TINJAUAN PUSTAKA. dari elemen-elemen fisik dan sosial yang difungsikan untuk : mendapatkan air dari

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem Irigasi

Sistem irigasi dalam Small dan Svendsen (1992) merupakan suatu set dari elemen-elemen fisik dan sosial yang difungsikan untuk : mendapatkan air dari suatu sumber terkumpulnya air secara alami, memfasilitasi dan mengendalikan perpindahan air dari sumbernya ke lahan atau tempat lain yang dimaksudkan untuk budidaya tanaman pertanian atau tanaman- tanaman lain yang diinginkan dan menyebarkan air ke zona atau daerah lingkungan (zone) perakaran di lahan yang diairi. Sistem irigasi merupakan suatu sistem yang terbuka, yang secara struktural dan fungsional peka dalam menanggapi perubahan berbagai lingkungannya (Pusposutardjo, 2001).

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 2006 Tentang Irigasi menyatakan bahwa : Pasal 1 (4) Sistem irigasi meliputi prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi, dan sumber daya manusia, (5) Penyediaan air irigasi adalah penentuan volume air per satuan waktu yang dialokasikan dari suatu sumber air untuk suatu daerah irigasi yang didasarkan waktu, jumlah, dan mutu sesuai dengan kebutuhan untuk menunjang pertanian dan keperluan lainnya, (6) Pengaturan air irigasi adalah kegiatan yang meliputi pembagian, pemberian, dan penggunaan air irigasi, (7) Pembagian air irigasi adalah kegiatan membagi air di bangunan bagi dalam jaringan primer atau jaringan sekunder, (8) Pemberian air irigasi adalah kegiatan menyalurkan air dengan jumlah tertentu dari jaringan primer atau jaringan sekunder ke petak tersier (Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006).

(2)

Sistem irigasi dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu: prasarana fisik, produktifitas tanam, sarana penunjang, organisasi personalia, dokumentasi, dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Bangunan irigasi mengalami penurunan fungsi akibat bertambahnya umur bangunan atau ulah manusia ( Rahajeng, 2001).

Jaringan Irigasi

Proses pengairan buatan pada tanah untuk pertumbuhan tanaman pertanian diistilahkan sebagai irigasi. Irigasi merupakan sebuah ilmu praktis dalam merencanakan dan merancang sistem pemberian air untuk daerah pertanian guna melindungi tanaman dari dampak buruk kekeringan ataupun curah hujan rendah. Irigasi berperan juga dalam pembangunan bendungan dan sistem kanal agar suplai air untuk tanaman bisa teratur. Berikut ini adalah faktor yang menegaskan pentingnya irigasi.

a. Curah hujan rendah ( curah hujan tidak cukup)

b. Pendistribusian atau penyaluran air yang tidak merata c. Perbaikan untuk tanaman sepanjang tahun

d. Pengembangan pertanian pada daereah kering atau gurun ( Basak, 1999).

Berdasarkan Tingkatan, jaringan irigasi terbagi atas :

- Jaringan irigasi teknis ( seluruh sistem dapat diatur dengan cara teknis, ada alat ukur, dimulai dari bangunan utama, saluran induk, sampai dengan box tersier dan saluran pembuang), luas irigasi teknis di Sumatera Utara ± 127.072 Ha.

- Jaringan irigasi setengah teknis ( sistem irigasi sebagian memakai alat ukur dan sebagian lagi tidak), luasan jaringan ini di Sumatera Utara ± 116.428 Ha.

(3)

- Jaringan irigasi sederhana ( sistem irigasi tanpa menggunakan alat ukur/ pintu- pintu masih sangat sederhana dan pada umumnya dimulai dari bangunan utama sampai dengan saluran tersier masih sangat sederhana dan sebahagian asli dari bangunan alam). Luas jaringan ini di Sumatera Utara ± 35.696 Ha. Berdasarkan data di atas maka total luas irigasi di Sumatera Utara saat ini ialah 279.201 Ha (Hasibuan, 1998).

Saluran irigasi di daerah irigasi teknis dibedakan menjadi saluran irigasi pembawa dan saluran pembuang. Ditinjau dari jenis dan fungsinya saluran irigasi pembawa dapat dibedakan menjadi saluran primer, sekunder, tersier serta kuarter. Ditinjau dari letaknya, saluran irigasi pembawa dapat pula dibedakan menjadi saluran garis tinggi/ kontur dan saluran garis punggung (Mawardi, 2007).

Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur. Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang. Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier. Untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil. Pembagian air, eksploitasi dan perneliharaan di petak tersier menjadi tanggungjawab para petani yang mempunyai lahan di petak yang bersangkutan dibawah bimbingan pemerintah. Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder. Batas-batas petak sekunder pada urnumnya berupa tanda topografi yang jelas misalnya saluran drainase. Luas petak sukunder dapat

(4)

berbeda-beda tergantung pada kondisi topografi daerah yang bersangkutan. Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang mengambil langsung air dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh satu saluran primer yang mengambil air langsung dari bangunan penyadap ( Hariany, dkk., 2011).

Kinerja Sistem Irigasi

Kinerja jaringan irigasi tercermin dari kemampuannya untuk mendukung ketersediaan air irigasi pada areal layanan irigasi (command area) yang kondusif untuk penerapan pola tanam yang direncanakan. Kinerja jaringan irigasi yang buruk mengakibatkan luas areal sawah yang irigasinya baik menjadi berkurang. Secara umum, kinerja jaringan irigasi yang buruk mengakibatkan meningkatnya water stress yang dialami tanaman (baik akibat kekurangan ataupun kelebihan air) sehingga pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman tidak optimal. Kerugian yang timbul akibat water stress tidak hanya berupa produktivitas tanaman sangat menurun, tetapi mencakup pula mubazirnya sebagian masukan usaha tani yang telah diaplikasikan (pupuk, tenaga kerja, dan lain-lain).Perbaikan kinerja jaringan irigasi mencakup perangkat lunak maupun perangkat kerasnya. Secara normatif, monitoring dan evaluasi kinerja jaringan di level primer dan sekunder telah dilakukan oleh instansi terkait dan program rehabilitasinya telah pula dirumuskan (Sumaryanto, dkk., 2006).

Pengurusan dan pengaturan air irigasi dan jaringan irigasi beserta bangunan pelengkapnya yang ada di dalam wilayah daerah, diserahkan kepada pemerintah daerah yang bersangkutan dengan berpedoman kepada ketentuan- ketentuan dalam Peraturan Pemerintah yang bersangkutan, kecuali ditetapkan lain

(5)

pengaturan atas segala hal yang berhubungan dengan bidang irigasi menjadi tugas dan wewenang pemerintah daerah (Soediro, 1991).

Setiap komponen indikator kinerja sistem irigasi memiliki rentang nilai 1 hingga 4. Komponen- komponen indikator kinerja sistem irigasi dalam Setyawan, dkk., (2011) dapat dilihat pada Lampiran 2. Komponen indikator yang telah diketahui nilai atau skornya, dikalikan dengan bobotnya, kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh jumlah nilai total komponen- komponen indikator dengan rentang nilai 1 hingga 4. Setelah itu ditentukan kriteria kinerja sistem irigasi berdasarkan Tabel 3. Secara sederhana perhitungan jumlah nilai total komponen – komponen indikator kinerja sistem irigasi dapat dirumuskan sebagai berikut :

Σ I = I1 x B1 + I2 xB2 … … + In x Bn ……… (1) dimana :

Σ I = Jumlah nilai total komponen indikator kinerja sistem irigasi I = Nilai komponen Indikator

B = Bobot indikator ( % )

Kinerja Operasi dan Pemeliharaan Sistem Irigasi

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 2006 Tentang Irigasi menyatakan bahwa : Pasal 1 (37) Operasi jaringan irigasi adalah upaya pengaturan air irigasi dan pembuangannya, termasuk kegiatan membuka menutup pintu bangunan irigasi, menyusun rencana tata tanam, menyusun sistem golongan, menyusun rencana pembagian air, melaksanakan kalibrasi pintu/ bangunan, mengumpulkan data, memantau, dan mengevaluasi. (38) Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar

(6)

selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya.

Operasi dan pemeliharaan merupakan masalah utama dalam sektor irigasi dan bagian dari manajemen irigasi. Operasi mengacu pada keseluruhan tugas yang harus diimplementasikan oleh mereka yang bertanggung jawab terhadap manajemen irigasi. Tugas pokoknya adalah pengalokasian dan pendistribusian untuk berbagai pemakai air yang berbeda dan perencanaan pola eksploitasi temporal yang menyeluruh bagi penyediaan air dari sumber utama. Pemeliharaan mengacu pada serangkaian upaya yang harus dilakukan untuk mempertahankan integritas bangunan- bangunan dan kemampuan jaringan untuk menyalurkan air secara terkendali (Varley, 1993).

Adapun kegiatan operasi jaringan irigasi dalam Sudarmanto (2013) ialah : - Pengumpulan data ( debit, hujan, luas tanam, dan lain-lain).

- Membuat rencana penyediaan air tahunan, rencana tata tanam tahunan, rencana pengeringan dan lain-lain.

- Melaksanakan pembagian dan pemberian air ( termasuk pekerjaan membuat laporan permintaan air, mengisi papan operasi dan mengatur bukaan pintu). - Mengatur pintu- pintu air pada bending berkaitan dengan datangnya debit sungai

banjir.

- Mengatur pintu kantong lumpur untuk menguras endapan lumpur. - Koordinasi antar instansi terkait

- Monitoring dan evaluasi kegiatan operasi jaringan irigasi. - Kalibrasi alat pengukur debit.

(7)

Komponen, kriteria dan katagori penilaian kinerja Operasi dan Pemeliharaan ( O& P) Irigasi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komponen penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi

Komponen Penilaian Kriteria Penilaian Kategori Penilaian

Kinerja fungsional Infrastruktur jaringan irigasi

Kondisi Fisik Infrastruktur Baik, Rusak Sedang,

Rusak Berat

Kondisi Fungsional

Infrastruktur

Baik, Terganggu Ringan, Terganggu Berat

Kinerja Pelayanan Air Tingkat Kecukupan Air Berlebih, cukup, kurang

Tingkat Ketepatan Pemberian Air

Tepat, kadang terlambat, Sering Terlambat

Kinerja Kelembagaan

Pemerintah Manajemen Kelembagaan Baik, Cukup, Kurang

Ketersediaan Dana Berlebih, cukup, kurang

SDM Berlebih, cukup, kurang

Kinerja Kelembagaan

Petani

Struktur Kelembagaan (AD/ART, anggota, Program Kerja), Prasarana (fasilitas dan dana) dan keaktifan anggota

Baik, Cukup, Kurang

Sumber : Setyawan, dkk., 2011.

Manajemen Operasi dan Pemeliharaan (O & P) yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi merupakan suatu kesatuan yang utuh dan merupakan sistem proses. Manajemen O & P yang optimal membutuhkan monitoring yang kontiniu untuk mendapatkan data dan informasi sebagai landasan evaluasi untuk menentukan langkah atau tindakan selanjutnya agar dapat dipertahankan keberlanjutan fungsi dan manfaat jaringan- jaringan irigasi tersebut sesuai dengan tujuan pengolahannya. Evaluasi sebagai bagian dalam Operasi dan Pemeliharaan (O & P) sistem irigasi merupakan umpan balik ( feedback ) dalam manajemen irigasi untuk mengakses derajat pencapaian tujuan sistem irigasi. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui hasil, akibat dan dampak dari pengelolaan irigasi (Suryono, dkk., 2003).

(8)

Tolok ukur yang diterapkan untuk mengevaluasi kinerja Operasi dan Pemeliharaan ( O&P) irigasi mencakup aspek-aspek berikut:

1. Tolok ukur keluaran O&P jaringan irigasi sebagai penyedia, penyalur, dan distribusi air. Terdapat empat indikator yang terkait dengan aspek ini:

a. Kehandalan penyampaian air (Reliability of Delivery – KPA):

rencana aktual Q Q KPA= ………..……….(2) b. Kemerataan penjatahan air antar petak tertier (Water Allocation Equity/

WAE): Hilir Hulu KPA KPA WAE = ……….………..(3) KPA rata -rata dimanaKPA=

c. Kemampuan untuk melakukan drainase yang baik (tercermin dari perbandingan antara kondisi aktual dengan yang direncanakan).

d. Ketersediaan dana O & P irigasi, baik dari swadaya petani maupun dari pemerintah.

2. Tolok ukur menurut sudut pandang petani. Ini dapat dinilai melalui:

a. Tingkat kecukupan, yakni perbandingan tebal (depth) pemberian air irigasi aktual terhadap tebal air yang diinginkan petani (P3A).

b. Ketepatan waktu, yakni perbandingan antara waktu pemberian air menurut kondisi akutal terhadap jadwal yang diinginkan petani . Dalam konteks ini difokuskan pada ketepatan waktu kedatangan pasokan air irigasi meskipun sebenarnya dimensinya juga mencakup durasinya.

(9)

Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dilaksanakan sesuai dengan norma, standar, pedoman, dan manual yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 56 (1) Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/ kota sesuai dengan kewenangannya. (2) Perkumpulan petani pemakai air dapat berperan serta dalam operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. (3) Perkumpulan petani pemakai air dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder. (4) Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder dilaksanakan atas dasar rencana tahunan operasi dan pemeliharaan yang disepakati bersama secara tertulis antara pemerintah, perkumpulan petani pemakai air, dan pengguna jaringan irigasi di setiap daerah irigasi. (5) Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab P3A (Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006)

Program pembangunan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengelolaan sumber daya air dalam Dinas PSDA (2013) adalah sebagai berikut : a. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengelolaan

sumber daya air yang merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun pada daerah irigasi dan rawa untuk luasan 1000 sampai dengan 3000 Ha atau daerah lintas kabupaten/ kota.

b. Rehabilitasi atau perbaikan dan pembangunan infrastruktur jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengelolaan sumber daya air untuk luasan 1000 sampai dengan 3000 Ha atau daerah lintas kabupaten/ kota.

(10)

c. Pembinaan dan pembiayaan organisasi pemakai air dalam pengelolaan jaringan pengelolaan sumber daya air untuk luasan 1000 sampai dengan 3000 Ha atau daerah lintas kabupaten/ kota.

Untuk menilai kinerja operasi dan penialaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi, maka perlu diketahui bobot penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sisten irigasi untuk setiap kriteria penilaian. Bobot penilaian operasi dan pemeliharaan kinerja sistem irigasi, dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Bobot penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi

Sumber : Setyawan, dkk., 2011 Komponen Penilaian Kriteria Penilaian Bobot (%) Nilai 1 2 3 4 Kinerja Fungsional Infrastruktur Jaringan Irigasi Kondisi Fisik Infrastruktur 14 Sangat Buruk

Buruk Baik Sangat

Baik Kondisi Fungsional Infrastruktur 14 Sangat Buruk

Buruk Baik Sangat

Baik Kinerja Pelayanan Air Tingkat Kecukupan Air 15 Sangat Kurang

Kurang Cukup Sangat

Cukup Tingkat Ketepatan Pemberian Air 15 Sangat Terlambat

Terlambat Tepat Sangat

Tepat Kinerja Kelembagaan Pemerintah Manajemen Kelembagaan 10 Sangat Buruk

Buruk Baik Sangat

Baik Ketersediaan Dana 11 Tidak Memadai Kurang Memadai Memadai Sangat Memadai SDM 10 Tidak Memadai Kurang Memadai Memadai Sangat Memadai Kinerja Kelembagaan Petani Struktur Kelembagaan (AD/ART, anggota, program kerja) Prasarana dan Keaktifan Anggota 11 Sangat Buruk

Buruk Baik Sangat

(11)

Setelah bobot penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi diketahui, maka dapat dianalisis kriteria kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi, dengan menggunakan Tabel 3.

Tabel 3. Kriteria O & P sistem irigasi

No Jumlah Skor Kriteria

1. 3 – 4 Sangat Baik

2. 2 – 2,9 Baik

3. 1 – 1,9 Sedang

4. < 1 Buruk

Sumber : Setyawan, dkk., 2011

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 32 Tahun 2007 dinyatakan bahwa : Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya melalui kegiatan perawatan, perbaikan, pencegahan dan pengamanan yang harus dilakukan secara terus menerus. Ruang lingkup kegiatan pemeliharaan jaringan meliputi :

a. Inventarisasi kondisi jaringan irigasi. b. Perencanaan.

c. Pelaksanaan.

d. Pemantauan dan evaluasi.

Kinerja Fungsional dan Infrastruktur Jaringan Irigasi

Kinerja Fungsional dan Infrastruktur Jaringan Irigasi meliputi kondisi fisik infrastruktur dan kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasi. Berdasarkan Peraturan Menteri No. 32 tahun 2007 Tentang Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dinyatakan bahwa inventarisasi jaringan irigasi dilakukan untuk mendapatkan data jumlah, dimensi, jenis, kondisi dan fungsi seluruh aset irigasi serta data ketersediaan air, nilai aset jaringan irigasi dan areal pelayanan pada

(12)

setiap daerah irigasi. Inventarisasi jaringan irigasi dilaksanakan setiap tahun mengacu pada ketentuan/ pedoman yang berlaku. Untuk kegiatan pemeliharaan dari inventarisasi tersebut yang sangat diperlukan adalah data kondisi jaringan irigasi yang meliputi data kerusakan dan pengaruhnya terhadap areal pelayanan. Kondisi fisik infrastruktur jaringan irigasi

Pemberian air irigasi dari hulu (upstream) sampai dengan hilir (downstream) memerlukan sarana dan prasarana irigasi yang memadai. Sarana dan prasarana tersebut dapat berupa: bendungan, bendung, saluran primer dan sekunder, box bagi, bangunan-bangunan ukur, dan saluran tersier serta saluran Tingkat Usaha Tani (TUT). Rusaknya salah satu bangunan-bangunan irigasi akan mempengaruhi kinerja sistem yang ada, sehingga mengakibatkan efisiensi dan efektifitas irigasi menurun (Direktorat Pengelolaan Air Irigasi, 2014).

Pemeliharaan jaringan irigasi meliputi : perawatan, perbaikan, pencegahan dan pengamanan. Dalam pemeliharaan jaringan irigasi juga terdapat kegiatan inspeksi jaringan irigasi, yaitu : pemeriksaan jaringan irigasi yang dilakukan secara rutin setiap periode tertentu yaitu 7 hari sekali untuk mengetahui kondisi jaringan irigasi ( Mansoer, 2013).

Kondisi fisik jaringan irigasi menyangkut jumlah, dimensi, jenis dan keadaan fisik suatu jaringan irigasi. Dalam Peraturan Menteri No. 32 Tahun 2007 kondisi fisik infrastruktur jaringan irigasi dapat diklasifikasikan seperti yang terlihat pada Tabel 4.

(13)

Tabel 4. Klasifikasi kondisi fisik jaringan irigasi

No. Tingkat Kerusakan Jaringan Klasifikasi Keterangan

1. < 10 % Kondisi Baik Pemeliharaan rutin

2. 10- 20 % Kondisi Rusak Ringan Pemeliharaan berkala

3. 21-40 % Kondisi Rusak Sedang Pemeliharaan berat

4. >40 % Kondisi Rusak Berat Rehabilitasi

Sumber : Peraturan Menteri No. 32 Tahun 2007

Sedangkan untuk kriteria kondisi fisik infrastruktur jaringan irigasi dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kondisi fisik infrastruktur jaringan irigasi

No. Kondisi Fisik Infrastruktur Kriteria

1. Tingkat kerusakan < 10 % Sangat Baik

2. Tingkat kerusakan 10% - 20 % Baik

3. Tingkat kerusakan 21% - 40 % Buruk

4. Tingkat kerusakan > 40 % Sangat Buruk

Penilaian kondisi fisik infrastruktur dalam Mansoer (2013) dapat diketahui dengan cara berikut :

- Indikator bangunan utama ( Bu) : Mercu bendung, penguras, intake dan kantong lumpur yang berfungsi baik ( Buf ) / jumlah total bangunan utama (But) kemudian dikali bobotnya.

Atau : Bu = Buf

But x bobot ………...………(4)

- Indikator saluran irigasi (Is) : panjang saluran berfungsi baik (Sf) / panjang saluran total (St) kemudian dikali dengan bobotnya.

Atau : Is = Sf

St x bobot ………...………(5)

- Indikator bangunan (Ib) : Jumlah bangunan yang berfugsi baik (Bf) / jumlah bangunan total (Bt) kemdian dikali dengan bobotnya.

Atau : Ib = Bf

Bt x bobot ………...………(6)

Setelah nilai masing-masing indikator diketahui, maka dihitung persentase kondisi fisik infrastruktur dengan rumus :

(14)

Kondisi fisik infrastruktur = Bu + Is + Ib ………...………(7) Bobot indikator untuk menentukan kriteria kondisi fisik jaringan irigasi, dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Bobot indikator kondisi fisik infrastruktur jaringan irigasi

No. Indikator Bobot (%)

1. Bangunan Utama 38.65

2. Saluran Pembawa 31.65

3. Bangunan pada Saluran 29.65

Sumber : Mansoer (2013)

Kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasi

Kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasi erat kaitannya terhadap kondisi fisik infrastruktur jaringan irigasi. Jika kondisi fisik infrastruktur baik, maka hampir dapat dipastikan kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasinya juga demikian. Penilaian kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasi dapat dilakukan dengan cara berikut :

- Indikator saluran irigasi (Is) : panjang saluran berfungsi baik (Sf) / panjang saluran total (St) kemudian dikali 100%.

Atau : Is = Sf

St x 100% ………...………(8)

- Indikator bangunan irigasi (Ib) : Jumlah bangunan irigasi yang berfugsi baik (Bf) / jumlah bangunan total (Bt) kemdian dikali dengan bobotnya.

Atau : Ib = Bf

Bt x 100% ………...………(9)

Setelah nilai masing-masing indikator diketahui, maka dihitung persentase kondisi fisik infrastruktur dengan rumus :

Kondisi fungsional infrastruktur = Is+Ib

2

……….…(10)

(15)

Tabel 7. Kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasi

No. Kondisi Fungsional Infrastruktur Kriteria

1. Tingkat kerusakan fungsional jaringan < 10 % Sangat Baik

2. Tingkat kerusakan fungsional 10% - 20 % Baik

3. Tingkat kerusakan fungsional jaringan21% - 40 % Buruk

4. Tingkat kerusakan fungsional jaringan> 40 % Sangat Buruk

Dalam pengelolaan irigasi, untuk menjaga fungsi irigasi perlu dilakukan kegiatan rehabilitasi. Praktek di lapangan selama ini dibedakan rehabilitasi ringan, sedang dan berat. Rehabilitasi ringan dilakukan akibat akumulasi sisa kerusakan yang tidak bisa dilakukan perbaikan dalam pemeliharaan tahunan. Rehabilitasi sedang dilakukan akibat kerusakan yang menumpuk akibat lalainya kegiatan O & P selama periode waktu menengah, yaitu 10 – 20 tahun. Rehabilitasi berat dilakukan akibat bencana alam atau lalainya kegiatan O & P dalam jangka waktu yang lama, sehingga kinerja irigasi jatuh di bawah kinerja ekonomis.

Kinerja Pelayanan Air

Kinerja pelayanan air meliputi : tingkat kecukupan air dan tingkat ketepatan memperoleh air. Rencana penyediaan air tahunan dibuat oleh instansi teknis tingkat kabupaten/ tingkat provinsi sesuai dengan kewenangannya berdasarkan ketersediaan air (debit andalan) dan mempertimbangkan usulan rencana tata tanam dan rencana kebutuhan air tahunan, kondisi hidroklimatologi.

Tingkat kecukupan air

Masalah air bagi tanaman pangan tidak hanya didominasi oleh daerah beriklim kering. Di daerah beriklim basah air juga merupakan faktor pembatas terhadap tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Keberhasilan suatu kegiatan pertanian sangat ditentukan oleh perimbangan antara jumlah air yang tersedia di lahan dengan jumlah air yang dibutuhkan tanaman selama masa pertumbuhannya.

(16)

Jumlah air yang tersedia pada suatu lahan pertanian dapat dilihat dari kondisi curah hujan, sedangkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman dapat digambarkan dengan jumlah air yang dibutuhkan untuk evapotranspirasi. Jumlah air yang tersedia dan jumlah air yang dibutuhkan akan mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu, sehingga pada suatu peiode dapat terjadi kelebihan air dan pada periode lainnya dapat terjadi kekurangan air bagi tanaman ( Hidayat, dkk., 2006)

Tingkat kecukupan air ditandai dengan kemampuan suatu sumber air untuk memenuhi kebutuhan air untuk keperluan tertentu. Pada areal beririgasi, lahan dapat ditanami padi 3 kali dalam setahun, tetapi pada sawah tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija. Pergiliran tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi. Biasanya setelah satu tahun menanam padi, untuk meningkatkan produktivitas lahan, seringkali dilakukan tumpang sari dengan tanaman semusim lainnya, misalnya padi gogo dengan jagung atau padi gogo di antara ubi kayu dan kacang tanah. Pada pertanaman padi sawah, tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacang- kacangan (Prihatman, 2000).

Tingkat kecukupan air dapat diketahui dengan cara berikut ini : jika dalam satu tahun pada suatu areal sawah tertentu dapat ditanami padi 3 kali dan air yang dialirkan memadai, maka tingkat kecukupan airnya dapat dikatagorikan sangat cukup, jika areal sawah dapat ditanami dua kali, maka tingkat kecukupan airnya dapat dikatagorikan cukup. Jika areal sawah hanya dapat ditanami padi satu kali dalam setahun meskipun air yang dialirkan sangat memadai, tingkat kecukupan airnya dapat dikatagorikan kurang dan jika suatu areal sawah hanya dapat satu

(17)

kali ditanami padi dalam satu tahun serta air yang dialirkan tidak memadai, maka tingkat kecukupan air pada suatu daerah irigasi dapat dikatagorikan sangat kurang. Tingkat ketepatan pemberian air

Dampak perubahan perilaku kekeringan memunculkan masalah dalam kegiatan pertanian, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air tanaman. Data lapangan juga menunjukkan kekeringan agronomis tidak hanya terjadi pada lahan kering dan tadah hujan, tetapi juga melanda lahan sawah beririgasi, baik irigasi semiteknis maupun teknis. Sehingga kondisi ini memunculkan masalah baru pula terutama dalam hal ketepatan waktu pemberian air ke areal lahan. Penentuan kebutuhan air tanaman didasarkan pada jenis tanaman yang ada dan atau rencana tanam untuk masa yang akan datang. Sedangkan ketersediaan air didasarkan pada potensi air hujan, air sungai dan sumber air lainnya. Faktor kehilangan air, disamping untuk tanaman itu sendiri juga diperhitungkan kehilangan air karena perkolasi, evapotranspirasi serta efisiensi penyampaian atau penyaluran air dari sungai atau bendungan ( Suprapto, dkk., 2008).

Tingkat ketepatan pemberian air erat kaitannya terhadap tingkat kecukupan air. Jika tingkat kecukupan air ditandai dengan kemampuan suatu sumber air untuk memenuhi kebutuhan air untuk keperluan tertentu, maka tingkat ketepatan pemberian air dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi untuk menyatakan kesesuaian waktu pemberian air sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama.

Tingkat ketepatan pemberian air dapat dianalisis dengan cara berikut ini. Jika pemberian air telah sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama, maka tingkat ketepatan pemberian airnya dapat dikatagorikan sangat tepat. Jika

(18)

jadwal pemberian air terlambat beberapa jam dari jadwal yang telah disepakati bersama, maka tingkat ketepatan pemberian airnya masih dapat dikatagorikan tepat. Jika jadwal pemberian air terlambat lebih dari satu hari, maka tingkat ketepatan pemberian airnya dikatagorikan terlambat dan jika jadwal pemberian airnya terlambat hingga lebih dari 3 hari, maka tingkat ketepatan pemberian dikatagorikan sangat terlambat.

Kinerja Kelembagaan Pemerintah

Indikator kelembagaan pemerintah dapat meliputi : manajemen kelembagaan, ketersediaan dana dan Sumber Daya Manusia ( SDM).

Manajemen kelembagaan.

Manajemen kelembagaan meliputi elemen- elemen yang terkait dalam kegiatan O & P sistem irigasi serta tugas yang dimilikinya.

a. Kepala ranting/ pengamat/ Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) / cabang dinas/ korwil

− Mempersiapkan penyusunan Rencana Tata Tanam Global (RTTG) dan Rencana Tata Tanam Detail (RTTD) sesuai usulan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) atau Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A)

− Rapat di kantor ranting/ pengamat/ UPTD/ cabang dinas/ korwil setiap minggu untuk mengetahui permasalahan operasi, hadir para mantri/ juru pengairan, Petugas Pintu Air (PPA), Petugas Operasi Bendung ( POB) serta P3A/ GP3A/ IP3A.

(19)

− Membina P3A/ GP3A/ IP3A untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan operasi

− Membantu proses pengajuan bantuan biaya operasi yang diajukan P3A/ GP3A/ IP3A.

− Membuat laporan kegiatan operasi ke dinas. b. Petugas mantri / juru pengairan

− Membantu kepala ranting/ pengamat/ UPTD/ cabang dinas/ korwil untuk tugas- tugas yang berkaitan dengan operasi.

− Melaksanakan instruksi dari ranting/ pengamat/ UPTD/ cabang dinas/ korwil tentang pemberian air pada tiap bangunan pengatur.

− Memberi instruksi kepada PPA untuk mengatur pintu air sesuai debit yang ditetapkan.

− Memberi saran kepada petani tentang awal tanam & jenis tanaman. − Pengaturan giliran.

− Mengisi papan operasi/ eksploitasi. − Membuat laporan operasi.

− Pengumpulan data debit.

− Pengumpulan data tanaman & kerusakan tanaman.

− Pengumpulan data curah hujan (sesuai kebutuhan daerah). − Menyusun data mutasi baku sawah (sesuai kebutuhan daerah). − Mengumpulkan data usulan rencana tata tanam.

− Melaporkan kejadian banjir kepada ranting/ pengamat.

− Melaporkan jika terjadi kekurangan air yang kritis kepada pengamat. c. Staf ranting/ pengamat/ UPTD/ cabang dinas/ korwil

(20)

− Membantu kepala ranting/ pengamat/ UPTD/ cabang dinas/ korwil dalam pelaksanaan operasi jaringan irigasi.

d. Petugas Operasi Bendung (POB)

− Melaksanakan pengaturan pintu penguras bendung terhadap banjir yang datang

− Melaksanakan pengurasan kantong lumpur

− Membuka dan menutup pintu pengambilan utama, sesuai debit dan jadwal yang direncanakan.

− Mencatat besarnya debit yang mengalir atau masuk ke saluran induk pada blangko operasi.

− Mencatat elevasi muka air banjir e. Petugas Pintu Air (PPA)

− Membuka dan menutup pintu air sehingga debit air yang mengalir sesuai dengan perintah juru/ mantri pengairan.

( Peraturan Menteri No. 32 Tahun 2007 ).

Manajemen kelembagaan dapat dianalisis dengan cara berikut ini. Apabila kepala ranting, petugas mantri, staf ranting, POB dan PPA tersedia dalam suatu sistem irigsai maka manajemen kelembagaannya dapat dikategorikan sangat baik, jika salah satu petugas tidak tersedia, maka masih dapat dikategorikan manajemen kelembagaan irigasi tersebut baik. Jika dua dari lima kategori petugas di atas tidak tersedia, maka manajemen kelembagaannya dapat dikategorikan buruk dan jika lebih dari dua kategori petugas tidak tersedia dalam suatu sistem irigasi, maka dapat dikategorikan manajemen kelembagaannya sangat buruk.

(21)

Ketersediaan dana

Urusan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dan juga daerah rawa menjadi wewenang dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air. Untuk itu, berbagai program dan kegiatan dilakukan guna meningkatkan kinerja operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, begitupula untuk daerah rawa.

Adapun progam dari Dinas PSDA tersebut ialah : program pembangunan dan pengelolaan infrastruktur irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya dengan kegiatan diantaranya : perencanaan, pengendalian, pengawasan dan pembinaan O & P jaringan irigasi dan rawa, O & P jaringan Irigasi (1.000 Ha - 3.000 Ha) dan lintas kabupaten/ kota pada UPT PSDA, O & P jaringan rawa (1.000 Ha - 3.000 Ha) dan lintas kabupaten/ kota pada UPT PSDA, koordinasi pembina P3A untuk pemberdayaan P3A/ GP3A/ IP3A, konsultasi O & P pengelolaan SDA Provinsi Sumatera Utara dan kabupaten/ kota, rehabilitasi/ perbaikan dan peningkatan infrastruktur irigasi ( luasan 1.000 Ha s/d 3.000 Ha atau daerah lintas kabupaten/ kota) rehabilitasi/ perbaikan dan peningkatan infrastruktur rawa (luasan 1.000 Ha s/d 3.000 Ha atau daerah lintas kabupaten/ kota) penunjang kegiatan program lainnya (Dinas PSDA, 2013).

Ketersediaan dana dapat diketahui melalui rencana anggaran biaya yang dihitung berdasarkan perhitungan volume dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang berlaku di wilayah setempat. Sumber - sumber pembiayaan pemeliharaan jaringan irigasi berasal dari :

a) Alokasi biaya pemeliharaan dari sumber APBN atau APBD.

(22)

c) Alokasi biaya dari badan usaha atau sumber lainnya. ( Peraturan Menteri No. 32 Tahun 2007).

Bantuan dana untuk irigasi seringkali tersendat- sendat dan sangat rentan terhadap perubahan jumlah dana imbangan rupiah yang harus disediakan dari tahun ke tahun. Akan tetapi, kekurangan – kekurangan dalam O & P jaringan utama bukan hanya karena kurangnya dana, melainkan juga pada cara memanfaatkan dana- dana yang ada . Sebagian besar alokasi dana diserap untuk biaya administrasi kantor, sedangkan kebutuhan yang paling mendasar bagi petugas lapangan seperti alat- alat, material dan transportasi tidak terpenuhi (Varley, 1993).

Sumber daya manusia

Sumber daya manusia menyangkut ketersediaan personil untuk setiap elemen – elemen yang dibutuhkan dalam suatu sistem irigasi. Berikut adalah kebutuhan tenaga pelaksana O & P sistem irigasi :

a. Kepala ranting/ pengamat/ UPTD/ cabang dinas/ korwil : 1 orang + 5 staff per 5.000 – 7.500 Ha.

b. Mantri / juru pengairan : 1 orang per 750 – 1.500 Ha.

c. Petugas Operasi Bendung (POB) : 1 orang per bendung, dapat ditambah beberapa pekerja untuk bendung besar.

d. Petugas Pintu Air (PPA) : 1 orang per 3 – 5 bangunan sadap dan bangunan bagi pada saluran berjarak antara 2 - 3 km atau daerah layanan 150 sd. 500 Ha. e. Pekerja/ Pekarya Saluran (PS) : 1 orang per 2 - 3 km panjang saluran. ( Peraturan Menteri No. 32 Tahun 2007).

(23)

Sumber daya manusia dapat dianalisis dengan cara berikut ini. Apabila jumlah petugas pada masing – masing kategori telah terpenuhi, maka SDM sangat memadai. Jika kategori petugas telah terpenuhi namun personil petugasnya belum memenuhi hal di atas, maka SDM masih dapat dikategorikan memadai, jika satu hingga dua kategori petugas tidak terpenuhi, maka SDM dikategorikan kurang memadai dan jika lebih dari dua kategori perugas yang tidak terpenuhi, maka SDM dikategorikan sangat buruk.

Kinerja Kelembagaan Petani

Pengembangan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab perkumpulan petani pemakai air. Artinya, segala tanggung jawab pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi di tingkat tersier menjadi tanggung jawab lembaga Perkumpulan Petani Pemakai Air atau P3A (pada beberapa daerah dikenal dengan Mitra Cai, Subak, HIPPA). Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) adalah kelembagaan yang ditumbuhkan/ dibentuk petani yang mendapat manfaat secara langsung dari pengelolaan air dan jaringan irigasi, air permukaan, embung dan air tanah untuk mewujudkan sistem pengembangan dan pengelolaan air irigasi yang baik dan berkelanjutan, diperlukan kelembagaan yang kuat, mandiri, dan berdaya yang pada akhirnya mampu meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian dalam mendukung upaya peningkatan kesejahteraan petani. Kelembagaan petani pemakai air adalah lembaga/ institusi yang dibentuk oleh petani dan atau masyakarat dan atau pemerintah yang bertujuan untuk melaksanakan pengembangan dan atau pengelolaan air irigasi dalam rangka pemenuhan untuk mencukupi kebutuhan air irigasi di lahan pertanian para petani tersebut (Direktorat Pengelolaan Air Irigasi, 2014).

(24)

Dalam rangka membentuk organisasi pemakai air pada tingkat desa, pemerintah telah berupaya mengorganisasikan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dengan memilih para pengurus dari kalangan petani sendiri. Upaya ini tidak selalu berhasil dan kira-kira hanya 15 % saja yang aktif. Tingkat keaktifan ini dapat dipengaruhi oleh tingkat kewengan P3A atas sumber utama yang terbatas (Varley, 1993)

Kinerja kelembagaan petani dapat dilihat dari struktur kelembagaan petani, dalam hal ini ialah menyangkut P3A, yang meliputi ketersediaan AD/ ART, program kerja. Selain itu kinerja kelembagaan petani dapat pula dilihat dari prasarana dan keaktifan anggota.

Kinerja kelembagaan petani dapat dianalisis dengan cara berikut ini. Apabila struktur kelembagaan, prasarana dan keaktifan anggota memadai, misalnya saja AD/ ART tersedia, program kerja berjalan dengan baik, prasarana seperti peralatan bertani, gudang dan lain sebainya lengakap serta anggota turut aktif dalam kegiatan yang menyangkut irigasi maka kinerja kelembagaan petani dapat dikategorikan sangat baik. Jika salah satu elemen tidak memadai, misalnya buruknya kondisi prasarana, maka kelembagaan petani masih dapat dikatakan baik, jika dua diantara elemen kelembagaan petani tidak berjalan dengan baik maka dikatakan kinerja kelembagaan petani ialah buruk dan jika ketiga elemen tesebut tidak tersedia, maka kinerja kelembagaan petani tersebut dikatagorikankan sangat buruk.

Figur

Tabel 1.  Komponen penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi  Komponen Penilaian  Kriteria Penilaian  Kategori Penilaian  Kinerja fungsional

Tabel 1.

Komponen penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi Komponen Penilaian Kriteria Penilaian Kategori Penilaian Kinerja fungsional p.7
Tabel 2.  Bobot penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi

Tabel 2.

Bobot penilaian kinerja operasi dan pemeliharaan sistem irigasi p.10
Tabel 3.  Kriteria O &amp; P sistem irigasi

Tabel 3.

Kriteria O &amp; P sistem irigasi p.11
Tabel 4.  Klasifikasi kondisi fisik jaringan irigasi

Tabel 4.

Klasifikasi kondisi fisik jaringan irigasi p.13
Tabel 7.  Kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasi

Tabel 7.

Kondisi fungsional infrastruktur jaringan irigasi p.15

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :