• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KONTRASTIF KATA KERJA DALAM KALIMAT PASIF BAHASA MANDARIN DENGAN BAHASA INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KONTRASTIF KATA KERJA DALAM KALIMAT PASIF BAHASA MANDARIN DENGAN BAHASA INDONESIA"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KONTRASTIF KATA KERJA DALAM KALIMAT PASIF BAHASA MANDARIN

DENGAN BAHASA INDONESIA

汉语与印尼文被动动词句词研究

Hànyǔ yǔ yìnní wén bèidòng dòng cíjù cí yánjiū

SKRIPSI SARJANA

Oleh :

YUNI KRISWANTI DAMANIK 120710043

PROGRAM STUDI SASTRA CINA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2017

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatNya yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kontrastif Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia” sebagai salah satu syarat kelulusan dalam menyelesaikan studi Sastra Cina, Universitas Sumatera Utara untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, semangat, bimbingan, dan doa. Pada kesempatan ini penulis terlebih dahulu mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua orangtua saya Almarhum Aster Damanik dan Lamtorang Siregar, S.Pd yang telah membesarkan, mendukung, memberikan doa, motivasi, dan perhatian kasih sayang tanpa batas kepada penulis.

Dengan segala kerendahan hati, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Drs. Budi Agustono, M.S, selaku dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak M. Pujiono, M.Hum., Ph.D, selaku Ketua Program Studi Sastra Cina, Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Niza Ayuningtias, S.S, MTCSOL selaku Sekretaris Program Studi Sastra Cina, Universitas Sumatera Utara dan dosen pembimbing II saya yang telah banyak meluangkan waktu untuk

(3)

memberikan bimbingan, masukan, dan kritikan yang membangun saya selama berlangsungnya proses penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Dra. Herlina Ginting, M.Hum selaku dosen pembimbing I saya yang telah bersedia menjadi pembimbing penulis yang banyak memberikan arahan, masukan, dan kritik yang membangun dalam penyusunan skripsi ini.

5. Seluruh dosen dan staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya khususnya Program Studi Sastra Cina, Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmu kepada penulis selama di perkuliahan.

6. Adik-adik saya Winda Damanik yang lebih dulu memperoleh gelar Ahli Madya, Sri Marianti, Maria Damanik, Ricky Jhon Damanik, Dita Aprianti Damanik yang masih duduk dibangku sekolah yang selalu mendukung saya melalui semangat dan doanya, semoga peran saya sebagai kakak dapat dijadikan contoh agar kalian lebih baik dari saya.

7. Sahabat-sahabat saya yang selalu menemani selama proses perkuliahan hingga pengerjaan skripsi dan yang selalu bersama demi memperoleh gelar Sarjana Sastra, yang telah membantu memberi saran, kritik, dan semangat melalui canda dan tawa yang menghibur:

Yani, Linda, dan Roza yang terlebih dahulu memperoleh gelar Sarjana Sastra tetapi belum mendapatkan pekerjaan. See you on top, guys!

(4)

8. Sahabat saya dari SMP Nerti, Sabet, Deniko yang tidak mengingatkan penulis untuk mengerjakan skripsi, akan tetapi selalu menanyakan penulis kapan wisuda.

9. Josua Sihotang C.S.Kom yang sesekali membantu penulis dalam proses pengerjaan skripsi. Mauliate ma ito!

10. Teman-teman seperjuangan angkatan 2012 dan adik-adik stambuk 2013-2016 yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang telah memberikan warna-warni selama proses perkuliahan. Jiayou dajia!

11. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

Terimakasih atas doa dan dukungannya.

Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi yang saya sajikan ini sangat jauh dari sempurna karena masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun skripsi ini.

Akhir kata, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu. Demikianlah ucapan terima kasih ini saya sampaikan, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Dan penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 11 April 2017

Yuni Kriswanti Damanik NIM 120710043

(5)

ABSTRACT

The title of this research is “Contrastive Analysis Passive Verb in Mandarin Language and Indonesian Language.” Most of the foreign language students in proces of learning Mandarin language as their second language, experience trouble because the difference of characterisctic grammar between both of those language.

Especially this difficulties found in passiv verb using. Verb is the most important word form in Mandarin language and Indonesian language, and the focus of the research by the grammar expert. This research in purpose to achieve the verb comparison in Mandarin language and Indonesian language included similiarities and differences that more comprehensive and valid, the methode that used in this research is using analysis contrastive method for passive verb in Mandarin language, such as:被 bèi, 叫 jiào, 让 ràng, 给 gĕi and passive verb in Indonesian language, such as: di, di- -kan, di- -i, -kandanter-. The research consist of 16 examples sentences in Mandarin language and 16 examples sentences in Indonesian language, which the researcher summarizing one similiarities that is in meaning side, six differences passive verb formation in Mandarin language and Indonesian language.

Meaningfully, passive verb in Mandarin language has three meanings and passive verb in Mandarin language has five meanings. The research result expected can provide the summary whic is concrete between differences and similiarities of passive verb in Mandarin language and Indonesian language so can summarized clearly, to ease the other reader or researcher who wants to do the same research.

Keywords: Contrastive Analysis, Verb, Passive Verb, Mandarin Language Grammar, Indonesian Language Grammar.

(6)

ABSTRAK

Judul penelitian ini adalah “Analisis Kontrastif Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia.”Kebanyakan para pelajar bahasa asing dalam proses pembelajaran bahasa Mandarin sebagai bahasa kedua mereka, mengalami kesulitan karena perbedaan karakteristik tata bahasa kedua bahasa tersebut. Khususnya kesulitan ini ditemukan dalam penggunaan kata kerja kalimat pasif. Kata kerja adalah bentuk kata yang paling penting dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, dan merupakan fokus penelitian ahli tata bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan kata kerja pasif dalam kalimat bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia baik persamaan maupun perbedaannya yang lebih komprehensif dan valid, metode yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah dengan metode analisis kontrastif pada kata kerja pasif bahasa Mandarin yakni 被 bèi, 叫 jiào, 让 ràng, 给 gĕi dan kata kerja pasif bahasa Indonesia yakni: di, di- -kan, di- - i, -kan dan ter-. Penelitian terdiri dari 16 contoh kalimat bahasa Mandarin dan 16 contoh kalimat Bahasa Indonesia, dimana peneliti merangkum satu persamaan yakni dalam segiarti, enam perbedaan pembentukan kata kerja pasif dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia. Secara makna, kata kerja pasif Bahasa Mandarin memiliki tiga makna dan kata kerja pasif bahasa Indonesia memiliki lima makna.

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kesimpulan yang konkrit antara perbedaan dan persamaaan kata kerjapasifdalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia sehingga dapat disimpulkan dengan jelas, demi memudahkan pembaca atau peneliti lain yang ingin melakukan penelitian serupa.

Kata-kata kunci: Analisis Kontrastif, kata kerja, Kata Kerja Pasif, Tata Bahasa Mandarin, Tata Bahasa Indonesia.

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Batasan Masalah... 9

1.3 Rumusan Masalah ... 10

1.4 Tujuan Penelitian ... 10

1.5 Manfaat Penelitian ... 10

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 10

1.5.2 Manfaat Praktis ... 11

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka ... 12

2.2 Konsep... 14

2.2.1 Analisis Kontrastif ... 14

2.2.2 Kata Kerja ... 16

2.2.2.1 Kata Kerja Bahasa Mandarin ... 16

2.2.2.2. Kata Kerja Bahasa Indonesia ... 17

2.2.3 Kalimat Pasif ... 17

2.2.3.1 Kalimat Pasif Bahasa Mandarin ... 17

2.2.3.2 Kalimat Pasif Bahasa Indonesia ... 20

2.3 Landasan Teori ... 22

2.3.1 Analisis Kontrastif ... 23

2.3.2 Tata Bahasa ... 25

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian... 26

3.2 Metode Deskriptif dan Kualitatif ... 28

3.2.1 Studi Kepustakaan ... 29

3.3 Sumber Data ... 31

3.3.1 Data ... 31

3.3.2 Sumber Data ... 31

3.4 Teknik Pengumpula Data ... 32

3.5 Teknik Analisis Data ... 33

(8)

BAB IV ANALISIS & TEMUAN

4.1 Perbedaan Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa

Indonesia ... 35

4.1.1 Bentuk ... 36

4.1.1.1 Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin ... 36

4.1.1.2 Bentuk Kalimat Pasif dalam Bahasa Indonesia ... 41

4.1.2 Fungsi ... 47

4.1.2.1 Fungsi Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin ... 47

4.1.2.2 Fungsi Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Indonesia ... 48

4.2 Persamaan Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia ... 52

4.2.1 Segi Arti ... 52

BAB V KESIMPULAN & SARAN 5.1 Kesimpulan ... 54

5.2 Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

LAMPIRAN ... 63

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan suatu alat untuk berkomunikasi dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Alat yang digunakan ialah bahasa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Alwi, 2002:88) “Bahasa adalah suatu sistem lambang, berupa bunyi yang digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik”. Sebagai sebuah sistem, maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan, kaidah, atau pola-pola tertentu baik dalam bidang tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat.

Menurut Keraf bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi.

“Pada dasarnya bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.”

(1997:3)

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, maka kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing menjadi hal yang sangat penting. Terutama bahasa yang digunakan di negara-negara maju seperti bahasa Inggris, Jepang, Jerman, dan Mandarin. Pada zaman modern, penggunaan bahasa Mandarin menjadi hal yang sangat penting. Bahasa Mandarin sudah mulai diakui sebagai salah satu bahasa

(10)

internasional. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang-orang yang belajar bahasa Mandarin terkhususnya warga Indonesia. Untuk bisa mempraktikkan bahasa Mandarin yang baik dan benar, maka kita harus memahami tata bahasanya dan memahami penyusunan kata baik lisan maupun tulisan.

Ilmu yang mempelajari bahasa adalah linguistik. Menurut Lado (Alwasilah, 1992:15) yang dimaksud dengan linguistik adalah:“Ilmu yang memberikan dan menggolongkan bahasa-bahasa. Linguistik mengidentifikasikan dan memberikan unit-unit dan pola-pola sistem bunyi, kata-kata dan morfem-morfem, frase-frase dan kalimat-kalimat, yaitu struktur suatu bahasa.”

Tanpa pengetahuan yang memadai mengenai linguistik mungkin akan mendapat kesulitan dalam berbahasa, tetapi kalau dapat memahami mengenai masalah-masalah linguistik, maka akan lebih mudah menggunakan bahasa. Saat ini banyak pelajar Indonesia belajar bahasa Mandarin termasuk Mahasiswa Sastra Cina di Universitas Sumatera Utara. Dalam proses belajar mereka masih sering terpengaruh tata bahasa Indonesia ketika mereka berbahasa Mandarin. Hal ini disebabkan struktur bahasa Indonesia telah melekat dalam benak mereka. Pada kenyataannya, ada beberapa perbedaan struktur bahasa.

Berikut contoh kalimat pasif pada bahasa Indonesia:

adik sedang diajari belajar Oleh ibu

subjek ket.waktu kata kerja diawali preposisi di-,-i

kata kerja objek pelaku

(11)

Pada struktur bahasa contoh di atas, diketahui preposisi di-, -i diikuti oleh kata kerja yang memberitahukan bahwasanya subjek merupakan penderita.

Sedangkan pada kalimat bahasa Mandarin struktur kalimat tersebut akan berubah sehingga makna dalam bahasa Indonesia memungkinkan terjadinya perubahan seperti yang ditunjukkan pada contoh kalimat di bawah ini.

弟弟 正在 被 妈妈 教

dìdì zhèngzài bèi māmā jiào

Adik sedang di- Ibu ajar

Pada kalimat bahasa Mandarin terdapat perubahan struktur dalam kalimat, yakni preposisi di-,-i pada kata diajari, dalam bahasa Mandarin terpisah oleh objek pelaku. Hal seperti tersebut diataslah yang mendorong setiap orang yang ingin menggunakan suatu bahasa, sebaiknya memahami tata bahasanya dulu.

Menurut Keraf (1994:27) Tata bahasa merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan dalam stuktur bahasa. Stuktur bahasa itu meliputi bidang-bidang tata bunyi, tata bentuk, tata kata, dan tata kalimat serta tata makna. Dengan kata lain bahasa meliputi bidang-bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis. Berbicara mengenai tata bahasa, kata merupakan salah satu unsur yang sangat penting karena merupakan perwujudan dari bahasa itu sendiri.

Menurut Keraf (2010) “Kata merupakan suatu unit dalam bahasa yang memilki stabilitas intern dan mobilitas posisional, yang berarti ia memiliki komposisi tertentu (fonologis maupun morfologis) dan secara relatif memiliki distribusi yang bebas.”

(12)

Chaer (2006:86) mengungkapkan: setiap kata mengandung konsep makna dan mempunyai peran dalam pelaksanaan bahasa. Konsep dan peran apa yang dimiliki tergantung dari jenis dan macam kata-kata itu, serta penggunaannya didalam kalimat. Dilihat dari konsep makna dan peran yang dimilikinya, kata dibedakan atas beberapa jenis kata, yaitu: 1. kata benda; 2. kata ganti; 3. kata kerja; 4. kata sifat; 5.

kata sapaan; 6. kata penunjuk; 7. kata bilangan; 8. kata penyangkal; 9. kata penghubung; 10. kata keterangan; 11. kata tanya; 12. kata seru; 13. kata sandang; 14.

kata partikel.

Menurut Chaer (2007:291) kata kerja adalah kata yang melambangkan sesuatu perbuatan (aksi) atau kegiatan. Misalnya: menulis, membaca, berlatih, berkuda, dan lain sebagainya. Kata kerja juga terbagi menjadi kata kerja aktif dan kata kerja pasif. Kata kerja aktif adalah kata kerja yang subjeknya berperan sebagai pelaku. Dalam bahasa Indonesia ditandai dengan awalan me- dan ber-. Sedangkan dalam bahasa Mandarin ditandai dengan tidak melekatnya preposisi 被 bèi, 叫 jiào, 让 ràng, 给 gĕi. Kata kerja pasif adalah kata kerja yang subjeknya berperan sebagai penderita. Dalam bahasa Indonesia ditandai dengan awalan di-, di- -kan, di- -i, diper-, diper- -i, diper- -kan, ter-, ter- -kan, dan ter—i dalam kata kerja sebuah kalimat.

Sedangkan dalam bahasa Mandarin ditandai dengan melekatnya preposisi 被 bèi, 叫 jiào, 让 ràng, 给 gĕi. Dalam pembahasan kali ini lebih difokuskan kepada kata kerja pasif.

Oleh karena itu perbedaan kata kerja dalam kalimat pasif antara bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin, dan sering muncul kalimat-kalimat yang apabila

(13)

diterjemahkan secara langsung dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia mengalami perbedaan arti yang dikarenakan ketidakpahaman pelajar dalam memahami perbedaan struktur dan penggunaan kata kerja pasif dalam bahasa Mandarin.

Seperti yang kita ketahui di dalam bahasa Indonesia, menurut Wirjosoedarmo (1985:244) kalimat pasif atau kalimat tanggap adalah kalimat yang subjeknya dikenai atau menderita suatu pekerjaan atau tindakan.

Contoh kalimat pasif dalam bahasa Indonesia:

Novel dibaca andi di kamar

Subyek predikat obyek keterangan

Dari contoh kalimat pasif dalam bahasa Indonesia diatas dapat terlihat rumusan strukturnya adalah berikut:

Contoh kalimat pasif dalam bahasa Mandarin:

Dari contoh di atas dapat terlihat struktur kalimat pasif yang menggunakan preposisi bèi:

玻璃 被 打 破 了

bōlí bèi le

kaca preposisi pukul pecah partikel penegasan

kaca telah dipecahkan.

subjek + predikat berawalan (di-, di- -kan, di- -i, diper-, diper- -i, diper- -kan, ter-, ter- -kan, dan ter- -i) + objek + keterangan

subjek (objek penderita) + preposisi 被bèi + kata kerja + partikel penegasan

(14)

Subyek yang berada didepan kata bèi adalah objek penderita yang terkena pengaruh tindakan dari subjek pelaku.

Penggunaan kata kerja kalimat pasif bahasa Indonesia sering kita temukan, namun hal ini berbeda dengan bahasa Mandarin yang cenderung lebih banyak menggunakan kalimat aktif. Hal ini disebabkan oleh kalimat pasif dalam bahasa Mandarin tidak memiliki imbuhan penanda kata kerja pasif, sehingga kalimat yang sering digunakan oleh pengguna bahasa Mandarin pemula dalam kehidupan sehari- hari lebih gampang menggunakan kalimat aktif daripada kalimat pasif.

Menurut Yongxin (2005:100) dalam bahasa Mandarin untuk menyatakan bentuk pasif ada 2 jenis, yang pertama yaitu menggunakan preposisi (kata depan) 被 bèi, 叫jiào, 让ràng, 给gĕi dan yang kedua yaitu kalimat pasif tanpa menggunakan preposisi (kata depan). Pada umummnya penggunaan kalimat pasif bahasa Mandarin menggunakan kata depan digunakan untuk mempertegas hal yang akan disampaikan.

Karena dalam bahasa Mandarin kalimat pasif ditandai dengan penegasan antara pelaku dan penderita. Selain untuk penegasan, kalimat pasif bahasa Mandarin dengan kata depan juga menandakan bahwa subjek dalam kalimat tersebut mengalami suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Namun apabila tidak memerlukan penegasan maka menggunakan kalimat pasif bahasa Mandarin tanpa kata depan.

Apabila membahas preposisi kata kerja pasif dalam kalimat bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia harus dilakukan lebih teliti hal ini dikarenakan, imbuhan yang ditambahkan pada kata kerja dalam kalimat pasif Bahasa Indonesia sangat beragam dan masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Berikut adalah contoh kalimat pasif bahasa Mandarin dengan menggunakan kata depan ke bahasa

(15)

Indonesia:

Pada contoh kalimat diatas ke bahasa Indonesia menggunakan imbuhan gabung di- yang ditambahkan pada kata pukul.

Begitu juga dengan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin tanpa kata depan ke bahasa Indonesia. Berikut adalah contohnya:

Pada contoh di atas dapat diketahui kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin tanpa kata depan ke bahasa Indonesia bisa memakai imbuhan, bisa juga tidak dengan memakai imbuhan.

Adapun penulis menggunakan dua buku utama sebagai objek penelitian yaitu, untuk buku bahasa mandarin dari buku living mandarin level 10 dan buku

我 被 弟弟 打

bèi dìdì

Saya preposisi adik laki laki pukul

saya dipukul adik

信 写 好 了

Xìn xiě hǎo le

Surat tulis bagus partikel penegasan surat ini telah selesai ditulis.

你 哥哥 的 玉 丢 了

gēgē de diū le

kamu abang punya giok hilang partikel penegasan batu giok milik kakakmu telah hilang.

(16)

bahasa Indonesia dari Bahasa Kita Bahasa Indonesia Kelas 6. Kedua buku tersebut dipilih sebagai objek penelitian karena buku tersebut digunakan oleh pembelajar bahasa Mandarin dan pembelajar bahasa Indonesia, dan dalam buku tersebut banyak terdapat kata kerja pasif dari bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan dalam buku tersebut juga tidak terlalu sulit.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan dengan kajian metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan perbedaan dan persamaan yang dilihat dari kata kerja bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Penulis memperbandingkan dua bahasa yang berbeda dengan menggunakan analisis kontrastif. Penelitian kontrastif yang dilakukan dengan cara memperbandingkan kedua bahasa, dalam hal ini adalah kata kerjanya. Melalui analisis ini diharapkan akan ditemukan perbedaan-perbedaan dan persamaan pada jenis dan struktur kata kerja kedua bahasa tersebut.

Seperti yang dikatakan Tarigan (1995) bahwa, “Analisis kontrastif adalah kegiatan membandingkan dua struktur (B1 dan B2) yang berbeda untuk mengidentifikasi perbedaan antara dua bahasa yang berasal dari rumpun yang berbeda.” Selanjutnya Tarigan mengatakan bahwa, “hambatan terbesar dalam menguasai bahasa kedua (B2) adalah tercampurnya sistem bahasa pertama (B1) dengan sistem B2. Analisis kontrastif mencoba menjembatani kesulitan tersebut dengan mengkontraskan kedua sistem bahasa tersebut untuk menentukan kesulitan- kesulitan yang terjadi.”

(17)

Berdasarkan pengamatan awal dapat disimpulkan bahwa, bagi pelajar bahasa Mandarin dalam mencari pola kalimat yang sama bahasa Mandarin ke dalam bahasa Indonesia harus dicermati lebih jauh lagi, maka terkadang kita tidak bisa secara langsung mengartikannya. Hal ini dikarenakan tata bahasa Mandarin dengan tata bahasa Indonesia memiliki perbedaan yang tidak sedikit. Dengan mengetahui perbedaan dan persamaan kata kerja dalam kalimat pasif diharapkan dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi pembelajar kedua bahasa tersebut. Diharapkan dengan memahami penggunaan tata Bahasa Mandarin secara baik dan benar, pembelajar kedua bahasa tersebut kedepannya bisa mengurangi tingkat kesalahan dalam pengartiannya kedalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah “Analisis Kontrastif Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia”

1.2 Batasan Masalah

Untuk menghindari cakupan masalah yang terlalu luas, maka masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah analisis kontrastif kalimat pasif bahasa Mandarin dengan bahasa Indonesia, yang difokuskan pada perbedaan kata kerja kalimat pasif dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, dan persamaan kata kerja kalimat pasif dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia.

(18)

1.3 Rumusan Masalah

Setelah mengetahui dan menguraikan latar belakang penelitian ini, rumusan masalah dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Apakah perbedaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia ?

2. Apakah persamaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan perbedaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.

3. Mendeskripsikan persamaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.

1.5 Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, dan tujuan penelitian yang telah dipaparkan penulis sebelumnya, maka penelitian ini mempunyai dua manfaat yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat praktis.

1.5.1 Manfaat Teoritis

Dapat mengetahui perbedaan dan persamaan kata kerja dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia sehingga memudahkan pelajar kedua bahasa dalam

(19)

mempelajarinya sebagai bahasa kedua ataupun bahasa ketiga. Selain itu, memberikan pemahaman akan perbedaan tata bahasa antara bahasa pertama dan bahasa kedua sehingga dapat mengurangi kesalahan dalam mempelajari bahasa asing tersebut.

1.5.2 Manfaat Praktis

Memberikan sumbangan pikiran dan sebagai rujukan atau referensi bagi peneliti lain untuk mengembangkan penulisan mengenai tata bahasa secara umum dan penelitian kontrastif dari berbagai bahasa secara khusus secara lebih mendalam di masa mendatang.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Penulis mengambil beberapa jurnal, skripsi dan makalah yang berkaitan dengan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin maupun bahasa Indonesia, sebagai berikut:

Pakpahan (2015) dalam skripsinya yang berjudul “ 学生姓名汉-英语被动句 形 式 比 较 分 析 xuéshēng xìngmíng hàn-yīngyǔ bèidòng jù xíngshì bǐjiào fēnxī”(Analisis Kontrastif Kalimat Pasif dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris). Untuk penelitian, penulis dapat lebih memahami penggunaan kata 被 bèi, 叫 jiào, 让 ràng, 给 gĕi dalam kalimat pasif bahasa Mandarin, sehingga dalam perbandingan analisis kontrastif dengan kata kerja dalam kalimat pasif dalam bahasa Indonesia, penulis lebih terarah dan mengetahui pola kalimat dan jenis kalimat yang membedakan kata kerja dalam kalimat pasif baik dalam bahasa Mandarin maupun bahasa Indonesia.

Hasibuan (2011) dalam skripsinya yang berjudul “汉印疑问词对比分析 hàn yìn yíwèn cí duìbǐ fēnxī” (Analisis Kontrastif Kalimat Tanya dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia). Seperti halnya oleh Hasibuan (2011) yang menggunakan analisis kontrastif untuk mengetahui perbedaan dan persamaan terhadap topik penelitian.Dalam penelitianini dijelaskan dan dipaparkan mengenai enam jenis kata tanya dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Dimana

(21)

keenam kata tanya tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis kontrastif.

Sesuai dengan konteks penelitian penulis kali ini, analisis kontrastif merupakan kegiatan linguistik yang bertujuan untuk menemukan dan menguraikan perbedaan dan persamaaan aspek-aspek kebahasaan antara dua bahasa atau lebih yang tidak serumpun.

Willy (2015) dengan penelitian yang berjudul “Analisis Penerjemahan kata kerja kalimat pasif Bahasa Mandarin ke dalam Bahasa Indonesia: Kata Depan 被 bèi dan Kalimat Pasif Bahasa Mandarin Tanpa Kata Depan.” Ruang lingkup pada penelitian ini paling mendekati ruang lingkup penulis yang bedanya adalah peneliti kali ini meneliti semua kalimat pasif yang mungkin muncul pada kalimat bahasa Mandarin dan perbedaannya dengan kalimat dalam Bahasa Indonesia. Selain itu Willy (2015) pada penelitiannya juga mengambil data kalimat pasif tanpa kata depan sebagai bahan kajian.

Dari tinjauan pustaka diatas penulis mendapat referensi yang mendukung penelitian ini yaitu, Pakpahan (2015) membantu memahami pola kalimat dan jenis kalimat yang membedakan kata kerja serta penerapan teori analisis kontrastif dalam penelitian. Hasibuan (2011) membantu memahami perbedaan antara dua bahasa atau lebih yang tidak serumpun serta penerapan teori analisis kontrastif dalam penelitian. Willy (2015) membantu memahami kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Penelitian-penelitian tersebut sangat berkontribusi membantu dan mendukung penelitian yang penulis teliti untuk menghasilkan penelitian yang lebih baik. Berdasarkan tinjauan pustaka tersebut didapati belum ada yang meneliti seperti

(22)

Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia.”

2.2 Konsep

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep adalah gambaran mentaldari suatu objek, proses, ataupun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Penggunaan konsep dalam sebuah penelitian sangat diperlukan. Konsep dapat dijadikan batasan penelitian yang akan dilakukan. Oleh karena itu, adapun konsep yang digunakan dalam penelitian adalah:

2.2.1 Analisis Kontrastif

Kata contrastive adalah kata keadaan yang diturunkan dari kata kerja to contrast. Dalam The American College Dictionary terdapat penjelasan sebagai berikut :‘contrast : to set in opposition in order to show unlikeness; compare by observing differences’(menempatkan dalam oposisi atau pertentangan dengan tujuan memperlihatkan ketidaksamaan; memperbandingkan dengan jalan memperhatikan perbedan-perbedaan). Analisis kontrastif merupakan sebuah metode yang digunakan dalam mencari persamaan atau perbedaan antara bahasa pertama (B1) dengan bahasa target (B2).

Analisis kontrastif digunakan dengan cara membandingkan dua bahasa sehingga perbedaan dan persamaannya dapat terlihat. Teori ini merupakan sebuah metode untuk mendeskripsikan, membuktikan, dan menguraikan perbedaan atau persamaan aspek-aspek kebahasaan dari dua bahasa atau lebih yang dibandingkan (Ridwan, 1998:8).

(23)

Maka dari itu, penulis menggunakan teori analisis kontrastif untuk mencari perbedaan dan persamaan antara kedua bahasa. Tarigan (1992:285) mendeskripsikan Analisis Kontrastif (Anakon) adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa pertama (B1) dan struktur bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa itu. Adapun asumsi dasar anakon yaitu:

1. Anakon dapat dipergunakan untuk mengetahui kesalahan pelajar mempelajari bahasa asing dan bahasa kedua. Butir-butir perbedaan dalam tiap tataran bahasa antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan memberikan kesulitan kepada para pelajar bahasa kedua itu.

2. Anakon dapat memberikan suatu sumbangan yang menyeluruh dan konsisten dan sebagai alat pengendali penyusunan materi pengajaran dan pelajaran bahasa kedua secara efisien. Dengan perbandingan perbedaan pada setiap tataran analisis bahasa, maka bahasa dapat disusun sesuai dengan tingkat kesulitan pada masing-masing tataran.

3. Anakon dapat memberikan sumbangan untuk mengurangkan proses inteferensi dari bahasa pertama, bahasa ibu ke dalam bahasa kedua atau bahasa asing.

Menurut Tarigan (1995:36), analisis kontrastif memiliki dua aspek yaitu aspek linguistik dan aspek psikologis. Aspek linguistik berkaitan dengan masalah perbandingan antara kedua bahasa tersebut, yaitu apa yang akan dibandingkan dan cara memperbandingkannya.

Aspek psikologisnya terletak pada cara penyampaiannya untuk bahan ajar.

Namun aspek psikologis kurang dikembangkan karena kurang mendapat perhatian.

Analisis kontrastif berbeda dengan analisis komparatif. Analisis komparatif menganalisis adanya perbedaan dan persamaan dari dua bahasa yang serumpun.

Sedangkan analisis kontrastif menganalisis dua bahasa yang berasal dari rumpun yang berbeda. Dalam penelitian ini bahasa yang akan dianalisis adalah bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia yang berasal dari rumpun bahasa yang berbeda sehingga digunakan teori analisis kontrastif.

(24)

Penggunaan analisis kontrastif bertujuan untuk mengetahui perbedaan- perbedaan dan kemiripan-kemiripan di antara dua bahasa atau lebih yang berguna untuk mengurangi kesalahan dalam mempelajari sebuah bahasa. Analisis kontrastif dapat difungsikan pada bidang pengajaran, pembelajaran, ataupun penerjemahan.

2.2.2 Kata Kerja

2.2.2.1 Kata Kerja Bahasa Mandarin

Menurut Qi Hu Yuang (2009:18), “bagian dari tata bahasa Mandarin adalah morfem, kata, gabungan kata, dan kalimat yang merupakan hal yang penting dalam tata bahasa Mandarin.”

Dalam bahasa Mandarin, yang dimaksud dengan kata kerja adalah kata yangbermakna pekerjaan, tindakan, dan perubahan. Berdasarkan perlu tidaknya muncul suatu objek yang pasti untuk diikuti dengan pekerjaan dan tindakan dalam suatu kalimat, maka kata kerja bahasa Mandarin dapat dibagi menjadi dua macam bentuk kata kerja, yaitu kata kerja transitif (及物动词) dan kata kerja taktransitif (不 及物动词) (Zhang Qiongyu, 2004:52). Kata kerja transitif (及物动词) adalah kata kerja yang harus diikuti oleh suatu objek untuk dipasangkan langsung dengan pekerjaan dantindakan dalam suatu kalimat, sedangkan kata kerja taktransitif (不及 物 动 词 ) adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek untuk dipasangkan langsung dengan tindakan dan pekerjaandalam suatu kalimat (Zhang Qiongyu, 2004: 51).

(25)

2.2.2.2 Kata Kerja Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, kata kerja dapat diartikan sebagai kata yang menyatakan perbuatan atau laku. Kata kerja juga disebut verba. Kata kerja dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Kata kerja transitif adalah kata kerja yang selalu diikuti objek. Contoh:

membeli, menabrak, menangkap, dan sebagainya.

2. Kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak diikuti secara langsung oleh objek. Contoh: menyanyi, menari, berubah, dan sebagainya.

Ciri ciri kata kerja dalam bahasa Indonesia:

1. Kata tersebut terbentuk dari imbuhan me-, di-, ter-, me-kan, di-kan, ber-an, memper-kan, diper-kan, dan memper-i.

2. Kata tersebut dapat didahului kata telah, sedang, akan, hampir, dan segera.

3. Kata tersebut dapat diperluas dengan cara menambahkan dengan kata sifat. Contoh: menghitung dengan teliti, lari dengan cepat, dan sebagainya.

2.2.3 Kalimat Pasif

2.2.3.1 Kalimat Pasif Bahasa Mandarin

Kalimat pasif bahasa Mandarin adalah kalimat pendeskripsian dalam bentuk pasif, dan objek dalam kalimat pasif adalah pelaku suatu perbuatan (Zhang Yufeng, 2006:13). Terdapat dua macam bentuk kalimatpasif Bahasa Mandarin yaitu

(26)

kalimatpasif dengan kata depan ( 有标志被动句) dan kalimat pasif tanpa kata depan (无标志被动句). Kalimat pasif bahasa Mandarin dengan kata depan 被 bèi adalah kalimat yang menyertakan kata 被bèi di dalamnya. Penggunaan kata被bèi dapat digunakan langsung di depan kata kerja (Zhu Qingming, 2005:36).

Penggunaan kata 被bèi dalam bahasa Mandarin digunakan untuk membentuk kalimat pasif. Cara penggunaan kalimat pasif dengan kata depan 被 bèi adalah sebagai berikut:

Contoh kalimatnya adalah sebagai berikut:

 舅舅被摩托车撞撞伤了jiùjiu bèi mótuō chē zhuàng shāngle

Walaupun tidak muncul pelaku dalam kalimat tersebut, namun tidak berarti tidak ada pelaku yang melakukan tindakan tersebut.

Cara penggunaan kalimat pasif bahasa Mandarin tanpa kata depan pada umumnya memiliki kesamaan dengan penggunaan kalimat pasif dengan kata depan 被 bèi (Zhu Qingming, 2005:36). Hanya saja tidak muncul kata 被 bèi dalam kalimat pasif tersebut.

主语(受事)+ 被 + 名(施事) + 动

subjek (penderita) bèi kata benda (pelaku) kata kerja

舅舅 被 摩托车 撞伤 了

主语(受事) 被 名 动形 语气词

subjek (penderita) bèi kata benda kata kerja partikel

(27)

Contoh kalimatnya adalah sebagai berikut:

 那部片我看过nà bù piàn wǒ kànguò

Kalimat pasif yang menggunakan preposisi 叫 jiào sebagai penanda kalimat pasif yang berartimeminta, memanggil, disebutkan, memerintahkan. Preposisi 叫 jiào harus diikuti oleh obyek.

Contoh kalimatnya adalah sebagai berikut:

 云叫风吹散了yún jiào fēng chuīsànle.

K

主语(受事)+ 名(施事) +动

subjek (penderita) kata benda kata kerja

那部片 我 看过

主语(受事)+ 名(施事) + 动

subjek (penderita) kata benda kata kerja

主语(受事)+ 叫+ 名(施事) + 动

subjek (penderita) Jiào kata benda (pelaku) kata kerja

云 叫 风 吹散 了

主语(受事)+ 叫+ 名+ 动+形 + 语气词

subjek (penderita) Jiào kata benda kata kerja partikel

(28)

Kalimat pasif yang menggunakan preposisi 让ràng adalah penanda kalimat pasif yang berarti membiarkan, mempersilahkan, menyuruh. Preposisi ràng harus diikuti oleh objek.

主语(施事)+ 让+ 名(受事) + 动状语

subjek (pelaku) ràng benda (penderita) kata kerja keterangan Contoh kalimatnya adalah sebagai berikut:

 他让我吃饭tā ràng wǒ chīfàn

2.2.3.2 Kalimat Pasif Bahasa Indonesia

Kalimat pasif bahasa Indonesia adalah kalimat yang subjeknya merupakan tujuan dari perbuatan di predikat verbalnya (Alwi, 2001:808). Kalimat pasif dalam bahasa Indonesia adalah kalimat yang subjeknya dikenai suatu pekerjaan oleh objeknya (pelaku tindakan).Kalimat pasif dibentuk dari kalimat aktif. Namun, tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif. Kalimat aktif yang dapat diubah menjadi kalimat pasif adalah kalimat aktif yang fungsi predikatnya diisi oleh verba transitif, yaitu verba yang memiliki komponen makna tindakan dan sasaran atau hasil.

他 让 我 吃饭

主语(施事)+ 让+ 名(受事) + 动状语

subjek (pelaku) ràng objek (penderita) kata kerja

(29)

Kata kerja pembentuk kalimat pasif dalam bahasa Indonesia ditunjukkan dengan munculnya imbuhan-imbuhan seperti di-, di- -kan, di- -i, diper-, diper- - i,diper- -kan, ter-, ter- -kan, dan ter- -i. Fungsi dari berbagai imbuhan tersebut adalah untuk membentuk kalimat pasif.

Imbuhan di-

Makna yang didapat dari imbuhan di- adalah dilakukannya suatu perbuatan, bekerja dengan alat, bekerja dengan bahan.

1. Koran dibaca ayah.

2. Pohon digergaji paman.

3. Dinding dicat pembantu.

Imbuhan Gabung di- -kan

Makna yang didapat dari imbuhan gabung di- -kan adalah dibuat jadi, dilakukan untuk orang lain, dijadikan berada di, dilakukan yang disebutkan.

1. Semua pakaian siswa akan diseragamkan sekolah.

2. Hadiah darinya tidak diharapkan lagi.

3. Mobil diberhentikan dengan tiba-tiba oleh ayah.

Imbuhan Gabung di- -i

Makna yang didapat dari imbuhan gabung di- -i adalah dibuat jadi, diberi, dilakukan sesuatu, berulang-ulang, dan dirasakan sesuatu.

1. Rumah diterangi lampu.

2. Adik dipukuli temannya di sekolah.

3. Dia disukai banyak orang.

(30)

Imbuhan ter-

Makna yang didapat dari imbuhan ter- untuk membentuk kalimat pasif adalah tidak sengaja, sudah terjadi, dan terjadi dengan tiba-tiba. (Abdul Chaer, 1998:252).

1. Buku adik terbawa temannya kemarin. (tidak sengaja) 2. Bukunya terbakar api. (sudah terjadi)

3. Melihat anak itu, teringat saya akan adik saya yang sedang sakit. (terjadi dengan tiba-tiba)

Kata kerja kalimat pasif dalam bahasa Indonesia mempunyai satu macam bentuk lainnya, yaitu bentuk yang tidak menambahkan imbuhan pembentuk kalimat pasif di dalamnya. Verba pasif tidak berupa sebuah kata, tetapi berupa gabungan dua kata, yaitu verba transitif tanpa awalan di- atau me- dan unsur pelaku yang dalam kalimat aktif berfungsi sebagai subjek. Contohnya adalah: lamaran sudah saya kirimkan ke kantor.

2.3 Landasan Teori

Teori merupakan alat yang terpenting dari suatu pengetahuan. Menurut Koenjaraningrat (dalam jurnal 2008) bahwa tanpa teori hanya ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja, tetapi tidak akan ada ilmu pengetahuan. Sebagai pedoman dalam menyelesaikan tulisan ini penulis menggunakan beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini.

(31)

2.3.1 Analisis Kontrastif

Tarigan (1992:24) menjelaskan “Analisis kontrastif adalah aktivitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan struktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan diantar kedua bahasa. Perbedaan-perbedaan antara dua bahasa yang diperoleh dan dihasilkan melalui Analisis Kontrastif, dapat digunakan sebagai landasan dalam memprediksi kesulitan-kesulitan dan kendala belajar bahasa yag akan dihadapi oleh para siswa disekolah. B1 yang dimaksud adalah bahasa pertama atau bahasa asal, sedangkan B2 adalah bahasa kedua atau bahasa target.

Analisis kontrastif merupakan cabang dari ilmu linguistik, sehingga seringkali disebut sebagai linguistik kontrastif. Linguistik kontrastif berbeda dengan linguistik komparatif walaupun keduanya adalah kegiatan membandingkan dua bahasa. Perbedaan kedua analisis tersebut dapat dilihat pada kutipan dibawah ini seperti yang diuraikan oleh Tarigan (1992:226),

“Linguistik komparatif ingin mengetahui persamaan dan perbedaan antara bahasa-bahasa yang diperbandingkan. Linguistik kontrastif hanya meneliti perbedaan-perbedaan atau ketidaksamaan-ketidaksamaan yang menyolok yang terdapat pada dua bahasa atau lebih, sedangkan persamaan-persamaannya tidak begitu dipentingkan atau diperhatikan. Kesamaan-kesamaan yang terdapat dianggap sebagai hal yang biasa, hal yang umum saja.”

Melalui analisis kontrastif, hasil penelitian dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran bahasa sehingga dapat mengurangi kesalahan-kesalahan atau

(32)

pelanggaran-pelanggaran yang mungkin dilakukan oleh pelajar kedua bahasa tersebut. Seperti yang dijelaskan Pateda (1989: 18),

“Analisis kontrastif merupakan pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik membandingkan antara bahasa ibu (B1) dengan bahasa sasaran (B2) sehingga guru dapat meramalkan kesalahan siswa dan siswa dapat segera menguasai bahasa yang sedang dipelajari. Memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan penggunaan dua bahasa tersebut merupakan salah satu fungsi penelitian menggunakan teori analisis kontrastif.”

Dalam penelitian ini, penggunaan teori pendekatan kontrastif digunakan sebagai teori perbandingan untuk menemukan perbedaan dan persamaan yang terdapat antara dua bahasa. Teori ini adalah metode analisis linguistik yang berusaha mendeskripsikan, membuktikan, dan menguraikan persamaan atau perbedaan aspek- aspek kebahasaan dari dua bahasa atau lebih yang dibandingkan(Ridwan, 1998:8).

Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat dikatakan bahwa analisis kontrastif merupakan ilmu linguistik yang bersifat membandingkan dan bertujuan menemukan serta mendeskripsikan perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang terdapat antara dua bahasa dari rumpun yang berbeda. Hasil perbedaan dan persamaan tersebut dapat dijadikan sebagai sarana pengajaran atau bahan ajar bagi pengajar bahasa kedua. Penggunaan teori ini dapat pula sebagai acuan bagi pelajar bahasa kedua agar dapat memperkecil kesalahan yang dapat terjadi.

(33)

2.3.2 Tata Bahasa

Tata bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, kaidah tentang struktur gramatikal bahasa. Secara umum, meskipun tata bahasa memiliki pengertian yang berbeda-beda menurut para pakar bahasa namun dapat dikatakan bahwa, tata bahasa adalah peraturan mengenai suatu bahasa (Chaiyanara, 2003: 1). Tata bahasa meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sebuah kalimat akan dikatakan efektif dan baik jika mengikuti aturan tata bahasa dari sebuah bahasa.

Setiap bahasa memiliki aturan tata bahasanya sendiri, begitu juga dengan bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Kedua bahasa ini memiliki tata bahasa yang berbeda seperti yang sudah diuraikan secara singkat di latar belakang. Dalam struktur kata kerja pasif bahasa Indonesia, terdapat imbuhan di-, di- -kan, di- -i, diper-, diper- -i, diper- -kan, ter-, ter- -kan, dan ter—i melekat pada kata kerja untuk menandakan kalimat tersebut kalimat pasif. Sedangkan dalam bahasa Mandarin, kata kerja pasif tidak dapat diimplementasikan dengan munculnya imbuhan seperti dalam bahasa Indonesia. Untuk menganalisis struktur kata kerja pasif pada kedua bahasa, penulis akan mengacu pada struktur kata kerja pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Menurut Sinulingga (2011:31) metode penelitian merupakan suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala permasalahan. Metode penelitian juga salah satu hal yang terpenting dalam sebuah penelitian atau studi ilmiah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Team Pustaka Phoenix, metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, atau cara kerja bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan penelitian adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Metode penelitian merupakan cara utama yang digunakan penulis untuk mencapai tujuan dengan menentukan jawaban atas masalah yang diajukan (Nazir, 1999: 51).

Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkas, dan menjelaskan perbedaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan penelitian kualitatif sendiri merupakan penelitian ekplorasi dan memainkan peranan yang amat penting dalam menciptakan hipotesis

(35)

atau pemahamman orang tentang berbagai variabel sosial, jadi tidak bertujuan menguji hipotesis atau membuat suatu generalisasi, tetapi membangun teori (Bungin, 2008:68-69).

Penelitian ini menggunakan pendekatan linguistik yaitu yang berkaitan dengan perbandingan 2 bahasa dan bagaimana cara membandingkannya. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia.

Data penelitian yang dikumpulkan berasal dari naskah penelitian sebelumnya, jurnal penelitian dari perpustakaan, buku pelajaran bahasa Mandarin pemula dan buku tata bahasa bahasa Indonesia. Data digambarkan sesuai dengan hakikatnya secara intuitif kebahasaan, berdasarkan pemerolehan kaidah kebahasaan tertentu sebagai hasil studi pustaka pada awal penelitian. Hal tersebut hendaknya disusun dengan telitibagian demi bagian dengan pertimbangan ilmiah (Fatimah, 1993:17).

Secara deskriptif peneliti dapat memberikan ciri-ciri, sifat-sifat, serta gambaran data melalui pemilihan data yang dilakukan pada tahap pemilihan data setelah data terkumpul. Dengan demikian, penelitian akan selalu mempertimbangkan data dari segi watak itu sendiri, dan hubungannya dengan data lainnya secara keseluruhan.

Peneliti tidak berpandangan bahwa sesuatu itu memang demikian adanya, akan tetapi harus diberikan berdasarkan pertimbangan ilmiah yang digunakannya sebagat alat kajiannya (Fatimah,1993:17).

(36)

3.2 Metode Deskriptif dan Kualitatif

Metode adalah cara atau jalan menyangkut masalah kerja yang dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1997:17). Sedangkan penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu.

Metode deskriptif adalah suatu cara mendapatkan suatu informasi dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan sikap dan pendapat dari suatu kelompok orang, melalui pengamatan langsung. Metode ini selalu disertai dengan menggunakan alat-alat atau instrumen yang berkaitan dengan objek penelitian.

Selanjutnya dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan banyak data yang diperoleh dari narasumber. Menurut Sinulingga (2011:13) penelitian kualitatif merupakan penelitian langsung ke sumber data dan peneliti menjadi instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif, dimana data-data yang dibutuhkan pada umumnya berbentuk kata-kata yang dapat menggambarkan dan bukan angka-angka, dalam pelaksanaannya berpedoman pada tata cara atau metode ilmiah, secara teoritis banyak diungkapkan tahapan-tahapannya sebagai langkah sistematis dan terarah.

Peneliti melakukan identifikasi terhadap permasalahan yang signifikan, dalam hal ini kajian perbedaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia untuk dipecahkan. Selanjutnya dibatasi perumusan seperti yang telah dipaparkan pada latar belakang. Kemudian ditentukan arah tujuan dan manfaat pada penelitian ini. Peneliti selanjutnya melakukan studi pustaka yang berkaitan

(37)

dengan penelitian.

Desain metode penelitian yang akan digunakan, dalam hal ini analisis kontrastif untuk menentukan sumber data, data, teknik sampling, dan menganalisa data. Peneliti kemudian mengumpulkan data dengan menggunakan teknik yang relevan dan kemudian ditulis dalam laporan penelitian.

3.2.1 Studi Kepustakaan

Penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.” (Nazir, 1999: 111).

Studi kepustakaan dilakukan sebagai landasan dalam hal penelitian, yakni dengan mengumpulkan sumber bacaan untuk mendapatkan pengetahuan dasar tentang objek yang diteliti. Sumber-sumber bacaan ini dapat berupa buku, ensiklopedia, jurnal, buletin, artikel, maupun laporan penelitian sebelumnya. Dengan melakukan studi kepustakaan ini penulis akan dapat melakukan cara yang efektif dalam melakukan penelitian lapangan dan penyusunan skripsi ini. Dan juga, melalui studi kepustakaan ini, penulis juga akan mendapat masukan tentang apa yang sudah dan belum diteliti.

Penulis melakukan penelusuran kepustakaan untuk memperoleh pengetahuan awal terhadap kalimat pasif baik dalam bahasa Mandarin maupun bahasa Indonesia.

Dalam hal ini penulis mempelajari skripsi yang pernah ditulis peneliti sebelumnya seperti skripsi Pakpahan (2015) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Kontrastif

(38)

Kalimat Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris.” Kemudian menelusuri dan memahami skripsi Hasibuan (2011) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Kontrastif Kalimat Tanya dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia”.

Selanjutnya penulis juga mengambil penelitian Willy (2015) dengan peneltian yang berjudul “Analisis Penerjemahan Kata Kerja Kalimat Pasif Bahasa Mandarin ke dalam Bahasa Indonesia. Ruang lingkup pada penelitian ini paling meneliti semua kalimat pasif yang mungkin muncul pada kalimat Bahasa Mandarin dan perbedaannya dengan kalimat dalam Bahasa Indonesia. Selain itu Willy (2015) pada penelitiannya juga mengambil data kalimat pasif tanpa kata depan sebagai bahan kajian sehingga dapatmelengkapi pengetahuan penulis dalam menulis skripsi ini, penulis juga menambah wawasan dengan melakukan diskusi tanya jawab dengan praktisi pengajar bahasa Mandarin di beberapa sekolah dan lembaga di Kota Medan.

Oleh karena studi kepustakaan merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari penelitian kali ini. Maka teori-teori yang mendasari masalah dan bidang yang diteliti pada penelitian kali ini dapat ditemukan dengan menggunakan studi kepustakaan.

Tujuan studi kepustakaan baik sebelum maupun selama peneliti melakukan penelitian agar penelitian ini dapat memuat uraian sistematis tentang kajian literatur dan hasil penelitian sebelumnya yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan dan diusahakan menunjukkan kondisi mutakhir dari situasi pemahaman kalimat pasif dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Dengan demikian peneliti dapat menemukan masalah yang konkrit untuk diteliti. Dalam arti bukti-bukti atau pernyataan bahwa penelitian yang akan diteliti dalam kali ini belum terjawab

(39)

atau belum terpecahkan secara memuaskan atau belum pernah diteliti orang mengenai tujuan, data, dan metode, analisa, dan hasil untuk waktu dan tempat yang sama.

Mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan masalah yang akan diteliti. Menggali teori-teori yang relevan dengan permasalahan penelitian dan melakukan komparasi-komparasi dan menemukan konsep-konsep yang relevan dengan pokok masalah yang dibahas dalam penelitian.

3.3 Data dan Sumber Data 3.3.1 Data

Data merupakan bagian yang penting dalam setiap penelitian. Data, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan). Data dalam penelitian ini ialah kata kerja dalam kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin.

3.3.2 Sumber Data

Menurut Arikunto (2010:265), sumber data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya yang mana merupakan sumber informasi yang digali untuk mengungkap fakta-fakta di lapangan. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah:

Sumber Data Primer:

Judul Buku: Buku Living Mandarin Jilid 8

(40)

Tahun Terbit : 2011

Judul Buku: Bahasa Kita Bahasa Indonesia Kelas 6 Terbitan: Erlangga

Alasan pemilihan buku tersebut sebagai sumber data primer adalah karena buku tersebut digunakan oleh pembelajar bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia dan lebih fokus ke percakapan pemula sehari-hari dan sangat umum. Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa buku, jurnal, dan makalah yang relevan dengan topik penelitian.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sinulingga (2011) teknik pengumpulan data merupakan cara-cara atau langkah-langkah yang ditempuh untuk mendapatkan data dalam penelitian ini.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah adalah dengan studi kepustakaan (library research). Penulis akan mengumpulkan dan menelaah buku, catatan, dan laporan yang berhubungan dengan kalimat pasif dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan penulis untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan buku-buku yang terkait dengan kata kerja kalimat pasif dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia dan informasi yang bersumber dari buku, jurnal, makalah, dan bahan kepustakaan lainnya.

2. Melakukan pengaturan atau penyusunan data secara sistematis sesuai

(41)

teknis analisis data.

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah langkah menelaah data untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan rumusan masalah penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode perbandingan. Analisis data dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan memperoleh data melalui buku-buku, internet, dan literatur yang berhubungan dengan masalah yang ditelitiyang memiliki kaitan dengan penggunaan kata kerja dalam kalimat pasif dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan oleh penulis dalam analisis data ialah sebagai berikut:

1. Melakukan seleksi, pencatatan, dan pengelompokan data-data dan informasi yang mampu mendukung analisis penulis.

2. Menguraikan data-data yang telah dikumpulkan dan disusun secara sistematis serta dengan menyertakan uraian keterangan yang akan disampaikan.

3. Menganalisis data-data menggunakan teori-teori yang telah ditentukan dalam landasan teori.

4. Membandingkan (mengkontraskan) data-data lalu mencari perbedaan dan persamaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, baik dari jenisnya maupun strukturnya.

(42)

5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil temuan perbedaan dan persamaan antara kalimat tanya kedua bahasa tersebut dan dideskripsikan sebagai hasil penelitian.

(43)

BAB IV

ANALISIS & TEMUAN

4.1 Perbedaan Kata Kerja dalam Kalimat Pasif Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia

Telah disajikan pada bab sebelumnya mengenai tinjauan pustaka, konsep, landasan teori, dan metode yang digunakan. Pada bab empat ini akan menjelaskan mengenai jenis-jenis kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Sesuai dengan judul penelitian ini, maka hasil yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah hasil analisis kontrastif kata kerja kalimat pasif pada bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia dengan menggunakan analisis kontrastif.

Dalam hasil penelitian ini dapat ditemukan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dalam kategori sebagai 被动结构bèidòng jiégòu, atau struktur kalimat pasif. Sedangkan kata kerja dalam kalimat pasif dalam bahasa Indonesia lebih banyak dibentuk dengan imbuhan kata “di-“. Sedangkan ciri penting lainnya yaitu objek (penderita) yang semula terkena akibat dari kata kerja dan ditempatkan di akhir kalimat, dikedepankan sehingga menjadi subjek.

Selain itu, kata kerja dalam kalimat pasif dalam bahasa Mandarin harus diakhiri dengan pelengkap yang menunjukkan hasil dari apa yang sudah terjadi, misalnya 了le yang artinya telah atau sudah yang menunjukkan hal tersebut telah dilakukan atau terjadi. Lebih jelasnya perbedaan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua aspek yaitu segi bentuk dan segi fungsi.

(44)

4.1.1 Bentuk

4.1.1.1 Kata kerja dalam kalimat pasif Bahasa Mandarin

Kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin ditandai dengan adanya preposisi dalam kalimat tersebut, seperti 被 bèi, 叫 jiào, 让 ràng, 给 gĕi.

Pembentukan kalimat pasif dengan menggunakan preposisi seperti :

Subyek (obyek penderita) + kata Depan 被bèi + Obyek (subyek pelaku)+

Kata Kerja + Elemen

叫 jiào dan 让 ràng sering dipergunakan dalam ragam lisan sedangkan 被 bèi dalam ragam tulis dan resmi.Pelaku bisa dihilangkan setelah 被 bèi karena 被 bèi bisa dipergunakan setelah kata kerja, namun pelaku dalam kalimat 叫 jiào dan让 ràng tidak boleh dihilangkan.Berbeda dengan kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Indonesia kata kerja dalam bahasa Mandarin biasanya atau sering kali di depan objek.

Dengan kata lain tidak dilekatkan dengan kata kerja seperti dalam kata kerja bahasa Indonesia. Contoh kalimat dapat dilihat seperti di bawah ini:

1. Dengan Preposisi 被 bèi Rumus pembentukannya yaitu:

Subyek (obyek penderita) + Kata Depan 被 bèi + Obyek (subyek pelaku) + Kata Kerja + Elemen

Contoh 1 : Living Mandarin Level 10 hal 7

你老是 被 他的 甜言蜜语 给骗

nǐ lǎo shì bèi tā de tiányánmìyǔ gěi piàn le kamu selaludi dia punya kata manis bohongi sudah

(45)

subjek preposisi objek kata elemen

pasif kerja

Kamu selalu dibohongi perkataan manisnya.

Contoh 2 : Living Mandarin Level 10 hal 7

弟弟刚才 被 鞭炮声 给吓到 了

dìdì gāngcái bèi biānpào shēng gěi xià dào le

tadi adik di suara petasan dikejutkan sudah subjek preposisi objek kata kerja elemen

pasif

Tadi adik dikejutkan oleh suara petasan.

Contoh 3 : Living Mandarin Level 10 hal 7

哥哥 被 一只老鼠 给吓跑 了

gēgē bèi yī zhǐ lǎoshǔ gěi xià pǎo le abang di seekor tikus lari terbirit sudah subjek preposisi objek kata kerja elemen

pasif

abang terkejut lari karena seekor tikus.

2. Dengan Preposisi 叫 jiào Rumus pembentukannya yaitu:

Subyek (obyek penderita) + Keterangan +Preposisi 叫 jiào + Obyek (subyek pelaku)

Contoh 1 : Living Mandarin Level 10 hal 9

我 还知道在一本很有名的书 叫 易经。

hái zhīdào zài yī běn hěn yǒumíng de shū jiào yì jīng saya juga tahu sebuah buku terkenal disebut Yijing subjek keterangan preposisi objek

pasif

Saya juga tahu ada sebuah buku yang terkenal disebut dengan kitab Yi Jing.

Contoh 2 : Living Mandarin Level 10 hal 22

Rumus pembetukannya: Kata tanya + Preposisi Pasif + kata kerja + elemen.

(46)

什么 叫 做忘 呢?

Shénme jiào zuò wàng ne

apa disebut menjadi lupa kah kata tanya preposisi kata kerja elemen

pasif

Apakah yang disebut dengan lupa?

3. Dengan Preposisi 让ràng Rumus pembentukannya yaitu :

Subyek (pelaku) + Kata Depan 让ràng + Obyek (penderita)+ Kata Kerja +Elemen

Contoh 1 : Living Mandarin Level 10 hal 30

大王 就让 我 试剑

dàwáng jiù ràng wǒ shì jiàn

raja biarkan saya coba pedang

subjek preposisi objek kata kerja pasif

Saya disuruh raja untuk mencoba pedang.

Contoh 2 : Living Mandarin Level 4 hal 48

别 让 它 黏 在墙上

bié ràng nián zài qiáng shàng

jangan biarkan dia menempel di atas dinding subjek kata kerja objek kata kerja keteraga tempat

pasif

Jangan biarkan dia tertempel di atas dinding. 4. Dengan Preposisi 给gĕi

Rumus pembentukannya yaitu :

Keterangan +Subyek (obyek penderita) + Kata Depan 给 gĕi+ Obyek (subyek pelaku) +Kata Kerja + Elemen

(47)

Contoh 1 : Living Mandarin Level 10 hal 22

这台车究竟 是你 给 他 买 的 ?

zhè tái chē jiùjìng shì nǐ gěi mǎi de?

unit mobil ini kamu beri dia beli punya

keterangan subjek preposisi objek kata elemen pelaku penderita kerja

Mobil ini sebenarnya dibeli oleh kamu untuk dia?

Contoh 2 : Living Mandarin Level 4 hal 43

那个东西, 请拿 给 我 看看。.

nàgè dōngxi, qǐng ná gěi kàn kàn.

barang itu, tolong ambil beri saya lihat keterangan kata kerja kata kerja pasif objek kata kerja.

Tolong coba diberi saya lihat barang itu.

Contoh 3: Living Mandarin Level 4 hal 43

那辆脚踏车 是他 借 给 我 的.

nà liàng jiǎotàchē shì tā jiè gěi de.

sepeda itu dia pinjam beri saya punya keterangan subjek kata kerja preposisi objek elemen

penderita Sepeda itu dipinjamkan oleh dia kepada saya.

2. Tanpa Preposisi (Secara Makna)

Kalimat pasif tanpa menggunakan preposisi disebut juga kalimat pasif secara makna. Itu artinya, kalimat pasif tersebut tidak terdapat kata preposisi 被 bèi, 叫 jiào, 让 ràng, 给 gĕi namun secara tersirat mempunyai makna pasif. Selain dapat diketahui dari makna kalimat tersebut merupakan kalimat pasif, juga biasanya ditandai dengan menggunakan beberapa kata kerja yang bermkana pasif seperti 遭 shòu, 挨 ài, 由 yóu, 是 shì……的 de.

Selain itu kata kerja dalam kalimat pasif bahasa Mandarin tanpa kata

(48)

pelakunya dinyatakan dalam kalimat dan kalimat pasif yang pelakunya tidak dinyatakan dalam kalimat. Sehingga kita harus mengetahui pola kalimat yang digunakan dalam kalimat tersebut apakah merupakankata kerja pasif yang bermakna pekerjaan, tindakan, dan perubahan.

Agar dapat membedakan perlu tidaknya muncul suatu objek yang pasti untuk diikuti dengan pekerjaan dan tindakan dalam suatu kalimat. Hal ini menyebabkan kata kerja pasif dalam kalimat bahasa Mandarin cenderung rumit dan tidak mudah dijabarkan. Berikut rumus pembentukannya yaitu :

Subjek (penerima tindakan) + Obyek (pelaku tindakan) + Predikat Contoh 1 : Living Mandarin Level 10 hal 12

老子说: 刚强的 容易 折断,柔弱的 能够 保全.

lǎozi shuō:gāngqiáng de róngyì zhéduàn, róuruò de nénggòu bǎoquán keterangansubjek 1 kata kata subjek 2 kata kata kerja 2

sifat kerja sifat2

Laozi berkata : “yang keras akan mudah dipatahkan, yang lemah lembut mampu melindungi dirinya.

Contoh 2 : Living Mandarin Level 4 hal 9

你要的东西 我都 带来 了.

nǐ yào de dōngxi wǒ doū dài lái le barang yang kamu mau semua saya bawa datang sudah subjek objek pelaku kata kerja pasif elemen Barang yang kamu mau sudah saya bawa.

Contoh 3 : Living Mandarin Level 4 hal 43

这本书 是王老师 寄给 我 的。

zhè běn shū shì wáng lǎoshī jì gěi de.

keterangan subjek kata kerja pasif objek elemen Buku ini dipinjamkan Laoshi Wang kepada saya.

(49)

4.1.1.2 Bentuk Kalimat Pasif dalam Bahasa Indonesia

Seperti yang telah dijabarkan pada bab ke-2, kalimat pasif bahasa Indonesia adalah kalimat yang subyeknya merupakan tujuan dari perbuatan di predikat verbalnya (Alwi, 2001:808).

Kata kerja dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua yaitu kata kerja transitif dan kata kerja taktransitif. Yang dimaksud dengan kata kerja transitif adalah kata kerja yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif, sedangkan yang dimaksud dengan kata kerja taktransitif adalah kata kerja yang tidak memiliki nomina di belakangnya.

Contoh 1

kalimat dengan kata kerja transitif (imbuhan di-, - kan) Bahasa Kita Bahasa Indonesia Kelas 6 A halaman 13 Malin Kundang diadakan di gedung kesenian

S P O K

Contoh 2

kalimat dengan kata kerja transitif (imbuhan di-, - kan) Bahasa Kita Bahasa Indonesia Kelas 6 A halaman 38 Tiga siswa dicalonkan mewakili sekolah Rino

S P K O

Contoh 3

kalimat dengan kata kerja transitif (imbuhan di-,) Bahasa Kita Bahasa Indonesia Kelas 6 A halaman 15 Sinta Bella disuntik tetanus

S P O

Gambar

Tabel 4.1 Tabel Perbedaan Pembentukan Kata Kerja dalam Kalimat Pasif  Bahasa Mandarindan Bahasa Indonesia
Tabel  4.1.2  Tabel  Perbedaan  Fungsi  Kata  Kerja    Kalimat  Pasif  dalam  Bahasa  Mandarin dan Bahasa Indonesia

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

INSTRUMEN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU OLEH KEPALA SEKOLAH TERHADAP GURU..

However, only the new IOP from the in-situ self calibration were not able to model the inaccuracies of the direct measurements of the position and orientation of

Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan 90 hari kalender, dan dukungan bank harus dilampirkan sesuai dengan berita acara penjelasan pekerjaan. Jaminan penawaran ditentukan

Maka dengan ini diarahkan kepada semua yang akan menjalankan pemindahan haiwan dan produknya dalam negeri untuk mematuhi Arahan Prosedur Tetap Veterinar Malaysia

[r]

Pada hari ini Selasa tanggal Tiga bulan April tahun Dua Ribu Dua Belas pukul 12.00 Wib, kami Panitia Lelang Jasa Konstruksi Rehabilitasi Ruang Kelas MAN Takeran Tahun

6.2.4.6 Sekiranya pemilik haiwan, penganjur pertandingan atau persatuan didapati ingkar dan tidak bekerjasama dengan Pegawai MAQIS dan PVN semasa proses kuarantin

Survelan atau pemantauan bahan vaksin dan drug veterinar samada melalui pemeriksaan rekod, stok dan inventori akan dijalankan di semua premis haiwan seperti