- 2 -
Em bun Pagi N glindur
Terpelajar mesti adil sejak dalam pikiran! -Pramoedya Ananta Toer-
Pada suatu malam di awal Agustus 2007, di sebuah rumah kos yang kecil beberapa mahasiswa sepakat berkumpul. Mereka berbicara tentang apa saja sesuai dengan minat dan kadar pengetahuan yang mereka tahu sangat terbatas. Jika ada yang ganjil dari sana adalah latar belakang mereka yang sangat beragam; psikologi, hukum, sastra, geografi, pendidikan, sejarah, ekonomi, dan lain sebagainya. Namun, malam itu memang bukan malam yang bersejarah tetapi malam yang bi asa. Sangat biasa.
Tetapi ada yang tercatat di sana; mereka bicara apa saja sebebas-bebasnya dari A sampai Z lalu kembali ke A lalu ke Z lagi dan seterusnya hingga adzan subuh tiba. Malam lewat begitu cepat. Sepertinya mereka berkumpul dengan semacam kerinduan yang membuncah; entah kepada pencarian ilmu pengetahuan yang begitu dalam atau mungkin karena kesepian yang sudah terlalu lama.
Begitulah malam itu hanyalah mula dari malam-malam yang lebih panjang. Mereka sepakat berkumpul seminggu sekali, setiap selasa malam tepatnya. Dari satu kos pindah ke kos yang lain. Mereka datang membawa cemilan sendiri, kopi, tak lupa rokok dan tentu saja makalah yang mereka copy sendiri. H ampir selalu hingga embun pagi terbit.
- 3 -
ilmiah. Kata yang tak pernah mereka pedulikan. Bagi mereka, berbicara bebas dan jujur apa adanya adalah harga yang tak tertawar. Semua bebas bicara; anak sastra bicara hukum, anak ekonomi bicara agama, anak pendidikan bicara politik dan seterusnya. Demikianlah, semua berdaulat untuk berbicara dan berhak mengumumkan pemikirannya sendiri! Mungkin anarkis dan tak tahu diri tetapi apa boleh buat; mungkin baru sampai di situlah kemampuan mereka.
Sampai akhirnya muncullah ide; membuat blogspot. Di sana mereka bertuang ide, gagasan, pikiran, cinta, kerinduan, umpatan, cacimaki, kesepian, ketidakberdayaan, semangat, optimisme, nihilisme, harapan, canda, pemberontakan, guyonan dan kadang-kadang tangisan. Di sana juga mereka belaj ar mengeja apa saja; dari demokrasi hingga gethuk, dari pecel hingga kapitalisme, dari filsafat hingga agama, dari negara hingga amarah, dari Gramsci hingga Muhammad, dari teori kritis hingga anarkisme, dari apa saja hingga apa saja yang lainnya. Semua itu tertuang di sana. Semua itulah yang akan anda, sidang pembaca, baca dalam seluruh isi buku ini.
- 4 -
tak seberapa bahkan mungkin tak berguna tetapi kami yakin; tak ada yang sia-sia. Yah, mereka itulah kami, Komunitas Embun Pagi.
I nilah Embun Pagi Nglindur , sebuah igauan yang sederhana dari Komunitas Embun Pagi. Kami sadar mungkin memang baru pada tingkatan ”nglindur ” inilah kami berada. Berbicara, berkhutbah apalagi bermanifesto belumlah tingkatan kami. Namun, kami sadar bahwa pagi pasti datang dan nglindur pasti tak pernah selama-lamanya.
Kepada kang Mul (Kristiyan Mulyono), terima kasih atas kesetiaan dan kopi-nya yang tak pernah habis menemani kami berdiskusi. Kepada kang Gunawan ”Putu” Budi Susanto, terimakasih atas semangat, teladan, dan untuk kata-kata Pram di atas. Terimakasih kepada teman-teman diskusi: H anafi, Malik, bang Ali Fauzan, Juki (Rahmat Marzuki), pak Ali Formen, pak Ali Mashar, pak H asyim Asyari, mas Ribut Achwandi dan Komunitas Daun, Eko Kodok, mbak Elin dan semua teman-teman yang tak dapat tersebutkan satu per satu.
Terimakasih juga kepada teman-teman: bang Guntur H MI , kang Azil PMI I , Anggit ”Uban” KAMMI , Pompi H TI , Memet LM ND, komunitas Joglo, Cero Group, Translingua dan semua teman-teman baik pribadi maupun komunitas yang sama-sama bergerak dengan jalan dan untuk tujuannya masing-masing. Tak terlupakan terima kasih terdalam kami haturkan kepada orang tua tercinta dan keluarga kami masing-masing di rumah.
- 5 -
tutur kata-kata dalam tulisan melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih abadi; keteladanan laku yang tak terbahasakan.
Selamat membaca. Semoga bermanfaat. Amin.
Semarang, 25 Desember 2008 Salam,
- 6 -
Kalim at Pengantar
“M elintas yang Sepintas, M eski Bias” oleh K om unitas Em bun Pagi
Assalamu’alaikum Wr Wb.
- 7 -
SPL dan D isor ientasi Tujuan Pendidikan (Muhammad Taufiqurrohman). 11) W ar ung Pecel (Yogas Ardiansyah). 12) Pendidikan Politik Bagi K aum Ter tindas (Awaludin Marwan). 13) Ruang Publik Pendidikan (Edi Subkhan). 14) M enengok D ir i Ser ta Pendidikan Kita (Giyanto). 15) Sem ar ang K ota Pendidikan, M ungkinkah? (Edi Subkhan). 16) N afas N eoliber alism e RU U BH P (Edi Subkhan). 17) Pr oyek M asyar akat I ntelektual (Muhammad Taufiqurrohman). 18) N ilai Politik dan M im bar Akadem ik (Giyanto). 19) Aktivis Asli Tapi Palsu (Muhtar Said). 20) Otonom i D aer ah ; Sebuah Tar uhan M enuju Good Gover na nce Lokal (Awaludin Marwan). 21) D em okr asi dan Sistem Pem er intahan M alaysia (Awaludin Marwan). 22) Potr et D em okr asi Lokal (Awaludin Marwan). 23) M as Goen, Jawablah Per tanyaan-per tanyaanku Jika K au M encintaiku ( Sur at Buat Goenawan M oham ad) (Muhammad Taufiqurrohman). 24) Sudahlah... M ar i Ber sahabat (Yogas Ardiansyah). 25) M em oir ; Apa Budaya K ita? (Ahmad Fahmi Mubarok). 26) Solo vs Sr agen (Ahmad Fahmi Mubarok). 27) H egem oni Br itish English dan
Am er ica n English D i I ndonesia (Muhamad
Taufiqurrohman). 28) M eneguhkan Ger akan I ntelektual M ahasiswa (Edi Subkhan). 29) Post
Pow er Sy ndr om e D i Lem baga K em ahasiswaan
- 8 -
(Giyanto). 37) Cer ita Tentang I tu (Ahmad Fahmi Mubarok). Anak-anak muda itu jujur sekali ketika mengakui bahwa kumpulan tulisan itu mereka beri judul M elintas yang Sepintas, M eski Bias. Mereka menulis tentang hal-hal yang mereka anggap tidak benar, meski dianggap sudah mapan. Lantas sebagai pendatang baru (new comer s) mereka memberi evaluasi, ”hujatan dan umpatan” terhadap kemapanan. Tidak mendalam, melainkan sepintas saja. Mereka akui tidak tuntas, tak ada bias. Mari kita ikuti keterusterangan pengantar salah seorang dari mereka ini.
- 9 -
Semua itu tertuang di sana, semua itulah yang akan anda, sidang pembaca, baca dalam seluruh isi buku ini”.
Lalu saya teringat pada apa yang pernah saya lakukan ketika seusia mereka. Tidak jauh berbeda. Namun karena di masa itu kami tak punya media, nampaknya menjadi terlambat ketika seharsnya saya menduduki kemapanan. Sebuah pemberontakan yang terlambat. Bukan emosional, melainkan naluriah.
Buku semacam itulah yang saya antarkan kepada sidang pembaca, kalau masih ada orang yang mau membuang waktu untuk mendengarkan celoteh anak-anak muda. Mereka jujur. Dan itu adalah salah satu watak intelektual yang masih murni. Belum terkena imbas ”pelacuran intelektual”, karena belum tersentuh kepentingan diri.
Kali ini saya, yang telah akrab dengan media massa, memfungsikan diri bagai ”tut wuri handayani”. Barangkali belum ada media massa yang memuat kumpulan tulisan itu sekarang. Meskipun demikian mereka sebenarnya tengah berkomunikasi dengan massa, lewat blog.
Saya jadi teringat ketika saya diminta oleh DR Retmono yang rektor I KI P Semarang, pada tahun 1900-an, untuk mendampingi mahasiswa aktivis koran kampus NUANSA, untuk periode yang cukup lama terbitan itu menghiasi koran WAWASAN satu bulan sekali yang beredar seantero Jawa Tengah.
- 10 -
diterbitkan oleh harian WAWASAN, mereka memuat polling koran kampus NUANSA, yang memenangkan saya dalam pemilihan rektor. Saya dianggap telah menggelar polling, padahal saya tidak pernah melakukannya. Ambisi jadi rektorpun tidak ada pada diri saya.
Sekarang sekelompok mahasiswa dan eks mahasiswa Unnes aktivis kampus, yang waktu itu masih duduk di SMP, meminta saya mendampingi mereka dalam aktivitas aktualisasi diri mereka sebagai intelektual muda. Saya merasa anak-anak muda yang menulis dalam blog ini harus merasa beruntung, karena sejak awal mereka memiliki teman sejawat yang seimbang, yang kondusif, sementara saya nyaris tidak memiliki teman sejawat untuk berceloteh seperti mereka, tentang politik, budaya, sastra, agama, pendidikan, filsafat, atau apa saja untuk sekedar ngumbar unek-unek. Selama ini sebagian besar teman sejawat saya lebih bergairah berbincang dalam kerangka ”kedinasan” maupun kegiatan yang bersifat ”normatif”.
Bagi para pengamat pertumbuhan intelektual muda inilah bahan kajian yang sangat bermanfaat. Kita bisa mengikuti pengembaraan intelektualitas mereka. Kita tidak harus menyetujui pikiran-pikiran mereka, seperti merekapun telah tampil dengan ”pemberontakan” mereka terhadap situasi dan kondisi di sekitar mereka serta kemapanan. Namum kegiatan intelektal mereka perlu kita sambut secara positif. Selain itu betapa asyiknya membaca celoteh mereka yang disampaikan dengan bahasa yang terasa aneh kalau tidak memahami perkembangan kejiwaan mereka.
- 11 -
hari. Juga artistik. Namun demikian janganlah sama sekali menunjukkan watak embun pagi yang segera sirna ketika sinar surya mulai terik. Jangan cepat menguap. Tetaplah bersemangat senantiasa peduli, kritis, kreatif, dan jujur dalam pergeseran suasana dan perkembangan usia dan ketika mencapai kemapanan.
Wassalam. Selamat membaca.
Semarang, 31 Desember 2008
- 12 -
Bukan ”Tur is-tur is” K am pus ( M enggedor Langit Kebisuan Kam pus)
Sa r a tr i W ilonoy udho
Di sela-sela mahasiswa lain cenderung menjadi “turis-turis” di kampus, kehadiran Komunitas Embun Pagi benar-benar bagaikan setitik embun di tengah gersangnya gurun pasir pemikiran intelektual. Di sela-sela para mahasiswa lain datang ke kampus hanya untuk mencari ijazah atau laksana “turis” yang mejeng dengan pakaian modis, motor modis, dandanan modis, H P terbaru, dan nggaya pakai laptop hanya untuk main game atau cari situs porno, Komunitas Embun Pagi mencoba menggedor bisunya intelektual kampus.
Kini para mahasiswa telah dibombardir oleh kekuatan kapitalisme dunia lewat budaya massa dan budaya pop lainnya, dengan TV dan media massa sebagai agennya. Yang lahir kemudian adalah kaum “insomnia” kota—yang notabene juga menyangkut kehidupan kaum mahasiswa. Mereka rela begadang semalam suntuk untuk memelototi TV, hiburan, tombol H P, internet, dst dan nyaris tidak pernah menggunakan daya kritisnya untuk memahami keadaan di sekelilingnya. Ciri budaya massa menyangkut obyektivikasi massa, dan kaum mahasiswa juga menjadi obyek dan bukan subyek denyut nadi kapitalisme dunia. Mereka kini masuk dalam tataran kaum yang kehilangan jatidiri dan terasing bahkan dari dirinya sendiri. Kota-kota besar di negeri ini masuk dalam peta jaringan kapitalisme dunia.
- 13 -
terus berubah, ternyata memiliki akar terdalam dalam kesia-siaan manusia moderen untuk membangun sangkar yang aman, sehingga terus menerus manusia mengalami krisis (entzauber ung). Per tama, kosmos yang nyaman berubah makna oleh otonomisasi (sekularisasi); Kedua, masyarakat yang nyaman dirobek-robek karena individu mendesakkan diri ke pusat semesta; Ketiga, kebersamaan nilai goyah karean “liber ation” atau protes individual; Keempat, birokrasi dan waktu menggantikan tokoh mistis dan waktu mitologi; dan Kelima, di atas segalanya “pribadi” menemukan diri secara amat kuat, sehingga Peter L. Berger menyebutnya “lonely cr ow d” (Subangun,1983).
Kapitalisme yang menciptakan budaya instant, budaya pop, budaya massa inilah yang kini juga berimbas ke kehidupan kaum mahasiswa. Banyak kaum mahasiswa yang datang ke kampus bukan dalam rangka mencari ilmu, namun hanya sekadar ikut arus “budaya”, atau sekadar menjaga “kepatutan” bahwa umumnya usia belasan tahun harus kuliah. Singkatnya datang ke kampus juga seperti dituntun oleh “alam bawah sadar”, atau seperti halnya orang menarik nafas kehidupan, rutin dan tanpa ekspresi.
- 14 -
Jawabnya mengejutkan, 1/ 6! I tu ditulis di papan tulis dengan mantap dan tanpa ekspresi wajah yang “berdosa”.
Nampak bahwa mereka ada yang datang ke kampus tanpa beban. Padahal asal kata “mur id” (mahasiswa juga murid) adalah dari kata “mur adan” artinya “ber kehendak”. Yang terjadi mereka ti dak banyak berkehendak mencari ilmu, namun datang ke kampus hanya sebagai “turis” sebagaimana saya singgung di awal tulisan di atas. Mereka penuh gaya budaya pop dan tidak peduli sama sekali dengan tugas utamanya sebagai seorang mahasiswa.
Ber pikir K r itis dan K r eatif
Pada sisi lain, dalam gagasannya tentang “Five Minds for the Futur e” Gardner (2006) mengatakan bahwa untuk menghadapi tantangan global yang kuat harus dipenuhi oleh lima kemampuan pribadi, yakni : 1). Disciplined Mind, yakni pribadi yang memiliki satu atau lebih disiplin ilmu memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil di dunia kerja; 2). Synthesizing Mind, banjirnya informasi di dunia global hanya akan bisa ditaklukkan jika seseorang mampu meramu berbagai informasi untuk dapat mengambil keputusan yang matang baik dalam kehidupan pribadi maupun professional;
- 15 -
Berpikir kreatif dan kritis merupakan aktivitas berfikir untuk menemukan jawaban-jawaban atas berbagai permasalahan yang ada, melahirkan ide atau gagasan baru atau cara-cara baru. Menurut Treffinger (1980) ada tiga tingkatan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang bercirikan berpikir kreatif dan kritis, yakni : 1). Pelatihan yang berkaitan dengan bagaimana membangkitkan peserta didik untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kepekaan terhadap tantangan baru, kepekaan terhadap persoalan baru, kepercayaan terhadap diri sendiri, kesediaan untuk dialog, serta keberanian untuk mengambil resiko. Sikap-sikap ini merupakan landasan utama yang harus dimiliki peserta didik; 2). Pengembangan kegiatan kognitif tingkat tinggi, seperti kepiawaian dalam menganalisis masalah dari berbagai pengalaman dan persoalan yang dihadapi, dan dalam ranah afektifnya, peserta didik memiliki rasa kesediaan untuk berdialog, berempati, terbuka, dan mampu mengembangkan imajinasinya; dan 3). Keberanian melibatkan diri terhadap tantangan-tantangan yang nyata yang sebelumnya didahului oleh kepiawaian mengidentifikasi masalah-masalah yang pelik, dan selanjutnya mampu mengelola hal-hal tersebut untuk mengarah kepada produk atau hasil. Semuanya akan berarti jika ada internalisasi nilai-nilai yang mereka dapatkan dari berbagai sumber belajar.
- 16 -
berilsafat dan berilmu pengetahuan tumbuh subur. Karenanya tidak lucu jika model-model OKKA atau OSPEK atau apapun namanya masih menonjolkan kekerasan atau kekonyolan yang tidak ilmiah.
Padahal katanya kaum intelektual, termasuk para mahasiswa, adalah “agent of change” atau “kapten-nya” peradaban. Namun fakta juga menunjukkan bahwa tidak ada rumus baku yang menunjukkan satu garis linier yang menghubungkan pernyataan : bahwa makin pandai atau intelek seseorang, akan meningkat pula daya kreativitasnya, apalagi moralnya.
Banyak kasus ketika seseorang masih bodoh barangkali justru masih lugu dan paham bahwa mencuri itu dosa. Namun ketika makin meningkat pengetahuannya, bahkan ketika ia lulus sarjana dan bekerja di satu kantor instansi, “keluguan” itu akan hilang. Untuk sekadar tahu 2 x 2 misalnya, harus menunggu “juklak” atasan atau harus “merubah” kuitansi untuk kemudian korupsi.
Karenanya tingkat moralitas itu harus dibina sejak awal dalam diri calon intelektual seperti kaum mahasiswa. Pengalaman menunjukkan bahwa kreativitas menulis, dapat dijadikan sarana sebagai pencegah “ketidaklurusan” hati nurani tersebut. Seseorang yang kritis menangkap persoalan-persoalan sosial yang membentang di depan matanya, akan merasa malu jika ia sendiri justru menjalani perbuatan yang bertentangan dengan moral dan undang-undang.
- 17 -
perubahan, melainkan ia harus juga mampu mendidik masyarakat manakala perubahan itu terjadi.
Yang menarik masih ada komunitas mahasiswa yang di era reformasi ini tidak goyah “imannya”. Di sela-sela ratusan mahasiswa lain menafsirkan reformasi sebagai kebebasan (sehingga cenderung menjadi “media fitnah” dan “detonator konflik”), ada beberapa mahasiswa yang jeli memanfaatkan kebebasan sebagai energi dan bukan untuk diekploitasi. I a bisa menaklukkan godaan pasar yang disebut sebagai “budak industri” menjadi “mahasiswa pendobrak”. Para mahasiswa ini tidak saja membuat perubahan, namun mampu mendidik masyarakat manakala perubahan itu terjadi di depan matanya!
Dengan bahasa yang sederhana kaum mahasiswa ini harus mampu memainkan ke titik tengah dari bandul ekstrem “mahasiswa pejuang” dan “calon budak industri atau calon budak birokrasi”. Tidak boleh munafik, tujuan kuliah untuk mencari kerja juga tidak membawa dosa, karena tanpa penghasilan, intelektual tak akan berdiri tegak. Yang penting bagaimana justru setelah berdiri tegak mampu berjuang bagi kemaslahatan masyarakat.
- 18 -
penumpukkan modal mengubur harkat martabatnya, sehingga ijazah sebagai satu-satunya tujuan, untuk kerja di pabrik, kaya raya dan happy. Kesemuanya berlawanan dengan harkat martabat manusia. Dalam diskursus postmo, kejenuhan modernisme menjauhkan manusia dari dimensi spiritualitas-etik, dan fase postmo hendak mengembalikannya. Dalam wacana postmo, isu spiritualitas-etik, heterogenitas, pluralitas, relativitas, dekonstruksi, dst menjadi isu utama. Disini implisit tidak ada dominasi kebenaran.
Dengan demikian paham ini hendak mendekonstruksi modernisme. Tidak ada kebenaran mutlak yang dapat dirujuk dalam satu teks dengan satu model situasi. Karena apapun, kebenaran suatu teks tidak dapat ditentukan oleh masyarakat, namun oleh situasinya. I a baru dianggap benar jika situasi pembacaan itu memungkinkan melahirkan kebenaran yang meruang dan mewaktu, yang situasional dan kondisional. Dengan kata lain yang ada hanyalah penafsiran memenuhi ekuivalensi dari keperiadaan setiap realitas yang tidak selalu sama model situasinya satu sama lain. Ada fragmentasi realitas akibat heteroginitas. Akibatnya yang ada hanyalah kebenaran relatif.
- 19 -
sesuai dengan “pesanan” (siapapun) dan tanpa dibarengi pemahaman dimensi spiritualitas-etik.
Dekonstruksi teologis dalam wacana postmo di atas pada prinsipnya hendak mendekatkan keseimbangan yang telah lama hilang karena manusia moderen telah mengalami reduksionisasi. Diskursus postmo mengajak ke hakikat kehidupan, dan ini dapat dilakukan jika manusia melakukan transendensi terus menerus. Juga dalam dunia gerakan mahasiswa, reduksionisasi fakta atau pemikiran dalam bingkai kapitalistik telah meremukredamkan nilai-nilai kemanusiaan. Sketsa singkat di atas mestinya makin menyadarkan insan mahasiswa untuk terus meningkatkan peran yang sudah dijalankannya selama ini, yakni turut mendidik anak-anak bangsa yang tengah muram tersebut, lewat berbagai program aksi atau setidaknya pemikiran yang mendidik masyarakat I ndonesia.
K esunyian I ntelektual di K am pus
- 20 -
Dalam lingkup yang lebih sempit, di kalangan kampus, banyak terjadi kemandegan intelektual. Para mahasiswa banyak mengalami kesulitan untuk menuangkan karya ilmiah, jangankan dalam bentuk skripsi atau tugas akhir, untuk sekadar membuat “paper” saja banyak diantara mereka yang harus menjiplak dan mengobrak-abrik bursa buku bekas di Pasar Johar (yang menjual sripsi loakan). Demikian pula para Guru Besar yang mestinya jadi panutan juga tengah dilanda kesunyian intelektual. I a sibuk menjabat di kantor pemerintahan atau kampus, mengasong ilmu di berbagai perguruan tinggi, atau sibuk berseminar dengan makalah yang sama di berbagai tempat dan hanya mengandalkan lesannya saja.
Di Universitas Brawijaya Malang beberapa waktu silam terjadi sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan. Panitia seminar dibuat terbahak-bahak ketika seorang Guru Besar ternama di I ndonesia, membawakan makalah yang sama persis dengan tahun lalu dan di tempat yang sama. Fakta ini menunjukkan betapa rendahnya produktivitasnya. Kalangan intelektual di berbagai perguruan tinggi tenggelam dalam budaya lisan dan kesunyian intelektual—lihat pula Amin Sweeny, dalam “A Full H ear ing (1987)”
- 21 -
jumlah dosennya ribuan orang), apalagi kaum mahasiswa.
Sebagian besar kaum mahasiswa juga sudah banyak yang terjebak di dunia “kapitalistik”. Berangkat ke kampus hanya sekadar “ritual” saja, tanpa niatan tulus untuk mengembangkan intelektualitasnya. I ndikatornya jelas, ia malas mengerjakan tugas, malas membeli buku, malas membaca, malas menulis, malas berdiskusi dalam kelas, dst. Mereka umumnya hanya sibuk menyembah simbol-simbol keilmuan tanpa “nafsu’ dan perasaan untuk mengembangkannya. Targetnya sederhana, dapat “simbol” intelektual yang berupa ijazah, diterima bekerja di pabrik dengan harapan hidup kaya raya sebagaimana diajarkan di TV-TV swasta negeri ini.
M em baca dan M em baca
- 22 -
Adakah di negeri ini seorang ilmuwan berperilaku “gila” sebagaimana ditunjukkan bangsa Barat tersebut? Jelas hampir tidak ada. Bangsa ini malas “membaca”, dan itu dimulai sejak SD dengan kurikulum resmi pula! Kurikulum sejak SD mengajarkan bahwa yang penting untuk bekal sekolah adalah “hafal” dan bukan mengerti. Siswa harus duduk manis dan menurut perintah guru, tidak boleh banyak cerita apalagi protes. Pelajaran mengarang atau reportase, bahkan mendongeng sudah lama raib dari dunia persekolahan. H asilnya adalah “robot-robot” setia yang miskin kreativitas.
Kata Paulo Freire dalam “Cultur al Action for Fr eedom”, ada setidaknya tiga tingkat kesadaran manusia. Yang pertama adalah kesadar an separ uh intr ansitif dengan ciri-ciri manusia yang masih tenggelam dalam proses sejarah. Kungkungannya hanya soal “sur vival biologis”, soal kelangsungan hidupnya, dan pengertiannya masih sebatas pada penjelasan magis di luar kekuasaan manusia, serta belum sampai pada pemahaman hakekat hidup. Jadi masih fatalistik. Kesadaran tingkat kedua adalah tr ansitif-naif. Cirinya ia sebenarnya sudah bisa “membaca” fenomena realitas, namun cara berpikirnya masih naif. I a masih condong ke masa lampau, masih suka condong ke elite, suka budaya instant dan kurang menghargai proses, suka menerima dalam bentuk jadi tanpa susah-susah dengan mengusahakannya sendiri, masih emosional, cengeng, tidak suka berpolemik, tidak mau beradu argumentasi, dsb.
- 23 -
dipikirkan matang, detil dan teliti sebelum diambil tindakan. Mereka yang masuk kategori ini tidak begitu saja puas menerima pendapat orang lain atau opini sebelum ada dialog dengan argumentasi rasional. Mereka mampu menerima segala sesuatu yang dianggap benar dan secara sadar bersama subyek lain mendalami realitas dan berusaha mengubahnya dalam suatu proses dialogis terus menerus.
Tidak ada jaminan jika seseorang sudah sampai taraf ketiga ini tidak akan tergelincir ke tingkat pertama. H al ini terjadi jika orang tidak bersedia terus mengasah kepekaan nurani dan akal pikirannya. Saya tidak tahu pasti berapa persen kaum intelektual kampus sanggup berada di tataran level ketiga ini. Kalau intelektual kampus hanya berhenti di level pertama atau kedua, dapat dipastikan dunia pendidikan yang diharapkan Freire sebagai salah satu instrumen pembebasan akan limbung.
M enulis Sebagai Pr oses Pem bebasan
- 24 -
Sama halnya keahlian menyetir kendaraan, maka menulis juga tidak cukup hanya dibekali dengan teori tentang tata bahasa, format tulisan, ejaan, namun juga “jam terbang”. Makin banyak seseorang menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, maka ia akan makin mahir menuangkan gagasan itu. I a tidak harus terlebih dahulu repot-repot dengan tata bahasa atau ejaan, yang penting setiap mempunyai ide, tulis saja!
Masalahnya adalah bagaimana kita dapat mendapatkan ide? Sekali lagi kalau seseorang rajin “membaca” dan “berpikir” maka ide itu akan mengalir ke benaknya. Selanjutnya jika pikiran ini sudah mengendap banyak sekali ide, maka proses penuangannya dalam bentuk tulisan akan mudah, mengalir seperti air bah saja. Bandingkan seseorang yang mengalami jatuh cinta dengan perasaan membara, maka ia akan mudah menuangkan perasaannya dalam bentuk “buku harian”. Kenapa ia lancar menulis buku harian? Jawabannya sederhana karena ia mengalami sendiri, ia setiap kali berpikir, dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada yang dicintai.
- 25 -
apalagi di media massa, maka ia akan mendapatkan “honor” lumayan yang dapat digunakan untuk menopang baiaya studinya.
Untuk dapat membaca tidak harus banyak mengeluarkan uang. I a bisa saja rajin ke perpustakaan di mana saja sambil membawa catatan. Demikian pula ia bisa mengkliping aneka informasi dari media massa yang dapat dibeli kiloan di pasar loak. Singkatnya tergantung kreativitas masing-masing. I nformasi dan ide juga akan mudah diperoleh jika seseorang rajin mengadakan diskusi kelompok secara rutin untuk mengkaji masalah-masalah tertentu.
Jika tugas utama membaca dan berpikir tidak dilakukan maka ia sesungguhnya sudah berhenti sebagai intelektual, dan derajadnya sama dengan makhluk hidup lain yang tidak dapat membaca dan berpikir. Bukankah Allah berjanji akan meningkatkan derajad manusia jika ia berilmu pengetahuan? Mari kita mulai membaca, berpikir dan menulis.
- 26 -
D aftar I si
Prakata;
Embun Pagi Nglindur
Kalimat Pengantar;
”Melintas yang Sepintas Meski Bias” oleh Komunitas Embun Pagi
—Prof. Abu Su’ud
Kalimat Pembuka
Bukan ”turis-turis” Kampus (Menggedor Langit Kebisuan Kampus)
—I r. Saratri Wilonoyudho, M.Si
M elintas yang Sepintas; Filsafat dan Basis Epistem ologi
Menggugat Epistemologi I lmu Sosial —Giyanto
Logis Saja Sudah Cukup? —Ahmad Fahmi Mubarok Psikologi, Lagi dan Lagi
—Ahmad Fahmi Mubarok Motivator & H umanity
—Abdul H aris Fitrianto
Psikososiofisiomikrobioantropogeoteknologi —Ahmad Fahmi Mubarok
Beberapa Tanggapan
- 27 -
“Peperangan” Kaum “Liberal”: Kontradiksi Berpikir Bryan Caplan
—Giyanto
Setelah Postmodernisme —Edi Subkhan
Panoptikon dan “Emoh Sosial”: Menyapa Foucault —Muhammad Taufiqurrahman
Etika dalam Sketsa Sistem Peradilan Pidana —Awaludin Marwan
Tentang Kata, Kemudian Makna (?) —Ahmad Fahmi Mubarok
M elintas yang Sepintas; Pendidikan Matinya Para Filsuf
—Edi Subkhan
SPL dan Disorientasi Tujuan Pendidikan —Muhammad Taufiqurrohman Warung Pecel
—Yogas Ardiansyah
Pendidikan Politik Bagi Kaum Tertindas —Awaludin Marwan
Ruang Publik Pendidikan —Edi Subkhan
Menengok Diri Serta Pendidikan Kita —Giyanto
Semarang Kota Pendidikan, Mungkinkah? —Edi Subkhan
- 28 -
M elintas yang Sepintas; I ntelektualitas Proyek Masyarakat I ntelektual
—Muhammad Taufiqurrohman To Change!
—Muhammad Taufiqurrohman Nilai Politik dan Mimbar Akademik
—Giyanto
Aktivis Asli Tapi Palsu —Muhtar Said I ntelektual atau Politik
—Muhtar Said
M elintas yang Sepintas; D em okr asi
Otonomi Daerah: Sebuah Taruhan Menuju Good gover nance Lokal
—Awaludin Marwan
Demokrasi dan Sistem Pemerintahan Malaysia —Awaludin Marwan
Potret Demokrasi Lokal —Awaludin Marwan
M elintas yang Sepintas; Budaya
Mas Goen, Jawablah Pertanyaan-pertanyaanku Jika Kau Mencintaiku (Surat Buat Goenawan Mohamad)
—Muhammad Taufiqurrohman Sudahlah... Mari Bersahabat
- 29 -
—Ahmad Fahmi Mubarok Solo vs Sragen
—Ahmad Fahmi Mubarok
H egemoni Br itish English dan Amer ican English di I ndonesia
—Muhammad Taufiqurrohman
M elintas yang Sepintas; M ahasiswa Meneguhkan Gerakan I ntelektual Mahasiswa
—Edi Subkhan
Post Power Syndr ome di Kalangan Mahasiswa —Abdul H aris Fitrianto
Antara I klan dan Lomba Karya Tulis Mahasiswa —Ahmad Fahmi Mubarok
M elintas yang Sepintas; Refleksi Kedir ian
Dilema Eksistensi Manusia (Tinjauan Psikologi Marxian) —Abdul H aris Fitrianto
Memoir
—Muhammad Taufiqurrohman Prinsip
—Giyanto
Sekedar Meminta I zin
—Ahmad Fahmi Mubarok Sebuah Pesan
—Yogas Ardiansyah Selamat Tinggal Sayangku
- 30 -
—Ahmad Fahmi Mubarok
- 31 -
M elintas yang Sepintas; Filsafat dan
Basis Epistem ologis
M enggugat Epistem ologi I lm u Sosial Oleh: Giyanto
Tulisan ini mencoba merefleksikan, dan bukan untuk menemukan hal-hal baru. Kali ini, kita akan membahas Epistemologi I lmu Sosial. Setelah tertatih-tatih dalam memahami karya Ludwig von Mises yang diterjemahkan di Jurnal Akal dan Kehendak oleh Sukasah Syahdan, akhirnya saya berani untuk menulis hal ini. Selain frustasi memahami arti sifat statistik induktif dalam setiap metode kajian ilmu sosial, ini adalah bentuk kekecewaan dan frustasi atas ilmu yang saya pelajari, yaitu I lmu Sosial.
Bertahun-tahun mempelajari I lmu Sosial, seolah saya belum mendapatkan apa-apa. Setiap jurnal penelitian yang saya baca dari penelitian yang ada, hampir semuanya merekomendasikan hal yang sama; kurang adanya koordinasi antar lembaga/ institusi sosial, jadi diharapkan setiap lembaga pemerintah melakukan koordinasi.
- 32 -
Faktor lain, yang saya kira lebih penting, ialah paradigma positivistik yang sudah bertahun-tahun menjangkiti pemikir-pemikir I lmu Sosial. Ke-kurang percayadiri-an dalam menggunakan kajian deskriptif ataupun analisis non statistik sudah lama tumbuh dalam pikiran para ahli I lmu Sosial. Ejekan-ejekan yang sering saya baca di buku-buku Filsafat I lmu—misal Filsafat I lmu karya Jujun Suryasumantri—oleh para pakar, saya kira telah memicu penyakit “kurang percaya diri” tersebut. Ejekan bahwa tanpa Matematika ataupun Statistik, I lmu Sosial menjadi kurang sahih, menurut saya sangat tidak beralasan.
Logika I lmu sosial sangat berbeda. Obyek kajian I lmu Sosial tidak seperti obyek I lmu Alam yang cenderung tetap. Obyek ilmu alam tidak memiliki relasi yang dinamis dengan variabel di luarnya, relasi yang ada cenderung tetap. Berbeda dengan kajian I lmu Sosial yang mempunyai relasi yang tidak tetap terhadap variabel-variabel di luarnya. Seandainya manusia hanya dipengaruhi oleh variabel-variabel tetap diluarnya dan tidak berusaha untuk membalikkan stimulus yang ada, yang barangkali kemudian balik menanggapinya dengan respon secara timbal balik, saya kira itu bukan manusia, tapi lebih dekat dengan robot. Manusia yang harus menunggu stimuli sehingga memberikan respon, sekali lagi, saya kira itu bukan manusia.
Sependapat dengan Einstein ketika ditanya mengenai persoalan-persoalan epistemologis ilmu tentang tindakan manusia:
- 33 -
manusia mampu menemukan, tanpa bantuan pengalaman, melalui akal semata cir i-cir i benda-benda yang nyata?
Dan jawabannya adalah:
”Sejauh teor ema-teor ema matematika mengacu pada r ealitas, maka tidaklah pasti, dan sejauh mer eka pasti, mer eka tidak mengacu pada r ealitas”.
Kecenderungan epistemologis yang muncul baru-baru ini merupakan reaksi ketidakpuasan dari patron metodologi yang ada. Keberanian para ahli Antropologi untuk memakai metode gr ounded sear ch merupakan cikal bakal "pemberontakan” tersebut, walaupun ada sedikit "malu-malu" untuk menggunakannya. Yang juga—dan masih- menyerang akut saat ini, adalah virus yang sama, yang merasuk dalam I lmu Ekonomi. Dan saya memprediksi virus-virus ketidakpuasan terhadap ketidakmampuan I lmu Ekonomi dalam usaha memprediksi setiap permasalahan ekonomi, akan membawa kita (kembali) mengakui kesahihan metode yang barangkali dianggap purba, yaitu pr aksiologi.
Anjloknya bursa saham di Amerika Serikat telah membuat Negara-negara di seluruh dunia menjadi was-was. Berbagai analisis ekonomi yang saya baca masih cenderung dangkal. Padahal permasalahan tersebut sebenarnya hanya membutuhkan solusi sederhana yang telah seringkali disampaikan orang tua kita, yang secara ilmiah bukan "pakarnya”—setidaknya menurut pakar I lmu Ekonomi. Atau, solusi tersebut dapat diungkap dari nilai-nilai klasik Cina maupun Jawa Kuno.
- 34 -
I lmu Sosial sebenarnya semakin menjauhi kebenaran atau realitas itu sendiri. Dengan kata lain, saya sebenarnya lebih mengiyakan pandangan subyektfivitas a la Thomas Kuhn, atau yang lebih kontemporer barangkalai Fritjof Capra.
Entitas sosial, apabila dianalogikan ibarat sebuah sistem tubuh dalam logika biologi, atau jaring laba-laba dalam analogi Rothbard. Jadi, seandainya paradigma yang ada sekarang memakai paradigma empiris “obyektif” dengan kacamata ilmu pengetahuan alam, bukan tidak mungkin, para ahli ilmu sosial yang sekarang “menjabat” atau meneliti dan menulis di jurnal ilmiah telah melakukan sesuatu yang sia-sia dan menghabiskan waktu. I ni berarti terdapat satu generasi yang hilang— atau buta—terhadap pencerahan ilmu tentang manusia.
Saya menyadari konsekuensi mengatakan yang demikian. Apabila benar-benar diterapkan mengenai paradigma yang saya yakini, bukan tidak mungkin, semua struktur kelembagaan yang ada di dunia akademis berubah total. Dan ini, menurut saya, tidak akan mungkin dilakukan karena para akademisi akan lebih mementingkan kepentingannya sendiri atau hak mereka untuk ber-status quo, karena terkait dengan profesi, daripada benar-benar melakukan tanggungjawab ilmiah dalam memperjuangkan kebenaran secara ilmiah pula. (apalagi ide-ide tersebut hanya dikatakan oleh “anak kecil”, seperti kita)
- 35 -
oleh orang-orang, yang setidaknya sudah saya sebut dalam tulisan ini.
Begitu banyak bukti-bukti mengenai subyektvitas I lmu Sosial. Sejarah perjuangan I deologi, ataupun sejarah penemuan teori-teori di bidang I lmu Alam telah dapat menjadi bukti bagi seringnya ketersesatan perjalanan penegakan I lmu Pengetahuan pada jalurnya. Nasib tragis yang dialami oleh Wegener dalam memperjuangkan teor i continental dr ift bisa dijadikan kasus, atau nasib Galileo, Copernicus, dan begitu banyak teoritikus lainnya yang bernasib sama. Dan dalam bidang ekonomi, saya memprediksi pandangan-pandan Ludwig von Mises akan berdengung keras di dunia akademik Ekonomi setelah tersia-siakan oleh masyarakat akademis, yang tidak lepas dari pengaruh kepentingan-kepentingan politis. Dalam hal ini, saya yakin kebenaran akan berbicara dengan sendirinya entah suatu saat nanti.
Namun demikian, sebuah fakta sejarah kurang lengkap apabila dipergunakan sebagai bukti ilmiah. Bukti yang ada di depan mata, ialah mandulnya peran ilmuwan sosial di masyarakat umum. Bahkan seringkali orang-orang yang memiliki pengaruh ilmiah dalam ilmu sosial, biasanya adalah orang-orang “terpinggirkan” dalam dunia akademik. Bukankah ini merupakan bukti kecil dari fenomena tersebut? Contoh lain barangkali bisa dilihat dari produktivitas karya-karya sosial. Dari pengalaman saya sebagai pembaca, pandangan-pandangan sosial malah sering muncul dari mulut-mulut yang bukan ahlinya. Semisal yang sering menjadi kasus di I ndonesia ialah profesi wartawan, sastrawan, peneliti lepas, pebisnis dan lain sebagainya.
- 36 -
bagi setiap manusia yang berfikir. Dan apabila ada yang sebagian, atau bahkan kebanyakan diam, itu disebabkan keberadaan mereka di struktur internal organisasi, yang menerapkan paradigma yang cenderung represif terhadap orang semacam itu. Toh apabila orang-orang yang “berfikir” tersebut mengetahui, mereka akan memilih diam daripada memilih melakukan “keributan” yang barangkali akan dicap “berisik” dan membikin onar—barangkali dalam bentuk ekstrim dituduh mencari popularitas.
Analisa lain yang saya tuduhkan, kalau bisa dikatakan sebagai gugatan, terkait keberadaan bangsa I ndonesia yang dalam “kelahirannya” berbarengan, atau bisa dikatakan “disebabkan” oleh pertarungan ideologi-ideologi besar. Pengaruh sosialisme dari tahun 1945-1965, dan selanjutnya pengaruh liberalisme a la Anglo Saxon dari tahun 1966 sampai sekarang, masih menjadi landasan “darimana” gagasan itu seharusnya muncul, sehingga bisa dikatakan sahih. Apakah kesahihan sebuah ilmu hanya didasarkan pada latar belakang geografis, budaya, peradaban, atau apapun itu? Saya kira pandangan tersebut menandakan kesempitan befikir.
Sebuah paradigma seharusnya bisa diterima apabila dia dapat dipergunakan untuk menjawab permasalahan yang ada, dalam hal ini permasalahan sosial. Dan sekarang kita malah menjauhi dari idealisme tersebut.
- 37 -
pihak-pihak yang berada di luar lingkaran akademik. Mereka sebagian berdiri disebabkan oleh berbagai motif. Namun, tanpa menyelidiki motif tersebut, seharusnya kita patut mengapresiasinya dengan pikiran terbuka.
Beberapa kasus tersebut, seharusnya menjadi refleksi semua pihak, termasuk intelektual, bahwa tanggungjawab ilmiah sebenarnya dapat diperankan oleh berbagai macam profesi, dan tidak harus sebagai filsuf yang seringkali diimpikan oleh para intelektual, jika hanya ingin meninggikan strata ilmiahnya.
Dari fakta tersebut, terlihat begitu jelas, sehingga mempengaruhi keyakinan saya pribadi untuk mengambil posisi, walaupun harus tertatih-tatih dengan cara berputar-putar berpindah profesi, hanya sekedar mencari dan terus mencari apa yang harus dan patut diperjuangkan. Selain ketersesatan penggunaan paradigma, kita juga telah kurang sesuai dalam menggunakan alur berfikir logis dalam upaya menelaah sumber permasalahan ilmu sosial.
- 38 -
mendapat bantahan tanpa pengujian terlebih dahulu dari para ahli geologi yang merasa paling tahu pada bidang tersebut. Namun demikian, Wegener bersikap tak acuh dan menikmati bidangnya dalam Klimatologi. H ingga 60 tahun kemudian kebenaran ilmiah terungkap dan bukti-bukti yang mengarah bahwa benua itu bergerak semakin banyak.
Barangkali sejarah tersebut bisa terulang dengan cerita terbalik. Para ahli ilmu sosial, termasuk para ekonom, selama ini telah terlalu menyederhanakan dan terlalu menggeneralisasikan manusia melalui sederet angka-angka. Sekumpulan data administrasi yang belum tentu kesahihannya telah menjadi agr egat-agr egat yang dianggap mewakili manusia, tanpa menyelidiki pada tingkat mikro apa yang sebenarnya dilakukan manusia, apa alasan mereka melakukan sesuatu, dan bagaimana mereka bertindak untuk mencapai tujuan tersebut. Sehingga, hanya orang-orang jalanan atau praktisi yang mengetahui dengan jelas tapi—sangat disayangkan— mereka kurang mampu menyatakannya secara argumentatif, tertulis, dan mendasarkan pada teori yang sahih, untuk menjelaskan permasalahan yang dihadapinya.
faktor-- 39 faktor--
faktor produksi yang dibutuhkan dalam pertanian yang harganya terus naik, maka nilai beras dengan nominal yang demikian sangat tidak berarti. Akibatnya, dalam istilah ekonomi, akan terjadi defisit anggaran yang dialami petani. Tindakan yang sering ditempuh petani, dengan menyewakan salah satu sawahnya untuk menyokong biaya produksi pada tiap awal musim tanam. Dan hal tersebut terus berlarut-larut sehingga para petani tidak pernah mengalami keuntungan sama sekali disebabkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang sifatnya inflasif (semakin membuat rendah nilai barang, dalam hal ini beras). Belum lagi biaya-biaya keluarga seperti pendidikan, listrik, pajak dan lain sebagainya.
Permasalahan tindakan-tindakan manusia berdasarkan pilihan-pilihan yang demikian sulit, apakah ilmuwan sosial atau ahli ekonomi mengetahuinya? Saya masih ragu hal demikian diketahui oleh ilmuwan yang duduk manis di mimbar akademik yang sangat terhormat. Dan apakah data-data yang dianggap subyektif tersebut bisa digunakan oleh pemerintah untuk mengambil kebijakan? Paling-paling yang digencarkan malah iklan pembayaran pajak agar tepat waktu. Suatu paradoks yang sering terjadi di hadapan kita.
- 40 -
kementrian ekonomi. Sebuah sandiwara yang selalu terulang setiap lima tahun sekali.
Memang tidak mudah menerapkan paradigma I ndividualisme Metodis dalam epistemologis I lmu Sosial. Mises telah memperingatkan:
Meyakini bahw a keselur uhan kolektif itu dapat divisualisasikan adalah suatu ilusi. Keseler uhan kolektif tidak per nah dapat dilihat; kognisinya selalu mer upakan hasil dar i pemahaman atas makna yang diber ikan manusia pada tindakannya. Kita memang dapat melihat ker amaian, misalnya ker umunan manusia. Apakah ker umunan itu hanya sekedar per temuan, ataukah sebuah badan teor ganisasi, atau jenis lain dar i entitas sosial, mer upakan sebuah per tanyaan yang hanya dapat dijaw ab oleh pemahaman akan makna yang mer eka ber ikan ter hadap keber adaan ter sebut. Dan makna ini selalu mer upakan makna dar i individunya. Bukankah inder a kita, melainkan pemahaman kita, sebagai sebuah pr oses mental, yang membuat kita memahami entitas sosial. Mises menambahkan :
- 41 -
Singkat kata, sekarang kita tidak hanya melakukan kesalahan terbesar abad ini, namun dengan menyengaja, kita, masyarakat ilmiah, telah membodohi masyarakat umum yang seharusnya tercerahkan oleh keberadaan ilmu pengetahuan.
Salah satu dosen pernah mengatakan dengan enteng; “bahwa abad dua puluh ialah abad kuantitatif”. Namun dalam hati saya mengatakan “abad dua puluh ialah abad kegelapan”. Memang sangat mudah melupakan sebuah kesalahan yang tidak merugikan diri sendiri.
Saat mengetahui fakta yang demikian, terasa sulit menerima bahwa yang selama ini kita lakukan sia-sia. Namun, setidaknya tumbuhnya kesadaran lebih awal akan menjadikannya lebih baik. Walaupun mengetahui bahwa kita keliru dalam melakukan permulaan, setidaknya satu hal penting adalah ahli ilmu sosial, termasuk ekonomi, sudah melakukan sesuatu dengan niat yang tulus.
H arapan dari penulisan ini bukan bermaksud meniadakan arti penting I lmu Sosial maupun Ekonomi, tapi lebih pada pencarian dalam upaya mendekati kebenaran, sehinga I lmu sosial menjadi lebih bermanfaat bagi kehidupan riil yang dapat membentuk kesadaran bagi umat manusia.
- 42 -
- 43 -
Logis Saja Sudah Cukup? Oleh: Ahmad Fahmi Mubarok
Or ang muda menghor mati yang lebih tua, or ang tua menyayangi yang lebih muda
Adagium yang akrab terdengar, mengingat takdir geografis yang senantiasa menuntut alam bawah sadar kita, bangsa I ndonesia, untuk menerapkannya dalam setiap sudut kehidupan. Penerapan adagium tersebut terlihat dan sangat terasa mengiringi nuansa kehidupan bangsa I ndonesia pada umumnya, dan sivitas akademika Unnes pada khususnya. Sedemikian indah ungkapan tersebut, tetapi simpang empat Unnes tak pernah tidak semrawut pada jam-jam peak, suara knalpot yang mengekor aliran musik Slipknot, pun kuliah yang tidak bisa serutin kartun Naruto—secara periodik seminggu sekali—karena alasan kesibukan staf pengajar. Lalu apakah ada yang salah dengan ungkapan tersebut?
- 44 -
pegangan pihak lainnya. Kalimat “orang muda menghormati yang lebih tua”, yang seharusnya menjadi kunci bagi si muda, justru dipegang oleh mereka yang tua. Dan begitu berlaku sebaliknya. Demikian yang terjadi, sehingga Si muda terlebih dahulu menuntut agar disayangi oleh Si tua, dan Si tua tak henti-hentinya mengingatkan keharusan dan pentingnya penghormatan kepada dirinya. Saling menuntut berlanjut hingga saling menyalahkan tak lagi terhindarkan, melupakan bahwa yang terjadi hanyalah “kunci” yang tertukar.
Senada dengan fenomena ”kunci tertukar” di atas, kritik sebagai kontrol sosial pun bernasib sama jika dilihat dari prinsip bahwa semua ilmu berawal dari logika, dan berakhir dengan seni melalui tingkatan logis (benar-salah), etis (pantas-tidak pantas), dan estetis (indah-tidak indah) yang berlaku secara hierarkis. Selayaknya sebuah keluarga dimana orangtua mendidik anak-anaknya, maka keluarga besar I ndonesia—dan Unnes, dalam lingkup yang lebih kecil—juga mempunyai tujuan mengupayakan pendidikan bagi rakyat. Dalam mengupayakan proses pendidikan yang dilakukan, tak jarang orangtua melakukan kesalahan yang menuai protes dari Si anak. Sampai disitu semua berjalan sebagai fenomena yang wajar-wajar saja bukan?
- 45 -
dengan prinsip hirarki logis-etis-estetis, mengingat status sivitas akademika yang disandang bersama. Jika hal itu bisa dilaksanakan dengan penuh kesadaran, bukan tidak mungkin akan terjalin hubungan yang indah (estetis) dan tidak terkesan urakan.
Sedikit menggeser kursi agar didapat angle yang berbeda, apa yang terjadi mungkin bukan lagi permasalahan salah pegang kunci maupun hirarki logis-etis-estetis. Namun sebagaimana prinsip probabilitas dalam dunia ilmiah, ada kemungkinan yang terjadi hanyalah saling menunjukkan eksistensi baik individu maupun golongan.
- 46 -
Psikologi, Lagi dan Lagi Oleh: Ahmad Fahmi Mubarok
Pada pukul 00:00, tengah malam, manusia menemukan bahasa sebagai alat komunikasi. Beberapa jam selanjutnya, tidak terlacak kejadian berarti, sampai kira-kira pukul 08:00 pagi, moyang manusia diketahui telah melukis di dinding-dinding gua. Setelah itu pun keadaan kembali lengang. 12 jam setelah itu, pada pukul 08:00 malam, orang Sumeria menemukan tulisan, dan H ier oglyph muncul 40 menit kemudian. Sementara itu, abjad hadir pada pukul 09:28, dan tulisan filsuf Yunani kuno diketahui pada beberapa menit selepas pukul 10:00 malam. Sampai pada jam ini, bisa dilihat bahwa 22 jam (dari 24 jam) telah berlalu, dengan biasa saja.
Selanjutnya, menjelang tengah malam Gutenberg menemukan mesin cetak. Dan momentum ini menjadi titik awal meningginya percepatan perkembangan teknologi. Telegraf, telepon, fonograf, ditemukan hampir pada menit yang sama. Tak lebih dari 2 menit berjalan, berturut-turut muncul inovasi berupa radio, film suara, komputer, xerografi, televisi berwarna. Dan pada menit-menit akhir sebelum tengah malam, ditemukan siaran FM stereofonik, satelit, gabungan telekomunikasi dengan komputer (WEB), handphone, laptop, robot yang mampu menangis, dan sebagainya. I nilah, tengah malam itu.
Barangkali demikian, yang ingin diungkapkan oleh Jalaludin Rahmat. Runtutan yang dimulai pada zaman H omo Cr omagnon sampai pada tahun-tahun sekarang ini, yang kurang lebih berjarak 36000 tahun.
- 47 -
berkaitan dengan percepatan (akselerasi ). Kembali melihat ringkasan, selama 22 jam awal berlalu dengan biasa saja. Justru hanya dalam kurun 2 jam (akhir) itulah, “semuanya” ditemukan hingga seperti sekarang ini. Betapa terjadi kesenjangan kemajuan manusia (atau teknologi?) yang terjadi dalam kurun tersebut. Manusia menjadi sedemikian kreatif dan inovatif.
Yang kedua, adalah perubahan yang terjadi dengan akselerasi tinggi tersebut ternyata berkecenderungan untuk melipat realita. Jari ngan WEB, handphone, laptop, MTV, dunia dalam berita, miniatur Negara (TMI I ), hanyalah beberapa dari sekian banyak penampakan dari kecenderungan tersebut. Adalah “ringkas dan mudah” yang menjadi zikir harian—atau mungkin bisa disebut “ideologi” jika dikaitkan dengan konsepsi Althusser.
Fenomena selanjutnya, adalah keberlanjutan dari fenomena pertama. Jika sebelumnya dikatakan bahwa manusia menjadi sedemikian kreatif dan inovatif, maka fenomena yang ketiga ini adalah kikisnya sifat kritis. Kritis yang hilang bukanlah kritis dalam arti “sekedar sinis”, melainkan kritis yang bersifat reflektif. Karena percepatan yang seperti ini telah tidak mengijinkan manusia untuk sekedar berpaling dari teknologi. Telah terjadi perubahan dalam sebuah percepatan, dan percepatan itu pun (yang berarti perubahan kecepatan) mengalami perubahan. Dan perpaduan antara dua hal tersebut lah (hilangnya sifat kritis dan larut dalam teknologi), yang menjadi unsur evolusi masyarakat pendiam dan tak peka.
- 48 -
lagi pembalap yang ingin memacu motornya secepat mungkin untuk menaiki podium, melainkan meng-nol-kan gaya gesek antara ban dan aspal, meng-nol-meng-nol-kan pengaruh gaya gravitasi, mendesain bentuk se-aerodinamis mungkin untuk meng-nol-kan tekanan udara. Keadaan yang mencerminkan sebuah kegilaan akan kecepatan dan percepatan maksimal; ekstase akan percepatan, sekaligus kegandrungan akan ke-nol-an; nihilitas. Perpaduan “sempurna” antara optimisitas, pesimisitas, nihilitas, fetishitas, sakralitas, profanitas, eksistensi, dan banalitas.
Teknopsikologi-psikoteknologi
Mungkin berawal dari sebuah pengandaian adanya garis korelasi antara fenomena-fenomena tersebut dengan psikologi, yang dilihat melalui kacamata analisis Alvin Toffler.
- 49 -
Tetapi, benarkah semua manusia?
Apa yang dianalisis oleh Toffler, tentu saja berasal dari berbagai informasi diadapatkan dan dia ketahui, adalah apa yang bersentuhan dengannya, baik melalui pikir, rasa, maupun indera. Tetapi, tesis tentang Global village, istilah yang dipinjam dari Marshal McLuhan, bukanlah “tesis paska fenomena”. Tesis tersebut adalah sebuah prognosis (prediksi), dan tentu saja berdasarkan indikasi dan diagnosis yang dia temukan. Global Village, bukanlah sesuatu yang telah terjadi, dalam arti tidak semua rentang geografis yang berkelok-terjal bisa teratasi oleh jejaring teknologi.
Toffler mungkin lupa, masih ada kata “kesenjangan” di antara jutaan kata dalam kamus. Kata tersebut tetap menjadi lubang hitam dalam perbincangan kali ini. Akselerasi, justru bersesuaian dengan peribahasa Jawa kebat klew at gancang pincang. Berjalan begitu cepat, tetapi juga banyak yang terserak-tercecer olehnya. Agaknya Toffler terlalu meyakini keberlakuan konsep Mcluhan, dan menariknya terlalu jauh ke dalam ranah psikologi. Dia yang sama sekali tidak menyentuh tentang dirinya, mencoba meraba apa yang dia lihat, tetapi mengatakan telah memegang dirinya.
- 50 -
- 51 -
M otivator & H um anity Oleh: Abdul haris Fitrianto
Siapa yang tidak kenal Andr ie Wongso?
Siapa tidak kenal John C. Maxw ell?
Mereka adalah beberapa dari tokoh–tokoh motivasi papan atas nasional bahkan internasional. Tugas mereka (antara lain), dengan kapasitas intelektual yang dimiliki, memandang gap yang ada pada relita dan sistem untuk kemudian memotivasi, memompa sumber daya manusia (SDM) agar mampu berfungsi optimal. Kata–kata seperti ”Siap..”, ”Sukses..”, ”Luar biasa..” , ”Berhasil..”, ”Semangat..” dikemas menjadi sesuatu yang istimewa untuk menyadarkan potensi setiap orang. Sungguh profesi yang sangat mulia, bermanfaat bagi banyak orang dan institusi. Mungkin juga menjadi motivator tidak hanya sekedar profesi, tetapi menuntut suatu bakat yang berakar dari berbagai soft skill dan har d skill. Tak ayal pada konteks kekinian bisnis motivasi telah menjadi lahan kerja prospektif. H ampir setiap hari kita dijumpai para motivator amatir yang belum lulus kuliah S1, hingga motivator yang kelas wahid dengan reputasi internasional melalui hasil karya, atau bahkan orangnya.
- 52 -
ditransformasikan pada tr ainee (peserta pelatihan) melalui layar yang ditembakkan dari sinar LCD. Tentu saja yang utama disamping perangkat tersebut adalah cara dan gaya penyampaian dari sang tr ainer . Selain metode tersebut, berbagai variasi motivasi banyak disajikan melalui metode outdoor games/ activity. Ada yang menyebutnya outbond. Tujuan dari berbagai metode pelatihan tersebut sama; Memotivasi tr ainee dengan benar, agar dapat menyadari dan memanfaatkan potensinya dengan optimal. Dengan kata lai n ”kira-kira” menjadikan manusia ”seutuhnya” manusia.
Seperti yang telah tertulis di akhir alenia I , bahwa motivator (disini diperketat khusus pada tr ainer ) di zaman modern ini semakin dibutuhkan oleh perusahaan (semakin besar dan semakin bonafide perusahaan, maka profesi motivator semakin dibutuhkan). Tugas motivator dalam perusahaan jelas; membangkitkan motivasi karyawan, menguak potensi SDM-nya, dan diaktualisasikan dengan optimal untuk bekerja bagi kepentingan perusahaan. Dalam bahasa kiasan, mungkin profesi ini mirip dengan ”suplemen”, yang dipercaya mampu memompa semangat serta kebugaran otot-otot altet agar tampil dalam kondisi maksimal. Atau bisa juga diibaratkan bensin dan pelumas yang membuat mesin kendaraan bekerja optimal.
- 53 -
I ndustr ialisasi-konsum er ism e-m otivator
Modernitas dengan industrialisasinya telah melahirkan konsumerisme. Berbagai perusahaan, dengan menggunakan perusahaan penyiaran dan iklan telah meninggalkan ”residu” ingatan tentang berbagai produk dalam alam prasadar setiap individu berupa image atau br and. Tanpa disadari, ini menjadi suatu sublimal conditioning (pengkondisian kognitif yang berlangsung dalam alam prasadar, setingkat di bawah kesadaran) personal. Jika dikaitkan dengan kebutuhan pada setiap orang. Selain itu berbagai metode pemasaran yang dianggap ”bebas nilai” didorong sehingga dapat diterima oleh berbagai masyarakat dengan latar belakang kelas, budaya, dan primordialisme yang berbeda-beda. Dari sinilah paradigma konsumerisme di ditanamkan.
- 54 -
D ehum anisasi?
Pelatihan dan pengembangan SDM dalam konteks industri telah berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Semakin padat industri, semakin banyak tr ainer , motivator, dan konsultan SDM yang dibutuhkan. Semakin banyak job dari perusahaan, semakin melambung pula ”nilai tukar” para ”pebisnis mental” tersebut. Dari kondisi inilah para motivator saling berkomptetisi mendapatkan job dari perusahaan.
Suatu kondisi keseimbangan menuju kemanusiaan menjadi rentan apabila; perusahaan hendak membeli program pelatihan dan pengembangan dengan harga murah, sementara para motivator (dengan lembaga pelatihan dan pengembangannya) harus berjibaku dengan sesamanya untuk mendapatkan proyek tersebut. Maka kondisi ini potensial memunculkan dilema; mempertahankan kualitas ideal program pelatihan dan pengembangan, atau mengukur kualitasnya berdasarkan harga yang diberikan perusahaan. Dengan bahasa lain, pelatihan dan pengembangan tidak lagi dihadapkan pada tujuan mengoptimalkan seluruh potensi pada setiap individu, tetapi ”disunat” seperlunya untuk mengaktifkan potensi individu (karyawan) yang sesuai kebutuhan perusahaan saja. Potensi manusia ditukar berdasarkan ”nilai dan guna”.
- 55 -
- 56 -
Psikososiofisiom ikr obioantr opogeoteknologi Oleh : Ahmad Fahmi Mubarok
Menyebut kata sosiologi, antropologi, mikrobiologi, psikologi, dan logi-logi yang lain, pada akhirnya tak bisa dilepaskan dari disiplin, metode, obyektivitas, intersubyektivitas, dan ilmiah. H al ini sedikit paralel, seperti ketika (saya lebih suka) menyebut sosiokapitalkomunisliberal-dan lain(-lain)isme.
Berbagai perihal di atas, yang selalu digosipkan dalam bangku sekolah, merupakan standarisasi kepandaian seseorang. Dengan mengetahui, dan mengerti definisi dari masing-masing kata tersebut, maka diandaikan pondasi masa depan telah terbangun. Dan secara tidak langsung, juga terdengar, bahwa hal-hal tersebutlah yang menjadi pondasi dari kehidupan manusia.
- 57 -
Tetapi, ada beberapa kerancuan terkait dengan perihal tersebut. Logos, jika itu dimaknai sebagai ilmu, maka harus bersesuaian dengan apa yang dihadapi oleh si pelajar logos. Seringkali barisan rapi manusia, diperdengarkan dongeng tentang cara menanggulangi erosi di pegunungan, sementara lingkungan yang dihadapinya adalah pantai yang lebih berdekatan dengan abrasi. Logos dihadirkan sebagai sesuatu yang sangat jauh, sebagai perbincangan yang bersifat elite, yang hanya berdasar pada tuntutan kurikulum ”aneh”.
Selanjutnya, jika logos dimaknai sebagai sebuah kebenaran, justru yang terjadi adalah semakin memperlebar jarak antar kebenaran, sekaligus mempersempit jarak antara kebenaran dan kebohongan. Ketika baru membiasakan diri untuk membaca koran (dan tentu saja belum belajar merefleksikannya), kita ”dipaksa” meninggalkannya demi melihat dan mendengar video klip dalam tayangan televisi. Alih-alih menghadirkan logos adalah sesuatu yang bermakna luas, banyak, dan spesifik, tetapi justru tak saling terkoneksi dan kontradiktif satu sama lain. Sehingga secara tidak langsung, telah terjadi pemaksaan untuk mengagungkan sekeping dan menafikan kepingan yang lain.
- 58 -
meter, sesuai dengan anjuran kesehatan mata. Pun cara tersebut juga hanya akan memperlihatkan gambaran yang tersaji di layar televisi, tanpa bisa mengetahui kabel, dioda, lampu led, speaker , r esistor , yang terangkai di dalamnya. Dan sampai di situ, juga tidak akan diketahui bagaimana koneksi yang terjalin mesra, antara televisi dengan satelit, sampai dengan artis-artis yang terlihat di layarnya.
Bahkan, untuk keluar dari ruang untuk melihat ruang, atau keluar dari rentang waktu untuk melihat jalannya waktu, juga sebuah kemustahilan. Sedangkan keduanya, waktu dan ruang adalah anasir dari realitas.
- 59 -
Beber apa Tanggapan
Oleh : Muhammad Taufiqurrohman
Pertama, soal “titik” (untuk selanjutnya saya tidak akan menggunakan tanda “...“ lagi karena saya anggap sudah mafhum). Titik yang saya maksud memanglah sebuah titik yang terbatas. Titik yang sebenarnya bukan titik. Dia hanyalah bayangan dari titik yang sejati. Titik yang sejati itu menurut saya tidak ”ada”. Saya percaya bahwa tidak ada ”sesuatu”pun yang paling akhir, juga titik itu. Oleh karenanya, yang sanggup kita bisa bicarakan adalah titik-titik yang sementara itu.
Jadi, akhirnya titik itu ada itu bukanlah dikarenakan ia ingin ada. Tidak, sesungguhnya dia terpaksa menjadi ada karena keterbatasan eksistensial. Tanpa ia ada, tanpa di tulis menjadi tanda (.) pun sesungguhnya ia ada. Titik selalu ada, tetapi titik yang selalu sementara. Tapi, bukan ”koma”. Kira-kira, titik yang saya anggap selalu ada—bahkan tanpa kita minta dan kita sadari—tersebut adalah titik yang benar-benar ada. I a tidak koma, ia benar-benar titik dalam sebuah eksistensi yang ”terakhir”tapi terakhir yang tak benar-benar akhir.
- 60 -
Dengan cara pandang inilah, menurut saya, esensialisme dan eksistensialisme lebih mudah untuk dilihat sebagai sesuatu yang tidak kontradiktif melainkan saling meng”ada”kan. Esensialisme adalah mula sekaligus akhir eksistensi, dan begitu pula sebaliknya. Ketegangan antara keduanya yang entah sampai kapan inilah yang menurut saya membedakan kita yang ”terbatas” dengan yang ”tak terbatas” itu.
- 61 -
Dengan demikian, menurut saya, positivisme tidak hanya ”tidak dapat disebut sebagai” epistemologi melainkan ia memang benar-benar bukan epistemologi.
Keempat, tentang sosialis. Sebenarnya saya lebih suka memandang ”sosialis” ini dalam perspektif moral. Menurut saya, dalam perspektif inilah kata atau pengertian ”sosialis” ini lebih mendapatkan maknanya ketimbang jika dilihat dari perspektif sosial (sosiologi, antropologi apalagi sejarah). Dengan demikian, ia menjadi sesuatu yang jauh melampaui batas-batas apapun.
Mungkin filsafat ”sosialisme” Bambu dan Pisang ala Cak Nur dapat membantu menjelaskan konsep ”sosialis” yang saya maksudkan. Kira-kira begini (tentu saja dalam keterbatasan analoginya), bambu adalah pohon yang merelakan daun-daunnya lepas agar ”yang lain” (other s/ liyan) dapat juga menikmati cahaya yang jatuh dari langit dan apa saja yang menimpanya. Other s itu bisa jadi tetangga-tetangganya (bambu di sampingnya), bisa jadi anak-anaknya (rebung yang ingusan), atau bahkan bisa jadi other s yang bener-bener others (misalnya, pohon singkong di sampingnya).
- 62 -
”merelakan”nya, ia memang ”membiarkan”nya demikian. I a sudah merasa cukup dengan tanah tempat ia ada. Karena memang semua tanah yang di luar dirinya bukanlah miliknya. Bahkan tanah tempat ia berdiri yang ia rasa sebagai ”milik”nya, juga mungkin bukanlah tanah yang benar-benar miliknya.
Demikianlah, bambu yang tidak meniatkan untuk memberi kebebasan justru memberikan kebebasan bagi ”yang lain” itu untuk turut hidup dan berkembang. Sebaliknya, pisang yang tampaknya mengayomi dan membebaskan itu justru akhirnya tidak memberikan kebebasan pada ”yang lain”. Sebatang bambu bahkan tidak pernah menunggu ”tua” dan ”roboh” untuk melihat anaknya tumbuh. Tidak demikian halnya dengan pisang yang menunggu dirinya dirobohkan (saking serakahnya) untuk memberikan kebebasan berkembang bagi yang lain yang sama sekali baru. Demikianlah kisah bambu dan pisang.
- 63 -
- 64 -
“Per tar ungan” K aum “Liber al”: K ontr adiksi Ber fikir Br yan Caplan
Oleh : Giyanto
Akhir minggu ini, di Mises I nstitute Blog terjadi ”pertarungan” sengit antar pendukung Perbank-an Bebas Baku emas dengan pendukung Per-bank-an bebas Fractional Reserve Bank (FRB). Saya kira diskusi sengit seperti ini tidak akan kita lihat di negeri kita. Karena intelektual di negeri kita memang kebanyakan keturunan Beo.
Terlepas penilaian kasar saya tersebut. Dalam ocehan kali saya akan sedikit mengomentari tentang makna filsafat kebebasan. Dalam hal ini tentang bagaimana seharusnya dunia per-bank-an dijalankan. Ketika seseorang mendeklarasikan dirinya sebagai pengusung ideologi pasar bebas, seharusnya dirinya tidak terjebak dalam alur logika yang kontradiktif dengan filsafat yang diusungnya.
Semisal argumen Bryan Caplan yang mendukung sistem FRB. Konon Caplan adalah seorang anarkis pasar bebas yang mendukung hak milik individu, tapi dalam argumennya membela sistem FRB. Dia secara gegabah mendukung bahwa tabungan seseorang boleh saja dibagi-bagi kemudian diutangkan ke beberapa orang dengan nilai yang berlipat ganda. Artinya, ketika sebuah bank memiliki cadangan dana 10 milyar maka dia boleh saja memberi pinjaman kepada pengusaha senilai 100 milyar. Pertanyaannya, darimanakah uang 90 milyar tersebut didapat?
- 65 -
nilai yang setara diberi oleh nilai agunan sang pengusaha. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa sebuah Bank tidak dapat dikatakan mencuri hak milik penabung dengan back up agunan aset sang pengusaha—menurut pendapat Caplan.
Berbeda dengan paham penganut sistem Perbankan Deposit dengan cadangan emas. Mereka, Mises-Rothbard dkk, dengan prinsip hak milik mengatakan bahwa seharusnya jumlah deposit Bank harus setara dengan jumlah ”nota uang” yang beredar di pasar, ataupun setara dengan jumlah uang yang dipinjamkan kepada pengusaha. Jadi tidak ada ”perlipatan” nilai uang di Per-bank-an. Terlepas efek buruk sistem FRB yang dapat memicu terjadinya krisis. Saya akan mencoba menyoroti dari sisi prinsip filsafat pasar bebas yang saya pahami.
- 66 -
terjadi “r ush” tahun 2007, nasabah dibatasi pengambilan dananya cuma Rp. 20 juta. Apakah ini namanya disebut keadilan? Ketika orang mengambil hak miliknya tapi dilarang pemerintah melalui pembatasan jaminan.
Kembali ke argumen Caplan. Menurut saya, Bryan Caplan—tokoh idola para ekonom 'liberal' kita—tidak dapat membedakan antara menabung dan berinvestasi. Ketika seseorang berniat menabung, apa yang diharapkannya adalah mengurangi ketidakpastian masa depan. Sehingga dirinya menyimpan sebagian dananya untuk mengurangi resiko masa depan.
Berbeda dengan berinvestasi. Seorang investor dengan sengaja mengambil resiko untuk mendapat keuntungan. Jadi dalam benak sang investor, dia akan siap menanggung segala apapun resiko asalkan dia mendapat keuntungan. Apabila suatu saat sang investor tidak dapat mendapakan kembali dananya, dia akan siap dengan konsekuensi tersebut. Dan apabila dia mendapatkan keuntungan berdasarkan resiko yang dia ambil, itu juga merupakan balasan yang setimpal atas pilihannya.
Jadi menurut saya, Bryan Caplan, melalui sistem FRB yang didukungnya, menumpangtindihkan antara tujuan menabung dengan investasi. Dengan kata lain, dengan sistem FRB, sang penabung harus ikut menanggung segala resiko yang menjadi pilihan sengaja sang investor.
- 67 -
yang dikatan oleh seorang teman, bahwa musuh terbesar bagi gerakan liberalisme adalah kaum liberal itu sendiri! Setelah Postm oder nism e
Oleh : Edi Subkhan
Sebuah karya besar yang patut kita apresiasi dan menjadi bahan rujukan dalam cultur al studies adalah Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan oleh Yasraf Amir Piliang (2004), terutama terbitan paling akhir oleh Jalasutra. Dalam pengantarnya, penerbit Jalasutra menyatakan bahwa, “...banyak pemikir kontemporer yang diulas cukup panjang dan ‘cair’ pemikirannya oleh Yasraf, ternyata nyaris ‘tak tersentuh’ dan ‘tak diulas detail’ oleh penulis kebudayaan lainnya” (2004: 34).