BAB II LANDASAN TEORITIS. Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Teks penuh

(1)

11 BAB II

LANDASAN TEORITIS

1. Pengembangan Materi Pembelajaran

Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, tanpa kurikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif, seperti yang dikemukakan oleh Saylor (Sanjaya, 2009: 17) bahwa ‘The terms curriculum and instruction are interlocked almost as inextricable as name Tristan and Isoled or Romeo and Juliet. Without curriculum or plan, there can be no effective instruction; and without instruction the curriculum has little meaning.’ Dengan demikian, kurikulum dan pembelajaran/pengajaran memiliki keterkaitan yang sangat erat, seperti yang diungkapkan juga oleh Oliva (Sanjaya, 2009: 17) bahwa:

Curriculum as that which is taught and instruction as the means used to teach that which is taught. Even more simply ”what” and instruction as the “how”. We may think of the curriculum as aprogram, a plan, content, and learning experiences, where as we may characterize instruction as a methods, the teaching act, implementation and presentation.

Berdasarkan pernyataan diatas, kurikulum berkaitan dengan apa yang harus diajarkan, sedangkan pembelajaran/pengajaran mengacu kepada bagaimana cara mengajarkannya. Dengan demikian kurikulum berhubungan dengan sebuah program, sebuah perencanaan, isi atau materi pelajaran serta pengalaman belajar, sedangkan pembelajaran/pengajaran berkaitan dengan metode, tindakan mengajar, implementasi,

(2)

12 dan presentasi. Implementasinya, pembelajaran akan dipengaruhi oleh isi atau materi pembelajaran. Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan sangat tergantung pada keberhasilan guru merancang materi pembelajaran, seperti yang diungkapkan Depdiknas (2008: 3) bahwa “Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran.” Materi pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, penguasaan materi oleh guru mutlak diperlukan, seperti yang dikemukakan oleh Sanjaya (2009: 205) bahwa “Guru perlu memahami secara detail isi materi pelajaran yang harus dikuasai siswa, sebab peran dan tugas guru adalah sumber belajar.”

Berdasarkan beberapa pernyataan tentang materi pembelajaran di atas, pengembangan materi pembelajaran di dalam setiap disiplin ilmu termasuk dalam pembelajaran musik, menitik beratkan kepada pengembangan kurikulum yang didalamnya terdapat isi materi pembelajaran, serta peran guru dalam mengembangkan strategi belajar dan pengimplementasian dalam pembelajarannya. Selain itu agar dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil guna, seorang guru dituntut harus memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan materi pembelajaran, seperti prinsip pengembangan materi pembelajaran dan strategi

(3)

13 implementasi materi pembelajaran yang mencakup langkah-langkah pemilihan materi, urutan materi pembelajaran, strategi belajar dan evaluasi, sehingga menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator pembelajaran.

2. Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi Pembelajaran

Dalam pengembangan materi pembelajaran, pemilihan materi pembelajaran/bahan ajar menjadi faktor pendukung dalam mewujudkan proses pembelajaran yang kondusif, seperti yang diungkapkan oleh Aunurrahman (2009: 79) bahwa:

Untuk terwujudnya iklim dan proses pembelajaran yang kondusif perlu didukung oleh berbagai faktor, baik berkenaan dengan kemampuan guru, misalnya di dalam memilih bahan ajar, sarana dan fasilitas pendukung serta yang tidak kalah pentingnya kesiapan dan motivasi siswa untuk belajar dan mencapai hasil belajar yang optimal.

Dalam pemilihan materi pembelajaran, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, kecukupan dan kontinuitas.

2.1Prinsip relevansi artinya materi pembelajaran harus sesuai/relevan atau ada kaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.

2.2Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.

(4)

14 2.3Prinsip kecukupan (adequacy) artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup

memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar, seperti yang dikemukakan oleh Aunurrahman (2009: 80) bahwa “Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak.” Yakni, jika materi yang diberikan terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar, demikian juga sebaliknya, jika materi yang diberikan terlalu banyak akan membuang waktu atau tenaga sementara hal itu di luar kemampuan siswa.

2.4Prinsip kontinuitas artinya bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara tiap-tiap materi pelajaran, seperti yang diutarakan oleh Sanjaya (2009: 41) bahwa “… perlu dijaga agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pada jenjang yang lebih tinggi, telah diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya.” Prinsip ini sangat penting untuk menjaga agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan materi pembelajaran yang memungkinkan program pembelajaran tidak efektif dan efisien.

3. Strategi Implementasi Materi Pembelajaran 3.1Langkah-Langkah Pemilihan Materi

3.1.1Identifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Sebelum menentukan materi pembelajaran, terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek kebutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau

(5)

15 dikuasai oleh siswa, seperti diungkapkan oleh Depdiknas (2008: 10) bahwa “… perlu ditentukan, karena setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.” Oleh karena itu, dalam pembelajaran musik harus ditentukan apakah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa termasuk ranah kognitif, afektif, atau psikomotor.

Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir. Ranah kognitif meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif berhubungan dengan sikap. Ranah afektif merupakan kelanjutan dari ranah kognitif, seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya (2009: 104) bahwa “Seseorang hanya akan memiliki sikap tertentu terhadap sesuatu objek manakala telah memiliki kemampuan kognitif tingkat tinggi.” Ranah afektif meliputi penerimaan, merespon, menghargai, mengorganisasi, karakterisasi nilai. Ranah psikomotor berhubungan dengan kemampuan keterampilan seseorang. Ranah psikomotor meliputi persepsi, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa dan kreativitas.

3.1.2Identifikasi Jenis-Jenis Materi Pembelajaran

Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran dengan tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya, begitu juga halnya dengan pembelajaran musik. Materi pembelajaran yang sesuai untuk ranah kognitif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek

(6)

16 intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Jenis materi yang sesuai untuk ranah kognitif adalah fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.

Fakta adalah sifat dari suatu gejala, peristiwa, benda, yang wujudnya dapat ditangkap oleh pancaindra, seperti yang dikemukakan oleh Sanjaya (2009: 120) bahwa “Fakta merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan data-data spesifik (tunggal) baik yang telah maupun yang sedang terjadi yang dapat diuji atau diobservasi.” Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa fakta berhubungan dengan hal yang nyata/riil yang dapat diteliti atau dibuktikan kebenarannya. Contoh, C Mayor 7 terdiri dari not C, E, G, dan B.

Konsep adalah abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat serta mempunyai gabungan atribut sebagai pembeda antara satu konsep dengan konsep lainnya, seperti yang ungkapkan oleh Sanjaya (2009: 120) bahwa “Suatu konsep memiliki bagian yang dinamakan atribut. Atribut adalah karakteristik yang dimiliki suatu konsep. Gabungan-gabungan dari berbagai atribut menjadi suatu pembeda antara satu konsep dengan konsep lainnya.” Contoh, tonalitas mayor merupakan suatu konsep, yang memiliki atribut tertentu yang berbeda dengan atribut yang dimiliki oleh konsep tonalitas minor.

Prinsip bisa juga dikatakan sebagai generalisasi sebagaimana yang dinyatakan oleh Sanjaya (2009: 121) bahwa “Hubungan antara dua atau

(7)

17 lebih konsep yang sudah teruji secara empirik dinamakan generalisasi yang selanjutnya dapat ditarik ke dalam prinsip.” Contoh, prinsip improvisasi merupakan gabungan dari konsep tonalitas mayor, minor, dan beberapa konsep yang lainnya.

Prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Tujuannya adalah agar peserta didik dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan hanya sekedar paham atau hafal. Contoh, prosedur melatih blues 12 bar.

Materi pembelajaran yang sesuai untuk ranah afektif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan pada aspek perasaan dan emosi. Jenis materi yang sesuai untuk ranah afektif meliputi rasa dan penghayatan. Contoh, peserta didik disuruh menghayati lagu yang sedang dimainkan.

Materi pembelajaran yang sesuai untuk ranah psikomotor ditentukan berdasarkan perilaku yang menitik beratkan pada aspek keterampilan motorik. Pembelajaran ranah psikomotor, sangat sesuai untuk pembelajaran musik, karena dalam pembelajaran musik lebih menekankan pada kegiatan praktek (Noergina, 2009: 27). Jenis materi yang sesuai untuk ranah psikomotor meliputi persepsi, gerakan terbimbing, gerakan kompleks, dan kreativitas. Persepsi mencakup kemampuan memilah-milahkan (mendeskripsikan) sesuatu secara khusus dan menyadari adanya perbedaan antara sesuatu tersebut. Contoh, pemilahan akor (D minor dan D mayor). Gerakan terbimbing mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau

(8)

18 gerakan peniruan. Contoh, peserta didik meniru lick improvisasi yang dicontohkan pengajar. Gerakan kompleks mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap secara lancar, efisien dan tepat. Contoh, memainkan progresi ii-V-I dalam berbagai tonalitas secara tepat. Kreativitas mencakup kemampuan melahirkan pola-pola yang baru atas dasar prakarsa sendiri. Contoh, membuat lick-lick improvisasi sendiri.

3.2Urutan Materi Pembelajaran

Urutan penyajian materi pembelajaran berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya, begitu juga dengan pembelajaran improvisasi, karena dalam pembelajaran improvisasi tingkat intermediate, materi yang diberikan haruslah berkesinambungan (pre-requisite), agar apa yang diperlukan untuk mempelajari materi improvisasi pada tingkat advanced, telah diberikan pada tingkat intermediate ini. Jadi dalam hal ini, urutan materi pembelajaran yang tepat dalam upaya pengembangan kemampuan improvisasi tingkat intermediate di Venche Music School adalah urutan materi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan hierarkis (berjenjang dari bawah ke atas).

(9)

19 3.3Strategi Belajar

“A plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal.” Begitulah yang diungkapkan David (Sanjaya, 2009: 294) mengenai strategi dalam pembelajaran. Berdasarkan pernyataan tersebut, strategi pembelajaran merupakan perencanaan dan rancangan kegiatan, termasuk rancangan penggunaan metode yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Selain itu Kemp (Sanjaya, 2009: 294) menjelaskan bahwa “strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.” Dengan demikian, strategi pembelajaran bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam pembelajaran instrumen musik, strategi pembelajaran juga diperlukan, karena dalam implementasiannya mencakup metode-metode dan model pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajarannya, seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya (2009: 295) bahwa “Strategi adalah a plan of operation achieving something; sedangkan metode adalah a way in achieving something.” Jadi dapat dikatakan bahwa strategi merujuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan metode adalah cara yang digunakan dalam mengimplementasikan suatu strategi. Contoh strategi dalam pembelajaran musik adalah strategi pembelajaran inkuiri.

(10)

20 Strategi pembelajaran inkuiri adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas murid untuk mencari dan menemukan jawaban, Seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya (2009: 303) bahwa

“Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan.”

Berdasarkan pernyataan tersebut strategi pembelajaran inkuiri merupakan seluruh aktivitas yang dilakukan murid dalam mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang dipertanyakan dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis serta diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Contoh strategi pembelajaran inkuiri, Guru piano akan memberikan materi tentang 12 tonalitas minor, maka guru hanya memberikan satu contoh dari tonalitas minor tersebut, selanjutnya murid harus mencari dan menemukan 11 bentuk tonalitas minor yang lainnya.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, strategi pembelajaran diimplementasikan antara lain melalui model pembelajaran. Karena keberhasilan srategi pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat akan membuat proses penyampaian materi pembelajaran menjadi lebih efektif dan

(11)

21 menyenangkan untuk siswa, seperti yang diungkapkan oleh Aunurrahman (2009: 143) bahwa

Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas, memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik.

Berdasarkan pernyataan tersebut, pengembangan model pembelajaran bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan, sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal, begitu juga halnya dalam pembelajaran musik. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap perkembangan dan kondisi siswanya, serta pemahaman tentang konsep dan cara mengimplementasikan model pembelajaran tersebut, seperti yang diutarakan Aunurrahman (2009: 140) bahwa “Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif, maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model-model tersebut dalam proses pembelajaran.” Contoh model pembelajaran dalam pembelajaran musik adalah model pembelajaran synectic. Model synectic adalah model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas.

(12)

22 Selain model pembelajaran, bentuk implementasi dari strategi pembelajaran adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran juga merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran, seperti yang dikatakan Surakhmad (Yudhansyah, 2008: 13) bahwa

Cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan, makin baik suatu metode, makin efektif pula dalam pencapain tujuan. Untuk menetapkan suatu metode harus disesuaikan dengan beberapa faktor, faktor utama yang menentukan adalah tujuan yang ingin dicapai.

Dengan demikian, metode pembelajaran adalah alat untuk memudahkan guru dalam penyampaian materi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berikut adalah contoh-contoh metode yang digunakan dalam pembelajaran musik;

1) Metode Ceramah

Penyampaian materi secara lisan oleh guru kepada siswanya adalah pengertian dari metode ceramah. Penyampaian metode secara lisan inilah sebagai langkah awal dalam mengawali pembelajaran, sehingga siswa dapat memahami materi awal sebelum guru melakukan metode demonstrasi, seperti yang dikemukakan oleh Pophan dan Baker (Haqqi, 2010: 12) bahwa ”Setiap penyajian informal secara lisan dapat disebut ceramah, baik yang formal dan berlangsung selama 45 menit maupun yang informal dan hanya berlangsung selama 5 menit.” dalam pembelajaran musik, tujuan metode ceramah adalah agar siswa dapat memiliki pengalaman terhadap aspek bermain musik (mendengar, melihat, membaca, menulis dan menirukan) dengan jelas.

(13)

23 2) Metode Demonstrasi dan Eksperimen

”Demonstrasi dan eksperimen merupakan metode mengajar paling efektif, sebab membantu para siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta yang benar.” (Sudjana dan Ibrahim, 1989: 83). Berdasarkan pernyataan di atas, metode demonstrasi dan eksperiman merupakan metode paling efektif, karena sangat membantu siswa dalam menemukan jawaban. Oleh karena itu setelah melakukan metode ceramah maka perlu ditambah dengan metode demonstrasi dan eksperimen agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa.

3) Metode Diskusi

Metode ini digunakan setelah penyampaian materi baik lisan, tulisan atau demontrasi, lalu siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan guru mengenai materi yang telah diberikan, metode ini bersifat demokratis, karena didalam metode ini juga terdapat metode tanya jawab. Tujuan penggunaan metode ini untuk memperjelas materi yang diberikan melalui metode ceramah dan demontrasi sebelumnya.

4) Metode Latihan

Metode latihan atau drill digunakan untuk melatih objek pembelajaran agar dapat memahami, hafal dan mengerti materi yang diberikan, khususnya yang berhubungan dengan teknik dan keterampilan, seperti yang diutarakan oleh Sudjana dan Ibrahim (1989:86) metode latihan adalah “Metode yang

(14)

24 digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari”

5) Metode Imitasi

Merupakan kegiatan menirukan yang umumnya terdapat dalam pembelajaran musik. Dalam metode ini, guru mempraktekkan atau memberi contoh agar siswa dapat menirukan baik secara bunyi ataupun gerak. Dalam pembelajaran musik kegiatan imitasi merupakan pendekatan pembelajaran awal yang dilakukan bersamaan dengan metode ceramah sebagai pemahaman apa yang akan dipelajari.

3.4Evaluasi

Dalam proses pembelajaran, begitu juga dengan pembelajaran musik, evaluasi menempati kedudukan yang penting dan merupakan bagian utuh dari proses dan tahapan kegiatan pembelajaran. Dengan melakukan evaluasi, guru dapat mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukannya, seperti yang diungkapkan oleh Aunurrahman (2009: 209) bahwa “… evaluasi bertujuan untuk melihat sejauhmana suatu program atau suatu kegiatan tertentu dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.”

Ada beberapa jenis evaluasi, diantaranya adalah evaluasi formatif, evaluasi sumatif, dan evaluasi diagnostik. Evaluasi formatif adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana suatu proses pembelajaran

(15)

25 telah berjalan sebagaimana yang direncakan. Winkel (Aunurrahman, 2009: 221) menyatakan bahwa ‘evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai.” Dengan demikian, evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan. Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan treatment yang tepat.

4. Musik Jazz

Terdapat beberapa era dalam sejarah dan perkembangan musik jazz, antara lain yaitu era Dixieland. Dixieland adalah sebuah style yang dapat dianggap sebagai suatu varian dari jazz klasik. Jazz era Dixieland berkembang sekitar tahun 1910-an. Pionir dari jazz era Dixieland meliputi Eddie Condon, Bud Freeman, dan Jimmy McPartland. Kemudian jazz era swing yang berkembang pada tahun 1930-an dan pionirnya yaitu Duke Ellington, Louis Armstrong dan Benny Goodman. Setelah itu pada tahun 1940-an muncul gaya permainan jazz dengan tempo yang sangat cepat yaitu era bebop. Pionir jazz era bebop yaitu Miles Davis, Charlie Parker dan Dizzy Gillespie. Di era 1950-an dan 1960-an, bebop mengalami beberapa mutasi yaitu: hard-bop, west coast, cool jazz dan soul jazz. Kemudian pada tahun 1970-an muncul

(16)

26 jazz rock atau fusion dan perkembangan terakhir yang melahirkan fase dan era baru seperti acid jazz dan funk jazz.

5. Improvisasi

Di dalam musik jazz terdapat beberapa elemen penting diantaranya adalah sinkopasi, perasaan swing, warna chord, dan improvisasi. Elemen-elemen tersebut adalah elemen yang mengindikasikan bahwa musik yang mengandung elemen-elemen tersebut adalah musik jazz. Elemen yang disebutkan terakhir adalah elemen-elemen paling penting dalam musik jazz, yaitu improvisasi. Karena improvisasi dalam musik jazz merupakan pemikiran spontan yang kreatif dan imaginatif dari berbagai variasi progresi akor dan kunci seperti yang dikemukakan oleh Aebershold (1992: 2) bahwa “… a spontaneous, creative, surprising, imaginative and take chances over the various chord progressions and keys.”

Improvisasi adalah memainkan melodi secara spontan/instan berdasarkan progresi akor yang tersusun. Pada dasarnya, improvisasi bukanlah sebuah tindakan yang bebas dan asal-asalan, tetapi spontanitas yang terukur, yang senantiasa seiring jalan dengan kerangka komposisinya, seperti yang diungkapkan oleh Mack (2004: 164) bahwa “Improvisasi biasanya tidak dilakukan secara bebas, melainkan secara terkontrol dan terarah melalui berbagai ketentuan struktur (urutan) formal”. Selain itu dalam berimprovisasi, seorang musisi jazz harus bisa menyeimbangkan antara pengetahuan otak kiri dengan kreativitas otak kanan, seperti yang diutarakan oleh Aebershold (1992: 2) bahwa “If you can only play by ear (right-brain), you’ll find

(17)

27 yourself limited to only what-you-know, if you over emphasize the left brain you may end up sounding like a well-oiled jazz machine but not too inspiring or original.” Yaitu jika bermain hanya dengan menggunakan telinga (otak kanan), hanya akan terbatas pada apa yang diketahui, dan jika terlalu menekankan pada otak kiri suara yang dihasilkan akan seperti mesin jazz tetapi tidak terlalu asli/orisinil. Dengan demikian, improvisasi selain membutuhkan penguasaan tentang akor dan tangga nada, juga memerlukan kooperasi dan keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri.

Improvisasi dalam piano juga serta merta membuat melodi secara instan yang didengar di pikiran sepersekian detik sebelumnya, kemudian dituangkan kedalam piano, seperti yang dikemukakan oleh Aebershold (1992: 7) bahwa “… is to be able to reproduce instantly on their instrument the sounds they heard mini-second ago in their mind.” Jadi dengan kata lain, seorang improviser harus spontan, kreatif, dan imaginative dalam ber-improvisasi serta bisa melukis dengan bunyi menggunakan melodi dan ritmik sebagai alatnya seperti yang diutarakan oleh Taylor (2000: 299) bahwa “As an improviser, you choose melodic and rhythmic tools and essentially paint with sound.”

Terdapat beberapa penggunaan tangga nada dalam ber-improvisasi jazz, antara lain tangga nada blues, tangga nada modus, tangga nada pentatonic, dan chromatic. Berikut adalah contoh improvisasi jazz menggunakan tangga nada blues yang dikutip dari Ricker (1976: 20)

(18)

28 Gambar 2.1 (Contoh improvisasi menggunakan blues)

Adapun contoh improvisasi menggunakan tangga nada chromatic dan tangga nada modus dorian yang dikutip dari Haerle (1980: 80 ; 50)

Gambar 2.2 (Contoh improvisasi menggunakan chromatic)

Gambar 2.3 (Contoh improvisasi menggunakan modus dorian)

Berikut contoh improvisai menggunakan pentatonic yang dikutip dari Aebershold (1992: 31)

Gambar 2.4 (Contoh improvisasi menggunakan pentatonic)

Selain itu, dalam berimprovisasi jazz juga terdapat pengembangan melodi utama, pengembangan ritmik, dan lain-lain. Berikut adalah contoh improvisasi pengembangan melodi dan ritmik dari empat bar pertama lagu Take the A Train yang dikutip dari Fisher (1997: 12)

(19)

29 Gambar 2.5. (4 bar pertama melodi utama lagu Take the A Train )

Gambar 2.6. (Improvisasi pengembangan melodi dan ritmik 1)

Gambar 2.7. (Improvisasi pengembangan melodi dan ritmik 2)

Berikut adalah contoh lain improvisasi pengembangan melodi dan ritmik yang dikutip dari Snidero (2005: 10, 11)

Gambar 2.8. (Melodi utama)

Gambar 2.9. (Improvisasi pengembangan melodi 1)

(20)

30 Gambar 2.11. (Improvisasi pengembangan melodi dan ritmik 2)

6. Pengembangan Kemampuan Improvisasi Dalam Pembelajaran Piano Jazz 6.1Pembelajaran Piano Jazz

Pembelajaran merupakan proses individu merubah perilaku dalam upaya memenuhi kebutuhannya, seperti yang diutarakan Aunurrahman (2009: 34) bahwa “Pembelajaran berupaya mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik, menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.” Berdasarkan pernyataan tersebut, pembelajaran ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila di dalam dirinya telah terjadi perubahan. Dengan demikian, pembelajaran dapat diartikan sebagai proses mengubah perilaku yang dilakukan pengajar kepada siswanya agar melakukan kegiatan belajar dalam upaya memenuhi kebutuhannya.

Pembelajaran musik khususnya pembelajaran piano, harus dilaksanakan secara terarah dan terencana, seperti yang diutarakan oleh Busroh (Haqqi, 2009: 22) bahwa

Pembelajaran musik adalah bentuk kegiatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa komponen, yang satu sama lain beikatan erat dan

(21)

31 memegang peranan sangat penting dalam proses pembelajaran musik. Cara terbaik dalam proses pembelajaran musik harus benar-benar terarah dan terencana dalam pelaksanaannya.

Di dalam sebuah proses pembelajaran setiap disiplin ilmu, mungkin saja memiliki prosedur yang berbeda, termasuk prosedur yang biasa dilakukan dalam pembelajaran musik. Prosedur yang ada pada pembelajaran musik biasanya seorang individu harus melakukan kegiatan mengamati bahasan yang sedang dibahas, membaca notasi, menirukan, mencoba dan melatih teknik-teknik yang diberikan oleh pengajar seperti yang dikatakan Spears (Dirgualam, 2006: 11) bahwa ’Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.’ Pembelajaran musik lebih menitikberatkan kepada aspek psikomotor dan afektif, dalam hal ini adalah kegiatan latihan. Tujuan pembelajaran akan cepat tercapai apabila melakukan latihan secara rutin dan teratur.

Pembelajaran piano memiliki kesamaan dengan proses pembelajaran disiplin ilmu yang lain, yaitu terdapat empat faktor dalam pembelajarannya, seperti yang diungkapkan Yudhansyah (2008: 26) bahwa ”Dalam setiap pembelajaran tidak terlepas dari empat faktor, yaitu: tujuan, materi, metode dan evaluasi.” Berdasarkan pernyataan tersebut, keterkaitan dari keempat faktor tersebut tidak terlepas dari adanya kerja sama antara guru dan siswa, sehingga tujuan pembelajaran akan cepat tercapai.

Menurut pernyataan yang diungkapkan oleh Aebershold (1992: 3) bahwa ”The basic ingredients in music are scales and chords, in addition to

(22)

32 sounds and silences.” berdasarkan pernyataan tersebut, unsur dasar/fundamental dalam musik adalah tangga nada dan akor, selain bunyi dan diam. Seperti halnya pada tahap awal pembelajaran piano pop, materi yang diberikan adalah tangga nada dan akor. Begitu juga halnya dengan tahap awal pembelajaran piano jazz, materi yang diberikan adalah tangga nada dan akor yang merupakan unsur-unsur fundamental dalam membuat improvisasi. Dengan demikian, tahap awal pembelajaran piano jazz memiliki kesamaan dengan pembelajaran piano pop, perbedaannya yaitu bahasan tangga nada dan akor dalam pembelajaran piano jazz lebih banyak dibandingkan dengan piano pop. Berikut adalah gambar tangga nada dan akor-akor dasar.

Gambar 2.12. (Five Basic Scales)

Gambar 2.13. (Basic Chords)

Dalam melatih akor dan penjarian tangga nada dan akor-akor dasar tersebut adalah dengan dilatih dalam beberapa tonalitas serta dilatih juga dengan menggunakan tangan kanan dan tangan kiri, walaupun sebenarnya dalam

(23)

33 pengaplikasiannya hanya dipakai dalam satu tonalitas saja. Dalam tahapan awal, diberikan juga aspek ritmik jazz yang disebut juga rasa swing. Aspek ini hanya bisa didapat dengan mendengarkan rekaman dan menonton pertunjukan musisi jazz yang sudah mahir, seperti yang diungkapkan oleh Waite(.... : 73) bahwa ”... can only be acquired by listening to recordings and performances by those already accomplished in the art.” dalam penulisan notasi musik jazz, aspek ritmik jazz/swing tersebut ditulis dalam bentuk harga not seperdelapan, namun dalam penyuaraannya mirip seperti triol yang. Terdapat suatu cara dalam melatih aspek ritmik jazz selain dengan hanya mendengar dan berapresiasi. Berikut adalah gambar cara melatih aspek ritmik jazz/swing.

Gambar 2.14. (Cara melatih aspek ritmik jazz)

Materi yang diberikan dalam tahap selanjutnya yaitu materi tentang progresi akor ii-V-I dan walking bass. Progresi akor ii-V-I adalah progresi akor berdasarkan tingkatan. Akor tingkat dalam tonalitas mayor yaitu akor tingkat satu berupa akor mayor (I), akor tingkat dua berupa akor minor (ii), akor tingkat tiga berupa akor minor (iii), akor tingkat empat berupa akor mayor (IV), akor tingkat lima berupa akor mayor (V), akor tingkat enam berupa akor

(24)

34 minor (vi), dan akor tingkat tujuh berupa akor diminished (vii°). Jadi progresi akor progresi akor ii-V-I dalam tonalitas C mayor adalah (ii) D minor(7)- (V) G(7) – (I) C Mayor(7). Sedangkan walking bass adalah gaya bass berjalan dengan menggunakan not seperempat secara stabil. Berikut gambar ii-V-I dengan walking bass dalam tonalitas C Mayor.

Gambar 2.15. (ii-V-I C mayor dengan walking bass)

Setelah berbagai tangga nada dan akor serta progresi akor ii-V-I terkuasai, materi selanjutnya yaitu materi improvisasi. Dalam materi improvisasi terdapat penggunaan berbagai tangga nada dan akor. Tangga nada dan akor tersebut kemudian dilatih kedalam progresi akor ii-V-I kemudian diaplikasikan kedalam lagu-lagu jazz. Karena itulah dalam pembelajaran piano jazz khususnya improvisasi, penguasaan tentang berbagai tangga nada dan akor mutlak diperlukan, seperti yang diutarakan Aebershold (1992: 3) bahwa ”Jazz players use several fundamental when improvising.”

6.2Materi Pembelajaran Improvisasi Jazz

Pemilihan materi yang tepat oleh guru akan memudahkan siswa dalam menguasai improvisasi. Selain itu upaya guru dalam mengembangkan materi dan strategi pembelajaran, akan mempercepat siswa dalam mencapai tujuan

(25)

35 pembelajaran improvisasi serta menunjang untuk pembelajaran improvisasi ke jenjang yang lebih tinggi. Adapun materi improvisasi yang diberikan dalam pembelajaran piano jazz yaitu blues, pentatonic, chromatic dan modus.

6.2.1Blues

Blues adalah bentuk musikal yang memberikan kesempatan berekspresi, seperti yang diungkapkan Aebershold (1992: 36) bahwa “The blues is a musical form which jazz mucisians have always embraced because it allows them the opportunity to express and everyday feeling as well as intellectual concepts.” Berdasarkan pernyataan tersebut, para musisi jazz selalu memakai blues dalam mengekspresikan musik jazz mereka, dan blues dipandang sama bagusnya dengan konsep yang intelektual. Karakteristik blues yaitu menurunkan nada ke-3, ke-5, dan ke-7 pada scale mayor dengan mempertahankan 3 mayor dan 5 perfectnya, seperti yang dkemukakan oleh Waite (….: 102) bahwa “… the blues is characterised by a flattening the third, fifth and seventh of the major scale whilst retaining the major third and perfect fifth.” Nada-nada yang diturunkan itulah kemudian dikenal dengan sebutan blue note. Berikut adalah gambar 12 tangga nada blues.

(26)

36 Gambar 2.16. (12 tangga nada blues)

Pembelajarannya dalam piano, improvisasi menggunakan tangga nada blues diimplementasikan/dilatih ke dalam blues 12 bar, dengan cara tangan kiri bermain akor dan tangan kanan bermain tangga nada. Berikut gambar bentuk 12 bar blues.

(27)

37 6.2.2Pentatonic

Pentatonic merupakan tangga nada yang dibangun dari lima nada, seperti yang diungkapkan oleh Aebershold (1992: 30) bahwa “Pentatonic generally means a scale built of five tones.” dalam music jazz terdapat dua macam tangga nada pentatonic, yaitu pentatonic mayor dan pentatonic minor. Berikut contoh gambar C pentatonic mayor dan C pentatonic minor.

Gambar 2.18. (C pentatonic mayor dan minor)

Tangga nada Pentatonic dapat digunakan pada pada akor mayor, minor, dominant 7, half-diminished, diminished, whole tone. Berikut adalah gambar kemungkinan pentatonic yang terdapat dalam C mayor dan F minor.

(28)

38 6.2.3Chromatic

“Chromatic means the construction of melodies and harmonies which can coexist with, or replace given key centers.” (Liebman, ….: 7). Berdasarkan ungkapkan Liebman, chromatic berarti konstruksi melodi dan harmoni yang dapat berdampingan dengan, atau mengganti pusat nada. Implikasinya berarti seolah-olah membangun tonalitas yang bertentangan. Not chromatic mengandung hubungan tarikan dari tonika, dalam hal ini perasaan ingin kembali ke “rumah” (leading not) dan mengacu pada penggunaan appoggiatura, neighboring tone (not yang berdekatan) dan passing tone (not lintas), seperti yang diungkapkan Liebman (….: 11) bahwa “Chromatic tone was conceived of in terms of its relationship to the pull of the tonic. Musical terms such as appoggiaturas, neighboring and passing tones refer to this usage.” Dalam pembelajarannya, penggunaan chromatic adalah penggunaan not lintas, appoggiatura atau neighboring tone untuk menggabungkan beberapa broken chord agar menghasilkan tension and release. Berikut adalah contoh appoggiatura

(29)

39 6.2.4Modus

Modus berasal dari Yunani, dan merupakan dasar untuk sistem tangga nada di Eropa, seperti yang dikemukakan oleh Waite (….: 66) bahwa “The modes are of Greek origin, being named after tribes, and they are the basis for the European scale system.” Modus terdiri dari tujuh macam, diantaranya yaitu Dorian, Phrygian, Lydian, Mixolydian, Ionian, Aeolian, dan Locrian. Tiap modus mempunyai perbedaan pusat nada, sehingga berbeda pula karakternya. Berikut adalah gambar tangga nada modus dalam pusat nada C yang dikutip dari buku Haerle (1980: 10)

Gambar 2.21. (tangga nada Modus dengan pusat nada C)

Berdasarkan gambar tersebut, terdapat interval yang berbeda dari tiap modus. Hal tersebut itulah yang membuat karakter warna suara dari tiap modus berbeda-beda. Menurut Miller (1996: 28) modus memiliki urutan

(30)

40 karakter warna suara dari cerah (bright) menuju gelap (dark), yaitu berurut dari karakter warna suara yang paling cerah yaitu Lydian (brightest), ionian, mixolydian, dorian, aeolian, phrygian dan warna suara yang paling gelap yaitu locrian (darkest) . Implementasinya dalam improvisasi, modus Ionian dapat digunakan pada akor Major, modus dorian dapat digunakan pada akor minor, modus Phrygian dapat digunakan pada akor minor, modus Lydian dapat digunakan pada akor mayor, modus mixolydian dapat digunakan pada akor dominant 7, modus Aeolian dapat digunakan pada akor minor dan modus locrian dapat digunakan pada half-diminished. Berikut gambar penggunaan modus.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :