• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu sarana yang menentukan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, yaitu mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana berkehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib, dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai. Aspirasi bangsa yang demikian tidak akan tercapai tanpa melalui pendidikan.

Sistem pendidikan nasional mempunyai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani, dan rohani, berkepribadian yang mantap, dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003).

Sekolah sebagai tempat anak didik belajar, dengan harapan dalam belajar akan memperoleh prestasi belajar dengan baik. Dalam belajar tersebut prestasi yang dicapai kadang dapat mencapai seperti apa yang diharapkan, tetapi dapat pula tidak. Hal ini karena daya serap masing-masing siswa berbeda dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru. Prestasi merupakan bukti keberhasilan yang dicapai oleh siswa sebagai hasil belajar, maka dari itu prestasi yang diperoleh siswa diharapkan mencapai ketuntasan baik guru dan siswa harus mengetahui apa-apa saja untuk memperoleh prestasi itu. Adapun salah satu yang diharapkan mempunyai prestasi yang baik adalah pelajaran Matematika.

Salah satu yang penting di Sekolah Dasar adalah Matematika dan pelajaran ini nantinya sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, maka

(2)

dari itu pengajarannya sangat perlu kejelian atau kesungguhan agar siswa benar-benar menguasai pelajaran Matematika ini. Menurut Paling (dalam Mulyono Abdurrahman, 1999:252) menyatakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung dan yang paling penting adalah pemikiran dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.

Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoretisme adalah untuk memudahkan berfikir. Ada juga yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali, dan bagi, tetapi ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aritmatika, aljabar, dan geometri..

Ilmu matematika merupakan ilmu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat umum, namun sering kali ilmu ini dipahami dengan cara yang salah. Ilmu ini sering kali dipahami sebagai rumus-rumus yang sulit sehingga banyak siswa yamg kurang menyukainya. Matematika merupakan ilmu yang mengkaji obyek abstrak dan mengutamakan penalaran deduktif. Sifat ilmu matematika yang demikian itu tentu saja akan menimbulkan kesulitan bagi anak-anak usia Sekolah Dasar yang mempelajari matematika.

Secara umum kenyataan ini dapat dilihat dari hasil rata-rata nilai Ulangan Akhir Sekolah Berbasis Nasional (UASBN) khususnya pada mata pelajaran Matematika masih memprihatinkan. Oleh karena itu berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pelajaran Matematika terus dilakukan. Upaya itu antara lain penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak sekolah dasar khususnya anak kelas III. Di samping itu faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar adalah dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa.

Berdasarkan nilai ulangan mata pelajaran Matematika siswa kelas III sebanyak 13 anak terdiri dari 9 anak perempuan dan 4 anak laki-laki, yang di

(3)

dalamnya memuat pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan, data yang diperoleh menunjukkan bahwa kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas III SDN 1 Butuh Kecamatan Mojosongo masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 60. Rata-rata nilai dari 13 anak itu adalah 53,07 di pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan. Hal tersebut dapat dilihat pada rekapitulasi nilai mata pelajaran Matematika pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan yang tertera pada tabel 1.

Tabel 1 : Pencapaian nilai mata pelajaran Matematika Pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan No Rentang Nilai Jumlah Siswa Keterangan

1 70 – ke atas 2 Tuntas

2 60 3 Tuntas

3 50 6 Tidak Tuntas

4 40 ke bawah 2 Tidak Tuntas

Hal ini dikarenakan kurangnya minat siswa dalam memahami penjumlahan dan pengurangan, disamping itu faktor kurangnya guru dalam menggunakan media juga berpengaruh pada hasil belajar siswa. Karena itu wajar apabila Matematika tidak mudah dipahami oleh kebanyakan SD sampai SMP bahkan untuk sebagian siswa SMA sekalipun. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dalam mempelajari suatu konsep atau prinsip-prinsip Matematika diperlukan pengalaman melalui media yang mendorong anak untuk dapat meraba, menghitung, dan menafsirkan apa yang mereka pegang dengan bebas, yaitu dengan media abakus.

Bagi siswa pelajaran Matematika dianggap pelajaran yang paling sulit, menakutkan, menjemukan, dan sangat tidak menyenangkan, sehingga hasil prestasi Matematika sangat kurang, belum sesuai dengan harapan baik harapan guru, orang tua maupun siswa sendiri. Hal ini dapat terlihat dari daftar nilai

(4)

matematika siswa kelas III SD N 1 Butuh Kecamatan mojosongo Kabupaten Boyolali. Kewajiban para gurulah untuk menanamkan rasa senang terhadap materi pelajaran Matematika dengan memberi rangsangan atau dorongan agar siswa menyenangi pelajaran Matematika.

Salah satu cara untuk mencapai hasil belajar yang maksimal dalam mengajar guru menggunakan media yang sesuai dengan materi yang diajarkan, guru harus dapat memilah media pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak Sekolah Dasar khususnya anak kelas III. Menurut Piaget (dalam Dimyati, 2002:14) menyatakan bahwa anak usia 0 sampai 2 tahun berada pada tingkat sensori motor, anak usia 2 sampai 7 tahun berada pada tingkat praoperasional, anak usia 7 sampai 11 tahun berada pada tingkat operasional konkret dan anak usia 11 ke atas berada pada tingkat operasi formal.

Media adalah pembawa pesan yang berasal dari sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. Romiszowski (dalam Oemar Hamalik, 2003:202), sedang menurut National Education Association / NEA (dalam Arief S. Sadiman, 2009:7) “Media adalah bentuk-bentuk media komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatanmya, media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, dapat didengar dan dibaca”.

Penyebab rendahnya kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan yaitu dalam penyampaian pelajaran Matematika guru kurang menggunakan media abakus. Siswa sulit memahami konsep apalagi pelajaran Matematika, jadi siswa tidak bisa menerima pelajaran apa yang telah diberikan oleh gurunya sehingga kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan kurang dari yang diharapkan. Penanaman konsep atau pengertian operasi penjumlahan dan pengurangan sangat diperlukan media pembelajaran yang tepat.

Salah satu media pengajaran matematika adalah abakus. Abakus adalah salah satu media pembelajaran matematika yang dapat digunakan untuk menjelaskan konsep atau pengertian nilai tempat suatu bilangan (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan) serta operasi penjumlahan dan pengurangan

(5)

(Ruseffendi, 1997:261). Hal ini didukung dengan hasil penelitian Sugianto (2007), bahwa pembelajaran Matematika dengan menggunakan media dekak-dekak dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III. Dengan demikian penerapan pembelajaran matematika dengan menggunakan media dekak-dekak dapat dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas III sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Media abakus ini terbuat dari satu potong papan, beberapa batang kawat (sesuai kebutuhan) dan beberapa buah biji (abakus). Adapun fungsi media abakus untuk membantu guru mengajarkan menjelaskan konsep atau pengertian nilai tempat suatu bilangan (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan) serta operasi penjumlahan dan pengurangan. Sehingga dengan media abakus diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan.

Dari paparan di atas agar siswa mempunyai kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan yang baik sesuai harapan siswa dan guru salah satunya, dalam proses penyampaian pelajaran melalui media abakus. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengambil judul penelitian tindakan kelas “Peningkatan Kemampuan Menghitung Penjumlahan dan Pengurangan dengan Media Abakus pada Siswa Kelas III SD (PTK pada Siswa Kelas III SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Tahun Pelajaran 2009/2010)”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Adanya anggapan siswa, pelajaran Matematika adalah pelajaran yang paling sulit, menakutkan, menjemukan dan membosankan

2. Guru belum menggunakan media abakus dalam penyampaian pelajaran Matematika materi penjumlahan dan pengurangan

3. Belum tercapainya tujuan pendidikan seperti yang diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat

(6)

4. Penggunaan media abakus dalam penyampaian pelajaran Matematika materi penjumlahan dan penguragan belum maksimal

C. Pembatasan Masalah

Dengan adanya identifikasi masalah yang cukup banyak, maka penelitian ini menitikberatkan pada :

1. Penggunaan media abakus dalam penyampaian pelajaran Matematika materi penjumlahan dan pengurangan

2. Cara menggunakan media abakus dalam penyampaian pelajaran Matematika materi penjumlahan dan pengurangan

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Apakah media abakus dapat meningkatkan kemampuan menghitung

penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali tahun pelajaran 2009/2010? 2. Bagaimana cara mengatasi hambatan yang ditemui dalam peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan media abakus pada siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali tahun pelajaran 2009/2010?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan media abakus pada siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali tahun pelajaran 2009 / 2010.

2. Untuk mengatasi hambatan yang ditemui dalam peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan media abakus pada siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali tahun pelajaran 2009/ 2010.

(7)

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mempunyai beberapa manfaat, yaitu :

1. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa : Dapat digunakan sebagai motivasi belajar agar kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan meningkat b. Bagi guru : Dapat dijadikan solusi untuk dapat meningkatkan

kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan media abakus

c. Bagi sekolah : Dapat dijadikan bahan referensi kepada Kepala Sekolah Dasar untuk menambah sarana dan prasarana sehingga mutu pendidikan dapat lebih meningkat

2. Manfaat Teoretis

a. Sebagai bahan referensi penelitian selanjutnya

b. Sebagai gambaran dan bahan pengembangan untuk menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan

(8)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Tinjauan tentang Kemampuan Menghitung

Menurut Purwodarminto (1983) “kemampuan berarti menguasai”. “Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan atau kekuatan”. (Kamus Bergambar Nurkasanah dan Didik Turminto, 2007:423). Dalam hal ini pengertian kemampuan hampir disamakan dengan prestasi, sehingga disajikan beberapa pengertian tentang prestasi. Menurut Nyimas Aisyah,dkk (2007:6-5) “kemampuan menghitung adalah pengertian yang luas, merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa dalam semua aktivitas kehidupan semua manusia memerlukan kemampuan ini”.

“Berhitung” merupakan salah satu aspek dalam matematika yang terdapat pada hampir setiap cabang matematika seperti aljabar, geometri, dan statistika. (Sulis, 2007:14). Kemampuan menghitung mengungkapkan bagaimana seseorang memahami ide-ide yang diekspresikan dalam bentuk angka-angka dan bagaimana jenisnya seseorang dapat berfikir dan menalar angka-angka.

Kemampuan menghitung dalam penelitian ini mengenai kemampuan numerik siswa, karena kemampuan numerik adalah kemampuan hitung menghitung dengan angka-angka. Kemampuan ini dapat menunjang cara berfikir yang cepat, tepat dan cermat yang sangat mendukung keterampilan siswa dalam memahami simbol-simbol dalam matematika. Menurut Slametto (dalam Sulis, 2007:14) kemampuan numerik mencakup kemampuan standar tentang bilangan, kemampuan berhitung yang mengandung penalaran dan keterampilan aljabar. Kemampuan mengoperasikan bilangan meliputi operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Hal senada juga diungkapkan oleh Dewa Ketutu Sukardi (dalam Sulis, 2007:14) bahwa kemampuan berhitung numerikal adalah kemampuan berhitung yang

(9)

memerlukan penalaran dan keterampilan aljabar termasuk operasi hitung. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menghitung (kemampuan numerik) merupakan potensi alamiah yang dimiliki seseorang dalam bidang matematika.

2. Hakikat Penjumlahan dan Pengurangan a. Pengertian Penjumlahan

Menurut Nurkasanah dan Didik Turminto (2002:480) menyatakan bahwa “penjumlahan adalah proses, cara, perbuatan menjumlahkan”. Sedangkan menurut Poerwadarminta (1983:425) menyatakan bahwa “penjumlahan adalah hal menjumlahkan”. Sedangkan menurut Murray R. Spiegel (1999:1) ”penjumlahan adalah apabila dua bilangan a dan b dijumlahkan, maka hasilnya ditunjukkan dengan a + b”. Sedangkan menurut David Glover (2006:4) addition is finding the total of two or more numbers the plus (+) in an addition sum show that numbers are being added together. Penjumlahan adalah cara menemukan jumlah total dua bilangan atau lebih dengan menggunakan tanda “+”. Menurut Didik Junaedi (2008:8) menyatakan bahwa “jumlah adalah total dari beberapa bilangan yang ditambah semuanya”. Gatot Muhsetyo (2008:3.12) menyatakan bahwa “proses penggabungan dalam konsep himpunan dapat diartikan sebagai penjumlahan”.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa, penjumlahan adalah proses menjumlahkan total dua bilangan a dan b atau lebih dengan menggunakan tanda “+”.

b. Pengertian Pengurangan

Menurut Nurkasanah dan Didik Turminto (2002:616) menyatakan bahwa “pengurangan adalah proses, cara, perbuatan mengurangi atau mengurangkan”. Sedangkan menurut Poerwadarminta (1983:541) menyatakan bahwa “pengurangan adalah perbuatan mengurangkan atau mengurangi”. Menurut Murray R. Spiegel (1999:1) “pengurangan adalah apabila bilangan a dikurangi bilangan b, maka pengurangannya ditunjukkan dengan a - b”. Pengurangan dapat didefinisikan dalam bentuk

(10)

penjumlahan yaitu, kita didefinisikan a - b, merupakan bilangan x sedemikian rupa sehigga x ditambah b sama dengan a, atau x + b = a.

Gatot Muhsetyo (2008:3.12) menyatakan bahwa proses pemisahan dapat diartikan sebagai pengurangan. Sedangkan Linawaty Simanjuntak (1993:114) menyatakan pendapatnya “pengurangan yang pertama pada anak peserta didik adalah pengembalian dan ini merupakan bahasa sehari-hari yang sering didengar oleh anak-anak maupun peserta didik pada jenjang pendidikan dasar”.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pengurangan adalah proses mengurangi atau mengurangkan bilangan a dikurangi bilangan b dengan menggunakan tanda “-”.

3. Hakikat Pembelajaran Matematika

Pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan pengetahuan, keterampilan atau sikap baru pada saat seorang individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan pembelajaran adalah istilah yang kadang-kadang mengundang kontroversi baik di kalangan para ahli maupun di lapangan, terutama di antara guru-guru di sekolah.

Menurut Oemar Hamalik (2003:57) “pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya”.

Menurut Gagne dan Briggs dalam Nyimas Aisyah (2007:1-3) melukiskan pembelajaran sebagai upaya orang yang tujuannya adalah membantu orang belajar (Aisyah, dkk, 2007), secara lebih terinci Gagne mendefinisikan pembelajaran sebagai “ seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal (Gredler, 1991). Suatu pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Corey bahwa pembelajaran adalah “suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Pembelajaran merupakan sub-set khusus pendidikan”. (Miarso dkk,

(11)

1977). Gatot Muhsetyo (2008:1.26) menyatakan bahwa “pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari”.

Beberapa pendapat tentang pembelajaran matematika : menurut Kolb (dalam Febrianti Wulandari, 2007:12-13) menyatakan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses di mana pengetahuan yang berupa hasil belajar siswa diciptakan oleh siswa sendiri melalui transformasi pengalaman siswa sendiri.

Matematika dibangun dan ditemukan oleh manusia, sehingga dalam pembelajaran matematika harus lebih dibangun oleh siswa daripada ditanamkan oleh guru Goldin (dalam Febrianti Wulandari, 2007:12-13). Pendapat lain dikemukakan oleh Hoevel-Panhuizen, Versch Affel dan De Corte (dalam Febrianti Wulandari, 2007:12-13). bahwa : pendididikan matematika seharusnya memberikan kesempatan untuk menemukan kembali matematika. Pembelajaran matematika harus memberikan siswa situasi masalah yang dapat mereka bayangkan atau memiliki hubungan dengan dunia nyata. Sedangkan menurut Gail A. Williams (1983:3) menyatakan matematics is beautiful and useful creation of the human mind and spirit “matematika adalah sebuah kreasi yang indah dan berguna dalam pikiran dan jiwa manusia”.

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga di Perguruan Tinggi. Menurut Cornelius seperti dikutip Mulyono A. (1996:38) mengemukakan 5 alasan penting belajar matematika karena matematika merupakan sarana untuk : (1) berfikir jelas dan logis, (2) memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) mengembangkan kreativitas, (5) meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang pembelajaran matematika adalah suatu proses menemukan konsep dan ide matematika dengan cara

(12)

mengkonstruksi dan masalah-masalah dapat dibayangkan atau yang pernah dialami yang berkaitan dengan dunia nyata.

a. Pengertian Matematika

Menurut Lerner sebagaimana yang dikutip Mulyono Abdurrahman (1999:252) mengemukakan bahwa matematika di samping sebagai bahasa simbolik juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas. Sedangkan Paling (dalam Mulyono Abdurrahman, 1999:252) menyatakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung dan yang paling penting adalah pemikiran dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.

Menurut Ruseffendi (dalam Edyah Murniati, 2007:46) menyatakan bahwa matematika itu terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalili-dalil, di mana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku sacara umum, karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif, sedangkan menurut Johson dan Myklebust (dalam Mulyono Abdurrahman, 1999:252) menyebutkan bahwa matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoretisnya adalah untuk memudahkan berfikir. Reys (dalam Edyah Murniati, 2007:46) juga mengatakan bahwa matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.

Dari pengertian matematika yang telah dikemukakan di atas, berarti matematika adalah salah satu ilmu dasar dalam kehidupan sehari-hari, yang merupakan bahasa simbolis dan universal yang memungkinkan manusia berfikir, mencatat dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas dengan menggunakan cara bernalar deduktif dan induktif.

(13)

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan matematika adalah salah satu ilmu dasar yang berguna untuk memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan dan tehnologi, yang memudahkan manusia berfikir dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

b. Fungsi Matematika

Menurut Endyah Murniati (2007:46) menyatakan bahwa “matematika bagi Sekolah Dasar berguna untuk kepentingan hidup dalam lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang kemudian”. Dengan demikian mata pelajaran Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran matematika juga merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).

c. Tujuan Mata Pelajaran Matematika di SD

Tujuan mata pelajaran matematika di SD menurut Kurikulum (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan / KTSP) SD/MI 2007 adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh, (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

(14)

Tujuan umum dan khusus yang ada di Kurikulum KTSP SD/MI 2007 merupakan pelajaran matematika di sekolah yang memberikan gambaran belajar tidak hanya di bidang kognitif saja, tetapi meluas pada bidang psikomotor dan afektif. Pembelajaran matematika diarahkan untuk pembentukan kepribadian dan pembentukan kemampuan berpikir yang bersandar pada hakikat matematika, ini berarti hakikat matematika merupakan unsur utama dalam pembelajaran matematika. Oleh karenanya hasil-hasil pembelajaran matematika menampakan kemampuan berpikir yang matematis dalam diri siswa, yang bermuara pada kemampuan menggunakan matematika sebagai bahasa dan alat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Hasil lain yang tidak dapat diabaikan adalah terbentuknya kepribadian yang baik dan kokoh. .

d. Standar Kompetensi Matematika SD dan MI

Standar Kompetensi Matematika menurut kurikulum KTSP SD/MI 2007 merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibakukan dan harus dicapai oleh siswa pada akhir periode pembelajaran. Standar ini dikelompokkan dalam kemahiran matematika, bilangan, pengukuran dan geometri, aljabar, statistik dan peluang, trigonometri, dan kalkulus. Pada tingkat SD dan MI, standar kompetensi ini hanya mencakup bilangan, pengukuran dan geometri, serta pengolahan data.

Kemampuan matematika yang dipilih dalam standar kompetensi ini dirancang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa dengan memperhatikan perkembangan pendidikan matematika di dunia sekarang ini. Untuk mencapai kompetensi tersebut dipilih materi-materi matematika dengan memperhatikan struktur keilmuan, tingkat kedalaman materi, serta sifat esensial materi dan keterpakaiannya dalam kehidupan sehari-hari secara rinci.

Kurikulum KTSP SD/MI 2007 menyebutkan standar kompetensi tersebut adalah sebagai berikut :

(15)

1) Bilangan

a) Menggunakan bilangan dalam pemecahan masalah

b) Menggunakan operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah c) Menggunakan konsep bilangan cacah dan pecahan dalam pemecahan

masalah.

d) Menentukan sifat-sifat operasi hitung, faktor, kelipatan bilangan bulat dan pecahan serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.

e) Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.

2) Pengukuran dan geometri

a) melakukan pengukuran, mengenal bangun datar dan bangun ruang, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah sehari-hari.

b) Melakukan pengukuran, menentukan unsur bangun datar dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

c) Melakukan pengukuran keliling dan luas bangun datar dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

d) Melakukan pengukuran, menentukan sifat dan unsur bangun ruang, menentukan kesimetrian bangun datar serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.

3) Pengolahan data

Mengumpulkan, menyajikan dan menafsirkan data. e. Pendekatan dalam Pembelajaran Matematika

Moch Ichsan (2003:8-9), mengemukakan empat macam pendekatan pembelajaran matematika, yaitu :

1) Pendekatan Belajar Aktif

Yaitu suatu pembelajaran yang menekankan aktivitas para siswa secara fisik, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang maksimal, baik ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar dan merangsang daya

(16)

kreatifitas, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berkesan melalui model pembelajaran yang tepat.

Peserta didik terlibat dalam berbagai kegiatan (aktivitas) yang mengembangkan keterampilan, kemampuan dan pemahamannya dengan menekankan pada belajar dengan berbuat (learning by doing). Guru memberikan umpan balik dengan mengajukan pertanyaan yang menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativitas peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah.

2) Pendekatan Terpadu

Yaitu suatu pendekatan yang mengaitkan mata pelajaran matematika lainnya. Dengan mengetahui keterkaitan konsep dari beberapa mata pelajaran, maka akan dapat memberi pengertian kebermaknaan, sehingga siswa lebih mantap dalam memahami suatu konsep. Dikatakan kebermaknaan karena dalam pembelajaran terpadu anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang mereka pahami.

3) Pendekatan Kontruktivisme

Yaitu merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran di kelas melalui tiga fase, yaitu fase eksplorasi, fase pengenalan konsep dan aplikasi konsep untuk mencapai kebermaknaan pemahaman.

Siswa memperoleh pemahaman yang mendalam melalui pengalamaan belajar yang bermakna dengan cara membangun sendiri pengetahuannya sedikit demi sedikit dari konteks yang terbatas,

4) Pendekatan Realistik

Yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang real bagi siswa, menekankan keterampilan “procces of doing mathematics”. Pada pendekatan ini peran guru tidak lebih dari seperangkat fasilitator, moderator, atau evaluator, sementara siswa

(17)

berfikir, mengkomunikasikan “reasoning”nya, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain.

Pembelajaran harus dimulai dari masalah kontekstual yang diambil dari dunia nyata. Siswa dapat menggunakan strategi, bahasa, atau simbol mereka sendiri dalam proses mematematikakan ke dunia mereka. Di sini siswa dapat berdiskusi dan bekerjasama dangan siswa lain, bertanya dan menanggapi pertanyaan, serta mengevaluasi pekerjaan mereka.

4. Hakikat Media a. Pengertian Media

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. Secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Mulyani Sumantri dan Johar Permana, 2001:152).

Menurut Gagne (dalam Arief S. Sadiman, 2009:6) media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (dalam Arief S. Sadiman, 2009:6) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Rossi dan Breidle (dalam Wina Sanjaya, 2007:161) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya. Media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi. (Arif S. Sadiman, 2009:7). Gerlach dan Ely (dalam Wina Sanjaya, 2007:161) menyatakan : “ A medium, conceived is any person, material or event that establishs condition which enable the learner to acquire knowledge, skill, and attitude.” Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang mengungkapkan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

(18)

Menurut Romiszowski (dalam Oemar Hamalik, 2003:202) menyatakan “...as the carrics of message, from some transmitting source (which may be a human or an intimate object), to the receiver of the message which is our case is the learner”. Media adalah pembawa pesan yang berasal dari sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. Dalam proses belajar mengajar, penerima pesan itu adalah siswa. Pembawa pesan adalah (media) itu berinteraksi dengan siswa melalui indera mereka. Siswa dirangsang oleh media itu untuk menggunakan inderanya untuk menerima informasi. Kadang-kadang siswa dituntut untuk menggunakan kombinasi dari beberapa indera supaya dapat menerima pesan itu secara lebih lengkap.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian media adalah segala sesuatu yang telah diprogram dan digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim (guru) kepada penerima (siswa) sehingga dapat merangsang siswa menangkap informasi yang dapat memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar, serta memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap sehingga proses belajar mengajar berhasil. Dalam proses belajar mengajar pesan yang disalurkan melalui media dari sumber pesan kepada penerima pesan itu ialah isi pelajaran. Pesan tersebut berasal dari kurikulum yang disampaikan oleh guru kepada siswa. b. Tujuan dan Kegunaan Media

Tujuan dari penggunaan suatu media membuat guru dapat menyampaikan pesan secara lebih mudah kepada peserta didik, sehingga peserta didik tersebut dapat menguasai pesan (pembelajaran) secara cepat dan akurat.

Menurut Arief S. Sadiman (2009:17) secara umum media mempunyai kegunaan sebagai : (1) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis, (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, (3) mengatasi penggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik.

Menurut Basuki Wibawa (2001:14), media mempunyai kegunaan sebagai : (1) mampu memperlihatkan gerakan cepat yang sulit diamati dengan

(19)

cermat oleh mata biasa, (2) dapat memperbesar benda-benda kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata, (3) menggantikan objek yang sangat besar yang tidak mungkin dihadirkan ke dalam kelas, (4) objek yang terlalu kompleks misalnya mesin atau jaringan radio, dapat disajikan dengan menggunakan diagram atau model yang disederhanakan, (5) dapat menyajikan suatu proses atau pengalaman hidup yang utuh.

Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001:154) mengemukakan media pengajaran adalah merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengantarkan atau menyampaikan pesan, berupa sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap kepada peserta didik sehingga peserta didik itu dapat menangkap, memahami dan memiliki pesan-pesan dan makna yang disampaikan itu. Sedangkan menurut Wan Guofang, (2006:174) menyatakan ”... the use of is as a source of information, entertainmant, enrichment, growth, empowerment and communication” penggunaan media sebagai sumber informasi, hiburan, kekayaan, pertumbuhan, kekuasaan dan komunikasi.

Secara umum media berfungsi sebagai : (1) alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif, (2) bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar, (3) meletakkan dasar-dasar yang kongkrit dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme, (4) membangkitkan motivasi belajar peserta didik, (5) mempertinggi mutu belajar mengajar.

Derak Rowntrie (dalam Mulyani Sumantri dan Johar Permana, 2001:154-155) menyebutkan fungsi media pendidikan atau pengajaran, adalah : (1) engange The Student’s motivation (membangkitkan motivasi belajar), (2) recall earlier learning (mengulang apa yang telah dipahami), (3) provide new learning stimuli (menyediakan stimulus belajar), (5) activate the student’s response (mengaktifkan respon peserta didik), (6) give speedy feedback ( memberikan balikan dengan cepat), (7) encourage appropriate practice (menggalakkan latihan yang serasi).

(20)

Berdasarkan definisi-definisi kegunaan media pembelajaran dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran dapat memberikan kesamaan dan pengalaman untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan, minat, motivasi serta dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.

c. Jenis-jenis Media dalam Pembelajaran

Penggunaan media pembelajaran memberikan banyak manfaat dalam proses pembelajaran. Manfaat penggunaan media pembelajaran tersebut tergantung pada ciri-ciri dan kemampuan media dalam proses pembelajaran. Arif S. Sadiman (2009:19) mengelompokkan atau mengklasifikasikan media berdasarkan kesamaan ciri atau karakteristiknya. Basuki Wibawa dan Farida (2001:35) menambahkan apapun bentuk dan tujuan pengklasifikasian media dapat memperjelas kegunaan dan karakteristik media, sehingga memudahkan kita memilih nantinya. Bertz (dalam Arif S. Sadiman, 2009:20) pengklasifikasian jenis media, diantaranya: media audio, media visual, dan media audio visual.

1) Media Audio

Media audio adalah jenis media yang berisi suara saja sehingga untuk dapat memanfaatkannya sebagai media dalam pembelajaran guru harus dapat memperhatikan mengenai aspek kemampuan menyimak yang dimiliki oleh siswa. Basuki Wibawa dan Farida (2001:35) menambahkan ”media audio menambahkan pesan yang disampaikan dalam lambang-lambang auditif verbal, nonverbal maupun kombinasinya yang berkaitan erat dengan indera pendengaran”. Contoh media audio : radio, telepon, tape recorder, piringan audio dan lain-lain.

Kelebihan penggunaan media audio, antara lain : (1) meningkatkan kemampuan komunikasi audio, (2) materi pembelajaran dapat dipersiapkan sehingga guru dapat mengontrolnya, (3) merangsang dan mengembangkan kemampuan imajinasi terhadap hal-hal yang sedang disajikan, (4) perhatian siswa terpusat pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya. Kelemahan penggunaan media audio, antara lain: (1) sifat komunikasi satu arah, (2) stimulus secara suara saja dalam waktu

(21)

yang cukup lama menimbulkan kebosanan pada siswa, (3) siswa yang memiliki kelemahan audio akan merasa kesulitan menerima pelajaran. 2) Media Visual

Media visual adalah jenis media yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual yang berkaitan erat dengan indera penglihatan. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil efisien. (Arif S. Sadiman, 2009: 28). Contoh media visual adalah gambar, foto, diagram, bagan, grafik, sketsa, poster, peta dan lain-lain.

Penggunaan media harus dipilih secara sistematis, agar dapat digunakan secara efisien. Ada tiga langkah pokok dalam prosedur pengunaan media pengajaran yang perlu diikuti, yaitu : (1) persiapan sebelum menggunakan media, (2) pelaksanaan (penyajian, penerima), (3) tindak lanjut, tercapai atau tidaknya tujuan yang ditetapkan.

Kelebihan penggunaan media visual, antara lain : (1) mengatasi keterbatasan ruang dan waktu karena semua benda, objek atau peristiwa tidak dapat dibawa ke kelas, (2) merangsang dan mengembangkan kemampuan imajinasi terhadap hal-hal yang sedang disajikan, (3) meningkatkan keaktifan dan kreativitas guru untuk dapat menyampaikan materi dalam bentuk gambar. Kelemahan penggunaan media visual, antara lain : (1) ukurannya terbatas untuk kelompok yang besar, (2) memerlukan ketersediaan sumber dan keterampilan, serta kejelian guru untuk dapat memanfaatkannya.

3) Media Audio Visual

Media audio visual adalah jenis media yang menggabungkan unsur suara dan gambar. Penggunaan media audio visual akan lebih baik, apabila menggunakan unsur gambar gerak. Sebagaimaa pendapat Basuki Wibawa (2001:67) Kemampuannya akan meningkat lagi apabila audio visual ini dilengkapi dengan karakteristik gerak. Media audio visual dalam pembelajaran memberikan kelebihan dan kelemahan. Kelebihan

(22)

penggunaan media audio visual, antara lain : (1) memusatkan perhatian dan meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, (2) mengatasi keterbatasan waktu dan ruang, (3) menampilkan gambar, suara, dan gerak, (4) menghindari pembelajaran yang verbalistik. Kelemahan penggunaan media audio visual, antara lain : (1) biaya relatif mahal, (2) memerlukan peralatan yang kompleks dan (3) memerlukan keahlian khusus.

d. Kriteria Pemilihan Media

Kriteria pemilihan media pembelajaran harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan Arief S. Sadiman (2009:85). Pendapat tersebut didukung oleh pendapat Basuki Wibawa (2001:99) bahwa alasan orang memilih media adalah untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan pemilihan media pembelajaran yang tepat, maka penggunaan media dapat bermanfaat sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dick dan Carey (dalam Basuki Wibawa, 2001:100-102) menyebutkan beberapa patokan yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media, yaitu : (1) ketersediaan sumber, (2) ketersediaan dana, tenaga, fasilitas, (3) keluwesan, kepraktisan dan daya tahan (umur) media, (4) efektifitas media untuk waktu yang sangat panjang.

Atas dasar uraian di atas maka dapat disajikan di sini suatu kriteria pemilihan media sebagai berikut :

1) Tujuan

Kalau yang ingin diajarkan adalah proses, media gerak seperti video, film atau TV merupakan pilihan yang sesuai. Kalau yang ingin diajarkan adalah suatu ketrampilan dalam menggunakan alat tertentu, maka benda sesungguhnya atau mock up-nya merupakan pilihan yang sesuai.Kalau tujuannya ingin memperkenalkan faktor atau konsep

(23)

tertentu, maka media foto, slide, realita mungkin merupakan pilihan yang tepat.

2) Karakteristik Siswa

Dalam karakter siswa media harus disesuaikan dengan jumlahnya, lokasinya, gaya belajarnya, karakteristik lainnya yang mempengaruhi pemilihan media.

3) Karakteristik Media

Dalam pemilihan media perlu mempertimbangkan kelebihan dan keterbatasan masing-masing media itu. Media foto misalnya tentu kurang sesuai untuk mengajarkan gerakan. Sebaliknya media TV akan terlalu mahal untuk mengajarkan fakta yang tak bergerak yang dapat dijelaskan dengan slide.

4) Alokasi Waktu

Memilih media harus diseesuaikan dengan waktu untuk kegiatan perancangan, pengembangan, pengadaan ataupun penyajiannya. Semua hal tersebut perlu menjadi bahan pertimbangan dalam memilih media.

5) Tersediakah media yang diperlukan?

Ketersediaan harus sesuai dengan media yang diperlukan, layanan, purnajualnya, aliran listrik atau baterai untuk mengoperasikannya. 6) Efektifitas

Keefektifan penggunaan media harus pada ketercapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan, dan efektif untuk penggunaan dalam jangka waktu yang lama.

7) Kompatibilitas

Media itu benar-benar berguna untuk memudahkan penguasaan peserta didik, yaitu : penggunaan media tersebut tidak bertentengan dengan norma-norma yang berlaku, ada sarana penunjang (suku cadang, dan sebagainya) kesiapan pengoperasionalannya sebelum

(24)

digunakan, praktiskah dan luweskah penggunaanya, daya tahan (umur) media tersebut.

8) Biaya

Dalam pemilihan media perlu mempertimbangkan dana yang diperlukan untuk pengadaan, pengelolaan, dan pemeliharaannya. efisiensi dan efektifitas biayanya sangat berpengaruh.

5. Tinjauan tentang Abakus a. Pengertian Abakus

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:1) menyatakan bahwa abakus, dekak-dekak, sempoa adalah lempeng datar di atas kepala tiang dengan pinggiran cekung. Abakus biji atau dekak-dekak adalah salah satu media pengajaran matematika yang dapat digunakan untuk menjelaskan konsep atau pengertian nilai tempat suatu bilangan (satuan, puluhan, ratusan, ribuan) serta operasi penjumlahan dan pengurangan (Ruseffendi, 1997:261).

David Glover (2006:4) menambahkan bahwa ”abakus adalah alat hitung sederhana yang menggunakan batu-batuan, manik-manik, atau cincin sebagai alat penghitung. Abakus Cina (swipoa) terdiri atas manik-manik dari kayu yang tersusun dalam batang-batang”. Menurut ST. Negoro dan B. Harahap (1998:1) menambahkan bahwa ”Abakus atau dekak-dekak adalah alat hitung sederhana untuk menjelaskan nilai tempat angka pada bilangan-bilangan dan dapat pula digunakan untuk operasi-operasi bilangan-bilangan, seperti operasi penjumlahan dan operasi pengurangan”.

Menurut Evi Rine Hartuti, Miyanto, dan Rina Dyah Rahmawati (2007:1) menyatakan bahwa abakus merupakan alat hitung konvensional. Pada umumnya abakus berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu. Pada bagian dalam abakus diberi manik-manik. Manik-manik ini dirangkai dengan batang yang terbuat dari kayu. Setiap manik-manik menggambarkan 1 unit hitungan.

(25)

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, abakus adalah alat hitung sederhana yang terdiri atas manik-manik atau cincin yang tersusun dalam batang-batang, yang digunakan sebagai media pengajaran matematika yang bisa menjelaskan nilai tempat suatu bilangan dan operasi penjumlahan dan pengurangan. Tiang paling kanan (tiang pertama) abakus selalu menunjukkan tempat satuan.

Abakus atau sempoa juga dikenali sebagai merupakan alat hitung untuk melakukan proses-proses aritmatika. Seringnya, ia terdiri daripada sebuah rangka kayu, dengan manik-manik yang menggelangsar pada wayar-wayar. Penggunanya menggelangsar pembilang secara insani pada batang-batang atau alur-alur.

Abakus atau sempoa atau sipoa atau dekak-dekak adalah alat kuno untuk berhitung yang dibuat dari rangka kayu dengan sederetan poros berisi manik-manik yang bisa digeser-geserkan. Sempoa digunakan untuk melakukan operasi aritmatika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan akar kuadrat. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Sempoa)

Media ini terbuat dari satu potong papan, beberapa batang kawat (sesuai kebutuhan) dan beberapa buah biji abakus. Setiap kawat terdiri dari 20 buah biji (gambar 1)

Gambar Media abakus dilihat dari depan sehingga biji-bijinya tampak semuanya (20 biji perbatang)

Gambar 1. Model Abakus yang Diisi Manik-manik b. Fungsi (Abakus)

1) Untuk menjelaskan nilai tempat angka pada balangan-bilangan (satuan, puluhan, ratusan, ribuan) Ensiklopedia Matematika (gambar 2).

(26)

B = Ribuan R = Ratusan P = Puluhan S = Satuan

Gambar 2. Model Abakus

2) Untuk mencari hasil operasi penjumlahan suatu bilangan (gambar 3).

444 + 212 = 656

Gambar 3. Penjumlahan Bilangan dengan Abakus

3) Untuk mencari hasil operasi pengurang suatu bilangan (gambar 4).

541 – 221 = 320

Gambar 4. Pengurangan Bilangan dengan Abakus c. Cara Penggunaan Media

Dalam pemakaian abakus, bagian depan yang menghadap ke siswa supaya terlebih dahulu dikosongkan. Semua bijinya disimpan / diangkat ke bagian belakang (gambar 5).

B R P S

B R P S

(27)

B = Ribuan R = Ratusan P = Puluhan S = Satuan

Gambar 5. Model Abakus

Jika kita akan menunjukkan bilangan 125, maka dari belakang digeserkan 1 buah biji pada tempat ratusan, 2 biji pada tempat puluhan dan 5 biji pada tempat satuan. Gambar 6 di bawah ini menunjukkan bilangan 125

Gambar 6. Model Abakus yang Diisi Manik-manik

Jika 125 + 230, maka penjumlahan ini seperti gambar abakus dibawah ini, yaitu dengan menambah 2 biji pada tempat ratusan, 3 biji pada tempat puluhan dan 0 biji pada tempat satuan (tidak ada penambahan biji pada tempat satuan). Lihat gambar 7 di bawah:

125 + 230 = 355

Gambar 7. Penjumlahan Bilangan dengan Abakus P

(28)

Seandainya akan menunjukkan penjumlahan desimal misalnya : 1,32 + 2,14 dapat dilakukan dengan menarik ke dapat 1 biji satuan, 3 persepuluhan, dan 2 perseratusan. Kemudian siswa disuruh menarik ke depan 2 satuan, 1 persepuluhan dan 4 perseratusan. Akibatnya kita dapatkan 1,32 + 2,14 = 3,46.

Lihat gambar 8 di bawah ini.

Gambar 8. Penjumlahan Bilangan dengan Abakus

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan merupakan uraian yang sistematis tentang hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang relevan yang sesuai dengan substansi yang diteliti. Fungsinya untuk memposisian peneliti yang sudah ada dengan penelitian yang akan dilakukan.

Sugianto (2007), pembelajaran matematika dengan menggunakan media dekak-dekak dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III. Dengan demikian penerapan pembelajaran matematika dengan menggunakan media dekak-dekak dapat dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas III sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Ibnu Rohmatullah Al Hamid (2008), pembelajaran dengan media dekak-dekak dapat meningkatkan minat belajar matematika rendah menjadi minat belajar metematika tinggi siswa kelas II. Dengan demikian pembelajaran matematika dengan menggunakan media dekak-dekak dapat

(29)

dilaksanakan untuk meningkatkan pembelajaran matematika di kelas II sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika kelas II.

C. Kerangka Berfikir

Kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan siswa masih sangat rendah. Hal ini karena dalam pembelajaran guru kurang dalam menggunakan media, penyajian materi kurang menarik, dan membosankan, sehingga siswa belum mengerti konsep penjumlahan dan pengurangan. Dengan penggunaan media akan mendorong siswa untuk mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, mereka dalam status apa, dan bagaimana mencapainya, sehingga yang mereka pelajari dapat melekat dalam ingatan untuk meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dengan optimalisasi penerapan media abakus diharapkan dapat memperkuat ingatan siswa. Hal ini akan terlihat jika proses pembelajaran dengan abakus berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk bekerja dan mengalami apa yang dipelajari bukan hanya mengetahuinya. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Pembelajaran dengan menggunakan media abakus ini dapat meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan. Alur kerangka berfikir digambarkan seperti gambar 9.

(30)

Perencanaan Tindakan dengan media abakus

Gambar 9. Kerangka berfikir Masalah yang dihadapi

sebelum tindakan

Konvensional atau tidak ada media

Kemampuan siswa menghitung penjumlahan dan pengurangan rendah

SIKLUS I SIKLUS 2

a. melakukan penjumlahan tanpa teknik menyimpan b. melakukan penjumlahan

dengan satu kali menyimpan

c. melakukan pengurangan tanpa meminjam

d. melakukan pengurangan dengan satu kali

meminjam

a. melakukan penjumlahan dengan dua kali

menyimpan di bawah seribu

b. melakukan pengurangan dengan dua kali

meminjam di bawah seribu

SIKLUS 3

a. melakukan

penjumlahan dengan dua kali menyimpan di atas seribu

b. melakukan

pengurangan dengan dua kali meminjam di atas seribu Belum memenuhi KKM Sudah memenuhi KKM Kemampuan menghitung sudah meningkat Hasil Akhir

Diduga dengan media abakus dapat meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan siswa kelas III

(31)

D. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :

“Dengan media abakus maka kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh akan meningkat.”

(32)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Setting penelitian ini mengacu pada waktu dan tempat penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Kelas III. Pemilihan tempat ini di dasarkan pada pertimbangan : (1) Merupakan tempat peneliti mengajar, sehingga mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian, (2) Tidak mengganggu tugas mengajar peneliti, (3) Tidak mengganggu proses belajar mengajar pada awal tahun pelajaran Penelitian ini berlangsung selama 4 bulan, yaitu bulan Juli sampai Oktober 2009. Adapun rincian waktu dan jenis-jenis kegiatan penelitian dapat dilihat pada table 2 berikut ini :

Tabel 2. Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian Bulan No Jenis Kegiatan

Juli Agustus September Oktober Penyusunan dan Pengajuan x x x x 1 Proposal 2 Mengurus ijin penelitian x x 3 Pelaksanaan Penelitian x x x 4 Analisis Data x x x 5 Penyusunan Laporan x x x x

B. Bentuk dan Strategi Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). I G A K Wardhani (2007:1.3) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu suatu Action Research yang dilakukan di kelas.

(33)

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian untuk mengatasi permasalahan terkait dengan kegiatan belajar mengajar yang terjadi pada suatu kelas. Menurut Sarwiji Suwandi (2008:15) penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Pendapat tersebut ditambah oleh I G A K Wardhani (2007:1.4) yang mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Jadi penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang sengaja dilakukan untuk dimunculka di kelas bertujuan agar tercapainya perbaikan kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

I G A K Wardhani (2007:1.5-1.7) mengungkapkan bahwa karakteristik PTK antara lain : (1) masalah PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru yaitu bersifat situasional, (2) self reflective inquiry yaitu penelitian melalui refleksi diri, (3) penelitian dilakukaan di dalam kelas, dan (4) penelitian bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang reflektif. Kegiatan penelitian berangkat dari permasalahan riil yang dihadapi oleh guru dalam proses belajar mengajar. Permasalahan tersebut kemudian direfleksikan alternative pemecahan masalahnya dan ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan yang terencana dan terukur. Oleh karena itu, maka penelitian tindakan kelas membutuhkan kerjasama antara peneliti, guru, siswa, dan staf sekolah lainnya untuk menciptakan suatu kinerja sekolah yang lebih baik.

Menurut Sarwiji Suwandi (2008:34) langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilakukan melalui empat tahap, yaitu : perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting). Secara jelas langkah-langkah tersebut dapat digambarkan pada gambar 10.

(34)

Gambar 10. Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Setiap siklus terdiri dari empat tahap. Adapun tahapannya sebagai berikut : 1. Perencanaan

Kegiatan ini meliputi :

a. membuat perencanaan pengajaran

b.membuat dan melengkapi media pembelajaran c. membuat lembar observasi, dan

d.mendesain alat evaluasi 2. Pelaksanaan tindakan

Kegiatan tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan dengan menggunakan media abakus. Siklus I Tindakan Pengamatan Refleksi Perencanaan Siklus II Perencanaan Selanjutnya Tindakan Refleksi Pengamatan Perencanaan

(35)

3. Observasi

Dalam tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan.

4. Refleksi

Dalam tahap ini data-data yang diperoleh melalui observasi dikumpulkan dan dianalisa guna mengetahui seberapa jauh “Action” telah membawa perubahan dan apa atau di mana perubahan terjadi.

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian tindakan ini adalah siswa SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo. Siswa yang dijadikan subjek penelitian ini adalah siswa kelas III. dengan jumlah siswa sebanyak 13 anak, yang terdiri 4 siswa putra dan 9 siswa putri. Pada dasarnya mereka dari latar belakang yang berbeda-beda tetapi sebagian besar dari mereka adalah siswa dari golongan menengah ke atas. Dari 13 siswa ini kesemuanya adalah anak yang normal, tidak cacat dalam artian tidak ada anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Subyek penelitian ini sekaligus sebagai sampel dari PTK, karena dalam PTK sampelnya adalah seluruh anggota dari subyek penelitian.

D. Sumber Data

Data atau informasi yang penting untuk dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini, sebagian besar berupa kualitatif. Data atau informasi tersebut meliputi :

1. Informan, yaitu guru yang mengampu siswa kelas III dan siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali.

2. Tempat dan Peristiwa

a. Tempat : Ruang Kelas III SD Negeri 1 Butuh

b. Peristiwa : Proses belajar mengajar dengan media abakus 3. Arsip dan Dokumen

a. Arsip : Kurikulum 2007 Mata Pelajaran Matematika dan Silabus b. Dokumen : Daftar Nilai

(36)

Daftar nilai digunakan untuk mendapatkan data nilai siswa sebelum dilakukan tindakan.

4. Tes Hasil Belajar

Untuk mengetahui peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan setelah dilakukan tindakan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Sesuai bentuk penelitian tindakan kelas dan juga jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Observasi

Observasi yang dilakukan adalah observasi langsung. Observasi langsung (direct observation) adalah observasi yang dilakukan tanpa perantara (secara langsung) terhadap objek yang diteliti. Observasi dilakukan pada siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh untuk mengetahui minat dan perhatiannya selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan media abakus.

2. Dokumen

Berupa Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, nilai formatif untuk memperoleh data tentang kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan siswa sebelum dilakukan tindakan.

3. Tes

Tes hasil belajar untuk mengetahui peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan siswa setelah dilakukan tindakan.

F. Uji Validitas Data

Uji validitas data yang digunakan adalah Triangulasi, triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuai yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Lexy J. Moleong, 1996:178). Langkah ini dapat ditempuh dengan menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian. Menurut Denzin dalam Lexy J. Moleong (1996:178) bentuk triangulasi ada 4, yaitu : triangulasi

(37)

sumber, triangulasi metode, triangulasi penyidik, dan triangulasi teori. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber yaitu dengan membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda yaitu (1) pengamatan dari proses pembelajaran, (2) tes unjuk kerja siswa, (3) silabus, RPP, dan foto.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan usaha (proses) memilih, membuang, dan menggolongkan data sesuai dengan yang diharapkan. Analisis data dilakukan sejak awal sampai berakhirnya kegiatan pengumpulan data. Data dari hasil penelitian di lapangan diolah dan dianalisis secara interaktif.

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya (Lexy J. Moleong, 1996:190). Proses analisis data menurut Matthew B. Miles dan Michael Huberman (2007:16) terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Menurut Matthew B. Miles dan Michael Huberman (2007:16-20) rincian model dapat diurakan seperti gambar 11.

Gambar 11. Komponen-komponen Analisis Data : Model Interaktif (Matthew B. Miles dan Michael Huberman, 2007:16)

Pengumpulan Data

Reduksi Data

Penarikan Kesimpulan / Verifikasi

(38)

Dari bagan yang tertera pada gambar 12 langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah :

1. Melakukan analisis awal bila data yang didapat di kelas sudah cukup, maka dapat dikumpulkan.

2. Mengembangkan bentuk sajian data, dengan menyusun coding dan matrik yang berguna untuk penelitian lanjut.

3. Melakukan analisis data di kelas dan mengembangkan matrik antar kasus. 4. Melakukan verifikasi, pengayaan dan pendalaman data apabila dalam

persiapan analisis ternyata ditemukan data yang kurang lengkap atau kurang jelas, maka perlu dilakukan pengumpulan data lagi secara terfokus.

5. Melakukan analisis antar kasus, dikembangkan struktur sajian datanya bagi laporan susunan laporan.

6. Merumuskan simpulan akhir sebagai temuan penelitian.

7. Merumuskan implikasi kebijakan sebagai bagian dari pengembangan saran dalam laporan akhir penelitian.

H. Indikator Kinerja / Keberhasilan

Menurut Sarwiji Suwandi (2008:70) indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan atau tolak ukur dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian. Indikator kinerja yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas III SD Negeri 1 Butuh dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan melalui pengoptimalan penerapan media abakus. Indikator penelitian ini bersumber dari kurikulun dan silabus KTSP Matematika kelas III serta nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 60.

Pada penelitian tindakan kelas ini anak yang memperoleh nilai 70 lebih dari 80%. Nilai rata-rata menghitung penjumlahan dan pengurangan siswa meningkat (dari 60 menjadi 70).

(39)

I. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 3 siklus. Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai. Untuk mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan kelas III SDN 1 Butuh, dilakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran melalui langkah-langkah tersebut akan dapat ditentukan tindakan yang tepat dalam rangka meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan Berdasarkan hasil belajar Matematika siswa kelas III SDN 1 Butuh dengan media abakus maka didapat hasil refleksi awal.

Dengan berpedoman pada refleksi awal tersebut, maka prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi dalam setiap siklus.

Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan dalam tahap-tahap sebagai berikut :

1. Siklus I a. Tahap Perencanaan

1) Mengumpulkan data siswa kelas III yang diperlukan melalui teknik observasi, pencatatan arsip dan tes

2) Merencanakan pembelajaran menghitung penjumlahan dan pengurangan menggunakan media abakus selama 4 pertemuan meliputi : (a) melakukan operasi penjumlahan tanpa teknik menyimpan, (b) melakukan operasi penjumlahan dengan satu kali teknik menyimpan, (c) melakukan operasi pengurangan tanpa teknik meminjam, (d) melakukan operasi pengurangan dengan satu kali teknik meminjam (lampiran 6)

3) Membuat lembar observasi kegiatan untuk guru dalam mengajar (lampiran 9) dan aktivitas siswa dalam pembelajaran (lampiran 10)

4) Mendesain alat evaluasi (lampiran 15) b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

1) Guru menerapkan pembelajaran menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan media abakus di kelas III SDN 1 Butuh

(40)

menggunakan rencana pembelajaran, yaitu dengan mengajarkan cara menggunakan abakus terlebih dahulu, mengajarkan konsep nilai tempat (ribuan, ratusan, puluhan, satuan) dan operasi penjumlahan serta pengurangan.

2) Siswa belajar menghitung penjumlahan dan pengurangan menggunakan media abakus dengan konsep nilai tempat yang dibimbingan guru.

c. Tahap Observasi

1) Melakukan observasi kegiatan pembelajaran materi menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan media abakus yang meliputi : konsep nilai tempat (ribuan, ratusan, puluhan, satuan), cara mengunakan abakus dalam penjumlahan (dengan menjumlahkan satuannya terlebih dahulu kemudian puluhan, ratusan, dan ribuan) dan pengurangan (dengan mengurangkan satuannya terlebih dahulu kemudian puluhan, ratusan, dan ribuan)

2) Pengamatan terhadap kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan sebelum dan sesudah penggunaan media abakus

d. Tahap Refleksi

Refleksi dilakukan setelah mengadakan pengamatan. Jika tindakan belum tercapai secara optimal, maka perlu adanya perbaikan pada siklus II.

2. Siklus II a. Tahap Rencana

1) Guru mengidentifikasi dan merumuskan masalah berdasarkan masalah pada refleksi siklus I

2) Membaca sumber yang dapat membuat pembelajaran melalui media abakus sehingga motivasi siswa tinggi, kreatif dan menimbulkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran

3) Guru menyiapkan rencana pembelajaran menghitung penjumlahan dengan dua kali teknik menyimpan dan pengurangan dengan dua kali teknik meminjam dengan media abakus (lampiran 7)

(41)

4) Membuat lembar observasi kegiatan untuk guru dalam mengajar (lampiran 11) dan aktivitas siswa dalam pembelajaran (lampiran 12)

5) Mendesain alat evaluasi (lampiran 16) b. Tahap Tindakan

Pemantapan penggunaan media abakus dengan memperbanyak penyajian media abakus

c. Observasi

melakukan observasi kembali terhadap proses pembelajaran menghitung penjumlahan dengan dua kali teknik menyimpan dan pengurangan dengan dua kali teknik meminjam dengan menggunakan media abakus. Dalam observasi ini yang diutamakn yaitu cara penggunaan dan pemahaman konsep tentang pembelajaran materi penjumlahan dengan duakali teknik menyimpan dan pengurangan dengan dua kali teknik meminjam dengan media abakus

d. Refleksi

kegiatan ini peneliti menganalisis hasil pada siklus II berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dengan indikator kinerja. Dalam analisis ini peneliti melakukan kolaborasi dengan pengamat yang lain agar hasil analisis dapat lebih teliti. Hasil refleksi ini dilakukan sebagai tindak lanjut dan untuk memperbaiki pada siklus ketiga.

3. Siklus III a. Tahap Rencana

1) Guru mengidentifikasi dan merumuskan masalah berdasarkan masalah pada refleksi siklus II dengan lebih melibatkan siswa dalam penyampaian materi penjumlahan dengan dua kali teknik menyimpan dan pengurangan dengan dua kali teknik meminjam dengan media abakus

2) Membaca sumber yang dapat membuat pembelajaran melalui media abakus agar motivasi siswa tinggi, kreatif dan menimbulkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran

(42)

3) Guru menyiapkan rencana pembelajaran menghitung penjumlahan dengan dua kali teknik menyimpan dan pengurangan dengan dua kali teknik meminjam dengan media abakus (lampiran 8)

4) Mendesain alat evaluasi (lampiran 16) dan lembar observasi siswa (lampiran 12)

b. Tahap Tindakan

Pemantapan penggunaan media abakus dengan memperbanyak penyajian media abakus

c. Observasi

melakukan observasi kembali terhadap proses pembelajaran menghitung penjumlahan dengan dua kali teknik menyimpan dan pengurangan dengan dua kali teknik meminjam dengan menggunakan media abakus. Dalam observasi ini yang diutamakn yaitu cara penggunaan dan pemahaman konsep tentang pembelajaran materi penjumlahan dengan dua kali teknik menyimpan dan pengurangan dengan dua kali teknik meminjam dengan media abakus

d. Refleksi

Refleksi dilakukan setelah melakukan tindakan. Jika tindakan sudah tercapai secara optimal maka siklus dihentikan. Berdasarkan hasil refleksi ini dapat diketahui kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga dapat digunakan untuk menentukan tindakan kelas pada siklus berikutnya.

Bila hasil refleksi dan evaluasi siklus I menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas III SD, maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus II. Namun, apabila belum memperlihatkan adanya peningkatan menghitung pejumlahan dan pengurangan siswa kelas III SD, maka dibuat siklus II yang meliputi : tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi tindakan dan tahap refleksi. Hasil refleksi siklus III ini digunakan untuk menentukan hasil hipotesis penelitian yang sudah ada.

Gambar

Tabel 1 : Pencapaian nilai mata pelajaran Matematika  Pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan  No  Rentang Nilai  Jumlah Siswa  Keterangan
Gambar 2. Model Abakus
Gambar 7. Penjumlahan Bilangan dengan Abakus P
Gambar 8. Penjumlahan Bilangan dengan Abakus
+7

Referensi

Dokumen terkait

Program Percepatan Belajar ( Accelerated Learning ) adalah suatu program layanan pendidikan khusus untuk siswa dengan kecerdasan di atas rata-rata sehingga dapat

Dalam setiap pembelajaran ada tujuan yang ingin dicapai. Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui “Pembelajaran Lempar Lembing pada Siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama

Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai rata-rata Bahasa Indonesia kelas II yaitu 57,56 dengan batas ketuntasan minimalnya (KKM) yaitu 65. Rendahnya hasil belajar

Berarti pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran serta motivasi siswa akan mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa1.

Untuk mencapai keberhasilan siswa dalam mencapai KKM tersebut pada materi sel ini timbulah keinginan untuk mencoba dengan model pembelajaran baru sehingga mungkin

Tujuan metode drill agar siswa dapat secara langsung memahami materi yang diajarkan guru, guru perlu merumuskan tujuan yang jelas yang hendak dicapai oleh siswa. Metode

Hal ini berarti media pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran disertai keaktifan siswa dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa..