MANUSIA DAN PERADABAN barat dan (5)

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TUGAS PAPER INDIVIDU ISBD

KOTA PAYAKUMBUH

NAMA : MUKHAMAD INDRA NIM : 1508305014

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2015

(2)

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah

Menurut sejarah asal nama Kota Payakumbuh terdiri dari dua kata yaitu Payo dan Kumbuah. Payo dalam bahasa Indonesia berarti rawa-rawa dan kumbuh adalah sejenis tanaman yang dahulunya banyak tumbuh subur di daerah rawa di Kenagarian Koto Nan Gadang pusat kota sekarang. Asal nama tersebut dikenal dengan sebutan Payakumbuh yang kemudian menjadi salah satu kota berkembang di Provinsi Sumatera Barat.

Sebagai bagian dari wilayah adat Minangkabau yang terdiri dari 3 luhak yang disebut luhak nan tigo yaitu Nan Tuo Luhak Tanah Datar, Nan Tangah Luhak Agam dan Nan Bungsu Luhak Limo Puluah Koto, ketiga luhak ini kemudian masing-masingnya berkembang menjadi kabupaten dan kota. Payakumbuh yang merupakan bagian dari Luhak Limo Puluah Koto yang terdiri dari 10 nagari dan 73 jorong.

Payakumbuh sejak zaman sebelum kemerdekaan telah menjadi pusat pelayanan pemerintahan dan kegiatan sosial Luhak Limo Puluah. Pada zaman pemerintahan Belanda, Payakumbuh adalah tempat kedudukan pemerintahan asisten residen yang menguasai wilayah Limo Puluah Koto yang disebut Afdeeling Limo Puluah Koto berkedudukan di Payakumbuh. Pada masa pemerintahan Jepang, Payakumbuh juga menjadi pusat kedudukan pemerintah Limo Puluah Koto.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 Payakumbuh ditetapkan sebagai kota kecil dan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1970 tanggal 17 Desember 1970, Kota Payakumbuh ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II dengan wilayah pemerintahan sendiri. Tanggal dikeluarkannya Permendagri tersebut di atas kemudian ditetapkan sebagai HARI JADI KOTA PAYAKUMBUH.

(3)

Sumatera Barat atas nama Menteri Dalam Negeri pada waktu itu diwakili oleh Sekretaris Daerah Drs. Soekarni pada tanggal 23 November 1988.

Pada tahun 2008 diadakan pemekaran wilayah kecamatan, berdasarkan Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 12 dan 13 tahun 2008. Sehingga Kota Payakumbuh memiliki 5 kecamatan dengan 76 kelurahan.

2.2 Geografis

2.2.1 Posisi Geografis

Secara Geografis Kota Payakumbuh terletak pada posisi 00o – 10° sampai dengan

0o – 17’ LS dan 100° – 35’ sampai dengan 100° – 48’ BT. Tercatat memiliki luas wilayah +

80,43 Km2 atau setara dengan 0,19 persen dari luas provinsi Sumatera Barat dan berbatasan

langsung dengan lima kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Keadaan topografi Kota Payakumbuh bervariasi antara daratan dan berbukit dengan ketinggian 514 meter diatas permukaan laut. Suhu udara rata-rata 26o Celcius dengan

kelembaban udara berkisar antara 45 persen sampai 50 persen.

Bila dilihat dari segi penggunaan tanah 34,45 persen tanah di Kota Payakumbuh merupakan tanah sawah, dan sisanya 63,3 persen berupa tanah kering. Tanah kering ini sebagian besar dimanfaatkan untuk bangunan sebesar 32,59 persen dan untuk usaha pertanian sebesar 32,42 persen, serta sisanya berupa tanah untuk hutan negara, semak belukar, dan lain-lain.

Letak kota Payakumbuh sangat strategis bila dilihat dari segi lalu lintas angkutan darat Sumbar-Riau. Kota Payakumbuh meruakan pintu gerbang masuk dari arah Pekan Baru menuju kota-kota penting di Provinsi Sumatera Barat. Berbagai jenis angkutan penumpang dan barang sangat ramai melewati kota ini pada waktu siang maupun pada malam hari.

(4)

2.2.1 Batas Daerah

Sebelah Utara : Dengan Kecamatan Harau dan Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima puluh Kota.

Sebelah Selatan : Dengan Kecamatan Luhak dan Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota.

Sebelah Barat : Dengan Kecamatan Payakumbuh dan Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota.

Sebelah Timur : Dengan Kecamatan Luhak dan Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota.

2.3 Kebudayaan

2.3.1 Sistem Agama

Masyarakat yang tinggal di Kota Payakumbuh sebagian besar beragama Islam, yang disusul dengan agama Kristen, dan Katolik. Sebagian besar masyarakatnya berasal dari suku Minangkabau, namun ada pula yang berasal dari suku Jawa, Batak, dan etnis Tionghoa. 2.3.2 Kesenian

Payakumbuh memiliki upacara adat yang khas, yaitu upacara yang kegiatannya terdapat tarian-tarian daerah yang dipertontonkan. Salah satu tariannya adalah gerakan silat yang dimainkan oleh beberapa anak kecil yang disebut randai. Randai biasanya di tampilkan pada waktu acara adat atau pergelaran seni. Kelompok randai yang terkenal terdapat di daerah Muara Paiti Kapur IX, yang jaraknya 102 km dari kota Payakumbuh.

(5)

Lapangan dan jalan raya adalah jalur untuk pacu kuda dan pacu itik, akan tetapi untuk pacu jawi atau pacu sapi dilaksanakan di area persawahan setelah waktu panen. Acara ini juga merupakan budaya dari Kota Payakumbuh dan diselenggarakan untuk memeriahkan suasana panen. Pada perlombaan ini, dua ekor sapi diikat pada sebuah bajak lalu seorang joki akan menarik-narik ekor sapi, setiap pelombaan biasanya diikuti oleh 5 sampai 10 pasang sapi. Pemenangnya tentu saja pasangan sapi yang paling cepat sampai garis depan.

2.3.3 Makanan Khas

Kota Payakumbuh dikenal sebagai kota yang memproduksi Batiah, oleh sebab itu kota ini disebut dengan Kota Batiah. Selain batiah, ada juga galamai yaitu sejenis makanan seperti dodol yang berwarna pekat dan legit. Galamai terbuat dari tepung beras ketan dan gula aren. Pada zaman dahulu biasanya galamai dibuat untuk acara pernikahan dan acara-acara adat lainnya, akan tetapi sekarang galamai sudah banyak diperjualkan di toko-toko maupun di pasar. Kipang juga salah satu makanan khas Kota Payakumbuh, kipang merupakan makanan ringan yang terbuat dari beras pulut, jagung, dan ada juga yang terbuat dari kacang. Selain ketiga makanan tersebut, masih banyak makanan khas Payakumbuh lainnya yang dapat memuaskan perut kita.

2.3.4 Sistem Kekerabatan

Masyarakat Minangkabau dengan kekhasan budayanya telah banyak menarik perhatian peneliti dari dalam dan luar Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari bibliografi mengenai Minangkabau yang disusun oleh Joustra (1924, 1936), Kennedy (1945), Naim (1973), dan sumber kepustakaan lain. Publikasi itu ada yang mengenai antropologi fisik, struktur masyarakatnya yang matrilineal, kedudukan istimewa dari Islam dan ajaran yang bersifat patriarkat dalam suatu masyarakat yang matrilineal.

(6)

diharapkan menggarap sawah milik istrinya. Pola menetap sesudah nikah seperti di atas dalam ilmu antropologi lazim disebut duolokal.

Dalam sistem keturunan matrilineal ini, seorang ayah dipandang dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga, yang tujuannya terutama untuk memberi keturunan. Dia disebut sumando atau urang sumando. Tempatnya yang sah adalah dalam garis keturunan ibunya tempat dia berfungsi sebagai anggota keluarga laki-laki dalam garis keturunan itu. Secara tradisi, tanggung-jawabnya setidak-tidaknya berada di situ. Dia adalah wali dari garis keturunannya dan pelindung atas harta benda garis keturunan itu sekalipun dia harus menahan dirinya dari menikmati hasil tanah kaumnya oleh karena dia tidak dapat menuntut bagian apa-apa untuk dirinya. Dia tidak pula diberi tempat di rumah orang tuanya (garis ibu) oleh karena semua bilik (kamar di rumah gadang) hanya diperuntukkan bagi anggota yang perempuan, yakni untuk menerima suami-suami mereka di malam hari.

Dalam masyarakat Minangkabau, hubungan antara anak dengan saudara-saudara ibunya dibedakan antara hubungan dengan saudara laki-laki ibu dan dengan saudara perempuan ibu. Hubungan dengan saudara laki-laki ibu disebut hubungan kekerabatan mamak dengan kemenakan. Sedangkan hubungan dengan saudara ibu yang perempuan dianggap sama dengan hubungan antara anak dengan ibunya. Saudara laki-laki ibu disebut mamak yang dipanggil dengan sebutan mak uwo (mamak yang paling tua), mak angah

(mamak yang pertengahan), dan mak etek (mamak yang paling kecil). Saudara perempuan ibu dipanggil uwo (jika lebih tua dari ibu), angah (jika berada di pertengahan dalam urutan bersaudara, bisa lebih tua ataupun lebih muda dari ibu), dan etek (jika lebih muda dari ibu).

Konsekuensi penerapan sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau menyebabkan warisan berupa harta pusaka tinggi hanya diwarisi oleh anak perempuan dari ibunya, sedangkan gelar pusaka diwariskan dari mamak kepada kemenakan laki-laki.

(7)

sendiri, tidak terdapat keterangan mengapa sistem ini diterapkan oleh masyarakat Minangkabau.

Meskipun demikian, keterangan dari Soewardi Idris, yang lebih bersifat folklor atau cerita rakyat, sedikit banyaknya mungkin dapat dijadikan sebagai pegangan. Menurut Suwardi Idris, ada tiga kemungkinan mengapa orang Minangkabau mengambil alur matrilineal. Pertama, dibawa dari kampung asal di India Selatan (Hindia Belakang), atau mungkin juga dari Vietnam bagian timur. Kedua, direkayasa pada masa pemerintahan raja Adityawarman, bahwa raja mereka adalah orang Minangkabau karena ibunya adalah putri Melayu. Dengan rekayasa yang demikian, orang Minangkabau tidak merasa diperintah oleh raja keturunan Majapahit, tetapi diperintah oleh raja dari kalangan mereka sendiri. Ketiga,

karena Bundo Kanduang demikian dihormati, tetapi ia dianggap tidak pernah bersuami, sehingga tidak mungkin ditarik garis keturunan bapak (patrilineal), maka satu-satunya kemungkinan ialah menarik garis keturunan ibu.

Penelusuran nenek moyang serta ketentuan hubungan keluarga dalam sistem matrilineal (atau unilineal) agak mudah dan penempatan keluarga inti dalam struktur hubungan kekerabatan yang lebih luas menjadi lebih sederhana. Menurut Prof. Dr. T.O. Ihromi, S.H., M.A. dalam buku Pokok-pokok Antropologi Budaya, hubungan-hubungan yang terjadi dalam sistem kekerabatan matrilineal ini adalah:

1. Yang termasuk dalam keluarga seseorang adalah; ibu, saudara kandung, saudara seibu, anak dari saudara perempuan ibu, saudara kandung ibu, saudara seibu dengan ibu, ibu dari ibu beserta saudara-saudaranya dan anak dari saudaranya yang perempuan, anak-anak dari saudara perempuannya, dan anak dari saudara sepupu atau saudara seneneknya yang perempuan.

2. Ia sama sekali tidak punya hubungan kekerabatan dengan anak saudara laki-lakinya, anak dari saudara laki-laki ibunya, saudaranya yang seayah, bahkan juga dengan ayah kandungnya sendiri.

(8)

yaitu mengawasi saudara perempuan dan kemenakan-kemenakannya. Namun pada masa sekarang, peranan ninik-mamak semakin kecil karena ia cenderung untuk mengurusi istri dan anak-anaknya sendiri dan seorang suami pun lebih banyak berperan dalam rumahtangganya. Perubahan ini terutama terlihat pada keluarga Minangkabau di perantauan.

Apabila laki-laki memiliki istri lebih dari satu (poligini) ia harus adil membagi waktu di antara istri-istrinya. Kalau terjadi perceraian, anak-anak hasil perkawinan tetap tinggal bersama ibunya.

Suatu hal yang perlu dijernihkan ialah bahwa masyarakat Minangkabau bukan masyarakat matriarkat, artinya bukan masyarakat yang dikuasai oleh kaum wanita. Dalam kenyataannya Kerapatan Nagari, lembaga yang menjalankan peranan utama dalam pertukaran pikiran untuk membuat keputusan yang mengikat seluruh masyarakat nagari dilakukan oleh kaum pria. Sebaliknya, orang Minangkabau pada dasarnya memang merupakan masyarakat yang matrilineal, yang menarik garis keturunan dari pihak ibu. Selain daripada itu, mereka juga mengamalkan adat matrilokal, artinya sesudah menikah menetap di lingkungan kerabat istri atau yang berpusat di rumah gadang pihak istri. Namun sekarang pasangan-pasangan yang baru menikah banyak yang memilih tempat lain di luar lingkungan kerabatnya

(neolokal). Mereka menetap di rumah sendiri, atau rumah sewa, sehingga terwujud suatu

keluarga batih yang menyebabkan anak-anak mereka dapat melakukan hubungan erat dengan ibu dan ayahnya.

2.4 Masalah Sosial

(9)

2.4.1 Kemiskinan

Kita menyadari bahwa masalah kemiskinan adalah masalah sosial yang tidak mudah untuk diatasi. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Kota Payakumbuh untuk mengatasi tingkat kemiskinan di masyarakat. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan membantu usaha-usaha kecil dan menengah untuk meningkatkankan usaha mereka sehingga akan tercipta lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

2.4.2 Penyakit Masyarakat

Penyakit masyarakat Kota Payakumbuh tidak separah kota-kota besar lainnya di Indonesia. Hanya segelintir masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihan dan ketertiban di Kota Payakumbuh. Masyarakat tersebut biasannya berasal dari kalangan anak muda yang masih mencari jati dirinya atau biasa dikenal dengan anak punk. Kelakuan anak

punk di pasar Payakumbuh mulai meresahkan masyarakat, mereka sering mengganggu ketertiban umum di pusat pertokoan. Pada malam hari pedagang kuliner di pusat kota juga sering mengeluhkan ulah mereka. Anak punk itu bukan sekadar menjual suara dengan profesi mengamen, tapi juga memaksa orang untuk memberi mereka imbalan, bahkan kalau tidak diberi mereka akan mengancam.

Selain anak punk, penyakit masyarakat lainnya yang masih belum bisa ditertibkan adalah balap liar. Balapan liar biasanya berlangsung di jalan utama dalam Kota Payakumbuh, hal ini tak pelak membuat masyarakat kota resah, disamping mengganggu balapan liar juga menimbulkan suara gaduh, dan balap liar ini juga mengancam keselamatan warga. Meskipun sering dibubarkan oleh satpol PP Kota Payakumbuh, akan tetapi balapan liar yang dilakukan oleh para pemuda dan orang dewasa itu masih sering terjadi di ruas Jalan Soekarno-Hatta yang menjadi jalan utama di Kota Payakumbuh.

2.4.3 Kebersihan

(10)

benar-benar tak terurus. Menurut salah satu pedagang di area pertokoan tersebut banyak warga yang buang air kecil sembarangan dan bahkan kerap dijadikan tempat kumpulnya anak-anak punk.

2.4.4 Ketertiban

Tidak terurusnya terminal angkutan kota (Angkot) dan angkutan desa (Angdes) ayang lokasinya berdampingan dengan Pasar Payakumbuh menjadi masalah lainnya di kota ini. Sejumlah jalan raya berubah menjadi terminal panjang, meliputi Jalan Pemuda di dekat Masjid Ansharullah Muhammadiyah, jalan Sudirman di Simpang Benteng dan beberapa jalan raya lainnya membuat ketertiban dan keterturan kota menjadi buruk.

Banyaknya supir angkot yang lebih memilih menunggu penumpang di luar terminal merupakan salah satu faktor banyaknya terminal liar. Menurut mereka menunggu penumpang di dalam terminal memerlukan waktu berjam-jam, sedangkan di luar terminal menunggu penumpang paling lama hanya membutuhkan waktu lima belas menit dan langsung berangkat.

Bukan hanya pertokoan dan terminal yang terlihat tidak terurus, banyaknya anak jalanan, pengemis serta orang gila yang berseliweran di tengah-tengah kota ikut merusak keindahan Kota Payakumbuh. Sangat mudah menemukan anak jalanan, pengemis serta orang gila di Kota Payakumbuh, karena mereka dibiarkan begitu saja.

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Kota Payakumbuh

2.5.1 Kelebihan

(11)

acara-acara lainnya. Masyarakat Kota Payakumbuh memang sangat terkenal dengan keramahannya, para pengunjung bisa ikut serta untuk bertani, memerah sapi, membuat kue, dan kegiatan lainnya yang biasa dilakukan masyarakat Kota Payakumbuh.

2.5.2 Kekurangan

Kota Payakumbuh juga tidak berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia yang memiliki pemasalahan sosial. Masalah-masalah sosial yang timbul di kalangan masyarakat kebanyakan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Masalah-masalah itu diantaranya kemiskinan, ketertiban masyarakat,dan penyakit masyarakat.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...