• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI I Paradigma Perekonomian Indonesia Orde Lama Orde Baru Reformasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MATERI I Paradigma Perekonomian Indonesia Orde Lama Orde Baru Reformasi"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

MATERI I

Paradigma Perekonomian Indonesia

Orde Lama

Orde Baru

(2)

Materi pertemuan 1 ini adalah untuk menggambarkan

dan menganalisis perekonomian Indonesia adalah

melalui perspektif sejarah secara kronologis-historis.

Hal ini sangat beralasan karena peristiwa yang terjadi

biasanya tidak terlepas dari peristiwa sebelumnya.

Berdasarkan

perspektif

tersebut,

perekonomian

Indonesia umumnya dibagi ke dalam tiga kurun waktu

yaitu:

1.

Orde Lama (1945-1966),

2.

Orde Baru (1966-1998), dan

3.

Orde Reformasi (1998-sekarang).

(3)

A. Perekonomian Pada Masa Orde Lama

(1945-1966) / 21 tahun

Perekonomian Indonesia pada masa Orde Lama dimulai

sejak Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 sampai

10 Maret 1966.

Selama masa Orde Lama, perekonomian Indonesia

berkembang kurang menggembirakan. Keadaan ini tidak

terlepas dari stabilitas politik yang tidak menguntungkan

kehidupan ekonomi, Demokrasi yang dianut pada masa Orde

Lama adalah demokrasi terpimpin dengan kabinet

parlementer, yaitu para menteri bertanggung jawab kepada

parlemen (wakil rakyat/DPR).

Pada masa itu pemerintah mengalami jatuh bangun dan

(4)

Situasi Perekonomian pada

Masa Orde Lama

(1945-1966)

1.

Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan dengan laju 6,9

persen dalam periode 1952-1958, lalu turun drastis menjadi 1,9 persen dalam periode 1960-1965.

Pada periode 1951-1966, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,7

persen per tahun. Sementara itu, defsit anggaran belanja pemerintah terus membengkak dari tahun ke tahun.

Kebijakan yang diambil untuk mengatasi defsit itu hanya dilakukan

dengan cara mencetak uang baru, yang mengakibatkan infasi yang tinggi, yakni sebesar 23,5 persen per tahun selama kurun waktu 1955-1960.

Bahkan pada masa kabinet Hatta, Desember 1949-1950, telah terjadi

(5)

2. Nasionalisasi Perusahaan Asing

Pada tahun 1951 terjadi nasionalisasi perusahaan asing (terutama milik

Belanda) yang dilaksanakan secara besar-besaran pada tahun 1958 sebagai realisasi dari pemberlakuann UU No. 78/ 1958 tentang investasi Asing, yang pada intinya berisikan kebijakan anti-investasi asing.

Saat itu investasi asing dianggap dapat menghambat pembangunan

ekonomi Indonesia, karena diduga hendak menguasai kehidupan perekonomian.

Kejadian ini semakin memperburuk keadaan perekonomian Indonesia,

karena pemerintah saat itu kurang mempertimbangkan dampaknya.

Dampak yang paling parah adalah penutupan Bursa Efek Jakarta (Djakarta

Stock Exchange) pada tahun 1958. Penutupan ini dilakukan karena perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Jakarta sebagian besar justru perusahaan asing, sehingga terjadi pelarian modal secara substansial.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Lama

(6)

3.

Merger Lembaga Keuangan Bank Pemerintah

Pada tahun 1965 didirikan Bank Berjuang yang

merupakan penggabungan semua bank milik pemerintah.

Tujuan

dari

bank

ini

adalah

mengelola

dan

mengendalikan

langsung

aktivitas

serta

sistem

perbankan oleh hanya satu tangan, yaitu pemerintah

saja, sekaligus demi melaksanakan gagasan ekonomi

terpimpin yang dilancarkan oleh pemerintah ketika itu.

Pada masa Orde Lama, sistem perbankan Indonesia

hanya sekedar sebagai pemasok dana proyek pemerintah

melalui pencetakan uang, terutama proyek-proyek

khusus presiden.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Lama

(7)

4. Ketenagakerjaan

Ditinjau dari segi Angkatan Kerja, pekerjaan, dan upah, pada masa Orde

Lama hampir sebagian besar (72 persen) bekerja di sektor pertanian, sedangkan sisanya sebesar 9,5 persen di sektor jasa, 6,7 persen di sektor perdagangan dan keuangan, dan 5,7 persen di sektor industri.

Menurut sensus tahun 1961, jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak

34,5 juta dan yang 29,5 juta merupakan bukan angkatan kerja. Jumlah pengangguran pada masa Orde Lama hanya sebanyak 1,8 juta dari 34,5 juta angkatan kerja. Jika dilihat dari jenis kelamin, ternyata jumlah penganggur wanita lebih banyak daripada laki-laki (6,9 persen wanita dan pria 4,87 persen).

Upah yang diterima pekerja pada masa Orde Lama relatif sangat

rendah, bahkan pada kurun waktu 1950-1960 terjadi perkembangan upah riil yang negatif. Ini berarti bahwa perubahan harga lebih cepat

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Lama

(8)

5. Neraca Ekonomi Nasional

Ditinjau dari neraca ekonomi nasional pada masa Orde Lama sangatlah memprihatinkan. Anggaran pemerintah selama tahun 1955-1965 senantiasa mengalami defsit yang semakin membesar. Rata-rata defsitnya adalah 137 persen dari pendapatan. Ini berarti bahwa pengeluaran pemerintah lebih besar dibandingkan pendapatan.

Untuk mengatasi difsit tersebut, usaha yang dilakukan oleh pemerintah adalah melalui pencetakan uang baru. Selain anggaran pemerintah yang defsit, defsit neraca ekonomi nasional pada masa Orde Lama juga tercermin dalam neraca perdagangan dan pembayaran. Defsit neraca pembayaran dan neraca perdagangan ini mencerminkan bahwa nilai ekspor lebih kecil dari impor. Keadaan ini mendorong negara Indonesia melakukan pinjaman luar negeri.

Pinjaman Iuar negeri yang terbesar pada masa Orde Lama berasal dari Blok Komunis (59 persen), Blok Barat (25 pesren), Asia dan Afrika (11,2 persen), dan IMF (4,3 persen). Keadaan ini tidak mengherankan karena pada masa Orde Lama baik politik maupun perekonomian cenderung berkiblat pada Blok Komunis.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Lama

(9)

B. Perekonomian Pada Masa Orde Baru

(1966-1998) / 32 tahun

Masa Orde Baru berlangsung mulai dari 11 Maret 1966, yaitu

bertepatan dengan dikeluarkannya surat perintah sebelas

maret (SUPERSEMAR), sampai lengsernya Soeharto dari kursi

kepresidenan Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998.

Untuk memudahkan dalam mendeskripsilcan perekonomian

Indonesia

pada

masa

Orde

Baru

tersebut,

kita

membedakannya menjadi dua bagian yaitu jangka pendek

dan jangka panjang yang pada dasarnya saling berkaitan.

Pelaksanaan Perekonomian Indonesia dalam jangka pendek

biasanya dibedakan menjadi empat tahapan berikut:

(10)

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Baru

(1966-1998)

1. Program Ekonomi Jangka Pendek

Pada program ekonomi jangka pendek Indonesia juga membuka peluang

bagi masuknya investasi asing dan menaruh kepercayaan besar pada kekuatan pasar. Dalam jangka pendek akan dilakukan berbagai kebijakan antara Iain:

a) Di sektor moneter dilakukan reformasi besar-besaran atas sistem

perbankan yaitu dengan dikeluarkannya tiga Undang-Undang baru tentang Perbankan: UU tentang Perbankan tahun 1967, UU tentang Bank Sentral tahun 1968, dan UU tentang Bank Asing tahun 1968. Ini merupakan Basis Legal bagi Pelaksanaan dan Pengaturan Kerangka Sistem Moneter, dan dapat berperan dalam memobilisasi tabungan masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi selain memainkan peranan penting dalam pembangunan pasar uang dan pasar modal.

b) Dalam mendukung kebijakan pembangunan jangka pendek pemerintah

(11)

1. Program Pembangunan Lima Tahunan (Pelita I – VI)

Dalam perspektif jangka panjang dituangkan melalui pembangunan lima tahunan.

Program jangka panjang ini dilakukan setelah berhasil memulihkan stabilitas perekonomian yang dimulai sejak 1 April 1969.

Program pembangunan jangka panjang ini dibagi ke dalam tahapan pembangunan

lima tahunan atau yang lebih dikenal dengan Pelita. Jika dilihat dari kurun waktu Orde Baru, maka Pelita yang dapat dijalankan sampai berakhirnya masa Orde Baru adalah enam Pelita.

Pelaksanaan pembangunan lima tahunan ini senantiasa menerapkan strategi

pembangunan yang dilanjutkan dengan kebijakan pembangunan yang berlandaskan pada trilogi pembangunan yaitu pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, pemerataan hasil-hasil pembangunan, dan stabilitas nasional yang sehat serta dinamis.

Ketiga logi tersebut merupakan sasaran penting dalam pembangunan selama Orde

Baru. Ketiga logi tersebut selama Orde Baru terus berubah-ubah dalam prioritasnya sesuai dengan masalah dan situasi yang dihadapi oleh Indoonesia pada saat itu.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Baru

(12)

2. Pelita I – II (1969 – 1979)

Pada Pelita I (1969-1974) prioritas pertama diarahkan pada sasaran

pemeliharaan stabilitas perekonomian, diikuti oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.

Berdasarkan urutan prioritas tersebut terlihat bahwa pada masa Pelita I,

pemerintah Indonesia belum memikirkan pemerataan hasil pembangunan tetapi justru lebih menitikberatkan pada stabilitas perekonomian.

Hal ini dapat dipahami karena pada masa itu dapat dikatakan sebagai

masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru yang memang perekonomian pada masa tersebut tidak stabil, khususnya yang berkaitan dengan infasi. Keadaan ini berbeda dengan Pelita Il (1974-1979) yang mengurutkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sebagai prioritas pertama, diikuti oleh pemerataan hasil-hasil pembangunan, dan stabilitas perekonomian.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Baru

(13)

2. Pelita I – II (lanjutan)

Dari urutan prioritas tersebut terlihat bahwa Pelita I sebagai tonggak

pembangunan sudah dianggap sukses dalam menstabilkan perekonomian, sehingga pada Pelita Il sasaran yang harus dicapai adalah bagaimana meningkatkan pendapatan nasional Indonesia melalui produk domestik brutonya sehingga pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dapat tercapai. Keadaan ini tidak terlepas dari keberhasilan Pelita I yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8,56 persen per tahun.

Selama Pelita Il yang memprioritaskan pertumbuhan ekonomi yang cukup

tinggi sebagai prioritas pertama sampai akhir Pelita Il mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,96 persen per tahun.

Berdasarkan gambaran tersebut, tampak bahwa pembangunan Indonesia

pada awal Orde Baru melalui Pelita I dan Il telah mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlepas dari pengaruh internasional, khususnya yang berkaitan dengan bonanza atau rezeki nomplok dari minyak bumi.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Baru

(14)

2. Pelita I – II (lanjutan)

Pada dekade Pelita I dan Il, yaitu tahun 1973, dunia internasional mengalami

krisis energi sehingga harga minyak dunia mengalami peningkatan dari US $3 per barrel menjadi US $10 per barel. Krisis energi tersebut terjadi karena konfik antara Arab Israel, yang pada saat itu telah mampu mempersatukan negara-negara Arab dalam menghadapi Israel dan sekutu-sekutunya yaitu Amerika Serikat dan Inggris.

Pada saat itu, negara-negara Arab penghasil dan pengekspor minyak (yang

tergabung dalam OPEC di mana Indonesia dan beberapa negara pengekspor minyak non-arab juga menjadi anggota) melancarkan aksi embargo minyak. Negara-negara itu menghentikan penjualan minyaknya kepada negara-negara Barat yang memihak Israel.

Karena menguasai pangsa pasar minyak dunia, aksi tersebut menyebabkan

krisis energi. Indonesia sebagai negara anggota OPEC diuntungkan dengan tingginya harga minyak di pasaran internasional. Karena itu, pada dekade tersebut perekonomian Indonesia sering dikenal dengan masa Oil boom yang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Baru

(15)

3. Pelita III – VI

Berbeda dengan Pelita III sampai Pelita V yang menitikberatkan pada

pemerataan hasil-hasil pembangunan sebagai prioritas pertama, yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi kembali mengalami penurunan yaitu dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 6,02 persen per tahun pada Pelita III, 5,21 persen per tahun pada Pelita IV, dan 6,76 persen per tahun pada Pelita V.

Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh internasional yang pada saat itu

krisis energi dunia sudah dapat teratasi sehingga harga minyak internasional kembali mengalami penurunan.

Indonesia yang hanya mengandalkan migas sebagai komoditi ekspornya

melupakan komoditi nonmigas. Oleh karena itu, pada dekade pertengahan tahun Pelita III sampai Pelita VI senantiasa diambil berbagai kebijakan yang diarahkan untuk menggalakkan serta menumbuhkan komoditi nonmigas sebagai komoditi ekspor.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Baru

(16)

4. Peningkatan Stabilitas Nasional

Relatif terpeliharanya stabilitas nasional sekaligus manjadi kesuksesan

mengatasi masalah paling mendasar dalam perekonomian, yaitu menekan laju infasi. Laju infasi sebesar 650 persen pada masa Orde Lama menurun menjadi rata-rata 17 persen pada tahun 1970-an dan 9 persen pada tahun 1980-an, sedangkan pada tahun 1990-an masih dapat ditekan menjadi satu digit.

5. Kondisi Penerimaan Pendapatan Negara

Struktur perekonomian Indonesia pada masa Orde Baru sudah lebih kokoh dan

seimbang jika dilihat baik dari Sisi penerimaan negara, penerimaan devisa dan penerimaan ekspor, maupun dari Sisi investasi.

Dalam konteks pendapatan negara, ketergantungan penerimaan dari sektor

migas semakin berkurang, dan hal tersebut tergantikan oleh sektor penerimaan pajak. Begitu pula struktur perolehan devisa sebagian besar bersumber dari ekspor komoditi nonmigas. Di bidang investasi, peranan sektor swasta sebagai sumber utama investasi kian berkembang.

(17)

6.

Kondisi Kebijakan Fiskal

Dałam bidang fskal, prinsip anggaran berimbang yang dinamis

senantiasa dianut. Berimbang di sini berarti bahwa penerimaan

senantiasa harus sama dengan pengeluaran.

Dinamis berarti bahwa apabila terjadi defsit, maka pengeluaran

akan disesuaikan agar keseimbangan tetap terjaga. Sebaliknya,

jika realisasi penerimaan melebihi, maka pengeluaran dapat

ditingkatkan agar keseimbangan tetap terpelihara.

Dengan prinsip semacam iłu, tabungan pemerintah diupayakan

terus-menerus

sehingga

porsinya

dałam

membiayai

pembangunan menjadi lebih besar. Namun demikian, harapan

tersebut masih jauh dałam pelaksanaannya, sehingga untuk

menutupi defsist anggaran senantiasa memanfaatkan bantuan

luar negeri.

(18)

7.

Kebijakan Moneter

Dałam bidang moneter terjadi perubahan struktur secara

mendasar setelah diluncurkan paket deregulasi kebijakan 27

Oktober 1988, yaitu jumlah bank sebanyak 111 dengan 1.728

kantor dałam tahun 1988 melonjak menjadi 239 bank dengan

6.022 kantor pada tahun 1994.

Selama kurun waktu tersebut, jumlah bank-bank umum swasta

terus bertambah, di mana hal ini tidak terlepas dari

kemudahan-kemudahan dałam pendirian bank berdasarkan fakta tersebut.

Selain dunia perbankan, lembaga-lembaga nonbank juga

tumbuh. Dałam bidang perasuransian dan reasuransi bertambah

dari 102 menjadi 151 perusahaan antara dekade 1987-1994.

Situasi Perekonomian pada Masa Orde

Baru

(19)

8. Hutang Luar Negeri

Dałam hal hutang luar negeri, pembayaran kembali angsuran pokok dan bunga utang kian membesar baik jumlah mutlak maupun peranan relatifnya terhadap seluruh pengeluaran rutin. Selama PJP I, pembayaran kembali angsuran pokok dan bunga utang luar negeri meningkat rata-rata 33,6 persen per tahun.

Dalam Pelita I, II, dan III porsi pelunasan utang masih kecil dari porsi pengeluaran rutin masing-masing sebesar 9,3 persen Pelita I, 11,8 persen Pelita II, dan 17,3 persen Pelita III. Mulai Pelita IV beban pelunasan utang semakin membesar yang memakan porsi 41,2 persen dari seluruh pengeluaran rutin.

 Beban tersebut semakin berat lagi pada Pelita V yang mampu menyita sebesar 44,6 persen pengeluran rutin. Membesarnya porsi tersebut tidak terlepas dari dua hal yaitu membesarnya jumlah pembayaran hutang yang jatuh tempo dan apresiasi nilai yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat atau yendaka.

 Uraian tentang kajian APBN ini akan dikaji lebih jauh pada materi selanjutnya tentang Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Indonesia.

(20)

C. Perekonomian Indonesia pada Masa

Reformasi

(1998 – sekarang)

Perekonomian Indonesia pada masa Pemerintahan Reformasi

diawali dengan krisis moneter/depresiasi rupiah sejak

semester II tahun 1997, yaitu kinerja perekonomian Indonesia

menurun

tajam

dan

berubah

menjadi

krisis

yang

berkepanjangan diberbagai bidang.

Proses penyebaran krisis berkembang cepat mengingat

tingginya

keterbukaan

perekonomian

Indonesia

dan

ketergantungan pada sektor luar negeri yang sangat besar.

Krisis tersebut kemudian berkembang semakin parah karena

adanya berbagai kelemahan mendasar dalam perekonomian

nasional, terutama ditingkat mikro.

Pengelolaan perekonomian dan sektor usaha

(corporate

(21)

1. Krisis Ekonomi

Untuk mengatasi krisis yang semakin dalam, pemerintah telah menempuh berbagai upaya. Akan tetapi, upaya-upaya tersebut belum menunjukkan hasilnya karena krisis kepercayaan terhadap kemampuan pengelolaan dan prospek perekonomian semakin meluas.

Berbagai isu politik yang muncul bersamaan dengan semakin memburuknya kinerja perekonomian, semakin mempersulit upaya pemulihan perekonomian. Dengan semakin parahnya krisis yang terjadi, kegiatan intermediasi di sektor keuangan, terutama perbankan, menjadi terganggu sehingga aliran dana untuk membiayai kegiatan investasi dan produksi mengalami berbagai hambatan.

Hal ini mengakibatkan kegiatan ekonomi mengalami kontraksi yang tajam, sehingga secara keseluruhan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot menjadi 4,7 persen pada tahun 1997 dibandingkan dengan 8,0 persen pada tahun sebelumnya. Tingkat pengangguran terbuka diperkirakan meningkat tajam dari 4,9 persen pada tahun 1996 menjadi 7,5 persen pada tahun 1997, dan laju infasi melonjak dari 5,17 persen pada tahun 1996/1997 menjadi 34,22.

(22)

2. Upaya Pemulihan Kondisi Perekonomian

Dengan kondisi yang sedemikian buruknya, serta menyadari masih

adanya beberapa kelemahan mendasar baik di sektor riil maupun sektor Iainnya, pemerintah berinisiatif menempuh program stabilisasi dan reformasi untuk menyehatkan serta memulihkan perekonomian.

Program tersebut kemudian mendapat bantuan teknis dan dukungan

keuangan dari beberapa lembaga internasional serta negara-negara sahabat yang dikoordinasikan oleh IMF. Pada tanggal 5 November 1997, IMF telah menyetujui pemberian pinjaman siaga (stand-by credit) kepada Indonesia senilai SDR 7,3 miliar (sekitar $10 miliar).

Bank Dunia dan ADB juga telah memberikan komitmen bantuannya

masing-masing sejumlah $4,5 miliar dan $3,5 miliar. Di luar paket tersebut, pemerintah Indonesia juga mendapat bantuan keuangan sebagai second line of defence dari negara-negara sahabat seperti Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, Tiongkok, dan Hongkong.

(23)

2. Upaya Pemulihan Kondisi Perekonomian (lanjutan)

Perkembangan ekonomi sampai dengan bulan Januari 1998 yang semakin kurang

menguntungkan, yang antara Iain tercermin pada merosotnya nilai rupiah dan melonjaknya laju infasi, pemerintah memandang perlu untuk mempercepat proses penyehatan ekonomi sekaligus merevisi target-target makroekonomi.

Inilah yang mendasari kesepakatan lanjutan antara Indonesia dan IMF pada tanggal 15

Januari 1998. Selanjutnya, dalam bulan Maret 1998, IMF melakukan pengkajian terhadap pelaksanaan program stabilisasi dan reformasi. Berdasarkan pemenuhan performance criteria yang telah ditetapkan pada kesepakatan sebelumnya dan hasil pengamatan terhadap perkembangan ekonomi, pemerintah dan IMF membahas program-program terdahulu yang diperlukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia.

Langkah-langkah yang telah ditempuh pemerintah dalam menjalankan program

penyehatan ekonomi hingga 31 Maret 1998, pada dasarnya berkaitan dengan kebijakan makroekonomi yang meliputi kebijakan moneter dan kebijakan fskal. Selain kedua kebijakan tersebut, juga ada kebijakan Iainnya yang berkaitan dengan restrukturisasi sektor keuangan, reformasi di sektor riil, perdagangan luar negeri, investasi, privatisasi dan deregulasi, serta jaringan pengaman sosial.

(24)

3. Kebijakan Fiskal

Langkah-langkah di bidang fskal pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan

penerimaan negara dan melakukan berbagai penghematan yang diikuti dengan peningkatan disiplin anggaran. Langkah-langkah tersebut adalah:

Memperbaiki administrasi dan struktur pajak.

Meningkatkan penerimaan pajak melalui peningkatan pajak barang mewah, cukai

minuman beralkohol, dan cukai tembakau.

Menghapus pengecualian PPN.

Meningkatkan proporsi tanah dan bangunan kena pajak bagi usaha perkebunan dan

kehutanan menjadi 40 persen.

Mengurangi subsidi secara bertahap untuk BBM dan Listrik.

Melaksanakan transparansi fskal dengan memasukkan dana reboisasi dan dana

investasi dalam anggaran pemerintah.

Membatalkan/menunda proyek-proyek infrastruktur.

Menghapus pengecualian pajak, bea masuk, dan credit priviledges yang semula

diberikan pada proyek IPTN.

Menanggung biaya subsidi kredit yang diberikan kepada pengusaha kecil.

(25)

4.

Kebijakan Moneter

Langkah-langkah

di

bidang

moneter

ditujukan

untuk

menyesuaikan kebutuhan likuiditas perekonomian dan suku

bunga demi menstabilkan nilai tukar rupiah. Untuk itu,

pemerintah melaksanakan kebijakan moneter yang ketat sampai

nilai tukar stabil dengan tetap memperhatikan

kebutuhan-kebutuhan likuiditas, terutama bagi usaha kecil-menengah dan

koperasi. Langkah-langkah tersebut adalah:

1)

Meningkatkan suku bunga SBI untuk semua jangka waktu.

2)

Melakukan intervensi di pasar valas apabila dirasakan efektif,

baik yang dilakukan oleh BI maupun secara bersama-sama

dengan bank sentral negara Iain (concerted intervention).

3)

Melakukan pembatasan transaksi forward bank-bank nasional

dengan nonresiden sampai dengan $5 juta.

(26)

4. Kebijakan Moneter (lanjutan)

4) Menurunkan Giro Wajib Minimum valas dari 5 persen menjadi 3 persen atas dana pihak ketiga dalam valas.

5) Memberikan kewenangan penuh pada bank pemerintah untuk menyesuaikan suku bunga kredit dan simpanan.

6) Memberikan fasilitas swap khusus untuk eksportir tertentu (PET) dan fasilitas forward kepada importir produk ekspor.

7) Memperluas cakupan fasilitas rediskonto wesel ekspor kepada PET dari hanya rediskonto pascapengapalan (post-shipment), menjadi termasuk prapengapalan (pre-shipment).

8) Meningkatkan independensi Bank Indonesia dalam menetapkan suku bunga dan melaksanakan kebijakan moneter.

9) Membentuk tim penyelesaian utang luar negeri swasta untuk membantu penyelesaian utang luar negeri swasta.

(27)

5. Restrukturisasi Sektor Keuangan

Restrukturisasi sektor keuangan ditujukan untuk menyehatkan dan

memperkuat sistem keuangan nasional melalui restrukturisasi perbankan serta memperkuat kerangka hukum dan pengawasan perbankan. Langkah-langkah tersebut adalah:

1) Mencabut izin usaha 16 bank insolven.

2) Menempatkan bank pembangunan daerah yang tidak sehat di bawah pengawasan ketat BI.

3) Mengumumkan rencana merger bank-bank pemerintah dan diikuti dengan rencana merger bank-bank swasta.

4) Memberikan jaminan penuh kepada semua deposan dan kreditor semua bank umum yang berbadan hukum Indonesia.

5) Memberikan dukungan terhadap skim pinjaman luar negeri yang dijamin oleh negara pemberi pinjaman dan menyalurkan pinjaman tersebut melalui bank-bank di Indonesia dengan memberikan jaminan atas L/C impor serta mengecualikannya dari ketentuan PKLN bank.

(28)

5. Restrukturisasi Sektor Keuangan

6) Memberikan bantuan likuiditas bagi bank-bank dengan persyaratan kondisi yang diperketat.

7) Membentuk BP PN yang fungsi utamanya adalah melaksanakan sistem penjaminan dan proses restrukturisasi perbankan seefektif mungkin. BPPN bertanggung jawab langsung kepada Menteri Keuangan.

8) Meningkatkan ketentuan modal minimum bank-bank umum secara bertahap. 9) Menetapkan kriteria bank-bank Iemah yang akan dialihkan ke BPPN.

Selanjutnya 54 bank yang tidak sehat dialihkan pengawasannya kepada BPPN.

10) Merevisi kerangka kerja hukum untuk operasi perbankan termasuk UU Kepailitan, UU Keterbukaan Perbankan, dan masalah jaminan.

11) Meningkatkan transparansi dan keterbukaan dalam perbankan. 12) Menghapus pembatasan pembukaan cabang bank asing.

13) Menghapus batasan pembelian saham bagi investor asing maksimal sebesar 49 persen, yang diperdagangkan pada perdagangan perdana, kecuali saham perbankan.

(29)

6. Reformasi Struktural di Sektor Riil

Untuk meningkatkan efsiensi dan daya saing nasional serta mengurangi

berbagai hambatan perdagangan luar negeri, pemerintah melakukan restrukturisasi sektor riil. Restrukturisasi tersebut dilaksanakan melalui reformasi di bidang perdagangan, investasi, deregulasi, dan privatisasi.

Sektor riil dalam pertumbuhan ekonomi yang menjadi penyumbang

terbesar di Indonesia, seharusnya adalah pergerakan ekonomi sektor riil berupa pertanian, perikanan/kelautan, perindustrian, perdagangan, transportasi, pariwisata dan usaha sektor jasa dan sebagainya), bukan hanya pergerakan ekonomi sektor nonriil berupa pasar uang, pasar modal, bursa saham, investasi asing, utang luar negeri, perbankan dan sebagainya.

Faktor utama penyebab belum bergeraknya sektor riil yakni pemerintah

belum mempunyai visi dan misi mengarahkan kebijakan ekonomi dengan memberdayakan pengelolaan sumber daya alam dibidang : pertambangan, pertanian, kehutanan, kelautan, perdagangan,

(30)

6. Perdagangan Luar Negeri

1) Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada masa Reformasi ini berkaitan dengan hal-hal berikut:

2) Mengurangi tarif produk makanan hingga maksimum 5 persen. 3) Menghapus ketentuan kandungan lokal pada produk susu.

4) Mengurangi tarif produk kimia sebesar 5 persen.

5) Mengurangi tarif produk pertanian nonmakanan sebesar 5 persen. 6) Mengurangi tarif produk besi/baja sebesar 5 persen.

7) Menghapus pembatasan impor kapal baru dan kapal bekas.

8) Menghapus pajak ekspor produk kulit, cork, ores, dan produk alumunium. 9) Menghapus PPN untuk pembelian bahan baku dan jasa dari pemasok

dalam negeri kepada perusahaan berstatus PET (Perusahaan Eksportir Tertentu).

10) Menambah jenis komoditi dalam cakupan PET dari 10 menjadi 29.

11) Mengurangi secara bertahap pajak ekspor produk-produk tertentu, kecuali yang bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

(31)

6.

Investasi

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada masa

Reformasi yang berkaitan dengan investasi antara

lain:

1)

Menghapus batasan 49 persen pemilikan saham

perusahaan yang tercatat di bursa oleh investor

asing (kecuali perbankan).

2)

Menghapus larangan investasi asing dalam

perkebunan kelapa sawit.

3)

Mencabut larangan investasi asing dalam

perdagangan eceran.

(32)

6. Investasi

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada masa Reformasi yang

berkaitan dengan deregulasi dan privatisasi antara lain:

1. Menghapus pembatasan pemasaran semen, kertas, dan kayu lapis. 2. Menghapus kendali harga semen (HPS).

3. Membolehkan produsen semen yang hanya memiliki izin eksportir umum untuk mengekspor.

4. Menghapus tata niaga cengkeh.

5. Melarang pemerintah daerah membatasi perdagangan di dalam dan antarprovinsi, termasuk perdagangan cengkeh dan vanila.

6. Menghapus secara bertahap monopoli BULOG, kecuali dalam hal distribusi dan penetapan harga dasar beras serta kedelai.

7. Membebaskan pihak swasta untuk melakukan impor dan penjualan gandum, tepung terigu, kedelai, bawang putih, serta gula; penjualan dan distribusi tepung terigu; impor dan pemasaran gula. 8. Membebaskan petani dari kewajiban menanam tebu.

9. Mempercepat proses privatisasi BUMN.

(33)

7.

Jaringan Pengaman Sosial

(Social Safety Net)

1)

Mempertahankan anggaran pemerintah untuk pengeluaran

kesehatan dan pendidikan.

2)

Meningkatkan pemberian bantuan kepada rakyat kecil dengan

memperkuat kemampuan lembaga perkreditan untuk usaha

kecil dan menengah, khususnya dalam penilaian kredit dan

pengawasannya.

3)

Menyediakan kredit likuiditas terutama untuk program

pengembangan usaha kecil (KKPA, KKUD, dll).

4)

Memberikan fasilitas pembiayaan modal kerja bagi usaha kecil

dan mempermudah akses untuk memperoleh pembiayaan

tersebut.

Memperluas proyek-proyek yang berbasis partisipasi rakyat

(34)

1.

Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo

Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kaila (2004-2009)

Langkah Presiden SBY untuk merangkul parpol-parpol yang

kalah dalam Pemilu 2009 adalah bagian dari kebijakan Soft

Power, atau kebijakan untuk bergotong-royong. Keadaan

sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan gotong

royong memiliki karakteristik sebagai berikut:

a)

Rendahnya pertumbuhan ekonomi akibat masih kurang

berkembangnya investasi yang terutama disebabkan oleh

masih tidak stabilnya kondisi sosial politik dalam negeri.

b)

Dalam hal ekspor, sejak tahun 2000, nilai ekspor

non-migas Indonesia terus merosot dari 62,1 miliar dollar AS

menjadi 56,3 miliar dollar AS tahun 2001, dan tahun 2002

menjadi 42,56 miliar dollar AS.

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Susilo Bambang Yudhoyono (2004 –

(35)

1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kaila (2004-2009)

Masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan

yang kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata Iain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial

kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan per kapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal demi mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah mengadakan Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006, Yang

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Susilo Bambang Yudhoyono (2004 –

(36)

1.

Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang

Yudhoyono dan Jusuf Kaila (2004-2009)

Selain itu, pada periode ini pemerintah juga melaksanakan

beberapa program baru yang dimaksudkan untuk membantu

ekonomi masyarakat kecil seperti PNPM Mandiri dan Jamkesmas.

Pada prakteknya, program-program ini berjalan sesuai dengan

yang ditargetkan meskipun masih banyak kekurangan di sana-sini.

Pada pertengahan bulan Oktober 2006, Indonesia melunasi

seluruh Sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan

ini, diharapkan Indonesia tidak lagi mengikuti agenda-agenda IMF

dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Namun, wacana untuk

berutang lagi pada luar negeri kembali mencuat, setelah

keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk

kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin

meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Susilo Bambang Yudhoyono (2004 –

(37)

1.

Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo

Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kaila (2004-2009)

Semua itu disebabkan oleh beberapa hal, antara Iain karena

pengucuran kredit perbankan ke sektor riil masih sangat kurang

(perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga

kinerja sektor riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi.

Selain itu, birokrasi pemerintahan juga terlalu kental, sehingga

menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap

karena inefsiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di satu Sisi

pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negeri,

tapi di Iain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.

Namun, selama masa pemerintahan SBY, perekonomian

Indonesia memang berada pada masa keemasannya. Indikator

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

(38)

1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kaila (2004-2009)

Sejak tahun 2005-2009, infasi berhasil ditekan pada single digit dari

17,11% pada tahun 2005 menjadi 6,96% pada tahun 2009. Tagline strategi pembangunan ekonomi SBY yang berbunyi pro-poor, pro-job, dan pro growth (dan kemudian ditambahkan dengan pro environment) benar-benar diwujudkan dengan turunnya angka kemiskinan dari 36,1 juta pada tahun 2005 menjadi 31,02 juta orang pada tahun 2010.

Imbas dari pertumbuhan PDB yang berkelanjutan adalah peningkatan

konsumsi masyarakat yang mempengaruhi peningkatan kapasitas produksi di sektor riil yang, tentu saja, banyak membuka lapangan kerja baru.

Terobosan pembangunannya berupa master plan Percepatan dan

Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Melalui langkah MP3EI, percepatan pembangunan ekonomi akan mampu menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kepita antara USS 14.250-USS 15.500, dengan nilai total

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Susilo Bambang Yudhoyono (2004 –

(39)

1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid II Era Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono (2009-2014)

Pada periode ini, pemerintah khususnya melalui Bank Indonesia

menetapkan empat kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yaitu:

BI rate, Nilai tukar, Operasi moneter, Kebijakan makroprudensial untuk

pengelolaan likuiditas dan makroprudensial lalu lintas modal.

Dengan kebijakan ekonomi tersebut, diharapkan pemerintah dapat

meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara yang akan berpengaruh pula terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Beberapa pengamat ekonomi bahkan berpendapat kekuatan ekonomi

Indonesia sekarang pantas disejajarkan dengan 4 raksasa kekuatan baru perekonomian dunia yang terkenal dengan nama BIRC (Brazil, Rusia, India, dan Tiongkok).

Krisis global yang terjadi pada tahun 2008 semakin membuktikan

ketangguhan perekonomian Indonesia. Di saat negara-negara superpower seperti Amerika Serikat dan Jepang berjatuhan, Indonesia justru mampu

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Susilo Bambang Yudhoyono (2004 –

(40)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Jokowi

2014 - sekarang

1.

Paket Kebijakan Ekonomi Tahap I

Demi mengatasi perlambatan perekonomian global yang berimbas

terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik adalah

memaksimalkan wewenang pemerintah melalui kebijakan fskal

dan moneter.

Paket ekonomi pertama ini dibagi menjadi 3 aspek penting:

Pertama, menjaga daya beli masyarakat. Kedua, menarik kembali

dana asing yang keluar secara massive (capital intfow). Ketiga,

memacu pertumbuhan investasi baik asing maupun domestik

melalui deregulasi dan debirokrasi.

Jika dilihat, paket ekonomi tahap I merupakan gambaran secara

(41)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Jokowi

2014 - sekarang

1.

Paket Kebijakan Ekonomi Tahap I

Pemerintah meluncurkan paket kebijakan ekonomi tahap Il pada

tanggal 29 September 2015. Melalui paket ekonomi ini pemerintah

berusaha menarik investor dengan memangkas perizinan melalui

deregulasi dan debirokratisasi. Dengan dipangkasnya perizinan,

investasi diharapkan dapat meningkat seiring dengan kemudahan

yang diterima investor.

Menurut

Menko

Perekonomian

Darmin

Nasution,

untuk

meningkatkan investasi dan menarik investor, salah satu

kemudahan yang dapat diberikan pemerintah adalah melalui

pemberian layanan yang cepat atas perizinan yang hanya

memerlukan waktu 3 jam di kawasan industri.

(42)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Jokowi

2014 - sekarang

2. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap II

Diharapkan dengan insentif ini, sektor industri di Indonesia dapat

bertumbuh guna menopang pertumbuhan ekonomi yang sedang mengalami penurunan. Menurut data BPS, proporsi sektor industri terhadap PDB pada tahun 2014 adalah 21% sehingga sektor ini memang harus selalu didukung guna memacu pertumbuhan ekonomi di atas 5 %.

Selain itu, paket tahap Il juga memberikan insentif bagi para eksportir yang

menyimpan dana hasil ekspornya di perbankan Indonesia. Insentif yang diberikan adalah pengurangan pajak sesuai lama waktu penyimpanan.

Selain itu, insentif lebih juga diberikan pemerintah bagi yang menyimpan

(43)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi

2014 - sekarang

3. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap III

Pada tanggal 7 Oktober 2015, Pemerintah memberikan jawaban kepada para

pengusaha melalui paket ekonomi tahap Ill. Dalam paket ekonomi ini, pemerintah mengedepankan para pelaku industri agar dapat bertumbuh secara sustainable.

Paket kebijakan itu dibagi menjadi 3 isu pokok, sektor keuangan, pertanian, dan

industri. Jika diamati, paket kebijakan tahap III ini bertujuan meningkatkan sektor supply bukan secara langsung meningkatkan daya beli masyarakat. Ini terlihat dari seluruh aspek dalam paket yang mengedepankan sektor industri.

Salah satu contohnya, pemerintah tidak menurunkan harga BBM jenis premium

melainkan hanya solar. Banyak ekonom yang kurang sepaham dengan paket ini karena menurut mereka salah satu yang harus ditingkatkan adalah daya beli masyarakat. Tetapi, jika cermat sisi penawaran memang merupakan sektor yang sangat penting demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita pada jangka menengah dan panjang.

Namun, masyarakat luas lebih membutuhkan dampak riilnya pada saat sekarang,

(44)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi

2014 - sekarang

4. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap IV

Paket kebijakan tahap IV yang dirilis pada 15 Oktober 2015 merupakan

paket kebijakan ekonomi yang bertujuan mensejahterakan para buruh serta pelaku industri kecil atau mikro. Paket ini merupakan angin segar bagi para pelaku industri kecil dan juga buruh.

Penghitungan upah minimum diubah dan juga lebih transparan. Penyaluran

KUR juga dipermudah dan diperbanyak demi memperluas sasaran penerima. Namun, dalam kenyataanya banyak buruh yang kurang setuju dengan perhitungan upah yang dikeluarkan pemerintah tersebut.

Kebijakan ini adalah salah satu terobosan transparansi perhitungan upah

yang selama ini simpang siur dan dapat meningkatkan iklim industri di Indonesia. Selain itu, kemudahan dan peningkatan jumlah penyaluran KUR juga dapat merangsang pertumbuhan industri kecil serta menengah untuk berkembang.

Kedepannya, diharapkan industri berbasis mikro bisa menjadi penopang

(45)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Jokowi

2014 - sekarang

4.

Paket Kebijakan Ekonomi Tahap V

Pada tanggal 22 Oktober 2015 pemerintah merilis paket kebijakan

ekonomi tahap V. Jika dicermati, paket kebijakan ini berfokus pada

Sisi insentif yang dapat diberikan pemerintah kepada pengusaha.

Pemerintah beranggapan jika insentif diberikan, maka pengusaha

akan semakin produktif dan berkontribusi terhadap perekonomian

saat ini. Insentifyang diberikan salah satunya melalui pengurangan

pajak revaluasi aset. Di masa lalu, pengusaha enggan melakukan

revaluasi karena biayanya terlalu tinggi.

(46)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Jokowi

2014 - sekarang

4. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap V

Dampak positif yang dirasakan dari revaluasi adalah meningkatnya kondisi

laporan keuangan perusahaan yang dapat digunakan untuk modal usaha. Selain itu, penghapusan pajak berganda untuk kontrak investasi dan dana investasi real estate (REITS) juga merupakan bagian dari paket kebijakan ekonomi ini.

DIRE/REIT adalah surat berharga dengan underlying asset berupa

perusahaan properti. Jadi, dengan penghapusan double tax diharapkan pertumbuhan surat berharga DIRE dapat membantu pertumbuhan pasar modal di Indonesia.

Terakhir, pemerintah mempermudah izin atas produk-produk bank berbasis

syariah. Indonesia merupakan Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia sehingga prospek perbankan syariah masih sangat terbuka.

Dengan dipangkasnya izin, pemerintah berharap agar perbankan syariah

(47)

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan

Jokowi

2014 - sekarang

4. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap VI

Pada tanggal 6 November 2015, paket kebijakan ekonomi tahap VI

diluncurkan Pemerintah. Jika dilihat, paket kebijakan ini ditujukan bagi industri-industri yang berada di daerah pinggiran dan dengan spesifkasi produk khusus.

Salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah insentif pajak bagi industri di

wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemerintah mulai mendorong agar dunia industri di daerah dapat tumbuh cepat dengan adanya kebijakan ini. Dengan adanya insentif yang diberikan melalui insentif fskal serta deregulasi, pemerintah berharap agar para investor tertarik melakukan investasi di kawasan KEK.

Selanjutnya, kebijakan ini juga memberikan kepastian bagi mereka sehingga

(48)

Tugas Kelompok maks. 2 orang

1. Buatlah rangkuman ringkasan poin-poin tentang perekonomian Indonesia pada masa orde lama, orde baru, dan reformasi. Ringkasan dapat berupa tabel di excel

2. Membuat tulisan yang berisi tentang Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)

3. Mencari data tingkat persentase infasi dalam kurun waktu 1945 – sekarang, lalu buatkan tabel nya di excel

4. Mencari data bank merger

>> Dikumpulkan via email ke elis_tia@yahoo.com

Referensi

Dokumen terkait