BAB V PENUTUP. ini. Pada bagian simpulan akan dipaparkan poin-poin utama yang diperoleh dari keseluruhan

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

114

Pada bagian ini dipaparkan simpulan dan saran sebagai bagian akhir dalam penelitian ini. Pada bagian simpulan akan dipaparkan poin-poin utama yang diperoleh dari keseluruhan analisis data berikut persamaan dan perbedaan struktur klausa relatif bahasa Jerman dan bahasa indonesia, berikut implikasinya dalam pengajaran kedua bahasa sebagai bahasa asing sebagai jawaban atas permasalahan penelitian.

5.1Simpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka di bawah ini dapat disampaikan beberapa simpulan sebagai jawaban atas permasalahan penelitian.

5.1.1 Jenis-jenis Konjungsi Relatif Bahasa Jerman dan Bahasa Indonesia

Jenis-jenis konjungsi relatif bahasa Jerman bisa dipilah menjadi dua kelompok utama, yaitu kelompok artikel penanda jenis nomina atau determinan dan kelompok kata tanya (Fragewort) yang terdiri atas bentuk deklinatif dan tak deklinatif. Jenis-jenis konjungsi relatif yang berupa penanda jenis sebuah nomina berdasarkan hirarki kasusnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

Hirarki Kasus

Tunggal Jamak

Maskulin Netral Feminim Feminim

Nominatif Der Das Die Die

Genitif Dessen Dessen Deren Deren

Akusatif Den Das Die Die

(2)

Tabel 8: Konjungsi Relatif Bahasa Jerman Berupa Determinan

Sedangkan jenis-jenis klausa relatif yang berupa kata tanya bisa disimak pada tabel di bawah ini: Hirarki Kasus Deklinatif (Deklinierbar) Tak Deklinatif (Undeklinierbar) Maskulin Netral Feminim Tunggal Jamak Nominatif Welcher Welches Welche Welche

Was dan Wo

Genitif [dessen] [dessen] Deren Deren

Akusatif Welchen Welches Welche Welche

Datif Welchem Welchem Welcher Welchen Tabel 9: jenis Konjungsi Relatif Bahasa Jerman Berupa kata Tanya

Selain jenis konjungsi relatif yang berupa kata tanya deklinatif dan tak deklinatif pada tabel di atas, juga terdapat dalam bahasa Jerman konjungsi relatif yang berupa kata tanya orang dan bersifat deklinatif sebagaiman tampak pada tabel di bawah ini:

Hirarki Kasus Maskulin Netral

Feminim

Nominatif Wer Was Wer Wer

Genitif Wessen Wessen Wessen Wessen

Akusatif Wen Was Wen Wen

Datif Wem Was Wem Wem

Tabel 10: Jenis Konjungsi Relatif Bahasa Jerman Berupa Pronomina

Berbeda dengan jenis-jenis konjungsi relatif bahasa Jerman, konjungsi relaif bahasa Indonesia hanya terdiri atas dua jenis yang sesuai dengan standar baku tata bahasa Indonesia, yaitu yang dan tempat. Namun demikian, tidak sedikit jenis-jenis konjungsi relatif bahasa Indonesi yang merupakan interferensi dari bahasa Jerman, misalnya yang mana dari

(3)

konjungsi welch-, di mana dari konjungsi wo, dan yang dalam mana dari konjungsi in welch-. Dua jenis konjungsi relatif bahasa Indonesia ini mampu menfasilitasi bermacam-macam konteks relasi semantis antara anteseden dalam klausa induk dengan nomina yang direlatifkan dalam klausa anakan tanpa harus melakukan tindak interferensi dari bahasa Jerman atau bahasa asing yang lain.

5.1.2 Distribusi Konjungsi Relatif Bahasa Jerman dan Bahasa Indonesia

Distribusi konjungsi relatif bahasa Jerman bisa dirunut berdasarkan jenis-jenis relasi semantis antara anteseden pada klausa induk dengan nomina yang direlatifkan dalam klausa anakan yang menjadi acuan dalam penentuan jenis dan proses deklinasinya. Masing-masing distribusi tersebut bisa dipetakan sebagai berikut:

a. Jenis konjungsi relatif berupa determinan berdistribusi dalam merelatifkan anteseden yang berfungsi sebagai subjek, pelengkap, objek langsung, dan objek tidak langsung. Adapun determinan atau artikel penanda jenis ini juga bisa menjadi konjungsi relatif bersamaan dengan sebuah preposisi yang mengandung sifat semantis verba yang bersangkutan; entah menyatakan sebuah instrumen seperti mit der, mit dem, dan mit denen, atau menyatakan sebuah keterangan tujuan in die, in das, dan in den, serta menyatakan sebuah keterangan letak atau keterangan tempat seperti in der, in dem,

dan in denen.

b. Konjungsi relatif yang berupa kata tanya berdistribusi pada anteseden yang berfungsi sebagai adverbia menyatakan sebuah keterangan letak digunakan konjungsi wo, menyatakan sebuah persona menggunakan jenis konjungsi berupa kata tanya orang

wer, wen, dan wem, serta yang menyatakan sebuah kriteria atau identitas digunakan

(4)

c. Distribusi setiap konjungsi relatif bahasa Jerman pada posisi setelah tanda koma menyebabkan terjadinya sebuah tuntutan gramatikal, yakni predikat harus berdistribusi pada bagian paling akhir klausa.

Begitu juga jenis klausa relatif bahasa Indonesia juga berdistribusi berdasarkan pada relasi semantis yang dimiliki oleh anteseden pada sebuah klausa induk dengan nomina yang direlatifkan dalam klausa anakan. Dengan demikian, kriteria distribusi konjungsi relatif bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

a. Konjungsi relatif yang berdistribusi pada anteseden sebagai yang direlatifkan yang hanya berfungsi sebagai subjek dalam sebuah klausa anakan.

b. Konjungsi relatif tempat berdistribusi pada anteseden yang berfungsi sebagai adverbia atau keterangan.

5.1.3 Perbedaan dan Persamaan Struktur Klausa Relatif Bahasa Jerman dan bahasa Indonesia

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa perbedaan struktur klausa relatif bahasa Jerman dan bahasa Indonesia meliputi beberapa hal sebagai berikut:

a. Penentuan jenis konjungsi relatif bahasa Jerman pertama mengacu pada relasi semantis anteseden dengan nomina yang direlatifkan, kemudian mengalami proses deklinasi yang didasarkan pada jenis, jumlah, dan hirarki kasus yang dialami oleh nomina yang bersangkutan sebagai ciri sifat gramatikal dari sebuah bahasa fleksi. Misalnya konjungsi der, das, die, den, dem, denen, dessen, deren, welche, welcher, welchen, welchem, welches, wer, wen, wem, dan wessen; sedangkan konjungsi relatif bahasa Indonesia hanya mengacu pada relasi semantis yang dimiliki oleh anteseden

(5)

dengan nomina yang direlatifkan tanpa melalui proses deklinasi terkait karakteristik gramatikalnya yang bersifat aglutinatif. Misalnya beberapa kalimat di bawah ini: (106) Die Bibliothek, deren Räume renoviert werden, ist zur Zeit geschloßen.

Det S det.Rel.Gen S P2 Aux Aux Prep Adv P1 Perpustakaan, yang miliknya ruangan direnovasi, saat ini ditutup

‘Perpustakaan, yang ruangannya direnovasi, saat ini ditutup.’

Perelatif deren dalam kalimat (106) merupakan bentuk deklinatif dalam kasus genitif yang berasal dari relasi gramatikal antara anteseden Die Bibliothek yang menyatakan kepemilikan atau posesif dengan nomina yang direlatifkan Räume. Jenis feminim dan jumlah tunggal dari anteseden Die Bibliothek membuat bentuk deklinatif artikel dasar

die menjadi deren. Namun demikian, bila kalimat (106) dipadankan dengan klausa relatif bahasa Indonesia, maka untuk relasi gramatikal posesif yang dimiliki oleh anteseden Die Bibliothek dan nomina yang direlatifkan Räume akan mengharuskan pemakaian perelatif yang dan sufiks –nya pada yang direlatifkan, sehingga akan menjadi kalimat dalam bahasa Indonesia seperti di bawah ini:

(107) Perpustakaan, yang ruangannya direnovasi, saat ini ditutup.

b. Anteseden sebagai yang direlatifkan dalam bahasa Jerman bisa menduduki semua fungsi sintaksis, yaitu subjek, pelengkap, objek, dan keterangan; sedangkan klausa relatif bahasa Indonesia hanya merelatifkan anteseden yang berfungsi sebagai subjek, dan keterangan atau adverbia. Adapun anteseden yang berfungsi sebagai objek dalam sebuah klausa induk harus dijadikan subjek terlebih dahulu dengan menjadikan klausa tersebut menjadi pasif.

c. Sifat sebuah klausa relatif bahasa Indonesia terdiri atas dua macam, yaitu restriktif yang ditandai dengan tanpa pemerian tanda koma antara klausa induk dengan klausa anakan, dan bersifat tak restriktif yang ditandai dengan pemerian tanda koma antara klausa induk dengan klausa anakan; sedangkan dalam bahasa Jerman tidak terdapat

(6)

pembagian sifat sebuah klausa relatif terhadap sebuah anteseden sebagaimana dalam bahasa Indonesia, sehingga semua jenis klausa relatif dipisahkan oleh sebuah tanda koma dengan klausa induknya. Adapun persamaan sistem gramatikal yang dimiliki oleh bahasa Jerman dan bahasa Indonesia tentang struktur klausa relatif hanya mencakup hal-hal yang mengacu pada beberapa hal berikut ini:

a. Penentuan jenis konjungsi relatif bahasa Jerman dan bahasa Indonesia sama-sama mengacu pada relasi semantis yang dimiliki oleh anteseden yang berada pada sebuah klausa induk dengan nomina yang direlatifkan dalam sebuah klausa anakan.

b. Sifat semantis verba dalam klausa anakan yang turut menentukan peran semantis (semantic roles) nomina yang direlatifkan dalam rangka penentuan hirarki kasus yang berlaku pada nomina tersebut, yang pada dasarnya juga mempengaruhi pada relasi semantis yang dimiliki oleh nomina ini dengan anteseden dalam klausa induk.

c. Sangat jarang dijumpai struktur kalimat majemuk subordinatif bahasa Jerman dan bahasa Indonesia yang klausa relatifnya berada pada posisi sebelum klausa induknya.

5.1.4 Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pengajaran Bahasa Jerman dan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing

Berbicara masalah implikasi hasil penelitian ini terhadap pengajaran bahasa Jerman dan bahasa Indonesia sebagaimana telah dipaparkan secara menyeluruh dalam bab IV, yaitu berkenaan dengan sistematika materi ajar klausa relatif bahasa Jerman dan bahasa Indonesia yang harus disusun oleh pengajar sesuai dengan kadar kompleksitas sistem gramatikalnya, maka dapat disampaikan beberapa kesimpulan terkait hal itu sebagai berikut:

(7)

a. Pentingnya materi pengayaan tentang karakteristik sifat semantis verba yang pada dasarnya kategori verba ini hanya satu-satunya kategori kata yang bisa berlaku sebagai predikat dalam sebuah klausa atau kalimat bahasa Jerman, sedangkan dalam pengajaran bahasa Indonesia sangat penting diketahui pelajar tentang tidak perlunya pengalihan posisi verba atau predikat berada pada posisi akhir, serta kelas kata yang dapat mengisi fungsi predikat dalam bahasa Indonesia tidak hanya kategori verba, tetapi juga bisa nomina, frasa nomina, ajektiva, frasa ajektiva, dan numeralia. Hal itu akan sangat penting karena dalam aktifitas penyusunan sebuah kalimat relatif yang di dalam terdapat predikat ajektiva, diprediksi kuat pelajar asing akan cenderung untuk memberikan verba kopula sebagai predikatnya. Seperti dalam beberapa kalimat di bawah ini.

(108) a. Rumah yang sangat besar adalah itu tidak berpenghuni. b. Rumah yang sangat besar itu tidak berpenghuni.

Kategori kata pengisi predikat selain verba dalam bahasa Indonesia jika tidak ditanamkan dengan baik kepada pelajar Jerman, maka akan terjadi kesalahan seperti kalimat (108a), yaitu akan memunculkan verba kopulatif untuk menghubungkan sebuah adjektiva dengan subjeknya sebagaimana dalam bahasa Jerman. Kemudian pelajar Jerman masih terbiasa dengan peletakan predikat pada posisi akhir klausa relatif sebagaimana kalimat (108a), yaitu verba kopula adalah berada pada posisi akhir klausa. Adapun konstruksi yang berterima adalah (108b)

b. Pembiasaan proses deklinasi dalam pengajaran bahasa Jerman dengan didasarkan pada jenis, jumlah, dan kasus nomina yang direlatifkan terkait relasi semantisnya dengan anteseden, yang proses ini tidak diperlukan dalam bahasa Indonesia; sedangkan dalam pengajaran bahasa Indonesia konjungsi relatif yang ditekankan hanya yang dan tempat. Kedua konjungsi tersebut sudah bisa mewakili variasi

(8)

konteks yang dimiliki oleh sekian banyak konjungsi relatif bahasa Jerman, sehingga tidak terjadi interferensi besar-besaran seperti penggunaan konjungsi relatif yang mana dari konjungsi welch-, di mana dari konjungsi wo, yang dalam mana dari konjungsi in welche-, siapa dari konjungsi wer dan wen, untuk siapa dari konjungsi

wem.

(109) Die Raupe, welcher der Magen knurrte, suchte saftige Blӓtter.

Det.Nom.S Det.W-Frage.Rel Det. S P2 P1 Adj O

Ulat , yang mana perutnya geram mencari bersari daun-daun

‘Ulat yang perutnya geram mencari daun-daun yang bersari’

Konjungsi relatif welcher dalam kalimat (109) bila dipadankan dengan bahasa Indonesia tidak boleh dengan perelatif yang mana karena tidak berterima, melainkan dengan yang yang masih bisa mengisi konteks kalimat tersebut, sehingga bisa menjadi kalimat (110) berikut.

(110) Ulat yang perutnya geram mencari dedaunan yang bersari.

c. Penekanan kepada pelajar tentang perlu tidaknya penanda koma dalam sifat restriktif dan takrestriktifnya klausa relatif bahasa Jerman dan bahasa Indonesia. Misalnya dalam beberapa kalimat berikut:

(111) Saya sangat tertarik pada masalah tata bahasa dan sintaksis bahasa, yang biasanya dibenci banyak orang.

(112) Orang yang sedang antre minyak tanah itu bukan kakak saya.

(113) Eine Raupe, die stachelige Haare hatte, krabbelte auf das Blatt. Det.Nom. S Det.Nom.Rel Adj O P2 P1 Prep. Det. Adv Ulat , yang berduri bulu mempunyai, merangkak di atas daun

‘Ulat yang berbulu duri itu merangkak di atas kertas’

d. Pentingnya pemahaman padanan relasi semantis posesif anteseden dengan nomina yang direlatifkan antara klausa relatif bahasa Jerman dan bahasa Indonesia, yaitu

(9)

deren dan dessen dalam bahasa Jerman, dan yang diikuti sufiks –nya dalam nomina yang direlatifkan dalam bahasa Indonesia. Misalnya dalam kalimat berikut:

(114) Heizungen, deren Abgase zu viele Schadstoffe

Det.S.Nom Det.Gen.Rel S Prep. Adj. O Pemanas-pemanas, yang Asap kotor terlalu banyak bahan-bahan berbahaya

enthalten, müssen umgebaut werden. P2 Aux. P1 Aux. mengandung, harus mengubah menjadi

‘Pemanas-pemanas yang asapnya mengandung banyak bahan berbahaya harus diubah’

Sering terjadi kendala bahkan kesalahan dalam penyusunan klausa relatif bahasa Indonesia, sehingga banyak melakukan interferensi gramatikal dari bahasa Jerman. Kalimat (111) akan menjadi sebuah konstruksi yang tidak berterima seperti kalimat di bawah ini.

(115) Pemanas-pemanas yang miliknya asap mengandung banyak bahan berbahaya harus diubah.

Dalam bahasa Indonesia harus dipadankan dengan konjungsi relatif yang dengan sufiks –nya pada nomina yang direlatifkan sebagaimana kalimat di bawah ini.

(116) Pemanas-pemanas yang asapnya mengandung banyak bahan berbahaya harus diubah.

(10)

5.2Saran

Berdasarkan analisis data secara keseluruhan dan pembahasan tentang semua permasalahan penelitian ini, terdapat beberapa saran yang konstruktif dari peneliti sebagai wujud tindak lanjut dari hasil penelitian ini, antara lain:

a. Pertama, hendaknya pengajar bahasa Jerman dan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing menguasai isu-isu linguistis dan lebih produktif dalam pelaksanaan penelitian tentang Applied Linguitic, khususnya yang berkenaan dengan linguistik edukasional, yaitu linguistik kontrastif.

b. Penelititan ini hendaknya mendorong peneliti-peneliti lain untuk melakukan penelitian terkait tentang bandingan kontrastif bahasa Jerman dan bahasa Indonesia, mengingat perbedaan sistem gramatikal kedua bahasa ini sangat besar.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :