2. PERANCANGAN TAPAK
2.1. Lokasi Proyek
Lokasi yang dipilih ada di kawasan wisata Candi Borobudur. Site yang direncanakan adalah di Dusun esa Borobudur, Kabupaten Magelang. Site dipilih di daerah kawasan wisata KSN Borobudur dengan pertimbangan sebagai berikut:
Site terletak di Kawasan Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang sekaligus berdekatan dengan D.I. Yogyakarta yang mana merupakan destinasi wisata unggulan yang mendunia dan dikunjungi oleh ribuan wisatawan domestik maupun asing setiap harinya, sehingga.
Site terletak di Kawasan Wisata Candi Borobudur, juga dengan Candi Mendut dan Pawon, sehingga memiliki nuansa spiritual Buddha yang kuat dan sesuai untuk mewadahi fungsi dari bangunan berfasilitas seni Buddha ini.
Belum terdapat fasilitas kesenian Buddhis untuk memperkuat dan merevitalisasi nuansa spiritual agama Buddha yang menjadi pertimbangan banyak ahli maupun pengembang Candi Borobudur.
2.1.1. Potensi Dan Kekurangan Tapak
Tapak memiliki beberapa potensi sebagai berikut :
Berdekatan dengan zona I dan II Candi Borobudur serta panorama sawah sehingga mampu memberikan view ke luar yang maksimal ke arah alam sekitar dan Borobudur.
Bersebelahan dengan vihara Padmasambhava, satu-satunya vihara di area Borobudur yang secara periodic digunakan untuk Waisak, nuansa Buddhisnya terasa dan bangunan grha seni menjadi terjangkau oleh para umat Buddha karena bersebelahan dengan salah satu pusat aktivitas Waisak/ rohaniwan Buddha.
Terlihat dari Hotel Manohara dan kantor PT Taman Wisata Candi Borobudur, sehingga para wisatawan dan peneliti dapat mengenali keberadaan grha seni.
Berdekatan dengan akses jalan utama Borobudur – Aman Jiwo
Tapak juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain :
Berada di jalan sekunder bukan tepat berada di akses jalan utama, sehingga membutuhkan penyelesaian desain agar bangunan terlihat lewat akses jalan utama.
2.2 Data Tapak
Tapak yang dipilih berada di kawasan Desa Ngaran II, desa Borobudur yang berada di sebelah selatan zona II Candi Borobudur. Lokasi tapak bersebelahan dengan Vihara Grha Padmasambhava yang menjadi salah satu landmark kawasan tersebut, sehingga memudahkan masyarakat menemukannya.
Selain itu lokasinya juga strategis karena dapat dilihat dari Hotel Manohara di Borobudur. View dari tapak yang terpilih juga mendapatkan view Borobudur dan panorama sawah sehingga memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Gambar 2.1. Lokasi Proyek Makro Sumber: Wikimapia.com
Gambar 2.2. Lokasi Proyek Mikro Sumber: Wikimapia.com
2.2.1 Ukuran Tapak
Gambar 2.3.Ukuran Proyek Terpilih
Luas lahan sekitar 3,6 h a, dengan mengikuti pola tapak yang sudah ada.
2.2.2. Kondisi Lingkungan Sekitar Tapak
Gambar 2.4.Lingkungan Sekitar Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kondisi lingkungan sekitar tapak didominasi oleh lahan sawah terbuka dan kampung-kampung desa Borobudur. Sawah-sawah terbuka di lingkungan sekitar Borobudur diduga merupakan bekas danau / sungai purba, sehingga lokasi tersebut tidak diikutsertakan dalam pemilihan tapak.
Gambar 2.5 Telaga Borobudur Sumber: National Geographic Indonesia
Gambar 2.6 Jejak Sungai Purba Sumber: Wikimapia
Gambar 2.7 Peta Jalur Hijau Borobudur Sumber: www.greenmap.com
Site juga berdekatan dengan pengrajin daun Bodhi serta pengrajin patung –patung Buddha sehingga dapat dijadikan pendukung fungsi bangunan yang salah satunya adalah workshop dan galeri.
Lokasi Site Lokasi Site
Sawah – Danau Purba
2.2.3. Tinjauan Data Pengembangan KSN Candi Borobudur
Provinsi : Jawa Tengah
Kota : Magelang
Kecamatan : Kecamatan Borobudur
Desa : Desa Borobudur
Batas – batas:
Utara Sawah, Candi Borobudur, Hotel Manohara, Kantor TWCB, Dusun Ngaran II
Timur Gedung Padmasambhava, Dusun Ngaran II Selatan Rumah Warga
Barat Panorama Sawah
Jumlah pengunjung Candi Borobudur:
o 2500 – 3000 orang / hari biasa
o +/- 5.000 – 7.000 orang / per hari (hari libur biasa) (“Wisatawan Borobudur Turun Drastis”, par,2)
o 20.000 – 30.000 orang/per hari (hari libur nasional)
(“Candi Borobudur Siapkan Tambahan Fasilitas Wisata”, par.8)
2.2.4. Peraturan Yang Berlaku Pada Tapak
Ketinggian bangunan : maksimal 3 lantai di korektor primer
KDB : bangunan 1 lantai – 50%
bangunan 2 lantai – 45%
bangunan 3 lantai – 35%
FAR (KLB) : bangunan 1 lantai – 50%
bangunan 2 lantai – 100%
bangunan 3 lantai – 150%
GSB : 14 m
Bangunan grha seni ini didesain menjadi 2 lantai. Syarat batas KDB 40% dari luas lahan sebesar 3,6 ha = 14.400 m2 dan batas KLB 80%
(2 lantai) dari luas lahan 3,6 ha = 28.800 m2. Keduanya terpenuhi karena total KLB 2 lantai bangunan grha seni ini 10.412.5 m2, di mana masih lebih kecil luasannya daripada ketentuan KDB dan KLB yang ditetapkan.
Luasan dan ketinggian bangunan yang minim memiliki tujuan menghormati alam kawasan wisata Candi Borobudur, sehingga desain yang ada tidak merusak atmosfer Borobudur dan sebaliknya desain grha seni ini mendukung atmosfer Buddhis dan sakral dari Candi Borobudur.
2.2.5. Klimatologi Tapak
Temperatur / Suhu rata-rata : 26,7 C
Kelembaban Udara rata-rata : 84,3 %
Kecepatan Angin : 7,3 m/detik
Curah Hujan rata-rata / tahun : 218,5 mm
Penguapan Panci Terbuka : 100 mm
Kelembaban dan suhu udara dengan temperatur yang cukup tinggi menjadikan massa utama bangunan yang berfungsi galeri dibuat tertutup dan menggunakan sistem penghawaan aktif karena suhu dan kelembaban tinggi dapat merusak ketahanan barang seni yang ditampilkan.
2.3. Zonasi Kawasan Wisata Candi Borobudur
Berdasarkan Masterplan Candi Borobudur yang dibuat pada tahun 1979, yang salah satu bagiannya berisi tentang pembagian zonasi Candi Borobudur dan situsnya (JICA, 1979) Dalam masterplan tersebut Cand Borobudur terbagi menjadi 5 zonasi yang meliputi :
Zona 1. Zona ini merupakan zona Inti (Sanctuary area), dengan luas areal sekitar 0.078 Km². Zona tersebut secara khusus diperuntukkan untuk perlindungan monumen dan lingkungannya. Di dalam zona ini tidak diperkenankan mendirikan bangunan dan fasilitas baru yang bertentangan dengan prinsip pelestarian. Fasilitas yang ada hanya berupa pos keamanan, penerangan listrik, pagar, sistem drainase yang semuanya untuk tujuan perlindungan dan pelestarian bangunan Candi Borobudur.
Zona II. Zona ini merupakan zona taman wisata arkeologi, untuk menyediakan fasilitas taman dan perlindungan lingkungan sejarah dengan luas areal 0.87 Km². Pada zona ini dapat diberi fasilitas baru namun harus dibatasi jumlahnya, diawasi bentuk arsitekturnya dan keserasian lingkungannya. Semuanya tidak bertentangan dengan upaya pelestarian dan menimbulkan pencemaran aspek arkeologi. Fasilitas yang ada misalnya museum, tempat parkir, toilet, tempat ibadah, warung cinderamata, loket karcis.
Zona III. Zona ini merupakan zona pengembangan (Development zone) dengan luas sekitar 10 Km². Zona tersebut merupakan kawasan pemukiman terbatas, daerah pertanian, jalur hijau, dan fasilitas khusus yang dibuat dalam rangka menunjang kelestarian candi.
Zona IV. Zona ini merupakan zona perlindungan kawasan bersejarah (Historical scenery preservation zone) dengan luas areal sekitar 26 Km².
Zona V. Zona ini merupakan zona perlindungan kawasan bersejarah dengan luas areal sekitar 78,5 Km², yang diperlukan dalam rangka penanggulangan kerusakan terhadap peninggalan-peninggalan purbakala yang masih terpendam dalam tanah.
(”Pemanfaatan dan Dampak Pariwisata Terhadap Candi Borobudur”, par.10)
Gambar 2.8. Suasana zona-zona Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kawasan candi sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Taman Purbakala Nasional dibagi dalam 3 (tiga) zona yang masing-masing ditetapkan peruntukan, luas dan batasnya.
Zone I Area suci, untuk perlindungan monumen dan lingkungan arkeologis (radius 200 m) merupakan lingkungan kepurbakalaan yang diperuntukkan bagi perlindungan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan fisik candi. Luas zona 1 untuk Candi Borobudur adalah kurang lebih 44,8 Ha, dan berbentuk lingkaran dengan titik pusat pada as candi
Zone II Zona taman wisata arkeologi, untuk menyediakan fasilitas taman dan perlindungan lingkungan sejarah (radius 500 m), merupakan kawasan di sekeliling zona 1 masing-masing candi dan diperuntukkan bagi pembangunan taman wisata sebagai tempat kegiatan kepariwisataan, penelitian, kebudayaan, dan pelestarian lingkungan candi. Luas zona 2 untuk Candi Borobudur adalah kurang lebih 42,3 Ha.
Zone III Zona penggunaan tanah dengan aturan khusus, untuk mengontrol pengembangan daerah di sekitar taman wisata (radius 2 km) merupakan kawasan di luar zona 2 masing-masing candi dan diperuntukkan bagi permukiman terbatas, daerah pertanian, jalur hijau, atau fasilitas tertentu lainnya yang disediakan untuk menjamin keserasian dan keseimbangan kawasan di zona 1 pada umumnya, dan untuk mendukung kelestarian candi serta fungsi taman wisata pada khususnya. Penataan ruang, peruntukan, dan pengembangan zona 3 dilakukan oleh Pemerintah Daerah yang bersangkutan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memperhatikan pertimbangan Menteri. Luas zona 3 untuk Candi Borobudur adalah kurang lebih 932 Ha.
Zone IV Zona Perlindungan daerah bersejarah, untuk perawatan dan pencegahan kerusakan daerah sejarah (radius 5 km)
Zone V Zona taman arkeologi nasional, untuk survei arkeologi pada daerah yang luas dan pencegahan kerusakan monumen yang masih terpendam (radius 10 km)
Zona I dan zona II dimiliki oleh pemerintah. Zona I dikelola oleh Balai Studi dan Konservasi Borobudur, zona II dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Pada zona II juga tersedia fasilitas turis : parkir mobil, loket tiket, pusat informasi, museum, kios-kios, dan lain-lain. Zona III, IV, dan V dimiliki oleh masyarakat, tetapi pemanfaatannya dikontrol oleh pemerintah daerah.
(“Selayang Pandang Candi Borobudur”, par.23)
Gambar 2.9. Peta Zonasi Borobudur
2.4. Analisa Tapak 2.4.1. Pencapaian Tapak
Sirkulasi kendaraan utama dicapai dari Jalan Salaman Mungkid yang menerus kea rah kota di mana merupakan akses utama kota menuju Borobudur.
Akses menuju Borobudur digambarkan:
Kota - 2. Jl. Salaman-Mungkid – 3. Jl. Badrawati Borobudur – 4. Tapak (Dusun Ngaran II)
Gambar 2.10. Pencapaian Tapak
Mengacu pada skema pencapaian para wisatawan dari arah kota dan masyarakat ke tapak maka kriteria penempatan entrace tapak antara lain :
Entrance dan out kendaraan bermotor hendaknya diletakkan di area yang mudah dicapai oleh pengendara dari arah jalan utama yaitu dari arah jalan yang berasal dari kota.
Pedestrian pada tapak diakses sama dengan main road (jalan utama) karena tapak ini hanya berbatasan jalan dan pedestrian di satu sisi yaitu sisi selatan saja. Namun entrance kendaraan dengan pejalan kaki di sini dibedakan.
Dari kriteria yang ada maka pencapaian ke tapak dapat direncanakan seperti berikut ini :
Gambar 2.11. Pencapaian Bangunan
2.4.2. Pola Penataan Massa dan Space Penangkap
Gambar 2.12. Aksis Borobudur
Penataan massa utama mengambil aksis Borobudur sebagai acuan dan ditata miring menghadap Borobudur untuk mempertegas spiritualitas Buddhis yang ingin diwujudkan dalam desain. Selain itu hal ini sesuai dengan arahan pengembangan Borobudur di mana bangunan yang terbangun di sekitarnya harus menjadikan Borobudur sebagai pusat dari mandala.
IN OUT
Parkir
Entrance
Penataan massa mengikuti bentuk tapak dan sesuai dengan zoning yang ada. Dimana antar satu massa dengan massa lainnya dihubungan oleh connector berupa selasar maupun ruang luar. Perancangan ruang luar memperhatikan fungsi ruang dan aktivitas yang terjadi di dalamnya. Kendaraan dan pejalan kaki datang dari arah Jl. Badrawati karena merupakan sirkulasi utama wisata, sehingga dirancang space penangkap pada area ini yang menarik masyarakat untuk mengunjungi bangunan ini. Dengan integrasi antara massa yang miring menghadap Borobudur dan kebutuhan bidang tangkap di bagian entrance, maka terciptalah ruang tangkap bangunan.
Gambar 2.13. Area Ruang Tangkap 2.4.3. Analisa Zoning dan Sirkulasi
Gambar 2.14. Zonasi
Adanya bentuk site yang menonjol di tengah dan aksis Borobudur, menjadikannya sebagai zona dengan hirarki yang paling tinggi, sehingga zona tersebut digunakan sebagai zona spiritual - tempat bangunan fungsi utama yaitu fasilitas galeri utama.
Sedangkan kanan dan kirinya adalah zona duniawi di mana bangunan-bangunan yang ada merupakan fungsi penunjang dari zona utama. Dan dari pembagian zona tersebut menghasilkan sirkulasi sebagai berikut:
Gambar 2.15. Denah Alur Sirkulasi
Gambar 2.16. Alur Sirkulasi
Area sirkulasi penerima dan galeri rupa - arupa berada di zona utama yang berada di tengah, memperkuat jalur sirkulasi yang didasarkan atas aksis Borobudur.
Sirkulasi pada area utama ini didesain mengarah untuk mendukung aksis spiritual tersebut.
Galeri-galeri penunjang, perpustakaan dan teater ditempatkan dalam zona duniawi yang secara hirarkis dalam posisi setelah zona spiritual. Sirkulasi dalam area ini bebas karena sifatnya yang ‘duniawi’.
Area-area yang bukan area utama seperti sirkulasi servis, pengelola dan kebakaran yang merupakan area-area pendukung berada di zona penunjang atau bagian dari zona duniawi yang paling luar.