LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2015

44 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN STUDI

ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT

(EHRA)

KABUPATEN MANGGARAI BARAT

TAHUN 2015

(2)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

KATA PENGANTAR

Dalam KTT Habitat II City Summit di Istambul (6/1996) masyarakat mengakui bahwa pada masa depan kemajuan dan kesejahteraan rakyat perlu dicapai dari basis perkotaan sebab bukan saja lebih dari setengah dari penduduk berdiam di kota, tetapi kota juga sudah menjadi sarana untuk memajukan umat manusia dalam segala bidang. KTT ini dipertegas dengan digulirkan Millenium Development Goals (MDGs) yang juga menjadi ukuran keberhasilan pembangunan.

Undang‐Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 H ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, rumah yang layak huni merupakan dasar dan salah satu komponen penting dalam menentukan tingkat kesejahteraan. Di Indonesia kota juga menjadi basis perkembangan dan kelangsungan potensi dan kegiatan sosial dan ekonomi wilayah sekitarnya, sehingga kota/kabupaten sedang dan kecil, ternasuk Kabupaten Manggarai Barat, perlu dikembangkan menjadi pendukung dan penjamin perkembangan sosial dan ekonomi yang berlangsung di sekitarnya. Agar aspek ekonomi, sosial dan lingkungan terus berkembang semakin baik, diperlukan jaminan ketersediaan sumberdaya yang diperlukan dan tenaga ahli yang terampil bersamaan dengan pengembangan ilmu yang terkait.

Sebagai kabupaten urbanis yang berkembang sangat pesat, aspek sanitasi dan kesehatan masyarakat di permukiman sangat berperan dalam tata laksana kehidupan sumberdaya manusia. Menyadari akan hal itu, dalam rangka meningkatkan kualitas perumahan dan pemukiman, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melakukan kegiatan survey Environmental Health Risk Assessment (EHRA) pada tahun 2015. Kegiatan ini merupakan survey partisipatif yang bertujuan untuk mengetahui kondisi sarana dan prasarana sanitasi, kesehatan/higinitas, serta perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi dan advokasi di tingkat kabupaten hingga kelurahan/desa. Melalui studi EHRA atau Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan ini dikumpulkan data langsung dari responden masyarakat dengan tujuan untuk mengetahui situasi sanitasi di tingkat rumah tangga dan lingkungannya, termasuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk membangun program dan advokasi di tingkat kabupaten dan kecamatan/kelurahan/desa seluruh Kabupaten Manggarai Barat.

Diharapkan hasil studi ini dapat digunakan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten sebagai salah satu bahan untuk menyusun Buku Putih Sanitasi, penetapan area beresiko dan dalam menyusun Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SKK) Manggarai Barat.

(3)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

RINGKASAN EKSEKUTIF

Survey Environmental Health Risk Assessment (EHRA) Kabupaten Manggarai Barat

merupakan salah satu keluaran yang dihasilkan oleh Kelompok Kerja Program Percepatan

Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Kabupaten Manggarai Barat yang dibentuk

berdasarkan Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor: 27/KEP.HK/2015. Kegiatan ini

merupakan bagian dari rencana Pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

sesuai dengan Millenium Development Goals (MDG’s).

Kondisi sanitasi kesehatan meliputi sistem penyedian air bersih, layanan pembuangan

sampah, ketersedian jamban dan saluran pembuangan air limbah, dan perilaku dengan

higenitas dan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) meliputi cuci tangan pakai sabun,

buang air besar, pembuangan kotoran anak dan pembuangan sampah. Studi ini dilakukan

pada 14 (empat belas) kelurahan/desa dari 169 kelurahan/desa pada 10 (sepuluh)

kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat, dengan melibatkan masyarakat, kader

kesehatan, sanitarian dan stakeholder lainnya yang terlibat dalam pembangunan dan

pengembangan kondisi sanitasi dan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Kabupaten

Manggarai Barat.

(4)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

DAFTAR ISI

Hal Kata Pengantar... Ringkasan Eksekutif ... Daftar Isi ... Daftar Tabel ... Daftar Grafik ... 2 3 4 5 6 BAB 1 BAB 2 Pendahuluan ... Metodologi dan Langkah Studi EHRA ...

8 11 2.1 2.2 2.3 2.4

Penentuan target area survei ... Penentuan jumlah/besar responden ... Penentuan desa/kelurahan area survei …………... Penentuan RT/RW dan responden di lokasi survei ...

11 17 17 18

BAB 3 Hasil Studi EHRA ... 20 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 3.10 3.11 Informasi responden……… ... Pengelolaan sampah rumah tangga ... Pemilahan sampah………. ... Pembuangan air kotor/ limbah tinja manusia dan lumpur tinja ... Pembuangan akhir tinja rumah tangga……… Drainase lingkungan/selokan sekitar rumah dan banjir ………..………… Pengelolaan air minum rumah tangga ..………. Perilaku higiene ... Perilaku memekai sabun hari ini atau kemarin………... Kejadian penyakit diare ... Index ratio sanitasi………..

20 22 25 25 28 31 33 37 37 40 42 BAB 4 Penutup... 43

(5)
(6)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

DAFTAR TABEL

Tabel Hal 2.1 2.2 2.3 3.1

Kategori Klaster berdasarkan kriteria indikasi lingkungan berisiko ... Hasil Klastering desa/kelurahan ... Desa/Kelurahan Area Survei EHRA ... Informasi Responden ….………

11 12 18 21

(7)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19 DAFTAR GRAFIK Grafik Hal 2.1 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 3.10 3.11 3.12 3.13 3.14 3.15 3.16 3.17 3.18 3.19 3.20 3.21 3.22 3.23 3.24

Distribusi Desa per Klaster untuk Penetapan Lokasi Studi EHRA ... Kondisi Sampah di Lingkungan RT/RW ... Pengelolaan Sampah Rumah Tangga ... Pengelolaan Sampah Rumah Tangga per Klaster ... Pemilahan Sampah Rumah Tangga .……….. ……… Pemilahan Sampah Rumah Tangga per Klaster ... Sarana BAB ... Anggota Keluarga BAB ... Kepemilikan Jamban Pribadi ………... Kepemilikan Jamban Pribadi per Klaster……... Jenis Kloset di Rumah Tangga ... Jenis Kloset per Klaster ... Pembuangan Akhir Tinja ... Pembuangan Akhir Tinja per Klaster ... Kebiasaan Buang Air Besar ... Kebiasaan BAB Balita per Klaster ... Kepemilikan SPAL ………... Kepemilikan SPAL per Klaster ... Daerah Kejadian Banjir ... Daerah Kejadian Banjir per Klaster ... Sumber Air Minum ………... Tingkat Kesulitan Mendapatkan Air Minum Rumah Tangga ... Tingkat Kesulitan Mendapatkan Air Minum Rumah Tangga per Klaster ………... Penyimpanan Air Minum yang Aman ... Penyimpanan Air Minum yang Aman per Klaster ...

17 23 24 24 25 25 26 26 27 27 28 28 29 29 30 30 31 32 32 33 34 34 35 35 36

(8)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19 3.25 3.26 3.27 3.28 3.29 3.30 3.31 3.32 3.33 3.34 3.35 3.36

Tingkat Kepuasan terhadap Air Minum ... ………… Kebiasaan CTPS……… Kebiasaan CTPS per Klaster……… Memakai Sabun Hari Ini atau Kemarin ………... Kegunaan Sabun ………... CTPS Lima Waktu Penting ………..………. CTPS Lima Waktu Penting per Klaster ..………. Kejadian Penyakit Diare menurut Waktu ….……….. Kejadian Penyakit Diare menurut Waktu per Klaster ..……….. Kejadian Penyakit Diare Golongan Balita/Non Balita, Anak/Orang dewasa L/P ……… Tidak Pernah Mengalami Penyakit Diare pada Balita/Non Balita, Anak/Dewasa per Klaster …. Index Ratio Sanitasi……….

36 38 38 39 39 39 40 40 41 41 42 42

(9)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) atau Studi Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan adalah sebuah survey partisipatif yang bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat kabupaten/kota sampai ke kelurahan/desa. Data yang dikumpulkan dari studi akan digunakan Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Manggarai Barat sebagai salah satu bahan untuk untuk menyusun Buku Putih Sanitasi, penetapan area beresiko dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK).

Kabupaten/Kota dipandang perlu melakukan EHRA karena:

1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat

2. Data terkait sanitasi terbatas, dimana data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat kelurahan/desa dan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai sektor yang berbeda 3. EHRA adalah studi yang menghasilkan data yang representatif di tingkat kabupaten/kota

dan kecamatan dan dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan/desa

4. EHRA menggabungkan informasi yang selama ini menjadi indikator sektor-sektor pemerintahan secara eksklusif

5. EHRA secara tidak langsung memberi ”amunisi” bagi stakeholders dan warga di tingkat kelurahan/desa untuk melakukan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama warga atau stakeholders kelurahan/desa

Studi EHRA berfokus pada fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat, seperti : 1. Fasilitas sanitasi yang diteliti mencakup:

a. Sumber air minum

b. Layanan pembuangan sampah c. Jamban

d. Saluran pembuangan air limbah rumah tangga.

2. Perilaku yang dipelajari adalah yang terkait dengan higienitas dan sanitasi dengan mengacu kepada Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM):

a. Buang air besar sembarangan b. Cuci tangan pakai sabun

c. Pengelolaan air minum rumah tangga

d. Pengelolaan sampah dengan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) e. Pengelolaan air limbah rumah tangga (drainase lingkungan).

(10)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

Studi EHRA bagi Pokja Sanitasi Kabupaten Manggarai Barat sangat bermanfaat sehingga Pokja berusaha untuk melaksanakan kegiatan ini. Adapun kegiatan yang telah dilakukan oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Manggarai Barat dalam studi ini adalah :

a. Persiapan logistik studi b. Finalisasi desain studi

c. Penyiapan dan pelatihan supervisor, enumerator, dan entri data

d. Pelaksanaan studi serta proses pengumpulan data, entri data dan analisa data e. Penyusunan laporan dan diskusi publik.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Studi EHRA memanfaatkan sumber daya setempat untuk pengumpulan data. Petugas pengumpul data (enumerator) adalah tenaga kader kesehatan, tenaga petugas kesehatan desa. Pelaksanaan dilakukan dengan kerjasama Pokja bersama Tim Dinas Kesehatan.

Tujuan dan manfaat pelaksanaan studi EHRA oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Manggarai Barat adalah:

1. Tujuan studi EHRA:

a. Gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan

b. Informasi dasar yang valid dalam penilaian resiko kesehatan lingkungan c. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi. 2. Manfaat studi EHRA:

Hasil studi digunakan sebagai sebagai salah satu bahan penyusunan Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Manggarai Barat dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Manggarai Barat Tahun 2015. Hasil studi diharapkan menjadi input data primer untuk BPS Kabupaten Manggarai Barat, khususnya Bab 3 dan Bab 5.

1.3 Sumber Biaya

Sumber Biaya dari APBD Kabupaten Manggarai Barat melalui DPA Dinas Kesehatan Tahun Anggaran 2015.

(11)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

1.4 Waktu kegiatan

Pelaksanaan studi EHRA Kabupaten Manggarai Barat dimulai bulan Juli sampai September 2015. Untuk lebih lengkapnya jadwal kegiatan dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut.

Tabel 1.1 Pelaksanaan Studi Environmental Health Risk Assessment

No Uraian Kegiatan

Juni Juli Agustus September

Mg III Mg IV Mg II Mg III Mg IV Mg I Mg II Mg III Mg IV Mg I Mg II Mg III Mg IV 1. Persiapan a. Rapat Persiapan √ b. Penentuan area studi √ c. Pelatihan √ √ 2. Pelaksanaan a. Survey EHRA √ √ b. Entri Data √ √ √ √ c. Analisa Data √ √ d. Penyusunan Laporan & Diskusi Publik √ √

(12)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

BAB II

METODOLOGI DAN LANGKAH STUDI EHRA

2.1. Penentuan Target Area Survey

Metoda penentuan target area survey dilakukan secara geografi dan demografi melalui proses yang dinamakan klastering. Klastering sekaligus bisa sebagai indikasi awal lingkungan berisiko. Proses pengambilan sampel dilakukan secara random sehingga memenuhi kaidah ”Probability

Sampling” dimana semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel.

Pengambilan sampel dilakukan pada daerah populasi yang telah ditetapkan.

Penetapan klaster dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program PPSP sebagai berikut:

1. Kepadatan penduduk yaitu jumlah penduduk per luas wilayah. Pada umumnya tiap kabupaten/kota telah mempunyai data kepadatan penduduk sampai dengan tingkat kecamatan dan kelurahan/desa.

2. Angka kemiskinan dengan indikator yang datanya mudah diperoleh tapi cukup

representatif menunjukkan kondisi sosial ekonomi dengan kartu

Jamkesda/Jamkesmas/SKTM setiap kecamatan dan/atau kelurahan/desa.

3. Daerah/wilayah yang dialiri sungai/kali/saluran drainase/saluran irigasi dengan potensi digunakan sebagai MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat setempat. 4. Daerah terkena banjir dan dinilai mengangggu ketentraman masyarakat dengan

parameter ketinggian air, luas daerah banjir/genangan, lamanya surut.

Tabel 2.1 Kategori Klaster Berdasarkan Kriteria Indikasi Lingkungan Berisiko Katagori Klaster Kriteria

Klaster 0 Wilayah desa/kelurahan yang tidak memenuhi sama sekali kriteria indikasi lingkungan berisiko

Klaster 1 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi 1 kriteria indikasi lingkungan berisiko

Klaster 2 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi 2 kriteria indikasi lingkungan berisiko

Klaster 3 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi 3 kriteria indikasi lingkungan berisiko

Klaster 4 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi 4 kriteria indikasi lingkungan berisiko

Klastering wilayah di Kabupaten Manggarai Barat menghasilkan kategori klaster sebagaimana dipelihatkan pada Tabel 2.2. Wilayah kecamatan atau desa/kelurahan yang terdapat pada klaster tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya.

(13)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

Dengan demikian, kecamatan/desa/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu klaster akan mewakili kecamatan/desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada klaster yang sama.

Tabel 2.2 Hasil Klastering Desa/Kelurahan No. Klaster Jumlah No.

Urut Desa/Kelurahan Kecamatan

1 0 8 1 Poco Rutang Lembor

2 Wontong Macang Pacar

3 Rego Macang Pacar

4 Kombo Macang Pacar

5 Nanga Kantor Macang Pacar

6 Watu Baru Macang Pacar

7 Watu Manggar Macang Pacar

8 Lewat Macang Pacar

2 1 56 1 Golo Nobo Boleng

2 Wae Sano Sano Nggoang

3 Golo Kempo Sano Nggoang

4 Watu Panggal Sano Nggoang

5 Golo Kondeng Sano Nggoang

6 Poco Golo Kempo Sano Nggoang

7 Pulau Nuncung Sano Nggoang

8 Wae Kanta Lembor

9 Ponto Ara Lembor

10 Pong Majok Lembor

11 Ngancar Lembor

12 Liang Sola Lembor

13 Golo Ndewng Lembor

14 Orong Welak

15 Pong Welak Welak

16 Rehak Welak

17 Lale Welak

18 Gurung Welak

19 Galang Welak

20 Racang Welak Welak

21 Sewar Welak

(14)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

23 Wewa Welak

24 Tengku Kuwus

25 Compang Suka Kuwus

26 Benteng Suru Kuwus

27 Ranggu Kuwus

28 Golo Wedong Kuwus

29 Tueng Kuwus

30 Golo Lewe Kuwus

31 Compang Kolang Kuwus

32 Golo Pua Kuwus

33 Golo Ruu Kuwus

34 Rokap Macang Pacar

35 Benteng Ndope Macang Pacar

36 Kombo Tengah Macang Pacar

37 Waka Macang Pacar

38 Pong Kolong Macang Pacar

39 Raka Ndoso

40 Wae Buka Ndoso

41 Waning Ndoso

42 Ndoso Ndoso

43 Golo Poleng Ndoso

44 Lumut Ndoso

45 Pong Narang Ndoso

46 Kasong Ndoso

47 Momol Ndoso

48 Pateng Lesu Ndoso

49 Tehong Ndoso

50 Golo Rua Ndoso

51 Golo Keli Ndoso

52 Kakor Lembor Selatan

53 Lalong Lembor Selatan

54 Modo Lembor Selatan

55 Golo Desat Mbeliling

56 Watu Galang Mbeliling

No. Klaster Jumlah No.

Urut Desa/Kelurahan Kecamatan

3. 2 51 1 Golo Pongkor Komodo

2 Papagarang Komodo

(15)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

4 Wae Kelambu Komodo

5 Golo Lujang Boleng

6 Pota Wangka Boleng

7 Golo Manting Sano Nggoang

8 Golo Sengang Sano Nggoang

9 Sano Nggoang Sano Nggoang

10 Wae Lolos Sano Nggoang

11 Wae Bangka Lembor

12 Daleng Lembor

13 Pondo Lembor

14 Wae Momol Welak

15 Pengka Welak

16 Dunta Welak

17 Golo Ronggot Welak

18 Golo Ndari Welak

19 Golo Riwu Kuwus

20 Sama Kuwus

21 Kolang Kuwus

22 Pangga Kuwus

23 Coal Kuwus

24 Wajur Kuwus

25 Suka Kiong Kuwus

26 Nantal Kuwus

27 Mbakung Macang Pacar

28 Pacar Macang Pacar

29 Loha Macang Pacar

30 Raba Macang Pacar

31 Romang Macang Pacar

32 Manong Macang Pacar

33 Kombo Selatan Macang Pacar

34 Golo Lajang Barat Macang Pacar

35 Sarae Naru Macang Pacar

36 Tentang Ndoso

37 Golo Bore Ndoso

38 Nangalili Lembor Selatan

39 Nanga Bere Lembor Selatan

40 Suru Numbeng Lembor Selatan

41 Munting Lembor Selatan

(16)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

43 Benteng Dewa Lembor Selatan

44 Wae Mose Lembor Selatan

45 Watu Waja Lembor Selatan

46 Watu Rambung Lembor Selatan

47 Lendong Lembor Selatan

48 Watu Tiri Lembor Selatan

49 Benteng Tado Lembor Selatan

50 Cunca Lolos Mbeliling

51 Compang Liang Ndara Mbeliling

No. Klaster Jumlah No.

Urut Desa/Kelurahan Kecamatan

4. 3 31 1 Komodo Komodo

2 Pasir Putih Komodo

3 Pasir Panjang Komodo

4 Seraya Maranu Komodo

5 Labuan Bajo Komodo

6 Mata Wae Sano Nggoang

7 Nampar Macing Sano Nggoang

8 Golo Ndaring Sano Nggoang

9 Golo Mbu Sano Nggoang

10 Golo Leleng Sano Nggoang

11 Wae Wako Sano Nggoang

12 Siru Sano Nggoang

13 Poco Dedeng Sano Nggoang

14 Tangge Sano Nggoang

15 Watu Umpu Welak

16 Semang Welak

17 Lawi Kuwus

18 Lewur Kuwus

19 Compang Kules Kuwus

20 Bangka Lewat Kuwus

21 Golo Lujang Macang Pacar

22 Compang Macang Pacar

23 Nanga Kantor Barat Macang Pacar

24 Kempo Mbeliling

25 Golo Sembea Mbeliling

26 Golo Ndoal Mbeliling

27 Liang Ndara Mbeliling

(17)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

Hasil klastering wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Manggarai Barat yang terdiri atas 169 desa/kelurahan menghasilkan distribusi sebagai berikut:

1. Klaster 0 sebanyak 8 desa/kelurahan 2. Klaster 1 sebanyak 56 desa/kelurahan 3. Klaster 2 sebanyak 51 desa/kelurahan 4. Klaster 3 sebanyak 31 desa/kelurahan 5. Klaster 4 sebanyak 23 desa/kelurahan

Untuk lebih jelasnya, distribusi desa ke dalam klaster tersebut dapat dilihat pada rekap data klaster berikut.

29 Tiwu Riwung Mbeliling

30 Tondong Belang Mbeliling

31 Golo Tantong Mbeliling

No. Klaster Jumlah No.

Urut Desa/Kelurahan Kecamatan

5. 4 23 1 Golo Mori Komodo

2 Warloka Komodo

3 Macang Tanggar Komodo

4 Watu Nggelek Komodo

5 Golo Bilas Komodo

6 Nggorang Komodo

7 Gorontalo Komodo

8 Tiwu Nampar Komodo

9 Compang Longgo Komodo

10 Pantar Komodo

11 Golo Sepang Boleng

12 Sepang Boleng

13 Mbuit Boleng

14 Golo Ketak Boleng

15 Pontianak Boleng

16 Batu Tiga Boleng

17 Tanjung Boleng Boleng

18 Beo Sepang Boleng

19 Bari Macang Pacar

20 Nggilat Macang Pacar

21 Watu Wangka Mbeliling

22 Golo Damu Mbeliling

(18)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

Grafik 2.1 Prosentase desa/kelurahan per klaster lokasi studi EHRA

2.2. Penentuan Jumlah/Besar Responden

Jumlah total sampel minimal 400 responden, untuk tiap desa/kelurahan diambil sebesar 40 responden dan tersebar secara proporsional di 8 RT (Rukun Tetangga) terpilih dan pemilihan responden juga secara random, sehingga akan ada minimal 5 responden per RT. Responden dalam studi EHRA adalah ibu dan anak perempuan yang sudah menikah dan berumur 18 s/d 60 tahun.

Berdasarkan kaidah statistik, untuk menentukan jumlah sampel minimum dalam skala kabupaten/kota digunakan “Rumus Slovin” sebagai berikut:

Dimana:

n adalah jumlah sampel

N adalah jumlah populasi

d adalah persentase toleransi ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang

masih dapat ditolerir 5% (d = 0,05)  Asumsi tingkat kepercayaan 95%, karena menggunakan α=0,05, sehingga diperoleh nilai Z=1,96 yang kemudian dibulatkan menjadi Z=2.lz

Dengan jumlah populasi rumah tangga sebanyak 148.459 jiwa yang terbagi ke dalam 30.110 KK maka jumlah sampel minimum yang harus dipenuhi adalah sebanyak 399, dibulatkan menjadi 400 responden.

2.3. Penentuan Desa/Kelurahan Area Survei

Penentuan lokasi studi EHRA dengan cara mengelompokkan 169 desa/kelurahan ke dalam klaster sesuai proporsi, untuk dipilih sebanyak 14 desa/kelurahan secara acak/random oleh Pokja. Hasil pemilihan ke-14 desa/kelurahan tersebut disajikan pada tabel 2.3.

5%

33%

30% 18%

14%

Prosentase Desa per Klaster

Klaster 0 Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Klaster 4

(19)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

Tabel 2.3 Kecamatan dan Desa/Kelurahan Terpilih Untuk Studi EHRA

No Klaster Kecamatan Desa/Kel Terpilih

Jml Dusun/RT

Terpilih

Jumlah Responden

1 0 Macang Pacar Rego 8 40

2 1 Sano Nggoang Wae Sano 8 40

3 1 Welak Orong 8 40

4 1 Kuwus Compang Suka 8 40

5 1 Mbeliling Golo Desat 8 40

6 2 Komodo Batu Cermin 8 40

7 2 Komodo Wae Kelambu 8 40

8 2 Ndoso Tentang 8 40

9 2 Lembor Selatan Nangalili 8 40

10 3 Komodo Labuan Bajo 8 40

11 3 Sano Nggoang Golo Mbu 8 40

12 3 Lembor Tangge 8 40

13 4 Komodo Gorontalo 8 40

14 4 Boleng Golo Sepang 8 40

Jumlah 112 560

2.4. Penentuan RW/RT dan Responden di Lokasi Studi

Unit sampling primer (PSU = Primary Sampling Unit) dalam EHRA adalah RT. Karena itu, data RT per RW per kelurahan dikumpulkan sebelum memilih RT. Jumlah RT per kelurahan adalah 8 (delapan) RT. Langkah berikut dilakukan untuk menentukan RT terpilih:

Urutkan RT per RW per kelurahan.

 Tentukan Angka Interval (AI). Untuk menentukan AI, perlu diketahui jumlah total RT total dan jumlah yang akan diambil.

 Jumlah total RT kelurahan : X.  Jumlah RT yang akan diambil : Y

 Maka Angka Interval (AI) = jumlah total RT kelurahan / jumlah RT yang diambil. AI = X/Y (dibulatkan)  misal pembulatan ke atas menghasilkan Z, maka AI = Z

 Untuk menentukan RT pertama, kocok atau ambilah secara acak angka antara 1 – Z (angka random). Sebagai contoh, angka random (R#1) yang diperoleh adalah 3.

 Untuk memilih RT berikutnya adalah 3 + Z= ... dst.

Rumah tangga/responden dipilih dengan menggunakan cara acak (random sampling). Hal ini bertujuan agar seluruh rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel.

(20)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 19

Artinya, penentuan rumah itu bukan bersumber dari preferensi enumerator/supervisor ataupun responden itu sendiri. Tahapannya adalah sbb.

 Pergi ke RT terpilih. Minta daftar rumah tangga atau bila tidak tersedia, buat daftar rumah tangga berdasarkan pengamatan keliling dan wawancara dengan penduduk langsung.

 Bagi jumlah rumah tangga (misal 25) dengan jumlah sampel minimal yang akan diambil, misal 5 (lima)  diperoleh Angka Interval (AI) = 25/5 = 5

 Ambil/kocok angka secara random antara 1 – AI untuk menentukan Angka Mulai (AM), contoh dibawah misal angka mulai 2

(21)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

BAB III

HASIL STUDI EHRA KABUPATEN MANGGARAI BARAT

Pelaksanaan studi EHRA dilaksanakan dalam rangka untuk mengidentifikasi kondisi eksisting sarana sanitasi yang ada di tingkat masyarakat serta perilaku masyarakat terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Indikator penentuan tingkat resiko kesehatan masyarakat didasarkan pada:

1. Pengelolaan sampah rumah tangga

2. Pembuangan air kotor/limbah tinja manusia, dan lumpur tinja 3. Drainase lingkungan/selokan sekitar rumah dan banjir

4. Pengelolaan air minum, masak, mencuci dan gosok gigi yang aman dan higienis 5. Perilaku hygiene dan Sanitasi

6. Kasus penyakit diare

3.1. Informasi Responden

Studi EHRA di Kabupaten Manggarai Barat tahun 2015 telah dilaksanakan dengan mengambil sampel sebanyak 560 responden di 14 Desa/Kelurahan dan 10 Kecamatan. Dari tabel 3.1 mengenai informasi responden hasil studi EHRA terlihat bahwa responden terdiri dari berbagai kelompok umur namun yang paling banyak (27,3%) adalah pada kelompok umur >45 tahun, sedangkan pada kelompok <20 tahun merupakan kelompok umur paling sedikit (1,2%).

Status kepemilikan rumah 83,6% dari responden memiliki rumah sendiri, sedangkan jumlah yang paling sedikit adalah berbagai tempat tinggal dengan sewa (0,2%). Dan bila dilihat menurut strata, di semua strata lebih banyak adalah rumah milik sendiri.

Tingkat pendidikan terakhir responden tertinggi sebanyak 54,8% adalah lulusan SD, diikuti lulusan SMP sebanyak 17,5%, lulusan SMA 14,1%, tidak sekolah 7,7%, lulusan Universitas 5% dan yang paling sedikit lulusan SMK 0,9%. Bila dilihat menurut strata, di semua strata tingkat pendidikan terakhir terbanyak adalah lulusan SD 54,8%.

Kepemilikan surat keterangan tidak mampu (SKTM), 74,6% responden tidak memiliki SKTM, terjadi di setiap strata, sedangkan kepemilikan kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda 35,9%) masih banyak responden tidak memiliki Jamkesda 64,1%.

Untuk variabel mempunyai anak, 94,5% responden memiliki anak dan hal yang sama di setiap strata dan hanya 5,5% yang tidak/belum memiliki anak.

(22)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Tabel 3.1 INFORMASI RESPONDEN

Variabel Jawaban Strata Desa/Kelurahan

0 1 2 3 4 Total N % N % N % n % n % N % Kelompok Umur Responden ≤ 20 tahun 0.0 0.0 3.0 1.9 1.0 0.6 2.0 1.7 1.0 1.2 7.0 1.2 21 - 25 tahun 3.0 7.3 11 6.8 13 8.2 6.0 5.0 6.0 7.5 39.0 7.0 26 - 30 tahun 7.0 17.1 21.0 13.0 22.0 13.8 20.0 16.8 11.0 13.8 81.0 14.5 31 - 35 tahun 10.0 24.4 27.0 16.8 28.0 17.6 16.0 13.4 20.0 25.0 101.0 18.0 36 - 40 tahun 5.0 12.2 24.0 14.9 39.0 24.5 19.0 16.0 11.0 13.8 98.0 17.5 41 - 45 tahun 7.0 17.1 26.0 16.1 22.0 13.8 21.0 17.6 5.0 6.2 81.0 14.5 > 45 tahun 9.0 22.0 49.0 30.4 34.0 21.4 35.0 29.4 26.0 32.5 153.0 27.3 B2. Apa status dari Milik sendiri 29.0 70.7 138 85.7 141 88.7 87.0 73.1 73.0 91.2 468.0 83.6 Rumah yang anda

tempati saat ini? Rumah dinas 0.0 0.0 5.0 3.1 3.0 1.9 1.0 0.8 0.0 0.0 9.0 1.6 Berbagi dengan

keluarga lain 2.0 4.9 3.0 1.9 0.0 0.0 8.0 6.7 0.0 0.0 13.0 2.3 Sewa 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 1.0 0.8 0.0 0.0 1.0 0.2 Kontrak 2.0 4.9 0.0 0.0 10.0 6.3 1.0 0.8 6.0 7.5 19.0 3.4 Milik orang tua 8.0 19.5 15.0 9.3 4.0 2.5 21.0 17.6 1.0 1.2 49.0 8.8 Lainnya 0.0 0.0 0.0 0.0 1.0 0.6 0.0 0.0 0.0 0.0 1.0 0.2 B3. Apa pendidikan

terakhir anda? Tidak sekolah formal 4.0 9.8 12.0 7.5 12.0 7.5 13.0 10.9 2.0 2.5 43.0 7.7 SD 26.0 63.4 105 65.2 70.0 44.0 73.0 61.3 33.0 41.2 307.0 54.8 SMP 9.0 22.0 25.0 15.5 28.0 17.6 20.0 16.8 16.0 20.0 98.0 17.5 SMA 1.0 2.4 14.0 8.7 36.0 22.6 9.0 7.6 19.0 23.8 79.0 14.1 SMK 0.0 0.0 0.0 0.0 2.0 1.3 1.0 0.8 2.0 2.5 5.0 0.9 Universitas/Akad emi 1.0 2.4 5.0 3.1 11.0 6.9 3.0 2.5 8.0 10.0 28.0 5.0 B4. Apakah ibu mempunyai Ya 0.0 0.0 60.0 37.3 29.0 18.2 47.0 39.5 6.0 7.5 142.0 25.4 SKTM dari desa/Kelurahan? Tidak 41.0 100 101 62.7 130 81.8 72.0 60.5 74.0 92.5 418.0 74.6 B5. Apakah ibu mempunyai Ya 5.0 12.2 58.0 36.0 41.0 25.8 61.0 51.3 36.0 45.0 201.0 35.9 ASKESKIN Tidak 36.0 87.8 103 64.0 118 74.2 58.0 48.7 44.0 55.0 359.0 64.1 B6. Apakah ibu mempunyai anak? Ya 40.0 97.6 149 92.5 153 96.2 109 91.6 78.0 97.5 529.0 94.5 Tidak 1.0 2.4 12.0 7.5 6.0 3.8 10.0 8.4 2.0 2.5 31.0 5.5

(23)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

3.2 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Dalam kaitan dengan PHBS tatanan rumah tangga, perilaku membuang sampah di sembarang tempat seperti di sungai, kebun, jalan raya masih banyak dilakukan di Kabupaten Manggarai Barat.

Pada saat ini sampah merupakan masalah yang sangat memprihatinkan terutama sampah yang dihasilkan rumah tangga yang semakin komplek permasalahannya dan tidak ditangani dengan sistem persampahan yang ada. Maka untuk menangani sampah rumah tangga terutama skala Kabupaten, perlu adanya peran serta masyarakat.

Limbah padat (sampah) meliputi timbunan sampah rumah tangga, timbunan sampah sejenis sampah rumah tangga, antara lain dari pasar-pasar tradisional, industri rumah tangga, hotel dsb. Indikator tonase sampah yang terangkut ke TPA menggambarkan jumlah sampah yang berhasil ditangani Pemerintah Kabupaten melalui SKPD terkait. Dengan semakin banyaknya jumlah sampah baik jenis sampah organik maupun anorganik yang tertangani yang diakibatkan oleh sampah semakin berkurang sehingga akan mengurangi kemungkinan terjadinya banjir khususnya di wilayah padat penduduk.

Sementara TPA masih akan memegang peran penting dalam pengelolaan sampah, karena pada akhirnya akan tetap ada sampah yang memang sudah tidak bisa dimanfaatkan secara ekonomis sehingga harus diangkut ke TPA dengan metode sanitary landfill. Faktor resiko yang dilihat pada studi ini yang berhubungan dengan persampahan adalah kondisi sampah di lingkungan RT/RW, pemilahan sampah, dan pengolahan sampah.

3.2.1 Kondisi Sampah di lingkungan RT/RW

Dalam studi EHRA, ditanyakan tentang kondisi sampah di lingkungan RT/RW. Pada masyarakat Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan bahwa tertinggi 93% banyak kucing dan anjing mendatangi tumpukan sampah, dan terendah 0,2% lainnya. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik 3.1 berikut.

(24)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik: 3.1 Kondisi Sampah di Lingkungan RT/RW (%)

3.2.2 Pengelolaan Sampah

Menurut hasil studi EHRA yang ditampilkan Grafik 3.2. menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Manggarai Barat adalah 72,3% dibakar, 8,9% dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk, 8,2% dikumpulkan dan dibuang ke TPS, 7,1% dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah, 2,9% dibuang ke laut/sungai/danau, 0,4% dibiarkan saja sampai membusuk, dan 0,2% dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Banyak kucing & anjing mendat angi tumpuk an sampah Banyak nyamuk Banyak sampah bersera kan/ber tumpuk di sekitar lingk. Banyak lalat di sekitar tumpuk an sampah Banyak tikus berkelia ran Ada anak-anak yang bermai n di sekitarn ya Bau busuk yang mengga nggu menyu mbat saluran draenas e Lainnya % 93 72.1 67.1 21.1 20 6.4 4.1 4.1 0.2

(25)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.2 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (%)

Hasil studi EHRA menunjukkan pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Manggarai Barat pada skala klaster, untuk semua klaster variabel sampahnya dibakar mempunyai kontribusi paling banyak yaitu 73,2% klaster 0, 68,3% klaster 1, 85,5% klaster 2, 56,3 klaster 3, 77,5% klaster 4. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.3 berikut.

Grafik 3.3 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga per Klaster

8.2 72.3 0.2 7.1 2.9 0.4 8.9

Dikumpulkan dan dibuang ke TPS

Dibakar

Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah

Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah Dibuang ke sungai/kali/laut/danau

Dibiarkan saja sampai membusuk

Dibuang ke lahan

kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk 0 50 100 P e rsen ta se Dikumpulkan dan dibuang ke TPS Dibakar Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah Dibuang ke sungai/kali/laut/d anau Dibiarkan saja sampai membusuk Dibuang ke lahan kosong/kebun/hut an dan dibiarkan membusuk klaster 0 0 73.2 0 0 0 0 26.8 klaster 1 0.6 68.3 0 23.6 0 0.6 6.8 klaster 2 0 85.5 0 0.6 0.6 0 13.2 klaster 3 34.5 56.3 0.8 0.8 0.8 0.8 5.9 klaster 4 5 77.5 0 0 17.5 0 0

(26)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

3.3 Pemilahan Sampah

Studi EHRA juga mempertanyakan tentang pemilahan sampah. Hasil studi EHRA yang ditampilkan pada Grafik 3.4 menunjukkan 95% tidak pernah melakukan pemilahan sampah dan 5% melakukan pemilahan sampah.

Grafik 3.4 Pemilahan Sampah Rumah Tangga (%)

Hasil studi EHRA yang ditampilkan pada Grafik 3.5 menunjukkan bahwa pada klaster 0, 2, dan 4 tidak melakukan pemilahan sampah 100%, sedangkan pada klaster 1 (0,6%), dan klaster 3 (24,2%) yang melakukan pemilahan sampah.

Grafik 3.5 Pemilahan Sampah Rumah Tangga per Klaster (%) 3.4 Pembuangan air kotor/limbah tinja manusia, dan lumpur tinja

Praktik buang air besar (BAB) dapat menjadi salah satu faktor risiko bagi tercemarnya lingkungan termasuk sumber air, khususnya bila praktik BAB itu dilakukan di tempat yang tidak sehat. Yang dimaksud dengan tempat yang tidak sehat bukan hanya tempat BAB di ruang terbuka seperti di

5%

95%

Pemilahan Sampah Rumah Tangga

ya Tidak 0.0 50.0 100.0 P e rsen ta se

Klaster 0 Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Klaster 4

Ya 0.0 0.6 0.0 24.2 0.0

Tidak 100.0 99.4 100.0 75.8 100.0

(27)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

sungai/kali/got/kebun, tetapi bisa juga termasuk sarana jamban yang nyaman di rumah. Bila BAB dilakukan di rumah dengan jamban yang nyaman, namun bila sarana penampungan dan pengolahan tinjanya tidak sehat, misalnya karena tidak kedap air, maka risiko cemaran patogen akan tetap tinggi.

Hasil studi EHRA menunjukkan sebagian besar anggota keluarga orang dewasa buang air besar di jamban pribadi 84%, dan masih ada anggota keluarga buang air besar di WC Helikopter, sungai/pantai/laut, kebun/pekarangan. lebih jelas dapat dilihat pada grafik 3.6 berikut.

Grafik 3.6. Sarana Buang Air Besar (%)

Hasil studi EHRA menunjukkan anggota keluarga buang air besar di tempat terbuka (seperti kebun, halaman, sungai, pantai/laut), yaitu tidak ada 64%, remaja laki-laki 25%, dan terendah kelompok remaja perempuan 0%. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.7 berikut.

Grafik 3.7. Anggota Keluarga BABs (%)

84% 4% 2% 3% 2% 0% 0% 5% 0%

Sarana Buang Air Besar

A. Jamban pribadi B. MCK/WC Umum C. Ke WC helikopter D. Ke sungai/pantai/laut E. Ke kebun/pekarangan F. Ke selokan/parit/got G. Ke lubang galian H. Lainnya, I. Tidak tahu 2% 2% 1% 1% 1% 2% 1% 0% 25% 1% 64%

Anggota Keluarga BABs

A. Anak laki-laki umur 5-12 tahun B. Anak perempuan umur 5-12 tahun C. Remaja laki-laki D. Remaja Perempuan E. Laik-laki dewasa F. Perempuan dewasa G. Laki-laki tua H. Perempuan tua

I. Masih ada tapi tidak jelas siapa J. Lainnya,

(28)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Dalam studi EHRA, ditanyakan tentang kepemilikan jamban pribadi. Hasil studi EHRA menunjukkan kepemilikan jamban pribadi 83,6% dan tidak memiliki 16.4%. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.8 berikut.

Grafik. 3.8. Kepemilikan Jamban pribadi (%)

Menurut studi EHRA, kepemilikan jamban pribadi per klaster adalah yang memiliki jamban pribadi tertinggi 97,6% pada klaster 0 dan terendah 57,5% pada klaster klaster 4. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.9 berikut.

Grafik 3.9. Kepemilikan Jamban Pribadi % Per-Klaster

Dalam studi EHRA, ditanyakan tentang jenis kloset yang dipakai di rumah. Hasil studi menunjukkan kloset jongkok leher angsa 40%, kloset duduk leher angsa 5%, plensengan 33%, cemplung 6%, tidak punya kloset 16%. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik 3.10 berikut.

83.6 16.4

Kepemilikan Jamban Pribadi (%)

ya tidak 0.0 50.0 100.0 P e rsen ta se

Klaster 0 Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Klaster 4

Ya 100.0 88.8 88.7 82.4 57.5

Tidak 0.0 11.2 11.3 17.6 42.5

(29)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.10. Jenis Kloset di Rumah Tangga %

Menurut studi EHRA yang ditunjukkan pada Grafik 3.11 tentang jenis kloset per klaster, terlihat bahwa kloset jongkok leher angsa tertinggi 54,4% pada klaster 2, kloset duduk leher angsa tertinggi 18,8% pada klaster 4, plengsengan tertinggi 70% pada klaster 0, cemplung tertinggi 17,5% pada klaster 0, dan tidak punya kloset tertinggi 42,5% pada klaster 4.

Grafik 3.11. Jenis Kloset % per Klaster 3.5 Pembuangaan Akhir Tinja

Pembuangan akhir tinja dikategorikan 2 (dua) macam yaitu aman dan beresiko. Kategori aman jika pembuangan akhir tinja adalah septic tank. Sedangkan beresiko jika pembuangan akhir tinja adalah sungai, laut, danau, tanah, kebun dll.

Menurut hasil studi EHRA yang ditampilkan pada Grafik 3.12 terlihat bahwa 33% pembuangan akhir tinja tergolong aman (septic tank), 51% kategori tidak aman (sungai, laut, danau, tanah, kebun dll).

40%

5% 33%

6% 16%

Jenis Kloset di Rumah Tangga

1. Kloset jongkok leher angsa 2. kloset duduk leher angsa 3. Plengsengan

4. Cemplung

5. Tidak punya kloset

0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0

Klaster 0 Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Klaster 4 1. Kloset jongkok leher angsa 12.5 38.75 54.4 34.5 37.5 2. kloset duduk leher angsa 0.0 0 1.3 6.7 18.8 3. Plengsengan 70.0 45 28.1 33.6 0 4. Cemplung 17.5 5.6 4.4 9.2 1.2 5. Tidak punya kloset 0.0 10.6 11.9 16 42.5

Pr

o

sen

ta

se

(30)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.12 Pembuangan Akhir Tinja %

Hasil studi EHRA yang ditunjukkan pada Grafik 3.13 memperlihatkan jumlah penduduk yang pembuangan akhir tinjanya tergolong aman tertinggi 46,5% pada klaster 2 dan terendah 12,2% pada klaster 0: tergolong tidak aman tertinggi 82,9% pada klaster 0, sedangkan terendah 11,2% pada klaster 4.

Grafik 3.13 Pembuangan Akhir Tinja per Klaster 3.5.1. Praktek Pembuangan Kotoran Anak Balita di Rumah

Kotoran atau tinja manusia, baik dari anak-anak ataupun orang dewasa, sama bahayanya bagi kesehatan. Karenanya, praktik yang benar untuk anak-anak kecil juga merupakan isu yang penting bagi kajian kesehatan lingkungan. Studi EHRA melakukan penilaian risiko dengan melihat perilaku pembuangan kotoran anak oleh responden. Untuk mengetahui perilakunya, studi EHRA mengandalkan jawaban lisan responden, bukan dari hasil pengamatan perilaku warga ataupun pengamatan kondisi lingkungan.

33%

0% 50%

1% 0% 16%

Pembuangan Akhir Tinja

Tangki septik Pipa sewer Cubluk/lobang tanah Langsung ke drainase Sungai/danau/pantai Tidak tahu 0.0 100.0 P e rsent ase

Tangki septik Pipa sewer Cubluk/lobang tanah Langsung ke drainase Sungai/danau/pantai Tidak tahu

Klaster 0 12.2 2.4 82.9 0.0 0.0 2.4

Klaster 1 18 0 69.6 0.6 0.6 11.2

Klaster 2 46.5 0.6 41.5 0 0 11.3

Klaster 3 34.5 0.0 47.9 1.7 0.0 16.0

Klaster 4 46.2 0.0 11.2 0.0 0.0 42.5

(31)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Dalam Studi EHRA ditanyakan perilaku buang air besar (BAB) anak. Hasil studi EHRA pada Grafik 3.14 menunjukkan 38,8% tinja anak dibuang ke WC/jamban, 1,8% di buang ke tempat sampah, 8,9% dibuang ke kebun/pekarangan/jalan, 3,4% dibuang ke sungai/selokan/got, 2,1% dibuang ke tempat lainnya, dan 45% tidak tahu.

Grafik 3.14 Kebiasaan Buang Air Besar (BAB) Anak (%)

Hasil studi EHRA pada Grafik 3.15 menunjukkan perilaku buang air besar (BAB) anak per klaster dimana terbiasa ke WC/jamban tertinggi 48,8% pada klaster 0, sedang terendah 24,4% pada klaster 3.

Gambar 3.15. Buang Air Besar (BAB) Anak (%) per Klaster

38.8 1.8 8.9 3.4 2.1 45

Prosentase Kebiasaan Anak BAB

Ke WC/Jamban Ke tempat sampah Ke kebun/pekarangan/jalan Ke sungai/selokan/got Lainnya Tidak tahu 0 20 40 60 48.8 0 9.8 0 0 41.5 42.2 0 13.7 2.5 1.9 39.8 47.8 0.6 1.9 0 5 44.7 24.4 5.9 11.8 1.7 0.8 55.5 30 2.5 8.8 16.2 0 42.5 Pr o sen ta se Ke WC/Jamban Ke tempat sampah Ke kebun/pekaranga n/jalan Ke sungai/selokan/go t

Lainnya Tidak tahu Klaster 0 48.8 0 9.8 0 0 41.5 Klaster 1 42.2 0 13.7 2.5 1.9 39.8 Klaster 2 47.8 0.6 1.9 0 5 44.7 Klaster 3 24.4 5.9 11.8 1.7 0.8 55.5 Klaster 4 30 2.5 8.8 16.2 0 42.5

(32)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

3.6. Drainase Lingkungan/Selokan Sekitar Rumah dan Banjir

Saluran air limbah merupakan objek yang perlu dalam studi EHRA karena saluran air limbah yang tidak memadai memungkinkan berkembangnya binatang pembawa patogen penyakit. Kebanjiran adalah topik kedua yang akan dipaparkan di bagian ini. Air banjir perlu diangkat dalam EHRA sebab air banjir merupakan salah satu faktor risiko penyakit. Seperti yang diketahui luas, selama kebanjiran dan sesudahnya, warga di daerah banjir umumnya terancam sejumlah penyakit seperti penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare, serta penyakit-penyakit yang disebabkan oleh binatang seperti leptospirosis.

Dalam studi EHRA pengalaman banjir rumah tangga dilihat dari berbagai sisi, yakni rutinitas banjir, frekuensi dalam setahun, dan lama mengeringnya air. Masing-masing aspek banjir itu memiliki kontribusi terhadap risiko kesehatan yang dihadapi rumah tangga. Mereka yang mengalami banjir secara rutin, dengan frekuensi yang tinggi, misalnya beberapa kali dalam setahun atau bahkan beberapa kali dalam sebulan, dan dengan air yang lama bertahan (stagnan) dalam waktu yang cukup lama, memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tak pernah kebanjiran atau yang mengalaminya tidak secara rutin.

Lama mengeringnya air juga bisa dijadikan indikasi untuk masalah yang lebih mendasar lainnya, seperti kualitas jaringan saluran drainase dan pola permukaan tanah dari pemukiman warga. Rumah yang tergenang air banjir dalam waktu yang cukup lama, misalnya selama berhari-hari, merupakan sebuah indikasi bahwa rumah terletak di wilayah cekungan dimana air banjir sulit dialirkan ke tempat lain seperti saluran atau sungai. Meski bukan satu-satunya faktor, air banjir yang cepat kering mengindikasikan bahwa masalah banjir terkait dengan sistem drainase setempat.

Hasil studi EHRA yang ditampilkan pada Grafik 3.16 menunjukkan bahwa tidak memiliki saluran pembuangan air limbah (SPAL) 74,1%, sedangkan yang memiliki SPAL sebesar 25,9%

Gambar 3.16. Kepemilikan SPAL (%)

Hasil studi EHRA, pada Grafik 3.17 menunjukkan bahwa sebagian besar kondisi rumah belum memiliki saluran pembuangan air limbah/selokan/drainase. Hal ini terlihat dari rumah tiap klaster belum memiliki SPAL/selokan/drainase yaitu 90,1% pada klaster 1, sedang terendah 62,2% pada klaster 3.

25.9%

74.1%

Ya

(33)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.17. Kepemilikan Drainase/SPAL/Selokan (%) per Klaster

Hasil studi EHRA pada Grafik 3.18 menunjukkan kejadian banjir di sekitar rumah/lingkungan yaitu 89,3% tidak pernah terjadi banjir, 7,5% sekali dalam setahun, 0,7% beberapa kali dalam setahun, 2,3% sekali atau beberapa klai dalam setahun, dan 0,2% tidak tahu ada banjir di daerahnya.

Grafik 3.18 Kejadian Banjir di Sekitar Rumah/Lingkungan (%)

Menurut hasil studi EHRA, pada Grafik 3.19. menunjukkan rata-rata daerah tidak pernah mengalami banjir yaitu 100% pada klaster 0, 98,1% klaster 1, 98,7% klaster 2, 85,9% klaster 3, 52,5% klaster 4. 22.0 9.9 31.4 37.8 31.2 78.0 90.1 68.6 62.2 68.8 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0

Klaster 0 Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Klaster 4

Ya Tidak ada

89.3 7.5 0.7 2.3 0.2

% Daerah terkena banjir

Tidak pernah Sekali dalam setahun Beberapa kali dalam Sekali atau beberapa dalam sebulan Tidak tahu

(34)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.19 Kejadian Banjir (%) per Klaster 3.7. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga

Pada dasarnya akses air minum bagi rumah tangga yang dikaji EHRA memiliki hubungan yang erat dengan tingkat risiko kesehatan suatu keluarga, bahwa sumber-sumber air memiliki tingkat keamanannya tersendiri. Ada jenis-jenis sumber air minum yang secara global dinilai sebagai sumber yang relatif aman, seperti air ledeng/PDAM, sumur bor, sumur gali terlindungi, mata air terlindungi dan air hujan (yang disimpan secara terlindungi). Namun, ada juga yang dipandang membawa risiko transmisi patogen ke dalam tubuh manusia. Air dari sumur atau mata air yang tidak terlindungi dikategorikan tidak aman.

Dalam Joint Monitoring Programme on Water Supply and Sanitation (WHO & UNICEF, 2004), air kemasan dikategorikan sebagai sumber yang belum aman, namun penilaian itu tidak didasarkan pada masalah kualitas air, melainkan persoalan keterbatasan kuantitas. Para pakar higinitas global melihat suplai air yang memadai sebagai salah satu faktor yang mengurangi risiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare. Sejumlah studi memperlihatkan bahwa mereka yang memiliki suplai yang memadai akan cenderung lebih mudah melakukan kegiatan higinitas. Jadi, masalah air kemasan lebih terkait dengan kecenderungan penggunaannya yang ditujukan hanya untuk minum saja dan menggunakan sumber lain, yang belum tentu aman, untuk kebutuhan higinitas. Dalam harmonisasi indikator versi WHO & UNICEF, air kemasan kemudian dianggap sebagai

improved source hanya bila ada sumber air komplementer yang dikategorikan aman.

3.7.1 Sumber Air Minum

Hasil studi EHRA pada Grafik 3.20. menunjukkan bahwa air minum yang paling banyak digunakan warga di Kabupaten Manggarai Barat bersumber dari air kran umum-PDAM/Proyek 35%, dan yang paling sedikit bahkan 0% adalah air botol kemasan.

0 100 Pr o sen ta se

Klaster 0 Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Klaster 4

Tidak pernah 100 98.1 98.7 85.7 52.5

Sekali dalam setahun 0 1.9 1.3 11.8 28.8

Beberapa kali dalam setahun 0 0 0 2.5 1.2

Sekali atau beberapa dalam sebulan 0 0 0 0 16.2

Tidak tahu 0 0 0 0 1.2

(35)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.20. Sumber Air Minum (%)

Hasil studi EHRA pada Grafik 3.21 menunjukkan tingkat kesulitan mendapatkan air minum rumah tangga yang digunakan untuk minum, masak, dan mencuci peralatan adalah 47,3% tidak pernah, 19,8% beberapa jam saja, 21,2% satu sampai beberapa hari, 7,9% lebih dari seminggu, 2,9% seminggu, 0,9 tidak tahu.

Grafik 3.21. Tingkat Kesulitan Mendapatkan Air Bersih Rumah Tangga (%)

0% 13% 13% 5% 35% 2% 3% 3% 15% 6% 0% 3% 2% 3%

Sumber Air Minum

A. Air botol kemasan (Minum) B. Air isi ulang (Minum) C. Air Ledeng dari PDAM (Minum) D. Air hidran umum - PDAM (Minum) E. Air kran umum -PDAM/PROYEK (Minum) F. Air sumur pompa tangan (Minum) G. Air sumur gali terlindungi (Minum) H. Air sumur gali tdk terlindungi (Minum) I. Mata air terlindungi (Minum) J. Mata air tdk terlindungi (Minum) K. Air hujan (Minum)

L. Air dari sungai (Minum) M. Air dari waduk/danau (Minum) N. Lainnya (Minum)

47.3

19.8 21.2

2.9 7.9 0.9

% Tingkat Kesulitan Mendapatkan Air

Tidak pernah Beberapa jam saja Satu sampai beberapa hari Seminggu

Lebih dari seminggu Tidak tahu

(36)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Hasil studi EHRA, pada Grafik 3.22 menunjukkan bahwa tingkat kesulitan mendapatkan air minum rumah tangga yang digunakan untuk minum, masak, dan mencuci peralatan dari masing-masing klaster. Pada Klaster 0 tingkat kesulitan tertinggi 56,1% dan terendah 20% dari klaster 4.

Grafik 3.22 Tingkat Kesulitan Mendapatkan Air Minum Rumah Tangga (%) per-Klaster

Dalam studi EHRA, juga ditanyakan tentang menyimpan air minum yang aman bagi warga di Kabupaten Manggarai Barat setelah diolah. Hasil studi yang ditampilkan pada Grafik 3.23 menunjukkan 0,9% tidak disimpan, 0,2% dalam panci terbuka, 19,3% dalam panci tertutup, 58,8% dalam teko/ketel/ceret, 15,1% dalam botol/termos, dan 5,1% dalam galon isi ulang.

Grafik 3.23. Menyimpan Air Minum yang Aman (%)

56.1 7.3 24.4 0.0 12.2 0.0 50.3 27.3 19.3 1.9 1.2 0.0 59.1 18.2 13.2 1.3 8.2 0.0 42.9 10.1 35.3 4.2 3.4 4.2 20.0 28.8 18.8 7.5 25.0 0.0 0.0 50.0 100.0 150.0 200.0 250.0

Tidak pernah Beberapa jam saja

Satu sampai beberapa

hari

Seminggu Lebih dari seminggu Tidak tahu Klaster 4 Klaster 3 Klaster 2 Klaster 1 Klaster 0 0.9 0.2 19.3 58.5 15.1 5.1 0.9

% Menyimpan Air yang Aman

Tidak disimpan

Ya, dalam Panci terbuka Ya, dalam Panci dengan tutup Ya, dalam Teko/ketel/ceret Ya, dalam Botol/termos Ya, dalam Galon isi ulang Lainnya

(37)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Hasil studi EHRA menunjukkan bahwa air minum kategori aman setelah diolah tertinngi 80,5% pada klaster 3, dan terendah 22% pada klaster 0. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.24 berikut.

Grafik 3.24 Air Minum Aman Setelah Diolah (%) per Klaster

Hasil studi EHRA pada Grafik 3.25. menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kualitas air minum warga di Kabupaten Manggarai Barat yang digunakan saat ini 77% merasa puas dan 23% tidak puas.

Grafik 3.25. Tingkat Kepuasaan terhadap Kualitas Air Minum (%)

0 20 40 60 80 P e rsen ta se

Tidak disimpan Ya, dalam Panci terbuka

Ya, dalam Panci dengan tutup

Ya, dalam Teko/ketel/ceret

Ya, dalam Botol/termos

Ya, dalam Galon

isi ulang Lainnya

Klaster 0 0 2.5 70 22.5 5 0 0

Klaster 1 0 0 11.9 50 35.6 0.6 1.9

Klaster 2 1.25 0 25.6 63.13 5.625 4.375 0

Klaster 3 1.7 0 12.5 75.8 1.7 6.7 1.7

Klaster 4 1.25 0 17.5 50 16.3 15 0

Menyimpan Air Minum yang Aman

77% 23%

Tingkat Kepuasan terhadap kualitas air

ya tidak

(38)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

3.8. Perilaku Higiene dan Sanitasi

Pencemaran tinja/kotoran manusia (feces) adalah sumber utama dari virus, bakteri dan patogen lain penyebab diare. Alur pencemaran yang diketahui sehingga cemaran dapat sampai ke mulut manusia termasuk balita adalah melalui 4F (Wagner & Lanoix, 1958) yakni fluids (air), fields (tanah), flies (lalat),dan fingers (jari/tangan). Jalur ini memperlihatkan bahwa salah satu upaya preventif cemaran yang sangat efektif dan efisien adalah perilaku manusia yang memblok jalur

fingers. Ini bisa dilakukan dengan mempraktekkan cuci tangan pakai sabun di waktu-waktu yang

tepat. Dalam meta-studinya, Curtis & Cairncross (2003) menemukan bahwa praktek cuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko insiden diare sebanyak 42 - 47%. Bila dikonversikan, langkah sederhana ini dapat menyelamatkan sekitar 1 juta anak-anak di dunia.

Untuk konteks balita, waktu-waktu untuk cuci tangan pakai sabun yang perlu dilakukan si ibu/ pengasuhnya untuk mengurangi risiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare terdiri dari 5 (lima) waktu penting yakni, 1) sesudah buang air besar (BAB), 2) sesudah menceboki

pantat anak, 3) sebelum menyantap makanan, 4) sebelum menyuapi anak, dan terakhir 5) sebelum menyiapkan makanan bagi keluarga. Sebagian waktu penting itu sebetulnya ditujukan bagi ibu-ibu

rumah tangga secara umum misal: waktu sesudah buang air besar, sebelum menyiapkan makanan, dan sebelum menyantap makanan. Sementara, waktu yang lebih khusus ditujukan bagi ibu atau pengasuh anak balita adalah sesudah menceboki pantat anak, dan sebelum menyuapi makan anak.

Untuk menelusuri perilaku-perilaku cuci tangan yang dilakukan ibu sehari-harinya, EHRA terlebih dahulu memastikan penggunaan sabun di rumah tangga dengan pertanyaan apakah si Ibu menggunakan sabun hari ini atau kemarin. Jawabannya menentukan kelanjutan pertanyaan berikutnya dalam wawancara. Mereka yang perilakunya didalami oleh EHRA terbatas pada mereka yang menggunakan sabun hari ini atau kemarin.

3.9 Perilaku Memakai Sabun Hari Ini atau Kemarin

Hasil studi EHRA menunjukkan keadaan warga di Kabupaten Manggarai Barat, kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) 90,5% tertinggi dilakukan sebelum makan dan terendah 1,8% sebelum ke toilet. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik 3.26 berikut.

(39)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.26 Kebiasaan CTPS (%)

Hasil studi EHRA menunjukkan kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabu (CTPS) rata-rata 90 - 100% dilakukan sebelum makan pada klaster 0 sampai dengan klaster 4. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik 3.27 berikut.

Grafik 3.27 Kebiasaan CTPS (%) per Klaster

0 20 40 60 80 100 Sebel um maka n Setel ah dari buan g air besa r Setel ah maka n Setel ah mem egan g hewa n Sebel um men yiapk an masa kan Setel ah men cebo ki bayi/ anak Sebel um mem beri men yuapi anak Sebel um shola t Sebel um ke toilet Lainn ya Kebiasaan CTPS 90.5 65.9 63.2 42.9 40.7 38.9 32 18.2 1.8 0 P e rsent ase

Kebiasaan CTPS

0 20 40 60 80 100 Sebelum makan Setelah dari buang air besar Setelah makan Setelah memega ng hewan Sebelum menyiap kan masakan Setelah mencebo ki bayi/ana k Sebelum memberi menyuap i anak Sebelum sholat Sebelum ke toilet Lainnya Klaster 0 87.8 61 7.3 0 0 14.6 0 0 0 0 Klaster 1 94.4 81.4 94.4 70.8 68.3 61.5 49.7 4.3 0.6 0 Klaster 2 86.2 79.2 86.2 24.5 22 1.3 13.2 6.3 98.7 0 Klaster 3 90.8 38.7 90.8 36.1 52.5 31.1 31.9 31.9 5 0 Klaster 4 92.5 80 92.5 55 52.5 53.8 50 58.8 1.2 0 P er se nt ase

(40)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.28 menunjukkan bahwa warga di Kabupaten Manggarai Barat memakai sabun hari ini atau kemarin mencapai 96,4%.

Grafik 3.28 Memakai Sabun Hari ini atau Kemarin (%)

Hasil studi EHRA menunjukkan warga menggunakan sabun tertinnggi 99,3% untuk mandi, dan terendah 0,2% kegunaan lainnya. Lebih jelas bisa dilihat pada grafik 3.29 berikut.

Grafik 3.29 Kegunaan Sabun (%)

Hasil studi EHRA pada Grafik 3.30 menunjukkan praktek CTPS lima waktu penting oleh warga di Kabupaten Manggarai Barat yaitu 29% cuci tangan pakai sabun, dan 71% tidak CTPS.

Grafik 3.30 Praktek Cuci Tangan Pakai Sabun Lima Waktu Penting (%)

96,4% 0,4%

Memakai Sabun Hari ini atau Kemarin

Ya Tidak 99.3 78.1 77.2 65.1 58.1 50.7 51.4 0.2 0

Kegunaan Sabun (%)

71%

29%

CTPS di Lima Waktu Penting (%)

Tidak

Ya

(41)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Hasil studi EHRA menunjukkan CTPS skala klaster yaitu tertinggi 100% pada klaster 0, dan terendah 51,2 % pada klaster 4. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.31 berikut.

Grafik 3.31 Praktek Cuci Tangan Pakai Sabun Lima Waktu Penting (%) per Klaster 3.10. Kejadian Penyakit Diare

Dalam studi EHRA juga ditanyakan terkait kejadian diare yang dialami oleh anggota keluarga dari responden. Hasil studi EHRA menunjukkan waktu kejadian penyakit diare 80,2% tidak pernah. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.32 berikut.

Grafik 3.32 Kejadian Penyakit Diare (%)

Hasil studi EHRA, menunjukkan tidak pernah terjadi penyakit diare pada semua klaster yaitu 90% pada klaster 4, 79,8% pada klaster 3, 89,3% pada klaster 2, 64,6% pada klaster 1, 87,8% pada klaster 0. Lebih Jelas dapat dilihat pada Grafik 3.33 berikut.

0.0

20.0

40.0

60.0

80.0

100.0

Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4

100.0

54.0

93.1

68.9

51.2

0.0

46.0

6.9

31.1

48.8

Ya

Tidak

1% 1% 4% 3% 3% 2% 6% 80%

Kejadian Penyakit Diare

Hari ini Kemarin 1 minggu terakhir 1 bulan terakhir 3 bulan terakhir 6 bulan yang lalu Lebih dari 6 bulan yang lalu

(42)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.33 Kejadian Penyakit Diare per Klaster

Hasil studi EHRA menunjukkan kejadian diare pada anak-anak balita 8,9%, anak non balita 3,8%, anak remaja laki-laki 0,7%, anak remaja perempua 1,4%, orang dewasa lai-laki 2,7%, dan orang dewasa perempuan 4,5%. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.34 berikut.

Grafik 3.34 Kejadian Diare pada Balita/Non Balita, Anak Remaja L/P, dan Dewasa L/P

Hasil studi EHRA menunjukkan rata-rata 80 - 100% tidak pernah mengalami penyakit pada anak-anak balita, anak non balita, anak remaja laki-laki, anak remaja perempuan, orang dewasa lai-laki dan orang dewasa perempuan. Lebih jelas dapat dilihat pada Grafik 3.35 berikut.

0 100 Pr o sen ta se

Hari ini Kemarin 1 minggu terakhir 1 bulan terakhir 3 bulan terakhir 6 bulan yang lalu Lebih dari 6 bulan yang lalu Tidak pernah Klaster 0 0 0 0 0 7.3 2.4 2.4 87.8 Klaster 1 1.9 1.2 9.9 5.6 4.3 4.3 8.1 64.6 Klaster 2 0 0 0.6 0.6 1.3 2.5 5.7 89.3 Klaster 3 1.7 2.5 5 2.5 3.4 0 5 79.8 Klaster 4 0 0 0 0 1.2 1.2 7.5 90

Kejadian Penyakit Diare per Klaster

0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 A. Anak-anak balita B. Anak-anak non balita C. Anak remaja laki-laki D. Anak remaja perempuan E. Orang dewasa laki-laki F. Orang dewasa perempuan ya 8.9 3.8 0.7 1.4 2.7 4.5 Tidak 91.07 96.25 99.29 98.57 97.32 95.54 P e rsent ase

Kejadian Diare pada Balita/Non Balita,

Anak Remaja L/P, dan Dewasa L/P

(43)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

Grafik 3.35 Tidak Pernah Mengalami Diare per Klaster 3.11. Index Ratio Sanitasi

Grafik 3.36. Hasil Studi EHRA

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 A. Anak-anak balita B. Anak-anak non balita C. Anak remaja laki-laki D. Anak remaja perempuan E. Orang dewasa laki-laki F. Orang dewasa perempuan Klaster 0 97.5 100 100 97.5 97.5 92.5 Klaster 1 80 92.5 99.4 98.1 95 92.5 Klaster 2 96.9 96.9 99.4 98.8 99.4 98.1 Klaster 3 91.7 96.7 98.3 98.3 100 95 Klaster 4 97.5 100 100 100 93.8 98.8 P e rsent ase

Tidak Pernah Mengalami Penyakit Diare

per Klaster

- 10 20 30 40 50 60 70

CLUSTER 0 CLUSTER 1 CLUSTER 2 CLUSTER 3 CLUSTER 4

1. SUMBER AIR 24 12 28 40 34

2. AIR LIMBAH DOMESTIK. 6 50 25 13 21

3. PERSAMPAHAN. 50 44 50 38 49

4. GENANGAN AIR. - 4 3 18 48

5. PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT. 63 43 48 48 36

P

e

rsent

ase

(44)

[Laporan Ehra Kabupaten Manggarai Barat] Page 42

BAB IV

PENUTUP

Studi Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan atau Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) adalah sebuah survey yang digunakan dalam mengidentifikasi kondisi sanitasi yang ada di desa/kelurahan. Dengan diketahuinya kondisi fasilitas sanitasi dan higienitas serta perilaku masyarakat, akan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk promosi atau advokasi kesehatan lingkungan di Kabupaten Manggarai Barat sampai ke desa/kelurahan. Pelibatan kader kesehatan desa/kelurahan dan sanitarian Puskesmas sangat efektif dalam pencapaian sasaran berupa promosi dan advokasi dimaksud.

Dokumen hasil studi EHRA dapat dijadikan dasar dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi (BPS) dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Manggarai Barat yang akan menjadi modal awal pelaksanaan pembangunan sanitasi di Kabupaten Manggarai Barat. Diketahuinya kondisi eksisting, baik sarana dan prasarana serta perilaku masyarakat di desa/kelurahan akan menunjukkan tingkat area beresiko di tiap desa/kelurahan. Perlunya pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana sanitasi di masyarakat serta pentingnya advokasi dan promosi kesehatan lingkungan kepada masyarakat diharapkan akan menjadi salah satu target perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sanitasi di Kabupaten Manggarai Barat.

Dalam pelaksanaan pembangunan di bidang sanitasi diperlukan monitoring dan evaluasi. Hasil monitoring dan evaluasi dapat dijadikan tolok ukur untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan di bidang sanitasi. Pelaksanaan Studi EHRA ini dapat dijadikan baseline data bagi pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi serta pelaksanaan Studi EHRA di tahun-tahun mendatang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat,

dr. Imaculata V. Djelulut, M.Kes.

Pembina TK. I

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :