EXECUTIVE SUMMARY
KINERJA PERALATAN ASPHALT MIXING PLANT (AMP) UNTUK
MENDUKUNG JARINGAN JALAN DI INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2016
I.
LATAR BELAKANG
Komitmen Pemerintah dalam rangka pemerataan pembangunan nasional saat ini semakin
kuat. Hal ini terwujud dengan telah ditetapkannya proyeksi anggaran infrastruktur prioritas
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) III 2014 – 2019 yang
dinyatakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) adalah sebesar Rp
5.452 triliun. Jumlah yang sangat besar ini diperlukan agar Indonesia mencapai sasaran
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) pada tahun 2025 yaitu mencapai
negara dengan pendapatan menengah.
Kondisi geografis Indonesia yang kepulauan tentu saja membutuhkan jaringan infrastruktur
jalan yang andal guna menjalin interaksi antar wilayah nusantara. Infrastruktur jalan nasional,
provinsi, dan kabupaten/kota diharapkan mampu terintegrasi secara lokal agar dapat
terhubung secara global. Saat ini, jaringan jalan di Indonesia masih dibawah capaian
kemantapan jalan yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan oleh banyak hal yang antara lain
adalah terbatasnya anggaran infrastruktur nasional, rendahnya kualitas hasil pekerjaan
perkerasan jalan, minimnya penguasaan teknologi perkerasan jalan, kualitas material aspal
yang fluktuatif, dsb.
Penyelenggaraan proyek konstruksi yang efektif, efisien dan berkualitas perlu didukung oleh
jaminan kualitas sumber daya konstruksi. Dalam hal jaminan kualitas, spesifikasi menjadi
suatu alat (tools) yang dapat dijadikan acuan untuk menilai baik atau tidaknya suatu kualitas.
Semakin baik spesifikasi yang dipersyaratkan dari suatu produk input, maka akan semakin
baik pula produk outputnya.
Pekerjaan perkerasan jalan merupakan pekerjaan yang membutuhkan dukungan teknologi
yang salah satunya adalah alat produksi asphalt yaitu Asphalt Mixing Plant (AMP).
Dukungan AMP yang andal menjadi salah satu kunci keberhasilan terjaminnya capaian
kualitas produk jalan. Pemilihan AMP yang tepat dan sesuai spesifikasi menjadi suatu
pedoman penting bagi setiap penanggungjawab dan penyelenggara konstruksi jalan. Selain
itu, dukungan operator dan mekanik AMP yang bersertifikasi menjadi suatu paket yang
tak terpisahkan.
Executive Summary:
Sebagai salah satu upaya menjawab tantangan permasalahan pekerjaan jalan, Direktorat Bina
Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat bermaksud melakukan Kajian dengan tema: “Kinerja Peralatan Asphalt
Mixing Plant (AMP) untuk Mendukung Jaringan Jalan di Indonesia”. Hasil dari kegiatan ini
diharapkan dapat memperoleh informasi terkait kinerja AMP yang ada (existing) dan
upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja AMP dalam mendukung
penyelenggaraan jalan di Indonesia.
II.
TUJUAN DAN SASARAN
2.1. Maksud
Maksud kegiatan ini adalah untuk mendapatkan kompilasi data kinerja peralatan Asphalt Mixing Plant (AMP) yang meliputi sebaran lokasi alat, jumlah, kapasitas AMP, type, tahun pembuatan dan merk serta jumlah penggunaan aspal.
2.2. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah merumuskan rekomendasi peningkatan kinerja peralatan AMP dalam mendukung pembangunan dan peningkatan jalan di Indonesia.
2.3. Sasaran
Sasaran dari kegiatan ini adalah diketahuinya sebaran lokasi alat, jumlah, kapasitas AMP, jumlah aspal yang dihasilkan serta menyusun estimasi terhadap jumlah aspal yang dihasilkan dan penggunaan aspal baik asbuton maupun aspal minyak yang berasal dari penggunaan Asphalt Mixing Plant (AMP) di Indonesia.
III.
KAJIAN LITERATUR
3.1. Asphalt Mixing Plant
Asphalt mixing plant/AMP (unit produksi campuran beraspal) adalah seperangkat peralatan mekanik dan elektronik dimana agregat dipanaskan, dikeringkan dan dicampur dengan aspal untuk menghasilkan campuran beraspal panas yang memenuhi persyaratan tertentu. AMP dapat terletak di lokasi yang permanen atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
3.1.1. Peralatan Unit Produksi AMP
Apabila ditinjau dari unit memproduksi campuran beraspal dan kelengkapannya, terdiri dari tiga jenis AMP, yaitu : jenis takaran (batch plant), jenis menerus (continuous plant), jenis drum.
a) Proses pencampuran campuran beraspal pada AMP jenis takaran dimulai dengan penimbangan agregat, bahan pengisi (filler) bila diperlukan dan aspal sesuai komposisi yang telah ditentukan berdasarkan Rencana Campuran Kerja (RCK) dan dicampur pada pencampur (mixer/pugmill) dalam waktu tertentu. Pengaturan besarnya bukaan pintu bin dingin dilakukan untuk menyesuaikan gradasi agregat dengan rencana komposisi campuran, sehingga aliran material ke masing - masing bin pada bin panas menjadi lancar dan berimbang. Unit produksi AMP jenis takaran/timbangan dapat dilihat pada Gambar 1
b) Proses pencampuran pada unit produksi campuran beraspal jenis menerus, komposisi campuran didapat dengan cara pengaturan keluaran agregat dari bin panas yang dicampur dengan jumlah aspal yang diatur melalui pengaturan kecepatan pompa. Unit produksi AMP jenis menerus dapat dilihat pada Gambar 2.
c) Proses pencampuran pada AMP jenis pencampur drum, agregat panas langsung dicampur dengan aspal panas di dalam drum pemanas atau di dalam silo pencampur di luar drum pemanas. Penggabungan agregat dilakukan dengan cara mengatur bukaan pintu pada bin dingin dan pemberian aspal ditentukan berdasarkan kecepatan pengaliran dari pompa aspal. Unit produksi AMP jenis menerus dapat dilihat pada Gambar 3.
Namun secara umum kebanyakan AMP dikategorikan atas jenis takaran (timbangan) atau jenis drum pencampur. Perbedaan utama dari AMP jenis timbangan dan jenis drum adalah dalam hal kelengkapan dan proses bekerjanya. Pada AMP jenis timbangan komposisi bahan dalam campuran beraspal ditentukan berdasarkan berat masing-masing bahan sedangkan pada AMP jenis pencampur drum komposisi bahan dalam campuran ditentukan berdasarkan berat masing-masing bahan yang diubah ke dalam satuan volume atau dalam aliran berat per satuan waktu.
Terlepas dari perbedaan jenis dari AMP, tujuan dasarnya adalah sama. Yaitu untuk menghasilkan campuran beraspal panas yang mengandung bahan pengikat dan agregat yang memenuhi semua persyaratan spesifikasi .
Perbedaan dalam hal kelengkapan dari kedua jenis AMP tersebut adalah; AMP jenis takaran dilengkapi saringan panas (hot screen), bin panas (hot bin), timbangan (weight hopper) dan
pencampur (pugmill/mixer) sedangkan pada AMP jenis pencampur drum kelengkapan
tersebut tidak tersedia. Tentunya kedua jenis AMP tersebut juga mempunyai persamaan yaitu
sama-sama dilengkapi bin dingin, pengontrol dan pengumpul debu serta pencampur.
Executive Summary:
Keterangan Gambar :
1. Bin dingin (cold bins) 2. cold feed gate
3. Sistem pemasok agregat dingin (cold elevator) 4. Pengering (dryer)
5. Pengumpul debu (dust collector) 6. Cerobong pembuangan (exhaust stack) 7. Sistem pemasok agregat panas (hot elevator) 8. Unit ayakan panas (hot screening unit) 9. Bin panas (hot bins) 10. Timbangan Agregat (weigh box)
11. Pencampur (mixer atau pugmill) 12. Penyimpanan filler (mineral filler storage) 13. Tangki aspal (hot asphalt storage) 14. Penimbangan aspal (aspal weigh bucket).
Gambar 1. Skema Unit AMP jenis takaran ( batch plant )
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum (1996)
Keterangan gambar :
1. Bin dingin 2. Elevator dingin
3. Pengering 4. Pengumpul debu
5. Cerobong asap 6. Tangki aspal 7. Elevator panas 8. Unit ayakan
9. Bin panas 10. Elevator panas
Gambar 2. Skema Unit AMP jenis menerus ( continous plant )
Keterangan Gambar :
1. Bin dingin 6. Tangki aspal 2. Ban berjalan membawa agregat dingin 7. Pengumpul debu
3. Timbangan otomatis 8. Ban berjalan membawa campuran panas 4. Drum pengering dan pencampur 9. Penampung campuran panas
5. Pompa aspal 10. Ruang kontrol
Gambar 3. AMP jenis pencampur drum (drum mix)
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum (1996)
3.1.2. Proses Pencampuran Aspal Beton Menggunakan Asbuton
Jenis Asbuton granular ( berbutir) antara lain BGA dan LGA. AMP yang digunakan harus ditambah komponen lain yang bisa menimbang, mengangkut asbuton ke pugmill tanpa merusak komponen AMP yang ada (asbuton feeder system). Unit AMP menggunakan asbuton dapat dilihat pada Gambar 4.
Executive Summary:
3.1.3.
Kapasitas Asphalt Mixing Plant
Kapasitas AMP bervariasi dan umumnya berkisar dari 500 kg sampai 1200 kg per batch atau lebih besar. Proses pencampuran untuk masing-masing batch sekitar 40 menit. Untuk jalan-jalan dengan lalu-lintas padat dan berat disarankan menggunakan kapasitas AMP yang lebih besar dari 800 kg per batch.
Beberapa keunggulan dari penggunaan kapasitas 800 kg per batch atau lebih adalah sebagai berikut:
Penggunaan kapasitas yang besar akan membantu menghasilkan campuran yang relatif seragam dan mengurangi faktor ketidakpastian.
Kapasitas yang lebih besar relatif lebih menjamin kelancaran pasokan campuran beraspal ke unit penghampar. Pasokan yang tidak lancar pada unit penghampar dapat mengakibatkan permukaan jalan tidak rata dan kepadatan tidak tercapai, karena campuran di bawah alat penghampar telah dingin sehingga pada bagian tersebut sulit diratakan dan dipadatkan.
Kapasitas yang besar akan mempercepat penyelesaian pekerjaan, yang berarti mengurangi gangguan terhadap kelancaran lalu-lintas. Pada jalan-jalan utama gangguan akibat adanya pekerjaan pelapisan ulang sangat besar pengaruhnya.
IV.
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Bagan Alir
Suatu metoda studi dikembangkan untuk memberikan jaminan (assurance) bahwa sasaran atau keluaran studi ini dapat dicapai dengan tepat dan akurat. Metodologi studi secara diagramatis dijelaskan pada Gambar 5.
4.2. Lokasi Kegiatan
Kegiatan kajian ini berpusat di Jakarta dan akan dilaksanakan survei di 3 provinsi Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan. Lokasi kegiatan telah mencerminkan wilayah perwakilan kajian.
Gambar 4. Metodologi Studi
LA PO RA N P END AH ULUA N MULAI PERSIAPAN:
PENYUSUNAN METODOLOGI STUDI & RENCANA KERJA
PENGUMPULAN DATA AWAL DAN HASIL-HASIL KAJIAN TERKAIT SEBELUMNYA
PELAKSANAAN FGD I
ESTIMASI KEBUTUHAN ASPAL MENDUKUNG PEMBANGUNAN & PENINGKATAN JALAN (DEMAND) PENGUMPULAN DATA JUMLAH, SEBARAN LOKASI,
JENIS, MEREK, TIPE, TAHUN & PABRIK PEMBUATAN, KAPASITAS ASPHALT MIXING PLANT
(ASPAL MINYAK & ASBUTON) DI INDONESIA
PENGUMPULAN DATA RENCANA PEMBANGUNAN & PENINGKATAN
JALAN OLEH PEMERINTAH PADA TAHUN ANGGARAN 2016 LA PO RA N A NT AR A
KAPASITAS KEMAMPUAN ASPHALT MIXING PLANT DALAM MEMPRODUKSI
CAMPURAN ASPAL (SUPPLY)
ANALISIS KINERJA ASPHALT MIXING PLANT DALAM MENDUKUNG KEBUTUHAN PEMBANGUNAN & PENINGKATAN JALAN DI INDONESIA (ANALISIS KESENJANGAN
SUPPL DAN DEMAND)
KONSE P L APOR A N AKHI R WORKSHOP 3 (MAKASSAR)
VERIFIKASI & VALIDASI KINERJA AMP DALAM MENDUKUNG JARINGAN JALAN WILAYAH SULAWESI, KEP. MALUKU & PAPUA
WORKSHOP 1 (SURABAYA)
VERIFIKASI & VALIDASI KINERJA AMP DALAM MENDUKUNG JARINGAN
JALAN WILAYAH JAWA, BALI, NTB, NTT &
KALIMANTAN
WORKSHOP 2 (PALEMBANG)
VERIFIKASI & VALIDASI KINERJA AMP DALAM MENDUKUNG JARINGAN JALAN WILAYAH SUMATERA
PERUMUSAN REKOMENDASI PENINGKATAN KINERJA AMP DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN & PENINGKATAN JALAN DI INDONESIA
PELAKSANAAN FGD II
PENYEMPURNAAN HASIL KAJIAN & RUMUSAN REKOMENDASI
L APOR A N AKHI R
HASIL KAJIAN KOMPILASI DATA KINERJA KAPASITAS AMP & REKOMENDASI PENINGKATAN KINERJA AMP DALAM MENDUKUNG JALAN DI INDONESIA
Executive Summary:
V.
HASIL KAJIAN
5.1. Identifikasi Awal Sebaran Pembangunan Jalan di Indonesia
Sumber : Ditjen Bina Marga (2015)
Gambar 5 . Kondisi Jaringan Jalan Di Indonesia
Sumber : Ditjen Bina Marga (2015)
Berdasarkan dari Gambar 5, dari keseluruhan panjang jalan di Indonesia (± 39.379,53 km), 95,61% diantaranya menggunakan jenis perkerasan lentur dengan menggunakan aspal sebagai materialnya. Hal ini berakibat pada besarnya kebutuhan aspal nasional yaitu mencapai 1,5 juta ton per tahun
5.2. Supply Demand Aspal Minyak di Indonesia
Perusahaan aspal minyak di Indonesia saat ini adalah PT. Pertamina, sedangkan perusahaan pengelola aspal buton saat ini berjumlah 6 buah perusahaan yang semuanya berlokasi di daerah kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara. Kapasitas Supply berdasarkan data yang diperoleh, kapasitas supply aspal dan konsumsi aspal di Indonesia adalah sebagai berikut:
No. KEGIATAN
ALOKASI TA. 2016 (Rp. Milyar)
Jumlah %
DITJEN BINA MARGA 45,201
1. Preservasi (2016: 47.017 Km) 23,371 51.70
a. Pemeliharaan Jalan (Rutin, Berkala, Rekon) 12,854
b. Pemeliharaan Jembatan 2,148
c. Pelebaran Jalan 8,369
2. Pembangunan 14,647 32.40
a. Pembangunan Jalan Baru 6,956
b. Pembangunan Jembatan Baru 3,881
c. Pembangunan Jalan Bebas Hambatan 2,915
Tabel 1. Kapasitas Supply dan demand Aspal di Indonesia
5.3. Supply Demad Asbuton di Indonesia
= Realisasi = Rencana/target
Gambar 6. Peta Potensi Pemanfaatan Asbuton
5.4. Sebaran Lokasi Asphalt Mixing Plant di Indonesia
Gambar 7. Sebaran Lokasi Asphlat Mixing Plant di Indonesia
(Sumber: AABI, 2016)
TAHUN 2015
NO JENIS MPK UNITS SUPPLY NASIONAL*
DEMAND
UTILITAS (%)
INFRASTRUCTURE NON-INFRASTRUCTURE Jumlah
Kebutuhan
a b c d e=(d/a)
1 SEMEN JUTA TON 60.44 15.250 45.751 61.00 100%
2 BAJA JUTA TON 6.20 3.90 3.70 12.50 202%
3 ASPAL RIBU TON 591.693 1258.7 66.3 1325 224%
4 ALAT BERAT RIBU UNIT 3.779 2.323 4.313 6.636 176%
Sources: dari berbagai sumber (diolah)
Note: Asumsi Persentase Demand:
*) Data Supply Nasional (diluar import) Semen 25% Infrastruktur 75% non-infrastruktur Data Total Demand berasal dari data penjualan Baja 40% Infrastruktur 38% non-infrastruktur Supply Aspal Minyak (sudah termasuk Aspal Buton) Aspal 95% Infrastruktur 5% non-infrastruktur Supply Alat Berat adalah Unit Baru HINABI Alat Berat 35% Infrastruktur 65% non-infrastruktur Selisih Demand-Supply = Import
4 K 13 K 21 K 25 K 51 K 54 K 43 K 25 K 55 K 105 K 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Executive Summary:
5.5. Ketersediaan Asphalt Mixing Plant di Indonesia
Jumlah unit asphalt Mising Plant yang ada di Indonesia berdasarkan data tahun 2015, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Ketersediaan Aspal Mixing Plant di Indonesia
No. Provinsi Total Ketersediaan AMP (Unit) Total Produksi AMP Terdata (Unit) Total Produksi AMP Tidak Terdata (Unit) Keterangan 1 Aceh 62 62 0 BBPJN I 2 Sumatera Utara 64 54 10 3 Jambi 30 11 19 BBPJN II 4 Kepulauan Riau 16 3 13 5 Riau 32 10 22 6 Sumatera Barat 25 22 3 7 Bengkulu 10 8 2 BBPJN III (APBN)
8 Kep. Bangka Belitung 18 5 13
9 Lampung 16 16 0 10 Sumatera Selatan 36 11 25 11 DKI. Jakarta 5 4 1 BBPJN IV 12 Banten 5 4 1 13 Jawa Barat 47 34 13 14 D.I. Yogyakarta 7 4 3 BBPJN V (APBN) 15 Jawa Tengah 57 26 31 16 Jawa Timur 60 25 35 17 Sulawesi Barat 10 7 3 BBPJN VI (APBN) 18 Sulawesi Selatan 52 25 27 19 Sulawesi Tengah 31 20 11 20 Sulawesi Tenggara 21 18 3
21 Kalimantan Barat 25 25 0 BBPJN VII
22 Kalimantan Selatan 35 35 0
23 Kalimantan Tengah 42 42 0
24 Kalimantan Timur 63 63 0
25 Bali 19 14 5 BPJN VIII
26 Nusa Tenggara Barat 23 17 6
27 Nusa Tenggara Timur 43 36 7
28 Maluku 26 23 3 BPJN IX 29 Maluku Utara 17 12 5 30 Papua 18 17 1 BBPJN X (APBN) 31 Papua Barat 14 13 1 32 Sulawesi Utara 29 24 5 BPJN XI 33 Gorontalo 12 10 2 TOTAL 970 700 270 ( 72% ) ( 28 % )
Berdasarkan data Tabel 2. diatas diketahui bahwa terdapat total 970 unit AMP yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 72% merupakan AMP yang terdata. Sedangkan sisanya tidak terdata. Jumlah terbanyak unit AMP berada di provinsi Sumatera Utara diikuti provinsi Kalimatan Timur. Jumlah terkecil berada di DKI Jakarta dan Banten. Adapun unit AMP yang terdaftar secara keseluruhan terdapat pada Provinsi Kalimantan Tengah, Barat, Timur, Selatan dan Lampung serta Aceh.
5.6. Kapasitas Asphalt Mixing Plant di Indonesia
Tabel 3. Kapasitas AMP di Indonesia
Provinsi Kapasitas (Ton/Jam) Prosentase B a l i 60 0.1% DI Yogyakarta 280 0.5% DKI Jakarta 8.155 15.9% Jawa Barat 3.250 6.3% Jawa Tengah 3.544 6.9% Jawa Timur 2.387 4.7% Kalimantan Barat 390 0.8% Kepulauan Riau 1.780 3.5% Lampung 5.570 10.9% Riau 1.976 3.9% Sulawesi Selatan 13.414 26.2% Sulawesi Tengah 3.441 6.7% Sulawesi Utara 880 1.7% Sumatera Barat 2.120 4.1% Sumatera Selatan 990 1.9% Sumatera Utara 2.950 5.8% Total 51.187 100.0%
5.7. Estimasi Kebutuhan Asphalt Mixing Plant Di Indonesia
Estimasi kebutuhan AMP berdasarkan kebutuhan aspal dan kapasitas AMP yang ada di Indonesia, adalah sebagai berikut :
Kapasitas AMP yang direkomendasikan adalah 800 kg/batch. Kadar Aspal 6%
Kapasitas produksi 1 jam = 60 menit x 0,8 ton = 48 ton/ jam Kapasitas produksi 1 hari = 5 jam x 48 ton = 240 ton / hari
Kapasitas produksi 1 minggu = 5 hr x 240 ton = 1.200 ton/minggu Kapasitas produksi 1 Bulan = 4 minggu x 1.200 ton = 4.800 ton/bulan Kapasitas produksi 1 tahun = 7 bulan x 4.800 ton = 33.600 ton/tahun
Executive Summary:
Kapasitas produksi 1 tahun = 7 bulan x 4.800 ton = 33.600 ton/tahun
Kebutuhan Aspal untuk memenuhi produksi 1 AMP/th = 33.600 x 6% = 2.016 ton/AMP/Th Untuk mengakomodir demand aspal sebesar 1.520.000 ton, dibutuhkan AMP secara keseluruhan sebesar : 753,96 = 754 AMP/th dengan kapasitas minimum pugmill sebesar 800 kg/batch.
Total ketersediaan AMP 970 unit, terdata 720 unit. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah yang ada dapat memenuhi kebutuhan.
5.8. Merek Asphalt Mixing Plant di Indonesia
No Merek Jumlah Prosentase Tahun Pembuatan
1 AMMANN 5 2.0% 2011-2013 2 AZP 48 18.8% 1995-2015 3 Barber Green 5 2.0% 1992, 1995, 1996, 1998, 2000 4 Bukaka 20 7.8% 1996, 1997, 2002, 2003, 2006, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 5 Cederapid 1 0.4% 1992 6 CQ-800 1 0.4% 2007 7 CTA 1 0.4% 2014 8 Fujian TTM 1 0.4% 2013
9 Golden Star Handa 9 3.5% 1994, 2008, 2010, 2011, 2013
10 Great Star 1 0.4% 1994 11 Henan Roady 2 0.8% 2011, 2012 12 Kore-Indo 1 0.4% 1994 13 LB 1000 1 0.4% 2011, 2012, 2015 14 Linnhoff 11 4.3% 1985, 2006, 2007, 2008, 2010, 2011, 2012, 2015 15 LYZ 1 0.4% 2015 16 Malaysia 1 0.4% 2000 17 MBW 29 11.3% 1992, 2003, 2004, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2012, 2013 18 Mountain 1 0.4% 2012 19 Niigata 11 4.3% 1990, 1991, 1996, 1997, 2005, 2006 20 Nikko 16 6.3% 1980, 1982, 1985, 1991, 1994, 1996, 2000, 2006, 2015 21 Osaka 1 0.4% 2008 22 RB 3 1.2% 2011, 2012, 2015 23 Roady 2 0.8% 2012 24 Sakai 1 0.4% 2012 25 Selo Sakti 12 4.7% 1998 26 Shin Shaeng 41 16.0% 1981, 1988, 1990, 1991, 1992, 1994, 1995, 1996, 2001, 2002, 2003, 2005, 2006, 2010 27 Speco 9 3.5% 1990, 2003, 2004, 2007, 2008, 2012, 2015 28 Sumitomo 1 0.4% 1994 29 Tai Tsung 1 0.4% 1991, 20013
30 Taian Yueshou TSAP 1000 3 1.2% 2010, 2011, 2013
31 Tanaka 14 5.5% 1978, 1980, 1985, 1989, 1992, 1994, 1995, 1999, 2011
32 Tokyokoky 1 0.4% 2008
Berdasarkan data pada Tabel 3 diketahui bahwa jenis AMP yang paling banyak digunakan adalah AMP dengan Merek AZP (18,8%).
5.9. Kondisi Peralatan Asphalt Mixing Plant di Indonesia
Gambar 8. Rekapitulasi Kondisi AMP Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional III, V dan VI
Berdasarkan Data kondisi AMP di B2PJN3, B2PJN5 dan B2PJN 6, diperoleh data bahwa masih banyak unit AMP yang tidak laik operasi dengan besaran rata-rata 65,9%. Hal ini sangat memprihatinkan, karena AMP merupakan faktor alat dalam mendukung kinerja jaringan jalan yang handal. Hal ini menunjukkan bahwa peralatan AMP membutuhkan pembinaan teknis untuk mendapatkan jumlah kondisi laik lebih besar lagi.
45 57 6 18 15 1 0 10 20 30 40 50 60
JATENG JATIM DIY
Jum
lah
Uni
t
Provinsi
Kondisi Operasi AMP B2PJN V
LAIK TIDAK LAIK 10 17 33 7 21 12 19 7 0 5 10 15 20 25 30 35
SUL-TENG SUL-TENGG SUL-SEL SUL-BAR
Jum
lah
Uni
t
Provinsi
Kondisi Operasi AMP B2PJN VI
LAIK TIDAK LAIK 27 9 18 11 22 17 8 9 0 5 10 15 20 25 30
SUM-SEL BELITUNG LAMPUNG BENGKULU
Jum
lah
Uni
t
Provinsi
Kondisi Operasi AMP B2PJN III
LAIK TIDAK LAIK
Executive Summary: 5.10. Permasalahan
Ditemukan bahwa permasalahan yang ada terkait dengan komponen peralatan AMP, diantaranya adalah pemanasan ketel aspal dilakukan dengan cara pemanasan langsung, tidak Ada Mixing Timer, Menggunakan Bahan Bakar Alternatif (BBA) , Peralatan AMP sudah tua/compang camping.
5.11. Tahapan Pemeriksaan Asphalt Mixing Plant Layak Operasi
Pemeriksaan teknis peralatan dan pengujian untuk pelaksanaan kelaikan operasi dan kelaikan produksi
Asphalt Mixing Plant (AMP) dilakukan secara bertahap melalui 3 (tiga) tahapan pemeriksaan dan pengujian sebagai berikut :
Gambar 9. Tahapan Pemeriksaan Kondisi AMP Laik Proses
1. Pemeriksaan Tahap 1
a. Pada pemeriksaan tahap I ini, pemeriksaan dilaksanakan terhadap kondisi teknis semua bagian atau komponen peralatan AMP, dimana peralatannya dalam keadaan tidak dihidupkan. b. Sebelum dilaksanakan pemeriksaan, terlebih dahulu dicatat/ diinventarisir keberadaan AMP
meliputi : Lokasi, Pemilik, Merk / tipe, Tahun pembuatan Kapasitas, Jenis, Pejabat berwenang, Tanggal pemeriksaan
c. Setelah dicatat data tersebut di atas, lalu dilaksanakan pemeriksaan tahap I, pemeriksaan ini dilaksanakan terhadap kondisi teknis semua bagian atau komponen peralatan AMP dalam keadaan tidak dihidupkan. Kondisi teknis dimaksud adalah kondisi bagian atau komponen AMP saat dilaksanakan pemeriksaan antara lain misalnya dinding cold bins ada yang keropos, sobek atau berlubang, pintu cold bins berlubang, dial timbangan kacanya pecah, belt conveyor
putus atau bucket pada hot elevator ada yang tidak terpasang atau sama sekali tidak ada serta kerusakan-kerusakan lain sejenisnya.
d. Bilamana pada pemeriksaan tahap I masih terdapat kerusakan pada bagian atau komponennya, maka pemeriksaan tahap II belum bisa dilaksanakan sebelum kerusakan atau kekurangan pada pemeriksaan tahap I di atas (diperbaiki).
2. Pemeriksaan Tahap 2
a. Pemeriksaan tahap II dilaksanakan dalam keadaan peralatan dihidupkan, dimana semua bagian atau komponen yang bisa digerakkan apabila mesin penggerak dihidupkan dapat diperiksa atau diuji pergerakannya misalnya bucket pada hot elevator, penutup pintu pada hot bin.
b. Bagian atau komponen yang bergerak atau hidup tersebut diperiksa apakah pergerakannya baik dan lancar atau tidak lancar, misalnya putaran rantai pada hot elevator. Ada kemungkinan juga sama sekali tidak bisa dihidupkan atau tidak bisa digerakan.
c. Bilamana pada pemeriksaan tahap II ada bagian atau komponen yang tidak bisa dihidupkan atau digerakkan atau hidupnya / gerakannya tidak lancar karena ada sesuatu yang tidak baik atau rusak, maka bagian atau komponen yang bersangkutan harus segera diperbaiki sampai bagian atau komponen tersebut bisa dihidupkan / digerakkan dan difungsikan sebagaimana mestinya. Contohnya belt conveyor pada cold bin tidak bisa berjalan karena rollnya tidak bisa diputar, dan kerusakan lain sejenisnya.
3. Pemeriksaan Tahap 3
a. Pemeriksaan tahap III dilaksanakan setelah pada pemeriksaan tahap II peralatan pencampur aspal panas atau AMP tersebut dinyatakan kondisinya baik dan dapat dilanjutkan untuk pemeriksaan tahap III, yaitu kalibrasi dan pemeriksaan kelaikan operasi untuk dapat menghasilkan produk sesuai fungsi peralatan pencampur aspal panas tersebut, yaitu campuran aspal panas (hot mix) yang memenuhi mutu / spesifikasi yang disyaratkan.
b. Pada pemeriksaan tahap III ini peralatan pencampur aspal panas atau AMP dihidupkan / dioperasikan sesuai dengan fungsinya yaitu memproduksi campuran aspal panas (trial mix). c. Peralatan pencampur aspal panas tersebut diberi beban muatan material (agregat) yang
dipanaskan / dikeringkan (di dalam dryer) dalam jumlah yang cukup (sesuai kapasitas per jamnya untuk pelaksanaan pengujian kalibrasi), selanjutnya ditambah dengan material lain yaitu filler (apabila diperlukan) kemudian dicampur dengan aspal panas di dalam komponen pencampur (pugmill).
d. Pemeriksaan dan pengujian dilaksanakan pada peralatan pencampur aspal panas atau AMP, meliputi antara lain pengaturan bin dingin untuk mengalirkan agregat dingin untuk dikeringkan, kemampuan dryer untuk memanaskan agregat sampai mencapai temperatur yang diijinkan, mengukur temperatur hasil campuran, mengukur jarak pedal tip dengan dinding bagian dalam dari pugmill, jarak ujung / sisi luar pedal tip dengan pedal tip, waktu pencampuran (mixing), temperatur aspal panas, keausan screen (saringan), temperatur campuran aspal beton.
Executive Summary:
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan total 970 unit AMP yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 72% merupakan AMP yang terdata. Sedangkan sisanya tidak terdata. Jumlah terbanyak unit AMP berada di provinsi Sumatera Utara diikuti provinsi Kalimatan Timur. Jumlah terkecil berada di DKI Jakarta dan Banten. Adapun unit AMP yang terdaftar secara keseluruhan terdapat pada Provinsi Kalimantan Tengah, Barat, Timur, Selatan dan Lampung serta Aceh. Hali ini perlu adanya tidak lanjut pendataan secara periodic dan berkesinambungan supaya mendapatkan data yang valid.
2. Berdasarkan Data Kondisi Operasi AMP laik operasi unit AMP pada B2PJN III,IV dan V lebih besar dari kondisi yang tidak laik, kecuali padaa Sumsel dan Sulteng dimana kondisi laik lebih kecil dari kondisi tidak laik. Hal ini perlu adanya perhatian khusus utk dilakukan tindakan lebih lanjut. Tetapi secara menyeluruh bahwa kondisi tidak laik unit AMP pada ketiga Balai tersebut mempunyai rata-rata tinggi yaitu 65,9%. Hal ini memerlukan perhatian khusus terutama didalam proses pengajuan sertifikasi termasuk memerlukan adanya pedoman untuk dapat diterapkan. 3. Untuk mendapatkan kinerja AMP yang laik operasi maka perlu melakukan 3 tahapan
pemeriksaan. Tahap 1 (mesin dimatikan) , tahap 2 (mesin dihidupkan) dan tahap 3 (trial mix).
6.2. Rekomendasi
Untuk mendukung pencapaian kinerja jaringan jalan di Indonesia, maka unit AMP harus:
andal memenuhi spesifikasi yg disyaratkan, Laik operasi dengan sertifikasi dan terkalibrasi, Jenis/Tipe AMP yang direkomendasi adalah Jenis Takaran (Batch Type), Kapasitas minimum pengaduk (pug mill) 800 Kg, Timbangan dengan komputerisasi , Bahan bakar yg digunakan adalah minyak atau gas, bukan batu bara , Penempatan dilokasi ideal dan tidak menimbulkan potensi konflik dan Dukungan operator dan mekanik AMP yg bersitifikat, sehingga perlu dilakukan :
1. Bimbingan Teknis Pemeriksaan AMP bagi para pengawas dan operator amp yang telah dilaksanakan di masing masing propinsi di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, dengan target peserta adalah para pengguna jasa dan penyedia jasa yang terikat kontrak pekerjaan.
2. Bimbingan Teknis Laboratorium para pengawas dan teknisi laboratorium yang telah dilaksanakan di masing masing propinsi di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional dengan target gpeserta adalah para pengguna jasa dan penyedia jasa yang terikat kontrak pekerjaan.
3. Bimbingan Teknik pendampingan Penyusunan RMP dan RMK yang telah dilaksanakan di masing masing propinsi di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional dengan target peserta adalah para pengguna jasa dan penyedia jasa yang terikat kontrak pekerjaan.
4. Bimbingan Teknik pendampingan Penyusunan RK3K yang telah dilaksanakan di masing masing propinsi di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, dengan target peserta adalah para pengguna jasa dan penyedia jasa yang tgerikat kontrak pekerjaan.
5. Perlu adanya kerjasama antara Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional dengan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi mengadakan Bimbingan Teknis Sertifikasi Petugas K3.
Executive Summary:
DAFTAR PUSTAKA
The Asphalt Institute, Manual Series No.22 (MS-22), Principle of Construction of Hot-Mix Asphalt Pavements.
The Asphalt Institute, Manual Series No.4 (MS-4), The Asphalt Handbook. US Army Corp of Engineers, Hot-Mix Asphalt Paving Hand book 2000
Jackson G.P and D. Brien, Asphaltic Concrete, Published By Shell Petrolium Co. Ltd, London 1962.
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, Petunjuk Pemeriksaan Peralatan Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant), No. 032/T/BM/1996 Maret 1996. Departemen Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga tentang Pengaturan Teknis Unit Produksi Campuran Beraspal panas menggunakan bahan bakar Batubara untuk pemanas agregat No. 04/SE/Db/2009, tanggal 30 Maret 2009
Menteri Pekerjaan Umum tentang Pedoman penggunaan batubara untuk pemanas agregat pada Unit Produksi Campuran Beraspal (AMP), No.10/SE/Db/2011, tanggall 31 Oktober 2011
Departemen Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga nomor tentang Perhatian Khusus pada Persiapan Pekerjaan Campuran Beraspal Panas, No. Um0103-Db/362, tanggal 27 Juni 2014
Surat Ka.BBPJN III tentang Sertifikasi laik Operasi Asphalt Mixing Plant, No. Ph.07.03-Bu/04/473, tanggal 19 Juni 2015
Manual Konstruksi dan Bangunan (Dirjen Bina Marga) tentang Pemeriksaan peralatan unit
pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plants) – Buku 01 No. 001/BM/2007 tanggal Desember 2007 Manual Konstruksi dan Bangunan nomor: 001-2/BM/2007 tanggal Desember 2007(Dirjen Bina Marga) tentang Pemeriksaan peralatan unit pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plants) – Buku 02 Pemeriksaan Kelaikan Operasi
Departemen Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga, Manual Konstruksi dan Bangunan tentang Pemeriksaan peralatan unit pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plants) – Buku 03 Pengoperasian dan Perawatan, No. 001-2/BM/2007 tanggal Desember 2007
Departemen Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga tentang pelaksanaan Sertifikasi kelaikan Operasi Peralatan Asphalt Mixing Plant (AMP), No. Um0103-Db/65.3, tanggal 27 Pebruari 2009
Direktur Bina Teknik tentang Standar format lampiran Laporan Hasil Pemeriksaan Asphalt Mixing Plant, No. Um.01.11-Bt/51, tanggal 5 Maret 2011
Departemen Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga, Petunjuk Teknis Konstruksi dan Bangunan tentang Tata cara sertifikasi Kelaikan Operasi Peralatan Di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga, No. 001/BM/2009