Program eHealth (telepon selleuler) dalam meningkatkan pencegahan dan pelayanan konseling pada pasien HIV/AIDS
A. Pendahuluan
Penentu pandemi global HIV/AIDS di masa mendatang adalah wilayah Asia yang memiliki populasi hampir setengah populasi dunia.. Jika tingkat prevalensi di Cina, Indonesia dan India mencapai tingkat prevalensi seperti di Thailand dan Kamboja, maka prevalensi HIV/AIDS global dapat menjadi dua kali lebih besar. Pertumbuhan seperti ini akan sangat berpengaruh bagi setiap individu–di samping juga akan berpengaruh terhadap sistem kesehatan, ekonomi dan tatanan sosial di wilayah ini. Oleh karena itu HIV/AIDS merupakan tantangan pembangunan multisektoral dan menjadi prioritas Bank Dunia. Pola perkembangan HIV/AIDS di wilayah dunia lainnya tidak dapat digunakan untuk memprediksi epidemi di Asia Timur. Wilayah Asia Timur kemungkinan akan mengalami epidemi yang terkonsentrasi pada kelompok dengan perilaku berisiko tinggi, dengan penyebaran kepada pasangan dan anak mereka.
UNAIDS memperkirakan, akan terdapat 11 juta kasus HIV/AIDS baru di wilayah ini pada tahun 2010. Namun, proyeksi ini didasarkan pada data yang terbatas. Untuk dapat melakukan proyeksi secara akurat, perlu diketahui berapa jumlah orang yang terinfeksi serta berapa jumlah orang yang memiliki perilaku berisiko untuk tertular HIV/AIDS. Di wilayah Asia Timur dan Pasifik, epidemi tingkat rendah biasanya dimulai di antara para penjaja seks komersial yang melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan dengan pelanggannya, penyalahguna napza suntik yang menggunakan alat suntik bersama, atau pria yang berhubungan seksual tanpa perlindungan dengan pria lainnya. Sejalan dengan penyebaran HIV di kelompok-kelompok ini, konsentrasi penderita HIV di populasi inipun menjadi semakin tinggi; selanjutnya penyebaran dapat terjadi antar populasi ini – dan kemungkinan menyebar ke seluruh populasi. Ketika HIV mendekati ambang jenuh di populasi dengan perilaku berisiko dan pertumbuhan HIV lebih besar dari 1% di seluruh populasi, epidemi disebut sebagai generalized (meluas). Arah pertumbuhan HIV dipengaruhi oleh besarnya populasi berisiko dan struktur tumpang-tindihnya.
Meskipun data terbatas, epidemi di wilayah Asia Timur dan Pasifik diprediksi berkisar antara prevalensi yang serupa dengan di wilayah Sub-Sahara hingga prevalensi kurang dari 1 persen di seluruh populasi. Namun, tidak dapat diragukan adanya potensi epidemi yang besar di berbagai negara, seperti Cina, Indonesia dan Papua Nugini. Program bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) memperkirakan bahwa epidemi dapat cukup luas meskipun tidak menjadi epidemi tergeneralisir di seluruh propinsi. Diperkirakan bahwa epidemi yang signifikan dengan prevalensi lebih dari 3-5 persen dapat terjadi di populasi dewasa karena besarnya kelompok dengan perilaku berisiko tinggi. Mengingat kelompok-kelompok ini saling tumpang tindih, epidemi dapat menjadi saling mendukung (self-sustaining) walaupun tidak menyebar ke kelompok dengan risiko rendah.
Implikasi bagi sektor kesehatan dan sektor lain
AIDS membuat penderitanya lebih rentan terhadap infeksi oportunistik. Hal ini akan memicu peningkatan infeksi tuberkulosis (TB) di wilayah ini yang jumlahnya sudah cukup besar dan mewakili hampir sepertiga dari beban TB global.Tingginya peningkatan TB di penderita HIV akan menyebabkan dua epidemi yang serius. Secara global, TB sudah menjadi
penyebab kematian utama di antara penderita HIV, yang jumlahnya mencapai sepertiga dari kematian karena AIDS di seluruh dunia.
Peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS dan tuberkulosis akan meningkatkan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan serta menambah beban sistem kesehatan publik yang sudah kelebihan beban, terutama dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat miskin. Efek ini akan meluas ke sektor lainnya, karena keluarga kehilangan pencari nafkah dan akan menggunakan dana mereka yang terbatas untuk pelayanan kesehatan. HIV juga dapat merusak tatanan sosial karena memecah-belah keluarga, mengakibatkan banyaknya yatim-piatu dan menyebabkan rumah tangga jatuh dalam kemiskinan. Secara umum, HIV/AIDS dapat menyebabkan penurunan sumber daya manusia secara signifikan, karena menyebabkan kematian penduduk usia muda dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, HIV/AIDS merupakan ancaman dalam pembangunan dan pencapaian Millennium Development Goals.
Pada tahun 1996 pemerintah mengidentifikasi pentingnya intervensi awal untuk mencegah epidemi dengan memobilisasi inisiatif dan dana. Beberapa program dirancang untuk merespon epidemi yang diproyeksikan akan terjadi. Namun demikian, banyak di antara upaya ini tidak dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Beberapa faktor yang menyebabkan hal ini adalah krisis ekonomi yang parah dan terbatasnya kapasitas. Tanggung-jawab
terhadap HIV/AIDS terbagi di beberapa unit di Departemen Kesehatan, namun unit-unit tersebut kurang berkoordinasi. Kapasitas organisasi non-pemerintah untuk kegiatan pencegahan serta dukungan dari beberapa sektor masyarakat sipil, terutama kelompok agama, juga terbatas. Namun demikian, prevalensi HIV tetap rendah, dan epidemi yang diprediksi akan terjadi, ternyata tidak terjadi. Arah perkembangan HIV/AIDS kemudian berubah dengan tingkat prevalensi 60 persen di antara penyalahguna napza di beberapa daerah. Belakangan ini, komitmen dari pemerintah tampak meningkat dengan disusunnya strategi baru untuk menanggulangi HIV/AIDS yang meliputi pencegahan HIV pada kelompok dengan perilaku berisiko tinggi
Papua Nugini menghadapi risiko epidemi yang mirip dengan epidemi di wilayah Sub Sahara Afrika karena terbatasnya kapasitas dan budaya yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara lainnya di wilayah ini. Meskipun berbagai tanda atas munculnya epidemi meningkat di awal tidak banyak pemimpin yang menganggap HIV/AIDS sebagai isu yang memprihatinkan.
Setelah menyadari adanya masalah, upaya-upaya awal sulit dipertahankan. Komite nasional AIDS hanya berfungsi secara sporadis dari tahun 1988 sampai 1994, dan upaya untuk membentuk surveilans sentinel terhambat. Upaya-upaya terkini telah berhasil merevitalisasi beberapa program, namun, sampai saat ini, terbatasnya kapasitas sistem kesehatan, buruknya
implementasi program HIV secara umum, dan kekurangan sumber daya manusia telah menghambat upaya ini. Selain itu, berubahnya metode tradisional untuk kontrol sosial di Papua Nugini, dikombinasi dengan ekonomi tunai (cash economy), urbanisasi dan mobilitas yang tinggi, menyebabkan terjadinya perubahan signifikan dalam perilaku seksual. Faktor-faktor ini menempatkan Papua Nugini pada risiko mengalami epidemi HIV/AIDS yang luas pada kelompok heteroseksual.
Komitmen politis yang kuat merupakan kunci utama dalam menghadapi epidemi ini. Tetapi sumber daya juga merupakan hal penting. Meskipun telah diperoleh komitmen yang tinggi dari berbagai pemerintahan, pendanaan masih rendah. Sumber pendanaan untuk pencegahan dan surveilans HIV/AIDS di wilayah ini berasal dari badan-badan pembangunan bekerja sama dengan pemerintah. Mitra pembangunan utama adalah Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), badan-badan PBB (khususnya UNAIDS), World Health Organization, badan pembangunan bilateral besar dan Global Fund untuk memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria. Organisasi non-pemerintah juga menawarkan pelayanan yang penting dan informasi.
Seluruh program yang direncankan untuk menekan tingginya angka penderita HIV/AIDS membutuhkan dana yang sangat besar sehingga sulit untuk bisa menekan angka penyebarannya,oleh karena itu coba ditawarkan program eHealth yaitu program telepon selluler yang digunakan untuk pelayanan dan pencegahan HIV.
B. Program eHealth
Proram eHealth memakai teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ ICT) – misalnya komputer, telepon selular, dan komunikasi satelit – untuk layanan dan informasi kesehatan. Telepon selular adalah salah satu teknologi yang tercepat menyebar di dunia, dan sekarang dipakai lebih dari sekadar menelepon. Serupa dengan SMS, pengguna memakai telepon selular – dan teknologi itu – hingga ke gagasan baru yang sama sekali tidak terbayangkan ketika telepon selular pertama kali dipakai secara luas pada akhir 1990-an.
Dengan perkiraan 2,2 miliar pengguna telepon selular di negara berkembang (64% pasar dunia), teknologi telepon selular memberi kesempatan besar dan kemungkinan untuk menghadapi dan berdampak baik pada banyak tantangan kesehatan yang dihadapi di negara miskin sumber daya.
Pada 2005 WHO mengusulkan penggunaan teknologi murah (eHealth) untuk memperbaiki mutu pemberian layanan kesehatan khususnya di tingkat layanan kesehatan primer (primary healthcare/PHC), serta juga membangun kemampuan pekerja kesehatan di negara miskin sumber daya.Telepon selular dapat diakses bahkan di tempat paling terpencil di dunia yang sering kali tidak mendapatkan akses air bersih, tidak ada dokter atau pusat kesehatan. Alat yang luar biasa sederhana telah mengubah secara dramatis cara komunitas dan masyarakat saling berhubungan, baik secara pribadi maupun di tingkat profesional. Harapan yang ditawarkan bagi layanan kesehatan melalui telepon sellular ini adalah :
• Mendukung kepatuhan
• Mengirim pesan pencegahan dan kesehatan dasar lain • Memancing orang ke dalam layanan, khususnya VCT
• Mendukung petugas kesehatan melakukan tugasnya, menghemat waktu dan meningkatkan efisiensi layanan operasional
• Memperbaiki efisiensi pengumpulan data dan analisis layanan penatalaksanaan • Memakai telepon selular untuk menyediakan alat diagnostik yang dapat dibawa
Sejak 1990-an proyek ICT telah menembus negara berkembang, tetapi secara mengejutkan hanya sedikit yang dianggap berhasil. Studi kasus yang dipresentasikan di sini adalah gambaran tentang kekuatan dan kedalaman teknologi telepon selular pada pasar yang mulai di negara berkembang. ICT tidak hanya menunjukkan potensi eHealth sebagai alat yang efektif dan ampuh untuk melawan HIV dan TB, tetapi juga membantu menangani masalah kesehatan dunia selain menyediakan bantuan terkait kesehatan selama masa krisis. Pertumbuhan telepon selular di negara miskin berbenturan dengan krisis layanan kesehatan dunia dan sekaligus menunjukkan potensi sebagai alat penatalaksanaan kesehatan yang kuat dan penting.
Cakupan telepon selular di negara berkembang meningkat secara cepat. Jangkauannya lebih besar dibandingkan teknologi lain atau prasarana terkait kesehatan. Pada 2012 diperkirakan 50% orang yang tinggal di daerah terpencil akan memiliki telepon selular. Kebanyakan informasi yang dirancang sebagai alat kecil dan pemindahan dengan bandwidth rendah. Telepon selular dan PDA juga menawarkan manfaat karena kukuh (tidak ada bagian bergerak), murah, menyediakan sarana komunikasi langsung dan dapat dipertahankan di tempat yang tidak memiliki sarana listrik, misalnya dengan asupan tenaga matahari. Walau penggunaan telepon selular di negara miskin adalah umum untuk penggunaan pribadi dan usaha, kemungkinan penggunaan untuk layanan kesehatan sangat mungkin sekali.
Program telepon selular untuk: pengiriman pesan pencegahan secara massal; informasi hidup positif secara massal; menghubungkan pasien dan klinik; membangun kapasitas sistem kesehatan, dukungan dan konseling sebaya; membangun kemampuan organisasi terkait HIV; serta pemantauan dan evaluasi. Program eHealth ini, bekerja sama dengan Pusat layanan sellular seperti Indosat atau Telkomsel untuk dapat mengirimkan informasi dari pusat pelayanan kesehatan dengan menggunakan layanan SMS (Short Messages Service), untuk berkomunikasi mendukung kelompok kepatuhan dengan mengingatkan melalui SMS
Program yang dibuat melalui eHealth ini dapat dilakukan dalam beberapa fase diantaranya adalah :
Fase pertama
1) Satu juta pesan SMS sehari dikirim selama satu tahun (365 juta) untuk mendorong orang agar dites dan diobati untuk HIV dan TB.
2).Isi SMS disediakan oleh Pusat layanan kesehatan dan jaringan selular nasional, yangah menyumbang tempat kosong untuk pesan tersebut. SMS dikirim pada tempat kosong yang tidak terpakai pada layanan lainnya.Layanan SMS gratis itu memungkinkan
orang yang tidak memiliki pulsa dapat meminta agar ditelepon kembali. Pesan itu menghubungkan pengguna selular dengan call centre HIV dan TB yang ada. Konselor yang terlatih secara khusus menyediakan orang yang menelepon dengan informasi yang tepat serta rujukan ke klinik tes setempat. SMS dituliskan dalam bahasa Indonesia.
Fase kedua
direncanakan untuk memperluas cakupan. Pemantauan dan evaluasi secara hati-hati dipadukan dalam proyek. Berbeda dengan iklan melalui radio dan televisi, eHealth menyediakan hubungan secara langsung dan dapat diukur di antara penggunaan dan sasaran akhir: jumlah orang yang membaca SMS, berapa orang memakai telepon selular pada pencegahan dan layanan HIV banyak yang menelepon dan berapa banyak yang pada akhirnya memakai layanan semuanya dapat diukur.
3) SMS peringatan: Mempertahankan hubungan pasien dengan layanan Layanan SMS otomatis dihubungkan dengan sistem catatan data pasien di klinik Thembu Lethu pada 2007 untuk memperbaiki tingkat kehadiran pengguna ARV di klinik. Janji yang dilewatkan agak lebih tinggi pada pasien yang tidak menerima SMS dibandingkan yang menerima SMS.
C. Penerapan sistem eHealth di Indonesia
Penerapan sistem eHealth di Indonesia sangat mungkin sekali karena banyaknya masyarakat yang menggunakan telepon sellular sudah hampir menjangkau ditempat terpencil sekalipun,sehingga dapat mendukung program ini.Selain itu program ini membutuhkan tenaga atau personel yang dapat memantau program untuk edukasi bagi pasien HIV/AIDS,tetapi tentunya tenaga ini harus terlatih dan untuk itu dibutuhkan biaya bagi pelatihan ini.Pemerintahpun harus memikirkan layanan telekomunikasi khusus untuk pasien HIV/AIDS yang dihubungkan dengan sistem layanan di rumah sakit atau layanan kesehatan primer seperti puskesmas, sehingga memudahkan bagi penderita HIV/AIDS untuk menerima layanan dari seperti pengobatan ataupun terkait komplikasi dari penyakit yang dideritanya.
D. Kesimpulan
Program eHealth ini adalah suatu program layanan sellular kepada masyarakat yang berisikan informasi tentang pencegahan penyebaran HIV/AIDS atau layanan konseling untuk pasien HIV/AIDS, yang dapat mencakup hampir seluruh daerah di Indonesia,karena program ini didukung oleh perangkat atau jaringan telekomunikasi nasional, yang sifatnya berupa pengiriman SMS kepada pengguna jaringan telepon sellular yang tidak dibebani dengan pulsa atau dengan nama lain gratis,tentu hal ini akan banyak menarik minat masyarakat karena dapat berkonsultasi secara gratis melalui SMS dan juga dapat mendeteksi berapa banyak jumlah orang yang berkonsultasi tentang HIV/AIDS atau penderita itu sendiri.Sehingga
pemerintah dapat melacak keberadaan penderita HIV/AIDS dapat dapat lebih mudah mengontrol penyebarannya.Tentunya program ini akan berhasil kalau didukung oleh berbagai pihak yang terkait dan masyarakat itu sendiri.
Daftar Pustaka
Elder L and Clarke M,2009. Experience and Lessons Learnt from telemedicine projects supported by IDRC in Telehealth and the Developing World, IDRC.
Lester R and Karanja S,2008, Mobile Phones: exceptional tools for HIV/AIDS, health and crisis management, The Lancet, vol. 8, issue 12, pp 738-739.
Morris K, 2009. Mobile Phones connecting efforts to tackle infectious disease, Newsdesk, The Lancet, vol. 9, May
Thwaites C,2009 UN Foundation/Vodafone Foundation Partnership, AIDS 2031: Introduction and Adoption of HIV/AIDS Technologies, slide presentation, Washington DC.
World Health Organization,2005. WHA58.28 e-health, Geneva: WHO