RENCANA STRATEGIS BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG TAHUN

Teks penuh

(1)

RENCANA STRATEGIS

BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG

TAHUN 2015-2019

BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG

TAHUN 2015

(2)

SURAT KEPUTUSAN

KEPALA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG NOMOR : HK.04.1.108B.5.15.41

TENTANG

RENCANA STRATEGI (RENSTRA) BALAI POM DI KUPANG TAHUN 2015-2019 KEPALA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG

Menimbang : a. bahwa dalam rangka menjalankan kegiatan yang selaras dan mempunyai kesamaan perspektif yang dikaitkan dengan, maksud,tujuan dan karakteristik program sebagai arah dari pencapaian tujuan dan sasaran strategis yang memberikan kontribusi dari pencapaian misi dan visi oraganisasi , maka perlu dilakukan Rencana Straregi untuk lima tahun kedepan.

b. bahwa dengan terbitnya Renstra Badan POM RI Tahun 2015 -2019 sebagai Acuan Penyusunan Rencana Strategi Balai POM DI Kupang 2015-2019. maka disusunlah Renstra Balai POM di Kupang tahun Tahun 2015-2019 c. bahwa sehubungan dengan huruf b maka perlu dilakukan penetapan Rencana

Strategi Balai POM di Kupang dengan Surat Keputusan Kepala Balai POM Kupang;

Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah ( Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614) ;

2. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663) ;

; 3. Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan 4.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 39 Tahun 2014

Tentang Rencana Kerja Pemerintah

5. Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001 tentang kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan, susunan organisasi, tata kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden nomor 64 Tahun 2005 Perubahan keenam atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, Dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen ;

. 6. Instruksi Presiden Nomor 7 ahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ;

(3)

7. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/09/M.PAN/5/2007 tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah.

8. Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja.Negara

9. Keputusan Kepala Badan POM RI Nomor 02001/SK/KBPOM tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Badan POM RI.

10. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2015-2019

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : Keputusan Kepala Balai Pengawas Obat Dan Makanan Tentang Rencana Strategi Balai POM Di Kupang Tahun 2015-2019.

PERTAMA : Rencana Startegi Balai Pengawas Obat dan Makanan di Kupang yang selanjutnya dalam keputusan ini disingkat Renstra Balai POM di Kupang tahun 2015-2019 yang berisi Sasaran Program / Kegiatan , Indikator Kinerja Utama dan Indikator Output.

KEDUA : Renstra Balai POM di Kupang Tahun 2015-2019 tertera sebagaimana dalam lampiran Keputusan ini;

KETIGA : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan Surat Kepurtusan Renstra Balai POM di Kupang tahun 2015-2019 maka dapat dilakukan perubahan sebagaimana mestinya.

. Ditetapkan di : Kupang

Pada tanggal : 6 Mei 2015

(4)

i

RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG TAHUN 2015-2019

Sesuai amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan bahwa setiap kementerian dan lembaga perlu menyusun Rencana Strategis (Renstra) yang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dengan telah ditetapkannya RPJMN 2015-2019 tanggal 8 Januari 2015 maka Badan Pengawas Obat dan Makanan menyusun Renstra Tahun 2015-2019.

Renstra Badan Pengawas Obat dan Makanan 2015-2019 merupakan dokumen perencanaan yang bersifat indikatif dan memuat berbagai program dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dan menjadi acuan dalam penyusunan perencanaan tahunan. Penyusunan renstra Badan Pengawas Obat dan Makanan dilaksanakan melalui pendekatan teknokratis, politik, partisipatif, atas-bawah (top-down) dan bawah-atas (bottom-up). Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2015-2019 ini digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di bidang pengawasan Obat dan Makanan dalam kurun waktu 2015-2019.

Balai Pengawas Obat dan Makanan di Kupang sebagai salah satu Unit Kerja Badan POM RI yang melaksanakan tugas Pengawasan Obat dan Makanan di cathman area Wilayah Nusa Tenggara Timur juga berkewajiban menyusun Renstra Balai POM di Kupang dengan mengacu pada Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2015-2019

Akhir kata, semoga Rencana Strategis Balai Pengawas Obat dan Makanan di Kupang Tahun 2015-2019 dapat bermanfaat bagi bangsa Indonesia , lebih khusus bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Kupang , 6 Mei 2015 Kepala Balai POM di Kupang

Ruth Diana Laiskodat,S.Si.Apt.,MM NIP.19690831 199703 2 001

(5)

ii RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG TAHUN 2015-2019

Daftar Isi

halaman

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

KEPUTUSAN KEPALA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI Kupang NOMOR HK.04.1.108B.2.15.41 TENTANG RENCANA STRATEGIS BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG TAHUN 2015-2019... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. KONDISI UMUM... 1

B. POTENSI DAN PERMASALAHAN... 2

BAB II VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS BPOM... 28

A. VISI... 28

B. MISI... 30

C. TUJUAN... 34

D. SASARAN STRATEGIS ... 35

BAB III ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN... 42 A. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL... 42

B. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI BPOM... 51

C. KERANGKA REGULASI... 55

D. KERANGKA KELEMBAGAAN... 58

BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN... 64

A. TARGET KINERJA... 64

B. KERANGKA PENDANAAN... 66

BAB V PENUTUP ... 70

(6)

1 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

BAB I

PENDAHULUAN

A.

KONDISI UMUM

Sesuai amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan pembangunan nasional disusun secara periodik meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) untuk jangka waktu 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga untuk jangka waktu 5 tahun, serta Rencana Pembangunan Tahunan yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L).

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 memberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen bangsa (pemerintah, masyarakat dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional. Selanjutnya RPJPN ini dibagi menjadi empat tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), salah satunya adalah RPJMN 2015-2019 yang merupakan tahap ketiga dari pelaksanaan RPJPN 2005-2025. Sebagai kelanjutan RPJMN tahap kedua, RPJMN tahap ketiga ditujukan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pada pencapaian daya saing kompetitif perekonomian yang berlandaskan keunggulan sumber daya alam, sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus meningkat.

Sebagaimana amanat tersebut dan dalam rangka mendukung pencapaian program-program prioritas pemerintah, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sesuai kewenangan, tugas pokok dan fungsinya menyusun Rencana Strategis (Renstra) yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan serta program dan kegiatan BPOM untuk periode 2019. Penyusunan Renstra BPOM ini berpedoman pada RPJMN periode 2015-2019. Proses penyusunan Renstra BPOM tahun 2015-2019 dilakukan sesuai dengan amanat peraturan perundang-undangan yang berlaku dan hasil evaluasi pencapaian kinerja tahun 2010-2014, serta melibatkan pemangku kepentingan yang menjadi mitra BPOM. Selanjutnya Renstra BPOM periode 2015-2019 diharapkan dapat meningkatkan kinerja BPOM dibandingkan dengan pencapaian dari periode sebelumnya sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini dituangkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Strategi Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2015-2019

(7)

2 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Adapun kondisi umum BPOM pada saat ini berdasarkan peran, tupoksi dan pencapaian kinerja adalah sebagai berikut:

1. Peran BPOM berdasarkan Peraturan Perundang-undangan

BPOM adalah sebuah Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) yang bertugas mengawasi peredaran obat, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik dan makanan di wilayah Indonesia. Tugas, fungsi dan kewenangan BPOM diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah non Departemen yang telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001. Sesuai amanat ini, BPOM menyelenggarakan fungsi: (1) pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan Obat dan Makanan; (2) pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang pengawasan Obat dan Makanan; (3) koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPOM; (4) pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah dan masyarakat di bidang pengawasan Obat dan Makanan; (5) penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

Dilihat dari fungsi BPOM secara garis besar, terdapat 3 (tiga) inti kegiatan atau pilar lembaga BPOM, yakni: (1) Penapisan produk dalam rangka pengawasan Obat dan sebelum beredar (pre-market) melalui: a) Perkuatan regulasi, standar dan pedoman pengawasan obat, Obat dan Makanan serta dukungan regulatori kepada pelaku usaha untuk pemenuhan standar dan ketentuan yang berlaku; b) Peningkatan registrasi/penilaian Obat dan Makanan Obat dan Makanan yang diselesaikan tepat waktu; c) Peningkatan inspeksi sarana produksi dan distribusi Obat dan Makanan dalam rangka pemenuhan standar Good Manufacturing Practices (GMP) dan Good Distribution Practices (GDP) terkini; dan d) Penguatan kapasitas laboratorium BPOM. (2) Pengawasan Obat dan Makanan pasca beredar di masyarakat ( post-market) melalui: a) Pengambilan sampel dan pengujian; b) Peningkatan cakupan pengawasan sarana produksi dan distribusi Obat dan Makanan di seluruh Indonesia oleh 33 Balai Besar (BB)/Balai POM, termasuk pasar aman dari bahan berbahaya; c) Investigasi awal dan penyidikan kasus pelanggaran di bidang Obat dan Makanan di pusat dan balai. (3) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi Informasi dan Edukasi serta penguatan kerjasama kemitraan dengan pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan di Pusat dan Balai melalui: a) Public warning; b) Pemberian Informasi dan Penyuluhan/Komunikasi, Informasi dan Edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha di bidang Obat dan Makanan, serta; c) Peningkatan pengawasan terhadap

(8)

3 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), peningkatan kegiatan BPOM Sahabat Ibu, dan advokasi kepada masyarakat.

Tugas dan fungsi tersebut melekat pada BPOM sebagai lembaga pemerintah yang merupakan garda depan dalam hal perlindungan terhadap konsumen. Di sisi lain, tupoksi BPOM ini juga sangat penting dan strategis dalam kerangka mendorong tercapainya Agenda

Prioritas Pembangunan (Nawa Cita) yang telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, khususnya pada butir 5: Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, khususnya di sektor kesehatan; pada butir 2: Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya; pada butir 3: Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan; pada butir 6: Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional; serta pada butir 7: Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Oleh karena itu, BPOM sebagai lembaga pengawasan Obat dan Makanan sangat penting untuk diperkuat, baik dari sisi kelembagaan maupun kualitas sumber daya manusia, serta sarana pendukung lainnya seperti laboratorium, sistem teknologi dan informasinya, dan lain sebagainya, untuk mendukung tugas-tugasnya tersebut.

BPOM idealnya dapat menjalankan tugasnya secara lebih proaktif, tidak reaktif, yang hanya bergerak ketika sudah ada kasus-kasus yang dilaporkan. Namun, dengan luas wilayah darat Indonesia yang mencapai 1.922.570 km² merupakan salah satu faktor utama yang sangat sulit bagi BPOM melakukan fungsi pengawasan secara komprehensif. Negara Indonesia ini berbentuk kepulauan yang tentu saja terdapat banyak pintu masuk bagi berbagai Obat dan Makanan ke Indonesia. Namun hal ini tidak menjadi hambatan, bahkan justru menjadi tantangan tersendiri bagi BPOM dalam melakukan revitalisasi dan penguatan terhadap mandat dan kinerjanya dalam hal mengawasi Obat dan Makanan, baik produksi dalam negeri maupun impor yang beredar di masyarakat.

Di sisi lain, tuntutan modernisasi suatu bangsa juga berpengaruh pada pola hidup masyarakatnya. Dengan perkembangan modernisasi tersebut, menjaga pola hidup sehat juga menjadi semakin sulit untuk dipenuhi oleh masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, terutama pemenuhan standar kesehatan, dimana peredaran makanan yang tidak begitu baik bagi kesehatan juga hampir-hampir tidak bisa dihindari.

Balai POM di Kupang, sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan POM di daerah senantiasa mempunyai tugas, fungsi dan tanggungjawab searah dengan induknya yaitu Badan POM.

(9)

4 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

2. Struktur Organisasi

Stuktur Organisasi dan Tata Kerja Balai POM di Kupang disusun berdasarkan Keputusan Kepala BPOM Nomor 02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Kepala BPOM Nomor HK.00.05.21.4231 Tahun 2004. Khusus Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar/Balai POM disusun berdasarkan Keputusan Kepala BPOM Nomor 05018/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Kepala BPOM Nomor 14 Tahun 2014.

Balai POM di Kupang adalah Balai dengan kedudukan Eselon III yang Struktur Organisasinya terdiri dari 5 Seksi dan 1 Sub Bagian . Seksi-seksi dan Sub Bagian dimaksud yakni Seksi Pemeriksaan dan Penyidikan, Seksi Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen, Seksi Pengujian Produk Terapetik, Napza, Kosmetika, Obat Tradisional dan Produk Komplimen, Seksi Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya serta Seksi Pengujian Mikrobiologi dan SubBagian Tata Usaha.

Balai POM di Kupang juga mempunyai 2 (dua) Pos POM yakni Pos POM di Atambua yang mulai beroperasi tahun 2006 dengan jumlah personil 4 orang, dimana 2 (dua) personilnya adalah Tenaga Farmasi Pemerintah Daerah Kabupaten Belu yang diperbantukan Ke Pos POM di Atambua dan Pos POM di Ende yang mulai beroperasi tahun 2009 dengan jumlah personil 4 orang dimana 2 (dua) personilnya adalah Tenaga Farmasi Pemerintah Daerah Kabupaten Ende yang diperbantukan pada Pos POM di Ende.

Gambar 1.1. Struktur Organisasi BALAI POM DI KUPANG

Struktur Organisasi

Kelompok Jabatan Fungsional Kepala Balai Kepala Sub Bag Tata

Usaha Kepala Seksi Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen*** Kepala Seksi Pemeriksaan dan Penyidikan Kepala Seksi Pengujian Mikrobiologi Kepala Seksi Pengujian Terapetik, OT, Kosmetik, Napza, & Produk

komplemen Kepala Seksi Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya

(10)

5 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Di tahun 2009, telah mulai dilakukan penyusunan SOP, yang merupakan salah satu dokumen yang diserahkan untuk usulan reformasi birokrasi Badan POM RI dan sejalan dengan upaya perbaikan/peningkatan berkelanjutan (continuous improvement), Badan POM RI termasuk Balai POM di Kupang telah dilakukan sertifikasi QMS - ISO 9001 : 2008 pada awal tahun 2012, sehingga pada akhir tahun 2013 Balai POM di Kupang telah mendapat realisasi remunerasi sebagai hasil Reformasi Birokrasi yang telah dilakukan oleh Badan POM RI

Dalam kaitan perkuatan tatalaksana di bidang pelayanan publik , telah dilakukan Akreditasi Sistem Manajemen Mutu ISO 17025 : 2005 sejak tahun 2005 dan Reakreditasi pada tahun 2010 serta surveilan pada Agustus tahun 2012 oleh Auditor External yakni Komite Akreditasi Nasional (KAN) –BSN . Kemudian pada tahun 2013 telah dilakukan intervensi oleh PPOMN dan Self Assesment dalam rangka Kemandirian Balai terhadap ISO 17025 : 2005 dan ISO 9001: 2008, pada tahun 2014 Tim dari URS telah melakukan Surveilans pada Balai POM di Kupang untuk mengetahui konsistensi pelaksanaan QMS 9001 : 2008 diberlakukan pada Balai POM di Kupang serta sejauh mana “continuos improvement” dilaksanakan, hasilnya Balai POM di Kupang masih layak untuk mempertahankan ISO 9001 : 2008.

3. Sumber Daya Manusia

Stuktur Organisasi dan Tata Kerja Balai POM di Kupang disusun berdasarkan Keputusan Kepala BPOM Nomor 02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Kepala BPOM Nomor HK.00.05.21.4231 Tahun 2004. Khusus Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar/Balai POM disusun berdasarkan Keputusan Kepala BPOM Nomor 05018/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Kepala BPOM Nomor 14 Tahun 2014.

B. Kondisi Geografis

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) secara geografis terdiri atas 4 gugusan pulau besar yaitu pulau Timor, pulau Flores, pulau Sumba dan pulau Alor serta dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang berjumlah 566 buah. Catchman area Balai POM di Kupang secara strategis berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) sehingga cukup berpengaruh terhadap pembangunan di bidang kesehatan. Adanya pelintas batas (entry barrier) yang tipis dari dan ke RDTL akan berpeluang besar terhadap keluar masuknya produk obat dan makanan secara illegal dari dan ke provinsi NTT. Kondisi

(11)

6 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

tersebut akan berdampak pada rencana dan strategi Balai POM di Kupang sebagai bagian integral dalam mengawal pembangunan di bidangkesehatan.

Dengan penyebaran penduduk yang hampir merata di semua pulau, tentu berimplikasi pada persebaran produk obat dan makanan pada hampir semua pulau yang dihuni oleh masyarakat . Sebagai Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Balai POM di Kupang bertanggungjawab untuk membantu kelancaran dan keberhasilan tugas-tugas pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, keamanan pangan dan bahan berbahaya. Dalam rangka menunjang dan membantu Badan POM dalam menuju kesuksesan pelaksanaan fungsi tersebut di dalam melaksanakan tugasnya, Balai POM di Kupang secara teknis dibina oleh para Deputi dan secara administraf dibina oleh Sekretaris Utama.

Sejalan dengan adanya globalisasi ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesepakatan-kesepakatan regional seperti harmonisasi Association of South East Asia Nations (ASEAN), ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), Balai POM di Kupang juga dihadapkan pada tantangan yang lebih besar dalam Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SISPOM). Produk obat dan makanan akan lebih mudah masuk dan keluar dari satu negara ke negara lainnya tanpa hambatan (barrier). Kenyataan ini mengharuskan Indonesia memiliki SISPOM yang efektif dan efisien untuk melindungi kesehatan dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia khususnya di wilayah Provinsi NTT terhadap produk-produk yang berisiko terhadap kesehatan. Balai POM di Kupang harus memiliki basis yang kuat agar mampu menjadi pengawas yang profesional terhadap mutu Obat dan Makanan yang beredar di Provinsi NTT.

Provinsi NTT memiliki 21 kabupaten dan 1 kota. Dengan cakupan wilayah kerja yang cukup luas sudah sepatutnya Balai POM di Kupang memiliki human capital, sistem operasional maupun infrastruktur yang memadai. Dalam hal ini perlu dilakukan penguatan kompetensi dan kapabilitas sehingga dapat memiliki kinerja yang profesional, berintegritas, cepat tanggap dan inovatif. Selain itu, Balai POM di Kupang melakukan pemberdayaan publik (public empowement) agar masyarakat memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mencegah dan melindungi diri sendiri terhadap risiko dari obat dan makanan yang tidak memenuhi standar yang berlaku.

Untuk mendukung tugas-tugas BPOM sesuai dengan peran dan fungsinya, diperlukan sejumlah SDM yang memiliki keahlian dan kompetensi yang baik. Jumlah SDM yang dimiliki BPOM untuk melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan Obat dan Makanan sampai tahun 2014 adalah sejumlah 66 orang, yang tersebar di Balai POM di Kupang 62 orang . 2 di Pos POM Atambua dan 2 di Pos POM di Ende .

(12)

7 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Tabel 1.1 di bawah ini dapat diketahui bahwa 89,70 % pegawai BPOM adalah sarjana. Dari komposisi SDM Balai POM di Kupang sampai dengan tahun 2014 sesuai dengan tabel 1.1 dan gambar 1.2 di bawah, dirasakan bahwa untuk menghadapi perubahan lingkungan strategis yang semakin dinamis, khususnya perubahan lingkungan strategis eksternal, maka cukup memberikan peluang , karena usia produktif masih diatas 50 persen sehingga dapat mengantisipasi perubahan lingkungan strategis tersebut dan bisa mewujudkan tujuan organisasi dalam lima tahun kedepan.

Berdasarkan tingkat pendidikan dapat dijelaskan pada tabel 1 di bawah ini: Table 1.1

Profil Pegawai BPOM di Kupang

Menurut Pendidikan dan Unit Kerja

No Unit Kerja

Pendidikan

S3 S2 Apt S1 Bio LainS1 D3 SMF SLTA SLTP SD Total

1 Kepala Balai 1 1

2 Sub. Bag Tata Usaha 1 5 2 4 12

3 Seksi Pemeriksaan dan Penyidikan 1 4 1 4 0 1 1 12

4

Seksi Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya

1 4 4 3 1* 13

5 Seksi Pengujian

Mikrobiologi 1 3 1 3 8

6

Seksi Pengujian Produk Terapetik, OT, Kosmetik, dan Produk Komplemen

1 5 1 3 1 1 12

7

Seksi Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen

4 4

8 Pos POM Atambua 2 2

9 Pos POM Ende 1 1 2

Total 0 6 23 2 15 11 1 5 1 66

* Meninggal Maret 2014

(13)

8 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Dari hasil Evaluasi Analisis Beban Kerja Pegawai pada Balai POM di Kupang pada saat ini di rasakan masih dibutuhkan pegawai sesuai dengan beban kerja pada unit masing-masing yakni :

No Seksi /Sub Bagian Jumlah Pegawai yang ada

Yang masih dibutuhkan

Keterangan

1 Sub Bagian Tata Usaha 13 1 Arsiparis 1 Administrasi Keuangan Sudah termasuk Kepala Balai ( 1 Pengemudi dan 1 Satpam) 2 Seksi Pengujian Teranokoko 13 2 orang PFM Ahli 2 Orang PFM Terampil Sudah termasuk 1 Caraka

3 Seksi Pengujian Pangan dan BB 11 2 Orang PFM Ahli 1 PFM Terampil 1 Staf mengikuti Jenjang Pendidikan S2 4 Seksi Pengujian Mikrobiologi 8 1 Orang PFM Terampil

5 Seksi Pemdik 12 1 Orang PFM Ahli

6 Seksi Serlik 5 1 PFM Ahli Sejak 2011 belum ada

Kepala Seksi Serlik

7 Pos POM Atambua 2 1 PFM Ahli

1 PFM Terampil

2 Tenaga yang diperbantukan dari Pemda Kab. Belu

8 Pos POM Ende 2 1 PFM Ahli

1 PFM Terampil

2 Tenaga yang diperbantukan dari Pemda Kab. Ende Jumlah Pegawai yang

masih dibutuhkan

16 Orang

Jadi jumlah yang masih dibutuhkan saat ini yaitu 16 orang pegawai . Mengingat pada tahun 2016 yang akan pensiun 1 orang dan tahun 2017 yang akan menjalani pensiun 3 orang , maka kiranya bezzeting pegawai untuk tahun 2016/2017 sudah harus di alokasikan untuk Balai POM di Kupang sebanyak 16 Orang

C. Hasil Capaian Kinerja Balai POM di Kupang periode 2010-2014

Sesuai dengan peran dan kewenangannya, Balai POM di Kupang mempunyai tugas mengawasi peredaran Obat dan Makanan di wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya Dalam rangka menjalankan tugas tersebut, maka terdapat beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Renstradi Kupang Balai POM 2010-2014, yaitu: 1) Penyusunan Rencana Perlaksanaan Pengawasan Obat dan Makanan; 2) Rekomendasi dalam rangka perizinan Pangan ( MD) berdasarkan cara-cara produksi yang baik; 3) Evaluasi produk sebelum diizinkan beredar; 4) Post-marketing survailance termasuk sampling dan pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi, monitoring efek samping produk di masyarakat, penyidikan dan penegakan hukum; 5) Pre-review dan pasca-audit iklan dan

(14)

9 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

promosi produk; Tindak lanjut Penarikan obat dan makanan TMS sesuai perintah Direktorat dari Deputi 1, deputi 2 dan deputi 3; 7) Komunikasi, informasi dan edukasi publik termasuk Penyampaian peringatan publik, Pengadaan Barang dan Jasa , Advokasi ke stakeholder di lingkungan Pemda baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Adapun pencapaian keberhasilan pelaksanaan tugas dan kewenangan Balai POM di Kupang sebagai Unit Pelaksanaan Teknis di daerah dapat dilihat sesuai dengan pencapaian indikator kinerja utama sesuai sasaran strategis pada tabel 1.2 di bawah ini.

Tabel 1.2 Pencapaian Kinerja Balai POM di Kupang Tahun 2014

NO PROGRAM/ KEGIATAN INDIKATOR REALISASI

2014 TARGE T 2014 CAPAIAN 2014 CAPAIAN % SASARAN 1 2 3 4 7 9 11 = (7/9*100) 12 = (11/10*10 0%) 3.1 Pengawasa n Obat dan Makanan di 31 Balai Besar/Bala i POM ( Balai POM di Kupang) Meningkat nya kinerja pengawasa n obat dan makanan di seluruh Indonesia

1. Jumlah parameter uji Obat dan Makanan untuk setiap sampel (dihitung dari sekitar 3.000 Sampel untuk Balai POM di Kupang)

25154 31310 25154/3131

0X 100% 80,33%

2. Jumlah kasus di bidang

penyidikan obat dan makanan 1 10 1/10 X 100% 10,00%

3. Jumlah sarana dan prasarana yang terkait pengawasan obat dan makanan

1 1 1/1 X 100 % 100%

4. Jumlah dokumen perencanaan, penganggaran, dan evaluasi yang dihasilkan

9 9 9/9 x 100 % 100% 5. Jumlah layanan informasi dan

pengaduan 300 310 305/300 x 100 % 100,% 6. Persentase cakupan

pengawasan sarana produksi Obat dan Makanan (dihitung dari 881sarana termasuk IRTP)

22 23 22/23 x

100% 95,65 % 7. Persentase cakupan

pengawasan sarana distribusi Obat dan Makanan (dihitung dari 1616 sarana di NTT) 1235 target dan 381 Obgabda

1235 3233 1235 /3233

x 100 % 73,3 %

8. Jumlah balai besar/balai POM yang ditingkatkan

kemandiriannya dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengawasan obat dan makanan di daerah

100 100 100/100 x

100 % 100%

9. Persentase Pangan Fortifikasi

yang Memenuhi Ketentuan 109 51 109/51 x 100 % 217,73 % 10.D esa/kelurahan yang

Diintervensi Program Keamanan Pangan (Kumulatif)

12 10 12/10 x

100% 120%

Total 107,81 %

(15)

10 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Sebagaimana tabel 1.2 terkait pencapaian kinerja pada Renstra Balai POM di Kupang tahun 2010-2014 tersebut di atas, kinerja Balai POM di Kupang telah menunjukkan perbaikan yang semakin signifikan. Hal ini bisa dilihat dari seluruh kinerja BPOM sesuai dengan tugas utamanya melakukan pengawasan Obat dan Makanan.

Adapun penjelasan pencapaian masing-masing indikator tersebut adalah sebagai berikut: Secara Nasional untuk indikator kinerja Obat yang beredar telah memenuhi syarat tercapai sebesar 99,43%, sedangkan Obat Tradisional beredar telah tercapai memenuhi syarat 80,20%. Untuk kinerja Kosmetik beredar telah memenuhi syarat sebesar 98,84%, dan kinerja Suplemen Makanan tercapai sebesar 99,23%, dan Makanan beredar yang memenuhi syarat sebesar 83,94%. Capaian yang tinggi (>100%) tidak dapat disimpulkan bahwa kinerja BPOM telah luar biasa. Justru ini menunjukan keterbatasan BPOM dalam perencanaan dan penetapan target. Oleh karena itu hal ini akan menjadi fokus perbaikan dalam Renstra 2015-2019 ke depan.

Berdasarkan hasil tersebut, pengawasan Obat dan Makanan tetap menjadi mainstreaming di Renstra 2015-2019. Profil hasil pengujian obat oleh Balai POM di Kupang dari tahun 2010 – 2014 seperti pada gambar dibawah ini.

.

Gambar 1.2

Profil Hasil Pengujian Obat Tahun 2010 – 2014

Persentase/proporsi Obat dan Makanan yang memenuhi syarat pada tahun 2014 cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010 juga terhadap tahun 2011 Selanjutnya persentase/proporsi Obat yang memenuhi syarat pada tahun 2014 cenderung mengalami penurunan dan ini menunjukkan bahwa CPOB masih belum diterapkan secara baik oleh Pabrik Farmasi. Disamping itu masih dijumpai produk Obat dan Makanan illegal/palsu/substandar. Hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa pengawasan Obat dan Makanan yang dilakukan oleh Balai POM di Kupang dan secara umum Badan POM harus

(16)

11 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

terus ditingkatkan. Perkuatan pengawasan post market merupakan hal yang tak dapat dielakkan lagi.

Begitu pula pada produk obat tradisional, yang pada akhir periode Renstra 2010-2014, menunjukkan hasil yang belum menggembirakan. Produk obat tradisional yang memenuhi syarat masih jauh di bawah produk lainnya yang memenuhi syarat. Untuk itu, perlu dilakukan upaya terobosan untuk melindungi masyarakat dari obat tradisional yang berisiko terhadap kesehatan.

Gambar 1.3 .

Profil Presentase Hasil Pengujian Obat Tradisional Tahun 2010 – 2014

Pada pengawasan obat tradisional juga memperlihatkan bahwa masih cukup tinggi ditemukan bahan Kimia Obat ( BKO ) , Waktu hancur serta hygiene dan sanitasi tempat pengolahan , karena cukup banyak ditemukan TMS Mikrobiologi.

Gambar 1.4 .

Profil Presentase Hasil Pengujian Obat Tradisional Yang Tidak Memenuhi Syarat Tahun 2010 – 2014

Pada produk kosmetik misalnya, sejak diberlakukan Harmonisasi ASEAN pada 1 Januari 2011, produk kosmetik yang memenuhi syarat cenderung menurun, sedangkan jumlah produk kosmetik yang masuk ke Indonesia meningkat secara signifikan.

(17)

12 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Gambar 1.5 .

Profil Presentase Hasil Pengujian Kosmetika Yang Tidak Memenuhi Syarat Tahun 2010-2014

Namun pada tahun 2013 dimana notifikasi Harmonisasi Asean telah dijalani maka produk kosmetik yang memenuhi syarat cenderung naik, namun pasar bebas juga terbuka , disamping itu demand produk luar yang cukup signifikan sehingga pabrik lokal dengan produksi kualitas yang rendah serta pemalsuan beberapa merek kosmetika yang terkenal juga semakin marak, sehingga pada tahun 2014 ditemukan lagi banyak kosmetika TIE.

Pengawasan produk komplemen ditemukan hasil yang cukup baik, dimana selama tahun 2010-2014, produk komplemen yang TMS tidak signifikan, hal ini menggambarkan bahwa Sarana Produksi telah menerapkan CPOKB, namun pengawasan terhadap BKO dan Obat keras tetap dilakukan ., hasil pengawasan produk komplimen terlihat pada Gambar 5.

Gambar 1.6 .

Profil Presentase Hasil Pengujian Komplemen Yang di Uji Tahun 2010-2014

Pengawasan produk pangan dari tahun 2011 sampai 2014 cenderung meningkat produk yang TMS, hal ini karena pemenuhan terhadap Higiene dan sanitasi lingkungan produksi yang kurang baik.

(18)

13 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Gambar 1.7 .

Profil Presentase Hasil Pengujian Pangan Yang di Uji Tahun 2010-2014

Pada tahun 2014 TMS Kimia cenderung meningkat dibandingkan TMS Mikrobiologi hal ini terutama pada PJAS, sehingga pemberdayaan masyarakat dan komunitas sekolah lebih ditingkatkan untuk KIE terhadap keamanan pangan terutama bagi anak-anak sekolah SD .

Gambar 1.8 .

Profil Presentase Hasil Pengujian Pangan Yang TMS di Uji Tahun -2014

Balai POM di Kupang diharapkan terus menjaga kinerja yang telah dicapai saat ini sesuai harapan masyarakat, yaitu agar pengawasan Obat dan Makanan terus lebih dimaksimalkan untuk melindungi kesehatan masyarakat.

D. Isu-isu Strategis sesuai dengan Tupoksi dan Kewenangan Badan POM

Selama periode 2010-2014, pelaksanaan peran dan fungsi BPOM tersebut di atas telah diupayakan secara optimal sesuai dengan target hasil pencapaian kinerjanya yang dilaksanakan oleh Balai POM di Kupang . Namun demikian, upaya tersebut masih menyisakan permasalahan yang belum sepenuhnya sesuai dengan harapan masyarakat,

(19)

14 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

antara lain: (1) belum sepenuhnya tercapai penapisan produk dalam rangka pengawasan Obat dan Makanan sebelum beredar (pre-market), (2) belum optimalnya pengawasan Obat dan Makanan pasca beredar di masyarakat (post-market) dan (3) belum efektifnya pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi Informasi dan Edukasi dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan. Dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas terdapat beberapa penyebab yang dianggap sangat krusial dan strategis bagi peran BPOM dalam melakukan pembenahan di masa mendatang, sehingga diharapkan pencapaian kinerja berikutnya akan lebih optimal.

Berdasarkan kondisi obyektif yang dipaparkan di atas, kapasitas Balai POM di Kupang sebagai lembaga pengawasan Obat dan Makanan masih perlu terus dilakukan penguatan, baik secara kelembagaan maupun dari sisi manajemen sumber daya manusianya, agar pencapaian kinerja di masa datang semakin membaik dan dapat memastikan berjalannya proses pengawasan Obat dan Makanan yang lebih ketat dalam menjaga keamanan, mutu serta khasiat/manfaat Obat dan Makanan tersebut, yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi pembangunan kesehatan masyarakat.

Di bawah ini pada gambar 1.4 terdapat diagram yang menunjukkan analisa permasalahan pokok dan isu-isu strategis sesuai dengan tupoksi dan kewenangan BPOM sebagai berikut:

Gambar 1.9

Diagram permasalahan dan isu strategis, kondisi saat ini dan dampaknya

Untuk itu, ada 3 (tiga) isu strategis dari permasalahan pokok yang dihadapi Balai POM di Kupang sesuai dengan peran dan kewenangannya agar lebih optimal, yang perlu terus diperkuat dalam peningkatan kinerja di masa yang akan datang sebagai berikut:

PERAN BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN Penguatan kebijakan teknis

pengawasan (RegulatorySystem) Pembinaan dan bimbingan kepada pemangku kepentingan BELUM OPTIMALNYA PERAN BPOM

DALAM MELAKSANAKAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN

Belum optimalnya sistem pengawasan Obat

dan Makanan

Belum optimalnya pembinaan dan bimbingan kepada pemangku kepentingan melalui Kerjasama,

Komunikasi, Informasi dan

Edukasi Publik

Masih terbatasnya kapasitas kelembagaan

(20)

15 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

1. Penguatan sistem dalam pengawasan Obat dan Makanan,

2. Peningkatan pembinaan dan bimbingan melalui Kerjasama, Komunikasi, Informasi dan Edukasi Publik dalam rangka mendorong kemandirian pelaku usaha dalam memberikan jaminan keamanan Obat dan Makanan serta mendorong peningkatan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan,

3. Penguatan kapasitas kelembagaan Balai POM di Kupang , serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya.

Salah satu upaya penguatan kapasitas kelembagaan pada Balai POM di Kupang yaitu memaksimalkan pemberdayaan Pos POM , baik di daerah perbatasan RI- RDTL yaitu Pos POM Atambua maupun di Kepulauan Flores yaitu Pos POM Ende sesuai tugas , pokok dan fungsinya sebagai pengawas obat dan makanan..

Untuk memperkuat peran dan kewenangan tersebut secara efektif, Balai POM di Kupang perlu terus melakukan perbaikan dan pengembangan secara kelembagaan serta penerapan regulasi, khususnya peraturan perundang-undangan yang menyangkut peran dan tugas pokok dan fungsinya. Di samping itu, kondisi lingkungan strategis dengan dinamika perubahan yang sangat cepat, menuntut Balai POM di Kupang dapat melakukan evaluasi dan mampu beradaptasi dalam pelaksanaan peran-perannya secara tepat dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan etos tersebut, diharapkan mampu menjadi katalisator dalam proses pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional.

E. POTENSI DAN PERMASALAHAN

Sejalan dengan dinamika lingkungan strategis, baik nasional maupun global, permasalahan dan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin kompleks. Arus besar globalisasi membawa keleluasaan informasi, fleksibilitas distribusi barang dan jasa yang berdampak pada munculnya isu-isu yang berdimensi lintas bidang. Percepatan arus informasi dan modal juga berdampak pada meningkatnya pemanfaatan berbagai sumber daya alam yang memunculkan isu perubahan iklim (climate change), ketegangan lintas-batas antarnegara, serta percepatan penyebaran wabah penyakit, mencerminkan rumitnya tantangan yang harus dihadapi oleh Balai POM di Kupang . Hal ini menuntut peningkatan peran dan kapasitas instansi Balai POM di Kupang dalam mengawasi peredaran produk Obat dan Makanan pada catchman area Nusa Tenggara Timur..

Penjaminan mutu obat tidak terlepas dari kualitas obat tersebut. Beberapa permasalahan lainnya yang juga memerlukan perhatian dalam penjaminan mutu obat adalah koordinasi seluruh pemangku kepentingan dalam penjaminan mutu obat yang beredar seperti Kemenkes, Dinkes, BKKBN termasuk industri farmasi dalam hal tingkat kematangannya dalam penerapan CPOB.

(21)

16 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Terkait meluasnya penggunaan jamu dan obat-obat tradisional, serta pengobatan secara tradisional di masyarakat diperlukan peningkatan penelitian ilmiah lebih lanjut.

Di samping itu juga munculnya bibit penyakit baru atau bibit penyakit yang dulu pernah ada dan sudah langka kasusnya sekarang, namun kini berjangkit kembali. Penyakit ini, baik menular maupun yang tidak menular sebagai akibat dari adanya perubahan iklim secara global, fluktuasi ekonomi, model perdagangan bebas dan kemajuan teknologi maupun transisi dari demografi, juga turut mengubah pola dan gaya hidup dari masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi Obat dan Makanan.

Untuk itu, permasalahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi BPOM termasuk Balai POM di Kupang untuk dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam mengkonsumsi obat yang beredar di pasaran. Dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat di NTT , Balai POM di Kupang selama ini melakukan kontrol dalam bentuk pengawasan secara ketat terhadap produk yang sudah beredar luas di masyarakat dengan cara sampling dan pengujian secara Laboratoris . Selain itu, Balai POM di Kupang juga dapat memberikan informasi dan edukasi pada masyarakat mengenai produk obat yang aman, bermutu dan berkhasiat.

Selain itu Balai POM di Kupang menyelenggarakan Sosialisasi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) ke PBF, APOTIK dan Toko Obat agar dalam proses distribusi kualitas produk obat harus aman dan bermutu sampai kepada masyarakat.

1. Globalisasi dan Perdagangan Bebas

Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas, yang mencakup banyak bidang dan saling terkait: ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi dan lingkungan. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi, informasi dan transportasi yang sangat cepat dan massif akhir-akhir ini dan berkonsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pembangunan kesehatan, khususnya dalam rangka mengurangi dampak yang merugikan, sehingga mengharuskan adanya suatu antisipasi dengan kebijakan yang responsif.

Dampak dari pengaruh lingkungan eksternal khususnya globalisasi tersebut telah mengakibatkan Indonesia masuk dalam perjanjian-perjanjian internasional, khususnya di bidang ekonomi yang menghendaki adanya area perdagangan bebas (Free Trade Area). Ini dimulai dari perjanjian ASEAN-6 (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand) Free Trade Area, ASEAN-China Free Trade Area, ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP), ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA), ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) dan ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA). Dalam hal ini, memungkinkan negara-negara tersebut membentuk

(22)

17 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

suatu kawasan bebas perdagangan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional dan berpeluang besar menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional. Hal ini membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sektor barang dan jasa serta memungkinkan sejumlah produk Obat dan Makanan Indonesia akan lebih mudah memasuki pasaran domestik negara-negara yang tergabung dalam perjanjian pasar regional tersebut. Dalam menghadapi FTA dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun 2015, diharapkan industri farmasi, obat tradisional, kosmetika, suplemen kesehatan dan makanan dalam negeri mampu untuk menjaga daya saing terhadap produk luar negeri.

Dengan masuknya produk perdagangan bebas tersebut yang antara lain adalah obat, kosmetik, suplemen kesehatan, dan makanan, termasuk jamu dari negara lain, merupakan persoalan krusial yang perlu segera diantisipasi. Realitas menunjukkan bahwa saat ini Indonesia telah menjadi pasar bagi produk Obat dan Makanan dari luar negeri yang belum tentu terjamin keamanan dan mutunya untuk dikonsumsi. Untuk itu, masyarakat membutuhkan proteksi yang kuat dan rasa aman dalam mengkonsumsi Obat dan Makanan tersebut.

Perdagangan bebas juga membawa dampak tidak hanya terkait isu-isu ekonomi saja, namun juga merambah pada isu-isu kesehatan. Terkait isu kesehatan, masalah yang akan muncul adalah menurunnya derajat kesehatan yang dipicu oleh perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat tanpa diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan. Permasalahan ini akan semakin kompleks dengan sulitnya pemerintah dalam membuka akses kesehatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya untuk masyarakat yang berada di pelosok desa dan perbatasan. Sebagai contoh, saat ini akses masyarakat untuk mendapatkan obat legal dari apotek masih terbatas sehingga menyebabkan harga obat menjadi lebih mahal. Di sisi lain, secara nasional jumlah apotek yang ada juga masih kurang, dimana belum semua kecamatan terjangkau dengan layanan apotek.

Perdagangan bebas membuat kepekaan “berbisnis” menjadi sangat tinggi. Kebutuhan obat yang tinggi dengan ketersediaan yang rendah ditambah lemahnya pengawasan dan penegakan hukum membuat masih banyaknya ditemukan obat-obat yang tidak memenuhi ijin edar dan mengandung bahan baku yang berbahaya. Hal ini jelas akan sangat merugikan masyarakat. Berdasarkan data WHO (World Health Organization), praktik pemalsuan produk obat di dunia rata-rata mencapai 10%, dan mencapai 20-40% untuk negara berkembang termasuk Indonesia. Tentunya hal ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi BPOM sebagai lembaga negara yang bertanggungjawab terkait dengan pengawasan atas produk Obat dan Makanan yang beredar di masyarakat.

(23)

18 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Menurut data Badan POM tahun 2014, jumlah perusahaan farmasi di Indonesia mencapai 207 perusahaan, sebanyak 34 di antaranya merupakan perusahaan multinasional. Rata-rata penjualan obat di tingkat nasional selalu tumbuh 12-13% setiap tahun dan lebih dari 70% total pasar obat di Indonesia merupakan perusahaan nasional. Namun, ketergantungan impor bahan baku obat masih sangat tinggi, bahkan 95-96% diimpor dari China, India dan Eropa.

Produksi domestik untuk bahan baku obat juga masih sangat kecil. Meskipun Indonesia mampu memproduksinya, sampai saat ini kebanyakan masih belum dapat bersaing dengan produk impor. Jumlah industri farmasi nasional cukup besar dengan kapasitas produksi sebesar 3% dari kapasitas total dunia. Namun, disisi lain, pasar farmasi Indonesia relatif kecil yaitu sekitar 0,2% dari total pasar dunia (Kardono, 2004). Apabila terjadi kenaikan drastis harga obat yang berakibat menurunnya daya beli masyarakat, hal ini akan membuat masyarakat lebih sulit untuk mendapatkan obat, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat kesehatan masyarakat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain produsen farmasi, Indonesia juga memiliki pasar pengobatan tradisional yang cukup besar. Saat ini terdapat sekitar 900 industri skala kecil dan 130 industri skala menengah obat tradisional, namun baru 69 yang memiliki sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Padahal Indonesia memiliki sekitar 9.600 tumbuhan yang memiliki potensi untuk dijadikan bahan obat. Setidaknya terdapat sekitar 300 jenis tumbuhan yang telah digunakan sebagai bahan dasar industri obat. Dengan melihat besarnya potensi dan permasalahan yang dihadapi Indonesia, maka pemerintah harus selalu mendukung dan melindungi industri farmasi di Indonesia. Dengan adanya Free Trade Area (FTA), maka pemerintah harus mengembangkan kesiapan industri farmasi untuk dapat mendukung pemerataan, keterjangkauan dan ketersediaan obat yang bermutu, aman dan berkhasiat sehingga mampu bersaing dengan produk obat dari luar negeri.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas Balai POM di Kupang juga melakukan sampling dan pengujian obat dan obat tradisional , kosmetika, pangan dsb baik produk lokal maupun import, agar masyarakat aman dari produk obat yang tidak memenuhi syarat..

2. Perubahan Iklim

Ancaman perubahan iklim dunia, akan semakin dirasakan oleh sektor pertanian khususnya produk bahan pangan di Indonesia. Perubahan iklim dapat mengakibatkan berkurangnya ketersediaan pangan yang berkualitas, sehat, bermanfaat, dengan harga yang kompetitif. Dari sisi ekonomi makro, industri makanan dan minuman di masa yang akan datang perannya akan semakin penting sebagai pemasok pangan dunia.

(24)

19 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Semakin besarnya kontribusi industri pengolahan, dengan sub-sektor makanan, minuman dan tembakau serta sub-sektor pupuk, kimia dan barang dari karet terhadap output nasional, maka akan semakin besar juga tugas dari Badan POM termasuk Balai POM di Kupang untuk mengawasi dan menjamin keamanan proses produksi produk makanan dari hulu hingga hilir. Selain produk makanan yang termasuk didalamnya, terdapat industri obat-obatan, yakni obat kimia, maupun suplemen yang berbahan baku dari herbal. Ekonom Faisal Basri dalam Kompasiana, Nopember 2010, menyatakan bahwa industri makanan dan minuman berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini terlihat dari hasil ekspor-impor produk makanan dan minuman serta peringkat pertumbuhan industri. Namun hasil peningkatan ini masih perlu didukung dengan peran teknologi (inovasi produk, kemasan dan lainnya), infrastruktur (logistik kebutuhan industri), institusi (peraturan yang terkait industri makanan dan minuman), health and primary education (sumber daya manusia Indonesia). Jadi peran dan fungsi dari BPOM akan semakin berat dan sangat dibutuhkan dalam upaya mencegah Obat dan Makanan mengandung bahan berbahaya bagi tubuh.

Selain dari sisi pangan, perubahan iklim juga dapat mengakibatkan munculnya bibit penyakit baru hasil mutasi gen dari beragam virus. Bibit penyakit baru tersebut diantaranya virus influenza yang variannya sekarang menjadi cukup banyak dan mudah tersebar dari satu negara ke negara lain.

Menurut Kementerian Kesehatan yang bekerja sama dengan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI) tahun 2013, dalam pelaksanaan kajian dan pemetaan model kerentanan penyakit infeksi akibat perubahan iklim, Indonesia merupakan wilayah endemik untuk beberapa penyakit yang perkembangannya terkait dengan pertumbuhan vektor pada lingkungan, misalnya Demam Berdarah Dengue, Malaria dan Tuberkulosis. Jadi di Indonesia, terdapat tiga penyakit yang perlu mendapat perhatian khusus terkait perubahan iklim dan perkembangan vector yaitu Malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Diare. Selain dari ketiga jenis penyakit tersebut, masih ada lagi penyakit yang banyak ditemukan akibat adanya perubahan iklim seperti, Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) dan penyakit batu ginjal.

Dengan adanya potensi permasalahan serta peluang dari proses perubahan iklim, diperlukan peranan dari BPOM termasuk Balai POM di Kupang dalam mengawasi peredaran varian produk obat yang baru dari jenis penyakit tersebut, baik yang diproduksi di dalam negeri, maupun yang berasal dari luar negeri. Selain dari obat, varian obat baru ini juga diikuti pula dengan jenis obat herbal tradisional Indonesia dan Cina yang paling banyak beredar di pasar. Kondisi ini menuntut kerja keras dari BPOM melakukan pengawasan terhadap perkembangan produksi dan peredaran obat tersebut.

(25)

20 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

3. Perubahan Ekonomi dan Sosial Masyarakat

Kemajuan dari ekonomi Indonesia dapat dilihat dari indikator makro-ekonomi, yakni pendapatan perkapita sebesar USD 3000 tahun 2010 dan diproyeksikan pada tahun 2025 mencapai USD 14.250–15.500 (Bappenas; 2012) dan telah menjadi 10 (sepuluh) besar negara yang mendominasi kekuatan ekonomi dunia. Indikator ini menunjukan besarnya daya beli yang ada pada masyarakat Indonesia. Secara teori dan fakta, bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula konsumsi masyarakat terhadap Obat dan Makanan yang memiliki standar dan kualitas.

Berdasarkan data konsumsi obat yang dilakukan masyarakat Indonesia pada Gambar 1.5, sebagian besar penduduk masih banyak yang mengkonsumsi obat modern dibandingkan dengan obat tradisional. Konsumsi obat modern pada tahun 2012 mencapai 91,40%, sedangkan obat tradisional hanya sebanyak 24,33%. Beberapa penyakit degeneratif, yakni penyakit yang dimiliki para kaum lanjut usia justru banyak menggunakan obat-obatan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama.

Gambar 1.10

Persentase Penduduk yang Mengkonsumsi Obat Modern dan Tradisional

Sumber: Susenas BPS 2009-2012 Untuk itu, dengan banyaknya konsumsi obat modern yang dilakukan masyarakat, maka perlu mendapatkan perhatian dan pengawasan yang serius dari Badan POM.

Berdasarkan peta demografi, penduduk Indonesia dalam usia produktif telah mencapai 80%. Penduduk ini telah memiliki daya beli lebih tinggi ditambah dengan kenaikan jumlah penduduk kelas menengah (middle class) yang terjadi pada tahun 2040. Laporan Mc Kinsey (2012) menunjukkan bahwa kelompok middle class atau consuming class Indonesia naik dari waktu ke waktu, yakni tahun 2010 hanya 45 juta orang, maka proyeksi tahun 2020 naik menjadi 85 juta orang dan pada tahun 2030 sudah mencapai 135 juta orang. Kelompok ini akan banyak mempengaruhi pola konsumsi Obat dan Makanan serta gaya hidup masyarakat Indonesia.

(26)

21 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, di Nusa Tenggara Timur hanya dikenal 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Pada bulan Juni September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April, Mei dan Oktober dan November.

Walaupun demikian mengingat Nusa Tenggara Timur dekat dengan Australia, arus angin yang banyak mengandung uap air dari Asia dan Samudera Pasifik sampai di Wilayah NTT kandungan uap airnya sudah berkurang yang mengakibatkan hari hujan di NTT lebih sedikit dibanding wilayah yang dekat dengan Asia. Hal ini menjadikan NTT sebagai wilayah yang tergolong kering di mana hanya 4 bulan (Januari s.d Maret, dan Desember) yang keadaannya relatif basah dan 8 bulan sisanya relatif kering.

Selain itu letak strategis Wilayah NTT yang berbatasan langsung dengan Republik Democratic Timor Leste , maka perdagangan dan arus barang cukup besar dari wilayah perbatasan tersebut.

Bonus Demografi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik adalah dengan mempersiapkannya dari mulai perencanaan sampai dengan implementasinya di tingkat lapangan. Persiapan ini antara lain melalui: a) Peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat termasuk jaminan mutu Obat; b) Peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan; c) Pengendalian jumlah penduduk; d) Kebijakan ekonomi yang mendukung fleksibilitas tenaga kerja dan pasar, serta keterbukaan perdagangan dengan peraturan yang cukup fleksible, namun tidak merugikan sesama pihak.

4. Desentralisasi dan Otonomi Daerah

Desentralisasi bidang kesehatan dan komitmen pemerintah belum dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Kerjasama lintas sektor dan dukungan peraturan perundangan merupakan tantangan yang sangat penting dalam mensinergikan kebijakan kesehatan khususnya dalam pengawasan obat dan makanan. Desentralisasi di bidang kesehatan belum dapat berjalan sesuai yang diharapkan sehingga belum secara optimal memberikan perlindungan bagi masyarakat.

Desentralisasi dapat menimbulkan beberapa permasalahan di bidang pengawasan Obat dan Makanan di antaranya kurangnya dukungan dan kerjasama dari pemangku kepentingan di daerah sehingga tindaklanjut hasil pengawasan Obat dan Makanan belum optimal.

Untuk itu, agar tugas pokok dan fungsi Balai POM di Kupang berjalan dengan baik, diperlukan komitmen yang tinggi, dukungan dan kerjasama yang baik dari para pelaku di

(27)

22 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

bidang kesehatan untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (sound governance). Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah pusat dan daerah, antara pemerintah dan masyarakat, termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. Dengan berlakunya Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, merupakan tantangan bagi Badan POM lebih khusus Balai POM di Kupang sebagai perpanjangan tangannya didaerah untuk menyiapkan Norma, Standar, Pedoman dan Kriteria bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan kegiatan terkait Obat dan Makanan yang dilimpahkan ke daerah.

5. Perkembangan Teknologi

Selain teknologi produksi juga didukung dengan teknologi transportasi. Perkembangan industri transportasi baik darat, laut dan udara maupun jasa pengiriman barang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sehingga distribusi Obat dan Makanan secara masal dapat dilakukan lebih efisien. Untuk itu, dampak pengawasan atas peredaran Obat dan Makanan semakin tinggi, dikarenakan distribusi Obat dan Makanan ke tempat tujuan di seluruh wilayah Indonesia semakin cepat, sehingga antipasi pengawasan obat dan makanan juga harus sama cepatnya.

Selain itu, teknologi pangan juga semakin berkembang. Adanya perubahan iklim juga ikut mendorong berbagai inovasi perkembangan teknologi menciptakan rekayasa genetika dan varian makanan yang terkadang tingkat keamanannya belum teruji. Hal ini harus menjadi perhatian dan antisipasi Balai POm di Kupang dalam menghadapi hal tersebut.

Perkembangan teknologi informasi juga dapat menjadi potensi bagi Balai POM di Kupang untuk dapat melakukan pelayanan secara online, yang dapat memudahkan akses dan jangkauan masyarakat yang ada di Indonesia. Namun di sisi lain, teknologi informasi juga dapat menjadi tantangan bagi Balai POM di Kupang terkait tren pemasaran dan transaksi produk Makanan dan Obat secara online, yang tentu saja juga perlu mendapatkan pengawasan dengan berbasis pada teknologi.

1.3

Analisa terhadap Lingkungan Strategis (

Strengths, Weaknesses,

Opportunities, Threats/

SWOT

)

Analisis lingkungan merupakan bagian penting dalam penentuan strategi

organisasi. Pemetaan dan analisis dilakukan terhadap bidang yang dianggap

mempunyai daya ungkit yang tinggi terhadap kinerja organisasi Balai POM Kupang

yaitu bidang Pelayanan, Keuangan, Sumber Daya Manusia (SDM), Sarana dan

Prasarana serta kelembagaan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, dengan

(28)

23 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

keterbukaan dan keberanian melakukan peninjauan dan evaluasi terhadap faktor

yang mempengaruhi kinerja organisasi.

Pada prinsipnya analisis ini mencakup peninjauan dan evaluasi atas faktor-faktor yang dianggap sebagai kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weaknesess), peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats)., kemudian dilakukan penetapan nilai bobot dan skala (rating) yang penilaiannya berdasar pada Judgement. Hasil analisa SWOT tersebut digunakan untuk menetapkan arah strategis dan kebijakan Balai POM kedepan,

Berdasarkan Analisis Swot sebagai berikut : A.

Faktor Internal

Analisis internal organisasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi ke lima faktor yaitu Bidang pelayanan, Keuangan, Sumber Daya Manusia, kelembagaan, serta Sarana dan Prasarana sehingga dapat ditemukan kekuatan dan kelemahan internal organisasi.

Tabel 11 Analisis Faktor Internal

No Faktor Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness)

1. Pelayanan a. Merupakan satu-satunya organisasi pemerintah di NTT dengan pelayanan laboratorium kemampuan dan fasilitas laboratorium yang modern dan lengkap. b. Laboratorium dengan Akreditasi KAN sejak 2005 sehingga pelayanan hasil laboratorium dapat diandalkan

c. Citra organisasi terus membaik yang dibuktikan kepercayaan institusi lain dan masyarakat semakin meningkat menggunakan layanan lab. d. Sudah memiliki bulletin ilmiah

e. Memiliki jejaring/kemitraan yang cukup luas di 22 kabupaten/kota di NTT.

f. Memiliki pedoman yang jelas sebagai acuan pengawasan obat dan makanan.

a. Belum semua permintaan masyarakat dapat dipenuhi. b. Belum melakukan kajian

dan evaluasi layanan tahunan bersama konsumen dan profesi serta

stakeholder c. Pelayanan belum sepenuhnya prima

2. Keuangan a. Anggaran DIPA dari pemerintah tersedia memadai

b. Adanya pendapatan dana PNBP c. Akuntabilitas pengelolaan keuangan cukup baik

a. Budaya hemat belum berkembang.

b. Perencanaan masih lemah

(29)

24 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

3. Sumber

daya manusia (SDM)

a. Kualitas SDM sudah Memadai baik dari segi skill maupun managerial

b.Komitmen Pimpinan tinggi untuk pengembangan SDM.

c. Kualifikasi Pendidikan sebagian besar Apoteker (45%).

d. Sebagian besar staf sudah diupgrade kompetensi melalui pelatihan dan

berpengalaman pada tupoksi lebih dari 5 tahun.

a. Reward dan Punishment belum jelas

b. Motivasi dan loyalitas staf terhadap organisasi belum optimal.

c. Kuantitas SDM belum mencukupi kebutuhan untuk menjalankan tugas dan fungsi Balai

4 5 Sarana dan Prasarana Kelembagaa n

a. Memiliki sarana gedung yang memadai (55,917 M2) dan tanah seluas 5,14 ha.

b. Memiliki Lab. terakreditasi KAN dengan peralatan lab yang memadai.

a. Memiliki jaringan yang kuat dengan instansi-instansi daerah.

b. Penandatanganan MoU terkait pengawasan obat dan makanan dengan Pemda

kabupaten/kota telah dilakukan.

c. Peluang untuk membangun kemitraan dengan stakeholder sangat tinggi.

a. Alokasi biaya pemeliharaan sarana & prasarana khususnya untuk suku cadang masih kurang. a. Struktur dan tata kerja belum sesuai.

b. Hambatan dalam koordinasi dengan instansi lain karena kedudukan balai pada tingkat eselon III. c. Kemitraan dengan stakeholders belum sesuai yang diharapkan.

C. Faktor External

Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi dua aspek yaitu peluang

dan ancaman

terhadap organisasi balai POM Kupang. Daftar peluang yang teridentifikasi merupakan

kondisi untuk meningkatkan kinerja yang ada saat ini, maupun kemungkinan menyusun

kegiatan baru. Sedangkan ancaman memuat keadaan yang dirasakan saat ini maupun

yang bersifat potensial.

Tabel 12 Analisis Faktor Eksternal

NO

Faktor Peluang ( Opportunity ) Ancaman ( Threat )

1. Pelayanan a. UU. No. 5 / 2014 tentang ASN berpeluang untuk meningkatkan meningkatkan kesejahteraan pegawai.

b. Pertumbuhan industri makanan yang meningkat.

c. Kerjasama lintas sektor dalam pengawasan obat dan makanan semakin baik.

d. Kepercayaan pengguna layanan laboratorium semakin meningkat.

a. UU no 5/2014 tentang ASN b.Munculnya dan beredarnya

produk illegal

c. Meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap peran balai POM.

d. Ketidakpedulian Pelaku usaha terhadap bimbingan dan pembinaan balai POM. e. Kepatuhan pelaku usaha obat

(30)

25 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

e. Pasar bebas membuka peluang untuk meningkatkan jejaring di tingkat Nasional maupun Internasional.

f. Penerapan ISO 9001:2008 tentang QMS mendorong meningkatnya mutu pelayanan.

memenuhi ketentuan yang disyaratkan cenderung menurun.

f. Menipisnya entry barrier.

2. Keuangan a. Permenkeu. No10/PMK.02/ 2006 tentang Remunerasi, membuka peluang pemberlakuan sistem remunerasi dengan prinsip proporsional, kesetaraan dan kepatutan.

b. Pasar bebas berpeluang meningkatkan PNBP. c. Pemda Kab/Kota berpeluang

menganggarkan dana untuk pengawasan obat dan makanan sesuai dengan MoU.

a. Biaya transportasi pesawat ke kabupaten cenderung meningkat.

b. Tarif / unit cost pengujian sampel pihak ke 3 banyak dikeluhkan masyarakat karena mahal.

3. Sumber Daya Manusia (SDM)

a.PP. No 53/2010 tentang Disiplin PNS, berpeluang dapat

meningkatkan kinerja pegawai

a. Perubahan pada masa transisi menuju pola berbasis kinerja (merubah mindset)

b. Pasar bebas mendorong masuknya tenaga asing yang berdampak pada ketatnya persaingan penyerapan lulusan. 4 5. Sarana dan Prasarana Penataan Kelembagaan

a. Pihak ke-tiga banyak yang berminat memanfaatkan fasilitas laboratorium.

a. Belum ada UU khusus mendukung BPOM sebagai institusi pengawas

Berdasarkan hasil Analisa SWOT tersebut di atas, maka Balai POM di Kupang perlu melakukan penguatan organisasi dan kelembagaan, agar faktor-faktor lingkungan strategis yang mempengaruhi baik dari internal maupun eskternal tidak akan menghambat pencapaian tujuan dan sasaran organisasi Balai POM di Kupang periode 2015-2019.

Dilihat dari keseimbangan pengaruh lingkungan internal antara kekuatan dan kelemahan serta pengaruh lingkungan eskternal antara peluang dan ancaman, posisi organisasi Balai POM di Kupang harusnya melakukan pengembangan dan perluasan organisasi agar dapat mewujudkan visi, misi dan tujuan organisasi Badan POM periode 2015-2019.

Untuk itu, dalam melaksanakan peran dan kewenangan yang optimal sesuai dengan peran dan kewenangan yang diberikan Badan POM sebagai lembaga yang mengawasi Obat

(31)

26 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

dan Makanan, maka diusulkan penguatan peran dan kewenangan Balai POM di Kupang sesuai dengan bisnis proses Badan POM untuk periode 2015-2019 sebagaimana pada Tabel 7.1 di bawah ini:

Gambar 1.12: Peta Bisnis Proses Utama Badan POM sesuai Peran dan Kewenangan

(32)

27 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG 2015-2019

Tabel 1.13 Penguatan Peran Balai POM di Kupang Tahun 2015-2019

Penguatan Sistem Pengawasan Obat

dan Makanan

• Pengawasan sarana produksi Obat dan Makanan sesuai standar

• Pengawasan sarana distribusi Obat dan Makanan sesuai standar

• Sampling dan pengujian laboratorium Obat dan Makanan

• Penyidikan dan penegakan hokum

Kerjasama, Komunikasi, Informasi dan Edukasi Publik

• Mendorong kemitraan dan kemandirian pelaku usaha

• melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi publik termasuk peringatan publik

• Pengelolaan data dan informasi Obat dan Makanan

• Menentukan peta zona rawan peredaran Obat dan Makanan yang tidak sesuai dengan standar

• Penyebaran informasi bahaya obat dan makanan yang tidak memenuhi standar

Peran Balai POM di Kupang sebagai UPT Badan POM di Wilayah Nusa Tenggara Timur melaksanakan Tugas dan Fungsi yakni :

1.

Malakukan sampling dan pengujian dengan parameter kritis

2.

Melakukan sampling produk Obat di Sektor publik (IFK)

3.

Melakukan pengawasan sarana produksi Obat dan Makanan

4.

Melakukan pengawasan sarana distribusi Obat dan Makanan

5.

Melakukan Projustitia di bidang obat dan makanan

6.

Melaksanakan layanan publik

7.

Melaksanakan pemberdayaan Komunitas berbasis Desa /Kelurahan/Pasar

8.

Pengadaan sarana prasarana sesuai standar

9.

Melaksanakan pembuatan dokumen Renstra (2015-2019) , perencanaan, penganggaran tiap tahun dan evaluasi program dan laporan kegiatan yang dilaporkan tepat waktu

(33)

28 RENSTRA BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI KUPANG TAHUN 2015-2019

BAB II

VISI, MISI DAN TUJUAN BADAN POM

Berdasarkan kondisi umum, potensi, permasalahan dan tantangan yang dihadapi ke depan sebagaimana telah dijelaskan pada Bab I, maka Badan POM sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai lembaga Pengawasan Obat dan Makanan dituntut untuk dapat menjamin keamanan, mutu, manfaat/khasiat Obat dan Makanan tersebut sesuai standar yang telah ditetapkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Strategi Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2015-2019. Untuk itu, disusun visi dan misi serta tujuan dan sasaran Badan POM.

Gambar 9: Peta Strategis Badan POM Periode 2015-2019

A. VISI

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Badan POM harus memberikan kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pelaksanaan RPJMN 2015-2019 dan RKP Tahunan, melalui penyusunan rencana strategis dan rencana tahunan (Renja K/L) yang berkualitas serta optimalisasi pengendalian dan monitoring evaluasi atas pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan secara efektif dan efisien serta pelaksanaan tugas-tugas lainnya dari pemerintah.

Figur

Gambar 1.1. Struktur Organisasi   BALAI POM  DI KUPANG

Gambar 1.1.

Struktur Organisasi BALAI POM DI KUPANG p.9
Tabel 1.1 di bawah ini  dapat diketahui bahwa   89,70 %  pegawai BPOM adalah  sarjana

Tabel 1.1

di bawah ini dapat diketahui bahwa 89,70 % pegawai BPOM adalah sarjana p.12
Tabel 1.2 Pencapaian Kinerja Balai POM di Kupang  Tahun 2014

Tabel 1.2

Pencapaian Kinerja Balai POM di Kupang Tahun 2014 p.14
Diagram permasalahan dan isu strategis, kondisi saat ini dan dampaknya

Diagram permasalahan

dan isu strategis, kondisi saat ini dan dampaknya p.19
Tabel 11  Analisis Faktor Internal

Tabel 11

Analisis Faktor Internal p.28
Tabel  12  Analisis Faktor Eksternal

Tabel 12

Analisis Faktor Eksternal p.29
Gambar 1.13.  Penjabaran Bisnis Proses Utama kepada Kegiatan Utama BPOM

Gambar 1.13.

Penjabaran Bisnis Proses Utama kepada Kegiatan Utama BPOM p.31
Gambar 1.12:  Peta Bisnis Proses Utama Badan POM sesuai Peran dan  Kewenangan

Gambar 1.12:

Peta Bisnis Proses Utama Badan POM sesuai Peran dan Kewenangan p.31
Tabel 1.13 Penguatan Peran Balai  POM di Kupang  Tahun 2015-2019  Penguatan

Tabel 1.13

Penguatan Peran Balai POM di Kupang Tahun 2015-2019 Penguatan p.32
Gambar 9: Peta Strategis Badan POM Periode 2015-2019

Gambar 9:

Peta Strategis Badan POM Periode 2015-2019 p.33
Tabel 3.2. Indikator dan target Obat dan Makanan pada awal dan akhir tahun Rensta                          Balai POM di Kupang

Tabel 3.2.

Indikator dan target Obat dan Makanan pada awal dan akhir tahun Rensta Balai POM di Kupang p.49
Tabel 3.3. Program  dan Indikator Pengawasan  Obat dan Makanan  Badan POM

Tabel 3.3.

Program dan Indikator Pengawasan Obat dan Makanan Badan POM p.50
Tabel 3.4. Program  dan Indikator Pengawasan  Obat dan Makanan  Balai POM di Kupang

Tabel 3.4.

Program dan Indikator Pengawasan Obat dan Makanan Balai POM di Kupang p.52
Tabel 3.5. Program  dan Indikator Pengawasan  Obat  pada Balai POM di Kupang

Tabel 3.5.

Program dan Indikator Pengawasan Obat pada Balai POM di Kupang p.53
Tabel 3:6.  Rangkuman Analisis SWOT   HASIL PEMBAHASAN (SWOT)  Kekuatan

Tabel 3:6.

Rangkuman Analisis SWOT HASIL PEMBAHASAN (SWOT) Kekuatan p.54
Gambar 3.1. Log Frame Balai POM di Kupang

Gambar 3.1.

Log Frame Balai POM di Kupang p.60
Gambar 3.2. Kerangka kelembagaan pelaksanaan mandat Badan POM

Gambar 3.2.

Kerangka kelembagaan pelaksanaan mandat Badan POM p.67

Referensi

Memperbarui...