TINJAUAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RAB PENG (1)

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINJAUAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) PENGAMAN

ABRASI PANTAI MUNTE KABUPATEN LUWU UTARA

Sarwindayanti, Faisal Junaidi

1)

Paulus Ala dan Jhon Asik

2)

Abstrak : Sarwindayanti dan Faisal Junaidi, “Tinjauan RAB Pengaman Abrasi Pantai Munte Kab. Luwu Utara” (Paulus ala’, S.T.,M.T. dan Jhon Asik,S.ST).

Rencana Anggaran biaya adalah perhitungan biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Dalam setiap proyek tentunya harus menghitung rencana anggaran biaya yang diperlukan pada proyek tersebut. Anggaran biaya sebelum proyek dilaksanakan pasti akan berbeda setelah proyek dilaksanakan.

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung RAB berdasarkan volume pekerjaan pada gambar pelaksanaan di lapangan (As Built Drawing) dan untuk menghitung anggaran biaya pekerjaan berdasarkan volume yang telah dihitung menggunakan Ms. Project.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggaran yang didapatkan berdasarkan gambar kerja dilapangan (As built Drawing) sebesar Rp. 16.695.931.113,- anggaran biaya yang didapatkan berdasarkan perhitungan ini lebih murah 2,14% dibandingkan biaya oleh pihak kontraktor sebesar Rp. 17.052.451.356,-. Sedangkan jumlah anggaran biaya yang dibutuhkan berdasarkan Microsoft Project adalah Rp. 16.637.970.402,-anggaran biaya yang didapatkan berdasarkan perhitungan ini lebih murah 0,35% dibandingkan biaya dari hasil pehitungan As Built Drawing sebesar Rp 16.695.931.113,-.

Kata Kunci :Tinjauan RAB, Pengaman Abrasi Pantai, Microsoft Project

I. PENDAHULUAN

Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) suatu proyek adalah kegiatan yang dilakukan sebelum proyek dilaksanakan. Anggaran Biaya Proyek adalah banyaknya biaya yang dibutuhkan baik upah maupun bahan dalam sebuah pekerjaan proyek konstruksi, sedangkan Rencana Anggaran Biaya adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut Dari RAB ini, akhirnya dihasilkan daftar kebutuhan material dan upah tenaga melalui proses penjabaran. Daftar ini berisi volume, harga satuan, serta total harga dari berbagai macam jenis material dan upah tenaga yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek tersebut. Pembuatan RAB dan penjabarannya untuk menghasilkan daftar kebutuhan material dan upah tenaga memerlukan beberapa tahap yang membutuhkan ketelitian serta kecermatan dari seorang estimator proyek sehingga pengerjaan suatu proyek dapat berjalan sebagai mana mestinya.

Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, terdapat suatu proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Suatu proyek tanpa sistem pengendalian dan kinerja yang efektif untuk memantau dan mengawasi pekerjaan dan orang-orang yang terlibat didalamnya akan memungkinkan terjadinya penyimpangan biaya dan keterlambatan waktu. Jadi, dalam pemakaian biaya dan waktu dalam pelaksanaan pekerjaan perlu ada tolak ukur nyata yang efektif, misalnya sasaran dan tujuan yang telah digariskan, kebijakan, prosedur, dan anggaran.

Dalam sebuah proyek, pelaksanaan di lapangan biasanya tidak sesuai dengan perencanaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor sumber daya, material, alam dan lain-lain. Seperti halnya pada proyek Pengaman Abrasi pantai Munte yang terletak di Kecamatan Tanalili Kabupaten Luwu Utara terdapat beberapa perubahan pada saat pelaksanaannya. Ini disebabkan oleh adanya talud lama dan 1)Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang

2)Dosen Politeknik Negeri Ujung Pandang

(2)

beberapa pekerja yang didatangkan dari daerah Jeneponto bukan dari warga setempat serta faktor pasang surut air laut yang membuat beberapa item pekerjaan menjadi terhambat pengerjaannya. Dari permasalahan tersebut memungkinkan terjadinya perubahan pekerjaan dan anggaran dari perencanaan awal.

Oleh karena banyaknya masalah-masalah yang sering timbul pada pelaksanaan proyek maka dilakukan peninjauan kembali anggaran biaya yang dibutuhkan dan didasarkan pada pelaksanaan gambar dilapangan (As Built Drawing).

Berdasarkan disiplin ilmu teknik sipil dibidang keairan dan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka penulis dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

1. Berapa besar volume pekerjaan berdasarkan gambar pelaksanaan di lapangan (As Built Drawing)

2. Berapa jumlah anggaran biaya yang dibutuhkan berdasarkan volume pekerjaan di lapangan.

3. Berapa jumlah anggaran biaya yang dibutukan menggunakan Microsoft Project.

Manfaat yang didapatkan dari penulisan tugas akhir ini adalah Menambah wawasan bagi peneliti mengenai perhitungan RAB pada pekerjaan sipil di bidang keairan, sesuai dengan tujuan penelitian dalam kasus ini, Memberikan sumbangan pemikiran bagi para kontraktor dalam penyusunan RAB dan menambah referensi bagi pembaca/pengamat tentang perhitungan RAB khususnya bangunan air.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Rencana Anggaran Biaya (Estimasi Proyek)

Estimasi adalah salah satu proses utama dalam proyek konstruksi untuk menjawab pertanyaan “Berapa besar dana yang harus disediakan untuk sebuah bangunan ?”. pada umumnya,

biaya yang dibutuhkan dalam sebuah proyek konstruksi berjumlah besar. Ketidaktepatan yang terjadi dalam penyediaannya akan berakibat kurang baik pada pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Yang dimaksud dengan Rencana Anggaran Biaya (Begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan Bangunan atau proyek tersebut. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti, cermat dan memenuhi syarat. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda dimasing-masing daerah disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja. (Rencana dan estimate real of cost, H. Bachtiar Ibrahim) Sebagai dasar untuk membuat system pembiayaan dalam sebuah perusahaan, kegiatan estimasi juga digunakan untuk merencanakan jadwal pelaksanaan konstruksi. Estimasi dapat diartikan peramalan kejadian pada masa akan datang. Kegiatan estimasi pada umumnya dilakukan dengan terlebih dahulu mempelajari gambar rencana dan spesifikasi. Berdasarkan gambar rencana, dapat diketahui kebutuhan material yang nantinya akan digunakan, sedangkan berdasarkan spesifikasi dapat diketahui kualitas bangunannya.

Menghitung Rencana Anggaran Biaya (RAB) bangunan perlu dibuat secara terperinci. Analisa perhitungan yang terperinci tentang banyaknya material bahan yang digunakan akan mempermudah untuk menyiapakan anggaran yang akan digunakan untuk membangun suatu konstruksi.

Dalam melakukan kegiatan estimasi, seorang estimator harus memahami proses konstruksi secara menyeluruh, termasuk jenis dan kebutuhan alat, karena faktor tersebut dapat memengaruhi biaya konstruksi. Selain faktor-faktor tersebut, terdapat faktor lain yang sedikit banyak ikut memberi kontribusi dalam pembuatan perkiraan biaya, yaitu:

(3)

2. Ketersediaan material 3. Ketersediaan peralatan 4. Cuaca

5. Jenis kontrak

6. Masalah kualitas dan Etika

7. System pengendalian, dan Kemampuan Manajemen

(Manajemen Proyek

Konstruksi,Wulfram I. Ervianto hal.130)

Jenis-Jenis Estimasi

Estimasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :

1.

Estimasi kelayakan,

2.

Estimasi konseptual

3.

Estimasi detail

(Manajemen Proyek Konstruksi,Wulfram I. Ervianto hal 132)

Resiko Dalam Estimasi

Seorang estimator harus berusaha mengidentifikasi sebanyak mungkin bagian-bagian yang mengandung resiko atau ketidakpastian dalam estimasinya. (Manajemen Proyek Konstruksi,Wulfram I. Ervianto hal.134)

Sumber informasi untuk Estimasi

Sumber informasi terbaik untuk estimasi biaya adalah pengalaman perusahaan. Informasi mengenai jumlah material terpakai, tenaga kerja atau jam kerja yang dikeluarkan, jam peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan setiap pekerjaan dari proyek-proyek terdahulu akan sangat berguna. (Manajemen Proyek Konstruksi,Wulfram I. Ervianto hal. 135)

Mendefinisikan Jenis Pekerjaan

Pengambilan keputusan mengenai pemisahan jenis pekerjaan sangat bersifat subyektif. Estimator harus selalu mengingat prinsip: jika pekerjaan berbeda maka pisahkanlah. Beberapa hal yang dapat membantu pembagian jenis pekerjaan yaitu :

1.

Jenis material, produktifitas tenaga kerja dan penggunaan peralatan dapat menjadi pegangan dalam pemisahan item-item. Contoh : biaya material blok beton akan bervariasi menurut ukurannya. Jika proyek memerlukan lebih dari satu ukuran blok, estimator

harus memisahkan blok tersebut menurut ukurannya selama penghitungan jumlah dan pemberian harga.

2.

Tujuan estimator adalah estimasi harus tepat dan praktis. Dari Gambar 8.1 terlihat bahwa ketelitian estimasi akan bertambah menurut waktu yang dialokasi untuk estimasi. Tingkat ketelitian maksimum akan tercapai pada satu waktu tertentu.

3.

Untuk beberapa material, pembagian jenis pekerjaan harus berdasarkan ukuran karena perbedaan biaya untuk masing-masing ukuran.

4.

Cuaca dapat memengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja. Jadwal dan beberapa tanggal tertentu dapat menyebabkan perbedaan jenis pekerjaan selama musim tertentu.

5.

Peralatan yang dipakai dapat memengaruhi pemisahan jenis pekerjaan dalam estimasi karena perbedaan biaya masing-masing peralatan. Misalnya, pemisahan estimasi pekerjaan pengecoran dengan pemakaian crane dan pompa.

6.

Dari jadwal pekerjaan, estimator dapat mendeteksi pemisahan pekerjaan.

7.

Adanya daftar kode standar biaya akan membantu estimator dalam menentukan pemisahan jenis pekerjaan yang sesuai.

Gambar 2.2 Tingkat ketelitian estimasi menurut waktu yang dialokasikan

Hal lain yang perlu diingat adalah dokumentasi hasil estimasi. Karena alasan ini, estimasi perlu dibuat dengan baik, jelas dan mudah diikuti . setiap jenis pekerjaan dalam estimasi haruslah mempunyai deskripsi dan lokasi, dimana :

(4)

2.

Lokasi harus merupakan referensi dari gambar

(Manajemen Proyek Konstruksi, Wulfram I. Ervianto hal.137)

Tahapan Pembangunan Estimasi

1. Mempersiapkan penelaahan atas kuantitas, estimator perlu mempelajari ukuran dan karakteristik fisik material, dampaknya mempelajari ukuran dan karakteristik fisik material, dampaknya terhadap tenaga kerja, dan jenis peralatan yang diperlukan untuk pemakaian material terpilih.

2. Penelaahan kuantitas material yang urut dan konsisten, estimator umumnya mengurutkan berdasarkan porsi terbesar dari pekerjaan sehingga memberikan gambaran umum tentangsuatu proyek, serta perlu konsisten dalam penelaahan :

a. Nomor harus ditulis dalam urutan yang sama

b. Beri tanda cek untuk bagian dalam gambar yang telah ditelaah

c. Konsisten terhadap dimensi

3. Satuan pengukuran, satuan pengukuran yang dipakai untuk menghitung kuantitas harus dapat menunjukkan penilaian yang tepat. 4. Mengukur perhitungan, kalkulasi

dari estimasi harus akurat dan efisien, Estimator harus mempunyai pengetahuan luas mengenai matematika dasar. Hal ini mencakup aljabar, geometri, trigonometri, konversi angka-angka dan hokum-hukum matematika. Beberapa hal mengenai kalkulasi yang perlu diperhatikan :

a. Perhitungan awal perlu dibuat atas ukuran bangunan keseluruhan. Perhitungan berdasarkan batas-batas bangunan, tinggi bangunan total, dan luas bangunan total perlu dilakukan untuk membantu penentuan keputusan apakah penawaran perlu dilakukan.

b. Perhitungan deduktif dapat mengurangi waktu dan energy. Luas dinding dapat dihitung dengan menjumlahkan luas bagian-bagian elemen solid atau dengan menghitung dinding secara keseluruhan, kemudian dikurangi luas void (pintu dan jendela)

c. Konversi angka-angka perlu dilakukan jika untuk satu jenis melakukan perhitungan ini karena : 1) Ukuran material yang tersedia

tidak sesuai dengan yang diperlukan. Jika diperlukan 10 balok kayu dengan panjang 4 m sementara ukuran standar 5 m, maka akan tersisa 10 balok kayu dengan panjang 1 m. 2) Tempat pemasangan yang

berbeda-beda. Beton yang digunakan untuk pondasi akan lebih banyak terbuang dibanding beton untuk didnding disebabkan oleh ketidakstabilan tanah untuk pondasi.

3) Peralatan atau prosedur penempatan material yang menyebabkan material terbuang.

4) Prosedur manajemen material yang kurang baik seperti pekerjaan ulang, kesalahan pembelian.(Manajemen Proyek Konstruksi,Wulfram I. Ervianto hal.140)

Penyusunan Anggaran Biaya Proyek

(5)

Gambar 2.3 kegiatan estimasi oleh pihak-pihak dalam proyek konstruksi

Kontraktor akan memenangkan lelang jika penawaran yang diajukan mendekati Owner Estimate (OE) atau Engineer Estimate (EE), kisaran yang masih dapat diterima oleh Owner akan dibahas dalam bab tersensiri tentang lelang. Dalam menetukan harga penawaran, kontraktor harus memasukkan aspek-aspek lain yang sekiranya berpengaruh terhadap biaya proyek nantinya.

Tahap-tahap yang sebaiknya dilakukan untuk menyusun anggaran biaya adalah berikut :

1. Melakukan pengumpulan data tantang jenis, harga serta kemampuan pasar menyediakan bahan/material konstruksi secara kontinu.

2. Melakukan pengumpulan data tentang upah pekerja yang berlaku di daerah lokasi proyek dan atau upah pada umumnya jika pekerja didatangkan dari luar daerah lokasi proyek.

3. Melakukan perhitungan analisa bahan dan upah dengan menggunakan analisa yang diyakini baik oleh si pembuat anggaran. Dalam tulisan ini, digunakan perhitungan berdasarkan analisa SNI (Standar Nasional Indonesia).

4. Melakukan perhitungan harga satuan pekerjaan dengan memanfaatkan hasil analisa satuan pekerjaan dan daftar kuantitas pekerjaan.

5. Membuat rekapitulasi.

Gambar 2.4 Tahap penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB)(Manajemen Proyek Konstruksi,Wulfram I. Ervianto hal. 143)

Bagian-bagian dari Penyusunan RAB

1. Volume pekerjaan, yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan, ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. Jadi volume (kubikasi) suatu pekerjaan, bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya), melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan.

2. Uraian Volume Pekerjaan, yang dimaksud dengan uraian volume pekerjaan,ialah menguraikan secara rinci besar volume atau kubikasi suatu pekerjaan. Menguraikan, berarti menghitung besar volume masing-masing pekerjaan sesuai dengan gambar bestek dan gambar detail. Sebelum menghitung volume masing-masing pekerjaan, lebih dulu harus dikuasai membaca gambar bestek berikut detail/penjelasan.

3. Harga satuan pekerjaan, yang dimaksud dengan Harga Satuan Pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. Harga bahan didapat dipasaran, dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan daftar harga satuan bahan. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang

DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN

DAFTAR HARGA

SATUAN BAHAN DAFTAR HARGA SATUAN UPAH DAFTAR HARGA

SATUAN UPAH

DAFTAR HARGA SATUAN UPAH &

BAHAN

DAFTAR HARGA SATUAN UPAH &

BAHAN

DAFTAR VOLUME & HARGA SATUAN

PEKERJAAN DAFTAR VOLUME &

(6)

dinamakan Daftar Harga Satuan Upah. Harga satuan bahan dan upah tenaga kerja di setiap daerah berbeda-beda. Jadi dalam menghitung dan menyusun

Anggaran Biaya suatu

bangunan/proyek, harus berpedoman pada harga satuan bahan dan upah tenaga kerja di pasaran dan lokasi pekerjaan.

4. Analisa Bahan, yang dimaksud dengan analisa bahan suatu pekerjaan, ialah menghitung banyaknya volume masing-masing bahan, serta besarnya biaya yang dibutuhkan.

(Rencana dan estimate real of cost, H. Bachtiar Ibrahim hal. 134)

Menyusun Anggaran Biaya

Dalam menyusun anggaran biaya dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut : 1. Anggaran Biaya kasar (taksiran) 2. Anggaran Biaya teliti

Namun pada penelitian tugas akhir ini penulis menggunakan anggaran biaya teliti. a. Yang dimaksud dengan anggaran biaya teliti ialah anggaran biaya bangunan atau proyek yang dihitung dengan teliti dan cermat, sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat penyusunan anggaran biaya. Sedangkan penyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti, didasarkan atau didukung oleh ; 1) Bestek

Gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis

2) Gambar bestek

Gunanya untuk

menentukan/menghitung besarnya masing-masing volume pekerjaan. 3) Harga satuan pekerjaan

Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. Harga bahan didapat dipasaran, dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan daftar harga satuan.. (Rencana dan estimate real of cost, H. Bachtiar Ibrahim hal. 4)

Contoh perhitungan dengan analisa SNI : Volume Urugan Timbunan Tanah = 2.811,80 m3

(Analisa SNI 2835:2008) Rumus :

Rencana Anggaran Biaya

Rencana anggaran biaya adalah besarnya rencana biaya pelaksanaan pekerjaan yang dihitung secara teliti dan terperinci yang meliputi biaya bahan dan upah tenaga kerja dengan atau tanpa menggunakan alat berat, termasuk didalamnya biaya tak terduga (tidak termasuk keuntungan). Rencana anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan secara umum dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Dibawah ini adalah Bill of Quantity Proyek Pengaman Abrasi Pantai Munte Kab. Luwu Utara dari pihak kontraktor.

Tabel 2.1 Bill of Quantity PT.Bumi Karsa

(7)

Perencanaan Bangunan Konstruksi

Setiap proyek konstruksi selalu dimulai dengan proses perencanaan. Agar proses ini berjalan dengan baik maka ditentukan terlebih dahulu sasaran utamanya. Perencanaan mencakup penentuan berbagai cara yang memungkinkan kemudian menentukan salah satu cara tepat dengan mempertimbangkan semua kendala yang mungkin ditimbulkan. ( Wulfram I. Ervianto, Manajemen Proyek konstruksi hal. 4 ).

Perkiraan jenis dan jumlah sumber daya yang dibutuhkan dalam suatu proyek konstruksi menjadi sangat penting untuk mencapai keberhasilan proyek sesuai tujuannya. Kontribusi sumber daya dalam perencanaan adalah memungkinkan perumusan dari suatu rencana atau beberapa rencana yang akan memberi gambaran secara menyeluruh tentang metoda konstruksi yang digunakan dalam mencapai tujuan.

Berbagai teknik perencanaan telah tersedia untuk membantu para perencana dalam mengelola kegiatannya, misalnya perencanaan jalur kritis (Critical Path Method). Seringkali penggunaan teknik-teknik ini membantu perencana untuk

melakukan fungsi berikutnya seperti fungsi pengendalian (control).

Perencanaan dapat didefinisikan sebagai peramalan masa yang akan datang dan perumusan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan berdasarkan peramalan tersebut (Wulfram I. Ervianto, Manajemen Proyek Konstruksi hal. 5).

Fase perencanaan merupakan fase yang paling menentukan. Pada hakikatnya fase ini adalah simulasi proyek, yaitu penggambaran kegiatan memenuhi kendala yang ada. Disini dilakukan perincian kegiatan, jadwal, dan biaya ( Sukanto Reksohadiprodjo, Manajemen proyek edisi 5 hal 101).

Pelaksanaan Proyek

Pelaksanaan proyek merupakan bagian terpenting, oleh karena dengan kegiatan inilah nantinya diciptakan suatu bangunan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan akhir. Tahap pelaksanaan (construction) ini bertujuan mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek dan sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya dan waktu yang telah disepakati, serta dengan mutu yang telah disyaratkan.

Kegiatan yang dilakukan adalah merencanakan, mongoordinasi, mengendalikan semua operasional di lapangan. Kegiatan perencanaan dan pengendalian adalah :

1. Perencanaan dan pengendalian jadwal waktu pelaksanaan.

2. Perencanaan dan pengendalian organisasi lapangan

3. Perencanaan dan pengendalian tenaga kerja

4. Perencanaan dan pengendalian peralatan dan material

Kegiatan koordinasi adalah :

1. Mengoordinasikan seluruh kegiatan pembangunan, baik untuk bangunan sementara maupun bangunan permanen, serta semua fasilitas dan perlengkapan yang terpasang. 2. Mengoordinasikan para

subkontraktor 3. Penyeliaan umum

(8)

Pelaksanaan proyek harus selalu ditinjau kembali setiap waktu (secara periodik) maupun berdasar hal/topik tertentu agar supaya diketahui tanda-tanda kemungkinan pelaksanaan menyimpang dari rencana semula. Ingin dilihat bagaimana status proyek sekarang baik dalam hal pemenuhan jadwal, biaya, alokasi sumber daya manusia, maupun dalam hal pemenuhan kuantitas sesuai pesanan serta kualitas hasil.

Peninjauan kembali pun harus direncanakan secara seksama, kapan dilakukan kegiatan, siapa yang melakukan, dimana dilakukan, dan yang penting ialah menanyakan mengapa pelaksanaannya demikian. Pertanyaan yang tak langsung biasanya akan membantu mengenali persoalan yang tersembunyi baik itu mengenai biaya maupun jadwal. Dapat dihitng adanya varians dan sekaligus sebab sebabnya. Mungkin karena volume pekerjaan salah diestimasikan, harga meningkat, produktivitas karyawan rendah, dan lain–lain.

Persoalan yang biasa timbul ialah sukarnya mengumpulkan data yang diperlukan untuk membuat laporan perbandingan antara rencana dan realisasi proyek. Oleh karena itu perusahaan harus terlebih dahulu memiliki system dan prosedur yang baik untuk peninjauan kembali pelaksaaan proyek, baik itu secara periodik maupun terhadap topik-topik tertentu (misalnya desain konseptual, desain sementara, desain kritis, proses produksinya, proses pengiriman, manajemen dan langganan). Seperti diketahui biaya riil pelaksanaan proyek harus diawasi untuk mengendalikan dimensi biaya dan biasanya mengungkapkan persoalan-persoalan dimensi jadwal dan hasil kegiatan. Dari laporan biaya dapat dilihat ringkasan proyek dan juga penyimpangan dari jadwal.

Ada beberapa aspek yang perlu ditinjau dalam rencana proyek, yaitu :

1. Meninjau hasil proyek.

2. Meninjau SDM yang diperlukan 3. Meninjau WBS proyek

4. Meninjau estimasi proyek 5. Meninjau jadwal proyek.

Dari kelima aspek diatas, hanya 1 aspek yang akan dibahas lebih mendalam yaitu meninjau estimasi biaya (Rencana

Anggaran Biaya) pada proyek Pengaman Abrasi Pantai Munte Kab. Luwu Utara.

Bangunan Pantai

Erosi pantai dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar dengan rusaknya kawasan pemukiman dan fasilitas-fasilitas yang ada di daerah tersebut untuk menanggulangi erosi pantai, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari penyebab terjadinya erosi dengan mengetahui penyebabnya dapat ditentukan cara penanggulangannya yang biasanya adalah dengan membuat bangunan pelindung pantai atau menambah suplai sediman.

Bangunan pantai digunakan untuk melindungi pantai terhadap kerusakan karena serangan gelombang dan arus ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai, yaitu :

1. Memperkuat atau melindungi pantai agar mampu menahan serangan gelombang.

2. Mengubah laju transport sedimen sepanjang pantai.

3. Mengurangi energy gelombang yang sampai ke pantai

4. Reklamasi dengan menambah suplai sedimen ke pantai atau dengan cara lain.

Sesuai dengan fungsinya tersebut diatas, bangunan dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok yaitu :

a. Pertama konstruksi yang dibangun di pantai dan sejajar dengan garis pantai, misalnya revetment.

b. Konstruksi yang dibangun kira-kira tegak lurus pantai dan sambung ke pantai meliputi groin dan jetty.

(9)

Gambar 2.5 Beberapa tipe bangunan pelindung pantai (Teknik Pantai,Bambang Triatmodjo hal.203)

Menurut bentuknya bangunan pantai dapat dibedakan menjadi bangunan sisi miring dan sisi tegak yang termasuk dalam kelompok pertama adalah bangunan dari tumpukan batu yang bagian luarnya diberi lapisan pelindung yang terbuat dari batu-batu ukuran besar, blok beton,atau batu-batu buatan dari beton dengan bentuk khusus seperti tetrapod, quadripods, tribars, dolos, dan sebagainya. Lapis pelindung ini harus mampu menahan serangan gelombang. Sedang yang termasuk dalam tipe kedua adalah bangunan terbuat dari pasangan batu, kaison beton, tumpukan buis beton, dinding turap baja, atau beton dan sebagainya.

Ada berbagai jenis dinding pantai dan mempunyai fungsi masing-masing. dinding pantai yang terbuat dari pasangan batu digunakan untuk menahan gelombang besar dan tanah dasar relatif kuat. Untuk dinding pantai yang terbuat dari susunan

blok beton yang dibangun pada tanah dasar relatif kuat (misalnya terdapat batu karang) untuk melindungi bangunan (jalan raya) yang berada sangat dekat dengan garis pantai.

Gambar 2.8 Beberapa bentuk dinding pantai (Teknik Pantai,Bambang Triatmodjo hal.209)

Microsoft Project sebagai penunjang dalam perhitungan RAB

Pada umumnya ada banyak software penunjang dalam perhitungan RAB namun pada penulisan tugas akhir ini penulis menggunakan Microsoft Project sebagai penunjang dalam penyusunan tugas akhir ini.

Berdasarkan survei dengan judul tools of the Trade: A survey of Project Management Alat Bantu yang dipublikasikan Project Management Journal tahun 1998, terpilih 10 alat bantu top pendukung manajeman proyek.Namun Microsoft Project dalam survei tersebut menduduki peringkat pertama sebagai alat bantu pendukung manajemen proyek. Hal ini mengimplikaisikan keandalan software aplikai tersebut.

Microsoft Project adalah tools (perangkat) atau alat bantu yang digunakan untuk keperluan pengelolaan/manajemen proyek. Microsoft office Project atau lebih dikenal dengan sebutan Microsoft Project ini terdiri dari beberapa versi. Tentunya semakin baru versinya akan semakin lengkap fitur ataupun sarana yang dimilikinya.

Project atau biasa disebut proyek merupakan suatu rangkaian kerja dari suatu pekerjaan mulai dari tahap perencanaan hingga tahap akhir. Microsoft Project

Gambar 2.6. Bangunan Pantai sisi Miring

(10)

merupakan rencana kerja dalam sebuah proyek.

Gambar 2.9 Program Ms Project Ada beberapa isitilah yang sering dijumpai dalam Ms project diantaranya yaitu:

a. Task yaitu item pendukung utama sebuah proyek atau jenis-jenis pekerjaan dlam sebuah proyek.

b. Duration adalah jangka waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Dalam pengisian duration, Microsoft Project telah menyediakan default satuan waktu di antaranya

Tabel 2.2Satuan waktu dalam Ms. Project

c. c. c. c. c. c. c. c. c. c. c. c. Start adalah nilai tanggal dimulainya

suatu pekerjaan.

d. Finish adalah tanggalakhir pekerjaan

e. Prodecessor merupakan suatu hubungan/keterkaitan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lain f. Resources yaitu penggunaan

sumber daya baik sumber daya manusia maupun material.

g. Cost adalah biaya yang diperlukan untuk menjalankan sebuah proyek. h. Gantt Chart adalah bentuk tampilan

dari hasil kerja Microsoft Project dalam bentuk batang horizontal 3 dimensi yang menggambarkan

masing-masing pekerjaan beserta durasinya.

i. Baseline adalah suatu rencana baik jadwal maupun biaya yang telah disetujui dan tetapkan. Baseline digunakan sebagai patokan dan perbandingan antara rencana kerja yang dimiliki dengan kenyataan di lapangan.

j. Tracking yaitu peninjauan hasil kerja di lapangan dengan rencana semula dalam Microsoft Project. k. Milestone digambarkan dengan nilai

durasi 0, karena milestone hanya digunakan sebagai penanda dari serangkaian pekerjaan bahwa pada waktu tersebut pekerjaan telah selesai.

(Microsoft Project 2010, C.Trihendradi hal 3)

III. METODE PENELITIAN

Tinjauan Umum Proyek

Dalam proses pelaksanaan Proyek Pengaman Abrasi Pantai Munte terdapat beberapa tahapan pekerjaan diantaranya pekerjaan persiapan, pekerjaan tanah, pekerjaan tembok laut, pekerjaan perkuatan kaki, pekerjaan drainase, dan pekerjaan pipa pembuangan ke laut. Untuk mengefektifkan pelaksanaan.

pekerjaan, maka dibuat suatu metode pelaksanaan yang tidak terlepas dari proses manajemen yang meliputi pembuatan time schedule dan sistem manajemen.

Data-data Proyek

1. Nama Proyek

Nama proyek ini adalah Pengaman Abrasi Pantai Munte Kab. Luwu Utara.

2. Lokasi Proyek

Lokasi Proyek Pengaman Abrasi terletak di Desa Munte Kecamatan Tanalli Kabupaten Luwu Utara Propinsi Sulawesi Selatan. Adapun peta lokasi proyek ini adalah sebagai berikut :

Satuan Inisial menit (minute) mins

jam (hour) hrs

hari (days) days 1 hari penuh

(elapsed day) ed 1 minggu penuh

(11)

Gambar 3.1 Peta Lokasi Proyek

3. Sumber Dana dan Anggaran Proyek

Adapun sumber dana proyek ini dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan anggaran dari proyek ini adalah sebesar Rp.18.757.696.000,00 (Delapan belas milyar tujuh ratus lima puluh enam juta enam ratus sembilan puluh enam ribu rupiah). 4. Jangka Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan pekerjaan Pengaman Abrasi Pantai Munte Kab. Luwu Utara yaitu 240 hari kalender terhitung dari tanggal 19 Maret 2012 sampai 10 November 2012.

Metode Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian tugas akhir ini adalah pada proyek Pengaman Abrasi Pantai Munte Kab. Luwu Utara yang mana berlangsung mulai dari bulan Februari – September 2013 yang bertempat di Desa Munte, Kec. Tanalili, Kab. Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Jenis dan Sumber Data a. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari beberapa instansi terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum Kab. Luwu Utara

berupa daftar harga upah dan bahan tahun 2012, dari pihak kontraktor dalam hal ini PT.Bumi Karsa, data yang diperoleh berupa gambar kerja (As Built Drawing) dan Bill of Quantity proyek Pengaman Abrasi Pantai Munte Kab. Luwu Utara. b. Penelitian Pustaka

Dengan membaca sejumlah buku, literature-literatur, serta hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah penelitian ini.

3. Pengolahan Data

Metode pengolahan data dituangkan dalam bagan alir (Flow Chart) berikut ini :

Mulai

Data Sekunder : Gambar Kerja (As Built Drawing)

Bill Of Quantity Proyek Harga Upah dan bahan Luwu Utara tahun 2012

Tinjauan Pustaka

Pengambilan Data

Selesai

Perhitungan RAB Pengolahan Data

AutoCad Ms. Excel

Volume

Ms. Excel Ms. Project

(12)

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

1. Perhitungan Volume Pengaman Abrasi Pantai

Tabel rekapitulasi volume yang didapatkan dari hasil perhitungan gambar as built drawing dalam tabel 4.1 dibawah ini. Sedangkan untuk perhitungan volume yang lebih terperinci dapat dilihat pada lampiran 4 hal L4-1.

Tabel 4.1 Rekapitulasi Perhitungan Volume Pengaman Abrasi Pantai Munte

2. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Rencana anggaran biaya Pengaman Abrasi Pantai Munte yang diperoleh berdasarkan Analisa Harga Satuan Pekerjaan yang menggunakan SNI terdapat dalam tabel 4.2. Untuk perhitungan Analisa Harga Satuan yang lebih terperinci dapat dilihat pada

lampiran 3. Sedangkan untuk harga upah dan bahan dapat dilihat dalam lampiran 2.1 hal L2-1 dan lampiran 2.2 hal L2-2.

Tabel 4.2Rencana Anggaran Biaya Pengaman Abrasi Pantai Munte

3. Rekapitulasi

Rekapitulasi rencana anggaran biaya pengaman abrasi pantai munte yang diperoleh dari perhitungan diatas yang merupakan rangkuman biaya setiap item pekerjaan terdapat dalam tabel 4.3.

(13)

4. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) menggunakan Microsoft Project

Rencana Anggaran biaya pengaman abrasi pantai munte Kab. Luwu utara yang menggunakan aplikasi Microsoft Project terdapat dalam tabel 4.4. untuk hasil dari Ms. Project yang lebih terperinci dapat dilihat pada lampiran 8.

Tabel 4.4Perhitungan RAB Pengaman Abrasi Pantai menggunakan Ms. Project

Pembahasan

Dalam pembahasan ini, penulis menerapkan beberapa hasil analisa perhitungan yang didapatkan kemudian dibandingkan dengan pelaksanaan pekerjaan berupa data – data yang kami peroleh di lapangan (proyek). Selain itu, penulis menggunakan aplikasi Microsoft Project sebagai pembanding data-data yang telah kami hitung. Selanjutnya penulis memperoleh selisih anggaran biaya dari setiap item pekerjaan. Dibawah ini rincian selisih anggaran biaya pada setiap item pekerjaan.

1. Pekerjaan Pendahuluan

Pekerjaan pendahuluan terdiri dari beberapa item pekerjaan, berdasarkan hasil bill of quantity dari pihak kontraktor sebesar Rp.95.600.000,-.

Dalam pekerjaan pendahuluan, tidak memiliki selisih biaya pada setiap analisa karena menggunakan harga lumpsum.

2. Pekerjaan Tanah

Pekerjaan tanah terdiri dari beberapa item pekerjaan, berdasarkan hasil bill of quantity dari pihak kontraktor sebesar Rp.1.147.676.101,- dan anggaran biaya yang dihitung berdasarkan as built drawing sebesar Rp. 1.995.392.929,- sehingga selisih yang didapatkan adalah sebesar Rp.847.716.828,-. Selain itu, berdasarkan analisa Ms. Project diperoleh anggaran sebesar Rp. 1.986.822.985,-. Dan selisih harga antara As Built Drawing dan Ms. Project adalah Rp.8.569.944,-. Adapun yang menyebabkan terdapat selisih antara Bill of quantity dan As Built Drawing adalah pertambahan volume pekerjaan pada as built drawing yaitu pada item pekerjaan galian tanah berpasir (mekanis), pada timbunan tanah hasil galian diratakan, dirapihkan dan dipadatkan dan pada pekerjaan timbunan tanah dari luar diratakan, dirapihkan dan dipadatkan. Dan pada pekerjaan tanah tedapat penambahan 2 item pekerjaan pada As Built Drawing, yaitu Timbunan pasir tebal 10 cm dan Timbunan sirtu.

3. Pekerjaan Tembok Laut

Pekerjaan tembok laut terdiri dari beberapa item pekerjaan, berdasarkan hasil bill of quantity dari pihak

kontraktor sebesar

(14)

plesteran 1 PC : 3 Psr. Selain itu terdapat pertambahan jumlah volume pada beberapa item pekerjaan, yaitu Pekerjaan Buis beton ukuran d = 1 m, T = 0,50 m, tebal = 10 cm yang pada buis beton tersebut ditambahkan besi tulangan, Beton Cyclop 60%,1 PC : 3Psr : 5 Krl + 40% Batu pecah, Angker, pekerjaan Beton Tulang 1 PC : 2 Psr : 3 Bt Pecah yang pada tembok Talud lama ditambahkan beton Reflektor sebagai penguat, dan Pemisah / Deletasi dari karet Talang.

4. Pekerjaan Perkuatan Kaki

Pekerjaan tanah terdiri dari beberapa item pekerjaan, berdasarkan hasil Bill Of Quantity dari pihak kontraktor sebesar Rp.1.046.880.912,- dan anggaran biaya berdasarkan As Built Drawing sebesar Rp. 1.560.360.081,-sehingga selisih yang didapatkan adalah sebesar Rp.513.479.169,-. Selain itu, berdasarkan analisa Ms. Project didapatkan anggaran sebesar Rp. 1.560.356.600,-. Dan selisih harga antara As Built Drawing dan Ms. Project adalah Rp.3.481,-. Adapun yang menyebabkan terdapat selisih antara Bill Of Quantity dan As Built Drawing adalah pertambahan volume pekerjaan pada Talud lama pada hasil perhitungan As Built Drawing.

5. Pekerjaan Drainase

Pekerjaan drainase terdiri dari beberapa item pekerjaan, berdasarkan hasil Bill Of Quantity dari pihak kontraktor sebesar Rp.2.447.090.542,-dan anggaran biaya berdasarkan As Built Drawing sebesar Rp. 662.397.947,- sehingga selisih yang didapatkan adalah sebesar Rp.1.784.692.595,-. Selain itu, berdasarkan analisa Ms. Project didapatkan anggaran sebesar Rp. 633.464.398,-. Dan selisih harga antara As Built Drawing dan Ms. Project adalah Rp.28.933.550,-. Adapun yang menyebabkan terdapat selisih antara Bill of quantity dan As built Drawing adalah pengurangan volume yang sangat besar pada Pekerjaan Pasangan Batu kali , 1 PC : 3 Psr, Pekerjaan Plesteran 1 PC : 3 Psr dan Pekerjaan

Rabat Beton 1 Pc : 3 Psr : 5 Bt. Pecah. Selain itu, terdapat pertambahan item pekerjaan yaitu Pekerjaan Paving Block Tebal = 6 cm.

6. Pekerjaan Pipa Pembuangan Ke Laut

Pekerjaan pipa pembuangan ke laut terdiri dari 1 item pekerjaan, berdasarkan hasil Bill Of Quantity dari pihak kontraktor sebesar Rp.6.784.223,- dan anggaran biaya berdasarkan As Built Drawing sebesar Rp. 6.527.812,- sehingga selisih yang didapatkan adalah sebesar Rp. 256.411,-. Selain itu, berdasarkan analisa Ms. Project didapatkan anggaran sebesar Rp. 6.524.800-. Dan selisih harga antara As Built Drawing dan Ms. Project adalah Rp. 3.012,-. Adapun yang menyebabkan terdapat selisih antara Bill of quantity dan asbuilt drawing adalah terjadi pengurangan volume pekerjaan pada hasil As Built Drawing.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa setelah melakukan perhitungan, didapatkan :

1. Volume pekerjaan berdasarkan gambar pelaksanaan dilapangan pada:

a. Pekerjaan Pendahuluan menggunakan satuan lumpsum, b. Pekerjaan Tanah adalah

10.234,50m3

c. Pekerjaan Tembok Laut adalah 3,337.23 m3

d. Pekerjaan Perkuatan Kaki adalah 5.578,00 m3

e. Pekerjaan Drainase adalah 333,24 m3

f. Pekerjaan Pipa Pembuangan ke Laut adalah 83 m1

2. Jumlah anggaran biaya yang didapatkan berdasarkan volume pekerjaan di lapangan (As Built

Drawing) adalah Rp

(15)

kontraktor sebesar Rp. 17.052.451.356,-.

Hal ini disebabkan karena adanya pertambahan serta pengurangan volume dibeberapa item pekerjaan berdasarkan Asbuilt Drawing, serta bedanya Harga Satuan yang didapatkan pada perhitungan berdasarkan SNI yang digunakan dengan Harga Satuan Kontrak dari pihak Kontraktor.

3. Jumlah anggaran biaya yang dibutuhkan berdasarkan Microsoft Project adalah Rp.16.637.970.402,-anggaran biaya yang didapatkan berdasarkan perhitungan ini lebih murah 0,35% dibandingkan biaya dari hasil pehitungan As Built

Drawing sebesar Rp

16.695.931.113,-.

Hal ini disebabkan karena dalam pengoperasian Microsoft Project harus menginput durasi yang terdapat dalam Schedule sehingga mempengaruhi anggaran yang dibutuhkan dalam waktu tersebut.

Saran

Berdasarkan dari penelitian tugas akhir ini, adapun saran yang ingin Penulis berikan yaitu :

1. Pada saat melakukan perhitungan volume, sebaiknya lebih teliti dan cermat karena besarnya jumlah volume yang didapatkan akan berpengaruh pada anggaran biaya yang diperlukan. 2. Sebaiknya menggunakan harga upah

dan bahan yang berlaku pada tempat pelaksanaan proyek agar anggaran biaya yang dikeluarkan dalam pelaksanaan sesuai dengan anggaran biaya yang telah direncanakan.

3. Dalam melakukan penulisan ini penulis masih banyak mengalami hambatan dalam segi pengumpulan data. Sehingga penulis menyarankan kepada pemilik proyek tersebut agar data yang dibutuhkan untuk penulisan tugas akhir tidak diberikan batasan kepada mahasiswa yang akan mengadakan penelitian, yang hasilnya akan digunakan sebagai referensi dalam menghitung anggaran biaya pada suatu pekerjaan konstruksi.

4. Konsultan dan kontraktor sebaiknya selalu mengontrol pelaksanaan pekerjaan agar tidak terjadi penyimpangan baik waktu maupun biaya. Apabila ada indikasi terjadinya penyimpangan harus cepat mengambil langkah-langkah atau tindakan seperti perbaikan atau koreksi untuk mengatasi masalah yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Asri Putra, Sanjaya. 2010.Analisis Kinerja Biaya dan Waktu pada Proyek P.16 Lamasi Irrigation Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar

Badan Standardisasi Nasional. Analisa Harga Satuan SNI 2008.

I.Ervianto, Wulfram. 2010. Teori Aplikasi Manajemen ProyekKonstruksi.Yogyakarta: Penerbit Andi

Ibrahim, Bachtiar. 2003.Rencana Dan Estimasi Real of Cost. Jakarta: Bumi Aksara

Mingus, Nancy. 2004. Project

Management.Jakarta: Prenada Media

Politeknik Negeri Ujung Pandang.2011. Pedoman Penyusunan Laporan Tugas Akhir. Makassar.

Reksohadiprodjo,Sukanto.1999.Manajemen proyek Edisi 5. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta

Triatmodjo, Bambang. 1999.Teknik Pantai. Yogyakarta: Beta Offset

Trihendradi,C.2011. Microsoft Poject 2010. Yogyakarta:Penerbit Andi

Wahana Komputer.2011.Microsoft Excel 2010. Semarang: Penerbit Andi

Figur

Gambar 2.4  Tahap penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) (Manajemen Proyek Konstruksi,Wulfram I
Gambar 2 4 Tahap penyusunan Rencana Anggaran Biaya RAB Manajemen Proyek Konstruksi Wulfram I. View in document p.5
Gambar 2.3 kegiatan estimasi oleh pihak-pihak dalam proyek konstruksi
Gambar 2 3 kegiatan estimasi oleh pihak pihak dalam proyek konstruksi. View in document p.5
Gambar bestek
Gambar bestek. View in document p.6
Gambar 2.8 Beberapa bentuk dinding pantai(Teknik Pantai,Bambang Triatmodjo hal.209)
Gambar 2 8 Beberapa bentuk dinding pantai Teknik Pantai Bambang Triatmodjo hal 209 . View in document p.9
Gambar 2.6. Bangunan Pantai sisi Miring
Gambar 2 6 Bangunan Pantai sisi Miring. View in document p.9
Tabel 2.2 Satuan waktu dalam Ms. Project
Tabel 2 2 Satuan waktu dalam Ms Project. View in document p.10
Gambar 2.9 Program Ms Project
Gambar 2 9 Program Ms Project. View in document p.10
Gambar 3.1 Peta Lokasi Proyek
Gambar 3 1 Peta Lokasi Proyek. View in document p.11
Gambar Kerja (As Built Drawing)
Gambar Kerja As Built Drawing . View in document p.11
Tabel 4.1 Rekapitulasi Perhitungan
Tabel 4 1 Rekapitulasi Perhitungan . View in document p.12
Tabel 4.2 Rencana Anggaran Biaya
Tabel 4 2 Rencana Anggaran Biaya . View in document p.12
Tabel 4.3tabel 4.3. Rekapitulasi RAB Pengaman
Tabel 4 3tabel 4 3 Rekapitulasi RAB Pengaman . View in document p.12
Tabel 4.4 Perhitungan RAB Pengaman Abrasi Pantai menggunakan Ms. Project
Tabel 4 4 Perhitungan RAB Pengaman Abrasi Pantai menggunakan Ms Project. View in document p.13

Referensi

Memperbarui...