• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETIDAK SETIAAN FILM TERHADAP NOVEL TINJ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KETIDAK SETIAAN FILM TERHADAP NOVEL TINJ"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KETIDAK SETIAAN FILM TERHADAP NOVEL TINJAUAN SINGKAT FILM “AYAT-AYAT CINTA”1

Oleh: Muzafarsyah (1306353442)

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang paling banyak dijadikan sumber pembuatan sebuaf film. Beberapa novel laris yang terbukti sukses secara komersil sebagai film misalnya The Da Vinci Code karya Dan Brown (terbit tahun 2003) dan Harry Potter karya JK Rowling (seri pertama terbit tahun 1997). Di seluruh dunia novel Dan Brown itu terjual sebanyak 40 juta copy. Sedangkan filmnya menangguk untung US$ 750 juta dari penjualan tiketnya (Haryadi, 2008). Sedangkan seluruh serial novel Harry Potter tercatat sampai bulan Juli 2013 telah terjual 450 juta copy. Mega Best Seller bahkan untuk ukuran dunia. Untuk filmnya, empat film pertamanya mengantongi pemasukan US$ 3,65 milyar dari penjualan tiket di seluruh dunia. Film Harry Potter dibuat hingga delapan sequel mengikuti serial novelnya novelnya yang telah lebih dahulu terbit.

Ekranisasi Novel Laris Di Indonesia

Novel yang dijadikan sebagai sumber cerita film bukanlah hal yang baru di Indonesia. Alih wahana dari novel menjadi sebuah film telah dilakukan bahkan pada masa sebelum kemerdekaan, misalnya novel “Bunga Ross dari Cikembang” karya Kwee Tek Hoay yang ditulis pada tahun 1927 telah dialihwahanakan menjadi film sebanyak dua kali, yakni tahun 1933 dan 1975 (Damono, 2012). Setelah itu masih bermunculan film lain yang mengambil novel sebagai sumber cerita. Bisa disebut di sini antara lain Atheis (Achdiat K), Si Doel Anaka Betawi (Aman Datuk M) , Salah Asuhan (A Moeis), Siti Nurbaya (Mh Rusli), Roro Mendut (YB Mangunwijaya), Cau Bau Kan (Remi Silado), Eiffel I’m in Love (R Arunita), Jomblo (Adhitia Mulya), Cintapuccino (Icha Rahmanti) , Mereka Bilang Saya Monyet (Jenar Maesa Ayu) dan lain-lain. Belakangan ada Laskar Pelangi (Andrea Hirata), Novel biografi Habibie & Ainun (BJ Habibie) dan juga novel remaja “5 cm” karya Donny Dhirgantoro (terbit tahun 2005). Saat ini sedang ditunggu film “Sepatu Dahlan” film yang diadaptasi

1* esai sebagai tugas mata kuliah Alih wahana S2 Kesusastraan FIB UI semester genap

(2)

dari novel berjudul sama karya Khrisna Pabichara. Novel ini terbit pertama kali tahun 2012, dibuat berdasarkan kisah hidup Dahlan Iskan (saat ini menjabat sebagai menteri BUMN, yang juga merupakan salah satu bos di grup jawa Pos). Novel tersebut diklaim sebagai novel “Mega Best Seller”, paling tidak dilihat dari bacaan di cover depan novel tersebut dan selama tahun 2012 telah cetak ulang sebanyak empat kali.

Sesuatu kewajaran jika novel laris membuat para produsen ingin memvisualkannya menjadi sebuah film. Novel laris yang difilmkan minimal sudah memiliki modal petensi calon penonton dari pembaca novel tersebut. Sehingga estimasi keuntungan sudah terbayangkan. Beberapa diantaranya memang berhasil secara komersial mengikuti kesuksesan penjualan novelnya. Misalnya film Ayat-ayat Cinta (4 juta penonton), Laskar Pelangi (mencapai 1 juta penonton), Habibie Ainun (mencapai 3 juta penonton), 5 cm (mencapai 1,5 juta penonton). Tolok ukur lain kesuksesan film secara komersil adalah film-film itu mampu bertengger di jaringan Bioskop 21 selama lebih dari dua minggu. Bioskop 21 biasanya akan menurunkan film bila setelah tiga hari penayangan penonton tetap sepi.

Ternyata, tidak semua film yang mengadapatasi novel laris akan selaris novelnya ketika dialihwahanakan menjadi film dan ditayangkan di bioskop. Sebagai contoh, novel laris “Edensor” karya Andera Hirata yang merupakan trilogi dari Laskar Pelangi ternyata gagal di pasaran ketika menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Begitu juga film “Negeri Lima Menara” yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya A. Fuadi ternyata tidak mendapat sambutan yang cukup menggembirakan. Bahkan film Ketika Cinta Bertasbih 1-2 yang direncanakan untuk mengikuti kesuksesan Ayat-Ayat Cinta ternyata di pasaran jeblok. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, film-film tersebut tidak mampu bertahan lebih dari satu minggu di jaringan bioskop 21 di Jakarta.

Fenomena Novel “Ayat-Ayat Cinta” Habiburahman El Shirazy

(3)

Cinta karya Habiburahman El Shirazy. Novel “Ayat Ayat Cinta” terbit tahun 2004 dan tercatat telah terjual sebanyak lebih dari 450 ribu copy pada tahun ketiga penjualannya. Novel ini menuai pujian dari berbagai kalangan sebagai novel religious yang dengan cerdas memberikan pemahaman kehidupan dan cinta dalam cakrawala Islam. Pengarang novel ini juga dinilai berhasil menggambarkan latar sosial budaya Timur Tengah (Mesir) dengan hidup tanpa harus memakai istilah-istilah arab. Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan dan Redaktur Budaya harian Republika juga memujinya dengan mengatakan bahwa bahasa dalam novel ini mengalir, karakterisasi tokoh-tokohnya kuat dan gambaran latarnya hidup sehingga membuat kisah dalam novel ini benar-benar terjadi (El Shirazy, 2005).

Ayat-Ayat Cinta di dinilai telah memberikan fenomena baru dalam sastra Indonesia. Sebuah novel yang dinilai Islami sanggup menembus pasar hingga ke berbagai kalangan dan bertahan begitu lama di pasar. Banyak yang menilai Ayat-ayat Cinta sangat bagus untuk remaja karena sarat dengan nilai Islam dan mengajarkan arti hidup sesungguhnya. Sehingga novel ini diberikan predikat sebagai “Novel Pembangun Jiwa”.

Novel ini juga membukukan Best Seller di Asia Tenggara. Setelah diterjemahkan dalam bahasa Malaysia, penerbit Kanada, Jerman, Belanda, Inggris dan Australia juga meminatinya. Sejumlah penghargaan diterima Habiburahman El Shirazy, yaitu penghargaan sebagai Novelis No.1 tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro Semarang dan Tokoh Perubahan 2007 oleh harian Republika. Tahun 2005 memperoleh penghargaan Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional dan the Most Favourite Books and Writer 2005. Untuk tingkat Asia Tenggara Ayat-Ayat Cinta memperoleh penghargaan South East Asia Write Award dari pemerintah Thailand dan hadiah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara).

(4)

menjadi rebutan empat orang wanita yaitu Maria (wanita mesir beragama Kristen koptik), Aisha (jerman-turki), Noura (Mesir) dan Nurul (Islam Indonesia). Masing-masing wanita itu mencintai Fahri dengan caranya Masing-masing-Masing-masing. Dengan latar belakang kehidupan kota Kairo di Mesir dan suasana perkuliahan di Al Azhar cerita ini berlangsung. Pada akhirnya, setelah lika-liku perjuangan dan penderitaan, Fahri menikah dan hidup bahagia dengan Aisha yang cantik, pintar dan berasal dari keluarga kaya raya. Fahri merupakan tokoh yang tidak pernah goyah menghadapai berbagai cobaan. Pesannya adalah selalu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup dan selalu berpegang teguh pada ajaran agama.

Ekranisasi novel ke film Ayat-Ayat Cinta

Memanfaatkan momen larisnya novel “Ayat-Ayat Cinta”, produser MD Pictures, Manooj Punjabi kemudian menjadikan novel itu sebagai sumber cerita film dengan judul sama “Ayat-ayat Cinta”. Bertindak sebagai sutradara adalah Hanung Bramantyo dan sebagai penulis skenario Salman Aristo. Film “Ayat-Ayat Cinta” pertama kali tayang tanggal 28 Februari 2008, setelah menghabiskan waktu 1,5 tahun proses produksi.

Secara komersil, Film Ayat-Ayat Cinta memperoleh kesuksesan besar. Setelah tiga bulan tayang di bioskop jumlah penonton menembus angka 4 juta. MD Pictures yang memproduksi Ayat-ayat Cinta menggandakan pita film hingga 100 copy. Jumlah itu mengalahkan film kelas utama Hollywood yang rat-rata hanya 65-70 copy. Sedangkan film nasional biasanya hanya dicetak 10-20 copy saja. Film yang dibuat dengan biaya 10 milyar meraup untung 48 milyar dalam waktu empat bulan. Film ini juga memperoleh kesusksesan besar ketika diputar di negara tetangga Malaysia dan Brunei. Trend film romantis religius kembali bangkit sejak saat itu.

Film Ayat-ayat cinta meraih gelar film terbaik dalam Festival Film Bandung (2008). Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menjadikan film itu sebagai media ‘Co-Marketing’ untuk Promosi Visit Indonesia Year 2008 di Asia Tenggara.

(5)

Habiburahman El Shiraj. Bahkan pengarang novel ini juga bertindak sebagai co sutradara dalam produksi film itu. Namun KCB 1-2 yang dibuat dengan biaya besar dan mencoba setia pada alur di novelnya, ternyata gagal di pasaran.

“Ketidaksetiaan” Film Ayat-Ayat Cinta Pada Novelnya

Meskipun novel dan filmnya sukses di pasaran, namun ternyata terdapat “ketidaksetiaan” film ini pada novelnya. Bagi pembaca novel ini yang kemudian menonton filmnya akan menemukan banyak ketidak sesuaian dari cerita atau pun seting (latar) antara novel yang dibaca dan filmnya. Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini mengakui bahwa ia memang banyak melakukan perubahan cerita dalam film. Menurutnya ketika pertama kali membaca novel “Ayat-Ayat Cinta” ia merasa muak. Ia tidak tahan melihat karakter fahri yang sempurna, ganteng, pintar alim, dicintai perempuan-perempuan cantik secara bersamaan apalagi mereka datang tanpa diundang, bahkan tanpa sedikitpun Fahri mendekatinya. Hanung pun memutuskan menghentikan membaca novel itu. Ia terpaksa membaca novel itu lagi karena mendapat tawaran dari produsernya untuk menyutradarai film itu. Pesan penting yang ditemukan Hanung dalam novel itu adalah keikhlasan, kesabaran dan sikap toleran sebagaimana diajarkan Al Quran (Haryadi, 2008). Dengan berpegang pada pesan penting itu Hanung melakukan visualisasi Ayat-ayat Cinta. Jelas bahwa Hanung tidak berpedoman pada struktur, alur, atau teknik penceritaan pada novelnya. Hanung melakukan ekranisasi dengan bersikap tidak setia pada novelnya namun setia pada pesan penting dalam novel itu yaitu keikhlasan, kesabaran dan sikap toleran pemeluk agama yang berbeda.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan yang menjadi alasan untuk tidak setia pada teks novelnya, yaitu:

1. Kesulitan memindahkan semua dialog dan adegan yang tertera pada novel untuk menjadi bentuk gambar (visual dan audio) ke dalam film karena tidak semua makna, nuansa dan suasana yang disampaikan melalui kata-kata bisa terwujudkan dalam wujud gambar (visual) dalam film.

(6)

3. Alur cerita (plot) dalam novel disusun dengan aksara yang saat dinikmati pembaca novel bisa berulang-ulang tergantung kemauan dan ketersediaan waktu sang pembaca. Sedangkan pada film, saat ditayangkan di bioskop urutan gambar-gambar yang membentuk cerita bergerak cepat tanpa menunggu kesiapan penonton untuk mengikuti. Film di bioskop tidak bisa diputar ulang berdasarkan kemauan penonton karena sifatnya yang dinikmati secara bersama-sama, bukan perorangan. Karena itu alur cerita dalam novel yang lamban dan bertele-tele harus dibuat sedemikian rupa menjadi lebih sederhana dan cepat.

4. Kesulitan untuki menampilkan semua latar yang ada dalam novel karena akan memakan biaya besar mengingat latar tersebut berada du luar negeri (Mesir, Turki).

Sehingga terjadi pergeseran dan perubahan secara cerita dari novel ke film. Penambahan cerita dan penghilangan cerita yang disampaikan melalui adegan dan dialog dalam film, antara lain :

- Dalam film Maria masuk rumah sakit dan koma karena ditabrak mobil sebagai bagian dari konspirasi untuk menyudutkan Fahri di pengadilan. Maria kemudian tak sadarkan diri hingga Fahri membangunkannya lewat ikatan pernikahan yang tak pernah disadarinya. Sedangkan di novel tabrakan itu terjadi karena kebetulan. Film membuat seolah-olah terjadi konspirasi untuk menjatuhkan Fahri.

(7)

Kesimpulan

Pembuat film Ayat-Ayat Cinta sesungguhnya telah melakukan tindakan yang tidak setia pada teks novel Ayat-Ayat Cinta. Meskipun judul film dan nama-nama tokoh utamanya sama dengan novelnya namun alih wahana dari novel ke film telah memisahkan dan membedakan cirri khas media itu sendiri dengan wahana masing-masing, yaitu wahana novel dan wahana film.

Meskipun masing-masing wahana memiliki teks dan strukturnya sendiri namun keduanya membawa pesan yang sama yaitu rasa keikhlasan, kesabaran dan sikap toleran pada pemeluk agama dan budaya yang berbeda.

Tidak bisa mengharapkan kesetiaan sebuah film terhadap novel sebagai sumber cerita karena pasti akan terdapat perubahan-perubahan mengikuti sifat media dan penikmatnya masing-masing. Penonton film Ayat-ayat Cinta mungkin tidak semuanya pernah membaca novel Ayat-ayat Cinta. Begitu juga pembaca novel Ayat- Ayat cinta mungkin tidak semuanya telah menonton filmnya. Sikap untuk membedakan cara menikmati kedua media yang berbeda itu diperlukan agar tidak terjadi kekecewaan karena perbedaan antara film dan novel.

(8)

Daftar Rujukan

Damono, Sapardi Djoko. 2012. alih wahana. Editum

Haryadi Rohmat, 2008. Saat Bioskop Jadi Majelis Taklim. Sihir Film Ayat-Ayat Cinta. MMU. Bandung

Referensi

Dokumen terkait

Yeni Oktarina (UMS, 2009), berjudul Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata, menyimpulkan bahwa nilai yang terdapat dalam novel

Permasalahan dalam penelitian ini yang pertama adalah bagaimana unsur kapitalisme yang ada dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dan yang kedua

Fuadi sebagai materi pembelajaran sastra Indonesia di SMA.Metode penelitian yang digunakan dalam mengkaji novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Negeri 5 Menara

ungkapan dalam setiap paragraf dalam novel Laskar Pelangi Karya.. Andrea Hirata yang mengandung dimensi sosial terkait dengan. kesenjangan sosial.

terfokus kepada mengkaji visualisasi (tipografi, ilustrasi, dan tata letak) desain sampul buku novel karya Andrea Hirata yaitu, “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi”,

PENGEMBANGAN SASTRA SEBAGAI INDUSTRI KREATIF: Studi Kasus Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata.. Ali Imron

Novel Laskar Pelangi yang merupakan karya spektakuler Andrea Hirata tersebut memiliki pesan pendidikan Islam, salah satunya adalah pendidikan keimanan, yang

Pendekatan strukturalisme genetik di sini digunakan untuk mengkaji beberapa karya Andrea Hirata yang diambil secara acak, terdiri dari novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan