• Tidak ada hasil yang ditemukan

pesona kur mengatasi kemiskinan (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "pesona kur mengatasi kemiskinan (2)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

TEKANAN KEMISKINAN KOMUNITAS NELAYAN TRADISIONAL DIPERKOTAAN

(Kemiskinan di wilayah pesisir perkotaan memicu destructive fishing)

Disusun oleh

Sukardi

1. Pendahuluan

Secara umum, yang disebut nelayan tradisional adalah nelayan yang memanfaatkan sumber daya perikanan dengan peralatan tangkap tradisional, modal usaha yang kecil, dan organisasi penangkapan yang relatif sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari, nelayan tradisional lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri, dalam arti hasil alokasi hasil tangkapan yang dijual lebih banyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, khususnya pangan, dan bukan diinvestasikan kembali untuk pengembangan skala usaha. Berbeda dengan nelayan modern yang seringkali mampu merespon perubahan dan lebih fleksibel dalam menyiasati tekanan perubahan dan kondisi over fishing. Nelayan tradisional seringkali justru mengalami proses marginalisasi dan menjadi korban dari program pembangunan dan modernisasi perikanan yang sifatnya historis. Akibat keterbatasan teknologi yang dimiliki, ruang gerak nelayan tradisional umumnya sangat terbatas, mereka hanya mampu beroperasi di perairan pantai. Kegiatan penangkapan ikan dilakukan dalam satu hari sekali melaut (one day a fishing trip), beberapa contoh nelayan yang termasuk tradisional adalah nelayan jukung, nelayan pancingan, nelayan udang, nelayan pengumpul kerang dan sebagainya.

Sejak terjaninya krisis merambah ke berbagai wilayah tahun 1998 sampai saat ini, nelayan tradisional boleh dikatakan adalah kelompok masyarakat pesisir yang paling menderita dan merupakan korban pertama dari perubahan situasi sosial ekonomi yang terkesan tiba-tiba, namun berkepanjangan. Dalam pandangan sosiologi bahwa apa yang dapat dilakukan nelayan tradisional untuk bertahan dan melangsungkan kehidupannya, jika dari hari ke hari potensi ikan di luat makin langka karena cara penangkapan yang berlebihan (Over Fishing) dengan hanya mengandalkan pada perahu tradisional dan alat tangkap ikan yang sederhana, jelas para nelayan tradisional ini tidak akan pernah mampu bersaing dengan nelayan modern yang didukung perangkat yang serba canggih dan kapal besar yang memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas.

(2)

pertanian, yang awal mulanya dilakukan melalui introduksi teknologi baru dalam kegiatan perikanan (motorisasi dan inovasi alat tangkap).

Secara teoritis modernisasi yang terjadi melalui kapitalisasi (peningkatan arus modal dan teknologi), akan berpengaruh terhadap perubahan struktur sosial masyarakat. Peningkatan kebutuhan spesialisasi pekerjaan atau tumbuhnya pekerjaan-pekerjaan baru dengan posisi baru dalam struktur sosial masyarakat akan memainkan peranan-peranan sosial tertentu sesuai dengan tuntutan statusnya. Struktur-strukrur yang baru ini membawa sejumlah implikasi.

Modernisasi perikanan (blue revolution) yang telah berlangsung selama ini tidak dapat dipungkiri mengakibatkan banyak perubahan dalam kehidupan sosial ekonomi nelayan. Tetapi tidak semua lapisan masyarakat nelayan dapat menikmati berkah modernisasi perikanan tersebut, terkait dengan ketersediaan modal ekonomi yang ada. Menurut Kusnadi (2002), setelah seperempat abad kebijakan modernisasi perikanan dilaksanakan tingkat kesejahteraan hidup nelayan tidak banyak berubah secara substantif, yang terjadi justru sebaliknya, yakni melebarnya kesenjangan sosial ekonomi antar kelompok sosial dalam masyarakat nelayan dan meluasnya kemiskinan yang menjadi Fenomena Kemiskinan Masyarakat Pesisir.

Pengalaman selama ini telah menunjukkan bahwa tidak mudah mengatasi kemiskinan struktural yang membelenggu nelayan tradisional di berbagai segi kehidupan. Kesulitan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional, selain dipengaruhi sejumlah kelemahan internal, juga karena pengaruh faktor eksternal. Keterbatasan pendidikan, kurangnya kesempatan untuk mengakses dan menguasai teknologi yang lebih modern, dan tidak dimilikinya modal yang cukup adalah faktor-faktor internal yang seringkali menyulitkan usaha-usaha untuk memberdayakan kehidupan para nelayan tradisional. Di sisi lain, sejumlah faktor eksternal, seperti makin terbatasnya potensi sumber daya laut yang bisa dimanfaatkan nelayan, persaingan yang makin intensif, mekanisme pasar, posisi tawar nelayan di hadapan tengkulak, keadaan infrastruktur pelabuhan perikanan, dan yurisdiksi daerah otonomi adalah beban tambahan yang makin memperparah keadaan.

Menurut Satria (2002) dan Suyanto (2003); bahwa tekanan kemiskinan struktural yang melanda kehidupan nelayan tradisional, sesungguhnya disebabkan oleh faktor-faktor yang kompleks. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berkaitan dengan fluktuasi musim-musim ikan, keterbatasan sumber daya manusia, modal serta akses, jaringan perdagangan ikan yang eksploitatif terhadap nelayan sebagai produsen, tetapi juga disebabkan oleh dampak negatif modernisasi perikanan atau Revolusi Biru yang mendorong terjadinya pengurasan sumber daya laut secara berlebihan. Proses demikian masih terus berlangsung hingga sekarang dan dampak lebih lanjut yang sangat terasakan oleh nelayan adalah semakin menurunnya tingkat pendapatan mereka dan sulitnya memperoleh hasil tangkapan.

(3)

peralatan tangkap yang bisa merusak kelestarian lingkungan telah menimbulkan kompetisi yang semakin ketat dalam memperebutkan sumber daya perikanan, sehingga ujung-ujungnya bisa ditebak, yaitu konflik menjadi terbuka, pembakaran kapal trawl terjadi di berbagai perairan, kesenjangan sosial ekonomi makin menjadi-jadi, dan kemiskinan bertambah meluas di kawasan pesisir.

Nelayan perkotaan nasibnya lebih parah dibandingkan dengan nelayan yang berada di pedesaan, karena nelayan perkotaan seringkali selalu dalam posisi yang terpinggirkan dalam program pembangunan kota, dengan alasan bukan merupakan jenis pekerjaan yang mayoritas dilakukan oleh penduduk kota. Keadaan ini justru memperparah kemiskinan para nelayan kota, sehingga mereka terperangkap dalam kubangan kemiskinan. Tekanan-tekanan kemiskinan nelayan tradisional di perkotaan, seringkali strategi dan program pemerintah tidak berpihak kepada komunitas nelayan tradisional.

2. Kemiskinan Struktural Komunitas Nelayan Tradisional

Kemiskinan struktural komunitas nelayan tradisional adalah kemiskinan yang diderita suatu komunitas nelayan tradisional, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Secara teoritis, kemiskinan struktural dapat diartikan sebagai suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber, dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku (Alfian, 1980).

Sedangkan menurut Edi Suharto, bahwa Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang terjadi bukan dikarenakan ketidakmamuan si miskin untuk bekerja (malas), melainkan karena ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan kesempatan yang memungkinkan si miskin dapat bekerja. Struktur sosial yang berlaku telah mengurung mereka ke dalam suasana kemiskinan secara turuntemurun selama bertahuntahun. Sejalan dengan itu, mereka hanya mungkin keluar dari penjara kemelaratan melalui suatu proses perubahan struktur yang mendasar.

Kemiskinan struktural, biasanya terjadi di dalam suatu masyarakat di mana terdapat perbedaan yang tajam antara mereka yang hidup melarat dengan mereka yang hidup dalam kemewahan dan kaya-raya. Mereka itu, walaupun merupakan mayoritas terbesar dari masyarakat, dalam realita tidak mempunyai kekuatan apa -apa untuk mampu memperbaiki nasib hidupnya. Sedangkan minoritas kecil masyarakat yang kaya raya biasanya berhasil memonopoli dan mengontrol berbagai kehidupan, terutama segi ekonomi dan politik.

(4)

nelayan mendapatkan akses pinjaman modal, baik untuk modal kerja maupun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Di tengah kesusahan itulah, masyarakat nelayan menggantungkan hidupnya pada institusi lain yang mampu menjamin keberlangsungan hidup keluarganya. Jaminan sosial dalam suatu masyarakat merupakan implementasi dari bentuk-bentuk perlindungan, baik yang diselenggarakan oleh negara, maupun institusi-institusi sosial yang ada pada masyarakat terhadap individu dari resiko-resiko tertentu dalam hidupnya (Benda Beckmann, 2001).

Permasalahan dan keluhan “Pusing” dengan tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak hanya dirasakan pemilik kendaraan “darat”, sejumlah nelayan “sang pemilik kendaraan laut” terpaksa harus mengurungkan niat mencari ikan karena “mahalnya” ditambah dengan ketiadaan/kelangkaan BBM. Memang kenaikan harga BBM, “sangat” menimbulkan fenomena baru dalam masyarakat. Beragam warna, beragam”hiruk-pikuk”, dari masalah internal atau eksternal muncul. Ada yang disebut dengan nelayan tradisional yang selalu mengandalkan BBM yang diadakan oleh Pertamina setempat, berbeda dengan nelayan besar yang menggunakan alat tangkap modern. Nelayan yang memiliki kapal besar dan alat tangkap modern bisa saja mendapatkan atau membeli BBM di kepulauan atau provinsi terdekat tempat mereka mencari ikan, namun bagi nelayan tradisional mereka memiliki keterbatasan jelajah. Padahal, 80 persen warganya nelayan tradisional memberikan kontribusi besar dalam produksi perikanan tangkap, untuk itu kelancaran pasokan BBM sangat menentukan. Tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) dan kelangkaan BBM tidak saja akan berpengaruh pada penurunan produksi perikanan, namun lebih luas berdampak pada kehidupan nelayan yang masih dikelompokkan dalam masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Nelayan dan ”Jebakan” Kemiskinan, bisa memiliki arti bahwa masyarakat nelayan miskin tidak mempunyai hak atas kuasa sumber daya perikanan karena keterbatasan sumber daya dan keterbatasan akses. Kawasan lautan kebanyakan diakses dan didominasi oleh pemilik modal dan birokrat, atau kolaborasi keduanya. Sebagai contoh, operasi pukat harimau, penyerobotan wilayah tangkap oleh nelayan-nelayan besar bahkan nelayan dari luar wilayah NKRI atau nelayan asing yang cenderung diabaikan oleh pemerintah, sehingga wilayah tangkap nelayan tradisional (traditional fishing ground) terbatas, dan terbatas pula sumber daya perikanannya.

(5)

dilikuidasi, maka para “mantan nelayan” tidak akan menjadi tambahan pekerjaan rumah bagi dinas sosial.

Sungguh ironis dengan sumber daya alam laut yang luar biasa, nasib nelayan seakan diam ditempat. Secara normatif seharusnya hidup dalam kesejahteraan. Namun kenyataannya, sebagian besar masyarakat pesisir masih merupakan masyarakat tertinggal dibandimg komunitas masyarakat lain. Itu disebabkan karena tingkat pendidikan mereka masih rendah. Masa depan kelestarian pengelolaan potensi kelautan kita membutuhkan kearifan dan sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi untuk mengelola dan memanfaatkannya.

Menuju era industrialisasi, wilayah pesisir dan lautan merupakan prioritas utama untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis, agroindustri pemukiman, dan transportasi. Kondisi demikian bagi kota-kota yang terletak di wilayah industri terus dikembangkan menuju tata ekonomi baru dan industrialisasi. Tidak mengherankan bila sekitar 65% penduduk Indonesia bermukim di sekitar wilayah pesisir. (Wahyuningsih Darajati, 2004).

Potret pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan selama kurun waktu Orde Baru, dicirikan oleh kurang mengindahkannya aspek kelestarian lingkungan, serta ketimpangan pemerataan pendapatan antara nelayan tradisional dan pelaku industri. Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan, sangat diwarnai oleh rezim yang bersifat open acces, sentralistik, seragamisasi, kurang memperhatikan keragaman biofisik alam dan sosio-kultural masyarakat lokal. bahkan antara kelompok pelaku komersial (sektor modern) dengan kelompok usaha kecil dan subsisten (sektor tradisional) saling mematikan. Dampak nyata pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan adalah munculnya konflik musiman antara nelayan dan masyarakat setempat (sektor tradisional) dan pelaku industri komersial (sektor modern).

Dengan karakteristik wilayah laut dan pesisir yang banyak permasalahan tersebut yang sebagaimana disampaikan di atas, wilayah laut dan pesisir menghadapi berbagai isu dan permasalahan terkait dengan penataan ruang diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Potensi konflik kepentingan (conflict of interest) dan tumpang tindih antar sektor dan stakeholders lainnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. Dalam hal ini, konflik kepentingan tidak hanya terjadi antar “users”, yakni sektoral dalam pemerintahan dan juga masyarakat setempat, namun juga antar penggunaan antara lain: kegiatan konservasi laut dan pesisir seperti hutan bakau (mangrove), terumbu karang dan biota laut lainnya, perikanan budidaya maupun tangkapan pariwisata bahari dan pantai, pertambangan, seperti minyak, gas, timah dan galian lainnya, serta pemerataan pembangunan di wilayah Pesisir.

2) Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir bermata pencaharian di sektor-sektor non-perkotaan. Sebagian besar dari 126 kawasan tertinggal yang diidentifikasi dalam kajian Penyempurnaan RTRWN merupakan wilayah pesisir.

(6)

penyebabnya adalah belum adanya konsep pembangunan masyarakat pesisir sebagai subyek dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir.

Walaupun telah menjadi common interests, proses pelibatan masyarakat sebagai subyek utama dalam pengelolaan wilayah pesisir masih belum menemukan bentuk terbaiknya. Persepsi yang berbeda mengenai hak dan kewajiban dari masyarakat seringkali menghadirkan konflik antar kepentingan yang sulit dicarikan solusinya, meningkatkan transaction cost, dan cenderung merugikan kepentingan pemerintah dan perusahaan serta masyarakat umumnya. Hal lainnya adalah menyangkut tatacara penyampaian aspirasi agar berbagai kepentingan seluruh stakeholders dapat terakomodasi secara adil, efektif, dan seimbang. Pelibatan masyarakat perlu dikembangkan berdasarkan konsensus yang disepakati bersama serta dilakukan dengan memperhatikan karakteristik sosial-budaya setempat (local unique).

3. Destructive Fishing

“Destuctive Fishing” merupakan kegiatan penangkapan yang dilakukan nelayan seperti menggunakan bahan peledak, bahan beracun dan menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan, bertentangan dengan kode etik penangkapan. Kegiatan ini umumnya bersifat merugikan bagi sumberdaya perairan yang ada. Kegiatan ini semata-mata hanya ingin meraup keutungan yang besar dengan cara cepat/instan akan tetapi memberikan dampak yang tidak baik bagi ekosistem perairan khususnya terumbu karang.

Destructive fihsing merupakan kegiatan illegal fishing yaitu dengan tujuan menangkap sebanyak-banyaknya ikan karang yang banyak namun dengan etika penangkapan yang salah. Karena kegiatan penangkapan yang dilakukan semata-mata memberikan keuntungan hanya untuk nelayan tersebut, dan berdampak kerusakan untuk ekosistem karang. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalam melakukan penangkapan dan yang di kategorikan illegal fishing adalah penggunaan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem seperti kegiatan penangkapan dengan pemboman, penangkapan dengan menggunakan racun serta penggunaan alat tangkap trawl pada daerah yang memiliki karang

Seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa destructive fishing merupakan kegiatan mall praktek dalam penangkapan ikan atau pemanfaatan sumberdaya perikanan yang secara yuridis menjadi pelanggaran hukum (kejahatan). Secara umum,maraknya destructive fishing disebabkan oleh beberapa faktor ; (1) Rentang kendali danluasnya wilayah pengawasan tidak seimbang dengan kemampuan tenaga pengawas yangada saat ini (2) Terbatasnya sarana dan armada pengawasan di laut (3) Lemahnyakemampuan SDM Nelayan Indonesia dan banyaknya kalangan pengusaha bermental pemburu rente ekonomi (4) Masih lemahnya penegakan hukum, serta (5) Lemahnya koordinasi dan komitmen antar aparat penegak hukum.

(7)

tidak ramah lingkungan, bertentangan dengan kode etik penangkapan. Kegiatan ini umumnya bersifat merugikan bagi sumberdaya perairan yang ada. Kegiatan ini semata-mata hanya akan memberikan dampak yang kurang baik bagi ekosistem perairan, akan tetapi memberikan keuntungan yang besar bagi nelayan.

Untuk menangkap sebanyak-banyaknya ikan karang yang banyak, digolongkan kedalam kegiatan illegal fishing. Karena kegiatan penangkapan yang dilakukan semata-mata memberikan keuntungan hanya untuk nelayan tersebut, dan berdampak kerusakan untuk ekosistem karang. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalam melakukan penangkapan dan termasuk kedalam kegiatan illegal fishing adalah penggunaan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem seperti kegiatan penangkapan dengan pemboman, penangkapan dengan menggunakan racun serta penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan pada daerah yang memiliki terumbu karang.

4. Akar Masalah dan Solusi dalam Penentasan Kemiskinan

Struktural Nelayan Tradisional

Mendengar kata nelayan dari dulu sampai saat ini, seolah-olah identik dengan kemiskinan. Karena memang faktanya sebagian besar nelayan hingga kini masih banyak yang miskin. Ini sungguh sebuah ironi, karena laut Indonesia memiliki potensi produksi lestari (MSY = Maximum Sustainable Yield) ikan laut yang cukup besar, sekitar 6,51 juta ton/tahun atau 8,2% dari dari total MSY ikan laut dunia. Lebih dari itu, sejak awal 1980an (pemerintah Orde Baru) sampai saat ini telah banyak banyak program pemerintah digulirkan untuk mengatasi kemiskinan nelayan. Lalu apa yang salah?. Boleh jadi kebijakan dan programnya kurang tepat, atau implementasinya yang tidak sesuai dengan rencana.

A. Akar Kemiskinan Nelayan

Banyak faktor yang menyebabkan mayoritas nelayan di Indonesia masih terlilit derita kemiskinan. Sejumlah faktor itu dapat dikelompokkan menjadi tiga: 1. Faktor teknis,

2. Faktor kultural, dan 3. Faktor struktural.

Dalam tataran praktis, nelayan miskin karena pendapatan (income) nya lebih kecil dari pada pengeluaran untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan dirinya dalam kurun waktu tertentu. Sejauh ini pendapatan nelayan, khususnya nelayan tradisional dan nelayan ABK dari kapal ikan komersial/modern (diatas 30 GT), pada umumnya kecil (kurang dari Rp 1 juta/bulan) dan sangat fluktuatif atau tidak menentu.

(8)

pada sejumlah variable yang mempengaruhi pendapatan nelayan tersebut, sedikitnya ada sembilam permasalahan teknis yang membuat sebagian besar nelayan masih miskin yaitu sebagai berikut :

1. Banyak nelayan yang kini melakukan usaha penangkapan ikan di wilayah-wilayah perairan laut yang stok SDI (sumber daya ikan) nya mengalami overfishing (tangkap lebih). Bahkan banyak kelompok SDI terutama udang penaeid, ikan demersal, ikan pelagis besar, dan ikan pelagis besar di banyak wilayah pengelolaan perikanan (WPP) telah mengalami overfishing . Permasalahan lainnya adalah karena sebagian besar (95%) nelayan nasional menggunakan kapal ikan yang tidak bermesin atau kapal bermesin di bawah 30 GT dengan alat tangkap yang umumnya tradisional (kurang efisien), maka mereka sebagian besar menangkap ikan di perairan laut dangkal kurang dari 12 mil laut yang pada umumnya telahfully exploited (laju penangkapan sama dengan MSY) atau overfishing. Konsekuensinya, hasil tangkapan ikan per satuan upaya (kapal ikan atau alat tangkap) dan pendapatan pun rendah. Sementara itu, fishing grounds yang masih produktif (underfishing) sebagian besar dijarah oleh armada kapal ikan asing. Fishing grounds tersebut meliputi ZEEI Samudera Hindia, Laut Natuna dan ZEEI Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Sulawesi, ZEEI Samudera Pasifik, Laut Banda, Laut Arafura, dan wilayah laut dalam serta wilayah laut perbatasan lainnya.

2. Pencemaran laut, perusakan ekosistem pesisir (seperti mangrove, terumbu karang, padang lamun, dan estuari) yang semakin dahsyat, dan perubahan iklim global ditenggarai menurunkan stok (populasi) SDI.

3. Sebagian besar nelayan menangani (handling) ikan hasil tangkapan selama di kapal sampai di tempat pendaratan ikan (pelabuhan perikanan) belum mengikuti cara-cara penanganan yang baik (Best Handling Practices). Akibatnya, mutu ikan begitu sampai di tempat pendaratan sudah menurun atau bahkan busuk, sehingga harga jualnya murah. Hal ini disebabkan karena kebanyakan kapal ikan tidak dilengkapi dengan palkah pendingin atau wadah (container) yang diberi es untuk menyimpan ikan agar tetap segar. Selain itu, banyak nelayan tardisional yang beranggapan bahwa membawa es berarti menambah biaya melaut, apalagi kalau tidak dapat ikan atau hasil tangkapnnya sedikit, atau esnya mencair sebelum mendapatkan ikan, maka rugi besar.

4. Hampir semua nelayan tradisional mendaratkan ikan hasil tangkapannya di pemukiman nelayan, tempat pendaratan ikan (TPI), atau pelabuhan perikanan pantai (PPP) yang tidak dilengkapi dengan pabrik es atau cold storage dan tidak memenuhi persyaratan standar sanitasi dan higienis. Sehingga, semakin memperburuk mutu ikan yang berimplikasi terhadap harga jual ikan. Hampir semua nelayan tradisional tidak bisa mendaratkan ikannya di pelabuhan perikanan samudera (PPS) atau pelabuhan perikanan nusantara (PPN) yang pada umumnya sudah memenuhi persyaratan sanitasi dan higienis, karena mereka harus membayar biaya tambat-labuh yang mahal (tidak terjangkau). 5. Di masa paceklik dan kondisi laut sedang berombak besar atau angin kencang

(9)

sehingga mereka terpaksa pinjam uang dari para rentenir yang biasanya mematok bunga yang luar biasa tinggi, rata-rata 5 persen per bulan. Di sinilah, awal nelayan mulai terjebak dalam ‘lingkaran setan kemiskinan’, karena pendapatan yang ia peroleh di musim banyak ikan, selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari juga dikeluarkan untuk bayar utang sekaligus bunganya.

6. Pada musim paceklik, harga jual ikan di lokasi pendaratan ikan biasanya tinggi (mahal), tetapi begitu musim ikan (peak season) tiba, harga jual mendadak turun drastis. Lebih dari itu, nelayan pada umumnya menjual ikan kepada padagang perantara (middle-man), tidak bisa langsung kepada konsumen terakhir. Sehingga, harga jual ikan yang mereka peroleh jauh lebih murah dari pada harga ikan yang sama di tangan konsumen terakhir. Padahal, jumlah pedagang perantara itu umumnya lebih dari dua tingkatan.

7. Kebanyakan nelayan membeli jaring, alat tangkap lain, BBM, beras, dan bahan perbekalan lainnya untuk melaut juga dari pedagang perantara yang jumlahnya bisa lebih dari dua tingkatan, tidak langsung dari pabrik atau produsen pertama. Sehingga, nelayan membeli semua sarana produksi perikanan tersebut dengan harga yang lebih mahal ketimbang harga sebenarnya di tingkat pabrik. Kondisi ini tentu membuat biaya melaut lebih besar dari pada yang semestinya.

8. Harga BBM dan sarana produksi untuk melaut lainnya terus naik, sementara harga jual ikan relatif sama dari tahun ke tahun, atau kalaupun naik relatif lamban. Hal ini tentu dapat mengurangi pendapatan nelayan.

9. Sistem bagi hasil antara pemilik kapal ikan, nahkoda kapal, fishing master, dan ABK ditenggarai jauh lebih menguntungkan pemilik kapal. Dan, yang paling dirugikan adalah ABK. Karena itu, pada umumnya pemilik kapal modern (diatas 30 GT) beserta nahkoda kapal dan fishing master sudah sejahtera, bahkan kaya. Sementara, ABK nya masih banyak yang miskin.

Kultur (etos kerja) nelayan pada umumnya juga belum sejalan dengan etos kemajuan dan kesejahteraan. Dari sisi pengeluaran, rata-rata ukuran keluarga nelayan adalah 5 jiwa (orang) yang terdiri dari ayah, ibu, dan 3 anak, lebih besar ketimbang rata-rata ukuran keluarga secara nasional yang hanya 4 jiwa. Lebih dari itu, kebanyakan nelayan juga lebih boros dibandingkan dengan petani, dan nelayan enggan untuk menabung. Dari sisi pendapatan, banyak nelayan yang ketika suatu hari atau trip mendapatkan banyak ikan, lalu hari atau trip berikutnya tidak mau ke laut mencari ikan. Demikian juga halnya, saat musim paceklik ikan, nelayan pada umumnya segan atau tidak mau bekerja di sektor ekonomi lainnya, seperti budidaya tambak, pertanian pangan, hortikultura, peternakan, dan menjadi karyawan/buruh. Masih banyak nelayan yang resisten alias tidak mau menerima inovasi teknologi baru, baik yang berkaitan dengan teknologi penangkapan, pengelolaan lingkungan hidup, maupun manajemen keuangan keluarga. Semua ini membuat banyak keluarga nelayan yang pola hidupnya ibarat ‘lebih besar pasak dari pada tihang’. Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang umumnya rendah diyakini menjadi penyebab utama mengapa banyak keluarga nelayan memiliki budaya yang berlawanan dengan etos kemajuan dan kesejahteraan.

(10)

yang tidak kondusif bagi kemajuan dan kesejahteraan nelayan. Mahal dan susah didapatkannya BBM, alat tangkap, beras, dan perbekalan melaut lainnya bagi nelayan, terutama nelayan di luar Jawa, wilayah perbatasan, dan pulau-pulau kecil terpencil, merupakan bukti nyata dari minimnya kepedulian pemerintah kepada nelayan. Demikian juga halnya dengan sumber modal. Sampai saat ini nelayan, terutama yang tradisional, masih sangat sulit atau tidak bisa mendapatkan pinjaman kredit dari perbankan. Bayangkan, kapal ikan yang terbuat dari kayu, sebesar apapun, belum bisa dijadikan sebagai agunan. Prasarana pendaratan ikan atau pelabuhan yang memenuhi persyaratan santitasi dan higienis yang dilengkapi dengan industri hilir (pengolahan hasil perikanan) juga masih terbatas bagi nelayan. Harga jual ikan yang sangat fluktuatif (tak menentu) juga belum secara tuntas diatasi oleh pemerintah. Alih-alih ikan impor membanjiri pasar domestik kita dalam tiga tahun terakhir.

Kegiatan pencurian ikan (illegal, unregulated and unreported fishing) oleh nelayan asing yang kian marak juga tidak diberantas secara sungguh-sungguh. Akhir-akhir ini banyak pengusaha nasional yang ‘nakal’ menggunakan kapal ikan asing yang benderanya sudah diubah menjadi bendera Indonesia beroperasi menangkap ikan di Indonesia. Padahal, kapal-kapal eks asing itu sejatinya masih milik pengusaha asing, seperti Thailand, Taiwan dan RRC. Ikan hasil tangkapnya hanya sebagian kecil didaratakan di pelabuhan perikanan Indonesia, hanya untuk mengelabuhi (kamulflase) aparat pemerintah dan rakyat Indonesia. Sedangkan, porsi besar ikannya dibawa ke negara masing-masing dan diproses di sana. Selain rugi ikan, Indonesia pun dirugikan melalui BBM bersubsidi yang sejatinya untuk nelayan nasional, jadi dimanfaatkan oleh nelayan asing.

B. Solusi Mensejahterakan Nelayan

Beranjak dari anatomi permasalahan kemiskinan nelayan di atas, maka kebijakan, strategi, dan program untuk memerangi kemiskinan nelayan dan sekaligus mensejahterahkannya haruslah bersifat komprehensif, terpadu, dan sistemik serta dikerjakan secara berkesinambungan. Tidak bisa dilakukan dengan pendekatan proyek seperti yang kini dilakukan, dengan membagi-bagi kapal ikan kepada nelayan, tanpa mempersiapkan kapasitas mereka, dan tanpa memperhatikan keseimbangan antara ketersediaan stok ikan dan upaya tangkap. Cara-cara semacam ini hanya membuat mental nelayan rusak, yakni membuat mereka manja dan hanya mau menjadi ‘tangan di bawah’, bukan ‘tangan di atas’. Faktanya, sekarang banyak kapal bantuan itu tidak bisa dimanfaatkan oleh nelayan secara optimal. Salah sasaran, karena si penerima biasanya konstituen dari partai si pemberi bantuan.

Oleh karena itu, mulai sekarang kita perlu menerapkan grand design manajemen pembangunan perikanan tangkap yang tepat, benar dan berkelanjutan. Sehingga, ia mampu menjaga kelestarian stok SDI, meningkatkan kesejahteraan nelayan, dan meningkatkan kontribusi sub-sektor perikanan tangkap bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa secara berkelanjutan.

(11)

MSY SDI. Selanjutnya, jumlah kapal ikan yang beroperasi di setiap wilayah perairan laut itu ditetapkan dengan cara membagi nilai MSY atau 80% MSY dengan catchability (kapasitas menangkap) kapal ikan. Jenis dan ukuran kapal ikan beserta alat tangkapnya mesti yang efisien dan ramah lingkungan, sehingga memungkinkan bagi nelayan ABK mendapatkan income yang mensejahterakan, yakni rata-rata Rp 2.550.000/nelayan/bulan. Dengan incomesebesar itu, nilai total MSY sebesar 6,52 juta ton/tahun, dan rata-rata harga ikan yang berlaku sekarang, maka jumlah nelayan Indonesia seharusnya sekitar 1,9 juta orang saja. Karena jumlah nelayan laut sekarang sekitar 2,3 juta orang, maka secara bertahap sisanya yang 400.000 orang harus dialihkan ke mata pencaharian (usaha) lain seperti budidaya laut (mariculture), budidaya tambak, budidaya di perairan air tawar, budidaya dalam akuarium, budidaya garam, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, industri mesin dan peralatan perikanan, industri galangan kapal, dan industri serta jasa penunjang perikanan lainnya, yang peluang pengembangannya masih terbuka lebar. Segenap usaha alternatif ini dapat juga dijadikan sebagai matapencaharian bagi nelayan pada saat musim paceklik.

Kegiatan IUU fishing oleh nelayan asing maupun nelayan nasional harus ditumpas sampai ke akar-akarnya. Pencemaran laut harus dikendalikan, sehingga konsentarsi bahan pencemar di perairan laut memenuhi ambang batas aman bagi perikanan. Ekosistem pesisir yang terlanjur rusak mesti direhabilitasi, selebihnya harus dikonservasi melalui manajemen berbasis kawasan lindung laut (marine protected area). Strategi dan program adaptasi untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim global harus disiapkan sejak sekarang.

Program diklatluh (pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan) untuk peningkatan kapasitas dan budaya nelayan agar lebih kondusif untuk kemajuan dan kesejahteraannya perlu lebih dtingkatkan, baik kuantitas maupun kualitasnya, secara sistematis dan berkesinambungan. Akhirnya, seluruh kebijakan politik-ekonomi termasuk fiskal dan moneter, perdagangan (ekspor – impor), dan iklim investasi harus dibuat kondusif bagi kinerja maksimal sub-sektor perikanan tangkap.

(12)

Ala, Andre Bayo. 1996. Kemiskinan dan Strategi Memerangi Kemiskinan. Yogyakarta : Liberty

Alfian, Mely G. Tan, Selo Soemardjan. 1980. Kemiskinan Struktural: Suatu Bunga Rampai. Jakarta : YIIS

Auslan, Patrick Mc. 1986. Tanah Perkotaan Dan Perlindungan Rakyat Jelata. Jakarta : Pen. PT Gramedia

Baker, David. 1980. ”Memahami Kemiskinan di Kota : Masa Apung di Kota”. PRISMA. No. 6 Tahun VIII

Dahuri,R.,Rais,J., Ginting,SP.,Sitepu, HJ., 2004, Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu, PT. Pradnya Paramita, Jakarta Dietriech G. Bengen. 2001. Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu,

Insitut Pertanian Bogor, Bogor

Kusnadi. 2002. Konflik Sosial Nelayan. LKIS, Yogyakarta.

Kusnadi, Konflik Sosial Nelayan, Ke -miskinan dan Perebutan Sumber -daya Perikanan (Yogyakarta: LKiS, 2002).

Mungkasa, O (2013), Arahan Pemanfaatan Ruang dan Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Pulau dan Kepulauan, Bappenas, Jakarta

Suparlan, Supardi. 1995. Kebudayaan Kemiskinan dalam Kemiskinan di Perkotaan : Bacaan Untuk Antropologi Perkotaan. Yogyakarta : YOI

Suyanto, Bagong, Perangkap Kemiskinan Problem dan Strategi Pengentas annya Dalam Pembangunan Desa (Yogyakarta: Aditya Media, 1996).

Referensi

Dokumen terkait