• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelesaian Penguasaan Tanah Di Dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penyelesaian Penguasaan Tanah Di Dalam "

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Mumu Muhajir

Siti Chaakimah

Desi Martika

Jakarta 2015

(5)

Penyelesaian Penguasaan Tanah di Dalam Kawasan Hutan: Panduan Implementasi Perber 4 Menteri/ Mumu Muhajir, Siti Chaakimah, Desi Martika - Jakarta : Epistema Institute, 2015

viii + 77hlm. : ill. : 16 x 24 cm ISBN 978-602-1304-07-5

Penyelesaian Penguasaan Tanah di Dalam Kawasan Hutan: Panduan Implementasi Perber 4 Menteri

copyrights 2015

All rights reserved

Penulis:

Mumu Muhajir, Siti Chaakimah, Desi Martika

Desain dan tata letak: Ahmad Taqiyuddin

Rancang sampul: Ahmad Taqiyuddin

Edisi Pertama: Agustus 2015

Penerbit:

EPISTEMA INSTITUTE

Jalan Jati Padang Raya No. 25 Pasar Minggu, Jakarta 12540 Telepon : +6221 78832167 Faximile : +6221 78830500

E-mail: [email protected] website: www.epistema.or.id

(6)

KATA

PENGANTAR

Menjelang berakhirnya era pemerintahan Presiden

Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) lahir satu peraturan perundang-undangan yang bisa dianggap sebagai terobosan hukum bagi berlarut-larutnya konflik tenurial di dalam kawasan hutan. Terobosan hukum itu berupa Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaan Umum dan Kepala Badan

Pertanahan Nasional Nomor 79 Tahun 2014, PB.3/Menhut-II/2014, 17/PRT/M/2014, 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang Berada di Dalam Kawasan Hutan (selanjutnya Perber 4 Menteri). Peraturan ini membuka ruang satu penyelesaian konflik di dalam kawasan hutan dengan nuansa lintas sektor. Di dalamnya terdapat pilihan penyelesaian konflik yang terintegratif dengan menyinkronkan berbagai peraturan dan kewenangan terkait lahan dan hutan. Perber 4 Menteri dianggap bisa membangun jembatan untuk terbentuknya satu sistem pertanahan di Indonesia dan sekaligus kawasan hutan yang sah dan legitimate.

Karena sifatnya terobosan hukum, dapat diperkirakan dalam pelaksanaannya menimbulkan kontroversi atau resistensi. Ada yang mempertanyakan bentuk formalnya yang peraturan menteri bersama, ada yang mengaitkannya dengan perbenturannya dengan peraturan kehutanan dan kekawatiran Perber 4 Menteri dipakai pihak-pihak tertentu untuk mengurangi luasan kawasan hutan dan banyak lainnya.

(7)

Buku ini diterbitkan dengan maksud menjadi pegangan bagi fasilitator masyarakat dan masyarakat dalam memanfaatkan momentum implementasi Perber 4 Menteri tersebut. Disusun dengan memperbanyak ilustrasi gambar agar memungkinkan masyarakat mengembangkan sendiri imajinasinya dalam memanfaatkan momentum itu. Apa yang dituliskan di dalamnya lebih berupa menceritakan proses daripada menyodorkan hasil dari proses, atau dalam pengertian umum, menceritakan cara memancing daripada menceritakan hasil pancingannya. Buku ini juga lebih banyak menyadur dan menyerap berbagai pengalaman baik dalam proses implementasi Perber 4 Menteri atau bukan namun terkait dan memiliki kesamaan tujuan. Sebagai catatan, sampai buku ini diterbitkan, tidak ada satupun pemohon yang sudah menjalani proses Perber 4 Menteri sampai tuntas.

Karena isinya banyak saduran dan pengalaman baik dari kegiatan Epistema maupun pihak lain, akan banyak pihak dan nama yang perlu diberikan ucapan terima kasih. Untuk keperluan kata pengantar ini, sedikit nama yang bisa disebutkan antara lain adalah kawan-kawan Pager Kulon di Pandeglang, Lingkar Studi Pengembangan Pedesaan (LSPP) Temanggung, Yayasan Betang Borneo di Palangkaraya, Serikat Petani Merdeka (STAM) di Cilacap, Serikat Petani Lumajang (SPL), Asosiasi Kepala Desa (AKD) di Lumajang, SD Inpres Kediri, Rimbawan Muda Indonesia, Bogor. Tidak lupa ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Rights and Resources Initiative yang bermurah hati mendanai penerbitan buku sederhana ini.

Jakarta, Agustus 2015

Penyusun

Kata

(8)

DAFTAR

ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I - Pendahuluan Latar belakang Mengapa Perber 4 Menteri Penting?

Bab II - Kondisi Kawasan Hutan di Indonesia Carut Marut Kawasan Hutan Kasus Barito Selatan Kasus Lebak Banten

Bab III - IP4T dan Penyelesaian Konflik Tim IP4T Modifikasi Susunan Tim IP4T Kedudukan Unik Kepala Desa dalam IP4T Tugas Tim IP4T Pemohon IP4T Proses IP4T Proses Verifikasi Bukti Tertulis dan Tidak Tertulis

(9)
(10)

Bab I

(11)
(12)

Ketidakjelasan penguasaan/pemilikan lahan di dalam kawasan hutan merupakan faktor penting bagi masih tingginya angka deforestasi hutan dan kerusakan hutan di Indonesia. Hal ini terbukti dengan masih tingginya konflik di dalam kawasan hutan. Masyarakat yang berkonflik tidak bisa mengakses lahan dan bahkan kehilangan lahannya akibat ketidakjelasan penguasaan/pemilikan lahan ini. Kerugian juga dialami oleh pihak lain yang terlibat: pengusaha dan pemerintah. Pengusaha kehilangan waktu dan biaya menjalankan operasional

perusahaannya. Pemerintah kehilangan kredibilitas dan kepercayaan dari masyarakat. Kerugian juga dialami oleh masyarakat luas yang terhalangi dan tidak bisa menikmati hak atas berfungsinya hutan dengan baik.

D a l a m t a t a k e l o l a h u t a n d i I n d o n e s i a , p e r s o a l a n k e j e l a s a n kepemilikan/penguasaan lahan ini menempati prioritas pertama dalam pengurusan hutan. Proses yang disebut sebagai pengukuhan kawasan hutan, memungkinkan adanya kejelasan siapa penguasa atau pemilik dari lahan yang ada di suatu kawasan yang akan dijadikan kawasan hutan, di mana posisi hutannya, berbatasan dengan apa dan siapa, dan berapa luasnya.

Prosesnya sendiri berjenjang dari proses penunjukan kawasan hutan, penataan batas kawasan hutan, pemetaan kawasan hutan dan penetapan kawasan hutan. Hanya hutan yang sudah melewati 4 tahapan proses pengukuhan kawasan hutan tersebut yang memiliki kekuatan hukum. Hanya saja, memiliki kekuatan hukum tidak serta merta menghasilkan kawasan hutan yang memiliki legitimasi. Hal ini

Kawasan hutan yang memiliki kekuatan hukum hanya yang sudah ditetapkan. Penunjukan kawasan hutan yang dilakukan selama ini termasuk perbuatan sewenang-wenang pemerintah Pengukuhan Kawasan Hutan harus menghormati hak atas tanah yang ada. Kawasan hutan tidak sama dengan kawasan hutan negara. Kawasan hutan terdiri dari Hutan Negara, Hutan Hak (didalamnya ada Hutan Adat)

Putusan MK 45/PUU-IX/2011:

atas kawasan hutan (UU 41/1999).

Diperjelas dalam PP 44/2004

dengan memberikan kepastian hukum

atas status, letak, batas

dan luas kawasan hutan.

L

ATAR

B

ELAKANG

Latar

(13)

terjadi karena ada tahapan dalam pengukuhan kawasan hutan yang tidak dijalankan dengan baik dan benar, bahkan dalam banyak kasus tahapannya dilewati, seperti tahapan penyelesaian hak-hak pihak ketiga yang ada di dalam proses penataan batas kawasan hutan. Akibatnya adalah konflik.

Padahal dengan pengukuhan kawasan hutan yang baik dapat dibedakan antara mana kawasan hutan dan non-kawasan hutan. Di dalam non-kawasan hutan sendiri dimungkinkan adanya hak-hak atas tanah atau wilayah adat. Hanya di atas kawasan hutan negara saja yang bersih dari hak-hak atas tanah dan wilayah adat.

Dengan pengukuhan kawasan hutan yang baik dapat pula dipetakan masyarakat yang berhak mendapatkan kompensasi akibat hilangnya akses dan hilangnya hak atas tanah. Sampai saat ini tidak pernah ada pelaksanaan penggantian kompensasi kepada masyarakat yang kehilangan hak atas tanah atau akses pada lahan ketika ditetapkan sebagai kawasan hutan.

Dalam proses pengukuhan kawasan hutan sebenarnya dikenal tahapan penyelesaian konflik dan pilihan penyelesaiannya. Dalam proses penataan batas, disebutkan (1) jika garis batas melewati lahan yang ada hak atas tanahnya, maka dikeluarkan dari peta batas kawasan hutan; (2) jika lahan itu ada di dalam kawasan hutan, maka dienclave dari kawasan hutan. Jelas sekali penyelesaiannya.

Untuk kawasan hutan yang sudah ditetapkan (ada SK penetapan Kawasan hutan yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan), penyelesaian konfliknya juga ada dengan mengingat bahwa proses penetapan ini masih menyisakan adanya klaim dari masyarakat. Opsi penyelesaiannya memang diserahkan kepada peraturan perundang-undangan yang ada. Dengan demikian, penyelesaian konflik tidak terbatas pada kawasan hutan yang ditunjuk atau sedang ditata batas, tetapi juga pada kawasan hutan yang sudah ditetapkan.

Hanya saja, pelaksanaan peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di atas tidak efektif berjalan di lapangan. Faktor utamanya adalah penyelesaiannya dilakukan oleh satu instansi saja, tanpa mengajak pihak lain yang memiliki kompetensi.

Latar

(14)

M

ENGAPA

PERBER 4

MENTERI

PENTING ?

Terbitnya Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri,

Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaan Umum dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 79 Tahun 2014, PB.3/Menhut-II/2014, 17/PRT/M/2014, 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang Berada di Dalam Kawasan Hutan (selanjutnya Perber 4 Menteri) membuka ruang satu penyelesaian konflik yang lintas

sektor. Satu opsi penyelesaian yang terintegratif dengan berbagai kebijakan yang membangun jembatan pada terbangunnya satu sistem pertanahan (satu institusi mengurus status tanah, satu institusi mengurus fungsi hutan) dan kawasan hutan tetap yang sah dan dihormati pihak lain.

Bagaimanapun soal hutan berkaitan dengan soal kebijakan pertanahan yang sekarang dinaungi oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN. KLHK tidak memiliki kemampuan dan kewenangan untuk menyelesaikan persoalan hukum yang menyangkut hubungan orang dengan tanah.

Perber 4 Menteri memberi ruang kepada BPN untuk mengidentifikasi dan memverifikasi penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan lahan di dalam kawasan hutan. Selama ini BPN seperti terlarang untuk melakukan pendataan tenurial lahan di dalam kawasan hutan. Padahal sebenarnya tidak ada aturan yang melarangnya.

Kejelasan status atas lahan tersebut memudahkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan penyikapan. Jika memang terbukti adanya hak pihak ketiga baik berupa hak atas tanah maupun wilayah adat, maka KLHK mengeluarkannya dari kawasan hutan (negara): (1) sebagian ditetapkan sebagai hutan hak dan hutan adat; (2) sebagian lagi (berupa pemukiman, fasum dan fasos, lahan garapan pertanian, lahan yang tidak berfungsi hutan) dikeluarkan dari kawasan hutan.

Setelah BPN mendaftarkan hak atas tanah pihak ketiga (baik individual, kolektif atau Komunal), maka pada lahan tersebut perlu ada perlindungan tata ruang. Kementerian ATR kembali berperan di sini untuk menyesuaikan perubahan status itu ke dalam revisi RTRW.

Mengapa Perber 4 Menteri

Penting ?

5

(15)

Dengan penyelesaian yang terintegratif ini, maka masyarakat yang mengklaim lahan di dalam kawasan hutan terlindungi secara hukum. Ini berbeda dengan praktek dalam banyak kasus pelepasan kawasan hutan, dimana posisi masyarakat hanya sekedar pemicu terjadinya pelepasan kawasan hutan (dan lalu mendapatkan lahan yang sangat sedikit) sementara penikmat utama dari pelepasan kawasan hutan ini adalah para pemodal besar (dengan lahan yang lebih besar dan lebih baik). Karena itu pula dalam Perber 4 Menteri, pemodal (pengusaha) tidak menjadi pihak pemohon. Hanya masyarakat, pemerintah dan badan sosial dan keagamaan yang menjadi pemohon.

Perber 4 Menteri juga berprinsip sejauh mungkin tidak ada penghilangan hak dan/atau pengusiran. Hal ini terlihat dari adanya opsi penyelesaian berupa kemitraan dan perhutanan sosial. Opsi ini diberikan kepada masyarakat yang tidak memiliki klaim atau klaimnya tidak terbukti, namum masyarakat tersebut secara de facto mempergunakan lahan itu dengan niat baik.

Lahirnya Perber 4 Menteri diharapkan mampu menjadi:

a. Pembuka jalan untuk lahirnya satu Sistem Pertanahan Nasional b. Pembuka jalan untuk

adanya Hutan Tetap

c. Penyelesaian konflik lintas sektor dan terintegrasi lengkap dengan perlindungan hukumnya

d. Pengakuan pada penguasaan de facto para pihak atas tanah di dalam

Kawasan Hutan (Negara)

e. Prinisip tidak ada yang ditinggalkan (bahkan masyarakat yang

tidak punya hak pun ada solusinya)

PENATAAN SISTEM

AGRARIA NASIONAL

Mengapa Perber 4 Menteri

Penting ?

6

(16)

Bab II

(17)
(18)

CARUT

sebenarnya selalu naik turun tiap tahunnya. Mengapa? Karena adanya proses yang selalu berjalan tiap tahun yang memastikan keberadaan letak, status dan luas kawasan hutan. Proses itu dinamakan pengukuhan kawasan hutan (penjelasan singkatnya bisa dilihat di bagian pendahuluan di halaman sebelumnya). Angka 120 juta hektar itu adalah angka kawasan hutan yang ditunjuk. Namanya ditunjuk berarti belum pasti. Karena siapapun bisa menunjuk. Supaya sampai pada kepastian maka serangkaian kegiatan perlu

dilakukan: penataan batas, pemetaan dan akhirnya penetapan kawasan hutan. Dan pada titik itu senjangnya terlihat ( ). Proses penataan batas bisa dikatakan sudah hampir 80%. Tinggal sedikit lagi kawasan hutan yang sama sekali tidak memiliki batas sementara atau batas definitif. Tapi perhatikan angka penetapan kawasan hutannya, hanya 62,30% (tahun 2014). Sisanya (berarti yang sudah ditata batas maupun belum) merupakan kawasan hutan yang kekuatan hukumnya belum pasti.

lihat bagan di bawah

Carut Marut

(19)

Pertanyaannya kenapa terjadi seperti itu? Pejabat di Planologi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan ada tiga faktor: konflik, pelaksanaan tata batas tidak berjalan baik dan t u m p e n g t i n d i h p e r a t u r a n perundang-undangan. Di antara tiga faktor itu, konflik menjadi penghambat utama.

Akibat konflik ini membuat layanan pemerintah pada masyarakat tidak b e r j a l a n d e n g a n b a i k , ketidakpastian usaha dan rusaknya hutan. Perhatikan desa-desa yang berada di dalam kawasan hutan dimana layanan pemerintah tidak berjalan optimal. Jalan sulit dibangun, fasilitas umum dan sosial sulit didirikan dan ketika didirikan perlu melalui birokrasi yang berbelit. Bagi masyarakat sendiri, ketika hak atas tanah dan sumber daya hutan tidak diakui atau bahkan dihilangkan, maka mereka tidak memiliki kepentingan untuk menjaga hutan di sekitarnya.

Di sisi lain kita juga melihat bahwa di tengah ketidakpastian hukum atas kawasan hutannya dan masyarakat yang tidak diakui haknya, Pemerintah justru memberikan banyak izin kepada pemodal besar di atasnya, sebagian di atas wilayah yang berkonflik dengan masyarakat. Wilayah yang tadinya ruwet semakin ruwet bertumpang tindih. Pemberian izin tersebut juga memperlihatkan kesenjangan dalam pemanfaatan sumber daya hutan. Lebih dari 90% kawasan hutan dikelola oleh swasta sementara hanya 3% saja yang dikelola oleh masyarakat.

Ironisnya lagi, di atas kawasan hutan yang berkonflik itu banyak pula yang diberikan izin untuk kegiatan yang bertentangan dengan tujuan pelestarian hutan, seperti pemberian izin pinjam pakai kawasan hutan untuk pertambangan terbuka. Sudahlah tidak adil dalam pembagian kue, pemanfaatannya banyak yang bertentangan dengan tata kelola hutan yang baik.

Kondisi suram itu perlu dilihat konteksnya dalam kelahiran Perber 4 Menteri, yang merupakan salah satu elemen harapan ke arah perbaikan. Elemen perbaikan lain juga pelan-pelan muncul, seperti dalam RPJMN 2015-2019 yang antara lain menegaskan adanya 12,7 juta ha kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat atau dimitrakan dengan masyarakat.

Mengapa ada kesenjangan antara tata batas yang dilakukan dan penetapan kawasan hutan?

1. Adanya perbedaan persepsi tata batas kawasan hutan / konflik dengan hak-hak pihak ketiga; 2. Pelaksanaan tata batas kurang bagus; 3. Tumpang tindih peraturan perundangan

Akibatnya? 1. Konflik (bahkan terjadi di kawasan hutan yang sudah ditetapkan!) 2. Terhambatnya layanan pemerintah 3. Ketidakpastian usaha 4. Rusaknya hutan

?

Carut Marut

(20)

No.

Provinsi

HP

HPK

HPT

Jumlah

1 Aceh 1.377 0 7.820 9.197

HA 1.311 7.820 9.131

HT 66 66

2 Kalimantan Barat 129.663 281 213.678 343.622

HA 20.212 67 145.283 165.562

HT 109.451 214 68.395 178.060

3 Kalimantan Selatan 28.696 0 1.459 30.155

HA 12.809 12.809

HT 15.887 1.459 17.346

4 Kalimantan Tengah 17.151 3.628 65.140 85.919

HA 11.608 3.628 65.135 80.370

HT 5.544 6 5.549

5 Kalimantan Timur 51.349 826 58.938 111.112

HA 39.692 91 58.295 98.078

HT 11.656 736 643 13.035

6 Maluku 30 5.251 5.281

HA 30 5.251 5.281

7 Maluku Utara 155 7 5.389 5.551

HA 155 7 5.389 5.551

8 Nusa Tenggara Barat 627 627

HT 627 627

9 Papua 9.821 1.556 11.377

HA 9.821 1.556 11.377

10 Papua Barat 2.062 27.624 1.637 31.322

HA 2.062 27.624 1.637 31.322

11 Riau 14.790 22 8.834 23.646

HT 14.790 22 8.834 23.646

12 Sulawesi Selatan 0 0 180 180

HA 30 30

HT 149 149

13 Sulawesi Tengah 2.757 1.234 15.270 19.261

HA 2.751 1.234 14.945 18.929

HT 6 325 332

Jumlah(Ha)

257.820

33.652

385.778 677.250

Tumpang Tindih

Wilayah Adat

dengan HPH/HTI

WILAYAH ADAT

Peta Wilayah Adat seluas 3,9 juta hektar, ada sekitar 3,1 juta hektar overlap dengan kawasan hutan non-adat (JKPP 2013)

14,7 juta hektare areal penggunaan lahan yang tumpang tindih antara IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan (FWI, 2014)

Carut Marut

(21)

K

ASUS

BARITO

SELATAN

terdapat hak-hak masyarakat

Dari Berita Acara Tata Batas Sementar

a Oktober 2013

langsung meloncat ke Penetapan Kawasan Hutan dengan SK Menteri Kehutanan pada 14 Mei 2014, tidak ada pelaksanaan penyelesaian hak-hak mas

yarakat

yang ada di dalam Kawasan Hutan yang dit

ata batas

atau bahkan Berita Acara Tata Batas De finitif.

Baru Tata Batas Sementara,

tapi sudah ditetapkan

sebagai Kawasan Hutan

!

Kasus Barito

Selatan

12

(22)

Kabupaten Barito Selatan pernah hangat dibicarakan pada tahun 2012-2014 ketika bersedia menjadi kabupaten pelopor untuk dua hal: perbaikan perizinan dan percepatan pengukuhan kawasan hutan. Karena basis ekonominya masih lahan, dua kepeloporan itu saling terkait.

2013 dilakukan penataan batas di satu kawasan hutan yang disebut Kawasan Hutan Lindung Sungai Barito-Sungai Kapuas (HLSBSK) sepanjang kurang lebih 114 km. Penataan batas kawasan HLSBSK ini melewati dan menyentuh sekitar 18 desa yang berada di sekitarnya. Kenyataannya setidaknya ada 7 desa yang berada di dalam kawasan hutan (Madara, Muara Talang, Batampang, Batilap, Bintang Kurung, Tampijak, Danau Masura). Kurangnya sosialisasi tentang fungsi hutan, tidak pernah hadirnya layanan pemerintah ke tingkat lokal, adalah beberapa faktor yang membuat masyarakat bereaksi.

Sesuai tahapan dalam penataan batas kawasan hutan, setelah penetapan tata batas sementara dilakukan pembuatan berita acara tata batas kawasan hutan sementara dan dilanjutkan dengan penyelesaian hak-hak pihak ketiga sebelum kemudian masuk dalam tahapan penetapan tata batas definitif dan akhirnya ditetapkan. Dalam 4 kali rapat yang diselenggarakan oleh Panitia Tata Batas (PTB), ketidaksetujuan masyarakat selalu muncul dan akhirnya memang diterangkan dalam Berita Acara Tata Batas Sementara. Kejadian itu ada di akhir tahun 2013. Setelah ada Berita Acara Tata Batas Sementara itu seharusnya dilakukan penyelesaian hak-hak pihak ketiga.

Proses lanjutan itu tidak pernah dilaksanakan di lapangan. Sementara masyarakat menunggu kejelasan hak-hak yang berpotensi hilang itu, pada bulan Mei 2014 muncullah SK Menteri Kehutanan Nomor: SK. 392/ Menhut-VII/KUH/2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Lindung Sungai Barito, Sungai Kapuas seluas 180.400,88 ha di Kabupaten Barito Selatan dan Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Tentu saja, dilihat dari sisi manapun SK penetapan HLSBSK ini janggal adanya. Bahkan dilihat dari urutan pengukuhan kawasan hutan yang aturannya dibuat sendiri oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Apa yang terjadi di Barito Selatan ini menjadi fakta kuat bahwa konflik tidak hanya terjadi di kawasan hutan yang ditunjuk, tetapi juga di kawasan hutan yang ditetapkan. Kejadian ini juga menunjukkan bahwa pengukuhan kawasan hutan ala Orde Baru yang hanya melukis di atas meja, diulang kembali. Lebih dalam dari itu adalah kejadian ini, mengutip dalil Hakim Mahkamah Konstitusi dalam Putusan MK 45/PUU-IX/2011, mengulang perbuatan aniaya pemerintah dengan proses pengukuhan kawasan.

Kasus Barito

Selatan

13

(23)

Kasus konflik tenurial di dalam kawasan hutan tidak lengkap jika tidak menyitir apa yang terjadi dengan perluasan wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Kabupaten Lebak. Pada saat pertama kali ditunjuk pada tahun 1992 sebagai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak seluas 16.380 ha, ternyata didalamnya sudah termasuk 3 Kecamatan dan 13 Desa dengan segala fasilitas umum dan bahkan fasilitas pemerintahan di atasnya. Tidak berhenti di sana, pada tahun 2003, Taman Nasional tersebut diperluas lagi menjadi 113.357 hektar berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 175/Kpts-II/2003. Dampak dari perluasan ini adalah ada 10 Kecamatan dan 44 Desa yang masuk ke dalam wilayah Taman Nasional. Penunjukan dan perluasan dilakukan tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan masyarakat.

K

ASUS

LEBAK

BANTEN

Wilayah Pedesaan dan Pemukiman Warga, masuk dalam penetapan Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Kasus Lebak

Banten

14

(24)

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Lebak mengambil inisiatif dengan mengirimkan surat resmi kepada Kementerian Kehutanan (sekarang menjadi KLHK) sebanyak 8 kali. Tak terhitung berbagai seminar dan lobi yang sudah dikerjakan untuk menyelesaikan konflik tersebut. Reaksi wajar dari Pemkab Lebak ini dilakukan karena memang tidak hanya masyarakat yang dirugikan, tetapi pemerintah Kabupaten Lebak juga. Akibat perluasan Taman Nasional itu tidak kurang 44 Gedung Pemerintahan, 21 sarana kesehatan, 176 sarana pendidikan, 312 sarana keagamaan (Islam) yang sekarang posisinya berada di dalam kawasan hutan. Sementara lahan garapan yang tiba-tiba berubah menjadi kawasan hutan seluas 19.036 ha yang terdiri dari 11.898 ha sawah, 5086 ha kebun, 1020 ha ladang, 5 ha kolam dan 1028 ha hutan hak. Itu merupakan data resmi dari pemerintah Kabupaten. Perlu juga diingat bahwa di dalam Taman Nasional itu sendiri sudah lama hidup masyarakat adat Kasepuhan. Masyarakat adat Kasepuhan ini baru saja mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Kabupaten Lebak lewat Perda.

Luas Pemukiman : Penduduk Terkena Dampak :

Gedung Pemerintahan : Sarana Kesehatan : Sarana Pendidikan : Sarana Keagamaan : Unit Industri Kecil :

Luas Lahan Garapan : Terdiri Dari :

Luas TNGH-S di Lebak:

(25)

Jalan Sungai Wilayah Kasepuhan

Taman Nasional Gunung Halimun Salak Hutan Lindung

Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas

Sumber Peta

1. Peta Partisipatif Wilayah Adat Propinsi Banten 2. Peta Indikatif Administrasi BPS 2010 3. WMS Kawasan Hutan Departemen Kehutanan

Kecamatan Cibeber

Kecamatan Muncang

1. Kasepuhan Cisitu (1.367,974 Ha) 2. Kasepuhan Cibedung (2.167,390 Ha) 3. Kasepuhan Citorek (7.534,975 Ha) 4. Kasepuhan Cirompang (646,352 Ha)

5. Kasepuhan Karang (338,572 Ha)

Perdanya sendiri dilampiri dengan peta wilayah adat Kasepuhan yang sebagian besar berada di dalam Taman Nasional. Tercatat ada 9 Kasepuhan induk yang disebutkan masuk ke dalam kawasan TNGHS (Kasepuhan Citorek, Cisitu, Cibedug, Cirompang, Karang, Pasir Eurih di Kabupaten Lebak, Banten; Kasepuhan Ciptagelar, Ciptamulya dan Sinarresmi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat). Luas wilayah 9 Kasepuhan ini sekitar 18.055,263 ha berdasarkan pemetaan partisipatif yang difasilitasi RMI dan AMAN tahun 2014.

Melihat skala potensi kerugian yang massif seperti ini memang agak mengherankan jika saat perluasaan taman nasional itu tidak ada konsultasi terlebih dahulu dengan masyarakat dan Pemda Lebak.

Kasus di Lebak ini jika dikaitkan dengan Perber 4 Menteri akan semakin menarik. Pertama, ini terjadi di taman nasional. Kedua, yang mendapatkan kerugian tidak hanya masyarakat, tetapi juga pemerintah kabupaten. Perber 4 Menteri sendiri sudah mengakomodasi pemohon dari individu/kelompok masyarakat dan pemerintah serta badan sosial. Ketiga, adanya Masyarakat Adat Kasepuhan dengan wilayah adatnya yang massif itu yang sebagian besar berada di dalam Taman Nasional. Dan masyarakat adat ini baru saja diakui dengan Perda Pemkab Lebak tahun 2015.

Kasus Lebak

Banten

16

Penyelesaian Penguasaan Tanah di Dalam Kawasan Hutan

(26)
(27)
(28)

TIM

YANG MENANGANI URUSAN DI BIDANG KEHUTANAN

UNSUR BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN UNSUR DINAS/BADAN KABUPATEN/KOTA YANG MENANGANI URUSAN DI BIDANG TATA RUANG

CAMAT SETEMPAT ATAU PEJABAT YANG DITUNJUK LURAH/KEPALA DESA SETEMPAT

ATAU SEBUTAN LAIN YANG DISAMAKAN KETUASEKRETARIS

ANGGOTA Bupati/

WALIKOTA

>> >>

gubernur

KEPALA KANTOR WILAYAH BPN

UNSUR DINAS PROVINSI YANG MENANGANI URUSAN DI BIDANG KEHUTANAN

UNSUR BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN

UNSUR DINAS/BADAN KABUPATEN/KOTA YANG MENANGANI URUSAN DI BIDANG TATA RUANG

KEPALA KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN/KOTA TERKAIT

CAMAT SETEMPAT ATAU PEJABAT YANG DITUNJUK

LURAH/KEPALA DESA SETEMPAT ATAU SEBUTAN LAIN YANG DISAMAKAN KETUA berada di dua atau lebih kabupaten (lintas kabupaten)

Tim IP4T disusun berdasarkan

lokasi dimana pelaksanaan

IP4T dilangsungkan.

Penetapan susunan Tim IP4T tingkat Kabupaten dilakukan dengan Surat Keputusan Bupati.

Penetapan Tim IP4T tingkat provinsi dilakukan dengan Surat Keputusan Gubernur.

Perber tidak mengatur masa tugas Tim IP4T. TIM IP4T terus bertugas sampai ada pencabutan SK oleh Bupati/Gubernur. Proses penyelesaian konflik di dalam kawasan hutan melalui Perber 4 Menteri dilakukan melalui proses inventarisasi penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (IP4T).

Pelaksanaan IP4T dimulai dengan pembentukan Tim IP4T, penentuan lokasi prioritas, sosialisasi, pengumpulan permohonan dari masyarakat, verifikasi

permohonan, rapat internal tim IP4T dan pembuatan rekomendasi.

T

IM

IP4T

Tim

(29)

S

usunan anggota Tim IP4T yang ditetapkan di dalam Perber 4 Menteri memang nampak terbatas. Beberapa kabupaten melihat bahwa persoalan konflik di dalam kawasan hutan ini kompleks sehingga susunan anggota Tim IP4T yang ditetapkan oleh Perber 4 Menteri dianggap tidak cukup memadai.

Karena itu susunan anggota Tim IP4T dimodifikasi sedemikian

rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan khas daerahnya namun tetap tidak menyalahi aturan di dalam Perber 4 Menteri.Modifikasi susunan anggota Tim IP4T ini sah saja dilakukan dan merupakan diskresi dari Gubernur/Bupati.

Sebagai contoh, modifikasi susunan anggota Tim IP4T dilakukan oleh Kabupaten Barito Selatan. Dalam SK Bupati Barito Selatan Nomor 130 Tahun 2015 tentang Pembentukan Tim Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah di Kawasan Hutan di Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015 disebutkan susunan anggota Tim IP4T yang jumlahnya lebih banyak dari yang diatur dalam Perber 4 Menteri. Berikut susunan Tim IP4T Barito Selatan:

M

ODIFIKASI

SUSUNAN

TIM

IP4T

Kepala Desa Danau Masura Kepala Desa Teluk Telaga Kepala Desa Muara Talang Kepala Desa Bintang Kurung Kepala Desa Tampijak Kepala Desa Teluk Sampudau Kepala Desa Selat Baru Kepala Desa Talio Kepala Desa Sungai Jaya Kepala Desa Batampang Kepala Desa Teluk Timbau Kepala Desa Batilap Kepala Dusun Muara Puning Kepala Dusun Simpang Telo Kepala Desa Rangga Ilung Kepala Balai Pemantapan

Kawasan Wilayah XXI Palangka Raya Kepala Bappeda Kabupaten

Barito Selatan Wakil Bupati Barito Selatan

Koordinator

Sekretaris Daerah Kabupaten Barito Selatan

Ketua

Kepala Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Barito Selatan

Sekretaris

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan

(30)

TIM PENDAMPING IP4T

BARITO SELATAN

SEKRETARIAT TIM IP4T

BARITO SELATAN

Ketua Tim Pendamping

Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesra Sekda Kabupaten Barito Selatan

Anggota

Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kabupaten Barito Selatan Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan SDA Setda

Kabupaten Barito Selatan

Kepala Bidang Pengembangan Wilayah Sarana dan Prasarana pada Bappeda Kabupaten Barito Selatan

Kepala Seksi Pemanfaatan Hutan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan

Kepala Sub Bagian SDA dan Lingkungan pada Bagian Administrasi Perekonomian dan SDA Setda Kabupaten Barito Selatan Kepala Seksi Pengaturan Penataan Pertanahan pada Kantor BPN

Kabupaten Barito Selatan

Kepala Sub Bidang Pengembangan Wilayah pada Bappeda Kabupaten Barito Selatan

Kepala Sub Bagian Produk Hukum Daerah pada Bagian Hukum Setda Kabupaten Barito Selatan

Ketua Sekretariat

Kepala Bidang Perencanaan Hutan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Barito Selatan

Anggota

Kepala Seksi Perpetaan dan Pentatagunaan Kawasan Hutan pada Dinas Kehutanan dan Pekebunan Kabupaten

Barito Selatan

Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberdayaan pada Kantor BPN Kabupaten Barito Selatan Kepala Seksi Survey, Pengukuran, dan Pemetaan pada

Kantor BPN Kabupaten Barito Selatan Irmatati, SE, Pelaksana pada Bagian Administrasi Perekonomian dan SDA Setda Kabupaten Barito Selatan Aris Octavia, S.Hut, Pelaksana pada Dinas Kehutanan dan

Perkebunan Kabupaten Barito Selatan Amelia, A.Md, Pelaksana pada Bagian Administrasi Perekonomian dan SDA Setda Kabupaten Barito Selatan

Silaprionson, Pelaksana pada Dinas Kehutanan dan Pekebunan Kabupaten Barito Selatan

Eramayuni, S.Hut, Staf Operator Komputer pada Dinas Kehutanan dan Pekebunan Kabupaten Barito Selatan

Modifikasi Susunan

Tim IP4T

21

(31)

K

EDUDUKAN

UNIK KEPALA DESA

DALAM IP4T

Kepala Desa memiliki posisi unik dalam Perber

4 Menteri. Kepala Desa berposisi sebagai anggota Tim IP4T sekaligus menjadi pihak yang mengajukan permohonan pelaksanaan IP4T di desanya. Ini disebabkan karena Perber 4 menteri menginginkan proses permohonan dikerjakan secara kolektif, secara bersama-sama oleh masing-masing desa.

Kepala Desa dan jajarannya menjadi pihak yang membantu masyarakat dalam mengumpulkan bukti penguasaan tanahnya di dalam kawasan hutan. Kepala Desa pula yang membuat sketsa desa yang berisi keterangan persil-persil tanah yang diajukan oleh para pemohon. Karena itu Kepala Desa memiliki tanggung jawab besar memastikan setiap permohonan dari warganya itu memiliki klaim yang dapat diterima secara hukum. Dan masyarakat perlu mengawasi dengan ketat Kepala Desanya. Jangan sampai Kepala Desa memanfaatkan proses IP4T ini hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Hubungan yang baik dengan Kepala Desa akan memastikan keberhasilan di tingkat awal

pelaksanaan IP4T selanjutnya. Hal ini bisa dilihat dari Asosiasi Kepala Desa di Lumajang yang cukup berhasil mendesakkan agenda keberadaan Tim IP4T di Lumajang kepada berbagai pihak, yang berujung pada l a h i r n y a S K B u p a t i L u m a j a n g t e n t a n g pembentukan Tim IP4T di Lumajang.

Kedudukan Unik Kepala Desa

dalam IP4T

22

(32)

Tim IP4T

pemohon, 2 orang atau lebih saksi, dan diketahui

oleh pihak Kelurahan / Desa atau nama lainnya 1. Menerima pendaftaran permohonan IP4T. 2. Melakukan verifikasi permohonan.

3. Mensosialisasikan kegiatan IP4T pada tanah yang berada di dalam kawasan hutan kepada aparat pemerintah tingkat kecamatan dan kelurahan/desa.

4. Melaksanakan pendataan lapangan.

5. Melakukan analisa data yuridis dan data fisik bidang-bidang tanah yang berada di dalam Kawasan Hutan.

6. Menerbitkan hasil analisis berupa rekomendasi dengan melampirkan

dan Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah ( ) yang ditandatangani oleh masing-masing pemohon serta salinan bukti-bukti penguasaan tanah lainnya.

7. Menyerahkan hasil analisis sebagaimana dimaksud pada point 6 kepada Kepala Kantor Wilayah

Badan Pertanahan Nasional/Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.

Peta IP4T Non Kadastral

SP2FBT

Dari urutan tugas Tim IP4T itu nampak bahwa Tim IP4T ini sebenarnya pasif; dalam arti bersikap menunggu permohonan pelaksanaan IP4T dari masyarakat.

Namun di beberapa kabupaten yang sudah ada Tim IP4T, ternyata Tim IP4T juga melakukan pendataan untuk membantu masyarakat menyusun permohonan pelaksanaan IP4T di wilayahnya. Kejadian ini terjadi di Kabupaten Barito Selatan. Kegiatan ini dilakukan karena setelah menunggu sekian lama, belum ada masyarakat (lewat Kepala Desa yang berada di lokasi prioritas) yang mengajukan permohonan pelaksanaan IP4T. Karena itu Tim IP4T melakukan jemput bola melakukan pendataan untuk kepentingan memenuhi persyaratan permohonan.

T

UGAS

TIM

IP4T

Tugas

(33)

Permohonan IP4T dapat dilakukan oleh siapa saja yang menguasai, memiliki, menggunakan atau memanfaatkan lahannya di dalam kawasan hutan, KECUALI PERUSAHAAN. Ini titik yang menarik dalam Perber 4 Menteri. Perusahaan tidak menjadi pihak dalam proses IP4T. Ini dengan pemikiran bahwa perusahaan merupakan pihak yang tergantung, utamanya pada pemerintah yang memberinya izin. Ini berbeda posisinya dengan masyarakat atau individu yang dapat mengklaim suatu hak atas tanah. Sehingga sebenarnya yang sedang dipertanyakan klaimnya

adalah negara. Kalaupun hasilnya nanti ternyata terbukti masyarakat berhak atas lahan di dalam kawasan hutan, maka urusannya adalah antara perusahaan dan pemerintah.

Pemohon IP4T yang diatur dalam Perber 4 Menteri adalah

(1) orang-perorangan (individu), misalnya ia mempunyai kebun rotan atau karet yang setiap musim dilakukan pemanenan; kemudian

(2) pemerintah, misalnya kantor desa yang ditempati oleh pemerintah ternyata berada di dalam kawasan hutan;

(3) badan sosial/ keagamaan, misalnya lembaga yang mengurus masjid, mengelola lapangan bola, yang sering dipakai bersama-sama ternyata berada di dalam kawasan hutan; dan

(4) masyarakat hukum adat.

MASYARAKAT

(34)

Proses IP4T merupakan proses yang berkesinambungan antar berbagai pihak yang menjadi anggota di dalam IP4T. Tim IP4T sendiri jika dilihat dari kewenangannya bersifat menunggu, dalam arti tidak turun ke lapangan untuk mengumpulkan permohonan.

1) Tahapan pertama IP4T adalah permohonan yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat pemohon dan pemerintah kepala desa. Namun tidak menutup kemungkinan jika Tim IP4T menjemput bola permohonan yang ada di masyarakat

ketika masyarakat, karena satu dan beberapa hal, tidak aktif mengajukan. Dalam arti Tim IP4T mengumpulkan dan mengindentifikasi wilayah yang dikuasai oleh masyarakat di dalam kawasan hutan.

Berdasarkan permohonan tersebut, Tim IP4T menentukan lokasi prioritas pelaksanaan IP4T. Lokasi prioritas ini menjadi kerja Tim IP4T selama 6 bulan. Penentuan lokasi prioritas dapat juga dilakukan secara “top down” dalam arti Tim IP4T menentukan lokasi prioritas dan kemudian menunggu atau menjemput bola permohonan masyarakat.

2) Setelah ada permohonan dari masyarakat lewat Kepala Desa, Tim IP4T akan memeriksa data yang dimohonkan. Dokumen permohonan itu sendiri ada template-nya yang disediakan oleh Tim IP4T (Masyarakat hanya tinggal mengisinya dan menambahkan dengan persyaratan lainnya).

3) Pemeriksaan permohonan selesai dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. Satu hal yang wajib ada dalam proses pemeriksaan lapangan adalah alat navigasi/GPS untuk memeriksa batas lahan yang dimohonkan. Keharusan adanya alat navigasi ini menjadi penting karena selain soal persyaratan administratif, juga diharuskan disertai dengan peta.

4) Setelah pemeriksaan di lapangan, Tim IP4T melakukan pengolahan dan analisis data fisik dan data yuridis dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil pengolahan data ini yang menjadi dasar rekomendasi IP4T.

5) Hasil rekomendasi Tim IP4T Provinsi diserahkan kepada Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi, sedangkan untuk hasil rekomendasi Tim IP4T Kabupaten/Kota diserahkan kepada Kepala Kantor Pertanahan.

P

ROSES

IP4T

Proses

(35)

6) Selanjutnya, Kepala Kantor Wilayah BPN menyerahkan hasil rekomendasi kepada Kementerian Kehutanan cq. Ditjen Planologi Kehutanan ditembuskan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/BPN, Menteri Dalam Negeri, Gubernur/ Bupati/ Walikota yang bersangkutan.

7) Setelah menerima berkas hasil analisis, Kementerian Kehutanan akan melakukan kajian terhadap laporan hasil analisis Tim IP4T dan memerintahkan pelaksanaan tata batas kawasan hutan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya berkas hasil analisis.

8) Berdasarkan hasil tata batas kawasan hutan, Direktur Jenderal Planologi atas nama Menteri Kehutanan Republik Indonesia menerbitkan Surat Keputusan Perubahan Batas Kawasan Hutan beserta lampiran peta sebagai dasar penerbitan sertipikat hak atas tanah. Kemudian Menteri Kehutanan Republik Indonesia menerbitkan Surat Keputusan Perubahan Kawasan Hutan dalam waktu paling lama 2 (dua)bulan sejak terbitnya Surat Keputusan Perubahan Batas Kawasan Hutan.

9) Setelah itu, dilakukan revisi terhadap RTRWP/K. Revisi dilakukan 1 kali dalam 5 tahun sejak ditetapkannya RTRWP/K. Selama proses integrasi tata ruang pemberian tanda bukti hak dapat dilaksanakan.

Proses

(36)

TIM IP4T

DATA PEMOHON

MELAKUKAN

TIM IP4T

ANALISIS DATA

ATAU REFORMA AGRARIA /

REDISTRIBUSI TANAH ATAU

BENTUK MANAJEMEN KOLABORASI

DAN PERHUTANAN SOSIAL

DAN PENGAKUAN MASYARAKAT

Dari pemaparan urutan kerja ini, ada beberapa tahapan dimana masyarakat bisa mengawasi dan bahkan terlibat aktif. Misalkan saja dalam proses penentuan lokasi prioritas. Masyarakat bisa mengajukan usulan kepada Ketua Tim IP4T (Kantor Pertanahan atau Kakanwil Pertanahan) agar menjadikan desanya sebagai lokasi prioritas IP4T.

Masyarakat juga bisa terlibat aktif dalam mengawasi kegiatan rapat-rapat Tim IP4T dalam menyusun rekomendasi.

JALUR

IP4T

Proses

(37)

6 Bulan

ATAS SK DIRJEN PLANOLOGI

TENTANG PERUBAHAN BATAS KAWASAN HUTAN DAN

SK MENTERI KEHUTANAN

(38)

Setelah Tim IP4T menerima permohonan dari masyarakat, tim akan mengecek (memverifikasi) kebenarannya di lapangan sambil melakukan pendataan lapangan.

Perber 4 Menteri menerbitkan indikator verifikasi yang cukup sederhana yang bertumpu pada hukum adat dan sesuai dengan peraturan perundangan terkait pertanahan. Indikator verifikasi ini menjadi pegangan TIM IP4T ketika melakukan kajian data yuridis dan data fisik di lapangan.

P

ROSES

(39)

jika pemohonnya

Pemerintah dan

Badan Sosial &

keagamaan

seperti desa, puskesmas sekolah, rumah ibadah, dsb

Kriteria di dalam Permenhut P52/2012 jo P62/2013

jika klaim terbukti maka

wajib dikeluarkan dari

statusnya sebagai

kawasan hutan

Sebelum penunjukan

kawasan hutan

Dibuktikan dengan

sejarah keberadaan

Setelah penunjukan

kawasan hutan

1) Telah ditetapkan dalam Perda

2) Tercatat pada statistik Desa / Kecamatan

3) Penduduk >10 KK dan terdiri dari <10 rumah

4) Tidak berlaku pada Provinsi yang luas

kawasan Hutannya <30%

Proses

(40)

Ingat, dasar verifikasi menurut Perber 4 Menteri berupa memenuhi kriteria penguasaan / pemilikan / penggunaan / pemanfaatan lahan selama dua puluh tahun atau kurang dari dua puluh tahun.

Dasar verifikasi seperti ini membutuhkan satu bukti berupa sejarah penguasaan tanah (di dalam kawasan hutan) yang detail. Sejarah penguasaan tanah itu harus didapatkan keterangannya dari mereka yang mengetahui proses pertama kalinya seseorang menguasai lahan. Jika tidak mengetahui pertama kalinya, bisa juga sejarahnya berupa keterangan yang bisa dibuktikan terjadinya peralihan kepemilikan atau penggunaan atas kawasan tersebut.

Ingat pula, yang menjadi dasar klaim adalah sebidang atau beberapa bidang lahan. Bukan pembuktian subjeknya. Sehingga yang penting adalah sejarah penggunaan lahan itu, bukan proses peralihan haknya.

Jikapun dalam proses IP4T, klaim dari seseorang tidak terbukti, maka Perber 4 Menteri tetap menyediakan alternatif penyelesaiannya berupa perhutanan sosial. Perber 4 Menteri menghendaki tidak ada lagi masyarakat yang diusir dari dalam kawasan hutan, apalagi masyarakat itu sangat membutuhkan sumber daya hutan untuk mencari hidup.

jika pemohonnya

masyarakat individual

TERBUKTI MENGUASAI LAHAN ATAU LEBIH BERTURU-TURUTLEBIH DARI 20 TAHUN TERBUKTI MENGUASAI LAHAN

KURANG DARI 20 TAHUN TIDAK

(41)

Indikator waktu yang dipakai dalam verifikasi ini membutuhkan ketepatan dalam menuliskan riwayat penguasaan / pemilikan / penggunaan / pemanfaatan lahan. Riwayat / sejarah penguasaan tanah ini harus detail dan dapat dipercaya. Karena itu ia membutuhkan dukungan dari orang yang berbatasan dengan lahannya, orang tua/tokoh masyarakat yang mengetahui pasti riwayat penguasaan tanah tersebut dan ada penegasan dari kepala desa setempat.

Batas waktu 20 tahun menentukan: (1) jika memang terbukti penguasaan lahannya 20 tahun atau lebih secara berturut-turut, maka yang bersangkutan mendapatkan penegasan hak; (2) jika penguasaan lahannya kurang dari 20 tahun, maka yang bersangkutan berhak diikutkan dalam program reforma agraria di dalam kawasan hutan (nantinya yang bersangkutan akan memperoleh pemberian hak); (3) jika klaim penguasaannya tidak terbukti atau tidak memiliki klaim namun sudah menguasai lahan di dalam kawasan hutan, maka yang bersangkutan diikutkan dalam program perhutanan sosial dan kemitraan.

Verifikasi dengan batas waktu 20 tahun ini hanya berlaku bagi masyarakat biasa (individual) dan tidak berlaku bagi masyarakat adat.

Kriteria dan indikator verifikasi bagi masyarakat adat ditentukan tersendiri menurut peraturan yang berlaku. Begitu juga kriteria dan indikator bagi pemohon dari pemerintah dan badan sosial atau keagamaan

Batas 20 tahun dihitung sejak Perber 4 Menteri diterbitkan (17 Oktober 2014)

Proses

(42)
(43)

B

UKTI TERTULIS

& TIDAK TERTULIS

Peta penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah di Dusun Muara Puning Kabupaten Barito Selatan Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (sporadik) yang dibuat oleh warga Ujung Jaya, Sumur, Pandeglang, Banten

Proses Identifikasi Penguasaan Lahan yang dilakukan secara kolektif oleh warga Legon, Banten

Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (sporadik) Bukti adalah segala sesuatu yang dapat menunjukkan lahan tersebut dimiliki atau dikuasai atau dimanfaatkan atau digunakan oleh pemohon IP4T.

Kedudukan bukti sangatlah penting dalam proses IP4T, agar setiap klaim permohonan yang diajukan dapat mendukung hak atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat dalam kawasan hutan.

Dalam proses IP4T dikenal 2 (dua) jenis bukti yaitu bukti tertulis maupun bukti tidak tertulis.

Bukti Tertulis &

(44)

Bukti Tertulis &

Tidak Tertulis

35

Pada saat pengajuan permohonan IP4T secara kolektif, masyarakat besama Lurah/Kepala Desa, wajib melampirkan berkas:

1. Daftar permohonan IP4T secara kolektif yang diketahui oleh Kepala Desa/Lurah dan Camat;

2. Fotokopi identitas masing-masing pemohon (KTP, KK, kartu identitas lain);

3. Alas hak/surat keterangan riwayat tanah/SPPT (bagi yang memiliki);

4. Surat pernyataan sudah memasang tanda batas bidang tanah; 5. Sket bidang tanah dikuasai oleh pemohon yang berada dalam

kawasan hutan.

Alat bukti tertulis mengenai kepemilikan tanah dapat dibagi menjadi menjadi 2 (dua), yaitu alat bukti untuk pendaftaran Hak Atas Tanah (HAT) baru dan pendaftaran HAT lama.

Hak atas tanah baru dibuktikan dengan:

a. Apabila pemberian hak tersebut berasal dari tanah Negara atau tanah hak pengelolaan dibuktikan dengan Penetapan pemberian hak oleh Pejabat yang berwenang;

b. Asli akta PPAT yang memuat pemberian hak pemegang hak milik kepada penerima hak guna bangunan dan hak pakai;

c. Hak pengelolaan dibuktikan dengan penetapan pemberian hak pengelolaan oleh Pejabat yang berwenang;

d. Tanah wakaf dibuktikan dengan akta ikrar wakaf;

e. Hak milik atas satuan rumah susun dibuktikan dengan akta pemisahan;

f. Pemberian hak tanggungan dibuktikan dengan akta pemberian

BUKTI-BUKTI

TERTULIS

PENGUASAAN LAHAN

(45)

a. Grosse Akta Hak Eigendom yang diterbitkan berdasarkan Overschrijvings Ordonnantie (Staatsblad. 1834-27), yang telah dibubuhi catatan, bahwa hak eigendom yang bersangkutan dikonversi menjadi hak milik;

b. Grosse Akta Hak Eigendom yang diterbitkan berdasarkan Overschrijvings

Ordonnantie (Staatsblad. 1834-27) sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria sampai tanggal pendaftaran tanah dilaksanakan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 di daerah yang bersangkutan;

c. Surat Tanda Bukti Hak Milik yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Swapraja yang bersangkutan;

d. Sertipikat Hak Milik yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Menteri Agraria Nomor 9/1959;

e. Surat Keputusan Pemberian Hak Milik dari Pejabat yang berwenang, baik sebelum ataupun sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria, yang tidak disertai kewajiban untuk mendaftarkan hak yang diberikan, tetapi telah dipenuhi semua kewajiban yang disebut didalamnya;

f. Akta Pemindahan Hak yang dibuat di bawah tangan yang dibubuhi tanda kesaksian oleh Kepala Adat/Kepala Desa/Kelurahan yang dibuat sebelum berlakunya PP Nomor 24 Tahun 1997;

g. Akta Pemindahan Hak Atas Tanah yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah, yang tanahnya belum dibukukan;

h. Akta Ikrar Wakaf / Surat Ikrar Wakaf yang dibuat sebelum atau sejak mulai dilaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977;

i. Risalah Lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang yang berwenang, yang tanahnya belum dibukukan;

j. Surat Penunjukan atau Pembelian Kaveling Tanah Pengganti Tanah yang diambil oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah;

k. Petuk Pajak Bumi/Landrente, Girik, Pipil, Kekitir dan Verponding Indonesia sebelum berlaku Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961;

l. Surat Keterangan Riwayat Tanah yang pernah dibuat oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan;

m. Lain-Lain Bentuk Alat Pembuktian Tertulis dengan Nama Apapun juga sebagaimana dimaksud dalam Pasal II, Pasal VI dan Pasal VII Ketentuan-ketentuan Konversi Undang-Undang Pokok Agraria.

1. Hak Milik; Hak Guna Usaha; Hak Guna Bangunan; Hak Pakai; Hak Pengelolaan.

2. Hak Atas Tanah lainnya yang sudah ada klarifikasi dari Lembaga Pertanahan, seperti:

SEBELUM

(46)

Bukti Tertulis &

Tidak Tertulis

37

hak tanggungan.

Apabila bukti kepemilikan tertulis tidak lengkap atau tidak ada, maka pembuktian dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang tanah yang bersangkutan selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahulu-pendahulunya, dengan syarat:

1) Penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi dari lingkungan masyarakat setempat dan tidak mempunyai hubungan keluarga dengan yang bersangkutan.

2) Penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak lainnya.

Bukti tidak tertulis ini menjadi penting untuk kawasan yang belum pernah mendapatkan layanan pendaftaran tanah dari negara. Dapat dipastikan bahwa mayoritas penggunaan lahan di dalam kawasan hutan tidak memiliki bukti tertulis. Bisa dimaklumi karena BPN selama ini memang tidak diperbolehkan melakukan pendaftaran tanah di dalam kawasan hutan.

BUKTI-BUKTI

tidak TERTULIS PENGUASAAN LAHAN

(47)

SEBELUM

Ÿ Fasilitas Sosial dalam Desa / Kampung

berdasar pada Sejarah Keberadaannya

Permukiman, Fasilitas Umum, Fasilitas Sosial dalam Desa/Kampung

Dengan syarat:

1) Telah ditetapkan dalam Perda, dan

2) Tercatat pada statistik desa/ Kecamatan, dan 3) Penduduk >10 KK dan terdiri dari <10 rumah. 4) tidak berlaku pada provinsi yang luas

kawasan Hutannya <30%

Syarat 1 s/d 3 adalah kumulatif. SEBELUM di Teluk Timbau, Kabupaten Barito Selatan yang dijadikan bukti tidak tertulis dalam pengajuan permohonan IP4T (Courtesy WALHI KALTENG 2015)

Bukti Tertulis &

Tidak Tertulis

38

Bukti tidak tertulis bagi masyarakat biasa ini banyak ragamnya, tergantung kondisi lokal/setempat dan disesuaikan dengan aturan adat atau kebiasaan masyarakat setempat. Pemohon yang tidak memiliki bukti tertulis harus menuliskan riwayat tanahnya dengan jelas dan detail dan mengaitkan penguasaan lahannya itu dengan aturan adat dan kebiasaan di masyarakat terkait dengan kepemilikan lahan. Bukti perlu ditunjukan dengan keberadaan tanaman yang menunjukkan bukti kepemilikan di daerah tersebut atau tanaman yang memiliki umur sederajat dengan 20 tahun atau lebih atau bukti-bukti lainnya (seperti bekas rumah, pemakaman leluhur keluarga dan contoh lainnya).

Bukti tidak tertulis bagi pemohon pemerintah atau badan sosial keagamaan yang diatur didalam peraturan kehutanan antara lain berwujud pemukiman, fasum dan fasos. Fasum ini antara lain berupa jalan, saluran irigasi, jaringan listrik, kantor pemerintahan dan lainnya. Fasos antara lain berupa lapangan, pemakaman, tempat ibadah dan lainnya.

(48)

Dari nama proses (yakni IP4T) dan juga ketua Tim IP4T, ada kemungkinan peraturan dan kebijakan yang dipakai berasal dari BPN. Dari beberapa kali pertemuan dari BPN ada indikasi kuat beberapa staf BPN hanya melihat bukti tertulis sebagai bukti utama. Pandangan ini sebenarnya tidak hanya ada di kalangan staf BPN tetapi juga di pihak lain di anggota Tim IP4T.

Sebagai antisipasi perlu masyarakat perlu memperkuat argumentasi bahwa (1) Layanan BPN untuk pendaftaran tanah belum menyentuh semua wilayah di

Indonesia.

(2) BPN tidak memberikan layanan pendaftaran tanah yang berada di dalam kawasan hutan (sehingga pasti akan sulit menemukan, misalnya sertifikat tanah, di dalam kawasan hutan. Kecuali untuk bukti tertulis yang berasal dari hak atas tanah lama (dijelaskan di halaman sebelumnya)).

Untuk itulah masyarakat perlu mempersiapkan diri dengan mengidentifikasi bukti-bukti tidak tertulis yang menunjukkan klaim kuatnya atas lahan tersebut. Bukti tidak tertulis itu misalnya dapat dilihat dari makam keramat, lokasi keramat, bentuk penggunaan lahan yang khas, keberadaan pohonan berumur panjang, dan lain-lain.

Kita ambil contoh di Barito Selatan. Di 18 desa/dusun yang dijadikan lokasi prioritas terdapat bentuk unik penguasaan masyarakat atas lahan berupa Beje. Beje merupakan kolam persegi panjang yang dibuat oleh masyarakat yang berada di daerah pasang surut sungai/danau yang dipergunakan untuk menjebak ikan. Bentuk dan luas Beje ini bervariasi. Ada yang hanya leber 1 meter dan panjang 3 meter. Ada juga yang panjangnya ratusan meter. Di beberapa desa di Barsel, Beje bisa menunjukkan kepemilikan seseorang atas lahan disekitarnya. Jelasnya jika si A memiliki Beje di satu lokasi B, maka Si A ini adalah pemilik dari Lokasi B tadi (tentu dengan batas-batas yang disepakati dengan yang berbatasan). Tapi di desa yang lain, Beje ini tidak menunjukkan kepemilikan atas lahan disekitarnya. Jadi dalam kasus ini si A hanya memiliki lahan seluas Beje tersebut. Apapun kondisinya, Beje dapat dijadikan bukti sudah adanya penguasaan lahan di dalam kawasan hutan.

Kasus di Legon Pakis, Pandeglang bisa juga dijadikan contoh. Kalau di daerah ini bukti tidak tertulisnya bisa dilihat dari keberadaan pohon kelapa yang berjejer yang sudah berbuah. Kita tahu sendiri bahwa dibutuhkan waktu lebih dari satu dekade bagi pohon kelapa untuk berbuah.

Di sisi yang lain, keberadaan kebun rotan atau pohon tanggiran (pohon dimana ada rumah lebah)atau perkebunan buah dapat juga diajukan sebagai salah satu bukti penguasaan masyarakat atas lahan.

Bukti Tertulis &

(49)
(50)

Bab IV

(51)
(52)

J

IKA

TIM IP4T

BELUM

TERBENTUK

Pembentukan Tim IP4T sangat penting karena tim inilah yang akan

menerima permohonan masyarakat, melakukan verifikasi, analisis data (hukum dan fisik lapangan) dan mengeluarkan rekomendasi. Selama belum ada Tim IP4T ini bisa dipastikan pelaksanaan IP4T menurut Perber 4 Menteri tidak akan berjalan.

Tapi jangan kawatir, usaha tertentu harus dilakukan agar Tim IP4T terbentuk di Kabupaten atau provinsi.

Usaha yang bisa dikerjakan bersama-sama dengan para pendamping masyarakat adalah:

(1) Kumpulkan nomor kontak pejabat/staf yang bekerja di instansi yang termasuk dalam daftar anggota IP4T

(2) Datangi (bersama kawan-kawan dan organisasi pendamping) dan temui pejabat terkait di Kantor Pertanahan/ Kanwil Pertanahan setempat. Ajaklah diskusi terkait persiapan pelaksanaan IP4T.

(3) Bawa data terkait penggunaan lahan di desa anda; perlihatkan (jangan

berikan) kepada pejabat/staf anggota Tim IP4T dan diskusikan pentingnya penyelesaian konflik di desa anda

(4) Buat pertemuan kampung dan undang beberapa pejabat yang terkait dengan pelaksanaan IP4T sebagai narasumber

(5) Buat surat kepada anggota DPRD/DPR/DPD dari wilayah anda untuk meminta waktu bertemu. Jika undangan bersambut, ajak diskusi dan perlihatkan data penggunaan lahan dan konflik di desa anda. Ceritakan secara singkat masalah anda.

(6) Jika memungkinkan, minta waktu bertemu dengan Sekretaris Daerah untuk bicarakan masalah anda dan perlunya pembentukan Tim IP4T

(7) Jika punya jaringan politik yang bagus, temui langsung bupati/gubernur anda dan minta mereka bentuk Tim IP4T atau pergunakan

(8) Buat pertemuan dengan teman-teman Media Massa, ajak diskusi soal masalah anda dan perlihatkan data anda disertai dengan press release.

(9) Buat unjuk rasa di depan kantor bupati/gubernur dengan damai. Lakukan berkali-kali. Organisasi unjuk rasa dengan cermat dan terukur untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

(10) Bersabarlah...

Pertemuan dengan Asosiasi Kepala Desa di Lumajang membahas IP4T

(courtesy andree-temanggung)

Jika Tim IP4T

(53)

P

ENENTUAN

KAWASAN

/ DESA

PRIORITAS

Setelah pembentukan Tim IP4T, baik di tingkat

kabupaten maupun provinsi, dilakukan kegiatan untuk konsolidasi internal, termasuk penentuan tim lapangan, anggaran dan penentuan lokasi prioritas.

Dalam Perber 4 Menteri disebutkan bahwa pelaksanaan IP4T dilakukan dalam satu kawasan dengan jangka waktu

selama 6 bulan. Kawasan yang dimaksud ditentukan oleh Tim IP4T yang dapat berupa satu desa, beberapa desa/kampung. Tergantung pada penilaian dan anggaran yang tersedia.

Penentuan lokasi prioritas ini sangat penting diperhatikan oleh masyarakat. Karena di lokasi prioritas ini dipastikan energi dari Tim IP4T akan dicurahkan. Lagi pula harus diingat: Perber 4 Menteri ini diterbitkan sebagai diskresi untuk menutupi ketiadaan hukum yang memungkinkan terjadinya sistem pertanahan yang terintegrasi.

Dengan kata lain, momen dan kesempatan menjadi penting.

Penentuan lokasi prioritas IP4T selama ini dilakukan baik secara top-down maupun dengan melihat permohonan yang diajukan oleh masyarakat. Pada titik ini, masyarakat bisa bersifat pasif maupun aktif. Dalam rangka merebut kesempatan alangkah lebih baiknya jika masyarakat bersikap aktif dalam menentukan lokasi prioritas ini.

Bagaimana hal itu dilakukan?

1. Masyarakat harus memastikan bahwa Tim IP4T sudah terbentuk di kabupaten/provinsi setempat. Untuk mengetahuinya bisa meminta informasi kepada Kantor Sekda bagian Hukum atau kantor Pertanahan atau Dinas Kehutanan. Mintalah SK pemebntukan Tim IP4T agar bisa dilihat susunan anggotanya dan menjadi dasar untuk nantinya mencari informasi lain.

2. Masyarakat bisa mengumpulkan identitas pengguna lahan yang berada di dalam kawasan hutan. Pengguna lahan ini berasal dari desa yang sama (ini agar memudahkan identifikasi awal). Apa yang diisi dalam form identifikasi awal itu bisa mencontek form pengajuan permohonan yang ada di dalam lampiran buku ini.

Penentuan Kawasan / Desa

Prioritas

44

(54)

3. Hasil dari identifikasi sederhana ini kemudian diajukan k e p a d a K e t u a T i m I P 4 T ( K a n t o r P e r t a n a h a n Kabupaten/Kakanwil). Dengan tujuan agar meminta di desa pengusul diadakan kegiatan IP4T di dalam kawasan hutan.

4. Pada proses usulan itu, akan sangat baik jika ada pemetaan partisipatif yang meliputi seluruh desa dan sudah disepakati oleh pihak-pihak yang bertetangga. Pemetaan partisipatif yang detail akan lebih memudahkan Tim IP4T ketika melakukan verifikasi.

5. Jika lokasi prioritas sudah dilakukan dan bukan berada di desa pengusul, maka pastikan usulannya ditempatkan dalam prioritas selanjutnya (Ingat, menurut Perber 4 Menteri, pelaksanaan IP4T di satu lokasi selama 6 bulan).

6. Selama menunggu dijadikan prioritas selanjutnya itu, masyarakat bisa menyusun pemetaan partisipatif, jika belum punya. Atau menyempurnakan pemetaan partisipatif (misal dengan menambahkan peta penggunaan lahan di dalamnya), jika masyarakat sudah memilikinya. Kejelasan penggunaan lahan, apalagi sudah ada kesepakatan di internal masyarakat sendiri atas batas-batas lahannya, pastinya akan memudahkan proses IP4T.

Desa Guguk, Kecamatan Renah Pembarap Kabupaten Merangin Provinsi Jambi

Penentuan Kawasan / Desa

Prioritas

45

(55)

Citra Satelit Lokasi Ip4t Legon Pakis, Ujung Kulon, Banten (courtesy JKPP 2015)

Penentuan Kawasan / Desa

Prioritas

46

(56)

P

ENGUMPULAN

DATA PENGGUNAAN

LAHAN DI DESA

Dalam pelaksanaan IP4T, masyarakat berperan

sebagai pemohon. Permohonannya dilakukan secara bersama-sama dan ditujukan kepada Bupati lewat Tim IP4T. Masyarakat bersama-sama dengan Kepala Desa melakukan pengumpulan data terkait dengan lahan garapan dan lahan yang diklaim yang berada di dalam kawasan hutan.

Proses IP4T dalam Perber 4 Menteri berbeda dengan pelaksanaan IP4T yang dilakukan oleh Kantor Pertanahan/BPN yang biasanya sporadik (sendiri-sendiri). Proses IP4T dalam Perber 4 Menteri dilakukan secara kolektif per desa. Kepala Desa dan aparat desa mengambil peranan penting sebagai pihak yang mengumpulkan permohonan dari warganya.

Dalam Petunjuk Teknis sudah dijelaskan informasi seperti apa yang ada di dalam lembar permohonan. Informasi yang harus ada dalam permohonan berintikan pada nama pemilik / pengguna lahan, luas lahan, dengan siapa berbatasan langsung dan sejarah pemilikan / penggunaan / pemanfaatan lahan.

Perlu juga ditegaskan: permohonan ini diajukan oleh pemilik, pengguna, pemanfaat lahan yang berada di dalam kawasan hutan yang berupa masyarakat biasa maupun masyarakat adat, pemerintah dan badan sosial /keagamaan. Tidak ada pemohon dari perusahaan.

Pemerintah Desa dapat mengajukan dirinya sebagai pemohon untuk mengklaim tanah-tanah yang diklaim sebagai aset desa atau lahan-lahan di sekitar yang diklaim warga namun belum ada yang menguasai. Permohonan dari Pemerintah Desa ini akan memperkuat permohonan lain yang diajukan oleh masyarakat/kelompok masyarakat.

Surat Pernyatan enguasaan Fisik Bidang Tanah (sporadik) di Ujung Jaya, Pandeglang, Banten

Pengumpulan Data Penggunaan Lahan

di Desa

47

(57)

Pengumpulan Data Penggunaan Lahan

di Desa

48

Penyelesaian Penguasaan Tanah di Dalam Kawasan Hutan

1. Ingat, dalam proses pengumpulan data/identifikasi

data penguasaan tanah di dalam kawasan hutan ini,

pemohon harus melampirkan bukti: Tertulis dan Tidak

Tertulis. Contoh bukti tertulis dan tidak tertulis bisa

dilihat di Bab tentang Bukti Tertulis dan Tidak tertulis.

2. Ingat juga, dalam proses penyusunan riwayat

penguasaan tanah: sebutkan penguasa tanah saat ini

s e r t a P E N D A H U L U - P E N D A H U L U n y a

(pemilik/pengguna sebelumnya).

3. Ingat, sebutkan CARA mendapatkan tanah yang

sekarang digarap di dalam kawasan hutan. Misal

apakah lewat warisan, hibah atau jual beli.

4. Surat keterangan penguasaan fisik tanah ini harus

ditandatangani yang bersangkutan dan saksi-saksi.

Kepala Desa akan mengesahkan masing-masing surat

keterangan penguasaan tanah ini.

INGAT !

JANGAN

LUPA

(58)

P

ENDANAAN

OLEH MASYARAKAT

DALAM PROSES IP4T

Ini merupakan pertanyaan yang perlu hati-hati

ditanggapi. Mengingat proses IP4T/Perber 4 Menteri, sebagaimana sudah dijelaskan di muka, merupakan terobosan hukum yang pastinya akan memunculkan reaksi dan resistensi tertentu dari pihak-pihak yang terganggu. Setiap iuran yang ditarik untuk memperlancar proses ini (biarpun dengan iuran uang yang sedikit dan sudah disepakati oleh masyarakat) dapat dijadikan dalih macam-macam. (Kasus di Lumajang, kejadian ini dimanfaatkan untuk menghembuskan isu bahwa

“terjadi praktek jual beli lahan” yang menjadi dalih untuk melakukan kriminalisasi pada tokoh yang menggerakkan IP4T).

Untuk soal ini keberadaan organisasi masyarakat yang solid dan dihormati oleh masyarakat menjadi penting. Apalagi jika organisasi masyarakat tersebut memang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri dan dipergunakan untuk memfasilitasi kepentingan masyarakat. Tentu saja soal swadaya ini pasti sudah dibahas di dalam internal organisasi masyarakat ini.

Padahal iuran ini penting peranannya dalam pelaksanaan IP4T, misalnya pembelian materai, uang transport dan konsumsi bagi yang membantu proses pendataan. Intinya, iuran ini hanya untuk kepentingan masyarakat sendiri. Bukan untuk membayar pihak lain, apalagi petugas IP4T.

Ingat pula: masyarakat tidak diperbolehkan memberikan uang apapun kepada petugas IP4T yang datang ke desanya. Karena hal itu merupakan perbuatan suap. Pastikan semua masyarakat mengetahui hal ini. Begitu pula laporkan jika Petugas IP4T meminta iuran atau menjanjikan proses yang lebih mudah dengan membayar sejumlah uang.

setiap pengumpulan dana secara swadaya oleh masyarakat harus melalui persetujuan bersama seluruh anggota masyarakat pemohon IP4T, dan penggunaannya harus transparan agar tidak timbul masalah yang melemahkan masyarakat dalam memperjuangkan IP4T

Pendanaan oleh Masyarakat

dalam Proses IP4T

49

(59)

A

NTISIPASI

KONFLIK

INTERNAL

Meskipun kebijakan tentang IP4T masih tergolong baru,

dibeberapa wilayah proses penginvetarisasian sudah mulai dijalankan. Lokasi tersebut tersebar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Dalam proses pengimplementasian, tidak jarang ditemukan kendala. Salah satunya adalah konflik yang terjadi di kalangan internal masyarakat. Konflik ini bisa disebabkan karena masalah teknis seperti belum jelasnya batas antar lahan; maupun konflik kepentingan, seperti perebutan pengaruh antar pihak.

Tata cara penyelesaian konflik internal dilakukan menurut permasalahan yang menyebabkan konfik tersebut muncul.

(1) Permasalahan Teknis

Permasalahan teknis adalah permasalahan yang dapat diselesaikan secara praktikal, misalnya ketika ada permasalahan mengenai tumpang tindih lahan, maka yang harus dijelaskan adalah batas antar lahan dari pihak yang bersangkutan. Untuk mencapai batas ini, diperlukan kesepakatan antar pihak. Caranya adalah dengan melakukan musyawarah. Musyawarah ini diikuti oleh kedua pihak yang bersangkutan dan juga pihak yang tidak ada hubungan apapun dengan kedua pihak bersangkutan tersebut yang berperan sebagai penengah atau mediator. Karena musyawarah dilakukan dalam konteks kesepakatan batas wilayah, maka pembicaraan musyawarah adalah mengenai klaim-klaim yang memunculkan batas-batas masing-masing pihak. Kemudian mediator tadi melakukan penilaian secara adil berdasarkan argumen-argumen klaim yang sebelumnya telah disampaikan oleh masing-masing pihak. Setelah itu, mediator memutuskan batas yang paling adil yang tidak memberatkan kedua belah pihak.

(2) Permasalahan Bukan Teknis

Permasalahan bukan teknis adalah permasalahan yang tidak hanya dapat selesai dengan cara praktikal, perlu ada usaha-usaha lain agar masalah tersebut selesai. Permasalahan bukan teknis ini misalnya adalah perebutan pengaruh antar pihak. Perebutan pengaruh ini dapat terjadi karena pihak terlibat dalam perebutan tersebut memiliki kepentingan dalam pelaksanaan IP4T. Satu pihak kepentingannya diuntungkan; pihak lain kepentingannya dirugikan. Untuk menanggapi hal ini yang harus dilakukan adalah tetap berpegang pada tahap-tahap pelaksanaan IP4T. Ini akan sulit, tapi jangan menyerah. Karena badai pasti berlalu.

Antisipasi Konflik

Internal

50

Gambar

gambar agar memungkinkan masyarakat mengembangkan sendiri

Referensi

Dokumen terkait

Radioisotop 198Au yang dihasilkan dikarakterisasi dengan mengukur aktivitas, waktu paruh, energi, yield, kemurnian radionuklida dan kemurnian radiokimia serta ukuran

Rencana Kerja Pemerintah Desa yang selanjutnya disebut RKP Desa merupakan penjabaran dari RPJM Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang memuat rencana penyelenggaraan

Jika hasil total waktu siklus berada di atas kapasitas yang telah diberikan, maka pada subproses tersebut terjadi bottleneck dan pada subproses itulah yang akan

Dari plot data diperoleh model data yang fluktuatif sehingga peramalan dilakukan dengan menggunakan metode moving average 3 (MA 3), single exponential smoothing (SES),

Sarana dan prasarana pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan fasilitas perguruan tinggi yang digunakan untuk memfasilitasi pengabdian

Uji radionuklida gipsum dengan metode LIBS menggunakan objek gipsum berukuran 1 cm × 3 cm dan proteksi radiasi dengan metode jarak menggunakan Surveymeter dengan objek papan

Skripsi berjudul Pengaruh Harga, Kualitas Produk, dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Handphone Berbasis Android, (Studi Kasus pada Mahasiswa UMK Fakultas Ekonomi

Area di sekeliling tapak terdapat perumahan warga, dan memiliki kondisi jalan yang cukup baik, trotoar untuk pejalan kaki, dan lokasi terdapat di pinggir sawah, kondisi