• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Kearifan Lokal Dalam Rancangan U

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hakikat Kearifan Lokal Dalam Rancangan U"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 570

HAKIKAT KEARIFAN LOKAL DALAM RANCANGAN

UNDANG-UNDANG KEBUDAYAAN

Tomy Michael

Program Studi Ilmu Hukum, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya [email protected]

Abstrak

Kearifan lokal yang merupakan ciri khas Indonesia merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan sebagai wujud dari Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Hakikat kearifan lokal menjadi penting untuk diatur dalam peraturan perundang-undangan karena terkait dengan perlindungan terhadap daya saing internasional. Di dalam Rancangan Undang-Undang Kebudayaan, hakikat kearifan lokal belum memenuhi unsur Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 karena tidak adanya ideologi bangsa yang menjadi acuan dan lebih mengarah kepada penghapusan identitas bangsa Indonesia. Saran yang diambil yaitu dengan menggali ideologi yang dianut di Indonesia secara mendalam tanpa adanya politik hukum tertentu sehingga menimbulkan keadilan hukum dan pemerintah agar segera menetapkan Rancangan Undang-Undang Kebudayaan menjadi undang-undang agar tidak menimbulkan kekosongan norma.

Kata kunci:hakikat, ideologi, keadilan hukum, kearifan lokal.

PENDAHULUAN

Mengacu pada konteks historis Indonesia bahwa dalam masa perjalanan kemerdekaan

hingga pasca reformasi nampaknya masih menyisakan persoalan tersendiri bagi paradigma

pembangunan hukum di Indonesia. Sebagaimana dikatakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa

“Negara Republik Indonesia yang berdasarkan atas hukum adalah suatu bangunan yang belum selesai disusun dan masih dalam proses pembentukannya yang intensif” (A Mukhtie Fadjar,

2003:3).

Di dalam kajian ilmu hukum, peraturan perundang-undangan merupakan hal mutlak

yang dibutuhkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimana keadilan hukum merupakan

tujuan hukum tertinggi disamping kemanfaatan hukum dan kepastian hukum.

Sebagai negara pengusung Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka Indonesia

harus memiliki konsep peraturan perundang-undangan yang tetap mengutamakan khas

Indonesia. Era globalisasi yang semakin menggurita ke berbagai sektor kehidupan masyarakat

Indonesia semakin menjadikan kajian-kajian kearifan lokal seperti hukum adat bukan semakin

mengental tetapi terdesak melawan tatanan global yang “difasilitasi” negara (Ade Saptomo,

(2)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 571

1945 (UUD NRI 1945) bahwa “Negara memajukan kebudayaan nasional lndonesia di tengah

peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan

mengembangkan nilai-nilai budayanya”.

Esensi pasal ini telah selaras dengan upaya perlindungan hukum terhadap keragaman

Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) tetapi sejak tahun 1945 masih terjadi

kekosongan norma dimana tidak ada peraturan perundang-undangan yang mengatur secara

khusus – apakah itu kebudayaan. Di dalam tulisan ini, penulis mengacu pada berkas terbaru

yaitu berkas pengusulan Rancangan Undang-Undang Kebudayaan tertanggal 17 Desember

2015 (RUUK 2015) bahwa dalam Pasal Pasal 20 ayat (2) bahwa peneguhan jati diri dan

pembangunan karakter bangsa dilaksanakan melalui bahasa; adat istiadat; pranata sosial;

pendidikan; dialog dan permusyawaratan; kearifan lokal; dan pelestarian cagar budaya.

Kekosongan norma ini tidak mencerminkan kebijaksanaan negara dalam melindungi

kearifan lokal di Indonesia. Ketika kearifan lokal menjadi bagian kehidupan sehari-hari

masyarakat maka nilai-nilai kultural yang berlaku dalam komunitas masyarakat tertentu tidak

mandeg melainkan mempengaruhi masyarakat kebudayaan lain dan dapat mengubah

aspek-aspek kebudayaan masyarakat yang dipengaruhi. Hal demikian dapat menimbulkan konflik

hukum. Oleh karena itu, hakikat kearifan lokal haruslah ditelusuri demi tercapainya keadilan

hukum.

KAJIAN PUSTAKA

Hakikat

Dapat dimengerti sebagai:

a. Studi tentang ciri-ciri esensial dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari studi

tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari Yang Ada dalam bentuknya

yang sangat abstrak studi tersebut melontarkan pertanyaan seperti: “apa itu Ada

-dalam-dirinya-sendiri?” “Apa hakikat Ada sebagai Ada?”

b. Cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang

menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas ataupotensialitas, nyata

atau tampak, perubahan, waktu, eksistensi atau non eksistensi, esensi, keniscayaan, hal

mencukupi diri sendiri, hal-hal terakhir, dasar.

c. Cabang filsafat yang mencoba a) melukiskan hakikat Ada yang terakhir (Yang Satu, Yang

Absolut, Bentuk Abadi Sempurna), b) menunjukkan bahwa segala hal tergantung padanya

bagi eksistensinya, c) menghubungkan pikiran dan tindakan manusia yang bersifat

(3)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 572

d. Cabang filsafat a) yang melontarkan pertanyaan “Apa arti ADA, BERADA?” (Pertanyaan

yang sama dilontarkan tentang kategori-kategori atau konsep-konsep lain yang digunakan

dalam (2) dan b) yang menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal

dapat dikatakan ADA, Berada.

e. Cabang filsafat yang a) menyelidiki status realitas suatu hal (misalnya, “Apakah objek

pencerapan atau persepsi kita nyata atau bersifat ilusif (menipu)?” “apakah bilangan itu nyata?” “Apakah pikiran itu nyata?”, b) menyelidiki jenis realitas yang dimiliki hal-hal (misalnya, “Apa jenis realitas yang dimiliki bi-langan? Persepsi? Pikiran?”), dan c) yang

menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut realitas dan/atau ilusi (misalnya,

“Apakah realitas – atau ciri ilusif – suatu pikiran atau objek tergantung pada pikiran kita,

atau pada suatu sumber eksternal yang independen?”) (Lorens Bagus, 2002, 746-747).

Kearifan Lokal

Di dalam Pasal 26 ayat (1) RUUK 2015, kearifan lokal ditegaskan dapat tercapai

dengan:

a. penerapan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari;

b. pengenalan kearifan lokal melalui pendidikan formal, non formal, dan/atau informal;

c. sosialisasi kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat; dan

d. pengkajian mengenai pelestarian kearifan lokal.

Makna kearifan lokal yang tidak definitif dalam RUUK 2015 tersebut dapat

menimbulkan penafsiran ganda. Di dalam hal ini, penulis memberikan pemahaman bahwa

kearifan lokal menurut RUUK 2015 adalah cara bertindak untuk menyikapi segala hal terkait

dengan hidup manusia dengan lingkungannya. Sementara itu dalam Naskah Akademis

Rancangan Undang-Undang Tentang Kebudayaan (NARUUK), kearifan lokal merupakan

gagasan atau pemikiran “otentik” mengenai sesuatu untuk menyikapi hal-hal yang berkenaan dengan hidup dan lingkungan mereka yang lahir dalam suatu masyarakat, kelompok, atau

sukubangsa tertentu, seperti lingkungan di mana mereka tinggal, tata-cara perkawinan, cara

bertahan hidup, tradisi berkesenian, sistem ekonomi, tata-cara pengobatan, dan seterusnya yang

lingkupnya sangat lokal. Oleh karenanya, kearifan lokal disebut juga sebagai indigenous

knowledge, local wisdom, ataupun local knowledge. Kearifan lokal ini termanifestasi ke dalam

praktik sehari-hari melalui aturan-aturan sosial, mitos, religi, sistem kekerabatan, dan lain

sebagainya serta berlaku pada wilayah “budaya” masyarakat tertentu saja. Dengan berlakunya

(4)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 573

Sifat khusus tersebut menimbulkan konsekuensi hukum bahwa ketika kearifan lokal

diatur secara normatif maka akan menimbulkan dilema. Di satu sisi, kearifan lokal yang

sifatnya tidak tertulis berubah menjadi tertulis walaupun dalam kajian ilmu hukum dapat

disebut sebagai hukum kebiasaan.

Mengacu pada pemikiran Tom Bingham bahwa:

“If the terms of the legislation are clear and unambiguous, they must be given effect to,

whether or not they carry out Her Majesty’s treaty obligations, for the sovereign power

of the Queen in Parliament extends to breaking treaties, and any remedy for such a breach of an international obligation lies in a forum other than Her Majesty’s own courts. Thus crtiis or parliamentary sovereignty have no difficulty conceiveing of flagrantly unjust and objectionable statutes: to deprive Jews of their nationality, to prohibit Christians from marrying non-Christians, to dissolve marriages between blacks and whites, to confiscate the property of red-haired women, to require all blue-eyed babies to be killed, to deprive large sections of the population of the right to vote, to authorize officials to inflict punishment for whatever reason they might choose. No one thinks it all likely that Parliament would enact legislation of this character, or that the public would accept it if it did, but it is possible to conceive of less extreme and less improbable statutes which would nonetheless infringe fundamental rights, and the mere possibility that Parliament might act in such a way gives rise to the argument that parliamentary sovereignty cannot, or cannot any longer, be fully respected.” (Tom Bingham, 2010).

Dari pemikiran Tom Bingham tersebut tentu saja memiliki konsekuensi tersendiri jika

diterapkan secara mutlak di Indonesia karena adanya keanekaragaman SARA di Indonesia.

Negara hukum konteks Indonesia juga lebih mengutamakan kebiasaan yang berlaku pada

masyarakat dimana kebiasaan tersebut adakalanya menjadi yang dinormakan ataupun tetap

menjadi kebiasaan yang mengesampingkan hukum tertulis (soft law to hard law). Perlindungan

terhadap hak-hak asasi manusia telah dibuat norma-norma yang dikodifikasikan dan bersifat

universal, antara lain adalah Magna Charta (1215), Bill of Rights (1968) di Inggris, Declaration

des droits de I’ home et du Citoyen (1791) Bill of Rights (1978) di Amerika, Declaration of Human Rights (1948) (Tomy Michael, 2016:79).

Menurut Ross, timbulnya hukum sebagai aturan yang bersifat wajib meliputi:

a. Tahap pertama; hukum adalah sistem paksaan yang aktual; yakni situasi masyarakat diatur

melalui paksaan. Masyarakat semacam ini disebut oleh Ross sebagai suatu sistenm aktual

paksaan;

b. Tahap kedua dimulai bila orang-orang mulai takut akan paksaan. Karena takut akan rasa ini,

anggota-anggota komunitas mengembangkan suatu cara berlaku yang sesuai dengan tuntutan

(5)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 574

dan keinginan anggota komunitas; Tahapan ini baru diterapkan apabila orang mulai takut

akan paksaan, sehingga selanjutnya paksaan itu mulai ditinggalkan;

c. Tahap Ketiga adalah situasi dimana orang-orang sudah mulai menjadi biasa dengan cara

hidup yang sedemikian dan lama-kelamaan mulai memandang cara hidup itu, sebagai

sesuatu yang seharusnya. Maka karena terpengaruh oleh kekuasaan sugestif sosial dan

kebiasaan, orang sudah mulai berbicara tentang sesuatu yang berlaku dan mewajibkan dalam

arti yuridis, hukum adalah sesuatu yang berlaku dan mewajibkan dalam arti yuridis yang

benar. Ini terjadi karena anggota komunitas sudah terbiasa dengan pola ketaatan terhadap

hukum;

d. Tahap Keempat, situasi hidup bersama dimana norma-norma kelakuan ditentukan oleh

instansi-instansi yang berwibawa. Orang akhirnya terbiasa merasa wajib untuk mentaati apa

yang diputuskan oleh pihak yang berwenang atau berwibawa. Supaya hukum berlaku, harus

ada kompetensi pada orang-orang yang membentuknya.

Berdasarkan uraian diatas maka suatu keharusan yuridis memang unsur realitas sosial,

dalam mana kita hidup. Keharusan yuridis sebagai realitas sosial, menyatakan diri sebagai suatu

totalitas organis dalam mana perbuatan sosial dan psiko-fisis saling berjalin. Ross juga

mengkonstatasi bahwa metode akal budi praktis yang dianut dalam pendidikan hukum

konvensional yang mengandalkan doktrin-legalistik, tidak sejalan untuk menjelaskan sifat wajib

dari hukum (Bernard L Tanya, 2006:142).

Penjelasannya bahwa terkait dengan indigenous knowledge, local wisdom, ataupun

local knowledge maka kearifan lokal sama halnya dengan hukum tidak tertulis namun memiliki

kemampuan untuk mengikat. Kearifan juga bersifat logis karena apabila tidak logis akan

bertentangan dengan eksistensinya sendiri (Dientia Dinnear, 2014:232).

Keadilan Hukum

Keadilan merupakan suatu hal yang abstrak, bagaimana mewujudkan suatu keadilan

jika tidak mengetahui apa arti keadilan. Untuk itu perlu dirumuskan definisi yang paling tidak

mendekati dan dapat memberi gambaran apa arti keadilan (Mahdi Bin Achmad Mahfud dan

Vinaricha Sucika Wiba, 2015:70). Definisi keadilan hukum dalam ilmu hukum memiliki

banyak arti dan bersifat abstrak. Keadilan hukum bertujuan untuk melingkupi kemanfaatan

hukum dan kepastian hukum. Mengutip pemikiran Ibnu Taymiyyah (661-728 H) bahwa

memberikan sesuatu kepada setiap anggota masyarakat sesuai dengan haknya yang harus

(6)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 575

mengetahui hak dan kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang salah, bertindak

jujur dan tetap menurut peraturan yang telah ditetapkan.

Keadilan merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang asasi dan menjadi pilar bagi berbagai

aspek kehidupan, baik individual, keluarga, dan masyarakat. Keadilan tidak hanya menjadi

idaman setiap insan bahkan kitab suci umat Islam menjadikan keadilan sebagai tujuan risalah

samawi (Angkasa, 2010:105). Sedangkan keadilan menurut Notohamidjojo adalah iustitia

creativa yaitu keadilan yang memberikan kepada setiap orang untuk bebas menciptakan sesuatu

sesuai dengan daya kreativitasnya dan iustitia protectiva yaitu keadilan yang memberikan

pengayoman kepada setiap orang, yaitu perlindungan yang diperlukan dalam masyarakat

(Angkasa, 2010:105).

Hal berbeda diungkapkan oleh Socrates yang ditulis Plato dalam The Great Dialogues

Of Plato dan Republik bahwa keadilan lebih mengarah pada sesuatu hal yang bersifat

awang-awang. Tidak ada realisasi sehingga keadilan yang dimaksud dapat menimbulkan penafsiran

ganda.

PEMBAHASAN

Rancangan Undang-Undang Tentang Kebudayaan

Di dalam berkas pengusulan Rancangan Undang-Undang Kebudayaan tertanggal 10

Juli 2014 (RUUK 2014), yaitu dalam Pasal 18 termaktub bahwa “perwujudan hak

berkebudayaan dilaksanakan di bidang ideologi, politik, ekonomi dan sosial”. Dapat diketahui

bahwa ideologi memilik peranan penting sebagai landasan mewujudkan hak berkebudayaan.

Hakikat pasal ini sejalan dengan maksud dan tujuan MEA.

Penulis menggunakan definisi ideologi dari Antoine Destutt de Tracy pada akhir abad

ke-18 yaitu ide atau gagasan. Kata “ideologi” ini berasal dari bahasa Perancis idéologie,

merupakan gabungan 2 (dua) kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang

mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Ia

menggunakan kata ini dalam pengertian etimologinya, sebagai “ilmu yang meliputi kajian

tentang asal usul dan hakikat ide atau gagasan”. Lebih lengkapnya Perhaps his most famous one

was the second of June 20, 1796, in which he launched a new (more agnostic) name for this

new “science of ideas.” It would be called “ideology,” the exact Greek transcription of science

of ideas, rather than metaphysics, which was too discredited by the Enlightenment even though

philosophers continued to use it. Nor could it be called psychology which denotes a knowledge

of the soul, which he stated rhetorically “You certainly do not flatter yourselves as having”

(7)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 576

Mengacu pada RUUK 2015, ideologi bukanlah bagian dari perwujudan hak

berkebudayaan. Di dalam Pasal 18 RUUK 2015 termaktub bahwa” perwujudan hak

berkebudayaan dilaksanakan di bidang kepercayaan, hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya,

pendidikan, teknologi, dan hubungan internasional”. Padahal hak berkebudayaan dalam Pasal 1 angka 7 RUUK 2015 diartikan sebagai hak yang secara kodrati melekat kepada setiap orang

sebagai manusia yang berbudaya. Seharusnya hak berkebudayaan ini dilandasi oleh ideologi.

Pasal 18 RUUK 2015 ini menjadi tidak sejalan dengan Pasal 6 huruf f Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-Undangan (UU No. 12-2011) bahwa “asas bhinneka tunggal ika adalah Materi Muatan

Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan

golongan, kondisi khusus daerah serta budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan

bernegara”. Serta tidak sejalan dengan Pasal 5 UU No. 12-2011:

a. Yang dimaksud dengan “asas kejelasan tujuan” adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.

b. Yang dimaksud dengan “asas kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat” adalah

bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau

pejabat Pembentuk Peraturan undangan yang berwenang. Peraturan

Perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga

negara atau pejabat yang tidak berwenang.

c. Yang dimaksud dengan “asas kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan” adalah

bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar

memperhatikan materi muatan yang tepat sesuai dengan jenis dan hierarki Peraturan

Perundang-undangan.

d. Yang dimaksud dengan “asas dapat dilaksanakan” adalah bahwa setiap Pembentukan

Peraturan undangan harus memperhitungkan efektivitas Peraturan

Perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridis.

e. Yang dimaksud dengan “asas kedayagunaan dan kehasilgunaan” adalah bahwa setiap

Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan

bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

f. Yang dimaksud dengan “asas kejelasan rumusan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang

-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang--undangan,

sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti

(8)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 577

g. Yang dimaksud dengan “asas keterbukaan” adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau

penetapan, dan pengundangan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian, seluruh

lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan

masukan dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Hakikat Kearifan Lokal Dalam RUUK 2015

Dalam konsiderans bagian landasan filosofis RUUK 2015 termaktub bahwa

“kebudayaan nasional Indonesia merupakan perwujudan cipta, karya, dan karsa bangsa

Indonesia yang dikembangkan untuk mempertinggi dan memuliakan harkat dan martabat

manusia Indonesia, memajukan peradaban bangsa, serta untuk meneguhkan kesadaran dan

identitas nasional yang merupakan kristalisasi nilai budaya dan agama yang diikat dengan jiwa

bhinneka tunggal ika dengan berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945” dan landasan sosiologisnya termaktub bahwa “pengelolaan

kebudayan nasional Indonesia harus memperhatikan keragaman budaya, agama, dan tradisi

yang hidup di masyarakat, serta pengaruh globalisasi sebagai upaya perlindungan, pengakuan,

pelestarian dan penguatan identitas dan jati diri budaya bangsa”.

Landasan filosofis sebagai alasan utama mengapa peraturan perundang-undangan

dibutuhkan merupakan suatu dasar hukum untuk membentuk pasal-pasal didalamnya. Terlihat

jelas bahwa kebudayaan nasional harus tetap dikembangkan dengan memperhatikan jiwa

bhinneka tunggal ika dengan berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 – kebudayaan nasional tidak dilepas mengikuti perkembangan

global karena akan menghilangkan esensi kebudayaan nasional itu sendiri.

Di dalam Pasal 5 RUUK 2015 termaktub bawah pengelolaan kebudayaan dilakukan

berdasarkan prinsip:

a. hak berkebudayaan;

b. kearifan lokal;

c. kelestarian alam dan lingkungan hidup;

d. koordinasi dan keterpaduan secara sinergis antar pemangku kepentingan; dan

e. jati diri bangsa, harmoni kehidupan, dan etika global tentang kebudayaan.

Kearifan lokal secara hierarki terletak di atas politik hukum antar pemangku

kepentingan sehingga seharusnya kearifan lokal menunjukkan hakikatnya dalam RUUK 2015.

(9)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 578

Sebuah sistem sosial menurut teori sibenertika yang digagas oleh Talcott Parson

menunjukkan bahwa sistem sosial merupakan suatu sinergi antara berbagai sub sistem sosial

yang saling mengalami ketergantungan dan keterkaitan. Adanya hubungan yang saling

keterkaitan, interaksi dan saling ketergantungan.

Contoh keterkaitan antara hukum, agama, pendidikan, budaya, ekonomi, politik, sosial

yang tak dapat terpisahkan dan saling berinteraksi. Menurut Talcott Parson, ada 4 (empat) sub

sistem yang menjalankan fungsi utama dalam kehidupan masyarakat antara lain:

a. Fungsi adaptasi dilaksanakan oleh sub sistem ekonomi, contoh: melaksanakan produksi dan

distribusi barang-jasa.

b. Fungsi pencapaian tujuan dilaksanakan oleh sub sistem politik, contoh: melaksanakan

distribusi distribusi kekuasaan dan memonopoli unsur paksaan yang sah (negara)

c. Fungsi integrasi dilaksanakan oleh sub sistem hukum dengan cara mempertahankan

keterpaduan antara komponen yang beda pendapat/konflik untuk mendorong terbentuknya

solidaritas sosial.

d. Fungsi mempertahankan pola dan struktur masyarakat dilaksanakan oleh sub sistem budaya

menangani urusan pemeliharaan nilai-nilai dan norma-norma budaya yang berlaku dengan

tujuan kelestarian struktur masyarakat dibagi menjadi sub sistem keluarga, agama,

pendidikan (Ria Casmi Arrsa, 2012:4-5).

Oleh karena itu di dalam melakukan analisa tentang hakikat kearifan lokal dalam Pasal

39 RUUK 2014 bahwa penghargaan, pengakuan, dan/atau perlindungan sejarah dan warisan

budaya melalui kepercayaan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf c diwujudkan

dengan:

a. pelestarian terhadap keberadaan kepercayaan lokal;

b. penyediaan fasilitas untuk pelestarian kepercayaan lokal;

c. publikasi;

d. pembentukan dan revitalisasi paguyuban;

e. pertemuan rutin tahunan; dan

f. kegiatan upacara bersama.

Sedangkan dalam Pasal 39 RUUK 2015 penghargaan, pengakuan, dan/atau perlindungan

sejarah dan warisan budaya melalui tradisi lisan diwujudkan dengan:

a. inventarisasi dan dokumentasi;

b. publikasi; dan

(10)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 579

Adanya perubahan isi pasal tersebut menjadikan Pasal 40 ayat (1) RUUK 2015 yaitu

penghargaan, pengakuan, dan/atau perlindungan sejarah dan warisan budaya melalui

kepercayaan lokal diwujudkan dengan:

a. pelestarian terhadap keberadaan kepercayaan lokal;

b. penyediaan fasilitas untuk pelestarian kepercayaan lokal;

c. publikasi;

d. pembentukan dan revitalisasi paguyuban;

e. pertemuan rutin tahunan; dan

f. kegiatan upacara bersama.

Pasal ini mendukung Pasal 61 dan Pasal 64 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23

Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (UU No. 23-2006) dimana kepercayaan lokal

sebagai wujud kearifan lokal mendapat legalisasi melalui RUUK 2015 tetapi legalisasi ini

bersifat kiasan karena dalam UU No. 23-2006 tidak terdapat pengakuan secara normatif terkait

wujud kearifan lokal. Kearifan lokal dalam RUUK 2015 tidak memiliki kesamaan tujuan akhir

dengan UU No. 23-2006 sehingga menimbulkan kekaburan norma didalamnya.

SIMPULAN

Hakikat kearifan lokal dalam RUUK 2015 tercermin dalam Pasal 26 ayat (1) sedangkan

tidak memiliki kesinkronan dengan pasal-pasal lainnya. Hal ini menimbulkan implikasi hukum

ketika RUUK 2015 ditetapkan menjadi undang-undang akan muncul uji materiil kepada

Mahkamah Konstitusi. Kearifan lokal yang tidak memiliki arti definitif menjadi lebih sulit

dicerna dalam RUUK 2015 dan tidak tepat diterapkan dalam MEA. Perubahan paradigma

(kerangka berpikir) antara RUUK 2014 dan RUUK 2015 yaitu tidak adanya penguatan ideologi

dalam RUUK 2015 sehingga dapat menghilangkan apakah sebenarnya kearifan lokal khas

Indonesia tersebut.

Saran yang diambil yaitu untuk bagi pihak legislatif agar melepaskan unsur politik

dalam pembentukan RUUK 2015 sehingga Pasal 32 ayat (1) UUD NRI 1945 benar-benar

terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saran berikutnya yaitu melakukan

elaborasi lebih mendalam tentang asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang

baik agar tidak timbul kekosongan norma dan melakukan sinkronisasi Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU No. 39-1999), UU

(11)

Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta, Telp. (0271) 714751 Fax. 740160

Website http://uniba.ac.id 580

Hal ini menjadi sangat penting karena dalam kajian ilmu hukum, pemahaman RUUK

2015 dapat ditafsirkan secara bebas dan sikap tersebut bertentangan dengan sifat

undang-undang yang berusaha mencapai keadilan hukum.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Mahfud, Bin Ahmad dan Wiba, Vinaricha Sucika, Teori Hukum Dan Implementasinya, (2015), R.A.De.Rozarie, Surabaya.

Angkasa, Filsafat Hukum (Materi Kuliah), (2010), Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Arrsa, Ria Casmi, Rekonstruksi Paradigmatik Negara Hukum Pancasila Rekonstruksi Paradigmatik Negara Hukum Pancasila (Analisis Terhadap Pemikiran Negara Hukum Dalam Perkembangan Konstitusi Indonesia), (2012), Tesis Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya.

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, (2002), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Bingham, Tom, The Rule Of Law, (2010), Penguin, London.

Dinnear, Dientia, “Penggunaan Kewenangan Grasi Presiden” dalam [DIALEKTIK] Jurnal Ilmiah Indonesia Jilid III “I”, Februari 2014, CV.R.A.De.Rozarie, Surabaya.

Fadjar, Mukhtie A, Reformasi Konstitusi dalam Masa Transisi Paradigmatik, (2003), In-Trans, Malang.

Kennedy (Washington), Emmet, The secularism of Destutt de Tracy’s “IDEOLOGY”, pdf.

Michael, Tomy, “Implikasi Lampiran Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor: KEP/D/101/1978 Terkait SARA Di Indonesia” dalam Prosiding Seminar

Nasional Fakultas Dharma Duta “Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Radikalisme

Berbasis SARA” 2016, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Denpasar.

Naskah Akademis Rancangan Undang-Undang Tentang Kebudayaan.

Plato, The Great Dialogues Of Plato, (1984), Penguin Books Canada Limited, Canada.

_____, Republik, (2002), Bentang Budaya, Jogjakarta.

Rancangan Undang-Undang Kebudayaan tertanggal 10 Juli 2014.

Rancangan Undang-Undang Kebudayaan tertanggal 17 Desember 2015.

Saptomo, Ade, Hukum & Kearifan Lokal, (2010), Grasindo, Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian dosis pupuk NPK 6 g dan konsentrasi air kelapa 50% menunjukkan pengaruh yang lebih baik pada parameter tinggi bibit kakao, luas daun dan berat kering

Keteraturan penerimaan raskin dapat meningkatkan status ketahanan pangan rumah tangga di mana semakin teratur menerima raskin maka cenderung rumah tangga tersebut berada

Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa masa kerja petani lama ( > 1 tahun) mempunyai risiko 5 kali lebih besar untuk mengalami keracunan pestisida bila dibandingkan

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan bentuk kwantitatif dan kwalitatif deskriptif (mixed methode). Penentuan subjek menggunakan teknik populasi

Artinya tidak ada hubungan munculnya bercak-bercak gelap (dark specks) pada latar belakang material nekrotik granular eosinofilik dengan kadar CD4 pada penderita

Faktor yang berperan dalam kesembuhan luka post sectio caesarea menurut Harmono (2002) adalah: (1) Mikroorganisme penyebab, yaitu mikroorganisme penyebab infeksi luka dapat

Kotoran kambing dapat digunakan sebagai bahan organik pada pembuatan pupuk kandang karena kandungan unsur haranya relatif tinggi dimana kotoran kambing bercampur dengan air

Penelitian ini sesuai dengan hasil dari Nardi (2012) dengan judul Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin dan Return On Investment terhadap Harga