GEOPOLITIK &
OTONOMI DAERAH
Ciri Khas Indonesia : diapit 2 samudera
(India & Pasifik) dan 2 benua (Asia &
Australia), dibawah orbit Geostationary
Satelite Orbit
Negara Nusantara (kepulauan) nusa
diantara air
Benua Maritim Indonesia
Geopolitik Indonesia = Wawasan Nusantara
Pengertian :
Kata wawasan berasal dari kata
wawas
(bahasa Jawa) yang berarti
pandangan, tinjauan atau penglihatan indrawi, ditambahkan akhiran (an)
bermakna cara pandang, cara tincau atau cara melihat.
kata Nusantara terdiri dari kata
nusa
dan
antara.
Kata nusa artinya pulau
atau kesatuan kepulauan. Antara menunjukkan letak antara dua unsur.
Nusantara artinya kesatuan kepulauan yang terletak antara dua benua yakni
Asia dan Australia dan dua samudera yakni; samudera Hindia dan samudera
Pasifik.
Sedangkan pengertian yang digunakan sebagai acuan pokok ajaran dasar
Wawasan Nusantara sebagai geopolitik Indonesia
adalah cara pandang dan
sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba
beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan
kesatuan wilayah dengan tetap menghargai dan menghormati kebhinekaan
dalam setiap aspek kehidupan nasional untuk mencapai tujuan nasional.
HAKEKAT
KEDUDUKAN
FUNGSI
TUJUAN
HAKEKAT WAWASAN NUSANTARA
bersikap dan bertindak secara utuh menyeluruh dalam
lingkup dan demi kepentingan bangsa termasuk
produk-produk yang dihasilkan oleh lembaga negara
Wawasan Nusantara merupakan ajaran yang diyakini
kebenarannya oleh seluruh rakyat dengan tujuan agar
tidak terjadi penyesatan dan penyimpangan dalam
rangka mencapai dan mewujudkan tujuan nasional.
Sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta
rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan,
keputusan, tindakan dan perbuatan, baik bagi
penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah
maupun bagi seluruh rakyat dalam kehidupan
bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.
Mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala
bidang dari rakyat Indonesia yang lebih
mengutamakan kepentingan nasional dari pada
kepentingan orang perorangan, kelompok, golongan,
PANCASILA
UUD 1945
Wawasan
Nusantara
Ketahanan
Nasional
GBHN
KEDUDUKAN WAWASAN
NUSANTARA
Landasan Idil
(Dasar Negara)
Landasan Konstitusional
(Konstitusi Negara)
Landasan Visional
(Visi Bangsa)
Landasan Konsepsional
(Konsepsi Bangsa)
Kesatua n Wilayah Kesatua n Wilayah Kesatua n Bangsa Kesatua n Bangsa Kesatua n Ideologi Kesatua n Ideologi Kesatua n Hukum Kesatua n Hukum Kesatua n Ekonom i Kesatua n Ekonom i Kesatua n Sosial Kesatua n Sosial Kesatua n Budaya Kesatua n Budaya Kesatua n Psikolo gi Kesatua n Psikolo gi
Kedudukan wawasan nusantara
sebagai salah satu konsepsi
ketatanegaraan RI
Diperlukan kesadaran WNI untuk :
1.
Mengerti
,
Memaham
i
,
Menghayati
tentang hak dan kewajiban
warganegara serta hubungan warga negara dengan negara, sehingga sadar
sebagai bangsa Indonesia.
2.
Mengerti
,
Memahami
,
Menghayati
tentang bangsa yang telah
menegara, bahwa dalam menyelenggarakan kehidupan memerlukan konsepsi
wawasan nusantara sehingga sadar sebagai warga negara yang memiliki cara
pandang.
Agar ke-2 hal dapat terwujud diperlukan sosialisasi dengan program yang
teratur, terjadwal dan terarah.
12 PULAU TERLUAR
RAWAN DI KUASAI NEGARA TETANGGA
NO NAMA PULAU SPESIFIKASI NEGARA TETANGGA RAWAN 7 P. MARAMPIT
Kab. Talaud Sulawesi Utara
Penduduk + 1436 jiwa
Luas : + 12 km²
Filipina
Belum ada sarana Illegal FishingEffective Occupation 8 P. FANI
Kab. Raja Ampat Papua
Ada penduduk
Luas : + 9km² Palau220 km² dari Sorong 35 jam pelayaran
Illegal Fishing Effective Occupation 9 P. FANILDO
Kab. Biak Numfar Papua
Tak ada penduduk
Luas : + 9 km² Palau280 km dari Kabupaten Illegal FishingEffective Occupation 10 P. BRAS
Kab. Biak Numfor Papua
Penduduk + 50 jiwa
Luas : + 3.375 km Republik PalauJarak dari Kab 280 km dari P. Supriori 240 km
Illegal Fishing Effective Occupation 11 P. DANA
Kab. Kupang Nusa Tenggara Timur
Tak Ada Penduduk Dari P. Rote 4 km Dari Kupang 120 km
Australia
Pintu masuk ALKI III Illegal FishingEffective Occupation
12 P. BATEK Kab. Kupang Nusa Tenggara Timur
Tak ada Penduduk Luas : + 25 ha Tempat Penyu bertelur
Migrasi Lumba-lumba
Timor Leste
Sebelah Utara ALKI III
Kondisi Geografis Indonesia yang berupa kepulauan berpotensi /
rawan ancaman – ancaman dari dalam dan luar dalam
mempertahankan keutuhan NKRI
Kesatu an Wilaya h Kesatu an Wilaya h Kesatu an Bangsa Kesatu an Bangsa Kesatu an Ideolog i Kesatu an Ideolog i Kesatu an Hukum Kesatu an Hukum Kesatu an Ekono mi Kesatu an Ekono mi Kesatu an Sosial Kesatu an Sosial Kesatu an Budaya Kesatu an Budaya Kesatu an Psikolo gi Kesatu an Psikolo gi
Kaitan wawasan nusantara
dengan otonomi daerah
WAWASAN
NUSANTAR
Wawasan Nusantara menghendaki adanya persatuan bangsa dan keutuhan
wilayah nasional. Pandangan untuk tahap perlunya persatuan bangsa dan keutuhan wilayah ini merupakan modal berharga dalam melaksanakan pembangunan. Wawasan nusantara juga mengajarkan perlunya kesatuan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem budaya, dan sistem pertahanan keamanan dalam lingkup negara nasionalIndonesia. Cerminan dari semangat persatuan itu diwujudkan dalam bentuk negara
kesatuan. Namun demikian semangat perlunya kesatuan dalam berbagai aspek kehidupan itu jangan sampai menimbulkan negara kekuasaan. Negaramenguasai segala aspek kehidupan bermasyarakat termasuk
menguasaihak dan kewenagan yang ada didaerah-daerah di Indonesia. Tiap-tiapdaerah sebagai wilayah (ruang hidup) hendaknya diberi
kewenanganmengatur dan mengelola sendiri urusannya dalam rangaka mendapatkankeadilan dan kemakmuran.Oleh karena itulah, dalam
menyelenggarakan pemerintahannya NegaraKesatuan Republik Indonesia menganut asas desentralisasi, bukansentralisasi. Desentralisasi artinya, penyerahan urusan pemerintah dari ataskepada pemerintah di bawahnya untuk menjadi urusan rumah tangganya. Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi dalam penyelenggaran pemerintahan memberikan kesempatan dan keeluasaan kepada daerahuntuk menyelenggarakan kekuasaan.
Kekuasaan terbagi antara pemerintah pusat dan daerah. Daerah memiliki hak otonomi untuk menyelenggarakankekuasan. Desentralisasi inilah yang
menghasilkan otonomi daerah diIndonesia.
Otonomi Daerah :
Adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Daerah Otonom :
Kesatuan hukum yang mempunyai batas – batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarasa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam
sistem NKRI.
•
Penyerahan wewenang pemerintah
pusat kepada daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dalam system NKRI
Desentralisasi
Desentralisasi
•
Pelimpahan wewenang pemerintah
oleh pemerintah pusat kepada
gubernur sebagai wakil pemerintah
pusat dan atau kepada instansi vertical
wilayah tertentu.
Dekonsentras
i
Dekonsentras
i
•
Penugasan dari pemerintah pusat
kepada daerah dan atau desa, dari
pemerintah provinsi kepada
kabupaten/kota desa untuk
melaksanakan tugas perbantuan
Tugas
Perbantuan
Tugas
Perbantuan
Otonomi Daerah berpijak pada dasar Perundang-undangan yang kuat, yakni :
Dasar Hukum Otonomi Daerah
1. UUD 1945 (Amandemen Kedua tahun 2000)
2. Ketetapan MPR RI
3. Undang-Undang
UUD 1945 Bab VI Pasal 18.jpgUUD 1945 Bab VI Pasal 18 A, 18 B.jpg
Ketetapan MPR RI No. XV-MPR-1998.pdf
Prinsip Otonomi Daerah
Menurut penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, prinsip penyelenggaraan otonomi daerah adalah :
penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan keaneka ragaman daerah.
Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan
bertanggung jawab.
pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah dan daerah kota, sedangkan otonomi provinsi adalah otonomi yang
terbatas pada daerah lingkup provinsi.
Pelaksanaan otonomi harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah.
Prinsip, Hakekat, dan Tujuan
otonomi daerah
Prinsip Otonomi
Prinsip Otonomi
Seluas-luasnya
Seluas-luasnya
Nyata
Nyata
Bertanggung
Jawab
Hakekat Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya adalah upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melaksanakan
kegiatan-kegiatan pembangunan sesuai dengan kehendak dan
kepentingan masyarakat.
Prinsip, Hakekat, dan Tujuan
otonomi daerah
Tujuan Otonomi Daerah
Menurut Mardiasmo (Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah) Adalah: Untuk meningkatkan pelayanan publik (public service) dan
memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yaitu:
A. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
Reformasi UU tentang Pemerintahan
Daerah
Sejak reformasi, kita telah dua kali membentuk UU yang berkaitan dengan
Pemerintahan Daerah, yaitu UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 32 Tahun
2004 yang telah beberapa kali diubah terakhir melalui lahirnya UU No. 12
Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.
Dengan diberlakukannya
UU No. 32 Tahun 2004
, maka dilakukan
penataan
pembagian urusan pemerintahan yang makin jelas antara Pemerintah Pusat
dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota
. Seperti
diketahui, UU No. 32 Tahun 2004 menerapkan konsep urusan secara
konkuren (
concurrent functions
) antara Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
Setiap urusan dibagi berdasarkan kriteria tersebut,
melahirkan urusan yang
ditangani oleh pihak pusat, provinsi, dan kabupaten/kota
.
UU tentang otonomi daerah
Kewenangan Pemerintah Pusat
1. Merumuskan kebijakan perencanaan nasional
2. Mengendalikan dan mengawasi pembangunan nasional
3. Mengalokasikan dan mendistribusikan sumber daya strategis yang meliputi pendanaan, SDM, dan Teknologi
4. Hal yang diatur pemerintah pusat meliputi politik luar negeri, hankam, peradilan dan moneter
Kewenangan Pemerintah Daerah Otonom (Propinsi)
1. Mengatur dan Mengurus kewenangan lintas kabupaten / kota
2. Menyelenggarakan kewenangan pemerintah pusat yang dilimpahkan dalam rangka dekonsentrasi
Kewenangan Pemerintah Daerah Otonom (Kota/Kab)
1. Mengurus Rumah Tangga
2. Merencanakan dan melaksanakan pembangunan daerah 3. Memberikan pelayanan kepada masyarakat
4. Mengembangkan sumber daya daerah
5. Menumbuhkan dan memperkuat kemampuan ekonomi daerah
Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia masih banyak kekurangan yang
mewarnai pelaksanaan otonomi daerah seperti kurangnya koordinasi pusat dan daerah serta masalah – masalah lain yang kemudian berdampak
terhadap masyarakat itu sendiri. Keinginan untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang baik melalui otonomi daerah memang bukanlah hal yang mudah, masih banyak hal yang perlu diperhatikan untuk dapat menciptakan otonomi daerah yang maksimal demi menciptakan pemerintahan khususnya pemerintahan daerah yang lebih baik.
Dikutip dari (REPUBLIKA.CO.ID, oleh:Rudy Siregar (Wakil Komite Tetap
Advokasi Hukum Kadin)
Pelaksanaan otonomi daerah di era reformasi ini seperti pedang bermata
dua. Di satu sisi,otonomi daerah diterapkan dengan harapan bahwa
pemerintah daerah di seluruh indonesia memiliki kewenangan atau otonomi untuk mengembangkan ekonomi dan potensi daerahnya masing – masing yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, tetapi di sisi lain, pemberian otonomi daerah ternyata berkembang menjadi pundi-pundi uang bagi koruptor. Kekuasaan atau otonomi yang diberikan kepada para kepala daerah merangsang para pengusaha, birokrasi dan politisi untuk berlomba-lomba meraih posisi strategis ini, Akibatnya,terdapat
fenomena banyaknya kepala daerah yang dipenuhi oleh orang-orang yang tidak kompeten dan tidak memiliki rasa tanggung jawab kepada publik.
Permasalahan tersebut sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh
Kementerian Dalam Negeri yang dipublikasikan pada bulan Mei
2012, terdapat sekitar 173 kepala daerah yang tersangkut kasus
korupsi. Dan pada bulan November 2012,data dari Mahkamah
konstitusi menyebutkan bahwa ada sekitar 240 kepala daerah yang
memiliki permasalahan hukum.
Meningkatkatnya jumlah kepala daerah yang tersangkut kasus hukum
perlu dijadikan warning bagi pemerintah dan para penegak hukum
bahwa praktik korupsi di tanah air sudah mencapai eskalasi yang
mengkuatirkan. Perkembangan pelaksanaan otonomi daerah
membuat pola korupsi baru,yakni desentralisasi korupsi yang
diwarnai dengan maraknya fenomena raja-raja kecil di daerah yaitu
kepala daerah yang kekuasaanya sering tidak bisa dikontrol oleh
pemerintah pusat. Fenomena ini tidak boleh disepelekan, karena
memberikan dampak negatif bagi perkembangan ekonomi di daerah.
Dampak Positif dan negatif
DAMPAK POSITIF
dan DAMPAK NEGATIF
Dampak positif
dalam bidang politik adalah sebagian besar
keputusan dan kebijakan yang berada di daerah dapat diputuskan
di daerah tanpa adanya campur tangan dari pemerintahan di
pusat. Hal ini menyebabkan pemerintah daerah lebih aktif dalam
mengelola daerahnya.
Tetapi,
dampak negatif
yang terlihat dari sistem ini adalah
euforia yang berlebihan di mana wewenang tersebut hanya
mementingkat kepentingan golongan dan kelompok serta
digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau oknum. Hal
tersebut terjadi karena sulit untuk dikontrol oleh pemerintah di