BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada abad ini, Inovasi dan teknologi yang semakin cepat setiap saat

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada abad ini, Inovasi dan teknologi yang semakin cepat setiap saat mempermudah mendapatkan sebuah informasi. Perkembangan informasi yang cepat ini didukung oleh inovasi teknologi yang berkembang cepat pula.

Informasi dan teknologi ini menjadi sebuah asset yang sangat berharga bagi setiap individu karena teknologi menghasilkan sebuah informasi dan informasi adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan Asset tidak berwujud yang dapat digunakan oleh semua orang dengan tepat dan dapat diaplikasikan untuk membantu kehidupan manusia.

Salah satu bentuk dari perkembangan informasi dan inovasi teknologi adalah dengan hadirnya World Trade Organization (WTO) pada tingkat global dan ASEAN Free Trade Area (AFTA) di tingkat regional merupakan indikasi signifikan globalisasi perdagangan dunia. Blok perdagangan bebas regional yang termasuk juga akan dihadapi negara Indonesia dalam kerjasama internasional adalah adanya ASEAN Economic Community (AEC) yang akan mulai berlaku pada tahun 2015. AEC 2015 merupakan kerjasama negara-negara di Asia Tenggara dalam tujuan menigkatkan ekonomi masing-masing negara. Konsep utamanya ialah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta

(2)

penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN (Simarmata, 2015).

Perkembangan Pasar ini mengharuskan perusahaan-perusahaan mengubah bisnis mereka yang didasarkan pada tenaga kerja (labor-based

business) menjadi bisnis yang berdasarkan pengetahuan (knowledge-based business). Simarmata (2015) menyatakan, karakteristik ekonomi yang berbasis ilmu pengetahua dengan penerapan manajeman pengetahuan (knowledge management) maka kemakmuran suatu perusahaan akan bergantung pada suatu pencipataan transformasi dan kapitalisasi dari pengetahuan itu sendiri.

Dalam menigkatkan kinerja suatu perusahaan dapat dilakukan penilaian dan pengukuran, tidak hanya pada aset berwujud tetapi juga pada aset tak berwujud. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penilaian dan pengukuran aset tak berwujud tersebut adalah Intellectual Capital (IC) yang telah menjadi fokus perhatian dalam berbagai bidang. Baik manajemen, teknologi informasi, sosiologi, maupun akuntansi (Alviani dan St. Vena Purnamasari, 2011:175).

Menurut International Federal Of Accountants (IFAC), Intellectual Capital (IC) dalah sinonim dengan kekayaan intellectual property, intellectual asset, dan aset pengetahuan (knowledge asset). Modal ini dapat diartikan sebagai modal yang berbasis pada pengetahuan yang dimiliki 90 persen nilai perusahaan ditentukan oleh manajemen atas intellectual capital

(3)

bukan manajemen terhadap aset tetap (Widjanarko, 2006 dalam Fatima, 2012:3-4).

Di Indonesia, secara implisit IC telah diakui dan dibahas dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 19 (revisi 2010) tentang aset tak berwujud yang merupakan adopsi dari International Accounting Standard (IAS) 38 tentang intangible asset. Didalam standar tersebut, IC tidak disebut secara eksplisit, namun komponen-komponen IC (misalnya goodwill) dijabarkan bagaimana perlakuan akuntansinya. Namun demikian, PSAK 19 (revisi 2010) tidak mengatur seluruh komponen IC. Bahkan, menurut standar ini, goodwill yang dihasilkan secara internal tidak dapat diakui sebagai goodwill. PSAK 19 (revisi 2010) menyebutkan bahwa aset takberwujud diakui jika dan hanya jika (Ikatan Akuntan Indonesia, 2012a):

1) kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari aset tersebut, dan 2) biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara handal. Persayaratan ini sulit dipenuhi, sehingga sampai saat ini IC belum dapat dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan (Ulum, 2016:4)

Menurut Alviani dan St. Vena Purnamasari (2011:176), IC adalah ilmu pengetauan atau daya pikir yang dimiliki oleh karyawan pada suatu perusahaan yang tidak berwujud (tidak memiliki bentuk fisik) sehingga dapat memberikan nilai tambah pada perusahaan. IC merupakan faktor penentu keberhasilan perusahaan di persaingan global. Di Indonesia IC masih belum dikenal secara luas. Dalam banyak kasus, sampai dengan saat

(4)

ini perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung menggunakan conventional based dalam membangun bisnisnya. Dalam manajemen konvensional, pencapaian visi misi organisasi sebagai institusi pencipta kekayaan diukur hanya dengan menggunakan ukuran keuangan yang bertolak pada hasil akhir yang nampak dari laporan keuangan terutama dari neraca dan laporan laba rugi yang merupakan rekaman data keuangan historis dan hasil realisasi anggaran yang merupakan refleksi dari proses operasional manajemen perusahaan.

Disamping itu perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan perhatian lebih terhadap human capital, structural capital dan customer capital yang merupakan elemen pembangun IC perusahaan (Abidin, 200 dalam Alviani dan St. Vena Purnamasari, 2011)

Human capital mengindikasi kekayaan perusahaan yang dilihat dari sumber daya manusianya. Ulum (2008) dalam Simarmata (2015) menyatakan secara sederhana human capital mempresentasikan individual

knowledge stock suatu organisasi yang dipresentasikan oleh karyawannya.

Human capital merupakan elemen terpenting dalam IC. Apabila sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan itu baik maka pengelolaan aset-aset perusahaan pun akan baik, dengan pengelolaan aset yang baik maka perusahaan akan mendapatkan keunggulan dalam bersaing dengan perusahaan-perusahaan sehingga mampu bertahan dari segala sesuatu yang mengancam kelangsungan perusahaan dan akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

(5)

Structural capital merupakan pengetahuan tak terlihat yang merangkul organisasi (tacit knowladge that embrace the oraganization).

Structural capital ini mengenal keberagaman yang sangat besar dari pemenuhan hubungan untuk mengelola perusahaan dalam sebuah cara yang terkoordinasi (a coordinated manner). Tanpa ini IC hanya merupakan human capital (Prabowo, 2014:5).

Konsep penting Customer/relation capital adalah pengetahuan yang dibentuk dalam marketing channel. Organisasi berkembang yang memiliki customer capital yang baik dapat menciptakan dinamisasi yang baik antara pemasok maupun pelangggan. Hal tersebut dikarenakan peihak pemasok mempunyai loyaliytas yang tinggi, kondisi tersebut dapat menigkatkan laba yang diperoleh oleh perusahaan. Ini disebabkan customer capital merupakan komponen IC yang memberikan nilai secara nyata bagi perusahaan (Simarmata, 2015:4).

Pengukuran yang tepat terhadap IC perusahaan belum dapat ditetapkan. Pengukuran dilakukan tidak secara langsung pada IC perusahaan, tetapi mengajukan suatu ukuran untuk menilai efisiensi dari nilai tambah sebagai hasil dari kemampuan intelektual perusahaan (Value Added Intellectual Coefficient - VAIC™) yang dikembangkan oleh Pulic (1998; 1999; 2000) dalam Alviani dan St. Vena Purnamasari (2011:176).

Komponen utama dari VAIC™ dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu physical capital (VACA – value added capital employed), human

(6)

capital (VAHU – value added human capital), dan structural capital (STVA – structural capital value added).

Perusahaan yang bersifat knowledge-based, berusaha untuk berinvestasi dalam bentuk IC sebagai usaha untuk menjadi lebih baik, baik dari periode sebelumnya maupun dari kompetitor. Hasil kinerja yang baik ini dapat ditemukan dalam laporan keuangan, akan tetapi standar akuntasi yang berlaku sekarang masih belum mendukung perusahaan untuk mengungkapkan IC nya dalam bentuk laporan keuangan, karena sifat IC yang kompleks sehingga pengukuran dan pengakuan belum dapat dilakukan secara andal. Standar akuntansi yang sekarang menyatakan bahwa IC diperlakuan seperti goodwill yang dikembangkan secara internal, sehingga tidak boleh diakui sebagai aset dan semua biaya yang terjadi dibebankan, sehingga meyebabkan nilai buku perusahaan disajikan dibawah nilai yang seharusnya. Hal ini merupakan penyebab adanya perbedaan antara nilai buku dan nilai pasar perusahaan. Perusahaan berusaha untuk menyampaikan pada stakeholders bahwa perusahaan mempunyai IC yang tinggi yang mana tidak dapat disajikan dalam laporan keuangan, sehingga perusahaan akan berusaha untuk menyampaikan laporan megenai IC melalui pengungkapan sukarela dan laporan tahunan, karena laporan tahunan merupakan salah satu alat marketing perusahaan (Meer-Kooistra dan Zijlstra, 2006 dalam Luqman, 2012:3) yang dapat digunakan untuk menyediakan informasi mengenai nilai perusahaan yang sebenarnya dan kemampuan perusahaan

(7)

untuk menciptakan kekayaan serta menigkatkan reputasi perusahaan (Bruggen et al., 2009 dalam Luqman, 20012:3).

Fenomena yang terjadi belakangan ini, contohnya pada PT. Bank Riaukepri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riau menyatakan kredit bermasalah atau nonperfoming loan (NPL) PT. Bank Riaukepri (BRK) sudah di atas batas kewajaran (tak sehat) karena mencapai 5 persen atau melampaui batas yang ditetapkan. NPL menurut OJK merupakan salah satu indikator kesehatan kualitas aset bank. Indikator tersebut merupakan rasio keuangan pokok yang dapat memberikan informasi penilaian atas kondisi permodalan, rentabilitas, risiko kredit, rikiko pasar dan likuidasi. NPL yang digunakan adalah NPL netto yang telah disesuaikan. Penilaian terhadap kondisi aset bank dan kecukupan manajemen risiko kredit. Ini artinya NPL merupakan indikasi adanya masalah dalam bank tersebut yang jika tidak segera mendapatkan solusi maka akan berdampak bahaya pada bank (Potretnews.com 13 Mei 2017).

Masih dari laman potretnews.com, yang diambil dari laman antarariau.com, seorang konsultan hukum, Raja Adnan menjelaskan ada sejumlah indikator yang menyebabkan BRK tidak sehat, slah satunya adalah kinerja karyawan dan pimpinan yang tidak sehat pula. Lalu, katanya yang baru ini didapat adalah banyaknya proyek di BRK yang dilaksanakan dengan kajian yang tidak matang, seperti iklan luar ruang di bandara SSK II Pekanbaru senilai Rp.1,7 milyar. Proyek ini , katanya dia, juga diindikasi mark up karena lebih besar dibandingkan dengan kontrak sebelumnya yang

(8)

hanya Rp.1,3 milyar. Terlebih BRK telah melakukan pelunasan ke pihak vendor tanpa mengkroscek ke bandara berkaitan kontrak iklan diluar ruang tersebut. “Info terakhir, BRK melunasinya ke vendor, namun pihak vendor justru sampai sekarang belum membayarkan ke pihak bandara. Kalau begini tentu tidak lagi mark up, melainkan fiktif.” Katanya (Potretnews.com 13 Mei 2017).

Bisa disimpulkan dari kasus BRK, modal memang merupakan salah satu indikator pertumbuhan perbankan pada masa-masa mendatang, namun Human Capital, Costomer Capital, dan Structural Capital yang merupakan salah satu komponen dari Intellectual Capital juga perlu diperhatikan, karena merupakan salah satu indikator pertumbuhan perusahaaan pula.

Salah satu perusahaan yang paling intensif IC-nya adalah perusahaan perbankan. Selain itu dari aspek intelektual, secara keseluruhan karyawan di perusahaan perbankan lebih homogen dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya (Ulum, 2007:7).

Penelitian ini mengukur pengaruh IC dengan menggunakan model

Pulic VAIC (Value Added Intellectual Capital) yang terdiri dari Value Added Capital Employed (VACA), Value Added Human Capital (VAHU), Structural Capital Value Added (STVA) terhadap Profitabilitas sebagai rasio keuangan yang akan digunakan hanyalah Return on Asset saja di perusahaan perbankan di Indonesia. Oleh karena itu penulis mengambil penelitian dengan judul “Pengaruh Intellcetual Capital Terhadap

(9)

Profitabilitas” (Studi empiris pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2015).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut , maka rumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat pengaruh Value Added Capital Employed (VACA) terhadap Profitabilitas ?

2. Apakah terdapat pengaruh Value Added Human Capital (VAHU) terhadap Profitabilitas?

3. Apakah terdapat pengaruh Structural Capital Value Added (STVA) terhadap Profitabilitas ?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh Value Added Capital Employed (VACA) terhadap Profitabilitas.

2. Untuk mengetahui pengaruh Value Added Human Capital (VAHU) terhadap Profitabilitas.

3. Untuk mengetahui pengaruh Structural Capital Value Added (STVA) terhadap Profitabilitas.

D. Kontribusi Penelitiaan

Maanfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(10)

a. Bagi pihak perusahaan

Sebagai sumber informasi diharapkan perusahaan dapat memperhatikan dan mengembangkan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan IC. Mulai dari cara pengidentifikasian, pengukuran sampai dengan pengungkapan IC dalam laporan keuangan perusahaan.

b. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi, dan bahan perbandingan, sumber informasi atau acuan lebih lanjut untuk penelitian selanjutnya.

c. Bagi Public

Menjadi bahan referensi untuk menilai kinerja IC perusahaan perbankan di Indonesia, Sehingga para calon investor dapat menggunakannya sebagai bahan pertimbangan untuk menilai adanya competitive advantage yang lebih pada perusahaan tersebut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :