TINJAUAN PUSTAKA. lingkungan. Untuk meningkatkan pertumbuhan maka perlu dilakukan pemberian pupk

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Pupuk Organik

Dewasa ini pemerintah menggalakknan penggunaan bahan bahan yang ramah lingkungan. Untuk meningkatkan pertumbuhan maka perlu dilakukan pemberian pupk hayati yang bersifat ramah lingkungan yaitu pupuk organik. Pupuk organik bila digunakan dalam tanah akan merangsang mikrobia, meningkatkan aktivitas biologis, memperbaiki struktur tanah, memperbaiki struktur penyimpanan air tanah dengan begitu meningkatkan kesuburan (Rosmarkam dan Yuwono, 2003).

Bahan organik merupakan bahan yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pupuk. Bahan organik yang berasal dari hewan merupakan kotoran hewan yang memiliki kandungan unsur hara sehingga dapat menyuburkan tanah. Hasilnya dapat mengembalikan kesuburan tanah (Musnamar, 2002)

Bahan Organik yang berasal dari hewan mengandung unsur hara yang bervariasi tergantung pada makanan hewan tersebut. Menurut Sutedjo (1966) hewan yang banyak diberi makan biji bijian menyebabkan kotorannya mengandung unsur hara yang lebih tinggi.

Rumah Kompos

Rumah kompos berguna dalam pengembangan unit unit pengolahan kompos, sehingga dapat memberikan manfaat tambahan terhadap sampah sampah yang selama ini hanya dibuang begitu saja.

Pada dasarnya rumah kompos adalah sebagai tempat pembuatan kompos. Namun dalam peranannya rumah kompos melakukan pembinaan terhadap petani padi sawah dengan mengadakan pelatihan pembuatan pupuk kompos. Bangunannya

(2)

terbuat dari daun rumbia. Namun perlu diperhatikan bahwa lantai dari rumah kompos ini harus beralaskan tanah. Karena dalam proses pembuatannya, kotoran ternak ini sifatnya panas jadi harus menggunakan lantai tanah agar mendapatkan rongga udara dari pori pori tanah.

Adapun pembuatan pupuk kompos dari kotoran sapi dan kambing yang dipelihara dengan sistem kereman atau lumbung fermentasi

a. Bahan dan Alat

1. Lumbung fermentasi ukuran 1 x 1 m untuk kapasitas 1 ton per periode pembuatan. Dasar atu alas bangunan dari tanah dengan tujuan agar kotoran sapi dan kambing agar dapat menyerap panas karea kotoran sapi dan kambing sifatnya yang panas. Dinding setinggi satu meter yang terbuat dari bambu dengan tujuan agar memberikan rongga udara melalui celah celah anyaman bambu. Atap terbuat dari daun rumbia atau bahan lainnya yang tersedia.

2. Alat alat yang diperlukan seperti cangkul, angkong dan sekop

3. Bahan bahan yang digunakan adalah bahan aktivator yaitu Com A sebanyak 1 ltr, Urea 2 kg, Gula Merah 1 kg.

b. Cara Pembuatan

- Kotoran ternak dikumpulkan dan ditebarkan atau diserak di lapangan yang beralaskan semen, kemudian diratakan.

- Setelah terkumpul kemudian kotoran ternak tadi dimasukkan ke dalam lumbung fermentasi dan dicampur dengan air + gula merah + urea + Com A. Pencampuran antara kotoran ternak dengan bahan aktivator dilakukan sedikit demi sedikit agar merata. Kemudian diadakan pembalikan secara terus menerus hingga merata.

(3)

- Kotoran ternak yang telah dicampur dengan bahan aktivator kemudian didiamkan selama kurang lebih 4 minggu.

- Setelah empat minggu pupuk kompos telah matang. Untuk mendapatkan partikel pupuk organik yang reatif sama maka perlu dikeringkan dibawah sinar matahari secukupnya kemudian digiling dan dilakukan pengayakan dengan mesin Coper. Pupuk kompos yang sudah siap in selanjutnya disimpan dan siap didistribusikan.

Evaluasi Peranan Rumah Kompos

Sistem perencanaan mengharuskan adanya evaluasi atau penilaian hasil pelaksanaannya, yang kemudian dapat dipergunakan sebagai masukan balik (feed-back) guna memperbaiki atau merencanakan kembali. Untuk keperluan ini diadakan pemantauan atau monitoring dan selanjutnya dilaporkan perkembangannya. Kegiatan ini dibuat pada waktu rencana dilaksanakan. Masukan kembali dapat dibentuk laporan-laporan resmi yaitu melalui daftar daftar isian atau formulir yang telah disusun sebelumnya, berita acara, memorandum dan sebagainya atau dapat berbentuk cara cara yang lebih santai (informal) melalui rapat-rapat staf berkala dimana dibicarakan dan diadakan pertukaran fikiran mengenai apa yang gagal atau tidak berhasil dicapai. Dalam evaluasi atau penilaian dicoba untuk mendapatkan informasi dan mencapai hasil suatu program atau dampak dari suatu kegiatan, bagaimana keadaan sebelum dan sesudah dilaksanakan suatu program/proyek. Disamping mencari informasi mengenai apa, juga dicari jawaban dari mengapa atau sebabnya hal-hal positif maupun negatif telah terjadi.evaluasi dapat dihubungkan dengan pengawasan. Dengan menentukan norma-norma atau kriteria mengenai hasil yang

(4)

harus dicapai, sekaligus pelaksana pelaksana diawasi melalui norma norma tersebut (Reksopoetranto,1992).

Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai relevansi, efisiensi, efektifitas dan dampak dari kegiatan dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan. Dengan demikian, kegiatan ini merupakan proses untuk memperbaiki dan menyempurnakan aktivitas yang sedang berjalan. Evaluasi juga dimaksud untuk membantu manajemen dalam merumuskan program dan pengambilan keputusan (Suryana,2007).

Landasan Teori

Pupuk kompos organik merupakan pupuk tanaman hasil dekomposisi bahan-bahan organik dengan proses penguraian dan perombakan struktur organik dengan memanfaatkan mikroorganisme pengurai secara alami ( Pramudyati, 2002).

Secara alami bahan bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi.

Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota kota besar, limbah organik industry, serta limbah pertanian dan perkebunan.

(5)

Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism) atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri sendiri.

Gabungan dari mikroorganisme tersebut secara fisiologis mempunyai kecocokan untuk dapat hidup bersama dalam kultur campuran. Sewaktu kultur campuran tersebut dikembalikan ke dalam lingkungan alaminya, terdapat pengaruh yang paling menguntungkan pada setiap individu mikroorganisme itu secara cepat bertambah dalam aksi yang saling menunjang. Kultur campuran dari mikroorganisme yang saling menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi tanaman, kesehatan tanaman, lebih tahan terhadap hama dan penyakit memperbaiki dan menguraikan bahan organik dan residu tanaman serta mempercepat daur ulang hara tersebut (Tamba, 1999).

Pupuk organik (pupuk kandang merupakan bahan pembenah tanan yang paling baik dibanding bahan pembenah lainnya. Pada umumnya nilai pupuk yang dikandung pupuk organik terutama unsur makro nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) rendah, tetapi pupuk organik juga mengandung unsur mikro esensial yang lain. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik membantu dalam mencergah terjadinya erosi dan mengurangi etrjadinya retakan tanah. Pemberian bahan organik mampu meningkatkan kelembapan tanah (Sutanto, 2002)

(6)

a. Pada Sifat Fisik Tanah

- Meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Air tanah mempengaruhi mikroorganisme tanah dan tanaman diatasnya.

- Warna tanah menjadi coklat hingga hitam. Hal ini meningkatkan penyerapan energi radiasi matahari yang kemudian mempengaruhi struktur tanah.

- Merangsang granulasi agregat (perbaikan struktur tanah) dan memantapkannya.

- Menurunkan plastisitas, ohesi dan sifat sifat buruk lainnya dari liat b. Pada Sifat Kimia Tanah

Kelebihan pupuk organik pada sifat kimia tanah adalah meningkatkan daya serap dan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Bahan organik dapat meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dua sampai tiga puluh kali lebih besar daripada kolodi mineral yang meliputi 30 – 90% dari tenaga serap suatu tanah mineral. Peningkatan KTK dapat menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur unsur hara.

c. Pada Sifat Biologi Tanah

Secara umum, pemberian pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan aktivitas mikroorganisme karena bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Kegiatan jasad mikro ni dengan sendirinya membantu peningkatan dekomposisi adalah bentuk senyawa yang lebih stabil yang disebut humus.

d. Pada Tanah

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa zat tumbuh dan vitamin dapat diserap langsung dari pupuk organik dan dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Penambahan bahan organik kedalam tanah akan menambah unsur hara, baik makro maupun mikro yang dibutuhkan tanaman sehingga

(7)

pemupukan dengan pupuk organik yang biasa dilakukan oleh para petani dapat dikurangi jumlahnya karena unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sudah diperoleh dari pupuk organik (Dinas Pertanian, 2008).

Faktor Sosial-Ekonomi

Petani berkepentingan untuk meningkatkan penghasilan usahatani dan keluarga sehingga tidak mengherankan apabila ada teknologi baru, petani akan mempertimbangkan untung ruginya. Setelah secara teknis dan ekonomi dianggap menguntungkan barulah petani memutuskan untuk menerima dan mempraktekkan ide-ide baru tersebut.

Umur

Petani yang berumur 50 tahun ke atas biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian-pengertian yang mengubah cara berpikir, cara kerja dan cara hidupnya. Mereka bersikap apatis terhadap inovasi. Semakin muda umur petani maka makin semangat untuk mengetahui hal baru, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk cepat melakukan adopsi walaupun sebenarnya mereka masih belum berpengalaman soal adopsi tersebut (Kartasapoetra, 1994).

Tingkat Pendidikan

Pendidikan rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam memanfatkn sumber sumber daya alam yang tersedia. Usaha-usah petani berakibat hanya mampu menghasilkan pendapatan yang rendah (Kartasapoetra, 1994).

(8)

Petani yang sudah lama bertania akan lebih mudah menerapkan inovasi baru daripada petani pemula, karena pengalaman yang lebih banyak sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil keputusan.

Luas Lahan

Semakin besar luas lahan yang dimiliki petani, maka diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dari usahataninya.

Produktivitas

Produktivitas merupakan nilai perbandingan antara produksi padi dengan luas lahan petani. Jadi semakin besar produksi yang diperoleh maka semakin besar produktivitasnya.

Jumlah Tanggungan

Semakin banyak anggota keluarga maka biaya hidup juga semakin bertambah, namun semakinbanyak anggota keluarga yang aktif berusahatani maka akan berpeluang memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

Jumlah Ternak

Semakinbanyak jumlah ternak yang dimiliki petani maka semakin banyak pula bahan baku pupuk dalam membuat pupuk kompos.

Produksi

Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda. Segala yang dihasilkan dari benda tersebut akan memiliki nilai jual.

(9)

Jadi semakin banyak produksi yang diperoleh, maka semakin besar pula pendapatan yang kita terima (Wikipedia, 2008).

Kerangka Berfikir

Pada tahun 2005 Dinas Pertanian Langkat mengadakan program pembuatan rumah kompos untuk setiap daerah sebagai usaha dam mempertahankan dan meningkatkan produktivitas tanah melalui penggunaan hara yang berasal dari pupuk organik. Salah satunya didirikan rumah kompos di Kelurahan Perdamaian Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat dengan bimbingan dari BBP Perdamaian yang dikelola oleh kelompok tani UP3HP Bersatu Kita Maju degan di ketuai oleh H. Rusmin.

Rumah kompos adalah merupakan sebuah program tekhnik pembuatan kompos yang diberikan oleh Dinas Pertanian yang disosialisasikan melalui penyuluh penyuluh lapangan yang kemudian diberikan pelatihan kepada kelompok kelompok tani untuk mengembangkan pembuatan kompos ini. Rumah kompos merupakan tempat pembuatan kompos. Tidak hanya sebagai tempat pembuatan kompos, rumah kompos juga bisa digunakan sebagai tempat pelatihan pembuatan kompos, tempat pertemuan antar petani serta sebagai tempat sumber informasi yang berguna bagi petani.

Rumah kompos juga berperan dalam membina masyarakat sekitar dengan memberikan pelatihan pelatihan berupa pelatihan pembuatan kompos. Dimana dengan adanya pelatihan ini memberikan peranan terhadap peningkatan pendapatan petani di sekitar daerah penelitian. Karena petani yang mengikuti pelatihan ini kemudian nantinya akan bisa membuat kompos untuk memenuhi kebutuhan untuk usahatani mereka sendiri. Sebagian besar petani yang mengikuti pelatihan ini adalah petani yang sekaligus sebagai peternak. Jadi mereka dapat memanfaatkan kotoran ternak mereka yang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam membuat kompos.

(10)

Rumah kompos juga banyak memberikan peranan terhadap petani padi sawah. Sejak mereka menggunakan kompos untuk lahan pertaniannya maka produktivitasnya juga turut mengalami peningkatan sehingga memberi dampak ikutan terhadap peningkatan pendapatan petani. Beberapa faktor sosial petani meliputi umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman bertani maupun faktor ekonomi petani meliputi luas lahan, jumlah tanggungan, dan total pendapatan akan mempengaruhi petani padi sawah terhadap penggunaan pupuk kompos.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dilihat dalam skema kerangka pemikiran sebagai berikut:

Rumah kompos

Pelatihan

Petani Padi Sawah

Faktor Sosial Ekonomi Petani: - Umur

- Tingkat Pendidikan - Lamanya Bertani

- Produktivitas Luas Lahan - Jumlah Tanggungan - Total Pendapatan

Gambar 2.1. Skema Kerangka Berfikir Evaluasi Peranan Rumah Kompos Bagi Kebutuhan Usahatani Padi Sawah

Ket :

Figur

Gambar 2.1. Skema Kerangka Berfikir Evaluasi Peranan Rumah Kompos Bagi  Kebutuhan Usahatani Padi Sawah

Gambar 2.1.

Skema Kerangka Berfikir Evaluasi Peranan Rumah Kompos Bagi Kebutuhan Usahatani Padi Sawah p.10
Related subjects :