• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB

Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar yang terdiri dari :

a. Laporan Realisasi Anggaran ( LRA ) b. Laporan Realisasi Anggaran ( LRA 64 ) c. Neraca

d. Laporan Operasional ( LO )

e. Laporan Perubahan Ekuitas ( LPE )

f. Catatan dan Laporan Keuangan Akhir Tahun 2017, sebagaimana terlampir adalah tanggung jawab kami.

Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran, posisi keuangan dan catatan atas laporan keuangan secara layak sesuai Standar Akuntansi Pemerintah.

Bangkinang, Januari 2018

KEPALA DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN KAMPAR

ZAMZAMIR, SE Pembina Utama Muda NIP. 19621128 199203 1 002

(2)

Terlebih dahulu kami mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Dimana atas izin dan karunianya juga kami masih diberikan keselamatan lahir batin sehingga dapat menyusun Laporan Keuangan Akhir Tahun Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar Tahun Anggaran 2017.

Laporan Keuangan Akhir Tahun ini merupakan salah satu upaya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar dalam mewujudkan tata kelola Pemerintah yang baik serta memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur, sekaligus untuk memenuhi ketentuan perundang-undangan tentang pengelolaan keuangan daerah.

Kami sadari bahwa dalam penyampaian Laporan Keuangan Akhir Tahun Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar Tahun Anggaran 2017 ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu kami mohon saran dan masukan demi kesempurnaan laporan lebih lanjut, terima kasih

Bangkinang, Januari 2018

KEPALA DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN KAMPAR

ZAMZAMIR, SE Pembina Utama Muda NIP. 19621128 199203 1 002

(3)

BAB – I PENDAHULUAN

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negara Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Satuan Kerja Perangkat Daerah menyusun dan melaporkan pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara periodik yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca SKPD, dan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK). Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPD disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemintah Nomor 24 Tahun 2005 tentag Standarisasi Akuntansi Pemerintah.

Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD menyiapkan laporan keuangan yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas laporan keuangan tahun anggaran bekenaan dan disampaikan kepada kepala SKPD sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung jawab untuk ditetapkan sebagai laporan pertanggung jawaban pelaksanaan anggaran SKPD.

Laporan keuangan dimaksud disampaikan kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah paling lambat dua bulan setelah tahun anggaran berakhir.

1.1. MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan selama satu periode laporan. Laporan keuangan digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan dan belanja dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efesiensi dan efektifitas keuangan SKPD, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan peundang-undangan.

Satuan Kerja Perangkat Daerah mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan SKPD secara sistimatis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan :

 Akuntabilitas

(4)

 Manajemen

Membantu para pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu SKPD dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban dan ekuitas dana untuk kepentingan masyarakat.

 Transparansi

Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban dalam pengelolaan sumber daya yang dipercaya SKPD dan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan.

 Keseimbangan

Membantu para pengguna laporan keuangan untuk mengetahui apakah SKPD pada periode pelaporan cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan tidak akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.

Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna anggaran membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya.

Tujuan spesifik laporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelakon atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran, menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan, menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan SKPD serta hal-hal yang telah dicapai.

(5)

Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi SKPD berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

1.2. LANDASAN HUKUM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Pelaporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur keuangan pemerintah, antara lain :

a. UUD tahun 1945, khususnya bagian yang mengatur keuangan Negara;

b. Undang-Undang No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

c. Undang-Undang No.1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;.

d. Undang-Undang no.32 tahun 2004 tentang Pemerintantahan Daerah;

e. Peraturan Pemerintah No.24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;

f. Peraturan Pemerintah No.58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

g. Permendagri No.58 tahun 2007 tentang Perubahan atas Permendagri No 13 tahun 2006 Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

h. Peraturan Daerah Kabupaten Kampar Nomor : 01 Tahun 2006 tentang pokok-pokok pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Kampar.

i. Keputusan Bupati Kampar Tahun 2008 Tentang Pedoman Penatausahaan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kampar.

j. Peraturan Bupati Kampar Tahun 2008 tentang sistem dan prosedur pengelolaan Keuangan Daerah.

k. Peraturan Daerah No. 35 Tahun 2008 tentang uraian tugas jabatan struktural di lingkungan Dinas-dinas Kabupaten Kampar.

l. DPPA – SKPD tahun Anggaran 2017 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar.

m. Keputusan Bupati Kampar No. 821 / Adm.Pemb / 04 tanggal 07 Januari 2017 Tentang Pengangkatan/Penunjukan Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kampar Tahun Anggaran 2017.

(6)

1.3. SISTIMATIKA PENULISAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Sistematika penulisan catatan atas Laporan Keuangan SKPD mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 58 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dalam catatan atas Laporan Keuangan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar disajikan informasi- informasi yang berkaitan dengan aspek keuangan atas pelaksanaan program dan kegiatan yang bersifat strategis , yaitu program dan kegiatan pembangunan sebagaimana tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kampar tahun 2017.

Laporan Keuangan SKPD ini mengkomunikasikan pencapaian kinerja SKPD selama tahun 2017 diperbandingkan dengan pencapaian kinerja tahun 2015 sebagai tolak ukur keberhasilan tahunan organisasi.

Dengan pola pikir seperti itu, sistimatika penyajian Laporan Keuangan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar tahun 2017 dapat diuraikan sebagai berikut :

BAB-1. PENDAHULUAN

1.1 Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan 1.2 Landasan hukum penyusunan laporan keuangan 1.3 Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan BAB-2 IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN

2.1. Ikhtisar realiasi pencapaian target kinerja keuangan 2.2. Hambatan dan kendala dalam capaian target BAB-3. KEBIJAKAN AKUNTANSI

3.1 Entitas akuntansi

3.2 Basis akuntansi yang mendasar penyusunan laporan 3.3 Basis penegakan dan pengukuran unsur laporan

(7)

3.4 Penerapan Kebijakan Akuntansi

BAB-4. PENJELASAN POS-POS LAPORAN KEUANGAN 4.1. Laporan Realisasi Anggaran

4.2 Pendapatan 4.3 Belanja BAB-5. P E N U T U P

(8)

BAB - 2

IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN

2.1. IKHTISAR REALISAI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEUANGAN

Berdasarkan kebijakan fiskal yang diterapkan serta memperhatikan kondisi ekonomi Kabupaten Kampar secara umum, pencapaian kinerja Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar untuk Tahun Anggaran 2017 dapat diikhtisarkan sebagai berikutya :

No Uraian Anggaran Realisasi Diatas/(bawah) Anggaran

Rp %

PENDAPATAN

Pendapatan Asli Daerah 0,00 0,00 96.000.000,00 0,00 Pendapatan Transfer 0,00 0,00 0,00 0,00 Lain-lain Pendapatan yang

sah 0,00 0,00 0,00 0,00 JUMLAH PENDAPATAN (I) 0,00 96.000.000,00 96.000.000,00 0,00

BELANJA

Belanja Operasionalonal 7.026.811.981,00 6.837.259.664,00 189.552.317,00 97,30 Belanja Modal 156.892.000,00 132.077.000,00 24.815.000,00 84.18 Belanja tak Terduga 0,00 0,00 0,00

Belanja Transfer

JUMLAH BELANJA (II) 7.183.703.981,00 6.969.336.664,00 214.367.317,00 97.02 SURPLUS/(DEFISIT) (I-II) (7.183.703.981,00 ) (6.969.336.664,00 ) (214.367.317,00 ) 97.02

PEMBIAYAAN

Penerimaan Pembiayaan Daerah

Pengeluaran Pembiayaan Daerah

JUMLAH PEMBIAYAAN SILPA TAHUN 2017 (III+IV)

(9)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa selama Tahun Anggaran 2017, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar dapat dilihat dari :

A. Pendapatan

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar tidak mempunyai Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa Pajak dan Retribusi Daerah yang menjadi tanggung jawab pengelola masing-masing SKPD.

B. Belanja

Sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan dibidang pengeluaran, pengendalian pengeluaran yang dilakukan selain melaksanakan efisiensi juga mencegah terjadinya kebocoran-kebocoran serta pemborosan-pemborosan dalam segala sektor pengeluaran melalui pengawasan preventif secara proaktif sehingga seluruh pengeluaran akan mempunyai arti dan manfaat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kampar serta dapat dipertanggung jawabkan secara nyata baik secara fisik maupun non-fisik.

Realisasi belanja Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten kampar secara keseluruhan sebesar Rp. 6.969.336.664,00atau 97,02 %.

C.Surplus / Defisit

Untuk Tahun Anggaran 2017, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar mengalami defisit sebesar Rp. . 6.969.336.664,00atau 97,02 %. dari jumlah yang dianggarkan sebesar Rp. 7.183.703.981,00 kondisi ini membawa dampak adanya penghematan anggaran keuangan daerah sebesar depisit Rp. 214.367.317,00

2.2. HAMBATAN/KENDALA DALAM PENCAPAIAN TARGET

Hambatan dan kendala utama pelaksanaan kegiatan Penyusunan Laporan Capaian Kinerja dan Ikhtisar realisasi Kinerja SKPD, Penyusunan Laporan Keuangan Semesteran, dan Penyusunan Pelaporan Keuangan Akhir Tahun untuk mendukung program Peningkatan Pengembangan sistim Pelaporan Capaian Kinerja dan keuangan yang akurat dan tepat waktu adalah lambatnya proses pengumpulan data realisasi kegiatan, sehingga pelaksanaan penyusunan laporan terlambat dari jadwal waktu yang telah ditetapkan.

(10)

BAB-3

KEBIJAKAN AKUNTANSI

Kebijakan Akuntansi merupakan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi-konvensi, aturan- aturan dan praktik-praktik spesifik yang dipilih dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangannya.Kebijakan Akuntansi yang dipergunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar Tahun Anggaran 2017 ini sebagian besar masih mengacu kepada :

(1). Kebijakan akuntansi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang mencakup Pernyataan Standar Akuntansi pemerintah (PSAP) No.1 sampai dengan No.11 termasuk kerangka SAP dan kerangka konseptual Akuntansi Pemerintah : Interprestasi PSAP dan Buletin Teknis yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SAP.

(2) Praktik-praktik akuntansi yang selama ini dilaksanakan dilingkungan Pemerintah Kabupaten Kampar.

Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa hingga saat ini Pemerintah kabupaten Kampar belum menetapkan suatu kebijakan akuntansi yang bersifat formal dan baku (masih dalam tahap pembahasan intern pemerintah daerah atas draf Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Kampar) untuk diberlakukan dilingkungan SKPD dan PPKD yang berada dilingkungan Pemerintah Kabupaten Kampar.Namun pelaksanaannya Penyusunan Laporan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Kampar Tahun Anggaran 2017 sudah mengacu pada kebijakan tersebut dan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)

3.1 ENTITAS AKUNTANSI PEMERINTAH KABUPATEN KAMPAR

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar adalah merupakan entitas akuntansi yang berada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kampar. Sebagai salah satu entitas akuntansi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil telah menyusun Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2017 yang mencakup :

1. Laporan Realisasi Anggaran 2. Neraca

(11)

3. LO 4. LPE

5. Catatan atas Laporan Keuangan.

Adapun periode pelaporan meliputi seluruh transaksi keuangan yang terjadi selama periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2017.

Penyusunan laporan keuangan ini ditujukan dalam rangka memenuhi pertanggung jawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten Kampar untuk Tahun Anggaran 2017.

3.2. BASIS AKUNTANSI YANG MENDASARI PENYUSUNAN LAPORAN

Basis akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah:

1. basis kas untuk pengakuan pendapatan belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran.

2. basis aktual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dalam neraca.

Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan dilalui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau etentitas pelaporan. Penentuan sisa pembiayaan anggaran baik lebih ataupun kurang untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi penerimaan dan pengeluaran.

Basis aktual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.

3.3. BASIS PENGAKUAN DAN PENGUKURAN UNSUR LAPORAN 1. Pengakuan Unsur Laporan Keuangan

Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja dan pembiayaan sebagaimana akan termuat dalam laporan keuangan entitas yang bersangkutan, Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait.

Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk dapat diakui yakni :

(12)

b. Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau dapat diestimasi dengan andal.

Dalam menentukan apakah suatu kejadian/peristiwa memenuhi kriteria pengakuan dipergunakan pertimbangan aspek materialitas.

2. Pengukuran Unsur Laporan Keuangan

Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukan setiap pos dalam laporan keuangan. Pengukuran pos-pos dalam laporan keuangan menggunakan nilai perolehan histori (historical cost). Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut. Kewajiban dicatat sebagai nilai nominal.

Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Transaksi yang menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.

3.4. PENERAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI 1. Akuntasi pendapatan

Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Daerah.

Pendapatan yang dikelola SKPD di lingkungan Kabupaten Kampar pada umumnya meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang merupakan pendapatan yang benar-benar diperoleh dan digali dari potensi yang ada di daerah. Pendapatan Asli Daerah ini meliputi :

(1) Pendapatan Pajak Daerah (2) Pendapatan Retribusi Daerah

(3) Pendapatan dari lain-lain Pendapatan Asli Daerah.

PAD dinyatakan sebesar nilai realisasi yaitu sejumlah uang kas yang diterima oleh Kas Daerah pada tahun pelaporan. Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto,

(13)

yaitu dengan membukukan penerimaan bruto (sebelum dikompensasikan dengan pengeluaran yang diperlukan untuk memperoleh pendapatan tersebut)

Akuntansi pendapatan disusun untuk memenuhi kebutuhan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan dan untuk keperluan pengendalian bagi manajemen pemerintahan.

2. Akuntansi Belanja

Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah. Khusus untuk pengeluaran yang dilakukan melalui bendahara pengeluaran, pengakuannya terjadi pada saat pertanggung jawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi bendaharaan.

Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana atau merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah.

Realisasi belanja tersebut dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan dalam dokumen anggaran.

Akuntansi belanja disusun selain untuk memenuhi kebutuhan pertanggung jawaban sesuai dengan ketentuan, juga dapat dikembangkan untuk keperluan pengendalian bagi manajemen dengan cara yang memungkinkan pengukuran kegiatan belanja tersebut.

Dalam pelaporan keuangan, pada umumnya belanja daerah diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja), yakni pengelompokan belanja yang didasarkan pada jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas, yang mencakup :

1. Belanja Operasional

Merupakan pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah daerah yang memberi manfaat jangka pendek, meliputi:

1.) belanja pegawai dan 2 ) belanja barang dan jasa.

2. Belanja Modal

Merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dn aset lainnya yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi untuk keperluan kegiatan

(14)

irigasi dan jaringan; aset tetap lainnya; serta konstruksi dalam pengerjaan.

2). aset tak terwujud.

Perlakuan lebih lanjut terhadap Belanja Modal khususnya untuk aset tetap adalah sebagai berikut :

1. Belanja modal untuk perolehan aset tetap untuk dipergunakan dalam aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik termasuk kepentingan entitas lainnya yang hak penguasa dan/atau hak kepemilikannya selanjutnya tetap berada pada Pemerintah kabupaten Kampar maka terhadap pengeluaran Belanja Modal tersebut akan dibukukan sebagai Aset Tetap.

2. Belanja modal untuk perolehan aset tetap untuk dipergunakan dalam aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik termasuk kepentingan entitas lainnya yang penguasaan dan/atau hak kepemilikannya selanjutnya tidak lagi berada pada Pemerintah Kabupaten Kampar maka terhadap pengeluaran Belanja Modal tersebut tidak akan dibukukan sebagai Aset Tetap.

Penyajian Belanja dalam lembaran muka (on the face) yakni Laporan Realisasi Anggaran Tahun Anggaran 2017 dilakukan berdasarkan klasifikasi ekonomi (jenis belanja).

3. Akuntansi Surplus/Defisit

Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.

Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.

Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Surplus/Defisit.

4. Akuntansi Aset

Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial dimasa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun

(15)

masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non- keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.

a) Aset Lancar

Aset Lancar adalah kas dan sumber daya lainnya yang diharapkan dapat dicairkan menjadi kas, dijual atau dipakai habis dalam 1 (satu) periode akuntansi.Aset lancar terdiri dari:

(1) Kas

Kas adalah uang tunai dan saldo simpanan di Bank yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintah, yang terdiri dari :

 Kas di Bendaharawan Penerima mencakup seluruh kas yang berada dibawah tanggung jawab bendaharawan penerimaan yang sumbernya berasal dari pelaksanaan tugas pemerintahan dari bendaharawan penerimaan yang besangkutan.

 Kas di Bendaharawan Pengeluaran adalah merupakan kas yang menjadi tanggung jawab/dikelola oleh bendaharawan pengeluaran yang berasal dari sisa uang untuk dipertanggung jawabkan (UUDP) yang sebelumnya diterima dari Bendaharawan Umum Daerah setelah dipergunakan untuk pengeluaran belanja dan atas sisa tersebut per tanggal neraca belum disetor kembali ke Kas Daerah.

 Rekening Koran (masuk) Bendaharawan Umum Daerah (atau disingkat R/K (M) BUD) merupakan akun sementara untuk menampung transaksi penerimaan pendapatan yang akan dicatat oleh SKPD yang bersangkutan disisi debet (baik untuk pendapatan yang langsung disetor pihak ketiga ke Kas Daerah maupun pendapatan yang diterima bendaharawan penerima untuk selanjutnya disetor ke kas daerah. Pada akhir tahun perkiraan ini akan ditutup dan saldonya akan dipindahkan ke bagian ekuitas dana untuk Dikonsolidasikan (yakni keperkirakan Rekening Koran Bendaharawan Umum Daerah.

Keseluruhan perkiraan diatas disajikan sebesar nilai nominal artinya disajikan sebesar nilai rupiahnya.

(16)

hotel dan restoran serta pajak daerah lainnya yang sudah ada ketetapannya melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak / Surat Ketetapan Pajak Tambahan (SKP / SKPT), tetapi belum dilakukan penyetoran. Perkiraan ini disajikan sebesar nilai nominal yaitu sebesar nilai rupiah piutang yang belum dilunasinya.

(3.) PIUTANG RETRIBUSI DAERAH

Akun ini merupakan piutang yang diakui atas retribusi daerah yang sudah ada ketetapannya melalui penerbitan surat ketetapan retribusi tambahan (SKP / SKRT), tetapi belum dilakukan penyetoran. Akun ini disajikan sebesar nilai nominal yaitu sebesar nilai rupiah piutang yang belum dilunasinya.

(4.) PIUTANG LAIN-LAIN

Akun ini merupakan piutang diluar piutang pajak dan retribusi daerah perkiraan ini sebesar nilai nominal.

(5.) PERSEDIAAN

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasionalonal pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasionalonal pemerintah , dan barang – barang yang di maksudkan untuk dijual / atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan merupakan aset berwujud yang dapat meliputi:

 Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan Operasionalonal Pemerintah.

 Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi.

 Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat.

 Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintah.

(17)

Pengakuan terhadap persediaan , meliputi :

 Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

 Pesediaan yang diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan atau kepenguasaannya berpindah.

 Pada akhir priode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik.

 Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki dalam kegiatan swakelola dan dibebankan ke suatu perkiraan aset untuk konstruksi dalam pengerjaan, tidak dimasukkan sebagai persediaan.

Persediaan disajikan dengan nilai sebesar :

 Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian.

 Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri.

 Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi, hasil sitaan.

(a) Inventasi Jangka panjang

Investasi Jangka Panjang merupakan pernyataan Modal Pemerintah Daerah, yaitu jumlah yang dibayar oleh Pemerintah daerah untuk pernyataan modal dalam Badan Usaha Milik Negara / Daerah atau lembaga keuangan lainnya dimana pemerintah daerah memiliki kepentingan yang dinyatakan dalam perjanjian, pernyataan modal Pemerintah Daerah di catat dalam neraca sebesar nilai nominal.

(b) Aset Tetap

Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Aset tetap dapat peroleh dari dana yang bersumber dari seluruh bagian APBD melalui pembelian, pembangunan, hibah atau donasi, pertukaran dengan aset lainnya dan dari sitaan atau rampasan.

(18)

Tanah yang dikelompokkan dalam aset tetap adalah tanah yang dimiliki atau diperoleh dengan maksud untuk digunakan dalam kegiatan operasionalonal pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan. Dalam akun tanah termasuk tanah yang digunakan untuk bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan.

ii. Peralatan dan mesin

Peralatan dan mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat elektronik, dan seluruh inventaris kantor, dan peralatan lainnya yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 bulan dan dalam kondisi siap pakai.

iii Gedung dan bangunan

Gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang dibeli atau dibangun dengan maksud untuk digunakan dalam kegiatan operasionalonal pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan, yang antara lain meliputi Bangunan gedung, monumen, Bangunan menara, dan rambu-rambu.

iv Jalan, Irigasi dan Jaringan

Jalan, Irigasi, dan jaringan yang mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang dibangun oleh pemerintah serta dikuasai oleh pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan, yang antara lain meliputi : Jalan, Jembatan, Bangunan Air, Instalasi, dan Jaringan. Akuntansi ini tidak mencakup tanah yang peroleh untuk pembangunan jala, irigasi dan jaringan. Tanah yang peroleh untuk keperluan dimaksud dimasukkan dalam akun tanah.

v. Aset Tetap Lainnya.

Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap diatas, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasionalonal Pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan. Aset tetap lainnya antara lain meliputi : Koleksi perpustakaan / buku dan barang bercorak seni / budaya dan olahraga.

(19)

vi Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP)

Konstruksi dalam pengerjaan mencakup aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan, yang pada tanggal neraca belum selesai dibangun seluruhnya.

Akun ini dicatat senilai seluruh biaya yang di akumulasikan sampai

`dengan tanggal neraca dari semua jenis aset tetap dalam pengerjaan yang belum selesai dibangun.

Apabila telah selesai dibangun dan sudah diserah terimakan. Akun ini akan direklasifikasi menjadi aset tetap sesuai dengan kelompok asetnya.

(2) Pengukuran Aset Tetap

i. Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan . Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.

Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Untuk dapat diakui sebagai aset tetap , suatu aset harus berwujud dan memenuhi kriteria :

 Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan

 Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal

 Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasional normal entitas dan

 Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.

Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap yang memperpanjang masa manfaat ekonomik dimasa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi , peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai tercatat aset yang bersangkutan jika jumlah biayanya di Rp. 5.000.000,00 atau lebih.

Batasan jumlah biaya kapasitas harus diterapkan secara konsisten dan diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebagai berikut :

 Pengeluaran untuk per unit peralatan dan mesin berupa peralatan kantor, barang elektronik dan alat olahraga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp. 300.000,00.

(20)

koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian dikecualikan dari nilai kapitalisasi point a dan b.

Selain itu, terhadap seluruh aset tetap tersebut hingga saat ini tidak disusutkan baik dalam hal penyajian pada neraca maupun pengakuan beban, Karena Pemerintah Kabupaten Kampar belum memberlakukan secara formal kebijakan akuntansi yang telah dibuat, khususnya masalah penyusutan aktiva tetap dan pencadatangannya.

Adapun kebijakan akuntansi yang talah dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Kampar yang mengatur penyusutan adalah :

a) Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, aset tetap disusun sesuai dengan sifat dan karakteristiknya.

b) Metode penyusutan yang digunakan adalah metode garis lurus (straight line method).

c) Aset tetap selain bangunan diklasifikasikan menjadi 4 kelompok dengan penyusutan pertahun sebagai berikut :

 Kelompok 1, masa manfaat 4 tahun, disusutkan 25 % per tahun.

 Kelompok 2, masa manfaat 8 tahun, disusutkan 12,5 % per tahun.

 Kelompok 3, masa manfaat 16 tahun, disusutkan 6,25 % per tahun.

 Kelompok 4, masa manfaat 20 tahun, disusutkan 5 % per tahun.

(d) Aset tetap bangunan dikelompokkan menjadi permanen dan non permanen, bangunan permanen masa manfaat nya 20 tahun, atau disusutkan 5 % pertahun. Sedangkan bangunan non permanen masa manfaatnya 10 tahun, atau disusutkan 10 % per tahun.

Penetuan aset tetap bangunan ke dalam bangunan permanen dan non permanen ditetapkan intansi teknis terkait.

(e) Aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tetap tersebut dikurangi ukumulasi penyusutan.

(f) Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh aset tetap dapat disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut.

(21)

Biaya pemeliharaan dan perbaikan aset tetap (Belanja Pemeliharaan) yangt telah ditetapkan dalam kelompok belanja operasional pada APBD tidak di kapatilisasi tetapi langsung dibukukan sebagai biaya, sedang kan untuk pembugaran / rehab total dan penambahan aset tetap yang dinilainya material dan dikelompokkan dalam belanja modal pada APBD dikapitalisasikan dengan menambah nilai perolehan aset tetap yang bersangkutan. Berdasarkan uraian diatas maka dapat di simpulkan sebagai berikut:

 Pemeliharaan dan perbaikan umumnya bertujuan untuk menjaga atau mengembalikan kondisi aset tetap agar dapat dimanfaatkan secara normal.

 Pemugaran / rehap total bertujuan untuk menambah umur atau memperpanjang masa manfaat aset tetap.

 Penambahan bertujuan untuk menambah kapasitas atau memperbesar manfaat aset tetap yang bersangkutan.

Penambahan aset tetap sebagian besar berasal dari transaksi belanja modal yang berasal dari APBD Pemerintah Kabupaten Kampar . Aset tetap yang dicatat dalam neraca ini merupakan aset tetap yang memenuhi kriteria aset tetap sesuai pernyataan standar akuntansi pemerintah. (PSAP) yakni :

 Merupakan aset yang memiliki sifat berwujud (tangible asset)

 Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan.

 Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

 Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasional normal entitas dan

 Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka aset tetap yang dilaporkan dalam neraca merupakan aset tetap yang hak penguasaan dan atau hak kepemilikannya berada pada pemerintah Kabupaten Kampar yang digunakan untuk penyelenggaraan kegiatan pemerintah adapun dimanfaatkan oleh masyarakat umum maupun entitas lainnya.

Aset akan hapus bukukan apabila rusak , usang, hilang dan sebagainya berdasarkan Surat Keputusan (SK) penghapusan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(c) Aset Lainnya

Aset lainnya adalah aset pemerintah yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai aset lancar maupun aset tetap di atas.

(22)

timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggung jawab untuk bertindak yang terjadi dimasa lalu. Kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekunesi dari kontrak yang mengikat ataupun karena peraturan perundang- undangan.

Penyajian utang pemerintah di neraca diklasifikasikan menjadi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.

Utang dicatat sebesar nilai nominal . pada setiap tanggal neraca , jika terdapat utang dalam mata uang asing maka akan dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.

a) Klasifikasi Kewajiban

(1) Kewajiban Jangka pendek

Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang di harapkan akan di bayar kembali atau jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca. Kewajiban ini mencakup utang yang berasal dari pinjaman (bagian lancar utang jangka panjang dan utang kepada pihak ke tiga), utang bunga, utang perhitungan pihak ketiga (PFK), serta utang jangka pendek lainnya.

i. Rekening Koran (Keluar) Bendaharawan Umum Daerah(R/K(K) BUD atau Uang Muka Dari BUD

Merupakan akun sementara untuk menampung transaksi belanja yang berasal dari uang yang di peroleh dari bendaharawan pengeluaran SKPD dari Bendaharawan Umum Daerah atau pengelukaran SKPKB. Akun ini akan di catat di sebelah kredit untuk transaksi belanja yang transaksinya di lakukan dengan pembayaran langsung/SPM-LS maupun untuk pengisian kas SKPD dengan SPM –UP /GU/TU;

sebaiknya di catat di sebelah debet jika pertanggungjawaban pengeluaran telah di selesaikan oleh SKPKB. Pada akhir tahun,perkiraan ini akan di tutup dan saldonya akan di pindahkan kebagian Ekuitas Dana untuk Dikonsilidasikan (yakni ke perkiraan Rekening Koran Bendaharawan Umum Daerah)

ii. Pendapatan Yang di tangguhkan

Merupakan akun sementara untuk menampung kas yang di terima Bendaharawan Penerimaan (di catat di sisi kredit) maupun yang di setorkan oleh Bendaharawan Penerima ke Kas Daerah (di catat di sisi debet). Akun ini juga di pergunakan untuk mencatat pengakuan atas terjadinya piutang atas pendapatan

(23)

iii. Utang kepada Pihak Ketiga (accounts payable)

Utang kepada Pihak Ketiga berasal dari kontrak atau perolehan barang/jasa yang belum di bayar sampai dengan tanggal neraca. Apabila pihak ketiga /kontraktor membangun fasilitas atau peralatan sesuai dengan spesifikasi yang ada pada kontrak perjanjian dengan pemerintah, kemungkinan terdapat realisasi pekerjaan yang telah di serah terimakan tetapi belum di bayar penuh oleh pemerintah sampai tanggal neraca. Nilai yang di cantumkan dalam neraca dalam akun ini adalah sebesar jumlah yang belum di bayar untuk barang tersebut pada tanggal neraca.

iv. Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK)

Utang PFK merupakan utang yang timbul akibat pemerintah belum menyetor kepada pihak pungutan / potongan atas pungutan/potongan PFK dari Surat Pemerintah Membayar (SPM) atau dokumen lain yang di lakukannya.

Nilai yang di cantumkan di negara untuk akun ini adalah sebesar saldo pungutan/potongan yang belum di setorkan kepada pihak lain sampai dengan tanggal neraca.

v. Utang Jangka Pendek Lainnya

Utang Jangka Pendek Lainnya merupakan utang selain bagian lancar utang jangka panjang, utang kepada pihak ketiga (account payable) , utang perhitungan pihak ketiga (PFK) , utang bunga, dan uang muka dari Kas Umum Daerah.

2) Kewajiban Jangka Panjang

Kewajiban Jangka Panjang merupkan kewajiban yang di harapkan akan di bayar kembali atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca.kewajiban ini mencakup utang yanga berasal dari pinjaman baik dari dalam negeri maupun luara negeri dan dari penerbitan sekuritas pemerintah.

b) Pengakuan dan pengukuran kewajiban

Kewajiban di akui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya ekonomi akan di lakukan atau telah di lakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sekarang, dan perubahan atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat di ukur dengan andal. Kewajiban di akui pada saat dana pinjaman di terima atau pada saat kewajiban timbul.

Kewajiban di catat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang asing di jabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang asing ini menngunakan kurs tengah bank central pada tanggal neraca.

(24)

a) Ekuitas Dana Lancar

Ekuitas Dana Lancar merupakan selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek/lancar.

Kelompok Ekuitas Dana Lancar antara lain terdiri dari :Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA), Pendapatan yang Ditangguhkan,Cadang Piutang,Cadangan Persediaan dan Dana yang harus di sediakan untuk pembayaran utang jangka pendek.

SiLPA merupakan akun lawan yang menampung kas dan setara kas serta investasi jangka pendek. Sedang Pendapatan yang Ditangguhkan adalah akun lawan untuk menampung Kas di Bendahara Penerimaan sepanjang belum disetorkan ke Kas Daerah.

Cadangan Piutang adalah akun lawan yang dimaksud untuk menampung piutang lancar.

Cadangan Persediaan adalah akun lawan untuk menampung akun Persediaan.

Pada sisi kewajiban jangka pendek, selain utang PFK yang merupakan pengurang SILPA, ada akun Kewajiban Jangka Pendek Lainnya. Akun lawan dari kewajiban Jangka Pendek Lainnya ini adalah Dana yang Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek

b) Ekuitas Dana Investasi

Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam investasi jangka panjang, aset tetap, dan aset lainnya, dikurangi dengan kewajiban jangka panjang. Pos ini terdiri:

a) Diinvestasikan dalam investasi Jangka Panjang, yang merupakan akun lawan dari investasi Jangka Panjang.

b) Diinvestasikan dalam Aset Tetap, yang merupakan akun lawan dari investasi Jangka Panjang.

c) Diinvenstasikan dalam Aset Lainnya, yang merupakan akun lawan Aset Lainnya.

d) Dana yang harus disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang, yang merupakan akun lawan dari seluruh Utang Jangka Panjang.

c) Ekuitas Dana Cadangan

Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang di cadangkan untuk tujuan tertentu sesuai dengan perundang-undangan. Akun ini merupakan akun lawan dari Dana Cadangan.

(25)

d) Ekuitas Dana untuk Dikonsolidasikan

Ekuitas Dana untuk Dikonsolidasikan menunjukkan saldo nett antara jumlah uang yang diterima Bendaharawan Pengeluaran SKPD dari Bendaharawan Umum Daerah/Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (BUD/SKPKB) dan jumlah uang yang di setorkan oleh Bendaharawan Penerimaan SKPD kepada BUP/SKPKD, termasuk juga penyetoran kembali saldo uang untuk Dipertanggungjawabkan (UUUP) oleh Bendaharawan Pengeluaran SKPD kepada BUD/SKPKD yang di setorkan sebelum berakhirnya tahun anggaran.

Akun/perkiraan yang di pergunakan untuk Ekuitas Dana untuk Dikonsolidasikan ini adalah Rekening Koran Bendaharawan Umum Daerah/pejabat Pengelola Keuangan Daerah (RK BUD/PPKD). Nilai yang di catat dalam akun ini sebesar nilai nominalnya.

(26)

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar telah berusaha melaporkan seluruh kegiatan dan program yang talah dilaksanakan sebagaimana di rencanakkan dalam anggaran pendapatan belanja tahun 2017, dan aset yang dimiliki Tahun Anggaran 2017 dalam laporan Keuangan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar Tahun Anggaran 2017.

Sebagai upaya yang telah dilakukan selama ini Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar dalam mewujudkan visi dan misi pemerintah kabupaten kampardalam laporan keuangan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar , yang dapat dijadikan barometer untuk senantiasa meningkatkan pelayanan kepada seluruh komponen masyarakat dalam rangka mewujudkan kampar sebagai negeri berbudaya, berdaya dalam lingkungan masyarakat.

Kinerja Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar dapat dilihat dari laporan keuangan nya seberapa besar kontribusi setiap pelaksanaan kegiatan guna mendukung kinerja sasaran strategis Kabupaten Kampar sekaligus dapat meningkatkan kinerja makro.

Dari laporan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar Tahun 2017 kinerja pengalami peningkatan , meskipun beberapa indikator justru mengalami penurunan , indikator-indikator yang menggambarkan kualitas pembangunan manusia kabupaten kampar.

(27)

Sementara itu penurunan yang terjadi pada beberapa indikator tidak menyusutkan semangat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kampar untuk terus menerus memperbaiki kinerja nya, disadari kami tidak dapat bekerja dengan sendiri karena itu dalam masa kedepan akan dilakukan koordinasi yang lebih intensif dengan seluruh komponen masyarakat kampar.

Bangkinang, Januari 2018

KEPALA DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN KAMPAR

ZAMZAMIR, SE Pembina Utama Muda NIP. 19621128 199203 1 002

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, yakni untuk mengetahui efisiensi dari variasi tinggi tabung udara dan jarak lubang tekan dengan katup pengantar pompa hidram 3

Peningkatan kadar lemak diakibatkan adanya penambahan margarin pada cake yang digunakan sebagai pengkilat dan karena menginginkan kue yang lebih empuk, maka.. Jadi,

Sebagian sopir bus yang sering mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi, tidak pernah mengantuk saat mengemudiD. (A) Semua yang

Penyusunan Profil Ini bertujuan untuk Memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor WIYUNG Dinas Perhubungan Kota

Terdapat beberapa penelitian mengenai berbagai jenis tumbuhan herbal yang telah dilakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dalam rongga mulut, salah satunya yaitu

Rata-rata indikator tertinggi dari Awareness of Green Product berada di pernyataan “produk tidak mencemari lingkungan karena produk ini menggunakan bahan alami”

Dengan demikian hipotesis keempat yang menyatakan bahwa “Citra merek, Harga yang Dirasa, dan Promosi secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap Niat Pembelian Sepatu

Prinsip “egere contra”, berbuat sebaliknya (dari yang jahat dan salah, yaitu yang baik dan benar) semata-mata demi Tuhan (!), dapat menolong kita tetap tekun hidup