PENGARUH DEMOKRASI LIBERAL DI INDONESIA
PENGARUH DEMOKRASI LIBERAL DI INDONESIA
A.
DALAM BIDANG POLITIK
Pemerintahan tidak stabil karena sering terjadi pergantian cabinet. Adapun kabinet pada masa demokrasi liberal, yaitu :
a. KABINET NATSIR (6 September 1950 – 21 Maret 1951)
Merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi
Dipimpin Oleh : Muhammad Natsir
Program :
1. Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman.
2. Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.
3. Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang.
4. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat.
5. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.
Prestasi :
Berlangsung perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah Irian Barat.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
b. KABINET SUKIMAN (27 April 1951 – 3 April 1952)
Merupakan kabinet koalisi antara Masyumi dan PNI.
Dipimpin Oleh: Sukiman Wiryosanjoyo
Program :
2. Mengusahakan kemakmuran rakyat dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan
kepentingan petani.
3. Mempercepat persiapan pemilihan umum.
4. Menjalankan politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam
wilayah RI secepatnya.
Prestasi :
Tidak terlalu berarti sebab programnya melanjutkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala prioritas dalam pelaksanaan programnya, seperti awalnya program Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin keamanan dan ketentraman. Ada pula perusahaan kecil mengalami kemajuan, perluasan pendidikan yang cepat, adanya perlindungan bagi kaum buruh.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Muncul pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan mandatnya kepada presiden.
c. KABINET WILOPO (3 April 1952 – 3 Juni 1953)
Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli
dalam biangnya.
Dipimpin Oleh : Mr. Wilopo
Program :
1. Program dalam negeri : Menyelenggarakan pemilihan umum (konstituante, DPR, dan
DPRD), meningkatkan kemakmuran rakyat, meningkatkan pendidikan rakyat, dan pemulihan keamanan.
2. Program luar negeri : Penyelesaian masalah hubungan Indonesia-Belanda, Pengembalian
Irian Barat ke pangkuan Indonesia, serta menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif. Prestasi : Berkembangnya tambang minyak
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Akibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden.
d. KABINET ALI SASTROAMIJOYO I (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
Dipimpin Oleh : Mr. Ali Sastroamijoyo
Program :
1. Meningkatkan keamanan dan kemakmuran serta segera menyelenggarakan Pemilu.
2. Pembebasan Irian Barat secepatnya.
3. Pelaksanaan politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB.
4. Penyelesaian Pertikaian politik
Prestasi :
Persiapan Pemilihan Umum untuk memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan
pada 29 September 1955.
Menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Nu menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden.
e. KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956)
Dipimpin Oleh : Burhanuddin Harahap
Program :
1. Mengembalikan kewibawaan pemerintah, yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan
Darat dan masyarakat kepada pemerintah.
2. Melaksanakan pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat
terbentuknya parlemen baru
3. Masalah desentralisasi, inflasi, pemberantasan korupsi
4. Perjuangan pengembalian Irian Barat
5. Politik Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif.
Prestasi :
Penyelenggaraan pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih
anggota DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih konstituante). Terdapat 70 partai politik yang mendaftar tetapi hanya 27 partai yang lolos seleksi. Menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh suara terbanyak, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.
Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni
Indonesia-Belanda.
Pemberantasan korupsi dengan menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi
Terbinanya hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin.
Menyelesaikan masalah peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution
sebagai Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955. Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Dengan berakhirnya pemilu maka tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Pemilu tidak menghasilkan dukungan yang cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh. Akan dibentuk kabinet baru yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula.
f. KABINET ALI SASTROAMIJOYO II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957)
Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai yaitu PNI, Masyumi, dan NU.
Dipimpin Oleh : Ali Sastroamijoyo
Program :
Program kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang, sebagai berikut.
1. Perjuangan pengembalian Irian Barat
2. Pembentukan daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota
DPRD.
3. Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai.
4. Menyehatkan perimbangan keuangan negara.
5. Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan
kepentingan rakyat.
Selain itu program pokoknya adalah,
Pembatalan KMB,
Pemulihan keamanan dan ketertiban, pembangunan lima tahun, menjalankan politik luar
negeri bebas aktif,
Melaksanakan keputusan KAA.
Prestasi :
Mendapat dukungan penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment, hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi membuat kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada presiden.
Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli
dalam bidangnya. Dibentuk karena Kegagalan konstituante dalam menyusun Undang-undang Dasar pengganti UUDS 1950. Serta terjadinya perebutan kekuasaan antara partai politik. Dipimpin Oleh : Ir. Juanda
Program :
Programnya disebut Panca Karya sehingga sering juga disebut sebagai Kabinet Karya, programnya yaitu :
Membentuk Dewan Nasional
Normalisasi keadaan Republik Indonesia
Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB
Perjuangan pengembalian Irian Jaya
Mempergiat/mempercepat proses Pembangunan
Semua itu dilakukan untuk menghadapi pergolakan yang terjadi di daerah, perjuangan pengembalian Irian Barat, menghadapi masalah ekonomi serta keuangan yang sangat buruk.
Prestasi :
Mengatur kembali batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, yang
mengatur mengenai laut pedalaman dan laut teritorial. Melalui deklarasi ini menunjukkan telah terciptanya Kesatuan Wilayah Indonesia dimana lautan dan daratan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat.
Terbentuknya Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan
pertumbuhan kekuatan yang ada dalam masyarakat dengan presiden sebagai ketuanya. Sebagai titik tolak untuk menegakkan sistem demokrasi terpimpin.
Mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai
daerah. Musyawarah ini membahas masalah pembangunan nasional dan daerah, pembangunan angkatan perang, dan pembagian wilayah RI.
Diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri
tetapi tidak berhasil dengan baik. Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Berakhir saat presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI yaitu Demokrasi Terpimpin.
Dampak Demokrasi Liberal Terhadap Ekonomi di Indonesia tahun 1950-1959
Meskipun Indonesia telah merdeka tetapi Kondisi ekonomi Indonesia masih sangat buruk. Upaya untuk mengubah struktur ekonomi kolonial ke ekonomi nasional berjalan tersendat-sendat. Faktor yang menyebabkannya adalah :
1. Indonesia menanggung beban ekonomi dan keuangan yang telah ditetapkan dalam KMB. Beban tersebut berupa hutang luar negeri sebesar 1.5 Triliun rupiah dan hutang dalam negeri sebesar 2.8 Triliun rupiah.
2. Defisit sebesar 5.1 Miliar yang harus ditanggung.
3. Perekonomian Indonesia bergantung pada jenis ekspor hasil bumi yaitu pertanian dan perkebunan, apabila permintaan berkurang, maka ekonomi Indonesia akan terpukul.
4. Politik keuangan Indonesia dirancang oleh Belanda.
5. Belanda tidak mewarisi nilai-nilai yang cukup untuk mengubah sistem perekonomian. 6. Belum memiliki pengalaman untuk menata ekonomi secara baik, belum adanya tenaga ahli
dan dana yang memadai.
7. Situasi keamanan dalam negeri yang tidak menguntungkan berhubung banyaknya pemberontakan dan gerakan separatisme.
8. Tidak stabilnya situasi politik dalam negeri yang menyebabkan pengeluaran di bidang keamanan terus meningkat.
9. Kabinet yang terus berganti menyebabkan program-program kabinet tidak dapat dilaksanakan sementara program baru mulai dirancang.
10. Meledaknya angka pertumbuhan penduduk.
Masalah jangka pendek
Masalah jangka pendek yang dihadapi adalah : 1. Banyaknya jumlah uang yang beredar. 2. Naiknya biaya hidup.
Masalah jangka panjang
Masalah jangka panjang yang dihadapi adalah Pertambahan jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan penduduk yang rendah.
Pada masa kabinet Sukirman, salah satu perubahan ekonomi yang terjadi adalah nasionalisasi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah. Proses Nasionalisasi itu menyangkut 3 bidang utama yaitu nasionaliasi de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia, pembentukan Bank Negara Indonesia, dan
pemberlakuan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI).
Bank Indonesia adalah bank nasional pertama Indonesia dan dikukuhan pada 5 Juli 1946. Langkah selanjutnya adalah nasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia (BI) yang berfungsi sebagai bank sentral dan bak sirkulasi. Pemerintah Indonesia juga melakukan nasionalisasi mata uang Republik Indonesia dengan menukar mata uang Jepang ke mata uang Indonesia (ORI). Pada masa demokrasi parlemeter, proses nasionalisasi ekonomi Indonesia tidak berjalan dengan
mulus karena konflik kepentingan antar kelompok di dalam tubuh konstituante dan parlementer. Salah satu masalah yang dihadap adalah kondisi yang timpang karena berpindahnya aset-aset modal yang dimiliki oleh para pengusaha Belanda ke tangan pengusaha nonpribumi. Untuk mengatasi masalah tersebut Kongres Nasional Importir Indonesia mengeluarkan sebuah kebijakan yang dinamakan Gerakan Asaat. Gerakan itu mendorong pemerintah untuk mengeluarkan peraturan yang dapat melindungi pengusaha pribumi dalam berdaya asing terhadap pengusaha-pengusaha nonpribumi.
2.1 Dampak-Dampak Demokrasi Terpimpin.
Setelah Sukarno mengeluarkan Dekrit tanggal 5 Juli 1959 maka Indonesia memasuki babak baru dalam Sejarah. Dekrit Presiden menandai berdirinya rezim Demokrasi Terpimpin atau istilah lainnya adalah orde lama. Demokrasi Terpimpin didominasi oleh kehendak Presiden Soekarno, walaupun prakarsa pelaksanaannya diambil bersama-sama dengan pimpinan angkatan bersenjata. Banyak pengamat yang menganggap Presiden Soekarno sebagai diktator ulung. Dia adalah ahli manipulator rakyat daan manipulator lambang-lambang. Dia dapat berpidato dengan mudah di depan khalayak ramai.
Dalam pelaksaaan Demokrasi Terpimpin terjadi banyak pelanggaran terhadap UUD 1945. Dari pengangkatan Presiden Soekarno sebagai presiden seumur hidup sampai penetapan pidatonya sebagai Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam pidatonya pada hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1959, Presiden Soekarno menguraikan ideologi demokrasi terpimpin yang beberapa bulan kemudian dikenal dengan Manipol (manifesto politik).
Presiden Soekarno menyerukan untuk dibangkitkannya kembali semangat revolusi, keadilan sosial, dan pelengkapan kembali lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi negara demi revolusi yang berkelanjutan. Pada tahun 1960 kaidah yang samat semakin rumit karena ditambahkannya kata USDEK yang merupakan singkatan dari UUD 1945, Sosialis-Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia.
Manipol-USDEK diperkenalkan di segala tingkat pendidikan dan pemerintahan, dan
pers diharuskan mendukungnya. Penyebaran ideologi Manipol-USDEK ini menyebar sampai pelosok pegunungan. Bagi redaktur yang tidak mendukungnya, maka surat kabar mereka dilarang terbit seperti redaktur yang pro-Masyumi dan PSI. Antara tahun 1959—1961 terjadi penurunan sepertiganya, dari 1.039.000 eksemplar untuk 90 surat kabar menjadi 710.000 eksemplar untuk 65 surat kabar.
Penerapan Manipol-USDEK menimbulkan banyak kekacauan tidak hanya dari segi ekonomi tetapi juga terhadap kebudayaan. Dalam bidang ekonomi pemerintah mengambil kebijakan mendevaluasi mata uang rupiah sebesar 75 % pada tanggal 25 Agustus 1858. Semua uang kertas Tp. 500,00 dan Rp. 1000,00 diturunkan menjadi sepersepuluhnya, dan deposito-deposito bank yang besar jumlahnya dibekukan.
2.2 Dampak ke situasi politik
Era "Demokrasi Terpimpin" diwarnai kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum borjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani
Indonesia. Kolaborasi ini tetap gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak Indonesia kala itu.
Pendapatan ekspor Indonesia menurun, cadangan devisa menurun, inflasi terus menaik dan korupsi kaum birokrat dan militer menjadi wabah sehingga situasi politik Indonesia menjadi sangat labil dan memicu banyaknya demonstrasi di seluruh Indonesia, terutama dari kalangan buruh, petani, dan mahasiswa.
2.3. Dampak ke situasi Ekonomi
Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi (Mazhab Sosialisme).
Kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia, antara lain :
1. Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.
2. Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%.
3. Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.
Kondisi perekonomian carut marut pada masa itu. Salah satu “penyakit kronis” yang melanda perekonomian Indonesia adalah inflasi. Tahun 1960 inflasi di Indonesia mencapai 21,53%, dan semakin parah pada penghujung masa demokrasi terpimpin yang mencapai 660%.
Ironisnya, inflasi ini berasal dari perilaku pemerintah yang melakukan pencetakkan uang dalam jumlah besar, demi membiayai proyek mercusuar bung Karno (pembangunan komplek olahraga senayan, Monas, anggaran militer, dll) dan proyek “sosialis” dari bung Karno (subsidi BBM yang mencapai 20% dari total anggaran, subsidi berbagai komoditas secara berlebihan, dll). Pemerintah membutuhkan uang yang sangat besar untuk membiayai
proyek-proyek politik tersebut, sehingga anggaran setiap tahun selalu defisit. Pada tahun 1966 pengeluaran negara mencapai 7 kali lipat dari pemasukan negara (Prawiro, 1966).
Untuk menutupi lubang defisit ini pemerintah mengambil jalan pintas dengan melakukan pencetakan uang. Pencetakkan uang ini jelas menambah jumlah uang yang beredar secara drastis. Pada tahun 1960, jumlah uang beredar “hanya” Rp. 47 miliar. Jumlah ini melonjak drastis pada tahun 1966 yang mencapai Rp. 5,3 Triliun. Banyaknya jumlah uang beredar ini menyebabkan banyak orang yang memegang uang. Hal tersebut menyebabkan permintaan meningkat tajam tanpa diikuti dengan kemampuan produksi. Sehingga terjadi kelebihan permintaan dan kelangkaan. Efek selanjutnya mudah ditebak,
Inflasi yang melambung tinggi. Indonesia juga terus mengalami defisit perdagangan internasional. Pada tahun 1960, Indonesia masih mendapat surplus US $ 97 Juta, akan tetapi, pada tahun 1965, Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran US $ 157 juta (Budiman dan Soesatro, 2005).
Ada beberapa sebab ekonomi Indonesia semakin buruk, yaitu : 1. Menumpas pemberontakan PRRI/PERMESTA.
2. Adanya inflasi yang cukup tinggi ± 400. 3. Konfrontasi dengan Malaysia (Dwikora). 4. Defisit negara mencapai 7,5 miliar rupiah.
Langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasi kondisi ekonomi dan keuangan yang semakin buruk yaitu :
1. Mata uang bernilai nominal Rp. 500,00 didevaluasi menjadi Rp. 50,00 dan bernilai Rp. 1.000,00 dihapuskan.
2. Semua simpanan di bank yang melebihi Rp. 25.000,00 dibekukan.
3. Tanggal 28 Maret 1963 dikeluarkan Dekon ( Deklarasi Ekonomi) untuk mencapai ekonomi yang bersifat nasinal, demokrasi, dan bebas dari sisa-sisa imperialisme.
Usaha-usaha tersebut mengalami kegagalan karena :
1. Penanganan ekonomi tidak rasional, lebih bersifat politis, dan tidak ada kontrol. 2. Tidak adanya ukuran yang objektif dalam menilai suatu usaha atau hasil orang.
2.6. Pengaruh Masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin terhadap Ekonomi dan Sosial-Budaya Indonesia
1. Pengaruh masa demokrasi parlementer dan demokrasi terpimpin terhadap ekonomi Indonesia
Pada masa demokrasi parlementer pemerintahan Indonesia lebih memfokuskan penstabilan mata uang negara Indonesia dengan cara: gunting Syafuddin, nasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia, sistem ekonomi gerakan benteng, sistem ekonomi Ali-Baba dan pembubaran Uni-Indonesia Belanda. Sedangkan pada masa demokrasi terpimpin
pemerintahan Indonesia yang sudah memiliki mata uang rupiah yang cukup stabil lebih memfokuskan ekonomi Indonesia pada penyelesaian masalah inflasi Indonesia dan pembuatan beberapa kebijakan-kebijakan perekonomian.
1. Pengaruh masa demokrasi parlementer dan demokrasi terpimpin terhadap sosial-budaya Indonesia
Pada masa demokrasi parlementer pemerintah Indonesia pertama-tama ingin memfokuskan diri pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dan hal tersebut terbukti berhasil dengan meningkatnya keinginan penduduk untuk mengenyam bangku pendidikan. Kemudian pada masa ini juga adanya perkembangan dalam bidang media, pers dan komunikasi massa yang terbukti banyaknya majalah dan sumber komunikasi lainnya yang menyebar di seluruh daerah di Indonesia. Meskipun pada masa demokrasi terpimpin pengembangan pendidikan Indonesia tetap berjalan dalam rangka melanjutkan usaha yang dilakukan pada masa
pemerintahan demokrasi parlementer, sayangnya, pada masa ini justru seni dan budaya baik dalam bentuk lagu maupun karya lainnya ditentang oleh presiden RI sendiri yaitu Presiden Soekarno semata-mata karena beliau melihat bahwa hal tersebut hanyalah manifestasi dari cita-cita imperialisme barat yang dapat mengancam keutuhan bangsa Indonesia.
2.7.Bagaimana Masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin Mempengaruhi Ekonomi dan Sosial-Budaya Indonesia
Proses bagaimana masa demokrasi parlementer dan demokrasi terpimpin dapat
mempengaruhi ekonomi dan sosial-budaya Indonesia adalah melalui pemerintahan yang memiliki sistem yang berbeda dimana kita ketahui bahwa dalam masa demokrasi parlementer pemerintahan Indonesia lebih bersifat lebih bebas atau menganut paham liberalisme yang dapat dibuktikan bahwa pada masa tersebut rakyat Indonesia dapat dengan bebas
mengutarakan karya-karya mereka baik lewat lagu dan karya lainnya dan pers pada masa tersebut lebih bebas untuk memberikan dan menyampaikan informasi kepada rakyat Indonesia itu sendiri sehingga pada masa demokrasi parlementer ini jelas bahwa pemerintahan pada masa itu lebih bebas. Berbalikan dengan hal tersebut, pada masa demokrasi terpimpin yang kita ketahui mempunyai makna bahwa sistem pemerintahan berpusat pada presiden RI sendiri yang pada saat itu adalah Presiden Soekarno, pada masa tersebut mulailah muncul larangan-larangan untuk bisa membuat atau menampilkan lagu atau karya rakyat Indonesia lainnya karena ketakutan pemerintahan Indonesia bahwa hal tersebut akan membawa bangsa Indonesia ke manifestasi dari cita-cita imperialisme Barat khususnya dalam bidang seni dan budaya. Oleh karena itu, dapat kita lihat bahwa keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan dimana pada masa demokrasi parlementer, pemerintahan Indonesia lebih bebas sedangkan pada masa demokrasi terpimpin, pemerintahan Indonesia terlihat lebih otoriter dengan banyaknya larangan-larangan yang ada.
1. Pengaruh Demokrasi Terpimpin terhadap Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Pendidikan Bangsa Indonesia.
2.1. Pengaruh demokrasi terpimpin terhadap kehidupan politik bangsa Indonesia.
Kondisi Politik Dalam Negeri pada Masa Demokrasi Terpimpin
Lima hari setelah Dekrit Presiden (5 Juli 1959), Kabinet karya dibubarkan pada 9 Juli 1959 dan diganti dengan Kabinet Kerja. Setelah itu, Presiden Soekarno pada 22 Juli 1959 membentuk Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Demokrasi Terpimpin yang menggantikan sistem Demokrasi Liberal, berlaku tahun 1959 – 1965.
a. Pembentukan MPRS melalui Penetapan Presiden No. 2/1959 yang anggotanya ditunjuk dan diangkat oleh presiden dengan beberapa persyaratan: setuju kembali ke UUD 1945, setia kepada perjuangan RI, setuju dengan Manifesto Politik.
b. Anggota MPRS ditunjuk dan diangkat oleh presiden. Keanggotaan MPRS menurut Penpres No. 12 tahun 1959 terdiri atas 261 orang anggota DPR, 94 orang utusan daerah, dan wakil golongan karya sebanyak 200 orang. Tugas MPRS adalah menetapkan GBHN.
c. Presiden membubarkan DPR hasil pemilu tahun 1955 yang disusul dengan pembentukan DPR baru. Pernah ada reaksi dari kalangan partai antara lain NU dan PNI yang pernah menyatakan keberatan terhadap pembubaran DPRD hasil pemilu 1955.
d. GBHN yang bersumber pada pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul "Penemuan Kembali Revolusi Kita" ditetapkan oleh DPA bukan oleh MPRS. Rumusan DPA atas pidato tersebut menjadi GBHN berjudul “Manifesto Politik Republik Indonesia: disingkat Manipol.
e. Pengangkatan presiden seumur hidup.
f. Presiden Soekarno mendirikan lembaga-lembaga negara baru Front Nasional yaitu suatu organisasi massa yang memperjuangkan cita-cita Proklamasi dan cita-cita yang terkandung dalam UUD 1945.
g. Presiden juga membentuk Musyawarah Pembantu Pimpinan Revolusi (MPPR). .
Kekuatan politik pada Demokrasi Terpimpin terpusat di tangan Presiden Soekarno dengan TNI-AD dan PKI di sampingnya. Sehubungan dengan strateginya “menempel” pada Presiden Soekarno, PKI secara sistematis berusaha memperoleh citra sebagai Pancasilais dan yang mendukung kebijakan Soekarno yang menguntungkannya. Ajaran Nasakom
(Nasionalis-Agama-Komunis) ciptaan Presiden Soekarno sangat menguntungkan PKI. Ajaran Nasakom menempatkan PKI sebagai unsur yang sah dalam konstelasi politik Indonesia. Dengan demikian kedudukan PKI semakin kuat, PKI semakin meningkatkan kegiatannya dengan berbagai isu yang memberi citra sebagai partai yang paling manipolis dan pendukung Bung Karno yang paling setia. Selama masa Demokrasi Terpimpin, PKI terus melaksanakan program-programnya secara revolusioner. Bahkan mampu menguasai konstelasi politik. Puncak kegiatan PKI adalah melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah pada tanggal 30 September 1965.
2.2. Pengaruh demokrasi terpimpin terhadap kehidupan ekonomi bangsa Indonesia.
Menurut pasal 2 UU No. 80/1958, tugas Dewan Perancang Nasional adalah mempersiapkan rancangan UU pembangunan nasional yang berencana, dan menilai penyelenggaraan pembangunan itu. Dan pada 15 Agustus 1959 terbentuklah Dewan Perancang Nasional (Depernas) dibawah pimpinan Muh. Yamin. Namun pada tahun 1963 Depernas berganti nama menjadi Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin Presiden Soekarno. Tugasnya adalah:
- Menuyusun rencana pembangunan jangka panjang dan rencana tahunan baik nasional
maupun daerah
- Mengawasi laporan pelaksanaan pembangunan, dan
- Menyiakan dan menilai Mandataris untuk MPRS
Keluarnya dekrit presiden pada tanggal 5 Juli 1959 membuat Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonominya menjurus pada sistem etatisme, yaitu segala-galanya diatur oleh pemerintah. Sistem ini bertujuan untuk kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik, dan ekonominya.
Kekacauan politik tahun 1959 terjadi bersamaan dengan kekacauan ekonomi, yang melahirkan inflasi. Untuk mengatasi inflasi tersebut dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 2 Tahun 1959 yang berlaku pukul 06.00. peraturan ini bertujuan untuk mengurangi banyaknya uang dalam peredaran untuk kepentingan perbaikan keuangan dan perekonomian negara. Untuk mencapai tujuan tersebut, nilai uang kertas pecahan Rp.500,00 dan Rp.1.000,00 yang ada dalam peredaran pada saat berlakunya peraturan tersebut
diturunkan masing-masing menjadi Rp.50,00 dan Rp.100,00.
Selain kebijakan menurunkan inflasi juga dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 3 Tahun 1959 tentang pembekuan sebagian simpanan pada bank-bank
yang dimaksudkan untuk mengurangi banyaknya uang yang beredar, yang terutama dalam tahun 1957 dan 1958 sangat meningkat jumlahnya.
Penghasilan negara berupa devisa dan penghasilan lain yang merupakan sumber-sumber penting untuk penerimaan negara dalam mata uang rupiah ikut merosot. Sehingga deficit anggaran belanja menjadi lebih besar lagi, dan hanya sebagian kecil yang dapat ditutup dengan pinjaman-pinjaman dari luar negeri. Hal-hal tersebut menyebabkan bertambahnya pencetakan uang kertas.
Dibentuk Panitia Penampung Operasi Keuangan (PPOK) pada bulan Agustus 1959 yang bertugas menyelenggarakan tindak lanjut dari tindakan moneter itu, tanpa mengurangi tanggung jawab menteri, departemen, dan jawatan yang bersangkutan. Pemerintah
menginstruksikan penghematan bagi instansi pemerintah serta mmperketat pengawasan semua pelaksanaan anggaran belanja. Dengan tindakan moneter 25 Agustus 1959 pemerintah berhasil mengendalikan inflasi
Kebijakan moneter kedua, yakni pengeluaran uang rupiah pada 13 Desember 1965 dengan penetapan Presiden RI No. 27 tahun 1965. Akibatnya, pengeluaran pemerintah dari Rp(baru) 2.526 juta dalam tahun 1965 meningkat menjadi Rp(baru) 29.867 juta, atau lebih kutang 12 kali, peredaran uang dari Rp(baru) 25,72 miliar dalam tahun 1965 mnjadi Rp(baru) 22.208 miliar dalam tahun 1966, atau Sembilan kali. Nilai tukar antara uang rupiah baru dengan uang rupiah lama, bergerak antara 1 : 10, jadi hanya dinilai oleh umum lebih kurang 10 kali lebih tinggi daripada uang rupiah lama dan bukan 1000 kali.
Kebijakan moneter tidak mencapai sasarannya karena pemerintah tidak mempunyai kemampuan politik untuk menahan diri dalam pengeluaran-pengeluarannya. Sejak tahun 1961, Indonesia terus menerus membiayai kekuragan neraca pembayarannya dari cadangan emas dan devisa. Penetapan Presiden No. 7/1965 yang menetapkan pendirian Bank Tunggal Milik Negara. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menyediakan wadah bagi arus
perputaran sirkulasi antar bank, baik itu bank sentral maupun bank umum.
2.3. Pengaruh demokrasi terpimpin terhadap kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan
bangsa Indonesia.
Surat kabar dan majalah yang tidak bersedia seirama dengan Demokrasi Terpimpin harus menyingkir. Persyaratan untuk mendapatkan Surat Ijin Terbit dan Surat Ijin Tjetak (SIT) diperketat.
Peristiwa yang paling didingat oleh masyarakat pada bidang budaya adalah mengenai Manifes Kebudayaan dan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI). Manifest
Kebudayaan yang dikenal dengan singkatan peyoratif yang dilemparkan oleh PKI yaitu “Manikebu”. Yang diungkapkan adalah konsepsi humanism universal yang timbul dalam masyarakat liberal, di Eropa Barat yang menekankan kebebasan individu untuk berkarya secara kreatif.
Murid-murid sekolah lanjutan tingakat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas pada tahun 1950-an jumlahnya mulai melimpah dan semua mengharapkan dapat menjadi
mahasiswa. Universitas baru didirikan disetiap ibu kota provinsi, sebagian karena alasan politik psikologis untuk menyalurkan kebanggan daerah.
Selain itu juga didirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Sekolah Tinggi Theologia, perguruan tinggi Islam, Kristen dan Katolik seperti Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta, Universitas Kristen Indonesia, serta Universitas Katolik Atmajaya.