1 A. Latar Belakang Masalah
Disiplin dipandang sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian perilaku dalam kehidupannya. Perilaku itu tercipta melalui proses binaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman.
1Berdasarkan pendapat tersebut, kita memahami bahwa disiplin merupakan sesuatu yang menyatu di dalam diri seseorang. Bahkan disiplin itu sesuatu yang menjadi bagian dalam hidup seseorang, yang muncul dalam pola tingkah lakunya sehari-hari. Disiplin terjadi dan terbentuk sebagai hasil dan dampak proses pembinaan cukup panjang yang dilakukan sejak dari dalam keluarga dan berlanjut dalam pendidikan di sekolah.
Dalam konteks pendidikan agama yang diajarkan di sekolah ada hal yang sangat berkaitan dengan disiplin. Menurut Hasan Langgulung, bahwa shalat fardhu lima waktu dalam waktu-waktu tertentu dapat membentuk disiplin yang kuat pada seseorang.
2Hal ini hampir sama yang diungkapkan oleh Zakiah Daradjat, bahwa shalat lima waktu merupakan latihan pembinaan disiplin pribadi.
3Ketaatan melaksanakan shalat pada waktunya, menumbuhkan kebiasaan untuk secara teratur dan terus menerus melaksanakannya pada waktu yeng ditentukan.
Dalam kaitan di atas, penerapan disiplin dalam kehidupan sehari-hari berawal dari disiplin pribadi dan disiplin pribadi dipengaruhi oleh dua faktor,
1
D. Soemarmo, Pedoman Pelaksanaan Disiplin Nasional dan Tata Tertib Sekolah 1998, (Jakarta: CV. Mini Jaya Abadi, 1997), hlm. 20.
2
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi,Filsafat dan
Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986), hlm. 401.3
Zakiah Daradjat, Shalat Menjadikan Hidup Bermakna, (Jakarta: Ruhama, 1996), hlm. 37.
yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar.
4Faktor dari dalam yang melibatkan diri sendiri berarti disiplin yang timbul adalah karena kesadaran.
5Disiplin akan membuat seseorang tahu dan dapat membedakan hal-hal yang seharusnya dilakukan, yang wajib dilakukan, yang boleh dilakukan, yang tak sepatutnya dilakukan.
6Memahami pendapat ini, bagi seorang yang taat beribadah, yang menempatkan disiplin dalam setiap sikap dan tingkah lakunya, begitu waktu shalat tiba, ia akan segera tergugah hatinya untuk melaksanakan shalat, karena dalam Islam melaksanakn shalat merupakan suatu perintah yang seharusnya dilakukan dan wajib dilakukan oleh muslim mukalaf lima waktu dalam sehari semalam. Jadi, melalui berdisiplin seseorang akan terdorong untuk melaksanakan shalat pada waktu-waktu yang sudah ditentukan.
Sehubungan dengan itu, Sudarsono berpendapat, bahwa waktu shalat yang fadhilah (utama) adalah shalat pada awal waktunya.
7Islam telah mengajarkan shalat pada awal waktu merupakan amalan yang paling utama.
Seperti yang telah ditegaskan dalam Hadits Nabi saw.berikut ini:
!" # $ % & ' ( )
$* !* ( *+ ,' ,-.
) , / 0 1
$* !* ( *+
0 2/3 2 4 &
0 2 4 56
7"/
8
9 : ;<
8
=
Abu Ammar al-Khusaini bin Khuraisin telah menceritakan kepada kami, Fadlil bin Musa telah menceritakan kepada kami, dari Abdillah bin Umar al-Umariyyi, dari Qasim bin Ghonam dari bibinya yaitu Umi Farwah, dan ia adalah termasuk orang yang telah bai’at kepada Nabi, ia berkata : bahwa Nabi Saw telah
4
D. Soemarmo, op.cit., hlm. 32.
5
Syaiful Bahri Djamarah, Rahasia Sukses Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 13.
6
D. Soemarmo, loc. cit.
7
Soedarsono, Sepuluh Aspek Agama Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm. 34.
8
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Tsaurah, Jami’ush Shahih (Sunan Turmudzi), juz. I,
(Beirut-Libanon: Darul Kutub al Ilmiah, t.th.), hlm. 320.
ditanya : amalan apakah yang paling utama? Jawab Nabi: “shalat pada awal waktunya.” (HR. Turmudzi).
Kebiasaan shalat pada awal waktu akan tumbuh kebiasaan disiplin diri, dan disiplin yang dibiasakan dalam shalat seperti itu akan menular ke seluruh sikap hidup kesehariaannya, termasuk disiplin dalam belajar, disiplin yang telah terbina akan sulit diubah, karena telah menyatu dalam pribadinya.
9Sehingga disebutkan, bahwa shalat di awal waktu mendidik seseorang untuk berdisiplin yang akhirnya disiplin manjadi milik kepribadiannya.
Disiplin diperlukan oleh siapapun dan di manapun. Hal itu disebabkan di manapun seseorang berada di sana selalu ada disiplin. Jadi, manusia mustahil hidup tanpa disiplin. Demikian pula di sekolah. Ada peraturan dan tata tertib yang melatih, mendidik, dan mengatur kehidupan siswa. Disiplin akan mendorong, memotivasi dan memaksa siswa bersaing meraih prestasi. Oleh karena itu, disiplin perlu dikembangkan dan diterapkan di sekolah khususnya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Dengan alasan bahwa disiplin merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi prestasi siswa.
10Disiplin juga menjadi prasarat kesuksesan seorang siswa dalam belajar.
Dari berbagai uraian di atas, kita tahu bahwa penerapan disiplin yang mantap dalam kehidupan sehari-hari berawal dari disipin pribadi. Dan disiplin pribadi bisa dibentuk melalui pembiasaan shalat pada awal waktu yang selanjutnya ditransformasikan kepada siswa dalam disiplin belajar.
Dengan disiplin belajar yang diterapkan dengan baik, konsisten dan konsekuen di sekolah akan mengantarkan siswa sukses dalam belajar.
Berdasar latar belakang itulah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian dengan mengangkat judul skripsi yang berjudul
“Hubungan Antara Ketepatan Waktu Shalat Fardhu Dengan Kedisiplinan Belajar Siswa Kelas II di MAN Rembang Kabupaten Rembang.”
9
Zakiah Daradjat, loc. cit.
10
Tulus Tu’u, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa, (Jakarta: Grasindo, 2004),
hlm. 15.
B. Penegasan Judul
Untuk menghindari kesalahfahaman dalam memahami makna judul skripsi ini, maka penulis akan membatasi pengertian istilah yang digunakan sebagai berikut:
1. Hubungan
Hubungan atau korelasi diartikan “Saling Ketergantungan antara satu dengan yang lain”.
11Sedangkan menurut Sutrisno Hadi, bahwa korelasi atau hubungan adalah “hubungan timbal balik”.
12Jadi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hubungan timbal balik antara ketepatan waktu shalat dengan kedisiplinan belajar siswa.
2. Ketepatan Waktu Shalat
Ketepatan berasal dari kata tepat, mendapatkan awalan ke- dan akhiran-an yang berati tidak ada selisih sedikitpun, tidak kurang dan tidak lebih, persis.
13Sedangkan waktu, menurut W.J.S Poerwadarminta adalah saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu.
14Adapun shalat adalah rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah SWT yang wajib dilakukan oleh setiap muslim mukallaf, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dilengkapi dengan rukun, gerakan dan bacaan tertentu.
15Ketepatan waktu shalat adalah suatu sikap yang menunjukkan tepat waktu dalam mengerjakan shalat maksudnya shalat dikerjakan di awal waktu saat waktu shalat telah tiba. Perlu penulis tegaskan di sini bahwa yang menjadi fokus ketepatan waktu shalat adalah tepat waktu dalam mengerjakan shalat fardhu yaitu zhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan subuh.
3. Kedisiplinan Belajar
11
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 358.12
Sutrisno Hadi, Metodologi Research , jilid. 3, (Yogyakarta: Andi Offset, 2002), hlm. 271.
13
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,op. cit., hlm. 1042.
14
W.J.S. Purwadarminto Kamus Umum Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hlm. 1146.
15
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,op. cit., hlm. 866.
Kedisiplinan berasal dari kata disiplin yang berarti ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib dan sebagainya.
16Sedangkan belajar menurut M. Dalyono, adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
17Dalam kamus filsafat dan psikologi, belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dari tidak dapat menjadi dapat dan sebagainya.
18Sehingga yang dimaksud dengan kedisiplinan belajar adalah suatu sikap yang menunjukkan ketaatan dan kepatuhan terhadap tata belajar, guna memperoleh kecakapan sehingga berubah tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Jadi yang penulis maksudkan dengan hubungan antara ketepatan waktu shalat dengan kedisiplinan belajar adalah hubungan timbal balik dari segala kegiatan antara shalat yang dikerjakan tepat waktunya dengan sikap kedisiplinan belajar siswa yang tercermin dalam sikap taat dan patuh siswa terhadap tata tertib belajarnya di MAN Rembang yang meliputi siswa masuk kelas tepat waktu, mematuhi tata tertib sekolah, memperhatikan pelajaran, mengikuti pelajaran tanpa bolos dan kepatuhan dalam mengerjakan tugas.
C. Permasalahan
Sehubungan dengan judul dan latar belakang yang penulis kemukakan di atas, maka muncul beberapa pertanyaan yang diformulasikan dalam bentuk pertanyaan yang dibahas dalam skripsi ini.
1. Bagaimana ketepatan waktu shalat fardhu siswa kelas II MAN Rembang ? 2. Bagaimana kedisiplinan belajar siswa kelas II MAN Rembang ?
16
Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., hlm. 12.
17
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 49.
18
Sudarsono, Kamus Filsafat dan Psikologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm. 23.
3. Apakah ada hubungan antara ketepatan waktu shalat fardhu dengan kedisiplinan belajar siswa kelas II MAN Rembang ?
D. Tujuan Penelitian
Dalam skripsi tersebut penelitian ini bertujuan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui data ketepatan waktu shalat fardhu siswa kelas II
MAN Rembang
2. Untuk mengetahui data kedisiplinan belajar siswa kelas II MAN Rembang
3. Untuk mengetahui hubungan antara ketepatan waktu shalat fardhu dengan kedisiplinan belajar siswa kelas II MAN Rembang.
E. Kegunaan Penelitian
1. Untuk meningkatkan semangat disiplin dalam beribadah (shalat) sehingga dapat membentuk kepribadian yang luhur.
2. Untuk meningkatkan semangat disiplin dalam belajar sehingga mencapai hasil belajar yang memuaskan.
3. Memberikan sumbangan dengan upaya meningkatkan kualitas seorang muslim, sebagai wujud manusia mengabdikan diri kepada sang pencipta dan juga sebagai media untuk mewujudkan hubungan yang selaras antara manusia dengan Allah.
F. Hipotesis
Menurut Suharsimi Arikunto, hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data terkumpul.
19Penemuan hipotesis ini akan membantu penulis untuk menentukan fakta apa yang perlu dicari, prosedur, serta metode apa yang
19
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002), hlm. 64.
sesuai untuk digunakan, serta bagaimana mengorganisir hasil serta penemuan.
20Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara yang mungkin benar dan mungkin salah. Dia akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya dan akan ditolak jika datanya salah atau palsu. Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah : Ada korelasi positif antara ketepatan waktu shalat dengan kedisiplinan belajar (semakin tinggi tingkat ketepatan waktu shalat maka akan semakin tinggi pula kedisiplinan belajar bagi siswa MAN Rembang).
G. Metode Penelitian
1. Menentukan Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah individu yang ikut serta dalam penelitian.
21a. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.
22Adapun yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II MAN Rembang yang berjumlah 316 orang.
b. Sampel
Sampel adalah kelompok kecil individu yang dilibatkan langsung dalam penelitian.
23Cara pengambilan sampel menurut Suharsimi Arikunto bahwa apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya sehingga disebut penelitian populasi. Jika jumlahnya lebih dari 100 orang maka dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.
24Maka dari populasi tersebut sebagai sampel dalam penelitian ini diambil 15 % dari jumlah siswa kelas II MAN Rembang, sehingga jumlah sampelnya 15 % x 316 = 47 siswa.
20
Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 62.
21
Ibid., hlm 133.
22
Suharsimi Arikunto,op. cit., hlm. 108.
23
Ibnu Hajar, loc. cit.
24
Suharsini Arikunto, op. cit., hlm. 112.
Agar representatif dalam pengambilan sampel digunakan teknik Random Sampling, yaitu sampel secara random atau tanpa pandang bulu.
25Adapun dasar pokok dari random sampling adalah semua anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dimasukkan menjadi anggota sampel
2. Variabel Penelitian
Variabel penelitian yaitu obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
26Dalam penelitian ini terdiri dari atas dua variabel yaitu variabel pengaruh (independent variable) dan variabel terpengaruh (dependent variable). Untuk lebih jelasnya penulis merumuskan variabel-variabel sebagai berikut :
1) Ketepatan waktu shalat sebagai variabel pengaruh (X) dengan indikator sebagai berikut :
a) Tepat waktu melaksanakan shalat dhuhur b) Tepat waktu melaksanakan shalat ashar c) Tepat waktu melaksanakan shalat maghrib d) Tepat waktu melaksanakan shalat isya’
e) Tepat waktu melaksanakan shalat subuh.
272). Kedisiplinan belajar sebagai variabel terpengaruh (Y) dengan indikator sebagai berikut :
a) Masuk kelas tepat waktu.
b) Mematuhi tata tertib sekolah c) Memperhatikan pelajaran d) Mengikuti pelajaran tanpa bolos e) Mengerjakan tugas
2825
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, jilid I, (Yogyakarta: Andi Offet, 1993), hlm. 75.
26
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm. 96.
27
Ahmad Mudjab Mahalli, Hadits-hadits Ahkam Riwayat Asy-Syafi’I, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003). Jlm. 118
28
Syaiful Bahri Djamarah, Rahasia Sukses Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 90-
98
3. Metode Pengumulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode :
a. Metode Angket
Metode angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh infomasi dari responden.
29Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang kapasitas ketapatan waktu shalat dan kedisiplinan belajar bagi siswa kelas di MAN Rembang.
b. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode dalam pengamatan dan pencatatan dengan sistematik dengan fenomana-fenomena yang diselidiki.
30Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang letak geografi keadaan fisik, dan daratan yang diperlukan dalam penalitian.
c. Metode Interviu
Metode interviu adalah metode pengumulan data dengan jalan sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan.
31Metode ini penulis gunakan untuk mengetahui sejarah berdirinya MAN Rembang.
4. Teknik Analisis Data
Analisa data adalah proses penyedehanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Proses ini seringkali digunakan statistik. Salah satu fungsi pokok statistik adalah menyederhanakan data yang amat besar jumlahya menjadi informasi
29
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm.
30
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, jilid 2, (Yogyakarta: Andi Offset, 2002), hlm. 136.
31
Ibid., hlm.193.
yang lebih sederhana dan lebih mudah difamahi.
32Analisa data pada penelitian ini menggunakan tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. Analisis Pendahuluan
Di dalam analisis pendahuluan ini, penulis menyusun data yang telah terkumpul dari haril penelitian data yang sifatnya kualitatif diuraikan secara deskriptif, seperti hasil wawancara dan pengamatan.
Sedangkan data yang bersifat kuantitatif dimasukkan ke dalam tabel ditribusi frekuensi untuk tiap-tiap variabel. Untuk memudahkan penggolongan dan statistiknya maka untuk pernyataan yang mengukur nilai positif, jawaban tersebut dinilai dengan angka sebagai berikut : 1) Untuk jawaban a diberi skor 4
2) Untuk jawaban b diberi skor 3 3) Untuk jawaban c diberi skor 2 4) Untuk jawaban d diberi skor 1
Untuk pernyataan yang mengukur nilai negatif, nilai angka adalah kebalikan dari nilai-nai di atas, yaitu :
1) Untuk jawaban a diberi skor 1 2) Untuk jawaban b diberi skor 2 3) Untuk jawaban c diberi skor 3 4) Untuk jawaban d diberi skor 4.
33b. Analisis Uji Hipotesis
Analisis uji hipotesis ini digunakan menguji hipotesis yang penulis ajukan, yaitu dengan cara perhitungan statistik dengan rumus korelasi product moment, yaitu :
r
xy=
{ N. X
2– ( X)
2}{N. Y
2– ( Y)
2}
3432
Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, Metode Penelitian Baru, (Jakarta: LP3S, 1995), hlm. 263.
33
Ibid., hlm. 137
N. XY – ( X) ( Y)
r
xy: Angka Indeks Korelasi “r” Product Moment N : Number of Cases
XY : Jumlah hasil perkalian antara sekor X dan sekor Y X : Jumlah seluruh sekor X
Y : Jumlah seluruh sekor Y
Selanjutnya untuk mengambil kesimpulan dari hasil koefesien korelasi antara variabel x dan veriabel y, maka data yang telah diperoleh dari r hitung (r hasil observasi) dibandingkan dengan r tabel (dalam tabel) baik dalam taraf signifikan 5 % atau taraf signifikan 1 %.
c. Analisis Lanjut
Yaitu lanjut yang dirasakan didasarkan pada hasil analisis uji hipotesis. Apabila r hitung lebih besar atau sama dengan r tabel maka hasil yang diperoleh signifikan. Akan tetapi bila r hitung lebih kecil dari nilai r tabel maka hasil yang diperoleh non- signifikan, sehingga hipotesis yang akan diajukan ditolak.
H. Sistematika Penulisan
Untuk membahas masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka penulis menyusun sistematika skripsi sebagai berikut :
1. Bagian Muka : Berisi Halaman Judul, Persetujuan Pembimbing, Pengesahan, Motto, Persembahan, Kata Pengantar, Daftar Isi, dan Daftar Tabel.
2. Bagian Isi : Terdiri dari beberapa bab, yang masing-masing terdiri dari sub bab dengan susunan sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini dijelaskan tentang Latar Belakang, Masalah, Penegasan Istilah, Permasalahan, Tujuan
34