OPTIMALISASI PENGAWASAN TERHADAP HAKIM SEBAGAI PENEGAK HUKUM DAN KEADILAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM
PROGRESIF DI INDONESIA
LOMBA KARYA TULIS ILMIAH LAW ENFORCEMENT FAIR 2017
Disusun oleh:
Ely Nurmawati (NIM. 1111142814) Eka Amelia (NIM. 1111141806) Dwi Astuti Nurjanah (NIM. 1111140963)
HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Karya Tulis : OPTIMALISASI PENGAWASAN
TERHADAP HAKIM SEBAGAI PENEGAK
HUKUM DAN KEADILAN DALAM
PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF DI INDONESIA
2. Peserta:
a. Ketua Kelompok
Nama : Ely Nurmawati
NIM : 1111142814
Jurusan : Ilmu Hukum
b. Anggota Kelompok : 2 (dua)
Nama : Eka Amelia
NIM : 1111141806
Jurusan : Ilmu Hukum
Nama : Dwi Astuti Nurjanah
NIM : 1111140963
Jurusan : Ilmu Hukum
3. Dosen Pembimbing
Nama : Dr. Azmi Polem, S.Ag., S.H., M.H.
NIP : 197402282005011003
Serang, 20 Januari 2017 Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Dr. Azmi Polem, S.Ag.,S.H., M.H. NIP. 197402282005011003
Ketua Kelompok
Ely Nurmawati NIM. 1111142814
Mengetahui,
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, serta shalawat dan
salam dikirimkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah mengantarkan
manusia dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan di bawah
naungan dienul Islam. Searah dengan itu, karya tulis ilmiah ini berjudul “Optimalisasi Pengawasan Terhadap Hakim Sebagai Penegak Hukum dan Keadilan dalam Perspektif Hukum Progresif di Indonesia” dapat terselesaikan
dengan baik berkat pertolongan-Nya, meskipun masih terdapat
kekurangan-kekurangan di dalamnya, tetapi akhirnya dapat diselesaikan secara seksama.
Karya tulis sebagaimana tersebut di atas, dibuat dengan tujuan untuk
memberi jawaban terhadap permasalahan isu-isu hukum terkait dengan
pengoptimalan pengawasan terhadap hakim. Maka dari itu, diperlukan
kajian-kajian dan telaahan mendalam, terutama berkenaan dengan perlunya pengawasan
terhadap hakim pada peradilan di Indonesia. Di samping itu juga diperlukan
kajian mendalam mengenai hal-hal yang dapat dilakukan untuk pengoptimalan
pengawasan terhadap hakim di Indonesia.
Atas rangkaian tersebut di atas, sudikiranya karya tulis ilmiah ini dapat
menambah wawasan keilmuwan bagi diri penulis dan bagi pembacanya, juga
diharapkan dapat menjadi acuan dan bahan bagi pemecahan masalah hukum
berkenaan dengan pengawasan terhadap hakim.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
LEMBAR PENGESAHAN...ii
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...iv
ABSTRAKSI...v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... ...1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penulisan ... 3
D. Manfaat Penulisan ... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hukum Progresif ... 5
B. Hakim Sebagai Penegak Hukum dan Keadilan ... 6
C. Pengawasan Terhadap Hakim ... 8
BAB III METODOLOGI PENULISAN A. Jenis penelitian ... 12
B. Metode Penelitian ... 12
C. Sumber Data dan Bahan Hukum ... 12
D. Metode Pengumpulan Data ... 14
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 14
BAB IV PEMBAHASAN A. Perlunya Pengawasan Terhadap Hakim Sebagai Penegak Hukum dan Keadilan pada Peradilan di Indonesia... 15
B. Pengawasan Terhadap Hakim Sebagai Penegak Hukum dan Keadilan dalam Persektif Hukum Progresif di Indonesia ... 25
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 32
B. Saran ... 32
OPTIMALISASI PENGAWASAN TERHADAP HAKIM SEBAGAI PENEGAK HUKUM DAN KEADILAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM
PROGRESIF DI INDONESIA Ely Nurmawati, Eka Amelia, Dwi Astuti Nurjanah
ABSTRAK
Secara normatif, amandemen ketiga UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3) meneُaskan bahwa “Neُara Indonesia adalah neُara hukum”. Ketentuan ini menunjukkan bahwa negara Indonesia bukanlah negara yang didasarkan pada kekuasaan semata, tetapi negara yang dilaksanakan berdasarkan atas hukum. Prinsip penting dalam negara hukum adalah adanya jaminan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak luar untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan kepastian dan keadilan hukum yang mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. Namun dalam konteks supremasi hukum, pengawasan merupakan salah satu unsur esensial dalam mewujudkan pemerintah yang bersih, sehingga siapapun aparatur penegak hukum tidak boleh menolak untuk diawasi termasuk hakim. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 menyebutkan bahwa Kekuasaan kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, namun dalam ketentuan UUD 1945 kedudukan Komisi Yudisial dalam lingkup kekuasaan kehakiman berada dengan kewenangan (authority/gezag) bukan dengan kekuasaan (Power/macht). Hakim disebut sebaُai “wakil Tuhan di dunia” dikarenakan kewenanُannya yanُ sanُat besar dalam hal menentukan hak dan kewajiban, nasib orang, bahkan nyawa orang. Hakim sebagai profesi yang mulia, terhormat, yang hanya layak, sah, dan absah diberikan kepada mereka yang memiliki integritas serta merupakan profesi yang tidak boleh timpang, itu sebabnya hakim tidak dapat dipegang oleh sembarang orang. Untuk itulah, perlu adanya pengawasan sebagai upaya preventif
untuk mencegah terjadinya pelanggaran kode etik bahkan kejahatan jabatan. Namun di Indonesia saat ini kita sepertinya terpaksa harus mengakui bahwa masyarakat tidak lagi memiliki pandangan yang ideal terhadap hakim. Hampir dimana-mana dapat dijumpai kerendahan budi makin merajalela, yang semakin menyengsarakan masyarakat banyak. Bukan merupakan hal yang tabu lagi, dunia peradilan dijadikan bahan produksi penghasil uang oleh hakim. Hal ini tentu sangat sulit dirubah hanya dengan undang-undang, karena undang-undang hanya sebagai bagian dari upaya perubahan. Tidak hanya terbatas pada kebijakan hakim sebagai profesi namun juga pada hakim sebagai individu. Untuk itu, perlu adanya perbaikan etika, moral, dan teologal dalam diri seorang hakim. Penulisan karya tulis ilmiah menggunakan metode normatif-empiris dengan bentuk kualitatif, menggunakan pendekatan hukum historis, hukum sinkronisasi, dan hukum eksplanasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis yang bersifat deduktif. Karya tulis ilmiah ini merupakan sebuah karya tulis yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara normatif, amandemen ketiga UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3) meneُaskan bahwa “Neُara Indonesia adalah neُara hukum”. Ketentuan neُara hukum ini menunjukkan bahwa negara Indonesia bukanlah negara yang
didasarkan pada kekuasaan semata (machtsstaat), tetapi negara yang dilaksanakan
berdasarkan atas hukum (rechtsstaat). Sebutan lain untuk negara hukum yang berdasar pada kedaulatan hukum adalah “rule of law”, yanُ mana adanya unsur equality before the law, supremacy of law, dan hak-hak asasi manusia yang tidak
bersumber pada undang-undang. Secara formal, istilah negara hukum dapat
dipersamakan dengan rechstaat ataupun rule of law.1 Prinsip penting dalam
negara hukum adalah adanya jaminan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman
yang bebas dari campur tangan pihak luar (extrayudisial) untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan kepastian hukum dan keadilan
hukum yang mampu memberikan perlindungan (advokasi) kepada masyarakat.
Sejalan dengan semangat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, maka prinsip kekuasaan kehakiman di Indonesia berdasarkanPasal 1
Angka 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara
Hukum Republik Indonesia; dan Mahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan
kehakiman sebagaimana dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945 harus bebas dari segala bentuk campur tangan, kecuali yang
secara tegas diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945. Namun dalam konteks supremasi hukum, pengawasan merupakan
1 Muhammad Tahir Azhary, 2012, Beberapa Aspek Hukum Tata Negara, Hukum Pidana,
salah satu unsur esensial dalam mewujudkan pemerintah yang bersih, sehingga
siapa pun aparatur penegak hukum tidak boleh menolak untuk diawasi termasuk
hakim. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 menegaskan bahwa Kekuasaan
kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, namun
dalam ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
kedudukan Komisi Yudisial dalam lingkup kekuasaan kehakiman berada dengan
kewenangan (authority/gezag) bukan dengan kekuasaan (Power/macht).
Hakim disebut sebaُai “wakil Tuhan di dunia” dikarenakan kewenanُannya
yang sangat besar, seperti dalam hal menentukan hak dan kewajiban, nasib orang,
dan bahkan dalam menentukan nyawa orang. Hakim sebagai profesi yang mulia,
terhormat, yang hanya layak, sah, dan absah diberikan kepada mereka yang
memiliki integritas dan berkompetensi. Integritas yakni mutu, sifat atau keadaan
yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan
kemampuanyang memancarkan keweibaawaan; kejujuran.2 Kompetensi adalah
kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu.3 Sehingga
dapat dikatakan bahwa integritas adalah pribadi yang integral atau utuh, seorang
yang bermoral dan berkarakter, sedangkan orang yang berkompetensi dalam hal
ini meliputi knowledge, intellect, dan skill. Hakim juga merupakan profesi yang
tidak boleh timpang dan tidak diperbolehkan kepada orang yang tidak amanah,
itu sebabnya hakim tidak dapat dipegang oleh sembarang orang. Untuk itulah,
perlu adanya pengawasan sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya
pelanggaran terhadap kode etik bahkan kejahatan jabatan oleh aparatur penegak
hukum, khususnya hakim. Aparatur penegak hukum sebagai penguasa yang
memiliki wewenang dalam penegakan hukum harus profesional yang beretika.
Pentingnya penegakan kode etik atau pedoman perilaku bagi para pejabat publik
untuk mencegah terjadinya korupsi, termasuk oleh hakim dalam bentuk korupsi
peradilan (Judicial Corruption).4 Jadi, penegakan hukum akan sangat mudah
dicapai dan bahkan berhasil apabila penegakan kode etik ditegakkan.
2 Kamus Besar Bahasa Indonesia 3 Ibid.
4 Dalam United Nation Convention Against Corruption (UNCAC, 2003) yang telah
Namun, di Indonesia saat ini kita sepertinya terpaksa harus mengakui bahwa
masyarakat tidak lagi memiliki pandangan yang ideal terhadap aparatur penegak
hukum, khususnya hakim. Kerendahan budi hakim makin merajalela, yang
semakin menyengsarakan masyarakat. Hal ini dapat terlihat pada tahun 2016
(sampai 31 Agustus 2016) dari 1092 laporan yang masuk, hanya 38 laporan yang
terbukti melanggar Kode Etik Pedoman dan Perilaku Hakim.5 Bukan merupakan
hal yang tabu lagi, dunia peradilan dijadikan sebagai bahan produksi penghasil
uang oleh hakim. Hal ini tentu sangat sulit untuk dirubah hanya dengan
undang-undang, karena undang-undang hanya sebagai bagian dari upaya perubahan.
Hukum yang baik menurut Lawrence Meier Friedman harus selalu memuat
unsur-unsur sistem hukum, yaitu struktur hukum (legal structure), subtansi
hukum (legal subtance) dan budaya hukum (legal culture).6 Ketiga hal tersebut
saling berkaitan satu sama lain dalam upaya perubahan menuju hukum progresif.
Oleh karena itu penulisan karya tulis ilmiah ini berjudul “Optimalisasi
Pengawasan terhadap Hakim Sebagai Penegak Hukum dan Keadilan dalam
Perspektif Hukum Progresif di Indonesia”.
B. Identifikasi Masalah
Mengingat cukup luasnya pembahasan mengenai pengawasan terhadap
hakim, maka untuk memberi ruang lingkup, permasalahan dibatasi sebagai
berikut:
1. Apa perlunya pengawasan terhadap hakim sebagai penegak hukum dan
keadilan pada peradilan di Indonesia?
2. Bagaimana pengawasan terhadap hakim dalam perspektif hukum progresif
di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan yang ingin dicapai melalui karya tulis ilmiah ini adalah
untuk mengetahui dan mengkaji:
5 M. Purwadi, 2016, ‘Irisan Perilaku Hakim denُan Teknis Yudisial’, Majalah Komisi
Yudisial Media Informasi Hukum dan Peradilan, Edisi September-Oktober, Hal. 7.
6 Yopi Gunawan, Kristian, 2015, Perkembangan Konsep Negara Hukum dan Negara
1. Perlunya pengawasan terhadap hakim sebagai penegak hukum dan keadilan
pada peradilan di Indonesia; dan
2. Pengawasan terhadap hakim dalam perspektif hukum progresif di Indonesia.
D. Manfaat Penulisan
Selain untuk mendalami dan menambah wawasan keilmuan bagi penulis,
penulisan ini diharapkan secara teoritis dapat mengembangkan ilmu pengetahuan
hukum berkenaan dengan pengawasan terhadap hakim sebagai penegak hukum
dan keadilan. Sedangkan secara praktis diharapkan dapat memberi acuan dan
bahan bagi pemecahan masalah hukum berkenaan dengan pengawasan terhadap
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hukum Progresif
Di dalam hukum progresif terkandung moralitas kemanusiaan yang sangat
kuat. Jika etika atau moral manusia telah luntur, maka penegakan hukum tidak
tercapai, sehingga membangun masyarakat untuk sejahtera dan kebahagiaan
manusia tidak akan terwujud. Pembangunan pondasi dari kesadaran mental ini
adalah dengan perbaikan akhlak, pembinaan moral atau pembinaan karakter diri
masyarakat sosial yang bermoral tinggi. Sehingga dapat dibangun masyarakat
yang damai sejahtera, adil dan makmur.
Terdapat empat pilar penting dalam konsep negara hukum menurut F.J. Stahl, yaitu:7
adanya pengakuan hak-hak asasi manusia (grondrechten), pemisahan kekuasaan (schediding van machten), pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan (wetmatigeheid van bestuur), dan peradilan tata usaha negara (administrative rechtspraak).
Hukum yang baik menurut Lawrence Meier Friedman harus selalu memuat
unsur-unsur sistem hukum, yaitu struktur hukum (legal structure), subtansi
hukum (legal subtance) dan budaya hukum (legal culture).8
Unsur-unsur hukum tersebut saling berkaitan satu sama lain. Pertama,
struktur hukum (Legal Structure) merupakan rangka atau kerangkanya, bagian
yang tetap bertahan, bagian yang memberi semacam bentuk dan batasan terhadap
keseluruhan.9 Jadi, struktur hukum dapat dikatakan sebagai pondasi terbentuknya
suatu sistem hukum. Namun tidak dapat serta merta hanya dengan struktur
hukum, sehingga perlu adanya unsur elemen lainnya, yakni substansi hukum dan
budaya hukum. Kedua, Substansi hukum (Legal Substance) adalah sistem yang
mepunyai aturan-aturan hukum atau norma-norma untuk mengatur elemen-elemen
7 Darmoko Yuti Witanto dan Arya Putra Negara Kutawaringin, 2013, Diskresi Hakim
Sebuah Instrumen Menegakkan Keadilan Substantif dalam Perkara -Perkara Pidana, Alfabeta, Bandung, Hal. 1.
8 Yopi Gunawan, Op.Cit., Hal. 1.
9 Jaenal Aripin, 2012, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia,
sistem hukum, yang bersumber pada keabsahan aturan-aturan yang lebih tinggi.10
Jadi, substansi hukum merupakan sebuah sistem dalam struktur hukum yang mana
berfungsi sebagai pengatur elemen-elemen sistem hukum yang saling
berhubungan dan besumber pada keabsahan aturan-aturan yang lebih tinggi.
Ketiga, budaya hukum (Legal Culture) merupakan suasana pikiran sosial dan
kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari atau
disalahgunakan.11 Dapat dikatakan, budaya hukum merupakan elemen terpenting
dalam unsur-unsur hukum. Hal ini dikarenakan hubungannya dengan opini-opini,
kebiasaan-kebiasaan, cara berpikir dan cara bertindak baik dari penegak hukum
maupun dari organ masyarakat yang mempengaruhi keberlakuan hukum
selanjutnya.
B. Hakim Sebagai Penegak Hukum dan Keadilan
Hakikat tugas pokok hakim adalah menerima, memeriksa, mengadili,
memutuskan, dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Tugas
dan kewajiban hakim terbagi baik secara normatif maupun secara konkret. Secara
normatif ditentukan dalam peraturan perundangan, dalam hal ini
undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Secara konkret,
dilakukan melalui tiga tindakan secara bertahap, yaitu:
a. Mengonstatir yaitu menetapkan atau merumuskan peristiwa konkret. b. Mengualifisir yaitu menetapkan atau merumuskan peristiwa hukumnya. c. Mengkonstituir yaitu hakim menetapkan hukumnya dan memberi
keadilan kepada para pihak yang bersangkutan. 12
Hakim dalam tugasnya harus mengikuti ilmu pengetahuan, hakim harus
mengikuti nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. Karena hakikat
masyarakat meminta ke pengadilan adalah keadilan. Konsep keadilan secara
umum yang tumbuh dalam masyarakat adalah keadilan menurut hukum dan
keadilan berasal dari hukum.13 Keadilan menurut hukum merupakan keadilan
yang diatur oleh hukum (Legal Justice). Sedangkan, keadilan yang berasal dari
10 Ibid., Hal. 118.
11 Ibid., Hal. 119.
12 Wildan Suyuthi Mustofa, 2013, Kode Etik Hakim Edisi Kedua, Kencana, Jakarta,
Hal.107.
13 H. P. Panggabean, 2014, Penerapan Teori Hukum Dalam Sistem Peradilan Indonesia ,
hukum hanya berfokus pada perilaku-perilaku yang bersifat impersonal yang
2. Sepatutnya; tidak sewenang-wenang, misalnya: mengemukakan tuntutan yang adil; masyarakat adil, masyarakat yang sekalian anggotanya mendapatkan perlakuan (jaminan dan sebagainya) yang sama. 14
Plato merumuskan bahwa konsep keadilan adalah keunggulan yang bersifat
ganjil yang berasal dari pikiran, sedangkan ketidakadilan adalah kekurangan.
Plato berusaha menyeimbangkan antara keadilan dengan hukum kosmis.15
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan tidak dapat dipisahkan dari kebajikan.
Dia juga membagi teori keadilan menjadi 3 (tiga) yaitu:16
a. Keadilan umum dan khusus (universal and particular justice)
Keadilan umum adalah keadilan yang muncul dalam hubungan sesama manusia.
Keadilan khusus adalah bagian dari keadilan umum yang lebih mengkhususkan bahwa menjalin hubungan sesama manusia untuk menghindari tindakan saling merugikan.
b. Keadilan distributif dan korektif (distributive and rectefictory jusctice) Keadilan distributif adalah keadilan yang ditentukan oleh pembuat undang-undang.
Keadilan korektif adalah keadilan yang menjamin, mengawasi dan memelihara distribusi ini melawan serangan-serangan ilegal.
c. Keadilan politik
Keadilan politik lebih berfokus pada konstitusi dan aturan keadilan. Aristoteles menggambarkan bahwa konstitusi adalah suatu lembaga negara dan penerapan hukum itu sendiri tidak selalu sesuai dengan prinsip-prinsip konstitusi. Semua itu harus disesuaikan tugas dan wewenang peradilan (rechtpraakwetenschap).
Beberapa ayat Al-Quran yang memerintahkan untuk menegakkan keadilan antara
lain,
۞ ّ رم أيا ع ل ب س ح ْا ء تي يذٰىب رق ل ٰى ني نع ء ش حف لا ر ن لا ۚ ي غب لا م ظعي م عل ركذت
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
14 Suhrawadi K. Lubis, 2012, Cet. Ke-6, Etika Profesi Hukum. Sinar Grafika, Jakarta, Hal.
49.
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu
dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)
ۗ ّ مكرم أي ا د ت ت ن م ْ ٰىل ه ا مت ح ن يب س نل ا حتل ع ل ب ۚ ّ عن م ظعي هب ۞ ّ ك ًعي سا ًريصب
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58).
ر ق selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan
bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).
Berdasarkan hal demikian, bahwa keadilan merupakan perintah Allah.
Keadilan secara umum dapat bersumber dan berasal dari hukum. Sehingga, harus
ada suatu hal yang dijadikan sebagai pedoman terhadap nilai-nilai keadilan.
Dalam hal ini hakim selain sebagai penegak hukum juga sebagai penegak
keadilan mempunyai peranan yang sangat penting demi tegaknya keadilan sesuai
marwah hukum.
C. Pengawasan Terhadap Hakim
Berdasarkan Pasal 24 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa, kekuasaan kehakiman merupakan
kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan; dan kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah
Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya dalam
militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah
Konstitusi.
Dalam konteks supremasi hukum, pengawasan merupakan salah satu unsur
esensial dalam mewujudkan pemerintah yang bersih, sehingga siapa pun aparatur
penegak hukum tidak boleh menolak untuk diawasi termasuk hakim. Tujuan
pengawasan adalah untuk mengetahui pelaksanaan ketetapan dan untuk
mengetahui kesulitan-kesulitan yang dijumpai oleh para pelaksana agar kemudian
diambil langkah perbaikan.17 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009
menegaskan bahwa Kekuasaan kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan
Mahkamah Konstitusi, namun dalam ketentuan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945 kedudukan Komisi Yudisial dalam lingkup
kekuasaan kehakiman berada dengan kewenangan (authority/gezag) bukan
dengan kekuasaan (Power/macht).
Pasal 24A ayat (1) menegaskan bahwa Mahkamah Agung berwenang
mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah
undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya
yang diberikan oleh undang-undang. Pasal 24B ayat (4) menegaskan bahwa
susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan
undang-undang. Pengertian Mahkamah Agung dalam konsep pembangunan hukum
nasional dapat dibagi dalam tiga aspek, yaitu:18
a. Penerapan peranan bersifat yuridis konstitusional yang mengacu pada “rechts idee” dan nilai-nilai hukum global yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.
b. Penerapan peranan bersifat yuridis normatif yang mengacu pada sarana penegakan hukum berdasar hukum positif Indonesia.
c. Penerapan peranan bersifat yuridis operasional yang mengacu pada hukum acara, Buku Petunjuk Teknis Mahkamah Agung, dan Yurisprudensi.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah
memperkenalkan suatu lembaga baru yang berkaitan dengan penyelenggaraan
kekuasaan kehakiman yaitu Komisi Yudisial, yang berdasarkan Pasal 24B ayat 1
bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan
17 Idul Rishan, 2013, Komisi Yudisial: Suatu Upaya Mewujudkan Wibawa Peradilan, Genta
Press, Yogyakarta, Hal. 70.
memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,
keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Pasal 24B ayat (4) juga menegaskan
bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan
undang-undang. Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tertinggi dapat
didampingi oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga penunjang (auxiliary state
commission).19 Dengan demikian, dalam sistem dan mekanisme
penyelenggaranan kekuasaan kehakiman Republik Indonesia, Komisi Yudisial
berfungsi sebagai perekrut Hakim Agung dan pengawas kode etik hakim.
Komisi Yudisial merupakan institusi pengawasan terhadap hakim menurut
Undang-Undang Dasar, baik Hakim Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi
maupun Hakim Agung. Latar belakang dibentuknya Komisi Yudisial dalam
struktur kekuasaan kehakiman di Indonesia, sebagai berikut: 20
a. Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum seluas-luasnya dan bukan hanya
monitoring internalnya saja.
b. Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah dan kekuasaan kehakiman yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh keuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah. c. Tingkat efisiensi dan efektifitas kekuasaaan kehakiman akan semakin
tinggi dalam banyak hal, baik yang menyangkut rekrutmen maupun
monitoring hakim agung dan pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman.
d. Terjadinya konsistensi putusan lembaga peradilan, karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang tepat dari sebuah lembaga khusus (komisi yudisial).
e. Kemandirian kekuasaan kehakiman dapat terus terjaga, karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya komisi yudisial yang bukan merupakan lembaga politik, sehingga diasumsikan tidak memiliki kepentingan politik.
Selanjutnya pada Pasal 20 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang
Komisi Yudisial menyatakan:
(1) Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim, Komisi Yudisial mempunyai tugas:
a. Melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perilaku hakim;
b. Menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan pelanggaran
kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim;
c. Melakukan verifikasi, klarifikasi, dan investigasi terhadap laporan
dugaan pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim; dan
d. Mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang
perorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan
kehormatan dan keluhuran martabat hakim.
(2) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Komisi Yudisial juga
mempunyai tugas mengupayakan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan
hakim.
(3) Dalam rangka dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta
perilaku hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a Komisi
Yudisial dapat meminta bantuan kepada aparat penegak hukum untuk
melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan dalam hal adanya
dugaan pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim oleh
hakim.
(4) Aparat penegak hukum wajib menindaklanjuti permintaan Komisi Yudisial
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis
dan kontruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis, logis dan konsisten
untuk mencari kebenaran atau pengetahuan yang benar. Penulisan pada karya tulis
ilmiah ini merupakan penulisan dengan bentuk kualitatif yang bersifat deskriptif
dan cenderung menggunakan analisis.
B. Metode Penelitian
Penulisan pada karya tulis ilmiah ini menggunakan metode penelitian
normatif-empiris yang pada dasarnya merupakan penggabungan antara
pendekatan hukum normatif dengan adanya penambahan berbagai unsur empiris.
Metode penelitian normatif-empiris mengenai implementasi ketentuan hukum
normatif (undang-undang) dan aksinya ada setiap peristiwa hukum tertentu yang
terjadi dalam suatu masyarakat.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan hukum historis, hukum
sinkronisasi, dan hukum eksplanasi. Pendekatan historis bertujuan untuk mencari
aturan hukum dari waktu ke waktu dalam rangka memahami filosofi dari aturan
hukum tersebut dan mempelajari perkembangan aturan hukum tersebut.21
Pendekatan hukum sinkronisasi yaitu hukum berfungsi untuk memberi
sinkronisasi antara hubungan subjek hukum dengan objek hukum dalam norma
hukum. Dalam hal ini memberikan sinkronisasi antara hakim dengan pihak yang
berperkara. Pendekatan hukum eksplanasi yaitu menerangkan atau menjelaskan
kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa atau persoalan berkenaan
dengan pengawasan terhadap hakim.
21Dyah Ochtorina Susanti dan A’an Eَendi, 2014, Penelitian Hukum (Legal Research),
C. Sumber Data dan Bahan Hukum
Data pada penulisan karya tulis ilmiah ini diperoleh dari data sekunder,
yaitu data yang bersumber pada bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan
bahan hukum tersier.
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum utama dalam penelitian
hukum normatif, yang berupa peraturan perundang-undangan. Unsur pokok
dari peraturan undangan adalah bahwa peraturan
perundang-undangan bersifat atau mengikat secara umum.22
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang tidak mempunyai kekuatan
mengikat tetapi membahas atau menjelaskan topik terkait dengan penelitian
berupa:
• Buku-buku terkait namun tidak semua buku teks hukum dapat menjadi bahan hukum sekunder. Buku-buku teks hukum yang dapat
menjadi bahan hukum sekunder adalah buku-buku teks yang sesuai
dan relevan dengan topik permasalahan yang akan dibahas. Buku teks
hukum dapat berwujud cetakan (print out) maupun online (e-book).23
• Artikel dalam majalah atau media elektronik, berupa artikel yang berkaitan dengan judul dan tema dalam karya tulis ilmiah ini.
• Laporan penelitian atau jurnal hukum. Jurnal hukum menyediakan informasi hukum yang lebih update jika dibandingkan dengan buku
teks, karena jurnal hukum terbit secara rutin.24
• Makalah yang disajikan dalam pertemuan kuliah dan catatan kuliah.
• Bahan Hukum Internet untuk mempermudah mendapatkan bahan hukum. Melalui mesin pencari (search engine) pada internet, maka
peneliti akan dengan mudah menemukan bahan-bahan hukum (baik
bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder).
22 Ibid., Hal. 57.
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier merupakan bahan hukum yang memberikan
penjelasan dan petunjuk terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder. Bahan hukum tersier diperoleh dari kamus hukum, kamus bahasa
Indonesia, kamus bahasa inggris, dan sebagainya.
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang relevan dengan penulisan yang menggunakan
metode hukum normatif-empiris, maka studi kepustakaan (library research)
digunakan dalam teknik pengumpulan data. Data diperoleh melalui penelusuran
literatur kepustakaan, peraturan perundang-undangan, artikel dan jurnal hukum
yang relevan dengan penulisan karya tulis ilmiah ini, kemudian dikaitkan dengan
isu-isu permasalahan hukum dan dikaji untuk memecahkan suatu permasalahan
dan keresahan masyarakat berkaitan dengan penyimpangan etika dan perilaku
hakim.
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data terhadap karya tulis ilmiah ini dilakukan
dengan mendeskripsikan, mensistematiskan, dan memberi analisis searah dengan
bentuknya yaitu kualitatif, melalui tiga kegiatan analisis. Pertama, reduksi data
yaitu dengan melakukan penyeleksian terhadap data-data berupa penajaman data,
pengarahan data, pembuangan data yang tidak perlu, serta penggolongan data
yang akan dijadikan sebagai bahan untuk menarik kesimpulan. Kedua, penyajian
data berupa kumpulan informasi yang tersusun sehingga memberikan
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Ketiga,
verifikasi yaitu tindakan berupa penarikan kesimpulan dengan metode deduktif
BAB IV PEMBAHASAN
A. Perlunya Pengawasan Terhadap Hakim Sebagai Penegak Hukum dan Keadilan pada Peradilan di Indonesia
Indonesia tidak dapat dikatakan sebagai negara hukum apabila dalam
implementasi penegakan hukumnya masih carut marut. Harus diakui secara jujur
bahwa dalam kenyataannya, bobroknya dunia peradilan di Indonesia bukan
semata-mata dipengaruhi oleh politik dan kekuatan eksekutif; dan malah porsi
terbesar, lebih banyak disebabkan oleh persoalan moral.25 Saat ini kita sepertinya
terpaksa harus mengakui bahwa masyarakat tidak lagi memiliki pandangan yang
ideal terhadap hakim. Putusan hakim yang sering dianggap tidak adil,
kontroversial, bahkan tidak dapat dieksekusi secara hukum menjadi penyebab
ketidakpuasan bagi masyarakat.
Hal ini dibuktikan dengan adanya laporan pelanggaran etik hakim dari Januari sampai April 2016, dari laporan masyarakat 448 aduan, 58 laporan masuk ke dalam sidang pleno yudisial. 8 laporan terbukti pelanggaran etik:26
1. 5 hakim dijatuhi sanksi ringan (teguran lisan dan tertulis);
2. 2 hakim dijatuhi sanksi sebagai hakim non palu paling lama 3 bulan; 3. 1 hakim dijatuhi sanksi berat berupa pemberhentian dengan hormat.
Data di KY ada sekitar 50 persen atau lebih 100 perkara yang direkomendasikan KY ke MA namun tidak ditanggapi, yang benar-benar dieksekusi oleh MA hanya 12, dua direndahkan hukumannya, 66 ditolak karena dianggap masuk teknis yudisial, dan 28 kasus tidak jelas jawabannya”, ujar Sukma kepada Majalah Komisi Yudisial di Jakarta.27
Putusan merupakan mahkota dari profesi hakim, berbobot atau tidaknya
suatu putusan mencerminkan bagaimana integritas seorang hakim. Karena setiap
putusan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang berperkara;
masyarakat luas; ilmu pengetahuan; serta pada pengadilan selanjutnya yang lebih
25 Moh. Mahfud MD, 2012, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, PT
RajaGrafindo Persada, Depok, Hal. 102.
26 Uta/Pol/p-1, 8 Hakim terbukti Langgar Kode Etik, Website,
http://www.mediaindonesia.com, tanggal 18 Januari 2017 pukul 20:48 WIB.
27Ariane Meida, 2016, ‘Soal Teknis Yudisial dan Perilaku Hakim Harus Ada Kesepahaman
tinggi. Sehingga dalam menetapkan suatu keputusan harus mempunyai dasar ilmu
yang jelas.
Prancis Bacon dalam Essays Or Counsels Civil and Moral: of Judicature,
sebagaimana diterjemahkkan oleh Arief Sidharta, mengatakan sebagai berikut, 28
para hakim seyogianya lebih terpelajar (berkecindikiawan) daripada pandai bersilat lidah, lebih bermanfaat daripada sekedar bersikap wajar, dan lebih menghayati serta mengetahui pelbagai faktor relevan dari masalah yang dihadapinya daripada sekedar keyakinan. Di atas segalanya itu mereka wajib memiliki integritas dan bermartabat.
Dalam rangka mengawasi pelaksanaan tugas para hakim, perlu diatur
adanya dua jenis pengawasan, pertama, pengawasan internal dilakukan oleh
Badan Pengawas (Mahkamah Agung) dan Majelis Kehormatan (Mahkamah
Konstitusi). Pengawasan yang dilakukan oleh Badan Pengawas pada Mahkamah
Agung ini bersifat internal dan berfungsi sebagai pengawas terhadap pelaksanaan
tugas-tugas peradilan di semua tingkatan dan di seluruh wilayah hukum peradilan
Republik Indonesia. Begitu pula dengan Majelis Kehormatan Mahkamah
Konstitusi yang berwenang melakukan pengawasan internal. Kedua, Pengawasan
yang bersifat eksternal dilakukan oleh sebuah komisi independen yang dinamakan
Komisi Yudisial. Pasal 19A Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang
Komisi Yudisial menegaskan dalam rangka menjaga dan menegakkan
kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, Komisi Yudisial
berpedoman pada kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim yang ditetapkan
Komisi Yudisial bersama Mahkamah Agung.
Hakim Indonesia di lingkungan Mahkamah Agung diikat oleh kode etik dan
pedoman perilaku hakim yang tertuang dalam bentuk Keputusan Bersama Ketua
Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial Tahun 2009.29 Untuk melaksanakan
keputusan tersebut, maka perlu menetapkan peraturan bersama tentang panduaan
penegakan kode etik dan pedoman perilaku hakim. Terkait dengan Prinsip-prinsip
dasar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, diimplementasikan dalam 10
(sepuluh) aturan perilaku yang termuat dalam Pasal 4 Peraturan Bersama
Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Komisi Yudisial Republik Indonesia
28 Suhrawadi K. Lubis, Op. Cit., Hal. 27.
29 Jimly Asshidiqqie, 2014, Peradilan Etik dan Etika Konstitusi Perspektif Baru Tentang
‘Rule of Law and Rule of Ethics’ & Constitutional Law and Contitutional Ethics’, Sinar Grafika,
Nomor 2 Tahun 2012 tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman
Perilaku, yaitu:
1. Hakim Berperilaku adil, seorang Hakim dalam melaksanakan tugas atau
profesinya di peradilan memikul tanggung jawab menegakkan hukum yang
adil dan benar, harus selalu berlaku adil dengan tidak membeda-bedakan
orang yang diadili.
2. Berperilaku jujur, sikap pribadi seorang hakim yang tidak berpihak terhadap
setiap orang baik dalam persidangan maupun di luar persidangan.
3. Berperilaku arif dan bijaksana, perilaku arif dan bijaksana mendorong
terbentuknya pribadi hakim yang berwawasan luas, mempunyai tenggang
rasa yang tinggi, bersikap hati-hati, sabar serta santun.
4. Bersikap mandiri, sikap mandiri mendorong terbentuknya perilaku hakim
yang tangguh, berpegang teguh pada prinsip dan keyakinan atas kebenaran
sesuai tuntutan moral dan ketentuan hukum yang berlaku.
5. Berintegritas tinggi, integritas tinggi akan medorong terbentuknya pribadi
hakim yang berani menolak godaan dan segala bentuk intervensi, dengan
menerapkan tuntutan hati nurani untuk menegakkan kebenaran dan
keadilan, serta selalu berusaha untuk melakukan tugas dengan baik demi
mencapai tujuan terbaik.
6. Bertanggung jawab, hakim harus memiliki sifat kesediaan dan keberanian
untuk melaksanakan wewenang dan tugas sebaik-baiknya, serta memiliki
keberanian untuk menanggung segala akibat atas pelaksanaan tugas dan
wewenang yang diberikan.
7. Menjunjung tinggi harga diri, hakim harus menjaga kewibawaan serta
martabat lembaga peradilan dan profesi baik di dalam maupun di luar
pengadilan.
8. Berdisiplin tinggi, disiplin akan mendorong pribadi hakim yang tertib dalam
melaksanakan tugas, ikhlas dalam pengabdian, dan berusaha untuk menjadi
teladan dalam lingkungannya, serta tidak menyalahgunakan amanah yang
dipercayakan kepadanya.
9. Berperilaku rendah hati, hakim harus memiliki sikap realistis, mau
menumbuhkembangkan sikap tenggang rasa, serta mewujudkan
kesederhanaan, serta penuh rasa syukur dan ikhlas dalam melaksanakan
tugasnya.
10. Bersikap profesional, hakim harus menjadi pribadi yang senantiasa menjaga
dan mempertahankan mutu pekerjaan, serta berusaha untuk meningkatkan
pengetahuan dan kinerja, sehingga mutu hasil kerja, efektif, dan efisien
dapat tercapai.
Menanggapi terhadap keputusan bersama tersebut, jelaslah bahwa terbitnya
keputusan bersama kedua lembaga itu untuk memenuhi ketentuan Pasal 32A
juncto Pasal 81 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yaitu:
(1) Pengawasan internal atas tingkah laku hakim agung dilakukan oleh
Mahkamah Agung.
(2) Pengawasan eksternal atas perilaku hakim agung dilakukan oleh Komisi
Yudisial.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berpedoman
kepada kode etik dan pedoman perilaku hakim.
(4) Kode etik dan pedoman perilaku hakim sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) ditetapkan oleh Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung.
Pengawasan terhadap kekuasaan kehakiman salah satunya dilakukan
melalui pengawasan secara internal, namun yang sering terjadi adalah kurang
efektifnya pengawasan internal tersebut. Hal ini dikarenakan berbagai sebab yang
digambarkan sebagai berikut:30
a. Lemahnya integritas moral hakim dan pejabat lembaga penegak hukum. b. Putusan pengadilan yang kontroversial, dan banyaknya keputusan yang
bertentangan dengan masyarakat.
c. Belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan, memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses).
d. Semangat membela sesama korps (esprit the corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. e. Tidak terdapat kehendak yang kuat dari lembaga peradilan tertinggi
sampai dengan terendah untuk menindaklanjuti hasil pengawasan.
Untuk mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka tidak cukup
dilakukan hanya dengan pengawasan internal. Pengawasan internal di lingkungan
Mahkamah Agung apalagi terhadap hakim agung, sudah sangat tumpul sehingga
diperlukan pengawasan oleh lembaga pengawas fungsional-eksternal yang lebih
khusus, mandiri, dan independen. Oleh karena itulah pembentukan Komisi
Yudisial dimaksudkan. Komisi yudisial merupakan lembaga mandiri yang
mempunyai kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan wewenang
lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim.31 Jadi, fokus Komisi Yudisial adalah pada pengawasan
eksternal.
Pengawasan terhadap perilaku hakim dalam melaksanakan fungsi
pengawasan, Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial mempunyai peran penting
dalam mewujudkan peradilan yang fair dan akuntabel.32 Mahkamah Agung dan
Komisi Yudisial dalam melakukan pengawasan terhadap hakim mengindikasi
setiap perbuatan hakim yang termasuk kategori pelangaran kode etik atau bahkan
kejahatan jabatan. Hal ini termaktub dalam Pasal 18 Peraturan Bersama antara
Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Komisi Yudisial Republik Indonesia
Nomor 2 Tahun 2012 tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim sebagai berikut:
1. Pelanggaran ringan, meliputi pelanggaran atas:
a. Tidak berperilaku jujur, melakukan perbuatan yang tercela dan
perbuatan yang menimbulkan kesan tercela (Pasal 6 ayat (2) huruf a
dan b).
b. Melakukan tindakan tercela; dalam hubungan pribadinya yang
menimbulkan kecurigaan atau sikap keberpihakan; dan dalam
menjalankan tugas yudisialnya tidak lepas dari pengaruh keluarga dan
pihak ketiga lainnya (Pasal 7 ayat (2) huruf a, b, dan c).
c. Menggunakan wibawa pengadilan untuk kepentingan pribadi atau
pihak ketiga lainnya; memberi keterangan, pendapat, komentar, kritik
atau pembenaran secara terbuka atas perkara atau putusan pengadilan
31 Supriana dan Yusrizal, 2015, Mahkamah Syar’iyah dan Pengadilan Agama dalam Sistem
Peradilan Indonesia, PT Refika Aditama, Bandung, Hal. 6.
baik yang belum atau sudah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam
kondisi apapun, dikecualikan lain; dan terlibat dalam kegiatan yang
dapat menimbulkan persangkaan beralasan hakim mendukung partai
politik (Pasal 7 ayat (3) huruf c, g, h dan k).
d. Tidak menjalankan fungsi peradilan secara mandiri dan tidak bebas
dari pengaruh tekanan, ancaman atau bujukan, baik yang bersifat
langsung atau tidak langsung dari pihak manapun; tidak berperilaku
mandiri untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap badan
peradilan (Pasal 8 ayat (2) huruf b dan c).
e. Tidak membatasi hubungan yang akrab baik langsung atau tidak
langsung pada pihak yang sering berperkara di pengadilan tempat
hakim menjabat; tidak bersikap terbuka dan tidak memberikan
informasi mengenai kepentingan pribadi yang menunjukan tidak
adanya konflik kepentingan dalam menangani perkara; dan tidak
mengetahui urusan keuangan pribadinya maupun beban keuangan
lainnya dan tidak berupaya untuk mengetahui urusan keuangan para
anggota keluarganya (Pasal 9 ayat (4) huruf c, d, dan e).
f. Mengijinkan seseorang yang akan menimbulkan kesan bahwa orang
tersebut berada dalam posisi khusus yang dapat mempengaruhi hakim
secara tidak wajar dalam melaksanakan tugasnya; mengadili suatu
perkara yang salah satu pihaknya masih atau pernah melibatkan hakim
tersebut; dan mengijinkan pihak lain yang akan menimbulkan kesan
lain bahwa seseorang seakan-akan berada di posisi khusus yang akan
memperoleh keuntungan finansial; mengadili suatu perkara yang
mana hakim tersebut telah memiliki prasangka yang berkaitan dengan
salah satu pihak atau mengetahui fakta atau bukti yang berkaitan
dengan suatu perkara; dan menerima janji, hadiah, hibah, pemberian,
pinjaman, atau manfaat lainnya, khususnya yang bersifat rutin atau
terus menerus dari pemerintah daerah, walaupun pemberian tersebut
tidak mempengaruhi tugas-tugas yudisial (Pasal 9 ayat (5) huruf g, h,
g. Hakim bertindak sebagai arbiter dan mediator dalam kapasitas pribadi,
kecuali ditentukan lain dalam undang-undang; dan menjabat sebagai
eksekutor, administrator atau kuasa pribadi lainnya kecuali ditentukan
lain (Pasal 9 ayat (4) huruf d, e, dan f).
h. Tidak berperilaku rendah hati (Pasal 13 ayat (1), (2), (3), dan (4)).
2. Pelanggaran sedang, meliputi pelanggaran atas:
a. Memberikan kesan bahwa salah satu pihak berada dalam posisi yang
istimewa untuk mempengaruhi hakim yang bersangkutan; dan
berkomunikasi dengan pihak yang berperkara di luar persidangan,
dikecualikan dalam hal lain (Pasal 5 ayat (3) huruf a dan e).
b. Tidak melaporkan secara tertulis gratifikasi yang diterima kepada
KPK, Ketua muda pengawasan MA, dan Ketua KY paling lambat 30
hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima; dan
tidak menyerahkan laporan kekayaan kepada KPK sebelum, selama
dan setelah menjabat serta bersedia diperiksa kekayaannya sebelum,
selama, dan setelah menjabat (Pasal 6 ayat (2) huruf d dan e).
c. Tidak mencegah keluarga hakim dan menyuruh/mengijinkan pegawai
pengadilan atau pihak lain yang dibawah pengaruh petunjuk atau
kewenangan hakim yang bersangkutan, untuk meminta atau menerima
janji, hadiah, hibah, warisan, pemberian, penghargaan dan pinjaman,
atau fasilitas dari pihak lain (Pasal 6 ayat (3) huruf a dan b).
d. Mengijinkan tempat kediamannya oleh seorang anggota suatu profesi
untuk menerima klien atau menerima anggota-anggota lainnya dari
profesi tersebut; mengeluarkan pernyataan kepada masyarakat yang
dapat mempengaruhi, menghambat atau mengganggu berlangsungnya
proses pengadilan yang adil, independen, dan tidak memihak;
memberi keterangan atau pendapat mengenai subtansi suatu perkara di
luar proses persidangan pengadilan baik terhadap perkara yang
diperiksa atau diputusnya maupun perkara lain; dan secara terbuka
menyatakan dukungan terhadap salah satu partai politik (Pasal 7 ayat
e. Tidak menghindari hubungan baik langsung atau tidak langsung
dengan advokat dengan penuntut dan pihak-pihak suatu perkara yang
tengah diperiksa oleh hakim yang bersangkutan; dan tidak meminta
pertimbangan ketua apabila muncul keraguan bagi hakim mengenai
kewajiban mengundurkan diri, memeriksa dan mengadili suatu
perkara (Pasal 9 ayat (4) huruf b dan g).
f. Mengadili suatu perkara apabila memiliki konflik kepentingan, baik
karena hubungan pribadi dan kekeluargaan, atau hubungan-hubungan
lain yang beralasan (reasonable) patut diduga mengandung konflik
kepentingan; mengadili suatu perkara apabila hakim memiliki
hubungan pertemanan yang akrab dengan pihak yang berperkara,
penuntut, advokat yang menangani kasus tersebut; dan menggunakan
wibawa jabatan untuk mengejar keuntungan pribadi dalam hubungan
finansial (Pasal 9 ayat (5) huruf a, d dan j).
g. Tidak menganjurkan anggota keluarganya tidak ikut dalam kegiatan
yang dapat mengeksploitasi jabatan hakim tersebut (Pasal 11 ayat (3)
huruf b).
h. Bekerja dan menjalankan fungsi sebagai layaknya seorang advokat
kecuali jika hakim tersebut menjadi pihak di persidangan,
memberikan nasihat cuma-cuma kepada anggota keluarga atau teman
sesama hakim yang tengah menghadapi masalah hukum (Pasal 11 ayat
(4) huruf c).
3. Pelanggaran berat, meliputi pelanggaran atas:
a. Tidak melaksanakan tugas-tugas hukumnya dengan tidak
menghormati asas praduga tak bersalah dengan mengharapkan
imbalan; memihak baik didalam maupun diluar pengadilan serta tidak
menumbuhkan kepercayaan masyarakat pencari keadilan; tidak
menghindari hal-hal yang dapat mengakibatkan pencabutan haknya
untuk mengadili perkara yang bersangkutan; tidak meminta kepada
semua pihak yang terlibat dalam proses persidangan untuk
beritikad untuk menghukum, tidak memberikan kesempatan yang
sama (Pasal 5 ayat (2) huruf a, b, c, d, e dan f).
b. Menunjukkan rasa suka atau tidak suka keberpihakkan prasangka atau
pelecehan terhadap suatu ras, jenis kelamin, agama, atau dasar
kedekatan hubungan pencari keadilan atau pihak-pihak yang terlibat
baik melalui perkataan maupun tindakan; bersikap mengeluarkan
perkataan atau melakukan tindakan lain yang dapat menimbulkan
kesan memihak, berprasangka, mengancam, atau menyudutkan para
pihak; dan menyuruh atau mengijinkan pegawai pengadilan untuk
mempengaruhi, mengarahkan atau mengontrol jalannya sidang yang
menimbulkan perbedaan perlakuan (Pasal 5 ayat (3) huruf b, c, dan d).
c. Tidak berperilaku jujur dan tidak menghindari perbuatan tercela (Pasal
6 ayat (2) huruf a).
d. Mengadili perkara dimana anggota keluarganya mewakili atau sebagai
pihak; mempergunakan keterangan yang diperolehnya untuk tujuan
lain yang tidak terkait dengan tugas dan wewenangnya; dan menjadi
pengurus atau anggota dari partai politik (Pasal 7 ayat (3) huruf a, d,
dan i).
e. Tidak bebas dari hubungan yang tidak patut dengan lembaga eksekutif
maupun legislatif serta kelompok lain yang berpotensi kemandirian
(independensi) hakim dalam badan peradilan (Pasal 8 ayat (2) huruf
b).
f. Berperilaku tercela dan tidak mengundurkan diri untuk memeriksa dan
mengadili konflik kepentingan sebagaimana dalam Pasal 9 ayat (5)
huruf c dan d (Pasal 9 ayat (4) huruf a dan f).
g. Melakukan tawar menawar putusan, memperlambat pemeriksaan,
menunda eksekusi, atau menunjuk advokat tertentu dalam menangani
perkara kecuali ditentukan lain oleh undang-undang; mengadili suatu
perkara apabila memiliki hubungan pribadi dengan para pihak;
mengadili suatu perkara apabila pernah mengadili atau menjadi aparat
penegak hukum lain dalam perkara tersebut pada persidangan di
pernah menangani hal-hal yang berhubungan denan perkara atau
dengan para pihak yang akan diadili saat melaksanakan pekerjaan atau
profesi lain sebelum menjadi hakim; mengadili suatu perkara yang
salah satu pihaknya adalah parpol apabila hakim pernah atau masih
dalam perkara tersebut (Pasal 9 ayat (5) huruf b, c, e, f dan i).
h. Menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan
atau pihak lain; dan mengungkapkan atau menggunakan informasi
yang bersifat rahasia (Pasal 10 ayat (2) huruf a dan b).
i. Tidak menjaga kewibawaan serta martabat lembaga keadilan dan
profesi (Pasal 11 ayat (3) huruf a).
j. Menjadi advokat atau pekerjaan lain yang berhubungan dengan
perkara; bertindak sebagai arbiter; dan melakukan rangkap jabatan
(Pasal 11 ayat (4) huruf b, d, dan g).
(4) Pelanggaran terhadap perilaku disiplin (Pasal 12) dan sikap profesional
(Pasal 14) dapat diklasifikasikan pelanggaran ringan, sedang atau berat,
tergantung dari dampak yang ditimbulkannya.
Dalam hubungannya dengan kode etik hakim, sanksi diterapkan ketika
terjadi pelanggaran terhadap kode etik, Pasal 19 ayat (1), (2), (3), dan ayat (4)
menyatakan bahwa terdapat beberapa sanksi bagi hakim yang melanggar kode
etik diantaranya, berupa sanksi ringan terdiri dari teguran lisan dan/atau tertulis,
dan pernyataan tidak puas secara tertulis. Sanksi sedang terdiri dari penundaan
kenaikan gaji paling lama 1 (satu) tahun dan penundaan kenaikan pangkat paling
lama 1 (satu) tahun, penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala paling
lama 1 (satu) tahun, hakim nonpalu paling lama 8 (delapan) bulan, mutasi ke
pengadilan lain ke kelas yang lebih rendah dan pembatalan atau penangguhan
promosi. Sanksi berat terdiri dari pembebasan dari jabatan hakim nonpalu lebih
dari 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun, penurunan pangkat yang
setingkat lebih rendah paling lama 3 (tiga) tahun, pemberhentian tetap dengan hak
pensiun, dan pemberhentian tidak dengan terhormat.
Dalam hal terjadi penyimpangan atas kode etik yang dapat dikategorikan
sebagai perbuatan pidana, maka dalam hukum pidana positif Indonesia dapat
sebagai perbuatan yang melanggar hukum. Sebagaimana diatur dalam Pasal 420 ayat (1) ke-1. KUHP, “Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, seorang hakim yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui bahwa
itu diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang menjadi tugasnya.”
Walaupun hakim-hakim reformasi bersikukuh bahwa ketentuan mengenai
kejahatan jabatan sebagaimana dimuat dalam KUHP tidak dapat diterapkan pada
hakim, sejarah menunjukkan sebaliknya.33
Keterpurukan hukum di Indonesia lebih dikarenakan penyingkatan hukum
sebagai rule of law tanpa melihat sebagai rule of morality.34 Diharapkan hukum
harus sesuai dengan das sollen dan das sein mampu mengikuti perkembangan
zaman, mampu menjawab perubahan zaman dengan segala dasar di dalamnya,
serta mampu melayani masyarakat dengan menyandarkan pada aspek moralitas
dari sumber daya manusia aparatur penegak hukum itu sendiri.
Peraturan perundang-undangan selalu selangkah lebih maju, karena setiap
peraturan perundang-undangan yang dilahirkan selalu akan tertinggal oleh
dinamika sosial masyarakat. Undang-undang dibentuk dan dilahirkan mengikuti
kondisi hukum dan masyarakat pada saat itu. Ketika saat sebuah undang-undang
disahkan dan dinyatakan berlaku, maka dinamika hukum dan dinamika sosial
telah bergerak jauh meninggalkan kondisi pada saat itu. Sehingga, dalam
praktiknya banyak aturan yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sosial yang
ada, begitupun pada pengaturan pengawasan terhadap hakim.
B. Pengawasan Terhadap Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif di Indonesia
Progresif berasal dari kata progress yang berarti kemajuan.35 Untuk menuju
hukum progresif, tidak hanya didukung oleh peraturan perundangan-undangan
saja. Hal ini searah dengan teori efektivitas hukum menurut Lawrence Meier
Friedman bahwa hukum yang baik, harus selalu memuat unsur-unsur sistem
33 O.C. Kaligis, 2014, Cet. Ke-2, Kejahatan Jabatan dalam Sistem Peradilan Terpadu, PT
Alumni, Bandung, Hal. 53.
34A. Sukris Sarmadi, 2012, ‘Membebaskan Positivisme Hukum ke Ranah Hukum Proُresiَ
(Studi Pembacaan Teks Hukum baُi Peneُak Hukum)’, Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 12, No. 2, Hal. 335.
hukum, yaitu struktur hukum (legal structure), subtansi hukum (legal subtance)
dan budaya hukum (legal culture).36 Indonesia sebagai negara hukum harus
mampu dan bangkit dari keterpurukan hukum.
Di dalam hukum progresif, terkandung moralitas kemanusiaan yang sangat
kuat. Jika etika atau moral manusia telah luntur, maka penegakan hukum tidak
tercapai, sehingga membangun masyarakat untuk sejahtera dan kebahagiaan
manusia tidak akan terwujud. Pembangunan pondasi dari kesadaran mental ini
adalah dengan perbaikan etika, pembinaan moral, atau pembinaan karakter diri
seorang hakim sebagai individu menjadi hakim yang bermoral. Hakim masa
depan dalam konteks Indonesia sekarang yang kian kompleks dan akan datang
adalah hakim-hakim progresif, yaitu hakim-hakim yang memiliki kepekaan sosial
dalam melihat konteks dan selalu menakar teks-teks hukum normatif dengan
konteks dimana dan terhadap kasus apa yang sedang ia tangani.
Hakim-hakim progresif adalah hakim-hakim yang diharapkan menegakkan
hukum untuk mewujudkan keadilan substantif, tidak sekadar keadilan prosedural;
tidak sekadar menerapkan rechtsmatigheid tapi juga doelmatigheid. Tuntutan
kualitas hakim tidak hanya moralitas, intelektualias, tetapi juga keberpihakan.
Hakim sebagai salah satu yudisi activism dalam peranannya harus mempunyai
sikap yang dapat melindungi masyarakat, yang menjaga marwah hukum supaya
ditegakkan sebagaimana apa yang diharapkan. Hakim merupakan pekerjaan
ilmiah, artinya hakim harus mengembangkan pengetahuaanya, putusan berbobot
atau tidak tergantung pada pertimbangan hukumnya, sehingga hakim tidak
menggunakan putusan yang sama dengan kasus yang seolah-olah sama, karena
antara kasus mempunyai alasan yang berbeda.
Dalam konteks hukum positif, aturan baik-buruk atau benar-salah dapat
diukur dengan menempatkannya pada ketentuan peraturan perundang-undangan.37
Contohnya, seseorang yang kedapatan mencuri. Dalam aturan hukum postif,
mencuri itu dapat diganjar dengan aturan perundang-undangan. Akan tetapi,
mencuri dapat pula diganjar dengan hukuman yang bersifat etis yang dalam
36 Yopi Gunawan, Kristian, Op. Cit., Hal. 1.
37 Sukarno Aburaera, Muhadar, dan Maskun, 2013, Filsafat Hukum Teori dan Praktik,
ukuran moralitas perbuatan mencuri dianggap sebagai suatu perbuatan yang salah
dan buruk.
Keadilan adalah nilai dan keutamaan yang paling luhur, dan merupakan
unsur penting dari martabat dan harkat manusia.38 Keadilan merupakan kebutuhan
pokok rohaniah setiap orang dan merupakan perekat hubungan sosial dalam
bernegara. Pengadilan merupakan tiang utama dalam penegakan hukum dan
keadilan serta dalam proses pembangunan peradaban bangsa. Hakim sebagai
figure sentral dalam proses peradilan senantiasa dituntut untuk mengasah
kepekaan nurani, memelihara kecerdasan moral dan meningkatkan
profesionalisme dalam menegakkan hukum dan keadilan bagi masyarakat banyak.
Menurut Hart, bahwa adil dan tidak adil merupakan bentuk kritik moral yang lebih spesifik dari pada baik dan buruk, atau benar dan salah, terlihat jelas dari fakta bahwa kita mungkin secara logis mengklaim sebuah hukum adalah baik karena hukum itu adil, atau bahwa hukum itu buruk karena tidak adil, namun kita tidak bisa mengkalim bahwa hukum itu adil karena baik, atau tidak adil karena buruk.39
Putusan pengadilan yang adil menjadi puncak kearifan bagi penyelesaian
permasalahan hukum yang terjadi dalam kehidupan bernegara.40 Putusan pengadilan selalu diawali dengan ucapan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yanُ Maha Esa” yang mengandung tanggungjawab secara horizontal maupun secara vertikal. Horizontal berarti pertanggungjawaban kepada sesama manusia
dan vertikal berarti pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini
sebagaimana sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwiyatkan oleh Abu Daud yanُ berbunyi “Hakim itu ada tiُa ُolonُan, satu ُolonُan masuk surُa dan dua golongan masuk neraka. Adapun yang masuk surga adalah hakim yang
mengetahui/memahami kebenaran hukum dan ia memutus perkara berdasarkan
kebenaran itu. Adapun golongan hakim yang masuk neraka adalah hakim yang
mengetahui/memahami kebenaran hukum tetapi ia sengaja memutus perkara
secara menyimpang dari kebenaran itu, dan hakim yang memutus perkara atas
dasar kebodohan (ketidaktahuan)” (H.R. Abu Daud). Berdasarkan hal demikian,
38 Suhrawadi K. Lubis, Op. Cit., Hal. 9.
39 Petrus C. K. L. Bello, 2013, Hukum dan Moralitas: Tinjauan Filsafat Hukum, Erlangga,
Jakarta, Hal. 39.
40 Surat Keputusan ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia No.
Al-Qur’an telah meneُaskan bahwa, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk
berlaku adil...” (Q.S. An-Nahl: 90).
Demi tegaknya keadilan, hakim dalam memberikan putusan perlu adanya
pengawasan. Kata pengawasan berasal dari kata “awas” yanُ artinya antara lain “kontrol”.41 Kontrol dalam hal ini mempunyai dua padanan yaitu pengawasan dan pengendalian. Pada hakikatnya pengawasan merupakan suatu tindakan menilai
apakah suatu telah berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Dengan
pengawasan tersebut akan dapat ditemukan kesalahan-kesalahan yang akhirnya
kesalahan-kesalahan tersebut akan dapat diperbaiki dan yang terpenting jangan
sampai kesalahan tersebut terulang kembali. Pengawasan dalam arti sempit
merupakan segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan
yang sebenarnya tentang pelaksanaan tugas atau pekerjaan, apakah hal tersebut
telah sesuai ataukah belum sama sekali. Sedangkan pengendalian merupakan
sebuah usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pelaksanaan
tugas atau pekerjaan sesuai dengan yang semestinya.
Ungkapan Taverne yang sangat terkenal dalam teori hukum geef me geode rechters, geode rechter commissarisson, geode officeren van justitie en geode politie ambetenaren, en ik zal met een slecht wet boek van strafprocesrecht het geode bereiken (berikan kepada saya hakim-hakim yang baik, hakim-hakim komisaris yang baik, jaksa-jaksa yang baik, dan petugas-petugas polisi yang baik, dan walaupun saya dibekali dengan kitab undang-undang pidana yang buruk (namun) saya akan dapat melaksanakan tugas dengan baik.42
Hukum progresif diperlukan untuk membangkitkan hukum positif Indonesia
dari keterpurukannya terkait pengawasan terhadap apratur penegak hukum.
Hukum yang progresif mengajarkan bahwa hukum bukanlah raja, tetapi alat untuk
menjabarkan dasar kemanusiaan yang berfungsi memberikan rahmat kepada dunia
dan manusia. Karena hukum merupakan salah satu bagian dari upaya perubahan.
Untuk menuju ranah hukum progresif, hukum diprinsipkan dalam konsep sebagai
berikut: 43
1. Asumsi dasar hukum haruslah untuk manusia bukan untuk dirinya sendiri hukum itu diadakan.
41 Kamus Besar Bahasa Indonesia.
42Ridwan, ‘Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi’, Matakuliah Hukum Pidana Khusus,
Serang, 13 Oktober, 2015.
2. Hukum progresif tidak menerima hukum sebagai institusi yang mutlak serta final.
3. Hukum tidak boleh melepaskan dirinya dari tujuan sosialnya.
4. Hukum mengabdi kepada manusia, karenanya tidak boleh mengabaikan hati nurani manusia.
5. Hukum harus bermoral.
6. Hukum progresif merupakan koreksi terhadap kelemahan sistem hukum modern yang sarat dengan birokrasi serta ingin membebaskan diri dari dominasi suatu tipe hukum liberal.
7. Hukum harus selalu berada dalam proses untuk terus menjadi.
Pengawasan dalam perspektif hukum progresif lebih mengutamakan
pengaturan yang bermoral. Dalam hukum progresif terkandung moralitas
kemanusiaan yang sangat kuat. Jika etika atau moral aparatur penegak hukum
khususnya hakim telah luntur, maka akan sulit untuk membangun pribadi seorang
hakim yang berintegritas. Pembangunan pondasi kesadaran mental ini dengan
perbaikan akhlak, pembinaan moral atau pembinaan karakter diri supaya menjadi
hakim yang bersikap mulia dan bertingkah laku terpuji seperti digambarkan dalam “Panca Brata Hakim”.
Panca Brata Hakim44
Kartika Sifat percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Cakra Sifat mampu memusnahkan segala kebhatilan, kezaliman dan ketidakadilan.
Candra Sifat bijaksana dan berwibawa
Sari Berbudi luhur dan berkelakuan tidak tercela Tirta Jujur
Moral dalam bahasa Latin (Yunani), yaitu moralis mos, moris berarti adat,
istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, dan kelakuan. Atau berarti mores,
gambaran adat istiadat, kelakuan tabiat, watak, akhlak, dan cara hidup.45 Etika dan
moral keduanya saling berkaitan, etika membebani kita dengan kewajiban moral,
yang mana berbeda dengan kewajiban yang dibebankan dalam norma hukum.
Namun, berbeda dengan kewajiban dalam norma hukum, kewajiban moral ini
tidak mempunyai kekuatan mengikat untuk dipaksakan penerapannya, artinya
tidak menimbulkan akibat hukum. Norma moral bersifat otonom, bukan
44Ikatan Keluarga Hakim Indonesia (IKAHI), Panca Brata Hakim, Profil IKAHI,
http://ikahi.or.id/ Diakses pada 20 Januari 2017 Pukul 02.10 WIB.