• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HIV/AIDS SEBAGAI PENYAKIT MENULAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II HIV/AIDS SEBAGAI PENYAKIT MENULAR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

17

A. Sejarah Perkembangan HIV/AIDS di Dunia dan di Indonesia

Sejarah HIV/AIDS diawali saat ada sejenis simpanse sebagai sumber infeksi HIV ke manusia di Afrika Selatan. Simian Immunodeviciency Virus (SIV) diyakini yang menularkan virus ke tubuh manusia. Virus ini bermutasi menjadi Human Immunodeviciency Virus (HIV) saat pemburu hewan pemburu hewan ini untuk pangan. Pada keadaan ini diduga terjadi kontak dengan darah simpanse yang telah terinfeksi virus immunodeficiency. Perlahan namun pasti, virus ini menyebar ke seluruh daratan Afrika dan bagian lain di seluruh dunia. Dalam sejarah, beberapa pihak masih mencurigai adanya sumber infeksi HIV lain, bahkan ada yang pernah mengatakan sumber infeksi HIV adalah akibat adanya kecelakaan produk penelitian biologi, namun ini tidak benar karena sebelum epidemic terjadi pertama kali pada tahun 1975 belum ada teknologi saat itu yang mampu untuk merancang jenis virus tersebut. 26

Pada tahun 1986 tipe virus HIV-2 ditemukan dan diisolasi dari penderita AIDS di Afrika Selatan. Transmisi virus HIV-2 serupa dengan transmisi virus HIV-1 dan mengakibatkan gejala-gejala infeksi yang tidak berbeda dengan gejala- gejala yang diakibatkan virus HIV-1. Pada penderita yang terinfeksi virus HIV-2 perjalanan menjadi AIDS dinyatakan lebih lambat dan lebih ringan dibandingkan penderita yang terinfeksi virus HIV-1. Selain itu ditahap awal penularan virus HIV-2 lebih rendah dibandingkan penularan infeksi HIV-2 lebh tinggi dibandingkan penularan infeksi HIV-1. Infeksi HIV-2 lebih sering ditemukan didaratan Afrika. Kasus pertama infeksi virus HIV-2 ditemukan di Amerika Serikat tahun 1987 dan kemudian ditemukan pula kasus-kasus infeksi HIV-2 di bagian dunia yang lain. Infeksi virus HIV menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok dunia, terutama akibat penularan secara kontak atau hubungan badan.

Sebesar 75% kasus terjadi akibat faktor risiko ini, terutama hubungan badan lain

26 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, (Penerbit IN MEDIA, Bogor : 2015), 1-2.

(2)

jenis. Menyebarnya kasus HIV/AIDS di Amerika Serikat terjadi tepat pada saat adanya isu kebebasan seksual sesame jenis.27

Dari waktu ke waktu nama HIV/AIDS semakin terkenal, terkenalnya nama itu tidak tidak disertai dengan pengetahuanbenar tentang nama tersebut. HIV dan AIDS sering disama artikan padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. HIV (Virus Human Immunodeviciency Virus) merupakan penyebab penyakit yang sangat mematikan dan dikenal dengan nama AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) mrupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan global yang tiada habisnya dari tahun ke tahun dan hamper tersebar di seluruh negara di dunia. HIV/AIDS merupakan penyakit yang memiliki sejarah hidup. Sejarah yang terus berkesinambungan sehingga merupakan rentang peristiwa yang Panjang dari zaman dahulu hingga sekarang, dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Sejarah tentang HIV/AIDS dimulai ketika tahun 1979 di Amerika Serikat ditemukann seorang gay muda dengan Pneumocystis Carinii dan dua orang gay muda dengan Sarkoma Kaposi. Pada tahun 1981 ditemukan seorang gay muda dengan kerusakan sistem kekebalan tubuh, di Amerika Utara dan Inggris epideik pertama terjadi pada kelompok laki-laki homoseksual, selanjutnya pada saat ini epidemic terjadi juga pada pengguna obat dan pada populasi heteroseksual.28

Secara global, infeksi HIV/AIDS mengalami penurunan. Semua ini dikarenakan oleh intervensi yang menyebabkan perubahan pola komunikasi, pemakaian kondom, pencegahan transmisi dari ibu ke anak,, kampanye khitan dan pencegahan lainnya. Infeksi baru sudah menurun satu decade terakhir. Tahun 2013 infeksi HIV dunia mencapai 2,3 juta, mengalami penurunan sebanyak 33%

sejak tahun 2001.29

Di Indonesia HIV pertama kali dilaporkan di bali pada bulan April 1987, terjadi pada orang berkebangsaan Belanda. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan tahun 2011, kasus HIV/AIDS tersebar di 368 dari 498 Kabupaten/Kota di

27 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, (Penerbit IN MEDIA, Bogor : 2015), 2.

28 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 3.

29 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 5.

(3)

seluruh Provinsi di Indonesia, secara signnifikan kasus HIV/AIDS terus meningkat.

Kasus HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tehun terutama dari tahun 2009 ke tahun 2010 terjadi peningkatan yang cukup tajam.

Hal ini disebabkan sudah semakin baiknya teknologi informasi sehingga pencatatan dan pelaporan kasus HIV/AIDS yang terjadi di masyarakat sudah semakin baik, serta kerjasama yang baik dar pemerintah dan masyarakat sehingga populasi komunitas yang beresiko dapat dijangkau dan diketahui. Kemudian di tahun 2011 terjadi sedikit penurunan kasus HIV/AIDS hal ini dapat disebabkan penderita yang sudah meninggal dunia dan efek dari diperkenalkan dan dijalankannya program CUP (Condom Use 100 Percent).

Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit paling mematikan dalam sejarah. Penyakit adalah bagian dari alam, namun kita harus melakukan yang terbaik untuk mencagah penyebaran penyakit ini, dan untuk mendidik masyararakat tentang pencegahan penyakit yang sudah ada di sekitar kita. Tidak lupa untuk senantiasa membudayakan hidup sehat agar senantiasa terhindar dari penyakit. Setiap dua pulih lima menit di Indonesia satu orang akan terinfeksi HIV, satu dari lima orang terinfeksi berusia di bawah 25 tahun. Proyeksi Kementerian Kesehatan Indonesia Memperlihatkan tanpa adanya percepatan program pencegahan HIV, lebih dari 500.000 orang di Indonesia akan positif terinfeksi HIV pada tahun 2014, Papua, Jakarta dan Bali yang berada paling depan dalam tingkat penyebaran kasus HIV baru per 100.000 orang. Jakarta memiliki angka terbesar untuk kasus baru pada tahun 2011 yaitu sebesar 4.012 kasus.30

Beberapa data pendukung penemuan HIV/AIDS di Indonesia yaitu 15 April 1987 kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan. Seorang wisatawan beruasia 44 tahun asal Belanda, Edward Hop meninggal di Rumah Sakit Sanglah Bali, kematian laki-laki asing itu disebabkan AIDS. Menurut catatan pada masa itu, hanya ada enam orang di Indonesia yang didiagnosis HIV positif, dua diantara mereka mengidap AIDS. Pada tahun 1987 sampai dengan Desember 2001 dari 671 pengidap AIDS di Indonesia, 280 diantaranya meninggal dunia. Pada bulan

30 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 6-7.

(4)

Januari 2003 penderita HIV/AIDS di Bali bertambah 18 orang, total komulatif penderita dari 233 orang menjadi 251 orang. Sampai saat ini belum bisa dipastikan posisi bali dalam hal urutan jumlah penderita HIV/AIDS dalam skala nasional. Pada bulan Juli 2013 salahsatu kasus baru yang belum banyak diketahui orang lain adalah merebaknya HIV/AIDS dikalangan para petugas kesehatan akibat secara tidak sengaja tersuntik jarum suntik yang biasa dugunakan oleh pada penderita pengakit yang di identikan dengan penyakit seksual ini.31

Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta tercatat pada urutan pertama untuk kasus AIDS di Indonesia dibandingkan dengan Papua, Bali, Riau, Jawa Timur dan Jawa Barat. Ke enam daerah ini memasuki concentrated level epidemic AIDS.

Penyebab tingginya kasus AIDS di enam Provinsi itu adalah tidak sehatnya perilaku seksual. Untuk itu diperlukan penanganan serius penularan AIDS, seperti program abstinensi atau puasa seks, setia pada pasangan dan penggunaan alat kontrasepsi. Kasus AIDS juga banyak ditemukan pada pengguna NAPZA, khusunya di DKI Jakarta penangannya lewat peer group edication. Semula kasus AIDS di Indonesia berada pada low level epidemic, sejak tahun 2000 kasus AIDS di Indonesia meningkat menjadi concentrated level epidemic. Tapi belum masuk tahap epidemi meluas yang diindikasikan dengan tingkat persentse kasus AIDS pada ibu hamil mencapai di atas satu persen. Di Indonesia saat ini terdapat sekitar 40 ribu kasus Ibu Rumah Tangga yang terkena HIV/AIDS karena tertular dari suami mereka. Pemicu penularan HIV/AIDS terbesar sampai saat ini, menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional adalah hubungan seksual yang beresiko.32

Pada masa kini sebanyak 3,1 jutaa pria merupakan penikmat seks bebas dan pelaku zina, lalu 800 ribu lainnya berhubungan seksual sesame jenis.

Sedangkan 230 ribu pengidap terjangkit melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian. Dilihat dari usia pengidap AIDS paling banyak terjadi pada kelompok produktif yaitu dengan rentang usia 20 hingga 29 tahun, disusul kelompok umur 30 hingga 39 tahun. Tahun 2013 ada sekitar 170.000 sampai 210.000 dari 220 juta penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS. Perkiraan

31 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 8.

32 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 8-9

(5)

prevalensi keseluruhan adalah 0,1 % di seluruh negeri, dengan pengecualian Provinsi Papua, dimana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4% dan cara penularan utamanya adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi.33

Jumlah kasus kematian akibat AIDS di Indonesia diperkirakan mencapai 5.500 jiwa. Epidemi tersebut terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang yang berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan pelanggan mereka, dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesame pria, sejak 30 juni 2007 42% dari kasus AIDS yang dilaporkan ditularkan melalui hubungan heteroseksual dan 53% melalui penggunaan obat terlarang. Cara penularan yang paling banyak adalah hubungan seks heteroseksual yaitu sebanyak 51%. Berdasarkan data perkiraan jumlah penduduk Indonesia 0,009 % dari yang tercatat adalah sebagai korban narkoba sedangkan 0,001% tercatat sebagai sindikat pengedar (bandar pengedar dan sebagainya).34

B. Pengertian HIV/AIDS

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus penyebab AIDS.

HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfksi seperti di dalam darah, cairan kelamin dan air susu Ibu. Virus ini menyerang system kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh kita untuk melawan segala penyakit yang dating. Namun demikian orang yang tertular HIV tidak berarti langsung sakit. Seseorang bisa hidup dengan HIV dalam tubuhnya bertahun-tahun lamanya tanpa merasa sakit atau mengalami gangguan kesehatan yang serius.

Lamanya masa sehat ini sangat dipengaruhi oleh keinginan yang kuat dari kita sendiri dan bagaimana kita menjaga kesehatan dengan pola hidup yang sehat.

Walaupun tampak sehat, kita dapat menularkan HIV pada orang lain melalui

33Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 10.

34Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 10.

(6)

hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum suntik secara bergantian.35

AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrom disebut sebagai sindrom yang merupakan kumpulan gejala-gejala berbagai penyakit dan infeksi akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus HIV.36 Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular berbagai penyakit, hal itu terjadi karena system kekebalan di dalam tubuh menurun. Perjalanan HIV ke AIDS sangatlah panjang melewati beberapa fase, diantaranya:

a. Fase Pertama

Fase dimana tubuh sudah terinfeksi HIV, gejala dan tanda belum terlihat jelas, kadangkala timbul dalam bentuk influenza, tetapi sudah dapat menularkan HIV ke orang lain, fase ini dikenal dengan periode jendela (window period).37

b. Fase Kedua

Fase ini berlangsung 2 sampai sepuluh tahun setelah terinfeksi HIV.

hasil tes darah terhadap HIV sudah poditif tetapi belum menunjukan gejala-gejala sakit. Orang ini dapat menularkan HIV kepada orang lain.

c. Fase Ketiga

Mulai muncul gejala-gejala penyakit terkait dengan HIV seperti ; keringat dingin berlebihan pada waktu malam, diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang, berat badan terus menurun, yaitu 10% dari berat badan awal dalam waktu satu bulan.

d. Pada fase ini kekebalan tubuh berkurang dan timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik seperti ; kanker kulit yang disebut dengan sarcoma Kaposi, infeksi paru-paru (TBC), infeksi usus yang menyebabkan diare terus menerus, infeksi otak yang

35Depertemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan Tahun 2009, Sehat dan positif untuk ODHA. 1.

36 Depertemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan Tahun 2009, Sehat dan positif untuk ODHA. 1.

37 Depertemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan Tahun 2009, Sehat dan positif untuk ODHA. 2.

(7)

menyebabkan kekacauan mental, sakit kepala dan sariawan, penurunan berat badan lebih dari 10%, fase ketiga dan keempat ini disebut sebagai fase AIDS.38

Penderita AIDS biasanya mengalami krisis kejiwaan pada dirinya, dalam bentuk kepanikan, ketakutan, kecemasan, keputusasaan, dan depresi. Selain itu adanya stigma yaitu reaksi sosial terhadap pasien HIV/AIDS yang jelek juga menjadi permasalahan bagi penderita. Stigma ini muncul karena virus ini berkaitan dengan perilaku seksual yang terlalu di umbar.

C. Epidemologi HIV-AIDS

Pada tahun 2009 sekitar 33 juta orang yang terinfeksi oleh virus dan epidemi HIV (+). Benua Afrika meiliki jumlah tertinggi sebagai akibat tingkat kemiskinan yang tinggi, sehingga akses ke perawatan kesehatan sangat minim.

Penyebaran infeksi virus HIV tertingggi teradapat di negara Afrika Selatan sebanyak 5,7 juta orang terinfeksi dengan virus HIV (+) di afrika selatan. Tingkat prevalensi dewasa adalah 17,9% menurut CIA World Fact Book Statistik. Di afrika selatan anak juga dipengaruhi oleh virus sebanyak 11,2 % dari kejadian HIV (+) pada anak-anak dan pemuda yang berada di bawah usia 24 tahun. Ketika dicari proporsi jumlah mereka yang mengidap HIV (+) dengan jumlah penduduk, ternyata anak-anak menyumbang 11% dari total populasi.39

Epidemologi HIV/AIDS nasional lebih 6,5 juta perempuan di Indonesia menjadi populasi rawan tertular dan menularkan HIV. Perempuan usia subur di Indonesia telah terinveksi HIV sebanyak 24.000. Lebih dari 9.000 perempuan HIV hamil dalam setiap tahunnya di Indonesia dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular bila tidak ada PMTCT. Sedangkan yang termasuk dalam resiko tersebut pasangan muda dari pengguna Napza suntik yang tidak menyadari telah tertular HIV, istri atau pasangan seksual dari ODHA pria, penjaja seks yang hamil,

38 Depertemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan Tahun 2009, Sehat dan positif untuk ODHA. 3.

39 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 13.

(8)

bayi atau balita dengan gangguan tumbuh kembang bayi/balita dengan gizi buruk, bayi atau balita dengan ifeksi berulang.40

Pada epidemologi HIV/AIDS dapat diuraikan mengenai faktor agent, faktor Host dan factor Evironment, yaitu sebagai berikut:

1. Faktor Agent

HIV adalah virus penyebab AIDS termasuk retrovirus yang mudah mengalami mutasi, sehingga sulit untuk membuat obat yangdapat membunuh virus tersebut, Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh, termasuk virus yang sangat sensitive terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan berbagai disenfektan.41

2. Faktor Host

Distribusi golongan umur penderita AIDS, Eropa, Afrika, dan Asia Tidak jauh berbeda. Kelompok terbesar berada pada umur 20-39 tahun, karena aktif melakukan hubungan seksual. Hal ini membuktikan bahwa transmisi seksual baik homoseksual maupun heteroseksual merupakan pola trasmisi utama. Rasio jenis kelamin pria dan wanita di Negara pola I adalah 10:1 karena sebagian besar penderita adalah kaum homoseksual sedangkan di Negara Pola II ratio adalah 1:1.42

3. Faktor Environment

Lingkungan biologis, sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Lingkungan biologis antara lain adanya luka-luka pada usus genita, herpes simplex dan shipilis meningkatkan prevalensi penularan HIV.

Dewasa ini dunia telah mengalami suatu pandemik virus HIV.

Pandemi ini tidak hanya menimbulkan dampak negative di bidang medis, tetapi juga di bidang sosial, ekonomi dan politik. AIDS merupakan masalah global yang penting, dan merupakan masalah yang kompleks.

40 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 15-16.

41 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 16.

42 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 16-17.

(9)

Masalah pandemi ini terbagi atas tiga aspek epidemi yang timbul secara berkelanjutan yaitu :43

1) Epidemi pertama yaitu epidemi HIV itu sendiri, yang secara diam-diam tanpa disadari, dan tanpa diketahui terjadi di masyarakat. Epidemi ni disebut silent epidemi. Dari penelitian seroarkeologi, ternyata HIV telah ada pada darah beku dari afrika yang tersimpan sejak tahun 1959.

2) Epidemi kedua adalah munculnya munculnya kasus-kasus AIDS yang terjadi beberapa tahun kemudian. Hal ini terjadi karena diperlukan waktu beberapa tahun sebelum seseorang dengan infeksi HIV akan berkembang dan menunjukan gejala-gejala AIDS yang nyata. Perkembangan akan terus berlanjut dalam decade mendatang, walaupun andainya tidak terjadi lagi penularan baru, karena sejumlah besar HIV yang asimtomatik akan terjadi sakit dan menunjukan gejala AIDS.

3) Epidemi ketiga adalah reaksi masyarakat terhadap gejala HIV dan kasus AIDS, sebagai akibat adanya kedua epidemi sebelumnya, hal ini mulai Nampak sekitar pertrngahan tahun delapan puluhan, berupa dampak social, psikologi bahkan dampak politik. Aspek ketiga epidemi ini akan tergantung dari kemampuan masyarakat untuk mengulangi masalah social ini, sehingga dapat mencegah timbulnya kecurigaan dan diskriminasi, yang berarti dapat respon positif untuk mencegah penularan dan perawatan pada pengidap HIV/AIDS.

43 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 18.

(10)

D. Cara Penularan HIV/AIDS

HIV terdapat dalam darah dan cairan tubuh seseorang yang tela tertular, walaupun orang tersebut belum menunjukan keluhan atau gejala penyakit. HIV hanya dapat ditularkan apabila terjadi kontak langsung dengan cairan tubuh atau darah. Dosis virus memang memegang peranan yang sangat penting, makin besar jumlah virusnya makin besar juga kemungkinan infeksinya. Jumlah virus yang banyak ada dalam darah, sperma, cairan vagina dan serviks dan cairan otak.

Dalam saliva, air mata, urin, keringat dan air susu hanya ditemukan sedikit sekali.

Tiga cara penularan HIV/AIDS adalah sebagai berikut :

a. Hubungan Seksual, baik secara vaginal, oral maupun anal dengan seseorang pengidap. Ini merupan cara umum yang terjadi, meliputi 80- 90% dari total kasus sedunia, lebih mudah terjadi penlaran apabila lesi penyakit kelamin dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis, sifilis, gonorea, klamidia, kankroid dan trikomoniasis. Risiko pada seks anal lebih besar disbanding seks vaginal, dan risiko juga lebih besar pada yang reseptive dari pada yang insentive.44

b. Kontak langsung dengan darah/produk darah/jarum suntik :

1) Tranfusi darah/produk darah yang tercemar HIV, risikonya sangat tinggi sampai lebih dari 90%.

2) Pemakaian jarum tidak steril/pemakaian Bersama jarum suntik dan sempritnya pada para pecandu narkotika suntik. Risikonya sekitar 0,5-1%.

3) Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan risikonya sekitar kurang dari 0,5%.

c. Secara vertikal, dari ibu hamil mengidap HIV kepada bayinya, baik selama hamil, saat melahirkan ataupun setelah melahirkan. Risikonya sekitar 25-40 %.45

HIV/AIDS tidak menular melauli peralatan makan seperti piring, sendok garpu, gelas, sumpit dan lain-lain, bersin atau batuk di dekat penderita HIV,

44 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 19.

45 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 20.

(11)

berpelukan serta berciuman dengan orang yang terinfeksi HIV (kalau sedang menderita sariawan atau luka lain dimulut disarankan tidak berciuman dengan mulut), berjabat tangan/bersalaman, bersentuhan dengan orang yang terinfeksi HIV, hidup serumah dengan orang yang terinfeksi HIV (asal tidak melakukan hubungan sex), gigitan nyamuk, menggunakan kamar mandi dan toilet bersama, dan berenang Bersama. Kenyataan-kenyataan tersebut diatas memperkuat pandangan bahwa tidak selayaknya penderita AIDS di singkirkan atau dikucilkan dari pergaulan sehari-hari.

Tubuh mempunyai sistem kekebalan tubuh yag bertugas untuk melindungi kita dari penyakit apapun yang menyerang kita dari luar. AntibodI adalah protein yang dibuat oleh manusia. Bersama dengan bagian system kekebalan tubuh yang lain, antibody bekerja untuk menghancurkan berbagai penyebab penyakit, yaitu bakteri, jamur, virus dan sebagainya. sistem kekebalan tubuh kita membuat antibodi yang berbeda-beda sesuai dengan jumlah yang dilawannya. Ada antibodi khusus untuk semua penyakit termasuk HIV. Antibodi khusus HIV inilah yag terdeteksi keberadaannya ketika hasil tes HIV dinyatakan rekatif (positif).46

Salahsatu jenis antibody yang berbeda pada sel darah putih adalah sel CD4, fungsinya seperti saklar yang menghidupkan dann memadamkan kegiatan system kekebalan tubuh, tergantung ada tidaknya kuman yang harus dilawan. HIV ynag masuk ke tubuh menularkan sel CD4 membajak sel tersebut kemudian menjadikannya pabrik yang membuat miliaran virus baru. Ketika proses tersebut selesai partikel HIV yang baru meninggalkan sel dan masuk ke sel CD4 yang lain.

Sel yang ditinggalkan menjadi rusak atau mati. Jika sel-sel ini hancur atau jumlahnya berkurang, maka system kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit. Keadaan ini membuat seseorang mudah terserang penyakit.47

Jumlah sel CD4 dapat dihitung melalui tes darah khusu. Jumlah normal pada orang sehat sekitar antara 500 sampai 1000. Setelah terinfeksi HIV jumlah

46 Depertemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan Tahun 2009, Sehat dan positif untuk ODHA. 3.

47 Depertemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan Tahun 2009, Sehat dan positif untuk ODHA. 4.

(12)

ini biasanya turun terus. Jadi kadar ini mencerminkan kesehatan system kekebalan tubuh semakin rendah dan semakin rusak. Jika julah CD4 turun dibawah 200 ini menunjukan bahwa system kekebalan tubuh sudah cukup rusak sehingga infeksi oportunistik dapat menyerang tubuh. Ini berarti sudah memasuki fase AIDS, seseorang dapat memepertahankan system kekebalan tubuh agar tetap baik dengan memakai obat antiretroviral.48

E. Upaya Pencegahan HIV/AIDS

Upaya pencegahan suatu penyakit dan virus, termasuk pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS selama ini sudah banyak dilakukan oleh organisasi pemerintah maupun non pemerintah. Upaya yang dilakukan antara lain dalam bentuk seminar, workshop, penyuluhan, pelatihan, penerbitan buku, bahkan pamlet atau stiker tentang bahaya HIV/AIDS dan cara-cara pencegahannya.

Berbagai upaya pencegahan bertujuan untuk:

1. Menurunkan hingga meniadakan infeksi HIV baru ;

2. Menurunkan hingga meniadakan kematian yang disebabkan oleh AIDS Menurunkan stigma diskriminasi terhadap ODHA ;

3. Meningkatkan kualitas hidup ODHA, dan mengurangi dampak sosial ekonomi dari penyakit HIV dan AIDS pada individu, keluarga, dan masyarakat.

Berkaitan dengan pencapaian tujuan tersebut Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan mengeluarkan PERMENKES No.21 Tahun 2013 tentang penanggulangan HIV/AIDS. Di mana secara rinci tertuang pada bab I Ketentuan Umum Pasal I, No.I yang menjelaskan bahwasanya Penanggulangan adalah segala upaya yang meliputi beberapa pelayanan yaitu:

a) Promotif (fungsi pemahaman): yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang membantu konseli atau klien agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya), dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, klien

48 Depertemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan Tahun 2009, Sehat dan positif untuk ODHA. 4.

(13)

diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

b) Preventif (fungsi pencegahan): yaitu membantu individu menjaga atau mencegah timbulnya masalah bagi dirinya.

c) Kuratif: yaitu membantu individu memecahkan masalah yang sedang dihadapi atau dialami.

d) Rehabilitatif: layanan ini ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan, angka kematian, mengatasi penularan serta penyebaran penyakit agar wabah tidak meluas ke daerah lain serta mengurangi dampak negative yang ditimbulkannya.

Mengacu pada PERMENKES NO. 21 tahun 2013 mengenai penanggulangan HIV/AIDS di atas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat ini juga tengah berupaya untuk menanggulangi kasus HIV/AIDS di Indonesia.

Program pencegahan HIV/AIDS hanya dapat efektif bila dilakukan dengan komitmen masyarakat dan komitmen politik yang tinggi untuk mencegah dan atau mengurangi perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV.49 Upaya pencegahan meliputi :

a. Pemberian penyuluhan kesehatan di sekolah dan di amsyarakat harus menekankan bahwa mempunyai pasangan seks yang bergunta-ganti serta menggunakan obat suntik berhantian dapat meningatkan risiko terkena inveksi HIV.

b. Satu-satunya jaan agar terinfeksi adalah dengan tidak melakukan hubungan seks atau hanya behubungan seks dengan satu orang yang diketahui tidak mengidap infeksi.

c. Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan mengurangi penularan HIV.

d. Menyediakan fasilitas konseling HIV dimana identitas penderita dirahasiakan atau dilakukan secara anonimus serta menyediakan tempat- tempat untuk melakukan pemeriksaan darah.

49 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 21.

(14)

e. Setiap wanita hamilsebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk dilakukan tes HIV sebagai kegiatan rutin dari stadar perawatan kehamilan.

Ibu dengan HIV positif harus dievaluasi untuk memperkirakan kebutuhan mereka terhadap terapi zidovudine (ZDV) untuk mencegah penularan HIV melalui uterus dan prinatal.

f. Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh USFDA, untuk mencegah kontaminasi HIV pada plasma dan darah, semua darah donor harus diuji antibody HIVnya, hanya darah dengan hasil tes negative yang digunakan, orang yang mempunyai kebiasaan risiko tinggi terkena HIV sebaiknya tidak mendonorkan plasma, darah, organ-organ untuk transpalansi, sel atau jaringan (termasuk cairan semen umtukinseminasi buatan).

g. Jika hendak melakukan tarnsfusi Dokter harus melihat kondisi pasien dengan teliti apakah ada indikasi medis untuk transfuse. Transfusi otologus sangat dianjurkan.

h. Hanya produk faktor pembekuan darah yang sudah di seleksi dan yang telah diperlakukan dengan semestinya, untuk menonaktifkan HIV yang bisa digunakan.

i. Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penanganan, pemakaian dan pembuangan jarum suntik atau semua jenis alat-alat yang berujung tajam lainnya agar tidak tertusuk.

j. WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa gejala dengan vaksin-vaksin EPI (Expanded Programme on Immunization).50

Prinsip pencegahan dapat dilakukan melalui pencegahan penularan virus HIV (+)/AIDS melalui hubungan seksual (terbanyak) yaitu tidak bergunta-ganti pasangan seksual atau jika terpaksa harus menggunkan kondom jika melakukan hubungan seksual dengan orang yang berisiko tinggi. Secara umum, pencegahan untuk HIV (+)/AIDS meliputi tiga aspek utama yaitu : (1) pengetahuan melalui

50 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, (Penerbit IN MEDIA, Bogor : 2015), 24.

(15)

peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan sedini mungkin termasuk penggunaan kondom saat berhubungan seks, (2) sikap untuk tidak mendiskriminasi ODHA, dan (3) meningkatkan prilaku hidup sehat.

Prilaku hidup sehat melalui formulasi pencegahan dengan cara “A-B-C-D- E” yang artinya : A (Abstinensia) tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah, B (be faith full) setia pada pasangan jika sudah menikah dan pasanganjuga setia, C (use condom) menggunakan kondom sebagai alat pencegahan penularan HIV (+)/AIDS pada saat berhubungan seks dan kondom juga digunakan bag pasangan keduanya, D (use drugs) tidak menggunakan narkoa dan E (educative) memberikan informasi dari sumber yang kompeten melalui penyuluhan, seminar, pelatihan, dan lain-lain.51

51 Desmon Katiandagho, Epidemiologi HIV-AIDS, 26.

Referensi

Dokumen terkait

Unit kompetensi ini berlaku untuk menyiapkan operasi proses pemindahan gambar pada flat screen atau rotary screen secara manual atau dengan alat exposure,

Pendekatan terhadap bentuk bangunan mengambil bentuk-bentuk dasar ruang, baik untuk ruang luarnya yang mencakup ruang latihan terbuka serta ruang dalamnya, mencakup

Karakteristik Ibu yang melakukan Inisiasi Menyusu Dini berdasarkan pekerjaan tabel 6 diperoleh hasil bahwa ibu yang melakukan Inisiasi menyusu Dini berdasarkan Pekerjaan

dari hasil wawancara. Peran catatan lapangan dalam penelitian tindakan kelas. ini adalah sebagai alat untuk mempermudah peneliti dalam

The main focus of teaching English at the Junior High School is the four language skills, and the national exam focuses on assessing reading, writing, grammar and vocabulary

Kajian yang digunakan dalam skripsi ini adalah kajian yang bersifat analisis, yaitu analisis terhadap prakiraan daya beban listrik yang tersambung pada Gardu

Terdapat korelasi positif minat Psikis terhadap minat Sosial Humaniora.Kedua konstrak tersebut merupakan hal yang saling berhubungan sehingga validitas konvergen

Normal Parameters a,b Mean