Deskripsi pengaruh ekaristi kaum muda terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta - USD Repository

169  11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI

PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Andrianus Heriskurniawan (141124008)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

(5)

v

MOTTO

“ Tebarkanlah cinta kemanapun engkau pergi. Jangan ada seorang pun yang datang menemuimu tanpa menjadi lebih bahagia ketika meninggalkanmu”

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

Skripsi ini berjudul DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA. Judul ini dipilih berdasarkan keingintahuan penulis untuk mengetahui dampak Ekaristi Kaum Muda (EKM) terhadap keterlibatan hidup menggereja OMK di Paroki St. Antonius Kotabaru. EKM adalah salah satu kegiatan khusus kaum muda. Kegiatan ini dapat menjadi sarana atau tempat bagi Orang Muda Katolik (OMK) untuk memupuk semangat hidup menggereja. Penulis tertarik pada hidup menggereja, karena merasa bahwa hidup menggereja adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan hidup iman umat dan kemajuan Gereja. Melalui EKM, penulis mau mencoba menggali apakah sejauh ini EKM yang sudah terlaksana memiliki dampak terhadap hidup menggereja OMK.

Persoalan skripsi ini sejauhmana dampak EKM terhadap keterlibatan hidup menggereja OMK. Untuk menjawab persoalan tersebut penulis menggunakan studi pustaka dan penelitian. Studi pustaka dilaksanakan dengan mempelajari berbagai sumber yakni pandangan dari beberapa ahli yang berkaitan dengan Ekaristi dan hidup menggereja. Sedangkan penelitian yang digunakan oleh penullis adalah penelitian kualitatif. Untuk memperoleh data guna keperluan penelitian penulis memberikan kuesioner kepada 50 OMK sebagai responden.

(9)

ix

ABSTRACT

This undergraduate thesis is entitled DESCRIPTION OF THE YOUTH

EUCHARIST’S INFLUENCES TO THE PARTICIPATION OF CATHOLIC

YOUTH’S CHURCH LIFE IN PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU

YOGYAKARTA. The title of this study is chosen based on the curiosity of the writer

to discover the impact of Youth Eucharist to the involvement of the Catholic Youth’s

church life in Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta. The Youth Eucharist is

one of the special activities for the young ones. This activity could be a medium or a place for the Catholic Youth to be more active in church life. The writer is fully interested in church life because this could be one factor which can affect the

development of people’s faith and the church itself. The writer of this undergraduate

thesis would like to trace the Youth Eucharist whether it has a great effect to the

Catholic Youth’s church life or not.

The problem formulation in this undergraduate thesis is to know how far the

impact of Youth Eucharist to the Catholic Youth’s church life. To answer this

research question, the writer does literature review and a research. Literature review is carried out by studying the experts’ perspective of Catholic Eucharist and church life, while the research itself is a qualitative research. The writer of this study provides a questionnaire as the data for 50 respondent which is the Catholic Youth in Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogya.

The result of this research shows that the Youth Eucharist affects the church life of the Catholic Youth. Youth Eucharist has already built the great atmosphere in which the Catholic Youth are willing to participate in church life. The Catholic Youth has already connected the Youth Eucharist to the church life as the one that cannot be separated. Youth Eucharist is a source and also a stimulant for being active in church life. The writer would like to suggest to do a recollection as an effort to

increase the passion of Catholic Youth’s church life in their daily basis to follow up

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA.

Skripsi ini disusun berdasarkan keingintahuan penulis untuk mengetahui sejauhmana Ekaristi Kaum Muda (EKM) berdampak terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik (OMK). Sejauh ini EKM telah terlaksana dengan baik dan tidak sedikit OMK yang turut hadir. Melalui karya tulis ini, penulis ingin menggali lebih dalam apakah EKM yang sudah terlaksana ini berdampak terhadap semangat hidup menggereja OMK. EKM bukan hanya sekedar perayaan misa atau ibadat saja, melainkan suatu unsur yang dapat menggerakkan, mendorong dan menyemangati OMK untuk senantiasa terlibat dalam kehidupan menggereja. Oleh sebab itu, skripsi ini dimaksudkan untuk memberi sumbangan pemikiran bagi Paroki, Tim Kerja EKM serta OMK untuk memanfaatkan EKM sebagai peluang dalam proses membangun dan mendorong OMK terlibat dalam hidup menggereja.

(11)

xi

1. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed sebagai dosen pembimbing utama yang selalu memberikan perhatian, meluangkan waktu dan dengan penuh kesabaran membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Yoseph Kristianto, SFK., M. Pd. selaku DPA sekaligus dosen penguji kedua

yang telah bersedia membaca, menguji, memberikan kritik, masukan serta saran dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Dr. C. Putranta, SJ selaku dosen penguji ketiga yang telah meluangkan waktu untuk mempelajari skripsi dan memberi masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Seluruh staf dosen dan karyawan Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang telah mendidik, dan membimbing penulis hingga dapat menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma dengan baik.

5. Romo Paroki St. Antonius Kotabaru yang telah memberikan izin kepada saya untuk melaksanakan penelitian dan teman-teman OMK yang telah bersedia menjadi responden penelitian saya.

(12)
(13)

xiii BAB II. POKOK-POKOK EKARISTI DAN HIDUP MENGGEREJA ORANG

(14)

xiv

d. Aspek Teologis, Yuridis dan Pastoral………... 1) Aspek Teologis Ekaristi………... 2) Aspek Yuridis Ekaristi……….………….

3) Aspek Pastoral……….……….……….

2. Unsur-Unsur Perayaan Ekaristi……….…... a. Makna Ekaristi Sebagai Perayaan……….………..

1) Segi Kebersamaan……….………...

2) Segi Partisipatif……….………

3) Segi Kontekstual……….………...

b. Partisipasi Umat Beriman……….…... c. Tata Gerak dan Sikap Tubuh……….……..

3. Ekaristi Sebagai Liturgi………...………..

a. Arti dan Sejarah Istilah Liturgi……….………... b. Pengertian Liturgi……….………... 1) Pandangan Populer……….………... 2) Liturgi menurut Konsili Vatikan II……….………... B. Hidup Menggereja Orang Muda Katolik ………..……….. 1. Pengertian Kaum Muda……….……… 2. Dinamika Kaum Muda………...…... 3. Permasalahan Kaum Muda………...……. a. Identitas Diri……….………...……… b. Aktualisasi Diri……….……….…...

c. Pendampingan……….

4. Orang Muda Katolik………..

a. Batasan Usia OMK……….. b. Berbagai Realitas OMK Dewasa Ini………...

(15)

xv

3) Realitas OMK Sebagai Orang Muda……….…...

5. Hidup Menggereja……….………..………..

a. Dasar-Dasar Dalam Hidup Menggereja……….…..…...

1) Partisipasi Dalam Imamat………...………..

2) Partisipasi Dalam Kenabian………..

3) Partisipasi Dalam Pengabdian Rajawi……….……….….

b. Bidang-Bidang Hidup Menggereja……….………….

c. Pastoral OMK Dalam Hidup Menggereja………... 1) Pastoral OMK Berpusat Pada Kristus……….……….. 2) Pastoral Gereja OMK……… 3) Ruang Lingkup Pastoral OMK………..

a) Formal………..

b) Informal………...

BAB III. GAMBARAN EKARISTI KAUM MUDA BAGI ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA DAN HUBUNGANNYA DENGAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA

KATOLIK……….………

A. Ekaristi Kaum Muda (EKM) Di Paroki St. Antonius Kotabaru Yogyakarta…..

1. Sejarah Singkat EKM Paroki St. Antonius Kotabaru………

2. Visi dan Misi EKM Paroki St. Antonius Kotabaru………...

(16)

xvi

7. Gambaran Pelaksanaan EKM………

B. Penelitian Peranan Ekaristi Kaum Muda Terhadap Keterlibatan

Hidup Menggereja Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru…...

1. Desain Penelitian………... 1. Dampak Ekaristi Kaum Muda Terhadp Hidup Menggereja OMK………... 2. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat dari EKM………. 3. Usulan Kegiatan Untuk Meningkatkan EKM Demi Hidup Menggereja….. D. Pembahasan Hasil Penelitian………...

1. Dampak Ekaristi Kaum Muda Terhadap Hidup Menggereja OMK………. 2. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat EKM……… 3. Usulan Kegiatan untuk Meningkatkan EKM Demi Hidup Menggereja…... E. Kesimpulan Hasil Penelitian………... BAB IV. USULAN KEGIATAN BAGI ORANG MUDA KATOLIK PAROKI

(17)

xvii

E. Model Pelaksanaan……….. F. Matriks Program Kegiatan Rekoleksi……….…… G. Contoh Persiapan Rekoleksi ………. H. Contoh Persiapan Kegiatan Rekoleksi Sesi III………

BAB V. PENUTUP………...……….

A. Kesimpulan……….……….

B. Saran………

1. Bagi Pengurus OMK Paroki St. Antonius Kotabaru……… 2. Bagi Pastor Paroki dan Dewan Pengurus Paroki………...

DAFTAR PUSTAKA………..

LAMPIRAN………

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Variabel Penelitian………...

Tabel 2: Dampak Ekaristi Kaum Muda Terhadap Hidup Menggereja OMK (N=50)……… Tabel 3: Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat EKM (N=50)………... Tabel 4: Usulan Kegiatan Untuk Meningkatkan EKM Demi Hidup

Menggereja……….

Tabel 5: Jadwal Rekoleksi OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta...

75

77 82

(19)

xix

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Alkitab Deuterokanonika © LAI 1976. (Alkitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, ditambah dengan kitab-kitab Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Terjemahan diterimadan diakui oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia). Jakarta: LAI, 2009

B. Singkatan Dokumen Gereja

AA: Apostolicam Actuositatem, Konsili Vatikan II Dekrit tentang

Kerasulan Awam, 7 Desember1965.

AG: Ad Gentes, Konsili Vatikan II Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965.

EN: Evangelii Nuntiandi, Imbauan Apostolik Bapa Suci Paulus VI, tentang

Karya Pewartaan Injil pada Jaman Modern, 8 Desember 1975.

GS: Gaudium Et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II, tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965.

KHK: Kitab Hukum Kanonik (Codez Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II, 25 Januari 1983.

(20)

xx

PO: Presbyterorum Ordinis, Konsili Vatikan II Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965.

SC: Sacrosantum Concilium, Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1963)

C. Singkatan Lain

AMKRI : Angkatan Muda Katolik Repulik Indonesia EKM : Ekaristi Kaum Muda

KGK : Katekismus Gereja Katolik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia

Komkep KWI : Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia MAWI : Majelis Agung Waligereja Indonesia

MKI : Muda Katolik Indonesia OMK : Orang Muda Katolik

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Kaum muda merupakan generasi harapan keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. Mereka menjadi tali penyambung kehidupan suatu kelompok, dengan mempersiapkan diri untuk mandiri baik dalam kehidupan keluarga, beragama, pekerjaan, kelompok, maupun kehidupan masyarakat luas. Kaum muda mengambil peranan penting dalam kemajuan bangsa dan seluruh bagian dalam kehidupan.

Masa muda adalah masa pencarian jati diri. Di masa ini kaum muda menghadapi berbagai tantangan baik dengan dirinya sendiri, orang tuanya, teman-temannya, lawan jenisnya, sekolahnya, kehidupan imanya, maupun dengan masyakarat sekitarnya. Pada masa ini kaum muda berada dalam kondisi yang tidak stabil, senantiasa berubah melihat segala sesuatu dengan kacamatanya sendiri, dan kadang dalam pengambilan keputusan tidak logis dan umumnya mempunyai perangai pemberontak.

(22)

tahun sudah berkarir di salah satu klub di Eropa, Lechia Gdansk, Polandia (Kompas, 13 Maret 2018). Di dunia musik ada ada Joey Alexander seorang pianis jazz muda asal Indonesia yang masuk nominasi Grammy Awards 2017 (Kompas, 07 Desember 2016). Di bidang pendidikan ada 2 pelajar SMA asal Solo yang berhasil menciptakan robot tempat sampah yang diberi nama “trash can zaman now”, mereka juga berhasil

meraih juara 1 kontes Robotic Madrasah tingkat nasional tahun 2017 kategori mekanika (discovery robot) (Kompas, 27 November 2017). Di bidang ekonomi ada Riezka Rahmawati pemilik usaha “Justmine pisang ijo”. Ia adalah seorang entrepreneur atau pengusaha muda yang berhasil meraih kesuksesannya dalam usaha kuliner. Dia juga berhasil mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya adalah

The Young Entreprenur Award (Metrotvnews, 03 Desember 2017). Di bidang fashion

ada Dian Pelangi. Ia adalah seorang desainer muda asal Indonesia. Media fashion internasional BoF (Business of Fashion) memasukan namanya sebagai salah satu pelaku fashion paling berpengaruh di dunia. Ia memiliki empat tempat busana yakni Dian Pelangi, DP by Dian, Dian Pelangi Bride dan Dian Pelangi Kids (Boombastis, 02 Desember 2015). Tentu masih banyak lagi orang muda Indonesia yang sudah berprestasi dan mengharumkan bangsa Indonesia baik melalui talenta maupun karya-karyanya.

(23)

teman-teman, masyarakat, khususnya bagi dirinya sendiri. Namun impian mereka pun kadang terhalang oleh berbagai permasalahan yang mereka hadapi baik itu karena narkoba, pergaulan bebas, perjudian, kehamilan di luar nikah, kekerasan dalam rumah tangga, gerombolan anak muda yang menggunakan kekerasan dan sebagainya. Akhirnya mereka pun harus mengubur impian mereka dan tidak jarang karena situasi demikian mereka menjadi korban atau pelaku dari permasalahan ini. Contohnya tiga remaja asal Jember tewas akibat mengkonsumsi minuman keras oplosan. Polisi menduga ketiga korban tewas akibat mengoplos minuman keras dengan pil koplo (Liputan6, 11 April 2016). Di Bandarlampung, tiga siswa SMP nekat mencuri motor karena ingin membeli baju baru. Ketiganya mendapat tembakan di kaki, karena hendak kabur saat ditangkap. Siswa yang harusnya fokus belajar malah menjadi pelaku kejahatan (Kompas, 28 September 2017). Fakta demikian menjadi contoh permasalahan yang dialami kaum muda masa kini. Tentu masih banyak lagi berita atau informasi yang kita temukan terkait permasalahan pada kaum muda di zaman sekarang.

(24)

tokoh muda itu menginspirasi sehingga sangat penting dijadikan inspirasi. Allah memilih Maria sebagai Bunda Yesus. Allah memilih perempuan muda menjadi ibu bagi putera-Nya yang menjelma menjadi manusia, yakni Yesus. Ini menjadi jelas bahwa pandangan Allah terhadap orang muda menjadi nyata dalam Yesus. Sang Emanuel ini membuat karya-Nya sebagai pembina orang muda sangat nyata karena Dia sendiri selalu muda dan memilih orang-orang muda pula sebagai murid-murid-Nya. Ia memperlihatkan masa muda sebagai tahap-tahap hidup yang sangat berharga (Luk 2:52). Yesus juga memperlihatkan betapa pentingnya pembinaan orang muda. Ia adalah contoh sebenarnya dari pastoral orang muda itu.

Gereja melalui dokumen Apostolicam Actuocitatem (AA) 12, menyatakan pandangan terhadap orang muda sebagai berikut :

Kaum muda merupakan kekuatan yang amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Situasi hidup, sikap-sikap batin serta hubungan-hubungan mereka dengan keluarga mereka sendiri telah amat banyak berubah. Bertambah pentingnya peran mereka dalam masyarakat itu menuntut dari mereka kegiatan merasul yang sepadan. Sifat-sifat alamiah mereka pun memang sesuai untuk menjalankan kegiatan itu. Mereka sendiri harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan sendiri kerasulan di kalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka.

(25)

dengan dilandasi pengertian bahwa OMK merupakan kekuatan pendorong (driving

force) Gereja dan masyarakat Indonesia pada masa sekarang maupun masa

mendatang. Gereja mempunyai tugas perutusan yaitu Evangelisasi. Evangelisasi lebih dalam dari pada sebuah prespektif, kegiatan, maupun teknik yang diprakarsai oleh Gereja. Evangelisasi atau pewartaan Kabar Gembira keselamatan merupakan “rahmat

dan panggilan, … fungsi yang hakiki dari Gereja” (Evangelii Nuntiandi, 14). Tanpa evangelisasi, Gereja tidak berbeda dengan organisasi duniawi. Pastoral OMK karena ada dalam Gereja, mau tidak mau, merupakan evangelisasi. Evangelisasi berarti membawakan Injil kepada setiap bangsa sehingga dengan kekuatannya, Injil merasuki hati dan memperbaharui manusia (EN 18).

Waktu luang OMK biasanya diisi dengan berkumpul, nongkrong, jalan-jalan, yang lainnya mengisi dengan kegiatan berkesenian, aktivitas di luar ruangan. Teknologi informasi mempengaruhi kehidupan orang muda. Meskipun materialisme dan konsumerisme mempengaruhi kehidupan orang muda pula, namun dirasakan ketahanan internal rata-rata masih terbentuk karena kuatnya moral dan iman dalam keluarga, kedalaman spritualitas Gereja dan kesehatan yang terjaga.

(26)

Lalu bagaimana dengan situasi OMK yang juga merupakan bagian dalam Gereja sekaligus sebagai generasi penerus Gereja. Orang Muda Katolik saat ini akrab dengan budaya masa kini: selvi (foto diri untuk diunggah dalam media sosial) karena OMK sendiri merupakan bagian dari generasi yang oleh majalah TIME disebut “ The Me Me Me Generations”, generasi yang suka mengunggah diri sendiri di media jejaring

sosial. (http://time.com/247/millennials-the-me-me-me-generation/ 17 Mei 2018). Orang Muda Katolik diutus ke tengah budaya di mana orang muda dengan mudah larut dalam gebyar daya tarik visual seperti facebook, instagram, whatsapp, youtube, twitter, path, line, dan media sosial lainnya yang berpendar-pendar setiap saat di smartphone elektronik mereka. Namun anehnya, dalam pendar-pendar cahaya layar

gadget itu, makin sulit ditemukan kebaikan dan kebenaran

(http://www.katolisitas.org/omk-yang-militan-bagaimana-membentuknya/ diakses 20 April 2018).

Gereja Santo Antonius Kotabaru memiliki jumlah OMK yang lumayan banyak, tidak hanya dari wilayah Yogja saja melainkan OMK yang juga berasal dari luar Yogja. Mereka adalah mahasiswa-mahasiwi, dan pelajar yang sedang menempuh studi di berbagai Perguan Tinggi atau Sekolah yang ada di Yogja.

(27)

apa yang mereka lakukan, tentu berbagai faktor lain juga mempengaruhi. Contohnya gadget atau smartphone adalah salah satu alat komunikasi yang sudah tidak asing bagi OMK berbagai fitur, game, aplikasi, dan tawaran-tawaran lainnya membuat OMK kadang larut dan lupa terhadap hal-hal penting yang mereka perlu lakukan khususnya panggilan untuk hidup menggereja. Sudah jelas dalam dokumen AA No 12 ditegaskan bahwa “Mereka sendiri harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan sendiri kerasulan di kalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka”.

EKM adalah salah satu jembatan bagi orang muda untuk menemukan dan menghayati imannya sesuai dengan gaya kaum muda, mengetahui kebutuhan dan situasi yang mereka hadapi saat ini, sesuai dengan tujuan dari EKM itu sendiri yaitu terwujudnya “iman yang mendalam, dewasa, dan dinamis yang sesuai dengan

kepribadian kaum muda yaitu inovatif dan kreatif”. Artinya melalui EKM orang muda dapat mengungkapkan imannya sesuai dengan pengalaman hidup mereka sehari-hari, sehingga mereka semakin merasa mantap sebagai orang muda yang dicintai oleh Tuhan.

(28)

muda sudah sungguh-sungguh terbantu untuk menjawab kebutuhan yang mereka harapkan.

Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman. Artinya, dalam perayaan Ekaristi diungkapkan iman seluruh Gereja akan penyelamatan Allah yang terjadi dalam Yesus Kristus. Konsili Vatikan II menyebut Ekaristi sebagai “Sumber dan puncak seluruh

hidup Kristiani” (LG 11) sakramen-sakramen lainnya berhubungan erat dengan Ekaristi dan terarah kepadanya (PO 5).

Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan kristen. Sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah yang menguduskan dunia dan puncak karya manusia yang memuliakan Bapa lewat Kristus, Putra Allah, dan Roh Kudus. Perayaan Ekaristi merupakan pengenangan misteri penebusan sepanjang tahun. Dengan demikian, boleh dikatakan misteri penebusan tersebut dihadirkan untuk umat. Segala perayaan ibadat lainnya, juga pekerjaan sehari-hari dalam kehidupan umat, berkaitan erat dengan perayaan Ekaristi, bersumber dari pada-Nya dan tertuju kepada-Nya. Oleh karena itu umat Kristiani dipanggil untuk terus mengenangkan misteri penebusan itu lewat hidup sehari-hari sebagai ungkapan akan imannya.

(29)

Yesus adalah mereka yang mau mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, mengorbankan diri seutuhnya, mewartakan sabda-Nya, dan mengambil bagian dalam hidup menggereja.

Hidup menggereja diibaratkan sebagai sebuah keluarga kecil, dimana umat khususnya Orang Muda Katolik sepantasnya terlibat akan seluruh aspek kehidupan yang terjadi. Gereja diartikan sebagai umat Allah, kita sebagai tubuh, dengan kepalanya adalah Kristus. Artinya bahwa kita hidup bersama dengan Yesus. Sungguh menjadi jelas keterlibatan dalam gereja merupakan suatu panggilan yang sangat istimewa, sebab kita adalah anggota tubuh Kristus. 1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” Persis seperti yang dikatakan oleh

Rasul Petrus bahwa berdasarkan karunia dan kasih Allah kita dipanggil untuk melayani Dia dan sesama.

(30)

diadakannya ekaristi kaum muda maka ekaristi dengan cara itu kaum muda merasa disapa dan mendapat tempat di gereja. Muncul pertanyaan yang kembali menantang kaum muda yang mempersiapkan ekaristi tersebut. “Dari begitu banyak kaum muda

yang datang, apakah mereka telah menemukan Allah dan mau terlibat untuk hidup menggereja?” Tantangan tersebut kembali dijawab dengan membuat komunitas/tim liturgi kaum muda yang sampai sekarang yaitu Komunitas Ekaristi Kaum Muda. Ekaristi dengan gaya kaum muda diselenggarakan secara rutin sebulan sekali setiap minggu III pukul 18.00 wib, dengan melibatkan komunitas-komunitas kaum muda sebagai penyelenggara dengan dibantu tim liturgi kaum muda. Inilah cikal bakal terbentuknya Ekaristi Kaum Muda (EKM).

(31)

kerennya zaman now nampaknya menyulitkan mereka untuk mengambil bagian dalam hidup menggereja pula.

Hadirnya EKM mewakili harapan Gereja Katolik bahwa OMK dapat memberikan diri seutuhnya kepada Kristus dan sesamanya, melalui berbagai kegiatan yang mereka hidupi dalam hidup menggereja. Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Barang siapa menyatakan diri murid Kristus, “Ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6).

Melihat upaya yang telah dilakukan Tim Liturgi Kotabaru demi keterlibatan hidup menggereja Orang muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru melalui Ekaristi Kaum Muda, maka penulis tertarik untuk menuliskan skripsi dengan judul DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTA BARU YOGYAKARTA.

B.Rumusan Masalah

1. Apa pokok-pokok Ekaristi Kaum Muda dan hubungannya dengan hidup mengggereja kaum muda?

2. Sejauh mana dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru?

(32)

C.Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pokok-pokok Ekaristi Kaum Muda dan hubungannya dengan hidup menggereja kaum muda

2. Mengetahui dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru

3. Mengemukakan upaya yang dilakukan untuk memupuk semangat hidup menggereja OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru

D. Manfaat Penulisan

1. Bagi Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru

Membantu Orang Muda Katolik untuk mengetahui dampak Ekaristi Kaum Muda dalam meningkat semangat hidup menggereja

2. Bagi Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma. Membantu menemukan keunggulan dari Ekaristi Kaum Muda dalam rangka meningkatkan semangat hidup menggereja bagi Orang Muda Katolik. Dapat mendukung dengan mengambil bagian dalam pelaksaan EKM.

3. Bagi penulis

(33)

E.Metode Penulisan

Dalam penulisan ini metode yang dipakai adalah deskriptif analitis yaitu mengambil data melalui kuesioner dan studi pustaka, kemudian data tersebut dianalisis dan ditarik suatu kesimpulan.

F. Sistematika Penulisan

Tulisan ini mengambil judul “DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM

MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTA BARU YOGYAKARTA” dan dikembangkan menjadi lima bab :

Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode dan sistematika penulisan.

Bab II menjelaskan kajian pustaka mengenai Ekaristi dan hidup menggereja kaum muda.

Bab III membahas gambaran umum pelaksaanaan Ekaristi Kaum Muda Paroki St. Antonius Kotabaru Yogyakarta serta penelitian dan pembahasan data penelitian. Bab IV menguraikan latar belakang usulan kegiatan sebagai upaya meningkatan semangat hidup menggereja bagi OMK Paroki St. Antonius Kotabaru, rumusan tema dan tujuan, peserta kegiatan, waktu pelaksanaan, model pelaksanaan, matriks program kegiatan rekoleksi, dan contoh persiapan kegiatan rekoleksi sesi III.

(34)

BAB II

POKOK-POKOK EKARISTI DAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK

Pada bab sebelumnya telah diuraikan beberapa pokok penting yang menjadi bagian awal dalam penulisan skripsi ini. Penulis tertarik dengan Ekaristi Kaum Muda (EKM) yang dilaksanakan di Paroki Kotabaru, apakah kegiatan tersebut sudah sungguh-sungguh membantu para Orang Muda Katolik (OMK) dalam mengembangkan hidup menggerejanya sebagai kaum muda, baik di lingkup Gereja maupun masyarakat. Oleh karena itu sangat menarik dan baik apabila pada bab ini semakin didalami lagi pokok-pokok Ekaristi dari EKM dan dan hidup menggereja Orang Muda Katolik.

(35)

Dalam bagian pokok-pokok Ekaristi akan dibahas mengenai: hakikat Ekaristi, Ekaristi sebagai Sakramen, Perjamuan Ekaristi, Kehadiran Kristus dalam Ekaristi, aspek Teologis, Yuridis, Pastoral Ekaristi, unsur-unsur Perayaan Ekaristi dan Ekaristi dalam Liturgi. Sedangkan pada bagian Hidup Menggereja OMK akan dibahas mengenai: hakikat kaum muda, dinamika kaum muda, permasalahan kaum muda, Orang Muda Katolik, batasan usia OMK, sejarah OMK di Indonesia, realitas OMK saat ini, dasar-dasar hidup menggereja, bidang-bidang hidup menggereja, dan pastoral OMK dalam hidup menggereja.

A.Pokok-Pokok Ekaristi 1. Hakikat Ekaristi

Istilah “Ekaristi” berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji syukur. Kata eucharistia adalah sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani eucharistein yang berarti memuji dan mengucap syukur. Kata Ekaristi kita memiliki asal usulnya pada doa berkat yang berlangsung dalam perjamuan makan Yahudi (Martasudjita, 2005:28).

(36)

teologi yang menggali kekayaan liturgi dan teologi yang menggali kekayaan liturgi dan teologi Gereja abad-abad pertama, istilah Ekaristi kembali dipopulerkan dan kini praktis menjadi istilah paling lazim untuk menunjuk keseluruhan Perayaan Ekaristi. Tonggak penyebutan Ekaristi untuk seluruh Perayaan Ekaristi adalah Konsili Vatikan II, terutama melalui konstitusi liturgi Sacrosanctum Concilium, yang memberi judul bab II dengan “Misteri Ekaristi Suci” ( Martasujita, 2005: 28).

Pada intinya, istilah Ekaristi menunjuk dengan bagus isi dari apa yang dirayakan dalam seluruh Perayaan Ekaristi. Kata Ekaristi mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, sebagaimana berpuncak dalam peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan pujian syukur itu, Gereja mengenangkan misteri penebusan Kristus itu sekarang ini dan di sini ( Martasujita, 2005: 29).

(37)

melambangkan kurban persembahan diri bagi orang lain, yang merupakan panggilan semua orang Kristiani.

Ekaristi adalah sakramen utama dalam Gereja. Dalam Ekaristi kita merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dalam rupa roti dan anggur. Gereja lahir, berpangkal, berpusat dan bersumber dari misteri Paskah Kristus yang kita rayakan dalam Ekaristi. Ekaristi juga adalah urat nadi hidup Gereja. Paguyuban orang beriman tumbuh dan berkembang dalam Ekaristi (Prasetyantha, 2008 : 11).

Dikatakan juga bahwa Ekaristi itu sakramen utama. Ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, yang menyebut Ekaristi “sumber dan puncak seluruh hidup

Kristiani” (LG 11; lih. SC 10); bahkan dikatakan bahwa “sakramen-sakramen lainnya berhubungan erat dengan Ekaristi dan terarah kepadanya” (PO 5; lih. UR 22).

Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman. Artinya, dalam perayaan Ekaristi diungkapkan iman seluruh Gereja akan penyelematan Allah yang terjadi dalam Yesus Kristus. Perayaan Ekaristi biasanya dibagi dalam dua bagian besar, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Dalam liturgi Ekaristi, nampaklah dua unsur pokok: perayaan syukur dan perjamuan. Ungkapan syukur itu dilaksanakan dalam bentuk perjamuan. Ekaristi sendiri berarti “syukur,” syukur karena kebaikan Allah yang telah kita alami. Maka, “syukur” juga berarti “ mengenangkan” peristiwa yang

(38)

a. Ekaristi Sebagai Sakramen

Pemahaman kita tentang sakramen bermula dari pengenalan tentang ketujuh sakramen Gereja. Dari sanalah kita menyebut sakramen sebagai: “tanda dan sarana

yang mendatangkan rahmat”. Bukan hanya sekedar tanda saja, melainkan tanda yang

mendatangkan rahmat. Misalnya Ekaristi sebagai sakramen, artinya melalui Ekaristi umat bersama-sama mengenangkan karya keselamatan Allah oleh Yesus Kristus sebagai tebusan akan dosa-dosa manusia, kemudian menerima tubuh dan darah-Nya dalam rupa roti dan anggur sebagai lambang persatuan antara Kristus dan umat-Nya (Purwatma dan Madya Utama, 2017:1)

Kata sakramen sendiri berasal dari kata latin sacramentum, yang mempunyai dua macam arti yaitu, (1) sumpah perwira, dan (2) hal-hal yang berhubungan dengan yang kudus. Artinya kedua inilah yang kita pakai dalam pemahaman kita. Sakramen memang berkaitan dengan hal-hal kudus, namun demikian harus diingat pula bahwa dalam masyarakat Romawi, sumpah itu merupakan peristiwa keagamaan. Maka sumpah perwira itu juga mempunyai makna religius. Dengan sumpah itu orang mengingatkan diri dalam suatu perjanjian suci. Sakramen memang berkaitan dengan hal-hal yang kudus (Purwatma dan Madya Utama, 2017:1)

(39)

Dalam Kitab Suci, kata misteri dipakai untuk menjelaskan rencana Allah yang tersembunyi bagi manusia, tetapi telah diwartakan bagi orang-orang tertentu (Dan 10-12). Misteri pertama-tama berkaitan dengan kehendak Allah, tetapi sekaligus sudah dibuka bagi orang-orang tertentu. Misteri berarti rencana Allah yang tersembunyi yang dinyatakan kepada manusia. Dalam terjemahan Latin, kata mysterion diterjemahkan dengan sacramentum. Dengan demikian sebetulnya, arti sakramen tidak berbeda dengan misteri, rencana Allah yang dinyatakan kepada manusia. Dengan kata lain, rencana Allah ditampilkan kepada manusia, melalui sabda maupun karya Allah sendiri, melalui tanda-tanda yang ditangkap (dipahami) oleh manusia. Dalam perkembangan selanjutnya, kata sakramen lebih menunjuk pada rencana Allah yang tersembunyi. Dengan demikian kata sakramen menunjuk tanda-tanda yang mengungkapkan karya Allah bagi manusia, tanda-tanda yang menghadirkan karya Allah bagi manusia (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 2).

(40)

Sebagai tanda atau simbol, sakramen merupakan tanda rapresentatif dan sekaligus tanda ekspresif, karena melalui sakramen itulah Gereja merasakan karya Allah, sekaligus mengungkapkan pengalaman imannya akan karya keselamatan Allah (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 3).

b. Perjamuan Ekaristi

Dalam perjamuan terakhir Yesus secara simbolis mengartikan kematian-Nya sebagai pemberian keselamatan bagi semua orang. Maka dapat dikatakan bahwa perjamuan terakhir merupakan kesimpulan dari pengartian seluruh sabda dan karya Yesus sendiri, yaitu tawaran keselamatan yang datang melalui Yesus sendiri, terutama melalui penyerahan-Nya di kayu salib. Dalam perjamuan itu, Gereja bersyukur atas karya penyelamatan Allah yang terjadi melalui wafat dan kebangkitan Kristus. Dengan mengambil bentuk doa syukur Yahudi, yang dalam Ekaristi menjadi doa Syukur Agung, Gereja mengenangkan pengalaman keselamatan yang terjadi dalam Yesus Kristus sendiri. Dengan demikian, yang menjadi inti pengenangan dalam perjamuan Ekaristi bukanlah pertama-tama perjamuan terakhir sendiri, tetapi pemberian diri Yesus yang terjadi dalam penyerahan diri-Nya di kayu salib. Dengan demikian inti kenangan itu ialah peristiwa keselamatan yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan Yesus. Inilah yang dikenangkan dalam perjamuan Ekaristi (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 23).

(41)

yang diucapkan imam atas roti dan atas anggur merupakan forma dari Sakramen Ekaristi. Bagian ini dipandang sebagai puncak seluruh Ekaristi, karena saat inilah terjadi perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Yesus (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 23).

Pengenangan akan karya keselamatan juga menimbulkan ungkapan syukur dari pihak Gereja kepada Allah. Sebagaimana dalam tradisi Yahudi, ungkapan syukur itu juga dinyatakan dalam kurban pujian (Ibr 13:15). Namun dalam ini yang dimaksudkan bukanlah kurban sembelihan, tetapi penyerahan diri personal seorang kepada Allah sendiri, sebagai persembahan tak bercacat di hadapan-Nya (Rom 12: 1). Dalam hal ini, penyerahan diri Yesus kepada Bapa di kayu salib dapat disebut kurban, dan dengan demikian Ekaristi pun juga disebut kurba. Dalam perayaan Ekaristi keikutsertaan dalam persembahan roti dan anggur serta persembahan seluruh hidup kita. Dalam hal itu, ambil bagian dalam Ekaristi berarti ambil bagian dalam persembahan diri Yesus sendiri (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 24).

c. Kehadiran Kristus

(42)

hanya simbol saja. Itulah sebabnya dikatakan bahwa dalam Sakramen Ekaristi “secara

sungguh, real dan substansial ada tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus”

(Purwatma dan Madya Utama, 2017: 25). d. Aspek Teologis, Yuridis dan Pastoral 1) Aspek Teologis Ekaristi: kan. 897

Misteri Ekaristi, khususnya perayaan Ekaristi, merupakan puncak dan pusat seluruh kehidupan kristiani, baik bagi Gereja universal maupun bagi komunitas lokal umat beriman. Itu berarti bahwa baik sakramen-sakramen lain, semua pelayanan gerejani maupun karya kerasulan Gereja, bertalian erat dengan Ekaristi dan semuanya terarah ke sana. Di dalam Ekaristi inilah mengalir kesejahteraan rohani Gereja, dalam arti bahwa melalui sakramen ini Kristus sendiri memberikan kehidupan kepada manusia dan melalui Ekaristi ini pula manusia disegarkan dan dikuduskan (PO 5).

Karena itu perayaan Ekaristi merupakan sekaligus tindakan Kristus dan tindakan Gereja. Sebagai tindakan Kristus, Ekaristi menampilkan diri sebagai kurban, kenangan perjamuan. Dalam dan melalui perayaan Ekaristi ini, sekaligus dikenangkan dan diaktualisasikan wafat Kristus di salib dan kebangkitan dari alam maut, demi keselamatan manusia (Prasetyantha, 2008: 82).

2) Aspek Yuridis Ekaristi

(43)

Ekaristi, karena antara communio gerejani dan communio ekaristis berkaitan sangat erat sekali: melalui Ekaristi ini, Gereja mengungkapkan secara penuh pengakuan imannya; melalui Ekaristi pula, kesatuan Gereja dibangun dan ditampakan. Karena itu terlibat dalam perayaan Ekaristi berarti terlibat dalam kehidupan dan communio Gereja seluruhnya. Perayaan bersama ini, selain merupakan aktivitas sakramental, juga merupakan suatu tindakan yuridis, karena selain mengungkapkan kesatuan sakramental dengan Kristus, juga kesatuan umat beriman. Dalam Ekaristi ini norma-norma kanonik mendapatkan titik puncaknya: hukum kanonik harus muncul dari dalam kerangka karya penyelamatan (Prasetyantha, 2008: 82).

3) Aspek Pastoral: kan. 898

Kanon ini secara khusus menunjukan kewajiban umum umat beriman dan para gembala umat sehubungan dengan Ekaristi Maha Kudus (Kan. 843 §2). Semuanya wajib menunjukan rasa hormatnya yang tinggi terhadap Ekaristi Mahakudus dan terhadap ibadat yang kudus ini. Rasa hormat itu ditunjukan dengan berpartisipasi secara aktif dalam perayaan-perayaan Ekaristi, secara kontinu menyambut sakramen itu dengan penuh rasa hormat dan bersembah sujud menghormatinya.

(44)

2. Unsur-Unsur Perayaan Ekaristi a. Makna Ekaristi sebagai perayaan

Sudah dari istilahnya kelihatan bahwa Perayaan Ekaristi merupakan sebuah

perayaan. Kata “perayaan” menerjemahkan kata Latin celebration yang kata

kerjanya: celebrare. Kata celebrare ini mempuyai banyak kemungkinan arti, seperti : merayakan, mengunjungi atau menghadiri dalam jumlah banyak, meramaikan, memenuhi, kerap kali melakukan, memuji atau memuja. Maka, makna dasar celebratio atau perayaan selalu berunsur plural, banyak. Dalam pengertian teologis-liturgis, kata perayaanmengandung tiga arti pokok :

1) Segi kebersamaan

Ekaristi sebagai sebuah perayaan pertama-tama adalah perayaan seluruh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala dan para anggota-Nya (SC 7). Subjek menunjuk siapa yang yang merayakan Ekaristi, yang merayakan Ekaristi adalah Kristus dan bersama seluruh Gereja. Konsili Vatikan II menegaskan makna eklesial Ekaristi dan semua kegiatan liturgis lainnya.; “Upacara-upacara liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan” (Martasudjita, 2005: 106 ).

2) Segi Partisipatif

Sebuah perayaan selalu menunjuk makna keterlibatan atau partisipasi dari seluruh hadirin. Demikian pula Ekaristi sebagai liturgi resmi menuntut “partisipasi sadar dan aktif” dari semua hadirin. Para Bapa Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa

(45)

yang sadar dan aktif dari seluruh umat beriman. Para Bapa Konsili Vatikan II menegaskan mendesak umat beriman agar mereka merayakan Ekaristi bukan sebagai penonton yang bisu, melainkan bisa memahami misteri yang dirayakan dengan baik dan ikut serta secara penuh, khidmat, dan aktif (Martasudjita, 2005: 107).

3) Segi kontekstual

Sebuah perayaan selalu diselenggarakan menurut situasi dan kondisi setempat. Di sini unsur kebutuhan setempat, situasi, dan tantangan zaman, unsur-unsur budaya local ikut mempengaruhi sebuah perayaan. Demikian pula dengan perayaan Ekaristi kita. Ekaristi yang merupakan perayaan seluruh Gereja itu bagaimanapun juga dirayakan menurut gaya dan model penghayatan setempat. Perayaan Ekaristi mesti menjawab kebutuhan dan kerinduan aktual dan kontekstual dari umat beriman setempat. Itulah sebabnya, doa-doa terutama doa umat, misalnya, hendaknya disusun menurut situasi dan kondisi aktual Gereja setempat pada waktu itu (Martasudjita, 2005 : 107).

b. Partisipasi Umat Beriman

Bagian ini ingin lebih mendalami segi partisipatif dari Ekaristi sebagai perayaan. Perhatian utamanya adalah bagian-bagian manakah yang dapat menjadi saat partisipasi aktif umat dalam perayaan Ekaristi (Martasudjita, 2005 : 108).

(46)

2) Partisipasi sadar dan aktif umat beriman dalam liturgi tersebut dilaksanakan menurut “tingkatan, tugas, serta keikutseraan mereka” (SC 26). Artinya dalam

menjalankan partisipasi tersebut, masing-masing umat beriman “menjalankan dan melakukan seutuhnya, apa yang menjadi peranannya menurut hakikat perayaan serta kaidah-kaidah liturgi” (SC 28).

3) Selain para petugas tertahbis, di antara umat beriman juga dipilih para petugas-petugas liturgi yang ambil bagian dalam pelayanan liturgi bagi seluruh umat beriman. Mereka itu antara lain lektor, akolit, pelayanan komuni tak lazim, pemazmur, paduan suara atau kor, petugas musik, koster, komentator, kolektan, penyambut jemaat, dan sebagainya (Pedoman Umum Misale Romawi 98-107).

Bagian-bagian Perayaan Ekaristi yang dapat menjadi kesempatan partisipasi aktif umat ialah aklamasi dan jawaban-jawaban umat terhadap salam dan doa-doa iman (PUMR 35), pernyataan tobat, syahadat, doa umat, doa Bapa Kami (PUMR 36). Umat sebaiknya juga ikut terlibat dalam pengucapan atau menyanyikan: nyanyian pembuka, kemuliaan, refren, Mazmur Tanggapan, bait pengantar Injil, nyanyian persiapan persembahan, kudus, aklamasi anamnesis, nyanyian pemecahan hosti (Agnus Dei), madah pujian sesudah komuni dan nyanyian penutup (PUMR 37). c. Tata gerak dan sikap tubuh

(47)

1) Tata gerak dan sikap tubuh memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun dari Perayaan Ekaristi.

2) Tata gerak dan sikap tubuh itu mengungkapkan dengan baik pemahaman yang tepat dan penuh atas aneka bagian perayaannya.

3) Tata gerak dan sikap tubuh itu membuat jemaat bisa sungguh berpartisipasi secara aktif.

3. Ekaristi Sebagai Liturgi

a. Arti dan Sejarah Istilah Liturgi

Kata “liturgi” berasal dari bahasa Yunani leitourgia. Kata leitourgia terbentuk dari kata ergon, yang berarti ‘karya’dan leiotos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos (= bangsa). Secara harfiah, leitourgia berarti ‘kerja’ atau pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa. Istilah leitourgia, memiliki arti profan-politis, dan bukan hanya arti kultis sebagaimana biasa kita pahami sekarang ini. Sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia diperluas, yakni untuk menyebutkan berbagai macam karya pelayanan (Martasudjita,1999:18).

(48)

Kata “liturgi” dalam Perjanjian Baru dihubungkan dengan pelayanan kepada

Allah dan sesama. Pelayanan kepada Allah dan sesama itu tidak dibatasi hanya pada bidang ibadat saja, tetapi juga pada aneka bidang kehidupan lain. Perjanjian Baru hanya mengenal satu imamat saja, yaitu imamat Yesus Kristus. Imamat Yesus Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya guna dibandingkan dengan pelayanan imam Perjanjian Lama. Oleh karena itu, imamat dan tata liturgi Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi, sebab Kristus adalah satu-satunya pelayanan, tempat kudus dan kemah sejati (Martasudjita,1999:20).

Dalam sejarah Gereja selanjutnya pasca-para rasul, kata liturgi sudah digunakan untuk menunjuk kegiatan ibadat atau doa Kristiani. Sejak abad pertengahan, kata “liturgi” hanya terbatas digunakan untuk menyebut Perayaan Ekaristi saja.

Pembatasan ini terjadi di Gereja Timur dan Gereja Barat.

Istilah “liturgi” lama menghilangkan dalam kamus Gereja Barat. Hal ini kiranya berkaitan dengan penerjemahan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Latin (Vulgata) yang dilakukan oleh Hironimus (th. 347-420). Dalam Vulgata ini, kata “liturgi” umumnya diterjemahkan dengan kata minister, atau juga officium, obsequium, caeramonia, munus, opus, servitus (Martasudjita,1999:23).

Istilah “ liturgi” kembali dikenal dalam Gereja Barat mulai abad ke-16, yakni melalui pengaruh kaum humanis (seperti Beatus Rhenanus). Mula-mula kata “liturgi” digunakan oleh Gereja-Gereja Reformasi pada aba XVII dan XVIII dengan arti ‘ibadat Gereja’. Kemudian Gereja Katolik Roma mulai juga memakai kata sifat

(49)

baru digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik Roma pada abad XVIII. Pada tahun 1947 Pius XII menggunakan kata “liturgi” dalam ensikliknya Mediator Dei. Akhirnya, Konsili Vatikan II membakukan istilah “liturgi” untuk menyebut

‘peribadatan Gereja’ dalam Sacrosanctum Concilium (Martasudjita,1999:23). b. Pengertian Liturgi

1) Pandangan Populer

Di kalangan umat pandangan populer tentang “liturgi” biasanya dipahami

sebagai upacara atau ibadat publik Gereja. Kalau berbicara mengenai liturgi, orang akan langsung berfikir tentang urutan upacara, para petugas, peralatan yang harus ada, dan sebagainya. Sebagai contoh misalnya umat yang belum tahu apa artinya membuat tanda salib kecil di dahi, mulut, dan dada sewaktu Injil akan dibacakan. Atau umat belum tahu apa artinya berlutut, membungkuk, dalam rangka upacara liturgis. Petugas koor salah memilih lagu karena lagu-lagu tidak sesuai dengan tema. Dan masih banyak contoh lain. Kalau kita perhatikan dengan baik, contoh-contoh itu hanya menunjuk berbagai makna upacara dan aturan yang dilaksanakan jemaat yang sedang beribadat bersama. Liturgi dilihat hanya sekadar suatu upacara dan aturan yang harus dilaksanakan di dalam peribadatan Gereja. Liturgi melulu dipandang sebagai kumpulan aturan ibadat. Ilmu liturgi hanya menjadi ilmu mengenai bagaimana orang melaksanakan ibadat secara benar, sehingga ibadat itu “sah” dan

“manjur”. Pandangan makna liturgi seperti ini rupanya kini masih populer dan masih

(50)

2) Liturgi menurut Konsili Vatikan II

Makna dan hakikat liturgi dapat kita temukan di dalam dokumen resmi Konsili Vatikan II yaitu Sacrosantum Concilium (SC). Dokumen ini merupakan hasil perumusan dan perjuangan panjang gerakan pembaharuan liturgi, yang memuat hasil refleksi dan studi liturgis selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Dokumen Vatikan II Sacrosanctum Concilium boleh disebut sebagai puncak dan mahkota perjuangan panjang usaha pembaruan liturgi.

Pernyataan paling penting Vatikan II tentang liturgi terdapat dalam SC 7: Maka memang wajar juga Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya.

SC 7 memandang liturgi sebagai suatu tanda kehadiran Yesus Kristus yang mempersembahan diri dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, “karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. SC 7 juga memandang liturgi sebagai sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu Kepala dan para anggota-Nya.

Dalam SC 10 apa yang dirayakan di dalam liturgi dirumuskan begini: “Jadi

(51)

Kristus itu kini senantiasa dikenang dan dihadirkan oleh Gereja di dalam liturgi. “Sebab melalui liturgilah, terutama dalam korban ilahi Ekaristi, terlaksana karya

penebusan kita” (SC 2). Masih SC 2 : “Liturgi merupakan upacara yang sangat

membantu kaum beriman untuk mengungkapkan misteri Kristus serta hakikat asli Gereja yang sejati”. Jadi isi perayaan liturgi adalah misteri karya keselamatan Allah

dalam Kristus yang berupa karya pengudusan umat manusia dan pemuliaan Allah (Martasudjita,1999:26).

B.Hidup Menggereja Orang Muda Katolik

Bila mendengarkan kata kaum muda, sepintas asumsi negatif yang biasa keluar tentang siapa itu kaum muda. Kaum muda sering diidentikan dengan berbagai kenakalannya seperti tawuran, narkoba, minuman keras, ngebut-ngebutan, dan lain sebagainya. Benar bahwa itu fakta yang terjadi. Namun orang-orang sering melupakan bahwa kaum muda adalah generasi penerus dan harapan bagi bangsa ini. Merekalah yang akan menentukan nasib keluarga, masyarakat dan bangsa ini ke depannya. Mereka mempunyai peranan dan tanggungjawab yang penting dalam mengembangkan kehidupan ini untuk semakin lebih baik dan maju.

(52)

1. Pengertian Kaum Muda

Kaum muda adalah kata kolektif untuk orang yang berada pada rentang umur 11-25 tahun. Sedangkan Komisi Kepemudaan mengambil batas 13-30 tahun. Rentang umur 13-30 tahun ini merujuk pada buku “Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda dan Keputusan Badan Koordinasi Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda No.1/BK tahun 1982 tentang tentang petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Politik bagi Generasi Muda” yang dikeluarkan oleh Kantor Menpora tahun 1985 (Komisi Kepemudaan Konferensi Wali Gereja Indonesia, 1993: 36).

Rentang umur tersebut menunjukan bahwa kaum muda terdiri atas usia remaja sampai dengan dewasa awal. Dalam rapat Pengurus Pleno Komisi Kepemudaan KWI bulan Agustus 1991, rentang umur tersebut dikategorisasi lebih rinci demi efektivitas pembinaan. Kategorisasi tersebut sebagai berikut:

a) Kelompok usia remaja (13-15tahun) b) Kelompok usia taruna (16-19tahun) c) Kelompok usia madya (20-24 tahun) d) Kelompok usia karya (25-30 tahun)

(53)

kebiasaan tempat masing-masing. Organisasi kepemudaan mengkategorikan kaum muda, yaitu orang-orang yang berada di antara usia 15 tahun sampai 40 tahun. Kemudian, Organisasi Muda Katolik (OMK) menyebut kaum muda sebagai orang yang berusia SMU ke atas. Pembagian ini didasarkan pada hasil penelitian psikologis yang mengatakan bahwa kaum muda berada dalam masa remaja (adolescene) sekitar 13 sampai 18 tahun dalam masa muda (youth) sesudah 18 tahun ke atas sampai usia 40 tahun ( http://sapereaudenias.blogspot.com/2008/08/kaum-muda-harapan-masa-depan-gereja.html/ Diakses pada tanggal 14 Maret 2018)

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, kita dapat menegaskan bahwa yang disebut kaum muda adalah mereka yang berada dalam tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan baik secara mental, emosional, sosial maupun religius. Pada perkembangan seperti ini kaum muda berada dalam disposisi yang tidak menentu, terutama dalam menemukan identitas iman mereka yang sesungguhnya. Terlebih lagi dengan hadirnya “globalisasi” kaum muda seringkali merasa diombang-ambingkan oleh situasi perkembangan globalisasi itu sendiri yang semakin hari semakin berubah dan menantang mereka (http://sapereaudenias.blogspot.com/2008/08/kaum-muda-harapan-masa-depan-gereja.html/ Diakses pada tanggal 14 Maret 2018).

(54)

dalam masyarakat zaman sekarang. Dari sini jelas sekali bahwa Konsili Vatikan II tidak hanya menaruh perhatian pada bidang-bidang pembaharuan, seperti pembaharuan liturgi, kerasulan awam dan lain sebagainya, tetapi juga, Konsili ini mencurahkan perhatiannya kepada kaum muda sebagai harapan dan masa depan Gereja dan masyarakat. Konsili Vatikan II melihat bahwa kaum muda sebagai harapan dan masa depan Gereja memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan masa depan Gereja. Mereka adalah bagian integral yang sangat penting dalam perkembangan kehidupan menggereja, baik di keuskupan, paroki maupun stasi-stasi ( http://sapereaudenias.blogspot.com/2008/08/kaum-muda-harapan-masa-depan-gereja.html/ Diakses pada tanggal 14 Maret 2018)

2. Dinamika Kaum Muda

Dalam menjalani hidup kaum muda tentu merasakan dan mengalami dampak positif ataupun negatif dari kehidupan yang ditawarkan saat ini. Macam-macam tawaran yang menggiurkan dan instan sangat mudah didapatkan. Zaman sekarang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi yang begitu pesat. Hal ini akan berdampak baik ataupun buruk bagi kaum muda dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Bagian berikut akan menjelaskan tentang pengertian secara singkat tentang kaum muda zaman sekarang, karakteristik dan kaum muda zaman sekarang.

a. Kaum muda zaman sekarang

(55)

Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook, line, twiter, whatsapp dan instagram. Mereka juga suka main game online (https://www.4muda.com/mengenal-generasi-x-y-dan-z-sebagai-generasi-dominan-masa-kini/ diakses 13 Juli 2018).

b. Karakteristik kaum muda zaman sekarang Generasi Y memiliki karakteristik sebagai berikut :

1) Generasi Y melihat karakteristik yang berbeda-beda, tergantung di mana ia dibesarkan, strata ekonomi dan sosial keluarganya.

2) Namun secara keseluruhan, generasi Y itu sangat terbuka pola komunikasinya dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

3) Mereka juga pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi.

4) Lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonominya sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya.

5) Generasi Y itu terlihat lebih fokus atau perhatian terhadap ‘wealth’

6) Ciri-ciri Generasi Y pada setiap tahap kehidupannya akan sangat berbeda. Pada saat muda, Generasi Y ini sangat tergantung pada kerja sama kelompok. Pada saat mereka mulai dewasa mereka akan berubah menjadi orang-orang yang akan lebih bersemangat apabila bekerja secara berkelompok terutama di saat-saat krisis. 7) Pada saat paruh baya, mereka akan semakin energetik, berani mengambil

(56)

saat mereka tua, mereka akan menjadi sekelompok orang tua yang mampu memberikan kotribusi dan kritikan kepada masyarakat.

3. Permasalahan Kaum Muda a. Identitas Diri

Masalah laten yang selalu menyertai orang muda adalah identitas diri. Tanpa ini orang muda tidak pernah akan tumbuh. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah pendampingan orang yang sudah melewati dan mengatasi permasalahan ini. Tahun 1992 Keuskupan Agung Jakarta membuat suatu penelitian dengan hasil akhir sebagai berikut. Ada tiga masalah utama yang mencekam orang muda: Orang muda yang ber umur 13-17 tahun, masalah terbesarnya adalah soal identitas diri. Sedang yang berumur 17-25 tahun umumnya menghadapi permasalahan menentukan karier. Plus umumnya bergulat dengan masalah perjodohan (http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-era-digital/ diakses pada tanggal 14 April 2018).

b. Aktualisasi Diri

(57)

c. Pendampingan

Pendampingan diperlukan orang muda bukan pertama karena pendamping lebih ahli daripada yang didampingi melainkan karena wibawa dan otoritas yang dimilikinya. Dari pendamping sebetulnya tidak dituntut suatu ilmu atau keahlian. Kalau pengalaman pendamping dibutuhkan pun tidak secara langsung diperlukan, sebab itu semua dapat mereka temukan sendiri. Sedangkan otoritas atau wewenang hanya dapat dimiliki oleh pendamping. Seperti kita tumbuh dan berkembang bersama orang lain, maka bila pendamping ada, maka pertumbuhan orang dapat lebih pesat karena orang muda punya kebanggaan lebih. Orang muda mendapat nilai tentang dirinya justru dengan aktualisasi dirinya ( http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-era-digital/ diakses pada tanggal 14 April 2018).

4. Orang Muda Katolik

Muda berarti masih mentah, belum matang, itulah predikat yang biasa dikenakan pada orang muda. Masa muda adalah masa pertumbuhan. Dalam proses pertumbuhan macam-macam hal bisa terjadi. Dalam masa ini pula orang muda dapat mengembangkan dirinya untuk semakin menjadi pribadi yang dapat berguna bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya.

(58)

penghubung masa depan dan masa kini. Oleh karena itu sangatlah penting memahami siapa itu OMK, dan mengetahui apa kebutuhan yang mereka inginkan saat ini. a. Batasan Usia OMK

Tidak mudah memetakan usia OMK dengan angka. Beberapa acuan sebagai pertimbangan adalah sebagai berikut:

Usia anak-anak-anak ialah sejak pembuahan hingga remaja belia. Menurut buku

“Karya Kepausan” yang diterbitkan oleh Karya Kepausan Indonesia tahun 2007 hlm

31, usia ‘remaja belia’ didasarkan pada data bilbis yang mengacu pada berita Injil,

yang mengatakan bahwa hingga usia remaja, Yesus masih berada di bawah asuhan orangtua-Nya (Maria dan Yosef). Indikasinya ialah kisah Yesus hilang di Bait Allah pada usia 12 tahun (Luk 2:42) (Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 17).

Karya Kepausan Indonesia menetapkan sampai usia kira-kira kelas 3 SMP merupakan remaja. Sementara itu, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan pada pasal 1 menyebutkan bahwa kaum muda ialah manusia yang berusia 16-30 tahun (Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 18)

(59)

yang beragam, supaya tercapailah maksud pendampingan pastoral sejak anak-anak, remaja sampai dewasa secara berkesinambungan Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 18).

b. Berbagai realitas OMK dewasa ini

Berikut beberapa ringkasan dan kisah-kisah yang diungkapkan Para Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan-Keuskupan se-Indonesia ketika mereka berkumpul dalam rapat pleno Komisi Kepemudaan KWI di Jakarata, pada bulan Februari 2011 dan Februari 2012.

1) Realitas Sosiologis OMK

Luasnya wilayah keuskupan di Indonesia mempengaruhi timbulnya berbagai macam masalah seperti ekonomi-sosial-budaya. Dan sebagian besar paroki berada diluar kota. Hal ini memungkinkan aneka ragam sosial juga tantangan yang berbeda.

Di kota besar, kesibukan metropolitan-modern dan bisnis-industrial membuat keadaan kejiwaan masyarakat berorientasi pada keuntungan ekonomi. Kesibukan dalam pekerjaan dan kegiatan ini berdampak pada gesekan/konflik antar warga. Di sisi lain, perhatian dan kepedulian warga kota terhadap dimensi rohani dalam hidup menjadi terlupakan. Karakter warga kota itu turut membentuk karakter OMK di kota besar.

(60)

berpindah ke kota besar untuk menempuh studi lanjut setelah sekolah menengah atau bekerja.

Sebagian besar OMK Indonesia di daerah, berlatar belakang keluarga petani, pekerja perkebunan, pekerja sektor mikro atau pengusaha tingkat tengah dan bawah, sebagian pegawai negeri sipil, karyawan swasta dan sebagian kecil memiliki latar belakang ekonomi yang tengah-atas. Kesempatan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan bagi OMK di daerah belum bisa mendekati tingkat yang dicapai oleh teman-temannya di perkotaan. Sebagian OMK di daerah bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil atau aparat negara sementara yang berstatus pengangguran tetap membutuhkan perhatian yang lebih agar segera mandiri (Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 33).

2) Realitas Pastoral OMK

Sebagian besar paroki-paroki di keenam regio yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Makassar-Amboina-Manado, Nusa Tenggara, dan Papua memiliki banyak stasi/wilayah. Kondisi ini membuat waktu kunjungan pastoral imam sangat terbatas. Dari sisi kehidupan beriman OMK, masih banyak terpengaruh oleh aneka dominasi Protestan. Selain itu, katekese yang kurang membuat OMK tidak mengetahui banyak mengenai iman Katolik

(61)

bersama yang melibatkan semua komunitas OMK di Keuskupan dan dekenat serta paroki dirasakan manfaatnya bagi kesatuan dalam keberagaman Komisi (Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 36).

3) Realitas OMK sebagai Orang Muda

Biasanya waktu luang OMK diisi dengan berkumpul, nongkrong, dan jalan-jalan. Yang lain mengisinya dengan kegiatan berkesenian, aktivitas luar ruangan. Teknologi informasi mempengaruhi kehidupan orang muda. Walaupun materialisme dan konsumerisme mempengaruhi kehidupan orang muda pula, namun dirasakan ketahanan internal rata-rata masih terbentuk karena kuatnya moral dan iman dalam keluarga, kedalaman spritualitas Gereja dan kesehatan yang terjaga.

(62)

5. Hidup Menggereja

Semua umat Kristiani dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya perutusan, semua ditugaskan oleh Tuhan sendiri lewat babtis dan krisma untuk mewartakan Kabar Gembira kepada seluruh dunia. Artinya bahwa kita dipanggil untuk hidup merasul oleh daya Roh Kudus sebagai ungkapan iman kepada Yesus.

Konsili Vatikan II memberi lukisan “ kerasulan” sebagai berikut :

“Gereja didirikan agar dengan menyebarkan Kerajaan Kristus di seluruh dunia demi kemuliaan Allah Bapa, semua orang mengambil bagian dalam penebusan dan keselamatan dan lewat mereka dunia sungguh-sungguh diarahkan kepada Kristus. Setiap kegiatan Tubuh Mistik yang terarah pada tujuan itu disebut kerasulan dan Gereja mewujudkannya dengan pelbagai cara lewat para warganya; karena panggilan Kristiani pada hakikatnya sekaligus adalah panggilan untuk merasul atau hidup menggereja” (AA 2).

Gereja dalam dokumen-dokumen khusus tentang kerasulan awam menegaskan lingkup kerasulan awam:

AA 2 “Sedangkan kaum awam yang berpartisipasi dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja, mengemban perannya dalam perutusan seluruh umat Allah di dalam Gereja dan dunia.”

(63)

Demikian kaum awam mengambil peranan dalam Gereja dan Dunia. Selain berpartisipasi dalam tugas perutusan Gereja, kaum awam juga mengambil peran penting dalam tata dunia. Bersaksi melalui hidup berkeluarga, pekerjaan, hidup bermasyarakat, dan relasi antar umat beragama.

a. Dasar-dasar dalam hidup menggereja

Kaum awam sebagai pengemban tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja mempunyai peranan aktifnya dalam hidup dan karya Gereja (AA 10). Perlu disadari bahwa partisipasi kaum awam bukan hanya terbatas pada lingkup intern gerejawi seperti koor, ibadat, misa, doa-doa lingkungan dan sebagainya, melainkan harus menjangkau dan meliputi juga lingkup tata dunia. Ada pun beberapa dasar-dasar dalam hidup menggereja :

1) Partisipasi dalam Imamat

Partisipasi Gereja dalam tugas Kristus sebagai imam dikaitkan dengan pengudusan yang terutama dilaksanakan dalam perayaan liturgi, lebih khusus lagi Ekaristi (SC 7, KHK kan. 834). Dalam LG 10 yang khusus membahas imamat umum/kaum beriman diberi penjabaran sebagai berikut: “Umat beriman berdasarkan

imamat rajawi berperan serta dalam persembahan Ekaristi. Imamat itu mereka laksanakan dalam menyambut sakramen-sakramen, dalam doa, dan bersyukur, dengan memberi kesaksian hidup suci, dengan pengingkaran diri serta cintakasih yang aktif”.

(64)

Kristus sebagai Imam Agung. Umat beriman sesuai dengan kekhasan masing-masing baik itu imamat jabatan dan imamat umum keduanya harus saling melengkapi, karena keduanya dengan caranya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus. Imam dengan kekuasaan kudus yang ada padanya membentuk dan memimpin umat dalam perkembangan imannya. Menyelenggarakan perayaan Ekaristi atas nama Kristus, dan mempersembahkannya kepada Allah atas nama seluruh umat. Sedangkan umat beriman juga mengambil bagian dalam pengudusan itu melalui keterlibatan aktif dalam perayaan Ekaristi baik sebagai prodiakon, lektor, pemazmur, misdinar, kotatatib dan aktif dalam ibadat-ibadat kudus lainnya.

2) Partisipasi dalam Kenabian

Partisipasi dalam tugas kenabian Kristus berkisar pada kesaksian iman (lewat penghayatan serta pengalamannya) serta pewartaan iman lainnya, dan dengan demikian termasuk kerasulan dalam lingkup gerejawi dan juga lingkup tata dunia. Dalam tugas kenabian Kristus, demikian pula sedikit penjabaran dalam beberapa jenis kegiatan, dalam LG 12 :

Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya terutama melalui hidup iman dan kasih, pun pula dengan mempersembahkan kepada Allah kurban pujian, buah-hasil bibir yang mengakui nama-Nya. Keseluruhan kaum beriman yang telah diurapi oleh Yesus Kristus tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui citarasa iman adikodrati segenap umat.

Gagasan ini diteguhkan kembali dalam LG 35 yang khusus menjabarkan partisipasi kaum awam dalam tugas kenabian Kristus: “.. tetapi juga melalui kaum awam, yang

(65)

rahmat sabda, agar daya Injil bersinar dalam hidup sehari-hari, hidup keluarga,dan kemasyarakatan”.

Sudah jelas bahwa seluruh umat beriman atas dasar imanya kepada Kristus, dipanggil dan diutus untuk memberi kesaksian dan mewartakan imannya kepada siapapun dan dimanapun ia berada baik di lingkup gereja maupun dunia. Semua yang dilakukan dalam hidup ini diharapkan berdasarkan atas rahmat iman dan sabda akan Yesus Kristus, sehingga kehidupan yang mereka jalani merupakan suatu pewartaan dan kesaksian yang berpusat kepada Yesus Kristus atau Kristosentris.

3) Partisipasi dalam pengabdian Rajawi

Dalam Christifideles Laici (CL) 14 diajukan gagasan sebagai berikut: “Berdasarkan penggabungannya pada Kristus, Tuhan dan Raja dunia, kaum awam

berpartisipasi dalam tugas rajawi-Nya. Mereka dipanggil oleh-Nya untuk pengabdian kepada Kerajaan Allah dan pengembangannya dalam sejarah. Kaum awam menghayati tugas rajawi Kristus terutama dengan perjuangan rohaninya untuk mengalahkan kekuasan dosa dalam dirinya sendiri, dan dengan penyerahan diri, untuk mengabdi dalam kasih dan keadilan Yesus yang hadir dalam semua saudara-saudarinya, terutama yang paling miskin”. Artinya umat beriman senantiasa

Figur

Tabel 1: Variabel Penelitian……………………………………………………...
Tabel 1 Variabel Penelitian . View in document p.18
tabel sebagai berikut:
tabel sebagai berikut: . View in document p.94
Tabel 1. Variabel Penelitian
Tabel 1 Variabel Penelitian . View in document p.95
Tabel 2 memaparkan hasil penelitian penulis mengenai dampak EKM terhadap
Tabel 2 memaparkan hasil penelitian penulis mengenai dampak EKM terhadap . View in document p.97
Tabel 3 memaparkan hasil penelitian penulis mengenai faktor-faktor
Tabel 3 memaparkan hasil penelitian penulis mengenai faktor faktor . View in document p.102
Tabel 4 akan memaparkan hasil penelitian penulis mengenai usulan kegiatan
Tabel 4 akan memaparkan hasil penelitian penulis mengenai usulan kegiatan . View in document p.106
Tabel 4. Usulan Kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja
Tabel 4 Usulan Kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja . View in document p.107
Tabel 5. Jadwal Rekoleksi OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta
Tabel 5 Jadwal Rekoleksi OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta . View in document p.126

Referensi

Memperbarui...