• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edisi Khusus Juni 2010 | JURNAL PENELITIAN SAINS d erwin genap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Edisi Khusus Juni 2010 | JURNAL PENELITIAN SAINS d erwin genap"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian Sains Edisi Khusus Juni 2010 (D) 10:06-11

Identitas Jenis Telur Cacing Parasit Usus Pada Ternak Sapi (Bos

sp) dan Kerbau (Bubalus sp) Di Rumah Potong Hewan Palembang

Erwin Nofyan, Mustaka Kamal, dan Indah Rosdiana

Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia

Intisari: Penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit saluran pencernaan merupakan salah satu penyebab turunnya produksi daging sapi dan kerbau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menghitung tingkat kepadatan telur cacing parasit pada usus sapi (Bos sp) dan kerbau (Bubalus sp) di Rumah Potong Hewan (RPH) Gandus, Palem-bang. Berdasarkan hasil pengamatan dari 96 sampel feses sapi, didapatkan telur cacing yang berasal dari 2 kelompok cacing parasit usus yaitu Kelas Nematoda terdiri atas Trichostrongylus axei (15,62%), Strongyloides papillosus (10,42%), Oesophagostomum radiatum (14,58%), Haemonchus contortus(4,16%), Ostertagia ostertagi (3,13%), Cooperia punctata (4,16%), Trichuris ovis (3,13%) dan Kelas Trematoda yaitu Paramphistomun cervi (32,30%); dari 12 sampel feses ker-bau juga didapatkan telur yang berasal dari 2 kelompok cacing parasit usus yaitu Kelas Nematoda yang terdiri atas Strongyloides papillosus (16,67%), Haemonchus contortus (8,33%), dan Kelas Trematoda yaitu Paramphistomum cervi (50% ). Tingkat kepadatan telur semua cacing parasit<500 EPG (egg per gram) yang digolongkan infeksi ringan.

Kata kunci: identifikasi, jenis telur parasit usus, sapi, kerbau

Abstract: Disease that caused by intestinal parasite is one of the major cause of this decreasing meat to cow and buffalo. The aims of this research was to identify and calculate the density of intestinal parasite egg species of cow (Bos sp) and buffalo (Bubalus sp) in Gandus slaughtering house, Palembang. Based on the result from 96 cows faeces samples there are two major group of intestinal parasite, that Nematodes Class consist of Trichostrongylus axei (15.62%), Strongyloides papillosus (10.42%), Oesophagostomum radiatum (14.58%), Haemonchus contortus (4.16%), Ostertagia ostertagi (3.13%), Cooperia punctata(4.16%), Trichuris ovis (3.13%) and Trematodes Class that is Paramphistomum cervi (32.30%); from 12 buffalos faeces samples there are two major group of intestinal parasite too,that is Nematodes Class consist of Strongyloides papillosus (16.67%), Haemonchus contortus (8.33%) and Trematodes Class that is Param-phistomum cervi (50%). The egg density level for all intestinal parasite species<500 EPG (egg per gram), classified low infection

Keywords: identification, intestinal parasite egg species, cow, buffalo

E-mail: erw [email protected].

Juni 2010

1 PENDAHULUAN

H

ewan ternak yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah sapi (Bos sp) dan kerbau (Bubalus sp). Saat ini pertumbuhan produksi hasil ternak sapi dan kerbau berupa daging selama 20 tahun terakhir rata - rata 6,70% . Pertumbuhan produksi daging ini masih jauh dari angka harapan yaitu 7,10% [1]. Penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit salu-ran pencernaan menjadi salah satu penyebab rendah-nya produksi daging oleh ternak[2].

Berdasarkan survei di beberapa pasar hewan di In-donesia menunjukkan bahwa 90% hewan ternak sapi dan kerbau mengidap penyakit cacingan yaitu cacing hati (Fasciola hepatica), cacing gelang (Neoascaris vit-ulorum) dan cacing lambung (haemonchus contortus).

Penyebab cacingan antara lain konsumsi hijauan yang masih berembun dan tercemar vektor pembawa cacing [3].

Infeksi cacing parasit usus pada sapi dan kerbau akan mengurangi fungsi kemampuan mukosa usus dalam transpor glukosa dan metabolit lainnya. Apa-bila ketidakseimbangan ini cukup besar, akan menye-babkan menurunnya nafsu makan, serta tingginya kadar nitrogen di dalam tinja yang dibuang karena tidak dipergunakan. Akibatnya keterlambatan per-tumbuhan akan terjadi, terutama pada ternak muda pada masa pertumbuhan. Oleh karena itu infeksi ca-cing parasit usus akan bersifat patogenik, terutama jika bersamaan dengan kondisi pakan ternak yang bu-ruk[4].

c

(2)

Erwin dkk/Identitas Jenis Telur . . . JPS Edisi Khusus (D) 10:06-11 Upaya untuk mengetahui apakah ternak sapi dan

kerbau terdapat cacing parasit usus di Rumah Potong Hewan Gandus Palembang, maka perlu dilakukan penelitian mengidentifikasi berbagai jenis cacing pa-rasit yang hidup didalam usus ternak sapi dan kerbau dengan cara menganalisis bentuk telur yang terdapat di feses sapi dan kerbau. Adapun tujuan dari peneli-tian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menghitung tingkat kepadatan telur cacing parasit usus pada fe-ses sapi dan kerbau di Rumah Potong Hewan Gandus Palembang. Manfaat dari penelitian memberikan in-formasi pada peternak sapi dan kerbau mengenai jenis - jenis cacing parasit yang terdapat di usus sapi dan kerbau.

2 METODE PENELITIAN 2.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan Desember 2008 sampai Maret 2009 Pengambilan sampel bertempat di Rumah Potong Hewan Gandus, Palembang dan pengidenti-fikasian serta penghitungan jumlah telur dilakukan di laboratorium Taksonomi Hewan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya.

2.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan: baskom plastik, cawan petri, gelas ukur, gunting kertas , kaca objek, kaca penutup, kamera digital, lemari pendingin, masker, mikrometer, mikroskop, dan timbangan. Bahan yang dibutuhkan: feses sapi dan kerba, akuades, formalin 0,4%, gliserin, larutan eosin 1%, malachite green dan kertas karton.

2.3 Rancangan Penelitian

Pelaksanaan Penelitian ini menggunakan survei deskriptif, dengan metode sampling berupa metode sampling acak sederhana (simple random sampling)

2.4 Cara Kerja Pengambilan Sampel

Diambil sampel berupa feses sapi dan kerbau dari 3 pos pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan Gan-dus Palembang yaitu 96 ekor sapi dan 12 ekor kerbau yang ada sebanyak 500 mg. Pemilihan sampel berda-sarkan random sederhana (simple random sampling). Sampel dimasukkan ke dalam botol film, ditambahkan formalin 4% hingga feses terendam (2ml), ditutup ra-pat dan diberi label, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa atau di identifikasi[5].

Metode Pemeriksaan Langsung

Diamebil 1 tetes sampel , diletakkan diatas kaca ob-jek. Kemudian diteteskan larutan eosin 1% sebanyak 1 tetes, aduk rata, tutup dengan kaca penutup, dile-takkan dibawah mikroskop. Dicari telur cacing di dalam sampel kemudian diidentifikasi dengan mem-bandingkan/mengacu literatur yang ada[6].

Pemeriksaan Kuantitatif

Pemeriksaan kuantitatif diperlukan untuk menen-tukan jumlah telur per gram tinja (EPG) pada se-tiap jenis cacing. Diletakkan karton yang berlubang diatas kaca objek, kemudian feses dimasukkan pada lubang tersebut, diberi setetes akuades. Lalu karton berlubang tersebut diambil dan feses ditutup dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato. Ke-mudian tinja dir akan dengan tutup botol karet hingga merata. Periksa tinja dibawah mikroskop dan hitung jumlah telur yang ada pada sediaan tersebut[7].

2.5 Variabel yang diamati Jenis telur cacing

Sampel berupa feses sapi dan kerbau di identifikasi un-tuk mendapatkan jenis telur cacing Kepadatan jumlah telur cacing Perhitungan kepadatan jumlah telur ber-dasarkan banyaknya jumlah telur yang ditemukan per gram sampel

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari 96 sampel feses sapi ternyata 59 sampel atau 61,46% terinfeksi cacing parasit usus ,sedangkan 37 sampel lainnya atau 38,54% tidak terinfeksi. Pada pe-meriksaan 12 sampel feses kerbau ternyata 9 sampel atau 75% terinfeksi cacing parasit usus, sedangkan 3 sampel lainnya atau 25% tidak terinfeksi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi jenis telur cacing parasit usus maka diperoleh cacing parasit usus pada sapi danker-bau yang ada di Rumah Potong Hewan Gandus Palembang tercantum pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Dari Tabel 1 dan Tabel 2, spesies cacing parasit usus yang paling banyak ditemukan adalah kelas Ne-matoda. Hal ini berkaitan dengan siklus hidup cacing tersebut yaitu tidak memerlukan hospes reservoir, se-hingga untuk berlangsungnya siklus hidup cacing ini lebih mudah, sedangkan cacing parasit usus dari kelas Trematoda memerlukan hospes reservoir untuk dapat mencapai hospes definitipnya[8].

Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa jum-lah telur yang paling banyak secara berurutan ter-dapat pada Paramphistomum cervi, Trichostrongylus axei dan Strongyloides papillosu. Jumlah telur dan

(3)

Erwin dkk/Identitas Jenis Telur . . . JPS Edisi Khusus (D) 10:06-11 lamanya waktu menghasilkan telur sangat

mempe-ngaruhi kemampuan cacing parasit usus untuk berta-han hidup[9]. Diketahui bahwa untuk siap berepro-duksi S.papillosus memerlukan waktu 50 hari: T. axei memerlukan waktu 51 hari; O. radiatum memerlukan waktu 54 hari dan P. cervi memerlukan waktu 45 hari. Cacing P. cervi dapat menghasilkan telur 25000 bu-tir, sedangkan T.axei dan S.papillosus menghasilkan 11000-15000 butir telur dan O. radiatum menghasilkan 13000 butir telur[10].

Berdasarkan keterangan standar infeksi, maka in-feksi dapat dibedakan yaitu inin-feksi ringan jika jumlah telur 1-499 butir per gram; infeksi sedang ditunjukkan jika jumlah telur 500 - 5000 butir per gram dan infeksi berat ditunjukkan jika telur yang dihasilkan > 5000 butir per gram feses ternak[11]. Dari standar terse-but dapat dinyatakan bahwa ternak sapid an kerbau di Rumah Potong Hewan Gandus Palembang masih tergolong infeksi ringan karena telur yang dihasilkan oleh cacing parasit usus < 500 butir telur per gram feses sapi dan kerbau.

Namun yang harus diingat adalah ditemukannya jumlah telur cacing per gram feses ternak tidak selalu dapat menunjukkan tingkat infeksi yang sebenarnya. Hal ini mengacu pada kenyataan bahwa hanya cacing dewasa saja yang dapat menghasilkantelur, sedangkan larva cacing belum menghasilkan telur. Larva kemu-dian menjadi dewasa secara seksual, dan ada yang menjadi cacing jantan yang juga patut diperhitungkan untuk menentukan tingkat infeksi pada hewan ternak sapi dan kerbau.

Jumlah telur yang diproduksi dengan jumlah telur yang ditemukan per gram feses ternak dipengaruhi oleh faktor cacing jantan, larva, resistensi hospes dan tingkat infeksi cacing parasit usus tersebut serta kadar serat kasar yang terdapat pada pakan ternak sapi dan kerbau.Makin banyak kadar serat kasar pada pakan ternak sapi dan kerbau maka makin sedikit jumlah telur cacing dalam feses sapid an kerbau.

4 KESIMPULAN

Telur yang diidentifikasil dari feses sapi dan kerbau berasal dari cacing parasit usus. Jenis cacing parasit usus yang ditemukan berasal dari 2 kelompok yaitu ke-las Nematoda dan Trematoda. Telur dari keke-las Nema-toda lebih banyak ditemukan daripada kelas Trema-toda di dalam feses sapi dan kerbau. Densitas telur cacing parasit usus pada hewan ternak sapi dan ker-bau di Rumah Potong Hewan bernilai<500 EPG (egg per gram), menunjukkan bahwa hewan ternak sapi dan kerbau tergolong mengalami infeksi ringan cacing pa-rasit usus.

5 SARAN

Selanjutnya diteliti identifikasi telur cacing parasit usus kelas Cestoda dan menghitung tingkat infeksi atau prevalensi cacing parasit yang terjadi pada hewan ternak sapidan kerbau di Rumah Potong Hewan Gan-dus Palembang.

DAFTAR PUSTAKA

[1]Dinas Peternakan, 2006,Statistika Peternakan Sumatera

Selatan Tahun 2006, Dinas Peternakan, Sumatera Selatan, 144 hal

[2]Purwanta, dkk, 2006, Penyakit Cacing Hati (Fascioliasis)

Pada Sapi Bali Di Perusahaan Daerah Rumah Potong

Hewan Kota Makassar,Jurnal Agrisistem2 : 63-69

[3]Abidin, Z., 2002,Penggemukkan Sapi Potong, Agro Media

Pustaka, Jakarta, 70 hal

[4]Koesdarto, S., dkk, 2001, Model Pengendalian Siklus

Infeksi Toxocariasis Sapi Dengan Fraksinasi Minyak Atsiri

Rimpang Temuireng (Curcuma aeruginosa Roxb) Di Pulau

Madura,Jurnal Penelitian Medika Eksakta, 2 : 114 - 122

[5]Brown, H.W. & A.H. Franklin, l995,Basic Clinical

Parasitology, Appleton-Century-Crofts : United State of America, 339 hal.

[6]Noble, E.R. & G.A. Noble, 1999,Parasitologi Biologi

Parasit Hewan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 162 hal.

[7]Menkes, 2006, Pedoman Pengendalian Cacingan,

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk 020 simposium masalah penyakit parasit.pdf, Diakses tanggal 6 Mei 2008

[8]Levine, N.D., 1990,Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner,

Gadjah Mada Unversity Press, Yogyakarta, 101 hal.

[9]Gillespie, S.H. & P.M. Hawkey, 1999,Medical Parasitology

A Practical Approach, Oxford University Press, New York, 295 hal.

[10]Onggowaluyo, J.S., 2001,Parasitologi medik I

(Helminthologi): Pendekatan Aspek Identifikasi, diagnosis, Dan Kliniik, EGC, Jakarta, 162 hal.

[11]Thienpont, et al, 1995,Diagnosing Helminthiasis Through

Coprological Examination, Appleton-Century-Crofts, United State of America, 181 hal.

(4)

Erwin dkk/Identitas Jenis Telur . . . JPS Edisi Khusus (D) 10:06-11

Tabel 1: Jenis- jenis cacing parasit usus & karakteristik telur yang ditemukan pada sapi di Rumah Potong Hewan Gandus Palembang.

Spesies Karakteristik Telur

Kelas Nematoda Trichostrongylus axei Lonjong,blastomer berjumlah>8, cangkang tipis, ukuran 71-107×41-54

Oesophagostomum radiatum Elips,blastomer memenuhi telur, cankang luar tipis, ukuran 83-90×52- 54

Strongyloides papillosus Bulat lonjong, sudah mengandung embrio, cangkang tipis, ukuran 50-65×26-31

Haemonchus ovis Bentuk tong, tidak ada blastomer, cangkang tebal, ukuran 71-78×30-35

Cooperia punctata Lonjong,blastomer tidak jelas, cangkang tipis, ukuran 71-83×28- 35

Kelas Trematoda Paramphistomum cervi Lonjong,blastomer memenuhi telur, cangkang tipis.

Tabel 2: Jenis-jenis cacing parasit usus & karakteris telur yang ditemukan pada kerbau di Rumah Potong Hewan Gandus Palembang.

Spesies Karakteristik Telur

Kelas Nematoda Strongyloides papillosus T. Lonjong,mengandung embrio, 8 blastomer, ukuran 69×42

Kelas Trema toda Paramphistomum cervi Elips ,blastomer memenuhi telur,cangkang tipis, ukuran 128-150×89- 95

Tabel3: Density telur cacing parasit usus Per Gram pada sapi dan kerbau di Rumah Potong Hewan Gandus Palembang. No Spesies Densitas (egg per gram/EPG)

Sapi Kerbau

1 Trichostrongylus axei 25 -250

-2 Oesophagostomum radiatum 25 - 50

-3 Strongyloides papillosus 25 - 100 25

4 Haemonchus contortus 25 - 50 25

5 Trichuris ovis 25

-6 Cooperia punctata 25 - 50

-7 Ostertagia ostertagi 25 - 50

-8 Paramphistomum cervi 25 - 450 25 - 200

Referensi

Dokumen terkait

Di dalam perusahaan kecil yang hanya dikendalikan oleh satu orang, pelayanan kantor secara terpisah (desentralisasi) mungkin tidak diperlukan. Akan tetapi, di dalam

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024) 8508081, Fax.. Pengabdian

Pendekatan dengan pattern knowledge dan opinion lexicon menggunakan type dependency mampu memberikan performansi yang paling baik dalam proses penentuan fitur dan

Vulnerable children including child victims, offenders and witnesses benefit from enhanced justice for children.. 19 UNICEF Ministry of

Lukisan naik turunnya data berupa garis yang di hubungkan dari titik- titik data secara berurutan. Grafik ini di

Misalnya, pada penggunaan color_number 8, kapasitas penyisipan meningkat secara stabil seiring dengan meningkatnya nilai adj_tresh dan codebook_size , karena cukup

Judul : deteksi dini kejadian gizi kurang pada balita melalui pemberdayaan masyarakat dan mahasiswa (upaya penguatan desa siaga di bidang gizi di kelurahan limbangan kecamatan

H.B Sa’anin Padang adalah menyangkut dengan genre atau tipe komunikasi memiliki perbedaan sesuai dengan konteks terjadinya komunikasi, topik peristiwa komunikasi