BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perekonomian yang semakin kompleks tentunya membutuhkan

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan perekonomian yang semakin kompleks tentunya membutuhkan ketersediaan dan peran serta lembaga keuangan. Kebijakan moneter dan perbankan merupakan bagian dari kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk mencapai sasaran pembangunan. Oleh sebab itu peranan perbankan dalam suatu negara sangat penting. Menurut penelitian sebelumnya oleh Siamat (1995), tidak ada suatu negarapun yang hidup tanpa memanfaatkan lembaga keuangan. Salah satu contoh dari lembaga keuangan adalah Bank.

Menurut Undang-undang RI No 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah ”badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. Krisis yang melanda dunia perbankan Indonesia sejak tahun 1997 telah menyadarkan semua pihak bahwa perbankan dengan sistem konvensional bukan merupakan satu-satunya sistem yang dapat diandalkan, tetapi ada sistem perbankan lain yang lebih tangguh karena menawarkan prinsip keadilan dan keterbukaan, yaitu Perbankan Syariah.

Menurut Abdurrahman (2010), Banyak perbankan konvensional pada saat krisis ekonomi/krisis moneter tumbang, hal itu kemungkinan besar dikarenakan sistem yang dipakai memungkinkan jatuhnya perbankan mereka, yaitu sistem ribawi

(2)

yang banyak dipengaruhi oleh bunga. Perbankan syariah terbukti lebih tangguh menghadapi krisis keuangan dibanding dengan perbankan konvensional. Menurut pendapat Aulia Reza Utama (2010), Perbankan Syariah bisa menjembatani bangsa ini menuju masyarakat madani karena sama-sama mempunyai nilai yang disebutkan dalam pengertian masyarakat madani, diantaranya menjunjung nilai-nilai dan moral yang ditopang keimanan, dalam segala hal perbankan syariah dalam operasional harus berpijak pada Al Qur’an dan As Sunnah. Selain bebas dari riba, Bank Syariah berbasis pada kegiatan ekonomi yang nyata atau sektor riil, pada Bank Konvensional, anda diperbolehkan mengambil kredit untuk apa saja, tanpa tahu harus digunakan untuk apa kreditnya. Sebaliknya yang dilakukan Bank Syariah adalah dalam bentuk pembiayaan untuk keperluan konsumen.

Seperti Bank Konvensional, Bank Syariah juga memberikan jasa-jasa pembiayaan. Jasa-jasa pembiayaan yang diberikan Bank Syariah jauh lebih beragam daripada jasa-jasa pembiayaan yang dapat diberikan oleh Bank Konvensional. Mengenai jasa pembiayaan yang dapat diberikan oleh bank Islam bukan saja pembiayaan dalam bentuk apa yang disebut dalam istilah perbankan konvensional sebagai kredit, tetapi juga memberikan jasa-jasa pembiayaan yang biasanya diberikan oleh lembaga pembiayaan (multi finance company), seperti leasing, hire purchase, pembelian barang oleh nasabah bank kepada bank Islam yang bersangkutan dengan cicilan, pembelian barang oleh bank Islam kepada perusahaan manufaktur dengan pembayaran di muka, penyertaan modal (equity participation atau venture capital).

Jasa-jasa perbankan Islam yang terkait dengan jasa pembiayaan yang ditawarkan oleh Bank Syariah dikemas dalam produk-produk yang ada dalam Bank

(3)

Syariah, salah satunya adalah pembiayaan Murabahah. Menurut Tatang Sutardi (2010), murabahah merupakan akad jual beli barang dengan mengatakan harga perolehan dan keuntungan (laba) yang disepakati oleh penjual dan pembeli dan keuntungan tersebut dihitung dengan menggunakan mata uang. Namun sebagai lembaga keuangan, berdasarkan peraturan yang ada, bank tidak dimungkinkan berfungsi pula sebagai retailer dengan memiliki persediaan barang untuk dijual. Menurut Lukita Tri Prakasa (2006) dalam skim murabahah fungsi Bank adalah sebagai penjual barang untuk kepentingan nasabah, dengan cara membeli barang yang diperlukan nasabah dan kemudian menjualnya kembali kepada nasabah dengan harga jual yang setara dengan harga beli ditambah keuntungan Bank dan Bank harus memberitahukan secara jujur harga pokok Barang berikut biaya yang diperluan dan menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian Barang kepada Nasabah. Maka dalam praktiknya yang diterapkan bukanlah murabahah murni tetapi murabahah kepada pemesan pembelian (murabahah KPP). Dari hasil penelitian sebelumnya dari Rahmat Dahlan (2010), dalam operasional bank syariah praktik murabahah kepada pemesan pembelian (KPP) sering kali tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah, seperti berikut ini:

1. Membayar harga barang kepada pihak klien (pemesan barang), baik itu dalam pembayaran tunai atau transfer pada nomor rekening miliknya, dan mencukupkan dengan adanya laporan kwitansi pembelian dari pihak sumber barang/supplier atas nama bank dengan harga barangnya. Hal itu tanpa melalui transaksi jual beli langsung antara pihak bank dan pihak sumber barang, dan tanpa ada wakil bank yang menerima penyerahan

(4)

barang atas nama pihak bank yang akan menyerahkan barangnya kepada pihak klien sebagai pemesan barang.

2. Penandatanganan transaksi jual beli dengan cara murabahah yang bersamaan waktunya dengan penandatanganan transaksi perjanjian untuk membeli barang (fase awal). Hal itu dilangsungkan ketika barang yang dipesan belum ada dan bank belum memilikinya.

3. Pihak bank melepas tanggung jawabnya dari berbagai risiko operasional transaksi, barang pesanan dianggap aman, padahal barang tersebut masih dalam proses pengiriman, dan pihak klien menerima barang tersebut saat kedatangannya langsung dari pihak pabrik/toko dan kebijakan bank tersebut direkomendasi oleh pihak klien dengan membebaskan pihak bank dari tanggung jawab atas kecacatan barang yang dikirim. Penyimpangan dari prinsip syariah juga dapat dilihat pada pengenaan denda kepada nasabah yang tidak melaksanakan kewajibannya membayar utang pada waktunya sesuai akad karena force majeur.

Berdasarkan Undang-undang No. 10 Tahun 1998, bank dalam melakukan kegiatannya tidak hanya memperhatikan prinsip syariah saja tetapi juga harus memperhatikan rambu-rambu ketentuan Bank Indonesia (BI) atas terjadinya usaha yang dilakukan oleh bank. Penetapan rambu-rambu ketentuan dari BI bertujuan agar bank sebagai financial intermediary institution yang melakukan kegiatan usaha pembiayaannya harus selalu dalam keadaan baik.

Kegiatan bank juga mempunyai resiko tinggi karena berurusan dengan uang dalam jumlah yang sangat besar sehingga dapat menimbulkan niat orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk melakukan kecurangan dan dapat mengakibatkan

(5)

kerugian bagi bank. Untuk itu diperlukannya pengendalian internal yaitu sebuah sistem yang menggabungkan unsur manusia beserta metode-metode yang ditetapkan perusahaan untuk bekerjasama agar tujuan bisnis perusahaan dapat tercapai dan untuk menganalisis efektifitas dari fungsi-fungsi kontrol yang ada. Oleh karena itu, penulis dalam penelitian ini mengangkat objek penelitian yang akan di teliti ”EVALUASI PENGENDALIAN INTERNAL PEMBIAYAAN MURABAHAH KEPADA PEMESAN PEMBELIAN (KPP) PADA PT. BANK SYARIAH BUKOPIN”.

1.2 Ruang Lingkup Penelitian

Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang di atas, penulisan skripsi ini dibatasi pada pengendalian internal pembiayaan murabahah kepada pemesan pembelian (KPP) dan pendapatan. Adapun ruang lingkup pembahasan penulis adalah sebagai berikut :

Mengevaluasi pencatatan akuntansi murabahah menurut PSAK 102 tentang murabahah dan penerapan pengendalian internal atas siklus pendapatan menurut COSO serta bagaimana pengaruhnya terhadap efisiensi dan efektivitas perusahaan dan masalah yang berkaitan dengan pengendalian internal, meliputi catatan akuntansi dan prosedur dalam siklus pendapatan pembiayaan murabahah kepada pemesan pembelian (KPP) pada PT.Bank Syariah Bukopin cabang Melawai.

(6)

1.3 Rumusan Masalah Penelitian

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :

1. Apakah pembiayaan murabahah KPP pada PT.Bank Syariah Bukopin cabang Melawai sudah berjalan sesuai dengan prosedur dan tujuan perusahaan yang ditetapkan?

2. Apakah perhitungan murabahah dan pencatatan jurnal pada PT. Bank Syariah Bukopin cabang Melawai sudah sesuai dengan PSAK 102 tentang murabahah?

3. Apakah pengendalian internal bagian pembiayaan pada PT.Bank Syariah Bukopin cabang Melawai sudah dilaksanakan sesuai dengan COSO?

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian A. Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah pembiayaan murabahah kepada pemesan pembelian (KPP) sudah berjalan sesuai dengan prosedur dan tujuan perusahaan yang sudah ditetapkan.

2. Untuk mengetahui apakah perhitungan dan pencatatan jurnal sudah sesuai dengan PSAK 102.

3. Untuk mengetahui apakah pengendalian internal sudah digunakan dengan baik untuk meminimalisi kelemahan pada pembiayaan murabahah kepada pemesan pembelian(KPP).

4. Untuk memberikan solusi dalam pengendalian internal agar dapat mengurangi kelemahan pada pembiayaan murabahah kepada pemesan pembelian(KPP).

(7)

B. Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Perusahaan :

Mengetahui kelebihan dan kekurangan pada prosedur dan pengendalian internal pembiayaan murabahah kepada pemesan pembalian (KPP) dan pendapatan yang diterapkan oleh perusahaan dan sebagai pertimbangan bagi pihak manajemen untuk memperbaiki kelemahan, serta mendorong tercapainya suatu pengendalian internal yang efektif bagi perusahaan.

2. Bagi Penulis :

Mempunyai gambaran tentang pengendalian internal atas pembiayaan murabahah kepada pemesan pembelian (KPP) dan pendapatan yang ditetapkan yang diterapkan oleh perusahaan dalam mencapai tujuannya.

3. Bagi Pembaca :

Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan informasi tentang pengendalian internal pada PT.Bank Bukopin Tbk dan pentingnya pengendalian internal tersebut dalam kegiatan murabahah kepada pemesan pembelian (KPP) pada perusahaan.

1.5 Ringkasan Metodologi Penelitian A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode explanatory, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk memahami, merumuskan dan menjelaskan masalah-masalah penelitian, penyusunan teoritis, serta pengembangan dan alternatif solusi yang dapat dilakukan.

(8)

B. Dimensi Waktu Riset

Dimensi waktu yang digunakan untuk penelitian ini adalah cross sectional, yaitu penelitian yang menggunakan pendekatan snapshot atau observasi dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2011.

C. Kedalaman Riset

Kedalaman waktu yang digunakan peneliti adalah studi kasus. Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada satu objek tertentu yang mempelajarinya sebagai studi kasus. Studi kasus mengutamakan kedalaman dari data penelitian tersebut. Data penelitian yang diperoleh dari penelitian ini selain mendalam, juga baragam dan sangat detail.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dapat dipakai adalah : 1. Studi Literatur (Literatur Research)

Penulis melakukan pengumpulan data yang berhubungan dengan topik bahasan dari buku Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, jurnal dan makalah serta sumber-sumber lain dari internet yang dapat digunakan sebagai bahan referensi.

2. Penelitian Lapangan (Field Reseach)

Pengumpulan data dengan cara mangadakan pengamatan langsung yang dilakukan di perusahaan guna memperoleh data-data yang dibutuhkan dengan cara :

(9)

1. Observasi

Dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung kepada objek yang diteliti yaitu PT. Bank Bukopin Syariah yang berada di Jl. Melawai Raya No. 5 Jakarta Selatan.

2. Wawancara

Penulis mengadakan tanya jawab langsung kepada Bapak Dahlan selaku staf di bagian pembiayaan, Bapak Firdaus selaku staf di bgian Account Officer, dan Ibu Deci selaku staf di bagian SDI. Wawancara penulis mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang dibahas guna memperoleh informasi untuk mendukung penelitian ini.

E. Lingkungan Penelitian

Lingkungan penelitian adalah Lingkungan noncontrived setting yaitu, penelitian yang dilakukan dalam lingkungan alami dimana aktivitas berlangsung secara normal atau riil (field setting), yaitu di Bank Syariah Bukopin Cabang Melawai.

F. Unit Analisa

Unit analisa yang digunakan oleh peneliti adalah Bank Syariah Bukopin Cabang Melawai sebagai salah satu bank pelaksana sistem syariah.

(10)

1.6 Sistematika Pembahasan

Pembahasan pada skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pelaksanaan pengendalian intern atas pembiayaan murabahah di PT Bank Syariah Bukopin Cabang Melawai. Sistematika pembahasan ini diuraikan sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang uraian latar belakang peneliti memilih audit operasional proses penjualan, ruang lingkup penelitian, tujuan dan manfaat penelitian yang diharapkan oleh peneliti, metodologi penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data serta sistematika pembahasan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini berisi uraian mengenai dasar-dasar teori yang berkaitan dengan maslaah yang akan diteliti mulai dari pembahasan mendalam sistem pengendalian internal serta evaluasi mengenai fungsi pembiayaan murabahah terkait dengan aktivitas pengendalian.

BAB III : OBJEK PENELITIAN

Bab ini berisi uraian mengenai sejarah singkat perusahaan, produk perusahaan, struktur organisasi, uraian tugas dan wewenang, serta prosedur pembiayaan murabahah perusahaan.

(11)

BAB IV : PEMBAHASAN

Bab ini berisi uraian mengenai pelaksanaan kegiatan dan pengendalian internal terhadap aktivitas pembiayaan murabahah yang berjalan dalam perusahaan.

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi uraian mengenai kesimpulan atas hasil penelitian yang dilakukan, serta memberikan saran atau masukan yang dapat digunakan serta bahan pertimbangan untuk perusahaan tersebut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :