• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANAN SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERIODE"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

PERIODE 2013-2017

Nove Anggrayini

[email protected]

Prodi Ilmu Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Antakusuma Jl. Iskandar No. 63 Telp/Fax. 0532 – 22287 Kode Pos 74112 Pangkalan Bun

Abstract

One of the efforts to increase regional revenue is by optimizing the potential in the tourism sector. The relationship between the tourism industry and regional revenues is through the PAD and tax/non-tax revenue sharing. The formulation of the problem in this research is: How is the partial influence of the role of the tourism sector on the local revenue of Kotawaringin Barat Regency for the 2013-2017 period? and How is the simultaneous influence of the role of the tourism sector on the local revenue of Kotawaringin Barat Regency for the 2013-2017 period?

In this study, the independent variables are the factors that affect Local Original Income (Y) consisting of Hotel Tax (X1), Restaurant Tax (X2) and Entertainment Tax (X3), Tourism Retribution (X4), while the dependent variable is Return Shares (Y). The analysis tool uses multiple linear regression analysis, t test and F test.

Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that partially based on the results of the t test there is an effect of Hotel Tax (X1), Restaurant Tax (X2) and Entertainment Tax (X3), Tourism Retribution (X4) on Local Revenue (Y).

Simultaneously based on the F test, the calculated F value was 452,083 with sig. 0.000.

With a significant limit of 0.05 and Ftable 216 then Fcount > Ftable. So the hypothesis is obtained which states that there is a simultaneous effect of Hotel Tax (X1), Restaurant Tax (X2) and Entertainment Tax (X3), Tourism Retribution (X4) on Regional Original Income (Y).

Keywords: Hotel Tax, Restaurant Tax, Entertainment Tax, Tourism Retribution, Local Revenue

I. PENDAHULUAN

Dalam pasal 18 Undang-undang dasar tahun 1945 dinyatakan bahwa

“Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil dengan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingatkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak asal-usul dalam daerah-daerah yang

bersifat istimewa”. Pasal tersebut dapat digunakan sebagai landasan yang kuat bagi daerah untuk menyelenggarakan otonomi melalui kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Otonomi yang dimaksud adalah Otonomi Daerah yang berarti sebagai kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan

(2)

62 aspirasi masyarakat sesuai dengan

peraturan perundang-undangan.

Dengan dikeluarkannya UU No.32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, memberikan peluang yang besar bagi daerah untuk mengelola sumber daya alam yang dimiliki agar dapat memberikan hasil yang optimal. Setiap pemerintah daerah berupaya keras meningkatkan perekonomian daerahnya sendiri termasuk meningkatkan perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Disamping pengelolaan terhadap sumber PAD yang sudah ada perlu ditingkatkan dan daerah juga harus selalu kreatif dan inovatif dalam mencari dan mengembangkan potensi sumber- sumber PAD nya sehingga dengan semakin banyak sumber-sumber PAD yang dimiliki, daerah akan semakin banyak memiliki sumber pendapatan yang akan dipergunakan dalam membangun daerahnya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan penerimaan daerah yaitu dengan mengoptimalkan potensi dalam sektor pariwisata. Keterkaitan industri pariwisata dengan penerimaan daerah berjalan melalui jalur PAD dan bagi hasil pajak/bukan pajak. Menurut Tambunan

yang dikutip oleh Rudy Badrudin (2001), bahwa industri pariwisata yang menjadi sumber PAD adalah industri pariwisata milik masyarakat daerah (Community Tourism Development atau CTD).

Dengan mengembangkan CTD pemerintah daerah dapat memperoleh peluang penerimaan pajak dan beragam retribusi resmi dari kegiatan industri pariwisata yang bersifat multisektoral, yang meliputi hotel, restoran, usaha wisata, usaha perjalanan wisata, profesional convention organizer, pendidikan formal dan informal, pelatihan dan transportasi. Sedangkan pariwisata itu sendiri merupakan industri jasa yang memiliki mekanisme pengaturan yang kompleks karena mencakup pengaturan pergerakan wisatawan dari daerah atau negara asal, ke daerah tujuan wisata, hingga kembali ke negara asalnya yang melibatkan berbagai komponen seperti biro perjalanan, pemandu wisata (guide), tour operator, akomodasi, restoran, artshop, moneychanger, transportasi dan yang lainnya. Pariwisata juga menawarkan jenis produk dan wisata yang beragam, mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata buatan, hingga beragam wisata minat khusus.

Tabel 1

Rekap Pajak Hotel, Restoran, Hiburan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2013-2017

Tahun Pajak Hotel (Rp) Pajak Restoran (Rp) Pajak Hiburan (Rp) 2013 408,577,295 823,484,464 270,822,205 2014 788,677,311 1,148,159,633 254,232,520 2015 921,145,231 1,241,211,354 325,521,561 2016 2,764,141,833 1,692,661,721 288,286,559 2017 2,833,764,141 1,721,692,661 559,288,286 Sumber : BPKAD. Kabupaten Kotawaringin Barat

(3)

Tabel 2

Pendapatan Asli Daerah

Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2013-2017

Tahun PAD Kobar (Rp)

2013 86,595,997,785.56

2014 121,396,033,600.09

2015 123,315,123,950.00

2016 179,679,811,269.12

2017 176,855,124,641.39

Sumber : BPKAD. Kabupaten Kotawaringin Barat 2013 – 2017 Pariwisata merupakan salah satu

sektor pembangunan yang terus dijalankan oleh pemertintah. Hal ini disebabkan karena pariwisata mempunyai peran yang sangat penting bagi pembangunan, khususnya sebagai penghasilan Devisa negara disamping sektor migas atau menjadi penyumbang terbesar dalam perdangan internasional dan sektor jasa. Ada beberapa alasan penulis mengambil sebuah penelitian mengenai peranan sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah, yaitu : 1. Penulis ingin mengetahui lebih

dalam lagi tentang pariwisata yang ada di Kabupaten Kotawaringin Barat, yang bisa dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata Internasional. Mengingat kota kecil yang belum terlalu banyak dikenal oleh kalangan masyarakat luas. Tetapi dalam hal

Pariwisata, Kabupaten Kotawaringin Barat memiliki

banyak potensi pariwisata yang sangat menarik untuk di kunjungi, seperti wisata budaya, wisata bahari, wisata sejarah dan wisata alam.

2. Penulis ingin mengetahui upaya- upaya yang telah dan akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat,

dalam mengembangkan,

meningkatkan serta mengemas kembali potensi atau objek Pariwisatanya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya sehingga lebih menarik untuk dikunjungi baik itu wisatawan Domestik maupun mancanegara.

Sektor Pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah. Program pembangunan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Industri pariwisata di Kabupaten Kotawaringin Barat, Telah menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Perkembangan industri tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan dan penerimaaan devisa negara, namun juga telah mampu memperluas kesempatan berusaha dan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat dalam mengatasi pengangguran di daerah (Salah Wahab 2013).

Penyelenggaraan kepariwisataan ditunjukan untuk meningkatkan kesejahtraan dan kemakmuran rakyat, memperluas kesempatan berusaha, dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan dan mendayagunakan objek dan daya tarik wisata serta memupuk rasa cinta tanah air

(4)

64 dan mempererat persahabatan antar

bangsa (Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009).

Salah satu Akomodasi yang dibutuhkan dalam sektor pariwisata diantaranya adalah sarana penginapan, wisatawan, dan melihat potensi yang di miliki dimungkinkan menjadi kota moderen sehingga memerlukan fasilitas- fasilitas pendukung yang moderen termasuk sarana akomodasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapatan daerah terhadap sektor pariwisata dan pengaruh jumlah kunjungan wisatawan, jumlah pajak hotel, pajak hiburan, pajak restoran, dan retribusi bidang pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kotawaringin Barat.

Fasilitas penunjang seperti hotel, restoran, dan akomodasi lainnya memberikan sumbangan pendapat yang lebih tinggi bagi Kabupaten Kotawaringin Barat, ketika wisatawan berlibur bersama keluarga dan menggunakan jasa dan fasilitas yang dimiliki, maka hotel dan restoran dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah melalui sektor pajak.

Dengan perkembangan bisnis pariwisata, diharapkan bisa menjadi peluang bagi pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, untuk lebih mengeksplorasi potensi daerah yang dimiliki. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor potensial yang dapat diandalkan bagi pemerintah daerah, maka pemerintah Kabupaten Kotawaringn Barat dituntut untuk dapat menggali dan mengelola potensi pariwisata yang dimiliki sebagai usaha untuk mendapatkan sumber dana melalui terobosan-terobosan baru.

Dengan meningkatkan kualitas objek-objek kepariwisataan yang sudah

ada di Kabupaten Kotawaringin Barat, diharapkan dapat mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara, sehingga akan dapat meningkatkan pendapatan daerah terutama retribusi obyek wisata maupun penerimaan pajak hotel dan restoran yang nantinya akan membawa pengaruh bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh Peranan Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Periode 2013-2017?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu : Untuk mengetahui pengaruh Peranan Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Periode 2013-2017.

Kerangka Pemikiran

Secara spesifik pengembangan pariwisata diharapkan dapat memperbesar penerimaan Devisa, memperluas kesempatan berusaha, serta mendorong Pembangunan Daerah. Sektor pariwisata juga dapat diharapkan sebagai penggerak dan pemicu dalam memperbaiki kondisi ekonomi.

Peningkatan pendapatan disektor pariwisata adalah melalui kunjungan wisatawan ke wisata sehingga memberikan sumbangan retribusi obyek dan nantinya akan memberikan sumbangan terhadap PAD Kabupaten Kotawaringin Barat itu sendiri.

Meningkatnya PAD akan memberikan posisi yang lebih baik dalam pelaksanan pembangunan, sehingga dari hasil PAD diharapkan dapat menigkatkan anggaran pembangunan Kabupaten Kotawaringin

(5)

Barat. Dengan kerangka pemikiran dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

II. LANDASAN TEORI

Teori Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional riil atau pedapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output rill. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi akan terjadi bila ada pertumbuhan ekonomi dan naiknya pendapatan perkapita.

Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan dan ekonomi tara hidup diukur dengan output riil perorang.

a. Teori Kuznets

Pertumbuhan ekonomi menurut Kuznets, merupakan kenaikan jangka panjang dalam kemampuan satu negara untuk mampu menyediakan jenis barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi dan penyesuaian kelembagaan serta ideologis yang diperlukan.

Masih menurut Kuznets, peneliti pertumbuhan modern yang mendasarkan analisnya pada produk nasional dan komponennya, penduduk,

tenaga kerja dan sebagainya, pertumbuhan ekonomi modern mempunyai enam ciri –ciri ke enam ciri tersebut adalah:

1) Laju pertumbuhan pertumbuhan perkapita,

2) Peningkatan produktifitas,

3) Laju pertumbuhan struktural yang tinggi, mencakup peralihan dari skala unit–unit produktif dan peralihan dari peusahaan perseorangan menjadi perusahaan berbadan hukum serta perubahan kerja buruh,

4) Urbanisasi

5) Ekspansi negara maju

6) Arus barang, modal dan orang antar bangsa. Keenam ciri pertumbuhan ekonomi modern tersebut saling kait mengait dan terjalin dalam urutan sebab akibat.

b. Teori W.W Rostow

Teori pertumbuhan ekonomi menurut Rostow membagai tahapan pertumbuhan menjadi lima tahap yaitu:

1) Tahap masyarakat tradisional, 2) Tahap persiapan untuk tinggal

landas,

3) Tahap tinggal landas,

4) Tahap masyarakat menuju kedewasaan,

Peranan Sektor Pariwisata (X) : - Pajak Hotel

- Pajak Restoran - Pajak Hiburan - Retribusi Pariwisata

PAD Kotawaringin Barat (Y)

(6)

66 5) Tahap masyarakat konsumsi

tinggi.

Menurut Yoeti (1990:13) faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan pariwisata yang pada akhirnya akan memenuhi penyerapan tenaga kerja adalah:

a) Pendapatan, yaitu pengahasilan masyarakat atau individu banyak menentukan dalam memutuskan untuk melakukan perjalanan pariwisata. Semakin banyak kelebihan pendapatan atas kebutuhan hidup rumah tangga sehari–hari akan semakin meningkatkan permintaan terhadap produk wisata;

b) Harga produk wisata, yaitu harga dari tourist product bagi wisata, tetapi juga menyangkut biaya transportasi dari origin area ke destination origin; biaya-biaya dari barang dan jasa yang berkaitan dengan pariwisata, seperti akomodasi, minuman, souvenir goods dan bagi wisatawan manca negara akan memperhtikan biaya perubahan mata uang;

c) Kualitas, yaitu kualitas produk pariwisata sangat mempengaruhi dalam menarik wisatawan, khususnya wisata sumber daya alamnya. Dalam masa persaingan yang tajam seperti yang terjadi pada akhir–akhir ini, maka keindahan dan kualitas sumber daya alam (daerah wisata) sangat menentukan hasrat seseorang atau

masyarakat untuk mengkonsumsinya. Menurut

Yoeti (1990:71) pengertian kualitas disini adalah dalam hal “ something to see, something to do and something to buy “.

d) Keadaan politik dan keamanan, yaitu situasi politik dan keamanaan turut menentukan keputusan seseorang atau masyarakat untuk melkukan wisata, bilamana disuatu daerah atau negara dalam keadaan politik dan kemanan tidak stabil akan

menimbulkan keengganan masyarakat untuk pergi ke daerah-

daerah wisata, karena pada situasi demikian akan mengancam keselamatan wisatawan;

e) Hubungan ekonomi antar negara, yaitu dalam industri wisata modern, hubungan perekonomian antar negara merupakan dorongan bagi orang untuk mengunjungi suatu negara (termasauk daerah- daerah wisatawan) terutama dalam usaha untuk meningkatkan seperti konferensi, symposium dan lainnya.

f) Keadaan musim, yaitu musim mempengaruhi kunjungan wisata ke suatu daerah, pada musim hujan frekuensi pengunjung akan lebih sedikit dari pada musim kemarau;

g) Hari libur dan hari–hari besar, yaitu permintaan terhadap wisata akan meningkat dengan adanya long week end, adanya hari–hari libur bagi karyawan, hari–hari besar nasional akan memberikan kesempatan kepada keluaraga- keluarga untuk melakukan perjalanan wisata;

h) Peraturan pemerintah, yaitu peraturan yang mengatur orang–

orang untuk melakukan perjalalan wisata khususnya akan mempengaruhi permintaaan individu atau masyarakat untuk melakukan perjalanan dan;

(7)

i) Transfortasi, yaitu dengan semakin majunya perkembangan

teknologi transfortasi menyebabkan semakin cepat dan

lancarnya suatu perjalanan. Hal ini menyebabkan semakin senangnya masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata.

Dalam pelaksana pembangunan ekonomi daerah, perlu adanya pembangan strategi ekonomi daerah yang baik dan terarah agar mencapai tujuan dan sarana yang di inginkan.

Keberhasilan dalam pertumbuhan ekonomi sendiri sangat erat kaitannya dengan strategi kegiatan pembangunan ekonomi. Strategi pembangunan daerah dapat di kelompokan menjadi empat kelompok (Arsyad 1999) :

1. Strategi Pembanguan Fisik atau Lokalitas

Dilakukan dengan program perbaikan kondisi fisik atau lokalitas daerah untuk kepentingan pembangunan industri dan perdagangan. Tujuan untuk menciptakan identitas daerah atau kota, memperbaiki basis pesona atau kualitas hidup masyarakat dan memperbaiki dunia usaha.

2 .Strategi Pembangunan Dunia Usaha

Pengembangan dunia usaha merupakan komponen penting dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah karena daya tarik, kreasi atau daya perekonomian daerah yang sehat.

1. Strategi Pengembangan SDM Sumber daya manusia merupakan aspek yang paling penting dalam proses pembangunan ekonomi.

2. Strategi Pengembangan Ekonomi Masyarakat

Kegiatan pembangunan masyarakat ini merupakan kegiatan yang ditunjukkan untuk mengembangkan suatu kelompok masyarakat disuatu daerah atau

dikenal dengan pemberdayaan masyarakat.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk menciptakan manfaat sosial. Misalnya, melalui penciptaan proyek padat karya untuk memenuhi kebutuhan hidup atau memperoleh dari usahanya.

Pada dasarnya pembngunan ekonomi daerah dilakukan dengan usaha sendiri dan bantuan teknis serta bantuan lain-lain dari pemerintah. dalam arti ekonomi pembangunan daerah adalah memajukan produksi ekonomi pertaniandan usaha-usaha pertanian serta industri lain-lain yang sesuai dengan daerah tersebut dan berati pila merupakan sumber pengahasialan dan lapangan kerja bagi penduduk.

Sehingga proses pembangunan bukan hanya di tentukan oleh aspek ekonomi semata, namun demikian pertumbuhan ekonomi merupakan unsur yang penting dalam proses pembangunan ekonomi daerah.

pertumbuhan ekonomi daerah masih merupakan target utama dalam proses pembangunan daerah disamping pembangunan sosial.

Perumbuhan ekonomi setiap daerah akan sangat berpariasi sesuai dengan potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah yang dimilikioleh daerah tersebut.

Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan meningkatkan

kesejahtraan masyarakat (Simanjuntak, 2003).

Menurut Balakery (1989) pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah dan seluruh komponen masyarakat mengelola

(8)

68 berbagai sumber daya yang ada

dan membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru dan

merangsang pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut.

Menurut Lincolin Arsyad dalam bukunya yang berjudul perencanan dan pembangunan ekonomi daerah, pengertian daerah berbeda-beda tergantung aspek tinjauannya. Dari aspek ekonomi, daerah mempunyai tiga

pengertian yaitu (Arsyad,1999;107-108):

1. Suatu yang dianggap sebagai ruang dimana kegiatan dalam berbagai pelosok ruang tersebut terdapat sifat-sifat yang sama. Kesamaan dalam sifat-sifat tersebut antara lain dar segi pendapatan perkapitanya, budayanya, geografisnya, dan sebagainya.

Dalam daerah pengertian seperti ini disebut daerah homogen.

2. Suatu daerah dianggap sebagai suatu ekonomi ruang atau daerah yang dikuasai oleh berbagai pusat kegiatan ekonomi yang disebut daerah modal.

Suatu daerah adalah suatu ekonomi ruang yang berada dibawah satu administrasi tertentu seperti satu provinsi, kabupaten, kecamatan, dan sebagainya.

Jadi daerah disini didasarkan pembagian administrasi suatu negara. Disebut sebagai daerah perncanaan atau daerah adminitsrasi.

Pengertian Pariwisata

Pariwisata menjadi satu industri penting dalam masa sekarang dan mendatang. Pariwisata agro cenderung

lebih cepat berkembang dibanding jenis wisata lainnya (Sukandi, 2000).

Pariwisata didefinisikan sebagai perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain yang bersifat sementara untuk mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagian dalam lingkungan hidup sosial, budaya, alam dan ilmu pengetahuan. Perjalanan wisata harus memenuhi persyaratan, berikut:

1. Bersifat sementara 2. Bersifat sukareala

Undang–undang No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan mendefinisikan pariwisata sebagai kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan dan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan pariwisata yang di dukung berbagai fasilitas dan layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah.

Pariwisata merupakan anatomi dari gejala-gejala yang terjadi dari tiga unsur antara lain manusia, yaitu yang melakukan perjalanan wisata, ruang yaitu daerah atau ruang lingkup tempat meakukan perjalanan wisata, dan waktu yaitu waktu yang digunakan selama perjalanan dan tinggal di daerah tujuan wisata (Wahab, 1994; Szednader, predzesbrodka, dan Scringeour, 2009).

Berkembangnya pariwisata akan berakibat ganda bagi sektor lainnya seperti pertanian, peternakan dan industri, perdagangan, hotel dan restoran.

Industri pariwisata merupakan mata rantai kegiatan yang sangat panjang mulai dari kegiatan biro perjalanan, kerajinan rakyat dan kesenian daerah

(9)

pengangkutan, perhotelan, restoran dan kegiatan pemanduan, pemeliharaan obyek wisata (Spillane, 1994;Sugianti, Emawati (2009) Mangiri (2003) mengelompokkan tiga kebutuhan dasar yang di timbulkan oleh kegiatan pariwisata ditempat tujuan wisata yaitu:

1. Angkutan

2. Akomodasi dan pangan 3. Daya tarik dan kemudahan

Jenis–jenis pariwisata yang didasarkan pada motif wisata anatara lain :

Pariwisata untuk bersenang-senanang atau bertamasya (pleasure tourison) yang umumnya berpindah–pindah tempat, 1. Pariwisata untuk rekreasi (recrasion

tourison)

2. Pariwisata untuk kebudayaaan (cultural tourison)

3 .Pariwista untuk olahraga (sport tourison)

4. Pariwisata untuk urusan dagang (buisness tourison)

5. Periwisata untuk konservasi (convention tourison)

6. Pariwista untuk kesehatan (healt tourison)

7. Pariwisata sosial (social tourison) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Sumber Penerimaan Daerah

Penetapan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah ditetapkan dengan dasar hukum yang kuat, yaitu dengan undang-undang, khususnya dengan undang-undang tentang pemerintahan daerah maupun tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Penetapan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah dari awal kemerdekaan indonesia sampai saat ini dapat dilihat berbagai undang-undang di bawah ini:

a. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Negara dengan Daerah-daerah yang mengurus rumah tangganya

sendiri menetapkan yang menjadi pendapatan pokok dari daerah ada lima kelompok, yaitu:

1) Pajak daerah;

2) Retribusi daerah;

3) Pendapatan yang diserahkan kepada daerah;

4) Hasil perusahaan darah; dan

5) Hal-hal tertentu kepada daerah dapat diberikan ganjaran, subsid, dan sumbangan.

Bedasarkan undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah Dan Undang- Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah menetapkan bahwa untuk melaksanakan otonomi daerah,

khususnya asas desentralisasi,pemerintahan

daerah memiliki sumber penerimaan dari empat kelompok sebagaimana di bawah ini.

1) Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber- sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku meliputi:

a. Hasil pajak daerah;

b. Hasil retribusi daerah;

c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan, antara antara lain bagian laba, dividen, dan penjualan saham milik daerah;

d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, antara lain hasil penjualan aset tetap daerah dan jasa giro.

(10)

70 Pendapatan Asli Daerah (PAD)

ini seharusnya menjadi tolak ukur kemampuan masing-masing daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri. PAD merupakan sumber dana yang benar-benar menunjukan kemampuan dalam daerah untuk menghimpun dana dari masyrakat untuk kegiatan pembanguna daerah.

Semakin besar penerimaan PAD berati pula banyak kemampuan dalam melaksanakan pembangunan akan lebih baik (Nazara, 1997;20). PAD terdir dari penerimaan pajak daerah, laba perusahaan daerah, penerimaan dari dinas pendapatan dan lain- lain.

1. Pajak Daerah

Pajak Daerah berdasarkan Undang- Undang Nomor 28 tahun 2009 adalah sebagaimana di bawah ini:

a. Jenis pajak provinsi terdiri atas:

1) Pajak kendaraan bermotor;

2) Bea balik nama kendaraan bermotor;

3) Pajak bahan bakar kendaraan bermotor;

4) Pajak air permukaan; dan 5) Pajak rokok

b. Jenis pajak kabupaten/kota terdiri atas:

1) Pajak Hotel;

2) Pajak Hiburan;

3) Pajak Restoran;

4) Pajak Reklame;

5) Pajak Penerangan Jalan;

6) Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan;

7) Pajak Parkir;

8) Pajak Air Tanah;

9) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan 10) Bea Perolehan Hak atas

Tanah dan Bangunan.

2. Retribusi Daerah

Retribusi daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah sebagaimana di

bawah ini:

a. Retribusi Jasa Umum, yang meliputi:

1) Retribusi Pelayanan Kesehatan;

2) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;

3) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil;

4) Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan

Mayat;

5) Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum;

6) Retribusi Pelayanan Pasar;

7) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;

8) Retribusi Penyediaan atau Penyedotan Kakus;

9) Retribusi Pergantian Biaya Cetak Peta;

10) Retribusi Penggelolaan Limbah Cair;

11) Retribusi Pelayanan Pendidikan; dan

12) Retribusi pengadilan Menara Telekomomikasi.

b. Retribusi Jasa Khusus, yang meliputi:

1) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;

2) Retribusi Pasar Grosir atau Pertokoan;

3) Retribusi Terminal;

4) Retribusi Tempat Khusus Parkir;

5) Retribusi Rumah Potong Hewan;

6) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;

(11)

7) Retribusi Penyebrangan di Air; dan

Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

Macam–macam Pajak Pajak Hotel

Pengertian pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel, hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan, peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga hotel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, rumah penginapan dan sejenisnya.

Beberapa tahun belakangan ini bermunculan hotel di Kabupaten Kotawringin Barat, ini disebabkan oleh perkembangan pariwisata, sehingga perlu adanya bentuk campur tangan pemerintah demi untuk mensiasati pajak hotel agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), jadi pemerintah daerah perlu memnatau perkembangan hotel dan keberadaan hotel agar menjadi salah satu penerimaan daerah.

Sebagian orang, pajak hotel hanya dikenakan hanya sebatas biaya penginapan. Bila kita melihat pada ketentuan Undang–Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi, biaya–biaya lain yang dikenakan pada aktivitas hotel, seperti layanan hiburan, juga termasuk komponen pajak hotel. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 pasal 1 angka 20 dan 21, pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Sedangkan yang dimaksud dengan hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan pungutan bayaran, yang mencakup juga lomen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggerahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari sepuluh. Pengenaan pajak hotel tidak

mutlak ada pada seluruh daerah Kabupaten Kotawaringin Barat.

Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu, untuk dapat dipungut suatu daerah Kabupaten/Kota, pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan peraturan daerah tentang Pajak hotel.

Peraturan ini akan menjadi landasan hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pemungutan dan pengenaan Pajak Hotel di Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat. dalam pemungutan pajak hotel terdapat beberapa terminologi yang perlu diketahui. Terminologi tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

1. Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan orang untuk

dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan, atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu, dikelola, dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali oleh pertokoan atau perkantoran.

2. Rumah penginapan adalah penginapan dalam bentuk dan klsifikasi apa pun berserta fasilitas lainnya yang digunakan untuk menginap dan disewakan untuk umum.

3. Pengusaha hotel adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun dalam lingkaran perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha dalam bidang penginapan.

4. Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima dalam bentuk imbalan atas penyerahan barang atau pelayanan sebagai pembayaran kepada pemilik hotel.

5. Bon penjualan (bill) adalah bukti pembayaran, yang sekaligus

(12)

72 sebagai bukti pemungutan pajak,

yang dibuat oleh wajib pajak pada saat mengajukan pembayaran atas jasa pemakaian kamar atau tempat penginapan beserta fasilitas penunjang lainnya kepada subjek pajak.

a. Dasar hukum pemungutan pajak hotel

Pemungutan pajak hotel saat ini didasarkan pada dasar hukum yang jelas dan kuat, sehingga harus dipatuhi oleh masyarakat dan pihak yang terkait. Dasar hukum pemungutan pajak hotel pada suatu Kabupaten adalah sebagaimana dibawah ini:

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

2. Peraturan daerah atau Kabupaten yang mengatur tentang pajak hotel.

3. Keputusan Bupati/wali kota yang mengatur tentang pajak hotel sebagai aturan pelaksanaan peraturan daerah tentang pajak pada Kabupaten/kota.

Pajak Restoran

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 pasal 1 anggka 22 dan 23, pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran.

Sedangkan yang dimaksud dengan restoran adalah fasilitas penyedia makanan atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, pemungutan pajak restoran saat ini didasarkan pada Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan perubahan atas Undang- Undang Nomor 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi daerah dan peraturan pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak daerah. Pengenaan pajak restoran tidak mutlak ada pada daerah seluruh kabupaten.

Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak. Oleh karena itu dapat dipungut pada suatu daerah, pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan kesuatu daerah tentang peraturan pemungutan pajak restoran yang akan menjadi landasan hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan pajak restoran didaerah.

Dalam pemungutan pajak restoran terdapat beberapa terminologi yang perlu diketahui adalah sebagai berikut:

1. Restoran adalah fasilitas penyedia makanan atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, bar dan sejenisnya.

2. Pengusaha restoran adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun, yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha di bidang rumah makan.

3. Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan barang atau pelayanan, sebagai pembayaran pemilik rumah makan.

4. Bon penjualan (biil) adalah bukti pembayaran, yang sekaligus sebagai bukti pemungutan pajak, yang dibuat oleh wajib pajak pada saat mengajukan pembayaran atas pembelian makanan atau minuman kepada subjek pajak.

a. Dasar hukum pemungutan pajak restoran

Pemungutan pajak restoran saat ini didasarkan pada landasan atau dasar hukum yang sangat jelas dan kuat, sehingga harus dipatuhi oleh masyarakat dan pihak yang terkait.

(13)

Dasar hukum pemungutan pajak adalah sebagaimana di bawah ini:

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.

2. Peraturan pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak daerah.

3. Peraturan daerah kabupaten/kota yang mengatur tentang pajak restoran.

4. Keputusan bupati/walikota yang mengatur tentang pajak restoran sebagai aturan pelaksanaan peraturan daerah tentang pajak restoran.

Dengan semakin berkembangangnya pariwisata

diKabupaten Kotawaringin Barat, semakin banyak pula bisnis–bisnis restoran demi menunjang kepariwisataan.

Dimana bermunculan restoran yang menyediakan berbagai menu nusantara atau pun menu luar negeri. Sehingga pemerintah harus mengatur sedemikian pula agar dapat meningkatkan pendapatan asli daerah sektor pariwisata.

Pajak restoran ini menunjukkan setiap tahunnya bisnis restoran selalu mengalami peningkatan jumlahnya sehingga pajak restoran terus meningkat setiap tahunnya. Tetapi pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat harus dapat mengatur pertumbuhannya agar tidak menjadi restoran yang mengganggu keindahan akibat lokasi ataupun dampak lain yang ditimbulkannya.

Pajak atas pelayanan yang di sediakan restoran, artinya restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan minuman dengan dipungutnya bayaran yang mencakup juga rumah makan, cafe, kantin, bar, dan sejenisnya.

Pajak Hiburan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 pasal 1 angka 24 dan 25, pajak hiburan adalah pajak atas

penyelenggaraan hiburan. Sedangkan yang dimaksud dengan hiburan yang mencakup semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan atau keramaian, yang dinikmati dengan pemungutan bayaran. Hal ini yang berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak.

Keberadaan pajak hiburan sebagai salah satu pajak dan diatur juga oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, yang mulai 1 januari 2010 menjadai dasar hukum pajak daerah di Indonesia.

1. Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, atau keramaian yang dinikamati dengan dipungut bayaran.

2. Penyelenggara hiburan adalah orang pribadi atau badan yang bertindak baik atas namanya sendiri atau untuk nama pihak lain yang menjadi

tanggungannya dalam menyelenggarakan suatu hiburan.

3. Penonton atau pengunjung setiap orang yang menghadiri suatu hiburan untuk melihat atau mendengar dan menikmati fasilitas yang disediakan oleh penyelenggara hiburan, kecuali penyelenggara, karyawan, artis, (para pemaian) dan petugas menghadiri untuk melakukan tugas pengawasan.

4. Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima dalam bentuk apapun untuk harga pengganti yang diminta atau seharusnya wajib pajak sebagai penopang atas pemakaian dan pembelian jasa hiburan serta fasilitas penunjangnya termasuk pula semua tambahan dengan nama apapun juga yang dilakukan oleh wajib pajak yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan hiburan.

5. Tanda masuk adalah semua tanda atau alat cara yang sah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dapat

(14)

74 digunakan untuk menonton,

menggunakan fasilitas, atau menikmati hiburan. Termsuk tanda masuk disini adalah dalam bentuk dengan nama apaapun, misalnya karcis, tiket undangan, kartu langganan, kartu anggota, dan sejenisnya.

6. Harga tanda masuk, yang selanjutnya disingkat HTM, adalah nilai uang yang tercantum pada tanda masuk yang harus dibayar oleh penonton atau pengunjung.

a. Dasar hukum pemungutan pajak hiburan

Pemungutan pajak hiburan saat ini didasarkan pada dasar hukum yang jelas dan kuat, sehingga harus dipatuhi oleh masyarakat dan pihak yang terkait. Dasar hukum pemungutan pajak hiburan adalah sebagaimana dibawah ini:

1. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.

2. Peraturan pemerintah Nomor 5 Tahun 2001 tentang pajak daerah

3. Peraturan daerah kabupaten/kota yang mengatur tentang pajak hiburan.

4. Keputusan bupati/walikota yang mengatur tentang pajak hiburan sebagai aturan pelaksanaan peraturan daerah tentang pajak hiburan.

Objek pajak Hiburan

Objek pajak hiburan adalah jasa penyelenggaraan hiburan dengan di pungut bayaran. Yamg dimaksud dengan hiburan dalam hal ini adalah sebagai berikut:

a. Tontonan filem

b. Pagelaran kesenian, musik, tari dan busana

c. Konteks kecantikan d. Pameran

e. Diskotik karaoke, klub malam, dan sejenisnya

f. Sirkus, akrobal dan sulap

g. Permainan bilyar, golf, dan bowling h. Pacuan kuda, kendaraan bermotor

dan permainan ketangkasan

i. Panti pijat, refleksi, mandi uap/Spa, dan pusat kebugaran ( fitness center) j. Pertandingan olahraga

Pemda ini dibuat untuk menertibkan hiburan di kabupaten kotawingin barat agar dengan semakin berkembangnya kepariwisataan tidak menjadikan keadaan yamg kurang diinginkan atau meresahkan karna berbagai macam hiburan yang bermunculan.

Jadi pemerintah daerah harus selalu memantau tempat-tempat hiburan, seperti karaoke, bioskop, dan lain-lain. Pajak hiburan selalu meningkat dari tahun ke tahun jika itu dikarenkan perkembangan pariwisata sangat berkembang pesat sehingga bisa menekan pajak hiburan agar bisa meningkatkan penerimaan daerah sektor pariwisata.

Adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan,dalam hal ini hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan permainan, dan keramaian yang dinikmati dengan pungutan bayaran.

Retribusi Pariwisata

Di Kabupaten Kotawaringin Barat ini kita memiliki kekayaan alam dan objek wisata yang sangat banyak sehingga harus dimaksimalkan agar bisa bermanfaat buat otonomi daerah yang sedang berlangsung saat ini.

Jadi pemerintah daerah harus ikut campur tangan dalam mengawasi dan mengatur kelangsungan stabilitas sosial disetiap wisata alam wisata budaya, yang

(15)

ada diwilayah Kabupaten Kotawaringin Barat.

Retribusi tempat rekreasi olahraga dan fasilitas-fasilitas lainnya. Contoh retibusi itu sendiri bisa dari tiket masuk objek wisata, lahan parkir, dll. Dengan bermunculannya jumlah wisata akan semakin bertambah objek wisata buatan dan objek wisata budaya yang sengaja dibuat demi meningkatkan pariwisata di

Kabupaten Kotawaringin Barat, baik yang dibuat atau dikelola langsung oleh pemerintah daerah maupun yang bekerjasama dengan pihak ketiga.

Retribusi tempat rekreasi dan pariwisata termasuk golongan retribusi jasa usaha. Tingkat penggunaan jasa retribusi tempat dan pariwisata pariwisata diukur berdasarkan fasilitas, luas, dan waktu pemakian serta pelayanan.

III. METODE Obyek Penelitian

Penelitian dilakukan di daerah Kabupaten Kotawaringin Barat.

Karena sektor pariwisata memiliki potensi yang baik dan beberapa tahun ini banyak wisatawan yang mengunjungi objek wisata di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional.

Menurut Natsir (2013), definisi operasional merupakan definisi yang terdapat dalam suatu variabel dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur suatu variabel tersebut.

Sedangkan variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi objek suatu penelitian. Dalam penelitian ini terbagi menjadi dua variabel yaitu variabel dependen (terikat) dan variabel independen (bebas).

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai:

Variabel Penelitian

Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi variabel bebas.

Dalam penelitian ini variabel terikat adalah Variabel dependen ini adalah kebalikan dari variabel independen. Jika variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi, maka variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi.

Variabel dependen juga sering disebut sebagai hasil variabel, akibat, atau juga variabel jawaban. Menurut Sugiono (2090) variabel terkait merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel ini disebut sebagai variabel terkait oleh variabel bebas.

1. Variabel Dependen

Dalam penelitian ini, variabel dependen yang digunakan yaitu : Pendapatan Asli Daerah (Y) yaitu digunakan untuk mengukur penerimaan yang di peroleh dari sektor pajak daerah, retribusi daerah hasil perusahaan daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang di pisahkan dan lain lain. Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Kotawaringin Barat dari tahun 2013 hingga tahun 2017 .

2. Variabel Independen (bebas)

Variabel independen menurut Sugiono (2009) menjelaskan bahwa variabel independen (terikat) merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau variabel independen.

Dalam penelitian variabel terikat sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent, variabel pengaruh, variabel perlakuan, variabel treatment dan variabel resiko. Dinamakan sedemikian rupa karena variabel ini mempengaruhi variabel lainnya.

Variabel bebas adalah suatu variabel yang akan mempengaruhi variabel terikat. Adapun dalam penelitian

(16)

76 ini yang menjadi variabel bebasnya

adalah peranan sektor pariwisata (X) yang terdiri dari : Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel, adalah penyediaan jasa penginapan, peristirahatan termasuk jasa jenis lainnya dengan dipungut bayaran, Pajak restoran adalah fasilitas penyediaan makanan atau minuman dengan dipungut bayaran, Pajak hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan, yamg mencakup semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan atau keramaian yang diminati dengan pungutan bayaran dan Retribusi Pariwisata merupakan pungutan yang dikenakan kepada setiap pengunjung yang datang ke lokasi tempat rekreasi.

Sedangkan variabel tidak bebasnya adalah PAD Kotawaringin barat (Y) adalah penerimaan yang diterima oleh daerah dari sumber-sumber wilayahnya sendiri.

Jenis dan sumber data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak lain, baik dari literatur, studi pustaka, atau penelitian-penelitian sejenis sebelumnya yang berkaitan dalam penelitian ini.

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Pariwisata kota Pangkalan Bun, Badan Pendapatan Daerah Kotawaringin barat dan literatur- literatur lainnya seperti buku-buku, dan jurnal-jurnal ekonomi. Data yang digunakan antara lain adalah jumlah obyek wisata, jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel, PDRB perkapita, dan penerimaan daerah dari sektor pariwisata Kabupaten Kotawaringin Barat.

Teknik Analisis Data

Jenis data yang tersedia untuk dianalisis secara statistik adalah data runtut waktu, data silang (cross section), dan data panel (pooled time series). Data panel adalah gabungan antara data time series dan data cross sections. Manfaat dari data panel (pooled time series) dibandingkan dengan data yang lain adalah (Ghozali, 2011):

1. Data panel berkaitan dengan, misalnya individu, perusahaan, kota, dan negara bersifat sepanjang waktu (over time), oleh karena itu sifatnya heterogen dalam unit tersebut. Teknik untuk mengestimasi data panel dapat memasukkan heterogenitas secara ekplisit untuk setiap variabel individu secara spesifik.

2. Dengan menggabungkan data time series dan cross sections, maka data panel memberikan data yang lebih informatif, lebih bervariasi, rendah tingkat kolonieritas antar variabel, lebih besar degree of freedom, dan lebih efisien.

3. Dengan mempelajari data repeated cross section, data panel cocok untuk studi perubahan dinamis.

4. Data panel mampu mendeteksi dan mengukur pengaruh yang tidak dapat diobservasi melalui data murni time series atau murni cross section.

5. Data panel memungkinkan kita mempelajari model perilaku yang lebih kompleks.

Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Model analisis regresi linier berganda digunakan untuk menjelaskan hubungan dan seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel dependen. Regresi linier berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh Peranan Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten

(17)

Kotawaringin Barat Periode 2013-2017.

Untuk dapat melakukan analisis regresi linier sederhana diperlukan uji asumsi klasik

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Deskripsi Data

Pada bagian ini menggambarkan pendapatan dari pajak hotel, restauran, hiburan, retribusi pariwisata dan pendapatan asli daerah Kotawaringin Barat..

1. Pajak Hotel

Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel, adalah penyediaan jasa penginapan, peristirahatan termasuk jasa jenis lainnya dengan dipungut bayaran. Untuk grafik pendapatan dari pajak hotel kabupaten kotawaringin barat dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3 Pajak Hotel

Tahun Pajak Hotel (Rp) Kenaikan/Penurunan (Rp)

2013 408,577,295 -

2014 788,677,311 380,100,016 2015 921,145,231 132,467,920 2016 2,764,141,833 1,842,996,602 2017 2,833,764,141 69,622,308

Berdasarkan 3 diatas dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan untuk pendapatan dari pajak hotel terutama dari tahun 2015 sampai 2016 yang terjadi peningkatan sebesar Rp.

1.842.996.602.

2. Pajak Restoran

Pajak restoran adalah fasilitas penyediaan makanan atau minuman dengan dipungut bayaran. Untuk grafik pendapatan dari pajak restoran kabupaten kotawaringin barat dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4 Pajak Restoran

Tahun Pajak Restoran (Rp) Kenaikan/Penurunan (Rp)

2013 823,484,464 -

2014 1,148,159,633 324,675,169 2015 1,241,211,354 93,051,721 2016 1,692,661,721 451,450,367 2017 1,721,692,661 29,030,940

Berdasarkan tabel 4 diatas dapat dijelaskan bahwa terjadi

peningkatan yang signifikan untuk pendapatan dari pajak

(18)

78 restoran terutama dari tahun

2015 sampai 2016 yang terjadi peningkatan sebesar Rp.

451.450.367.

3. Pajak Hiburan

Pajak hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan, yamg mencakup semua jenis tontonan,

pertunjukan, permainan atau keramaian yang diminati dengan pungutan bayaran. Untuk grafik pendapatan dari pajak hiburan kabupaten kotawaringin barat dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5 Pajak Hiburan

Tahun Pajak Hiburan (Rp) Kenaikan/Penurunan (Rp)

2013 270,822,205 -

2014 254,232,520 (16,589,685) 2015 325,521,561 71,289,041 2016 288,286,559 (37,235,002) 2017 559,288,286 271,001,727

Berdasarkan tabel 5 diatas dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan untuk pendapatan dari pajak hiburan terutama dari tahun 2016 sampai 2017 yang terjadi peningkatan sebesar Rp.

271.001.727.

4. Retribusi Pariwisata

Retribusi Pariwisata merupakan pungutan yang dikenakan kepada setiap pengunjung yang

datang ke lokasi tempat rekreasi.

Retribusi tempat rekreasi termasuk golongan retribusi jasa usaha, tingkat penggunaan jasa retribusi tempat rekreasi diukur berdasarkan jenis fasilitas, luas, dan waktu pemakaian serta pelayanan. Untuk grafik pendapatan dari retribusi

pariwasata kabupaten kotawaringin barat dapat dilihat

pada tabel berikut ini : Tabel 6

Retribusi Pariwisata

Tahun Retribusi Pariwisata (Rp) Kenaikan/Penurunan (Rp)

2013 2,749,000.00 -

2014 52,879,000.00 50,130,000 2015 22,528,000.00 (30,351,000) 2016 53,883,000.00 31,355,000 2017 252,483,000.00 198,600,000

Berdasarkan tabel 6 diatas dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan untuk pendapatan dari pajak hiburan terutama dari tahun 2016 sampai 2017 yang terjadi peningkatan sebesar Rp. 198.600.000.

(19)

5. Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu penerimaan yang diterima oleh daerah dari sumber-sumber wilayahnya sendiri.Untuk grafik

pendapatan asli daerah kabupaten kotawaringin barat dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 7

Pendapatan Asli Daerah

Tahun PAD Kobar (Rp) Kenaikan/Penurunan (Rp)

2013 86,595,997,785.56 -

2014 121,396,033,600.09 34,800,035,815 2015 123,315,123,950.00 1,919,090,350 2016 179,679,811,269.12 56,364,687,319 2017 176,855,124,641.39 (2,824,686,628) 6. Berdasarkan tabel 7diatas

dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan untuk pendapatan asli daerah terutama dari tahun 2015 sampai 2016 yang terjadi peningkatan sebesar Rp.

56.364.687.319.

Pembahasan

Regresi Linear Sederhana

Pada penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Teknik analisis ini digunakan

untuk mengetahui besarnya Pengaruh Peranan Sektor Pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah Kotawaringin Barat.

Perhitungan statistik dalam analisis regresi linear sederhana yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS for Windows versi 20. Hasil pengolahan data dengan menggunakan program SPSS dapat dijelaskan pada Tabel dibawah ini :

Tabel 8 Coefficientsa Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B

Std.

Error Beta

1 (Constant) 61965786959,18 1,070E10 5,791 ,010 Peranan

Sektor Pariwisata

23,013 2,958 ,976 17,781 ,004

a. Dependent Variable: PAD Kobar

Sumber : Data diolah dengan SPSS V20, 2020 Model persamaan regresi

yang dapat dituliskan dari hasil tersebut dalam bentuk persamaan

regresi sebagai berikut : Y = 61965786959,18 + 23,013X;

Berdasarkan rumus tersebut diatas

(20)

80 maka dapat dijelaskan sebagai

berikut :

Nilai konstanta a diperoleh sebesar 61965786959,18 artinya angka tersebut menunjukan Pendapatan Asli Daerah Kotawaringin Barat jika Peranan Sektor Pariwisata diabaikan. Nilai b diperoleh sebesar 23,013 artinya jika nilai variabel Peranan Sektor

Pariwisata mengalami peningkatan sebesar 1, maka

Pendapatan Asli Daerah Kotawaringin Barat akan bertambah sebesar 23,013.

Dari kedua nilai tersebut dapat dijelaskan walaupun Peranan Sektor Pariwisata tidak ada di Kabupaten Kotawaringin Barat tetap ada kinerja dan akan lebih baik jika peranan sektor pariwisata ditingkatkan.

Uji t ( parsial )

Hipotesis dalam penelitian ini diuji kebenarannya dengan menggunakan uji parsial. Pengujian dilakukan dengan melihat taraf signifikan (p-value), jika taraf signifikan yang dihasilkan dari perhitungan dibawah 0,05 maka hipotesis diterima, sebaliknya jika taraf signifikan hasil hitung lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Hasil perhitungan uji t dapat dilihat pada tabel 4.7.

Berdasarkan tabel 4.7, maka dapat dijelaskan hasil pengujian uji t pada masing-masing variabel sebagai berikut :

Variabel Peranan Sektor Pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah Kotawaringin Barat.

Hipotesis yang diuji adalah

Ho : Peranan Sektor Pariwisata Tidak Berpengaruh Terhadap

Pendapatan Asli Daerah Kotawaringin Barat.

Ha : Peranan Sektor Pariwisata

Berpengaruh Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kotawaringin Barat.

Perhitungan yang dilakukan menghasilkan nilai thitung untuk variabel Peranan Sektor Pariwisata sebesar 12,706 dengan nilai signifikansi 0,000 sementara itu dengan batas signifikasi sebesar 0,05 dan arah koefisien regresi positif, diperoleh nilai ttabel sebesar 17,781. Dengan membandingkan kedua nilai t yang diperoleh, terlihat bahwa thitung > ttabel, sehingga dapat diambil keputusan menolak Ho dan menerima Ha.

Artinya terdapat Peranan Sektor Pariwisata Berpengaruh Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kotawaringin Barat.

V. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan peranan sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Periode 2013-2017 maka terdapat pengaruh pengaruh Peranan Sektor Pariwisata (Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan dan Retribusi Pariwisata) Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Periode 2013-2017.

Saran

Dari kesimpulan yang telah diperoleh, maka dapat diberikan saran- saran sebagai berikut :

1) Bagi Pemerintah Daerah

Sebaiknya pemerintah daerah disarankan untuk memperhatikan faktor-faktor yang berperan dalam sektor pariwisata seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak

(21)

Hiburan dan Retribusi Pariwisata tersebut, agar dapat memperoleh peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat.

2) Bagi Penelitian Selanjutnya

a) Penelitian selanjutnya sebaiknya menambah jumlah tahun pengamatan, sehingga akan diperoleh gambaran yang lebih baik tentang Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat.

a) Penelitian selanjutnya juga disarankan untuk meneliti faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah seperti:

pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak parkir, pajak air tanah dan pajak sarang burung walet..

DAFTAR PUSTAKA

ABS., (2004), “Pariwisata adalah Perjalanan Menuju Atau Tinggal disuatu Tempat Selama Tidak Lebih Dari Satu Tahun”, Balai Pustaka, Yogyakarta.

AEGIS., (2007), “Pariwisata adalah Perjalanan Menuju Atau Tinggal disuatu Tempat Selama Tidak Lebih Dari Satu Tahun”, Balai Pustaka, Yogyakarta.

Arsyad, (2009), ”Ekonomi Pembangunan”, BPFE, Yogyakarta.

Arsyad, (2009), ”Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah”, Yogyakarta.

Atmajaya, Ema Yuliana.,(2013), “Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2005- 2010”, Republik Indonesia, (2004),” Undang- Undang No. 33 tentang Lembaran Negara RI Tahun 2004, No 33.

Balakery, (2009), ”Pembangunan Ekonomi Daerah”, Pustaka, Jakarta.

Bawariez, (2006), ”Penaikan Pungutan–

pungutan Pajak”, Erlangga, Jakarta.

Devis, (2007), ” Kerja Sama Antara Petugas Pajak dan Wajib Pajak”, Erlangga, Jakarta.

Dove., (2004), “ Membatasi Pariwisata sebagai Perjalanan meninggalkan rumah dan lingkungan sekitar untuk tujuan hiburan dan liburan”, Erlangga, Jakarta.

Djayastra dan Wijaya., (2014), ”Pengaruh Kunjungan Wisatawan, Jumlah Tingkat Hunian Hotel, terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Denpasar Tahun 2001- 2010”, E-Jurnal UNUD, Vol 2, No 11.

Devilian, Fitri., (2014), “Pengaruh Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Selatan”, E-Jurnal Skripsi.

Fadeyibi., (2009), “Pariwisata adalah Perjalanan Menuju Atau Tinggal disuatu Tempat Selama Tidak Lebih Dari Satu Tahun”, Balai Pustaka, Yogyakarta.

Ghozali. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hutrabarat, (2002), ”Peranan pariwisata”, Erlangga, Jakarta.

Liang, Gie, Kaho, (2005).,”Pengertian Retribusi Daerah”, Balai Pustaka,Yogyakarta.

Marisa, Labiran., (2013), “Analisis Penerimaan Daerah Sektor Pariwisata dikabupaten Tana Toraja”, E-Jurnal Skripsi.

Nazara, (2007), ”Pendapatan Asli Daerah”, Balai Pustaka, Jakarta.

Natsir, M., (2009),Analisis Variabel–

variabel yang mempengrauhi

(22)

82 Pendapatan Asli Daerah”, Jurnal

Ilmiah Akuntansi dan HUMANIKA Genesha, Vol 2, No 2.

Nugroho, Bhuwono Agung. 2005.

Strategi Jitu Memilih Metode Statistik

Penelitian dengan SPSS.

Yogyakarta: Andi Press.

Ni, Komang, Sri, Wulandari., “Peranan Sektor Pariwisata Trhadap Pendapatan Asli Daerah Tambanan”, E-Jurnal Skripsi.

Prideaux, Cooper., (2002), “Paiwisata Sebagai Perjalanan Sementara”, Balai Pustaka, Yogyakarta

Riski, Didied, Mahendra., (2016),

“Analisis Faktor Kepariwisataan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Yogyakarta Tahun 2010-1014”, Salah, Wahab., (2013), ”Industri

Pariwisata dan Peluang Kesempatan Kerja”, PT. Pertja, Jakarta.

Sekretariat Negara, Jakarta Republik Indonesia, (2009), Undang–Undang No.10 Sekretariat Negara, Jakarta Sammeng.

Simanjuntak., (2003), “Pertumbuhan Ekonomi Yang diharapkan Dapat Meningkatkan Kesejahtraan”., Erlangga, Jakarta.

Souegiono, (2003), ”Analisis Variabel–

variabel Dependen dan Variabel Indevenden”, Jurnal Ilmiah Akuntansi dan HUMANKA Genesha, Vol 2 No 5.

Sukandi., (2000), ”Pariwisata Agro”, Balai Pustaka, Yogyakarta.

Suyana, Utama., (2012),” Aplikasi Analisis Kuantitatif”, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar.

Suparmoko, (2007), ” Fungsi Pajak”., Erlangga, Jakarta.

Sutrisno., (2013), ” Pengaruh Jumlah Obyek Wisata,Jumlah Hotel, dan PDRB Terhadap Retribusi Pariwisata Kabupaten/Kota”, Economics Development Analisis Journal, Vol 2, No 4.

Souegiono, (2003), ”Analisis Variabel–

variabel Dependen dan Variabel Indevenden”, Jurnal Ilmiah Akuntansi dan HUMANKA Genesha, Vol 2 No 5.

Sugiyono, (2009), ”Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R&D.,

Alfabeta., Bandung., https://nadiar.id/empat vriabel-

statistik-normal-ordinal-interval- dan-ratio/.

Suyana, Utama., (2012), ”Aplikasi Analisis Kuantitatif”, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar.

Susiana, (2013), “Analisis yang Mempengaruhi Penerimaan Daerah Sektor Pariwisata”, Surakarta, E- Jurnal Skripsi.

Spillane, James J., (2004),” Pariwisata Indonesia Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan”, Kanisus, Yogyakarta.

Todaro, MP., dan Smith, S.C., (2006),

”Pembangunan Ekonomi”, Kesembilan, jilid 1, Erlangga,

Jakarta.

Undang- undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Undang–undang No 34 Tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan diperoleh besarnya pengaruh struktur organisasi dan analisis pekerjaan bersama-sama terhadap

alvarezii dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan nata karena mengandung senyawa polisakarida/hidrokoloid yang bermanfaat untuk kesehatan dan seratnya

Tertanam di benak para pekerja media ini bahwa para jurnalis laki-laki dianggap dapat lebih mendedikasikan waktunya secara total dari pagi hingga tengah malam

Melihat latar belakang di atas, sangatlah menarik untuk dilakukan penelitian terkait dengan peran keluarga dalam memberikan dukungan terhadap perempuan yang menderita

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan konsentrasi optimum ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana) sebagai bahan irigasi saluran akar terhadap

Setiap daerah memiliki bermacam-macam BUMD yang cukup strategis sebagai penyokong anggaran daerah, salah satu BUMD yang ada di Kabupaten Pemalang adalah Perushaan Daerah Air Minum

Berdasarkan hasil penelitian pada kesepuluh subjek, yakni AA, TS, YC, dan ZK, DH, RJ, DA, AF, ZA, RN dapat diketahui: 1) Identifikasi perilaku agresif meliputi

hipoteis diterima, serta hasil penelitian yang didasarkan pada analisis data dan pengujian hipotesis, maka kesimpulan yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini