• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan agama Katolik dalam upaya mengembangkan sikap solider siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pendidikan agama Katolik dalam upaya mengembangkan sikap solider siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta - USD Repository"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Patricius Daru Nakula NIM: 061124023

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

Dengan penuh syukur kepada Allah Bapa di Surga, kupersembahkan skripsiku ini untuk keluarga besarku,

kedua orangtuaku Bapak Sukiman Laurentius dan Ibu Yoanita Sumiyati; saudara, saudariku Petrus Chanel Danan Jaya, Cyrillus Daru Sadewa, Vincentia

(5)

v

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk

(6)

vi

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 07 April 2011

Penulis

(7)

vii

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:

Nama : Patricius Daru Nakula NIM : 061124023

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM UPAYA

MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA.

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta, 07 April 2011 Yang menyatakan,

(8)

viii

Skripsi ini berjudul PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA. Judul ini dipilih bedasarkan kenyataan bahwa dewasa ini banyak keprihatinan yang terjadi di sekitar tempat tinggal kita baik itu akibat kemiskinan, bencana alam, pengangguran, dll. Dari keprihatinan-keprihatinan tersebut diperlukan suatu sikap yang dapat menggerakkan seseorang untuk peduli dan peka terhadap apa yang dirasakan orang lain. Salah satu sikap yang dapat dikembangkan ialah dengan mewujudkan sikap solider terhadap sesama yang sedang mengalami keprihatinan. Sikap solider dapat dijumpai dalam proses pembelajaran yang ada di sekolah. Ada beberapa mata pelajaran yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap solider. Salah satu mata pelajaran yang dirasa dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap solider ialah Pendidikan Agama Katolik.

SMA Pangudi Luhur merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dalam rangkaian proses pendidikan. Dari situasi tersebut maka penulis berusaha untuk menemukan peranan Pendidikan Agama Katolik di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dalam mengembangkan sikap solider siswa. Untuk memperoleh gambaran tentang sikap solider siswa kelas X dan sejauhmana peranan Pendidikan Agama Katolik dalam mengembangkan sikap solider siswa kelas X di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta maka penulis mengadakan penelitian. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah 60 siswa yang mewakili 6 kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Dari hasil penelitian terungkap tentang gambaran sikap solider siswa di kelas X dan sejauhmana peranan Pendidikan Agama Katolik dapat mengembangkan sikap solider siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

(9)

ix

This paper is titled CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION AS A MEANS OF EXPANDING X GRADE STUDENTS OF PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA’S SOLIDARITY. This title was chosen based on the fact that there are many concerns happen around us these days, caused by poverty, nature disaster, unemployment, and other concerns. Set out from the concerns, certain action that can motivate someone to be more care and sensitive about what other people feel is highly needed. One action that can be expanded is bringing the solidarity to concerned people into reality. The solidarity can be seen during the learning process in school. There are some subjects which can help students expanding their solidarity. One of them is Catholic Education subject.

Pangudi Luhur Senior High School is one of many schools which have Catholic Religious Education subject in their educational process. Set out from that situation, the writer tried to find the contribution of Catholic Religious Education in Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta in expanding students’ solidarity. To get the illustration of X grade students’ solidarity and to know how far the contribution of Catholic Religious Education in expanding X grade students of Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta’s solidarity is, the writer conducted a research. In this research, there are 60 students chosen as the sample, representing six class of X grade in Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta. From the result, the illustration of X grader’s solidarity and the contribution of Catholic Religious Education in expanding X grade students of Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta is revealed.

In this final paper, the writer also gave contribution in thinking to the process of Catholic Religious Education in expanding X grade students of Pangudi Luhur Senior High School Yogyakarta’s solidarity. Those contribution in thinking included the purpose, materials, Catholic Religious Education methods, which can be used to increase students’ solidarity. On the last part of those contributions in thinking, the writer prepared four lesson plans which can be used to increase students’ solidarity.

(10)

x

Segala puji syukur atas limpahan berkat dan anugerah dari Allah Bapa di surga, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Drs. FX. Heryatno Wono Wulung, S.J., M.Ed. selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan kepada penulis dengan sabar. Terima kasih atas segala motivasi, saran, dan kritik selama penyusunan skripsi ini.

2. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. selaku dosen wali II yang telah bersedia membimbing dengan penuh kesabaran dan memberikan petunjuk berupa saran-saran dan kritikan demi kemajuan penulis, perhatian, dorongan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Sr. Krisanti, CB, S.pd., M.Pd. selaku dosen penguji yang telah bersedia mendampingi penulisan skripsi, serta memberikan pengarahan dengan penuh kesabaran.

4. Drs. Br. Herman Yoseph, FIC. selaku kepala sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dan Drs. B. Sumarno, SFK, S.Kom, selaku guru Pendidikan Agama Katolik yang telah membantu saya untuk mengadakan penelitian. 5. Segenap dosen dan seluruh karyawan Prodi IPPAK Falkutas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

(11)

xi

skripsi.

7. Teman dekatku Winda Puspita Sari, yang telah memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Sahabat-sahabat angkatan 2006 di IPPAK; Antonius Yogi, Dismas Fersandika, Catur Setya, Icok Ragil Prasetya, Br. Hariyadi, FIC., Sr. Eufrasia, CB., Katharina Chandra Dewi, Lilis Yuniarwati, Oliva Luaq, Maria Veronica, Gerardus Basty Kellen, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini namun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada skripsi ini. Saran dan kritik selalu penulis harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kemajuan dan perkembangan pendidikan dan pembaca pada umumnya.

Penulis

(12)

xii

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……… ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO……… .. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xvi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penulisan ... 6

D. Manfaat Penulisan ... 7

E. Metode Penulisan ... 7

F. Sistematika Penulisan………... .. 8

BAB II. POKOK-POKOK PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH ……… ... 10

A. Pokok- Pokok Pendidikan Agama Katolik………… ... 11

1. Pengertian Pendidikan Agama Katolik……… ... 11

2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik ….………….. ... 13

3. Bahan Pendidikan Agama Katolik ... 15

4. Model Pendidikan Agama Katolik ... 17

B. Peranan Guru Agama Di Sekolah……… ... 18

(13)

xiii

4. Guru Agama Sebagai Saksi Iman……… .. 22

BAB III. GAMBARAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X DAN SUMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA………….…………... 23

A. Gambaran Umum Situasi Sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. 24 1. Sejarah Singkat SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ... 24

2. Situasi Fisik SMA Pangudi Luhur Yogyakarta……… . 25

3. Situasi Akademis SMA Pangudi Luhur Yogyakarta……… . 26

a. Visi dan Misi ... 26

b. Kegiatan Ekstrakurikuler dan Kegiatan Rutin ... 28

1) Retret dan Rekoleksi ... 28

2) Study Tour Dalam Provinsi ... 29

3) Study Tour Luar Provinsi ... 29

c. Struktur Organisasi ... 30

B. Keadaan Siswa Kelas X ……….………..……...……….. 31

1. Jumlah Siswa………... 31

2. Agama……… 31

3. Keadaan Sosial- Ekonomi Keluarga Siswa……… 31

4. Gambaran Keadaan Komunikasi Siswa Kelas X……… 32

C. Sikap Solider Di Dalam Hidup Siswa... 32

1. Pengertian Sikap Solider ... 32

2. Pentingnya Sikap Solider Dalam Hidup Siswa ... 33

D. Penelitian Tentang Sumbangan Pendidikan Agama Katolik Dalam Upaya Mengembangkasn Sikap Solider Siswa Kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ………... 34

1. Latar Belakang Penelitian………... 34

2. Tujuan Penelitian ... 35

3. Metodologi Penelitian ……… ... .. 35

a. Tempat dan Waktu Penelitian ... .. 36

(14)

xiv

1. Laporan Umum……….... ... 37

2. Laporan dan Pembahasan Menurut Variabel……….…. 38

a. Gambaran Situasi Siswa dan Sikap Solider Siswa Kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ... 38

b. Peranan Pendidikan Agama Katolik Dalam Mengembangkan Sikap Solider Siswa ... 44

F. Kesimpulan Hasil Penelitian ... 51

BAB IV. UPAYA PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM RANGKA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X………... 53

A. Tujuan Pendidikan Agama Katolik Demi Pengembangan Sikap Solider Siswa ... 54

B. Materi Pendidikan Agama Katolik Yang Mendukung Peningkatan Sikap Solider Siswa Kelas X………… ... 55

1. Aku Memiliki Kelebihan Kekurangan ... 56

2. Sebagai Citra Allah Aku Dan Sesama Adalah Saudara ... 57

3. Hati Nurani ... 57

4. Pembinaan Suara Hati ... 57

C. Metode-Metode Pendidikan Agama Katolik Guna Meningkatkan Sikap Solider Siswa ... 58

1. Metode Observasi Langsung ... 59

2. Metode Diskusi ... 59

3. Metode Praktek ... 60

4. Metode Refleksi ... 61

D. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Dalam Mengembangkan Sikap Solider Siswa SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ... 62

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I ………. .. 64

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II ……… .. 74

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III ... 81

(15)

xv

B. Saran-saran ... 99

DAFTAR PUSTAKA ... 100

LAMPIRAN ... 101

Lampiran 1: Surat ijin penelitian ... (1)

Lampiran 2: Surat keterangan pelaksanaan penelitian ... (2)

Lampiran 3: Soal kuesioner penelitian ……… ... (3)

Lampiran 4: Contoh jawaban kuisioner siswa Kelas X ... (8)

(16)

xvi

A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini meliputi Kitab Suci

Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada

Umat Katolik Indonesia oleh Ditijen Bimas Katolik Departemen Agama Republik

Indonesia dalam rangka PELITA 1V). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

B. Singkatan dalam Dokumen Gereja

GE :Gravissimum Educationis, Pernyataan Uskup Paulus di dalam

Dokumen Konsili Vatikan II Tentang Pendidikan Kristen yang

dikeluarkan di gereja Santo Petrus Roma, 28 Oktober 1965.

C. Singkatan Lain

Art : Artikel

AC : Air Conditioner

Bdk : Berdasarkan

Br : Bruder

D.I.Y : Daerah Istimewa Yogyakarta

FIC : Fractum Immaculatum Conceptuionis

GBHN : Garis Besar Haluan Negara

(17)

xvii

OSIS : Organisasi Siswa Induk Sekolah

PPL : Program Pengalaman Lapangan

SD : Sekolah Dasar

SGAK : Sekolah Guru Agama Katolik

SLB : Sekolah Luar Biasa

SMA : Sekolah Menengah Atas

SPG : Sekolah Pendidikan Guru

TK : Taman Kanak-Kanak

TU : Tata Usaha

UPT-MPK : Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini banyak keprihatinan yang melanda negara kita. Kita dapat

menemui banyak keprihatinan yang disebabkan oleh kemiskinan, bencana alam, dll.

Banyak orang menjadi korban dari keprihatinan yang terjadi dewasa ini. Banyak anak

yang terpaksa harus putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarga yang tidak

mendukung dalam pembiayaan anak di bangku sekolah. Jurang kekayaan antara

golongan menengah atas dengan menengah ke bawah makin hari makin lebar saja.

Banyak orang yang seakan tidak mau peduli terhadap keprihatinan yang terjadi di

tengah situasi kemiskinan sekarang ini. Untuk mengatasi keprihatinan di atas

diperlukan suatu sikap peduli terhadap keprihatinan yang dirasakan oleh sesama.

Salah satu wujud kepedulian terhadap keprihatinan yang dirasakan oleh sesama kita

ialah dengan bersikap solider dan berempati terhadap keprihatinan yang dirasakan

oleh orang lain.

Br. Yustinus Triyana, S.J., dalam materi seminar ”Pendidikan Karakter Dalam

Konteks Pengembangan Kekuatan Transformasi Masyarakat” mengatakan bahwa

empati merupakan identifikasi dengan pikiran, perasaan, atau pengalaman seseorang.

Empati terjadi dengan jalan seakan-akan orang mengalami apa yang dialami orang

lain. Empati ini muncul karena pengalaman kita memahami segala sesuatu dari sudut

pandang orang lain (UPT-MPK, 2010:14)

Sikap solider dapat ditanamkan dan dilatih ke dalam diri anak-anak sejak usia

(19)

sikap solider juga bisa ditanamkan lewat lingkup pendidikan iman di sekolah.

Pendidikan iman merupakan sesuatu yang penting bagi perkembangan hidup

manusia. Salah satu cara untuk memperoleh pendidikan iman dalam dunia pendidikan

ialah dengan mengikuti pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama merupakan

salah satu mata pelajaran yang ada di dalam sekolah. Dari Sekolah Dasar sampai

dengan Sekolah Menengah Atas siswa memperoleh pendidikan agama untuk

memperkembangkam iman mereka. Selain untuk memperkembangkan iman,

pendidikan agama juga diharapkan dapat memperkembangkan pribadi siswa secara

utuh.

Di dalam lingkungan sekolah Katolik, pendidikan agama yang diberikan ialah

Pendidikan Agama Katolik. Melalui Pendidikan Agama Katolik di sekolah, siswa

diharapkan dapat terbantu untuk menemukan kesesuaian antara iman dengan

kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama dipahami sebagai salah satu perwujudan

iman. Iman yang sejati menggerakkan seseorang untuk berjuang demi transformasi

sosial. Menurut Romo Van Lith selain memperkembangkan martabat hidup

seseorang, pendidikan harus membantu para peserta didik untuk menjadi

pelaku-pelaku perubahan sosial (bdk. Banawiratma, 1991:29-31). Dalam hal ini transformasi

sosial merupakan cara atau sarana yang membantu siswa untuk menumbuhkan sikap

perduli terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain. Groome di dalam buku Heryatno

yang berjudul ”Pokok- pokok Pendidikan Agama Katolik Di Sekolah” mengatakan

bahwa salah satu sifat dasar pendidikan yang dapat ditekankan dalam Pendidikan

Agama Katolik ialah kegiatan yang bersifat politis (Heryatno, 2008: 14-18).

Pendidikan yang bersifat politis ini mengajak semua pihak yang terlibat di

dalamnya sebagai makhluk sosial dengan penuh kesadaran mengambil bagian dalam

(20)

saling mendukung. Sifat ini mendorong peserta didik untuk berfikir kritis, beriman

dewasa dan memiliki keprihatinan dalam permasalahan sosial yang ada di sekitarnya

(Heryatno, 2008: 18).

Ada tiga hal yang dapat dipandang sebagai orientasi atau tujuan Pendidikan

Agama Katolik: yaitu demi terwujudnya Kerajaan Allah di tengah kehidupan

manusia, demi kedewasaan iman, dan demi kebebasan manusia. Yang ditekankan

dalam Pendidikan Agama Katolik bukan pengajaran agama saja tetapi proses

perkembangan (dan pendewasaan) iman, harapan dan kasih. Pendidikan Agama

Katolik juga dipahami sebagai proses pendidikan dalam iman yang diselenggarakan

oleh Gereja, sekolah, keluarga, dan kelompok jemaat beriman lainnya yang bertujuan

agar pribadi siswa dapat semakin beriman pada Tuhan Yesus Kristus sehingga

nilai-nilai Kerajaan Allah dapat terwujud di tengah-tengah hidup mereka. Kerajaan Allah

di sini dipahami sebagai kekuatan Allah sebagai Tuhan pencipta yang

menyelenggarakan dan menyelamatkan umat manusia. Kekuatan di sini dipahami

sebagai sifat utama Allah yang penuh belas kasih, sabar, dan setia untuk mewujudkan

keadilan, kedamaian, cinta kasih dalam hidup manusia (Heryatno, 2008: 25-26)

Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dapat dikatakan berhasil jika

tujuan-tujuan Pendidikan Agama Katolik terpenuhi. Salah satu tujuan yang terdapat

dalam buku Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik untuk

SMU/SMK Buku Guru I ialah siswa mampu berperilaku, bertindak dan berkembang

dalam kepribadian sesuai dengan ajaran imannya (Komkat KWI 2007:5). Tujuan

Pendidikan Agama Katolik tersebut mengarahkan agar para siswa nantinya dapat

memperkembangkan dan mewujudnyatakan ajaran iman Katolik yang mereka miliki

dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain iman peserta didik yang diwujudkan

(21)

Perkembangan iman peserta yang utuh merupakan salah satu hal yang sangat

penting. Pendidikan Agama Katolik dipahami sebagai komunikasi penghayatan iman

atau pengalaman iman yang tentunya akan memperkaya dan meneguhkan iman

peserta didik. Iman yang sungguh dihayati dapat menggerakkan seseorang untuk

bersikap belas kasih, berbuat kebaikan pada sesamanya, peka dan perduli pada yang

miskin serta menderita. Iman yang sejati juga dapat membuat seseorang rindu dan

ingin dekat dengan Tuhannya. Iman dalam diri seseorang dapat menggerakkan hidup,

memberi dasar kepada harapan dan dinyatakan dalam kasih terhadap sesamanya.

Kasih terhadap sesama merupakan salah satu bentuk perwujudan nilai-nilai Kerajaan

Allah di tengah-tengah hidup manusia.

Dalam pembaharuan pendidikan nasional yang didasarkan pada GBHN

pemerintah juga menjunjung tinggi dan mementingkan pendidikan agama di sekolah.

Pendidikan agama juga memiliki kedudukan yang sepadan dengan mata pelajaran

lain. Pendidikan tidak hanya mempersiapkan peserta didik untuk mendapatkan

pekerjaan tetapi lebih-lebih untuk menjalankan dan memperkembangkan kehidupan.

Hal-hal mendasar yang diperlukan oleh peserta didik untuk hidup itulah yang

ditekankan di dalam pendidikan.

Sikap solider yang dimiliki oleh setiap individu akan membawa individu

tersebut ke dalam penemuan identitas diri. Penemuan identitas diri dalam diri

seseorang melalui suatu proses yang diperoleh dalam pengalaman hidup sehari-hari.

Identitas diri ini dapat diperoleh dengan cara melatih dan mengembangkan segi

spiritual yang ada pada diri seseorang. Penemuan identitas diri siswa di dalam

lingkungan sekolah dapat diperoleh dari pendidikan yang bervisi spiritual.

Pendidikan yang bervisi spiritual dapat sungguh terwujud jika suasana

(22)

dapat dilihat di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

mempunyai visi untuk mewujudkan komunitas iman dengan cara menempatkan Sang

Guru Sejati sebagai pusat hidup dalam upaya membangun persaudaraan sejati serta

menanggung karya bersama dalam pendampingan kaum muda menuju pribadi yang

dewasa, beriman, berpengetahuan, terampil, bermartabat, berbudi pekerti luhur dan

terbuka menghadapi tantangan zaman (http://www.pangudiluhur.org/)

Visi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur di atas memaparkan pentingnya

membangun persaudaraan sejati dalam pendampingan menuju pribadi yang dewasa

dan beriman. Dengan visi tersebut siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan

pribadi yang dewasa dan beriman melalui keseharian mereka. Mengembangkan

pribadi yang dewasa dan beriman dapat diungkapkan dengan mewujudkan kasih

terhadap sesama yang membutuhkan. Perwujudan kasih terhadap sesama ini juga

dapat dilakukan dengan bersikap solider kepada sesama yang membutuhkan.

Di SMA Pangudi Luhur sikap peduli kepada sesama yang membutuhkan telah

dilatih mulai dari Kelas X sampai kelas XII. Setiap hari Jumat pihak sekolah dibantu

oleh OSIS mengedarkan kotak untuk sumbangan terhadap sesama yang

membutuhkan. Dana yang terkumpulkan digunakan untuk membantu sesama yang

membutuhkan dan yang sedang mengalami musibah bencana alam. Mengumpulkan

dana untuk membantu sesama yang membutuhkan hanya merupakan sebagian kecil

dari salah satu bentuk perwujudan sikap solider. Sikap solider bisa dilatih melalui

pendekatan-pendekatan dalam proses belajar.

Dalam proses belajar mengajar kita dapat menggunakan metode-metode yang

mendukung. Salah satu metode yang dapat digunakan yakni dengan observasi untuk

melihat secara langsung keprihatinan yang terjadi, dll. Dengan ikut merasakan

(23)

siswa diharapkan dapat tergerak hatinya untuk mengembangkan serta mewujudkan

sikap solider. Lewat metode belajar yang mendukung tersebut diharapkan tujuan dari

Pendidikan Agama Katolik mengenai perkembangan iman yang utuh dalam diri siswa

dapat terwujud.

Pendidikan Agama Katolik merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk

memperkembangkan iman siswa secara utuh. Oleh sebab itu hendaknya Pendidikan

Agama Katolik dapat menjadi sarana untuk memperkembangkan siswa. Berdasarkan

latar belakang di atas penulis memberi judul skripsi ini: PENDIDIKAN AGAMA

KATOLIK DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN SIKAP SOLIDER SISWA

KELAS X SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA. Lewat Skripsi ini penulis

berharap dapat ikut meningkatkan peranan Pendidikan Agama Katolik dalam

mengembangkan sikap solider siswa kelas X di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan memberi perhatian khusus pada

masalah sebagai berikut :

1. Apa saja pokok-pokok dalam Pendidikan Agama Katolik di sekolah?

2. Sejauh mana sikap solider antar siswa kelas X SMA Pangudi Luhur sudah

terwujud?

3. Bagaimana cara Pendidikan Agama Katolik dalam upaya meningkatkan

sikap solider di SMA Pangudi Luhur?

C. Tujuan Penulisan

(24)

2. Mengetahui sikap solider siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

yang sudah terwujud selama ini

3. Mendeskripsikan cara Pendidikan Agama Katolik dalam upaya

mengembangkan sikap solidaritas siswa kelas X SMA Pangudi Luhur

Yogyakarta

D. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Bagi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

a. Memberikan gambaran tentang kegiatan dan peranan Pendidikan

Agama Katolik di SMA Pangudi Luhur.

b. Memberikan gambaran tentang sikap solider siswa kelas X di SMA

Pangudi Luhur.

2. Bagi Penulis

a. Mengetahui peranan pendidikan Agama Katolik dalam upaya

mengembangkan sikap solider antar siswa.

b. Membantu penulis dalam menyusun sumbangan pemikiran Pendidikan

Agama Katolik dalam mengembangkan sikap solider siswa.

E. Metode Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis

berdasarkan studi dan analitis pustaka, dilengkapi dengan penelitian yang diperoleh

melalui kuisioner yang dibagikan serta diisi oleh siswa guna mendapatkan gambaran

(25)

F. Sistematika Penulisan

Penulisan diolah dalam lima bab dengan menggunakan metode deskriptif

analitis, yaitu dengan mengolah dan menyajikan data yang diperoleh melalui studi

pustaka dan data dari hasil penelitian. Untuk memperoleh gambaran yang jelas

mengenai penulisan ini, penulis akan menyampaikan pokok-pokok sebagai berikut:

BAB I : Bab ini berisi latar belakang penulisan, rumusan masalah,

tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan

sistematika penulisan.

BAB II : Bab ini berisi tentang pokok-pokok dalam Pendidikan Agama

Katolik, antara lain: pengertian tentang Pendidikan Agama

Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik, bahan Pendidikan

Agama Katolik, model Pendidikan Agama Katolik, serta

peranan guru Pendidikan Agama Katolik sebagai sahabat

dalam peziarahan, pendidik hidup beriman, pembimbing

hidup rohani dan sebagai saksi iman.

BAB III : Bab ini menguraikan tentang gambaran umum situasi sekolah

SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dan metodologi penelitian

yang disertai dengan pembahasan hasil penelitian tentang

sikap solider siswa dan peranan Pendidikan Agama Katolik di

kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

BAB IV : Bab ini berisi tentang sumbangan pemikiran terhadap proses

Pendidikan Agama Katolik dalam meningkatkan sikap

solider siswa kelas X yang meliputi: tujuan, materi pokok dan

metode Pendidikan Agama Katolik yang dapat

(26)

ini penulis menyusun empat rencana pelaksanaan

pembelajaran yang dapat meningkatkan sikap solider siswa

kelas X.

(27)

BAB II

POKOK - POKOK

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH

Dalam bab I dikemukakan bahwa iman yang sejati menggerakkan seseorang

untuk berjuang demi transformasi sosial. Menurut Romo Van Lith selain

memperkembangkan martabat hidup seseorang, pendidikan harus membantu para

peserta didik untuk menjadi pelaku-pelaku perubahan sosial (bdk. Banawiratma,

1991:29-31). Sebagai salah satu bentuk pendidikan iman, Pendidikan Agama Katolik

di sekolah bersifat holistik sehingga dalam proses pelaksanaannya Pendidikan Agama

Katolik diharapkan dapat memperkembangkan dimensi pribadi siswa secara

menyeluruh. Salah satu tujuan dari pendidikan iman ialah terwujudnya Kerajaan

Allah di tengah-tengah hidup mereka.

Kerajaan Allah di sini dipahami sebagai tindakan Allah sebagai Tuhan pencipta

dan penguasa sejarah yang menyelenggarakan dan menyelamatkan umat manusia.

Dalam hal ini tindakan Allah diwujudkan sesuai dengan sifat utama Allah yang penuh

belas kasih, sabar, dan setia serta kehendak Allah akan adanya keadilan, kedamaian,

cinta kasih, dll (Heryatno, 2008: 25-26). Dengan mewujudkan sifat-sifat utama Allah

tersebut, secara tidak langsung siswa juga mewujudkan Kerajaan Allah di

tengah-tengah hidup mereka.

Bab II skripsi ini membahas tentang pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik

di sekolah. Isi dari bab II ini membahas tentang pengertian Pendidikan Agama

Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik, bahan Pendidikan Agama Katolik,

(28)

sebagai sahabat dalam peziarahan, pendidik hidup beriman, pembimbing hidup

rohani, dan sebagai saksi iman.

A. Pokok-Pokok Pendidikan Agama Katolik

1. Pengertian Pendidikan Agama Katolik

Pendidikan adalah salah satu usaha yang terus-menerus untuk memungkinkan

manusia semakin memanusiakan dirinya. Pendidikan merupakan usaha untuk

membimbing manusia agar mampu menempuh hidupnya dengan baik. Pendidikan

yang baik adalah pendidikan yang menuju kepada kebaikan, mengenai manusia

seutuhnya dan berlangsung seumur hidup.

Dalam UU RI No. 20 tahun 2003, pasal 1, ayat 1, dikatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa dan negara. Ini berati bahwa pendidikan dipandang sebagai pilar pembentuk manusia dan perkembangan masyarakat.

UU RI No. 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 1 menegaskan ”Pendidikan agama

bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami

dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama”. Ini

mengandung arti bahwa pendidikan agama memiliki peran yakni menjadi pemandu

dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat.

Menyadari peran pendidikan agama tersebut, maka internalisasi dari nilai-nilai agama

dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah kebutuhan yang ditempuh dalam

(29)

Pendidikan agama adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam

pembentukan anak didik agar supaya mereka hidup sesuai ajaran-ajaran agama

(Efendi, 2008: 91).

Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama untuk mewujudkan persatuan nasional (Komisi Kateketik, 2007: 11).

Mary Boys di dalam bukunya Educating in Faith: Maps and Visions

mendefinisikan Pendidikan Agama Katolik sebagai ”the making accesible of the

traditions of the religious community and the making manifest of the interinsic

connection between traditions and tranformation”. Pendidikan Agama Katolik

berperan membuka jalan selebar-lebarnya agar setiap siswa memiliki akses untuk

sampai kepada harta kekayaan iman komunitas (tradisi). Tradisi yang sungguh

dihayati menurut kebutuhan hidup beriman siswa pada suatu zaman tertentu secara

intrinsik dapat memberdayakan mereka dalam memperkembangkan hidup dan

imannya (Heryatno, 2008: 19).

Dari pernyataan Mary Boys tersebut dapat dipahami bahwa Pendidikan Agama

Katolik memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menghayati dan

mengembangkan nilai-nilai ajaran iman Katolik dalam hidup sehari-hari. Nilai-nilai

ajaran iman Katolik yang sangat diutamakan ialah nilai cinta kasih terhadap sesama.

Di sini siswa dapat dilatih untuk mengembangkan nilai cinta kasih terhadap sesama

teman maupun sesama yang sedang membutuhkan. Wujud cinta kasih inilah yang

merupakan salah satu bentuk perwujudan nilai-nilai ajaran iman Katolik.

Pada hakikatnya Pendidikan Agama Katolik merupakan pendidikan yang

bervisi spiritual. Bervisi spiritual artinya Pendidikan Agama Katolik memberikan

(30)

diharapkan secara konsisten terus berusaha untuk memperkembangkan kedalaman

hidup siswa, memperkembangkan jati diri atau inti hidup mereka. Pendidikan Agama

Katolik juga berusaha membantu siswa memperkembangkan jiwa dan interioritas

hidup mereka. Jiwa merupakan tempat di mana Allah bersemayam dan karena itu

membuat manusia merasa rindu kepadaNya dan peduli pada hidup sesamanya

(Heryatno, 2008: 14).

Mangunwijaya sebagaimana yang disitir oleh Heryatno menyatakan hakikat

Pendidikan Agama Katolik sebagai komunikasi iman. Sebagai komunikasi iman

Pendidikan Agama Katolik perlu menekankan sifatnya yang praktis. Bersifat praktis

berarti Pendidikan Agama Katolik lebih menekankan tindakan dari pada konsep atau

teori. Oleh sebab itu Pendidikan Agama Katolik lebih menekankan proses

perkembangan, pendewasaan iman, serta peneguhan pengharapan dan perwujudan

kasih terhadap sesama ( Heryatno, 2008: 15-16).

Proses Pendidikan Agama Katolik dipahami sebagai salah satu proses

pengembangan iman. Iman yang sejati menggerakkan orang untuk berjuang demi

transformasi sosial. Pendidikan di sini dipahami sebagai mediasi atau jalan menuju

transformasi sosial. Hal ini hampir sama dengan yang dikatakan oleh Mgr. I Suharyo,

Uskup Agung Semarang, yang menegaskan tujuan Pendidikan Agama Katolik untuk

memperjuangkan humanisme sosial (Heryatno, 2008: 14).

2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik

Dalam Gravissimum Educationis ditegaskan bahwa ada dua tujuan dasar

pendidikan yakni memperkembangkan pribadi manusia dan memperjuangkan

kesejahteraan umum (GE. Art. 1). Kedua tujuan di atas tidak terpisahkan tetapi saling

(31)

terwujud apabila dipisahkan dari usaha nyata demi terwujudnya kesejahteraan umum.

Menurut istilah sekarang tujuan pendidikan adalah demi tercapainya perkembangan

setiap pribadi secara utuh demi pembentukan masyarakat yang berkeadaban dan

sejahtera (Heryatno, 2008: 13).

Perkembangan pribadi yang utuh di sini dipahami sebagai perkembangan dalam

pribadi siswa, bukan hanya semata-mata pengetahuan saja melainkan juga meliputi

perkembangan iman siswa. Perkembangan iman yang ingin dicapai ialah

perkembangan iman yang berlangsung sepanjang hayat. Jadi, ketika siswa sudah lulus

dari bangku sekolah ia masih dapat memperkembangkan iman yang ada dalam

dirinya. Dengan demikian siswa juga dapat membentuk iman dalam diri mereka di

lingkungan masing-masing tempat mereka tinggal.

Pendidikan Agama Katolik pada dasarnya bertujuan agar siswa mempunyai

kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup

iman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki

keprihatinan tunggal, yakni kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan

peristiwa keselamatan: situasi dan perjuangan untuk keadilan, kebahagiaan dan

kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang

dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan (Komkat 2007: 7).

Pendewasaan iman yang menjadi tujuan formal pendidikan iman merupakan

suatu proses yang berlangsung seumur hidup. Dalam pendidikan iman, pendewasaan

iman tidak terpisahkan dari pendewasaan kepribadian seseorang. Yang menjadi salah

satu fokus pendidikan iman ialah perkembangan manusia secara utuh. Iman yang

dewasa dapat diartikan sebagai iman yang berkembang semakin matang secara penuh

dan bersifat holistik yang mencakup dari segi pemikiran, hati, dan praksis (Heryatno,

(32)

Sebagai proses pendewasaan iman di sekolah Pendidikan Agama Katolik

diharapkan membantu memperkembangkan iman siswa secara seimbang. Iman di sini

dipahami bukan hanya sebagai kata benda tetapi sebagai kata kerja, yaitu beriman.

Supaya makin matang, iman menuntut perwujudan dalam tindakan konkret. Untuk itu

dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik diharapkan dapat membantu

para siswa dalam mewujudkan iman melalui tindakan konkret. Dengan iman yang

dihayati dan diwujudkan para siswa dapat menyadari relevansi imannya dalam

hidupnya.

Dalam pembaharuan pendidikan nasional yang didasarkan pada GBHN,

pemerintah menegaskan bahwa semua lembaga sekolah, semua bidang studi dan

semua kegiatan belajar mengajar serta semua kegiatan lain dalam rangka

terselengggaranya pendidikan nasional harus mengabdi kepada tercapainya suatu

tujuan pendidikan (Komkat, 2007:5). Salah satu tujuan yang ada dalam buku

Pendidikan Agama Katolik SMA pegangan guru ialah siswa mampu bertindak,

berperilaku, dan berkembang sesuai dengan ajaran imannya.

Dari tujuan di atas terlihat jelas bahwa perkembangan iman anak yang utuh

merupakan hal yang sangat penting. Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama

Katolik, tentunya kebutuhan hidup beriman siswa perlu diperhatikan. Dengan

demikian akhirnya para siswa dapat terbantu dalam menghayati imannya dalam hidup

sehari-hari.

3. Bahan Pendidikan Agama Katolik

Dalam proses Pendidikan Agama Katolik, bahan menjadi salah satu faktor yang

sangat Penting dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Bahan

(33)

pembelajaran hendaknya sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa untuk mencapai

tujuan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Salah satu bahan yang

dapat digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik terdapat

dalam buku Pendidikan Agama Katolik. Buku Pendidikan Agama Katolik

mengandung 4 dimensi atau aspek ajaran iman, yakni: (Komkat, 2007:6)

a. Dimensi atau aspek pribadi siswa

Materi Pendidikan Agama Katolik harus menyentuh pribadi siswa dan

pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup siswa dapat diolah sedemikian

rupa sehingga dapat menjadi bahan dalam Pendidikan Agama Katolik.

b. Dimensi pribadi Yesus Kristus

Yesus adalah pribadi penentu dalam ajaran iman Kristiani. Kekhasan

ajaran iman diwarnai oleh pribadi yang satu ini. Banyak teladan yang

dapat diambil dari sosok pribadi Yesus Kristus. Teladan Yesus ini

menjadi panutan bagi siswa untuk bertindak dan berperilaku dalam

keseharian mereka.

c. Dimensi Gereja

Gereja merupakan persekutuan murid-murid Yesus yang melanjutkan

karya Yesus Kristus. Ajaran dan iman Gereja tumbuh dan berkembang

dalam persekutuan ini. Nilai-nilai ajaran Gereja sangat dibutuhkan oleh

siswa dalam membangun iman Katolik dalam diri. Peran Gereja dalam

hal ini juga dibutuhkan dalam mengembangkan iman siswa.

d. Dimensi Kemasyarakatan

Dimensi kemasyarakatan hendaknya menjadi materi Pendidikan Agama

(34)

kesehariannya juga tinggal di lingkungan masyarakat. Di sini peran

masyarakat juga ikut ambil bagian dalam perkembangan pribadi siswa.

Buku Pendidikan Agama Katolik memiliki 20 materi. Setiap materi disertai

dengan Kompetensi dan tujuan yang menjadi arah dan tujuan bagi para guru dalam

melaksanakan proses pembelajaran. Setidaknya kompetensi dan tujuan dari setiap

materi dapat tercapai dalam proses pembelajaran. Materi-materi yang ada dalam buku

Pendidikan Agama Katolik kelas X ini akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila

didukung dengan pengalaman yang mereka peroleh baik itu dari hasil pengamatan

maupun pengalaman yang pernah dialami oleh siswa. Oleh sebab itu dalam

penyusunan bahan-bahan Pendidikan Agama Katolik hendaknya juga disertakan

suatu pengalaman yang ada pada diri siswa.

4. Model Pendidikan Agama Katolik

Sebagai sarana untuk mengembangkan iman siswa, Pendidikan Agama Katolik

tentunya menggunakan beberapa macam model dalam pembelajaran. Model-model

yang dipakai hendaknya dapat mendukung siswa dalam mengembangkan imannya.

Sikap solider di sini merupakan salah satu bagian dari perwujudan iman siswa.

Dengan memiliki sikap solider, secara tidak langsung siswa juga telah menerapkan

cinta kasih yang merupakan salah satu perwujudan konkret dari iman.

Model merupakan salah satu pendekatan tertentu yang memiliki suatu kerangka

tertentu pula untuk suatu proses kegiatan penyelenggaraan pendidikan dalam iman

dengan langkah-langkah yang kurang lebih tetap. Sebagai salah satu pendekatan

dalam Pendidikan Agama Katolik model dewasa ini bersifat plural dan secara terus

(35)

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pencapaian sikap

solider siswa ialah model yang berpusatkan pada hidup peserta. Model ini merupakan

reaksi yang ekstrem terhadap pedidikan yang bersifat dogmatis. Dalam proses

pendidikan yang ditekankan bukan menambah informasi, juga bukan menyampaikan

materi sebanyak-banyaknya tetapi secara kualitatif berusaha memanusiakan manusia

dan memperkembangkan kepribadiannya (Heryatno, 2008: 49).

Selain model yang berpusatkan pada hidup peserta, ada satu model lagi yang

dapat digunakan dalam Proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Model

tersebut ialah model praksis. Istilah praksis pada model ini ialah sintesis antara teori

yang ditekankan pada model transfer dengan pengalaman hidup yang digarisbawahi

oleh metode yang berpusatkan pada hidup peserta. Pendidikan tidak akan bernilai

kalau hanya menjejali peserta dengan sebongkah informasi saja. Pendidikan harus

memperluas wawasan konseptual mereka serta meningkatkan kesadaran dalam diri

siswa (Heryatno, 2008: 60).

B. Peranan Guru Agama di Sekolah

Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu bentuk karya

pewartaan Gereja yang dilaksanakan di sekolah dalam rangka menunjang tujuan

pendidikan nasional dan pendidikan Katolik yang bersifat menyeluruh menyangkut

aspek beriman siswa yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan

perwujudan dalam hidup. Dalam proses penyelenggaraan belajar mengajar

Pendidikan Agama Katolik, sosok figur guru yang memiliki spiritualitas sangatlah

diperlukan untuk memperkembangkan pribadi siswa secara utuh.

Figur guru yang digerakkan oleh spiritualitas yang bersifat kristosentris

membuat para guru memandang para siswa sebagai pusat perhatian. Itu berarti

(36)

oleh Allah menurut citra dan gambaranNya sendiri. Relasi penuh kepercayaan dan

persahabatan dengan Yesus menjadi dasar dan sumber spiritualitas guru Agama

Katolik (Heryatno, 2008: 95).

1. Spiritualitas Guru Sebagai Sahabat dalam Peziarahan

Spiritualitas merupakan sikap atau semangat dasar yang menggerakkan dan

secara serius diwujudkan dalam kehidupan. Spriritualias berkaitan erat dengan

tindakan konkrit seseorang yang berusaha memperkembangkan hidupnya dan hal itu

dikaitkan dengan relasinya pada Tuhan, sesama dan lingkungan. Spiritualitas beraitan

erat dengan segi interioritas seseorang, kedalaman hidup atau inti hidupnya yang

membentuk sikap, mengambil keputusan serta bertindak untuk menentukan pilihan

sesorang pada nilai-nilai yang dipegang, diwujudnyatakan, serta diperkembangkan

(Heryatno, 2008: 89).

Tugas mengajar, mendidik dan mendampingi hidup para peserta didik perlu

dipahami oleh para guru sebagai jalan untuk memperkembangkan spiritualitasnya

sebagai pendidik. Para guru senantiasa diundang untuk berkembang menuju

pemenuhan dan keutamaan hidup. Para guru senantiasa diundang untuk

memperkembangkan dan menghayati kecerdasan spiritual mereka dengan lebih

percaya kepada Yesus Kristus, pada sesama dan juga pada diri mereka sendiri

(Heryatno, 2008: 97).

Tugas sebagai seorang guru Pendidikan Agama Katolik yang tidak kalah

pentingnya ialah membantu siswa dalam mengembangkan iman yang mereka miliki.

Guru merupakan sosok figur yang diharapkan memiliki dedikasi di dalam

menjalankan tugas, memiliki perhatian, serta mampu menjalin hubungan yang akrab

(37)

2. Guru Agama Sebagai Pendidik Hidup Beriman

Pendidik adalah orang yang bertugas mendidik. Sebagai pendidik, guru juga

harus mendampingi siswa dalam perkembangannya menuju kedewasaan penuh. Agar

siswa mengalami perkembangan menuju kedewasaan tersebut, perlu dihasilkan

perubahan dalam kehidupan siswa. Perubahan hidup hanya mungkin terjadi bila siswa

sudah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Dengan dasar ini, barulah

guru dapat menghubungkan kebenaran yang diajarkan dengan kehidupan atau

permasalahan yang mereka hadapi dalam kenyataan( Yoke Tode, 1993 : 11-21).

Seorang guru Pendidikan Agama Katolik memiliki tugas untuk mendidik hidup

siswa agar semakin beriman. Pendewasaan iman dalam diri siswa juga menjadi salah

satu tujuan dalam Pendidikan Agama Katolik. Oleh sebab itu guru Pendidikan Agama

Katolik diharapkan dapat mengarahkan siswa kepada perkembangan iman yang lebih

utuh. Seorang guru merupakan salah satu teladan bagi para siswa. Oleh sebab itu guru

hendaknya juga memiliki kedewasaan dalam hidup beriman agar bisa diteladan oleh

para siswanya di sekolah.

Tugas yang sangat penting dari seorang guru sebagai pendidik ialah membantu

siswa agar mampu menemukan ilham hidup dari kesulitan belajar mereka. Guru

diharapkan dapat memberikan diri dan melayani siapa saja, terutama para siswa yang

memiliki banyak kesulitan. Kepedulian dari para guru sangat dibutuhkan oleh para

siswa dalam peroses belajar mengajar (Heryatno, 2008: 97).

3. Guru Agama Sebagai Pembimbing Hidup Rohani

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai

(38)

secara maksimum terhadap sekolah, keluarga dan masyarakat. Guru memiliki peranan

yang sangat penting dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu guru merupakan faktor

utama dalam suatu proses pendidikan (Hamalik 2009:33-34)

Seorang guru hendaknya juga menjadi pembimbing, pengarah, pemberi

kemudahan dengan menyediakan berbagai macam fasilitas belajar, pemberi bantuan

bagi peserta yang mendapat kesulitan belajar, dan pencipta kondisi yang merangsang

dan menantang peserta untuk berfikir dan bekerja (Hamzah, 2007:17-18).

Peranan guru sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar merupakan

salah satu tugas dari figur seorang guru. Setiap guru bertugas memberikan dan

mendampingi siswa dalam memperoleh suatu pengetahuan, keterampilan dan

pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti tingkah laku pribadi dan spiritual di

masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku

sosial anak.

Tugas membimbing ini juga dimiliki oleh guru Pendidikan Agama Katolik.

Sebagai seorang guru Pendidikan Agama Katolik, guru memiliki tanggung jawab

dalam membimbing hidup rohani siswa. Banyak cara dapat ditempuh untuk

melaksanakan tugas guru sebagai pembimbing rohani. Guru Pendidikan Agama

Katolik dapat membuat acara-acara yang dapat membimbing hidup rohani siswa

seperti: retret, rekoleksi, misa sekolah, dll. Dengan acara-acara tersebut guru juga

telah melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing hidup rohani siswa.

Bimbingan juga merupakan suatu upaya untuk membantu para siswa dalam

mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Di samping itu, bimbingan tersebut juga

dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yakni hidup baru dalam

Kristus. Perubahan hidup terwujud melalui hidup rohani siswa dalam kehidupan

(39)

4. Guru Agama Sebagai Saksi Iman

Tugas guru yang tidak kalah pentingnya ialah menjadi saksi iman bagi para

siswa-siswanya. Dengan kesaksian iman pelajaran agama Katolik menjadi hidup,

karena tindakan seorang guru lebih penting dari ucapan. Sebagai seorang sosok

pendidik tentunya guru menjadi teladan bagi siswanya di sekolah.

Sebagai saksi iman hendaknya guru Pendidikan Agama Katolik menyadari

kerasulannya dengan tekun, untuk mengusahakan pendidikan moral dan keagamaan

bagi para siswa. Melalui kegiatan kerasulan tersebut guru Pendidikan Agama Katolik

menyampaikan ajaran keselamatan kepada para siswa dan membimbing iman mereka.

Oleh karena itu dalam menyampaikan ajaran keselamatan, guru Pendidikan Agama

Katolik memberi kesaksian hidupnya secara konkret. Tindakan-tindakan nyata dari

seorang guru Pendidikan Agama Katolik jauh lebih penting dari pada hanya teori.

Semakin lengkap kesaksian konkret yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama

Katolik, maka guru Pendidikan Agama Katolik akan semakin dipercaya dan dicontoh

(40)

BAB III

GAMBARAN SIKAP SOLIDER SISWA KELAS X DAN

SUMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

DI SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA

Bertitik tolak pada bab II mengenai deskripsi tentang pokok-pokok Pendidikan

Agama Katolik, maka pada bab III ini penulis mendeskripsikan gambaran umum

situasi sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta serta tentang hubungan antara

Pendidikan Agama Katolik dengan sikap solider siswa kelas X. Untuk mendapatkan

data yang dibutuhkan, maka penulis melakukan penelitian. Penelitian ini

dimaksudkan untuk memperoleh gambaran keadaan siswa dan mengetahui

sumbangan Pendidikan Agama Katolik dalam mengembangkan sikap solider siswa

kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Data penelitian diharapkan dapat memberi

gambaran keadaan siswa kelas X dan peran dari Pendidikan Agama Katolik terhadap

sikap solider siswa kelas X. Berdasarkan keadaan siswa kelas X tersebut penulis akan

membuat suatu sumbangan pemikiran berbentuk usulan dalam perumusan tujuan

Pendidikan Agama Katolik, dalam penyusunan bahan-bahan dan penentuan metode

belajar Pendidikan Agama Katolik dalam upaya mengembangkan sikap solider siswa

yang akan dibahas pada bab IV. Sebelum melakukan penelitian penulis akan

menyampaikan gambaran umum tentang situasi sekolah SMA Pangudi Luhur yang

diperoleh melalui studi dokumen dan dari hasil observasi sewaktu penulis

melaksanakan PPL Pendidikan Agama Katolik di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

Gambaran umum tentang sekolah SMA Pangudi Luhur tersebut akan dijabarkan

(41)

A. Gambaran Umum Situasi Sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

SMA Pangudi Luhur Yogyakarta merupakan salah satu sekolah swasta Katolik

yang ada di Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur merupakan sekolah dimana penulis

pernah melaksanakan PPL Pendidikan Agama Katolik Menengah. Selama proses PPL

Pendidikan Agama Katolik penulis banyak memperoleh data tentang gambaran

umum situasi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Gambaran umum tentang SMA

Pangudi Luhur Yogyakarta tersebut meliputi:

1. Sejarah Singkat SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

SMA Pangudi Luhur (PL) Yogyakarta yang terletak di pusat kota Yogyakarta

ini semula adalah Sekolah Guru A (Atas: dipersiapkan menjadi guru SMP) Khusus

Putra yang didirikan oleh para imam Jesuit pada bulan April 1942. Pada tanggal 9

Agustus 1952 sekolah ini diserahkan kepada para Bruder FIC yang kemudian

menempati gedung milik Bruder-bruder FIC di Jln Senopati 16, dan pada tahun 1965

secara resmi dikelola oleh Yayasan Pangudi Luhur (YPL) milik para Bruder FIC.

Tahun 1973 SGAK ini kemudian berubah menjadi SPG dan menerima siswa

putri. Setelah melewati perjalanan panjang, terjadi perubahan kurikulum tahun 1989,

maka mulai tahun itu SPG berubah menjadi SMA. Dua tahun sebelum itu gedung

sekolah resmi berpindah ke Jln.Senopati no 18 (hingga kini).

Seperti bayi yang baru lahir, SMA Pangudi Luhur memulai kehidupan baru

sebagai sebuah SMA di tahun tersebut. Berkat usaha keras dari orang-orang yang

terlibat di dalamnya, kini SMA PL sudah mengalami banyak kemajuan pesat terutama

dari segi fasilitas dan perkembangan sumber daya manusia di dalamnya. Tidak heran

jika di tahun 2005 SMA ini menerima Akreditasi dengan nilai A.

Di bawah pengelolaan para Bruder FIC, SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

(42)

ilmu yang ditawarkan. Dengan demikian setiap pribadi yang ada di dalamnya akan

bertumbuh dalam kesadaran bahwa melalui ilmu pengetahuan hidupku akan

kubaktikan bagi Tuhan dan sesama (http://www.pangudiluhur.org/)

2. Situasi Fisik SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

Gedung SMA Pangudi Luhur Yogyakarta terletak di dalam satu kompleks

dengan gedung TK dan gedung SD Pangudi Luhur yang membentang dari Timur ke

Barat, tepatnya di belakang Bank Indonesia. Letak SMA Pangudi Luhur sangat

strategis, jadi mudah untuk diketahui dan dijangkau kendaraan umum. Gedung yang

ada merupakan bangunan yang terdiri dari bangunan berlantai satu dan berlantai dua.

Halaman SMA Pangudi Luhur tidak begitu luas tetapi dapat digunakan untuk upacara

bendera, olah raga seperti basket, footsal, dan volley. Selain itu halaman ini juga bisa

dipakai untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler tertentu, seperti pleton inti, basket,

dan ekstrakurikuler lainnya. Gedung SMA Pangudi Luhur adalah gedung yang

permanen dan cukup kokoh. Hal tersebut terlihat dari bentuk bangunan dan

perawatannya. Pada dasarnya sekolah ini tidak begitu luas. Bangunan ini sulit untuk

diperluas lagi karena letaknya di kota dan diapit oleh Bank Indonesia dan SD/TK

Pangudi Luhur, sehingga penambahan kelas dan ruangan dapat dilaksanakan bila

gedung dibangun lagi dengan ditambah 1 lantai lagi.

Ruang kelasnya sudah cukup mendukung proses belajar mengajar. Ukurannya

cukup memadai dengan ventilasi dan jendela yang cukup banyak sehingga pergantian

udara cukup baik. Pada umumnya setiap ruang kelas memiliki penerangan yang

cukup baik. Di ruang kelas juga dilengkapi dengan fasilitas kipas angin dan pendingin

ruangan. Setiap anggota kelas selalu menjaga kebersihannya. Terbukti dari keadaan

(43)

belajar juga sudah memadai. Kelengkapan jumlah kursi dan meja bagi siswa juga

terdapat di semua kelas. Di setiap kelas juga tersedia sarana multimedia yang sangat

mendukung dalam proses pembelajaran.

Ruang kantor kepala sekolah berada pada satu-satunya jalan keluar. Hal ini baik

karena memudahkan kepala sekolah memantau siswa yang ingin meninggalkan

sekolah atau membolos. Sedangkan ruang guru cukup luas dilengkapi dengan

berbagai unit komputer dan kursi tamu yang cukup banyak. Tempat parkir di SMA

Pangudi Luhur terdiri atas tiga bagian, yaitu tempat parkir untuk guru dan karyawan

yang berada di sekitar kantor kepala sekolah dan TU, sedangkan untuk siswa ada dua

bagian yaitu di lantai bawah dan lantai atas.

3. Situasi Akademis SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

a) Visi dan Misi

Suatu lembaga pendidikan berdiri karena memiliki tujuan sebagaimana yang

diuraikan dalam visi dan misi lembaga pendidikan tersebut. SMA Pangudi Luhur

Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan tentunya juga memiliki visi dan misi.

Visi SMA Pangudi Luhur sebagai berikut :

SMA Pangudi Luhur Yogyakarta merupakan tempat mewujudkan komunitas iman dengan cara menempatkan Kristus Yesus Sang Guru Sejati sebagai pusat hidup dalam upaya membangun persaudaraan sejati serta pendampingan kaum muda yang menuju pribadi dewasa, beriman, berpengetahuan, terampil, bermartabat, berbudi pekerti luhur dan terbuka menghadapi tantangan zaman (http://www.pangudiluhur.org/).

Dari visi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ini terlihat bahwa

SMA Pangudi Luhur merupakan suatu wadah atau tempat untuk membangun dan

membentuk siswa menjadi sosok pribadi yang dewasa, beriman, berpengetahuan,

(44)

zaman. Dalam visi juga dapat dilihat bahwa SMA Pangudi Luhur menempatkan

Kristus sebagai pusat dalam membangun persaudaraan sejati. Terwujudnya

persaudaraan sejati yang di tekankan dalam visi di atas ditandai dengan terciptanya

suatu relasi yang baik itu antara siswa, guru, dan karyawan. Visi yang dimiliki oleh

SMA Pangudi Luhur ini menjadi arah dasar sekolah dalam proses pendidikan. Selain

visi, SMA Pangudi Luhur juga memiliki misi dalam proses pendidikan.

Misi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta:

Membantu, mendampingi siswa menemukan potensi yang dimiliki untuk dikembangkan secara optimal serta melatih siswa mandiri, bertanggung jawab, bermartabat, dan berbudi pekerti luhur, menghargai, menghormati sesamanya dan menerima diri sebagai pribadi yang unik sehingga menjadi pribadi dewasa (http://www.pangudiluhur.org/).

Dari misi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur Yogyakarta terlihat bahwa

tujuan misi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ialah untuk mengembangkan diri siswa

agar memiliki pribadi yang dewasa. Dalam misi di atas, juga terlihat bahwa SMA

Pangudi Luhur membantu siswa dalam mengembangkan sikap-sikap yang

diwujudkan dalam membangun persaudaraan sejati. Misi yang dimiliki SMA Pangudi

Luhur ini merupakan cara yang digunakan untuk mencapai visi dari SMA Pangudi

Luhur.

Visi dan misi yang dimiliki oleh SMA Pangudi Luhur Yogyakarta saling

berhubungan. Visi merupakan arah dasar dari sekolah, sedangkan misi

kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai visi sekolah. Untuk itu, visi dan misi

merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Misi

tidak akan ada tanpa adanya visi, sedangkan visi tidak akan terwujud tanpa adanya

misi. Sebagai suatu kesatuan, visi dan misi merupakan salah satu elemen yang

(45)

b) Kegiatan Ekstrakurikuler dan Kegiatan Rutin Sebagai Bentuk Kegiatan

Pengembangan diri Siswa-Siswi

Dalam rangka mengembangkan diri siswa, SMA Pangudi Luhur mempunyai

berbagai macam kegiatan. Salah satu kegiatan yang digunakan untuk

mengembangkan diri siswa ialah dengan kegiatan ekstrakurikuler. Banyak sekali

kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tersebut mencakup minat serta bakat siswa-siswi yang ada di

SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut antara lain:

elektronika robotik, bulu tangkis, komputer, pleton inti, volly, sepak bola, jurnalistik,

biola, band, paduan suara, renang, basket, english club, dsb. Setiap guru ambil bagian

dalam mendampingi kegiatan ekstrakurikuler.

Di samping kegiatan ekstrakurikuler SMA Pangudi Luhur Yogyakarta juga

mempunyai kegiatan rutinan. Para siswa SMA Pangudi Luhur mempunyai banyak

kegiatan. Selain mengikuti proses belajar mengajar di pagi hari, mereka juga masih

harus mengikuti kegiatan ekstra wajib dan juga diwajibkan memilih salah satu dari

ekstra kurikuler yang ditawarkan. Usaha-usaha lain yang dilakukan untuk

peningkatan kualitas lulusan antara lain:

1) Retret atau Rekoleksi

SMA Pangudi Luhur memiliki program untuk menanamkan nilai-nilai moral

dan iman dalam kegiatan rohaninya yaitu retret atau rekoleksi. Kegiatan ini memiliki

sasaran yaitu siswa-siswi SMA Pangudi Luhur dari kelas X sampai dengan kelas XII.

Kegiatan retret atau rekoleksi ini diadakan oleh pihak sekolah biasanya setiap satu

tahun sekali. Kegiatan retret ini biasanya dikoordinir oleh guru Pendidikan Agama

Katolik serta dibantu oleh guru-guru yang lain. Dengan retret atau rekoleksi ini siswa

(46)

atau rekoleksi ini juga siswa diajak untuk melatih dan mengembangkan rohani

mereka supaya lebih matang.

2) Study Tour dalam Propinsi

SMA Pangudi Luhur memiliki program study tour di dalam propinsi

Yogyakarta untuk kelas X contohnya ke Kebun Binatang Gembira Loka. Kegiatan ini

bertujuan untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan alam. Masih banyak

lagi contoh study tour dalam provinsi yang dapat bermanfaat dan dapat memberikan

pengetahuan bagi diri siswa. Study tour dalam provinsi ini juga dapat digunakan

sebagai sarana untuk mempelajari sejarah dan budaya yang ada di dalam provinsi

Yogyakarta. Contohnya kegiatan study tour untuk mengenal sejarah dan budaya yang

ada di dalam propinsi ialah kunjungan ke candi-candi peninggalan sejarah, atau

kunjungan ke kraton D.I.Y. dll.

3) Study Tour luar Propinsi

Di samping mengadakan kegitan study tour di dalam propinsi, SMA Pangudi

Luhur juga memiliki program study tour di luar Propinsi yang akan diikuti oleh siswa

kelas XI baik IPA maupun IPS. Contoh study tour yang sering dilaksanakan di luar

provinsi ialah study tour ke Bali. Tujuan dari kegiatan ini agar siswa-siswi SMA

Pangudi Luhur dapat mengenal budaya lain selain budaya Jawa khususnya budaya

Yogyakarta. Kegiatan study tour ke luar provinsi ini sampai sekarang masih

mendapatkan antusiasme yang besar dari para siswa. Siswa merasa banyak

(47)

c) Struktur Organisasi

Sebagai salah satu institusi pendidikan, tentunya SMA Pangudi Luhur

Yogyakarta memiliki struktur organisasi sekolah. Organisasi SMU Pangudi Luhur

Yogyakarta dibina oleh Dinas Pendidikan & Pengajaran Kota Yogyakarta

(Pendidikan Menengah) serta dikelola oleh Yayasan Pangudi Luhur cabang

Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dipimpin oleh satu orang kepala

sekolah yang juga merupakan seorang biarawan dari Fractum Immaculatum

Conceptuionis yakni Br. Herman Yoseph.

Seluruh tenaga pendidik yang ada di SMA Pangudi Luhur berjumlah 23 orang.

11 orang tenaga pendidik merupakan perempuan serta 12 tenaga pendidik merupakan

laki-laki. Hampir semua tenaga pendidik dari SMA Pangudi Luhur berpendidikan S1.

Selain sebagai tenaga pendidik, ada beberapa guru yang merangkap sebagai wali

kelas. Di kelas X.1 yang bertugas sebagai wali kelas ialah ibu TH. Sasi Ambarwati, di

kelas X.2 bapak Ignatius Suroto, di kelas X.3 bapak Rudi Hartanto, di kelas X.4 ibu

Ratna Dwiyanti, di kelas X.5 ibu Alit Elia, di kelas X.6 ibu Nike Artina. Selama ini

organisasi yang ada di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta berjalan dengan cukup baik.

Hal ini ditandai dengan belum adanya masalah yang serius tentang pengorganisasian

yang berada di bawah struktur sekolah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

Di SMA Pangudi Luhur setiap siswa, karyawan, guru, dan kepala sekolah dapat

bekerja sama dengan baik. Situasi tersebut menunjukan bahwa SMA Pangudi Luhur

Yogyakarta memiliki struktur organisasi yang baik. Untuk mengetahui gambaran

tentang struktur organisasi di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, di bawah ini penulis

(48)

B. Keadaan Siswa Kelas X

1. Jumlah Siswa

Siswa kelas X SMA Pangudi Luhur seluruhnya berjumlah 197 orang. Kelas X

di SMA Pangudi Luhur dikelompokkan menjadi 6 kelas, setiap kelas rata-rata

berjumlah 32-34 siswa. Siswi di kelas X seluruhnya berjumlah 65 orang, sedangkan

siswanya seluruhnya berjumlah 132 orang. Jumlah siswa tersebut sangat

memungkinkan dalam mendukung proses belajar mengajar yang efektif di dalam

kelas.

2. Agama

Siswa SMA Pangudi Luhur sebagian besar beragama Katolik. Begitu pula

dengan keadaan siswa di kelas X, sebagian besar siswa kelas X memeluk agama

Katolik. Dari keseluruhan siswa kelas X kurang lebih ada 10 % yang beragama non

Katolik, baik itu agama Kristen, Islam, Hindu dan Budha. Keadaan di atas

menunjukkan bahwa SMA Pangudi Luhur Yogyakarta memiliki identitas sebagai

sekolah yang bercirikan Agama Katolik. Dari agama-agama tersebut siswa

memperoleh banyak pengalaman tentang bagaimana cara untuk menghormati dan

menghargai pemeluk agama lain. Agama bagi siswa bukanlah suatu penghalang

untuk mewujudkan persaudaraan yang ada di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

khususnya kelas X. Di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta siswa yang beragama non

Katolik maupun yang beragama Katolik semua dipandang sama, tidak ada

pembedaan antara siswa yang Katolik maupun yang non Katolik

3. Keadaan Sosial – Ekonomi Keluarga Siswa

SMA Pangudi Luhur Yogyakarta merupakan salah satu sekolah swasta yang

(49)

pelaksanaan proses pendidikan SMA Pangudi Luhur tidak tergantung pada

pemerintah secara penuh. Dana yang dipakai dalam proses pendidikan sebagian besar

berasal dari siswa. Dari situasi di atas terlihat bahwa sebagian besar siswa-siswa

SMA Pangudi Luhur Yogyakarta berasal dari keluarga yang memiliki keadaan sosial-

ekonomi menengah ke atas.

4. Gambaran Hubungan Komunikasi siswa Kelas X

Kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta terdiri dari 6 kelas. Setiap kelas

dikoordinir oleh wali kelas dan dibantu oleh pengurus kelas yang terdiri dari ketua

kelas, sekretaris, dan bendahara kelas. Setiap kelas memiliki kekhasan

masing-masing. Di setiap kelas X disediakan sarana prasarana yang dapat mendukung siswa

dalam proses pembelajaran, misalnya: LCD, AC, dan 1 unit komputer yang

digunakan guru dalam proses pembelajaran. Pada umumnya para siswa di setiap kelas

X dapat menjaga sarana dan prasarana tersebut dengan baik. Hubungan antara siswa

kelas X dengan guru wali kelas pun masih berjalan dengan baik. Tidak ada siswa

yang memiliki permasalahan serius dengan wali kelas masing-masing. Komunikasi

antar siswa di kelas pun dapat dikatakan baik. Rasa saling menghargai dan menolong

satu dengan yang lain bisa dikatakan terjalin dengan baik.

C. Sikap Solider Di Dalam Hidup Siswa

1. Pengertian Sikap Solider

Sikap solider merupakan suatu bentuk sikap peduli kita terhadap sesama.

Seseorang yang memiliki sikap solider ialah orang yang memiliki rasa empati. Sikap

solider tampak dari kerelaan orang berbagi, memberikan sumbangan bagi orang yang

Gambar

Tabel 1
Tabel 2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku asertif peserta didik kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 dalam

Hasil akhir menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Katolik di SMA Stella Duce II Yogyakarta sudah berjalan dengan baik dan membantu peserta didik dalam mengembangkan

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas X-5 semester 2 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 dalam menulis gagasan untuk

Terimakasih kepada Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan, dan Humas dari SMA Kolese De Britto, SMA Bopkri 1, dan SMA Pangudi Luhur yang telah

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan dan sikap demokratis siswa kelas XI IPS 1 SMA Pangudi Luhur Sedayu Tahun Ajaran 2010 dalam pembelajaran

Skripsi ini bertujuan untuk melihat besarnya sumbangan rekoleksi tahunan terhadap motivasi pengembangan potensi diri para siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Yogyakarta..

PENGARUH POLA KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI TERHADAP KADAR KOLESTEROL SISWA KELAS XI SMA NEGERI 8 DAN SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA Lediana Sinaga Universitas Sanata Dharma

a. Penerimaan e-learning di kalangan siswa – siswi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta didasari oleh niat perilaku untuk menggunakan e-learning. Niat perilaku untuk