SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Oleh:
Patricius Daru Nakula NIM: 061124023
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN
KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
Dengan penuh syukur kepada Allah Bapa di Surga, kupersembahkan skripsiku ini untuk keluarga besarku,
kedua orangtuaku Bapak Sukiman Laurentius dan Ibu Yoanita Sumiyati; saudara, saudariku Petrus Chanel Danan Jaya, Cyrillus Daru Sadewa, Vincentia
v
“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk
vi
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 07 April 2011
Penulis
vii
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:
Nama : Patricius Daru Nakula NIM : 061124023
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM UPAYA
MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA.
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta, 07 April 2011 Yang menyatakan,
viii
Skripsi ini berjudul PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA. Judul ini dipilih bedasarkan kenyataan bahwa dewasa ini banyak keprihatinan yang terjadi di sekitar tempat tinggal kita baik itu akibat kemiskinan, bencana alam, pengangguran, dll. Dari keprihatinan-keprihatinan tersebut diperlukan suatu sikap yang dapat menggerakkan seseorang untuk peduli dan peka terhadap apa yang dirasakan orang lain. Salah satu sikap yang dapat dikembangkan ialah dengan mewujudkan sikap solider terhadap sesama yang sedang mengalami keprihatinan. Sikap solider dapat dijumpai dalam proses pembelajaran yang ada di sekolah. Ada beberapa mata pelajaran yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap solider. Salah satu mata pelajaran yang dirasa dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap solider ialah Pendidikan Agama Katolik.
SMA Pangudi Luhur merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dalam rangkaian proses pendidikan. Dari situasi tersebut maka penulis berusaha untuk menemukan peranan Pendidikan Agama Katolik di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dalam mengembangkan sikap solider siswa. Untuk memperoleh gambaran tentang sikap solider siswa kelas X dan sejauhmana peranan Pendidikan Agama Katolik dalam mengembangkan sikap solider siswa kelas X di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta maka penulis mengadakan penelitian. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah 60 siswa yang mewakili 6 kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Dari hasil penelitian terungkap tentang gambaran sikap solider siswa di kelas X dan sejauhmana peranan Pendidikan Agama Katolik dapat mengembangkan sikap solider siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
ix
This paper is titled CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION AS A MEANS OF EXPANDING X GRADE STUDENTS OF PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA’S SOLIDARITY. This title was chosen based on the fact that there are many concerns happen around us these days, caused by poverty, nature disaster, unemployment, and other concerns. Set out from the concerns, certain action that can motivate someone to be more care and sensitive about what other people feel is highly needed. One action that can be expanded is bringing the solidarity to concerned people into reality. The solidarity can be seen during the learning process in school. There are some subjects which can help students expanding their solidarity. One of them is Catholic Education subject.
Pangudi Luhur Senior High School is one of many schools which have Catholic Religious Education subject in their educational process. Set out from that situation, the writer tried to find the contribution of Catholic Religious Education in Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta in expanding students’ solidarity. To get the illustration of X grade students’ solidarity and to know how far the contribution of Catholic Religious Education in expanding X grade students of Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta’s solidarity is, the writer conducted a research. In this research, there are 60 students chosen as the sample, representing six class of X grade in Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta. From the result, the illustration of X grader’s solidarity and the contribution of Catholic Religious Education in expanding X grade students of Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta is revealed.
In this final paper, the writer also gave contribution in thinking to the process of Catholic Religious Education in expanding X grade students of Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta’s solidarity. Those contribution in thinking included the purpose, materials, Catholic Religious Education methods, which can be used to increase students’ solidarity. On the last part of those contributions in thinking, the writer prepared four lesson plans which can be used to increase students’ solidarity.
x
Segala puji syukur atas limpahan berkat dan anugerah dari Allah Bapa di surga, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Drs. FX. Heryatno Wono Wulung, S.J., M.Ed. selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan kepada penulis dengan sabar. Terima kasih atas segala motivasi, saran, dan kritik selama penyusunan skripsi ini.
2. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. selaku dosen wali II yang telah bersedia membimbing dengan penuh kesabaran dan memberikan petunjuk berupa saran-saran dan kritikan demi kemajuan penulis, perhatian, dorongan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.
3. Sr. Krisanti, CB, S.pd., M.Pd. selaku dosen penguji yang telah bersedia mendampingi penulisan skripsi, serta memberikan pengarahan dengan penuh kesabaran.
4. Drs. Br. Herman Yoseph, FIC. selaku kepala sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dan Drs. B. Sumarno, SFK, S.Kom, selaku guru Pendidikan Agama Katolik yang telah membantu saya untuk mengadakan penelitian. 5. Segenap dosen dan seluruh karyawan Prodi IPPAK Falkutas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.
xi
skripsi.
7. Teman dekatku Winda Puspita Sari, yang telah memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat angkatan 2006 di IPPAK; Antonius Yogi, Dismas Fersandika, Catur Setya, Icok Ragil Prasetya, Br. Hariyadi, FIC., Sr. Eufrasia, CB., Katharina Chandra Dewi, Lilis Yuniarwati, Oliva Luaq, Maria Veronica, Gerardus Basty Kellen, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini namun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada skripsi ini. Saran dan kritik selalu penulis harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kemajuan dan perkembangan pendidikan dan pembaca pada umumnya.
Penulis
xii
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……… ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO……… .. v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR SINGKATAN ... xvi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penulisan ... 6
D. Manfaat Penulisan ... 7
E. Metode Penulisan ... 7
F. Sistematika Penulisan………... .. 8
BAB II. POKOK-POKOK PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH ……… ... 10
A. Pokok- Pokok Pendidikan Agama Katolik………… ... 11
1. Pengertian Pendidikan Agama Katolik……… ... 11
2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik ….………….. ... 13
3. Bahan Pendidikan Agama Katolik ... 15
4. Model Pendidikan Agama Katolik ... 17
B. Peranan Guru Agama Di Sekolah……… ... 18
xiii
4. Guru Agama Sebagai Saksi Iman……… .. 22
BAB III. GAMBARAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X DAN SUMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA………….…………... 23
A. Gambaran Umum Situasi Sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. 24 1. Sejarah Singkat SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ... 24
2. Situasi Fisik SMA Pangudi Luhur Yogyakarta……… . 25
3. Situasi Akademis SMA Pangudi Luhur Yogyakarta……… . 26
a. Visi dan Misi ... 26
b. Kegiatan Ekstrakurikuler dan Kegiatan Rutin ... 28
1) Retret dan Rekoleksi ... 28
2) Study Tour Dalam Provinsi ... 29
3) Study Tour Luar Provinsi ... 29
c. Struktur Organisasi ... 30
B. Keadaan Siswa Kelas X ……….………..……...……….. 31
1. Jumlah Siswa………... 31
2. Agama……… 31
3. Keadaan Sosial- Ekonomi Keluarga Siswa……… 31
4. Gambaran Keadaan Komunikasi Siswa Kelas X……… 32
C. Sikap Solider Di Dalam Hidup Siswa... 32
1. Pengertian Sikap Solider ... 32
2. Pentingnya Sikap Solider Dalam Hidup Siswa ... 33
D. Penelitian Tentang Sumbangan Pendidikan Agama Katolik Dalam Upaya Mengembangkasn Sikap Solider Siswa Kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ………... 34
1. Latar Belakang Penelitian………... 34
2. Tujuan Penelitian ... 35
3. Metodologi Penelitian ……… ... .. 35
a. Tempat dan Waktu Penelitian ... .. 36
xiv
1. Laporan Umum……….... ... 37
2. Laporan dan Pembahasan Menurut Variabel……….…. 38
a. Gambaran Situasi Siswa dan Sikap Solider Siswa Kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ... 38
b. Peranan Pendidikan Agama Katolik Dalam Mengembangkan Sikap Solider Siswa ... 44
F. Kesimpulan Hasil Penelitian ... 51
BAB IV. UPAYA PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM RANGKA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X………... 53
A. Tujuan Pendidikan Agama Katolik Demi Pengembangan Sikap Solider Siswa ... 54
B. Materi Pendidikan Agama Katolik Yang Mendukung Peningkatan Sikap Solider Siswa Kelas X………… ... 55
1. Aku Memiliki Kelebihan Kekurangan ... 56
2. Sebagai Citra Allah Aku Dan Sesama Adalah Saudara ... 57
3. Hati Nurani ... 57
4. Pembinaan Suara Hati ... 57
C. Metode-Metode Pendidikan Agama Katolik Guna Meningkatkan Sikap Solider Siswa ... 58
1. Metode Observasi Langsung ... 59
2. Metode Diskusi ... 59
3. Metode Praktek ... 60
4. Metode Refleksi ... 61
D. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Dalam Mengembangkan Sikap Solider Siswa SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ... 62
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I ………. .. 64
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II ……… .. 74
3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III ... 81
xv
B. Saran-saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
LAMPIRAN ... 101
Lampiran 1: Surat ijin penelitian ... (1)
Lampiran 2: Surat keterangan pelaksanaan penelitian ... (2)
Lampiran 3: Soal kuesioner penelitian ……… ... (3)
Lampiran 4: Contoh jawaban kuisioner siswa Kelas X ... (8)
xvi
A. Singkatan Kitab Suci
Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini meliputi Kitab Suci
Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada
Umat Katolik Indonesia oleh Ditijen Bimas Katolik Departemen Agama Republik
Indonesia dalam rangka PELITA 1V). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.
B. Singkatan dalam Dokumen Gereja
GE :Gravissimum Educationis, Pernyataan Uskup Paulus di dalam
Dokumen Konsili Vatikan II Tentang Pendidikan Kristen yang
dikeluarkan di gereja Santo Petrus Roma, 28 Oktober 1965.
C. Singkatan Lain
Art : Artikel
AC : Air Conditioner
Bdk : Berdasarkan
Br : Bruder
D.I.Y : Daerah Istimewa Yogyakarta
FIC : Fractum Immaculatum Conceptuionis
GBHN : Garis Besar Haluan Negara
xvii
OSIS : Organisasi Siswa Induk Sekolah
PPL : Program Pengalaman Lapangan
SD : Sekolah Dasar
SGAK : Sekolah Guru Agama Katolik
SLB : Sekolah Luar Biasa
SMA : Sekolah Menengah Atas
SPG : Sekolah Pendidikan Guru
TK : Taman Kanak-Kanak
TU : Tata Usaha
UPT-MPK : Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini banyak keprihatinan yang melanda negara kita. Kita dapat
menemui banyak keprihatinan yang disebabkan oleh kemiskinan, bencana alam, dll.
Banyak orang menjadi korban dari keprihatinan yang terjadi dewasa ini. Banyak anak
yang terpaksa harus putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarga yang tidak
mendukung dalam pembiayaan anak di bangku sekolah. Jurang kekayaan antara
golongan menengah atas dengan menengah ke bawah makin hari makin lebar saja.
Banyak orang yang seakan tidak mau peduli terhadap keprihatinan yang terjadi di
tengah situasi kemiskinan sekarang ini. Untuk mengatasi keprihatinan di atas
diperlukan suatu sikap peduli terhadap keprihatinan yang dirasakan oleh sesama.
Salah satu wujud kepedulian terhadap keprihatinan yang dirasakan oleh sesama kita
ialah dengan bersikap solider dan berempati terhadap keprihatinan yang dirasakan
oleh orang lain.
Br. Yustinus Triyana, S.J., dalam materi seminar ”Pendidikan Karakter Dalam
Konteks Pengembangan Kekuatan Transformasi Masyarakat” mengatakan bahwa
empati merupakan identifikasi dengan pikiran, perasaan, atau pengalaman seseorang.
Empati terjadi dengan jalan seakan-akan orang mengalami apa yang dialami orang
lain. Empati ini muncul karena pengalaman kita memahami segala sesuatu dari sudut
pandang orang lain (UPT-MPK, 2010:14)
Sikap solider dapat ditanamkan dan dilatih ke dalam diri anak-anak sejak usia
sikap solider juga bisa ditanamkan lewat lingkup pendidikan iman di sekolah.
Pendidikan iman merupakan sesuatu yang penting bagi perkembangan hidup
manusia. Salah satu cara untuk memperoleh pendidikan iman dalam dunia pendidikan
ialah dengan mengikuti pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama merupakan
salah satu mata pelajaran yang ada di dalam sekolah. Dari Sekolah Dasar sampai
dengan Sekolah Menengah Atas siswa memperoleh pendidikan agama untuk
memperkembangkam iman mereka. Selain untuk memperkembangkan iman,
pendidikan agama juga diharapkan dapat memperkembangkan pribadi siswa secara
utuh.
Di dalam lingkungan sekolah Katolik, pendidikan agama yang diberikan ialah
Pendidikan Agama Katolik. Melalui Pendidikan Agama Katolik di sekolah, siswa
diharapkan dapat terbantu untuk menemukan kesesuaian antara iman dengan
kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama dipahami sebagai salah satu perwujudan
iman. Iman yang sejati menggerakkan seseorang untuk berjuang demi transformasi
sosial. Menurut Romo Van Lith selain memperkembangkan martabat hidup
seseorang, pendidikan harus membantu para peserta didik untuk menjadi
pelaku-pelaku perubahan sosial (bdk. Banawiratma, 1991:29-31). Dalam hal ini transformasi
sosial merupakan cara atau sarana yang membantu siswa untuk menumbuhkan sikap
perduli terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain. Groome di dalam buku Heryatno
yang berjudul ”Pokok- pokok Pendidikan Agama Katolik Di Sekolah” mengatakan
bahwa salah satu sifat dasar pendidikan yang dapat ditekankan dalam Pendidikan
Agama Katolik ialah kegiatan yang bersifat politis (Heryatno, 2008: 14-18).
Pendidikan yang bersifat politis ini mengajak semua pihak yang terlibat di
dalamnya sebagai makhluk sosial dengan penuh kesadaran mengambil bagian dalam
saling mendukung. Sifat ini mendorong peserta didik untuk berfikir kritis, beriman
dewasa dan memiliki keprihatinan dalam permasalahan sosial yang ada di sekitarnya
(Heryatno, 2008: 18).
Ada tiga hal yang dapat dipandang sebagai orientasi atau tujuan Pendidikan
Agama Katolik: yaitu demi terwujudnya Kerajaan Allah di tengah kehidupan
manusia, demi kedewasaan iman, dan demi kebebasan manusia. Yang ditekankan
dalam Pendidikan Agama Katolik bukan pengajaran agama saja tetapi proses
perkembangan (dan pendewasaan) iman, harapan dan kasih. Pendidikan Agama
Katolik juga dipahami sebagai proses pendidikan dalam iman yang diselenggarakan
oleh Gereja, sekolah, keluarga, dan kelompok jemaat beriman lainnya yang bertujuan
agar pribadi siswa dapat semakin beriman pada Tuhan Yesus Kristus sehingga
nilai-nilai Kerajaan Allah dapat terwujud di tengah-tengah hidup mereka. Kerajaan Allah
di sini dipahami sebagai kekuatan Allah sebagai Tuhan pencipta yang
menyelenggarakan dan menyelamatkan umat manusia. Kekuatan di sini dipahami
sebagai sifat utama Allah yang penuh belas kasih, sabar, dan setia untuk mewujudkan
keadilan, kedamaian, cinta kasih dalam hidup manusia (Heryatno, 2008: 25-26)
Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dapat dikatakan berhasil jika
tujuan-tujuan Pendidikan Agama Katolik terpenuhi. Salah satu tujuan yang terdapat
dalam buku Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik untuk
SMU/SMK Buku Guru I ialah siswa mampu berperilaku, bertindak dan berkembang
dalam kepribadian sesuai dengan ajaran imannya (Komkat KWI 2007:5). Tujuan
Pendidikan Agama Katolik tersebut mengarahkan agar para siswa nantinya dapat
memperkembangkan dan mewujudnyatakan ajaran iman Katolik yang mereka miliki
dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain iman peserta didik yang diwujudkan
Perkembangan iman peserta yang utuh merupakan salah satu hal yang sangat
penting. Pendidikan Agama Katolik dipahami sebagai komunikasi penghayatan iman
atau pengalaman iman yang tentunya akan memperkaya dan meneguhkan iman
peserta didik. Iman yang sungguh dihayati dapat menggerakkan seseorang untuk
bersikap belas kasih, berbuat kebaikan pada sesamanya, peka dan perduli pada yang
miskin serta menderita. Iman yang sejati juga dapat membuat seseorang rindu dan
ingin dekat dengan Tuhannya. Iman dalam diri seseorang dapat menggerakkan hidup,
memberi dasar kepada harapan dan dinyatakan dalam kasih terhadap sesamanya.
Kasih terhadap sesama merupakan salah satu bentuk perwujudan nilai-nilai Kerajaan
Allah di tengah-tengah hidup manusia.
Dalam pembaharuan pendidikan nasional yang didasarkan pada GBHN
pemerintah juga menjunjung tinggi dan mementingkan pendidikan agama di sekolah.
Pendidikan agama juga memiliki kedudukan yang sepadan dengan mata pelajaran
lain. Pendidikan tidak hanya mempersiapkan peserta didik untuk mendapatkan
pekerjaan tetapi lebih-lebih untuk menjalankan dan memperkembangkan kehidupan.
Hal-hal mendasar yang diperlukan oleh peserta didik untuk hidup itulah yang
ditekankan di dalam pendidikan.
Sikap solider yang dimiliki oleh setiap individu akan membawa individu
tersebut ke dalam penemuan identitas diri. Penemuan identitas diri dalam diri
seseorang melalui suatu proses yang diperoleh dalam pengalaman hidup sehari-hari.
Identitas diri ini dapat diperoleh dengan cara melatih dan mengembangkan segi
spiritual yang ada pada diri seseorang. Penemuan identitas diri siswa di dalam
lingkungan sekolah dapat diperoleh dari pendidikan yang bervisi spiritual.
Pendidikan yang bervisi spiritual dapat sungguh terwujud jika suasana
dapat dilihat di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
mempunyai visi untuk mewujudkan komunitas iman dengan cara menempatkan Sang
Guru Sejati sebagai pusat hidup dalam upaya membangun persaudaraan sejati serta
menanggung karya bersama dalam pendampingan kaum muda menuju pribadi yang
dewasa, beriman, berpengetahuan, terampil, bermartabat, berbudi pekerti luhur dan
terbuka menghadapi tantangan zaman (http://www.pangudiluhur.org/)
Visi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur di atas memaparkan pentingnya
membangun persaudaraan sejati dalam pendampingan menuju pribadi yang dewasa
dan beriman. Dengan visi tersebut siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan
pribadi yang dewasa dan beriman melalui keseharian mereka. Mengembangkan
pribadi yang dewasa dan beriman dapat diungkapkan dengan mewujudkan kasih
terhadap sesama yang membutuhkan. Perwujudan kasih terhadap sesama ini juga
dapat dilakukan dengan bersikap solider kepada sesama yang membutuhkan.
Di SMA Pangudi Luhur sikap peduli kepada sesama yang membutuhkan telah
dilatih mulai dari Kelas X sampai kelas XII. Setiap hari Jumat pihak sekolah dibantu
oleh OSIS mengedarkan kotak untuk sumbangan terhadap sesama yang
membutuhkan. Dana yang terkumpulkan digunakan untuk membantu sesama yang
membutuhkan dan yang sedang mengalami musibah bencana alam. Mengumpulkan
dana untuk membantu sesama yang membutuhkan hanya merupakan sebagian kecil
dari salah satu bentuk perwujudan sikap solider. Sikap solider bisa dilatih melalui
pendekatan-pendekatan dalam proses belajar.
Dalam proses belajar mengajar kita dapat menggunakan metode-metode yang
mendukung. Salah satu metode yang dapat digunakan yakni dengan observasi untuk
melihat secara langsung keprihatinan yang terjadi, dll. Dengan ikut merasakan
siswa diharapkan dapat tergerak hatinya untuk mengembangkan serta mewujudkan
sikap solider. Lewat metode belajar yang mendukung tersebut diharapkan tujuan dari
Pendidikan Agama Katolik mengenai perkembangan iman yang utuh dalam diri siswa
dapat terwujud.
Pendidikan Agama Katolik merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk
memperkembangkan iman siswa secara utuh. Oleh sebab itu hendaknya Pendidikan
Agama Katolik dapat menjadi sarana untuk memperkembangkan siswa. Berdasarkan
latar belakang di atas penulis memberi judul skripsi ini: PENDIDIKAN AGAMA
KATOLIK DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA
KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA. Lewat Skripsi ini penulis
berharap dapat ikut meningkatkan peranan Pendidikan Agama Katolik dalam
mengembangkan sikap solider siswa kelas X di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan memberi perhatian khusus pada
masalah sebagai berikut :
1. Apa saja pokok-pokok dalam Pendidikan Agama Katolik di sekolah?
2. Sejauh mana sikap solider antar siswa kelas X SMA Pangudi Luhur sudah
terwujud?
3. Bagaimana cara Pendidikan Agama Katolik dalam upaya meningkatkan
sikap solider di SMA Pangudi Luhur?
C. Tujuan Penulisan
2. Mengetahui sikap solider siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
yang sudah terwujud selama ini
3. Mendeskripsikan cara Pendidikan Agama Katolik dalam upaya
mengembangkan sikap solidaritas siswa kelas X SMA Pangudi Luhur
Yogyakarta
D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Bagi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
a. Memberikan gambaran tentang kegiatan dan peranan Pendidikan
Agama Katolik di SMA Pangudi Luhur.
b. Memberikan gambaran tentang sikap solider siswa kelas X di SMA
Pangudi Luhur.
2. Bagi Penulis
a. Mengetahui peranan pendidikan Agama Katolik dalam upaya
mengembangkan sikap solider antar siswa.
b. Membantu penulis dalam menyusun sumbangan pemikiran Pendidikan
Agama Katolik dalam mengembangkan sikap solider siswa.
E. Metode Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis
berdasarkan studi dan analitis pustaka, dilengkapi dengan penelitian yang diperoleh
melalui kuisioner yang dibagikan serta diisi oleh siswa guna mendapatkan gambaran
F. Sistematika Penulisan
Penulisan diolah dalam lima bab dengan menggunakan metode deskriptif
analitis, yaitu dengan mengolah dan menyajikan data yang diperoleh melalui studi
pustaka dan data dari hasil penelitian. Untuk memperoleh gambaran yang jelas
mengenai penulisan ini, penulis akan menyampaikan pokok-pokok sebagai berikut:
BAB I : Bab ini berisi latar belakang penulisan, rumusan masalah,
tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan
sistematika penulisan.
BAB II : Bab ini berisi tentang pokok-pokok dalam Pendidikan Agama
Katolik, antara lain: pengertian tentang Pendidikan Agama
Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik, bahan Pendidikan
Agama Katolik, model Pendidikan Agama Katolik, serta
peranan guru Pendidikan Agama Katolik sebagai sahabat
dalam peziarahan, pendidik hidup beriman, pembimbing
hidup rohani dan sebagai saksi iman.
BAB III : Bab ini menguraikan tentang gambaran umum situasi sekolah
SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dan metodologi penelitian
yang disertai dengan pembahasan hasil penelitian tentang
sikap solider siswa dan peranan Pendidikan Agama Katolik di
kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
BAB IV : Bab ini berisi tentang sumbangan pemikiran terhadap proses
Pendidikan Agama Katolik dalam meningkatkan sikap
solider siswa kelas X yang meliputi: tujuan, materi pokok dan
metode Pendidikan Agama Katolik yang dapat
ini penulis menyusun empat rencana pelaksanaan
pembelajaran yang dapat meningkatkan sikap solider siswa
kelas X.
BAB II
POKOK - POKOK
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH
Dalam bab I dikemukakan bahwa iman yang sejati menggerakkan seseorang
untuk berjuang demi transformasi sosial. Menurut Romo Van Lith selain
memperkembangkan martabat hidup seseorang, pendidikan harus membantu para
peserta didik untuk menjadi pelaku-pelaku perubahan sosial (bdk. Banawiratma,
1991:29-31). Sebagai salah satu bentuk pendidikan iman, Pendidikan Agama Katolik
di sekolah bersifat holistik sehingga dalam proses pelaksanaannya Pendidikan Agama
Katolik diharapkan dapat memperkembangkan dimensi pribadi siswa secara
menyeluruh. Salah satu tujuan dari pendidikan iman ialah terwujudnya Kerajaan
Allah di tengah-tengah hidup mereka.
Kerajaan Allah di sini dipahami sebagai tindakan Allah sebagai Tuhan pencipta
dan penguasa sejarah yang menyelenggarakan dan menyelamatkan umat manusia.
Dalam hal ini tindakan Allah diwujudkan sesuai dengan sifat utama Allah yang penuh
belas kasih, sabar, dan setia serta kehendak Allah akan adanya keadilan, kedamaian,
cinta kasih, dll (Heryatno, 2008: 25-26). Dengan mewujudkan sifat-sifat utama Allah
tersebut, secara tidak langsung siswa juga mewujudkan Kerajaan Allah di
tengah-tengah hidup mereka.
Bab II skripsi ini membahas tentang pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik
di sekolah. Isi dari bab II ini membahas tentang pengertian Pendidikan Agama
Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik, bahan Pendidikan Agama Katolik,
sebagai sahabat dalam peziarahan, pendidik hidup beriman, pembimbing hidup
rohani, dan sebagai saksi iman.
A. Pokok-Pokok Pendidikan Agama Katolik
1. Pengertian Pendidikan Agama Katolik
Pendidikan adalah salah satu usaha yang terus-menerus untuk memungkinkan
manusia semakin memanusiakan dirinya. Pendidikan merupakan usaha untuk
membimbing manusia agar mampu menempuh hidupnya dengan baik. Pendidikan
yang baik adalah pendidikan yang menuju kepada kebaikan, mengenai manusia
seutuhnya dan berlangsung seumur hidup.
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003, pasal 1, ayat 1, dikatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa dan negara. Ini berati bahwa pendidikan dipandang sebagai pilar pembentuk manusia dan perkembangan masyarakat.
UU RI No. 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 1 menegaskan ”Pendidikan agama
bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami
dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama”. Ini
mengandung arti bahwa pendidikan agama memiliki peran yakni menjadi pemandu
dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat.
Menyadari peran pendidikan agama tersebut, maka internalisasi dari nilai-nilai agama
dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah kebutuhan yang ditempuh dalam
Pendidikan agama adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam
pembentukan anak didik agar supaya mereka hidup sesuai ajaran-ajaran agama
(Efendi, 2008: 91).
Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama untuk mewujudkan persatuan nasional (Komisi Kateketik, 2007: 11).
Mary Boys di dalam bukunya Educating in Faith: Maps and Visions
mendefinisikan Pendidikan Agama Katolik sebagai ”the making accesible of the
traditions of the religious community and the making manifest of the interinsic
connection between traditions and tranformation”. Pendidikan Agama Katolik
berperan membuka jalan selebar-lebarnya agar setiap siswa memiliki akses untuk
sampai kepada harta kekayaan iman komunitas (tradisi). Tradisi yang sungguh
dihayati menurut kebutuhan hidup beriman siswa pada suatu zaman tertentu secara
intrinsik dapat memberdayakan mereka dalam memperkembangkan hidup dan
imannya (Heryatno, 2008: 19).
Dari pernyataan Mary Boys tersebut dapat dipahami bahwa Pendidikan Agama
Katolik memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menghayati dan
mengembangkan nilai-nilai ajaran iman Katolik dalam hidup sehari-hari. Nilai-nilai
ajaran iman Katolik yang sangat diutamakan ialah nilai cinta kasih terhadap sesama.
Di sini siswa dapat dilatih untuk mengembangkan nilai cinta kasih terhadap sesama
teman maupun sesama yang sedang membutuhkan. Wujud cinta kasih inilah yang
merupakan salah satu bentuk perwujudan nilai-nilai ajaran iman Katolik.
Pada hakikatnya Pendidikan Agama Katolik merupakan pendidikan yang
bervisi spiritual. Bervisi spiritual artinya Pendidikan Agama Katolik memberikan
diharapkan secara konsisten terus berusaha untuk memperkembangkan kedalaman
hidup siswa, memperkembangkan jati diri atau inti hidup mereka. Pendidikan Agama
Katolik juga berusaha membantu siswa memperkembangkan jiwa dan interioritas
hidup mereka. Jiwa merupakan tempat di mana Allah bersemayam dan karena itu
membuat manusia merasa rindu kepadaNya dan peduli pada hidup sesamanya
(Heryatno, 2008: 14).
Mangunwijaya sebagaimana yang disitir oleh Heryatno menyatakan hakikat
Pendidikan Agama Katolik sebagai komunikasi iman. Sebagai komunikasi iman
Pendidikan Agama Katolik perlu menekankan sifatnya yang praktis. Bersifat praktis
berarti Pendidikan Agama Katolik lebih menekankan tindakan dari pada konsep atau
teori. Oleh sebab itu Pendidikan Agama Katolik lebih menekankan proses
perkembangan, pendewasaan iman, serta peneguhan pengharapan dan perwujudan
kasih terhadap sesama ( Heryatno, 2008: 15-16).
Proses Pendidikan Agama Katolik dipahami sebagai salah satu proses
pengembangan iman. Iman yang sejati menggerakkan orang untuk berjuang demi
transformasi sosial. Pendidikan di sini dipahami sebagai mediasi atau jalan menuju
transformasi sosial. Hal ini hampir sama dengan yang dikatakan oleh Mgr. I Suharyo,
Uskup Agung Semarang, yang menegaskan tujuan Pendidikan Agama Katolik untuk
memperjuangkan humanisme sosial (Heryatno, 2008: 14).
2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik
Dalam Gravissimum Educationis ditegaskan bahwa ada dua tujuan dasar
pendidikan yakni memperkembangkan pribadi manusia dan memperjuangkan
kesejahteraan umum (GE. Art. 1). Kedua tujuan di atas tidak terpisahkan tetapi saling
terwujud apabila dipisahkan dari usaha nyata demi terwujudnya kesejahteraan umum.
Menurut istilah sekarang tujuan pendidikan adalah demi tercapainya perkembangan
setiap pribadi secara utuh demi pembentukan masyarakat yang berkeadaban dan
sejahtera (Heryatno, 2008: 13).
Perkembangan pribadi yang utuh di sini dipahami sebagai perkembangan dalam
pribadi siswa, bukan hanya semata-mata pengetahuan saja melainkan juga meliputi
perkembangan iman siswa. Perkembangan iman yang ingin dicapai ialah
perkembangan iman yang berlangsung sepanjang hayat. Jadi, ketika siswa sudah lulus
dari bangku sekolah ia masih dapat memperkembangkan iman yang ada dalam
dirinya. Dengan demikian siswa juga dapat membentuk iman dalam diri mereka di
lingkungan masing-masing tempat mereka tinggal.
Pendidikan Agama Katolik pada dasarnya bertujuan agar siswa mempunyai
kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup
iman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki
keprihatinan tunggal, yakni kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan
peristiwa keselamatan: situasi dan perjuangan untuk keadilan, kebahagiaan dan
kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang
dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan (Komkat 2007: 7).
Pendewasaan iman yang menjadi tujuan formal pendidikan iman merupakan
suatu proses yang berlangsung seumur hidup. Dalam pendidikan iman, pendewasaan
iman tidak terpisahkan dari pendewasaan kepribadian seseorang. Yang menjadi salah
satu fokus pendidikan iman ialah perkembangan manusia secara utuh. Iman yang
dewasa dapat diartikan sebagai iman yang berkembang semakin matang secara penuh
dan bersifat holistik yang mencakup dari segi pemikiran, hati, dan praksis (Heryatno,
Sebagai proses pendewasaan iman di sekolah Pendidikan Agama Katolik
diharapkan membantu memperkembangkan iman siswa secara seimbang. Iman di sini
dipahami bukan hanya sebagai kata benda tetapi sebagai kata kerja, yaitu beriman.
Supaya makin matang, iman menuntut perwujudan dalam tindakan konkret. Untuk itu
dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik diharapkan dapat membantu
para siswa dalam mewujudkan iman melalui tindakan konkret. Dengan iman yang
dihayati dan diwujudkan para siswa dapat menyadari relevansi imannya dalam
hidupnya.
Dalam pembaharuan pendidikan nasional yang didasarkan pada GBHN,
pemerintah menegaskan bahwa semua lembaga sekolah, semua bidang studi dan
semua kegiatan belajar mengajar serta semua kegiatan lain dalam rangka
terselengggaranya pendidikan nasional harus mengabdi kepada tercapainya suatu
tujuan pendidikan (Komkat, 2007:5). Salah satu tujuan yang ada dalam buku
Pendidikan Agama Katolik SMA pegangan guru ialah siswa mampu bertindak,
berperilaku, dan berkembang sesuai dengan ajaran imannya.
Dari tujuan di atas terlihat jelas bahwa perkembangan iman anak yang utuh
merupakan hal yang sangat penting. Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama
Katolik, tentunya kebutuhan hidup beriman siswa perlu diperhatikan. Dengan
demikian akhirnya para siswa dapat terbantu dalam menghayati imannya dalam hidup
sehari-hari.
3. Bahan Pendidikan Agama Katolik
Dalam proses Pendidikan Agama Katolik, bahan menjadi salah satu faktor yang
sangat Penting dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Bahan
pembelajaran hendaknya sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa untuk mencapai
tujuan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Salah satu bahan yang
dapat digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik terdapat
dalam buku Pendidikan Agama Katolik. Buku Pendidikan Agama Katolik
mengandung 4 dimensi atau aspek ajaran iman, yakni: (Komkat, 2007:6)
a. Dimensi atau aspek pribadi siswa
Materi Pendidikan Agama Katolik harus menyentuh pribadi siswa dan
pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup siswa dapat diolah sedemikian
rupa sehingga dapat menjadi bahan dalam Pendidikan Agama Katolik.
b. Dimensi pribadi Yesus Kristus
Yesus adalah pribadi penentu dalam ajaran iman Kristiani. Kekhasan
ajaran iman diwarnai oleh pribadi yang satu ini. Banyak teladan yang
dapat diambil dari sosok pribadi Yesus Kristus. Teladan Yesus ini
menjadi panutan bagi siswa untuk bertindak dan berperilaku dalam
keseharian mereka.
c. Dimensi Gereja
Gereja merupakan persekutuan murid-murid Yesus yang melanjutkan
karya Yesus Kristus. Ajaran dan iman Gereja tumbuh dan berkembang
dalam persekutuan ini. Nilai-nilai ajaran Gereja sangat dibutuhkan oleh
siswa dalam membangun iman Katolik dalam diri. Peran Gereja dalam
hal ini juga dibutuhkan dalam mengembangkan iman siswa.
d. Dimensi Kemasyarakatan
Dimensi kemasyarakatan hendaknya menjadi materi Pendidikan Agama
kesehariannya juga tinggal di lingkungan masyarakat. Di sini peran
masyarakat juga ikut ambil bagian dalam perkembangan pribadi siswa.
Buku Pendidikan Agama Katolik memiliki 20 materi. Setiap materi disertai
dengan Kompetensi dan tujuan yang menjadi arah dan tujuan bagi para guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran. Setidaknya kompetensi dan tujuan dari setiap
materi dapat tercapai dalam proses pembelajaran. Materi-materi yang ada dalam buku
Pendidikan Agama Katolik kelas X ini akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila
didukung dengan pengalaman yang mereka peroleh baik itu dari hasil pengamatan
maupun pengalaman yang pernah dialami oleh siswa. Oleh sebab itu dalam
penyusunan bahan-bahan Pendidikan Agama Katolik hendaknya juga disertakan
suatu pengalaman yang ada pada diri siswa.
4. Model Pendidikan Agama Katolik
Sebagai sarana untuk mengembangkan iman siswa, Pendidikan Agama Katolik
tentunya menggunakan beberapa macam model dalam pembelajaran. Model-model
yang dipakai hendaknya dapat mendukung siswa dalam mengembangkan imannya.
Sikap solider di sini merupakan salah satu bagian dari perwujudan iman siswa.
Dengan memiliki sikap solider, secara tidak langsung siswa juga telah menerapkan
cinta kasih yang merupakan salah satu perwujudan konkret dari iman.
Model merupakan salah satu pendekatan tertentu yang memiliki suatu kerangka
tertentu pula untuk suatu proses kegiatan penyelenggaraan pendidikan dalam iman
dengan langkah-langkah yang kurang lebih tetap. Sebagai salah satu pendekatan
dalam Pendidikan Agama Katolik model dewasa ini bersifat plural dan secara terus
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pencapaian sikap
solider siswa ialah model yang berpusatkan pada hidup peserta. Model ini merupakan
reaksi yang ekstrem terhadap pedidikan yang bersifat dogmatis. Dalam proses
pendidikan yang ditekankan bukan menambah informasi, juga bukan menyampaikan
materi sebanyak-banyaknya tetapi secara kualitatif berusaha memanusiakan manusia
dan memperkembangkan kepribadiannya (Heryatno, 2008: 49).
Selain model yang berpusatkan pada hidup peserta, ada satu model lagi yang
dapat digunakan dalam Proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Model
tersebut ialah model praksis. Istilah praksis pada model ini ialah sintesis antara teori
yang ditekankan pada model transfer dengan pengalaman hidup yang digarisbawahi
oleh metode yang berpusatkan pada hidup peserta. Pendidikan tidak akan bernilai
kalau hanya menjejali peserta dengan sebongkah informasi saja. Pendidikan harus
memperluas wawasan konseptual mereka serta meningkatkan kesadaran dalam diri
siswa (Heryatno, 2008: 60).
B. Peranan Guru Agama di Sekolah
Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu bentuk karya
pewartaan Gereja yang dilaksanakan di sekolah dalam rangka menunjang tujuan
pendidikan nasional dan pendidikan Katolik yang bersifat menyeluruh menyangkut
aspek beriman siswa yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan
perwujudan dalam hidup. Dalam proses penyelenggaraan belajar mengajar
Pendidikan Agama Katolik, sosok figur guru yang memiliki spiritualitas sangatlah
diperlukan untuk memperkembangkan pribadi siswa secara utuh.
Figur guru yang digerakkan oleh spiritualitas yang bersifat kristosentris
membuat para guru memandang para siswa sebagai pusat perhatian. Itu berarti
oleh Allah menurut citra dan gambaranNya sendiri. Relasi penuh kepercayaan dan
persahabatan dengan Yesus menjadi dasar dan sumber spiritualitas guru Agama
Katolik (Heryatno, 2008: 95).
1. Spiritualitas Guru Sebagai Sahabat dalam Peziarahan
Spiritualitas merupakan sikap atau semangat dasar yang menggerakkan dan
secara serius diwujudkan dalam kehidupan. Spriritualias berkaitan erat dengan
tindakan konkrit seseorang yang berusaha memperkembangkan hidupnya dan hal itu
dikaitkan dengan relasinya pada Tuhan, sesama dan lingkungan. Spiritualitas beraitan
erat dengan segi interioritas seseorang, kedalaman hidup atau inti hidupnya yang
membentuk sikap, mengambil keputusan serta bertindak untuk menentukan pilihan
sesorang pada nilai-nilai yang dipegang, diwujudnyatakan, serta diperkembangkan
(Heryatno, 2008: 89).
Tugas mengajar, mendidik dan mendampingi hidup para peserta didik perlu
dipahami oleh para guru sebagai jalan untuk memperkembangkan spiritualitasnya
sebagai pendidik. Para guru senantiasa diundang untuk berkembang menuju
pemenuhan dan keutamaan hidup. Para guru senantiasa diundang untuk
memperkembangkan dan menghayati kecerdasan spiritual mereka dengan lebih
percaya kepada Yesus Kristus, pada sesama dan juga pada diri mereka sendiri
(Heryatno, 2008: 97).
Tugas sebagai seorang guru Pendidikan Agama Katolik yang tidak kalah
pentingnya ialah membantu siswa dalam mengembangkan iman yang mereka miliki.
Guru merupakan sosok figur yang diharapkan memiliki dedikasi di dalam
menjalankan tugas, memiliki perhatian, serta mampu menjalin hubungan yang akrab
2. Guru Agama Sebagai Pendidik Hidup Beriman
Pendidik adalah orang yang bertugas mendidik. Sebagai pendidik, guru juga
harus mendampingi siswa dalam perkembangannya menuju kedewasaan penuh. Agar
siswa mengalami perkembangan menuju kedewasaan tersebut, perlu dihasilkan
perubahan dalam kehidupan siswa. Perubahan hidup hanya mungkin terjadi bila siswa
sudah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Dengan dasar ini, barulah
guru dapat menghubungkan kebenaran yang diajarkan dengan kehidupan atau
permasalahan yang mereka hadapi dalam kenyataan( Yoke Tode, 1993 : 11-21).
Seorang guru Pendidikan Agama Katolik memiliki tugas untuk mendidik hidup
siswa agar semakin beriman. Pendewasaan iman dalam diri siswa juga menjadi salah
satu tujuan dalam Pendidikan Agama Katolik. Oleh sebab itu guru Pendidikan Agama
Katolik diharapkan dapat mengarahkan siswa kepada perkembangan iman yang lebih
utuh. Seorang guru merupakan salah satu teladan bagi para siswa. Oleh sebab itu guru
hendaknya juga memiliki kedewasaan dalam hidup beriman agar bisa diteladan oleh
para siswanya di sekolah.
Tugas yang sangat penting dari seorang guru sebagai pendidik ialah membantu
siswa agar mampu menemukan ilham hidup dari kesulitan belajar mereka. Guru
diharapkan dapat memberikan diri dan melayani siapa saja, terutama para siswa yang
memiliki banyak kesulitan. Kepedulian dari para guru sangat dibutuhkan oleh para
siswa dalam peroses belajar mengajar (Heryatno, 2008: 97).
3. Guru Agama Sebagai Pembimbing Hidup Rohani
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai
secara maksimum terhadap sekolah, keluarga dan masyarakat. Guru memiliki peranan
yang sangat penting dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu guru merupakan faktor
utama dalam suatu proses pendidikan (Hamalik 2009:33-34)
Seorang guru hendaknya juga menjadi pembimbing, pengarah, pemberi
kemudahan dengan menyediakan berbagai macam fasilitas belajar, pemberi bantuan
bagi peserta yang mendapat kesulitan belajar, dan pencipta kondisi yang merangsang
dan menantang peserta untuk berfikir dan bekerja (Hamzah, 2007:17-18).
Peranan guru sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar merupakan
salah satu tugas dari figur seorang guru. Setiap guru bertugas memberikan dan
mendampingi siswa dalam memperoleh suatu pengetahuan, keterampilan dan
pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti tingkah laku pribadi dan spiritual di
masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku
sosial anak.
Tugas membimbing ini juga dimiliki oleh guru Pendidikan Agama Katolik.
Sebagai seorang guru Pendidikan Agama Katolik, guru memiliki tanggung jawab
dalam membimbing hidup rohani siswa. Banyak cara dapat ditempuh untuk
melaksanakan tugas guru sebagai pembimbing rohani. Guru Pendidikan Agama
Katolik dapat membuat acara-acara yang dapat membimbing hidup rohani siswa
seperti: retret, rekoleksi, misa sekolah, dll. Dengan acara-acara tersebut guru juga
telah melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing hidup rohani siswa.
Bimbingan juga merupakan suatu upaya untuk membantu para siswa dalam
mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Di samping itu, bimbingan tersebut juga
dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yakni hidup baru dalam
Kristus. Perubahan hidup terwujud melalui hidup rohani siswa dalam kehidupan
4. Guru Agama Sebagai Saksi Iman
Tugas guru yang tidak kalah pentingnya ialah menjadi saksi iman bagi para
siswa-siswanya. Dengan kesaksian iman pelajaran agama Katolik menjadi hidup,
karena tindakan seorang guru lebih penting dari ucapan. Sebagai seorang sosok
pendidik tentunya guru menjadi teladan bagi siswanya di sekolah.
Sebagai saksi iman hendaknya guru Pendidikan Agama Katolik menyadari
kerasulannya dengan tekun, untuk mengusahakan pendidikan moral dan keagamaan
bagi para siswa. Melalui kegiatan kerasulan tersebut guru Pendidikan Agama Katolik
menyampaikan ajaran keselamatan kepada para siswa dan membimbing iman mereka.
Oleh karena itu dalam menyampaikan ajaran keselamatan, guru Pendidikan Agama
Katolik memberi kesaksian hidupnya secara konkret. Tindakan-tindakan nyata dari
seorang guru Pendidikan Agama Katolik jauh lebih penting dari pada hanya teori.
Semakin lengkap kesaksian konkret yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama
Katolik, maka guru Pendidikan Agama Katolik akan semakin dipercaya dan dicontoh
BAB III
GAMBARAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X DAN
SUMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
DI SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA
Bertitik tolak pada bab II mengenai deskripsi tentang pokok-pokok Pendidikan
Agama Katolik, maka pada bab III ini penulis mendeskripsikan gambaran umum
situasi sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta serta tentang hubungan antara
Pendidikan Agama Katolik dengan sikap solider siswa kelas X. Untuk mendapatkan
data yang dibutuhkan, maka penulis melakukan penelitian. Penelitian ini
dimaksudkan untuk memperoleh gambaran keadaan siswa dan mengetahui
sumbangan Pendidikan Agama Katolik dalam mengembangkan sikap solider siswa
kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Data penelitian diharapkan dapat memberi
gambaran keadaan siswa kelas X dan peran dari Pendidikan Agama Katolik terhadap
sikap solider siswa kelas X. Berdasarkan keadaan siswa kelas X tersebut penulis akan
membuat suatu sumbangan pemikiran berbentuk usulan dalam perumusan tujuan
Pendidikan Agama Katolik, dalam penyusunan bahan-bahan dan penentuan metode
belajar Pendidikan Agama Katolik dalam upaya mengembangkan sikap solider siswa
yang akan dibahas pada bab IV. Sebelum melakukan penelitian penulis akan
menyampaikan gambaran umum tentang situasi sekolah SMA Pangudi Luhur yang
diperoleh melalui studi dokumen dan dari hasil observasi sewaktu penulis
melaksanakan PPL Pendidikan Agama Katolik di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
Gambaran umum tentang sekolah SMA Pangudi Luhur tersebut akan dijabarkan
A. Gambaran Umum Situasi Sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
SMA Pangudi Luhur Yogyakarta merupakan salah satu sekolah swasta Katolik
yang ada di Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur merupakan sekolah dimana penulis
pernah melaksanakan PPL Pendidikan Agama Katolik Menengah. Selama proses PPL
Pendidikan Agama Katolik penulis banyak memperoleh data tentang gambaran
umum situasi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Gambaran umum tentang SMA
Pangudi Luhur Yogyakarta tersebut meliputi:
1. Sejarah Singkat SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
SMA Pangudi Luhur (PL) Yogyakarta yang terletak di pusat kota Yogyakarta
ini semula adalah Sekolah Guru A (Atas: dipersiapkan menjadi guru SMP) Khusus
Putra yang didirikan oleh para imam Jesuit pada bulan April 1942. Pada tanggal 9
Agustus 1952 sekolah ini diserahkan kepada para Bruder FIC yang kemudian
menempati gedung milik Bruder-bruder FIC di Jln Senopati 16, dan pada tahun 1965
secara resmi dikelola oleh Yayasan Pangudi Luhur (YPL) milik para Bruder FIC.
Tahun 1973 SGAK ini kemudian berubah menjadi SPG dan menerima siswa
putri. Setelah melewati perjalanan panjang, terjadi perubahan kurikulum tahun 1989,
maka mulai tahun itu SPG berubah menjadi SMA. Dua tahun sebelum itu gedung
sekolah resmi berpindah ke Jln.Senopati no 18 (hingga kini).
Seperti bayi yang baru lahir, SMA Pangudi Luhur memulai kehidupan baru
sebagai sebuah SMA di tahun tersebut. Berkat usaha keras dari orang-orang yang
terlibat di dalamnya, kini SMA PL sudah mengalami banyak kemajuan pesat terutama
dari segi fasilitas dan perkembangan sumber daya manusia di dalamnya. Tidak heran
jika di tahun 2005 SMA ini menerima Akreditasi dengan nilai A.
Di bawah pengelolaan para Bruder FIC, SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
ilmu yang ditawarkan. Dengan demikian setiap pribadi yang ada di dalamnya akan
bertumbuh dalam kesadaran bahwa melalui ilmu pengetahuan hidupku akan
kubaktikan bagi Tuhan dan sesama (http://www.pangudiluhur.org/)
2. Situasi Fisik SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
Gedung SMA Pangudi Luhur Yogyakarta terletak di dalam satu kompleks
dengan gedung TK dan gedung SD Pangudi Luhur yang membentang dari Timur ke
Barat, tepatnya di belakang Bank Indonesia. Letak SMA Pangudi Luhur sangat
strategis, jadi mudah untuk diketahui dan dijangkau kendaraan umum. Gedung yang
ada merupakan bangunan yang terdiri dari bangunan berlantai satu dan berlantai dua.
Halaman SMA Pangudi Luhur tidak begitu luas tetapi dapat digunakan untuk upacara
bendera, olah raga seperti basket, footsal, dan volley. Selain itu halaman ini juga bisa
dipakai untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler tertentu, seperti pleton inti, basket,
dan ekstrakurikuler lainnya. Gedung SMA Pangudi Luhur adalah gedung yang
permanen dan cukup kokoh. Hal tersebut terlihat dari bentuk bangunan dan
perawatannya. Pada dasarnya sekolah ini tidak begitu luas. Bangunan ini sulit untuk
diperluas lagi karena letaknya di kota dan diapit oleh Bank Indonesia dan SD/TK
Pangudi Luhur, sehingga penambahan kelas dan ruangan dapat dilaksanakan bila
gedung dibangun lagi dengan ditambah 1 lantai lagi.
Ruang kelasnya sudah cukup mendukung proses belajar mengajar. Ukurannya
cukup memadai dengan ventilasi dan jendela yang cukup banyak sehingga pergantian
udara cukup baik. Pada umumnya setiap ruang kelas memiliki penerangan yang
cukup baik. Di ruang kelas juga dilengkapi dengan fasilitas kipas angin dan pendingin
ruangan. Setiap anggota kelas selalu menjaga kebersihannya. Terbukti dari keadaan
belajar juga sudah memadai. Kelengkapan jumlah kursi dan meja bagi siswa juga
terdapat di semua kelas. Di setiap kelas juga tersedia sarana multimedia yang sangat
mendukung dalam proses pembelajaran.
Ruang kantor kepala sekolah berada pada satu-satunya jalan keluar. Hal ini baik
karena memudahkan kepala sekolah memantau siswa yang ingin meninggalkan
sekolah atau membolos. Sedangkan ruang guru cukup luas dilengkapi dengan
berbagai unit komputer dan kursi tamu yang cukup banyak. Tempat parkir di SMA
Pangudi Luhur terdiri atas tiga bagian, yaitu tempat parkir untuk guru dan karyawan
yang berada di sekitar kantor kepala sekolah dan TU, sedangkan untuk siswa ada dua
bagian yaitu di lantai bawah dan lantai atas.
3. Situasi Akademis SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
a) Visi dan Misi
Suatu lembaga pendidikan berdiri karena memiliki tujuan sebagaimana yang
diuraikan dalam visi dan misi lembaga pendidikan tersebut. SMA Pangudi Luhur
Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan tentunya juga memiliki visi dan misi.
Visi SMA Pangudi Luhur sebagai berikut :
SMA Pangudi Luhur Yogyakarta merupakan tempat mewujudkan komunitas iman dengan cara menempatkan Kristus Yesus Sang Guru Sejati sebagai pusat hidup dalam upaya membangun persaudaraan sejati serta pendampingan kaum muda yang menuju pribadi dewasa, beriman, berpengetahuan, terampil, bermartabat, berbudi pekerti luhur dan terbuka menghadapi tantangan zaman (http://www.pangudiluhur.org/).
Dari visi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ini terlihat bahwa
SMA Pangudi Luhur merupakan suatu wadah atau tempat untuk membangun dan
membentuk siswa menjadi sosok pribadi yang dewasa, beriman, berpengetahuan,
zaman. Dalam visi juga dapat dilihat bahwa SMA Pangudi Luhur menempatkan
Kristus sebagai pusat dalam membangun persaudaraan sejati. Terwujudnya
persaudaraan sejati yang di tekankan dalam visi di atas ditandai dengan terciptanya
suatu relasi yang baik itu antara siswa, guru, dan karyawan. Visi yang dimiliki oleh
SMA Pangudi Luhur ini menjadi arah dasar sekolah dalam proses pendidikan. Selain
visi, SMA Pangudi Luhur juga memiliki misi dalam proses pendidikan.
Misi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta:
Membantu, mendampingi siswa menemukan potensi yang dimiliki untuk dikembangkan secara optimal serta melatih siswa mandiri, bertanggung jawab, bermartabat, dan berbudi pekerti luhur, menghargai, menghormati sesamanya dan menerima diri sebagai pribadi yang unik sehingga menjadi pribadi dewasa (http://www.pangudiluhur.org/).
Dari misi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur Yogyakarta terlihat bahwa
tujuan misi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ialah untuk mengembangkan diri siswa
agar memiliki pribadi yang dewasa. Dalam misi di atas, juga terlihat bahwa SMA
Pangudi Luhur membantu siswa dalam mengembangkan sikap-sikap yang
diwujudkan dalam membangun persaudaraan sejati. Misi yang dimiliki SMA Pangudi
Luhur ini merupakan cara yang digunakan untuk mencapai visi dari SMA Pangudi
Luhur.
Visi dan misi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur Yogyakarta saling
berhubungan. Visi merupakan arah dasar dari sekolah, sedangkan misi
kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai visi sekolah. Untuk itu, visi dan misi
merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Misi
tidak akan ada tanpa adanya visi, sedangkan visi tidak akan terwujud tanpa adanya
misi. Sebagai suatu kesatuan, visi dan misi merupakan salah satu elemen yang
b) Kegiatan Ekstrakurikuler dan Kegiatan Rutin Sebagai Bentuk Kegiatan
Pengembangan diri Siswa-Siswi
Dalam rangka mengembangkan diri siswa, SMA Pangudi Luhur mempunyai
berbagai macam kegiatan. Salah satu kegiatan yang digunakan untuk
mengembangkan diri siswa ialah dengan kegiatan ekstrakurikuler. Banyak sekali
kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tersebut mencakup minat serta bakat siswa-siswi yang ada di
SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut antara lain:
elektronika robotik, bulu tangkis, komputer, pleton inti, volly, sepak bola, jurnalistik,
biola, band, paduan suara, renang, basket, english club, dsb. Setiap guru ambil bagian
dalam mendampingi kegiatan ekstrakurikuler.
Di samping kegiatan ekstrakurikuler SMA Pangudi Luhur Yogyakarta juga
mempunyai kegiatan rutinan. Para siswa SMA Pangudi Luhur mempunyai banyak
kegiatan. Selain mengikuti proses belajar mengajar di pagi hari, mereka juga masih
harus mengikuti kegiatan ekstra wajib dan juga diwajibkan memilih salah satu dari
ekstra kurikuler yang ditawarkan. Usaha-usaha lain yang dilakukan untuk
peningkatan kualitas lulusan antara lain:
1) Retret atau Rekoleksi
SMA Pangudi Luhur memiliki program untuk menanamkan nilai-nilai moral
dan iman dalam kegiatan rohaninya yaitu retret atau rekoleksi. Kegiatan ini memiliki
sasaran yaitu siswa-siswi SMA Pangudi Luhur dari kelas X sampai dengan kelas XII.
Kegiatan retret atau rekoleksi ini diadakan oleh pihak sekolah biasanya setiap satu
tahun sekali. Kegiatan retret ini biasanya dikoordinir oleh guru Pendidikan Agama
Katolik serta dibantu oleh guru-guru yang lain. Dengan retret atau rekoleksi ini siswa
atau rekoleksi ini juga siswa diajak untuk melatih dan mengembangkan rohani
mereka supaya lebih matang.
2) Study Tour dalam Propinsi
SMA Pangudi Luhur memiliki program study tour di dalam propinsi
Yogyakarta untuk kelas X contohnya ke Kebun Binatang Gembira Loka. Kegiatan ini
bertujuan untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan alam. Masih banyak
lagi contoh study tour dalam provinsi yang dapat bermanfaat dan dapat memberikan
pengetahuan bagi diri siswa. Study tour dalam provinsi ini juga dapat digunakan
sebagai sarana untuk mempelajari sejarah dan budaya yang ada di dalam provinsi
Yogyakarta. Contohnya kegiatan study tour untuk mengenal sejarah dan budaya yang
ada di dalam propinsi ialah kunjungan ke candi-candi peninggalan sejarah, atau
kunjungan ke kraton D.I.Y. dll.
3) Study Tour luar Propinsi
Di samping mengadakan kegitan study tour di dalam propinsi, SMA Pangudi
Luhur juga memiliki program study tour di luar Propinsi yang akan diikuti oleh siswa
kelas XI baik IPA maupun IPS. Contoh study tour yang sering dilaksanakan di luar
provinsi ialah study tour ke Bali. Tujuan dari kegiatan ini agar siswa-siswi SMA
Pangudi Luhur dapat mengenal budaya lain selain budaya Jawa khususnya budaya
Yogyakarta. Kegiatan study tour ke luar provinsi ini sampai sekarang masih
mendapatkan antusiasme yang besar dari para siswa. Siswa merasa banyak
c) Struktur Organisasi
Sebagai salah satu institusi pendidikan, tentunya SMA Pangudi Luhur
Yogyakarta memiliki struktur organisasi sekolah. Organisasi SMU Pangudi Luhur
Yogyakarta dibina oleh Dinas Pendidikan & Pengajaran Kota Yogyakarta
(Pendidikan Menengah) serta dikelola oleh Yayasan Pangudi Luhur cabang
Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dipimpin oleh satu orang kepala
sekolah yang juga merupakan seorang biarawan dari Fractum Immaculatum
Conceptuionis yakni Br. Herman Yoseph.
Seluruh tenaga pendidik yang ada di SMA Pangudi Luhur berjumlah 23 orang.
11 orang tenaga pendidik merupakan perempuan serta 12 tenaga pendidik merupakan
laki-laki. Hampir semua tenaga pendidik dari SMA Pangudi Luhur berpendidikan S1.
Selain sebagai tenaga pendidik, ada beberapa guru yang merangkap sebagai wali
kelas. Di kelas X.1 yang bertugas sebagai wali kelas ialah ibu TH. Sasi Ambarwati, di
kelas X.2 bapak Ignatius Suroto, di kelas X.3 bapak Rudi Hartanto, di kelas X.4 ibu
Ratna Dwiyanti, di kelas X.5 ibu Alit Elia, di kelas X.6 ibu Nike Artina. Selama ini
organisasi yang ada di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta berjalan dengan cukup baik.
Hal ini ditandai dengan belum adanya masalah yang serius tentang pengorganisasian
yang berada di bawah struktur sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
Di SMA Pangudi Luhur setiap siswa, karyawan, guru, dan kepala sekolah dapat
bekerja sama dengan baik. Situasi tersebut menunjukan bahwa SMA Pangudi Luhur
Yogyakarta memiliki struktur organisasi yang baik. Untuk mengetahui gambaran
tentang struktur organisasi di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, di bawah ini penulis
B. Keadaan Siswa Kelas X
1. Jumlah Siswa
Siswa kelas X SMA Pangudi Luhur seluruhnya berjumlah 197 orang. Kelas X
di SMA Pangudi Luhur dikelompokkan menjadi 6 kelas, setiap kelas rata-rata
berjumlah 32-34 siswa. Siswi di kelas X seluruhnya berjumlah 65 orang, sedangkan
siswanya seluruhnya berjumlah 132 orang. Jumlah siswa tersebut sangat
memungkinkan dalam mendukung proses belajar mengajar yang efektif di dalam
kelas.
2. Agama
Siswa SMA Pangudi Luhur sebagian besar beragama Katolik. Begitu pula
dengan keadaan siswa di kelas X, sebagian besar siswa kelas X memeluk agama
Katolik. Dari keseluruhan siswa kelas X kurang lebih ada 10 % yang beragama non
Katolik, baik itu agama Kristen, Islam, Hindu dan Budha. Keadaan di atas
menunjukkan bahwa SMA Pangudi Luhur Yogyakarta memiliki identitas sebagai
sekolah yang bercirikan Agama Katolik. Dari agama-agama tersebut siswa
memperoleh banyak pengalaman tentang bagaimana cara untuk menghormati dan
menghargai pemeluk agama lain. Agama bagi siswa bukanlah suatu penghalang
untuk mewujudkan persaudaraan yang ada di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
khususnya kelas X. Di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta siswa yang beragama non
Katolik maupun yang beragama Katolik semua dipandang sama, tidak ada
pembedaan antara siswa yang Katolik maupun yang non Katolik
3. Keadaan Sosial – Ekonomi Keluarga Siswa
SMA Pangudi Luhur Yogyakarta merupakan salah satu sekolah swasta yang
pelaksanaan proses pendidikan SMA Pangudi Luhur tidak tergantung pada
pemerintah secara penuh. Dana yang dipakai dalam proses pendidikan sebagian besar
berasal dari siswa. Dari situasi di atas terlihat bahwa sebagian besar siswa-siswa
SMA Pangudi Luhur Yogyakarta berasal dari keluarga yang memiliki keadaan sosial-
ekonomi menengah ke atas.
4. Gambaran Hubungan Komunikasi siswa Kelas X
Kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta terdiri dari 6 kelas. Setiap kelas
dikoordinir oleh wali kelas dan dibantu oleh pengurus kelas yang terdiri dari ketua
kelas, sekretaris, dan bendahara kelas. Setiap kelas memiliki kekhasan
masing-masing. Di setiap kelas X disediakan sarana prasarana yang dapat mendukung siswa
dalam proses pembelajaran, misalnya: LCD, AC, dan 1 unit komputer yang
digunakan guru dalam proses pembelajaran. Pada umumnya para siswa di setiap kelas
X dapat menjaga sarana dan prasarana tersebut dengan baik. Hubungan antara siswa
kelas X dengan guru wali kelas pun masih berjalan dengan baik. Tidak ada siswa
yang memiliki permasalahan serius dengan wali kelas masing-masing. Komunikasi
antar siswa di kelas pun dapat dikatakan baik. Rasa saling menghargai dan menolong
satu dengan yang lain bisa dikatakan terjalin dengan baik.
C. Sikap Solider Di Dalam Hidup Siswa
1. Pengertian Sikap Solider
Sikap solider merupakan suatu bentuk sikap peduli kita terhadap sesama.
Seseorang yang memiliki sikap solider ialah orang yang memiliki rasa empati. Sikap
solider tampak dari kerelaan orang berbagi, memberikan sumbangan bagi orang yang