2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Daerah Aliran Sungai
Definisi Daerah Aliran Sungai (DAS) menurut Suripin (2002) adalah suatu wilayah, yang dibatasi oleh batas alam, seperti punggung bukit-bukit atau gunung, maupun batas buatan, seperti jalan atau tanggul, dimana air hujan yang turun di wilayah tersebut memberi kontribusi aliran ke titik kontrol (outlet). Menurut kamus Webster, DAS adalah suatu daerah yang dibatasi oleh pemisah topografi, yang menerima hujan, menampung, menyimpan dan mengalirkan ke sungai dan seterusnya ke danau atau laut.
Apapun definisi yang dianut DAS merupakan suatu ekosistem dimana di dalamnya terjadi suatu proses interaksi antara faktor-faktor biotik, non biotik, dan manusia. Sebagai suatu ekosistem, maka setiap ada masukan (input) ke dalamnya, proses yang terjadi dan berlangsung di dalamnya dapat dievaluasi berdasarkan keluaran (output) dari ekosistem tersebut. Komponen masukan dalam ekosistem DAS adalah curah hujan, sedangkan keluaran terdiri dari debit air dan muatan sedimen. Komponen-komponen DAS yang berupa vegetasi, tanah, dan saluran/sungai dalam hal ini bertindak sebagai prosessor.
Program-program pengelolaan DAS yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan di suatu DAS sebaiknya tidak mengabaikan perlunya menerapkan praktek pengelolaan DAS yang berwawasan (Asdak, 2004) terutama dengan menerapkan kaidah konservasi tanah dan air. Arsyad (2006) mendefinisikan konservasi tanah dalam arti yang luas adalah penempatan sebidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Menurut Asdak (2004) sasaran pengelolaan DAS untuk tujuan multiguna adalah mengelola sumberdaya pada tingkat yang paling menguntungkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2.2. Penggunaan Lahan
FAO (1976) yang dikutip oleh Arsyad (2006) menyatakan bahwa Lahan (land) diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap potensi penggunaan lahan, termasuk di dalamnya juga hasil kegiatan manusia dimasa lalu dan sekarang seperti hasil reklamasi laut, pembersihan vegetasi dan juga hasil yang merugikan seperti tanah yang tersalinisasi.
Penggunaan lahan secara umum (major kinds of lan use) adalah penggolongan penggunaan lahan secara umum seperti pertanian tadah hujan, pertanian beririgasi, padang rumput, kehutanan, atau daerah rekreasi (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2006). Penggunaan lahan secara umum biasanya digunakan untuk evaluasi lahan secara kualitatif atau dalam survey tinjau (reconnaissance). Tipe penggunaan lahan (land utilization type) atau penggunaan lahan secara terperinci adalah tipe penggunaan lahan yang diperinci sesuai dengan syarat-syarat teknis untuk suatu daerah dengan keadaan fisik dan sosial ekonomi tertentu.
Penggunaan lahan secara terperinci (tipe penggunaan lahan) dapat terdiri dari: (1) hanya satu jenis tanaman, dan (2) lebih dari satu jenis tanaman. Tipe penggunaan lahan yang kedua ini dibedakan lagi menjadi: (a) tipe penggunaan lahan ganda (multiple land utilization type), dan (b) tipe penggunaan lahan majemuk (compound land utilization type).
Tipe penggunaan lahan dengan lebih dari satu jenis sekaligus, dimana masing-masing jenis memerlukan input, syarat-syarat dan memberikan hasil yang berbeda. Sebagai contoh, daerah hutan produksi yang sekaligus digunakan untuk daerah rekreasi. Tipe penggunaan lahan majemuk adalah penggunaan lahan dengan lebih dari satu jenis, tetapi untuk tujuan evaluasi dianggap sebagai satu satuan.
Evaluasi pemanfaatan ruang aktual (eksisting) yang meliputi penggunaan lahan (land use) dan penutupan lahan (land cover) diperlukan untuk menggambarkan kondisi fisik wilayah secara aktual. Informasi pemanfaatan ruang aktual akan sangat membantu dalam analisis potensi fisik suatu wilayah secara utuh (Rustiadi dkk., 2007). Pada wilayah perencanaan yang luas (misalnya satu wilayah kabupaten), aktivitas evaluasi ini memerlukan alat bantu yang mampu memberikan gambaran tutupan (coverage) wilayah secara luas dan terkini (up to date). Sumber informasi yang memiliki kemampuan tersebut adalah
citra satelit, oleh karena itu evaluasi pemanfaatan ruang aktual biasanya dilakukan dengan bantuan analisis citra satelit dan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Citra satelit dapat berasal dari berbagai sumber institusi. Interpretasi citra satelit dapat dilakukan secara manual (visual) dan digital. Interpretasi secara manual/visual dilakukan dengan delineasi citra hardcopy (citra yang tercetak) atau delineasi secara langsung kenampakan citra yang ada di monitor computer (screen digitizing). Sedangkan interpretasi secara digital dilakukan dengan klasifikasi citra digital berdasarkan kecerahan nilai pixel, interpretasi dilakukan guna mendapat peta tematik yang memberikan informasi mengenai batas wilayah perencanaan, penggunaan lahan, ekosistem perairan, serta kondisi fisik perairan.
Perubahan penggunaan lahan yang sifatnya negatif akan berdampak pada degradasi lahan. Menurut Sinukaban (2008) bahwa degradasi lahan akan mengakibatkan rusaknya fungsi hidrologis DAS yang terlihat dari penurunan kapasitas infiltrasi DAS dan meningkatnya koefisien aliran permukaan. Terjadinya degradasi lahan dan rusaknya fungsi hidrologis DAS tersebut kemungkinan disebabkan beberapa faktor:
Pertama, penggunaan dan peruntukan lahan menyimpang dari Rencana Tata Ruang Wilayah atau Rencana Tata Ruang Daerah. Misalnya, daerah yang diperuntukkan sebagai hutan lindung dialihfungsikan menjadi pertanian, hutan produksi dialihfungsikan menjadi permukiman, lahan budi daya pertanian dialihfungsikan menjadi permukiman atau industri, dan sebagainya.
Kedua penggunaan lahan di DAS tidak sesuai dengan kemampuan lahan. Banyak lahan yang semestinya hanya untuk cagar alam, tetapi sudah diolah menjadi pertanian, atau lahan yang hanya cocok untuk hutan dijadikan lahan pertanian, bahkan permukiman. Banyak lahan yang kemiringan lerengnya lebih dari 30 persen bahkan 45 persen masih dijadikan pertanian yang intensif atau jadi permukiman.
Ketiga, perlakuan terhadap lahan di dalam DAS tersebut tidak memenuhi syarat-syarat yang diperlukan oleh lahan atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah, serta teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan tidak memadai. Setiap penggunaan lahan (hutan, pertanian, industri, permukiman) harus sesuai dengan syarat, yakni menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Teknik konservasi yang memadai di suatu bidang lahan
belum tentu memadai di lahan yang lain. Pemilihan teknik konservasi yang memadai di suatu bidang lahan sangat dipengaruhi oleh faktor bio-fisik (tanah, topografi, penggunaan lahan, hujan/iklim) lahan yang bersangkutan. Jenis teknik konservasi tanah dan air yang tersedia untuk dipilih dan diterapkan mulai dari yang paling ringan sampai berat, antara lain, penggunaan mulsa, penanaman mengikuti kontur, pengolahan mengikuti kontur, pengolahan tanah konservasi (tanpa olah tanah, pengolahan tanah minimum), pengaturan jarak tanam, penanaman dalam strip (strip cropping), dan penanaman berurutan (rotasi).
Keempat, tidak adanya Undang-undang Konservasi Tanah dan Air yang mengharuskan masyarakat menerapkan teknik konservasi tanah dan air secara memadai di setiap penggunaan lahan. Dengan tidak adanya UU ini maka masyarakat tidak merasa berkewajiban untuk melaksanakan teknik konservasi tanah dan air, sehingga degradasi lahan terus meningkat.
Faktor kelima, kurang memadainya kesungguhan pemerintah mencegah degradasi lahan.Hal ini terindikasi dari tidak jelasnya program pencegahan degradasi lahan atau penerapan teknik konservasi tanah dan air di setiap tipe penggunaan lahan. Departemen yang berkaitan dengan penggunaan lahan, seperti Departemen Pertanian, Departemen PU, dan Departemen Dalam Negeri, kurang memprioritaskan program pencegahan degradasi lahan dan penerapan teknologi konservasi tanah dan air.
Hal ini pun terindikasi dalam rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025. Dalam rancangan awal RPJPN tidak diindikasikan bahwa pencegahan degradasi lahan sebagai prioritas penting. Apabila hal ini berjalan terus maka minat generasi muda untuk mempelajari dan mendalami pencegahan degradasi sumber daya lahan akan memudar yang pada gilirannya dapat mengakibatkan tidak ada lagi orang yang mengetahui teknologi pencegahan degradasi lahan. Apabila ini terjadi maka malapetaka banjir, seperti yang dialami oleh masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, akan semakin sering terjadi.
Pencegahan dan penaggulangan degradasi lahan dapat dilakukan dengan strategi berikut. Pertama, kaji ulang tata ruang nasional, wilayah, dan daerah agar didasarkan pada kemampuan lahan. Kedua, penyimpangan tata ruang yang sudah berdasarkan kemampuan lahan harus ditindak tegas. Ketiga, semua
sumber daya lahan harus diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya. Keempat, penggunaan lahan harus didasarkan pada kemampuan lahan. Kelima, teknologi konservasi tanah dan air yang memadai harus diterapkan di setiap tipe penggunaan lahan. Keenam, penyusunan UU konservasi tanah dan air perlu dipercepat.Ketujuh, departemen terkait harus memprogramkan pencegahan degradasi lahan sebagai prioritas utama. Kedelapan, pemerintah perlu memasukkan materi pencegahan degradasi lahan/penerapan teknologi konservasi tanah dan air dalam kurikulum pendidikan.
2.3. Monitoring dan Evaluasi Daerah Aliran Sungai
Menurut acuan dari Dirjen RLPS (2009) Identifikasi berbagai komponen biofisik hidrologis, sosial ekonomi dan kelembagaan DAS merupakan kunci dalam program monitoring dan evaluasi (monev) kinerja DAS, yaitu dalam upaya mengumpulkan dan menghimpun data dan informasi yang dibutuhkan untuk tujuan evaluasi dalam rangka menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pengelolaan DAS. Pengumpulan data dan informasi tersebut harus dilakukan secara berkala, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi instrumentasi, informasi, dan komunikasi yang ada, misalnya dengan automatic data acquisition system, logger, sistem telemetri, teknik penginderaan jauh terkini, dan internet sedangkan untuk pengolahan dan analisis data secara spatial (keruangan) dan temporal (waktu) serta penyajian hasil dari monev kinerja DAS maka teknologi sistem informasi geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk keperluan ini.
Monitoring pengelolaan DAS adalah proses pengamatan data dan fakta yang pelaksanaannya dilakukan secara periodik dan terus menerus terhadap masalah: (1) jalannya kegiatan, (2) penggunaan input, (3) hasil akibat kegiatan yang dilaksanakan (output), dan (4) faktor luar atau kendala yang mempengaruhinya. Evaluasi pengelolaan DAS adalah proses pengamatan dan analisis data dan fakta, yang pelaksanaannya dilakukan menurut kepentingannya mulai dari penyusunan rencana program, pelaksanaan program dan pengembangan program pengelolaan DAS. Monitoring dan evaluasi DAS dimaksudkan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai perkembangan keragaan DAS, yang ditekankan pada aspek penggunaan lahan, tata air, sosial ekonomi dan kelembagaan. Kerangka logika kinerja Pengelolaan DAS didasarkan pada prinsip, kriteria, dan indikator kinerja DAS yang disajikan pada gambar 1.
Prinsip
Kriteria
Indikator
Gambar 1. Kerangka Logika Kinerja Pengelolaan DAS
Monev kinerja DAS adalah kegiatan pengamatan dan analisis data dan fakta yang dilakukan secara sederhana, praktis, terukur, dan mudah dipahami terhadap kriteria dan indikator kinerja DAS dari aspek/kriteria pengelolaan lahan, tata air, sosial, ekonomi, dan kelembagaan, sehingga “status” atau “tingkat kesehatan” suatu DAS dapat ditentukan.
2.3.1. Monitoring dan Evaluasi Penggunaan Lahan DAS
Monev penggunaan lahan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan jenis, pengunaan, pengelolaan lahan, tingkat kesesuaian penggunaan lahan dan erosi pada suatu DAS/Sub DAS, yang bertujuan untuk mengetahui perubahan kondisi lahan terutama menyangkut kecenderungan degradasi lahan.
Pada awal kegiatan, monev penggunaan lahan dilakukan pada seluruh parameter lahan, baik yang alami maupun parameter yang mudah dikelola.Namun untuk tahap selanjutnya, monitoring parameter alami, seperti topografi/fisiografi lahan, tidak perlu dilakukan setiap waktu karena bersifat relatif
Tujuan: Kelestarian Pengelolaan
Kelestarian Lingkungan Kelestarian Sosial ekonomi Kelembagaan
Penggunaan Lahan Tata Air Sosial Ekonomi Kelembagaan
- Penutupan vegetasi - Kesesuaian Penggunaan lahan - Indeks Erosi - Tanah Longsor - Debit air sungai - Kandungan sedimen - Kandungan pencemar - Koefisien limpasan - Kepedulian individu - Partisipasi terhadap lahan masyarakat - Tekanan penduduk - Ketergantungan penduduk terhadap lahan - Tingkat pendapatan - Produk lahan - Jasa lingkungan - KISS - Ketergantungan masyarakat pada memerintah - Keberdayaan lembaga lokal/adat - Kegiatan usaha bersama
tidak banyak berubah. Sedangkan monev parameter-parameter yang dinamis dan dapat dikelola pada suatu DAS/Sub DAS, meliputi: indeks penutupan lahan oleh vegetasi (IPL), kesesuaian penggunaan lahan (KPL), indeks erosi (IE), pengelolaan lahan (PL) dan kerentanan tanah longsor (KTL) perlu dilakukan secara periodik. Data yang dikumpulkan dalam monev penggunaan lahan adalah data dari hasil observasi di lapangan yang ditunjang dengan data dari sistim penginderaan jauh dan data sekunder. Tujuan monev penggunaan lahan adalah untuk mengetahui perubahan kondisi lahan di DAS terkait ada tidak adanya kecenderungan lahan tersebut terdegradasi dari waktu ke waktu.
Monev penggunaan lahan terhadap indikator bentuk erosi yang lain yang berupa gerak masa tanah, seperti tanah longsor, perlu dilakukan tersendiri karena dari pengamatan lapangan menunjukkan bahwa tanah longsor memiliki dampak baik di tempat kejadiannya (on site) maupun di hilirnya (off site), yang dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar baik materiil maupun jiwa. Ancaman bencana gerak masa tanah berupa tingkat kerentanan tanah longsor (KTL) di DAS harus dideteksi/dimonitor secara dini, sehingga kemungkinan kerugian akibat bencana yang ditimbulkan dapat ditekan sekecil mungkin.
Data yang diperlukan untuk mendukung monitoring kriteria penggunaan lahan DAS meliputi indikator-indikator:
a. Indeks penutupan lahan oleh vegetasi (IPL) b. Kesesuaian penggunaan lahan (KPL) c. Tingkat Erosi-Indeks Erosi (IE)
d. Pengelolaan lahan (PL)
e. Kerawanan tanah longsor (KTL).
2.3.2. Monev tata air DAS
Monitoring tata air DAS dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi tentang aliran air (hasil air) yang keluar dari daerah tangkapan air (DTA) secara terukur, baik kuantitas, kualitas dan kontinuitas aliran airnya.Untuk mengetahui hubungan antara masukan dan luaran di DAS perlu juga dilakukan monitoring data hujan yang berada di dalam dan di luar DTA atau DAS/Sub DAS bersangkutan.
Evaluasi tata air DAS dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan nilai luaran (off-site) sebagai dampak adanya kegiatan pengelolaan biofisik yang
dilaksanakan di dalam DAS, yaitu kondisi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas hasil air dari DAS/Sub DAS bersangkutan.
a. Indikator terkait kuantitas hasil air, yaitu debit air sungai (Q) dengan parameter nilai koefisien rejim sungai (KRS), indeks penggunaan air (IPA), dan koefisien limpasan (C).
b. Indikator terkait kontinuitas hasil air berupa nilai variasi debit tahunan (CV). c. Indikator terkait kualitas hasil air yaitu tingkat muatan bahan yang terkandung
dalam aliran air, baik yang terlarut maupuan tersuspensi, nilai SDR (nisbah hantar sedimen), dan kandungan pencemar (polutan).
Analisis terhadap kuantitas hasil air dilakukan melalui parameter jumlah air mengalir yang keluar dari DAS/Sub DAS pada setiap periode waktu tertentu.Muatan sedimen (sediment load) pada aliran sungai merupakan refleksi hasil erosi yang terjadi di DTA-nya. Demikian juga bahan pencemar yang terlarut dalam aliran air dapat digunakan sebagai indikator asal sumber pencemarnya, apakah dampak dari penggunaan pupuk, obat-obatan pertanian, dan atau dari limbah rumah tangga dan pabrik/industri.
Selanjutnya kondisi hasil air dari DAS yang bersangkutan dapat diketahui secara time series melalui evaluasi nilai perubahan/kecenderungan parameter-parameternya dari tahun ke tahun. Pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan data dan fakta tentang gambaran kondisi tata air DAS sesuai indikator-indikator yang ada pada SK Menteri Kehutanan No 52 /Kpts-II/2001 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan DAS, yaitu:
a. Kuantitas air - debit aliran air sungai (Q, KRS=Qmaks/Qmin, IPA, dan koefisien limpasan C)
b. Kontinuitas air (nilai CV)
c. Kualitas air - kandungan sedimen, SDR dan kandungan pencemar (fisik: warna, TDS/total dissolved solid, kekeruhan; kimia: pH, DHL/daya hantar listrik, nitrat, sulfat, phospat, potasium, natrium, calsium; dan biologi: BOD/biological oxygen demand, COD/chemical oxygen demand).
2.4. Gambaran Umum DAS Citarum
Daerah Aliran Sungai Citarum merupakan DAS utama di Jawa Barat yang memiliki luas 6.080 km2, dengan sungai Citarum yang panjangnya sekitar 300 km (LPPM IPB, 2006). Sungai utama Citarum memiliki anak sungai berjumlah 36 dengan panjang sekitar 873 km, dengan 3 waduk besar yakni Saguling, Cirata,
dan Juanda (Jatiluhur). Dalam bentang perjalanannya sungai Citarum yang berhulu di Gunung Wayang Kabupaten Bandung dan bermuara di laut Jawa, melewati 7 kabupaten yakni Bandung, Sumedang, Cianjur, Bogor, Bekasi, Purwakarta, dan Karawang, serta 2 kotamadya yakni Bandung dan Cimahi yang kesemuanya berada dalam Provinsi Jawa Barat. Kartiwa B., dkk (2007) menambahkan bahwa DAS Citarum memainkan peranan penting dalam memenuhi kebutuhan air untuk pertanian, aktivitas industri, pembangkit listrik, serta kebutuhan domestik di beberapa daerah di Jawa Barat.
Uraian mengenai karakteristik wilayah DAS Citarum, terbagi dalam 2 pokok uraian yang meliputi:1). Letak geografis dan Luas; dan 2). Morfologi- informasi ini diperoleh dari kantor BPDAS Citarum-Ciliwung.
2.4.1. Letak Geografis dan Luas
Wilayah DAS Citarum berada pada koordinat 106051′36′′ – 107051′BT dan 7019′-6024′LS memanjang dari bagian hulu di selatan Kabupaten Bandung ke hilir menuju utara pantai Jakarta. Luas keseluruhan wilayah DAS Citarum adalah 718,269 hektar, dari luas tersebut seluas 454,340 ha berada di atas Waduk Jatiluhur yang kedudukannya sangat strategis dalam rangka pengamanan proyek-proyek besar seperti Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Luas per Sub DAS disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Luas Sub DAS pada DAS Citarum
No. SUB DAS LUAS (Ha)
1. Cibeet 106,372.31 2. Cikapundung 40,491.79 3. Cikaso 51,531.83 4. Cikundul 26,325.38 5. Cimeta 37,951.56 6. Ciminyak 32,459.65 7. Cirasea 38,004.43 8. Cisangkuy 31,009.94 9. Cisokan 118,160.61 10. Citarik 46,793.67 11. Citarum Hilir 161,704.71 12. Ciwidey 27,462.53
2.4.2. Morfologi a. Bentuk DAS
Bentuk tiap sub DAS dalam DAS Citarum diukur dengan Index Circularity Ratio menurut metode MILLER. Index ini menggambarkan seberapa bulat bentuk fisik unit DAS. Secara matematis bentuk DAS dengan indeks = 1.0 berarti bulat seperti sebuah lingkaran. Hasil perhitungan seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Indeks Ratio Kebulatan DAS (circularity ratio) setiap sub DAS di DAS Citarum
No. Sub DAS Luas Sub DAS Luas Lingkaran Index Circularit y Ratio 1. Cibeet 106,372.31 153,654.00 0.7 2. Cikapundung 40,491.79 120,908.25 0.3 3. Cikaso 51,531.83 323,738.60 0.2 4. Cikundul 26,325.38 137,385.32 0.2 5. Cimeta 37,951.56 223,365.55 0.2 6. Ciminyak 32,459.65 117,691.52 0.3 7. Cirasea 38,004.43 95,276.71 0.4 8. Cisangkuy 31,009.94 93,632.69 0.3 9. Cisokan 118,160.61 228,374.09 0.5 10. Citarik 46,793.67 108,801.03 0.4 11. Citarum Hilir 161,704.71 264,915.04 0.6 12. Ciwidey 27,462.65 94,828.62 0.3 Jumlah 718,263.53 1,962,571.42 0.4
Berdasarkan perhitungan ICR untuk DAS Citarum diperoleh nilai 0.4 bentuk memanjang. Dari 13 sub DAS tidak ada satupun yang indeksnya 1 (bulat), 10 sub DAS bentuk DAS memanjang dengan indeks di bawah 0.5, 1 sub DAS (sub DAS Cibeet) dengan indeks 0.7 bentuk membulat.
b. Kelerengan Wilayah DAS
Kelerengan lapangan sub DAS dalam DAS Citarum, dan kabupaten/kota dianalisa dan hasilnya sebagaimana disajikan pada Tabel 3.
Indikasi lebih lanjut terhadap kelerengan lahan DAS Citarum adalah mengelompokkan seluruh sub DAS dalam DAS Citarum dengan melihat kelerengan mana yang dominan. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah
kelerengan datar-landai (0-15%) dan kelerangan curam-sangat curam (>25%), dengan kriteria sebagai berikut:
1. Sub DAS yang >50% luas lahannya berlereng >25%, dikategorikan dalam tipe morfologi lereng berat;
2. Sub DAS yang luas lahannya 35-50% berlereng >25% dikategorikan dalam tipe morfologi lereng sedang: dan
3. Sub DAS yang luas lahannya 35-50 % berlereng <25% dikategorikan dalam tipe morfologi lereng landai.
Identifikasi menghasilkan pengelompokkan sub DAS dalam DAS Citarum sebagai berikut:
1. Sub DAS Cikaso, Cimeta, Ciminyak dan Ciwidey: tipe morfologi lereng berat. 2. Sub DAS Cibeet, Cicalengka, Cikundul, Cirasea, Cisangkuy, Cisokan, Citarik,
dan Citarum Hulu: tipe morfologi lereng sedang.
3. Sub DAS Cikapundung dan Citarum Hilir: tipe morfologi lereng landai.
Secara keseluruhan DAS Citarum bertipe morfologi lereng sedang, seluas 33,28% dari luas lahannya kelerengannya <25% dan 39.49% dari luas lahannya berlereng di atas 25%.
Tabel 3. Summary Karakteristik Kelerengan DAS Citarum No. Sub DAS % Luas
lereng Datar-Landai % Luas lereng curam-sangat curam Luas sub DAS (ha) Tipe morfologi DAS 1. Cibeet 29.97 41.74 106,372.31 Sedang 2. Cikapundung 20.28 33.48 40,491.79 Landai 3. Cikaso 18.47 57.42 51,531.83 Berat 4. Cikundul 22.50 58.52 26,325.38 Sedang 5. Cimeta 14.22 53.02 37,951.56 Berat 6. Ciminyak 17.04 78.37 32,459.65 Berat 7. Cirasea 15.19 48.25 38,004.43 Sedang 8. Cisangkuy 13.81 46.64 31,009.94 Sedang 9. Cisokan 22.06 49.71 118,160.61 Sedang 10. Citarik 33.38 36.84 46,793.67 Sedang
11. Citarum hilir 77.72 7.34 161,704.71 Landai
12. Ciwidey 16.88 56.01 27,462.65 Berat
c. Karakteristik Sungai
Tabel 4. Panjang Sungai dan Kepadatan Aliran tiap Wilayah DAS/sub DAS dalam DAS Citarum
No Sub DAS Panjang Sungai (km) Luas DAS (km2) Kerapatan sungai (km/km2) 1. Cibeet 1,044.27 1,063.72 0.98 2. Cikapundung 975.49 404.91 2.41 3. Cikaso 2,600.19 515.32 5.05 4. Cikundul 652.81 263.25 2.48 5. Cimeta 796.94 379.51 2.10 6. Ciminyak 957.18 324.60 2.95 7. Cirasea 682.38 380.04 1.80 8. Cisangkuy 313.49 310.10 1.01 9. Cisokan 1,823.75 1,181.60 1.54 10. Citarik 93.27 467.93 0.20 11. Citarum hilir 2,974.49 1,617.04 1.84 12. Ciwidey 329.30 274.63 1.20 Total 13.243,56 7,182.68 1.84
2.5. Fungsi Hutan dalam Daur Hidrologi
Hutan memegang peranan penting dalam meredusir volume aliran air dan besarnya debit sungai pada saat banjir. Menurut Arif (2001) Ada tiga pengaruh hutan yang penting, yakni sebagai berikut:
1. Hutan menahan tanah ditempatnya.
Akar-akar dan perdu berfungsi sebagai pengikat tanah pada tanah-tanah yang miring dan mencegah longsor sesudah terjadi hujan lebat atau kebakaran besar.
2. Tanah hutan menyimpan air tanah lebih banyak.
Evapotranspirasi hutan cukup besar, terutama pada tipe-tipe tumbuhan penutup tanah sehingga lapisan tanah (soil mantle) dibawah tegakannya hutan acapkali mengandung air lebih sedikit. Bila terjadi hujan lebat, maka bagian terbesar dari aliran permukaan akan ditahan dalam bentuk air tanah sehingga volume aliran langsung mengalir di bawah tegakan hutan akan berkurang. Akibatnya, tinggi air banjir di hilir sungai akan jauh berkurang. 3. Hutan menyebabkan tingginya laju infiltrasi.
Perakaran pepohonan dan vegetasi hutan akan ikut menjaga porositas tanah tetap tinggi, sehingga infiltrasi dan perkolasi air hujan dapat berlangsung baik.
Keberadaan hutan di suatu Daerah Aliran Sungai mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, pengaruh keberadaan hutan yang dikelola dengan baik terhadap siklus hidrologi dan erosi/degradasi tanah, antara lain sebagai berikut:
1. Hutan barangkali tidak berpengaruh terhadap total presipitasi, tetapi jumlah air hujan yang mencapai permukaan tanah sangat dikurangi oleh proses intersepsi vegetasi hutan. Daya erosi hujan pada umumnya tidak terlalu banyak diturunkan oleh vegetasi pepohonan, bahkan dalam beberapa hal tertentu mengalami penurunan.
2. Hutan umumnya tidak mampu mempengaruhi kapasitas cadangan air bumi dan tampaknya tidak banyak perpengaruh terhadap perkolasi air dalam dan aliran air bumi. Faktor-faktor yang sangat penting bagi aliran sungai semata-mata ditentukan oleh faktor fisik tanah, batuan induk, dan geologi.
3. Hutan berpengaruh terhadap eksesibilitas cadangan air bumi karena hutan mampu menyebabkan tanah mempunyai kondisi hidrologi yang lebih baik sehingga memungkinkan infiltrasi lebih banyak dan juga perkolasi air dalam tanah. Oleh karena itu, daerah hutan biasanya menyediakan aliran sungai yang berkesinambungan dari sumber air bumi, terutama selama musim kemarau.
4. Kondisi hidrologi yang baik pada tanah-tanah hutan yang ditandai oleh kapasitas infiltrasi yang besar dan kapasitas simpanan depresi yang cukup besar mampu menghambat terjadinya banjir di daerah yang tidak berhutan. Akan tetapi, aliran permukaan di daerah yang tidak berhutan dapat menimbulkan aliran air yang cukup besar pada musim hujan.
5. Meskipun hutan mampu menyebabkan tanah mempunyai karateristik hidrologi yang baik, namun hutan tidak mampu mengubah sifat hidrologi yang buruk, seperti solum yang dangkal/tipis. Disamping itu, hutan dapat kehilangan sifat hidrologis yang baik apabila periode hujannya panjang dan lebat, serta kondisi tanahnya tidak stabil. Tetapi, pada tanah-tanah yang berkarakteristik hidrologi kurang bagus ternyata hutan dapat memperbaiki situasu lebih besar dibandingkan dengan tanah-tanah yang kondisinya telah baik.
6. Umumnya hutan mempunyai evapotranspirasi lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk vegetasi lainnya. Oleh karena itu, total aliran sungai dari daerah hutan seringkali lebih kecil daripada daerah lainnya. Di daerah yang
memiliki curah hujan rendah, dimana debit air sungai minim, dapat turun lagi karena tingginya evapotranspirasi, sehingga berdampak buruk.
7. Dampak yang baik dari hutan terhadap kondisi hidrologi disebabkan oleh hubungan yang baik antara hutan dan faktor-faktor tanah. Hal ini terlihat pada pengaruh yang baik terhadap erosi karena vegetasi hutan menyediakan serasah lantai hutan yang mampu mengurangi erosi.
2.6. Kebutuhan Air
Menurut Kodoatie dan Roestam S. (2008) kebutuhan air yang dimaksud adalah kebutuhan air yang digunakan untuk menunjang segala kegiatan manusia, meliputi air bersih domestik dan non domestik, air irigasi baik pertanian maupun perikanan, dan air untuk penggelontoran kota. Air bersih digunakan untuk memenuhi kebutuhan:
a. Kebutuhan air tujuan sosial: keperluan rumah tangga.
b. Kebutuhan air non sosial: pariwisata, tempat ibadah, serta tempat-tempat komersil atau tempat umum lainnya.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air memberikan gambaran bahwa penyediaan air untuk kebutuhan masyarakat sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menunjang peningkatan pembangunan suatu daerah. Kekurangan air dapat mengakibatkan suatu daerah tidak dapat berkembang karena pembangunan tidak dapat ditingkatkan bila tidak tersedianya air pada daerah tersebut. Penyediaan air sangat terkait erat dengan berapa sebenarnya potensi/ketersediaan sumberdaya air yang tersedia pada suatu daerah.
Ketersediaan air dapat dibedakan antara ketersediaan air di waduk dan ketersediaan air di sungai. Ketersediaan air di sungai atau yang lebih umum disebut debit andalan (dependable flow, expected discharge,reliable discharge) adalah ketersediaan air sungai yang melampaui atau sama dengan suatu nilai yang keberadaannya dikaitkan dengan prosentasi waktu atau kemungkinan terjadinya. Debit andalan merupakan salah satu data yang diperlukan pada studi awal untuk menetapkan perlu tidaknya bendungan dibangun pada suatu sungai untuk menunjang kebutuhan air baku bagi kesejahteraan masyarakat. Bila dari analisis neraca air, diketahui bahwa debit andalan lebih kecil daripada
kebutuhan, maka perlu adanya tampungan tambahan misalnya dengan membangun bendungan atau embung.
2.7. Irigasi
Irigasi adalah pemberian air ke dalam tanah untuk menunjang curah hujan yang tidak cukup agar tersedia lengas bagi pertumbuhan tanaman (Linsley R.K., dan Joseph B. Franzini, 1995). Maryono (2005) mengemukakan bahwa dalam perencanaan bangunan irigasi teknis, sungai yang ada dapat dipakai sebagai saluran irigasi teknis, jika dari segi teknis memungkinkan.Kehilangan air di saluran dengan menggunakan sungai kecil lebih kecil daripada menggunakan saluran tanah buatan, karena pada umumnya porositas sungai relatif rendah mengingat adanya kandungan lumpur dan sedimen gradasi kecil yang relatif tinggi.
Kaitannya dengan ekologi, perlu dipertimbangkan besarnya debit suplai air sungai. Sejauh mungkin tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan flora dan fauna sungai yang bersangkutan. Jika pada pengambilan air dengan menggunakan bendung harus diperhitungkan jumlah debit air minimum yang harus tersedia di sungai bagian hilir bendung agar kehidupan ekologi sungai masih dapat berlangsung, demikian pula pada penggunaan sungai untuk saluran irigasi harus dipertimbangkan besarnya debit tambahan maksimum yang masih dapat ditolerir, baik bagi hidraulik maupun ekologi sungai tersebut.
Salah satu fungsi DAS yang dapat terganggu adalah kemampuannya dalam memberikan kontribusi terhadap air irigasi. Kebutuhan air untuk irigasi biasanya bersifat musiman, dengan jumlah maksimum selama musim panas (kemarau) yang kering dengan kebutuhan yang kecil sekali atau sama sekali tidak ada selama musim dingin (musim hujan). Karena tampungan irigasi merupakan jaminan terhadap kekeringan, maka diharapkan untuk memelihara jumlah tampungan sebesar mungkin sesuai dengan kebutuhan yang berjalan (Linsley R.K., dan Joseph B. Franzini, 1995).