• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh RENCANA PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMP IPS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Contoh RENCANA PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMP IPS"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA PENELITIAN TINDAKAN

KELAS

Ditulis pada 30 Juni 2008 oleh Abdul Majid

A. Judul Penelitian

Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Ekonomi Menggunakan Model Examples Non Examples Dengan Pendekatan SAVI di Kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak.

B. Latar Belakang

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting, yaitu untuk menjamin kelangsungan kehidupan dan perkembangan bangsa itu sendiri. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003:3) pasal 1 yang berbunyi:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memerlukan guru dan murid karena salah satu unsur dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang merupakan dua bentuk kegiatan yang tidak dapat dipisahkan antar satu dengan lainnya.

▸ Baca selengkapnya: contoh daftar inventaris kelas smp

(2)

dimana pendidikan saat ini terus berbenah diri menemukan cara yang terbaik untuk mencapai hasil yang sesuai dengan tuntutan masyarakat.

Untuk meningkatkan mutu dan hasil belajar dalam pengajaran seorang guru dituntut supaya menguasai dan menerapkan berbagai metode pengajaran IPS Ekonomi.

Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru, dan pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran masih sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang mereka butuhkan.

Selama ini proses pembelajaran ekonomi yang ditemui masih secara konvensional, seperti ekspositori, drill atau bahkan ceramah. Proses ini hanya menekankan pada pencapaian tuntutan kurikulum dan penyampaian tekstual semata daripada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu. Kondisi seperti ini tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan. Akibatnya nilai-nilai yang didapat tidak seperti yang diharapkan.

Misalnya sering guru kecewa melihat hasil ulangan harian yang hanya mendapat daya serap kurang dari 60% atau nilai rata-rata kelas kurang dari 5. Kadang-kadang guru merasa prihatin dan ingin memperbaiki keadaan tersebut dengan mencobakan suatu pembelajaran yang belum pernah dilaksanakan, yaitu pendekatan pembelajaran yang akan membuat siswa dapat belajar secara efektif.

▸ Baca selengkapnya: contoh lembar pengesahan penelitian tindakan kelas

(3)

juga harus bertindak secara profesional. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dasar (kompetensi) antara lain sebagai berikut:

Menguasai bahan, mengelola program belajar-mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber, menguasai landasan-landasan kependidikan, mampu mengelola interaksi belajar mengajar, mampu menilai prestasi untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian guna keperluan pengajaran (W. Gulo, 2002:37).

IPS Ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disekolah menengah pertama. Di kalangan siswa terdapat kecenderungan, bahwa mata pelajaran ini kurang diminati. Padahal mata pelajaran ini termasuk mata pelajaran yang di-Ebtanaskan. Kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran ini, dimungkinkan karena kurangnya upaya guru untuk mengingkatkan kreatifitas belajar siswa. Kebanyakan guru masih dominan menggunakan metode ceramah dalam mengajar sehingga tidak terciptanya proses pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi, yang dapat menambah semangat belajar siswa. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar kurang menarik dan membosankan karena siswa tidak dirangsang atau ditantang untuk belajar dan berfikir kreatif.

Dalam proses belajar mengajar, khususnya dalam upaya meningkatkan hasil belajar para siswa, idealnya para guru IPS-Ekonomi dituntut untuk memiliki kemampuan:

1. Memanfaatkan berbagai sumber belajar. 2. Memahami cara berpikir siswa.

3. Memahami cara siswa belajar.

4. Memilih dan menggunakan media secara tepat. 5. Memilih dan menggunakan metode secara tepat.

(4)

Seperti penjelasan di atas, yaitu di dalam pembelajaran mata pelajaran IPS-Ekonomi umumnya para guru lebih banyak menggunakan metode ceramah. Hal ini menyebabkan siswa jadi pasif dan kemampuan berpikirnya tidak berkembang secara baik.

Sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menengah pertama IPS Ekonomi memiliki tujuan. Adapun tujuan mata pelajaran IPS Ekonomi di sekolah menengah pertama adalah sebagai berikut:

1. Mampu menghadapi fakta dan peristiwa ekonomi dilingkungannya.

2. Mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian ekonomi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai tujuan diatas, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah proses belajar mengajar yang terjadi dalam kelas. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan untuk memper suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2).

Proses belajar dapat dirinci kedalam beberapa prinsip dasar. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, kita akan dapat memiliki arah dan pedoman yang jelas dan relalif mudah sehingga lebih cepat berhasil dalam belajar serta akan menentukan metode belajar yang efektif.

Menurut Thursan Hakim (2000:2) adapun prinsip-prinsip belajar tersebut sebagai berikut:

1. Belajar harus berorientasi pada tujuan yang jelas.

2. Proses belajar akan terjadi bila seseorang dihadapkan pada situasi problematis. 3. Belajar dengan pengertian akan lebih bermakna dari pada belajar dengan

hafalan.

4. Belajar merupakan proses yang kontinyu. 5. Belajar memerlukan kemauan yang kuat.

6. Keberhasilan belajar ditentukan oleh banyak faktor.

7. Belajar secara keseluruhan akan lebih berhasil dari pada belajar secara terbagi-bagi.

(5)

9. Belajar memerlukan adanya kesesuaian antara guru dan murid.

10.Belajar memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari pelajaran itu sendiri. Sedangkan mengajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyampaian materi kepada para siswa agar siswa tersebut menjadi tahu dan paham dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan pembelajaran. Agar proses dan pencapaian hasil belajar dapat efesien dalam penggunaan waktu, terarah, tercapainya tujuan yang telah ditetapkan serta terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan siswa dalam belajar tersebut tidaklah mudah, khususnya mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan ekonomi dan pola pikir ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membuat mereka terlibat secara langsung, dan membuat mereka merasakan kegembiraan dalam belajar perlu diciptakan kondisi kelas yang mendukung, dengan setting membuat mereka tetap dalam keadaan belajar. Hal itu dapat terlaksana jika prinsip-prinsip dasar belajar dilaksanakan sepenuhnya.

Prinsip-prinsip dasar tersebut antara lain: 1. Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh. 2. Belajar adalah berkreasi, bukan mengonsumsi. 3. Kerja sama membantu proses belajar.

4. Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan.

5. Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik). 6. Emosi positif sangat membantu pembelajaran.

7. Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis (Meier, 2000:54-55).

(6)

ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar.

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari. Akan tetapi, menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Pendekatan yang dapat digunakan disini adalah pendekatan SAVI. Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.

Unsur-unsur SAVI antara lain:

Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar Visual : Belajar dengan mengamati

Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan berfikir.

Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya, seorang siswa dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi ia dapat belajar jauh lebih banyak jika dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada (I).

(7)

SMP Negeri 7 Pontianak merupakan salah satu diantara Sekolah Menengah Pertama Negeri yang ada dikota Pontianak. Saat ini SMP Negeri 7 Pontianak telah menggunakan KTSP khususnya dikelas VII. Dalam Kurikulum yang berlaku di SMP Negeri 7 Pontianak, IPS Ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada siswa kelas VII yang diajarkan satu jam pelajaran tiap pertemuan perminggu.

Berdasarkan hasil ulangan harian mata pelajaran IPS Ekonomi Semester 1 Tahun Ajaran 2006/2007 kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak menunjukkan nilai rata-rata yang masih rendah, seperti yang terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1: Nilai rata-rata Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Ekonomi kelas VII Semester 1 SMP Negeri 7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.

Kelas Jumlah Siswa Jumlah Nilai Nilai Rata-Rata

VII A

Sumber: Daftar Nilai Guru Mata Pelajaran IPS Ekonomi Kelas VII.

(8)

Tabel 2: Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B Semester 1 SMP Negeri 7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.

(9)
(10)

36.

Jumlah 60.38 Tidak Tundas

Sumber: Daftar Nilai Guru Mata Pelajaran IPS Ekonomi Kelas VII B.

Berdasarkan pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa yang memperoleh nilai ≥ 65 (Ketuntasan) berjumlah 18 orang atau mencapai 34.15% dan yang memperoleh nilai ≤ 65 (Tidak Tuntas) berjumlah 22 orang atau mencapai 61,85%. Maka nilai rata-rata kelas VII B adalah 60.38 dan belum mencapai ketuntasan

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 5 Februari 2007 dengan guru mata pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B (Maskartini. S.pd) di SMP Negeri 7 Pontinak, rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan oleh kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar, kurangnya minat terhadap bahan pelajaran, kurangnya keaktifan siswa serta kurangnya media atau sumber pembelajaran berupa buku paket sehingga menyebabkan siswa bergantung kepada guru sehingga siswa belum dapat belajar secara mandiri dan yang disediakan hanyalah berupa LKS yang didalamnya hanya tertera ringkasan materi dalam skala kecil. Serta dalam kegiatan mengajar guru cenderung menggunakan metode ceramah. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dalam proses belajar.

(11)

beberapa pengertian ekonomi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sesuai dengan tujuan mata pelajaran IPS Ekonomi untuk Sekolah Menengah Pertama.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas mengenai ” Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Ekonomi Menggunakan Model Examples Non Examples Dengan Pendekatan SAVI di Kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak”.

C. Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang, maka yang menjadi masalah umum dalam penelitian ini adalah ”Apakah dengan menggunakan pendekatan SAVI hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Ekonomi pada siswa kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak dapat ditingkatkan?”.

Adapun sub-sub masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar.

2. Kurangnya minat dan motivasi siswa dalam belajar. 3. Kurangnya keaktifan siswa dalam belajar.

4. Kurangnya media atau sumber pembelajaran berupa buku paket.

5. Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. D. Cara Pemecahan Masalah

Sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak dalam pembelajaran IPS Ekonomi adalah peneliti memilih beberapa alternatif antara lain:

(12)

2. Menyarankan kepada siswa untuk melengkapi buku pelajaran yang diperlukan. 3. Dengan memberikan motivasi, membantu siswa yang kesulitan untuk memahami

materi pelajaran dan membantu siswa yang memiliki kesadaran masih rendah dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

4. Memberikan variasi model pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Usaha untuk memecahkan masalah tersebut diatas dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Kolaborasi : Peneliti secara bersama-sama melakukan kegiatan mendiskuksikan hal-hal yang akan dilakukan, utamanya untuk mendalami dan memahami pendekatan SAVI dalam rangka menyiapkan strategi pembelajaran IPS yang sesuai dengan setting kelas yang akan diberi tindakan.

2. Brainstorming : Anggota tim melakukan musyawarah untuk menyusun skenario tindakan yang perlu disiapkan dalam proses pembelajaran dikelas.

3. Observing : Anggota tim peneliti melakukan kegiatan pengamatan terhadap jalannya pemberian tindakan yang dilakukan oleh guru berdasarkan skenario yang telah disiapkan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi keberhasilan maupun kegagalan dan penyebabnya.

4. Refleksi : Anggota tim peneliti melakukan diskusi bersama untuk membahas hasil pengamatan. Hasil kegiatan ini akan memberikan manfaat yang berguna dalam menentukan cara pemecahan masalah yang dihadapi dan sekaligus menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun rencana tidakan berikutnya.

(13)

Setiap aktivitas atau kegiatan yang dilakukan tentunya harus memiliki tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Supaya siswa dapat lebih berkonsentrasi dalam proses pembelajaran. 2. Meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.

3. Meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Bagi Siswa.

a. Dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran ekonomi.

b. Dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih giat khususnya dalam pembelajaran ekonomi.

2. Bagi Guru.

a. Dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SAVI dalam pembelajaran ekonomi.

b. Mampu melakukan penilaian terhadap media yang akan atau yang telah digunakan.

3. Bagi Penulis.

a. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan di bidang pendidikan.

(14)

4. Bagi Lembaga atau Sekolah.

a. Memberikan sumbangan pemikiran yang baik dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

b. Untuk meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan pendekatan SAVI dalam kegiatan belajar mengajar.

G. Defenisi Operasional

Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini, maka perlu dibuat penjelasan istilah atau devinisi-devinisi yang di pakai dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Aktivitas Belajar Siswa.

Aktivitas Belajar Siswa adalah Gerakan yang dilakukan untuk sama-sama aktif ketika belajar dengan memanfaatkan sebanyak mungkin.

2. Mata Pelajaran IPS Ekonomi.

Mata Pelajaran IPS Ekonomi dalam pelaksanaan pembelajarannya lebih menekankan pada cara belajar berfikir sistematis statistik untuk menyusun dan menarik kesimpulan suatu fenomena ekonomi yang data atau faktanya sudah dikumpulkan sebelumnya sebagaimana tercatat dalam Kurikulum Pendidikan Dasar 1994. Mata Pelajaran IPS Ekonomi untuk SLTP dengan tujuan umum sebagai berikut:

a. Mampu memahami fakta dan peristiwa ekonomi dilingkungannya.

b. Mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian ekonomi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

(15)

”Tiap-tiap mata pelajaran atau disiplin ilmu mempunyai struktur tertentu, struktur tersebut terdiri atas konsep-konsep pokok, bila struktur itu dikuasai maka banyak hal lain yang berhubungan dengan itu dapat dipahami maknanya, memahami struktur akan mempengaruhi cara berfikir seseorang sepanjang hidupnya karena ditransfer ke hal-hal lain”.

Sedangkan menurut N. Daljoeni (1999:97) Ekonomi didefinisikan sebagai ”Study pengetahuan yang membahas bagaimana manusia memproduksi, menukarkan dan mendistribusikan sebagai barang dan jasa yang di butuhkan”.

Adapun isi mata pelajaran IPS Ekonomi di SLTP dan Petunjuk Teknis Depdikbud (1994:90) meliputi bahan kajian sebagai berikut:

a. Faktor dan kenyataan keadaan dan peristiwa ekonomi, misalnya kekayaan alam Indonesia dan jumlah penduduk yang besar yang menguntungkan dan dapat merugikan.

b. Pengenalan fakta dan peristiwa ekonomi yang disajikan dengan teori-teori sederhana.

c. Masalah-masalah ekonomi didalam masyarakat yang dikaitkan dengan usaha meningkatkan taraf hidup semua warga negara Indonesia.

d. Tujuan, proses dan hasil pembangunan nasional.

Bahan kajian mata pelajaran IPS Ekonomi tersebut dilakukan secara terpadu dan bertolak dari pemilihan pendekatan, metode media, dan sumber-sumber belajar serta alokasi waktu yang tersedia. Hal diatas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Muhammad Ali (1989:29-37) yang menyatakan bahwa: proses pengajaran itu merupakan suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan, yakni bertujuan dalam suasana yang menyenangkan peserta didik dan mewujudkan pencapaian hasil belajar yang tinggi.

3. Pendekatan SAVI.

(16)

dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.

H. Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan

1. Kerangka Teori.

a. Penelitian Tindakan Kelas

1) Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) disebut dengan classroom action research. Penelitian Tindakan Kelas dapat didepenisikan sebagai suatu entuk kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dan tindakan-tindakan mereka dlam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan (Stephen Kemmis: 1993:44)

Selain itu menurut Rustam Mundilarto, Penelitian Tindakan Kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. PTK memiliki karakteristik sebagai berikut:

a) Masalah berawal dari guru.

b) Tujuannya memperbaiki pembelajaran.

c) Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian.

(17)

Berdasarkan defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, bertujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa meningkat untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahap.

Secara singkat dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Merencanakan Melakukan Tindakan

Mengamati Merefleksi

Gambar 1: Kajian Berdaur A Tahap PTK.

PTK dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Langkah menemukan masalah dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi.

(18)

dipecahkan, dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus pertama. Dengan demikian, berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama guru akan kembali mengikuti langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi pada siklus kedua. Keempat langkah dalam setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut.

GAMBAR SIKLUS PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

R1 L1 L2 M1

L2 R2 M3 R3 M2 Keterangan:

M = Merencanakan

L = Melaksanakan

R = Refleksi

(19)

Gambar 2: Alur Pelaksanaan Tindakan Kelas

Berdasarkan gambar diatas menunjukkan bahwa sebelum melaksanakan tindakan peneliti terlebih dahulu harus merencanakan secara bersama jenis tindakan yang akan dilakukan, setelah rencana disusun secara matang barulah tindakan dilakukan, bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan, peneliti mengamati proses penelitian dan berdasarkan hasil, penelilti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang dilakukan.

2) Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap-tahap yang ditempuh dalam kegiatan ini terdiri atas: a) Monitoring proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

b) Identifikasi temuan masalah.

c) Mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah dan menentukan langkah tindakan mengatasinya.

d) Rencana tindakan.

e) Melakukan observasi pelaksanaan tindakan dan refleksi.

Berdasarkan konsep diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian tindakan kelas adalah suatu metode yang bertujuan melakukan tindakan perbaikan, peningkatan dan juga melakukan suatu perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya agar suatu permasalahan dapat diatasi.

b. Metode Examples Non Examples

(20)

Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus atau gambar yang relevan dengan KD.

2) Langkah-Langkah Model Examples Non Examples

a). Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

b). Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP. c). Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk

memperhatikan atau menganalisa gambar.

d). Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dan analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.

e). Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.

f). Mulai dari komentar atau hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

g). Kesimpulan.

3) Kebaikan dan Kekurangan Model Examples Non Examples a). Kebaikan Model Examples Non Examples

- Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.

(21)

- Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar. - Memakan waktu yang lama.

c. Pendekatan SAVI.

1) Pengertian Pendekatan SAVI.

Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.

Unsur-unsur SAVI, yaitu:

Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat. Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar. Visual : Belajar dengan melihat dan mengamati.

Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan berfikir. a) Belajar Somatis

”Somatis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma. Menurut Meier (2000:92), belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.

(22)

tersebar di seluruh tubuh” atau pada intinya, tubuh adalah pikiran, dan pikiran adalah tubuh. (Meier,2000:93). Jadi, dengan menghalangi pembelajar somatis menggunakan tubuh mereka sepenuhnya dalam belajar, kita menghalangi fungsi pikiran mereka sepenuhnya.

b) Belajar Auditori

Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa disadari. Ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.

Dalam merancang pembelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam pikiran pmbelajar, dapat dilakukan dengan cara mengajak mereka membicarakan apa yang sedang mereka pelajari. Guru dapat menyuruh siswa menerjemahkan pengalaman mereka dengan suara, membaca dengan keras atau secara dramatis jika mereka mau, ajak mereka berbicara saat mereka memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja, menguasai keterampilan, membuat tinjauan pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri mereka sendiri.

c) Belajar Visual

(23)

menciptakan peta gagasan, diagram, ikon, dan citra mereka sendiri dari hal yang sedang dipelajari. Teknik lain yang bisa dilakukan semua orang, terutama orang-orang dengan keterampilan visual yang kuat, adalah meminta mereka mengamati situasi dunia nyata lalu memikirkan serta membicarakan situasi itu, menggambarkan proses, prinsip, atau makna yang dicontohkan.

d) Belajar Intelektual

Yang dimaksud dengan Intelektual bukanlah pendekatan belajar yang tanpa emosi, tidak berhubungan, rasionalitas, akademis, dan terkotak-kotak. (Meier,2000:99). Intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. Intelektual adalah bagaian dari yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna.

Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran; sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar.

S-A-V-I : Satukanlah

(24)

Gambar

Tabel 2: Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B Semester1 SMP Negeri 7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.

Referensi

Dokumen terkait

Mengacu pada uraian permasalahan di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Xxx mata

Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah apakah dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa pada mata mata

Berdasarkan uraian – uraian yang dikemukakan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan permasalahan yang diteliti adalah :

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti secara umum merumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimana peningkatan tata krama interaksi sosial melalui

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka secara umum masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah pembelajaran dengan pendekatan PMR

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan oleh peneliti, maka masalah umum padapenelitian ini adalah “Apakah pendekatan inkuiri dapat meningkatkan hasil

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, untuk memecahkan masalah tersebut dapat diadakan penelitian tindakan kelas dengan judul : “ Peningkatan Hasil Belajar

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka secara umum masalah dalam penelitian ini adalah “apakah terdapat pengaruh model Inquiry Learning terhadap hasil belajar matematika