• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL ILMIAH DINAMIKA BAHASA INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ARTIKEL ILMIAH DINAMIKA BAHASA INDONESIA"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016

Nama : Susi Sakinah NIM : 2108130016 Mata kuliah :

Dosen : Dr. R. Hendaryan,Drs.,MM Prodi : Bahasa dan Sastra Indonesia Tingkat/Kelas : 3/D

Waktu : Satu Minggu

DINAMIKA PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA DENGAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG KEKINIAN

Era globalisasi akan menyentuh semua aspek kehidupan, termasuk bahasa. Indonesia sebagai Negara yang memiliki mayarakat multibahasa tentunya mengikuti dan akan terpengaruh oleh perkembangan globalisasi ini. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalpun akan terkena imbasnya. Dilihat dari segi positifnya, masyarakat daerah yang awam terhadap bahasa Indonesia karena jarang penggunaannya akan berkurang. Akan tetapi bukan hanya bahasa Indonesia saja yang berkembang, melainkan bahasa asing juga akan semakin marak dipakai, bahkan akan muncul bahasa Indonesia yang tercampur dengan bahasa lain atau bahasa yang dewasa ini banyak digunakan masyarakat Indonesia, yakni bahasa alay/gaul/kekinian.

(2)

menggantikan semua papan nama di negara tersebut yang selama itu menggunakan bahasa Rusia. Bagaimana halnya dengan di Indonesia? Di Indonesia, fenomena yang sama pernah dilakukan dengan pengeluaran Surat Menteri Dalam Negeri kepada gubernur, bupati, dan walikota seluruh Indonesia Nomor 1021/SJ tanggal 16 Maret 1995 tentang Penertiban Penggunaan Bahasa Asing. Surat itu berisi instruksi agar papan-papan nama dunia usaha dan perdagangan di seluruh Indonesia yang menggunakan bahasa asing agar diubah menjadi bahasa Indonesia.

Ketika awal pemberlakukan peraturan tersebut, tampak gencar dan bersemangat usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Pemda DKI Jakarta, misalnya, bekerja sama dengan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa mengadakan teguran-teguran lisan dan tertulis, bahkan turun ke lapangan mendatangi perusahaan-perusahaan yang papan namanya menggunakan bahasa Inggris atau mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan struktur bahasa Inggris. Misalnya, sebelumnya terpampang “Pondok Indah Mall”, “Ciputra Mall”, “Mestika Bank”, dan lain-lain, sekarang diubah menjadi “Mal Pondok Indah”, “Mal Ciputra”, “Bank Mestika”. Berbagai fenomena dan kenyataan ini akan semakin mendukung ke arah terjadinya suatu pertentangan (paradoks) dan arus tarik-menarik antara globalisasi dan lokalisasi. Persoalan berikutnya adalah mampukah bahasa Indonesia mempertahankan jati dirinya di tengah-tengah arus tarik-menarik itu? Untuk menjawab persoalan ini, marilah kita menengok ke belakang bagaimana bahasa Indonesia yang ketika itu masih disebut bahasa Melayu mampu bertahan dari berbagai pengaruh bahasa lain baik bahasa asing maupun bahasa daerah lainnya di nusantara.

Berkembangnya suatu bahasa dalam suatu wilayah dan penyebarannya ke wilayah lain, akan berproses secara alamiah dalam waktu yang cukup lama. Pertumbuhan dan perkembangannnya ke wilayah-wilayah lain, ditentukan oleh banyaknya jumlah penutur yang tersebar. Banyak bahasa yang perkembangannya sudah mendunia, yakni bahasa-bahasa yang diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan lain-lain.

Memperhatikan seorang anak dalam menangkap dan menguasai suatu bahasa yang menjadi bahasa ibu (atau bahasa pertama yang dikuasainya), kerapkali terjadi kesalahan pengucapan suatu kata, dalam pelafalan hurufnya, beda pelafalan ini tanpa membedakan arti atau mengandung arti yang berbeda. Pada pelafalan baru disertai susunan kata baru dengan arti baru. Bahasa baru ini lebih berkembang karena dipengaruhi oleh sekelompok orang di lingkungannya, disebut bahasa prokem, atau bahasa slang, atau bahasa ‘amiyah.

(3)

sekelompok orang tertentu. Apakah bahasa prokem semuanya mengandung kata-kata yang “jelek”? Bagaimana bertutur dengan menggunakan bahasa yang standar dan sopan, tapi menyinggung perasaan pendengarnya dan menyakitkan hati pendengarnya? (Dimana letaknya sopan santunnya?)

Bahasa prokem adalah bukti dari kreatifitas sekelompok orang yang merupakan pecahan atau pengembangan dari bahasa standar. Tanpa bahasa standar bahasa prokem tidak pernah ada. Berkembangnya bahasa prokem merupakan tuntutan dalam berkomunikasi pada sekelompok masyarakat, dengan menggunakan bahasa prokem, pergaulan menjadi lebih akrab, lebih komunikatif, dan lebih efektif. Jadi pada sekelompok masyarakat tertentu lebih banyak menggunakan bahasa prokem, maka siapapun yang berupaya memusnahkan bahasa prokem adalah upaya yang sia-sia.

Banyak bahasa-bahasa daerah di Nusantara yang hilang, mungkin akibat dampak kebijakan memperkuat Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Walaupun ada kebijakan memasukkan bahasa daerah sebagai muatan lokal pada pendidikan, tetapi bahasa-bahasa daerah masih tidak berkembang, bahkan tetap banyak yang hilang.

Deskripsi dan Pembahasan Dinamika Perkembangan Kosakata Bahasa Indonesia Berdasarkan Aspek Pemaknaan Masyarakat multilingual, seperti masyarakat Indonesia, cepat atau lambat, akan berkenalan dengan bahasa lain. Peralihan tempat tinggal meng-akibatkan perubahan lingkungan (misalnya mutasi pegawai atau karyawan dari suatu tempat ke tempat lain, pedagang yang berpindah dari suatu kota ke kota lain yang lebih menguntungkan, pelajar atau mahasiswa yang keluar dari kota asalnya untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi). Hal itu dapat menimbulkan perubahan makna sehingga timbul pasang surut kosakata bahasa Indonesia dari aspek pemaknaan. Hal ini mencakupi berikut ini. Sedemikian urgennya bahasa nasional ditengah-tengah sebuah bangsa, maka seyogianya bahasa nasional dalam konteks ini bahasa Indonesia, menjadi bahasa yang seharusnya murni dipahami, digunakan secara benar, dijaga keaslian dan kegunaannya sebagaimana mestinya untuk keberlangsungan budaya dan pluralitas bahasa kita.

(4)

Bisa kita lihat dalam istilah gaul, banyak bahasa Indonesia yang digunakan kurang pada tempatnya, asal bunyi (asbun) dan terkesan kedengarannya keren. Ada kalanya menggunakan bahasa Indonesia dicampur aduk dengan istilah-istilah asing supaya lebih nampak berpendidikan tinggi dan pintar. Lain pula di kalangan pelajar, pengunaan bahasa Indonesia sebagaimana mestinya dianggap kuno dan tidak gaul. Sebut saja misalnya kata "kamu, saya" kini diubah menjadi "loe, gue". Seakan bahasa mengantar mereka pada penghargaan yang tinggi.

Referensi

Dokumen terkait

Keberadaan Bahasa Indonesia bisa saja punah bila kita tidak dapat melestarikannya. Bahasa Indonesia bukan lagi bahasa pemersatu bangsa yang dapat dimengerti oleh

Dalam pembelajaran bahasa yang berbasis teks, bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang mengemban fungsi untuk menjadi

Ihwal globalisasi dan ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia barat sebagai salah satu dasar mengapa bahasa asing perlu dipelajari di Indonesia, tentu tidak akan

Di daerah-daerah yang ada di Indonesia, masyarakat yang ada tidak hanya menggunakan satu bahasa saja, melainkan menggunakan beberapa bahasa yang brbeda satu daerah

Lebih lagi Indonesia sudah memasuki era MEA (Masyarakat Ekonomi Asea) yang mana pesaing kerja bukan hanya masyarakat negri ini saja melainkan warga negara asing pun bisa untuk

Bukan hanya Bahasa Indonesia yang terpengaruh oleh bahasa daerah tetapi bahasa asing juga ikut berperan dalam kesalahan pelafalan.Contoh diatas merupakan kesalahan pelafalan

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa

Meskipun pengaruh ini memiliki dampak positif dalam pembelajaran bahasa asing dan pemahaman budaya global, perlu diwaspadai juga risiko kehilangan keaslian bahasa Indonesia dan