• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK MERAUKE INTEGRETED FOOD AND ENERG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DAMPAK MERAUKE INTEGRETED FOOD AND ENERG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK MERAUKEINTEGRETED FOOD AND ENERGY ESTATE (MIFEE) TERHADAP LIBERALISASI PANGAN DI INDONESIA

A. Pendahuluan

Pangan adalah komoditi yang tidak hanya memiliki kedudukan strategis dalam

pemenuhan kebutuhan dasar manusia, pangan juga memiliki keterkaitan erat dengan nilai

dan pondasi bangunan sosial, ekonomi, politik dan budaya suatu masyarakat, bangsa dan

negara. Ada salah satu ungkapan yang berbunyi “barang siapa yang menguasai pangan ia

akan berdaulat, tapi barang siapa tidak menguasainya maka ia akan terjajah sepanjang

hidupnya”. Itu sebabnya isu-isu yang menyangkut dengan pangan selalu mengemuka dan

menjadi pusat perseteruan dalam setiap perundingan ekonomi dan perdagangan

internasional serta menjadi alat efektif untuk menundukan dan mengendalikan

pemerintahan dan rakyat di suatu negara.

Proses liberalisasi pangan di Indonesia sebetulnya sudah terjadi sejak tahun

1900-an, salah satunya keanggotaan Indonesia dalam CAFTA. Melalui CAFTA, Indonesia

selalu berada pada posisi tawar yang paling lemah, sehingga harus membuka keran

impornya untuk produk-produk pertanian pada 2012. Di WTO maupun AoA upaya lobby

delegasi pemerintah Indonesia hampir tidak maksimal bahkan cenderung mendapatkan

tekanan negara-negara maju. Pada saat itu pemerintah Indonesia sudah mengurangi tarif

untuk 6000 produk industri dan pertanian, memangkas 95% dari total tarifnya sebesar

rata-rata 40%. Sejak saat itu Indonesia sudah menjadi negara yang paling liberal

dibandingkan negara-neraga liberal lainnya.1

(2)

Marauke Integreted Food and Energy Estate (MIFEE) ini sebetulnya hasil adopsi

pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1870, dan kembali dilanjutkan

secara masif pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang mengundang

investor dari Australia, Timur Tengah dan perusahaan konglomerat nasional untuk

menanamkan modalnya di Papua khususnya di sektor pertanian.

Dalam rangka menarik investor di sektor pertanian tersebut, pemerintah

mengeluarkan kebijakan pengadaan tanah seluas 1,2 juta hektar yang sudah dicadangkan

untuk Marauke Integreted Food and Energy Estate (MIFEE), dimana 1,15 juta hektar

adalah Hutan Produksi Konversi yang memang dicadangkan untuk pembangunan diluar

sektor kehutanan seperti pertanian. Dari 1,2 juta hektar tersebut yang dapat dijadikan

tanaman pangan hanya seluas 600.000 hektar. Kebijakan tersebut tertuang dalam rencana

Peraturan Presiden mengenai Tata Ruang Pulau Papua (Rapepres RTR Papua).2

Program ini selanjutnya dilanjutkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi, dalam

kunjungannya ke Marauke 9-10 Mei 2015 lalu. Ia menyebutkan akan melakukan konversi

lahan kembali dan dari luasan yang telah di konversi tersebut dalam tiga tahun

mendatang luasan lahan MIFEE akan mencapai wilayah seluas 4,6 juta hektar.3 Tujuan

dari program ini sebetulnya semata-mata agar Indonesia mencapai swasembada beras dan

menghindari krisis pangan dimasa depan.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana dampak Merauke Integreted Food and Energy Estate (MIFEE) terhadap

liberalisasi pangan di Indonesia?

2Ibid.

(3)

C. Kerangka Pemikiran

1. Liberalisme

Pemikiran liberalisme menghendaki adanya kebabsan individu dalam segenap

aspek kehidupan, sepanjang tidak menganggu kebebasan orang lain. Bahwa setiap

orang memiliki hak-hak tertentu yang tidak dapat dipindah-pindahkan atau dilanggar

oleh kekuasaan manapun. Negara hanya berfungsi melindungi saja dan sama sekali

tidak dibenarkan untuk ikut campur dalam pelaksanaan hak masing-masing individu. Seorang ahli liberalisme Jefferson mengatakan bahwa setiap individu pada

dasarnya memiliki beberapa hak yang diberikan oleh Tuhan yang tidak bisa dialihkan

kepada individu lainnya, sedangkan pemerintah tidak memiliki hak sama sekali

karena hak dan kekuasaan yang dimiliki oleh pemerintah pada dasarnya berasal dari

rakyat. Salah satunya adalah kebebasan dalam berusaha, atau biasa dikenal dengan

ajaran laissez faire, ajaran ini di bawa ke Inggris oleh John Stuart Mills dalam

bukunya “Principle of Political Economy”, intinya tidak memperbolehkan negara

mencampuri kegiatan-kegiatan perekonomian perseorangan.4

2. Neoliberalisme

Tidak jauh berbeda dengan pandangan liberalisme, neoliberalisme lebih

menekankan pada konteks pasar bebas dan kompetisi. Dalam hal ini swasta atau para

pemilik modal (kapitalis) yang menentukan arah dan tujuan ekonomi suatu negara. Bapak ekonomi kapitalis dunia, Adam Smith memandang produksi dan

perdagangan sebagai kunci untuk membuka kemakmuran. Agar produksi dan

perdagangan maksimal dan menghasilkan kekayaan universal, Smith menganjurkan

(4)

pemerintah memberikan kebebasan ekonomi kepada rakyat dalam perdagangan

bebas, baik dalam ruang lingkup domestik maupun internasional.5

Smith mengklaim dalam sebuah perekonomian tanpa campur tangan pemerintah

(laissez faire) yang mengedepankan nilai-nilai kebebasan (liberalisme) maka

perekonomian secara otomatis mengatur dirinya untuk mencapai kemakmuran dan

keseimbangan.6

Dalam kasus MIFEE yang terjadi ketika pemerintah Indonesia membuka proyek

tersebut dan mengundang investor-investor asing untuk berinvestasi adalah seperti

yang sudah dikatakan oleh Adam Smith, bahwa nantinya peran pemerintah akan

semakin berkurang dan proyek MIFEE tersebut justru malah menjadi malapetaka bagi

Indonesia itu sendiri, karena jika proyek atau bidang vital (pangan) dikuasai oleh

asing yang terjadi adalah mereka akan mengedepankan interest-nya dan dapat

memonopoli sumber vital negara Indonesia.

D. Pembahasan

Wilayah Kabupaten Merauke memang terhitung sangat luas. Sebelum pemekaran

luas kabupaten ini adalah 119.749 Km2 (atau sekitar 11.994.900 ha.). Setelah pemekaran

pada tahun 2002, luas Kabupaten Merauke menyusut menjadi 45.071 Km2 atau sekitar

4,5 Juta Ha, yang terdiri dari lahan non-budi daya seluas sekitar 2 juta ha, dan lahan

budidaya sekitar 2,5 juta ha. Ini masih terhitung sangat luas jika dibandingkan dengan

luas kabupaten-kabupaten yang ada di Tanah Jawa. Menurut perhitungan, luas lahan

cadangan potensial sekitar 2,5 ha, yang terdiri dari 0,6 juta Ha (sekitar 24%) merupakan

lahan kering, dan sekitar 1,9 juta ha (sekitar 76%) merupakan lahan basah.7

5 Mansour Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, INSISTPress, Yogyakarta, 2003, halaman 54.

6 Mark Skousen, Teori-teori Ekonomi Modern : Sejarah Pemikiran Ekonomi, Prenada, Jakarta, 2006, halaman 21-22.

(5)

Adapun rancangan peruntukan pemanfaatan lahan dalam kawasan budidaya

adalah Hutan Produksi (HPK): 1.428.000 ha (57,31%), Hutan Produksi Terbatas (HPT):

860.953 ha (34.55%), dan Areal Penggunaan Lain (APL): 202.869 ha (8,14%). Dari

analisis potensi efektif lahan, Tata Ruang lahan yang potensial dikembangkan lebih jauh

adalah seluas 1,283.000 ha, dengan alokasi pemanfaatan untuk pangan 50%; tebu 30%;

dan sawit 20%.8

Marauke Integreted Food and Energy Estate (MIFEE) itu sendiri merupakan

pengembangan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pangan,

perkebunan, peternakan dan perikanan. Menurut data tahun 2013 pemerintah melibatkan

32 investor yang bergerak di bidang perkebunan, pertanian tanaman pangan, perikanan

darat, peternakan, konstruksi dan industri pengolahan kayu. Di antaranya adalah Medco

PT Bangun Tjipta Sarana, Artha Graha, Come-Xindo International, Digul Agro Lestari,

Buana Agro Tama, Wolo Agro Makmur, dan Binladen Group. Para investor diajak untuk

mengelola lahan seluas 1.282.833 ha yang berdasarkan rekomendasi Badan Penataan

Ruang Nasional (BKPRN) layak dikembangkan menjad kawasan pertanian pangan dan

bahan bakar hayati dalam skala luas.9

Dari hal di atas dapat kita lihat berbagai macam kepentingan investor yang ada

pada proyek ini, sehingga apa yang di idam-idamkan oleh pemerintah sangat bertolak

belakang dengan realitas yang terjadi. Proses liberalisasi sektor pangan kian terbuka lebar

pada sektor-sektor vital yang ada di Indonesia, meskipun ada beberapa pengusaha

nasional akantetapi mega proyek tersebut di dominasi oleh investor asing.

Apabila berjalan sesuai rencana, pada tahun 2030 MIFEE akan berkontribusi pada

penyediaan stok pangan per tahun sebagai berikut: padi 1,95 juta ton, jagung 2,02 juta

8 R. Yando Zakaria, MIFEE, Membunuh Papua Sekali lagi, diakses dari

https://www.academia.edu/3535969/MIFEE_Membunuh_Papua_Sekali_Lagi, pukul 21.12.

(6)

ton, kedelai 167.000 ton, ternak sapi 64.000 ton, gula 2,5 juta ton, and Crude Palm Oil

(CPO) 937.000 ton. PDRB Merauke diramalkan akan mencapai Rp 124,2 juta per

kapita/tahun. Dalam rangka mendukung proyek ini, pemerintah juga sudah membuat

payung hukum agar proyek tersebut dapat berjalan, produk hukum tersebut di antaranya,

Undang-Undang (UU) Nomor 27 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Peraturan

Pemerintah (PP) Nomor 40 tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan

dan Hak Pakai Atas Tanah, Peraturan Pemerintah (PP) 26/2008 tentang Rencana Tata

Ruang Nasional (RTRWN), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2008 tentang

Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Penggunaan Kawasan

Hutan untuk Kepentingan di Luar Kegiatan Kehutanan, Peraturan Pemerintah (PP) No

24/2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan, Peraturan Pemerintah (PP) No 10/2010

tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, Inpres No.5 tahun

2008 tentang Fokus Program Ekonomi tahun 2008-2009 dan Raperda Kabupaten

Merauke Tahun 2009 Tentang Merauke Integrated Food and Energy Estate.10

Ambisi pemerintah untuk mensukseskan proyek MIFEE kian nyata, dengan di

buatkannya payung hukum untuk para investor tersebut, membuat mereka sangat nyaman

untuk memegang kendali penuh atas mega proyek pangan tersebut. Di sini pemerintah

seakan-akan memberikan ribuan bahkan jutaan hektar tanah kepada pada

investor-investor, tidak peduli status lahannya bagaimana, entah itu tanah negara atau tanah

kehutanan, bila memungkinkan pemerintah dengan mudah melepas dan memberikannya

kepada para pengusaha pertanian tersebut. Tidak lagi memikirkan nasib para petani kecil

atau buruh tani yang sejak turun temurun hidup dalam pertanian namun sampai saat ini

tidak memiliki lahan.

10 R. Yando Zakaria, MIFEE, Membunuh Papua Sekali lagi, diakses dari

(7)

Proyek yang berbicara untuk tujuan mencapai ketahanan pangan nasional semakin

pantas untuk dipertanyakan kembali, pasalnya lokasi yang dipilih ialah Papua yang

mayoritas makanan pokok rakyat disana adalah sagu yang diperoleh dari hutan sagu. Kini

hutan-hutan tersebut ditebangi dan digantikan tanaman pangan industri seperti padi,

jagung, sawit dan tanaman yang berorientasi ekspor. Proyek MIFEE sama sekali tidak

sensitif dengan latar belakang sejarah dan realitas yang ada di masyarakat. Dalam hal ini

ancaman kelaparan dan kehilangan sumber bahan makanan pokok masyarakat Papua,

yang dirasa sebagai jalan keluar bagi pemerintah ternyata jusru sebaliknya malah

menjerumuskan rakatnya sendiri kedalam krisis pangan berkepanjangan.

Disamping dampak di atas, terdapat juga dampak-dampak lainnya seperti dampak

pada budaya, demografi, ekonomi, dan juga lingkungan setempat. Kehadiran proyek

secara langsung dan besar seperti MIFEE akan mempengaruhi tatanan demografi

setempat. Ditandai oleh hadirnya tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar, hal

tersebut menjadi mungkin karena warga setempat tidak mampu masuk ke dalam proyek.

Baik karena alasan yang bersifat kuantitatif, dimana tidak sebandingnya kebutuhan

tenaga kerja untuk proyek terhadap jumlah penduduk asal yang sedikit. Maupun karena

alasan-alasan yang bersifat kualitatif, yakni tidak sesuainya kemampuan penduduk

dengan spesifikasi kerja yang dibutuhkan. Parahnya, demografi yang mengalami

transformasi secara radikal ini membuat kian mendominasinya kelompok pendatang baik

dari jumlah maupun pengaruh.11

Secara lebih mendalam, masalah-masalah yang berkaitan dengan dengan tatanan

sosial dan budaya ini adalah menyangkut permasalahan orientasi sistem nilai, etos kerja,

daya adaptasi orang Papua asli (OPA) yang bermuara pada disorientasi sistem nilai, dan

Masalah pemenuhan hak-hak dasar. Masalah-masalah yang menonjol dalam hal tatanan

(8)

ekonomi menyangkut permasalahan yang menyangkut perubahan struktur agraria yang

bermuara pada perubahan kegiatan ekonomi utama. Perubahan pola kegiatan ekonomi

utama ini pada akhirnya juga akan mempengaruhi daya tahan dan kedaulatan pangan

masyarakat yang bersangkutan. Pemenuhan hak atas pangan pun akan terganggu.

Perubahan mata pencaharian hidup dari kegiatan ekonomi yang otonom menjadi

sekedar buruh dari sebuah sektor usaha yang dikendalikan oleh pihak lain akan membuat

kehidupan masyarakat setempat yang tadinya mandiri menjadi tergantung pada phak lain.

Proletarisasi masyarakat adat dan petani setempat pun tidak bisa dihindari. Demikian

pula, ‘depeasantisasi’, suatu proses memudarnya atau hilangnya kegiatan ekonomi tani

yang mandiri menjadi sekedar buruh, pada sektor usaha yang bersifat kapitalistis di

wilayah itu pun dimulai.12 Diiringi oleh rendahnya daya serap SDM orang Papua asli

(OPA) ke dalam proyek akan memperbesar marginalisasi ekonomi warga setempat. Pada tatanan lingkungan, alih fungsi lahan tentu akan segera berpengaruh pada

perubahan permukaan lahan, perubahan hidro-orologi, perubahan vegetasi, dan

seterusnya. Dalam keadaan tertentu perubahan lingkungan ini juga akan memperdalam

persoalan-persolan ekonomi serta sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat setempat.

Misalnya, penyempitan lahan akan mengurangi luasan ladang perburuan dan sekaligus

mengurangi habitat berbagai hewan buruan. Akibatnya asupan protein masyarakat pun

akan terus menurun. Penggantian mekanisme asupan protein melalui jalur jual-beli di

pasar belum tentu terjadi karena masyarakat belum tentu mampu menghasilkan uang

tunai yang cukup melalui keterlibatannya dalam sistem ekonomi ala MIFEE.13

Dampak selajutnya dari liberalisasi sektor pangan ini ialah berbagai persoalan

sosial budaya yang tidak bisa di hindari akibat dari proyek MIFEE ini, bahwa wilayah

12 R. Yando Zakaria, MIFEE, Membunuh Papua Sekali lagi, diakses dari

https://www.academia.edu/3535969/MIFEE_Membunuh_Papua_Sekali_Lagi, pukul 21.30.

(9)

Kabupaten Merauke termasuk ke dalam wilayah dengan Penduduk Tipe 2.14 Artinya,

penduduk di wilayah ini banyak yang tinggal di hulu-hulu sungai besar dan kecil yang

terdapat di bagian Selatan Papua. Mata pencarian utama adalah meramu sagu dan

berburu. Mereka juga adang-kadang mencari ikan di sungai. Mereka tidak tahu berkebun

dan tidak hidup menetap di desa-desa. Mereka juga memiliki tempat-tempat yang

dianggap keramat. Tempat-tempat keramat ini mereka anggap sebagai tempat asal-usul

nenek moyang mereka.

Yang mekhawatirkan juga dampaknya terhadap lingkungan di Papua. Bukan tidak

mungkin akan terjadi ledakan hama karena konsep food estate adalah konsep pertanian

monokultur berskala luas, serta memungkinkan ketidakproduktifan lahan proyek food

estate. Tidak dapat dipungkiri juga kerusakan alam berkepanjangan akibat pembukaan

lahan untuk proyek tersebut. Seperti yang terjadi di beberapa negara Afrika, yang

hutannya menjadi lahan tandus, hal ini juga akan berakibat pada keanekaragaman flora

dan fauna endemik di bumi Papua yang terancam punah.

E. Kesimpulan

(10)

Dari yang sudah saya paparkan di atas, bahwa liberalisasi tidak melulu menjadi sesuatu

hal yang dapat meningkatkan perekonomian negara. Suatu negara yang masih belum bisa

bersaing, tidak akan bisa menggempur liberalisme melalui pasar bebasnya. Merauke

Integreted Food and Energy Estate (MIFEE) sebagai salah satu contoh dari liberalisasi

sektor pangan di Indonesia. Menurut saya pemerintah Indonesia kurang cerdik dalam

melihat kondisi, baik budaya, dan geografis. Pasalnya dari 12 juta ha lahan yang telah

dibuat sejak pemerintahan SBY, hanya sekitar 600.000 yang dapat berfungsi, hal ini

dikarenakan kondisi geografis wilayah Merauke yang mengandalkan sawah tadah hujan.

Disamping itu juga lebih banyak dampak negatif dibandingkan dengan dampak

positifnya, pasalnya pemerintah itu sendiri tidak bisa menjanjikan proyek tersebut akan

berhasil, sedangkan proyek tersebut sudah dikuasai oleh penguasha-penguasaha asing

yang notabenenya memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Kembali yang menjadi

korban dari kapitalisme adalah rakyat Indonesia yang hanya menjadi buruh. Jika

pemerintah benar-benar memetakan wilayah yang menjadi konsentrasi pangan, mungkin

Referensi

Dokumen terkait

Ada beberapa perubahan dan rutinitas baru yang terjadi setelah menjalankan proses yang cukup panjang dalam perancangan Ruang Edukasi Sebagai Inisiasi Awal Pemberdayaan Kampung

[Online] Badan Pusat Statistik Kota Bontang, Desember 9, 2016.. Rata – Rata Suhu Udara dan Kelembaban Setiap Bulan di Kota

penangguhan Mesyuarat Agung Tahunan boleh digunakan untuk Mesyuarat Agung Khas, tetapi dengan syarat jika korum tidak mencukupi selepas setengah jam dari waktu

Kemampuan meregulasi emosi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pada pernikahan yang dijalani, sehingga dituntut kepada setiap pasangan suami istri

Menurut Surjomiharjdjo (1989) perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan di Negara- negara asia yang pernah mengalami prosess penjajahan, pada umumnya mencapai puncak pada

Nilai VMA seperti pada Gambar 5.a dapat dilihat campuran 0% RAP memiliki rongga yang lebih besar, campuran 20% RAP memiliki rongga yang paling kecil dibandingkan dengan

Dari penyajian pembahasan di atas, dapat kemukakan bahwa peranan pengawasan internal di kantor Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Wilayah Sungai Pamekasan memberikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, kualitas pelayanan dan kepatuhan pemeriksa dalam pelaksanaan prosedur pemeriksaan memberikan pengaruh signifikan terhadap