BAB II KAJIAN TEORI. Kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, serta

Teks penuh

(1)

1 BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Kinerja

Kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, serta kemampuan kerja yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Dalam kamus Bahasa Indonesia pengertian kinerja yaitu merupakan sinonim dari kata prestasi kerja (performance). Menurut John Whitmore (1997:104), bahwa kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang, suatu perbuatan, suatu prestasi, atau apa saja yang diperlihatkan seseorang melalui keterampilan nyata. Menurut Veizal Rivai (2004:309) kinerja adalah merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan sesuai dengan perannya.

Kinerja merupakan kesuksesan seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya atau biasa disebut prestasi kerja ( As’ad, 2005: 2 ). Lebih lanjut dikatakan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dipengaruhi oleh kemampuan individual, motivasi dan dukungan organisasi, sumber daya yang tersedia, peralatan tehnologi, struktur organisasi, rancangan pekerjaan dan tujuan yang jelas.

Kinerja adalah penampilan hasil karya personal dalam suatu organisasi.

Kinerja dapat merupakan kemampuan individu maupun kelompok kerja profesional yang memegang jabatan fungsional maupun struktural, tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personal dalam organisasi ( Ilyas, 2001 : 12).

(2)

2 Kinlaw (dalam Patricia, 1993:22) mengatakan kinerja dipengaruhi oleh kejelasan harapan dalam bentuk motivasi, kemampuan dan lingkungan yang mendukung (Patricia, 1993:22).

Hasibuan (2005:87) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan, serta waktu.

Sedangkan pengertian dari penilaian kinerja adalah menilai rasio hasil kerja nyata dari standar kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan setiap pegawai.

Dari beberapa pengertian diatas, maka disimpulkan bahwa kinerja adalah keberhasilan seseorang didalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja seseorang dinyatakan dengan baik apabila tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik pula.

Deskripsi dari kinerja menyangkut tiga komponen penting yaitu tujuan, ukuran dan penilaian. Penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi untuk meningkatkan kinerja. Tujuannya akan memberikan arah dan mempengaruhi bagaimana seharusnya perilaku kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap petugas. Walaupun demikian penentuan tujuan saja tidak cukup, sebab itu dibutuhkan ukuran apakah seorang petugas telah mencapai kinerja yang diharapkan.

Menurut Effendi (dalam Syarifuddin:2006) mengartikan kinerja sebagai suatu hasil atau taraf kesuksesan yang dicapai oleh lembaga, menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu dan di evaluasi oleh orang-

(3)

3 orang tertentu. Bernadin dan Russel (dalam Syarifuddin:2006) memaknai bahwa kinerja sebagai suatu catatan perolehan yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu selama periode tertentu. Menurut Mangkunegara (2004:67) kinerja adalah hasil kerja yang secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Menurut Robbins (1994:238), kinerja merupakan ukuran dari hasil kerja yang dilakukan dengan menggunakan kriteria yang disetujui bersama. Selain itu ada pendapat yang mengatakan bahwa sewaktu-waktu kinerja hanya berbentuk respon, tetapi biasanya berupa hasil produk. Sedangkan Patricia King berpendapat bahwa kinerja adalah aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas pokok yang telah dibebankan kepadanya.

Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, terdapat tiga hal pokok dari kata kinerja, yaitu: (1) perilaku, (2) tugas-tugas, (3) hasil pelaksanaan pekerjaan. Perilaku menunjuk pada sikap dan penampilan pegawai dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan. Tugas-tugas berkenaan dengan jenis dan kegiatan yang dilaksanakan oleh pegawai dalam mencapai tujuan organisasi dan hasil pelaksanaan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan. Hasil pekerjaan akan baik bila dikerjakan dengan penuh tanggung jawab, demikian pula sebaliknya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa kinerja merupakan gambaran hasil kerja yang dilakukan seseorang atau lebih populer

(4)

4 dikenal dengan unjuk kerja seseorang. Unjuk kerja tersebut terkait dengan tugas- tugas dan tanggung jawab yang diemban berkaitan dengan tugas rutin sebagai seseorang yang berkewajiban melakukan tugas pembelajaran, sedangkan di sisi lain mereka juga dituntut untuk melakukan perencanaan, pengelolaan, dan pengadministrasian tugas-tugas pembelajaran tersebut.

Vroomin (dalam Mulyasa:2002:136) mengatakan kinerja seseorang merupakan fungsi perkalian antara kemampuan dan motivasi. Hubungan perkalian tersebut mengandung arti bahwa jika seseorang rendah pada salah satu komponen maka kinerjanya akan rendah pula. Kinerja seseorang yang rendah merupakan hasil dari motivasi yang rendah dengan kemampuan yang rendah. Kinerja sebagai bentuk dari hasil pelaksanaan pekerjaan yang dapat dinilai perkembangannya melalui evaluasi yang sistematis oleh pihak yang berwenang untuk melakukannya dimana guru yang berprestasi baik akan membantu organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisiensi.

Menurut Prawirosentono (1999) mengemukakan bahwa Performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.

(5)

5 2.2 Kinerja Guru

Menurut Sanjaya (2005:13-14), kinerja guru berkaitan dengan tugas perencanaan, pengelolaan pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa. Sebagai perencana, maka guru harus mampu menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif sehingga siswa dapat belajar dengan baik, dan sebagai evaluator maka guru harus mampu melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa secara teliti.

Dari uraian di atas memberikan kita arahan bahwa tugas guru dalam pembelajaran menuntut penguasaan bahan ajar yang akan diajarkan dan penguasaan tentang bagaimana mengajarkan bahan ajar yang menjadi pilihan.

Pemilihan bahan ajar dan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran oleh guru tentunya disesuaikan dengan karakreristik siswa yang akan belajar dan kurikulum yang berlaku. Agar dapat mengajar dengan baik, maka syarat pertama yang harus dimiliki adalah menguasai betul dengan cermat dan jelas apa-apa yang hendak diajarkan. Guru yang tidak menguasai bahan ajar, tidak mungkin dapat mengajar dengan baik kepada para siswanya. Oleh karena itu, penguasaan bahan ajar merupakan syarat yang esensial bagi guru. Hal penting dalam pembelajaran setelah menguasai bahan ajar adalah peran guru dalam mengelola pembelajaran.

Pengelolaan pembelajaran menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan aktifitas belajar siswa. Upaya guru untuk menguasai bahan ajar yang akan diajarkan, merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan optimal dapat terwujud jika dalam diri guru ada dorongan dan tekad yang kuat

(6)

6 (komitmen) untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Dengan demikian, untuk mendapatkan proses dan hasil belajar siswa yang berkualitas tentu memerlukan kinerja guru yang maksimal. Agar guru dapat menunjukan kinerjanya yang tinggi, paling tidak guru tersebut harus memiliki penguasaan terhadap materi apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya agar prose pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien serta komitmen untuk menjalankan tugas-tugas tersebut.

Berdasarkan pemikiran di atas dapat dikemukakan bahwa kinerja guru sangat penting dalam suatu proses pembelajaran, karena menjadi seorang guru dituntut harus menguasai bahan ajar yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku sehingga siswa bisa memahami materi materi yang di ajarkan.

Dengan demikian siswa dapat belajar dengan baik. Seorang guru juga bukan semata-mata sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing, mengarahkan, melatih, menilai serta mengevaluasi siswa dalam belajar sehingga proses belajar mengajar bisa tercapai dengan baik.

Tugas dan peran guru dari hari ke hari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat. Melalui sentuhan guru di sekolah diharapkan mampu menghasilkan peserta didik yang memiliki kompensasi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang tinggi.

(7)

7 ( Kusnandar : 2009 : 37 ) menyatakan bahwa ciri-ciri sekolah yang unggul adalah: 1) kepala sekolah yang dinamis dan komuniaktif dengan kemerdekaan memimpin menuju visi keunggulan pendidikan; 2) memiliki visi, misi dan strategi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dengan jelas; 3) guru-guru yang kompeten dan berjiwa kader yang senantiasa bergairah dalam melaksanakan tugas profesionalnya secara inovatif; 4) siswa-siswa yang bergairah, sibuk dan bekerja keras dalam mewujudkan perilaku pembelajaran; 5) masyarakat dan orang tua yang berperan serta dalam menunjang pendidikan.

Kinerja guru memegang peran penting sebagai kunci keberhasilan usaha peningkatan kualitas pendidikan. Meskipun ada faktor lain yang turut berperan, namun guru tetap menjadi penentu dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah dan memiliki peran besar dalam membelajarkan peserta didik. Guru menjadi penanggungjawab kegiatan belajar mengajar di kelas, sekaligus berperan sentral sebagai fasilitator dan sumber belajar, sehingga peningkatan kualitas pendidikan peran guru sangat dominan.

Kinerja guru terkait erat dengan efisiensi, keefektifan dan produktivitas.

Efisiensi pendidikan artinya memiliki kaitan antara pendayagunaan sumber- sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi.

Keefektifan mengacu pada ketercapaian, dan produktivitas berhubungan dengan hasil yang optimal dari pelaksanaan kegiatan.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan

(8)

8 kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang disebutkan dengan ijasah dan/ atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Banyak faktor yang berkaitan dengan guru tentu menuntut perhatian banyak pihak terutama kinerjanya. Faktor ini sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar karena bagaimanapun bagusnya kurikulum atau bahan ajar bila gurunya kurang baik tentu tidak akan menghasilkan pendidikan yang optimal.

2.3 Pengertian Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat kepada guru yang telah memenuhi persyaratan sertifikasi guru yang bertujuan untuk 1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik professional, 2) meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, 3) meningkatkan kesejahteraan guru, serta 4)meningkatkan martabat guru dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Program sertifikasi guru bagi guru dalam jabatan maksudnya adalah program pemberian sertifikat bagi guru yang dilakukan melalui uji sertifikasi.

Program sertifikasi guru dilakukan secara selektif dan bertahap. Secara selektif maksudnya adalah uji sertifikasi dilakukan melalui serangkaian seleksi mulai dari seleksi administrasi, tes tertulis, tes kinerja, dan penilaian portofolio guru. Secara bertahap maksudnya adalah uji sertifikasi dilakukan secara bergelombang pada

(9)

9 setiap tahunnya sesuai dengan kemampuan penyelenggara program sertifikasi.

Uji sertifikasi dilakukan secara selektif dan bertahap juga karena adanya pertimbangan bahwa guru yang akan mengikuti uji sertifikasi juga harus memenuhi persyaratan kualifikasi akademik minimal sarjana atau diploma IV yang relevan disamping juga keterbatasan pemerintah dalam memenuhi berbagai konsekuensi atas program sertifikasi ini seperti pemberian tunjangan profesi guru yang besarnya sama dengan gaji pokok guru bersangkutan.

Sertifikasi guru merupakan upaya untuk meningkatkan mutu guru dibarengi dengan meningkatkan kesejahteraan guru, sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran di kelas pada khususnya dan mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya.

(Sariyama :2008 : 12 ) mengatakan secara hakiki program sertifikasi guru bertujuan untuk a) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; b) peningkatan proses dan mutu hasil pendidikan; c) peningkatan profesionalisme guru. Dalam bukunya yang sama ( Sariyama : 2008 : 13 ) menyatakan manfaat sertifikasi guru adalah :

2.3.1 Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten yang dapat merusak citra profesi guru ;

2.3.2 Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional;

(10)

10 2.3.3 Menjaga lembaga penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan- ketentuan yang berlaku.

Dengan diberlakukannya Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan secara resmi profesi guru telah disejajarkan dengan profesi lainnya sebagai tenaga profesional. Sebagai tenaga profesional guru harus memenuhi sejumlah persyaratan yaitu memiliki kualifikasi akademik; memiliki kompetensi; memiliki sertifikat pendidik; sehat jasmani dan rohani; memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Peningkatan kualifikasi guru di samping untuk meningkatkan kompetensinya, sehingga layak untuk menjadi guru yang profesional, juga dimaksudkan agar guru yang bersangkutan dapat mengikuti uji sertifikasi setelah memperoleh ijasah S1 /D4 serta mengikuti pendidikan profesi.

Pengakuan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat guru. Sertifikat guru adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional. Sertifikat guru diperoleh melalui proses yang disebut sertifikasi guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditas dan ditetapkan oleh pemerintah yang dilaksanakan secara obyektif, transparan dan akuntabel.

Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

(11)

11 o memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme

o memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia

o memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan tugas

o memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas o memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan o memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja,

o memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat

o memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan

o memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru

Pemberdayaan profesi guru diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi.

Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewaiban :

o merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran

(12)

12 o meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

o bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran

o menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan , hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika

o memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa

2.4 Indikator Guru yang Telah disertifikasi 2.4.1 Penguasaan Materi

Guru yang telah disertifikasi harus menguasai materi yang di ajarkan dalam setiap proses pembelajaran. Penguasaan materi menjadi sangat penting mengingat hal ini akan sangat berpengaruh bagaimana seorang guru dalam menyampaikan bahan ajar di hadapan peserta didik, guru yang tidak menguasai materi akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga akan berpengaruh pada suasana kelas yang tidak kondusif dan siswa tidak akan tertarik untuk belajar lagi.

Menurut (Mulyasa,26 : 2011) penguasaan materi meliputi pemahaman karakteristik dan substansi ilmu sumber bahan pembelajaran, pemahaman disiplin ilmu yang bersangkutan dalam konteks yang lebih luas, penggunaan metodologi ilmu yang bersangkutan untuk memverivikasi dan memantapkan pemahaman

(13)

13 konsep yang dipelajari, penyesuaian substansi dengan tuntutan dan ruang gerak kurikuler, serta pemahaman manajemen pembelajaran.

2.4.2 Penguasaan sistem informasi dan teknologi

Seiring perkembangan zaman maka perkembangan informasi dan teknologi tak dapat dibendung, akses informasi terbuka begitu luas sehingga memudahkan seseorang untuk bertukar informasi dengan yang lainnya dalam waktu yang singkat dengan tempat yang berbeda. Perkembangan teknologi mengubah peran guru bukan hanya pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran tetapi juga menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga yang relatif murah.

2.5 Karakteristik Peserta didik

Sesuai dengan dasar-dasar kompetensi yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh seorang guru, ada beberapa yang diharapkan harus dikuasai dalam usaha untuk memahami karakteristik peserta didik antaranya:

o Memahami pentingnya identifikasi kemampuan awal peserta didik,

o Menjelaskan perbedaan potensi peserta didik, khususnya yang berkaitan dengan delapan potensi bawaan, perkembangan kognitif, afektif, dan kecepatan belajarnya,

o Menentukan kecenderungan gaya belajar dominan peserta didik, o Menjelaskan berbagai strategi dan sub strategi belajar peserta didik.

(14)

14 Penguasaan terhadap karakteristik peserta didik akan bermanfaat bagi guru dalam hal memperlakukan peserta didik sebagai subjek dalam proses pembelajaran. Pemahaman terhadap kemampuan menjadikan guru dapat memilih materi pembelajaran yang sedikit lebih sulit dan merupakan kelanjutan dari materi sebelumnya.

Pemahaman terhadap perbedaan potensi, gaya belajar dan strategi belajar peserta didik akan membantu guru dalam hal menentukan model/metode dan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. (De Potter:1999: 245) menyatakan bahwa ciri-ciri kepribadian individu yang sukses adalah individu yang selalu mempersepsikan dirinya sebagai pemenang dan bukan pecundang. Dengan demikian tugas seorang guru di samping mentransfer pengetahuan, juga harus membimbing peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, serta membentuk kepribadian peserta didik agar memiliki reaksi yang normal/ideal sebagai bekal hidupnya di masyarakat.

Untuk menjalankan tugas yang besar dan berat tersebut, guru berpihak pada tiga pilar (a) apa yang diajarkan yang di dalamnya ada tujuan dan materi ; (b) siapa yang dibelajarkan yang di dalamnya terdapat kondisi individual peserta didik; (c) model dan teknik pembelajarannya bersifat konstektual dan integratif.

Di antara ketiga pilar tersebut, yang harus diperhatikan oleh seorang guru adalah pilar kedua yaitu individual peserta didik. Dalam pilar kedua tersebut akan dirumuskan tujuan meliputi identifikasi kemampuan awal peserta didik, perbedaan potensi peserta didik, gaya belajar peserta dipdik, dan strategi dan sub strategi belajar peserta didik.

(15)

15 2.5.1 Identifikasi Kemampuan Awal Peserta Didik

Nur dalam (Modul Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi: 1999:4) menyatakan para ahli filsafat dan guru pada zaman Yunani berteori bahwa apa pyang telah diketahui individu sedikit atau banyak berpengaruh pada apa yang dipelajarinya. Para ahli psikologi kognitif modern membenarkan pendapat ini dengan bukti bahwa hubungan informasi lama dalam memori dengan informasi baru dalam proses pembelajaran sangatlah tepat. Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan awal peserta didik menentukan keberhasilannya dalam pembelajaran. Pengetahuan baru fakta, konsep, dan keterampilan tidak dapat dipelajari jika pengetahuan terkait belum dipahami.

2.5.2 Perkembangan Kognitif Peserta Didik

Hadipranata dalam (Danim : 2002187) mendeskripsikan ciri-ciri kognitif sebagai berikut:

o Asli, artinya indikator kognitif tidak stereotif. Tingkah laku yang merupakan representasi dari kognisi bukan reaksi sesaat dari rangsangan luar, melainkan tingkah laku yang berjalan taat asas

o Luas, artinya bahwa individu dengan tingkat kognisi yang baik akan cenderung banyak variasi dalam mempresentasikan tingkat kognisinya

o Elaboratif, artinya individu dengan tingkat kognisi yang baik akan cenderung berfikir secara terinci, detail dan terurai.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut perkembangan kognitif anak secara sistematis berjalan sesuai dengan koridor yang berkembang dalam pribadi si anak dalam bentuk keseimbangan ke arah tempat semua kognisi bergerak.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di