) Bersedia menjadi responden, b) Ada luka perineum dengan derajat I dan II, c) Bisa baca tulis.

C. Tempat dan waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Juni sampai 15 Juli 2013. 0,01 0,32078 0,01 1,96². 0,092 (1 – 0, 092) 0,1² 3,84. 0,092 (0, 908)

(40)

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Data Primer

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dengan cara mengedarkan kuesioner dan melakukan observasi luka langsung dengan responden tentang hubungan pemenuhan nutrisi dan personal hygiene pada ibu nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

2. Data Sekunder

Data sekunder yang diperoleh dari Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie yaitu data ibu nifas yang mengalami luka perineum yang dikumpulkan mulai bulan Agustus 2012-Februari 2013.

E. Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur Variabel Dependent ( variabel Terikat)

1. Penyembuhan luka perineum

Sembuh tidaknya luka perineum dalam tujuh hari post partum.

Observasi Cheklist Nominal - Sembuh

- Tidak Sembuh

Variabel Independen (Variabel bebas) 2. Nutrisi Intake yang bergizi

yang dikonsumsi ibu post partum mulai habis

melahirkan sampai hari ketujuh post partum.

Mengedar kan kuesioner

Kuesioner Ordinal - Baik - Kurang

3. Personal

Hygiene

Kebersihan diri ibu post partum dalam tujuh hari post partum.

Mengedar kan kuesioner

Kuesioner Ordinal - Baik - Tidak

(41)

F. Cara Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel dilakukan sebagai berikut:

1. Penyembuhan luka perineum dibagi atas 2 kategori a. Sembuh : Jika responden sembuh ≤ 7 hari b. Tidak Sembuh : Jika responden sembuh > 7 hari

2. Nutrisi terhadap penyembuhan luka perineum dibagi 2 kategori:

a. Baik : Jika responden menjawab dengan tepat x ≥ 22 dari 7 pernyataan yang diberikan

b. Kurang : Jika responden menjawab dengan kurang tepat x < 22 dari 7 pernyataan yang diberikan.

3. Personal hygiene terhadap penyembuhan luka perineum

a. Baik : Jika responden menjawab dengan tepat x24 dari 7 pernyataan yang diberikan.

b. Tidak Baik : Jika responden menjawab dengan kurang tepat x < 24 dari 7 pernyataan yang diberikan.

G. Instrumen Penelitian

Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah berisi kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan, 1 pernyataan tentang penyembuhan luka, 7 pernyataan tentang nutrisi dan 7 pernyataan tentang personal hygiene.

(42)

H. Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan data

Data yang telah terkumpul diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut (Purwanto, 2004):

a. Editing : Dilakukan pengecekan kelengkapan data, bila terdapat kesalahan maka akan diperbaiki dengan pemeriksaan ulang.

b. Coding : Pemberian nilai pada hasil yang telah ditetapkan dan

menjumlahkannya.

c. Transferring : yaitu data yang telah diberi kode disusun secara

berurutan mulai dari responden pertama sampai responden terakhir untuk dimasukkan dalam tabel. d. Tabulating : Perhitungan sesuai variabel yang dibutuhkan lalu

dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi untuk mempermudah analisa data dan pengambilan kesimpulan.

2. Analisa Data a. Univariat

Data yang diperoleh dari hubungan pemenuhan nutrisi dan personal

hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum dianalisa

dengan cara uji statistik yaitu dengan menghitung persentase dari setiap variabel.

(43)

Untuk test uji hubungan pemenuhan nutrisi dan personal hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum, penganalisa data dilakukan dengan menggunakan rumus rata-rata sampel yaitu: (Hidayat A, 2007)

x =

Keterangan:

x = Rata-rata hitung sampel

= Total nilai n = Jumlah sampel

Data yang diperoleh dari kuesioner dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi, kemudian dipresentasekan ke tiap-tiap kategori dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Machfoedz I, 2008).

% 100 x n f P  Keterangan: P = persentase f = Frekwensi teramati n = Jumlah sampel b. Bivariat

Analisa bivariat merupakan analisis hasil dari variabel-variabel bebas yang diduga mempunyai hubungan dengan variabel terikat. Analisa yang digunakan adalah tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa dilakukan analisa statistik dengan menggunakan uji kategorik Chi Square Test (X2)

n x

(44)

pada tingkat kemaknaannya adalah 95% ( P ≤ 0,05) sehingga dapat diketahui ada atau tidakanya perbedaan yang bermakna secara statistik, dengan menggunakan program computer SPSS for windows Versi 16,0. Melalui perhitungan uji Chi square (x2) selanjutnya ditarik suatu kesimpulan bila nilai P lebih kecil atau sama dengan nilai alpha (0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang menunjukkan ada hubungan bermakna antara variabel terikat dengan variabel bebas

Untuk menentukan nilai p-value pada uji Chi-Square Test (X ) 2

table, memiliki ketentuan sebagai berikut: (Arikunto, 2006)

1) Bila Chi-Square Test (X ) tabel terdiri dari tabel 2 x 2 dijumpai nilai 2 expected (E) <5 maka nilai p-value yang digunakan adalah nilai yang terdapat pada nilai Fisher exact test.

2) Bila Chi-Square Test (X ) tabel terdiri dari tabel 2x2 tidak dijumpai 2 nilai expected (E) <5 maka nilai p-value yang digunakan adalah nilai yang terdapat pada nilai continuity correction.

3) Bila Chi-Square Test (X ) tabel terdiri dari tabel lebih dari 2 x 2 2 misalnya 3 x 2, 3 x 3 dan lain-lain, maka nilai p-value yang digunakan adalah nilai yang terdapat pada nilai Pearson Chi-Square.

(45)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Klinik sehat harapan ibu adalah salah satu klinik yang letaknya jauh dari pinggiran kota, klinik tersebut berada didesa sagoe kecamatan glumpang baro kabupaten pidie. Klinik sehat harapan ibu ini dipimpin oleh ibu Cut Rosmini, Amd.Keb, dibantu oleh 2 dokter umum, 4 orang bidan, 2 orang perawat, 1 orang tenaga laboratorium. Klinik sehat berdiri pada tahun 2010 yang sebelumnya BPS. Klinik ini terdiri dari 2 ruang bersalin, 1 IGD, 1 laboratorium, 1 apotik, 1 poli umum, dan 8 kamar rawat inap.

Letak geografis Klinik Sehat Harapan Ibu mempunyai batasan wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah Barat berbatasan dengan Gampong Mayang

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Tp. Raya-Kb. Tanjong 3. Sebelah Utara berbatasan dengan Gampong Jurong Baro 4. Sebelah Selatan Berbatasan dengan Gampong Pisang

B. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 10 Juni sampai 15 Juli 2013 terhadap ibu-ibu nifas yang berada di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie yang berjumlah 32 orang dengan memberikan kuesioner yang berisikan pernyataan dan juga dilakukan

(46)

observasi terhadap keadaan luka perineum ibu, dimana diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:

1. Data Demografi Responden

Tabel 4.1

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Pendidikan, Pekerjaan dan Paritas Pada Ibu Nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu

Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie

No Umur Frekuensi Persentase

1. 2. 3. < 20 Tahun 20-35 Tahun > 35 Tahun 1 26 5 3,1 81,3 15,6 Jumlah 32 100

No Pendidikan Frekuensi Persentase

1. 2. 3. Tinggi Menengah Dasar 10 15 7 31,2 46,9 21,9 Jumlah 32 100

No Pekerjaan Frekuensi Persentase

1. 2. Bekerja Tidak bekerja 13 19 40,6 59,4 Jumlah 32 100

No Paritas Frekuensi Persentase

1. 2. 3. Primipara Multipara Grandemultipara 14 17 1 43,8 53,1 3,1 Jumlah 32 100

Sumber: Data Primer (diolah tahun 2013).

Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa umur responden mayoritas berada pada umur 20-35 tahun yaitu sebanyak 26 responden

(47)

(81,3%), pendidikan responden mayoritas berada pada kategori menengah yaitu sebanyak 15 responden (46,9%), pekerjaan responden mayoritas berada pada kategori tidak bekerja yaitu sebanyak 19 responden (59,4%), dan paritas responden mayoritas berada pada kategori multipara yaitu sebanyak 17 orang (53,1%).

2. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari variabel dependent dan variabel independent. Maka dari hasil penelitian ini peneliti akan menyajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

a. Penyembuhan Luka

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro

Kabupaten Pidie

No Penyembuhan Luka Frekuensi Persentase

1. 2. Sembuh Tidak Sembuh 17 15 53,1 46,9 Jumlah 32 100

Sumber: Data primer (diolah tahun 2013).

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa dari 32 responden mayoritas mengalami penyembuhan luka yang baik (sembuh) yaitu sebanyak 17 orang (53,1%).

(48)

b. Nutrisi

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Nutrisi Dalam Masa Nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie

Nutrisi Frekuensi Persentase

1. 2. Baik Kurang 18 14 56,2 43,8 Jumlah 32 100

Sumber: Data primer (diolah tahun 2013).

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa dari 32 responden mayoritas memiliki nutrisi yang baik dalam masa nifas yaitu sebanyak 18 orang (56,2%).

c. Personal Hygiene

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Personal Hygiene Dalam Masa Nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro

Kabupaten Pidie

Personal Hygiene Frekuensi Persentase 1. 2. Baik Tidak Baik 20 12 62,5 37,5 Jumlah 32 100

Sumber: Data primer (diolah tahun 2013).

Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa dari 32 responden mayoritas memiliki personal hygiene yang baik dalam masa nifas yaitu sebanyak 20 orang (62,5%).

(49)

3. Analisa Bivariat

a. Hubungan Nutrisi Dengan Penyembuhan Luka Perineum Tabel 4.5

Hubungan Pemenuhan Nutrisi Dalam Masa Nifas Dengan Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan

Glumpang Baro Kabupaten Pidie

No Nutrisi Penyembuhan Luka Total p Value Sembuh Tidak Sembuh f % f % f % 1. Baik 15 83,3 3 16,7 18 100 0,000 2. Kurang 2 14,3 12 85,7 14 100 Jumlah 17 15 32

Sumber: Data Diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa dari 18 responden yang melakukan pemenuhan nutrisi yang baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang baik (sembuh) yaitu sebanyak 15 orang (83,3%), sedangkan dari 14 responden yang melakukan pemenuhan nutrisi yang kurang baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang tidak baik (tidak sembuh) yaitu sebanyak 12 orang (85,7%).

Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-square didapat nilai p value = 0,000 (p < 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pemenuhan nutrisi dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

(50)

b. Hubungan Personal Hygiene Dengan Penyembuhan Luka Perineum Tabel 4.6

Hubungan Personal Hygiene Dalam Masa Nifas Dengan Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan

Glumpang Baro Kabupaten Pidie

No

Personal Hygiene

Penyembuhan Luka Total p

Value Sembuh Tidak Sembuh f % F % f % 1. Baik 15 75 5 25 20 100 0,005 2. Tidak Baik 2 16,7 10 83,3 12 100 Jumlah 17 15 32

Sumber: Data Diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa dari 20 responden yang memiliki personal hygiene yang baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang baik (sembuh) yaitu sebanyak 15 orang (75%), sedangkan dari 12 responden yang memiliki personal hygiene yang tidak baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang tidak baik (tidak sembuh) yaitu sebanyak 10 orang (83,3%).

Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-square didapat nilai p value = 0,005 (p < 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara personal hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

(51)

C. Pembahasan

1. Hubungan Pemenuhan Nutrisi Dalam Masa Nifas Dengan Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa dari 18 responden yang melakukan pemenuhan nutrisi yang baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang baik (sembuh) yaitu sebanyak 15 orang (83,3%), sedangkan 14 responden yang melakukan pemenuhan nutrisi yang kurang baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang tidak baik (tidak sembuh) yaitu sebanyak 12 orang (85,7%).

Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-square didapat nilai p value = 0,000 (p < 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pemenuhan nutrisi dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum.

Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukan oleh Kang Kapuk (2013) yang menyatakan bahwa faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein. Dengan terwujudnya semua makanan yang dianjurkan untuk ibu nifas maka proses penyembuhan luka heating akan semakin cepat sembuh dan kering.

Penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Dina Dewi (2010) yang menunjukan bahwa hasil analisis bivariat ada hubungan yang bermakna antara pemenuhan nutrisi dengan penyembuhan luka perineum.

(52)

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian maka asumsi peneliti bahwa faktor nutrisi sangat berpengaruh terhadap penyembuhan luka karena responden disini dalam masa nifas sudah mengerti dalam pemenuhan nutrisi dan sudah mau mengkonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan maupun ikan, daging dan telur dalam masa nifas sehingga proses penyembuhan luka baik dan cepat. Hal ini juga dikarenakan responden rata-rata berumur antara 20-35 tahun yang masih dalam masa reproduksi sehingga proses penyembuhan lukanya cepat, begitu juga dengan pendidikan responden yang rata-rata berada pada ketegori menengah dan tinggi yang membuat responden tahu akan pemenuhan nutrisi yang baik.

2. Hubungan Personal Hygiene Dalam Masa Nifas Dengan Penyembuhan Luka Perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa dari 20 responden yang memiliki personal hygiene yang baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang baik (sembuh) yaitu sebanyak 15 orang (75%), sedangkan dari 12 responden yang memiliki personal hygiene yang tidak baik dalam masa nifas mengalami penyembuhan luka perineum yang tidak baik (tidak sembuh) yaitu sebanyak 10 orang (83,3%).

Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-square didapat nilai p value = 0,005 (p < 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara personal hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

(53)

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang dibenarkan oleh Johnson (2004) yang menyatakan bahwa Personal hygiene (kebersihan diri) kurang dapat memperlambat penyembuhan, hal ini dapat menyebabkan adanya benda asing seperti debu dan kuman. Adanya benda asing, pengelupasan jaringan yang luas akan memperlambat penyembuhan dan kekuatan regangan luka menjadi tetap rendah (Johnson R, dkk, 2004). Luka yang kotor harus dicuci bersih. Bila luka kotor, maka penyembuhan sulit terjadi. Kalaupun sembuh akan memberikan hasil yang buruk.

Penelitian juga sejalan dengan hasil penelitian Dina Dewi (2010) yang menunjukan bahwa hasil analisis bivariat ada hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan penyembuhan luka perineum.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian maka asumsi peneliti bahwa adanya hubungan personal hygiene dengan penyembuhan luka perineum dikarenakan responden diklinik sehat harapan ibu sebahagian besar sudah mengetahui cara perawatan luka seperti menjaga luka selalu kering, mengganti duk 3 kali sehari, mencuci tangan dengan sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah membersihkan genetalia. Hal itu juga dikarenakan pendidikan responden berada pada kategori menengah dan rata-rata paritasnya multipara jadi sudah ada pengalaman dari masa nifas yang pertama. Disini juga dapat dilihat dari segi pekerjaan yang sebagian responden bekerja sehingga responden tahu dan mau melakukan perawatan diri dengan baik dan benar supaya cepat sembuh sehingga dapat kembali ke aktivitasnya sehari-hari dalam bekerja.

(54)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap 32 ibu nifas di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Ada hubungan pemenuhan nutrisi dalam masa nifas dengan penyembuhan luka perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie dengan nilai p<0,05 (0,000).

2. Ada hubungan personal hygiene dalam masa nifas dengan penyembuhan luka

perineum di Klinik Sehat Harapan Ibu Kecamatan Glumpang Baro

Kabupaten Pidie dengan nilai p<0,05 (0,005).

B. Saran

1. Diharapkan kepada ibu selama masa nifas untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk memenuhi pasokan nutrisi bagi ibu dan produksi ASI serta dapat mempercepat penyembuhan luka perineum.

2. Diharapkan kepada ibu nifas untuk menjaga personal hygiene atau kebersihan tubuh dalam masa nifas untuk mencegah terjadi infeksi yang dapat memperlambat penyembuhan luka perineum.

3. Diharapkan kepada petugas kesehatan khususnya bidan agar dapat memberikan informasi dan penyuluhan kepada ibu-ibu nifas tentang

(55)

perawatan luka perineum dan tidak melakukan pantangan makanan dalam masa nifas.

4. Diharapkan kepada Kepala Dinas Kesehatan supaya dapat menepatkan bidan disetiap desa untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pada ibu-ibu nifas. 5. Diharapkan bagi Peneliti lainnya agar dapat terus mengadakan penelitian

(56)

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati E, 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Mitra Cendikia; Yogyakarta Anggreini, 2010. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Pustaka Rihama; Yogyakarta Bobak, dkk, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. EGC; Jakarta

Boyle M, 2009. Seri Praktik Kebidanan Pemulihan Luka. EGC; Jakarta BKKBN, 2011. Angka Kematian Ibu.. Avaiabel http://healthkompas.

.com/real//2012/01/31/22093816).Diakses tanggal 26 Februari 2013

BKKBN, 2006. Hati-Hati Infeksi Nifas. Available: http://www.pikas.bkkbn.go.id /artide-detail.php/aid). Diakses tanggal 15 Maret 2013

Depkes RI, 2005. Catatan Tentang Perkembangan Dalam Praktek Kebidanan. Unicef; Jakarta

Dinkes Pidie, 2012. Laporan Umpan Balik Ibu Nifas. KIA; Pidie Henderson C, 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. EGC; Jakarta

Hidayat A, 2007. Metodelogi Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Salemba Medika; Surabaya

Huliana M, 2003. Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Puspa Swara; Jakarta Johnson R, dkk, 2004. Buku ajar Praktik Kebidanan. EGC; Jakarta

JNPK_KR, 2007. Asuhan Persalinan Normal.Chef The Children; Jakarta

Kang Kapuk, 2012. Perawatan Luka Perineum Post Partum. (http://perawatanlukaperineum.com/13/12/2012) . diakses tanggal 26 Februari 2013

Klinik SHI, 2013. Buku Laporan Intra Natal Care. CR; Sigli

Lameshowb Stanley, 1997. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. UGM; Yogyakarta

Machfoedz Ircham, 2008. Metodologi Penelitian. Fitramaya; Yogyakarta

Mas’adah S, 2010. Hubungan Antara Kebiasaan Berpantang Makanan Tertentu Dengan Penyembuhan Luka Perineum Pada Masa Nifas. Jurnal; Diakses tanggal 26 Februari 2013

Gambar

Gambar 2.1: Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Atau studi terhadap reproduksi binatang pecobaan memperlihatkan adanya efek samping (selain penurunan fertilitas) yang tidak didapati pada studi terkontrol pada wanita

The Dominant Processes Types Found In Script of Hillary Clinton Speech at Presidential Election on August 2008 Based on the Material Process, Mental Process, Behavioral

Seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, perilaku seksual juga dipengaruhi oleh citra tubuh, dimana menurut Ackard, Kearney-Cooke dan Peterson (2000) yang

Sifat kikir pada dasarnya memang dimiliki oleh semua manusia baik laki- laki maupun perempuan. Hal itu juga yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Adakalanya suami berlaku kikir

Pada penelitian ini, dilakukan pembuatan model layanan perpustakaan di bagian front office, penyusunan skenario dan analisa cost benefit terhadap skenario dengan

Kosentrasi kepemilikan saham (X2) mempunyai pengaruh yang positif terhadap Dividen Payout Ratio, dengan koefisien regresi sebesar 0,891 yang artinya apabila Kosentrasi kepemilikan

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun mengkudu yang paling tinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus yaitu

Penerapan metode pembelajaran blended learning berbasis ICT pada mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) secara tepat dengan menggunakan fasilitas edmodo yang