BAB I PENDAHULUAN. dalam pelayanan kesehatan. Salah satu upaya pemerintah untuk

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pelayanan kesehatan yang baik merupakan kebutuhan bagi setia porang. Semua orang ingin dilayani dan mendapatkan kedudukan yang sama dalam pelayanan kesehatan. Salah satu upaya pemerintah untuk mengimplementasikan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang telah diamanatkan dalam Undang Undang Dasar 1945 adalah Undang Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dampak dari sistem pelayanan kesehatan yang tidak tepat paling dirasakan oleh masyarakat kurang mampu, yang akan semakin terdorong pada kemiskinan akibat tidak adanya perlindungan finansial terhadap kesehatan. Pelayanan kesehatan di masyarakat dapat ditemukan di puskesmas, rumah sakit, dokter swasta, praktek keperawatan dan lain sebagainya. Fasilitas dan tenaga kesehatan tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan optimal yang diperlukan oleh seluruh masyarakat.

Praktek keperawatan merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang diperlukan oleh masyarakat. Pelayanan keperawatan merupakan bentuk pelayanan fisiologis, psikologis, sosial, piritual dan kultural yang diberikan kepada klien karena ketidakmampuan, ketidakmauan dan ketidaktahuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasar yang terganggu baik aktual maupun potensial. Fokus keperawatan adalah respons klien terhadap penyakit,

(2)

pengobatan dan lingkungan. Tanggungjawab perawat yang sangat mendasar adalah meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan dan mengurangai penderitaan.

Keperawatan merupakan suatu profesi yang mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan, mendahulukan kepentingan kesehatan masyarakat di atas kepentingan sendiri. Keperawatan juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk pelayanan/asuhan yang bersifat humanistik, menggunakan pendekatan holistik, dilaksanakan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang berpegang pada standar pelayanan/asuhan keperawatan serta mengggunakan kode etik keperawatan sebagai acuan utama dalam melaksanakan pelayanan asuhan keperawatan. Sebagai profesi kesehatan yang profesional, dibutuhkan para perawat yang memiliki kompetensi dan memenuhi standar praktik keperawatan, serta memperhatikan kode etik dan moral profesi agar masyarakat menerima pelayanan dan asuhan keperawatan yang berkualitas.

Sebagai bagian dari salah satu pemberi pelayanan kesehatan di masyarakat baik dalam tingkat yang paling kecil sampai tingkat pusat dan khususnya dalam bidang keperawatan, suatu undang-undang tentunya akandibutuhkan oleh keseluruhan perawat di Indonesia.Rancangan Undang-undang Keperawatan yang telah sekian lama digodok di DPR RI belum selesai disahkan.

Indonesia merupakan tiga negara dikawasan ASEAN yang belum mempunyai Undang-Undang Keperawatan selain Laos serta Vietnam. Apabila dilihat dari sudut Hukum, rancangan UU keperawatan nantinya dapat menjadi

(3)

payung hukum perawat Indonesia dalam menjalankan praktik profesinya. Rancangan Undang-Undang Keperawatan (RUUK) akan menjadi sebuah undang-undang yang penting dalam melindungi masyarakat. Esensi penting dari RUUK adalah memproteksi masyarakat karena aturan itu mensyaratkan pelayanan keperawatan secara profesional dengan kompetensi yang memenuhi standar serta memperhatikan kaidah etik dan moral.

Keperawatan semula dipersepsikan sebagai pekerjaan yang bersifat vokasional secara bertahap mulai diterima keberadaannya sebagai sebuah profesi dengan berbagai tingkat pemahaman. Keperawatan sebagai sebuah profesi didefinisikan sebagai suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan biopsiko-sosio-spiritual yang komperensif ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Praktik keperawatan merupakan hal yang sangat penting dalam menumbuhkan kemampuan professional perawat, karena pada saat praktikklinik keperawatan, perawat mengintegrasikan berbagai konsep, teori, prinsip yang didapat sebelumnya dalam memenuhikebutuhan dasar pasien secara komprehensif (Ekawati, 2006). Sifat pendidikan keperawatan Indonesia menekankan pemahaman tentang keprofesian. Keperawatan sebagai suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat (Gaffar, 1999).

(4)

Perawat sebagai satu profesi kesehatan dengan jumlah terbanyak dan distribusi terluas, berpeluang besar untuk bisa merebut pasar dan berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan berkualitas, terjangkau dan berkelanjutan sampai ke pelosok pedalaman dan daerah perbatasan. Pelayanan keperawatan berkualitas yang diberikan kepada masyarakat perlu memiliki keunikan dibanding pelayanan kesehatan yang diberikan profesi dokter, bidan dan sebagainya serta dibanding pelayanan kesehatan tradisional dan alternatif.

Selain itu perawat diharapkan mampu menampilkan sikap caring dalam hubungan perawat dan klien, juga dituntut memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan asuhan keperawatan. Citra perawat sebagai profesi memenuhi kriteria dasar intelektual, yuridis, dan moral yang dapat dipertanggungjawabkan. Pavalko (1971, dalam Kozier, Erb, & Blais, 1997) memaparkan delapan kategori dalam sebuah profesi, meliputi adanya landasan teori, relevansi dengan nilai sosial, periode pendidikan (pelatihan), motivasi, otonomi, komitmen, sense of community, dan kode etik. Terpenuhinya berbagai unsur tersebut dalam profesi keperawatan akan meningkatkan citra perawat di mata masyarakat.

Kabupaten Tegal merupakan salah satu daerah Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah dengan ibukota Slawi yang mempunyai letak sangat Strategis pada jalan Semarang - Tegal - Cirebon serta Semarang - Tegal - Purwokerto dan Cilacap dengan fasilitas pelabuhan di kota Tegal. Kabupaten Tegal terletak : 108057'6”-109021'30" BT dan 6°50'41"-7°15'30". Batas Kabupaten Tegal yaitu Utara : Kota Tegal dan Laut Jawa, Timur : Kabupaten Pemalang,

(5)

Barat : Kabupaten Brebes, Selatan : Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas (www.tegalkab.go.iddiakses pada tanggal 9 Agustus 2014).

Jumlah sarana pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten Tegal dalam 5 tahun terakhir tidak mengalami perubahan yang berarti. Terakhir pada tahun 2012 Kabupaten Tegal memiliki puskesmas induk sebanyak 29 unit, puskesmas pembantu sebanyak 64 unit dan puskesmas keliling sebanyak 30 unit, serta Poliklinik sejumlah 30 unit. Jumlah posyandu di tahun 2008-2009 sama yaitu 1.447 posyandu, tahun 2010 bertambah menjadi 1.483 unit, tahun 2011 dan 2012 yaitu 1.495 unit dan 1.517 unit. Untuk jumlah Polindes dari tahun 2008-2010 terdapat 164 unit sedangkan tahun 2011 dan 2012 yaitu 197 unit dan 201 unit (www.tegalkab.go.iddiakses pada tanggal 9 Agustus 2014).

Untuk pelayanan kesehatan sekunder dan tersier di Kabupaten Tegal tahun 2013 terdapat 1 rumah sakit umum daerah tipe B, 1 rumah sakit umum daerah tipe D, 2 rumah sakit swasta tipe C, dan 1 rumah sakit swasta tipe D. Rumah Bersalin dari tahun 2009-2011 sebanyak 19 unit, sedangkan tahun 2012 dan 2013 naik menjadi 21 unit. RS Bersalin (RS Khusus) berjumlah 21 unit di tahun 2013. Jumlah Klinik Praktek Dokter dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir cenderung turun, tercatat di tahun 2009 dan 2010 terdapat 310 unit, sedangkan di tahun 2011 turun menjadi 157 unit. Tahun 2012 dan 2013 mengalami sedikit kenaikan menjadi 160 dan 172 unit (www.tegalkab.go.id diakses pada tanggal 9 Agustus 2014).

Salah satu indikator keseriusan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Tegal adalah dengan melihat jejak rekam data

(6)

kunjungan layanan Jamkesmas, Jamkesda, Askes dan layanan Umum. Dari data RSUD Dr.Soesilo Kab.Tegal tercatat dari tahun 2009-2012, tercatat berturut-turut jumlah pengunjung iayanan Jamkesmas (layanan rawat jalan, rawat inap dan rujukan) yaitu 8.330 orang; 6.307 orang; 15.968 orang dan 197.530 orang. Selain itu Jumlah pengunjung Layanan Jamkesda dari tahun 2009-2012 berturut-turut yaitu 12.794 ; 2.267 dan 2.952 orang dan 4.099 orang. Sedangkan Jumlah Pengunjung Layanan Askes dari tahun 2009-2012 berturut-turut adalah 23.163, 11.083 dan 22.091 pasien dan 26.713 pasien. Hal serupa terjadi pada Jumlah Pengunjung Umum dari tahun 2009-2012 berturut-turut yaitu : 37.098 ; 18.069; 58.430 dan 39.250 pasien (www.tegalkab.go.id diakses pada tanggal 9 Agustus 2014).

Dalam pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan, pemerintah daerah dihadapkan memperhatikan pada persoalan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan, baik tenaga medis maupun paramedis. Dapat diinformasikan bahwa, jumlah dokter umum tahun 2012 sejumlah 115 dokter umum. Sedangkan jumlah dokter spesialis tahun 2012 sejumlah 30 dokter spesialis. Sementara jumlah perawat tahun 2012 yaitu 312 orang (www.tegalkab.go.id diakses pada tanggal 9 Agustus 2014).

B. Perumusan Masalah

Kunjungan seseorang ke tempat pelayanan kesehatan erat kaitannya dengan perilaku kesehatan, perilaku kesehatan hakikatnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan dirinya. Kesehatan seseorang dipengaruhi atau terbentuk dari

(7)

beberapa factor. Green menjelaskan bahwa perilaku dilatarbelakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong (Notoadmojo, 2003).

Berdasarkan dari latar belakang tersebut maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah: "Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan perawat sebagai tenaga pertolongan kesehatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal".

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemilihan perawat sebagai tenaga pertolongan kesehatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik responden.

b. Mengetahui faktor predisposisi dalam pemilihan tenaga pertolongan kesehatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal.

c. Mengetahui faktor pendukung dalam pemilihan tenaga pertolongan kesehatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal.

d. Mengetahui faktor pendorong dalam pemilihan tenaga pertolongan kesehatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal.

e. Mengetahui faktor yang paling dominan dalam pemilihan tenaga pertolongan kesehatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal.

(8)

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi pelayanan dan masyarakat

Pemahaman masyarakat mengenai citra perawat dapat menjadi pertimbangan untuk perubahan dan peningkatan profesionalisme perawat. Persepsi citra perawat yang lebih baik akan meningkatkan kepuasan klien dan kepuasan kerja perawat. Pada akhirnya akan dapat meningkatkan jumlah kunjungan pengguna pelayanan kesehatan dan kepatuhan menjalankan setiap intervensi yang diberikan.

2. Bagi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan karakter perawat komunitas yang perlu dibentuk dalam pengajaran dan pendidikan keperawatan. Sehingga diharapkan perawat komunitas mampu menampilkan citra yang memenuhi kriteria dasar profesi.

(9)

E. Penelitian Terkait

1. Penelitian Dedy Purwito and Chang Ming Cheng (2000) dengan judul Utilization of Primary Health Care in Indonesia: Findings from the 2000 Indonesia Family Life Survey. Dengan sampel 10.435 house holds, 43.649 individuals, representing 13 provinces and approximately 83% of Indonesian population. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kebutuhan akan kesehatan, memungkinkan (pendapatan, ketenaga-kerjaan, asuransi kesehatan, waktu bepergian dan biaya) dan faktor kecenderungan (umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal) berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan. 35% responden mengunjungi pelayanan kesehatan selama 4 minggu, rata-rata yaitu 1.39 kunjungan. 2. Penelitian Syifa Fauziah (2012) tentang Gambaran Persepsi Masyarakat

tentang Peran Perawat Puskesmas di Kelurahan Bintara, Kota Bekasi tahun 2012. Jumlah sampel 96 pengunjung Puskesmas. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 55,2% responden memiliki persepsi positif tentang peran perawat secara keseluruhan. Persepsi masyarakat hampir seimbang karena selisih persepsi baik dan burukhanya 10,4.

3. Betty Bekemeier, PhD, MPH, RN (2009) Nurses' Utilization and Perception of the Community/Public Health Nursing Credential. Dengan sampel 655 public health nurses regarding this more than 20-year-old credential. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa nilai yang dirasa: dokter tidak berbeda antar perawat kesehatan masyarakat sehubungan dengan apakah mereka telah pernah mempunyai suatu C/Phn.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :